Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide dan pengalaman. Ada ide dan konsep, yang sayang jika terbuang. Meski tak mungkin tidak dapat diulang kembali setara 100%.
---
Pembuka
Pertemuan tersebut berbau misi. Saya menciumnya. Dan ini misi ke-dua, meskipun pembawanya beda orang. Misi pertama, saya bisa lepas secara baik dan benar. Ya, setidaknya saya jujur dalam prosesnya. Pada misi ke-dua ini, saya melipir. Saya sempat sampaikan tentang kebanggaan saya menjadi pustakawan meskipun honornya tidak sebanyak bidang lain, dan bahkan image-nya pun tidak positif sepenuhnya. Saya mencintai profesi fungsional ini.
Pernah ada cerita, saat fakultas mengundang tim "reformasi kepegawaian" dari fakultas yang sudah mapan, tim ini berkomentar bahwa pustakawan identik dengan menunggu dan melayani yang datang. Saya marah? Tidak. Justru ini kesempatan saya untuk menunjukkan bahwa pustakawan punya peran penting, meski tak terasa langsung sebagaimana keuangan, kepegawaian dan semacamnya.
Berhasil saya membalik image pustakawan? Tidak 100%. Namun arah angin itu semakin terasa. Mahasiswa, komentar positif dosen dll, muncul. Namun hal ini, dugaan saya tidak sampai pada para anggota tim reformasi kepegawaian dari fakultas lain tersebut.
Hembusan angin ini mau saya perkuat. Begitu idealisme saya, pada profesi ini.
Harapan saya, dengan cerita kebanggan saya pada perpus dan pustakawan di misi ke-2 ini, pejabat tersebut berubah pikiran.
Namun tidak....
Tapi ternyata tidak. Mungkin memang secara administratif tidak ada pilihan lain, meski secara kapasitas ada yang lebih baik. Saya harus berbagi. Bukan berpindah. Menjadi Koordinator, yang saat itu menggantikan nomenklatur jabatan kasie, tidak saya bayangkan sebelumnya. Sama sekali.
Bidang yang diberikan pada saya merupakan bidang baru yang menuntut kreatifitas. Cair, bisa masuk ke berbagai lini, meski tanpa harus klaim sekalipun.
Ada canggung di awal waktu, bahkan sampai berakhirnya jabatan tersebut. Dari sekian tugas, saya hanya punya 2 modal: pernah mengelola medsos dan bikin podcast--itupun saya nyambi jadi pustakawan--. Humas, IT, Alumni, saya tak punya modal banyak. Apalagi "informasi" kefakultasan.
Beruntungnya semua rekan di bidang ini suportif. Tidak terkecuali. Tapi saya tetap canggung. Lokasinya di gedung baru, terpisah dari gedung perpus yang selama 10 tahun saya tempati setiap hari. Ada jarak, baik fisik maupun psikologis. Pada posisi ini, duduk di ruang yang disiapkan untuk saya pun jarang. Ini hambatan psikologis lainnya. Saya lebih senang duduk bareng di meja kursi bareng teman-teman. Jika dihitung, 90% waktu saya di sana, bukan di kursi ruang terpisah.
Bahkan, saat mengambil sebuah ide, saya benar-benar rikuh, dan berkali saya sampaikan dan tegaskan, "wis bener urung ya". Termasuk hal yang sejak awal saya hindari: uang. Misalnya merekrut partime, benar-benar penuh pertimbangan. Merektur partime ini pun saya lakukan setelah terdesak oleh keadaan. Meminta partime, berarti menambah beban keuangan fakultas. Saya tak punya pengalaman dengan keuangan, saya tak tahu seberapa banyak kemampuan fakultas, dan boleh atau tidak jika saya minta partime. Akhirnya, meski saya (ini saya sadari belakangan) ternyata punya sedikit otoritas, saya baru memutuskan merekrut partime sekian bulan setelah saya di bidang ini. Itupun hanya satu. Dan itupun setelah saya sampaikan ke atasan, dan disampaikan "oke, 1 masih oke". Saya khawatir, permintaan saya membebani fakultas.
Sebagaimana saat masih mengelola medsos FT (IG) sendirian, dari pada membebani keuangan fakultas, saya coba kerjakan sendiri.
Cerita lain ketidak enakan perasaan adalah saat harus nembung iPhone untuk keperluan medsos ke bagian keuangan dengan perasaan dag dig dug. "Ono duwite ora, ya". Boleh ndak, jangan-jangan diminta ketemu WD atau bahkan Dekan dahulu. Duh. Ketemu pejabat merupakan hal yang saya hindari. Saya lakukan jika dan hanya jika benar-benar perlu.
Ruang kreativitas
Bidang Humas, IT, Medsos, dan Alumni merupakan bidang yang menuntut kreatifitas. Cair, sisi administratifnya sangat kecil. Sembilan puluh % kreatifitas, termasuk membuka ruang-ruang baru agar bidang ini--sebagai bidang baru--bisa selevel dengan bidang lain yang sudah ada (tridharma, aset maintenance pengadaan, SDM keuangan).
Jujur, saat awal mula saya dapat honor jabatan, saya kaget. Duh. Dapat honor segini, tapi kerja-kerja saya masih begini saja. Melihat bidang lain yang sudah dulu ada dan tentu saja mapan perannya, hati saya bergolak. Honor saya terlalu besar dibanding peran saya. Begitu fikir saya waktu itu.
Menjelang akhir masa jabatan (saya di bidang ini selama 1 tahun 3 bulan), saya lontarkan guyonan dengan teman-teman.
"Bidang ini ada beberapa bagian: sistem informasi, jaringan, media/media sosial. Sistem informasi bisa dihandle si A, jaringan si B, medsos si C. Si A,B,C itu sudah ada dalam ploting saya. Lalu saya? kembali ke perpustakaan. Tentu teman-teman berteriak. Ini normal.
Sebenarnya ini--saya sadari kemudian--semacam cek ombak. Ketika 3 bagian itu sudah ada PIC-nya, berikutnya saya bertugas memperluas peran tim. Ini strategi yang saya lakukan saat full time di perpus. Saya ingin lakukan juga di tim yang baru.
Saya akan mencoba masuk pada: mengembangkan konsep "media" dengan segala turunannya, mengembangkan konsep humas dengan segala turunannya, mengembangkan konsep IT tidak dalam tataran teknis namun ke hal yang lebih strategis, mengembangkan kosep "informasi" menjadi lebih strategis (pada tulisan lain di blog ini saya tuliskan bahwa bidang informasi bisa seperti PIK di Kompas, atau PDAT di Tempo, dia jadi sumber info dan analisis organisasi), mengembangkan pengelolaan alumni. Mengelola informasi masih sesuai dengan fungsional saya sebagai pustakawan. Apalagi saya pernah menemukan berbagai arsip tua milik fakultas dalam bentuk foto. Ah. Sepertinya menyenangkan.
Saya termasuk yang lambat belajar, penuh pertimbangan, dan dalam kondisi normal tidak dapat cepat berani ambil risiko. Butuh waktu lama dalam menyesuaikan diri. Penyesuaian selama 1 tahun 3 bulan di bidang ini mungkin cukup. Namun ternyata saya harus berpindah. Apa yang telah saya bayangkan dan rencanakan, tentu harus saya ikhlaskan.
Marah
Saya ingat, satu hal yang saya tanyakan ke teman-teman pada bidang ini, dan ingin saya pastikan sebelum saya berpindah adalah: tidak ada yang pernah saya marahi.
Marah pada rekan kerja (dalam hal ini staf di bidang saya) saya hindari. Saya tak berhak marah pada mereka, justru mereka yang memiliki hak marah pada saya. Ketika saya marah, itu artinya saya tak mampu mengajak mereka diskusi tentang apa tugas dan kewajiban, oleh karena itu mereka-lah yang justru berhak marah.
Berpindah
Berpindah ke bidang baru, tentu diikuti berbagai pertanyaan, utamanya tentang: "apa yang akan saya lakukan?". Apalagi, berbeda dengan bidang humas, medsos, alumni, dan informasi, yang saya masih punya modal meski sedikit; pada bidang tridharma modal saya nyaris 0. Tidak ada sama sekali.
Selain itu, juga pertanyaan: seberapa luas saya bisa berkreasi sebagaimana pada bidang sebelumnya?
Tuhan punya skenario. Selalu ada pola yang terlihat setelah ketidakberaturan.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan __Heraclitus (filsuf Yunani kuno, 540-480 SM)
---- bersambung.....






.jpeg)
.jpeg)











