Showing posts with label rektor ugm. Show all posts
Showing posts with label rektor ugm. Show all posts

Thursday, 23 April 2026

, ,

Fakta-fakta pada pemilihan MWA UGM Unsur Tendik 2026


Pemilihan langsung anggota MWA UGM unsur tendik 2026-2031 telah usai. Terpilih Fitria Yuniarti, Katimker  Innovation Project Management sebagai pemenangnya. Berikut beberapa fakta dari pemilihan tersebut.

hasil akhir

Hari Kartini 
Pemilihan dilakukan selama 24 jam, mulai dari 20 April 2026 pukul 12 siang, hingga tanggal 21 April pukul 12 siang.

Pada pemilihan melalui vooting di hari Kartini ini, terpilih seorang perempuan untuk menjadi wakil tendik di MWA. Jika dilihat ke belakang, Fitria merupakan perempuan pertama calon anggota MWA unsur tendik.


Paling demokratis
Wakil tendik dipilih melalui pemilihan langsung, yang sifatnya bebas dan rahasia, secara daring menggunakan aplikasi Simaster. Pemilihan MWA unsur tendik ini merupakan proses paling demokratis dibanding pemilihan unsur lain di MWA. 

Misalnya, unsur mahasiswa tidak "lahir" dari pilihan para mahasiswa, unsur alumni tidak "lahir" dari pilihan para alumni, melainkan melalui panitia atau tim yang memang dibentuk untuk memilih/menentukan.

Partisipasi meningkat
Partisipasi pemilih dalam penentuan wakil MWA unsur tendik tahun 2026 meningkat dibanding periode sebelumnya. Periode 2021 sejumlah 1,536 menggunakan hak pilihnya. Sementara tahun 2026 sejumlah 2191 tendik menggunakan hak pilihnya. Terdapat peningkatan sejumlah 655 pemilih atau sekitar 42%. 

partisipasi pemilih

Bukan pejabat struktural
Pemenang  pada pemilihan langsung MWA unsur tendik 2026 berasal dari staf yang bukan pejabat struktural, mengalahkan 1 pejabat struktural yang juga ikut pada pemilihan ini. Ini cukup menarik.

Pemenang berasal dari unit di gedung pusat. Jika dilihat dari jumlah staf, unit yang menjadi asal pemenang merupakan unit kecil, bukan selevel fakultas yang membawahi banyak staf. 

Lalu dari mana  596 suara (27,20%) berasal?

Pertama tentu dari kampanye. Fitria meluncurkan video kampanyenya justru saat curah gagasan. Berbeda dengan kandidat lain, kemasan presentasi menggunakan video cukup memberikan kesan. Selain menyampaikan gagasan, konsep videonya juga menghibur. Strategi presentasi menggunakan video juga bisa dilihat sebagai strategi: menghilangkan beban presentasi. Strategi ini bisa dianggap berhasil. 

Kedua, ada kemungkinan muncul korsa Gedung Pusat. Minimal dalam 2 periode terakhir, wakil tendik di MWA tidak dari gedung pusat. Kemungkinan besar para staf di gedung pusat hendak merebut supremasi wakil MWA agar kembali ke gedung pusat. 

Lebih meriah
Para calon berani mengatakan "pilihlah saya" secara terang-terangan, serta percaya diri dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Tentu ini menarik, karena biasanya calon akan bermain lebih soft dengan kalimat "jika saya diberikan mandat", "jika tendik memberi kepercayaan", dan semacamnya.

###

Daftar nama anggota MWA UGM unsur tendik:
  • Fitria Yuniarti, S.H., M.Kn. (2026-2031)
  • M. Nur Budiyanto (2021-2026)
  • Paminto Adhi, SE., M.Si (2016-2021)
  • de/d 2013 -2016
  • Dr Ir Eko Nugroho M.Si,  Drs Supriyanto 2007 – 2012
  • de/d 2004-2007
  • de/d 2002-2004


--------------------------##-----------------------

Referensi
  1. https://www.youtube.com/watch?v=BEMbtnhjmGM
  2. https://www.youtube.com/watch?v=cJ2YodYBSgE
  3. https://www.instagram.com/p/DXZKNsmgYc-/

Referensi anggota MWA
  1. https://mwa.ugm.ac.id/anggota-mwa-ugm-2012-2015-periode-transisi/
  2. https://ugm.ac.id/id/berita/1910-terpilih-19-anggota-mwa-ugm-periode-2007-2012/
  3. https://ugm.ac.id/id/berita/11577-terpilih-anggota-mwa-ugm-periode-2016-2021/
  4. https://ugm.ac.id/id/berita/20968-nur-budiyanto-terpilih-anggota-mwa-periode-2021-2026/
  5. https://ugm.ac.id/id/berita/16-orang-terpilih-menjadi-anggota-mwa-ugm-periode-2026-2031/
  6. https://ugm.ac.id/id/berita/21026-daftar-nama-anggota-mwa-ugm-periode-2021-2026/

Wednesday, 21 August 2024

UGM, Universitas Riset yang ndak punya wakil rektor bidang riset/penelitian?

Note: tulisan ini hanya mengumpulkan info terserak yang ada di permukaan beberapa alamat URL sebagaimana ditulis. Kemudian disandingkan, agar lebih bermakna. Ya. Bagian dari kerja saya sebagai pustakawan, meskipun ndak laku kalau dipakai untuk angka kredit 😆

---

https://ugm.ac.id/id/penelitian/

Rektor UGM periode 2022-2027 melantik para wakil rektornya pada 29 Juli 2022. Ada lima wakil rektor. 

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama (dijabat oleh Ignatius Susatyo Wijoyo, M.M.); kemudian Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni. Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi.

Berita lengkap dan resmi ada di https://ugm.ac.id/id/berita/22766-rektor-ugm-lantik-lima-wakil-rektor-baru/.

https://web.archive.org/web/20220925001032/https://ugm.ac.id/id/tentang-ugm/1500-pimpinan.universitas

Lima WR di atas sesuai dengan SOTK UGM yang tercantum dalam Peraturan Rektor UGM Nomor 10 Tahun 2023, pasal 14,  seperti gambar di bawah ini

https://hukor.ugm.ac.id/download/peraturan-rektor-ugm-nomor-26-tahun-2023/ 

****

Namun, jika kita lihat sekarang (21 Agustus 2024), tidak lagi ada 5 wakil rektor, melainkan hanya ada 4. Empat itu terdiri dari: 

  • Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, 
  • Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni.
  • Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan, dan
  • Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi.
Silakan lihat gambar di bawah ini.

https://ugm.ac.id/id/tentang-ugm/1358-manajemen/1500-pimpinan-universitas/

Berkurang 1. Saya cermati yang ndak ada itu "Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama".  Ke manakah? Mundur, diundurkan, atau memang posisi itu sudah tidak diperlukan. Entahlah. 

Kaget saya.

UGM sebagai universitas riset, atau sebagai perguruan tinggi yang menyandarkan perkembangan ilmu pada riset yang baik dan benar, tapi tidak memiliki wakil rektor bidang riset?

Luar biasa!

Hal pertama yang saya simpulkan adalah komposisi WR saat ini tidak sesuai dengan SOTK UGM sabagaimana tertuang pada Peraturan Rektor UGM Nomor 10 Tahun 2023. Selain itu, jika dilihat pada SOTK Bab V, WR Penelitian memiliki beberapa tugas. 

Pertanyaannya: dilimpahkan kepada siapa tugas itu? Ini entahlah. Saya kurang paham.

Pertanyaan lainnya: ke mana WR Riset sebelumnya?

Saya coba telusuri ke sana dan kemari, menemukan berita ini: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20231006/3644002/lantik-dan-kukuhkan-26-pejabat-di-lingkungan-kementerian-kesehatan-begini-pesan-menkes/

Pada tanggl 6 Oktober 2023, ada pelantikan di lingkungan Kemenkes. Salah satunya ada nama di bawah ini.


Nama yang saya tandai kuning, sama persis dengan nama wakil rektor UGM bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama, sebagaimana saya tulis pada awal tulisan ini.

Nah. Jika misalnya dua nama tersebut sebenarnya orang yang sama, maka jika dihitung sejak pelantikan sebagai WR dan pelantikan sebagai pejabat di Kemenkes, maka:

29 Juli 2022 sampai dengan 6 Oktober 2023, maka tidak ada 15 bulan jabatan wakil rektor bidang penelitian tersebut.

https://rspon.co.id/tentang-kami_02.php

Sekali lagi, benarkah UGM sebagai universitas riset tidak memiliki wakil rektor bidang riset?

Benar. Sesuai data di atas.

Baca juga:


Friday, 10 March 2023

Tentang pilihan rektor UGM 2022-2027, catatan rangkuman saya

Tanpa ba-bi-bu, ini catatan rangkuman saya.

Pra final MWA
  1. Terdapat 7 pendaftar. Enam dari internal, 1 orang dari eksternal (namun tercatat sebagai alumnus). Kondisi ini mengalami penurunan dibanding pendaftar periode sebelumnya. Misalnya 2007 terdapat 10 pendaftar, 2012 yang lolos jadi bakal calon ada 7, 2017 ada 9 pendaftar.
  2. Pada tahap verifikasi berkas, 1 orang pendaftar dari eksternal gagal lolos
  3. Enam bakal calon yang lolos terdiri dari 2 dekan aktif (KH dan KKMK), 2 dari FT, dan 2 mantan dekan (FH dan FPt).
  4. Melihat bakal calon di atas, maka jago saya: FH, dan FPt. Alasannya:
    • saya menganggap dekan aktif harus menyelesaikan dulu jabatan yang diembannya (apalagi itu diemban dengan meminta), maka 2 dekan aktif saya coret; ibarat orang minta minum susu ya harus dihabiskan dan jangan tergiur coklat panas kemudian sisa air susu dikembalikan. Ini masalah integritas yang paling sederhana;
    • saya menganggap perlu perpindahan kepemimpinan UGM ke luar FT. Maka 2 bakal calon dari FT saya coret. Tersisalah FH dan FPt.
  5. Dari enam bakal carek, ada dua potensi rekor:
    • terpilihnya rektor perempuan pertama hasil pilihan dari awal,
    • potensi hattrick FT UGM (3 rektor berturut-turut).
  6. Para bakal calon rektor, datanya dipampang di seleksirektor.ugm.ac.id. Termasuk CV dan video profilnya. Dari yang saya lihat, ada yang serius membuat video, ada juga yang (mungkin karena tersentil kualitas video lainnya) mengganti video profilnya. Sayangnya, di channel tersebut jejak video itu sudah tidak lengkap. Namun, jangan khawatir, jejak video itu masih ada di sini, tampil saat masing-masing bakal calon memulai presentasi.
  7. Dua statemen bakal carek yang bagi saya menarik: keputusan UGM dipengaruhi pihak luar, dan kebebasan akademik yang menurun



Saat final MWA
  1. Ada 3 calon yang masuk final: Ova Emilia (Dekan FKKMK), Deendarlianto dan Bambang Agus Kironoto (FT).
  2. Karena jago saya tidak masuk final, maka saya otak-atik lagi pilihannya. Saya tidak memilih yang potensial menang. Karena saya bukan/tidak bertaruh. Saya mencoba melihat mana yang layak saya pilih. Akhirnya saya lebih memilih FT. Bagi saya, dekan yang aktif (FKKMK) atau masih menjabat, harus menyelesaikan amanahnya. Bukankah ini tindakan mulia dan berintegritas? wkwkwk
  3. Namun, yang terpilih ternyata Prof. Ova, dekan FKKMK. Calon yang tidak saya jagokan. 
  4. Berbeda dari pilrek tahun sebelumnya (2017) dan seingat saya juga 2012; tahun 2022 ini saya tidak menemukan live streaming. Ini catatan menarik bagi saya. Jika benar, maka ada kemunduran. Tingkat transparansinya menurun.
  5. Dari berita beredar, sepertinya di MWA hanya 1 putaran, dengan perolehan angka: Ova 21, Deen 3, Bambang 1. Kenapa tidak ada final mempertemukan 2 calon? mungkin karena pemenang memperolah kemenangan telak. Kemudian disepakati tidak dilanjutkan. Cukup sudah. Atau, bisa jadi calon peringkat 2 menyatakan menerima, dan menyudahi saja prosesnya. Karena tidak ada live streaming, maka kemungkinan yang saya sampaikan di atas itu hanya tebakan saja.
  6. Angka perolehan di atas, menandakan Prof. Ova menang telak. Khusus analisis "kemanangan telak" ini ada di sini.
  7. Akhirnya UGM memiliki rektor perempuan yang dihasilkan dari proses pilihan sejak awal (bukan menggantikan).
  8. Prof. Ova menjadi rektor ke-3 UGM yang berasal dari FKKMK. Rektor UGM yang pertama dari FKKMK Prof. Sardjito, sekaligus rektor pertama UGM. Rektor UGM berikutnya dari FKKMK Prof. Jacob, atau rektor ke-7 UGM
  9. Prof. Ova merupakan rektor ke-17 UGM. Angka cantik hasil penyandingan dari angka 1 (Prof. Sardjito), dan 7 (Prof. Jacob).
  10. Fakultas Teknik UGM gagal membuat hattrick.

Catatan akhir
  1. Saya bukan orang yang punya hak pilih, lho.
  2. Saya mencoba melihat fenomena, kemudian menganalisisnya dengan pisau analisis saya secara pribadi. Latihan. Ini latihan nulis, dan mempertajam analisis.
  3. Yang membaca, jangan nesu, lho. Ini wujud kebebasan akademik. Saya memang blak-blakan.😅

Sunday, 22 January 2023

, ,

Anggota MWA Unsur Tendik, menulislah! Karena....

Saya teringat pada sebuah peristiwa hampir 19 tahun lalu. Tahun 2004 di University Center UGM (saat ini disebut University Club). Peristiwa itu, salah satu bagiannya berupa pengumuman anugerah MURI untuk seorang anggota legislatif DPR RI atas nama Zulkifli Halim.

Apa sebab?

Zulkifli Halim merupakan anggota legislatif pertama yang berinisiatif melaporkan kinerjanya pada publik.

Ya. Peristiwa di 2004 itu, tepatnya 13 Februari 2004 (sesuai dokumen arsip yang masih saya simpan) berjudul Dialog Publik dan Pertanggungjawaban Anggota DPR RI atas nama Zulkifli Halim. Silakan lihat gambar untuk lebih jelasnya.

Pada dokumen riwayat rekor, menerangkan bahwa ZH melaporkan (kinerja) kepada masyarakat karena  dia mewakili suatu daerah pemilihan.

Lalu, apa hubungannya dengan anggota MWA UT (Unsur Tendik)?

Bukan rekornya yang penting, melainkan apa yang dilakukannya.

*****

Begini saudara...

Sebelumnya, saya tekankan bahwa yang saya tuliskan di bawah ini, tidak terikat pada MWA UT pada universitas tertentu saja.

MWA merupakan kependekan dari Majelis Wali Amanah. Sebuah lembaga yang ada di perguruan tinggi tertentu. Tendik, atau tenaga kependidikan menjadi salah satu unsur dari MWA. 

MWA UT yang ada di UGM, misalnya, pada periode terakhir saat tulisan ini dibuat, diangkat dari hasil proses pemilihan internal para tendik. Artinya, anggota MWA UT dianggap benar-benar mewakili tendik. Sebagaimana anggota DPR mewakili rakyat di daerah pemilihannya (DAPIL).

Anggota MWA UT di universitas lain mungkin juga demikian. Ditentukan melalui proses pemilihan.

Nah.

Maka, sebagaimana Zulkifli Halim di atas, ada tiga hal yang bagi saya menarik dan lebih baik jika dilakukan anggota MWA UT.

1. Menulis

Tentu saja yang saya maksud yaitu menuliskan berbagai pengalaman yang dirasakan saat menjadi anggota MWA. Senangnya, susahnya, sulitnya, mudahnya. Tantangannya, pengalamannya, dan tentu juga bagaimana menghadapi dan menjalaninya saat harus sekaligus bertugas sebagai tenaga kependidikan.

Bisa tulisan berkala, maupun tulisan pertugas. Sebagai anggota unsur tendik, hanya 1 orang saja, ada di antara tokoh besar (menteri, pejabat BUMN, dosen, pengusaha, dll) tentu banyak pengalaman berharga yang perlu diketahui (terutama) tendik lainnya.

Tentu saja, yang sangat rahasia tidak perlu dituliskan. 

Pengalaman ini akan membuka cakrawala berfikir tendik lain yang berpotensi melanjutkannya di MWA.

Jangan sampai pengalaman itu hanya tersebar di lingkaran tertentu, yang dekat dengan anggota tersebut saja. Jika demikian, maka tentu saja akan menutup orang di luar lingkaran untuk punya keberanian mendaftar sebagai anggota MWA. Serta akan memperburuk proses kaderisasi anggota MWA.

Hasil pencarian di Google

Gambar di atas merupakan hasil pencarian saya di Google. Dengan kata kunci  "pengalaman menjadi anggota MWA", hanya ditemukan 5 hasil. Tentu ini kurang menggembirakan. 

Menulis, menjadi hal wajib yang harus dilakukan MWA UT.


2. Membuat laporan

Sebagaimana Pak Zulkifli Halim, karena MWA UT merupakan produk hasil pilihan tendik, maka selayaknya dia menulis, membuat laporan kinerjanya pada tendik yang diwakilinya. Dengan demikian, informasi akan tersebar ke semua tendik, tidak hanya kepada tendik yang ada dalam circle anggota tersebut saja.

Senada dengan nomor 1, hal ini akan lebih membuka cakrawala tendik-tendik lain dalam memahami apa itu MWA dan bagaimana peran MWA UT. 


3. Jalan-jalan ke fakultas

Menarik yang dilakukan MWA UT di UI ini, https://www.fkm.ui.ac.id/diskusi-bersama-wakil-mwa-ui-unsur-tendik-dan-tendik-fkm-ui/, melakukan diskusi dengan wakil di fakultas. Hendaknya hal ini dilakukan lebih luas dan meningkat kualitasnya.

Diskusi ini, tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai metode, luring maupun daring. Hasil diskusi kemudian ditulis dan dan disebarkan

*****

Penutup

Ya!

Menulis, mengarsip pengalaman, merupakan aktivitas penting agar sejarah tidak terputus. Agar pengalaman dapat tersebar luas. 

Menulis, kaitannya dengan MWA UT, merupakan bagian dari usaha agar kualitas tendik di MWA semakin meningkat. 

Pemilihan MWA UT melalui pilihan oleh para tendik merupakan bentuk kemajuan demokrasi di kampus. Namun tidak hanya sampai di situ. Produk demokrasi itu harus menjaga demokrasi yang melahirkannya. Sekaligus juga dijaga, agar tetap demokratis.

Tentu saja, yang saya maksud bukan hanya MWA UT universitas tertentu saja. Melainkan dari universitas manapun. 

Salam waras! *)


Data pendukung:

  1. https://www.ugm.ac.id/id/berita/20968-nur-budiyanto-terpilih-sebagai-anggota-mwa-unsur-tendik-periode-2021-2026
  2. https://www.youtube.com/watch?v=PqFfidAw6ys (Pemilihan Anggota MWA Unsur Tenaga Kependidikan Periode 2021-2026)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=N5-ZF_3Gftk (Curah Gagasan MWA UGM Unsur Tendik)

____

Sambisari, 22 Januari 2023 

Ngahad Pon 29 Jumadilakir Ehe 1956

11.41 siang


*) "Waras" sering diucapkan Ketua DGB UGM, Prof. Maksum, terutama (yang saya ketahui) saat membuat rapat pengukuhan Guru Besar UGM.

Sunday, 4 December 2022

, ,

MWA UGM Unsur Tendik: apa saja gagasannya, dan bagaimana pelaksanaannya?

MWA unsur tendik UGM periode 2021-2026 dipilih oleh tenaga kependidikan. Semua tendik UGM diberi kesempatan mendaftar dan kemudian memilih calonnya.

Pemilihan diawali dengan curah gagasan, semacam kampanye, yang dilaksanakan pada 6 April 2021.

Enam calon diminta menyampaikan ide/gagasan, kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab. Rekaman curah gagasan dapat dilihat di sini.

Setelah curah gagasan usai, pemilihan berlangsung. Total terdapat 1.536 suara masuk. Nur Budiyanto memperoleh suara terbanyak, total suara 325 suara (21,15%). Jumlah ini mengungguli 5 calon lainnya.  Ia pun berhak menjadi anggowa MWA unsur tendik.

Berikut ini daftar lengkap perolehan suaranya.



Berita resminya ada di sini.

***

Apa saja pandangan calon anggota MWA unsur tendik saat curah gagasan?

Oke. Kita coba cek.

Ada beberapa point yang saya catat, dari sesi curah gagasan sesi anggota MWA terpilih dari unsur tendik. 

  1. Aggota MWA unsur tendik terpilih menggarisbawahi bahwa gagasan (pengembangan UGM) ada pada semua tendik di UGM. "Dari ujung Fakultas Teknik sampai dengan ujung Fakultas Peternakan, dari Sekolah Pascasarjana sampai Sekolah Vokasi," demikian ungkapnya. (Ada pada rentang waktu 1:03:15)
  2. "Gagasannya tersebar di teman-teman tendik semuanya, tinggal sebetulnya bagaimana mewadahi aspirasi tesebut, bagaimana membikin wadah yang membuat teman-teman tendik ini nyaman untuk menyampaikan aspirasinya, nyaman untuk menyampaikan ide dan gagasannya". (Ada pada rentang waktu  1:03:40)
  3. Menjadi tugas siapapun yang nanti terpilih menjadi anggota MWA adalah mengawal menyampaikan ide dan gagasan teman-teman tendik (Ada pada rentang waktu 1:04:00)
Pada sesi tanya jawab, berikut beberapa gagasan anggota MWA unsur tendik terpilih yang saya catat.
  1. Mendorong kebijakan umum untuk menghilangkan kotak-kotak di UGM. Tentu "kotak" dalam hal ini bermakna kiasan. Selengkapnya silakan cek pada rekaman paparan.
  2. Membuat saluran aspirasi, agar aspirasi nyaman disampaikan.
  3. Mengawal karier tendik agar semakin luas.
  4. Dengan pengalaman yang dimiliki, akan berusaha mendorong kebijakan umum berpihak pada tenaga kependidikan. Masukan tendik sangat diperlukan.
  5. Ada kegiatan tendik yang mengarah pada pemahaman pada jati diri UGM

Anggota MWA terpilih unsur tendik ini hendak merangkul tendik dengan segala idenya, membuat salurannya, mewadahi, dan menyampaikan.

Hasil akhirnya: ide tersampaikan, karir tendik semakin luas, kebijakan universitas berpihak pada tendik, dan adanya kegiatan tendik yang mengarah pada penguatan pemahaman jati diri UGM.

***

Nah, bagaimana implementasi gagasan tersebut?

Oke, untuk menguji, kita lihat tugas awal MWA, yaitu pemilihan rektor.

Sebagai tendik UGM, sebatas yang saya tahu, saya tidak melihat  terobosan MWA unsur tendik saat pemilihan rektor pada tahun 2022, dalam kapasitasnya sebagai wakil tendik, dikaitkan dengan visi atau ide saat curah gagasan.

Hal ini berbeda dengan MWA unsur mahasiswa, yang berani menyelenggarakan forum mahasiswa untuk memilih rektor baru. Silakan baca di sini.

Ada usaha membangun hubungan antara mahasiswa yang duduk di MWA dengan unsur yang diwakilinya. Artinya, siapapun nama carek pilihan unsur mahasiswa pada pilrek, anggota MWA unsur mahasiswa tidak masuk kotak suara dengan cek kosong. Dia ada bahan pertimbangan dari mahasiswa, konstituen yang diwakilinya.

Nah. Saya tidak melihat ini dilakukan oleh MWA  unsur tendik.

Lalu, gagasan berikutnya, terkait membangun saluran aspirasi. Adakah?

Saya belum melihat adanya usaha membangun komunikasi anggota MWA unsur tendik dengan tendik yang diwakilinya.

Itu, sih, yang saya rasakan.

Semoga saya salah. Namun, jika benar demikian, semoga ada perbaikan.

--------------------------


Tulisan terkait

1. Anggota MWA Unsur Tendik, menulislah! Karena....

Sunday, 22 May 2022

Final Rektor UGM: FT Gagal Hattrick, FK Bikin Deret Angka Cantik, suara yang njomplang, dan ke mana suara Mendikbud?

Setelah melalui berbagai tahapan, Rektor UGM 2022-2027 akhirnya terpilih. 

Prof. Ova Emilia (FKKMK) terpilih menjari Rektor lewat capaian 21 suara. Lebih dari 50%, bahkan mencapai 84%. Jika suara Prof. Deen (3), dan Prof. Bambang (1) digabung pun tidak bisa menyaingi.

Mungkin karena  komposisi nilai inilah, akhirnya tidak ada final 2 besar.

Prof. Ova, sebagaimana saya tuliskan pada analisis saya sebelumnya, tidak masuk menjadi jago saya. Harap dicatat, ya... dalam jago menjagokan ini, saya tidak memilih calon yang potensi menangnya besar. Dua prinsip saya di pilrek 2022 dapat dilihat di sini.

Calon rektor (sumber)

Kabarnya memang Bu Ova kuat. Namun, saya tidak menjagokan siapa yang kuat dari yang lemah. Saya punya cara sendiri dalam menentukan kecenderungan.

Tetapi, setidaknya dengan terpilihnya Bu Ova, salah satu harapan saya di 2022 ini terwujud: rektor tidak lagi dari FT UGM. 

Karyo: "kok berani sekali kamu, Jo?"
Paijo: "kebebasan akademik"

***

Proses pilihan di tingkat MWA, pada Jumat 20 Mei lalu, sejauh yang saya tahu, tidak disiarkan live. Jujur saja, saya menunggu notif dari Yutub UGM. Tapi tidak ada. Bagi saya, proses penghitungan yang tidak disiarkan secara live seperti periode sebelumnya, menjadi catatan tersendiri. Setidaknya, bolehlah saya menyebut ini sebuah kemunduran.

Dari sisi hasil pun, menarik dicermati. Angka 21:3:1 ini beda jauh jika dibandingkan dengan 2017. Tahun 2017 pada tahap pertama 11:7:7, kemudian pada final 15:10. Imbang, kan? Lihat jejak skrinsutnya di sini.

Tahun 2022 ini njomplang.

Khususnya, dari hasil yang njomplang itu,  menarik menerka ke mana arah suara pemerintah (lewat Mendikbud)?

***

Oke. Saya ulang lagi: sebanyak 1 suara (4%) untuk Pak Bambang, 3 (12%) untuk Pak Deen, serta 21 atau sekitar 84% yang diraih Bu Ova.

Jika diangka-kan, berapa sih suara Mendikbud?

Berdasar ketentuan, sebanyak 35% suara milik pemerintah melalui Mendikbud. Maka, jika total angka perolehan pada calon rektor adalah 1+3+21=25, maka pemerintah memiliki 35% x 25=8,75. Dibulatkan menjadi 9.

Hitungan di atas klop juga jika dikaitkan dengan berita ini. Berita ini menyebut hadir 17 anggota MWA (termasuk Menteri), + 1 daring, sehingga total MWA hadir ada 18 orang. Dari total 18 ini, Rektor tidak memilih. Berarti tersisa 17 pemilih termasuk Menteri.

Jika Menteri memiliki  35% suara, maka  sisanya 65% dibagi kepada 16 pemilih lain. Jika 16 ini masing-masing punya 1 suara, maka dari total 25 suara, maka ada 9 suara yang dimiliki Menteri.

Klop. Clear, ya.

****

Kawan-kawan...

Karena pemilihannya secara tertutup, dan juga tidak ada live streaming, maka kita tidak tahu persis 'siapa memilih siapa'. Ya. Walau misal ada live streaming pun, meski feel-nya dapat, juga tidak diketahui siapa memilih siapa.  

Namun demikian, layaknya para pengamat politik yang otak-atik kemungkinan larinya suara rakyat atau arah dukungan parpol, tentu dari hasil pilrek yang ada juga dapat dianalisis. Atau, ya.... dapat diperkirakan.

Nah, tabel di bawah ini menunjukkan 2 kemungkinan ekstrim ke mana larinya suara Menteri.
  

  1. Jika semua suara Pak Bambang dan Pak Deen berasal dari pemerintah, maka, seperti terlihat pada "Kemungkinan ekstrim 1", suara yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada Bu Ova maksimal ada 5 (berasal dari 9-4). Selebihnya, suara non pemerintah (16 suara) masuk ke Bu Ova.
  2. Jika semua suara Pak Bambang dan Pak Deen berasal dari non pemerintah, maka,  seperti terlihat pada "Kemungkinan ekstrim 2", 100% suara pemerintah (9 suara) masuk ke Bu Ova. Sisanya dukungan dari non pemerintah sebanyak 12 suara.

Dua kemungkinan ekstrim di atas menunjukkan kemungkinan suara pemerintah ke Bu Ova minimal 5, dan  maksimal 9.

Kemungkinan lainnya tentu ada. Namun, angkanya ada di antara 5 sampai 9, sebagaimana saya tulis di atas. 

Jika rekan-rekan melihat rekaman yang tersebar di medsos, ada yang unik lagi. Perolehan Pak Bambang dan Pak Deen, muncul pada pembacaan akhir, dan berurutan. Sehingga, agaknya beralasan juga jika suara keduanya dari 1 pemilih yang sama. Saya juga membayangkan, betapa deg-deg-annya beliau berdua.

***

Nah!
Dari komposisi perolehan suara yang begitu njomplang inilah, kita bisa ambil beberapa catatan atas proses pemilihan rektor ini.

  1. Pertama: dukungan pemerintah dan non pemerintah ke Bu Ova besar. Ini jadi modal besar agar rezim rektor 2022-2027 kuat. Namun, yang harus diingat, muruah UGM sebagai perguruan tinggi. Jangan sampai karena besarnya dukungan, khususnya pemerintah, jadi lembek  dan tidak kritis atas kebijakan pemerintah.
  2. Kedua: ada kemungkinan presentasi calon rektor (carek) dan dinamika forum di MWA sangat gayeng. Pada presentasi, Bu Ova mampu menunjukkan kualitasnya, jauh dari dua kandidat lainnya. Hal ini menjadikan para anggota MWA mayoritas mengarahkan suaranya kepada Bu Ova. Termasuk Mendikbud, dengan kemungkinan jumlah suara seperti pada tabel.
  3. Ketiga: suaran njomplang juga bisa (kemungkinan) akibat kekurangsuksesan Pansel dalam menjaring para calon untuk mendaftar, hal ini ditunjukkan dari jumlah bakal carek yang menurun dibanding periode sebelumnya.
  4. Keempat: ada kemungkinan aspek kegagalan Senat Akademik dalam memilih kandidat yang seimbang kualitasnya untuk dibawa dan dipilih di tingkat MWA. 
  5. Kelima: melihat suara yang njomplang, perlu jiwa besar bagi calon yang tidak terpilih.
  6. Keenam: agaknya saya ndak kuasa ngetik. Ngantuk juga, sudah hampir tengah malam. Khusus yang keenam ini, mungkin jika ketemu kita bisa obrolkan sambil minum air putih. 😉
Karyo: "Jo. Kok kamu berani menulis analisis di atas?"
Paijo: "lho, memang apa salahnya, Kang?"

***

Terpilihnya Bu Ova menjadi Rektor, juga melahirkan catatan rekor. Pertama, FT tidak jadi mencetak hattrick. Kemudian, Bu Ova sebagai dosen FK ke-3 yang menjadi Rektor UGM, mencatatkan angka cantik 17, gabungan dari 1 dan 7. 

Angka 1 mewakili Rektor Pertama UGM yang berasal dari FK, Prof. Sardjito. Angka 7 mewakili angka urut Rektor ke-7 UGM, yang juga dari FK yaitu Prof. T. Jacob. Angka 17, gabungan dari 1 dan 7, merupakan angka urut Bu Ova sebagai rektor ke 17 UGM.

Bu Ova, yang seorang dokter, terpilih di 20 Mei 2012, tepat di hari kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional juga ditandai dengan organisasi Budi Oetomo tahun 1908, sekitar 104 tahun lalu,  yang digagas para dokter STOVIA.

Semoga hal di atas juga menjadi pertanda kebangkitan UGM.

Sebagai putri dari guru besar yang juga rektor di dua perguruan tinggi terkemuka, bahkan tidak hanya satu periode, Bu Ova, tentu diharapkan bisa menahkodai UGM menjadi lebih baik lagi. Meneladani Sang Ayah, menjunjung integritas.

Selamat bekerja, Bu Rektor!

Dan selamat juga untuk FKKMK, yang akan punya dekan (yang benar-benar) baru.


Penutup
Sidang pembaca, tulisan ini murni otak atik saya dari data publik. Sekali lagi, ini juga bagian dari latihan nulis dan menganalisis dari data yang terbuka. Juga sebagai bentuk kebebasan akademik.

Selain itu, apa yang saya lakukan sangat terkait erat dengan profesi saya: pustakawan. Tulisan ini juga sebagai arsip. Memudahkan jika ada yang bertanya.

Saya sedang belajar, untuk tidak sekedar menyajikan data atau info sebagaimana adanya. Namun juga sebisa mungkin menyertainya dengan visualisasi, juga tafsir atau interpretasi. Tentu, agar pembaca bisa lebih kaya lagi saat menerima informasi dari saya.

Salah sangat dimungkinkan. Sehingga tafsir itu sangat bisa didialogkan. 

Bukankah begitu seharusnya?

Bagi yang kurang sepakat, jangan marah, ya.... Santai saja. Boleh kita obrolkan sambil minum air putih bersama.


[[ selesai ]]

Bumi Sambisari,
22 Mei 2022
23:14 malam



Friday, 20 May 2022

Inilah usia rektor UGM saat mulai menjabat, siapakah rektor termuda?

Rekan yang berbahagia....

Tepat di hari pemilihan Rektor UGM 2022, Jumat 20 Mei 2022, saya selesaikan artikel ringan ini.

Sebenarnya mau mengomentari rektor terpilih, tapi agaknya perlu cukup waktu mencari bahan analisis. Apalagi beda dengan 2017, yang saat itu pemilihan disiarkan live. Beberapa jejak digitalnya ada di sini. Pemilihan tahun 2022 ini, sampai saya menulis artikel ini, saya tidak menemukan adanya live streaming.

Tanpa live streaming, deg-deg-annya kurang. Kurang nendang. Ya. Meski jago saya tidak masuk 3 besar, namun saya pengen lah merasakan suasana deg-deg-annya.

Ah. Agaknya bolehlah saya menyimpulkan, bahwa ada satu titik kemunduran di pilrek UGM 2022 ini: tidak ada live streaming.

hh.

Okelah. Saya selesaikan tulisan ringan ini saja.


Inilah daftar Rektor UGM dan usia saat awal menjabat. Data tahun menjabat diperoleh dari laman Wiki. Data tahun lahir juga diperoleh dari Wiki, dari tautan di sini. Khusus Bu Ova, saya peroleh dari laman Dewan Guru Besar UGM.

Usia saat dilantik dihitung dari tahun awal menjabat dikurangi tahun lahir. Saya hanya menghitung tahun, tanpa mempertimbangkan bulan dan tanggal lahir.
  1. Prof. Sardjito diangkat jadi rektor tahun 1949, saat usia 60 tahun
  2. Prof. Herman Johannes diangkat jadi rektor tahun 1961, saat usia 49 tahun
  3. drg. M. Nazir Alwi diangkat jadi rektor tahun 1966, saat usia 43 tahun
  4. Drs. Soepojo Padmodipoetro MA  diangkat jadi rektor tahun 1967, saat usia 45 tahun
  5. Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo MA diangkat jadi rektor tahun 1968, saat usia 33 tahun
  6. Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo MA diangkat jadi rektor tahun 1973, saat usia 42 tahun
  7. Prof. Dr. Teuku Jacob MS, DS diangkat jadi rektor tahun 1981, saat usia 52 tahun
  8. Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri S.H, M.L diangkat jadi rektor tahun 1986, saat usia 60 tahun
  9. Prof. Dr. Ir. Mohammad Adnan diangkat jadi rektor tahun 1990, saat usia 57 tahun
  10. Prof. Dr. Soekanto H. Reksohadiprodjo M.Com  diangkat jadi rektor tahun 1994, saat usia 54 tahun
  11. Prof. Dr. Ichlasul Amal MA  diangkat jadi rektor tahun 1998, saat usia 57 tahun
  12. Prof. Dr. Sofian Effendi MPIA diangkat jadi rektor tahun 2002, saat usia 57 tahun
  13. Prof. Ir. Soedjarwadi M.Eng, Ph.D diangkat jadi rektor tahun 2007, saat usia 60 tahun
  14. Prof. Dr. Pratikno M.Soc.Sc. diangkat jadi rektor tahun 2012, saat usia 50 tahun
  15. Prof. Ir. Dwikorita Karnawati M.Sc., Ph.D diangkat jadi rektor tahun 2014, saat usia 50 tahun
  16. Prof. Ir. Panut Mulyono M.Eng., D.Eng. diangkat jadi rektor tahun 2012, saat usia 57 tahun
  17. Prof. Ova Emilia, terpilih menjadi rektor pada tahun 2022, saat usia 58 tahun.
Dari data di atas, jika hitung, rata-rata usia rektor saat dilantik/terpilih 884/17= 52 tahun.

Dari angka rata-rata ini, terdapat 1 orang yang terpilihnya tepat di angka rata-rata, yaitu Prof. T. Jacob (rektor ke-7). Sementara itu, yang di atas rata-rata ada 9 orang, dan 7 orang di bawah rata-rata.

Hmm, bolehlah saya menyimpulkan, bahwa UGM banyak dipimpin golongan tua.

Jika dilihat dari grafik box plot di atas, jelas terlihat ada angka pencilan di bawah rata-rata. Angka tersebut yaitu 33. Inilah usia paling muda saat diangkat rektor UGM.

Usia 33 ini milik Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo, yang berasal dari Fisipol. Dari laman Wiki, Prof. Soeroso juga pernah menjabat Dekan Fisipol pada usia 31 tahun.

Nah. Agaknya, usia 33 tahun milik Prof. Soeroso saat terpilih/dilantik/mulai jadi rektor ini, akan sulit ditandingi.

-- selesai --




Saturday, 14 May 2022

Tiga calon rektor, seandainya saya anggota MWA, saya akan pilih siapa?

Sumber ini
Enam bakal carek UGM  2022-2027 mengerucut menjadi 3. Pengerucutan ini dilakukan  oleh SA aka Senat Akademik. Tiga ini kemudian disebut sebagai calon rektor (carek).

Tiga carek tersebut (urut abjad nama) Prof. Bambang Kironoto (FT), Prof. Deendarlianto (FT), Prof. Ova Emilia (FKKMK).

Tiga carek ini, nanti akan diserahkan ke MWA untuk "diadu", dan disusutkan menjadi 2. Semacam semi final. Dua carek hasil semi final, akan difinalkan. Pemenangnya menjadi rektor terpilih 2022-2027.

Dari informasi di akhir berita ini, 3 carek di atas memperoleh nilai di atas 6.600. Prediksi saya, nilai ketiganya tidak jauh terpaut.

Nilai di atas, jika dirunut pada peraturan MWA nomor 3 tahun 2016 pasal 16, terdiri dari 5 bagian . Jelasnya bisa dilihat di bawah ini (nomor 2 a s.d. e).


****
Rekan-rekan, siapapun yang jadi rektor, agaknya akan muncul beberapa rekor.

Pertama, jika Prof. Bambang atau Prof. Deen terpilih, maka FT UGM akan mencatatkan diri sebagai fakultas pertama yang menempatkan dosennya sebagai rektor 3x berturut-turut.
Kedua, jika Prof. Ova yang terpilih, maka beliau akan jadi rektor perempuan pertama yang terpilih melalui proses pemilihan sejak awal.

Nah, jika saya jadi anggota MWA, saya akan pilih siapa?

*****

Sebenarnya ini pilihan sulit. Saya punya dua prinsip pada Pilrek tahun ini. Pertama ingin kepemimpinan UGM berpindah ke soshum. Atau minimal tidak lagi FT UGM. Kedua: saya juga tidak pada jalur yang sepakat jika ada seorang Dekan yang belum menyelesaikan jabatannya, malah pindah melamar jabatan yang lebih tinggi.

Sehingga saya harus berhitung. Dan....

Sepertinya, jika saya anggota MWA, saya akan memberatkan pertimbangan kedua. Tidak akan memilih  yang masih menjadi dekan aktif. Kenapa? Ya.. saya akan berikan kesempatan kepada beliau untuk menyelesaikan jabatan struktural yang pernah dilamarnya (atau dia bersedia mengembannya). 

Saya kira, penyelesaian sesuatu yang pernah diminta, merupakan bagian dari integritas dan konsekuensi yang harus ditunjukkan oleh para akademisi, sebagai contoh praktik baik untuk semuanya. 

Ibarat sudah minta minum susu, setelah diberi maka dia harus minum sampai habis. Tidak boleh  tergoda pada tawaran secangkir coklat panas + pisang goreng, kemudian mengembalikan sisa susu yang sudah diminum.

*****

Dari asal carek, yaitu FT-FT-FK(KMK), saat semi final di MWA akan menghasilkan kemungkinan 3 formasi final. Pertama FT1-FT2, kemudian FT1-FK, terakhir FT2-FK.

Atau jika dituliskan namanya: Bambang-Deen, Bambang-Ova, serta Deen-Ova.

Berdasar pertimbangan yang saya jabarkan di atas, karena berdasar info ini Prof. Ova masih menjabat dekan,  maka jika finalnya Bambang-Ova, tentu saya akan pilih Bambang. Jika finalnya Deen-Ova, maka saya akan pilih Deen. Sekali lagi, ini karena saya ingin yang aktif jadi Dekan, habiskan dulu masa jabatannya. Aja di lepeh.

Bagaimana jika finalnya Bambang-Deen?

***

Prof. Panut (lahir 1960), saat terpilih menjadi rektor tahun 2017 pada usia 57 tahun. Prof. Dwikorita (lahir 1964), ditetapkan menjadi rektor pada 2014 pada usia 50 tahun. Prof. Pratikno (lahir 1962) terpilih tahun 2012 pada usia 50 tahun. Prof. Sudjarwadi (lahir 1947) terpilih sebagai rektor pada 2007 saat usia 60 tahun . Prof. Soffian Efendie (lahir 1945) terpilih sebagai rektor tahun 2002 pada usia 57 tahun. Prof. Ichlasul Amal (lahir 1942) menjadi rektor pada 1998 saat usia 56 tahun. 


Pada pilrek 2022 ini, jika Prof. Bambang terpilih, maka beliau (lahir 1963) akan terpilih pada usia 59 tahun. Jika Prof. Deen yang terpilih, maka (lahir 1972) akan terpilih pada usia 50 tahun. 

Melihat tua-muda, dan juga presentasi serta komitmen integritas yang disampaikan pada penjaringan aspirasi bakal carek UGM 2022, jika saya anggota MWA akan memilih Prof. Deen. Secara usia, sejak periode tahun 1998, usia 50 tahun merupakan usia paling muda menjadi rektor.

Pada jaman (yang katanya) VUCA ini, rektor muda sangat diperlukan. Dia bisa jadi jembatan generasi muda dan generasi tua. Update isu terkini tentu juga lebih mudah. 

*****

Tentu saja, siapapun yang terpilih saya tetap akan kerja-kerja-kerja sebaik-baiknya. Juga tetap membaca, dan bergembira.

Oia. Jangan lupa. Menteri punya 35%  suara.

Dan, harap diingat pula, bahwa saya saat ini bukan anggota MWA. 😆


Salam sejahtera!

Saturday, 30 April 2022

Beberapa hal yang bagi saya menarik pada penjaringan aspirasi bakal carek UGM 2022

Rekaman dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=vhw_F8nI7JM

Sesi presentasi 

Prof. Sigit Riyanto

Analisis SWOT Prof. Sigit

Bagi para bakal carek, menganalisis SWOT tentu harus lengkap. Dari S sampai T. Namun, bagi pemirsa, saya misalnya, ketika mencermati SWOT yang dipaparkan,  tidak harus melihat semuanya.

Kekuatan, ya biarkan saja sebagai kekuatan. Toh sudah kuat. Yang manarik saya, justru di kelemahan, dan tantangan.

Nah, dari paparan Prof. Sigit, saya tertarik dengan point "kebijakan sering dipengaruhi pihak luar", serta tidak disertai EBP maupun marwah (muruah?) UGM.

Paparan ini bisa dicermati pada rekaman detik 1:12:00.

Tentu saja, Prof. Sigit tidak asal dalam mencantumkan point ini. Pasti ada hal-hal yang jadi dasarnya.

Kemudian, pada bagian tantangan, hal menarik ada pada bagian penuruhan demokratisasi dan kebebasan akademik.


 Prof. Bambang Kironoto


Prof. Bambang memulai program dari RIK UGM. Mungkin karena Prof. Bambang merupakan bagian dari rezim rektor saat ini, sehingga sungkan jika harus terang-terangan menyampaikan kelemahan dalam bentuk SWOT, misalnya. 

Prof. Bambang banyak memaparkan program kerja. Prof. Bambang juga menyebut "sedang atau sudah dijalankan", "sudah ada", dll. Agaknya ingin menunjukkan kepada publik bahwa apa yang menjadi programnya punya keterkaitan, sudah dimulai, sudah ada bukti pada periode saat ini. 

Hal ini juga diperkuat dengan menampilkan gambar desain pengembangan kampus yang sedang berjalan. 

Istilah yang digunakan pun, memakai istilah yang "menyentuh". Misalnya "sejahtera", dan "bahagia". Silakan lihat di sini.

Ya. Agaknya ingin menonjolkan posisinya yang saat ini menjabat sebagai WR, mencitrakan diri (lebih) memahami persoalan.


Prof. Deendarlianto


Prof. Deen memulai dengan RIK dan Statuta. Setelah itu, menampilkan tantangan eksternal dan internal UGM. 

Saat memaparkan tantangan ini, Prof. Deen mengambil kesempatan untuk menggarisbawahi "anak muda" yang merupakan pembelajar yang berani mengambil risiko. "Muda" dalam hal ini agaknya ingin mengarahkan publik pada sosok dirinya yang merupakan bakal carek termuda.

Prof. Deen tidak secara tegas menyampaikan weakness dari UGM saat ini yang perlu perbaikan.

Beberapa program unggulannya, khususnya terkait riset, sangat dengan dengan ilmu keteknikan. Renewable energy, misalnya. Paparan (selain video) Prof. Deen dapat dilihat di sini.


Prof. Ova Emilia


Prof. Ova mengawali paparan dengan penggambaran ideal UGM yang tidak hanya mengakar dan menjulang, namun juga berbuah dan berbunga.

Jika ditengok ke belakang, bisa jadi ini merupakan kritik yang halus pada jargon UGM selama ini, yang hanya sebatas "mengakar kuat menjulang tinggi". 

Prof. Ova memanfaatkan waktu untuk menyampaikan garis besar programnya.


Prof. Ali Agus



Prof. Ali mengawali paparan programnya dengan menampilkan point hasil belanja dari sarasehan UGM Nyawiji.

Prof. Ali menyebutnya sebagai tantangan, yang dibagi menjadi internal dan eksternal. Dari sinilah 9 isu pokok dirumuskan, kemudian dijabarkan dalam 5 program kerja, 5 kebijakan strategis dan 5 kebijakan operasional.

Runtut.

Sebagai ciri khas, dibanding bakal carek sebelumnya, Prof. Ali menyampaikan (semacam) jargon komitmen: tidak bohong, tidak curang. 

Melihat jargon di atas, saya berfikir: pasti penegasan dalam bentuk jargon ini ada latar belakangnya.

Ini menarik!


Prof. Teguh Budipitojo



Prof. Teguh mengawali presentasi dengan menanggapi komentar bahwa rektor harus yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Menurutnya, yang harus selesai dengan dirinya sendiri itu ya UGM itu sendiri, kemudian UGM harus fokus pada bangsa dan negara. Hmm. Mungkin maksudnya UGM harus sudah selesai dengan masalah internalnya sendiri, dan harus sudah lebih fokus ke masalah Indonesia, bangsa dan negara.

Silakan cermati di sini.

Menariknya, program kerja pertama Prof. Teguh (yang didasarkan pada RIK, Kebijakan Umum, Renstra) tetap masih berkutat pada penguatan internal. Artinya, Prof. Teguh mengakui bahwa UGM belum sepenuhnya selesai dengan dirinya sendiri.


Sesi tanya jawab #1

Huh. Ketika saya menulis ini, waktu menunjukkan tengah malam. Saya tidak mampu lagi mencermati 1/1. Silakan tonton mulai menit 2:40:00.

Saya langsung loncat ke pernyataan penutup para bakal carek saja. Para pernyaan penutup ini, ada yang menyampaikan resum dalam bentuk pernyataan dan garis besar. Namun ada juga yang masih mengambil kesempatan menyampaikan (ulang) point-point implementatif.

Prof. Sigit Riyanto:

  1. Penekanan bahwa UGM harus menjadi  rujukan akademik, juga penanda kemajuan peradaban Indonesia

Prof. Bambang Agus:

  1. Penekanan pada penghasilan mahasiswa yang memiliki jiwa socio entrepreneur

Prof. Deendarlianto

  1. Penekanan komitmen akan menjalani proses secara etis; dan jika terpilih akan menempatkan diri pada posisi independen dari kepentingan politik dan semacamnya
  2. Jaminan mahasiswa tidak ada yang putus kuliah karena biaya
  3. Komitmen membawa UGM masuk 200 besar dunia, 50 asia, 10 ASEAN

Prof. Ova Emilia

  1. Yang baik diteruskan, yang perlu dibenahi agar dibenahi

Prof. Ali Agus

  1. Mendukung siapapun yang terpilih

Prof. Teguh Budipitojo

  1. Mohon maaf kepada SA karena tidak sowan, atau WA, untuk menjaga independensi. 
  2. Komit mengikuti seluruh ketentuan seleksi bakal carek UGM, dan menerima apapun hasilnya

Catatan penting pada sesi presentasi:

  1. Prof. Sigit berani menampilkan SWOT, dan mengritisi kondisi UGM saat ini. SWOT ini kemudian diturunkan pada program. Sayangnya, karena waktu yang singkat, program kurang dapat tersampaikan.
  2. Prof. Bambang menampilkan proker yang rinci + memanfaatkan posisinya saat ini untuk menyajikan data
  3. Prof. Deen juga menampilkan proker yang cukup rinci
  4. Prof. Ova menawarkan program yang mengarah pada metafora  UGM yang berbuah lebat dan berbunga indah
  5. Prof. Ali menegaskan dirinya, jika terpilih menjadi rektor, akan menyelesaikan amanah sampai selesai, tidak akan melirik atau tergoda jabatan lain
  6. Prof. Teguh menyampaikan proker dalam bentuk garis besar. Hal menarik, Prof. Teguh menyinggung penyiapan talenta muda untuk menuju nobel prize. 
  7. Sebagian besar bakal carek, menyoroti tata kelola, yang mengindikasikan adanya kegemukan struktur, bahkan tumpang tindih

****

Yang perlu disadari dari proses ini yaitu penentuan rektor ini melalui proses pemilihan, bukan ujian. Pemilihan, bagi saya, merupakan proses politik. Proses yang dimungkinkan ada hal-hal yang tak terlihat oleh publik,  namun digunakan  sebagai pertimbangan oleh para pemilik suara.

Yang pasti, bagi saya yang cuma kroco ini, rektor harus tahu benar-salah dan baik-buruk, tidak sekedar untung-rugi.

Sekian.



Tuesday, 26 April 2022

Inilah Calon Rektor UGM versi Netizen di Live Chat Youtube

Sumber gambar: Yutub penjaringan aspirasi

Panitia Seleksi Rektor UGM menyelenggarakan Penjaringan Aspirasi, yang diisi dengan presentasi para bakal calon rektor (carek).

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 26 April 2022 ini bisa dilihat recordnya di https://www.youtube.com/watch?v=vhw_F8nI7JM.

Nah, ketika pelaksanakan penjaringan, para pemirsa youtube juga saling menyapa di chat. Selain itu, mereka juga menyebut calon jagoannya.

Nah (lagi)!. Kita lihat peta suara para netizen yang muncul di live chat ini.

Wordcloud dari Live Chat

Saya copas chat tersebut, lalu saya masukkan ke https://wordart.com/create. Saya ambil apa adanya, lalu muncullah tampilan di atas.

Kata "prof" paling banyak muncul. Wordart merekam sebanyak 141x. Agaknya, para netizen menyebut para kandidat ini dengan jabatan fungsionalnya. Sebagai bentuk penghormatan. Memang. Enam bakal carek merupakan pendekar pada bidangnya masing-masing. Semuanya telah meraih gelar profesor.

Bagaimana dengan kemunculan nama-nama bakal carek?

Wordart merekam penggalan nama para bakal carek. Mulai dari Ali, Agus, Aguss, Bambang, Sigit, Deen, Deendarlianto, Ova.

Agus (29), dan Aguss (1). Keduanya bisa jadi bagian dari "Ali Agus", atau "Bambang Agus". Namun, karena Ali Agus bisa diwakili dengan Ali, dan Bambang Agus bisa diwakili oleh Bambang, maka kata agus  dan aguss ini bisa dikeluarkan dari statistik.

Nah. Dari nama-nama para bakal carek, paling banyak disebut nama "Ali", yang mengarah ke nama Prof. Ali Agus. Ali disebut sebanyak 51x.

Berikutnya Ova (41), Teguh (16), Bambang (16), Sigit (13), Deen (11), Deendarlianto (1). Selain itu, ada BAK sebanyak 4x. Agaknya BAK ini merupakan kependekan dari Bambang Agus Kironoto.


Lalu, siapa yang akan menang?

WMA yang menentukan!

---

Grenengan lain tentang rektor UGM ada di http://www.purwo.co/search/label/rektor%20ugm






Sunday, 24 April 2022

Strategi para bakal calon rektor UGM untuk menegakkan integritas akademik

Minggu sore, sambil menunggu buka puasa, iseng melihat CV para bakal calon rektor (carek) UGM di laman https://seleksirektor.ugm.ac.id. (CV ini sudah tidak tersedia lagi di laman seleksi rektor).

Tentu saja, CV ini memuat banyak informasi. Mulai dari data diri, serta jawaban atas pertanyaan yang disodorkan panitia seleksi rektor.

Tentunya menarik dianalisis. Namun, jika hendak dianalisis semua, tentu makan waktu. Lama. Selain itu, saya juga ngilo githok: saya itu siapa. Hanya warga biasa, pustakawan yang biasa-biasa saja. 

Tentu  yang wajib melakukan analisis keseluruhan itu para anggota Senat Akademik, sebelum hasilnya disodorkan ke MWA. Di tangan MWA--yang terdapat 30-an% suara menteri dikbud--itulah rektor UGM berikutnya ditentukan. Hehe.

Saya iseng saja fokus pada beberapa hal yang membuat saya tertarik. Sekalian buat latihan nulis, dan menganalisis kondisi sekitar, dalam hal ini dinamika politik kampus.

***

Pada form yang menyatu dengan CV para bakal carek tersebut, ada bagian yang harus diisi dan menarik perhatian saya. Begini kurang lebih:

Strategi Bapak/Ibu untuk menangani isu integritas dan kecurangan akademik serta plagiarisme. (Tuliskan antara 100-250 kata)

Ya. Isu integritas tentu menjadi isu--yang bagi saya--utama di perguruan tinggi. Semua hal yang dilakukan sivitas akademika--dosen dan mahasiswa--ditopang oleh integritas akademik. Tidak boleh tidak.  Akademik tanpa integritas itu sebuah bencana. 

Karyo: "Lho, tenaga kependidikan kok tidak dimasukkan?
Paijo: "Tenaga kependidikan tidak termasuk sivitas akademika, Kang!"

Apalagi, beberapa waktu lalu--dan juga waktu sebelumnya--muncul kasus yang menyerempet integritas. Salah satunya plagiarisme yang ditengarai dilakukan oleh salah satu alumnus. Penyelesaiannya--agaknya--tidak memuaskan semua orang. Atau paling tidak, masih ada ganjalan-ganjalan. Ora smooth.

Rocky Gerung mengatakan bahwa "reputasi kampus berbanding langsung dengan moralitas lembaga riset" (1). Moralitas, tentu hal yang saling berkaitan dengan integritas. 

****

Nah, saya coba lihat jawaban para bakal carek atas pertanyaan tersebut.

Saya ambil kata kunci dari jawaban para bakal carek, lalu dijadikan format RIS menggunakan Zotero. Selain kata kunci, saya masukkan juga nama bakal carek. Hal ini untuk mempermudah analisis klasternya. Hasilnya saya visualkan menggunakan VosViewer.

Dataset dalam bentuk RIS, bagi yang ingin melakukan verifikasi,  dapat diunduh di sini. Berikut ini hasilnya.

Klaster strategi para bakal carek terkait integritas dan penanggulangan plagiarisme


Termasuk nama, terdapat 37 kata kunci. Kata kunci ini sebagian besar saya biarkan apa adanya, tidak saya seragamkan berdasar maknanya. Artinya saya gunakan apa yang ditulis oleh masing-masing bakal carek. Kecuali (semoga tidak keliru) software. Kata "software" yang saya gunakan juga untuk mewakili teknologi, dan "orientasi kampus" mewakili "awal masuk".

Pada gambar di atas, dari 6 bakal carek dengan 37 kata kunci, membentuk 5 klaster. Berarti ada 2 bakal carek yang menjadi satu klaster. Artinya keduanya memiliki strategi yang beririsan.

Bakal carek tersebut yaitu Teguh yang memiliki 3 kata kunci,  2 di antaranya sama dengan Ova Emilia: edukasi dan software. Sementara 1 kata kunci yaitu sanksi sama dengan Sigit dan Deendarlianto. Karena lebih kuat terhubung dengan Ova, maka Teguh menjadi satu klaster dengan Ova.

Dari visualisasi di atas,  tidak ada kata kunci yang menjadi penghubung ke semua bakal carek. Namun ada beberapa kata kunci yang menghubungkan ke beberapa bakal carek. Kata kunci tersebut yaitu: software, sanksi (tegas), orientasi kampus, dan internalisasi. Artinya ada beberapa carek yang bersepakat, atau memiliki ide serupa dalam penegakan integritas akademik.

Kata kunci yang menghubungkan antar bakal carek di atas, menjadi kata kunci yang munculnya lebih dari 1x. 


Software disebut oleh 4 (66%) dari 6 bakal carek. Agaknya, sebagian besar carek menempatkan software pendeteksi (plagiarisme/kesamaan kata (kalimat)) sebagai bagian penting dalam pencegahan plagiarisme. Kata kunci ini menghubungkan Sigit, Ova, Deen, dan Teguh. 

Sementara itu, sanksi disebut oleh 3 bakal carek atau setengah dari total bakal carek. Tiga lainnya tidak menyebut secara tegas sanksi sebagai bagian dari proses pencegahan plagiarisme dan penegakan integritas akademik. Misalnya, Ali Agus lebih memilih kata: menegakkan peraturan secara fair dan adil. Kata kunci sanksi menghubungkan Sigit, Deen, dan Teguh.

Internalisasi dan orientasi kampus disebut 2 calon (Bambang, dan Deen). Sebenarnya kata kunci  orientasi kampus juga disebut oleh Sigit, namun menggunakan  bahasa yang lebih teknis: ppsmb. Agaknya, ada keinginan bakal carek untuk meneguhkan integritas bagi mahasiswa sejak awal mereka masuk. 

Sementara bagi dosen, sosialisasi dan internalisasi dilakukan melalui berbagai workshop, webinar, juga orientasi (awal) kerja.

Untuk kata kunci lainnya, yang hanya muncul 1x, dapat dilihat langsung pada visualisasi di atas, atau melalui versi online yang lebih interaktif di https://tinyurl.com/y59l9ml7

Beberapa catatan penting

Dari pengamatan saya, ada beberapa catatan penting pada strategi para bakal carek UGM 2022-2027 terkait penegakan integritas akademik.

  1. Semua bakal calon rektor memaparkan nilai integritas secara umum, kecuali terkait plagiat.
  2. Ada ide-ide yang sama dan saling terkait.
  3. Bakal carek cenderung fokus pada isu plagiarisme, padahal pada  Permendikbud Ristek; pelanggaran integritas, khususnya akademik, tidak hanya terkait plagiat. Mungkin hal ini disebabkan oleh kolom pertanyaan yang menuliskan "kecurangan akademik dan plagiat"  mengikuti kata  "integritas".
  4. Munculnya ide modul wajib atau kuliah wajib bagi mahasiswa. Ini menarik. Mungkin selama ini sudah dilaksanakan, namun sifatnya masih belum terintegrasi, dan tidak dengan standard yang sama.
  5. Muncul/disebutnya "perpustakaan" dalam proses penegakan integritas. Meski hanya disebut oleh satu bakal carek, namun tentu ini menarik
  6. Hanya ada satu bakal carek yang berani secara terang-terangan menyebut bahwa pimpinan dan dosen UGM harus menjadi role model.
  7. Ada satu bakal carek yang strateginya tidak memiliki point khas, sehingga posisinya menyatu pada klaster lain.
  8. "Software" menjadi kata kunci paling banyak disebut. Kenapa? Entahlah. 

****

Bagaimana dengan tenaga kependidikan?

Ya. Seperti dikatakan Paijo saat ngobrol dengan Karyo di atas, tendik tidak masuk kategori sivitas akademika. Demikian dijelaskan pada pasal 1 nomor 13 Undang-undang Pendidikan Tinggi No 12 Tahun 2012. Tendik itu ketenagaan (pasal 69), dan merupakan penunjang (penjelasan pasal 69b). Namun, tentu saja tendik juga harus menjunjung integritas, termasuk juga menghindari kecurangan, dan plagiarisme.

Sebenarnya, selain penyebutan perpustakaan (yang digerakkan tendik) oleh Deendarlianto, ada bakal carek yang terang-terangan menyebut tenaga kependidikan dalam strategi menguatkan integritas akademik, yaitu Ova. Tendik, dalam hal ini dokumen hasil penugasan ke tendik disebut juga sebagai sasaran untuk dicek menggunakan software anti-plagiarisme. Meskipun penyebutan "software anti plagiarisme" sebenarnya juga tidak tepat benar.

Akhirnya, para bakal carek tersebut sudah benar. Dosenlah yang utama. Karena mereka civitas akademika. Mereka contoh. 

Seluruh geraknya dilihat, dijadikan tolok ukur dalam bertindak, khususnya di kampus. Diikuti oleh mahasiswa, dan juga tenaga kependidikan.

[[ sekian ]]

Tulisan lain terkait rektor UGM, dapat dilihat di sini