Thursday, 5 November 2026

Cite di Latex

 Beberapa catatan



\citep{jon90} for a parenthetical citation (Jones et al., 1990),
\citet{jon90} for a textual one, as Jones et al. (1990).
\cite{jon90,joe98,ju45} for a parenthetical citation (Jones et al., 1990)
\citet{lee2021} % Lee et al. (2021) \citet*{lee2021} % Lee, Kim, and Patel (2021)
\citep{lee2021} % (Lee et al., 2021) \citep*{lee2021} % (Lee, Kim, and Patel, 2021) \citealt{lee2021} % Lee et al. 2021 \citealp{lee2021} % Lee et al., 2021 \citeauthor{lee2021} % Lee et al. \citeyear{lee2021} % 2021 \citeyearpar{lee2021} % (2021) \citep{lee2021,smith2020} % (Lee et al., 2021; Smith, 2020) \citep[p.~5]{lee2021} % (Lee et al., 2021, p. 5) \citep[see][]{lee2021} % (see Lee et al., 2021) \citep[see][ch.~2]{lee2021} % (see Lee et al., 2021, ch. 2)


\usepackage[style=authoryear,natbib=true]{biblatex}
\addbibresource{refs.bib}
% in the document:
\textcite{smith2020} argues ...      % Smith (2020) argues ...
... as shown \parencite{smith2020}.  % ... as shown (Smith, 2020).
\parencite[12]{smith2020}            % (Smith, 2020, p. 12)
\citet{smith2020}                    % works too, thanks to natbib=true
\printbibliography


\cite{key}Single citation[1] 
\cite{key,key}Multiple citations [1,2] 
\cite[p.~22]{key}Allows page number to be inserted (used for direct quotes)[1,p.22]

------------------------------

% Reference style and engine.
\RequirePackage[bibstyle=ieee,citestyle=numeric-comp]{biblatex}

At the moment, if I include the following in my .tex file:

\cite{ref1, ref2, ref3}

--------------------------------------

Contoh Natbib

https://www.overleaf.com/learn/latex/Natbib_citation_styles 

https://www.cs.toronto.edu/writinghelp/latex/natnotes.pdf 

https://library-guides.imperial.ac.uk/referencing-in-latex/bibtex-ieee-style


 


Sunday, 25 October 2026

Office politics, politik kantor

Sumber: Scopus AI

Office politics, or workplace politics, refers to the informal, often hidden, dynamics of power, influence, and relationships that shape decision-making and behavior within organizations. Below are the key points based on the provided abstracts:


Practical Tips for Navigating Office Politics

  • Understand the Unwritten Rules: Learn how the organization really works beyond formal structures 
  • Build Alliances: Identify and connect with influential people and potential allies 
  • Manage Reputation: Be aware of how you are perceived and what is said about you
  • Align Interests: Find common objectives with others to reduce conflict 



Office politics is an inevitable part of organizational life, driven by power dynamics, competition for resources, and the need to manage relationships and conflicts. Its impact can be both constructive and destructive, depending on how it is managed and the prevailing organizational culture

Sunday, 18 October 2026

"Ideologi" saya sebagai pustakawan, humas/IT, tridharma

[0] - Pustakawan


Al-Attas, pemikir terkemuka dunia Islam, mengatakan bahwa kepala perpus (dan juga pustakawan) haruslah seorang yang dilatih secara profesional sekaligus ilmuwan. Perpustakaan bukanlah bagian dari institusi pendidikan, melainkan instituti pendidikan itu sendiri. Pemikiran Al-Attas mempengaruhi saya dalam berkegiatan sebagai pustakawan. Mendukung proses kerja agar tidak kosong dan tidak kering. Selain itu, agar tidak terjebak pada rutinitas hampa tanpa makna. 

Pokok-pokok yang ada di buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas ini membekas di pikiran saya. Nama dan peran pustakawan pada abad pertengahan menambah keyakinan saya bahwa pustakawan sejatinya merupakan profesi yang bukan ecek-ecek, tidak embyeh-embyeh. Dia menata buku, sekaligus menata ilmu. Dia memilah buku, sekaligus memilah ilmu. Dia mengembangkan koleksi, sekaligus mengembangkan ilmu.

Relasi yang dibangun dengan pemustaka (mahasiswa misalnya) adalah relasi keilmuan. Relasi akademik, bukan relasi administratif. 

[1] - Humas

Ada beberapa nilai yang saya peluk. Pertama nilai jurnalisme. Menggali berita, kemudian menuliskan. Lebih ekstrim lagi jika ada proses investigasi. Hasilnya akan lebih mendalam, tidak sekedar percikan air di permukaan.  "Agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat," begitu kata Andreas Harsono.

Mengutip Bill Kovach, Andreas menyampaikan bahwa makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat.

Itulah mengapa, jurnalisme dan jurnalis yang independen saya jadikan "ideologi pertama" saat ikut mengelola humas dan media FT.

Kedua, informasi. Ini merupakan ilmu yang sekilas pernah saya pelajari saat kuliah. Informasi menjadi payung dari sekian aktivitas di humas ..... Bagi saya, informasi memiliki cakupan luas, yang membuka jalan bertindak kreatif.

Kemudian berikutnya pers. Kenapa? Pers menjadi wilayah luas dari jurnalis/pengelolaan berita). Pers juga merupakan salah satu pilar demokrasi, setelah tiga pilar utama yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. 

Pers turut menjadi bagian yang menjaga agar rakyat dapat memberoleh berita yang benar. Pers merupakan sarana untuk mendapat kebenaran. Menariknya, pers juga dapat menjadi pengawas. Pers mendukung keterbukaan.

Terakhir informatika sosial serta sosiologi teknologi yang saya pakai untuk pendekatan IT/sistem informasi.

[2] - Tridharma
Saat diberi kesempatan ikut campur di akademik dan juga kemahasiswaan, dunia baru yang saya tak ada pengalaman sama sekali, saya harus mencari "ideologi" yang bisa membuat semangat saya tetap terjaga. Saya kembali membuka buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam-nya Al-Attas 

Buku ini memuat pemikiran Al-Attas tentang pendidikan, apa tujuan pendidikan. Pendidikan itu lebih ke pribadi. Pendidikan itu membentuk adab. "Tujuan pendidikan tidak untuk menciptakan warga negara yang sempurna, melainkan memunculkan manusia paripurna". Warga negara atau pekerja yang baik, tidak sama dengan manusia yang baik.

[3] - Hidup

Buku Profesi Wong Cilik karya Iman Budhi Santosa. Buku ini banyak memengaruhi saya dalam memandang hidup, pekerjaan, karir. Tentu tidak 100%, karena terkadang saya masih silap dan lupa. Seringnya khilaf.

Buku ini bercerita tentang cara pandang orang yang memeluk profesi tradisional. Mulai dari pemikat perkutut, dukun bayi, bong supit, pemanjat kelapa, penjaga gunung, pemetik teh, penjual jamu, batur. 

Seorang bong supit sadar, bahwa seiring dengan owah gingsiring jaman, profesinya akan hilang. Digantikan kemodern-an. Dia sadar, maka sedini mungkin mencoba mencari usaha lain.

Ini adalah wujud manjing ajur ajer-nya orang jawa di tengah owah gingsiring jaman atau sekarang dikenal sebagai era disrupsi.


[~] - epilog

Jika toh gagal secara administratif, paling tidak saya bisa belajar dan tak begitu gagal secara "ideologis".

Peringkat Dosen UGM berdasarkan FWCI 2025

 FWCI? Apa itu?

Berdasarkan keterangan di laman ini, dan laman ini, Field-Weighted Citation Impact (FWCI) adalah rasio antara jumlah sitasi yang benar-benar diterima suatu publikasi dan jumlah sitasi yang diharapkan untuk publikasi sejenis, berdasarkan bidang ilmu, jenis dokumen, dan tahun publikasi.

Jika konteksnya FWCI penulis, maka diartikan sebagai rasio sitasi yang benar-benar dimiliki/diterima penulis dibandikan dengan yang diharapkan untuk publikasi sejenis pada periode tertentu.

Jika seorang penulis memiliki FWCI 1, maka sitasinya sama persis seperti yang diharapkan. Jika 2 maka 2x dari yang diharapkan. Begitu seterusnya. 

Ada lima langkah yang dilakukan untuk menghitung FWCI (lihat di sini). Angka yang berpengaruh pada FWCI seorang dosen adalah: jumlah publikasi, jumlah sitasinya, jumlah publikasi pada database yang sama/sejenis bidang ilmunya (penghitungannya cukup rumit). Sehingga, FWCI tidak hanya berdasar data yang melekat pada dosen semata (paper, sitasi, h-indeks). 

Pada tulisan ini, tahun/periode yang digunakan adalah tahun 2025. Artinya, publikasi yang menjadi dasar adalah publikasi yang terbit tahun 2025. Namun, dataset yang berisi nama peneliti dan angka yang melekat padanya, termasuk FWCI diambil pada 18 Oktober 2026 dari Scival. Artinya ada rentang waktu sejak 2025 sampai 18 Oktober 2026 untuk pendataan jumlah sitasi yang diperoleh. 

Data yang diunduh hanya 500 (Scival hanya memberikan top 500 data). 

Ditampilkan apa adanya, berikut ini top 10 peneliti UGM berdasar data FWCI tahun 2025, dengan batasan minimal 5 publikasi.


------------------------**--------------------------

Sepuluh besar dihuni oleh peneliti dari FKKMK, FT, SPS,  FTP, serta 1 orang dari klaster sosial (FIB).

Jika di peringkatkan per fakultas, maka:
  1. FKKMK: Anggi Lukman Wicaksana
  2. FT: M. L. Hakim (Mahasiswa) dan Iman Satyarno (dosen)
  3. SPS: Mirna Yusuf (mahasiswa)
  4. FTP: Prieskarinda Lestari
  5. FIB: Irwan Abdullah

Tabel di atas memperlihatkan peneliti yang memiliki perbedaan mencolok, yaitu Anggi Lukman dan Sumadi.  Pada jumlah publikasi terlihat normal, namun pada jumlah sitasi, sitasi per publikasi, dan FWCI selisihnya jauh dari peneliti yang lain.

Anggi, melalui profil Scopus-nya (57204802271), memiliki paper yang terbit tahun 2025 dan dikutip 1,185x. Paper tersebut berjudul Global, regional, and national prevalence of adult overweight and obesity, 1990–2021, with forecasts to 2050: a forecasting study for the Global Burden of Disease Study 2021 . Paper ini sepertinya paper projek, untuk pengambilan kebijakan, dengan cakupan luas, dengan penulis kolaborasi berjumlah ribuan. 

Anggi, setidaknya memiliki 10 paper dengan karakter seperti di atas. 

Sumadi juga demikian. Melalui profil Scopus-nya (55251130100), ada 1 paper Sumadi yang terbit di 2025 dengan 481 kutipan. Paper tersebut berjudul Global, regional, and national prevalence of child and adolescent overweight and obesity, 1990–2021, with forecasts to 2050: a forecasting study for the Global Burden of Disease Study 2021


-------------------end-----------------

Saturday, 26 September 2026

Informasi sebagai Payung

 

Struktur organisasi itu penting. Lebih penting lagi bagaimana membuat struktur yang jelas, tidak timpang, tidak tumpang tindih, dan tentu dapat menjadi pedoman.

Karena itu, perbaikan perlu terus dilakukan.

Tulisan ini sekadar untuk mengikat ide yang ada di kepala saya. Tidak selalu pasti benar, apalagi menjadi pilihan terbaik. Tidak. Namun bisa menjadi salah satu alternatif dari beberapa kemungkinan yang sudah ada.

***************************

Tanpa ba-bi-bu, langsung to the point. Rasa-rasanya, di FT UGM ini, jika tetap mempertahankan 4 tim kerja, maka informasi perlu dihidupkan lagi.

Bukan informasi dalam arti yang sempit—sebatas berita yang ditulis, lalu menjadi angka-angka capaian TCK, kemudian dianggap selesai. Ini informasi dalam pengertian yang lebih luas: pengetahuan yang dihasilkan sivitas akademika, data yang diolah, dokumen yang disimpan, arsip yang dirawat, sistem yang mengelolanya, hingga informasi yang akhirnya dikomunikasikan kepada publik dan diukur dampaknya.

Informasi bisa menjadi payung besar bagi sebuah tim kerja di fakultas. Dia menjadi pengikat beberapa fungsi yang berbeda, namun membantuk rangkaian: memproduksi, mengolah, menyimpan, mengelola, menyebarkan, dan mengomunikasikan informasi.

Kira-kira, strukturnya seperti ini.

Struktur Tim Informasi v.#1 (masih perlu dirapikan)

Dalam gagasan ini ada lima bagian yang lekat dengan pengelolaan informasi: publikasi/penyebaran informasi, G(L)AM, dokumentasi, sistem informasi dan teknologi informasi, serta humas.

Lima bagian ini tidak dilihat sebagai kotak-kotak yang berdiri sendiri. Justru yang menarik adalah hubungan di antara kelimanya.


Publikasi dan Penyebaran Informasi

Bagian publikasi berfungsi menyebarkan karya dan pengetahuan yang dihasilkan sivitas akademika fakultas.

Bentuknya bisa bermacam-macam: majalah, buku, berita di laman web, video, media sosial, infografis, maupun berbagai konsep penyebaran informasi lainnya. Yang dimuat bisa beragam, mulai dari ide, kegiatan, juga karya. 

Publikasi jurnal juga dapat menjadi bagian dari fungsi ini. Tim dapat memantau dan mengoordinasikan pengelolaan jurnal di lingkungan fakultas, sekaligus membangun jejaring dengan pengelola jurnal di tingkat universitas. Juga menyebarkan publikasi dalam jurnal tersebut. 

Lebih jauh, riset terkait publikasi juga dapat dilakukan bagian ini. Publikasi bukan sekadar menyampaikan apa yang sudah jadi, tetapi juga bagaimana karya, data, dan pengetahuan dikemas menjadi informasi yang dapat digunakan oleh orang lain.


G(L)AM: Gallery, Library, Archive, Museum

Perkembangan pengelolaan informasi juga membuat perpustakaan semakin sulit dipisahkan dari arsip, galeri, maupun museum. Konsep GLAM—Gallery, Library, Archive, Museum—menunjukkan  4 unit ini merupakan ekosistem pengelolaan pengetahuan dan memori.

Dalam konteks fakultas, perpustakaan tetap menjadi pengelola informasi ilmiah sekaligus dapat menjadi produsen kegiatan yang mendukung proses akademik.

Sementara itu, arsip menyimpan memori institusi.

Arsip-arsip penting yang bersifat memorial bukan hanya dokumen yang disimpan karena sudah tidak digunakan, namun juga dapat menjadi sumber penelitian. Dari sana, sejarah fakultas dapat dibaca kembali, perjalanan institusi dapat ditelusuri, dan berbagai keputusan masa lalu dapat dipahami dalam konteksnya.

Dengan demikian, perpustakaan dan arsip bukan sekadar tempat menyimpan informasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari produksi pengetahuan.


Dokumentasi

Dokumentasi berada di antara peristiwa dan ingatan. Menjadi penghubung keduanya. Ia merekam kegiatan dan suasana kehidupan fakultas, baik melalui foto, video, maupun bentuk dokumentasi lainnya.

Dokumentasi dapat digunakan untuk kebutuhan publikasi, namun fungsinya tidak berhenti di sana. Apa yang hari ini hanya berupa foto kegiatan, rekaman video, atau catatan sebuah acara, suatu saat dapat menjadi bahan arsip dan bagian dari memori institusi.

Karena itu, dokumentasi seharusnya tidak hanya bertanya:

"Apa yang perlu dipublikasikan sehingga harus disimpan?"

tetapi juga:

"Apa yang perlu disimpan karena suatu hari mungkin penting?"

Di titik ini, dokumentasi bertemu dengan arsip.


Sistem Informasi dan Teknologi Informasi

Informasi membutuhkan infrastruktur.

Sistem informasi memungkinkan informasi dihimpun, diproses, dikelola, disimpan, dan diakses. Teknologi informasi menyediakan perangkat dan lingkungan teknis yang memungkinkan semua proses tersebut berjalan.

Karena itu, SI dan TI bukan sekadar bagian yang mengurus aplikasi, perangkat, atau sistem digital. Ia menjadi salah satu infrastruktur yang menopang keseluruhan ekosistem informasi.

Publikasi membutuhkan sistem.

Arsip membutuhkan sistem.

Dokumentasi membutuhkan ruang penyimpanan dan akses.

Data membutuhkan pengelolaan.

Pada titik inilah SI dan TI bertemu dengan bagian-bagian lainnya.


Humas

Humas berkaitan dengan bagaimana institusi berkomunikasi dengan pihak eksternal maupun internal.

Di dalamnya ada komunikasi publik, hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan, pengelolaan krisis, dan tentu saja pembangunan citra institusi.

Tetapi humas tidak seharusnya berhenti pada urusan membangun citra positif.

Humas juga perlu tetap kritis terhadap kondisi internal. Sebab komunikasi institusi yang sehat bukan hanya tentang mengatakan hal-hal yang baik kepada publik, tetapi juga memastikan bahwa apa yang dikomunikasikan memang layak dikomunikasikan.

Dalam pengertian ini, sikap kritis merupakan bagian dari kontrol, agar institusi tidak terlena dengan citra positif yang dibangunnya sendiri.


Produk

Pada bagian ini juga terdapat fungsi pengolahan data. Data yang sifatnya publik dapat diolah menjadi informasi yang dapat dikonsumsi masyarakat, sementara data internal atau konfidensial dikelola sesuai kebutuhan dan kewenangannya.

Terhubung dengan bagian lain, produk juga bisa berupa riset, kegiatan atau produk visual non publikasi. Misalnya film, baik dikerjakan mandiri maupun bekerja sama dengan mahasiswa (BSO).

--------------------------**--------------------------

Bukan Lima Bagian yang Terpisah

Kalau dilihat sekilas, struktur ini memang tampak seperti lima bidang yang berbeda.

Tetapi sesungguhnya kelimanya dapat membentuk sebuah ekosistem.

Karya dan pengetahuan diproduksi. Kemudian didokumentasikan, diolah, dan dipublikasikan. Sebagian informasi kemudian disimpan menjadi arsip dan pengetahuan institusi. Perpustakaan dan arsip dapat menjadi sumber riset dan produksi pengetahuan baru.

Seluruh proses tersebut membutuhkan sistem informasi dan teknologi sebagai infrastrukturnya.

Sementara humas menjadi salah satu pintu yang menghubungkan informasi dari dalam institusi dengan lingkungan di luar institusi—dan sebaliknya, membawa suara dari luar kembali ke dalam.

Dengan cara pandang seperti itu, kelima bidang tersebut bukan sekadar kumpulan pekerjaan yang kebetulan berhubungan dengan informasi.

Mereka merupakan bagian dari ekosistem informasi fakultas.

Dan mungkin, di situlah alasan mengapa informasi layak menjadi payung.

Namun itu sekadar usulan. Dari saya yang tidak punya klaim otoritas atas gagasan ini. Bisa jadi tidak diterima. Bisa juga perlu diubah cukup banyak. Bahkan mungkin, pada akhirnya, tim kerja ini tidak diperlukan.

Tidak apa-apa.

Setidaknya, gagasan ini bisa menjadi bahan untuk melihat kembali satu pertanyaan sederhana:

Apakah berbagai pekerjaan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri sebenarnya memiliki rumah yang sama? Informasi.


Sabtu, 26 Sept 2026

13.22 WIB