Showing posts with label Kepustakawanan. Show all posts
Showing posts with label Kepustakawanan. Show all posts

Wednesday, 8 July 2020

Dua kekeliruan penerjemahan Indonesian Library Association

Paijo: "Apa beda library dan librarian, Kang?"
Karyo: "Ya jelas beda. Library kui perpustakaan. Librarian itu pustakawan."

Tanggal 7 Juli lalu banyak bertebaran di media sosial poster ucapan selamat hari pustakawan. Desainnya seragam. Hesteknya juga seragam. Sepertinya ada strategi yang sedang dijalankan. Yang beda hanya fotonya. Baik pose, maupun wajahnya. Juga captionnya. Beda.

IPI, diklaim usianya sudah 47 tahun. Tua? belum juga. Tapi ada di usia produktif. Ibarat manusia, ini puber kedua. Sedang on-on-nya. Semangat-semangatnya. Seharusnya. 

Sekarang lihatlah posternya. Itu di atas. Itu hanya potongannya. Tidak saya sertakan versi penuhnya. Saya ndak berani. Ada foto selfinya.

Nah. Jika diperhatikan, ada yang bikin dahi berkerut.

IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA, kemudian di bawahnya tertulis "Indonesian Library Association". Ini membuat saya bertanya-tanya. Pustakawan kok jadi Library. Penerjemahan gaya baru?

Akhirnya seorang kawan menjelaskan. Bahwa di luar negeri juga demikian.  American Library Association (ALA), misalnya.  

Demikian pula International Federation of Library Associations (IFLA), pakai kata library, bukan librarian. 


Keanggotaan
Namun, agaknya kawan saya tadi terlupa. Bahwa IFLA dan ALA itu anggotanya bukan hanya pustakawan. Namun banyak macam. 

ALA misalnya, dalam web http://ala.org/membership/ala-personal-membership , tertulis "ALA membership is open to individuals, organizations, and non-profits, and businesses interested in working together to change the world for the better through libraries and librarians."

IFLA juga. Dalam web https://www.ifla.org/membership/categories tertulis "Our members are associations, institutions, and individuals  in 150 countries throughout the world.  LIS students are also welcome to join"

Jadi cukup wajar, realistis, masuk akal, dan mazook, jika ALA dan IFLA menggunakan Library, bukan librarian.

Bagiamana dengan IPI?

Mari kita masuk ke websitenya: ipi.web.id.  Kita cek siapa saja anggotanya. Di web IPI Informasinya lengkap. Bahkan pada tab Keanggotaan, saya tidak menemukan informasi keanggotaan. Masih kosong. Tautannya masih pakai tanda #. Benar-benar lengkap. 

Karyo: "Lengkap kok tidak menemukan. Maksudmu piye, Jo?"
Paijo: "menengo wae sik, Kang!".

Beruntung, di bagian bawah, saya temukan tautan ke form pendaftaran. Tautan itu mengarahkan saya ke  form Google. Nah. Saya lihat dan dari informasi di dalamnya. Isi formnya cukup bisa untuk menerka siapa anggota IPI.

Ada permintaan foto 3x4, identitas KTP, tempat tanggal lahir, status perkawinan, jenis kelamin dan lainnya. Semuanya wajib diisi. Isian ini jelas menunjukkan manusia. Bukan organisasi, bukan perpustakaan.

Mosok perpustakaan punya status perkawinan atau jenis kelamin?

Bahkan, jenis keanggotaan pada form ini juga jelas jelas menunjukkan kalau anggotanya itu manusia. Bisa jenis keanggotaan Pustakawan Profesional, Tenaga Ahli Perpustakaan, Tenaga Teknis Perpustakaan, Pegiat Perpustakaan/Literasi/Pemerhati Kepustakawanan.

Hal di atas dikuatkan pula dengan Anggaran Dasar pasal 16, yang menyebutkan anggota IPI terdiri dari anggota biasa dan anggota kehormatan. Dan keduanya merupakan manusia, bukan perpustakaan, bukan institusi.

Paijo: "Kang. Saking lengkapnya, sampai tautan susunan pengurus juga..... ndak fungsi. xixi"
Karyo: "Hus. 

Nah, fakta di atas menunjukan secara kasat mata. Ceta wela-wela. Bahwa anggota IPI itu pustakawan saja. Manusia. Beda dengan IFLA atau ALA. Jadi ndak ada alasan pembenaran memilih Library dari pada Librarian sebagai nama versi bahasa Inggrisnya.


Bahasa asli
Kawan saya tadi juga lupa, bahwa kepanjangan IFLA dan ALA itu menggunakan bahasa ibu-nya. Bahasanya di sana. Atau bahasa Internasional. Jadi ndak ada urusan penerjemahan ke bahasa lain. 


****

Paijo: "apa tidak malu dengan negara tetangga ya Kang?
Karyo: "mana itu, Jo?"
Paijo: "Malaysia, Kang!"

Di LinkedIn ini, https://www.linkedin.com/company/ppm55/, tertulis "The formerly known as Malayan Library Group, the Persatuan Pustakawan Malaysia (PPM) or Librarians Association of Malaysia". Mereka gunakan Librarians, bukan Library atau Libraries.

Di webnya: ppm55.org juga demikian. Sayangnya web ini sulit diakses. Namun google merekamnya. Lihat saja gambar di samping. Usianya ternyata lebih tua, dan tertulis Librarians Association of Malaysia. 


***

Penerjemahan Ikatan Pustakawan Indonesia menjadi Indonesian Library Association merupakah kesalahan fatal. 

Karyo: "Hmm, kok aku jadi khawatir ya, Jo"
Paijo: "Khawatir bagaimana, kang?"
Karyo: "Kalau sampai ditertawakan profesi lain, piye?"


Paijo tertawa ngakak. Untung tidak sambil guling-guling. 

Karyo: "Kenapa tertawa, Jo?"

Paijo ngeloyor pergi. Sambil teriak menjawab pertanyaan Karyo, "jangankan orang lain, Kang. Aku saja tertawa. hahahahahah".


Sambisari, 
RĂªbo Kliwon 17 Dulkangidah Wawu AJ 1953

######



Catatan: penelusuran di web https://portal.ipi.web.id/ dilakukan 8 dan 9 Juli 2020 pagi. Tautan tab keanggotaan tidak berfungsi. Tautan ke Unduh Susunan Pengurus PP IPI 2018-2022 juga tidak berfungsi.

Thursday, 1 September 2016

, ,

FPPTI DIY, salah satu kawah tempat saya belajar

FPPTI, atau  Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia, khususnya yang ada di wilayah DIY merupakan organisasi penting dalam sejarah kepustakawanan saya. Di organisasi inilah, dari tidak tahu saya menjadi tahu banyak hal dengan berbagai dinamikanya.

Berawal dari pinangan Bu Umi Proboyekti tahun 2010, saya mengiyakan ketika diajak menjadi pengurus FPPTI DIY. Saya duduk di divisi TI bersama Ibu Anastasia Tri Susiati, MA (Kepala Perpustakaan UAJY). Saat itu saya masih bekerja di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Pinangan yang menurut saya sangat luar biasa, saya terima. Saya fikir tak ada salahnya saya belajar kepada orang lain, dan belum saya kenal.

Profil Umi Proboyekti saya cari di internet. Saya dapatkan berbagai informasi dan keterkarikan beliau pada literasi informasi. Tak aneh jika Beliau menjadi salah satu pemrakarsa LI di DIY. "Ah, pasti saya akan banyak belajar dan mendapat banyak hal", fikir saya. Namun, apa yang bisa saya beri ketika saya mendapat banyak hal?. Sambil jalanlah, sambil belajar.

Pada kepengurusan 2010-2013 ini pula, saya mendapat kesempatan pergi belajar ke Brunei Darussalam mengikuti acara kepustakawanan. Tentunya, lagi-lagi ini menjadi wadah belajar yang sangat berarti bagi saya. Mulai dari persiapan presentasi, melakukan presentasi, persiapan berangkat, pulang, termasuk cari dana **halah**. Berbagai tema diskusi FPPTI periode ini, saya ikuti. Bahkan dengan murah hati pengurus, saya diminta mengisi salah satu sesi DIP atau Dialog Ilmiah Perpustakaan. Grogi tak terkira menjelang acara, namun terimakasih tak terhingga untuk semua pengurus. Pada periode ini pula, pertama kali saya mendapat pengalaman menjadi panitia kegiatan nasional, Munas FPPTI 2012 di Yogyakarta. (tentang munas ini, klik di sini). Luar biasa tentunya.

Pergantian kepengurusan menuju 2013-2016 diselingi dengan tragedi "tiwul".

Pada 2013-2016, ketika ketua terpilih mencari pengurus, saya diajak kembali. Bu Susi, yang menjadi ketua periode ini menempatkan saya di divisi SDM. Hahaha, tak terkira berapa banyak pembelajaran saya pada periode ini. Meski rodo mbeling, namun terimakasih saya dimaklumi. Selain pengalaman dalam bentuk kegiatan di Jogja atau di luar Jogja, pengalaman juga saya dapatkan dalam bentuk diskusi ide yang berseliweran. Baik dari kepala masing-masing kami, atau dari luar yang dibawa ke pengurus. Alangkah beruntungnya saya, jika saya tidak jadi pengurus, pastinya saya tidak akan mendapat kesempatan memperoleh berbagai ide atau informasi terkini dunia kepustakawanan. Paling tidak, energi untuk memperolehnya lebih sedikit. Terimakasih..

Dua periode, atau kurang lebih 6 tahun, atau sekitar 74 purnama saya ikut bersama FPPTI DIY. Terimakasih atas semuanya.

Akhirnya, pada periode berikutnya... saya ucapkan selamat mengemban amanah untuk pengurus 2016-2019. Teman-teman pasti bisa, "beban amanah tak akan salah memilih pundaknya" (ups, saya mengutip siapa ya, yang pasti ini buka kata-kata saya, saya pernah dengar kalimat ini dari istri saya, sumber aslinya mungkin ini). Menjadi pengurus FPPTI DIY adalah pengalaman berharga, percayalah.

FPPTI DIY merupakan wadah yang tepat untuk pengembangan diri pustakawan Jogja.

Selamat menjalankan tugas, dan sukses.. Semakin banyak orang yang mendapatkan kesempatan menjadi pengurus FPPTI, semakin baik pula untuk perkembangan kepustakawanan DIY.

Terimakasih FPPTI DIY atas semuanya, dan mohon maaf atas semua kekurangan saya.Terimakasih pula untuk semua pihak, termasuk UGM yang memberi saya kesempatan menjadi pengurus organisasi kepustakawanan di luar UGM.


Tuesday, 3 June 2014

,

Pengalaman pertama saya: Perpustakaan FISIPOL UGM

http://pusfisip.ugm.ac.id/misc/img/perpus.gif
Perpustakaan FISIPOL UGM, adalah guru pertama saya selepas lulus dari D3 Ilmu Perpustakaan UGM.

Awal April 2004 saya diterima magang kerja di Perpustakaan Fisipol UGM bersama  Dwi Riswanto.
Saya masih ingat, ujian untuk diterima magang adalah membuat rencana strategis perpustakaan Fisipol UGM.
Perpustakaan masih menempati gedung sekip yang poluler dengan sebutan BPA Sospol. Saya magang  sampai Juni 2004, persis 3 bulan. Pada awal magang, saya bersama Dwi Riswanto berkelakar, "berapa lama kita akan di sini?". Kami bersepakat maksimal 3 bulan.

Di perpustakaan inilah saya belajar ilmu perpustakaan yang sesungguhnya. Kenapa? karena saya disuguhi berbagai kerja kepustakawanan secara serius pertama kali ya di sini. Sebelumnya saya pernah diminta mengurusi perpustakaan lembaga mahasiswa, namun sepertinya saya tak begitu serius. Ketika kuliahpun saya asal saja, modal belajar dan pinjam catatan ketika akan ujian. Jangan tanya tentang klasifikasi, membuat katalog, analisis subyek dan lainnya. Bisanya hanya waktu ujian, sebelum dan sesudahnya sudah lupa.

Membuat buku induk, memindah metadata ke worksheet sekaligus menyusunnya, diberi tanggungjawab kerapihan rak buku, menjaga tas pengunjung, fotokopi pesanan mahasiswa, menjadi petugas bagian referensi, sampai bersama-sama ikut membersihkan perpustakaan pernah saya alami di Perpus Fisipol.
Melayani sirkulasi dengan model manual yang sempat membuat saya gugup. Ketika merasa ada kesalahan pencatatan, sampai di kos masih ingat dan khawatir jika benar salah dan bukunya tak kembali. Input data ke pangkalan data ISIS yang njlimet menjadi pengalaman berkesan untuk saya.

Honor magang waktu itu Rp150.000/bulan, jadi selama 3 bulan saya mendapat Rp450.000. Sebulan Rp150.000 tentunya jauh dari cukup untuk hidup di Jogja, jika dirata-rata sebulan 30 hari, maka sehari Rp5000. Ditambah beban kos setahun Rp800.000, maka saya tetap menerima uang saku dari orang tua ketika pulang kampung (hua hua...). Beruntung ketika musim ujian saya diberi jatah lembur.

Ada 3 orang baru di perpustakaan Fisipol waktu itu: Heri Abi, Arif Nurohman dan Endah Yuni. Ketiganya telah memegang SK (Surat Keputusan) kerja. Endah sebenarnya seangkatan dengan saya, sementara Heri dan Arif kakak angkatan saya. Endah bekerja di Perpus Fisipol sejak dia ikut program magang ketika mahasiswa. Waktu pendaftaran program magang itu, saya gagal karena telat datang wawancara. Saya kira  juga karena tak layak dan tidak meyakinkan. Saya tipe orang yang seadanya dalam berpakaian waktu kuliah, asal memenuhi syarat (baju/kaos berkerah). Penampilan saya mungkin tidak meyakinkan untuk diterima magang di perpustakaan UGM.

Saat ini, Heri Abi pindah ke Perpustakaan ISI sementara Arif dan Endah menjadi suami-istri dan bekerja di Universitas Jendral Soedirman Purwokerto.

Belajar CDS ISIS, dikenalkan dengan trend perpustakaan digital serta berbagai perkembangan terbaru bidang perpustakaan saya alami di Perpustakaan Fisipol UGM. Semua staf yang ada, turut mewarnai pengalaman kepustakawanan saya.

Terimakasih tak terhingga untuk semuanya...

Selama magang, tentunya melihat rekan yang sudah mendapat stempel pengesahan dalam bekerja (SK) terasa iri. Tak bisa dipungkiri. Suatu ketika, pulang magang  pukul 14.00 sore, saya tidak kembali ke kos, namun bersama Dwi Riswanti, muter-muter melihat berbagai perpustakaan yang prospektif untuk "dilamar". Perpustakaan UNWAMA (Wangsa Manggala) kampus wates, yang sekarang menjadi Univ. Mercu Buana menjadi salah satu yang kami sasar.

Hingga pada suatu ketika... Pagi itu, hampir tiga bulan magang ketika Pak Agus, seorang staf Perpustakaan Fisipol, membawa berita bahwa perpustakaan FT UGM membuka lowongan. Bisa dibayangkan betapa senangnya saya, seorang yang baru lulus dan masih magang mendengar lowongan pekerjaan.

Akhirnya kami mendaftar, dan mengikuti prosesi ujian. Takdir, saya dan Dwi Riswanto akhirnya diterima. Saya ditempatkan di Teknik Geologi sementara Dwi ditempatkan di Teknik Arsitektur. Beberapa waktu kemudian Dwi mendaftar PNS dan diterima di Perpusda Kulonprogo sementara saya masih setia dengan Teknik Geologi UGM, sampai tahun 2012. 

Saturday, 31 May 2014

, ,

Dua tahun di Perpustakaan FT UGM

Perpustakaan FT UGM
Dua tahun, sejak Mei 2012 saya bekerja di Perputakaan FT UGM. Melanjutkan tulisan sebelumnya, maka ini adalah beberapa catatan tahun kedua saya di FT UGM.

Tahun pertama, saya gunakan untuk menata SDM dengan sebaik-baiknya serta beberapa percobaan kegiatan sebagai pengganti kegiatan sirkulasi yang selama sebelumnya menjadi tumpuan utama dan bahkan satu-satunya.

Tahun kedua, beberapa kegiatan perpustakaan mulai dirapihkan dengan jadwal yang lebih teratur. Workshop atau lokakarya, saya akui menjadi kegiatan khas utama di perpustakaan ini. Pada tahun 2014 sampai bulan Mei (lebih kurang 5 bulan), perpustakaan telah menyelenggarakan 40-an kelas workshop. Mulai awal tahun kami membuka workshop tanpa biaya dengan materi Mendeley, Zotero, Prezi dan X-Mind. Untuk Mendeley, kami telah tembus sebagai Mendeley Advisor sehingga dalam penyelenggaraan workshop kami mendapat dukungan dari Mendeley.org. Lumayan, kami mendapatkan blocknote, pena, marker, kaos, laser pointer, post-it paper dari Mendeley Amsterdam untuk dibagikan kepada peserta workshop.

Layanan membantu pencarian artikel bagi yang kesulitan juga meningkat. Seorang alumni yang ada di Belanda bahkan juga terang-terangan berminat membantu. Perbaikan website, pengayaan informasi pada web, membangun aplikasi pendukung (LibX), sosialisasi berbagai layanan juga lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Kegiatan dengan mahasiswa, penggunaan jejaring sosial untuk masuk ke komunitas mahasiswa, "menjual" perpustakaan FT kepada pemustaka dari luar FT UGM juga menunjukkan grafik meningkat. Mengenalkan perpustakaan FT UGM bagi mahasiswa/civias non FT UGM menjadi salah satu misi saya.Perpustakaan FT UGM harus dapat menempatkan diri ditengah-tengah warga UGM, tidak hanya warga FT UGM.

Penetapan lantai 3 perpustakaan sebagai Zona Merah yang diperuntukkan untuk kegiatan belajar mandiri tanpa diskusi ternyata menimbulkan suasana perpustakaan yang lebih nyaman. Kelemahan tata suara (akustika) ruang dapat diminimalisir dengan aturan ini.

Namun ternyata beberapa catatan masih harus kami berikan perhatian. Adanya pelanggaran download artikel (menggunakan mesin dalam jumlah di luar kewajaran) sehingga mengakibatkan adanya database yang diputus sementara, berbagai layanan yang meski disambut baik ternyata belum tersosialisasikan kepada mahasiswa secara keseluruhan, pengembangan ruang belajar private di lantai 3 yang terhambat, dan berbagai hal lainnya.

Pembinaan koleksi di perpustakaan FT saya akui belum optimal. Untuk koleksi jurusan, akhirnya saya sampaikan agar tetap dikelola pengelola jurusan. Sedangkan terkait pengembangan kemampuan SDM jurusan atau hal yang kiranya dapat dibantu fakultas, akan kami kerjakan.


Selanjutnya, meski beberapa kegiatan mulai menampakkan hasil, pekerjaan rumah terkait positioning perpustakaan belum muncul.
Sambil belajar, saya menemukan konsep research library. Bagi saya ini menarik untuk dijadikan brand perpustakaan. Segala yang dilakukan selama ini dapat dikumpulkan dan dirumuskan menjadi konsep research library, dan pustakawannya harus memenuhi kualifikasi research librarian

Masih banyak PR tentunya, karena konsep yang matang, lengkap dengan strategi SDM dan lainnya belumlah tersusun dengan baik.
--------
Anggaran perpusakaan FT UGM juga tak tergolong banyak. Saya sendiri memang menahan untuk meminta banyak. Membangun dasar/fondasinya dahulu menjadi konsen yang harus diselesaikan.
-------
Tahun ke-3 semestinya dimulai dari Mei 2014 ini. Masih ada 6 bulan sampai akhir tahun. Masih ada banyak hal yang harus dilakukan. Target tahun 2014 harus dikejar terlebih dahulu...berikutnya 2015 dan seterusnya sambil menunggu Pak Dekan jenuh dengan saya...

Bumi Sambisari,
tanggal pungkasan, bulan kelima
tahun duaribu empatbelas

Wednesday, 14 August 2013

PERS, MEDIA DAN PENGARUHNYA



ditulis tahun 2002

LATAR BELAKANG
Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. (Hafied Cangara, 2002). Sedangkan informasi merupakan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat yang berbentuk tulisan maupun rangkaian kata-kata serta menginterpretasikan sesuau hal.
Media dapat di kategorikan dalam beberapa hal, yaitu media antar pribadi, media kelompok, media publik sereta media massa.
Media antar pribadi. Media ini bisa berbentuk surat, telepon, ataupun kurir yang mengantarkan informasi tersebut.
Media kelompok merupakan sarana untuk menemukan orang-orang dalam kelompok uintuk saling berinteraksi. Media ini bisa berupa seminar, konferensi serta rapat-rapat tradisional yang sering kita temukan didesa-desa dengan berbagai nama.
Media publik, merupakan media yang mempertemkan banyak orang (massa) yang berinteraksi langsung. Media ini bisa berupa rapat akbar, dialog publik, kampanye.
Media massa memainkan peran untuk menyampaikan informasi pada orang (massa) yang tersebar tak tidak diketahui dimana meraka berada. Madia ini berup surat kabar, film, televisi , dan radio. Media ini bersifat melembaga, satu arah, meluas dan serempak, memakai alat, dan terbuka.
Dalam memahami tentang media dalam suatu komunitas maka kita tak bisa lepas dari apa yang sering disebut pers. Pers merupakan usaha dari alat komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat akan penerangan, hiburan, keinginan untuk mengetahui berita yang telah/akan terjadi di sekitar mereka khususnya dan dunia umumnya (Drs. Taufiq, 1997). Diskripsi pers pun dibedakan menjadi dua. Pers dalam arti sempit yang didalamnya termasuk suratkabar (mingguan, harian..), majalah yang tercetak dan diterbitkan. Sedangkan dalam arti luas termasuk radio, televisi, film.
Sedangkan media berfungsi untuk menyampaikan gagasan masyarakat (Satjipto Raharjo, 1998)
Paus Leo XIII memandang pers sebagai alat perantara massa gereja, penolong vitalitas kesegaran, keadilan kebenaran kembali ajaran agama waktu itu. (Prof, Umar Seno Adji, 1977).
Berbicara tentang pers di Indonesia, Abdurrahman Surjomiharjo (1980) menyebutkan bahwa sejak awal pertumbuhannya pers di Indonesia mencerminkan struktur masyarakat majemuk dengan berbagai golongan penduduk. Golongan penduduk tersebut adalah Belanda, Tionghoa, Arab dan India sedangkan Indonesia masih berada dalam berbagai suku.
Pembedaan golongan perspun kemudian dibedakan sesuai dengan golongan penduduk yang ada dengan pertimbangan bahasa penyelenggara pers dan massa yang dituju.

PEMBAHASAN

Media informasi dalam kehidupan bangsa Indonesia muncul dengan beragam peran. Sejak awal perjuangan sampai dengan terjadinya Gerakan September 30 (Gestapu) pertumbuhan pers dan media di Indonesia memperihatkan berbagai kaitan langsung antara usaha desiminasi informasi dengan dinamika politik nasional. Hal ini disebabkan oleh kondisi sosial politik dan finansial yang tadak memungkinkan waktu itu. Periode Orde Lama tidak ditandai dengan bisnis pers dan media yang suksek dalam arti sirkulasi, namun dalam waktu ini lahir RRI dan TVRI yang mampu memberikan rasa persatuan antara berbagai eleman di Indonesia. Dalam kurun waktu Orde baru muncul berbagai bisnis informasi dengan masuknya orang-orang profesional dalam bidang ini serta terjunnya kelompok politik dalam lapangan yang sama.

1. Pra kemerdekaan

Pada tahun 1855, Bromartani surat kabar pertama dengan bahasa Jawa terbit. Pada masa ini pers belum merefleksikan keadaan masayarakat yang ada dalam kekuasaan Belanda dan belum ada keterkaitan dengan usaaha-usaha meraih kemerdekaan.
Pada pra kemerdekaan media informasi di Indonesia dengan bahasa melayu yang pertama diawali dengan unculnya surat kabar Tjahaya Sijang terbit 1869-1927, yang terbit di Minahasa, Sulawesi Utara. Dalam edisi No. 3, Maret, 1989 disebutkan :

Ă¢€Å“Ă¢€¦.Djanganlah disangkamu akan kehidupan negeri-negeri yang lebih besar itu lebih baik daripada perdijaman dinegeri kecil. Benarla kehidupan dinegeri besar ini ramai, lebih sedap tetapi janganlah disangka kehidupan itu senang seperti kami merasa di negeri kecil, karena dinegeri besi itu lakunya orang hidup disitu seolah-olah menghambat orang seorang memperoleh kesenangan dan perhentian dan tempoh pada pertimbang-menimbang akan perkata fikiran yang tinggi.
Disitupun seolah-olah manusia hidup saja pada mentjari makan minum dan berpakai yang semuanya gunanya pada tubuh saja,Ă¢€¦.. disitupun hilanglah perfikiran akan agama !.Ă¢€

Dalam kalimat diatas dapat kita ambil kesimpulah bahwa problem urbanisasi sudah muncul sejak dahulu. Kehidupan materialistis dan glamour pun sudah menjadi suatu tren pada masyarakat yang disebut sebagai Ă¢€Å“negeri besarĂ¢€.
Pesan moral dalam kalimat diatas terus ada sejak dahulu sampai sekarang.
Media informasi ini yang dikelola oleh Belanda selain untuk menyebarkan agama juga memberitakan tentang sejarah yang makin muram dalam kalangan masyarakat melayu saat itu.
Baru pada awal abad 20 beberaopa orang nasionalis (Abdul Rivai dan Tirtoadisuryo) menyadari kekuatan media untuk melakukan penggalangan kekuatan guna kemerdekaan. Sehingga lahirlah Sunda Berita (1903) dan Medan Priyayi (1907). Sejak itulah konsep tentang identitas Indonesia mulai tumbuh dan mencapai puncaknya pada 20-10-1928. Sampai periode tersebut dari 33 surat kabar yang beredar hanya 8 yang menggunakan bahasa melayu selebihnya menggunakan bahasa Belanda dan Cina.
Sejak 1926 di Indonesia juga telah berdiri perusahaan yang memproduksi filam cerita, Java Film Company dengan Loetung Kesarung sebagai film pertamanya. Namun tidak serta merta dengan perkambangan ini merefleksikan perubahan pada sosial kemasyarakatan. Sebab dengan perkembangan tekhnologi inipun acara/programnya hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Meskipun paling tidak dengan hal tersebut manusia indonesia mulai di hadapkan pada era kemajuan teknologi serta peradabannya.
Pada pra kemerdekaanpun media informsai sangan berperan pada saat mengumandangkan pembacaan teks proklamasi oleh proklamator (Ir. Soekarno dan Bung Hatta) sekaligus menandai kemerdekaan bangsa Indonesia serta berperan pula dalam hal komunikasi serta pertukaran ide dalam masa perang kemerdekaan.

2. Masa Pasca kemerdekaan

Harian Daulat Rakjat yang terbit di Jogjakarta termasuk koran yang merupakan koran tua pada awal-awal kemerdekaan Indonesia. Selain itu muncul pula berbagai harian yang terbit di daerah-daerah (Indonesia Raja di Bandung). Harrian ini berperan dalam mempublikasikan berita berita tentang kemerdekaan dan perjuangannya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan itu. Serta berperan sebagai penyebar isu-isu atau pemikiran-pemikiran Founding Father Indonesia dalam mendisain negara Indonesia.
Tahun 1962 mulailah bangsa Indonesia dengan perkembangannya dalam hal teknologi informasi. Pada tahun ini lahir RRI dan disusul dengan lahirnya TVRI. Mulai saat inilah bangsa Indonesia merasa tersatukan sebagai sebuah bangsa. Apa yang terjadi pada daerah lain akan segera terespon oileh masyarakat dari daerah lainnya.
Namun pada masa-masa ini pers ditandai dengan relasinay dengan poliitik. Sebut saja Suara karya dan Pelita (Golkar), Harian Angkatan bersenjata dJayakarta dan Berita Yudha (ABRI). Sehingga pers dan media informasi di Indonesia selain efektif untuk perjuangan dan mempertsahankan kemerdekaan juga merupakan eleman sosial yang ditunggangi dengan berbagai kepentingan sehingga terjadi pergulatan antara berita yang jujur dan arogansi pemerintah.
Pada masa Orde Baru muncul media yang berorientasi bisnis dengan masuknaya kelompok profesional dalam bisnis media. Sebut saja PK. Ojong dengan Kompas-nya, kemudian ada Suara Indonesia Baru, Berita Buana, Pikiran Rakyat, tabloit Monitor, Hai, Gadis, dan Mode.
Informasi yang disajikanpun mulai beragam mulai dari fashion, gaya hidup selebriti, kehidupan manusia dalam dan luar negeri, musik, film, olehraga, gosip, dll.
Dengan informasi yang diusungnya maka banyak hal yang menjadi perkembangan masyarakat Indonesia. Jakarta-jakarta dan MATRA majalah gaya hidup yang ditujuakan pada laki-laki telah mendobrak sikap masyarakat Indonesia pada dunia seksualitas yang tabu. Seks telah menjadi hal yang lumrah dengan diakadannya sialog seputar masalah seksualitas melalui media massa dan oinformasi ini. Sehingga seks mulai menjadi komoditas yang nilainya ditentukan oleh prinsip pertukaran ekonomi dalam pasar industri. Hal ini juga di dukung dengan perkembangan dalam dunis perfilman Indonesia. Dengan munculnya film-film yang Ă¢€Å“panasĂ¢€ seperti Gairah yang Nakal, Guna-guna Istri Muda, Budak birahi, Permainan Tabu, Jari-jari yang lentik, dll.
Sehingga film (dan pemainnya) sebagai media untuk mentransfer informasi (dalam arti yang seluas-luasnya) seringkali didudukan sebagai terdakwa atas merosotnya moral bangsa.

Satu kajian menarik terntang pers dan media informasi pada ordebaru oleh Kuntowijjoyo (1997). Pada massa orde baru terjadi pergrseran sensibilitas media massa. Perubahan sosial berupa lenyapnya dikotomi wong cilik dan priyayi dalam pers sejak kemerdekaan menghadirkan sensibilitas kelas menangah yang terefleksikan dalam media massa selama orde baru. Pada level ideologi terjadi pergeseran dari orientasi politik kearah orientasi budaya.
Era orde baru juga merupakan era yang menjadi titik tolak perkembangan televisi dengan dibangunnya televisi-televisi swasta. Munculnya RCTI, SCTV, TPI , Indosiar dan Anteve (TPI, RCTI, SCTV dikuasai oleh keluarga cendana sendiri) merupakan bukti nyatanya. Saat inilah dalam media informasi khususnya televisi memperlihatkan perkawianan antara bisnis industri dengan kekuasaan yang sangat politis sekali. Sehingga sering ditafsirkan sebagai upaya-upaya kekuasaan orde baru untuk mengendalikan informasi guna melanggengkan kekuasaannya. Sebut saja wajib relai acara kenegaraan presiden oleh TV swasta yang kerap muncul dalam Berita-berita dan siaran khusus pemerintah.
Apa yang disiarkan stasiun televisi di Indonesia bukan hanya seni dan hiburan melainkan pola-pola kultural bahkan etika masyarakat lain dibelahan bumi lain pula. Sehingga banyak hal yang harus berubah akibat dari media ini.
Karakter Doraemon, Sin Chan, Simpson menghegemoni anak-anak Indonesia mulai dari dari gaya hidup mereka. Berbagai gaya hidup muncul dihadapan kita, mulai dari gaya bicara, potongan rambut, sikap cara pergaulan serta pola pikir mereka.
Dari SRI: Quality Starts Here september 1995 didapat keterangan bahwa 25 % siaran televisi Indonesia berasal dari program luar negeri . Namun demikian bukan berarti kita sudah pada jalan yang benar dengan banyaknya produk lokal kita. Banyak program yang di beri label Ă¢€Å“lokalĂ¢€ ternyata merupakan 1imitasi dari program asing. Lokal lebih berarti penyandang dana, pemain, tempat, tidak menyentuh level ideologi. Sebut saja sinetron kita yang menawarkan kehidupan-kehidupan yang glamour disaat msyarakat Indonesia banyak yang berada di jurang kemiskinan dan penderitaan.
Perkembangan lebih menarik lagi dalam dunia media informasi adalah munculnya media informasi digital yang biasa disebut internet mulai tahun 1990-an.
Dengan memanfaatkan teknologi ini media banyak yang melengkapi publiksinya dengan menerbitkan edisi on-line. Sebut saja Tempo, Republika dan Kompas. Dengan media ini pula bisa dilakukan interaksi dengan masyarakat dengan cara pengiriman e-mail. Tentu saja halini mengakibatkan pembentukan sikap kritisme msyarakat Indonesia. Bahkan beberapa media membuka ruang untu diskusi kritis secara lebih mendalam (jurnal Prisma, Ulumul QurĂ¢€™an, Kalam, dll).
Meskipun demikian dengan perkembangan ini menyuburkan konsumerisme di kalangan masyarakat Indonesia yang bependuduk 200-an juta jiwa.
Pada masa Reformasi pers dangat dirasakan pengaruhnya bagi warga negara Indonesia. Pada masa ini pers memainkan peranan penting dan bermain dengan kepentingan tentunya meskipun jasa pers pada masa ini cukup besar. Dengan pers dan media informasi kita bisa melihat arus demonstrasi besar-besaran di seluruh penjuru tanah air kita dengan segala perkembangannya, namun bila tanpa kehati-hatian tentunya pers dan media bisa juga barperan sebagai agen provokator oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab

KESIMPULAN

Media informasi merupakan suatu hal yang sangat berperan dn penting dalam kehidupan masyarakat. Terbuti dengan media informasi komunikais bisa berlangsung dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pada awal kemerdekaan dan perjuangan mempertahan kemerdekaan media sungguh berperan penting untuk melakukan konsolidasi untuk aksi. Selain itu pada jauh hari sebelum kemerdekaan, sebelum perjuangan bahkan, media telah berperan dengan memberikan gambaran-gambaran kehidupan dari belahan dunia yang lain. Pada konteks Indonesia misalnya dengan memperlihatkan budaya daerah lain atau kehidupan akibat penjajahan Belanda.
Diakui atau tidak media dapat membentuk watak dan karakter bangsa Indonesia. Terbukti ada perbedaan kontras watak bangsa Indonesia antara masa pra kemerdekaan dan jaun sebelum masa perang kemerdekaan dengan watak bangsa Indonesia saat ini. Watak bangsa Indonesia (meski istilah Indonesia saat itu belum ada) pada masa pra kemerdekaan yang terpecah-pecah cenderung kesuku-sukuan kemudian bergeser pada persatuan bangsa sehingga lahirlah perang kemerdekaan sampai berhasil. Namun saai ini watak bangsa Indonesiapun mulai bergeser denagn melupakan watak para pendahulu dan founding fathernya. Masyarakat Indonesia cenderung konsumtif egois dan banyak hal yang membedakannya.
Oleh karena itu kita wajib mewaspadai perkembangan pers dan media saat ini. Belajar ari masa lalu tentunya kita tidak ingin bila pers dan media kembali dipolitisasi oelh kekuasaan. Hal lainnya tentunya kita menjaga agar dengan media madyarakat tidak serta merta menerima apa yang ada didalamnya.
Untuk hal ini tentunya harus dipersiapkan Undang-Undang Pers dan penyiaran yang berpihak pada rakyat dengan selalu mengunggulkan aspek sosial dibanding dengan liberalisme dan otoritarianisme.

Daftar Pustaka

Cangara, Hafied., Pengantar Ilmu Komunikasi, Raja Grafindo Grafika, Jakarta, 2002.
Hass, Robert, HAM dan Media, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta , 1998.
Senoadji, Umar, Prof., Pers dan aspek-aspek Hukum, Erlangga, Jakarta, 1977.
Simorangkir, CT., J., Hukum dan Kebebasan Pers, PT Binacipta, Jakarta, 1980.
Taufiq, Drs., Sejarah Perkembangan Pers di Indonesia, Triyindo, Jakarta, 1977.

Tuesday, 11 December 2012

Komunitas SliMS Indonesia: bagaimana bentuk idealnya?

Menyambung tulisan saya sebelumnya (ini), terkait komunitas SliMS yang ada di Indonesia dan juga terkait dengan kegiatan Komunitas SliMS beberapa waktu yang lalu saya akan mencoba memberikan sumbangan fikiran terkait bagaimana sebaiknya bentuk komunitas SliMS itu?

Hampir, bahkan semua Komunitas SliMS terbentuk diawali oleh hobby terkait SliMS. Hobby mengoprek, memodifikasi, penasaran bagaimana menggunakan dan seterusnya mengantarkan berbagai daerah mendirikan komunitas sebagai sarana belajar bersama. Sejarah komunitas ini, diawali oleh komunitas SliMS Yogyakarta yang berdiri sekitar tahun 2010-an awal.

Jika melihat komunitas lain, komunitas SliMS dapat disamakan atau paling tidak hampir sama dengan komunitas-komunitas TI di berbagai bidang. Komunitas Ubuntu (ubuntu-id), KSL (kelompok studi linux), komunitas blender dll. Komunitas-komunitas ini mempunyai anggota yang beragam. Komunitas SliMS, meski unsur utamanya pustakawan namun banyak juga dari guru, dosen, mahasiswa dan juga orang IT. Demikian juga komunitas Ubuntu serta komunitas lainnya.

Namun demikian, ada pula perbedaan pada beberapa komunitas tersebut. Komunitas SliMS, menggunakan SliMS terutama untuk manajemen perpustakaan, dan dalam pengelolaan perpustakaan tidak hanya sekedar SliMS atau teknologi saja. Namun, perpustakaan juga digerakaan dengan berbagai ilmu lainnya. Psikologi, pemasaran, komunikasi, sosiologi, dan lain sebagainya.

Kegiatan utama komunitas SliMS selama ini adalah bagaimana cara menggunakan dan memodifikasi SliMS. Berbagai komunitas aktif melakukan pertemuan bulanan atau berkala lainnya dalam rangka belajar bersama, atau yang disebut dengan “sinau bareng”.

Beberapa kritik muncul dipermukaan.
“Apakah pepustakaan cukup digerakkan dengan teknologi saja?”
“Jangan sampai para pustakawan atau calon pustakawan hanya terfokus pada teknologi, namun melupakan sisi-sisi lain kepustakawanan!!”

Bagi saya, ini memang beralasan terutama bagi orang diluar komunitas yang melihat gerak komunitas hanya (dalam pandangan mereka) pada ranah teknologi saja.

Namun apakah benar demikian? Menurut saya tidak sepenuhnya pernyataan atau kekhawatiran ini benar.

Setidaknya telah ada beberapa komunitas yang memulai menggabungkan sisi-sisi keilmuan selain teknologi informasi perpustakaan dalam kegiatan komunitas SliMS.

-----

Bagaimana seharusnya bentuk ideal komunitas SliMS?
Sebagai sebuah wadah yang tidak memiliki garis struktur yang ketat dari tingkat bawah sampai atas, justru membuat komunitas SliMS terpacu untuk berinovasi. Bagaimana bentuk inovasi yang dapat mendekatkan komunitas pada bentuk idealnya?

1. Kegiatan
Komunitas SliMS semestinya mempunyai kegiatan-kegiatan berkala sebagai wahana bertemunya para pegiat komunitas. Kegiatan ini dapat dilakukan bulanan, 2 bulanan atau kapanpun ketika ada waktu bertemu. Pertemuan sebaiknya tidak hanya disatu tempat saja, namun bergiliran dari perpustakaan satu ke perpustakaan lainnya yang berbeda jenisnya. Misalnya: pertemuan pertama di perpustakaan sekolah, kedua di perpustakaan perguruan tinggi dan seterusnya. Hal ini akan menambah “kekayaan” pengalaman komunitas dalam berkegiatan.
Kegiatan dalam pertemuan, jangan hanya terkait dengan SliMS saja. Namun sebaiknya komunitas SliMS juga memfasilitasi anggota komunitas dalam mempelajari berbagai hal terkait ilmu perpustakaan.
Misalnya: pengolahan koleksi, komunikasi dengan pemustaka, advokasi (bersama organisasi profesi), diskusi layanan perpustakaan, diskusi isu mutakhir ilmu perpustakaan dan informasi, shelfing yang baik, tata ruang perpustakaan, pengembangan koleksi dan lain sebagainya.
Bagaimana dengan jumlah partisipan kegiata sinau bareng atau berkegiatan?
TIDAK usah terpaku pada jumlah, berapapun jumlah yang datang tetap dapat dijalankan. Bahkan meski hanya 2 orang saja..
2. Kerjasama
Jangan sampai komunitas SliMS merasa cukup dengan komunitasnya. Komunitas harus tetap dan terus bekerjasama dengan komunitas/organisasi lain. Misalnya Perpustakaan Daerah, ATPUSI, APISI, IPI, Forum Pustakawan di daerah, Komunitas Opensource, Komunitas Ubuntu dan berbagai organisasi lainnya.
Dengan demikian, gerakan akan menjadi lebih terasa efeknya serta jika muncul permasalahan dapat dipecahkan secara bersama-sama.
Kerjasama ini, seyogyanya diikuti dengan pembagian area/wilayah kerja. Misalnya Komunitas SliMS bekerjasama dengan ATPUSI, maka Komunitas dapat mengambil peran terkait implementasi teknologi dan ATPUSI dapat mengambil peran dalam aspek non-teknologi dan advokasi.
3. Produk dan jasa
Kegiatan komunitas SliMS, dalam belajar menggunakan SliMS dan kegiatan lain terkait kepustakawanan semestinya menghasilkan produk yang dapat dinikmati bersama. Ada berbagai bentuk produk yang mungkin diciptakan oleh komunitas.
Misalnya: produk pendampingan perpustakaan yang menghasilkan bentuk perpustakaan (misal perpustakaan sekolah) yang lebih baik dari sisi teknologi, layanan, tata ruang dan lain sebagainya. Hal ini adalah yang paling mudah dilakukan oleh komunitas, dan akhirnya manfaat dari komunitas akan dapat dirasakan oleh anggota.
Produk lain misalnya: modifikasi SliMS, katalog induk, website komunitas, pengabdian masyarakat terkait perpustakaan desa dan lain sebagainya.
Selain produk, komunitas selayaknya juga menawarkan jasa kepada pihak lain yang membutuhkan. Misalnya jasa implementasi SliMS, dari instalasi, modifikasi, migrasi, pelatihan, pengolahan koleksi dan lain sebagainya.
Hasil dari jualan jasa ini dapat digunakan untuk modal menggerakkan komunitas.
4. Keanggotaan dan keuntungan menjadi anggota
Keanggotaan komunitas, selama ini masih bersifat cair dan tanpa tanda anggota. Konsekuensinya, ikatan menjadi berdasar emosional semata. Hal ini akan lebih baik lagi jika digabung dengan model keanggotaan tercatat sekaligus penjelasan keuntungan menjadi anggota resmi komunitas SliMS.
Misalnya: keanggotaan dibedakan menjadi anggota personal dan anggota atas nama perpustakaan. Anggota mendapatkan kartu anggota, dan berhak mendapatkan berbagai keuntungan dalam berkomunitas. Anggota wajib membayar iuran ketika pertemuan berkala.
Keuntungan bergabung menjadi komunitas misalnya: mendapat pendampingan implementasi SliMS dalam bentuk konsultasi, diskusi dan hal lain sesuai kemampuan para penggerak komunitas, mengikuti belajar bersama, bergabung dalam katalog induk dan lain sebagainya. Keuntungan ini ditentukan bersama oleh komunitas.
5. Hubungan emosional
Hubungan emosional, dalam hal ini adalah hubungan antar anggota komunitas dan dengan komunitas SliMS di tempat lain serta kepada developer. Hal ini dimaksudkan sebagai sarana untuk terus menciptakan bentuk komunitas yang ideal dengan berbagai kegiatannya.
Hubungan ini dapat dibentuk dengan aktif mengikuti diskusi di forum diskusi SliMS, menjawab pertanyaan yang muncul, saling berbagi ketika berkunjung ke daerah lain dan lain sebagainya.

Beberapa komunitas, saya kira telah memulai hal ini. Komunitas SliMS kudus dengan kegiatan kreatifnya dan kerjasamanya dengan berbagai elemen komunitas di Kudus (KPLI, ATPUSI dll), bahkan pernah mengadakan seminar atau pelatihan dengan menggandeng ATPUSI Kudus. Hal ini saya kira harus ditiru oleh berbagai komunitas SliMS di Indonesia. Selain SliMS Kudus, adapula SliMS pacitan dengan kreatifitas rekan mahasiswa UT, SLiMS malang yang digerakkan oleh pegiat IT dan Dosen dan kreatifitasnya yang luar biasa, trenggalek yang inovatif, sumatra barat yang militan, aceh yang pernuh perjuangan dan lain sebagainya.

Semangat kebersamaan, saya yakin ada pada para pustakawan atau tenaga perpustakaan di Indonesia. Hanya saja bagaimana mewujudkan atau memulainya, dengan siapa harus memulainya menjadi persoalan tersendiri.

Kita patut berbangga dengan rekan-rekan di daerah yang begitu gesit dalam bergerak. Realitas perpustakaan yang ada di daerah, pastinya mempunyai lahan lebih luas untuk digarap oleh komunitas SliMS Indonesia...

SLiMS adalah perekat, selebihnya kegiatan komunitas SLiMS harus menyeluruh.....
Komunitas SLiMS tidak hanya menggarap cara menggunakan SLiMS, namun juga dalam pengolahan koleksi, promosi perpustakaan, pendidikan pemakai, literasi informasi, isu mutakhir informasi dan lain sebagainya....

*tulisan yang seadanya, semoga ada yang mau menyempurnakannya, agar menjadi pedoman para pegiat SLiMS*

Thursday, 24 May 2012

SLiMS, jiwa dan semangat korsa pengelola perpustakaan....

Saya ingat, ketika itu Pak Hendro Wicaksono (lead dev SLiMS) pernah mengatakan ke saya, "saya juga ndak nyangka mas, kenapa Senayan bisa jadi seperti ini". Lontaran itu muncul ketika kami ngobrol tentang munculnya komunitas SliMS di berbagai tempat di Indonesia.

Para pembaca mungkin juga berfikiran sama dengan kami. Semenjak Komunitas SliMS Jogja muncul, berbagai pegiat SliMS di kota lain juga bermunculan. Ada yang dikendalikan oleh "alumni" pegiat SLiMS Jogja tapi ada juga yang "bersemangat" membangun komunitas karena mendapat ide dari diskusi di jejaring sosial. Sebut saja Erist di Kudus yang pada awalnya juga menjadi "beberapa orang" yang pertama ikut belajar di Jogja. Pak Hartoyo di Kudus, Wisnu di Solo juga merupakan alumni komunitas SLiMS Jogja.

Selain Jogja, Kudus dan Solo komunitas SLiMS juga muncul di Sumatra Barat, Ambon, Makassar, Jawa Barat, Malang, Surabaya, SliMS Pati, Pacitan dan lain-lainnya. Produk dari komunitas inipun bermacam-macam, mulai dari belajar bersama, membangun blog dan juga membangun katalog induk menggunakan SLiMS.

Bagi saya, ada hal menarik semenjak munculnya komunitas SLiMS ini. Ketika saya membuka sebuah blog Komunitas SLiMS Pacitan, ternyata penggeraknya adalah para mahasiswa UT. BLog yang mereka bangun lebih dari sekedar lumayan, dengan tampilan yang menarik dan diisi dengan berbagai informasi terkait perpustakaan. Saat itu saya merenung, bahwa ternyata mahasiswa UT pada jurusan Ilmu Perpustakaan mampu melakukan ini. Bayangkan, mahasiswa UT yang saya pernah beranggapan bahwa UT itu hanya sekedar pelarian para PNS yang ingin naik pangkat. Tapi sekarang, anggapan itu berusaha saya singkirkan. Melihat semangat mereka, saya yakin alumni Ilmu Perpustakaan UT tidak begitu saja kalah dengan yang bukan dari UT, bahkan bisa jadi mereka juga dapat "menang" dalam berbagai hal....

Jangan remehkan mahasiswa Ilmu Perpustakaan UT.....

Pada judul tulisan ini saya tulis semangat Corsa pengelola perpustakaan, bukan sekedar pustakawan. Kenapa? karena ternyata SLiMS juga mempu menarik minat para pengelola perpustakaan yang tidak mempunyai pendidikan formal ilmu perpustakaan.

Lulusan SMA, Guru, bahkan alumni Sekolah Menengah Perkebunan sampai dengan para lulusan TI juga tertarik kepada SLiMS. Pada suatu saat ketika saya diminta mengisi training SLiMS pada sekolah di bawah Depag pesertanya adalah Guru dan TU yang menjadi kepala perpustakaan. Dalam hati memang saya menyayangkan realita ini, tapi ketika "manggung" saya berusaha menanamkan ideologi SLiMS kepada para pengelola perpustakaan ini, yang kadang lebih didengar dibanding pengelola perpus yang berpendidikan Ilmu Perpustakaan.

Dan, sepertinya cukup berhasil. Ideologi bahwa dengan SLiMS dapat menekan biaya pengadaan software sehingga biaya dapat dialihkan ke pengadaan koleksi cukup merasuk kepada mereka. Bahkan, waktu itu (training di Hotel Ambarukmo Jogja), pesertanya ada yang dari pengawas Depag provinsi DIY. Saya gunakan saja kesempatan itu untuk memberitahukan apa sebenarnya SLiMS sekaligus pengalaman yang dialami pustakawan ketika penilaian perpustakaan, misalnya tuntutan adanya katalog tercetak.

Tahukan anda, para pengelola perpustakaan ini (terkait SLiMS) sering berdiskusi di jejaring Sosial terutama facebook? Anda dapat menemukan diskusinya di Group FB SLiMS (http://facebook.com/groups/senayan.slims), atau juga di group komunitasnya masing-masing. Selain di FB mereka juga diskusi di milis ics_isis@yahoogroups.com serta forum resminya SLiMS di http://slims.web.id/forum/

Apa yang mereka diskusikan? banyak hal.....
Mulai dari yang paling sederhana, bagaimana install SLiMS sampai berbagai bagaimana mengoptimalkan bahkan memodifikasi SLiMS....

Munculnya komunitas SliMS itu membuat haru, tapi ternyata nilai lebih dari munculnya komunitas ini dan yang membuat lebih terharu lagi adalah SLiMS dapat berkontribusi dalam membangun semangat kekompakan para pustakawan......

Biarlah, meskipun Komunitas ini hanya berada pada lebel akar rumput, tidak punya ikatan resmi pada pemerintah, Badan Perpustakaan dan semacamnya, namun toh mereka tetap hidup dan semoga tetap hidup dan berkreasi serta ikut meningkatkan kemampuan para pustakawan. Namun demikian, terimakasih untuk institusi baik negeri atau swasta yang berkenan menampung komunitas dalam berkegiatan.... Jasamu tiada tara...


Komunitas SliMS di mana saja, mari kita belajar bersama. Belajar SLiMS dan juga berbagai aspek dalam ilmu perpustakaan.... Jadikan SLiMS sebagai sarana perekat dan penyemangat kita untuk berkreasi. Codinglah, mengajarlah, belajarlah, melihatlah, mendengarlah, menulislah, ngeblog-lah, dan bermanfaatlah bagi semuanya...




Salam Komunitas...

*purwoko*
http://facebook.com/groups/senayan.slims

Friday, 4 May 2012

,

Hari kedua di Perpustakaan FT UGM

Hari itu adalah Jumat, tepatnya 4 Mei 2012.
Ada yang istimewa pada hari itu, yaitu acara kumpul bersama dengan pustakawan dan admin TI di berbagai jurusan lingkungan FT UGM. Ide ini sebenarnya muncul dari ngobrol saya dengan mas Apri (Admin TI Geodesi) tentang OJS aka Open Journal System yang kemudian pak Eko Hendrawan (TI Fakultas) mengatakan perlunya pertemuan antara TI dan Pustakawan.

Ngobrol pada jumat pagi itu berlangsung santai, ngalor ngidul sambil kenalan. Ketika menyampaikan informasi diri, hadirin juga menyampaikan apa bidangnya dan apa masalahnya. Saya tidak akan menyinggung permasalahan pada TI, namun hanya pada wilayah pustakawan.
Ketika para pustakawan jurusan diminta untuk bicara, ternyata mereka semua sangat menguasai perpustakaanya. Menguasai dalam arti sekarang perpustakaannya melakukan apa sekaligus masalahnya ada di mana.
Mulai dari minta komputer tapi terus saja di "semayani", berjuang untuk menata ruang, berkorban agar dapat komputer baru, pustakawan tapi nyambi di sekretariat, perpustakaan tapi tak ada koneksi internet, perpustakaan ada di bekas lab dan lain sebagainya.

Yang membuat saya bangga adalah mereka bertahan dan berjuang untuk mendapatkan idealismenya. Misalnya cerita seorang kawan yang perpustakaannya bekas lab. Dia akhirnya melakukan sayembara redesain ruang, dan kabarnya GOL dan segera direnovasi. Seorang kawan beda lagi, ketika minta komputer tidak diberi, kemudian dia barter dengan insentifnya. Cukup nekad kawan saya yang satu itu.... tanpa perlu saya sebutkan namanya.
Beberapa hal yang pagi itu dapat diformulasikan adalah, terkait dengan OJS untuk pengelolaan jurnal yang dihasilkan jurusan, publikasi layanan Perpustakaan FT yang disupport oleh MIC. Kemungkinan kerjasama untuk mino workshop tentang OJS dan layanan lain, serta pemasangan xbanner di jurusan-jurusan.
Berikutnya disepakati pustakawan jurusan dan fakultas teknik UGm akan berkumpul sebulan satu kali, pada jumat pertama pagi hari.

Gudang dan Sampah

Adalah pak Budi, seorang rekan kerja yang pada pagi itu mengerjakan pembersihan gudang dengan rekan-rekan lain di saat saya dan mas Yusron ikut pertemuan di KPFT UGM. Ide pak Budi beliau lontarkan pada sela-sela ngobrol. Terkejut memang saya waktu itu. Kenapa? ternyata rekan kerja saya kreatif. Saya waktu itu mengatakan silakan berkreasi untuk mencari pekerjaan yang bisa dilakukan sembari menunggu renovasi selesai 100%. Saya kasihan pada rekan-rekan karena otomatis pekerjaan utama mereka mandeg. Mesti ada terobosan untuk membuat mereka dapat "bergerak", dan itu adalah kegiatan.
Akhirnya, disepakati pula bahwa setelah pembersihan gudang, siang harinya menyiapkan ruangan untuk memasukkan rak di gudang. Rak ini pada hari senin akan diangkut, dipasang dan digunakan untuk menempatkan buku-buku yang sementara dianggap tidak terpakai.

Apakah barang tak berguna hanya ada di gudang itu? ternyata tidak. Ternyata tempat sementara perpustakaan ketika perpus masih direnovasipun bak gudang dengan berbagai barang yang terbengkalai. Siang itu pula saya dan pak Widodo menyambangi dan melihat. Sebagai orang baru, sebenarnya saya mikirnya pendek saja. Serahkan fakultas selesai. Biarlah perpustakaan memikirkan apa yang sekarang ada saja... :)

Ide segar lagi

Adalah pak Undang, yang senangnya guyon dan kadang konyol. Dia adalah rekan KKN sekaligus kuliah saya di S1 Kelas Khusus UIN Suka. Siang itu dia menyampaikan berbagai ide untuk perpustakaan. Salahs atunya adalah pembagian kerja shift. Pak Undang menganggap bahwa sekarang perpus sudah modern dan penggerak perpusnya banyak. Alangkah baiknya kalau buka sampai malam dan dibagi dua shift.
, ,

Hari pertama, setelah 7 tahun lebih di Geologi UGM...

Hari pertama saya di perpustakaan FT UGM saya mulai pada 3 Mei 2012. Pada tanggal 2 Mei 2012 saya resmi dilantik untuk menggantikan pak Purwono yang memasuki masa pensiun.
Sebenarnya berat meninggalkan Teknik Geologi UGM. Pada acara serah terima tersebut saya katakan bahwa saya mendapat banyak hal dari Teknik Geologi UGM meskipun pada awalnya saya merasa menyesal bekerja di Teknik Geologi UGM. Bahkan kepada pak Pri (Asisten Dekan bidang Sarana) saya katakan bahwa di Geologi UGM saya merasa diberi kebebasan berkreasi terkait perpustakaan. Inilah yang mungkin tidak didapatkan oleh rekan lain yang ada diperpustakaan jurusan lainnya pada lingkungan FT UGM.

Sore harinya, saya merasa sangat sangat "trenyuh" ketika Jurusan Teknik Geologi menyiapkan acara khusus untuk perpindahan saya sekaligus acara selamat datang untuk 2 karyawan baru. Satu untuk menggantikan saya, satunya lagi untuk menempati posisi arsiparis.
Pada acara itu, saya tekankan lagi bahwa awalnya saya menyesal bekerja di geologi ugm, namun ternyata ada banyak hal yang saya dapatkan di geologi ugm. Geologi UGM ibarat kawah candradimuka yang mendidik emosi, karakter juga skill.

Perpust FT UGM

Pada wilayah kerja baru ini, saya merasa ada hal yang berbeda. Selain saya adalah staff paling muda, saya juga diminta menjadi pemimpin mereka.
Saya berusaha terbuka. Memang ada banyak permasalahan baik sederhana maupun pelik ada di perpustakaan ini. Beberapa hal saya gali, dengan harapan ada yang bisa diselesaikan dan ada yang bisa dipercepat. Dipercepat dalam arti perpustakaan segera memberikan layanannya.
Ada seorang staff yang mengatakan sudah jenuh, 7 bulan tidak bekerja. Ah benar juga ya... bayangkan berbulan-bulan mereka menunggu gedung baru selesai direnovasi, setelah selesai ternyata masih banyak hal yang harus dibenahi alias belum selesai 100%.


Keterbukaan

Sebelum serah terima, ada sms masuk ke HP saya. Intinya mengundang saya pada acara ramah tamah dengan rekan-rekan karyawan perpustakaan FT UGM. Saat menerima sms itu, saya belum dilantik menjadi Pj Kepala Perpustakaan FT UGM.
Ketika saya sampaikan sms itu kepada istri, istri saya mengatakan bahwa itu wujud bahwa mereka benar-benar mengundang dan ingin ngobrol dengan saya.
Akhirnya saya terima dan pada 3 Mei 2012 siang, kurang lebih pukul 11.00 sd 13.00 saya dan rekan rekan pengelola perpustakaan FT UGM (mulai dari pustakawan sampai dengan petugas kebersihan) berangkat menuju Jambon Resto. Di sana kami ngobrol ngalor ngidul tentang perpustakaan FT dan segala pernak-pernik permasalahan serta idealismenya.
Tak disangka, ternyata antusiasme rekan kerja saya luar biasa. Banyak hal saya gali dari pertemuan singkat itu. Bahkan ada usulan yang akhirnya muncul dan banyak inisiatif muncul dari mereka.
Rekan kerja saya orang yang kreatif, tinggal memantik. Insyaallah setelah pantikan itu bekerja akan ada hasilnya. Sabar, tentunya dibutuhkan dalam hal ini. Jika ada masalah, tentunya wajar.
Karakter yang beragam, tentunya menjadi hal tersendiri yang harus diperhatikan, apalagi semuanya lebih sepuh dari pada saya. Selain peran mengarahkan, tentunya saya juga harus menjaga hati mereka sebagai orang yang lebih tua dari pada saya....

Sebenarnya saya masih ingin menahan untuk melontarkan ide saya, namun satu dua ide akhirnya muncul pada acara itu. Mulai dari adopsi model yang saya dapatkan di Jurusan Teknik Geologi UGM yaitu program briefing serta evaluasi berkala.

Ah... rekan kerja saya memang luar biasa.

Wednesday, 11 April 2012

, ,

Petisi: Hentikan Tradisi Kebijakan Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan

http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/10/petisi-hentikan-tradisi-kebijakan-penempatan-pegawai-bermasalah-di-perpustakaan/

Untuk kedua kalinya, citra perpustakaan sekolah diperburuk oleh kebijakan penempatan guru bermasalah di perpustakaan sekolah. Kasus terbaru di SMPN 26 Purworejo seperti yang diberitakan oleh Harian Suara Merdeka, 18 Maret 2012 dengan judul “Guru Pemukul Siswa Dibebastugaskan Mengajar”. Dalam berita tersebut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo, menyatakan bahwa guru berinisial Ar yang melakukan penganiayaan terhadap siswa SMPN 26 Purworejo untuk sementara dibebastugaskan dari mengajar dan untuk sementara menjadi petugas perpustakaan. Tahun 2009, kasus yang sama terjadi di SMP Negeri 79 Jakarta, seperti yang dimuat di Koran Tempo pada tanggal 19 Januari 2009 dengan judul “Guru Penganiaya Siswa Dipindah Tugas ”.

Menyikapi kasus-kasus tersebut di atas, kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) sebagai lembaga pengembangan kepustakawan sekolah Indonesia menyampaikan keberatan terhadap kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan karena telah memberi citra buruk bagi perpustakaan sekolah sebagai tempat penghukuman.

Kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan merupakan bentuk kurang pahamnya para pengambil kebijakan di instansi-instansi yang mengelola bidang pendidikan tentang fungsi perpustakaan sekolah serta standar perpustakaan sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25 Tahun 2008. Kasus ini, selain memberi citra buruk terhadap perpustakaan sekolah juga merupakan pelecehan terhadap profesi pustakawan.

Kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama APISI berharap di masa mendatang kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah lain serta di semua jenis perpustakaan di Indonesia.

Secara tegas kami menyatakan:

“Hentikan tradisi kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan!”

Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)
Alamat Sekretariat APISI
Jl. Dahlia No. 355A Rt 007/15 Serua Ciputat 15414
Telepon: 021- 94326925; 021-818155374; Faks: 021-746 37 522
Email: kotaksurat@apisi.org
Website: http://apisi.org/

Solidaritas Pustakawan Tolak Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan
Ahmad Subhan 081 227 1955 77
lempoxe@yahoo.com
http://www.facebook.com/groups/solidaritaspustakawanindonesia

Petisi ini didukung oleh:

1. AC Sungkana Hadi (Pustakawan Utama Universitas Cendrawasih).
2. Acep Muslim (Pustakawan AKATIGA Bandung).
3. Achmad Djunaedi (Pustakawan PUSTAKA, Bogor).
4. Ade Heri Wibawa (Pustakawan SDN 2 Klampok Banjarnegara).
5. Adi Prasetyawan (Pustakawan UPN Veteran Jatim).
6. Aditya Nugraha (Perpustakaan UK Petra Surabaya).
7. Ahmad Subhan (Pustakawan IRE Yogyakarta).
8. Ahmadul Fajri (Riau).
9. Akhmad Syaikhu (Pustakawan PUSTAKA Bogor).
10. Ali Minanto (Pustakawan PolGov UGM).
11. Amy Lee (Pustakawan SMAN 3 Metro-Lampung).
12. Andang Liestyarini (Ujungberung).
13. Andres Amrulloh, S.Sos. (Bogor)
14. Andya Nur Cahyono (Pustakawan Unindra).
15. Any Fauzianie (Bandung International School).
16. Arie Nugraha (Dosen IP&I UI).
17. Arief Budiman (Alumni IP&I UNPAD).
18. Arif Surachman (Pustakawan FEB UGM).
19. Aris Maulana (Mahasiswa IP&I UI).
20. Arman Kurniadi (Jakarta).
21. Arsidi Ahmad (Pustakawan Sekolah Teladan, Pengurus ATPUSI Yogyakarta).
22. Asbahul Pajri Taslim (Pustakawan Universitas Dehasen Bengkulu).
23. Asep Saeful Rohman (Dosen IP&I UNPAD).
24. Bagus Ramdan (Konsultan Perpustakaan, Bandung).
25. Bambang Murdianto (Ungaran).
26. Bambang Setianto (Bojonegoro).
27. Banu Susanto (Pustakawan UNIMED).
28. Basya Zia (SDIT Luqman Hakim Yogya, Pengurus ATPUSI Kota Yogya).
29. Bayu Setya Pambudi, A.Md. (Yogyakarta).
30. Bondhan Endriawan (Pustakawan Univ. Negeri Trunojoyo Madura).
31. Christina Retno (Pustakawan, Bekasi).
32. Christina Tulalessy (Jakarta).
33. Christine Sadeli (Pustakawan Global Prestasi School, Jakarta).
34. Daud Saputra (Depok).
35. Dewi Apriliani (Bandung).
36. Dewi Puspitasari (Pustakawan UNAIR).
37. Dhama Gustiar Baskoro (Pustakawan UPH).
38. Dicky Ermandara (Sumedang).
39. Didik Witono (Surabaya).
40. Dimas Rizky Prasetio (Librarian Ruang Depan Gallery S.14).
41. Dimas Wahyu Nugroho (Pusat Dokumentasi HAM UBAYA).
42. Dina Isyanti (Pustakawan, Jakarta).
43. Dindin Catur Nur Putrianti (INTI College Indonesia).
44. Djoko Prasetyo (Purwokerto).
45. Dwi Novita Ernaningsih (Pustakawan UM).
46. Elfian Sumendap (Perpustakaan STA Tiranus, Bandung).
47. Elisabeth Sondang (Associate Librarian - JIS).
48. Endang Ernawati (Library and Knowledge Center Bina Nusantara University).
49. Endang Fatmawati (Kepala Perpustakaan FEB UNDIP).
50. Endang Fitriyah (Surabaya).
51. Endang Gunarti (Surabaya).
52. Endhar Priyo Utomo (Semarang).
53. Erizt Putra Kelana (Alumni IP&I UIN Sunan Kalijaga).
54. Etin Sumiyati (Sekretariat Wakil Presiden RI).
55. Evalien Suryati (Salatiga).
56. Fahma Rianti (Pustakawan STEI SEBI Sawangan Depok).
57. Faishal Hidayatullah (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro).
58. Firman Edi (ATPUSI Riau).
59. Francisca Messakh (Sekolah Pelita Harapan Karawaci).
60. Galuh Paramita Swasti (Pustakawan UDINUS Semarang).
61. Gamma (Staff Library News TV ONE).
62. Gerri Mulyawandry (Labschool Kebayoran).
63. Halima Bustami (Pustakawan UNJ).
64. Hamid Mahmud Marrancang (Perpustakaan STAIN Parepare).
65. Hanna Latuputty (Pengurus Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia - APISI).
66. Hartanto (Sidoarjo).
67. Hastun Rifa’i (Wonogiri).
68. Hendriyanto (Kulonprogo).
69. Heni Feviasari (Pustakawan STEI Tazkia).
70. Heri Kurniawan (Pustakawan SMAN 1 Lendah Kulonprogo DIY).
71. Heriyanto (Pengajar Ilmu Perpustakaan di Semarang).
72. Herlina (UPT Perpustakaan IAIN Raden Fatah, Palembang).
73. Hertanto Eko, A.Ma.Pust (Pustakawan SD di Kab. Tegal).
74. Hijrah Fitriani (Pustakawan RSUP Fatmawati Jakarta).
75. Hilda Putong (Librarian, Head of Research Center Ssttintim Makassar).
76. I Gede Edy Purwaka (Staf Unit Capacity Development, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta).
77. Ika Wulandari (Bandung).
78. Ikatan Alumni Ilmu Perpustakaan dan Informasi Sunan Kalijaga Yogyakarta.
79. Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII).
80. Imam Budi P (Binus Business School Librarian).
81. Imelda Nuralam Pakpahan (Pustakawan di Kementerian Kelautan dan Perikanan)
82. Imron Rosyadi (Pustakawan IAIN Walisongo Semarang).
83. Information Resource Center (IRC) Jakarta.
84. Irma Elvina (Perpustakaan IPB).
85. Irman Siswadi (Pustakawan UI).
86. Ishak Juarsa (Perpustakaan Sumatera Selatan).
87. Iskandar Said (Pustakawan Unhas Makassar).
88. Ismawati Setyaningsih (Pustakawan, Bekasi).
89. Iwan Prasetyo (Jakarta).
90. Iwan Tero (Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara).
91. Jajang Burhanudin (Pustakawan UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
92. Jazimatul Husna Arba’i (Pustakawan FTM TL UPN ” V” Yogyakarta ).
93. Joko Bangun Nugroho (Pustakawan SDN Kabuaran, Prb, Kbm).
94. Jumadi (Grobogan-Purwodadi).
95. Jurusan Ilmu Informasi & Perpustakaan Fikom UNPAD.
96. Kalarensi Naibaho (Pustakawan UI).
97. Kemala Widya Paramita (Jakarta).
98. Klub Perpustakaan Indonesia (KPI).
99. Kurnia Utami (Perpustakaan UMS).
100. Latifah Wahyuni (Pustakawan SMPN 7 Magelang).
101. Leilla Claudya (Surabaya).
102. Lenny Florida Sitanggang (Pustakawan Sekolah Medan).
103. Lenti Sitorus (Pustakawan Khusus – Jakarta).
104. Lesdi suryadi said,S.IP, (Pustakawan SMAN 9 Kota Tangerang Selatan).
105. Lilies Fardhiyah (Bogor).
106. Lis Setyowati (FT UNDIP).
107. Lukman Budiman (Bogor).
108. Lulu Lucyana (Jakarta).
109. Luthfianti Makarim (Pustakawan, Jakarta).
110. M. Harfano A (Pustakawan SMP/SMA Sutomo 1, Medan).
111. Mamok Suparmo Paulus (Yogyakarta).
112. Mariyah (Pustakawan UI).
113. Maryani Septiana (Pustakawan Poltek Batam).
114. Maryulisman (Pustakawan UIN Jakarta).
115. Mat Sjafii (Pustakawan Unair).
116. Melkion Donald (Pustakawan Baperpusip Prov. Jatim).
117. Minanuddin (Forum Perpustakaan Khusus).
118. Misbah Munir (Banjarmasin).
119. Mochamad Ariyo Faridh Zidni (Pustakawan Konsultan/Independen/ Jakarta-Bogor).
120. Moh Rif’an SIP (Pustakawan MAN 2 Madiun).
121. Mohamad Aries (Depok).
122. Mohammad Luthfil Hakim (Pustakawan Fak. Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
123. Muhammad Sholihin (Universitas Sebelas Maret).
124. Muhammad Tawwaf, S.IP.M.Si (Pustakawan UIN Suska Riau & Ketua PD IPI Riau).
125. Mujaini (Pustakawan Inspektorat Jenderal Kemenkeu).
126. Munawaroh (Perpustakaan STIE Perbanas Surabaya).
127. Murad Maulana (Pustakawan Bapusda Kab. Indramayu).
128. Muraro Bidami (Mahasiswa IP&I IAIN Raden Fatah Palembang).
129. Murtini Pendit (Pustakawan Senior).
130. Mustika Wati (Jakarta).
131. Musyawarah Kerja Pengelola Perpustakaan Sekolah (MKPPS) Kota Metro-Lampung.
132. Mutri Batul Aini ( Pustakawan Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta).
133. Nasirullah Sitam (Alumni IP&I UIN Sunan Kalijaga).
134. Neni Trisnawati (Bogor).
135. Nina Purwani Istiana (Pustakawan UGM).
136. Nurma Baity Abidin, S.Hum (Perpustakaan SMKN 1 Tengaran, Kab.Semarang).
137. Nurul Hayati (JIP UIN Jakarta).
138. Ola Triana (Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan Fikom Unpad).
139. Perpustakaan American Corners Indonesia.
140. Perpustakaan Antropologi Padjadjaran.
141. Perpustakaan Dbuku (Surabaya).
142. Perpustakaan UNIKOM (Bandung).
143. Prafita Imadianti (Mahasiswa Magister Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia).
144. Prakoso Bambang (Surabaya).
145. Prita Hw (Alumni IIP Unair, Founder Jaringan Insan Baca, Penulis).
146. Puti Asmarani (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
147. Quraisy Mathar (Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar).
148. Rahmad Adhi Tama (Depok).
149. Rahmat Saputra (Depok).
150. Ratna Kriswijayanti (Perpusda Kab. Jepara).
151. Reni Siti Zachrani (Pustakawan Balitnak, Bogor).
152. Resty Jayanti Fakhlina (Dosen Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi IAIN Imam Bonjol Padang).
153. Retno Vian Rosika (Pustakawan SMP 8, Kota Batu).
154. Riana Mardina (Pustakawan UKRIDA).
155. Rika Mustikawati, S.Sos (Sukabumi).
156. Rini Yastuti (Semarang).
157. Rosita T (Perpustakaan HITS Tangerang).
158. Rotmianto Mohamad (Pemkab Magetan).
159. Salmubi (Perpustakaan B.J. Habibe Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar).
160. Samuel Tri Santoso (Pustakawan SMA WARGA Surakarta).
161. Sasadara Manjer Kawuryan (Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang).
162. Sekar Dinihari K. Wardhana (Ichthus School Jakarta South).
163. Shanti Maulani (Mahasiswa II&P Fikom Unpad).
164. Siti Nurningsih (Jakarta).
165. Sri Ati Suwanto (Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP).
166. Sri Sulastri Prabowo (Bogor).
167. Sri Wulan (Pustakawan Biologi LIPI).
168. Sugeng Wahyu Ariyadi (Pustakawan Baperpusip Prov. Jatim).
169. Sulistiorini (Pustakawan Unair).
170. Sulistyo Basuki (Profesor Ilmu Perpustakaan & Informasi).
171. Supriyadi (Pustakawan STKIP MPL LAMPUNG).
172. Sushanty Chandradewi (Librarian The Japan Foundation, Jakarta).
173. Suzanna Katharina Mamahit (Universitas Ciputra Library).
174. Tan Kayen (Kedungwuni).
175. Tatang Pamungkas (Surabaya).
176. Taufik Hidayah (Pustakawan SMP Negeri 2 Maos,Cilacap).
177. Tri Hardiningtyas (Pustakawan UNS).
178. Trini Haryanti (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia).
179. Umi Proboyekti (FPPTI DIY).
180. Verina Maria Oktaviane (Pustakawan Majalah SWA).
181. Vivit Wardah Rufaidah (PUSTAKA BOGOR).
182. Wahid Nashihuddin (PDII LIPI).
183. Wasli Andril Fajar (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UNAIR).
184. Wawan Darmawan (Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan UNPAD).
185. Welmin Suharto (Pustakawan Universitas Brawijaya).
186. Wibowo Purnomohadi (Pendiri Grup Republik Pustakawan).
187. Wiji Lestari (Mahasiswi D3 Perpustakaan UNS).
188. Winda Hanifa (Mahasiswa IP&I).
189. Wuri Indri Pramesti (Sumedang).
190. Yanti Kustanti, A.Md., S.Sos. (Pustakawan SMA Negeri 3 Sidoarjo - Jawa Timur).
191. Yanto Dhiya’uddin (Mahasiswa S2 IP&I UIN Sunan Kalijaga).
192. Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI).
193. Yoseva Silaen (Pustakawan Khusus).
194. Yournetty (Pustakawan Perpustakaan Umum LIA).
195. Yuli Asmini (Pustakawan dan Educator Komnas HAM Indonesia).
196. Yulianti Fajar Wulandari (Pustakawan Kementerian Kehutanan RI).
197. Yulianti Sodikin (Pustakawan Fikom Unpad).
198. Yusri Fahmi (Pustakawan STAIN Padangsidimpuan Sumatera Utara).
199. Yustin Ningsih (Jombang).
200. Zulianto Adi (Pustakawan Sekolah Alam Cikeas).

Friday, 18 June 2010

, ,

Plugin Daftar Online di SLiMS

Berikut plugin untuk proses daftar ulang anggota perpustakaan yang menggunakan SLiMS. Ini dibuat ketika di perpustakaan saya (Geologi UGM) menghadapi mahasiswa baru yang banyak dan harus memasukkan satu-satu.
Pada awal saya buat sangat jadul, tapi berkat polesan Om Arie Nugraha, jadi lebih ramping.

Dengan cara online para anggota baru dapat mendaftarkan diri dan petugas tinggal mengaktifkan saja. Ketika mendaftar online, keanggotaan masih di disable.

Sayangnya plugin ini masih belum ada fitur upload foto dan pengamanan antispamnya.

Masukkan kedua file ini di /lib/contens/
Kemudian panggil dengan menggunakan /index.php?p=form

File dapat diunduh di sini

Friday, 4 June 2010

, , , ,

Komunitas SLiMS Jogja: sejarah singkat

"All of Us together are smarter than just a few of us" 1


Komunitas ini merupakan komunitas yang mempunyai minat bersama pada perangkat lunak SLiMS. SLiMS merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan yang dirilis dengan lisensi opensource (http://senayan.diknas.go.id). SLiMS telah digunakan oleh lebih dari 120 perpustakaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. SLiMS sendiri dikembangkan oleh pustakawan di Indonesia dan didukung oleh para programer dari luar negeri.

Ide mendirikan komunitas ini adalah didorong oleh keinginan untuk belajar bersama tentang SLiMS, terinspirasi model komunits Linux dengan visi ingin memerdekaan pustakawan dan meningkatkan kompetensi pustakawan terutama dalam bidang teknologi informasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa masih ada banyak pengelola perpustakaan yang belum mengenal perangkat untuk manajemen perpustakaan. Komunitas SLiMS ingin mengangkat harkat dan martabat pustakawan dengan SLiMS yang menyediakan solusi berbasis komunitas.

Kegiatan yang dilakukan adalah kumpul bulanan belajar menggunakan dan sedikit demi sedikit belajar mengembangkan software SLiMS. Tempatnya bergiliran dan diusahakan free alias tidak berbayar bagi setiap orang yang ingin bergabung.

Komunitas SLiMS berdiri kurang lebih pada bulan Januari 2010, padaa saat ini berkumpul 6 orang di selasar KPTU Fakultas Teknik UGM. Keenam orang ini adalah Purwoko, Budhi Santoso, Sumaryanto, Yusuf, Adi dan Haris. Pertemuan yang kemudian berpindah di perpustakaan Teknik Geologi UGM ini membuat kesepakatan akan ditindaklanjuti dengan acara (yang akan diusahakan) bulanan dengan format awal belajar bersama mengenai SLiMS. Personil yang kemudian bergabung cukup banyak, tercatat ada Tarto, Ari Suseno, Heri Abi; dari luar kota ada Awriel Apria S (Banjarnegara), Hartono (Kudus), Wisnu (solo), Priyanto (solo), Muhtarom (bantul) dan banyak lagi.

Pertemuan kedua pada bulan berikutnya juga diadakah di selasar KPTU Fakultas Teknikn UGM. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh 14-an orang baik mahasiswa perpustakaan maupun pustakawan. Di KPTU ini ke 14 orang tersebut belajar upgrade SLiMS dan menginstall SLiMS terbaru. Pada saat acara ini bertepatan dengan seminggu sebelum Mini SDD (Senayan Developers Day) di Jakarta yang dilaksanakan oleh SDC (Senayan Developer Community).

Pertemuan ketiga dilaksanakan di UIN Sunan Kalijaga, tepatnya di masjid darurat UIN (Sebelah gedung serbaguna). Hadir sekitar 34 orang terdiri dari mahasiswa, pustakawan dan bebetulan juga di hadiri oleh 2 developer SLiMS dari Jakarta (Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha) yang kebetulan ada acara di IAIN Walisongo Semarang.

Pertemuan keempat dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fakultas Geografi UGM dan dilaksanakan di lingkungan Fakultas Geografi UGM. Diluar dugaan pertemuan keempat ini dihadiri oleh bukan hanya dari wilayah jogja, namun juga dari Solo, Boyolali, Kudus dan Klaten. Keseluruhan yang hadir mencapai 70-an orang. Pertemuan kali ini membahas tentang upgrade SLiMS dan SLiMS for beginner.

Pertemuan kelima diadakan di Ruang Seminar 1 Fisipol UGM (29 Mei 2010) dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fisipol UGM. Hadir dalam pertemuan ini seratusan lebih dari berbagai daerah, diantaranya Kudus, Boyolali, Klaten, Bantul, Banjarnegara. Pertemuan kali ini diberi tajuk Senayan Community Meetup yang dihadiri oleh kelompok developer senayan dari jakarta (Hendro Wicaksono, Arie Nugraha, Arif Syamsudin dan Wardiyono).

Pertemuan kelima ini cukup fenomenal, karena disampaikan secara langsung oleh pengembang tentang fitur baru di SLiMS stable 14 (Seulanga) dan ide-ide yang akan diterapkan di SLiMS stable 15 (Matoa).

Fitur baru di Seulanga adalah Union Catalog Service, P2P Service, Cetak bukti transaksi, Flexible custom field di membership dan bibliografi. Semetara ide untuk Matoa adalah implementasi third party indexing, P2P paging, pencarian yang baru dan dukungan notasi klasifikasi.

Target komunitas SLiMS kedepan adalah membuat perpustakaan yang ingin menggunakan perangkat lunak untuk otomasi dapat terfasilitasi dengan SLiMS, kemudian perpustakaan yang telah menggunakan SLiMS di Jogja dapat disatukan dalam sebuah katalog induk Jogja, sehingga orang yang ingin mengunjungi perpustakaan Jogja tinggal mengklik satu url saja. Fasilitas untuk Union Catalog ini telah tersedia di Seulanga (Stable 14). Selain itu, bersama dengan para developer, Komunitas Jogja berharap menjadi acuan pembangunan komunitas serupa di daerah lain di Indonesia.

Komunitas SLiMS jogja juga membuka diri untuk diajak bekerjasama dalam pengembangan teknologi informasi perpustakaan berbasis komunitas, baik dengan peerintah kota, kabupaten atau propinsi dalam rangka pengembangan perpustakaan.



Fitur Home





Fitur OPAC





Komunitas SLiMS mempunyai blog di http://slims.blogdetik.com, dan untuk komunitas jogja dapat dihubungi saudara Tarto (081904042823)

Salam..

* jika ada yang masih kurang dari tulisan ini boleh ditambahi, terutama tanggal-tanggal kegiatan

Wednesday, 2 June 2010

, , , , ,

Menggunakan Github

Kalau dalam berinteraksi dengan orang lain ada Facebook dengan segala fiturnya, maka dalam melakukan coding/programming ada Github. Sesuai dengan mottonya, Github merupakan Social Coding.

Untuk menggunakan Github dalam melakukan coding secara bersama-sama (sebenarnya bukan hanya coding pemrograman, namun bisa juga untuk berbagi selain pemrograman) kita harus melakukan registrasi dan kemudian mendaftarkan SSH Public Key.

Untuk mendaftarkan SSH Public Key silakan baca manual berikut.

Kemudian melakukan Fork dari projec yang kita ingin bergabung.

Beberapa perintah dalam Git:

git clone git@github.com:slims/s3-doc-id.git s3-doc-id (mengclone projec s2-doc-idnya SLiMS dari github ke folder s3-doc-id lokal) Kode git@github.com:slims/s3-doc-id.git bisa anda dapatkan dari folder projec yang ingin anda ikuti, untuk SLiMS misalnya http://github.com/slims/
contoh di console:
tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs$ git clone git@github.com:slims/slims5_meranti.git slims5_meranti


Setelah clone, kemudian hasil clone di komputer lokal anda dapat anda buka, anda tambah atau kurangi. Setelah proses pengembangan program di komputer lokal anda selesai, kemudian anda harus mengunggah hasilnya ke server github untuk dapat di satukan dengan apa yang dikembangkan oleh orang lain.

Untuk mengunggah, atau dalam github di sebut push anda harus melakukan beberapa langkah terlebih dahulu:



git add . Keterangan:add [spasi] titik. (perintah ini dilakukan jika ada file baru yang ditambahkan pada sebuah project, misal ada image atau file lain yang dimasukkan)
git commit -a --Keterangan:commit[spasi] minus a [spasi] minus-minus (perintah jika ada perubahan pada sebuah file). Pada perintah commit ini, kita akan diperintahkan untuk menuliskan identitas perubahan yang telah dilakukan. Misalnya "Added: News Module"


Setelah itu, barulah kita push ke server github, perintahnya:

git push git@github.com:slims/s3-doc-id.git master (mengirimkan file dari komputer ke github)


Untuk mengantisipasi, siapa tahu ada orang lain yang sudah melakukan unduh dan mengubah,serta sudah di push, maka kita harus menyatukan apa yang sudah ada di server dengan yang telah kita modifikasi di komputer lokal.


git pull git@github.com:slims/s3-doc-id.git master


Bagaimana jika anda membuat dokumen baru dikomputer anda, lalu anda ingin mengunggahnya (push) ke github? (contoh sebelumnya dilakukan untuk projec yang sudah ada di git, kita tinggal meng clone).



1. setelah melakukan otentifikasi SSH, maka anda harus membuat dokumen
2. setelah dokumen jadi dan ingin mem-push ke github, anda harus:
3. membuat folder di github anda
4. masuk ke direktori yang sudah anda buat, lalu:
5. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git init
6. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git add .
7. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git commit -a
8. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git push git@github.com:purwoko/ucs-doc-id.git master






Git juga bisa melakukan pull dan push dari komputer lokal anda, contoh perintanya:
git pull ../s3st14-docclone master (mengepull file dari posisi ke s3st14-docclone master)


Git akan melakukan penyatuan dan pencatatan perubahan yang dilakukan. Informasi perubahan dapat dilihat dengan perintah:

gitk


Selain itu, dapat dilihat pula di http://github.com/[nama projec]/commits/master, misalnya http://github.com/slims/s3-doc-id/commits/master

Beberapa manual github dapat dibaca di:

1. Git Guide
2. Tips 1
3. Tips 2
4. Tips 3
5. Git di Wikipedia
6. Git Clone @kernel.org

Monday, 4 January 2010

, , , , , ,

SOCIAL INFORMATICS

Sumber: http://rkcsi.indiana.edu/archive/SI/si2001.html

Apakah Informatika Sosial itu?

Informatika Sosial (IS) adalah studi yang sistematik dan interdisipliner pada disain, penggunaan dan konsekuensi dari Teknologi Informasi, yang ambil bagian pada interaksi dengan institusi dan konteks budayanya. Sehingga, ini merupakan studi aspek sosial dari komputer, telekomunikasi dan teknologi yang berhubungan, serta menguji isu-isu, misalnya bagaimana TI membentuk hubungan antara organisasi dan aspek sosialnya, bagaimana gerakan sosial mempengaruhi penggunaan dan disain TI. Sebagai contoh, peneliti IS tertarik pada pertanyaan mengenai akibat pengembangan TI di masa depan. Bagaimanapun, tidak seperti gaung spekulasi pada umumnya, strategi peneliti IS biasanya berdasar pada data empirik. Peneliti SI menggunakan data untuk menganalisis keadaan saat ini dan yang baru saja terjadi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bagaimana perubahan sosial itu dimungkinkan, yang masuk akal dan dimungkikan pada masa akan datang.

Istilah TI biasanya merujuk pada berbagai aplikasi yang luas, misal email, pengolah kata, program pengubah video, perambah jajaring, sampai pada teknologi yang mendukung berbagai aplikasi yang berbeda, misal jaringan fober-optik. Pada tataran individu, penggunaan TI membutuhkan penggunaan seperangkat aplikasi TI yang spesifik, misalnya datbase atau internet. Di Amerika Utara, istilah TI sering digunakan agak tidak tepat, untuk merujuk pada aplikasi khusus atau teknologi dasar yang luas.

Salah satu konsep kunci dari IS adalah bahwa TI tidak didisain atau digunakan pada aspek sosial dan teknologi yang terpisah. Dari sudut pandang ini, kontek sosial dari TI mempengaruhi pengembangan, penggunaan dan akibatnya. Akibat, dapat terjadi dengan tidak langsung dan terlihat pada hitungan periode, tahun atau dekade, bukan pada hitungan bulan.

Dari perspektif SI, aplikasi TI dapat di lihat sebagai "jaringan sosio teknologi", yang mana sistem terdiri dari berbagai elemen berbeda, seperti perangkat keras, perangkat lunak, kontrak resmi serta orang dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan elemen sistem yang lain.

Dari perspektif non-IS, pada penggunaan dan efek dari TI terpusat hampir semata-mata pada katakteristik teknis (misal: fitur pemroses informasi pada komputer), dan posit specific effects due to those features.


Posisi ini disebut dengan detirminisme teknologi. Perspektif ini memandang banyak elemen penting, misalnya kontek sosial dan organisasional daro teknologi dan manusia yang menggunakannya. Beberapa perspektif juga membentuk asumsi yang keliru, isalnya asumsi bahwa aplikasi TI punya arti yang sama untuk semua yang menggunakannya dan akan mempunyai akibat yang sama untuk semua.

Pada area ini, misalnya, banyak orang yang antusias pada kemungkinan penggunaan internet untuk meningkatkan pendidikan publik di Amerika. Pada akhir 1990-an, banyak sekolah yang diberi internet dan mendapatkan laboratorium komputer. Bagaimanapun, banyak politisi dan orangtua yang tidak merealisasikan pelajar menggunakan internet untuk mendorong penelitian baru, dipengaruhi cara guru menggabungkan sumberdaya internet kedalam pengajarannya. Dalam banyak kasus, meskipin sekolah diberi akses pada internet, guru tidak dibantu dalam mengembangkan minat dan cara terbaik dalam mengajar menggunakan layanan internet.

Peneliti IS mengharapkan bahwa akan ada perbedaan mendasar pada nilai pendidikan intenet pada sekolah, dimana guru mempunyai cukup dukungan untuk memikirkan dan mengaplikasikan cara baru dalam mengajar, dibanding dengan sekolah yang tidak memiliki (intenet).

Dengan demikian, peneliti IS tidak akan mengharapkan untuk menemukan akibat yang sama pada lintas sekolah yang menerima koneksi internet.

Bersambung..

Wednesday, 23 December 2009

, , , ,

Socio-Technical Systems in ICT: A Comprehensive Survey

(terjemahan bebas, sebebas-bebasnya dari artikel Alexis Morris) :)
kalau ada yg berkenan mengedit, bisa tulis di komentar.


Pada setiap organisasi, baik berisi manusia, mesin maupun fenomena alami, prinsip-prinsip sistem yang komplek akan berjalan. Komponen pada sistem itu bisa aktor yang rasional, semi rasional, atau tidak rasional, dimana semuanya berimplikasi pada lingkungan juga pada keseluruhan organisasi.

Pada tulisan ini, cakupan STS (Socio-technical systems) yang luas akan di survei dan dipaparkan bedasar empat perspektif kunci yang ditemukan dalam literatur. Prinsip ini bertujuan untuk menunjukkan sulitnya STS bekerja, serta untuk mendiskusikan teori, analisis, disain, dan teknik dari tiap sistem. Bagian kedua membahas konsep secara lebih ditail, mendeskripsikan definisi, karakteristik, prinsip dan pentingnya paradigma. Bagian 3 mendeskripsikan perbedaan dalam berbagai perspektif dalam hubungannnya dengan STS. Bagian 4 mendiskusikan pendekatan literatur pada perspektif yang disebutkan sebelumnya. Baguan lima menyajikan diskusi dan kesimpulan dari paper ini.

STS
: Socio-Technical Systems
Definisi: definisi singkat untuk STS sulit untuk ditemukan yang paling tepat dalam literatur. Majchzrak dan Borys mencatat bahwa konsep ini berdasar pada teori sistem terbuka, namun dalam suatu waktu juga 'sebuah filosofi dan metodologi, paradigma yang terdiri dari skema konseptual, disain proses, serangkaian nilai tentang kerja, kondisi kontekstual, dan tradisi sejarah berdasar psikologi, sosiologi dan penelitian tempat kerja". Griffit dan Dougherty, dalam diskusinya tentang peran sistem ini pada management teknologi dan engineering, mendifinisikan perspektif STS sebagai " organisasi yang dibangun oleh manusia (sistem sosial) menggunakan alat, teknik dan pengetahuan (technical sistems) untuk menghasilkan barang atau layanan yang bernilai untuk customers (yang menjadi bagian dari lingkungan eksternal organisasi)". Definisi yang lebih linear dengan ranah ICT adalah yang diungkapkan oleh Baxter dan Sommerville. STS adalah "sistem yang berisi interaksi kompleks antara manusia, mesin dan aspek lingkungan dari sistem yang berjalan".

Karakteristik dan Prinsip STS

Kebetulan ada banyak istilah yang mirip pada literatur yang menjelaskan sistem sejenis yang kurang lebihnya adalah socio-technic, sebagaimana dijelaskan diatas. Diantaranya adalah: techno-social systems, cyber-physical systems, ensemble engineering, software intensive systems, holarchies, actor-network theory, agent-oriented mechanism design, autonomic computing, dan societal computing. Baxter dan Sommerville telah menyajikan survei yang lebih komprehensive pada STS dari perspektif ICT, dan menghasilkan beberapa karakteristik kunci dari sistem tersebut dan prinsip dasar untuk disain sosio-teknologi. Mereka juga memotivasi adanya kebutuhan untuk menggabung lebih dalam lima komunitas kunci dalam satu kesatuan tunggal disiplin Socio-Technocal Systems Engineering (STSE).

Komunitas kunci pada penelitian Socio-technical
Ada banyak aspek dalam penelitian STS, tapi diantaranya merupakan kunci untuk mempercepat perkembangannya. Kunci-kunci tersebut adalah:

    1. - disain kerja dan tempat kerja
    2. - sistem informasi
      - Computer-supported cooperative Work (CSCW)
      - cognitive systems engineering
      - Interaksi manusia-komputer
      - Ubiquitous (dimana-mana) Computing.



Karakteristik kunci dari sistem sosio-teknik
Bagian ini memberi catatan bagaimana membedakan STS, berdasarkan karakteristik umum

    • - Mempunyai bagian yang saling bergantung
    • - Dapat menyesuaikan pada perubahan dalam lingkungan untuk mengejar tujuan
      - Mempunyai lingkungan internal sama sebagaimana lingkungan sebenarnya (real world)
      - Terpisah, tetapi saling bergantung, baik subsistem sosial maupun teknis
      - Berjalan pada lingkungan dimana ada pilihan/pembuatan keputusan
      - Adanya perpaduan optimisme, dari systems berdasar optimisme tiap subsistems


Lebih lanjut, Trist mendeskripsikan karakteristik STS berikut sebagai paradigma, menunjukkan bagaimana pendekatan penelitian STS berbeda dari faktor teknologi sebagai penentu.



Paradigma lama
Pentingnya teknologi
manusia merupakan perpanjangan mesin
manusia sebgai suku cadang habis pakai
rincian tugas maksimal, ketrampilan terbatas
kontrol eksternal (supervisor, staf khusus)
bagan organisasi tinggi, gaya otokrasi
kompetisi, gamesmanship
hanya kepentingan organisasi
pengasingan (alienation)
kemauan ambil risiko rendah



paradigma baru
gabungan
manusia saling mengisi dengan mesin
manusia sumberdaya yang dapat ditingkatkan
kelompok tugas optimal, ketrampilan beragam
internal kontrol (self regulating subsystems)
bagan organisasi datar, gaya partisipatif
kolaborasi, kolegial
ada kepentingan/tujuan masyarakat dan anggota
commitment
penuh inovasi




Prinsip kunci STS

beberpa prinsip disain STS lebih lanjut ada dalam banyak literatur, tapi yang paling populer adalah yang diungkapkan Chern. Pendekatan lain dari disain STS dalam paper yang sama (Chern), memuat analisis kerja kognitif, disain kontekstual, rekayasa sistem kognitif, diantaranya. Point pentingnya adalah prinsip disain STS dipelajari dengan baik, tapi gagak diadopsi dalam ranah praktis dengan berbagai alasan, yang mana dapat dikoreksi melalui penggabungan area tersebut sebelumnya. Cern mencatat bahwa sosial sistem mempunyai empat fungsi subsistem yang harus ada dalam sistem yang sukses/berhasil, dan oleh karena itu harus di teliti oleh desainer. Yaitu harus:
- mencapai tujuan organisasi
- menyesuaikan diri dengan lingkungan
- menyatukan aktifitas manusia dan menjadi solusi masalah
- fill occupational roles via recruitment and sosialization

bersambung...