Sunday, 26 July 2026

Sekedar pendapat saja tentang bagaimana hubungan antar tim kerja

 

Gambaran umum hubungan antar tim kerja


FT UGM, berbeda dengan fakultas lain, memiliki 4 tim kerja. Pada beberapa saluran informasi, nama tim kerja ini ditulis berbeda-beda.

Pertama, sesuai yang ada di tautan https://ft.ugm.ac.id/pimpinan-fakultas/, terdiri dari:
  1. Tim Kerja Tridharma, 
  2. Tim Kerja Sumber Daya Manusia, Keuangan, serta Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan. 
  3. Tim Kerja Pengadaan, Aset dan Pemeliharaan
  4. Tim Kerja Teknologi Informasi, Hubungan Masyarakat, Protokol, dan Media Sosial.

https://ft.ugm.ac.id/pimpinan-fakultas/

Namun, jika dilihat di struktur sesuai tautan https://ft.ugm.ac.id/struktur-organisasi/, terdiri dari:
  1. Tridharma
  2. Keuangan, SDM, dan SHE
  3. Aset dan Maintenance
  4. Informasi, Media Sosial, Hubungan Masyarakat dan Alumni

Ada perubahan. Pada tim kerja nomor 2: berubahnya SHE menjadi Keselamatan, Keamanan dan Lingkungan. Pada tim kerja nomor 3: bertambahnya pengadaan. Pada tim kerja nomor 4: hilangnya informasi, hilangnya alumni, penambahan Teknologi Informasi, penambahan protokol.

Terkait pembagian tim kerja menjadi 4, tentu saya punya pandangan atau pendapat. Namun, itu nanti saja. Sesuai gambar paling atas, saya coba dulu untuk menafsirkan bagaimana hubungan 4 tim kerja ini.

https://ft.ugm.ac.id/struktur-organisasi/



****

Empat tim kerja kedudukannya setara. Tidak ada pihak menjadi bawahan yang lain. Semua setara. 

Garis pada stuktur OTK menunjukkan bahwa Tim Kerja (aka Bidang) ada di bawah WD, namun posisinya ada di bawah Kadep. Tim kerja dan KKA sekelompok dan sejajar dengan manajer. Jika dikaitkan dengan pembagian jabatan struktural di UGM, tentu gambar ini cukup menggelitik.

Tapi, biarlah...

Tim kerja bekerja sesuai porsi dan tugasnya masing-masing. Namun, sebagai bagian dari institusi, tentu 4 bidang ini akan saling terkait, beririsan, dan berkoordinasi.

Apakah cukup dengan menyatakaan "saling terkait, beririsan, dan harus berkoordinasi?". Tentu tidak. 

Rambu-rambu keterkaitan, irisan, dan rambu-rambu koordinasi harus dipahami bersama. Tentu saja, agar, misalnya jangan sampai ada yang mengatasnamakan "tidak diajak koordinasi" untuk menghindar dari kekhilafan tugasnya. 

Dalam bahasa lain, tidak selalu semuanya dikoordinasikan secara formal. Yang wajib dikoordinasikan adalah hal-hal yang sifatnya khusus. 

Koordinasi antar tim kerja dapat dikategorikan menjadi (mininal 2). Pertama: koordinasi 2 tim kerja, biasanya untuk kerja-kerja terbatas pada 2 tim tersebut; kemudian yang kedua lintas tim kerja, atau lebih dari 2 tim kerja untuk sebuah agenda khusus.

Lalu siapa yang pada proses koordinasi harus aktif lebih dahulu? Secara umum, proses koordinasi diawali oleh siapa yang menjadi pemegang tugas, serta siapa yang berkepentingan. Berikut beberapa contoh terkait siapa yang harus proaktif 
  • Jika tugas kemahasiswaan adalah memastikan mahasiswa tidak mampu beli laptop terfasilitasi, maka bagian kemasiswaan yang proaktif untuk menawarkan skema kepada kerja sama.
  • Pemegang tugas publikasi adalah humas. Jika publikasi tersebut menyangkut kegiatan akademik, terkait SDM, maka humaslah yang harus proaktif ke akademik dan SDM, bukan sebaliknya.
  • Contoh lain, jika tugas aset adalah menyiapkan ruang ujian/ujian, maka aset-lah yang harus proaktif mencari jadwal kuliah/ujian, menganalisis dan mengatur kursi kuliah/ujiah.
  • Contoh lain, jika ada laporan tentang kursi rusak, namun laporan itu masuk ke tridharma, maka tridharma lah yang aktif menyampaikan ke aset. Meskipun itu tugas aset, namun pada kasus ini, tridharma berkepentingan meneruskan informasi.
  • contoh lainnya, misalnya SDM ada agenda menerima tamu di Meeting Room. Apakah wajib memberitahu bidang aset dan IT untuk menyiapkan perlengkapan, atau humas untuk meliput? Tidak. Tidak wajib. Tentu jika memberitahu akan lebih baik. Kok bisa? Mengondisikan ruang siap digunakan adalah tugas aset, menyiapkan alat IT siap digunakan adalah tugas IT. Informasi terkait kapan ruang digunakan, tidak selalu harus muncul secara langsung dari bidang lain, melainkan bisa dipantau dari sistem informasi. (lihat bagian warna kuning pada gambar 1 dan 3)
Contoh ekstrim lain, jika kesejahteraan merupakan tugas bagian SDM, maka tidak perlu menunggu usulan, bagian SDM segera menaikkan gaji karyawan #halah 😀🌝
 
______


Namun, sekali lagi, hal ini tidak berlaku untuk agenda yang sifatnya khusus. "Khusus" ini sifatnya sangat subyektif. Profesionalitas dan kesalingpahaman menjadi kuncinya.

Contoh
  • Menjelang agenda penerimaan orang tua maba. Tim Kerja terkait membuka ruang untuk diskusi dan koordinasi. Wewenang mengajak koordinasi pun, jika dilihat dari struktur, bukan wewenang Ketua Tim Kerja. Tim kerja terkait melapor pada KKA, kemudian KKA yang mengoordinasi.  


****

Jika dipilah, ada hubungan menarik pada 4 tim kerja. Proses bisnis kampus ada di tridharma yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian, serta berbagai aktivitas yang menyertai. Selain itu juga ada di SDM dengan berbagai data SDM beserta keahlian dosen dan tendik. Terakhir ada pada aset-aset yang dimiliki fakultas beserta fungsinya.

Ketiga bagian tersebut merupakan kekayaan fakultas, yang dapat disebarluaskan oleh tim kerja yang membidangi humas/informasi. Maka, gambar 3 di bawah ini dibuat.

Detail hubungan antar 3 Tim Kerja dengan Tim Kerja Humas dalam proses publikasi



Pembagian tim kerja mengikuti kebutuhan, dan tentu saja kepentingan. Tim Kerja tersebut bisa berubah, seiring perubahan pemilik jabatan politik: FT 1, yang sebentar lagi akan ada suksesi. Ke mana arah angin berhembus? Belum kelihatan.

, ,

Area Tim Kerja Tridharma. Di mana Perpustakaan dan Lab? Lalu apa peran Ketua Tim Kerja pada ERIC dan LKFT?

 

Gambar 1: peta tridharma

Pada tulisan terdahulu, saya pernah sampaikan bahwa tridharma itu ibarat lingkaran yang telah terdefinisikan luasnya (di sini). Sebagai tim kerja yang senior, posisinya lebih mapan. Sebelumnya disebut seksi, juga pernah disebut bidang. Tridharma punya sejarah panjang dalam struktur organisasi fakultas. 

Maka, ketika saya masuk, saya harus tahu seluas apa lingkaran itu. Untuk mengetahuinya, saya harus mulai dari titik tengah, kemudian menyebar. Kenapa dari tengah? Karena modal saya nyaris nol. 

Luas yang sebenar-benarnya tentu tidak akan dapat saya ketahui. Tridharma itu, meskipun (dugaan saya) sangat administratif, namun dinamis. Kasus baru selalu muncul. Memang, mungkin sudah ada kasus serupa yang muncul sebelumnya dan bisa dijadikan referensi, atau yurisprudensi. Namun, sayangnya yurisprudensi ini tidak tertulis. Memori staf menjadi andalan untuk kemudian menelusuri arsipnya. 

Usaha ini yang cukup menyita tenaga. Lho, kan tinggal mengandalkan staf saja?

Tidak. Bagi saya tidak. Prosesnya sudah benar. Namun, tridharma punya konsekuensi jangka panjang, sehingga sebisa mungkin saya paham apa yang dilakukan.

Awalnya, tridharma FT terdiri dari akademik, kemahasiswaan, kerja sama, P2M. Kemudian pada 6 Januari 2026, ditambah referensi dan alumni (pindahan dari tim kerja lain), serta laboratorium. 

Pada gambar 1, saya coba petakan bidang utama yang ditempelkan ke Tridharma. Pemecahan tiap bidang, saya sembunyikan.

Terdapat bidang-bidang yang ada di bawah WD P & K, serta di bawah WD P2MKA. Pada dua WD ini, saya kira sudah lebih jelas. 

Kemudian di bawahnya ada "Laboratorium", yang  tentu akan terkait pada 2 area. Laboratorium sebagai fisik lab, dan laboran sebagai orang yang mengelola lab. Terkait dua hal ini, masih menjadi PR saya untuk bertanya (atau jika perlu: merumuskan sendiri) terkait apa dan sejauh apa peran ketua tim kerja tridharma.

Pertanyaan tentang sejauh apa peran Ketua Tim Kerja Tridharma pada lab, juga diperkuat dengan telah adanya struktur Ketua Layanan Lab yang berada dalam satu kotak dengan Ketua ERIC, posisinya di bawah Ka. ERIC. (lihat gambar struktur)

Nah, kan...

***********************

Berikutnya ERIC dan LKFT. Saya sebut ERIC karena lekat dengan lab, saya sebut LKFT karena ada term kerjasama. Lab dan kerja sama merupakan bagian yang menjadi salah dua dari 7 bidang tridharma. Namun pada gambar 1, LKFT dan ERIC saya beri warna merah.

Kenapa saya warna merah?

Begini. Jika dilihat pada struktur FT (https://ft.ugm.ac.id/struktur-organisasi/), ERIC dan LKFT ada pada kotak di bawah Dekan dan WD, di atas kelompok departemen. Keduanya punya pimpinan dari unsur dosen. Sebutannya manager dan kepala. Selain itu, kotak ERIC tidak menyambung ke Ketua Tim. (lihat gambar)




Dari struktur ini, saya menemukan argumen yang kuat berdasar struktur yang ada, serta berdasar tafsir atas struktur tersebut. Saya berkesimpulan bahwa pada ERIC dan LKFT, ketua tim tridharma sebatas administratif staf saja. Misalnya penilaian staf. 

Sementara itu, tugas substansi dari keduanya, koordinasinya melekat pada Manajer ERIC dan Kepala PK-LKFT. Terkait tugas substansi ini, semua sudah paham. Selama ini, memang demikian adanya.

Dengan tafsir saya di atas, maka sesungguhnya kerja administratif pengelolaan staf LKFT dan ERIC bisa berubah dan berpindah ke semua Ketua Tim Kerja. Statusnya administratifnya menggantung, bisa menjadi bandul penyeimbang antar tim kerja. Tidak harus ke  tridharma. 

*****


Gambar 2: Akademik, Kemahasiswaan + P2M

Nah, gambar di atas merupakan kreasi saya, menafsirkan fakta di lapangan. Menyajikan area yang sudah turun temurun, minimal sejak 2021 melekat pada Kasie/Koordinator/Ketua Tim Tridharma. Lingkaran mewakili staf, bisa satu bisa 2. Saya susun berdasar staf, untuk kepentingan memetakan kondisi lapangan, baik pekerjaan maupun beban staf. 

Irisan antar lingkaran menunjukkan dengan siapa saja bidang tersebut bersinggungan. Akademik, penelitian dan pengabdian (tridharma) menjadi titik pusat. Semua bagian yang mengelilinginya, mendukung proses ini. 

Perpustakaan dan laboratorium belum masuk pada gambar di atas. Kenapa?

Laboratorium, seperti saya sampaikan di atas, masih PR bagi saya, dan tentu bagi pimpinan. Sejauh apa peran ketua tim kerja. Jika dilihat dari SDM-nya (laboran) tentu ini bagian dari Tim Kerja SDM. Jika dilihat dari layanannya, cukuplah itu di prodi masing-masing (ada Ka. Layanan Lab). Jika dari sistem informasinya, atau publikasi layanannya, mestinya ini bagian dari humas dan IT.

Jika terkait pemantapan peran strategis lab pada pendidikan, penelitian dan pengabdian, maka itu mestinya bukan tugas di level ketua tim kerja. 

Bagaimana dengan perpustakaan? Kenapa belum masuk pada gambar 2?

Perpustakaan, bisa dianggap support akademik full. Namun di sisi lain, perpustakaan punya area-area yang tidak selalu terang-terangan mendukung tepat di jantung akademik. Dia bisa menjelma menjadi area yang mendukung akademik, namun dukungan itu mengarah di samping kanan atau kiri. Bagi saya yang fungsional pustakawan, saya tempatkan perpustakaan sebagai pendukung akademik, namun juga independen, terkadang kritis dan nakal.

Struktur mengikuti kebutuhan, dan tentu saja kepentingan. Struktur tersebut bisa berubah, seiring perubahan pemilik jabatan politik: FT 1, yang sebentar lagi akan ada suksesi. Ke mana arah angin berhembus? Belum kelihatan.


Sambisari,
26 Juli 2026


Tuesday, 30 June 2026

, ,

Pemilihan Dekan FT: Core candidates, potential candidates, atau kingmakers #1

Sebentar lagi pilihan dekan. Yang milih senat. Periode lalu, 3 calon dikirim ke universitas. Karena periode ini akan segera habis, tentu pilihan akan segera dimulai. 

Nah. Saya coba ajak ChatGPT ngobrol tentang kandidat dekan FT UGM periode mendatang. Sejauh apa ChatGPT dapat memberikan analisis, dan sedalam apa analisisnya.

----------------------**-------------------------

Setelah saya sapa, dan saya sampaikan bahwa saya hendak ngobrol tentang hal yang agak politis, yaitu pemilihan dekan FT UGM periode 2026-2031, ChatGPT (selanjutnya saya tulis GPT) merespon.

Sebelumnya GPT sudah saya ajak ngobrol tentang FT UGM, termasuk nama-nama yang populer muncul. GPT masih menyimpan memory obrolan tersebut, sehingga ketika dipantik dengan "pemilihan dekan", GPT langsung memberikan respon panjang lebar, termasuk calon potensialnya.

Pildek, kata GPT, merupakan kombinasi dari 3 hal:

  1. Legitimasi akademik
  2. Kemampuan membangun koalisi
  3. Narasi masa depan fakultas 
GPT kemudian menyajikan nama dekan dan wakil dekan aktif + analisis kekuatan, tantangan dan posisi politik. Agaknya GPT main aman dan menerapkan kebiasaan/pola pemilihan yang umum terjadi, yang menempatkan petahana sebagai kandidat paling kuat. 

Menariknya, GPT membuat 2 skenario besar: kontinuitas dan regenerasi. Jika kontinuitas, GPT menyajikan nama Selo sebagai petahana menjadi kandidat kuat. Namun jika regenerasi maka GPT menyebut Ali Awaludin. GPT memandang Selo dengan logika politik petahana: "jangan ganti nakhoda ketika kapal sedang berlayar", serta menjaga kesinambungan program dan jejaring yang sudah ada. Sementara Ali representasi dari regenerasi tetapi tidak ingin terjadi guncangan besar, sudah berada di inti kepemimpinan fakultas, punya jaringan eksternal kuat, dan membawa citra riset-industri yang relevan dengan tantangan FT ke depan. Begitu kata ChatGPT.

Seolah ingin dapat feedback, GPT bertanya balik, "FT mencari pengganti, atau penerus?"

Saya tidak menjawab. Jika saya jawab, pasti GPT hanya akan menegaskan jawaban saya saja. Saya justru bertanya, kenapa GPT hanya menyajikan dekan dan WD aktif saja sebagai kandidat.

Dengan jujur, GPT menjawab bahwa dia terlalu cepat mengasumsikan, dan merasa terjebak pada bias struktural. Oke... Ini sangat dimaklumi. 

----------------------------**---------------------------------

Pertanyaan tentang kandidat saya hentikan. Saya ingin tahu analisis GPT pada berbagai proses pemilihan dekan di berbagai kampus. Tampaknya GPT punya banyak data yang kemudian diolah. GPT menyebut beberapa hal yang membuat seseorang dapat terpilih menjadi dekan. Ada aspek yang mempengaruhi, faktor yang mempengaruhi, dan variabel yang mempengaruhi. Terkesan tumpang tindih, namun hal ini menarik digunakan untuk pembacaan situasi menjelang pildek. 

Ada 4 aspek yang mempengaruhi seseorang bisa jadi dekan, yaitu power, elektabilitas, kompetensi, dan pengaruh eksternal

Dari data GPT, faktor koalisi internal dan faktor kepercayaan personal menjadi faktor paling tinggi pengaruhnya. GPT juga mengingatkan bahwa trust juga menjadi kunci. Trust terbagi menjadi 4: trust akademik, trust manajerial, trust personal, dan trust politik. 

GPT menekankan kesimpulan paling menarik dari analisis yang dia lakukan, yaitu 4 variabel seorang bisa terpilih menjadi dekan.  Pertama variabel kompetensi yang membuat orang layak menjadi dekan, power yang membuat orang mampu menjadi dekan, elektabilitas yang membuat orang terpilih menjadi dekan, dan pengaruh eksternal yang membuat orang dipandang strategis menjadi dekan. 

--------------------**----------------------


Analisis GPT tentu saja punya kelemahan. Saya pun bertanya apa kelemahan analisisnya. GPT menjawab "Alasannya sederhana: tabel sebelumnya lebih banyak memetakan structural power, sementara politik adalah dynamic power. Keduanya tidak selalu sama.".

GPT baru mampu menyajikan data berdasar structural power dan sebagian expert power, serta sebagian kecil saja network power, karena data itulah yang tertulis dan mampu dijangkau GPT. Hal itu yang membuat GPT fokus pada dekan dan wakil dekan aktif, yang datanya tersebar, namanya banyak disebut di web fakultas. Dan sebagaimana umumnya pemilihan, GPT melihat petahana lah yang paling kuat dan tinggi kemungkinan terpilihnya.

Sementara itu, aspek political power itu dinamis, tidak dapat dibaca GPT. GPT tidak mampu membaca perubahan peta kekuatan yang tidak tersaji di internet. Jangankan GPT, manusia pun tidak semua bisa menjangkau atmosfir politik yang terjadi. 

Aspek political tak kasat mata. Dia bisa muncul dalam bahasa tubuh, bahasa isyarat, atau bahasa lain yang tidak semua orang bisa menangkap maknanya. Dia bisa datang sekonyong-konyong, memporak-porandakan skenario yang sudah disusun rapi sekalipun.




Penutup
Structural power menjangkau dua lingkaran kandidat: core candidat (dekan dan wakil dekan aktif), potential candidat (ketua atau eks ketua departemen dan mantan pejabat struktural). Namun tidak mampu melakukan analisis pada lingkaran ke-3: kingmakers.

Kata GPT, model tiga lingkaran ini (core, potential, dan kingmakers) jauh lebih realistis untuk membaca politik FT UGM daripada hanya bertanya "siapa calonnya". Sering kali kingmaker lebih penting daripada kandidat, dan tokoh yang akhirnya terpilih adalah mereka yang berhasil menyatukan dukungan dari para kingmaker tersebut."


Saturday, 13 June 2026

MWA UGM Unsur Tendik, mana laporanmu?

"Satu tahun mengemban amanah di MWA UM UGM akhirnya sampai di penghujung periode. "

Begitu awalan salah satu postingan di IG MWA UGM Unsur Mahasiswa. Semacam laporan bahwa periodenya telah berakhir.

"Apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya juga kami haturkan kepada teman-teman ORMAWA, Forkom UKM, Formad, BEM, rekan-rekan lembaga di tingkat fakultas, serta teman-teman pers atas ruang diskusi, kolaborasi, dan kebersamaan yang luar biasa selama ini."

Mereka mengucapkan terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak. Penyebutan berbagai elemen mahasiswa ini membuktikan bahwa MWA unsur mahasiswa berusaha menggandeng berbagai pihak untuk menjalankan fungsinya. 

"Terlebih dan yang paling utama, terima kasih yang tak terhingga untuk seluruh mahasiswa UGM yang sadar, peduli, dan senantiasa mengawal isu-isu gerakan, karena kalianlah pemilik mandat sekaligus pendukung terbesar di setiap langkah perjuangan ini."

Kalimat di atas menjadi penegas, bahwa MWA unsur mahasiswa--meski tidak dipilih langsung oleh mahasiswa--menjadi wakil dari mahasiswa dan harus berusaha membuat wadah-wadah untuk melibatkan mahasiswa. Frasa "kalianlah pemilik mandat" sangat menegaskan kesadaran posisi MWA unsur mahasiswa. 

Pada instagram MWA unsur mahasiswa, juga terdapat berbagai rekaman, jejak-jejak peran yang dilakukan dalam kapasitasnya sebagai MWA unsur mahasiswa. 

Terdapat kegiatan 𝐄𝐯𝐚𝐥𝐮𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐫𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐖𝐀 𝐏𝐞𝐫𝐢𝐨𝐝𝐞 𝟐𝟎𝟐𝟏-𝟐𝟎𝟐𝟔 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐌𝐚𝐡𝐚𝐬𝐢𝐬𝐰𝐚, 𝐊𝐨𝐧𝐬𝐨𝐥𝐢𝐝𝐚𝐬𝐢 𝐇𝐞𝐚𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐤𝐭𝐨𝐫𝐚𝐭. Mereka juga membuat 𝐌𝐖𝐀 𝐔𝐌 𝐇𝐨𝐭𝐥𝐢𝐧𝐞 sebagai kanal resmi untuk menyalurkan aspirasi, aduan, sampai ide perbaikan ugm. Gadjah mada intelektual club (GIC) sebagai ruang diskusi dan pertukaran gagasan, dan lainnya.

Dari jejak-jejak di IG, terlihat bahwa meskipun anggota MWA unsur mahasiswa hanya 1 orang, namun dalam menjalankan tugasnya tidaklah sendirian.  Ada tim (Badan Kelengkapan) yang ikut bergerak. Menyusun, membuat, mengeksekusi berbagai kegiatan untuk kemudian dijadikan bahan aspirasi ke MWA. 

----------------------------------

Nah. Bagaimana dengan MWA unsur tendik? 

MWA unsur tendik punya waktu yang lebih panjang. Berbeda dengan mahasiswa yang berganti setiap tahun (antar waktu), jika tak ada aral melintang  maka MWA  tendik full 1 periode.  

Namun, nyaris tak ada gaungnya. Tak ada suaranya. Tak ada rangkulannya. Mungkin setelah mandat didapat,  nyaman jalan sendiri. Lupa dari mana mandat itu didapat.

Apa saja yang sudah dilakukannya? 
Apakah melaporkan peran-perannya?
Apakah ada saluran resmi yang bisa dipakai untuk melihat sejauh apa perannya?

Jawabannya: entahlah. 

Apakah iya, tendik harus sowan ke anggota MWA yang dipilihnya untuk bertanya? Jika dikembalikan pada nilai-nilai perwakilan, maka wakil-lah yang harus aktif melapor pada pemilihnya. Jangan dibalik.

MWA unsur tendik itu lahirnya dari tendik. Memilih atau tidak, semua tendik adalah yang diwakili. Tendik adalah ndoro-nya. 

Tirulah mahasiswa! Itu.

Friday, 24 April 2026

,

Fakta-fakta 16 nama anggota MWA UGM 2026-2031

Dari 16 nama terpilih, ada hal yang menarik. 

Mantan rektor gagal lolos anggota MWA

Berdasar informasi di rilis web Pemilihan anggota MWA, ada nama Panut Mulyono yang mendaftarkan diri sebagai anggota MWA dari unsur guru besar. Namun gagal. Setidaknya ini tidak sesuai dengan "kebiasaan" sebelumnya. Mantan rektor sebelumnya, yaitu Pratikno dan Sofian Efendi mendaftar sebagai anggota MWA dan berhasil, bahkan jadi ketua MWA.

Anggota MWA unsur tendik bukan pejabat struktural. Setelah 2 periode anggota MWA unsur tendik berasal dari pejabat struktural (KKA), periode ini berasal dari tendik non struktural. 

Tak lagi bertabur menteri. Periode sebelumnya, meski maju sebagai masyarakat umum atau alumni, cukup banyak nama-nama anggota MWA yang juga menteri dan pejabat negara. Misalnya Menteri Perhubungan, Gubernur BI, Menteri PUPR, Menteri Luar Negeri, Mensesneg.

Pada periode ini, Wamen pun tidak terpilih. Beberapa calon dari pejabat yang tidak lolos MWA 2026: Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Ketua BMKG, Wakil Menteri Hukum RI, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Ketua Dewan Komisioner LPS.

Pertanda apa ini gerangan.....

Dari 16 nama terpilih, sebanyak 3 nama merupakan dosen atau alumni FT UGM. Nama-nama tersebut yaitu

  1. Mochamad Soleh, S.T., M.T. (PLN Puslitbang) alumnus Teknik Mesin
  2. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. (dosen Teknik Mesin)
  3. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU. - (dosen Teknik Elektro)
Sementara itu 3 nama pula berasal dari Fisipol
  1. Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.
  2. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D.
  3. Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si.

Dari 16 nama terpilih, ada 2 nama yang merupakan pengurus PBNU, yaitu
  1. Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S. Psi., M.Sc., Psikolog, (Ketua Tanfidziyah PBNU),
  2. Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA. (Pengurus Syuriyah PBNU)
Dari 16 nama terpilih, ada 2 nama yang berlatar belakang Muhammadiyah, yaitu
  1. Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., (Rektor Universitas Muhammadiyah Gombong)
  2. dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M. Kes. (PP Muhammadiyah)

Dari 16 nama, ada 2 yang berkarir di PLN
  1. Mochamad Soleh, S.T., M.T. (PLN Puslitbang)
  2. Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., (Direktur Manajemen Risiko PT PLN Persero),
Dari 16 nama, ada 5 orang yang berlatar belakang ilmu teknik
  1. Mochamad Soleh, S.T., M.T. (UGM)
  2. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. (UGM)
  3. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU. - (UGM)
  4. Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA. (ITS)
  5. Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng. (ITB)


Dari nama-nama anggota MWA di atas, karena tak lagi bertabur menteri, tak ada mantan rektor yang menjadi anggota MWA, maka potensi jabatan ketua MWA bisa merata. Dari nama yang ada, paling "senior" secara jabatan terdapat nama Muhamad Nuh yang mantan menteri pendidikan juga pengurus PBNU. Namun, Nuh bukan "lahir" di UGM. Rasanya agak sulit menjadi ketua MWA. 

Siapakah yang akan terpilih menjadi ketua MWA?
Dilihat dari senioritas, selain Nuh ada nama Tumiran. Mungkinkah Tumiran yang jadi ketua MWA?

------------------------##------------------------


Berdasar asal fakultas, terdiri dari
  1. FT 3 orang
  2. Fisipol 3 orang
  3. F Biologi 1 orang
  4. F Psikologi 1 orang
  5. FK 1 orang
  6. Farmasi - 1 orang
  7. FIB  1 orang
  8. FH 1 orang
  9. Filsafat 1 orang
  10. ITS 1 orang 
  11. ITB 1 orang
  12. Univ California 1 orang

 
Berikut nama-nama 16 anggota MWA UGM 2026-2031 terpilih yaitu:

  1. Biologi - Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., (Rektor Universitas Muhammadiyah Gombong) 
  2. Teknik Mesin - Mochamad Soleh, S.T., M.T. (PLN Puslitbang). 
  1. Universitas California - Martin Basuki Hartono, B.A., M.B.A., (CEO GDP Venture), 
  2. F Psikologi - Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S. Psi., M.Sc., Psikolog, (Ketua Tanfidziyah PBNU), 
  3. ITS - Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA. (ITS),  
  4. ITB - Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., (Direktur Manajemen Risiko PT PLN Persero), 
  5. FK - dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M. Kes. (PP Muhammadiyah)
  6. Fisipol - Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si. (Deputi di Kementerian PAN-RB).
  1. Fisipol - Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D., 
  2. Farmasi - apt. Dr. Hilda Ismail, M.Si., dan 
  3. Teknik Mesin - Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. 
  1. Teknik Elektro - Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU.
  2. Fisipol - Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si.
  3. FIB - Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. 
  1. Filsafat - Andi Batara Gemilang, 
  2. F Hukum - Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn.

Referensi
  1. https://ugm.ac.id/id/berita/16-orang-terpilih-menjadi-anggota-mwa-ugm-periode-2026-2031/
  2. https://ugm.ac.id/id/berita/21026-daftar-nama-anggota-mwa-ugm-periode-2021-2026/

Thursday, 23 April 2026

, ,

Fakta-fakta pada pemilihan MWA UGM Unsur Tendik 2026


Pemilihan langsung anggota MWA UGM unsur tendik 2026-2031 telah usai. Terpilih Fitria Yuniarti, Katimker  Innovation Project Management sebagai pemenangnya. Berikut beberapa fakta dari pemilihan tersebut.

hasil akhir

Hari Kartini 
Pemilihan dilakukan selama 24 jam, mulai dari 20 April 2026 pukul 12 siang, hingga tanggal 21 April pukul 12 siang.

Pada pemilihan melalui vooting di hari Kartini ini, terpilih seorang perempuan untuk menjadi wakil tendik di MWA. Jika dilihat ke belakang, Fitria merupakan perempuan pertama calon anggota MWA unsur tendik.


Paling demokratis
Wakil tendik dipilih melalui pemilihan langsung, yang sifatnya bebas dan rahasia, secara daring menggunakan aplikasi Simaster. Pemilihan MWA unsur tendik ini merupakan proses paling demokratis dibanding pemilihan unsur lain di MWA. 

Misalnya, unsur mahasiswa tidak "lahir" dari pilihan para mahasiswa, unsur alumni tidak "lahir" dari pilihan para alumni, melainkan melalui panitia atau tim yang memang dibentuk untuk memilih/menentukan.

Partisipasi meningkat
Partisipasi pemilih dalam penentuan wakil MWA unsur tendik tahun 2026 meningkat dibanding periode sebelumnya. Periode 2021 sejumlah 1,536 menggunakan hak pilihnya. Sementara tahun 2026 sejumlah 2191 tendik menggunakan hak pilihnya. Terdapat peningkatan sejumlah 655 pemilih atau sekitar 42%. 

partisipasi pemilih

Bukan pejabat struktural
Pemenang  pada pemilihan langsung MWA unsur tendik 2026 berasal dari staf yang bukan pejabat struktural, mengalahkan 1 pejabat struktural yang juga ikut pada pemilihan ini. Ini cukup menarik.

Pemenang berasal dari unit di gedung pusat. Jika dilihat dari jumlah staf, unit yang menjadi asal pemenang merupakan unit kecil, bukan selevel fakultas yang membawahi banyak staf. 

Lalu dari mana  596 suara (27,20%) berasal?

Pertama tentu dari kampanye. Fitria meluncurkan video kampanyenya justru saat curah gagasan. Berbeda dengan kandidat lain, kemasan presentasi menggunakan video cukup memberikan kesan. Selain menyampaikan gagasan, konsep videonya juga menghibur. Strategi presentasi menggunakan video juga bisa dilihat sebagai strategi: menghilangkan beban presentasi. Strategi ini bisa dianggap berhasil. 

Kedua, ada kemungkinan muncul korsa Gedung Pusat. Minimal dalam 2 periode terakhir, wakil tendik di MWA tidak dari gedung pusat. Kemungkinan besar para staf di gedung pusat hendak merebut supremasi wakil MWA agar kembali ke gedung pusat. 

Lebih meriah
Para calon berani mengatakan "pilihlah saya" secara terang-terangan, serta percaya diri dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Tentu ini menarik, karena biasanya calon akan bermain lebih soft dengan kalimat "jika saya diberikan mandat", "jika tendik memberi kepercayaan", dan semacamnya.

###

Daftar nama anggota MWA UGM unsur tendik:
  • Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn. (2026-2031)
  • M. Nur Budiyanto (2021-2026)
  • Paminto Adhi, SE., M.Si (2016-2021)
  • de/d 2013 -2016
  • Dr Ir Eko Nugroho M.Si,  Drs Supriyanto 2007 – 2012
  • de/d 2004-2007
  • de/d 2002-2004


--------------------------##-----------------------

Referensi
  1. https://www.youtube.com/watch?v=BEMbtnhjmGM
  2. https://www.youtube.com/watch?v=cJ2YodYBSgE
  3. https://www.instagram.com/p/DXZKNsmgYc-/

Referensi anggota MWA
  1. https://mwa.ugm.ac.id/anggota-mwa-ugm-2012-2015-periode-transisi/
  2. https://ugm.ac.id/id/berita/1910-terpilih-19-anggota-mwa-ugm-periode-2007-2012/
  3. https://ugm.ac.id/id/berita/11577-terpilih-anggota-mwa-ugm-periode-2016-2021/
  4. https://ugm.ac.id/id/berita/20968-nur-budiyanto-terpilih-anggota-mwa-periode-2021-2026/
  5. https://ugm.ac.id/id/berita/16-orang-terpilih-menjadi-anggota-mwa-ugm-periode-2026-2031/
  6. https://ugm.ac.id/id/berita/21026-daftar-nama-anggota-mwa-ugm-periode-2021-2026/

Sunday, 19 April 2026

, , ,

Tabel rekap (tidak lengkap) calon MWA 2026-2031 unsur tendik

Sampai Minggu, 19 April 2026 pukul 15.51 sore, hanya 3 dokumen lengkap yang saya peroleh. Cukup? Tentu tidak. Namun tidak mengapa.

Dokumen saya peroleh tidak dengan meminta kepada calon. Saya hindari meminta dokumen kepada para calon.


Keterangan: DED - durung entuk data

Calon MWA unsur tendik periode ini, setidaknya ada kemajuan dari sisi jumlah, dari 6 di periode lalu menjadi 7 untuk periode 2026-2031. 

Selain itu, unit induk juga ada yang mendukung. Paling sederhana melalui postingan di IG unit. 

Keterwakilan perempuan juga meningkat. Jika periode sebelumnya hanya 1 perempuan, pada periode ini ada 3 perempuan mengikuti.

Berikutnya akan kita lihat bersama, apakah dari sisi pemilih akan mengalami perbaikan juga?

Periode lalu, total ada 1,536 pemilih berpartisipasi. Jika dibanding dengan total tendik tahun 2024 sebanyak 3585, angka partisipasi tendik mencapai 42,8%.  Kita berharap, pada periode ini akan meningkat. 

Selain jumlah, dinamika prosesnya terasa lebih semarak. Kiriman dokumen profil, video, ajakan memilih dikirim ke japri maupun di grup WA. Dalam video/poster tersebut, juga terang-terangan mengajak memilih dirinya. Percaya diri.

Agaknya, fenomena ini menunjukkan bahwa setelah pensiun, para calon anggowa MWA ini sudah tahu hendak ke mana. 

Nyaleg? Calon Bupati? Atau setidaknya calon lurah di kampung halamannya.


MWA bukan eksekutor

Anggota MWA bukan eksekutor. Jangan sampai para calon terjebak pada program praktis. Yang harus didorong itu kebijakan. Dan, mendorong terwujudnya kebijakan bukan hal mudah. Apalagi anggota MWA terdiri dari berbagai elemen. Dari level mahasiswa dan tendik, alumni yang berkibar di mana-mana, dosen yang tentu jejaringnya luas, guru besar, dan alumni yang memiliki jabatan namun masuk lewat masyarakat umum. Ada bargaining, ada adu gagasan, dan lainnya.

#######

Penutup

Harapan saya, MWA dari unsur tendik bukan MWA yang mriyayi. Bukan yang memosisikan diri sebagai ndoro. Bukan yang menjaga jarak karena jabatan. Bukan yang terlena oleh jabatan. Juga bukan orang yang baper-an karena kritik, baper karena idenya dikritisi, atau baper pada orang yang berseberangan. Bukan yang pelit informasi. Bukan yang siapa elu - siapa gue. 

MWA unsur tendik itu lahirnya dari tendik. Memilih atau tidak, semua tendik adalah yang diwakili. Tendik adalah ndoro-nya. 

Masing-masing calon punya gagasan. Dari sekian gagasan, jika tidak semua dapat digiring ke ranah kebijakan, siapapun yang terpilih, paling tidak mau mendengar, dan mau bercerita.

Itu saja, buat saya sudah cukup.

Lalu mau milih siapa?

Siapapun boleh! Masih ada agenda curah gagasan di hari Senin, 20 April 2026, untuk memperoleh informasi lebih lengkap terkait gagasan para calon. Masih ada waktu 1 hari sampai 21 April pukul 12.00 WIB untuk menentukan pilihan.

Bisa dari gagasannya.
Bisa dari kedekatannya.
Bisa dari isu gender.
Bisa dari kemudahan diaksesnya.
dan lain-lainnya

Yang jelas warga kampus pasti tidak akan milih karena jogetnya, ok gass-nya, atau gemoy-nya.  

------------------------------------**------------------------------------

Referensi


, , ,

Wisnu Budi usung empat komitmen. Yakin, Pak?

Catatan: Disclaimer ada di akhir tulisan



Wisnu Budi Ardianto (WBA) merupakan sekretaris pimpinan di FKG. Berbeda dengan 2 video sebelumnya (NBS dan IWW), durasi video WBA sampai 5 menit. Perlu waktu lebih lama untuk mencerna pesan yang disampaikan. 

Saya mulai... 

"Satu Visi untuk Perubahan, Satu Suara untuk Kesejahteraan". Ini semacam jargon, bukan visi. 

Pertanyaan yang muncul: Perubahan apa yang dimaksudkan? Adakah keadaan status quo yang perlu diubah?

Visi-misi (yang muluk)

WBA mengusung misi "Meningkatkan sinergi kemitraan strategis tendik bersama seluruh civitas untuk pencapaian UGM Top 100 Dunia dan Global Excellence Hub 2031".

Pesan di visi bisa diterima. Namun, penggunaan kata kerja "meningkatkan" menjadikan visi terasa seperti misi. Jika visi itu dianggap sebagai kondisi ideal yang ingin diraih, akan lebih baik jika visinya diubah menjadi "Terciptanya kemitraan strategis tendik bersama seluruh civitas untuk pencapaian UGM Top 100 Dunia dan Global Excellence Hub 2031".

Pada bagian misi, WBA mengusung "Pencapaian Renstra UGM 2022-2027 menuju Kepemimpinan Global 2031 sebagai Global Excellence Hub, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan bagi Tenaga Kependidikan". 

Pada bagian misi ini agak aneh. Yang hendak dicapai adalah kondisi ideal pada tahun 2031. Nah, untuk mencapai itu perlu pencapaian renstra 2022-2027. Anggota MWA terpilih akan bertugas sampai 2031. Lalu 4 tahun sisanya ngapain?

Selain itu, tahun 2027 (sebagai akhir dari renstra) itu tinggal 1 tahun. Cukup, po?


Komitmen (yang begitu banyak) 
Komitmen, menutur KBBI berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. WBA, menurut saya, terlalu berani menuliskan 4 komitmen. Bagus, sih. Dengan komitmen yang jelas, akan mudah pula dalam membandingkan dengan kandidat lain, untuk memutuskan pilihan. Dan jika terpilih, jelas pula yang ditagih.

Ada empat komitmen WBA. Komitmen ini, dalam konteks kampanye menarik pemilih, sepertinya benar-benar hendak digunakan untuk menunjukkan betapa pahamnya WBA pada kebutuhan tendik. Apalagi komitmen ini menyentuh hal yang populis, dan bagian yang "diinginkan" tendik. Misalnya kesejahteraan, kemudian kompetensi melalui jejaring internasional. 

Siapa yang tidak tersihir oleh kata sejahtera? Dan siapa yang tidak ingin dapat kesempatan belajar di luar negeri?

Kesejahteraan & Karir: Memastikan kebijakan yang adil dan transparan untuk pengembangan karir serta kesejahteraan Tendik; Jenjang karir yang jelas, evaluasi dan penyesuaian kelas jabatan; Bina lingkungan

Digitalisasi Berbasis Kebutuhan: Perbaikan Sistem yang memudahkan pekerjaan, bukan menambah beban administratif yang rumit

Sinergi Kampung-Kampus: Menjaga harmoni dan kolaborasi antara UGM dengan lingkungan di luar kampus, UGM melaksanakan PkM dimana tendik tinggal sebagai wahana dan wujud apresiasi (UGM Berdampak)

Mitra Strategis Global: Memperjuangkan penguatan kompetensi Tendik di level internasional sebagai mitra strategis UGM.


Alih-alih fokus pada 1 hal, WBA justru memilih mengusuh 4 komitmen untuk mendukung visi dan misinya. Bagus. Namun di sisi lain komitmen ini nantinya bisa jadi beban berat WBA jika terpilih. 




Golongan elit?
WBA merupakan sekretaris pimpinan. Setidaknya info jabatan ini diperkuat oleh berita ini. Sespim bukanlah jabatan struktural. Dari media sosialnya, WBA sebagai sekpim agaknya dekat dengan pimpinan. Obrolannya dengan pimpinan tak semua receh, ada yang serius. Setidaknya ini dapat dilihat dari ide/gagasan yang diusung.



-------------------------------------------**-----------------------------------

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari usaha saya melakukan analisis pada ide/gagasan/pemikiran para calon anggowa MWA UGM unsur tendik 2026. Analisis dilakukan dari dokumen atau video yang bersifat terbuka, yang  menunjukkan visi dan misi. Kenapa saya lakukan? Karena proses pemilihan anggota MWA adalah proses politik, maka ide kandidat harus diuji. Saya yakin, para kandidat pun terbuka dan rela saat ide/gagasannya diuji. Catatan ini pun saya akui pasti ada bias. Maka, catatan inipun juga terbuka untuk diuji dan dikritisi. 


Saturday, 18 April 2026

Scopus AI, sudah bisa apa saja sekarang?

 Ada yang baru (saja saya tahu) di Scopus AI

Saat promt diberikan, tidak hanya concept map dan topic expert, namun juga ada emerging themes.

Fitur ini menampilkan topik dengan 3 kategori yaitu Consistent Theme, Rising Theme dan Novel Theme lengkap dengan referensinya.



What impact do microplastic pollutants have on marine biodiversity in coastal regions?




, , ,

Ika Wulandari fokus pada well-being, berpijak pada kondisi riil lapangan?


Keterangan batasan tulisan ini ada di bagian akhir


Ika Wulandari Widyaningrum (IWW), salah satu calon MWA unsur tendik. Dokumen kampanyenya saya peroleh, ada poster, ada video. 

Sekali lagi. Ini  proses politik. Semua berhak memberi komentar dan catatan pada semua calon. Di sisi lain, konsekuensi dari orang yang masuk ke proses politik, maka akan mendapat catatan dari para calon pemilihnya.

Saya mulai....

Visi dan Misi
IWW menambah kata "strategis" pada visi dan misinya. Visinya "mewujudkan tendik UGM yang unggul, kompetitif, dan produktif".

Visi ini relatif bisa saya terima. Meski mungkin akan lebih kuat jika visi itu tanpa kata kerja. Mewujudkan menjadi terwujudnya. Sehingga menjadi "Terwujudnya tendik UGM yang Unggul, kompetitif dan produktif" sebagai keadaan yang terus menerus harus diupayakan, diusahakan. Bentuk idealnya masih ada dalam bayang-bayang.  Visi IWW punya daya gedor untuk bertindak.

Sementara untuk mendukung visi itu, baru ada proses kerja, dalam hal ini mewujudkan employee well being buat seluruh tendik. Alasan kenapa well being, juga diutarakan dalam poster. Diikuti dengan tantangan dan daya dukung. Ada analisis yang saya yakin tidak serta merta muncul, yang dilakukan IWW untuk merumuskan beberapa hal di atas.

Dukungan kemampuan
Usaha mengarusutamakan well being, ternyata bukan progam yang lahir dari ruang kosong. Saya melihat IWW mencantumkan riwayat training sebagai coach untuk student well being. Agaknya IWW hendak memperluas ke tendik.


Usulan Program yang saya tak begitu berhasil memahami
Dari paparan visi, misi, analisis tantangan, daya dukung, dan semacamnya, IWW berhasil menunjukkan ide yang rapi. Namun, di akhir, saat menawarkan usulan program, saya belum begitu paham. 

IWW membuat usulan progam Ruang "Diskusi" yang Inklusif, Akomodatif, dan Responsif. Kata diskusi diapit tanda petik.  Kenapa? Saya belum dapat jawaban.

Pada bagian usulan program itu, IWW menuliskan "Mekanisme survey kepuasan kerja/indeks kebahagiaan, yang dapat mendukung program-program seperti: pengembangan karir, pengembangan kompetensi kesetaraan kesempatan bagi seluruh tendik dan perempuan, dan kebutuhan untuk work-life balance."

Survey?

Sebenarnya, pada level MWA, anggota unsur tendik tidak dalam kapasitas membuat program, melainkan mendorong kebijakan. Begitu yang saya pahami.

Mungkin, ini mungkin lho. Ruang diskusi yang inklusif, akomodatif, dan responsif itu adalah kebijakan yang akan diperjuangkan IWW jika terpilih menjadi ketua MWA.

Atau, bisa juga itu merupakan kerja yang akan dilakukan IWW jika terpilih menjadi anggota MWA sebagai bagian dari usaha "belanja masalah". Dari situ diharapkan muncul gagasan-gagasan yang dapat dinaikkan ke level kebijakan dalam rangka well being, didorong melalui MWA untuk dilakukan rektor terpilih dan rezim di bawahnya.

Atau, bisa juga maksud IWW mendorong semua unit untuk mewujudkan "ruang diskusi yang inklusif, akomodatif, dan responsif" di semua unit di UGM sebagai bagian dari mendukung well being. 

Mungkin begitu. Tapi kok ada "survey", ya?


Dari golongan elite?
IWW merupakan ketua tim kerja. Satu level di bawah KKA, bukan  jabatan struktural. Posisi Katimker merupakan posisi strategis. Dia bisa ke bawah, menjangkau staf yang ada di lapangan sehingga tahu kondisi lapangan. Juga bisa menjangkau ke atas, ke KKA atau bahkan melompat sampai WD dan Dekan.  

Ketua tim kerja, mestinya punya hubungan yang erat dengan staf di bawahnya dan paling tahu lapangan. Mungkinkah visi misi terkait well being tendik itu tumbuh dari kondisi riil lapangan?


Pantun penutup yang...

IWW menutup posternya dengan pantun. Tapi kok iramanya kurang smooth, ya.

Naik Transgama berkeliling. Melewati sekolah dan fakultas. 
Tendik UGM dengan support well-being, menaikkan produktivitas
Saya coba usulkan revisinya
Naik Transgama berkeliling, melewati sekolah dan fakultas. 
Tendik UGM support well-being, sebagai usaha menaikkan produktivitas



Video kampanye IWW ada di dropbox ini.

-------------------------------------------**-----------------------------------

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari usaha saya melakukan analisis pada ide/gagasan/pemikiran para calon anggowa MWA UGM unsur tendik 2026. Analisis dilakukan dari dokumen atau video yang bersifat terbuka, yang  menunjukkan visi dan misi. Kenapa saya lakukan? Karena proses pemilihan anggota MWA adalah proses politik, maka ide kandidat harus diuji. Saya yakin, para kandidat pun terbuka dan rela saat ide/gagasannya diuji. Catatan ini pun saya akui pasti ada bias. Maka, catatan inipun juga terbuka untuk diuji dan dikritisi.