Nah. Saya coba ajak ChatGPT ngobrol tentang kandidat dekan FT UGM periode mendatang. Sejauh apa ChatGPT dapat memberikan analisis, dan sedalam apa analisisnya.
----------------------**-------------------------
Sebagai awalan, saya sapa GPT, "Hallo Paijo". Nama Paijo saya berikan pada ChatGPT yang saya ajak ngobrol. Ternyata dia masih menyimpan memori obrolan sebelumnya, dia malah menawari obrolan tentang filsafat. Saya pun jawab...
Ah. Kau. masih mau ngobrol filsafat? Kali ini kita ngobrol yang agak politis. Pemilihan dekan FT UGM Periode 2026 sd 2031
Berdasar rekaman obrolan sebelumnya, GPT langsung menyajikan analisis tentang potensi calon dekan FT UGM. Kenapa? Karena sebelumnya GPT juga sudah saya ajak ngobrol tentang FT UGM, termasuk nama-nama yang populer muncul. GPT masih menyimpan memory obrolan tersebut.
Pildek, kata GPT, merupakan kombinasi dari 3 hal:
- Legitimasi akademik
- Kemampuan membangun koalisi
- Narasi masa depan fakultas
GPT kemudian menyajikan nama dekan dan wakil dekan aktif + analisis kekuatan, tantangan dan posisi politik. Agaknya GPT main aman dan menerapkan kebiasaan/pola pemilihan yang umum terjadi, yang menempatkan petahana sebagai kandidat paling kuat.
Menariknya, GPT membuat 2 skenario besar: kontinuitas dan regenerasi. Jika kontinuitas, GPT menyajikan nama Selo sebagai petahana menjadi kandidat kuat. Namun jika regenerasi maka GPT menyebut Ali Awaludin.
Seolah ingin dapat feedback, GPT malah bertanya balik, "FT mencari pengganti, atau penerus?"
Saya tidak menjawab, dan justru bertanya, kenapa hanya menyajikan dekan dan WD aktif saja sebagai kandidat.
Dengan jujur, GPT menjawab bahwa dia terlalu cepat mengasumsikan, dan merasa terjebak pada bias struktural. Oke...
----------------------------**---------------------------------
Pertanyaan tentang kandidat saya tahan. Saya ingin tahu analisis GPT pada berbagai proses pemilihan dekan di berbagai kampus. Tampaknya GPT punya banyak data yang kemudian diolah. GPT kemudian menyebut beberapa hal yang membuat seseorang dapat terpilih menjadi dekan. Ada aspek yang mempengaruhi, faktor yang mempengaruhi, dan variabel yang mempengaruhi. Terkesan tumpang tindih, namun beberapa hal ini menarik digunakan untuk pembacaan situasi menjelang pildek.
Ada 4 aspek yang mempengaruhi seseorang bisa jadi dekan, yaitu power, elektabilitas, kompetensi, dan pengaruh eksternal.
Dari data GPT, faktor koalisi internal dan faktor kepercayaan personal menjadi faktor paling tinggi pengaruhnya. GPT juga mengingatkan bahwa trust juga menjadi kunci. Trust terbagi menjadi 4: trust akademik, trust manajerial, trust personal, dan trust politik.
GPT menekankan kesimpulan paling menarik dari analisis yang dia lakukan, yaitu 4 variabel seorang bisa terpilih menjadi dekan. Pertama variabel kompetensi yang membuat orang layak menjadi dekan, power yang membuat orang mampu menjadi dekan, elektabilitas yang membuat orang terpilih menjadi dekan, dan pengaruh eksternal yang membuat orang dipandang strategis menjadi dekan.
--------------------**----------------------
Analisis GPT tentu saja punya kelemahan. Saat saya tanya terkait kelemahan, dia menjawab "Alasannya sederhana: tabel sebelumnya lebih banyak memetakan structural power, sementara politik adalah dynamic power. Keduanya tidak selalu sama.".
GPT baru mampu menyajikan data berdasar structural power dan sebagian expert power, serta sebagian kecil saja network power, karena data itulah yang tertulis dan mampu dijangkau GPT. Hal itu yang membuat GPT fokus pada dekan dan wakil dekan aktif. Dan sebagaimana umumnya pemilihan, GPT melihat petahana paling kuat dan tinggi kemungkinan terpilihnya.
Sementara itu, aspek political power itu dinamis, tidak dapat dibaca GPT. GPT tidak mampu membaca perubahan peta kekuatan yang tidak tersaji di internet. Jangankan GPT, manusia pun tidak semua bisa menjangkau atmosfir politik yang terjadi.
Aspek political tak kasat mata. Dia bisa muncul dalam bahasa tubuh, bahasa isyarat, atau bahasa lain yang tidak semua orang bisa menangkap maknanya. Dia bisa datang sekonyong-konyong, memporak-porandakan skenario yang sudah disusun rapi sekalipun.
Aspek political tak kasat mata. Dia bisa muncul dalam bahasa tubuh, bahasa isyarat, atau bahasa lain yang tidak semua orang bisa menangkap maknanya. Dia bisa datang sekonyong-konyong, memporak-porandakan skenario yang sudah disusun rapi sekalipun.
Penutup
Structural power terikat pada dua lingkaran kandidat: core candidat (dekan dan wakil dekan aktif), potential candidat (ketua atau eks ketua departemen dan mantan pejabat struktural). Namun tidak mampu melakukan analisis pada lingkaran ke-3: kingmakers.
Kata GPT, model tiga lingkaran ini jauh lebih realistis untuk membaca politik FT UGM daripada hanya bertanya "siapa calonnya". Justru sering kali kingmaker lebih penting daripada kandidat, dan tokoh yang akhirnya terpilih adalah mereka yang berhasil menyatukan dukungan dari para kingmaker tersebut."



0 komentar:
Post a Comment
Terimakasih, komentar akan kami moderasi