Showing posts with label politik kampus. Show all posts
Showing posts with label politik kampus. Show all posts

Tuesday, 30 June 2026

, ,

Pemilihan Dekan FT: Core candidates, potential candidates, atau kingmakers #1

Sebentar lagi pilihan dekan. Yang milih senat. Periode lalu, 3 calon dikirim ke universitas. Karena periode ini akan segera habis, tentu pilihan akan segera dimulai. 

Nah. Saya coba ajak ChatGPT ngobrol tentang kandidat dekan FT UGM periode mendatang. Sejauh apa ChatGPT dapat memberikan analisis, dan sedalam apa analisisnya.

----------------------**-------------------------

Setelah saya sapa, dan saya sampaikan bahwa saya hendak ngobrol tentang hal yang agak politis, yaitu pemilihan dekan FT UGM periode 2026-2031, ChatGPT (selanjutnya saya tulis GPT) merespon.

Sebelumnya GPT sudah saya ajak ngobrol tentang FT UGM, termasuk nama-nama yang populer muncul. GPT masih menyimpan memory obrolan tersebut, sehingga ketika dipantik dengan "pemilihan dekan", GPT langsung memberikan respon panjang lebar, termasuk calon potensialnya.

Pildek, kata GPT, merupakan kombinasi dari 3 hal:

  1. Legitimasi akademik
  2. Kemampuan membangun koalisi
  3. Narasi masa depan fakultas 
GPT kemudian menyajikan nama dekan dan wakil dekan aktif + analisis kekuatan, tantangan dan posisi politik. Agaknya GPT main aman dan menerapkan kebiasaan/pola pemilihan yang umum terjadi, yang menempatkan petahana sebagai kandidat paling kuat. 

Menariknya, GPT membuat 2 skenario besar: kontinuitas dan regenerasi. Jika kontinuitas, GPT menyajikan nama Selo sebagai petahana menjadi kandidat kuat. Namun jika regenerasi maka GPT menyebut Ali Awaludin. GPT memandang Selo dengan logika politik petahana: "jangan ganti nakhoda ketika kapal sedang berlayar", serta menjaga kesinambungan program dan jejaring yang sudah ada. Sementara Ali representasi dari regenerasi tetapi tidak ingin terjadi guncangan besar, sudah berada di inti kepemimpinan fakultas, punya jaringan eksternal kuat, dan membawa citra riset-industri yang relevan dengan tantangan FT ke depan. Begitu kata ChatGPT.

Seolah ingin dapat feedback, GPT bertanya balik, "FT mencari pengganti, atau penerus?"

Saya tidak menjawab. Jika saya jawab, pasti GPT hanya akan menegaskan jawaban saya saja. Saya justru bertanya, kenapa GPT hanya menyajikan dekan dan WD aktif saja sebagai kandidat.

Dengan jujur, GPT menjawab bahwa dia terlalu cepat mengasumsikan, dan merasa terjebak pada bias struktural. Oke... Ini sangat dimaklumi. 

----------------------------**---------------------------------

Pertanyaan tentang kandidat saya hentikan. Saya ingin tahu analisis GPT pada berbagai proses pemilihan dekan di berbagai kampus. Tampaknya GPT punya banyak data yang kemudian diolah. GPT menyebut beberapa hal yang membuat seseorang dapat terpilih menjadi dekan. Ada aspek yang mempengaruhi, faktor yang mempengaruhi, dan variabel yang mempengaruhi. Terkesan tumpang tindih, namun hal ini menarik digunakan untuk pembacaan situasi menjelang pildek. 

Ada 4 aspek yang mempengaruhi seseorang bisa jadi dekan, yaitu power, elektabilitas, kompetensi, dan pengaruh eksternal

Dari data GPT, faktor koalisi internal dan faktor kepercayaan personal menjadi faktor paling tinggi pengaruhnya. GPT juga mengingatkan bahwa trust juga menjadi kunci. Trust terbagi menjadi 4: trust akademik, trust manajerial, trust personal, dan trust politik. 

GPT menekankan kesimpulan paling menarik dari analisis yang dia lakukan, yaitu 4 variabel seorang bisa terpilih menjadi dekan.  Pertama variabel kompetensi yang membuat orang layak menjadi dekan, power yang membuat orang mampu menjadi dekan, elektabilitas yang membuat orang terpilih menjadi dekan, dan pengaruh eksternal yang membuat orang dipandang strategis menjadi dekan. 

--------------------**----------------------


Analisis GPT tentu saja punya kelemahan. Saya pun bertanya apa kelemahan analisisnya. GPT menjawab "Alasannya sederhana: tabel sebelumnya lebih banyak memetakan structural power, sementara politik adalah dynamic power. Keduanya tidak selalu sama.".

GPT baru mampu menyajikan data berdasar structural power dan sebagian expert power, serta sebagian kecil saja network power, karena data itulah yang tertulis dan mampu dijangkau GPT. Hal itu yang membuat GPT fokus pada dekan dan wakil dekan aktif, yang datanya tersebar, namanya banyak disebut di web fakultas. Dan sebagaimana umumnya pemilihan, GPT melihat petahana lah yang paling kuat dan tinggi kemungkinan terpilihnya.

Sementara itu, aspek political power itu dinamis, tidak dapat dibaca GPT. GPT tidak mampu membaca perubahan peta kekuatan yang tidak tersaji di internet. Jangankan GPT, manusia pun tidak semua bisa menjangkau atmosfir politik yang terjadi. 

Aspek political tak kasat mata. Dia bisa muncul dalam bahasa tubuh, bahasa isyarat, atau bahasa lain yang tidak semua orang bisa menangkap maknanya. Dia bisa datang sekonyong-konyong, memporak-porandakan skenario yang sudah disusun rapi sekalipun.




Penutup
Structural power menjangkau dua lingkaran kandidat: core candidat (dekan dan wakil dekan aktif), potential candidat (ketua atau eks ketua departemen dan mantan pejabat struktural). Namun tidak mampu melakukan analisis pada lingkaran ke-3: kingmakers.

Kata GPT, model tiga lingkaran ini (core, potential, dan kingmakers) jauh lebih realistis untuk membaca politik FT UGM daripada hanya bertanya "siapa calonnya". Sering kali kingmaker lebih penting daripada kandidat, dan tokoh yang akhirnya terpilih adalah mereka yang berhasil menyatukan dukungan dari para kingmaker tersebut."


Friday, 24 April 2026

,

Fakta-fakta 16 nama anggota MWA UGM 2026-2031

Dari 16 nama terpilih, ada hal yang menarik. 

Mantan rektor gagal lolos anggota MWA

Berdasar informasi di rilis web Pemilihan anggota MWA, ada nama Panut Mulyono yang mendaftarkan diri sebagai anggota MWA dari unsur guru besar. Namun gagal. Setidaknya ini tidak sesuai dengan "kebiasaan" sebelumnya. Mantan rektor sebelumnya, yaitu Pratikno dan Sofian Efendi mendaftar sebagai anggota MWA dan berhasil, bahkan jadi ketua MWA.

Anggota MWA unsur tendik bukan pejabat struktural. Setelah 2 periode anggota MWA unsur tendik berasal dari pejabat struktural (KKA), periode ini berasal dari tendik non struktural. 

Tak lagi bertabur menteri. Periode sebelumnya, meski maju sebagai masyarakat umum atau alumni, cukup banyak nama-nama anggota MWA yang juga menteri dan pejabat negara. Misalnya Menteri Perhubungan, Gubernur BI, Menteri PUPR, Menteri Luar Negeri, Mensesneg.

Pada periode ini, Wamen pun tidak terpilih. Beberapa calon dari pejabat yang tidak lolos MWA 2026: Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Ketua BMKG, Wakil Menteri Hukum RI, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Ketua Dewan Komisioner LPS.

Pertanda apa ini gerangan.....

Dari 16 nama terpilih, sebanyak 3 nama merupakan dosen atau alumni FT UGM. Nama-nama tersebut yaitu

  1. Mochamad Soleh, S.T., M.T. (PLN Puslitbang) alumnus Teknik Mesin
  2. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. (dosen Teknik Mesin)
  3. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU. - (dosen Teknik Elektro)
Sementara itu 3 nama pula berasal dari Fisipol
  1. Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.
  2. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D.
  3. Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si.

Dari 16 nama terpilih, ada 2 nama yang merupakan pengurus PBNU, yaitu
  1. Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S. Psi., M.Sc., Psikolog, (Ketua Tanfidziyah PBNU),
  2. Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA. (Pengurus Syuriyah PBNU)
Dari 16 nama terpilih, ada 2 nama yang berlatar belakang Muhammadiyah, yaitu
  1. Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., (Rektor Universitas Muhammadiyah Gombong)
  2. dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M. Kes. (PP Muhammadiyah)

Dari 16 nama, ada 2 yang berkarir di PLN
  1. Mochamad Soleh, S.T., M.T. (PLN Puslitbang)
  2. Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., (Direktur Manajemen Risiko PT PLN Persero),
Dari 16 nama, ada 5 orang yang berlatar belakang ilmu teknik
  1. Mochamad Soleh, S.T., M.T. (UGM)
  2. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. (UGM)
  3. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU. - (UGM)
  4. Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA. (ITS)
  5. Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng. (ITB)


Dari nama-nama anggota MWA di atas, karena tak lagi bertabur menteri, tak ada mantan rektor yang menjadi anggota MWA, maka potensi jabatan ketua MWA bisa merata. Dari nama yang ada, paling "senior" secara jabatan terdapat nama Muhamad Nuh yang mantan menteri pendidikan juga pengurus PBNU. Namun, Nuh bukan "lahir" di UGM. Rasanya agak sulit menjadi ketua MWA. 

Siapakah yang akan terpilih menjadi ketua MWA?
Dilihat dari senioritas, selain Nuh ada nama Tumiran. Mungkinkah Tumiran yang jadi ketua MWA?

------------------------##------------------------


Berdasar asal fakultas, terdiri dari
  1. FT 3 orang
  2. Fisipol 3 orang
  3. F Biologi 1 orang
  4. F Psikologi 1 orang
  5. FK 1 orang
  6. Farmasi - 1 orang
  7. FIB  1 orang
  8. FH 1 orang
  9. Filsafat 1 orang
  10. ITS 1 orang 
  11. ITB 1 orang
  12. Univ California 1 orang

 
Berikut nama-nama 16 anggota MWA UGM 2026-2031 terpilih yaitu:

  1. Biologi - Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., (Rektor Universitas Muhammadiyah Gombong) 
  2. Teknik Mesin - Mochamad Soleh, S.T., M.T. (PLN Puslitbang). 
  1. Universitas California - Martin Basuki Hartono, B.A., M.B.A., (CEO GDP Venture), 
  2. F Psikologi - Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, S. Psi., M.Sc., Psikolog, (Ketua Tanfidziyah PBNU), 
  3. ITS - Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA. (ITS),  
  4. ITB - Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., (Direktur Manajemen Risiko PT PLN Persero), 
  5. FK - dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M. Kes. (PP Muhammadiyah)
  6. Fisipol - Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si. (Deputi di Kementerian PAN-RB).
  1. Fisipol - Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D., 
  2. Farmasi - apt. Dr. Hilda Ismail, M.Si., dan 
  3. Teknik Mesin - Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. 
  1. Teknik Elektro - Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU.
  2. Fisipol - Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si.
  3. FIB - Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. 
  1. Filsafat - Andi Batara Gemilang, 
  2. F Hukum - Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn.

Referensi
  1. https://ugm.ac.id/id/berita/16-orang-terpilih-menjadi-anggota-mwa-ugm-periode-2026-2031/
  2. https://ugm.ac.id/id/berita/21026-daftar-nama-anggota-mwa-ugm-periode-2021-2026/

Thursday, 23 April 2026

, ,

Fakta-fakta pada pemilihan MWA UGM Unsur Tendik 2026


Pemilihan langsung anggota MWA UGM unsur tendik 2026-2031 telah usai. Terpilih Fitria Yuniarti, Katimker  Innovation Project Management sebagai pemenangnya. Berikut beberapa fakta dari pemilihan tersebut.

hasil akhir

Hari Kartini 
Pemilihan dilakukan selama 24 jam, mulai dari 20 April 2026 pukul 12 siang, hingga tanggal 21 April pukul 12 siang.

Pada pemilihan melalui vooting di hari Kartini ini, terpilih seorang perempuan untuk menjadi wakil tendik di MWA. Jika dilihat ke belakang, Fitria merupakan perempuan pertama calon anggota MWA unsur tendik.


Paling demokratis
Wakil tendik dipilih melalui pemilihan langsung, yang sifatnya bebas dan rahasia, secara daring menggunakan aplikasi Simaster. Pemilihan MWA unsur tendik ini merupakan proses paling demokratis dibanding pemilihan unsur lain di MWA. 

Misalnya, unsur mahasiswa tidak "lahir" dari pilihan para mahasiswa, unsur alumni tidak "lahir" dari pilihan para alumni, melainkan melalui panitia atau tim yang memang dibentuk untuk memilih/menentukan.

Partisipasi meningkat
Partisipasi pemilih dalam penentuan wakil MWA unsur tendik tahun 2026 meningkat dibanding periode sebelumnya. Periode 2021 sejumlah 1,536 menggunakan hak pilihnya. Sementara tahun 2026 sejumlah 2191 tendik menggunakan hak pilihnya. Terdapat peningkatan sejumlah 655 pemilih atau sekitar 42%. 

partisipasi pemilih

Bukan pejabat struktural
Pemenang  pada pemilihan langsung MWA unsur tendik 2026 berasal dari staf yang bukan pejabat struktural, mengalahkan 1 pejabat struktural yang juga ikut pada pemilihan ini. Ini cukup menarik.

Pemenang berasal dari unit di gedung pusat. Jika dilihat dari jumlah staf, unit yang menjadi asal pemenang merupakan unit kecil, bukan selevel fakultas yang membawahi banyak staf. 

Lalu dari mana  596 suara (27,20%) berasal?

Pertama tentu dari kampanye. Fitria meluncurkan video kampanyenya justru saat curah gagasan. Berbeda dengan kandidat lain, kemasan presentasi menggunakan video cukup memberikan kesan. Selain menyampaikan gagasan, konsep videonya juga menghibur. Strategi presentasi menggunakan video juga bisa dilihat sebagai strategi: menghilangkan beban presentasi. Strategi ini bisa dianggap berhasil. 

Kedua, ada kemungkinan muncul korsa Gedung Pusat. Minimal dalam 2 periode terakhir, wakil tendik di MWA tidak dari gedung pusat. Kemungkinan besar para staf di gedung pusat hendak merebut supremasi wakil MWA agar kembali ke gedung pusat. 

Lebih meriah
Para calon berani mengatakan "pilihlah saya" secara terang-terangan, serta percaya diri dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Tentu ini menarik, karena biasanya calon akan bermain lebih soft dengan kalimat "jika saya diberikan mandat", "jika tendik memberi kepercayaan", dan semacamnya.

###

Daftar nama anggota MWA UGM unsur tendik:
  • Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn. (2026-2031)
  • M. Nur Budiyanto (2021-2026)
  • Paminto Adhi, SE., M.Si (2016-2021)
  • de/d 2013 -2016
  • Dr Ir Eko Nugroho M.Si,  Drs Supriyanto 2007 – 2012
  • de/d 2004-2007
  • de/d 2002-2004


--------------------------##-----------------------

Referensi
  1. https://www.youtube.com/watch?v=BEMbtnhjmGM
  2. https://www.youtube.com/watch?v=cJ2YodYBSgE
  3. https://www.instagram.com/p/DXZKNsmgYc-/

Referensi anggota MWA
  1. https://mwa.ugm.ac.id/anggota-mwa-ugm-2012-2015-periode-transisi/
  2. https://ugm.ac.id/id/berita/1910-terpilih-19-anggota-mwa-ugm-periode-2007-2012/
  3. https://ugm.ac.id/id/berita/11577-terpilih-anggota-mwa-ugm-periode-2016-2021/
  4. https://ugm.ac.id/id/berita/20968-nur-budiyanto-terpilih-anggota-mwa-periode-2021-2026/
  5. https://ugm.ac.id/id/berita/16-orang-terpilih-menjadi-anggota-mwa-ugm-periode-2026-2031/
  6. https://ugm.ac.id/id/berita/21026-daftar-nama-anggota-mwa-ugm-periode-2021-2026/

Monday, 13 April 2026

, ,

Di mana informasi proses pemilihan MWA unsur mahasiswa?

tangkapan layar 13 April 2026

Majelis Wali Amanat merupakan salah satu organ kampus yang punya 15 wewenang. Dari 15 wewenang itu, yang paling masyhur adalah mengangkat dan memberhentikan rektor. 

Anggotanya berasal dari berbagai unsur, totalnya ada 19 orang. Tiga diantaranya tetap: Menteri, Sri Sultan, dan Rektor. Sisanya (16 orang) dipilih berkala per 5 tahun, dengan dimungkinkan ada pergantian anggota antar waktu.


Tahun 2026 ini MWA kembali membuka pemilihan anggota. Ada 6 unsur yang diperlukan untuk memenuhi jumlah 16, yaitu masyarakat umum: terdiri dari alumni, tokoh masyarakat; serta masyarakat UGM: terdiri dari guru besar, bukan guru besar, tendik dan mahasiswa.

Info dan proses pemilihan ada di web https://pemilihanmwa.ugm.ac.id/. Namun demikian, ada hal yang membuat bertanya-tanya. 

Pada laman di atas, yang muncul hanya info persyaratan untuk 5 unsur: tokoh masyarakat, alumni, dosen GB, dosen non GB, dan Tendik. 

Lalu di mana info untuk unsur mahasiswa? "Ah. Pokoknya ada"




Pada web pemilihan MWA, ada keteragan tambahan, yaitu:


Semestinya, untuk meneguhkan bahwa web Pemilihan MWA merupakan web yang memuat informasi semua proses, maka pemilihan unsur mahasiswa juga demikian. 

Ditulis mekanismenya, nama-nama pendaftarnya dan diberi tambahan keterangan bahwa proses untuk unsur mahasiswa dilaksanakan oleh xxxx.

****

Referensi:



Sunday, 22 January 2023

, ,

Anggota MWA Unsur Tendik, menulislah! Karena....

Saya teringat pada sebuah peristiwa hampir 19 tahun lalu. Tahun 2004 di University Center UGM (saat ini disebut University Club). Peristiwa itu, salah satu bagiannya berupa pengumuman anugerah MURI untuk seorang anggota legislatif DPR RI atas nama Zulkifli Halim.

Apa sebab?

Zulkifli Halim merupakan anggota legislatif pertama yang berinisiatif melaporkan kinerjanya pada publik.

Ya. Peristiwa di 2004 itu, tepatnya 13 Februari 2004 (sesuai dokumen arsip yang masih saya simpan) berjudul Dialog Publik dan Pertanggungjawaban Anggota DPR RI atas nama Zulkifli Halim. Silakan lihat gambar untuk lebih jelasnya.

Pada dokumen riwayat rekor, menerangkan bahwa ZH melaporkan (kinerja) kepada masyarakat karena  dia mewakili suatu daerah pemilihan.

Lalu, apa hubungannya dengan anggota MWA UT (Unsur Tendik)?

Bukan rekornya yang penting, melainkan apa yang dilakukannya.

*****

Begini saudara...

Sebelumnya, saya tekankan bahwa yang saya tuliskan di bawah ini, tidak terikat pada MWA UT pada universitas tertentu saja.

MWA merupakan kependekan dari Majelis Wali Amanah. Sebuah lembaga yang ada di perguruan tinggi tertentu. Tendik, atau tenaga kependidikan menjadi salah satu unsur dari MWA. 

MWA UT yang ada di UGM, misalnya, pada periode terakhir saat tulisan ini dibuat, diangkat dari hasil proses pemilihan internal para tendik. Artinya, anggota MWA UT dianggap benar-benar mewakili tendik. Sebagaimana anggota DPR mewakili rakyat di daerah pemilihannya (DAPIL).

Anggota MWA UT di universitas lain mungkin juga demikian. Ditentukan melalui proses pemilihan.

Nah.

Maka, sebagaimana Zulkifli Halim di atas, ada tiga hal yang bagi saya menarik dan lebih baik jika dilakukan anggota MWA UT.

1. Menulis

Tentu saja yang saya maksud yaitu menuliskan berbagai pengalaman yang dirasakan saat menjadi anggota MWA. Senangnya, susahnya, sulitnya, mudahnya. Tantangannya, pengalamannya, dan tentu juga bagaimana menghadapi dan menjalaninya saat harus sekaligus bertugas sebagai tenaga kependidikan.

Bisa tulisan berkala, maupun tulisan pertugas. Sebagai anggota unsur tendik, hanya 1 orang saja, ada di antara tokoh besar (menteri, pejabat BUMN, dosen, pengusaha, dll) tentu banyak pengalaman berharga yang perlu diketahui (terutama) tendik lainnya.

Tentu saja, yang sangat rahasia tidak perlu dituliskan. 

Pengalaman ini akan membuka cakrawala berfikir tendik lain yang berpotensi melanjutkannya di MWA.

Jangan sampai pengalaman itu hanya tersebar di lingkaran tertentu, yang dekat dengan anggota tersebut saja. Jika demikian, maka tentu saja akan menutup orang di luar lingkaran untuk punya keberanian mendaftar sebagai anggota MWA. Serta akan memperburuk proses kaderisasi anggota MWA.

Hasil pencarian di Google

Gambar di atas merupakan hasil pencarian saya di Google. Dengan kata kunci  "pengalaman menjadi anggota MWA", hanya ditemukan 5 hasil. Tentu ini kurang menggembirakan. 

Menulis, menjadi hal wajib yang harus dilakukan MWA UT.


2. Membuat laporan

Sebagaimana Pak Zulkifli Halim, karena MWA UT merupakan produk hasil pilihan tendik, maka selayaknya dia menulis, membuat laporan kinerjanya pada tendik yang diwakilinya. Dengan demikian, informasi akan tersebar ke semua tendik, tidak hanya kepada tendik yang ada dalam circle anggota tersebut saja.

Senada dengan nomor 1, hal ini akan lebih membuka cakrawala tendik-tendik lain dalam memahami apa itu MWA dan bagaimana peran MWA UT. 


3. Jalan-jalan ke fakultas

Menarik yang dilakukan MWA UT di UI ini, https://www.fkm.ui.ac.id/diskusi-bersama-wakil-mwa-ui-unsur-tendik-dan-tendik-fkm-ui/, melakukan diskusi dengan wakil di fakultas. Hendaknya hal ini dilakukan lebih luas dan meningkat kualitasnya.

Diskusi ini, tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai metode, luring maupun daring. Hasil diskusi kemudian ditulis dan dan disebarkan

*****

Penutup

Ya!

Menulis, mengarsip pengalaman, merupakan aktivitas penting agar sejarah tidak terputus. Agar pengalaman dapat tersebar luas. 

Menulis, kaitannya dengan MWA UT, merupakan bagian dari usaha agar kualitas tendik di MWA semakin meningkat. 

Pemilihan MWA UT melalui pilihan oleh para tendik merupakan bentuk kemajuan demokrasi di kampus. Namun tidak hanya sampai di situ. Produk demokrasi itu harus menjaga demokrasi yang melahirkannya. Sekaligus juga dijaga, agar tetap demokratis.

Tentu saja, yang saya maksud bukan hanya MWA UT universitas tertentu saja. Melainkan dari universitas manapun. 

Salam waras! *)


Data pendukung:

  1. https://www.ugm.ac.id/id/berita/20968-nur-budiyanto-terpilih-sebagai-anggota-mwa-unsur-tendik-periode-2021-2026
  2. https://www.youtube.com/watch?v=PqFfidAw6ys (Pemilihan Anggota MWA Unsur Tenaga Kependidikan Periode 2021-2026)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=N5-ZF_3Gftk (Curah Gagasan MWA UGM Unsur Tendik)

____

Sambisari, 22 Januari 2023 

Ngahad Pon 29 Jumadilakir Ehe 1956

11.41 siang


*) "Waras" sering diucapkan Ketua DGB UGM, Prof. Maksum, terutama (yang saya ketahui) saat membuat rapat pengukuhan Guru Besar UGM.

Sunday, 4 December 2022

, ,

MWA UGM Unsur Tendik: apa saja gagasannya, dan bagaimana pelaksanaannya?

MWA unsur tendik UGM periode 2021-2026 dipilih oleh tenaga kependidikan. Semua tendik UGM diberi kesempatan mendaftar dan kemudian memilih calonnya.

Pemilihan diawali dengan curah gagasan, semacam kampanye, yang dilaksanakan pada 6 April 2021.

Enam calon diminta menyampaikan ide/gagasan, kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab. Rekaman curah gagasan dapat dilihat di sini.

Setelah curah gagasan usai, pemilihan berlangsung. Total terdapat 1.536 suara masuk. Nur Budiyanto memperoleh suara terbanyak, total suara 325 suara (21,15%). Jumlah ini mengungguli 5 calon lainnya.  Ia pun berhak menjadi anggowa MWA unsur tendik.

Berikut ini daftar lengkap perolehan suaranya.



Berita resminya ada di sini.

***

Apa saja pandangan calon anggota MWA unsur tendik saat curah gagasan?

Oke. Kita coba cek.

Ada beberapa point yang saya catat, dari sesi curah gagasan sesi anggota MWA terpilih dari unsur tendik. 

  1. Aggota MWA unsur tendik terpilih menggarisbawahi bahwa gagasan (pengembangan UGM) ada pada semua tendik di UGM. "Dari ujung Fakultas Teknik sampai dengan ujung Fakultas Peternakan, dari Sekolah Pascasarjana sampai Sekolah Vokasi," demikian ungkapnya. (Ada pada rentang waktu 1:03:15)
  2. "Gagasannya tersebar di teman-teman tendik semuanya, tinggal sebetulnya bagaimana mewadahi aspirasi tesebut, bagaimana membikin wadah yang membuat teman-teman tendik ini nyaman untuk menyampaikan aspirasinya, nyaman untuk menyampaikan ide dan gagasannya". (Ada pada rentang waktu  1:03:40)
  3. Menjadi tugas siapapun yang nanti terpilih menjadi anggota MWA adalah mengawal menyampaikan ide dan gagasan teman-teman tendik (Ada pada rentang waktu 1:04:00)
Pada sesi tanya jawab, berikut beberapa gagasan anggota MWA unsur tendik terpilih yang saya catat.
  1. Mendorong kebijakan umum untuk menghilangkan kotak-kotak di UGM. Tentu "kotak" dalam hal ini bermakna kiasan. Selengkapnya silakan cek pada rekaman paparan.
  2. Membuat saluran aspirasi, agar aspirasi nyaman disampaikan.
  3. Mengawal karier tendik agar semakin luas.
  4. Dengan pengalaman yang dimiliki, akan berusaha mendorong kebijakan umum berpihak pada tenaga kependidikan. Masukan tendik sangat diperlukan.
  5. Ada kegiatan tendik yang mengarah pada pemahaman pada jati diri UGM

Anggota MWA terpilih unsur tendik ini hendak merangkul tendik dengan segala idenya, membuat salurannya, mewadahi, dan menyampaikan.

Hasil akhirnya: ide tersampaikan, karir tendik semakin luas, kebijakan universitas berpihak pada tendik, dan adanya kegiatan tendik yang mengarah pada penguatan pemahaman jati diri UGM.

***

Nah, bagaimana implementasi gagasan tersebut?

Oke, untuk menguji, kita lihat tugas awal MWA, yaitu pemilihan rektor.

Sebagai tendik UGM, sebatas yang saya tahu, saya tidak melihat  terobosan MWA unsur tendik saat pemilihan rektor pada tahun 2022, dalam kapasitasnya sebagai wakil tendik, dikaitkan dengan visi atau ide saat curah gagasan.

Hal ini berbeda dengan MWA unsur mahasiswa, yang berani menyelenggarakan forum mahasiswa untuk memilih rektor baru. Silakan baca di sini.

Ada usaha membangun hubungan antara mahasiswa yang duduk di MWA dengan unsur yang diwakilinya. Artinya, siapapun nama carek pilihan unsur mahasiswa pada pilrek, anggota MWA unsur mahasiswa tidak masuk kotak suara dengan cek kosong. Dia ada bahan pertimbangan dari mahasiswa, konstituen yang diwakilinya.

Nah. Saya tidak melihat ini dilakukan oleh MWA  unsur tendik.

Lalu, gagasan berikutnya, terkait membangun saluran aspirasi. Adakah?

Saya belum melihat adanya usaha membangun komunikasi anggota MWA unsur tendik dengan tendik yang diwakilinya.

Itu, sih, yang saya rasakan.

Semoga saya salah. Namun, jika benar demikian, semoga ada perbaikan.

--------------------------


Tulisan terkait

1. Anggota MWA Unsur Tendik, menulislah! Karena....

Wednesday, 26 May 2021

, ,

Inilah peta jejaring kabinet rektor UGM sejak 1998, prediksi rektor 2022, serta peluang hattrick FT UGM

Iseng saja, melihat peta kabinet rektor UGM sejak 1998-2021. Keisengan ini saya lakukan pas liburan, Rabu kemarin, tanggal 26 Mei 2021, atau 14 Sawal tahun 1954 Jimakir.

Pemetaan ini dilakukan untuk mendukung analisis koalisi dalam kabinet rektor di UGM, serta bagaimana kemungkinan kompetisi pilihan rektor (pilrek) periode berikutnya. Pemetaan ini menggunakan data kabinet rektor sejak 1998-2021, yang terdiri dari 6 rektor terpilih beserta para wakil/pembantu rektor yang ada pada masing-masing periode. Data diperoleh dari googling serta validasi menggunakan data dari rekan-rekan di kantor arsip UGM.

Tujuan utama dari pemetaan ini adalah sinau menggunakan Vosviewer. :)

Sebagai data awal, berikut merupakan data rektor UGM + pembantu/wakil rektor sejak 1998 berdasarkan fakultas.

(Tabel 1: data fakultas pada 6 periode rektor)

  1. 1998 - 2001: Fisipol, FE, FKU, FPn, FPt, FT, FTP
  2. 2002 - 2007: Fisipol, FE, FFa, FKH, FMIPA, FPn, FT
  3. 2007 - 2012: FT, FE, FFa
  4. 2012 - 2014: Fisipol, FE, FGeo, FT, FKU
  5. 2014 - 2017: FT, FE, FGeo, FH, FKU
  6. 2017 - 2022: FT, FE, FH, FKG, FTP
Koreksi:
Ada koreksi terkait asal Wakil Rektor pada periode nomor 1 dan 2. FTP seharusnya FPn, FKH seharusnya FPt. Saya belum bisa edit di sini, grafik perbaikan ada di sini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, "kenapa sejak 1998?"

Jawabannya sederhana, karena saya masuk UGM pada 2001. Pada saat itu rektor yang sedang menjabat merupakan rektor periode 1998-2001. Atau bisa juga didasarkan bahwa pada masa-masa itulah perubahan model pilrek di UGM terjadi, seiring dengan berubahnya status menjadi BHMN. 😆

Oke, lanjut, ya. Data di atas diwadahi dalam software Zotero. Periode dipasang sebagai judul, nama orang (pejabat) pada masing-masing periode dipasang sebagai author, sementara asal fakultas dipasang sebagai tag. Kemudian data dialihkan dalam bentuk RIS, lalu divisualkan menggunakan Vosviewer berdasar nama pejabat yang ada di author,  serta visualisasi fakultas berdasarkan isian pada tag/kata kunci. 


Catatan: jika pada satu periode ada 2/lebih pejabat dari fakultas yang sama, maka nama fakultas hanya ditulis 1x saja.

Pola rektor sejak 1998
Sejak 1998, jabatan rektor di UGM hanya "dikuasai" oleh 2 fakultas saja, yaitu Fisipol dan FT. Dua fakultas ini berbagi rata. Dari 6 masa jabatan rektor, masing-masing menempatkan 3 rektor. Pola yang terbentuk: Fisipol, Fisipol, FT, Fisipol, FT, FT. Coba lihat polanya, rapih kan?.

Dua fakultas ini sama-sama memiliki 2 periode yang bersambung, serta 1 periode yang terhimpit fakultas lain. Namun, ada 1 catatan, yaitu salah satu dari 3 jabatan rektor yang ditempati FT hanya penyelesaian periode yang belum habis. Hal ini terjadi ketika Prof. Dwikorita (FT)  menggantikan Prof. Pratikno (Fisipol) yang diberi jabatan lebih tinggi: menteri. 

Catatan lain terkait pola rektor sejak 1998, yaitu meskipun ada fakultas yang bersambung pada 2 periode berturut-turut, namun jika acuannya nama rektor, maka belum pernah ada (baik dari FT maupun Fisipol) yang kadernya berhasil menduduki jabatan rektor pada 2 periode berturut-turut.

Apakah ada yang mencoba? Ada. Pada periode pemilihan 2002, menurut catatan Tempo, Prof. Ichlasul Amal mencoba ingin kembali menjabat rektor, namun gagal. Kemudian pada 2007, menurut catatan ini, Prof. Sofian juga hendak mencoba kembali menjabat rektor, namun gagal. Serta pada 2017, menurut catatan ini, Prof. Dwikorita juga berkeinginan menjabat rektor kembali, namun gagal.

Hal di atas bisa memiliki banyak tafsir. Misalnya tidak adanya rektor yang memiliki kinerja luar biasa sehingga memungkinkan terpilih kembali, atau selalu ada orang baru (pendatang) baru yang menawarkan harapan baru, atau bisa juga menunjukkan bahwa konstelasi "politik" kampus selalu dinamis.


Dominasi FT dan FE

Gambar 1: Kemunculan dan kekuatan jaringan

Gambar di atas menunjukkan kemunculan fakultas dalam jabatan rektor dan wakil rektor sejak 1998, serta kekuatan jaringannya. Terdapat 13 fakultas yang berkontribusi selama 6 periode rektor. Berarti ada 5 fakultas yang selama 6 periode ini tidak mendudukkan kadernya di jajaran rektor atau wakil/pembantu rektor, yaitu FIB, Filsafat, Psikologi, Biologi, Kehutanan. Ayo, terus berjuang!!

Berdasar gambar di atas, FT selama 6 periode rektor selalu ikut serta dalam kabinet. Rutin. Siapapun rektornya FT selalu ada. Ini juga berlaku untuk FE, bahkan meskipun FE belum pernah mendudukkan kadernya sebagai rektor pada 6 periode terakhir. Siapapun rektornya, FE juga selalu kebagian jatah wakil/pembantu rektor.

Lain halnya dengan Fisipol. Meski 3 dari 6 periode terakhir ini Fisipol berhasil mendudukkan kadernya sebagai rektor, namun peran di kabinet rektor ya hanya pada 3 periode rektor tersebut. Tidak ada kader Fisipol saat rektornya tidak dari Fisipol. Kenapa? ha embuh.

Kabinet FT dan Fisipol
Sebagai 2 fakultas yang mendominasi dalam mendudukkan kadernya sebagai rektor pada 6 periode terakhir, menarik untuk dilihat jejaring kabinetnya.

Namun, sebelum kita lihat kabinet dua fakultas ini, saya garis bawahi lagi fakta menarik, bahwa saat kader Fisipol menjadi rektor, selalu ada kader FT yang terlibat sebagai wakil/pembantu rektor. Namun saat kader FT menjadi rektor, kader Fisipol selalu tidak ada yang terlibat menjadi wakil/pembantu rektor.

Apakah hal tersebut karena Fisipol tidak mau, atau tidak ditawari/ajak, saya belum ada informasi. Anda punya?

Berikut gambar jejaring kabinetnya FT serta kabinetnya Fisipol.

Gambar 2: Jejaring kabinet FT 

Dalam menjalankan tugasnya sebagai rektor selama 3 periode, kader FT menempatkan wakil/pembantu rektor yang berasal dari fakultas teknik  dan fakultas lain. Terdapat 8 node (fakultas) jejaring, di antaranya FE, FFa, FGeo, FKU, FH, FTP, dan FKG.

Gambar 3: Jejaring kabinet Fisipol

Lain halnya dengan Fisipol. Meskipun sama-sama pernah menempatkan 3 kader sebagai rektor, namun berdasar gambar di atas, Fisipol lebih banyak memiliki jejaring fakultas yang ditempatkan sebagai wakil/pembantu rektor. Total ada 11 fakultas, yaitu Fisipol sendiri, kemudian FE, FKU, FPt, FTP, FGeo, FT, FPn, FFa, FKH, FMIPA. 

Bagaimana jika jejaring fakultas divisualkan secara keseluruhan? Hasilnya terlihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 4: Jejaring kabinet rektor (keseluruhan)


Terlihat secara default visualisasi terbagi menjadi 2 kubu besar. Di kanan dimotori oleh Fisipol, sementara di sebelah kiri (merah) ada FE dan FT yang dominan. Meskipun dua fakultas ini ikut pada kelompok merah namun juga berada di tengah sebagai  jembatan antara kubu kanan (hijau) dan kiri (merah).

Tampak pula ada FPt yang menyendiri dengan warna biru. FPt (sesuai dengan gambar 1) hanya muncul 1x, namun jejaringnya agaknya imbang antara ke kubu hijau dan merah, sehingga membentuk warna sendiri. Hal ini berbeda dengan fakultas lain yang juga hanya muncul 1x, namun oleh Vosviewer dibaca kecenderungannya kuat ke kanan atau ke ke kiri.


Jejaring berdasarkan nama pejabat rektor atau wakil/pembantu rektor

Gambar 5: Jumlah keikutsertaan di kabinet rektor serta kekuatan jejaringnya

Nama pejabat rektor dan wakil rektor pada 6 periode terakhir, memiliki keterlibatan maksimal 2 kali pada kabinet rektor yang berbeda. Diantaranya Prof. Sudjarwadi, Prof. Retno Sunarminingsih, Prof. Didi Achjari, serta beberapa nama lainnya. Total ada 33 nama yang terlibat dalam kabinet rektor selama 6 periode terakhir. Data selengkapnya bisa dilihat pada gambar di atas.

Dari 33 nama pejabat rektorat pada 6 periode terakhir sejak 1998, jika divisualkan membentuk 3 kelompok jaringan, yang terdiri dari 5 klaster.
Gambar 6: Jejaring nama pejabat rektor/wakil rektor


Pada visual di atas terlihat tidak adanya jejaring dari klaster periode Prof. Ichlasul Amal dengan periode berikutnya. Jejaring pada periode Prof. Amal ini hanya sendirian. Ini berarti tidak ada pejabat pada periode ini yang ikut menjabat pada periode berikutnya.

Sementara itu, klaster Prof. Sofian Effendie dan Prof. Sudjarwadi membentuk satu kelompok. Hal ini berarti ada node (pejabat) yang turut serta pada 2 periode ini. Keturutsertaan satu atau lebih orang pada dua periode yang berurutan ini bisa dimaknai sebagai kemungkinan adanya potensi estafet ide (keberlanjutan ide) dari periode sebelumnya. 

Sayangnya, klaster Prof. Sofian dan Prof. Sudjarwadi tidak terhubung dengan klaster berikutnya.

Klaster setelah periode Prof. Sudjarwadi, yaitu klaster Prof. Pratikno, Prof. Dwikorita, dan Prof. Panut membentuk satu jaringan. Berarti pada 3 kelompok ini ada (minimal) 1 pejabat yang menjadi penghubung (bergabung dalam 2 kabinet berbeda), yang, seperti disebutkan sebelumnya, memungkinkan adanya kesinambungan ide antar periode. 


Bagaimana peluang pada pilrek 2022?
Jika melihat pola "Fisipol, Fisipol, FT, Fisipol, FT, FT" di atas, maka mestinya rektor periode berikutnya menjadi "jatah" Fisipol. Namun, karena rektor dipilih oleh MWA, maka kita wajib melihat komposisi MWA saat ini. Ya... sangat dimungkinkan, kan, hasrat-hasrat ingin menjabat rektor juga dimulai dari bagaimana penempatan para anggota MWA.  

😆

Dari informasi di sini, terlihat anggota Majelis Wali Amanat (MWA) 2021-2026 adalah sebagai berikut:
  1. Ir. Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan) - FT
  2. Perry Warjiyo, S.E., M.Sc., Ph.D., (Gubernur Bank Indonesia) - FE
  3. Ir. Mochamad Basuki Hadimuljono, M.Sc., Ph.D., (Menteri PUPR) - FT
  4. Retno L.P Marsudi., S.IP., MA., (Menteri Luar Negeri) -  FISIPOL
  5. Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc., (Mensesneg) - FISIPOL
  6. Ir. Agus Priyatno, IPU., (Direktur Umum Kaltim Methanol Indonesia) - FT
  7. Prof. Dr. Dato’ Sri Tahir, MBA., - Dr. (HC) bidang Kedokteran
  8. Ir. Ahmad Yuniarto (Dirut Pertamina Geothermal Energi) - FT
  9. Dr. Bagus Santoso, M.Soc.Sc. - FE
  10. Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog. - FPsi
  11. Dr. dr. Rustamadji., M.Kes.  - FK
  12. Prof.dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.d. - FK
  13. Prof. Dr. Apt., Subagus Wahyuono, M.S.c. - FFa
  14. Prof. Dr. Chairil Anwar. - FMIPA
  15. Ade Agoes Kevin Dwi Kesuma Parta  - FH
  16. M. Nur Budiyanto. - Tendik bertugas di SV
MWA terdiri dari berbagai unsur. Dan, ternyata orang yang sudah menjabat menteri pun masih mau berkiprah di MWA. 

😊

Dari 16 nama di atas, jika difokuskan pada FT dan Fisipol yang pada 6 periode terakhir mendominasi posisi rektor, tampak komposisi anggota MWA yang memiliki pertalian dengan FT lebih banyak dari Fisipol, yaitu 4 orang. Sementara Fisipol ada 2 orang. Hal ini jelas menunjukkan bahwa di atas kertas FT memiliki peluang lebih tinggi dari Fisipol.

Terkait pilihan rektor di UGM, kita tidak bisa melupakan Mendikbud. Lalu bagaimana peluang hinggapnya suara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini memang tidak berasal dari kampus. Namun, siapa orang yang berperan terkait perguruan tinggi di Kemdikbud? Jawabannya FT UGM. Hal ini bisa dilihat dari posisi Dirjen Dikti yang dijabat alumni FT UGM. Maka, sangat mungkin pandangan Dirjen ini akan menjadi salah satu dasar pilihan Mendikbud saat pilrek. Fakta ini bisa memperkuat posisi FT pada pilrek 2022. Atau dalam bahasa lainnya, calon dari FT punya kans besar untuk menjadi rektor kembali di 2022, sekaligus mencatatkan hattrick pertama kali sepanjang sejarah UGM.

Tentu saja, dengan catatan calon yang maju merupakan calon yang tepat. Selain memenuhi syarat, juga memiliki tingkat elektabilitas di kalangan MWA. Tidak mungkin juga MWA yang punya pertalian dengan FT akan memilih calon dari FT jika calon FT dirasa kurang memenuhi syarat.

Untuk visualisasi yang lebih interaktif, kami letakkan visualisasi di atas dalam VosViewer online di bawah ini: Gambar 7: Visualisasi asal fakultas rektor dan wakil rektor UGM 1998-2021 (gunakan Shift + Scroll untuk zoom in/out)  

Gambar 8: Visualisasi nama rektor dan wakil rektor UGM 1998-2021 (gunakan Shift + Scroll untuk zoom in/out)



Peluang di lapangan
Jika kita lihat data calon rektor 2017-2022 dari sini dan sini, rata-rata calon rektor atau orang yang mengajukan diri sebagai rektor merupakan dekan di fakultasnya masing-masing. 

Fisipol memiliki kader muda yang pada periode pilrek sebelumnya masuk 3 besar, Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M. Si., yang semestinya bisa  menjadi calon potensial dari Fisipol pada periode 2022. Namun, saat ini, Prof.Erwan baru saja berpindah tugas sementara ke KEMENPAN.

Agaknya, karena pilrek kemungkinan diadakan di tahun 2022,  kecil kemungkinan Prof. Erwan untuk ikut nyalon. Atau mungkin beliau sudah melihat peta MWA, kemudian melihat tipisnya peluang Fisipol? Lalu memilih tugas ke KEMENPAN? Entahlah.

Semoga tetap muncul calon-calon potensial lainnya dari Fisipol.

Sementara itu, dari FT UGM, yang di atas kertas punya kans terbesar untuk 2022, selama ini dikenal memiliki banyak kader. Periode pemilihan 2017 saja terdapat 4 bakal calon, meskipun yang lolos hanya 3. Tentu saat ini pun cadangan kader itu masih ada, baik yang duduk di jajaran dekanat, maupun yang tidak. Jangan lupakan pula, FT punya kader yang saat ini ada di jajaran struktural UGM maupun pemerintahan. Siapa tau mereka kangen kampus, mau balik lagi. 😜

Bagaimana dengan fakultas lainnya?

Saya kira dan yakin banyak kader dari berbagai fakultas. Jika dilihat dari pencalonan periode 2017, ada nama Prof. Ali Agus, Prof. Mudrajat, Dr. Titi Savitri, Dr. Paripurna, yang pasti beberapa di antaranya secara usia masih memenuhi syarat. 

Semoga saja juga muncul nama-nama baru, yang lebih segar, fresh, visioner, punya keteguhan akademik, untuk memimpin UGM pada periode berikutnya. Juga lebih muda, idealis dan berani menegakkan muruah dunia akademik, perguruan tinggi dan para sivitas akademikanya. Serta mau dan mampu menempatkan pertimbangan benar-salah menjadi pertimbangan utama, bukan sekedar baik-buruk atau untung-rugi.

Kita perlu rektor yang ilmuwan benar-benar, bukan sekedar kepala administrasi

****

Beberapa catatan kesimpulan
  1. Sejak 1998, terdapat 6 kabinet rektor.
  2. Dari  6 kabinet itu, hanya ada 2 fakultas yang calonnya berhasil menjadi rektor: 3 dari Fisipol, 3 dari FT.
  3. Satu dari 3 yang dari FT "hanya" meneruskan jatah yang belum habis.
  4. Ketika Fisipol jadi rektor, FT selalu ikut ambil bagian sebagai wakil/pembantu rektor.
  5. Ketika FT jadi rektor, Fisipol selalu tidak ada dalam jajaran wakil/pembantu rektor.
  6. FT dan FE selalu mendapat peran dalam 6 kabinet rektor.
  7. Dari 6 periode kabinet rektor sejak 1998-2021, nama pejabat pada periode pertama membentuk 1 klaster terpisah. Periode 2 dan 3 saling terhubung; periode 4,5,6 juga saling terhubung.
  8. Dari catatan di atas kertas, FT punya peluang besar untuk jabatan rektor pada pilrek 2022, sekaligus peluang mencetak hattrick.
  9. Terkait dengan nomor 8, jika ingin mempertahankan trend serta "mengambil" jatah, FISIPOL harus mencari kader terbaik dengan tingkat popularitas dan keterpilihan tinggi. 
  10. Belum pernah ada rektor yang menjabat 2x berturut-turut.
  11. Meskipun yang berpeluang besar di tahun 2022 itu FT, saya kira agar sehat, harus ada pergantian rezim.
  12. FE, yang selama 6 periode selalu berkontribusi, mestinya punya modal sosial tinggi untuk menempatkan kadernya menjadi rektor.
  13. Pada 6 periode terakhir, terdapat 13 fakultas yang memiliki kader sebagai rektor maupun wakil/pembantu rektor; sedangkan 5 fakultas lain masih belum.

          Lalu, kalau anda, dari fakultas mana yang anda idamkan?
          Kalau saya, berharap rektor berikutnya giliran fakultas timur ja-kal. Syukur-syukur dari FIB, atau Filsafat. :)

          Kenapa? Menurut saya, UGM perlu mengalami dipimpin orang berjiwa sastra, atau juga filosof.  Serius!