Monday, 30 March 2009

,

Pengalaman menggunakan linux....

1. Saya mengetahui bahwa ada OS yang namanya Linux, pertama kali kurang lebih pada tahun 2000. Ketika itu saya masih kuliah di IlKom UAD. Namun hanya sekedar tahu dari membaca diktat saja, belum pada tahap instalasi dan implementasi. Apalagi kemudian saya drop out dari UAD.

2. Berikutnya, melompat ke tahun 2004. Yaitu saat kursus jaringan di Smile group. Pada saat ini saya praktik instalasi Fedora Core 1. Yang difungsikan sebagai server internet menggunakan telkomnet instant.

3. Dikos-kosan saya menginstall sendiri Fedora core 3 yang saya pinjam di rental. Cukup lama saya menikmati FC 3

4. Kemudian disusul dengan Suse 9. Kemudian ke Suse 10.3 Namun sayangnya karena kompi saya jadul, tidak mampu saya install Suse 10. Akhirnya balik pake Suse 9, ditambah dengan OS windows saya kena virus, maka cukup lama, sekitar 3 bulanan saya menggunakan Suse 9. (klik)

5. Setelah punya kompi baru, saya pasang ubuntu 8.04 aka Hardy Heron. Kemudian Ibex.

6. Karena tertarik pada Debian, maka saya mencoba menginstall Debian. Tapi ternyata saya lebih nyaman menggunakan ubuntu. Sampai sekarang. Dan sudah beberapa waktu kompi saya hanya terpasang OS Linux Ubuntu 8.04.2, bukan dual boot dengan windows.

7. Di tempat kerjaan, hampir, semua menggunakan Ubuntu. Server Otomasi menggunakan Ubuntu, 2 komputer akses internet menggunakan Ubuntu FF dan Blankon, yang sehari-hari saya gunakan menggunakan HH. Tinggal 2 yg belum OS.

Mencoba hidup dengan Ubuntu, bisa gak ya?

Banjir otomasi.

Sudah diketahui banyak orang, di negri yang dinamakan Indonesia ini yang namanya perpustakaan belum semaju negri-negri tetangga. Namun ada yang menarik dari Negri Indonesia ini.

salah satu perangkat dalam perpustakaan adalah alat otomasi. Alat ini berbentuk perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola perpustakaan secara komputerize, begitu kurang lebihnya.

Dalam perkembangan awalnya, hanya ada CDS/ISIS buatan UNESCO serta beberapa software, misalnya NCI Bookman dan DYNIX. Kemudian pada beberapa universitas ada yang membuat sendiri. Tentunya ini butuh biaya dan sdm yang tidak sembarangan.

Namun sekarang, cobalah kita tengok. Kalau diminta menyebut software otomasi, wah bisa puluhan kita sebut. Dari yang versi jualan, versi gratisan, dari luar negeri dari dalam negeri, yang hanya untuk otomasi sampai dengan untuk digital.

"wah-wah kalau begini para pustakawan bisa dibikin bingung ya" celetuk Poltak.
"Bingung bagaimana Tak?" tanya Karyo.

"Coba bayangkan, para pustakawan kalau diminta pimpinan instansi dimana dia bekerja sebagai pustakawan untuk menerapkan sistem yang pake komputer, atau otomasi. Wah milihnya bisa berhari-hari" jawab Poltak.

"Semua perangkat lunak ini menawarkan kelebihannya masing-masing" lanjut Poltak.

"Iya Tak, memang banyak dan punya kelebihan masing-masing, tapi kl mau menggunakan semestinya kita sesuaikan dengan kebutuhan. Bagaimana dan sejauh mana kebutuhan kita. lalu kalau kebutuhan itu meningkat, bagaimana kemampunya sistem yang sudah ada dalam mengakomodir kebutuhan kita" jelas Karyo.

"Kalian ini bicara apa, pustakawan yang diminta untuk membuat sistem otomasi perpustakaan lalu mikirnya "Mau pake software apa ya, dan nyarinya dimana ya?" itu saja masih ada kok" sela Harjo.

"maksudmu apa kang?" tanya karyo

"Begini, masih ada lho pustakawan yang bingung kalau diminta bikin otomasi untuk perpustakaanya, mau pake apa dan nyarinya dimana. Selain itu ada juga yang terpaksa sudh beli jutaan tapi ndak kepake..." lanjut Harjo.

"Ooo masih ada ya kang?" Poltak dan Karyo bersamaan.

Monday, 23 March 2009

, , ,

Ngrasani kampanye:

Komentar BangOne ketika menampilkan gaya-gaya kampanye partai politik cukup menggelitik "Ketika kampanya jadi ketahuan Aslinya".
Betapa tidak, dari berbagai partai yang ada nyaris kita tidak bisa menilai partai mana yang paling tidak melakukan pelanggaran. bangOne berkomentar, ada partai bising, partai keras, partai keluarga, partai nekad dan seterusnya.

Ketika deklarasi kampanye damai dilaksanakan, ada saja ulah simpatisan yang tidak simpatik. Kemudian ketika pawai simpatik yang masih bagian dari deklarasi kampanye damai ini, partai sudah mulai menampakkan pelanggaran-pelanggaran.

Mulai dari partai yang melanggar kesepakatan batas maksimal peserta. Setidaknya penulis melihat di stasiun televisi memperlihatkan Gol*** dan PaKeEs melanggar kesepakatan ini. Kemudian disusul dengan pelanggaran membawa anak-anak dalam kampanye. Untuk jenis ini, hampir semua partai melanggar. Dari partai lama sampai partai baru yang menjanjikan perbaikan. Termasuk Gerin***, malahan sang penasihat partai menyalami anak-anak sewaktu kampanye..

Dalam hati saya bertanya, perbaikan yang mana? wong pelanggaran juga mereka lakukan.
Mungkin ada yang berdalih, anak-anak dibawa kampanye itukan sekalian mengenalkan pendidikan politik sejak dini. Alasan ini sah-sah saja, tapi bukankah semestinya yang namanya atura itu ditegakkan.

Pagi tadi, dalam liputan RCTI partai Gol*** melakukan kampanye dengan diiringi goyangan erotis ala dangdut, ditonton anak-anak pula. Padahal ada UU Pornografi di negeri ini. Kemudian disusul kader partar DeM***** yang menganiaya kader lain, bahkan penganiayaan ini dilakukan didepan anaknya.

Inilah deretan fakta selama kampanye, bahkan belum berakhir kampanye. Dimana, sebelumnya diawali dengan tertangkapnya aleg dari PeAeN atas kasus suap.

Memang benar kata bangOne, selama kampanye akan ketahuan aslinya.
Dan sepertinya, memilih itu memang bukan hal yang mudah.

Friday, 20 March 2009

, , ,

Dinamika Organisasi

Dalam berorganisasi, meng banyak hal yang akan kita temui.

Dari sekedar berbagi peran, menonton, debat sampai dengan konflik.

Ada banyak cara pula dalam menyikapinya, ada yang menganggap itu sebagai sebuah pembelajaran masa lalu, sekedar iseng, cari pengalaman dan banyak hal lainnya.

Dulu, saya pernah aktif di JS (Jamaah Shalahuddin UGM). Sebuah organisasi dakwah. Tentunya ada banyak dinamika didalamnya, dengan nama besar JS waktu itu. Sampai2 JS menjadi arena untuk penelitian dalam menyelesaikan skripsi.

DIantaranya ada Skripsi Feriawan Agung Nugroho, yang mengangkat tt konflik kepentingan mahasiswa Islam di JS.

Namun ternyata dinamika JS juga meninggalkan bentuk cinta yang lain. Ada yang menumpahkan kecintaan JS dengan membuat blog untuk memantau JS, dengan memposting berbagai tulisan yang dia buat sewaktu masih di JS. Ada tulisan untuk mengkritisi, ada tulisan untuk menanggapi. Selain itu ada tulisan untuk membela diri, kaitannya dengan konflik yang terjadi di JS. Penulis blog memberinya judul Risalah Tabayyun, berkaitan dengan konflik Jenjang Suara yang pernah terjadi di JS. Sebuah konflik, yang dimulai dengan digulirkannya ide pembedaan suara dalam pengembilan keputusan di JS, 1 suara, 2 suara dan 3 suara. Bergantung pada jenjang pengkaderan yang sudah pernah diikuti.

Inilah dinamika organisasi, dimana didalamnya kita dituntut untuk berjiwa besar. Baik dalam mengakui kesalahan, meminta maaf atau mengakui kelebihan dan juga kekurangan orang lain.

Untuk lengkapnya silakan buka di Pantau Shalahuddin.

Sepertinya yang tertulis di blog itu hanya sebagian kecil dinamika yang terjadi di JS, disamping isu-isu terkooptasinya JS oleh partai politik, hegemoni JS dan semacamnya.

Salam

Tuesday, 10 March 2009

Seragam Otomasi

Poltak, sebagai pustakawan yang punya latar belkang pendidikan pustakawan baru saja menerapkan perangkat lunak aplikasi perpustakaan di perpustakaanya. Seperti biasanya, dia begitu bersemangat. Menurutnya ini adalah salah satu bentuk aktualisasi dirinya sebagai pustakawan, menerapkan apa yang dia bisa untuk kemajuan pustakawannya.

"Asem tenan kok kang, jane maksude ki piye to?" poltak curhat dengan bahasa jawa kepada teman Seniornya, karyo.
"Aku itu sudah belajar ilmu perpustakaan, sekarang aku mau menerapkan otomasi di perpustakaanku. Lha ini malah ada penyeragaman, harus memakai sistem otomasi tertentu." Lanjut Poltak.

"Lho emange kenapa to Tak?, bukannya itu bagus jadi semua bisa memakai software yang sama sehingga ada keseragaman?" kayo bertanya.

"Iya, memang bagus kalau ada keseragaman. Permasalahannya adalah bagaimana cara menyeragamkan itu. Apakah dengan cara main perintah, harus ini-itu dan seterusnya. Lha coba kamu lihat, di Indonesia ini, banyak perpustakaan yang berlomba-lomba membuat sistem sendiri-sendiri. Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing. Ada yang dibiayai dengan duit negara. Lha coba, kalau yg bikin itu satu saja lalu di pake bareng-bareng, pasti lebih irit to kang.!" Poltak menjelaskan.

Terlihat, karyo menggut-manggut tanda mengerti.

Thursday, 5 March 2009

, , , , , , ,

Renungan ala Sastrawan..

Puisi, sajak memang dapat digunakan untuk sarana merenung, menghaluskan hari dan mengetes kepekaan kita.

Kemarin sore, 4/Maret/2009 saya mendapatkan kumpulan puisi Emha, Gus Mus dan Rendra dari Saudara Rachmad. Entah kenapa, saya ternyata juga menikmati puisi, meski hanya ada 1 atau dua buku puisi yang saya miliki.

Belum semua saya dengarkan, tapi dari yg sudah saya dengarkan ada beberapa yang mengena ketika saya dengarkan.

beberapa diantaranya adalah:

1. kau Ini bagaimana download sini
2. La Ilahailallah download sini
3. Sujud download sini
4. Memilih Presiden download sini

Untuk Puisi lengkap, silakah download di sini dan sini
----
Berikut translasi puisi “Kau Ini Bagaimana Atawa Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)

----------

semoga bermanfaat

Wednesday, 4 March 2009

, , ,

Rerasane Pustakawan

Entah kenapa, saya ingin memindah beberapa cerpen ringan yang masih amatir, yang sebelumnya saya posting di http://purwoko.blog.ugm.ac.id ke blogspot.

Mungkin sekedar pengen merasakan blogspot itu rasanya seperti apa.
Nama blognya adalah mustoko. Saya namai mustoko, karena kata Prof Damarjati, pustaka itu juga bisa diidentikan dengan mustoko, yang artinya kepala. Walah.... ngakak

-------
Perpustakaan, Harjo, Poltak dan Karyo

Di negeri ini, perpustakaan merupakan hal yang tidak aneh lagi. Sejak dari SD sampai perguruan tinggi terdapat ruang yang namanya perpustakaan. Bahkan, meski bukan tempat orang belajar yang formal, tetap ada perpustakaanya. Sebut saja perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan gereja, atau apa yang para aktifis menyebutnya perpustakaan alternatif.

Kalau dibaca dari tulisan para cerdik pandai, pembagian perpustakaan itu ada bermacam-macam. Ada perpustakaan umum dan khusus, ada perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi dan semacamnya.

Lalu apa yang ada dalam perpustakaan? tentunya ada buku. Kan perpustakaan itu berasal dari “pustaka” yang artinya buku, atau dalam bahasa arab disebut kitab.

selengkapnya ada di http://mustoko.blogspot.com

Friday, 27 February 2009

Kembalikan buku kami

Hari itu hari minggu, seperti biasanya, Poltak, Harjo dan Karyo, si Trio Pustakawan ini jalan-jalan pagi. Olahraga bersama, dengan mengajak keluarganya masing-masing tentunya. Disinilah keakraban terlihat diantara ketiga keluarga ini.

“Wah, setelah penat dengan kerjaan, akhirnya hari ini kita bisa santaiiiiiiiiiiiiii. Lomba lari yo!!” Harjo membuka pembicaraan.

“Ah, kau Mas Harjo. Sudah tua masih saja mengajak lomba lari, pasti kalah kau. Lebih baik kita jadi juri lomba lari anak-anak kita yang masih kecil ini, sekalian mengkader mereka. Siapa tahu nanti jadi atlet. Betul nggak?” Poltak menjawab tantangan Harjo.

“Oke, boleh juga itu” harjo dan Karyo setuju.

AKhirnya anak-anak mereka bersiap lomba lari. Semetara para istri juga sibuk membimbing anak-anak mereka. Disela-sela waktu, karyo, harjo dan Poltak terlibat pembicaraan.

“Ah, sebenarnya satu minggu ini aku agak kecewa dengan pekerjaanku. Ada ketidak puasan” Harjo kembali membuka pembicaraan.

“Kenapa kang?” karyo bertanya.
“Kalau dihitung aku sampai lupa, tapi ada beberapa pengguna perpustakaanku yang kecewa. Kecewa karena koleksi yang dia butuhkan tidak ketemu. Ketika aku telusur ternyata buku-buku itu dipinjam oleh bapak-bapak guru, dipakai oleh beliau.” Harjo menerangkan.

“Iya Mas, padahal para siswa sebenarnya punya hak juga untuk meminjam, bukankah mereka ini sekolah membayar, berarti koleksi perpustakaan itu juga bagian dari hak dia atas kewajiban dia membayar itu. Ya.. menurutku Mas Harjo memintanya saja, ditulis koleksi apa saja yang sedang dibutuhkan para siswa itu. Kemudian berikan kepada guru yang meminjam. Yang jelas, pakai cara yang baik dan sopan” Karyo memberi solusi.

“Dilema juga mas. Guru butuh untuk mengajar, siswa butuh untuk belajar. Sepertinya ini perlu kita pahamkan kepada mereka, para pengguna perpustakaan kita ini. Supaya ndak ada yang menang-menangan. Kadang bukan cuma guru yang minjam lama tidak dikembalikan. Siswa juga, karena merasa mampu membayar denda dia sengaja terlambat lama. Ya karena memang membutuhkan, punya uang untuk membayar denda, ya menang-menangan.” celetuk Poltak memecah suasana.

“Kita memang mesti arif dan bijaksana. Memperlakukan pengguna kita tanpa pembedaan, baik itu guru, siswa maupun karyawan. Kalau mereka terlambat ya didenda. Dan mekanisme denda justru harus kita terapkan ketat pada para guru, baru siswa” Poltak menyambung tanpa jeda.

“Lho kok malah guru dulu kang?” tanya Harjo.

“Lha kan guru itu diGUGU dan DITIRU, mestinya kan para guru ini dulu yang menjadi contoh. Baru siswanya” jawab Karyo menebak.

“Betul itu mas Karyo!!” Poltak menguatkan.

Tempat buangan

“Lalu bagaimana? kamu menerima saja keputusan pimpinan kantormu itu?” Poltak menerima telepon dari temannya.
“Ya sudahlah, ambil hikmahnya saja, Oke. kamu pasti bisa. Sukses ya” Poltak mengakhiri pembicaraan.

Sore itu, Poltak dan Karyo kongkow-kongkow bareng di teras rumah Karyo. Poltak sengaja bertamu ke rumah Karyo untuk membicarakan masalah yang saat ini sedang melanda teman kuliahnya dulu.

“Bagaimana Tak, ada apa sebenarnya?” tanya karyo.
“Itu temanku, teman kuliah dulu. Sekarang dia kerja di perpustakaan daerah di daerah asalnya. Anaknya pintar, Dia juga bintang kelas. Banyak yang naksir sama dia dulu, hahahahaha” terang Poltak.

“Iya, trus apa masalahnya?” tanya Karyo mendesak.
“Begini, perpustakaannya dia bekerja sekarang menjadi bagian yang terdapat kebijakan mutasi. Nah, yang dia keluhkan orang-orang yang dimutasi ke perpustakaannya itu orang yang sudah tua dan belum tahu bagaimana tata kerja di perpustakaan” jelas Poltak.

“Iya Tak, memang katanya. Seperti apa yang pernah aku baca di koran, perpustakaan itu kayak tempat buangan. Tapi menurutku tidak semua kok Tak. Masih banyak pejabat-pejabat yang bijak, dengan tidak begitu saja melakukan rotasi semaunya. Masih ada rotasi yang bermartabat, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan.” Karyo menyahut.

“Iya, semoga saja teman kuliahku dulu itu bisa menerima. Paling tidak dia dapat mengambil sisi positif dari mutasi pegawai ini. Kan ada kemungkinan yang berbalik Mas Karyo. Kalau yang ditaruh diperpustakaan itu orang yang sudah tua, beliau-beliau ini dapat dijadikan penasihat. Kemudian kita buat perpustakaan menjadi tempat konsultasi hidup, ya beliau yang sudah tua ini nanti yang menjadi konsultannya. Kan sudah banyak makan asam garamnya kehidupan. Pasti menarik itu. Menjelang pensiun mereka dapat lebih bermanfaat bagi sesama. Lha karyawan yang bermasalah dan dipindah ke perpustakaan, kita sebagai pustakawan mendidik mereka, ya… semacam kawah chandradimuka begitu. Jadi setelah mutasi selesai, nanti ada mutasi lagi mereka menjadi orang yang lebih berkualitas” ucap Poltak membayangkan solusinya.

“Betul Tak, kita mesti berfikir positif dan memandang sesuatu hal dari banyak sisi. Kita ambil hal positifnya saja, pasti lebih bermanfaat”. Karyo menambahkan.

Pustakawan proyek?

“Asem tenan, nek koyo ngene iki njuk piye? ra adil babar blas!” ucap Karyo gerah.

“Kenapa to kang?” tanya Harjo.
“Bagaimana tidak kesal to kang?. kita ini sebagai pustakawan, sudah gajinya kecil masih di aniaya, mengerjakan ini-itu, di minta mencarikan ini itu” jawab karyo.

“Kang, apa gak salah kata-katamu itu?, wong kadang kala, bahkan banyak pustakawan yang kerjanya cuma duduk-duduk, gak ada kerjaan, nunggu orang datang. Jadi banyak nganggurnya. Lha ini kamu malah mencak-mencak diminta mencari ini-itu, banyak kerjaan, piye tho?” tanya Harjo.

“Begini kang, aku tidak menafikan bahwa banyak diantara teman-teman kita yang waktu kerjanya dan waktu luangnya banyak waktu luangnya. Tapi juga tidak sedikit yang waktu kerjanya banyak. Harus mikir pengembangan, mikir melobi atasan supaya memberi perhatian kepada perpustakaan, belajar otomasi, belajar digitalisasi dan yang semacamnya. Pendek kata, ada wilayah yang kita harus berfikir teknis, dan juga berfikir konsep. Jadi tidak benar itu, kalau diam dan tidak ada pengguna datang sama dengan nganggur” jelas karyo.

“Kenapa ini, pada ribut-ribut. Ikut-ikutan para politisi yang pada ribut rebutan kursi apa, kalau kampanye koar-koar, janji ini itu, para simpatisan bekerja siang malam, kata “berjuang” seakan menjadi sihir bagi mereka. Lha setelah kepilih, para simpatisan masih haris kembali berjuang mencari nafkah, untuk makan. Sementara yang kepilih, yang didukung, lupa sama mereka. Mereka asyik nongkrong di hotel, lobi-lobi politik tingkat tinggi. Ini perjuangan, katanya. Sudah lah, gak usah bicara politik, kita ini pustakawan, jangan bawa-bawa perpustakaan ke ranah politik” Poltak tiba-tiba nimbrung.

“Ah kau Tak, tidak tahu duduk permasalahannya, tahu-tahu nimbrung dan koar-koar. Kamu ini gak beda sama politisi, juga koar-koar tu namanya. Jelaskan kang Karyo” timpal Harjo.

“Begini, kita ini kan pustakawan, yang sepemahamanku, kalau di kantor ya mencari informasi untuk pengguna. Mereka mencari ini, kita bantu. MEreka butuh buku ini kita carikan. Itu tugas utama kita. Ditempatku kan ada dosen, ada mahasiswa dan sebagainya. Tugas dosen utamanya kan mengajar, jadi wajar kan kalau aku mencarikan buku untuk dosen mengajar. Nah ini butuh artikel bukan untuk mengajar, mana artikelnya susah nyarinya lagi. Tapi akhirnya ya ketemu meski sampe kringetan. Lha setelah ketemu, terimakasih, sudah. Selesai” terang Karyo.

“Wah kan betul itu, sudah benar kerja kau mas Karyo, lalu apa yang salah sampai kau marah-marah” tanya poltak.

“Masalahnya, hal itu sudah berlangsung beberapa kali. Proyek Thankyou terus” kalau untuk mengajar kan ya wajar, wong itu tugas utama. Lha ini untuk proyek je, kan ada duitnya itu. Apa pada tidak menghargai informasi ya mereka itu” lanjut Karyo.

“Sudahlah kang, orang-orang dinegeri ini memang belum semuanya bisa menghargai usaha para pustakawan. Nilai informasi itu belum di hargai secara optimal, meski kata orang pintar orang yang akan menang di era informasi ini ya yang menguasai informasi. Kita bersabar saja kang, bekerja profesional. Serahkan sama Yang Mempunyai Harta Hakiki. Ikhlas, jangan berprasangka yang buruk-buruk” Harjo menasihati.

“Selain itu sepertinya kita memang harus menata ulang kembali koleksi perpustakaan kita. Supaya ketika kita mencarikan untuk pengguna, kita dapat mudah menemukan, tidak sampai kringetak kayak kamu tadi Mas Karyo. Selain itu kan juga membuat pengguna lebih nyaman dalam mencari. Kita memang harus introspeksi, kita tingkatkan saja profesionalisme kita dulu, baru nanti kita menuntut” kata Poltak dengan logat bataknya, sembari nenekankan kata MENUNTUT dan mengepalkan tangan.

“Menuntut?” Karyo dan Harjo menyahut sambil saling memandang.