Wednesday, 15 April 2026

, , ,

Nur Bakti Susilo, yakin berani memastikan "aspirasi" tendik tersampaikan?


Pemilihan anggota MWA UGM kembali digelar. 

Video profil dan penyampaian visi misi Nur Bakti Susilo (NBS), salah satu calon MWA unsur tendik, tersebar. Sebagai bagian dan konsekuensi dari proses politik, tentu NBS terbuka untuk diberi catatan. Saya coba rangkum isinya dan berikan catatan.

Gagal merumuskan visi

NBS mengawali video dengan perkenalan, perjalanan karir dan, tentu saja yang harus dilakukan adalah menyampaikan prestasi, dilanjutkan dengan visi.

NBS memiliki visi "melaksanakan tugas anggota MWA sesuai kewenangan berdasarkan statuta UGM". Mari kita bedah. 



Visi yang dimiliki NBS tersebut rasanya cukup untuk menunjukkan bahwa NBS gagal merumuskan visi. 

Coba cek visi UGM: "Universitas Gadjah Mada sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila."  Pada visi UGM ini ada kondisi yang terus ideal yang perwujudan sempurnyanya masih imajiner, masih hanya bisa dibayangkan, yang semua diharap bersama terus menuju ke sana.

Visi lain, misalnya: menuju Indonesia Emas 2045. Ini masih khayalan, belum terwujud. 

Nah, yang disampaikan NBS itu bukan visi, itu tugas. Secara tersurat juga jelas tertulis "tugas". Visi seharusnya visioner, sesuatu yang ideal, imajiner, dan akan diraih. KBBI memberikan arti visi sebagai apa yang tampak dalam khayalan. Apakah NBS ingin menunjukkan anggota MWA unsur tendik selama ini belum "melaksanakan tugas anggota MWA". Selama ini masih khayalan, belum ideal, masih imajiner? 

Tafsir lain atas visi NBS ini adalah NBS bermain aman. Intinya begini: "jika terpilih, ya saya akan melaksanakan tugas sesuai ketentuan" titik.

Bagaimana dengan misi?



NBS memiliki misi "peningkatan capacity building tenaga kependidikan". NBS juga menyebut sertifikasi bagi tenaga kependidikan.

Jika dikaitkan dengan visi yang ditetapkan, misi ini tidak nyambung. 

Saya rasa, NBS gagal merumuskan visi dan misi. Namun demikian, pesan NBS dapat diterima. NBS ingin tendik lebih berdaya melalui pelatihan, dan berbagai bentuk pengembangan kapasitas tenaga kependidikan. Ini standard saja, sih.


Perumpamaan yang gagal (juga)


NBS, menempatkan tendik dengan perumpamaan

  • Jika dosen adalah kutub utara, maka
  • Tendik adalah kutub selatan
  • Semestanya adalah mahasiswa, alumni dan masyarakat

Dosen di kutub utara dan tendik di kutub selatan, rasanya aneh. Kenapa? Karena justru NBS menunjukkan jauhnya jarak tendik dan dosen. Kutub utara dan selatan, jamak dipakai untuk perumpamaan orang atau pihak yang saling berjauhan dan sulit bertemu. "Pikiran mereka bagaikan kutub utara dan selatan" yang menunjukkan betapa kontrasnya ide 2 orang yang berlawanan.  


Kemudian NBS menyebut "Semestanya adalah mahasiswa, alumni dan masyarakat". Ini aneh lagi. Jika 3 unsur ini adalah semesta, semestinya dosen dan tendik menjadi bagian dari semesta ini. Kenapa justru digambarkan terpisah?

Penutup yang harus diuji


Jika teman-teman mengingat lagi janji, gagasan, ide anggota MWA unsur tendik yang terpilih untuk masa jabatan 2021 sd 2026, kemudian mendengar penutup dari NBS kemungkinan besar merasa semacam de javu. Kayak pernah dengar.

Ada kata "aspirasi" dan "tersampaikan". Ya. Dulu, pendahulu NBS juga menyampaikan hal serupa. 

"Menjadi tugas siapapun yang nanti terpilih menjadi anggota MWA adalah mengawal menyampaikan ide dan gagasan teman-teman tendik", begitu yang dulu pernah disampaikan. Silakan cek di tulisan ini

Namun, gagasan itu, sejauh yang saya tahu, tidak terealisasi. Pada tugas MWA paling populer: memilih rektor, para tendik yang menjadi basis dia terpilih pun tidak dilibatkan. Saluan aspirasi? Mana ada. 

Dan, NBS dengan gagak berani menyelipkan kata "pasti" di antara kata aspirasi dan tersampaikan. Tentu ini akan diuji. Oleh siapa? Oleh dirinya sendiri.


Kelas elite

Sejak UGM memiliki MWA, sekian tendik duduk sebagai anggota, mewakili unsur tendik. Melalui pemilihan langsung maupun tidak. 

Ada pertaruhan saat anggota unsur tendik berasal dari kelas elit, seperti KKA. Sebagai pemegang jabatan struktural, KKA cenderung memiliki sifat yang lekat dengan kaum elit. Tidak semua bisa membaur dengan kalangan bawah, tidak mudah diakses. Paling jauh, KKA akan membaur dengan tendik di wilayah administratifnya sendiri. Itupun tentu ada lapisan-lapisan yang tercipta.

KKA akan akrab dan berani cerita terbuka kepada sesama KKA. Jika anggota MWA unsur tendik dari KKA, maka kecil harapannya mereka akan berbagi informasi berbagai dinamika MWA secara terbuka. Dan, jika demikian, maka informasi tentang perannya di MWA hanya akan tersebar di lingkaran terbatas. Akibatnya akan memperkecil keberanian tendik dari unsur bawah untuk maju, mendaftar sebagai anggota MWA. 

Kita ingin semakin banyak warga UGM yang berani maju menjadi anggota MWA, termasuk dari unsur paling bawah, dan paling jauh dari kekuasaan. 

Saya membayangkan anggowa MWA unsur tendik bikin acara jalan-jalan formal maupun tidak, ke fakultas, ngopi udud bareng di angkringan. Membaur. Cerita tentang MWA, profil calon rektor, minta saran dan masukan dari unsur yang diwakilinya. 

Kalau perlu sekalian bantu bagian kebersihan masuk gorong-gorong. Siapa tahu nanti jadi presiden. 

Bukan hanya yang lantang di kampanye, berteriak "Hei antek-antek asing!"

******

Grenengan saya yang pertama tentang sumber informasi pemilihan unsur mahasiswa, bisa dibaca di https://mustoko.blogspot.com/2026/04/di-mana-informasi-proses-pemilihan-mwa.html


Sambisari, 16 April 2026
06.00 pagi
 

Tuesday, 14 April 2026

Rekap Proses Pemilihan MWA per 14 April 2026

Berdasarkan hasil rapat Panitia Ad-Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM Periode 2026–2031 yang diselenggarakan pada tanggal 6 April 2026, kami sampaikan nama bakal calon anggota MWA UGM yang lolos verifikasi dokumen administrasi final sebagai berikut:

a. Unsur Dosen Guru Besar
  1. Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si.
  2. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng.
  3. Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D.
  4. Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr.
  5. Prof. Dr. Eko Suwardi, M.Sc.
  6. Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D.
  7. Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P.
  8. Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.
  9. Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU., ASEAN Eng.
  10. Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.
  11. Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc.
  12. Prof. Dr. Supama, M.Si.
  13. Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog
  14. Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., SpMK(K).
  15. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU.
  16. Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D.
b. Unsur Dosen bukan Guru Besar
  1. Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T.
  2. Dr. Bagus Santoso, S.E., M.Soc.Sc.
  3. Boyke Rudy Purnomo, S.E., M.M., PhD. CFP.
  4. dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, Ph.D., M.Sc., Sp.A., Subsp.Neuro(K).
  5. Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog
  6. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D.
  7. Drs. Heru Marwata, M.Hum.
  8. apt. Dr. Hilda Ismail, M.Si.
  9. Ir. I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D.
  10. Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P.
  11. apt. Marlyn Dian Laksitorini, M.Sc., Ph.D.
  12. Moh. Adhib Ulil Absor, S.Si., M.Sc., Ph.D.
  13. Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng.
  14. Ir. Muhlisin, S.Pt., M.Agri., Ph.D., IPP.
  15. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
  16. Dr. Drs. Ir. Senawi, M.P., IPU.
  17. Dr. Silvi Nur Oktalina, S.Hut., M.Si.
  18. Dr.agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih
  19. Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc.
c. Unsur Tenaga Kependidikan (*)
  1. Debby Citra Dewi, S.IK.
  2. Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn.
  3. Ika Wulandari Widyaningrum, S.Pd., MBA.
  4. Nur Bakti Susilo, S.E.
  5. Nurwanto
  6. RM. Pentatok Kuncoro Sri Setiyoaji, S.T., M.Sc.
  7. Wisnu Budi Ardianto, S.E.
d. Unsur Tokoh Masyarakat
  1. dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M. Kes.
  2. Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M.
  3. Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S. Psi., M.Sc., Psikolog
  4. Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc.
  5. Dr. Daconi Khotob, S.T., M.M.
  6. Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum.
  7. Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.
  8. Dr. Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A.
  9. Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A.
  10. Dr. Fuad Bawazier, M.A.
  11. Dr. Indra Chandra Setiawan, S.T., M.T.
  12. Isakh Benyamin Manubulu, S.H., M.H., CPLA., Mediator
  13. Martin Basuki Hartono, B.A., M.B.A.
  14. Ir. Maryono, S.T., M.M.
  15. Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum, M.Sc.
  16. Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA.
  17. Ir. Muh Erry Sugiharto, S.T., M.T., M.H., IPU, ASEAN Eng.
  18. Ir. Noegroho Hari Hardono
  19. H. Ir. Onny Hendro Adhiaksono, M.H.
  20. Mayjen TNI (Purn). Rachmad Pudji Susetyo, S.IP., M.Si.
  21. Rahmad Pribadi, BBA., MPA.
  22. Prof. Dr. Drs. Rivan Achmad Purwantono, S.H., M.H.
  23. Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., QRMP, QCRO, QRGP
  24. Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., IPU.
e. Unsur Alumni (**)
  1. Amalia Susilowati, S.Str., M.M., CMT.
  2. Andri Prayitno, S.Fil., M.Phil., M.Pd.
  3. Bimo Wijayanto, S.E., Ak., M.B.A., Ph.D.
  4. Mochamad Soleh, S.T., M.T.
  5. Muhammad Salim, S.H.
  6. Nezar Patria, S.Fil., M.Sc., M.B.A.
  7. Prof. Dr. Saberina Hasibuan, S.Pi., M.T.
  8. Ir. Singgih Widagdo, M.H.
  9. Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si.
Keterangan:

(*) Proses selanjutnya akan dilakukan oleh Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Gadjah Mada untuk menentukan 1 nama bakal calon terbaik.

(**) Proses selanjutnya akan dilakukan oleh Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) untuk menentukan 6 nama bakal calon terbaik.

Panitia Ad-Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM
Ketua,

ttd

Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng.

----------------------

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI OLEH PENGURUS PUSAT KELUARGA ALUMNI UNIVERSITAS GADJAH MADA

Berdasarkan Surat Dari Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Nomor 015/B/PP-KAGAMA/IV/2026, Tanggal 11 April 2026 Perihal Penyampaian Enam Nama Calon Anggota MWA UGM Dari Unsur Alumni Periode 2026-2031, kami sampaikan 6 (enam) nama bakal calon anggota MWA UGM hasil seleksi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Universitas Gadjah Mada sebagai berikut:

  1. Nezar Patria, S.Fil., M.Sc., M.B.A.
  2. Bimo Wijayanto, S.E., Ak., M.B.A., Ph.D.
  3. Ir. Singgih Widagdo, M.H.
  4. Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si.
  5. Mochamad Soleh, S.T., M.T.
  6. Amalia Susilowati, S.Str., M.M., CMT.

Panitia Ad-Hoc Pemilihan Anggota MWA UGM
Ketua,

ttd

Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng.


----------------------------------

Monday, 13 April 2026

, ,

Di mana informasi proses pemilihan MWA unsur mahasiswa?

tangkapan layar 13 April 2026

Majelis Wali Amanat merupakan salah satu organ kampus yang punya 15 wewenang. Dari 15 wewenang itu, yang paling masyhur adalah mengangkat dan memberhentikan rektor. 

Anggotanya berasal dari berbagai unsur, totalnya ada 19 orang. Tiga diantaranya tetap: Menteri, Sri Sultan, dan Rektor. Sisanya (16 orang) dipilih berkala per 5 tahun, dengan dimungkinkan ada pergantian anggota antar waktu.


Tahun 2026 ini MWA kembali membuka pemilihan anggota. Ada 6 unsur yang diperlukan untuk memenuhi jumlah 16, yaitu masyarakat umum: terdiri dari alumni, tokoh masyarakat; serta masyarakat UGM: terdiri dari guru besar, bukan guru besar, tendik dan mahasiswa.

Info dan proses pemilihan ada di web https://pemilihanmwa.ugm.ac.id/. Namun demikian, ada hal yang membuat bertanya-tanya. 

Pada laman di atas, yang muncul hanya info persyaratan untuk 5 unsur: tokoh masyarakat, alumni, dosen GB, dosen non GB, dan Tendik. 

Lalu di mana info untuk unsur mahasiswa? "Ah. Pokoknya ada"




Pada web pemilihan MWA, ada keteragan tambahan, yaitu:


Semestinya, untuk meneguhkan bahwa web Pemilihan MWA merupakan web yang memuat informasi semua proses, maka pemilihan unsur mahasiswa juga demikian. 

Ditulis mekanismenya, nama-nama pendaftarnya dan diberi tambahan keterangan bahwa proses untuk unsur mahasiswa dilaksanakan oleh xxxx.

****

Referensi:



Friday, 3 April 2026

,

Merawat memori: 1,3 tahun di Bidang Informasi, Mesdos, Humas dan Alumni

Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide dan pengalaman. Ada ide dan konsep, yang sayang jika terbuang. Meski tak mungkin tidak dapat diulang kembali setara 100%.

---

Pembuka

Menjadi koordinator bidang Humas, IT, Medsos, dan Alumni (Agustus 2023 - Oktober 2024) bukan hal yang saya bayangkan sebelumnya. Aroma ini tercium beberapa waktu sebelum SK itu turun. Di pojok perpus, orang penting fakultas mengajak diskusi, panjang dan lebar.

Pertemuan tersebut berbau misi. Saya menciumnya. Dan ini misi ke-dua, meskipun pembawanya beda orang. Misi pertama, saya bisa lepas secara baik dan benar. Ya, setidaknya saya jujur dalam prosesnya. Pada misi ke-dua ini, saya melipir. Saya sempat sampaikan tentang kebanggaan saya menjadi pustakawan meskipun honornya tidak sebanyak bidang lain, dan bahkan image-nya pun tidak positif sepenuhnya.  Saya mencintai profesi fungsional ini.

Pernah ada cerita, saat fakultas mengundang tim "reformasi kepegawaian" dari fakultas yang sudah mapan, tim ini berkomentar bahwa pustakawan identik dengan menunggu dan melayani yang datang. Saya marah? Tidak. Justru ini kesempatan saya untuk menunjukkan bahwa pustakawan punya peran penting, meski tak terasa langsung sebagaimana keuangan, kepegawaian dan semacamnya.

Berhasil saya membalik image pustakawan? Tidak 100%. Namun arah angin itu semakin terasa. Mahasiswa, komentar positif dosen dll, muncul. Namun hal ini, dugaan saya tidak sampai pada para anggota tim reformasi kepegawaian dari fakultas lain tersebut. 

Hembusan angin ini mau saya perkuat. Begitu idealisme saya, pada profesi ini.

Harapan saya, dengan cerita kebanggan saya pada perpus dan pustakawan di misi ke-2 ini, pejabat tersebut berubah pikiran. 


Namun tidak....

Tapi ternyata tidak. Mungkin memang secara administratif tidak ada pilihan lain, meski secara kapasitas ada yang lebih baik. Saya harus berbagi. Bukan berpindah. Menjadi Koordinator, yang saat itu menggantikan nomenklatur jabatan kasie, tidak saya bayangkan sebelumnya. Sama sekali. 

Bidang yang diberikan pada saya merupakan bidang baru yang menuntut kreatifitas. Cair, bisa masuk ke berbagai lini, meski tanpa harus klaim sekalipun.

Ada canggung di awal waktu, bahkan sampai berakhirnya jabatan tersebut. Dari sekian tugas, saya hanya punya 2 modal: pernah mengelola medsos dan bikin podcast--itupun saya nyambi jadi pustakawan--. Humas, IT, Alumni, saya tak punya modal banyak. Apalagi "informasi" kefakultasan. 

Beruntungnya semua rekan di bidang ini suportif. Tidak terkecuali. Tapi saya tetap canggung. Lokasinya di gedung baru, terpisah dari gedung perpus yang selama 10 tahun saya tempati setiap hari. Ada jarak, baik fisik maupun psikologis. Pada posisi ini, duduk di ruang yang disiapkan untuk saya pun jarang. Ini hambatan psikologis lainnya. Saya lebih senang duduk bareng di meja kursi bareng teman-teman. Jika dihitung, 90% waktu saya di sana, bukan di kursi ruang terpisah.

Bahkan, saat mengambil sebuah ide, saya benar-benar rikuh, dan berkali saya sampaikan dan tegaskan, "wis bener urung ya". Termasuk hal yang sejak awal saya hindari: uang. Misalnya merekrut partime, benar-benar penuh pertimbangan. Merektur partime ini pun saya lakukan setelah terdesak oleh keadaan. Meminta partime, berarti menambah beban keuangan fakultas. Saya tak punya pengalaman dengan keuangan, saya tak tahu seberapa banyak kemampuan fakultas, dan boleh atau tidak jika saya minta partime. Akhirnya, meski saya (ini saya sadari belakangan) ternyata punya sedikit otoritas, saya baru memutuskan merekrut partime sekian bulan setelah saya di bidang ini. Itupun hanya satu. Dan itupun setelah saya sampaikan ke atasan, dan disampaikan "oke, 1 masih oke". Saya khawatir, permintaan saya membebani fakultas.

Sebagaimana saat masih mengelola medsos FT (IG) sendirian, dari pada membebani keuangan fakultas, saya coba kerjakan sendiri.

Cerita lain ketidak enakan perasaan adalah saat harus nembung iPhone untuk keperluan medsos ke bagian keuangan dengan perasaan dag dig dug. "Ono duwite ora, ya". Boleh ndak, jangan-jangan diminta ketemu WD atau bahkan Dekan dahulu. Duh. Ketemu pejabat merupakan hal yang saya hindari. Saya lakukan jika dan hanya jika benar-benar perlu.

Ruang kreativitas
Bidang Humas, IT, Medsos, dan Alumni merupakan bidang yang menuntut kreatifitas. Cair, sisi administratifnya sangat kecil. Sembilan puluh % kreatifitas, termasuk membuka ruang-ruang baru agar bidang ini--sebagai bidang baru--bisa selevel dengan bidang lain yang sudah ada (tridharma, aset maintenance pengadaan, SDM keuangan).

Jujur, saat awal mula saya dapat honor jabatan, saya kaget. Duh. Dapat honor segini, tapi kerja-kerja saya masih begini saja. Melihat bidang lain yang sudah dulu ada dan tentu saja mapan perannya, hati saya bergolak. Honor saya terlalu besar dibanding peran saya. Begitu fikir saya waktu itu.

Menjelang akhir masa jabatan (saya di bidang ini selama 1 tahun 3 bulan), saya lontarkan guyonan dengan teman-teman.

"Bidang ini ada beberapa bagian: sistem informasi, jaringan, media/media sosial. Sistem informasi bisa dihandle si A, jaringan si B, medsos si C. Si A,B,C itu sudah ada dalam ploting saya. Lalu saya? kembali ke perpustakaan. Tentu teman-teman berteriak. Ini normal.

Sebenarnya ini--saya sadari kemudian--semacam cek ombak. Ketika 3 bagian itu sudah ada PIC-nya, berikutnya saya bertugas memperluas peran tim. Ini strategi yang saya lakukan saat full time di perpus. Saya ingin lakukan juga di tim yang baru.

Saya akan mencoba masuk pada: mengembangkan konsep "media" dengan segala turunannya, mengembangkan konsep humas dengan segala turunannya, mengembangkan konsep IT tidak dalam tataran teknis namun ke hal yang lebih strategis, mengembangkan kosep "informasi" menjadi lebih strategis (pada tulisan lain di blog ini saya tuliskan bahwa bidang informasi bisa seperti PIK di Kompas, atau PDAT di Tempo, dia jadi sumber info dan analisis organisasi), mengembangkan pengelolaan alumni. Mengelola informasi masih sesuai dengan fungsional saya sebagai pustakawan. Apalagi saya pernah menemukan berbagai arsip tua milik fakultas dalam bentuk foto. Ah. Sepertinya menyenangkan.

Saya termasuk yang lambat belajar, penuh pertimbangan, dan dalam kondisi normal tidak dapat cepat berani ambil risiko. Butuh waktu lama dalam menyesuaikan diri. Penyesuaian selama 1 tahun 3 bulan di bidang ini mungkin cukup. Namun ternyata saya harus berpindah. Apa yang telah saya bayangkan dan rencanakan, tentu harus saya ikhlaskan.

Marah
Saya ingat, satu hal yang saya tanyakan ke teman-teman pada bidang ini, dan ingin saya pastikan sebelum saya berpindah adalah: tidak ada yang pernah saya marahi.

Marah pada rekan kerja (dalam hal ini staf di bidang saya) saya hindari. Saya tak berhak marah pada mereka, justru mereka yang memiliki hak marah pada saya. Ketika saya marah, itu artinya saya tak mampu mengajak mereka diskusi tentang apa tugas dan kewajiban, oleh karena itu mereka-lah yang justru berhak marah.


Berpindah

Berpindah ke bidang baru, tentu diikuti berbagai pertanyaan, utamanya tentang: "apa yang akan saya lakukan?". Apalagi, berbeda dengan bidang humas, medsos, alumni, dan informasi, yang saya masih punya modal meski sedikit; pada bidang tridharma  modal saya nyaris 0. Tidak ada sama sekali.

Selain itu, juga pertanyaan: seberapa luas saya bisa berkreasi sebagaimana pada bidang sebelumnya?

Tuhan punya skenario. Selalu ada pola yang terlihat setelah ketidakberaturan.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan __Heraclitus (filsuf Yunani kuno, 540-480 SM) 

 ---- bersambung.....

Friday, 6 March 2026

Mongkog

"Terimakasih telah berkenan menjadi percobaan saya," joke saya membuka pelatihan pada Senin 2/3/26 di ruang pelatihan lantai 1 Perpus FT. Kenapa "percobaan"? Karena cukup lama saya tidak melakukan interaksi ini dengan mahasiswa. 

Ya. 15 orang mahasiswa ini mau mendaftar dan hadir pada acara pelatihan yang saya fasilitasi. Sederhana, tentang membuat catatan/anotasi paper.

Peserta ini hadir berkat bantuan teman-teman admin pasca FT. "Mohon saya dibantu untuk kembali membangkitkan jiwa kepustakawanan saya, yang cukup lama meredup", begitu pesan yang saya sampaikan ke teman-teman admin pasca sehari sebelum acara.

Peserta berasal dari berbagai departemen. Ada yang S2 dan juga S3. Ada yang berasal dari fakultas lain. "Tahu dari mana, mas?, saya bertanya. "Dari teman kos", jawabnya sambil menunjuk teman sebelahnya yang berasal dari FT.

Itulah yang membuat hati saya mongkog. Seakan mengingatkan kembali, saat berkegiatan di perpustakaan FT hadir mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebenarnya selama saya sedikit undur diri, kegiatan masih berlangsung. Namun saya absen cukup lama. Dan ini pertemuan saya yang pertama.

Ini memang kelas yang nekad (pakai d). Jika tidak begini maka saya akan tercerabut dari interaksi intelektual bersama mahasiswa.

Ini salah satu cara saya, agar interaksi administratif yang akhir akhir ini saya geluti, bisa  saya pertemukan dengan interaksi intelektual dan mendapatkan bentuk yang ideal.

Apakah ada cara lain? Ada. Saat ini, dengan hak yang saya miliki, saya "bebas" ikut di setidaknya 4 mata kuliah Fakultas. Tentu saya manfaatkan. Meski saya ndak bisa dapat ijazah M.Eng. namun minimal saya pernah ikut kuliahnya.

**

"Dari mana, mas/mbak?", tanya saya di akhir acara.

Tidak disangka-sangka, ternyata beberapa dari 15 mahasiswa ini punya latar belakang yang sama. Ada yang sama asalnya, sama universitas saat studi sarjana dll. Hal ini yang menjadi sebab kedua hati saya mongkog. Dari interaksi seperti ini, ide-ide riset dan kolaborasi riset muncul.

"Sebenernya, pelatihan seperti ini bukan hanya difasilitasi oleh pustakawan. Teman teman mahasiswa juga bisa. Jika ada yang bisa skill A, kita fasilitasi," ungkap saya.

"Tapi kami tidak menyediakan honor. Kami sediakan sertifikat dari fakultas," jelas saya.

Setelah acara selesai, ada mahasiswa yang japri saya. "Saya tertarik memberi kelas materi x,xx,xy, Pak". 

"Siapa, Pak," kita atur waktunya. Inilah sebab ketiga yang membuat hati saya mongkog.

-bersambung-

Saturday, 28 February 2026

,

Jurnalisme dan Informasi di Perguruan Tinggi

Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide yang pernah muncul di otak saya, kira-kira 2 tahun lalu. Dari pada terbuang. Tentu ini opini saya pribadi. Beberapa istilah juga kreasi yang muncul dari otak saya. Spontan. Mungkin berguna.

******

Setidaknya ada dua jenis berita yang ada di web perguruan tinggi, baik itu fakultas maupun universitas, yaitu pasive news dan active news. Dua jenis berita ini juga dapat dinisbahkan pada jurnalisnya.

Passive news merupakan berita yang berasal dari kegiatan yang ada di lingkungan kampus. Jurnalis tinggal duduk, berita akan datang. Ekstrimnya, pengelola web tinggal menunggu atau meminta, atau menodong pelaksana kegiatan untuk melaporkan kegiatannya. Atau paling jauh, mereka akan hadir pada acara dan kemudian menulis berita berdasar acara tersebut.

Berita jenis ini dekat ke jenis laporan. Berita berupa modifikasi dari laporan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam atau luar kampus oleh civitas akademika.  Kegiatan diantarkan ke jurnalis, kemudian jurnalis membuat berita, dimuat di web lalu disebarkan ke dalam dan keluar. Pemberitaan jenis ini bisa disebut sebagai pengabaran, pemberian kabar. Kabar bahwa kampus telah melakukan A,B,C,D..... 

Trigger munculnya berita jenis ini bukan jurnalis, melainkan panitia kegiatan. Jurnalis bersifat pasif.

Jenis berita ini dapat digambarkan sebagai berikut:


Kedua, active news. Pada berita jenis ini, seorang jurnalis harus berfikir dan bertindak lebih aktif di banding pada berita jenis passive. Jurnalis menjadi trigger munculnya tulisan.

Misalnya, jurnalis melihat kondisi luar kampus, dianalisis, ditarik ke dalam kampus, diolah, dicarikan nara sumber. Apa yang terjadi di luar kampus dibenturkan dengan pendapat pakar di dalam kampus.  Kerja-kerja ini dapat dikaitkan dengan visi misi kampus + mengaitkan dengan ideologi jurnalisme  kemudian dirangkai dengan tujuan tertentu. 

Jurnalis, melalui analisisnya, menjadi trigger munculnya berita. Pada berita jenis ini, ada ruh, visi dari jurnalis. Pada berita jenis ini pula, dapat dilihat ke mana arah pemikiran jurnalis. Ada misi para jurnalis kampus untuk mengarusutamakan pemikiran dan peran kampus yang berdampak. Apakah dia menjalankan jurnalisme kampus untuk advokasi (dalam arti luas), propaganda, kritis dll. 


Berita jenis ini menjadi penyeimbang berita seremonial dan kegiatan.  Active news mungkin lebih sedikit dari passive news. Namun bobot active news harus berlipat lebih daripada passive news

****

Di FT UGM, jurnalis, pengelola web dihimpun bersama dengan "informasi" dan "humas", diwadahi dalam struktur Tim Kerja, setara dengan 3 tim kerja lainnya. 

Saya lihat, nilai minusnya (baru nemu) hanya 1, utamanya jika disandingkan dengan tim kerja yang lain. Setara. Karena setara, maka tim lain tidak dapat melakukan perintah secara langsung. Sifatnya koordinatif. Posisinya bukan sub ordinat. Karena bukan sub ordinat, maka pada kondisi normal, hubungan tim kerja bidang jurnalis dengan tim kerja lain bersifat administratif. Nah. Butuh kebesaran hati dari tim kerja jurnalis untuk embedded ke bidang-bidang yang lain untuk menggali berita.

Tim Kerja bidang pemberitaan dapat memantau kegiatan pada bidang lain melalui (administratif) sistem informasi, kemudian mengonversinya menjadi berita. Atau Tim Kerja yang lain memberi tahu kegiatan untuk diliput menjadi berita, atau setor berita. Namun pilihan kedua ini hukumnya sunah, karena dalam jurnalisme, yang seharusnya aktif itu jurnalis, bukan sumber berita. Jurnalis yang harus aktif bertanya terkait kegiatan, jika perlu melakukan wawancara pada sumber berita (Tim Kerja lain), bukan menunggu berita/data disampaikan. Keaktivan sumber berita (dalam bentuk setor berita atau memberitahu kegiatan) merupakan bonus saja. 

-------

Namun, struktur informasi-humas-medsos ada pada level yang sejajar dengan Tim Kerja yang lain, juga memiliki nilai positif yang tidak dimiliki oleh fakultas lain. Ada kemerdekaan dan keleluasaan para jurnalis (sebagai aktor) untuk membawa misi pada proses jurnalistik kampus. Misalnya misi perubahan, pengarusutamaan isu dan lainnya. Tentu saja dengan cara yang harus disesuaikan dengan kondisi arena (lingkungan). Dalam struktur yang sejajar itu, maka potensi active news dalam segala bentuknya menjadi lebih besar.


Selain itu, ketika jurnalis menjadi satu dengan bidang dengan data, informasi, humas dan IT, dapat menjadi penyuplai informasi fakultas untuk berbagai kebijakan. Tim kerja ini punya informasi, punya data, sekaligus punya infratruktur pengelolaannya.


Dari kerja-kerja jurnalis diperoleh informasi, dari dalam berbagai  sistem informasi yang dikelola (diolah) juga diperoleh data. Data-data pada sistem informasi dapat ramu menjadi informasi yang lebih berguna. Data science dapat diterapkan.

Masih dari aspek informasi, bidang ini juga dapat membentuk/membuat informasi baru melalui berbagai kajian. Paling sederhana melalui riset/survey pada mahasiswa, dosen, pihak luar dll. 

Apa yang disurvey? Banyak. Banyak sekali. Opini bisa digali, pendapat bisa digali. Penyebaran informasi bisa diukur. Banyak yang bisa dikaji.

Bidang ini berpotensi menjadi tabung pemikiran (think-thank). Kajian dan informasi yang dimiliki akan menjadi penopang kebijakan fakultas. Mirip seperti PDAT-nya Tempo, atau PIK-nya Kompas.

Sebagai pengelola informasi fakultas, pertanyaan terkait data dan informasi diarahkan ke bidang ini, bukan bidang lain. Berapa jumlah mahasiswa? Berapa wisudawan? Berapa IP rata-rata? dll. 

Termasuk memastikan apakah informasi seputar kampus sampai kepada mahasiswa. Bagaimana tanggapan mahasiswa? apa saluran terbaik untuk menyampaikan informasi pada mahasiswa/civitas? Bagaimana efektifitas tiap saluran informasi. 

Informasi tidak sekedar disebarkan kemudian selesai. Tapi diukur efektifitasnya.

(data/info di sistem informasi + informasi internal + data/informasi dari kajian) -> Jurnalis -> diwadahi IT -> disebarkan melalui berbagai format dan media.

Penutup

Dengan konsep ini, maka bidang ini tidak atau bukan bidang yang sifatnya administratif. Ada berbagai peran strategis yang dapat diambil dan dilaksanakan.  Jurnalis bekerja layaknya jurnalis, ideologis bukan sekedar administratif. Cara berhubungan pun ala jurnalis. Relasinya berupa relasi jurnalis dengan sumber berita, buka boss dengan bawahan. Pada mereka juga melekat etika jurnalis(me).

"Informasi, Humas, Media Sosial + IT" bukan bagian-bagian yang terpisah. Itu satu kesatuan.


Tuesday, 9 December 2025

Membangun (Perpustakaan) FT Sebagai Wadah

Setahun lebih, bahkan 2 tahun, saya agak berjauhan dengan perpustakaan. Niat awal, saat ndobel di Humas dan IT, satu tahun pertama dapat digunakan untuk memetakan kondisi, kemudian mengatur posisi agar dua peran dapat berjalan dengan baik. Namun takdir berkata lain. Saya harus pindah ke tridharma.

Kondisi itu mengharuskan saya harus mengatur ulang strategi. Di dunia yang 100% baru, tentu usaha penyesuaian diri pun akan lebih lama. Sebagai catatan, di Humas dan IT saya setidaknya perlu 1 tahun untuk bisa berfikir lebih leluasa. Di Tridharma bisa lebih lama.

***

Saat di tridharma, saya merasa ada titik terang tentang perpustakaan. Saya merasa ada peran atau otoritas yang lebih tinggi yang membuat saya bisa lebih leluasa menempatkan perpustakaan dalam rangka mendorong proses akademik yang baik dan bermutu di fakultas teknik. Tinggal cara dan bentuknya yang harus dicari.

Ide awal (meski munculnya juga diujung tahun pertama), adalah rekrut mahasiswa S3 untuk menghidupkan perpustakaan. Namun ini belum kesampaikan. Ada skala prioritas yang harus saya terapkan. Salah satunya prioritas untuk memikirkan. Membagi pikiran, agar tidak sumpek. 

Akhirnya, ada kejadian yang menuntun mempertemukan saya pada keadaan yang dapat diraih bersamaan. Saat rekrut partime IOA, tanpa saya campur tangan, yang dipilih adalah mahasiswa yang saya kenal begitu peduli pada literasi. Maka, sekalian saja diplot untuk perpustakaan.

Di sinilah gambaran pengembangan perpustakaan kembali mulai nampak. Ide mengadakan kegiatan "besar" di perpustakaan, yang berkali-kali gagal, dapat dilaksanakan. Minimal 1x di tahun 2025.

***

Leadership XYZ

Ada beberapa tamu yang hendak diundang pada tahun 2025. Mulai dari Leila Chudori untuk bicara tentang Laut Bercerita, Fahrudin Faiz yang mampu menyajikan filsafat dalam bahasa yang ramah pada generasi Z, dll. Adalah Cania Cita yang jadwalnya ada, namun sayangnya karena kondisi tidak dapat terlaksana di lingkungan FT. Pas libur panjang. Akhirnya dapat buku Leadership XYZ.

Obrolan tentang kegiatan perpus ini, sejak awal saya lakukan dengan Mas Adhika. Dia sanggup menghandle agenda ini. Sebagai awalan, Adhika mengajukan permintaan untuk oprec panitia. Terbuka untuk mahasisiswa UGM. Saya berusaha memahami. Bukti bahwa acara yang menghadirkan Cania itu sukses, tentu jadi pertimbangan saya. Saya meng-oke-kan. Oprek dilaksanakan. Hingga ada laporan sekian pendaftar, dan diterima 38. Asalnya dari berbagai fakultas di UGM, dengan berbagai posisi kepanitiaan. Pada titik inilah saya merasa harapan untuk branding FT melalui perpus muncul.

Belum selesai. Adhika menyarankan mengundang siswa SMP dan SMA di Jogja. Tentu saya kaget. Namun, sebagai upaya branding FT kenapa nanggung hanya di UGM, sekalian untuk siswa SMP dan SMA tentu akan lebih baik. Saya meng-iya-kan. Setuju.

Hari senin, atau H-5 surat baru jadi. Saya kirimkan ke panitia. Sebelumnya secara sistem telah terkirim by email ke sekolah-sekolah sesuai daftar. Saya tawarkan untuk dicetak di FT saja, tidak ada respon. Sepertinya mereka memilih mencetak sendiri. "Jadi mereka mengeluarkan uang untuk mencetak", fikir saya. 

Hari-hari menjelang hari H progress disampaikan Adhika ke saya. "Saya baru keliling sekolah, Pak," katanya. Membawa surat atas nama FT, padahal mereka dari  berbagai fakultas di UGM. Tidak ada uang bensin, dan tentu mereka juga berkorban tenaga. Laporan Adhika ini membuat saya gelisah. Saya hanya berharap tidak terjadi apa-apa pada panitia.

Menjelang acara, panitia (sebagaimana acara mahasiswa yang selama ini saya ikut mendampingi) mengadakan gladi. Pernah saya sampaikan agar gladi di hari H minus beberapa jam. Namun mereka menjawab. 

"Kalau bapak mau acara ini lancar, dengan segala hormat, ikut dengan cara kami Pak."

Jawaban ini merupakan salah satu yang lebih meyakinkan saya, bahwa mereka serius. Tidak dibayar, sukarela, namun serius. "Ah, brengsek," gumam saya. Tentu "brengsek" ini umpatan konotatif. Jarak usia yang 20 tahun lebih dengan saya, tidak membuat mereka takut bersuara dan menyampaikan ide/pendapat. Ini mahal.

*****

Ada cerita lain yang membekas, setidaknya pada diri saya. Panitia hendak menentukan, apakah tetap di auditorium atau pindah ke MR. Pada posisi ini, saya menjaga jarak. Saya persilakan teman-teman menentukan. Pada saat diskusi, saya mendengar jelas, bagian sar-pras yang sudah menyiapkan segala desain pelaksanaan di Auditorium menyampaikan, kurang lebih begini, "Kami memang punya idealisme, tapi posisi kami mengikuti permintaan. Jadi kami ikut apa kata SC/Project officer," kurang lebih begitu.

Tidak ada egoisme. Tentu ada diskusi, namun teman-teman menjaga agar struktur kepanitiaan itu dihormati. 

Terima kasih teman-teman semua.







Monday, 8 December 2025

Setahun di Tridharma

1 November 2024 s.d. 31 Oktober 2025.

Setahun di Tridharma. Cukup? Belum. Tentu bukan "belum" dalam arti ingin lebih lama di Tridharma, melainkan belum cukup untuk memahami tridharma.

Sebagaimana saya pernah tuliskan, tridharma merupakan bagian yang sudah mapan dibanding bidang saya sebelumnya. Ada luasan hingga ke berbagai sudut yang saya belum memahami. Tidak jarang ada hal baru yang muncul, yang kami semua belum pernah menemui. 

Dunia tridharma merupakan dunia yang lebih administratif dibanding dunia saya sebelumnya. Saya menyebutnya sebagai dunia surat-suratan. Semua harus sesuai prosedur, tentu saja ini juga berlaku di bidang lain. Namun di tridharma, surat begitu lekat. Semua harus ada formalnya. Berbeda dengan dunia saya sebelumnya yang cenderung jagongan. Rembugan.

Namun demikian, ada banyak hal yang saya peroleh di Tridharma; atau ada potensi yang dapat saya peroleh di tridharma jika dikaitkan dengan kepustakawanan, profesi utama yang masih melekat pada diri saya.

Interaksi saya dengan mahasiswa lebih terbuka, dan cakupannya lebih luas. Pokok pembicaraan terkait mahasiswa yang menghilir ke saya lebih banyak, dan tentu ada banyak yang dapat saya kaitkan dengan dunia kepustakawanan.

Hal lain yang menarik, adalah interaksi perkuliahan. Saya punya kesempatan lebar untuk ikut hadir di kelas. Utamanya MK yang dikelola fakultas, saya pernah hadir dan duduk di dalam kelas. Mendengarkan dosen memberikan kuliah. Dari proses ini saya tahu bagaimana kuliah itu diberikan, interaksi dosen-mahasiswa, dinamika, dan hal lain yang sebelumnya tidak saya ketahui. 

Masih dengan perkuliahan, saya punya kesempatan masuk di MK yang memiliki versi daringnya. Ada 1 MK yang diangkat dari kegiatan perpustakaan, yaitu MK etika dan teknik penulisan ilmiah. MK ini memiliki versi online (MOOC) di Elok. Saya dapat ikut di dalamnya, sehingga sedikit lebih tahu bagaimana MOOC dikelola. 

*****

Interaksi dengan mahasiswa juga terbangun melalui berbagai kegiatan dan organisasi mahasiswa. Ini yang dulu, saat di perpus benar-benar saya inginkan. Saat di perpus, saya pernah nekad mengundang organisasi mahasiswa ke perpus. Mengajak mereka diskusi tentang bagaimana menghidupkan perpus dengan berbagai kegiatan. Berhasil? Ada berbagai kegiatan KM/HM/BEM/BSO yang diselenggarakan di perpus. Dengan peminjaman ruang yang mudah, mereka memilih perpus untuk berkegiatan sekaligus memromosikan organisasinya.

Di Tridharma, diri saya diuji pula dengan kegiatan-kegiatan besar. Bagaimana mengawal kegiatan tersebut agar terlaksana dengan baik, berhasil dan minim catatan. Berhasil? Tentu belum sepenuhnya. Masih ada catatan pasca kegiatan yang menjadi PR untuk perbaikan kegiatan berikutnya.

Beberapa kegiatan besar tersebut, mulai dari Pionir Kesatria yang melibatkan ribuan mahasiswa. Kemudian Teknik Fair, Pesta Rakyat Teknik, Porsenigama, Teknisiade. Kemudian kegiatan baru yang berpotensi menjadi kegiatan besar: career summit. 

Di Tridharma, intensitas pertemuan saya dengan organisasi mahasiswa lebih tinggi. Tinggal bagaimana memanfaatkan ini untuk lebih menghidupkan perpustakaan. Terlaksana? Belum. Inilah PR saya. Menyeimbangkan antara di Tridharma dan profesi kepustakawanan. Perlu strategi untuk itu.

****

Besarnya potensi manfaat yang dapat saya ambil, baik untuk diri saya (sebagai bagian dari pengembangan diri) maupun untuk pekerjaan, tentu juga berbanding dengan tantangan dan risikonya. "Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula kadar manfaat yang akan diterima," begitu kata buku. Saya lupa judulnya, antara Leader Who Had No Title, atau Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodoh. Artinya, sebuah pilihan yang punya risiko atau tantangan yang besar, juga memiliki dampak/manfaat besar pula. Demikian pula di Tridharma.

Apa saja itu?



Sunday, 9 November 2025

Indeks integritas perguruan tinggi: menyedihkan atau menggembirakan?

Paijo, pustakawan ndeso itu berdiskusi dengan kawan karibnya: Karyo. Selepas Isya, di atas lincak, di depan rumahnya. Disela suara-suara jangkrik. Kadang angin malam berhembus mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang. 

Tak seperti biasanya, kali ini topiknya agak berat. Bukan ngrasani perpustakaan dan koleksinya, tapi tentang integritas.

"Ini tentang integritas, Kang", Paijo memulai. "Datanya juga tidak main-main. Ini data dari KPK," tambahnya.

"Lho, kamu masih percaya KPK, Jo?" Karyo memastikan. 
"Lihat dulu datanya, Kang!".

******** 

KPK, lembaga yang padanya dipercayakan beban berat pemberantasan korupsi, mengeluarkan laporan indeks integritas tahun 2024. Ada berbagai kategori yang diukur, salah satunya pendidikan.

KPK melaporkan indeks kategori pendidikan dengan 3 level: SD/SMP sederajat, SMA sederajat, dan pendidikan tinggi (perguruan tinggi?). Bagaimana hasilnya?

Indeks integritas jenjang SD/SMP


Indeks integritas jenjang SMA/sederajat


Indeks integritas pendidikan nasional  (jenjang dikti)

Indeks integritas pendidikan tinggi (KEMENDIKTISAINTEK)

Hasilnya tergambarkan secara ringkas pada tiga + 1 gambar di atas.

Coba dilihat, jenjang pendidikan semakin tinggi, justru indeks integritasnya menurun. Bahkan, jarak antara SMA ke perguruan tinggi lebih jauh dibanding dari SD/SMP ke SMA. Artinya tingkat terjun bebas dari SMA ke perguruan tinggi lebih parah dibanding dari SD/SMP ke SMA. Padahal, perguruan tinggi dianggap sebagai mercusuar integritas, dunia pendidikan yang dipenuhi orang pintar, dan sekian banyak guru yang sudah besar (baca Guru Besar), yang ilmunya sudah dianggap paripurna. 

Karyo: "Paripurna? Memang ada orang yang ilmunya paripurna, Jo?"
Paijo: "Minimal secara administratif"
Karyo mrengut.


Angka indeks pendidikan baik Kemendikbud maupun perguruan tinggi secara umum, masih lebih rendah dibanding indeks integritas pendidikan secara nasional.



*****

Jika angka di atas dicek unsur-unsur pembentuknya, maka akan didapatkan beberapa kategori turunan. Pada setiap jenjang memiliki kategori turunan yang khas. Misalnya di SD/SMP/SMA ada pengukuran penyalahgunaan dana BOS, sementara di perguruan tinggi tidak ada. 

SD/SMP/sederajat

Indeks SD/SMP dan aspek temuannya

Pada lingkungan SD/SMP, gratifikasi menjadi temuan yang memiliki presentase paling tinggi (68,57%).  Aspek ini terdiri dari beberapa hal:  kebiasaan orang tua siswa memberikan bingkisan/hadiah kepada guru saat hari raya atau kenaikan kelas; Persentase guru terkait persepsi gratifikasi merupakan sesuatu yang wajar; Persentase satdik dengan kejadian guru menerima bingkisan dari siswa agar lebih memperhatikan siswa; Persentase satdik dengan kejadian penerimaan siswa karena imbalan tertentu. 

Jika diambil data rata-rata, aspek temuan yang paling  mempengaruhi  rendahnya integritas di level SD/SMP adalah aspek kedisiplinan peserta didik (53,44%).

Aspek temuan yang ada di level SD/SMP/sederajat ini  dikelompokkan menjadi 3 bagian, terdiri dari aspek karakter 80,81; dimensi ekosistem 73,43; serta dimensi tata kelola 59,86.  



Dari data pada gambar di atas, dimensi tata kelola menjadi aspek paling rendah yang membentuk integritas di SD/SMP/sederajat. 

SMA/sederajat



Indeks SMA/sederajat dan aspek temuannya

Pada SMA/sederajat, kedisiplinan tenaga pendidik menjadi temuan yang presentasenya paling tinggi. Temuan tersebut terdiri dari persentase satdik dengan kejadian guru meninggalkan kelas sebelum pembelajaran berakhir; persentase satdik dengan kejadian guru yang terlambat masuk kelas tanpa alasan yang jelas; persentase satdik dengan kejadian guru tidak hadir mengajar. 

Jika diambil data rata-rata, aspek temuan yang paling mempengaruhi  rendahnya integritas di level SMA/sederajat adalah aspek pengelolaan keuangan (64,05%).

Aspek yang ada di level SMA di atas, jika dikelompokkan menjadi 3 bagian, terdiri dari aspek karakter 77,13; dimensi ekosistem 72,63; serta dimensi tata kelola 61,06.  


Dari data pada gambar di atas, dimensi tata kelola menjadi aspek paling rendah yang membentuk integritas di SMA/sederajat.

Perguruan tinggi
 

Indeks Perguruan tinggi (nasional) dan aspek temuannya

Sementara itu, di perguruan tinggi, kategori nepotisme menduduki posisi paling tinggi (79,79%). Jika dihitung rata-rata, nepotisme juga menduduki posisi paling tinggi (75,3%). Nepotisme terdiri dari persentase perlakuan khusus kepada mahasiswa, persentase satuan pendidikan dengan kasus dosen mendapatkan promosi karena kedekatan dengan pimpinan; persentase satuan pendidikan dengan kasus perlakuan khusus pimpinan kepada dosen tertentu.

Aspek-aspek temuan yang ada di perguruan tinggi di atas, jika dikelompokkan menjadi 3 bagian, terdiri dari aspek karakter 74,2; dimensi ekosistem 67,79; serta dimensi tata kelola 56,01.  



Dari data pada gambar di atas, dimensi tata kelola menjadi aspek yang nilainya paling rendah dalam membentuk integritas di perguruan tinggi, yang terdiri dari pengadaan barang dan jasa, perilaku koruptif, pengelolaan keuangan dan gratifikasi.

Mungkin menarik membuka dimensi karakter dari indeks jenjang perguruan tinggi di atas. Pada dimensi karakter, kejujuran akademik (dari sisi mahasiswa) memiliki tingkat ketidak-berintegritas paling tinggi.  Isinya antara lain:
  • Persentase mahasiswa yang menyontek walaupun tahu perbuatan tersebut tidak baik
  • Persentase mahasiswa yang meminta orang lain mengerjakan tugas
  • Persentase mahasiswa yang menyontek ketika melihat teman juga melakukannya
  • Persentase mahasiswa yang melakukan plagiarisme walaupun tahu perbuatan itu salah
  • Persentase mahasiswa yang tidak berani menolak ajakan menyontek
  • Persentase mahasiswa yang lebih memililih menyontek daripada belajar

Pada dimensi ekosistem, terdapat aspek temuan kecurangan tenaga pendidik, yaitu persentase satuan pendidikan tinggi dimana dosen melakukan plagiarisme dalam membuat publikasi di jurnal ilmiah mendapat skor 66,64%. 

Masih pada dimensi ekosistem, bagian kedisiplinan pendidik, terdapat 3 aspek yang diukur, yaitu
  • Persentase satuan pendidikan tinggi dimana dosen terlambat masuk kelas tanpa alasan yang jelas (67.53%)
  • Persentase satuan pendidikan tinggi dimana dosen tidak hadir mengajar (63.97%)
  • persentase satuan pendidikan tinggi dimana dosen meninggalkan kelas sebelum pembelajaran berakhir (44.18%)



Indeks Perguruan tinggi (Kemendikbudsaintek) dan aspek temuannya


*****

Kesimpulan 
Karyo: lalu apa kesimpulanmu, Jo?
Paijo: Sesungguhnya, setiap kita punya hak menjadi mufasir. Semua berhak menafsir dan menyimpulkan. 😊


Sumber:
Berita terkait
  1. https://kpk.go.id/id/ruang-informasi/berita/kpk-luncurkan-indeks-integritas-pendidikan-2024-peta-jalan-menuju-dunia-pendidikan-yang-bersih-dan-berintegritas
  2. https://www.hukumonline.com/berita/a/indeks-integritas-2024--alarm-kpk-untuk-dunia-pendidikan-lt680b66ad88110/
  3. https://www.kpk.go.id/id/ruang-informasi/berita/temuan-hasil-spi-pendidikan-2024-menyontek-dan-plagiarisme-masih-merebak-di-sekolah-dan-kampus
  4. https://news.detik.com/berita/d-7883872/skor-indeks-integritas-pendidikan-turun-kpk-beri-3-rekomendasi
  5. https://www.youtube.com/watch?v=Nc8X-ZEKAys


Note:
  • Semakin tinggi nilai indeks integritas, berarti integritas semakin baik
  • Indeks total merupakan hasil penghitungan dari dimensi tata kelola, dimensi karakter, dan dimensi ekosistem
  • Nah, penghitungan 3 dimensi di atas yang saya belum paham. Namun kayake ketika pelanggaran yang ada pada dimensi tersebut semakin tinggi, maka indeks dimensinya semakin rendah
  • Cara penghitungan ada dalam file yang saya tautkan di atas. Saya juga belum baca semua. Saya tafsirkan angka di ACLC KPK berdasar pemahaman kilat. Bisa dicek, siapa tahu saya salah memahami. Bisa jadi, lho. 
  • Tulisan ini berdasar sumber di atas, sebagai hasil penelitian/survei. Kondisi per institusi, tentu dimungkinkan tidak sama persis dengan hasil di atas

Sunday, 10 August 2025

Anies di Pionir Kesatria 2025: Penyeimbang dan pemantik sikap kritis sejak mahasiswa masih "baru"

"Selamat datang di kampus kebanggaan," sapa Anies Baswedan pada mahasiswa baru, diikuti riuh tepuk tangan.

Fakultas Teknik kembali menggelar agenda tahunan untuk mahasiswa baru: Pionir Kesatria 2025. Sekian bulan sebelumnya, panitia menyiapkan segalanya. Mulai dari lelang jabatan ketua/koordinator umum, pembuatan agenda, dan seterusnya. Tujuannya satu: acara yang bermutu dan berkualitas.

Salah satu agenda yang ditunggu adalah gelar wicara, atau sering disebut talkshow. Tahun ini, hadir  Anies Baswedan mengisi talkshow pada 7 Agustus 2025.

Hadirnya Anies, bagi saya merupakan "penyeimbang" dari 3 tamu di tahun sebelumnya. Selain itu, hadirnya Anies sebagai bentuk komitmen dunia akademik untuk mendukung tumbuhnya sikap kritis dan peduli para mahasiswa baru. Namun demikian, diakui pula bahwa hadirnya Anies berpotensi mengundang komentar yang mengarah pada keberpihakan dan sarana promosi Anies untuk panggung (pilpres) 2029. 

Terkait kemungkinan kedua, perlu dilihat dan dicek lagi konteksnya. 

Pertama, kehadiran Anies di Pionir sebagai warga negara biasa, dan bukan juru kampanye. Anies hadir tidak membawa partai atau organisasi politik, melainkan membawa pengalaman yang lengkap, mulai bidang pergerakan, pendidikan, birokrasi, politik. Kehadiran Anies dan pengalamannya, justru merupakan bentuk keberpihakan Fakultas Teknik pada pentingnya menghadirkan berbagai perspektif dalam berkontribusi pada bangsa dan negara. Diperlukan tokoh yang mampu mengajak mahasiswa baru berpikir kritis, dan tidak membunuh argumen dengan otoritas. Anies punya kapasitas untuk itu.

Kedua, jika dipaksa dihubungkan dengan agenda politik, maka sesungguhnya semua tamu talkshow Pionir Kesatria punya kepentingan politik. Kita cek tamu-tamu sebelumnya: Ganjar yang saat itu  gubernur Jawa Tengah, Basuki yang saat itu Menteri PUPR, Budi Karya yang saat itu Menteri Perhubungan; ketiganya merupakan pejabat politik, pejabat aktif di pemerintahan.

Basuki, saat menjadi pembicara talkshow tahun 2023 membawa materi yang erat dengan pembangunan infrastruktur. Berbagai pejabat di kementriannya dibawa dan beberapa dipanggil naik panggung. Ada unsur propaganda terkait program pemerintah untuk para mahasiswa. 

Sebagai tambahan, ada catatan saya terkait hadirnya Basuki dan Budi Karya saat Pionir (PPSMB) tahun 2023 dan 2024: jogetan dan bagi-bagi uang. Bagi saya (maaf jika berbeda pendapat) dua hal ini cukup berjarak dari semangat intelektual kampus, apalagi obyeknya mahasiswa baru.

Dibanding dengan 3 pejabat politik sebelumnya, hadirnya Anies sebagai warga negara biasa—sekali lagi—menjadi penyeimbang. Tidak melulu mengundang pejabat pemerintah, melainkan ada genre atau mahzab lain untuk mempertimbangan pemateri talkshow.

Paling penting untuk dilihat, menurut saya, bukan siapa yang datang, melainkan seperti apa atmosfir yang terbentuk saat hadirnya tamu tersebut. Apakah bisa memantik sikap kritis, memperluas perspektif mahasiswa baru, dan menjadikan mahasiswa berani berargumen yang argumennya itu tidak dibunuh oleh otoritas? Atau sekedar euforia pada popularitas dan nama besar tamu yang hadir semata.

Oke. Kita lanjut terkait politik. Lalu, apakah politik menjadi hal tabu untuk mahasiswa, khususnya mahasiswa teknik?

Tidak!

Politik adalah ilmu, dia diakui dan memiliki prodi di UGM. Sah sebagai sesuatu yang dapat dan boleh dipelajari. Sama seperti hukum, ekonomi, filsafat, dan lainnya.

Kemudian, jika kita tarik ke belakang, sejarah berdirinya FT UGM merupakan keputusan yang terkait dengan kondisi politik. Mulai dari pemindahan STT Bandung ke Jogja, dan bergabungnya STT Jogja menjadi bagian dari UGM.  Saat itu pun, Soekarno yang alumni sekolah teknik, juga merupakan politisi. Prof. Roosseno, sosok yang lekat dengan berdirinya STT Jogja juga pernah bergabung di partai politik, sebagai seorang politisi.

FT UGM juga terus melahirkan politisi. Beberapa sampai di posisi penting partai: ketum dan sekjen. Ini berarti politik atau pilihan menjadi politisi bagi alumni teknik, merupakan bagian peran yang harus diambil untuk turut membangun bangsa ini. Ilmu teknik akan mandeg jika tidak ditopang oleh dukungan kebijakan publik, dan ini erat dengan politik. Tentu saja, kebijakan yang diharapkan merupakan kebijakan yang ideal, bukan berdasar kepentingan politik elektoral semata.

Jadi, teknik dan politik sudah menyatu, saling mempengaruhi.

****

Anies bicara apa?

Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Anies saat menjadi tamu talkshow Pionir Kesatria. Materi yang dibawakan tentu berbeda dari tiga edisi talkshow pada Pionir sebelumnya. 

Anies menyatakan bahwa kampus adalah penyuplai orang berintegritas, bukan suplier koruptor. Kalimat ini sebenarnya umum, namun menjadi beda saat Anies yang menyampaikan. Anies punya sejarah, Anies menyampaikan sejarah penyusunan indeks integritas di Kemdikbud, yang saat itu disusun oleh tim di bawah koordinasi Prof. Nizam (mantan Dekan FT saat masih bertugas di Kemdikbud).

Masih saat membahas integritas, Anies sempat menyinggung nama Tom Lembong, yang pada saat yang sama, banyak dibicarakan kasus hukumnya, hingga kemudian mendapatkan pengampunan. Pada bagian ini, mahasiswa mendapatkan perspektif segar yang berbeda dengan tiga talkshow sebelumnya.

Anies juga menggaris bawahi, bahwa teknologi memberikan kemampuan teknis, namun kepekaan sosial memberikan arah untuk masa depan. Mahasiswa didorong untuk terlibat, tidak hanya menjadi tukang, namun juga memberikan arah. 

Anies juga menyuguhkan rumus sukses bagi mahasiswa baru. Trust=competency+intimacy, namun harus diikuti dengan pengurangan self-interest.

Saat membahas self-interest, Anies menyebut bahayanya mendahulukan kepentingan pribadi dan keluarga. Pesan ini memang sensitif, karena dalam konteks bernegara dapat dikaitkan dengan polemik saat ini masih ada bahkan bisa dianggap belum selesai. Namun, sebagai sebuah pesan dan rumus, yang disampaikan Anies relevan untuk mahasiswa yang sedang membangun karakter dan prinsip hidup.

Saat sesi tanya jawab, ada mahasiswa yang bertanya tentang apatisme mahasiswa teknik terhadap politik. Anies memberikan jawaban yang mudah dicerna: membangun jembatan adalah kerja teknik, tetapi menentukan di mana jembatan dibangun adalah keputusan politik. Begitu pula, memutuskan lokasi ibu kota negara bukan sekadar urusan insinyur, melainkan kebijakan politik. Lagi-lagi, saat menyebut lokasi ibu kota, tentu dapat dikaitkan dengan polemik yang ada. Artinya, jangan apatis pada politik. Banyak hal disekitar ditentukan oleh keputusan politik.

Di sinilah Anies berhasil memancing mahasiswa baru untuk berfikir kritis. Jangan sampai alumnus teknik hanya menjadi tukang, dan pemburu proyek tanpa tahu substansi proyek tersebut.

****

Lalu?

Mahasiswa teknik perlu memahami dan mempelajari politik sejak dini—bukan untuk sekedar menjadi politisi, tetapi agar memahami dan mengambil peran pada keterkaitan antara ilmu teknik dan kebijakan publik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.  Keterlibatan orang teknik dalam politik atau kepedulian mahasiswa teknik pada politik bukanlah hal tabu. Peran tersebut telah lama dilakukan dan terus harus dilakukan.

Hadirnya Anies, pada dasarnya sama dengan hadirnya Ganjar, Basuki, dan Budi Karya pada periode Pionir sebelumnya. Alumnus-alumnus terbaik yang diundang untuk hadir di depan mahasiswa baru. Semua tamu memiliki kekhasannya masing-masing.

Hadirnya Anies menjadi penyeimbang, dan bentuk keadilan dalam memilih tamu yang hadir. Hadirnya Anies merupakan keberpihakan. Bukan keberpihakan pada kepentingan politik Anies, melainkan keberpihakan pada kepentingan mahasiswa.  

Semoga, dengan demikian kampus makin kuat menghadirkan mimbar akademik—ruang terbuka untuk ide, kritik, dan sikap kritis terhadap kondisi masyarakat dan juga kritis pada kekuasaan.

Sudah 10 tahun alumnus teknik menjadi pembantu alumnus kehutanan. Ayo, Bangkit!

*** selesai ***


Kalasan, sisi barat daya candi sambisari

10 Agustus 2025, bakda subuh