Thursday, 23 April 2026

, ,

Fakta-fakta pada pemilihan MWA UGM Unsur Tendik 2026


Pemilihan langsung anggota MWA UGM unsur tendik 2026-2031 telah usai. Terpilih Fitria Yuniarti, Katimker  Innovation Project Management sebagai pemenangnya. Berikut beberapa fakta dari pemilihan tersebut.

hasil akhir

Hari Kartini 
Pemilihan dilakukan selama 24 jam, mulai dari 20 April 2026 pukul 12 siang, hingga tanggal 21 April pukul 12 siang.

Pada pemilihan melalui vooting di hari Kartini ini, terpilih seorang perempuan untuk menjadi wakil tendik di MWA. Jika dilihat ke belakang, Fitria merupakan perempuan pertama calon anggota MWA unsur tendik.


Paling demokratis
Wakil tendik dipilih melalui pemilihan langsung, yang sifatnya bebas dan rahasia, secara daring menggunakan aplikasi Simaster. Pemilihan MWA unsur tendik ini merupakan proses paling demokratis dibanding pemilihan unsur lain di MWA. 

Misalnya, unsur mahasiswa tidak "lahir" dari pilihan para mahasiswa, unsur alumni tidak "lahir" dari pilihan para alumni, melainkan melalui panitia atau tim yang memang dibentuk untuk memilih/menentukan.

Partisipasi meningkat
Partisipasi pemilih dalam penentuan wakil MWA unsur tendik tahun 2026 meningkat dibanding periode sebelumnya. Periode 2021 sejumlah 1,536 menggunakan hak pilihnya. Sementara tahun 2026 sejumlah 2191 tendik menggunakan hak pilihnya. Terdapat peningkatan sejumlah 655 pemilih atau sekitar 42%. 
partisipasi pemilih

Bukan pejabat struktural
Pemenang  pada pemilihan langsung MWA unsur tendik 2026 berasal dari staf yang bukan pejabat struktural, mengalahkan 1 pejabat struktural yang juga ikut pada pemilihan ini. Ini cukup menarik.

Pemenang berasal dari unit di gedung pusat. Jika dilihat dari jumlah staf, unit yang menjadi asal pemenang merupakan unit kecil, bukan selevel fakultas yang membawahi banyak staf. 

Lalu dari mana  596 suara (27,20%) berasal?

Pertama tentu dari kampanye. Fitria meluncurkan video kampanyenya justru saat curah gagasan. Berbeda dengan kandidat lain, kemasan presentasi menggunakan video cukup memberikan kesan. Selain menyampaikan gagasan, konsep videonya juga menghibur. Strategi presentasi menggunakan video juga bisa dilihat sebagai strategi: menghilangkan beban presentasi. Strategi ini bisa dianggap berhasil. 

Kedua, ada kemungkinan muncul korsa Gedung Pusat. Minimal dalam 2 periode terakhir, wakil tendik di MWA tidak dari gedung pusat. Kemungkinan besar para staf di gedung pusat hendak merebut supremasi wakil MWA agar kembali ke gedung pusat. 

Lebih meriah
Para calon berani mengatakan "pilihlah saya" secara terang-terangan, serta percaya diri dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Tentu ini menarik, karena biasanya calon akan bermain lebih soft dengan kalimat "jika saya diberikan mandat", "jika tendik memberi kepercayaan", dan semacamnya.

--------------------------##-----------------------

Referensi
  1. https://www.youtube.com/watch?v=BEMbtnhjmGM
  2. https://www.youtube.com/watch?v=cJ2YodYBSgE
  3. https://www.instagram.com/p/DXZKNsmgYc-/

Sunday, 19 April 2026

, , ,

Tabel rekap (tidak lengkap) calon MWA 2026-2031 unsur tendik

Sampai Minggu, 19 April 2026 pukul 15.51 sore, hanya 3 dokumen lengkap yang saya peroleh. Cukup? Tentu tidak. Namun tidak mengapa.

Dokumen saya peroleh tidak dengan meminta kepada calon. Saya hindari meminta dokumen kepada para calon.


Keterangan: DED - durung entuk data

Calon MWA unsur tendik periode ini, setidaknya ada kemajuan dari sisi jumlah, dari 6 di periode lalu menjadi 7 untuk periode 2026-2031. 

Selain itu, unit induk juga ada yang mendukung. Paling sederhana melalui postingan di IG unit. 

Keterwakilan perempuan juga meningkat. Jika periode sebelumnya hanya 1 perempuan, pada periode ini ada 3 perempuan mengikuti.

Berikutnya akan kita lihat bersama, apakah dari sisi pemilih akan mengalami perbaikan juga?

Periode lalu, total ada 1,536 pemilih berpartisipasi. Jika dibanding dengan total tendik tahun 2024 sebanyak 3585, angka partisipasi tendik mencapai 42,8%.  Kita berharap, pada periode ini akan meningkat. 

Selain jumlah, dinamika prosesnya terasa lebih semarak. Kiriman dokumen profil, video, ajakan memilih dikirim ke japri maupun di grup WA. Dalam video/poster tersebut, juga terang-terangan mengajak memilih dirinya. Percaya diri.

Agaknya, fenomena ini menunjukkan bahwa setelah pensiun, para calon anggowa MWA ini sudah tahu hendak ke mana. 

Nyaleg? Calon Bupati? Atau setidaknya calon lurah di kampung halamannya.


MWA bukan eksekutor

Anggota MWA bukan eksekutor. Jangan sampai para calon terjebak pada program praktis. Yang harus didorong itu kebijakan. Dan, mendorong terwujudnya kebijakan bukan hal mudah. Apalagi anggota MWA terdiri dari berbagai elemen. Dari level mahasiswa dan tendik, alumni yang berkibar di mana-mana, dosen yang tentu jejaringnya luas, guru besar, dan alumni yang memiliki jabatan namun masuk lewat masyarakat umum. Ada bargaining, ada adu gagasan, dan lainnya.

#######

Penutup

Harapan saya, MWA dari unsur tendik bukan MWA yang mriyayi. Bukan yang memosisikan diri sebagai ndoro. Bukan yang menjaga jarak karena jabatan. Bukan yang terlena oleh jabatan. Juga bukan orang yang baper-an karena kritik, baper karena idenya dikritisi, atau baper pada orang yang berseberangan. Bukan yang pelit informasi. Bukan yang siapa elu - siapa gue. 

MWA unsur tendik itu lahirnya dari tendik. Memilih atau tidak, semua tendik adalah yang diwakili. Tendik adalah ndoro-nya. 

Masing-masing calon punya gagasan. Dari sekian gagasan, jika tidak semua dapat digiring ke ranah kebijakan, siapapun yang terpilih, paling tidak mau mendengar, dan mau bercerita.

Itu saja, buat saya sudah cukup.

Lalu mau milih siapa?

Siapapun boleh! Masih ada agenda curah gagasan di hari Senin, 20 April 2026, untuk memperoleh informasi lebih lengkap terkait gagasan para calon. Masih ada waktu 1 hari sampai 21 April pukul 12.00 WIB untuk menentukan pilihan.

Bisa dari gagasannya.
Bisa dari kedekatannya.
Bisa dari isu gender.
Bisa dari kemudahan diaksesnya.
dan lain-lainnya

Yang jelas warga kampus pasti tidak akan milih karena jogetnya, ok gass-nya, atau gemoy-nya.  

------------------------------------**------------------------------------

Referensi


, , ,

Wisnu Budi usung empat komitmen. Yakin, Pak?

Catatan: Disclaimer ada di akhir tulisan



Wisnu Budi Ardianto (WBA) merupakan sekretaris pimpinan di FKG. Berbeda dengan 2 video sebelumnya (NBS dan IWW), durasi video WBA sampai 5 menit. Perlu waktu lebih lama untuk mencerna pesan yang disampaikan. 

Saya mulai... 

"Satu Visi untuk Perubahan, Satu Suara untuk Kesejahteraan". Ini semacam jargon, bukan visi. 

Pertanyaan yang muncul: Perubahan apa yang dimaksudkan? Adakah keadaan status quo yang perlu diubah?

Visi-misi (yang muluk)

WBA mengusung misi "Meningkatkan sinergi kemitraan strategis tendik bersama seluruh civitas untuk pencapaian UGM Top 100 Dunia dan Global Excellence Hub 2031".

Pesan di visi bisa diterima. Namun, penggunaan kata kerja "meningkatkan" menjadikan visi terasa seperti misi. Jika visi itu dianggap sebagai kondisi ideal yang ingin diraih, akan lebih baik jika visinya diubah menjadi "Terciptanya kemitraan strategis tendik bersama seluruh civitas untuk pencapaian UGM Top 100 Dunia dan Global Excellence Hub 2031".

Pada bagian misi, WBA mengusung "Pencapaian Renstra UGM 2022-2027 menuju Kepemimpinan Global 2031 sebagai Global Excellence Hub, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan bagi Tenaga Kependidikan". 

Pada bagian misi ini agak aneh. Yang hendak dicapai adalah kondisi ideal pada tahun 2031. Nah, untuk mencapai itu perlu pencapaian renstra 2022-2027. Anggota MWA terpilih akan bertugas sampai 2031. Lalu 4 tahun sisanya ngapain?

Selain itu, tahun 2027 (sebagai akhir dari renstra) itu tinggal 1 tahun. Cukup, po?


Komitmen (yang begitu banyak) 
Komitmen, menutur KBBI berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. WBA, menurut saya, terlalu berani menuliskan 4 komitmen. Bagus, sih. Dengan komitmen yang jelas, akan mudah pula dalam membandingkan dengan kandidat lain, untuk memutuskan pilihan. Dan jika terpilih, jelas pula yang ditagih.

Ada empat komitmen WBA. Komitmen ini, dalam konteks kampanye menarik pemilih, sepertinya benar-benar hendak digunakan untuk menunjukkan betapa pahamnya WBA pada kebutuhan tendik. Apalagi komitmen ini menyentuh hal yang populis, dan bagian yang "diinginkan" tendik. Misalnya kesejahteraan, kemudian kompetensi melalui jejaring internasional. 

Siapa yang tidak tersihir oleh kata sejahtera? Dan siapa yang tidak ingin dapat kesempatan belajar di luar negeri?

Kesejahteraan & Karir: Memastikan kebijakan yang adil dan transparan untuk pengembangan karir serta kesejahteraan Tendik; Jenjang karir yang jelas, evaluasi dan penyesuaian kelas jabatan; Bina lingkungan

Digitalisasi Berbasis Kebutuhan: Perbaikan Sistem yang memudahkan pekerjaan, bukan menambah beban administratif yang rumit

Sinergi Kampung-Kampus: Menjaga harmoni dan kolaborasi antara UGM dengan lingkungan di luar kampus, UGM melaksanakan PkM dimana tendik tinggal sebagai wahana dan wujud apresiasi (UGM Berdampak)

Mitra Strategis Global: Memperjuangkan penguatan kompetensi Tendik di level internasional sebagai mitra strategis UGM.


Alih-alih fokus pada 1 hal, WBA justru memilih mengusuh 4 komitmen untuk mendukung visi dan misinya. Bagus. Namun di sisi lain komitmen ini nantinya bisa jadi beban berat WBA jika terpilih. 




Golongan elit?
WBA merupakan sekretaris pimpinan. Setidaknya info jabatan ini diperkuat oleh berita ini. Sespim bukanlah jabatan struktural. Dari media sosialnya, WBA sebagai sekpim agaknya dekat dengan pimpinan. Obrolannya dengan pimpinan tak semua receh, ada yang serius. Setidaknya ini dapat dilihat dari ide/gagasan yang diusung.



-------------------------------------------**-----------------------------------

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari usaha saya melakukan analisis pada ide/gagasan/pemikiran para calon anggowa MWA UGM unsur tendik 2026. Analisis dilakukan dari dokumen atau video yang bersifat terbuka, yang  menunjukkan visi dan misi. Kenapa saya lakukan? Karena proses pemilihan anggota MWA adalah proses politik, maka ide kandidat harus diuji. Saya yakin, para kandidat pun terbuka dan rela saat ide/gagasannya diuji. Catatan ini pun saya akui pasti ada bias. Maka, catatan inipun juga terbuka untuk diuji dan dikritisi. 


Saturday, 18 April 2026

Scopus AI, sudah bisa apa saja sekarang?

 Ada yang baru (saja saya tahu) di Scopus AI

Saat promt diberikan, tidak hanya concept map dan topic expert, namun juga ada emerging themes.

Fitur ini menampilkan topik dengan 3 kategori yaitu Consistent Theme, Rising Theme dan Novel Theme lengkap dengan referensinya.



What impact do microplastic pollutants have on marine biodiversity in coastal regions?




, , ,

Ika Wulandari fokus pada well-being, berpijak pada kondisi riil lapangan?


Keterangan batasan tulisan ini ada di bagian akhir


Ika Wulandari Widyaningrum (IWW), salah satu calon MWA unsur tendik. Dokumen kampanyenya saya peroleh, ada poster, ada video. 

Sekali lagi. Ini  proses politik. Semua berhak memberi komentar dan catatan pada semua calon. Di sisi lain, konsekuensi dari orang yang masuk ke proses politik, maka akan mendapat catatan dari para calon pemilihnya.

Saya mulai....

Visi dan Misi
IWW menambah kata "strategis" pada visi dan misinya. Visinya "mewujudkan tendik UGM yang unggul, kompetitif, dan produktif".

Visi ini relatif bisa saya terima. Meski mungkin akan lebih kuat jika visi itu tanpa kata kerja. Mewujudkan menjadi terwujudnya. Sehingga menjadi "Terwujudnya tendik UGM yang Unggul, kompetitif dan produktif" sebagai keadaan yang terus menerus harus diupayakan, diusahakan. Bentuk idealnya masih ada dalam bayang-bayang.  Visi IWW punya daya gedor untuk bertindak.

Sementara untuk mendukung visi itu, baru ada proses kerja, dalam hal ini mewujudkan employee well being buat seluruh tendik. Alasan kenapa well being, juga diutarakan dalam poster. Diikuti dengan tantangan dan daya dukung. Ada analisis yang saya yakin tidak serta merta muncul, yang dilakukan IWW untuk merumuskan beberapa hal di atas.

Dukungan kemampuan
Usaha mengarusutamakan well being, ternyata bukan progam yang lahir dari ruang kosong. Saya melihat IWW mencantumkan riwayat training sebagai coach untuk student well being. Agaknya IWW hendak memperluas ke tendik.


Usulan Program yang saya tak begitu berhasil memahami
Dari paparan visi, misi, analisis tantangan, daya dukung, dan semacamnya, IWW berhasil menunjukkan ide yang rapi. Namun, di akhir, saat menawarkan usulan program, saya belum begitu paham. 

IWW membuat usulan progam Ruang "Diskusi" yang Inklusif, Akomodatif, dan Responsif. Kata diskusi diapit tanda petik.  Kenapa? Saya belum dapat jawaban.

Pada bagian usulan program itu, IWW menuliskan "Mekanisme survey kepuasan kerja/indeks kebahagiaan, yang dapat mendukung program-program seperti: pengembangan karir, pengembangan kompetensi kesetaraan kesempatan bagi seluruh tendik dan perempuan, dan kebutuhan untuk work-life balance."

Survey?

Sebenarnya, pada level MWA, anggota unsur tendik tidak dalam kapasitas membuat program, melainkan mendorong kebijakan. Begitu yang saya pahami.

Mungkin, ini mungkin lho. Ruang diskusi yang inklusif, akomodatif, dan responsif itu adalah kebijakan yang akan diperjuangkan IWW jika terpilih menjadi ketua MWA.

Atau, bisa juga itu merupakan kerja yang akan dilakukan IWW jika terpilih menjadi anggota MWA sebagai bagian dari usaha "belanja masalah". Dari situ diharapkan muncul gagasan-gagasan yang dapat dinaikkan ke level kebijakan dalam rangka well being, didorong melalui MWA untuk dilakukan rektor terpilih dan rezim di bawahnya.

Atau, bisa juga maksud IWW mendorong semua unit untuk mewujudkan "ruang diskusi yang inklusif, akomodatif, dan responsif" di semua unit di UGM sebagai bagian dari mendukung well being. 

Mungkin begitu. Tapi kok ada "survey", ya?


Dari golongan elite?
IWW merupakan ketua tim kerja. Satu level di bawah KKA, bukan  jabatan struktural. Posisi Katimker merupakan posisi strategis. Dia bisa ke bawah, menjangkau staf yang ada di lapangan sehingga tahu kondisi lapangan. Juga bisa menjangkau ke atas, ke KKA atau bahkan melompat sampai WD dan Dekan.  

Ketua tim kerja, mestinya punya hubungan yang erat dengan staf di bawahnya dan paling tahu lapangan. Mungkinkah visi misi terkait well being tendik itu tumbuh dari kondisi riil lapangan?


Pantun penutup yang...

IWW menutup posternya dengan pantun. Tapi kok iramanya kurang smooth, ya.

Naik Transgama berkeliling. Melewati sekolah dan fakultas. 
Tendik UGM dengan support well-being, menaikkan produktivitas
Saya coba usulkan revisinya
Naik Transgama berkeliling, melewati sekolah dan fakultas. 
Tendik UGM support well-being, sebagai usaha menaikkan produktivitas



Video kampanye IWW ada di dropbox ini.

-------------------------------------------**-----------------------------------

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari usaha saya melakukan analisis pada ide/gagasan/pemikiran para calon anggowa MWA UGM unsur tendik 2026. Analisis dilakukan dari dokumen atau video yang bersifat terbuka, yang  menunjukkan visi dan misi. Kenapa saya lakukan? Karena proses pemilihan anggota MWA adalah proses politik, maka ide kandidat harus diuji. Saya yakin, para kandidat pun terbuka dan rela saat ide/gagasannya diuji. Catatan ini pun saya akui pasti ada bias. Maka, catatan inipun juga terbuka untuk diuji dan dikritisi. 


Wednesday, 15 April 2026

, , ,

Nur Bakti Susilo, yakin berani memastikan "aspirasi" tendik tersampaikan?

Catatan: Disclaimer ada di akhir tulisan



Pemilihan anggota MWA UGM kembali digelar.. Video profil dan penyampaian visi misi Nur Bakti Susilo (NBS), salah satu calon MWA unsur tendik, tersebar. Sebagai bagian dan konsekuensi dari proses politik, tentu NBS terbuka untuk diberi catatan. Saya coba rangkum isinya dan berikan catatan.

Gagal merumuskan visi

NBS mengawali video dengan perkenalan, perjalanan karir dan, tentu saja yang harus dilakukan adalah menyampaikan prestasi, dilanjutkan dengan visi.

NBS memiliki visi "melaksanakan tugas anggota MWA sesuai kewenangan berdasarkan statuta UGM". Mari kita bedah. 



Visi yang dimiliki NBS tersebut rasanya cukup untuk menunjukkan bahwa NBS gagal merumuskan visi. 

Coba cek visi UGM: "Universitas Gadjah Mada sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila."  Pada visi UGM ini ada kondisi yang terus ideal yang perwujudan sempurnyanya masih imajiner, masih hanya bisa dibayangkan, yang semua diharap bersama terus menuju ke sana.

Visi lain, misalnya: menuju Indonesia Emas 2045. Ini masih khayalan, belum terwujud. 

Nah, yang disampaikan NBS itu bukan visi, itu tugas. Secara tersurat juga jelas tertulis "tugas". Visi seharusnya visioner, sesuatu yang ideal, imajiner, dan akan diraih. KBBI memberikan arti visi sebagai apa yang tampak dalam khayalan. Apakah NBS ingin menunjukkan anggota MWA unsur tendik selama ini belum "melaksanakan tugas anggota MWA". Selama ini masih khayalan, belum ideal, masih imajiner? 

Tafsir lain atas visi NBS ini adalah NBS bermain aman. Intinya begini: "jika terpilih, ya saya akan melaksanakan tugas sesuai ketentuan". Titik.

Bagaimana dengan misi?



NBS memiliki misi "peningkatan capacity building tenaga kependidikan". NBS juga menyebut sertifikasi bagi tenaga kependidikan.

Jika dikaitkan dengan visi yang ditetapkan, misi ini tidak nyambung. 

Saya rasa, NBS gagal merumuskan visi dan misi. Namun demikian, pesan NBS dapat diterima. NBS ingin tendik lebih berdaya melalui pelatihan, dan berbagai bentuk pengembangan kapasitas tenaga kependidikan. Ini standard saja, sih.


Perumpamaan yang gagal (juga)


NBS, menempatkan tendik dengan perumpamaan

  • Jika dosen adalah kutub utara, maka
  • Tendik adalah kutub selatan
  • Semestanya adalah mahasiswa, alumni dan masyarakat

Dosen di kutub utara dan tendik di kutub selatan, rasanya aneh. Kenapa? Karena justru NBS menunjukkan jauhnya jarak tendik dan dosen. Kutub utara dan selatan, jamak dipakai untuk perumpamaan orang atau pihak yang saling berjauhan dan sulit bertemu. "Pikiran mereka bagaikan kutub utara dan selatan" yang menunjukkan betapa kontrasnya ide 2 orang yang berlawanan.  


Kemudian NBS menyebut "Semestanya adalah mahasiswa, alumni dan masyarakat". Ini aneh lagi. Jika 3 unsur ini adalah semesta, semestinya dosen dan tendik menjadi bagian dari semesta ini. Kenapa justru digambarkan terpisah?

Penutup yang harus diuji


Jika teman-teman mengingat lagi janji, gagasan, ide anggota MWA unsur tendik yang terpilih untuk masa jabatan 2021 sd 2026, kemudian mendengar penutup dari NBS kemungkinan besar merasa semacam de javu. Kayak pernah dengar.

Ada kata "aspirasi" dan "tersampaikan". Ya. Dulu, pendahulu NBS juga menyampaikan hal serupa. 

"Menjadi tugas siapapun yang nanti terpilih menjadi anggota MWA adalah mengawal menyampaikan ide dan gagasan teman-teman tendik", begitu yang dulu pernah disampaikan. Silakan cek di tulisan ini

Namun, gagasan itu, sejauh yang saya tahu, tidak terealisasi. Pada tugas MWA paling populer: memilih rektor, para tendik yang menjadi basis dia terpilih pun tidak dilibatkan. Saluan aspirasi? Mana ada. 

Dan, NBS dengan gagah berani menyelipkan kata "pasti" di antara kata aspirasi dan tersampaikan. Tentu ini akan diuji. Oleh siapa? Oleh dirinya sendiri.


Kelas elite

Sejak UGM memiliki MWA, sekian tendik duduk sebagai anggota, mewakili unsur tendik. Melalui pemilihan langsung maupun tidak. 

Ada pertaruhan saat anggota unsur tendik berasal dari kelas elit, seperti KKA. Sebagai pemegang jabatan struktural, KKA cenderung memiliki sifat yang lekat dengan kaum elit. Tidak semua bisa membaur dengan kalangan bawah, tidak mudah diakses. Paling jauh, KKA akan membaur dengan tendik di wilayah administratifnya sendiri. Itupun tentu ada lapisan-lapisan yang tercipta.

KKA akan akrab dan berani cerita terbuka kepada sesama KKA. Jika anggota MWA unsur tendik dari KKA, maka kecil harapannya mereka akan berbagi informasi berbagai dinamika MWA secara terbuka. Dan, jika demikian, maka informasi tentang perannya di MWA hanya akan tersebar di lingkaran terbatas. Akibatnya akan memperkecil keberanian tendik dari unsur bawah untuk maju, mendaftar sebagai anggota MWA. 

Kita ingin semakin banyak warga UGM yang berani maju menjadi anggota MWA, termasuk dari unsur paling bawah, dan paling jauh dari kekuasaan. 

Saya membayangkan anggowa MWA unsur tendik bikin acara jalan-jalan formal maupun tidak, ke fakultas, ngopi udud bareng di angkringan. Membaur. Cerita tentang MWA, profil calon rektor, minta saran dan masukan dari unsur yang diwakilinya. 

-------------------------------------------**-----------------------------------
Catatan: tulisan ini adalah bagian dari usaha saya melakukan analisis pada ide/gagasan/pemikiran para calon anggowa MWA UGM unsur tendik 2026. Analisis dilakukan dari dokumen atau video yang bersifat terbuka, yang  menunjukkan visi dan misi. Kenapa saya lakukan? Karena proses pemilihan anggota MWA adalah proses politik, maka ide kandidat harus diuji. Saya yakin, para kandidat pun terbuka dan rela saat ide/gagasannya diuji. Catatan ini pun saya akui pasti ada bias. Maka, catatan inipun juga terbuka untuk diuji dan dikritisi. 

******


Sambisari, 16 April 2026
06.00 pagi
 

Tuesday, 14 April 2026

Rekap Proses Pemilihan MWA per 14 April 2026

Berdasarkan hasil rapat Panitia Ad-Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM Periode 2026–2031 yang diselenggarakan pada tanggal 6 April 2026, kami sampaikan nama bakal calon anggota MWA UGM yang lolos verifikasi dokumen administrasi final sebagai berikut:

a. Unsur Dosen Guru Besar
  1. Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si.
  2. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng.
  3. Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D.
  4. Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr.
  5. Prof. Dr. Eko Suwardi, M.Sc.
  6. Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D.
  7. Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P.
  8. Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.
  9. Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU., ASEAN Eng.
  10. Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.
  11. Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc.
  12. Prof. Dr. Supama, M.Si.
  13. Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog
  14. Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., SpMK(K).
  15. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU.
  16. Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D.
b. Unsur Dosen bukan Guru Besar
  1. Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T.
  2. Dr. Bagus Santoso, S.E., M.Soc.Sc.
  3. Boyke Rudy Purnomo, S.E., M.M., PhD. CFP.
  4. dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, Ph.D., M.Sc., Sp.A., Subsp.Neuro(K).
  5. Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog
  6. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D.
  7. Drs. Heru Marwata, M.Hum.
  8. apt. Dr. Hilda Ismail, M.Si.
  9. Ir. I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D.
  10. Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P.
  11. apt. Marlyn Dian Laksitorini, M.Sc., Ph.D.
  12. Moh. Adhib Ulil Absor, S.Si., M.Sc., Ph.D.
  13. Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng.
  14. Ir. Muhlisin, S.Pt., M.Agri., Ph.D., IPP.
  15. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
  16. Dr. Drs. Ir. Senawi, M.P., IPU.
  17. Dr. Silvi Nur Oktalina, S.Hut., M.Si.
  18. Dr.agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih
  19. Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc.
c. Unsur Tenaga Kependidikan (*)
  1. Debby Citra Dewi, S.IK.
  2. Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn.
  3. Ika Wulandari Widyaningrum, S.Pd., MBA.
  4. Nur Bakti Susilo, S.E.
  5. Nurwanto
  6. RM. Pentatok Kuncoro Sri Setiyoaji, S.T., M.Sc.
  7. Wisnu Budi Ardianto, S.E.
d. Unsur Tokoh Masyarakat
  1. dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M. Kes.
  2. Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M.
  3. Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S. Psi., M.Sc., Psikolog
  4. Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc.
  5. Dr. Daconi Khotob, S.T., M.M.
  6. Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum.
  7. Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.
  8. Dr. Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A.
  9. Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A.
  10. Dr. Fuad Bawazier, M.A.
  11. Dr. Indra Chandra Setiawan, S.T., M.T.
  12. Isakh Benyamin Manubulu, S.H., M.H., CPLA., Mediator
  13. Martin Basuki Hartono, B.A., M.B.A.
  14. Ir. Maryono, S.T., M.M.
  15. Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum, M.Sc.
  16. Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA.
  17. Ir. Muh Erry Sugiharto, S.T., M.T., M.H., IPU, ASEAN Eng.
  18. Ir. Noegroho Hari Hardono
  19. H. Ir. Onny Hendro Adhiaksono, M.H.
  20. Mayjen TNI (Purn). Rachmad Pudji Susetyo, S.IP., M.Si.
  21. Rahmad Pribadi, BBA., MPA.
  22. Prof. Dr. Drs. Rivan Achmad Purwantono, S.H., M.H.
  23. Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., QRMP, QCRO, QRGP
  24. Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., IPU.
e. Unsur Alumni (**)
  1. Amalia Susilowati, S.Str., M.M., CMT.
  2. Andri Prayitno, S.Fil., M.Phil., M.Pd.
  3. Bimo Wijayanto, S.E., Ak., M.B.A., Ph.D.
  4. Mochamad Soleh, S.T., M.T.
  5. Muhammad Salim, S.H.
  6. Nezar Patria, S.Fil., M.Sc., M.B.A.
  7. Prof. Dr. Saberina Hasibuan, S.Pi., M.T.
  8. Ir. Singgih Widagdo, M.H.
  9. Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si.
Keterangan:

(*) Proses selanjutnya akan dilakukan oleh Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Gadjah Mada untuk menentukan 1 nama bakal calon terbaik.

(**) Proses selanjutnya akan dilakukan oleh Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) untuk menentukan 6 nama bakal calon terbaik.

Panitia Ad-Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM
Ketua,

ttd

Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng.

----------------------

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI OLEH PENGURUS PUSAT KELUARGA ALUMNI UNIVERSITAS GADJAH MADA

Berdasarkan Surat Dari Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Nomor 015/B/PP-KAGAMA/IV/2026, Tanggal 11 April 2026 Perihal Penyampaian Enam Nama Calon Anggota MWA UGM Dari Unsur Alumni Periode 2026-2031, kami sampaikan 6 (enam) nama bakal calon anggota MWA UGM hasil seleksi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Universitas Gadjah Mada sebagai berikut:

  1. Nezar Patria, S.Fil., M.Sc., M.B.A.
  2. Bimo Wijayanto, S.E., Ak., M.B.A., Ph.D.
  3. Ir. Singgih Widagdo, M.H.
  4. Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si.
  5. Mochamad Soleh, S.T., M.T.
  6. Amalia Susilowati, S.Str., M.M., CMT.

Panitia Ad-Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM
Ketua,

ttd

Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng.


----------------------------------

Monday, 13 April 2026

, ,

Di mana informasi proses pemilihan MWA unsur mahasiswa?

tangkapan layar 13 April 2026

Majelis Wali Amanat merupakan salah satu organ kampus yang punya 15 wewenang. Dari 15 wewenang itu, yang paling masyhur adalah mengangkat dan memberhentikan rektor. 

Anggotanya berasal dari berbagai unsur, totalnya ada 19 orang. Tiga diantaranya tetap: Menteri, Sri Sultan, dan Rektor. Sisanya (16 orang) dipilih berkala per 5 tahun, dengan dimungkinkan ada pergantian anggota antar waktu.


Tahun 2026 ini MWA kembali membuka pemilihan anggota. Ada 6 unsur yang diperlukan untuk memenuhi jumlah 16, yaitu masyarakat umum: terdiri dari alumni, tokoh masyarakat; serta masyarakat UGM: terdiri dari guru besar, bukan guru besar, tendik dan mahasiswa.

Info dan proses pemilihan ada di web https://pemilihanmwa.ugm.ac.id/. Namun demikian, ada hal yang membuat bertanya-tanya. 

Pada laman di atas, yang muncul hanya info persyaratan untuk 5 unsur: tokoh masyarakat, alumni, dosen GB, dosen non GB, dan Tendik. 

Lalu di mana info untuk unsur mahasiswa? "Ah. Pokoknya ada"




Pada web pemilihan MWA, ada keteragan tambahan, yaitu:


Semestinya, untuk meneguhkan bahwa web Pemilihan MWA merupakan web yang memuat informasi semua proses, maka pemilihan unsur mahasiswa juga demikian. 

Ditulis mekanismenya, nama-nama pendaftarnya dan diberi tambahan keterangan bahwa proses untuk unsur mahasiswa dilaksanakan oleh xxxx.

****

Referensi:



Friday, 3 April 2026

,

Merawat memori: 1,3 tahun di Bidang Informasi, Mesdos, Humas dan Alumni

Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide dan pengalaman. Ada ide dan konsep, yang sayang jika terbuang. Meski tak mungkin tidak dapat diulang kembali setara 100%.

---

Pembuka

Menjadi koordinator bidang Humas, IT, Medsos, dan Alumni (Agustus 2023 - Oktober 2024) bukan hal yang saya bayangkan sebelumnya. Aroma ini tercium beberapa waktu sebelum SK itu turun. Di pojok perpus, orang penting fakultas mengajak diskusi, panjang dan lebar.

Pertemuan tersebut berbau misi. Saya menciumnya. Dan ini misi ke-dua, meskipun pembawanya beda orang. Misi pertama, saya bisa lepas secara baik dan benar. Ya, setidaknya saya jujur dalam prosesnya. Pada misi ke-dua ini, saya melipir. Saya sempat sampaikan tentang kebanggaan saya menjadi pustakawan meskipun honornya tidak sebanyak bidang lain, dan bahkan image-nya pun tidak positif sepenuhnya.  Saya mencintai profesi fungsional ini.

Pernah ada cerita, saat fakultas mengundang tim "reformasi kepegawaian" dari fakultas yang sudah mapan, tim ini berkomentar bahwa pustakawan identik dengan menunggu dan melayani yang datang. Saya marah? Tidak. Justru ini kesempatan saya untuk menunjukkan bahwa pustakawan punya peran penting, meski tak terasa langsung sebagaimana keuangan, kepegawaian dan semacamnya.

Berhasil saya membalik image pustakawan? Tidak 100%. Namun arah angin itu semakin terasa. Mahasiswa, komentar positif dosen dll, muncul. Namun hal ini, dugaan saya tidak sampai pada para anggota tim reformasi kepegawaian dari fakultas lain tersebut. 

Hembusan angin ini mau saya perkuat. Begitu idealisme saya, pada profesi ini.

Harapan saya, dengan cerita kebanggan saya pada perpus dan pustakawan di misi ke-2 ini, pejabat tersebut berubah pikiran. 


Namun tidak....

Tapi ternyata tidak. Mungkin memang secara administratif tidak ada pilihan lain, meski secara kapasitas ada yang lebih baik. Saya harus berbagi. Bukan berpindah. Menjadi Koordinator, yang saat itu menggantikan nomenklatur jabatan kasie, tidak saya bayangkan sebelumnya. Sama sekali. 

Bidang yang diberikan pada saya merupakan bidang baru yang menuntut kreatifitas. Cair, bisa masuk ke berbagai lini, meski tanpa harus klaim sekalipun.

Ada canggung di awal waktu, bahkan sampai berakhirnya jabatan tersebut. Dari sekian tugas, saya hanya punya 2 modal: pernah mengelola medsos dan bikin podcast--itupun saya nyambi jadi pustakawan--. Humas, IT, Alumni, saya tak punya modal banyak. Apalagi "informasi" kefakultasan. 

Beruntungnya semua rekan di bidang ini suportif. Tidak terkecuali. Tapi saya tetap canggung. Lokasinya di gedung baru, terpisah dari gedung perpus yang selama 10 tahun saya tempati setiap hari. Ada jarak, baik fisik maupun psikologis. Pada posisi ini, duduk di ruang yang disiapkan untuk saya pun jarang. Ini hambatan psikologis lainnya. Saya lebih senang duduk bareng di meja kursi bareng teman-teman. Jika dihitung, 90% waktu saya di sana, bukan di kursi ruang terpisah.

Bahkan, saat mengambil sebuah ide, saya benar-benar rikuh, dan berkali saya sampaikan dan tegaskan, "wis bener urung ya". Termasuk hal yang sejak awal saya hindari: uang. Misalnya merekrut partime, benar-benar penuh pertimbangan. Merektur partime ini pun saya lakukan setelah terdesak oleh keadaan. Meminta partime, berarti menambah beban keuangan fakultas. Saya tak punya pengalaman dengan keuangan, saya tak tahu seberapa banyak kemampuan fakultas, dan boleh atau tidak jika saya minta partime. Akhirnya, meski saya (ini saya sadari belakangan) ternyata punya sedikit otoritas, saya baru memutuskan merekrut partime sekian bulan setelah saya di bidang ini. Itupun hanya satu. Dan itupun setelah saya sampaikan ke atasan, dan disampaikan "oke, 1 masih oke". Saya khawatir, permintaan saya membebani fakultas.

Sebagaimana saat masih mengelola medsos FT (IG) sendirian, dari pada membebani keuangan fakultas, saya coba kerjakan sendiri.

Cerita lain ketidak enakan perasaan adalah saat harus nembung iPhone untuk keperluan medsos ke bagian keuangan dengan perasaan dag dig dug. "Ono duwite ora, ya". Boleh ndak, jangan-jangan diminta ketemu WD atau bahkan Dekan dahulu. Duh. Ketemu pejabat merupakan hal yang saya hindari. Saya lakukan jika dan hanya jika benar-benar perlu.

Ruang kreativitas
Bidang Humas, IT, Medsos, dan Alumni merupakan bidang yang menuntut kreatifitas. Cair, sisi administratifnya sangat kecil. Sembilan puluh % kreatifitas, termasuk membuka ruang-ruang baru agar bidang ini--sebagai bidang baru--bisa selevel dengan bidang lain yang sudah ada (tridharma, aset maintenance pengadaan, SDM keuangan).

Jujur, saat awal mula saya dapat honor jabatan, saya kaget. Duh. Dapat honor segini, tapi kerja-kerja saya masih begini saja. Melihat bidang lain yang sudah dulu ada dan tentu saja mapan perannya, hati saya bergolak. Honor saya terlalu besar dibanding peran saya. Begitu fikir saya waktu itu.

Menjelang akhir masa jabatan (saya di bidang ini selama 1 tahun 3 bulan), saya lontarkan guyonan dengan teman-teman.

"Bidang ini ada beberapa bagian: sistem informasi, jaringan, media/media sosial. Sistem informasi bisa dihandle si A, jaringan si B, medsos si C. Si A,B,C itu sudah ada dalam ploting saya. Lalu saya? kembali ke perpustakaan. Tentu teman-teman berteriak. Ini normal.

Sebenarnya ini--saya sadari kemudian--semacam cek ombak. Ketika 3 bagian itu sudah ada PIC-nya, berikutnya saya bertugas memperluas peran tim. Ini strategi yang saya lakukan saat full time di perpus. Saya ingin lakukan juga di tim yang baru.

Saya akan mencoba masuk pada: mengembangkan konsep "media" dengan segala turunannya, mengembangkan konsep humas dengan segala turunannya, mengembangkan konsep IT tidak dalam tataran teknis namun ke hal yang lebih strategis, mengembangkan kosep "informasi" menjadi lebih strategis (pada tulisan lain di blog ini saya tuliskan bahwa bidang informasi bisa seperti PIK di Kompas, atau PDAT di Tempo, dia jadi sumber info dan analisis organisasi), mengembangkan pengelolaan alumni. Mengelola informasi masih sesuai dengan fungsional saya sebagai pustakawan. Apalagi saya pernah menemukan berbagai arsip tua milik fakultas dalam bentuk foto. Ah. Sepertinya menyenangkan.

Saya termasuk yang lambat belajar, penuh pertimbangan, dan dalam kondisi normal tidak dapat cepat berani ambil risiko. Butuh waktu lama dalam menyesuaikan diri. Penyesuaian selama 1 tahun 3 bulan di bidang ini mungkin cukup. Namun ternyata saya harus berpindah. Apa yang telah saya bayangkan dan rencanakan, tentu harus saya ikhlaskan.

Marah
Saya ingat, satu hal yang saya tanyakan ke teman-teman pada bidang ini, dan ingin saya pastikan sebelum saya berpindah adalah: tidak ada yang pernah saya marahi.

Marah pada rekan kerja (dalam hal ini staf di bidang saya) saya hindari. Saya tak berhak marah pada mereka, justru mereka yang memiliki hak marah pada saya. Ketika saya marah, itu artinya saya tak mampu mengajak mereka diskusi tentang apa tugas dan kewajiban, oleh karena itu mereka-lah yang justru berhak marah.


Berpindah

Berpindah ke bidang baru, tentu diikuti berbagai pertanyaan, utamanya tentang: "apa yang akan saya lakukan?". Apalagi, berbeda dengan bidang humas, medsos, alumni, dan informasi, yang saya masih punya modal meski sedikit; pada bidang tridharma  modal saya nyaris 0. Tidak ada sama sekali.

Selain itu, juga pertanyaan: seberapa luas saya bisa berkreasi sebagaimana pada bidang sebelumnya?

Tuhan punya skenario. Selalu ada pola yang terlihat setelah ketidakberaturan.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan __Heraclitus (filsuf Yunani kuno, 540-480 SM) 

 ---- bersambung.....

Friday, 6 March 2026

Mongkog

"Terimakasih telah berkenan menjadi percobaan saya," joke saya membuka pelatihan pada Senin 2/3/26 di ruang pelatihan lantai 1 Perpus FT. Kenapa "percobaan"? Karena cukup lama saya tidak melakukan interaksi ini dengan mahasiswa. 

Ya. 15 orang mahasiswa ini mau mendaftar dan hadir pada acara pelatihan yang saya fasilitasi. Sederhana, tentang membuat catatan/anotasi paper.

Peserta ini hadir berkat bantuan teman-teman admin pasca FT. "Mohon saya dibantu untuk kembali membangkitkan jiwa kepustakawanan saya, yang cukup lama meredup", begitu pesan yang saya sampaikan ke teman-teman admin pasca sehari sebelum acara.

Peserta berasal dari berbagai departemen. Ada yang S2 dan juga S3. Ada yang berasal dari fakultas lain. "Tahu dari mana, mas?, saya bertanya. "Dari teman kos", jawabnya sambil menunjuk teman sebelahnya yang berasal dari FT.

Itulah yang membuat hati saya mongkog. Seakan mengingatkan kembali, saat berkegiatan di perpustakaan FT hadir mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebenarnya selama saya sedikit undur diri, kegiatan masih berlangsung. Namun saya absen cukup lama. Dan ini pertemuan saya yang pertama.

Ini memang kelas yang nekad (pakai d). Jika tidak begini maka saya akan tercerabut dari interaksi intelektual bersama mahasiswa.

Ini salah satu cara saya, agar interaksi administratif yang akhir akhir ini saya geluti, bisa  saya pertemukan dengan interaksi intelektual dan mendapatkan bentuk yang ideal.

Apakah ada cara lain? Ada. Saat ini, dengan hak yang saya miliki, saya "bebas" ikut di setidaknya 4 mata kuliah Fakultas. Tentu saya manfaatkan. Meski saya ndak bisa dapat ijazah M.Eng. namun minimal saya pernah ikut kuliahnya.

**

"Dari mana, mas/mbak?", tanya saya di akhir acara.

Tidak disangka-sangka, ternyata beberapa dari 15 mahasiswa ini punya latar belakang yang sama. Ada yang sama asalnya, sama universitas saat studi sarjana dll. Hal ini yang menjadi sebab kedua hati saya mongkog. Dari interaksi seperti ini, ide-ide riset dan kolaborasi riset muncul.

"Sebenernya, pelatihan seperti ini bukan hanya difasilitasi oleh pustakawan. Teman teman mahasiswa juga bisa. Jika ada yang bisa skill A, kita fasilitasi," ungkap saya.

"Tapi kami tidak menyediakan honor. Kami sediakan sertifikat dari fakultas," jelas saya.

Setelah acara selesai, ada mahasiswa yang japri saya. "Saya tertarik memberi kelas materi x,xx,xy, Pak". 

"Siapa, Pak," kita atur waktunya. Inilah sebab ketiga yang membuat hati saya mongkog.

-bersambung-