Showing posts with label scopus. Show all posts
Showing posts with label scopus. Show all posts

Saturday, 18 April 2026

Scopus AI, sudah bisa apa saja sekarang?

 Ada yang baru (saja saya tahu) di Scopus AI

Saat promt diberikan, tidak hanya concept map dan topic expert, namun juga ada emerging themes.

Fitur ini menampilkan topik dengan 3 kategori yaitu Consistent Theme, Rising Theme dan Novel Theme lengkap dengan referensinya.



What impact do microplastic pollutants have on marine biodiversity in coastal regions?




Sunday, 19 June 2022

,

Wadah publikasi Sivitas UGM, paling banyak di mana? Ini Datanya!

Dari sekian ribu paper ini, di mana saja wadahnya? Dan, wadah apa yang paling banyak isinya?

Saya coba unduh data dari database Scopus, lalu filter source title-nya.

Hasilnya, saya ringkaskan di bawah ini. Oia. Sebagai catatan, data ini hanya dari database Scopus, ya. 

Kenapa? Mudah nyarinya. 😂

****
Saya coba filter untuk dua jenis saja: conference dan article. 

Secara keseluruhan, prosiding menduduki peringkat paling atas. Tercatat IOP Conference Series: Earth and Environmental Science dengan 1552 paper yang sudah dikutip oleh 1322 dokumen. Peringkat 2,3,4 juga masih diduduki oleh prosiding. Jurnal baru masuk di peringkat 4.

Jurnal yang masuk di peringkat 4 ini, yang juga berarti menjadi peringkat 1 pada kategori jurnal, berjudul Biodiversitas, disusul Indonesian Journal of Chemistry. Dua jurnal yang ada di 2 tempat teratas tersebut, semuanya terbitan Indonesia. Jurnal lain terbitan Indonesia yang masuk 10-15 besar yaitu  Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture, Indonesian Journal of Geography, dan Indonesian Journal of Pharmacy.

Tentu ini ada sisi positifnya. Riset-riset sivitas UGM banyak yang masuk di jurnal terbitan Indonesia. 

Daftar lengkap, silakan unduh di: https://simpan.ugm.ac.id/s/Z5j5jy4eADxwj8W. Daftar ini dapat pula digunakan sebagai telaah dalam memilih jurnal target.





Saturday, 22 February 2020

, ,

Profil publikasi civitas UGM terbit 2019 terindeks Scopus

Langsung ke pembahasan saja, yak.

Dokumen civitas UGM terbit tahun 2019, dapat dilihat pada grafik dan visualisasi di bawah ini. Namun, perlu dijadikan catatan, untuk grafik diambilkan dari data di Scopus pada 18 Februari 2020. Sementara untuk visualisasi, tidak jauh rentang waktunya, diambil pada 21 Februari 2020. 

Jadi, dalam kurun waktu tahun 2020, masih dimungkinkan dokumen terbitan 2019 civitas UGM yang terindeks Scopus bertambah.     


Terdapat 2190 dokumen yang terindeks Scopus. Dari angkat tersebut, penulis terbanyak yaitu Rohman, A., disusul oleh Nugroho, HA., serta beberapa nama lain pada peringkat 5 teratas. 

UGM tentu menjadi institusi terbanyak yang menyumbang artikel. Setelah UGM terdapat UNS  dan ITB yang menjadi partner para penulis UGM. 

Scopus merekam, bahwa bidang Environmental Science menduduku peringkat paling tinggi dengan 507 dokumen. Berdasar type dokumen, artikel melampaui jenis konferensi. Hal ini dikuatkan dari data berdasar wadah publikasi yang menunjukkan dokumen yang terbit di jurnal lebih banyak dari pada prosiding.

Namun demikian, jenis open access lebih tinggi jumlah dokumennya (1.393 dokumen, atau 61%) dibanding yang lain. Sisi positif dari data ini, berarti sebagian besar dokumen yang diterbitkan oleh civitas UGM dapat diakses masyarakat secara bebas. 

Pada negara jejaring, Jepang menjadi negara paling banyak berjejaring dan menghasilkan publikasi bersama UGM. Menariknya, ada Australia dan Belanda pada 5 teratas. Artinya civitas UGM tidak hanya berjejaring dengan negara di Asia saja.

Lebih jelas tentang jejaring antar negara bisa dilihat di visualisasi.


Grafik di atas menunjukkan jenis publikasi dan jumlah dikutip. Menarik. Karena meskipun jumlah selain open access hanya 837 (30% dari total publikasi 2019), namun justru jumlah dikutipnya mencatatkan angka 451 dokumen atau 60% dari total dikutip (750). Melebihi dokumen openaccess yang meski berjumlah 1.353, namun baru dikutip 299 dokumen.

******

Author keyword minimal 5
Visualisasi di atas menunjukkan jejaring kata kunci yang ditentukan oleh penulis, dengan ketentuan  kata kunci muncul minimal 5 kali pada kumpulan data set publikasi 2019.

Kajian tentang Indonesia paling banyak muncul. Topik tersebut berkaitan dengan berbagai topik lain, yang bisa dilihat pada gambar.  Misalnya dengan remote sensing, climate change, tuberculosis, cancer, malaria, dan lainnya.

Tampaknya, bidang kesehatan mendominasi dalam hal ini.



Jejaring negara penulis, minimal 5 kali muncul
 Pada grafik terlihat bahwa Indonesia merupakan negara paling banyak menyumbang penulis. Tentu saja, karena civitas UGM berasal dari Indonesia. Namun, visualisasi di atas memperlihatkan lebih jelas tentang jejaring antar negara asal penulis tersebut.

Ada beberapa klaster. Nama negara yang memiliki warna yang sama, menunjukkan bahwa negara tersebut kerap berkolaborasi dalam penulisan. Warna-warna tersebut dihubungkan oleh Indonesia, sebagai negara asal penulis UGM.

Dari visualisasi di atas, kita bisa mengetahui kecenderungan negara jejaring (selain Indonesia) ketika kolaborasi menulis dengan penulis UGM. Misalnya Thailand, Vietnam, Singapura, itu cenderung bersama. Kalau Australia berkolaborasi dengan UGM, maka jejaring negara lainnya adalah UK, German, Spanyol. Dan seterusnya.

Tentu, sebaran ini bisa menjadi bahan kebijakan jejaring kepenulisan pada masa yang akan datang.

Nama penulis, minimal punya 5 dokumen, dan saling berjejaring.

Jejaring antar penulis di atas memperlihatkan klaster/kelompok penulis yang saling berjejaring. Fokusnya ada pada nama-nama yang menjadi pusat pada setiap klaster. Ditunjukkan oleh besarnya lingkaran.

Dari visualisasi di atas, selain kelompok penulis, kita bisa melihat jejaring antar fakultas/program studi.

Sayangnya, saya tidak mengenal semua nama dosen di UGM. Sehingga belum bisa membaca visualisasi di atas lebih dalam. Namun, mudahnya begini: jika ada dua nama dari fakultas yang berbeda tapi saling terhubung, maka mereka berkolaborasi.

Maaf, analisia belum mendalam.

(Selesai)

Thursday, 13 July 2017

, , , , ,

Menaklukkan Scopus secara bermartabat

Purwo.co Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui peraturan nomor 20 tahun 2017 memberlakukan beberapa ketentuan terkait dosen. Bagi dosen dengan jabatan lektor kepala harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional terakreditasi; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Sementara itu, bagi professor harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional bereputasi, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Dikaitkan dengan jurnal internasional, atau jurnal internasional bereputasi, nama Scopus mencuat.

Ketika membahas Scopus, hal pertama yang harus digaris bawahi adalah pengindeks, bukan penerbit. Scopus yang saat ini populer di Indonesia, merupakan alat pengindeks ribuan jurnal internasional. Pengindeksan dilakukan dengan menerapkan kriteria tertentu. Indeks yang dilakukan, kemudian diolah, dan hasilnya adalah berbagai informasi tentang artikel, penulis, jurnal, institusi atau bahkan negara. Bisa dianalogikan dengan Google Scholar, namun dengan menerapkan syarat tertentu. Jika ingin karyanya terindeks Scopus, maka seorang penulis harus mencari jurnal yang telah terindeks Scopus.

Tidak banyak jurnal di Indonesia yang masuk di dalam indeks Scopus. Tercatat sampai pada tanggal 3 Maret 2017, terdapat 26 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus. Sementara itu, data tanggal 3 Maret 2017 menunjukkan kurang lebih 58.000 dokumen terindeks Scopus dengan afiliasi penulis dari Indonesia. Jika diperbandingkan, maka kecil kemungkinan 58.000 dokumen tersebut diterbitkan semua pada 26 jurnal yang disebutkan sebelumnya. Sebaliknya, besar kemungkinan, dari 58.000 dokumen tersebut lebih banyak diterbitkan di berbagai jurnal yang penerbitnya bukan institusi di Indonesia.

Kondisi di atas cukup memprihatinkan. Jika genre jurnal dari luar Indonesia yang mewadahi tulisan akademisi Indonesia ini bukan open-access, maka akses pada hasil tulisan yang sudah terbit di jurnal luar Indonesia tersebut pun akan sulit, karena harus membayar. Inilah masalahnya, dikhawatirkan hasil riset akademisi Indonesia justru akan dikuasai oleh penerbit raksasa di luar negeri dan sulit diakses akademisi Indonesia, karena harganya yang begitu mahal. Masalah lain yang muncul, meskipun menurut saya hanya efek sampingan, adalah terjebaknya akademisi pada jurnal atau konferensi abal-abal, karena ketidaktahuan dan ketidak hati-hatian ketika dipacu untuk menerbitkan tulisan pada level internasional.

Tulisan yang bagus, dan jurnal yang berkualitas
Kemristekdikti, sepertinya menghendaki agar akademisi di Indonesia semakin produktif meneliti dan menulis. Dilanjutkan dengan menerbitkan tulisan tersebut di jurnal yang berkualitas. Terdapat dua kata kunci yang perlu digaris bawahi, yaitu tulisan bagus, dan jurnal yang berkualitas. Tentunya tulisan yang bagus dan jurnal yang berkualitas, perlu kriteria. Mulai dari proses riset yang berkualitas, tema tulisan, editor, reviewer, layout, impact factor jurnal dan lainnya.
Kemristekdikti perlu standard untuk menilai dua hal di atas. Pada wilayah inilah, Scopus dipakai sebagai standard. Entah Scopus yang menawarkan, atau Kemristekdikti yang memilih dan memutuskan.
Tentunya ada kekhawatiran yang muncul pada para dosen lektor kepala dan profesor, hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Mulai dari kemungkinan ketidaktahuan tentang jurnal bereputasi yang dimaksudkan Kemristekdikti, tidak cukupnya jurnal di Indonesia sebagai wadah publikasi, pemahaman yang belum sepenuhnya benar tentang Scopus. Sebab lainnya bisa juga karena iklim meneliti dan menulis yang belum bagus karena kewajiban mengajar yang harus dipenuhi, ditambah beban administrasi yang harus diselesaikan. Atau budaya akademik, khususnya menulis di jurnal, pada masing-masing bidang ilmu yang berbeda-beda.

Kolaborasi menaklukkan Scopus
Sebatas pengetahuan penulis, Scopus hanya merupakan alat. Kriteria yang dimiliki Scopus, oleh pengelola jurnal dapat dijadikan sebagai tolok ukur posisi jurnal yang dikelolanya. Pengelola jurnal pun dapat menentukan target-target perbaikan pengelolaan jurnalnya, disesuaikan dengan kriteria yang dimiliki Scopus, untuk kemudian mendaftakan jurnal pada pengindeks tersebut. Terindeksnya jurnal di Scopus, berarti sama dengan menaklukkannya, sehingga nilai tawar jurnal akan menjadi tinggi di mata penulis. Jika telah terindeks, pengelola dapat mengetahui posisi jurnal diantara jurnal lain dengan scope dan focus yang sama dari berbagai negara, melalui angka quartile, h-indeks, citescore, impact factor, dan lainnya.
Sementara itu, bagi penulis artikel, data olahan Scopus dapat digunakan untuk memperoleh informasi posisi dia di antara penulis lain dari berbagai negara. Dinilai dari konten artikel, tidak ada ruginya. Jika tulisan dan jurnal terindeks, maka sebenarnya Scopus mengakui, namun tidak memiliki. Mengakui kualitas artikelnya, namun tidak memiliki fisik file artikel yang ditulis oleh penulis. Tidak ada ruginya, bukan?.

Menaklukkan Scopus dan berbagai pengindeks lainnya dengan cara demikian, lebih bermartabat dari pada menggunggat Scopus dan pengindeks lainnya. Meningkatnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks Scopus, berarti semakin meningkat pula wadah menulis bagi para akademisi Indonesia.
Dari paparan di atas, kondisi ideal untuk menaklukkan Scopus ditopang dua hal. Pertama, dari sisi penulis sendiri serta dukungan lingkungan untuk meneliti dan menulis. Kedua, tersedianya jurnal berkualitas, khususnya yang dikelola oleh kampus. Selain itu, dukungan elemen lain, misalnya pustakawan dalam mendukung proses komunikasi ilmiah para akademisi juga perlu ditingkatkan.

Dunia perjurnalan di Indonesia, sedang memperlihatkan keseriusannya. Munculnya Arjuna sebagai sarana akreditasi secara online, munculnya Relawan Jurnal Indonesia yang siap membantu pengelolaan jurnal, dibentuknya unit khusus yang mengurusi jurnal di berbagai perguruan tinggi, lahirnya Sinta Dikti sebagai alat monitor produktifitas akademisi, merupakan beberapa contoh keseriusan tersebut. Dari sisi pustakawan, mulai bermunculan pustakawan yang juga belajar dunia penerbitan ilmiah, berbagai metrik jurnal, dunia tata tulis, untuk mendampingi pemustaka dalam proses scholarly communication. Dukungan tersebut, tentunya adalah hal positif, untuk bersama-sama menaklukkan Scopus.

Keseriusan pengelola jurnal di Indonesia, agar dapat menaklukkan berbagai pengindeks tersebut, harus terus dipacu. Dengan semakin banyak yang terindeks Scopus, maka, pilihan jurnal terbitan Indonesia sebagai wadah karya akademisi Indonesia juga akan semakin banyak. Setelah terindeks, kualitas tetap harus dijaga. Jangan sampai, karena telah terindeks Scopus, kemudian mengendorkan tata kelola jurnal, menerima artikel dengan tanpa proses yang benar, hanya karena pesanan pejabat yang hendak naik pangkat. Jika telah banyak jurnal yang mampu menaklukkan Scopus, maka Scopus sudah bukan barang aneh dan menakutkan lagi. Submit artikel yang bagus pada jurnal bereputasi, menjadi jamak dilakukan. Terindeks Scopus, nantinya hanya menjadi bonus saja.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan agar riset tidak sia-sia, yaitu kemudahan akses artikel hasil riset. Memilih jurnal open access, akan meningkatkan sebaran tulisan hasil riset, terutama bagi yang berkepentingan, namun terbatas secara finansial.

Ditulis bulan maret 2017. Baru diunggah bulan Juli 2017

Monday, 27 June 2016

Beberapa catatan dalam penulisan identitas penulis pada tulisan ilmiah terkait pengindeksan di Scopus



Nama Fakultas tidak ada
Nama fakultas yang tidak tercantum, hanya nama departemen saja. Hal ini menyuliskan ketika dilakukan pencarian by fakultas.
Misal:
nama fakultas tidak ditemukan
nama fakultas tidak ditemukan


Nama departemen yang disingkat
nama jurusan disingkat

identitas di artikel asli
Scopus, sepertinya mengindeks dari dokumen atau metadata dokumen publikasi. Mana departemen yang beragam akan diambil oleh Scopus menjadi beragam pula. Ruang untuk menuliskan nama departement yang terbatas, sepertinya menjadi masalah sehingga harus disingkat.

Variasi Nama Departemen
Misalnya: Electrical Engineering and Information Technology Department,  Department of Electrical Engineering and Information Technology.

Variasi Nama Fakultas
Misalnya: Faculty of Engineering, Engineering Faculty

Thursday, 16 June 2016

, , ,

Beberapa pengindeks jurnal: tinggi, menengah dan rendah

Seri: Scholarly communication librarian

Note: mohon saran/masukan jika ditemukan kesalahan atau kekurangan. 
Pengindeks yang saya tulis, hanya salah satu/dua contoh saja. Pastinya, ada lebih dari yang saya tuliskan.

Level tinggi

Teknis menjadi syarat, namun lebih menitik beratkan pada aspek substansi jurnal. Substansi tidak hanya pada diri jurnal itu sendiri, namun juga aspek pengaruhnya pada jurnal lainnya.
--------------------
SCOPUS
Scopus cukup populer di Indonesia. Bahkan, pemerintah mendorong para peneliti menulis publikasi dan terindeks di Scopus. Jika artikel terindeks di Scopus, hadiah menanti.
Weh, bisa jadi lahan lapangan kerja baru, ya?
Scopus mengindeks jurnal, yang didalamnya terdiri dari artikel. Artinya yang didaftarkan untuk diindeks oleh Scopus adalah jurnalnya. Tugas pengelola jurnal untuk mengelola jurnal dengan sebaik mungkin, agar ketika didaftarkan untuk diindeks Scopus, lolos.

Info di http://suggestor.step.scopus.com/suggestTitle/step1.cfm, bisa jadi info awal terkait syarat jurnal agar bisa diindeks Scopus. Pada URL tersebut ada pula syarat minimalnya.
Titles will only be considered for evaluation if they meet the following minimum criteria:

The title should publish peer reviewed content. 
    • The title should be published on a regular basis (i.e. have an ISSN that has been confirmed by the ISSN International Centre). To register an ISSN, please visit this page.
    • The title should have English language abstracts and article titles. 
    • The title should have references in Roman script.
      The title should have a publication ethics and publication malpractice statement.
    Tim SCOPUS memiliki Content Selection & Advisory Board (CSAB) yang akan menilai jurnal yang diajukan. CSAB akan menilai lima kategori berikut:
    Untuk lebih lengkap, silakan buka https://www.elsevier.com/solutions/scopus/content/content-policy-and-selection

      Level Menengah

      Level ini, selain teknis, ada juga aspek kualitas yang menjadi syarat sebuat jurnal (karya diindeks). Selain itu, ada tambahan fitur yang menjadi pembeda dalam menilai berbagai jurnal yang diindeks.
      ---------------
      DOAJ
      Kependekan dari Directory of Open Access Journal. Jurnal yang masuk dalam database DOAJ harus didaftarkan dulu via https://doaj.org/application/new. Isian pada lamaran tersebut tidak hanya terkait teknis jurnal yang dapat diakses secara online, namun juga terkait hal non teknis. Misalnya:
      1. How many research and review articles did the journal publish in the last calendar year?
      2. Does the journal have a waiver policy
      3. Does the journal have a policy of screening for plagiarism?
      4. What is the URL for the journal's Aims & Scope
      Isian dibagi menjadi basic, quality, lisensi, akses terbuka, copyright and permission. Artinya untuk masuk dalam DOAJ tidak hanya menyediakan jurnal secara online, kemudian didaftarkan untuk diindeks. DOAJ juga memiliki kontrol terhadap jurnal open access yang disebut "seal". Seal akan disematkan pada jurnal, sesuai dengan isian aplikasi. Seal ini meneguhkan sebuah jurnal memang benar benar open access.
      Lihat juga https://doaj.org/faq#contribute

      Level Rendah 

      Pada level ini,  semua jurnal (karya ilmiah) bisa diindeks dengan syarat teknis saja.
      -----------
      GoogleScholar
      GoogleScholar merupakan salah satu layanan yang dimiliki Google. GS mengindeks  jurnal, memungkinkan penulis membuat profil, menginformasikan aktifitas ilmiah penulis yang terindeks GS (h-index, i-10..).

      Bagaimana caranya agar jurnal terindeks GS? Berikut jawaban yang ada di FAQ GS.
      We would love to work with you. As noted in the policies, an abstract (at least) of each work must be available to non-subscribers who come from Google and Google Scholar. Please configure your website according to our technical inclusion guidelines, and then contact us to consider it for inclusion in Google Scholar.
      Untuk terindeks di GS, hanya dibutuhkan syarat teknis terkait wadah (web) yang mewadahi jurnal. Untuk mewadahi jurnal, GS secara terang-terangan memberi rekomendasi OJS yang dikembangkan oleh PKP.


      Microsoft Academic Search (MAS)
      "How do I make my publications discoverable on your site?
      To have your journal included in https://academic.microsoft.com/ first make sure that your publications are indexed by Bing. Use the Bing Webmaster Tools to ensure that Bing is properly indexing your site through the use of the robots and sitemaps protocols. Second, to improve the discoverability and inclusion of your content, be sure to follow the web standards for HTML meta tags for academic content." (https://microsoftacademic.uservoice.com/knowledgebase/articles/838965-microsoft-academic-faq)
      MAS merupakan layanan Microsoft. Kalimat di atas adalah FAQ terkait cara publikasi dapat dimuat di MAS. Syaratnya terindeks di Bing, dan meningkatkan standar meta tag HTML pada web.

      Note: kekurang artikel ini masih belum menampilkan alasan secara mendalam, mengapa tinggi? mengapa menengah? mengapa rendah? Alasan singkat yang saya tulis, dari hasil saya merenung. Sik ya

      Tuesday, 23 February 2016

      ,

      Tokoh Pustakawan Indonesia, dan laman SCOPUS serta Google Scholarnya

      Tokoh? siapa itu tokoh? semua manusia adalah tokoh, maka semua pustakawan atau yang bergelut pada bidang kepustakawanan adalah tokoh.

      Google Scholar
      1. Muhammad Azwar (https://scholar.google.co.id/citations?user=9lsMs38AAAAJ&hl=en)
      2. Arie Nugraha (https://scholar.google.co.id/citations?user=In_7NwYAAAAJ&hl=en)
      3. Imas Maesaroh (https://scholar.google.co.id/citations?user=FrqnNa8AAAAJ&hl=en)
      4. Sri Rohyanti Z (https://scholar.google.co.id/citations?user=ePByMnQAAAAJ&hl=en
      5. Dwi Fajar Saputra (https://scholar.google.co.id/citations?user=K6D9bNkAAAAJ&hl=en)

      dari UGM


      Untuk kategori Library and Information, silakan klik https://scholar.google.co.id/citations?view_op=search_authors&hl=en&mauthors=label:library_and_information 

      Sepertinya, belum semua tokoh pemikir ilmu perpustakaan dan informasi memiliki laman google scholar.

      Siapa saja ilmuwan/pustakawan yang artikelnya terindex SCOPUS?
      1. Sulistyo Basuki, klik di sini
      2. Imas Maesaroh, klik di sini
      dari UGM:
      1. Nur Cahyati Wahyuni, klik di sini
      2. Safirotu Khoir, klik di sini (afiliasi akun mengatasnamakan University of South Australia)
      3. Ida Fajar Priyanto, klik di sini (afiliasi akun mengatasnamakan University of North Texas)








      Sunday, 26 July 2015

      , ,

      Mengoptimalkan SCOPUS dan Jurnal Citation Report untuk penelitian

      Tentunya kita sering mendengar orang menyebut SCOPUS dan Jurnal Citation Report (JCR). Secara umum orang menganggap, jika ada artikel masuk di index SCOPUS maka  dianggap berkualitas. DIKTI sendiri dalam laman http://pak.dikti.go.id/portal/?p=41 menyebutkan bahwa untuk memeriksa PAK dosen terkait artikel jurnal, maka jujugan pertamanya adalah SCOPUS an JCRnya Thomson ISI Knowledge.

      Nah, apakah fungsinya hanya itu? di SCOPUS sekedar mencari jurnal apa yang diindex dan di JCR hanya mencari jurnal apa yang IFnya paling tinggi?. Tentu saja tidak. Bagi peneliti dapat mengoptimalkan keduanya untuk kepentingan riset, mencari artikel yang banyak dikutip pada bahasan tertentu, sehingga mudah menemukan tulisan yang berpengaruh pada banyak tulisan lain.

      Begini.
      view ref aktif
      Berangkat dari laman web DIKTI di atas, maka kita bisa menganggap bahwa artikel di SCOPUS dan jurnal yang terhitung IFnya JCR adalah berkualitas, maka kita bisa memulai mencari tema riset dari keduanya, menemukan artikel referensi dari kedua sumber tersebut.
      1. Tentukan kata kunci terkait penelitian yang ingin anda lakukan, kemudian cari di SCOPUS
      2. Setelah menemukan artikel yang anda butuhkan, anda dapat membaca dan menelusur daftar pustaka artikel tersebut. Tentunya SCOPUS telah mampu mengantarkan anda pada alamat url dari daftar pustaka yang tertulis.
      3. Pengarang artikel yang anda inginkan, dapat anda analisis produktifitasnya melalui h-index di SCOPUS
      4. Andapun dapat menemukan alamat asli referensi tersebut dengan mudah. Termasuk menemukan frekuensi sitir pada tiap referensi. Semakin banyak dikutip, maka semakin banyak artikel tersebut berpengaruh pada tulisan lain. Temukan artikel tersebut pada database yang dilanggan oleh kampus anda.
      5. Jika tidak menemukan artikel yang dimaksud, kontak pustakawan.
      view ref non aktif
      Menemukan referensi sekaligus frekuensi referensi hanya dapat dilihat jika memiliki akses langganan ke SCOPUS, jika tidak maka tentu saja tidak dapat melihat secara lengkap referensi+frekuensi kutipannya. 




      referensi dan frekuensi dikutip
      Pada JCR, kita dapat mengetahui jurnal apa, pada bidang apa yang memiliki IF tertinggi. Jika jurnya memiliki IF tinggi, maka jurnal tersebut berpengaruh pada jurnal/tulisan lain. Singkatnya artikel pada jurnal tersebut banyak dikutip. 

      Friday, 18 July 2014

      ,

      Artikel terindex SCOPUS pada beberapa universitas

      Berikut pengamatan sekilas saya tentang jumlah artikel yang diindex SCOPUS pada beberapa universitas di Indonesia. Pemilihan universitas muncul begitu saja ketika akan mengetikkan kata kunci, jadi tidak ada latar belakangnya, kecuali UGM dan FT UGM. Institusi tersebut merupakan tempat saya bekerja.

      Note: hasil yang muncul berdasar kata kunci yang tertera. Ada kemungkinan kata kunci belum mewakili semua karya yang ada pada institusi yang dimaksudkan. Karena penamaan, atau si penulis menggunakan afiliasi orgasisasi berbeda. Jika menemukan kelemahan lain dalam pencarian yang saya lakukan, silakan disempurnakan.
      Pencarian dilakukan pada Document Search, tidak pada tab Affiliation Search. Hal ini saya lakukan karena (misalnya) ketika mencari affiliation search Gadjah Mada, saya temukan "Gadjah Mada University" dengan ID 60069380. Namun, pencarian dengan kata kunci "Universitas Gadjah Mada" mode AffSearch pada tab Document Search tetap memunculkan hasil. Sehingga saya putuskan pencarian dengan Document Search, mode AffilOrg dengan beberapa nama variasi yang dihubungkan dengan OR agar  hasil bisa disatukan.

      Silakan cermati hasil di bawah ini.

      pencarian dengan kata kunci "engineering, gadjah mada" dan "engineering, universitas gadjah mada"
      Pencarian ditujukan untuk dosen FT UGM ditemukan 296 artikel diindex SCOPUS. Dosen terbanyak artikel di SCOPUS: Rochmadi, klik untuk melihat profilnya. Sementara urutan kedua Mahardika, M (Muslim Mahardika), klik profilnya.

      pencarian dengan "bandung institute of technologi" dan "institute teknologi bandung"
      Pencarian dimaksudkan untuk dosen ITB terdapat 3.092 artikel terindex SCOPUS.

      pencarian dengan "gadjah mada"
      Untuk UGM, ditemukan 2264 artikel. Dosen terbanyak artikelnya di SCOPUS: Rohman, A (Abdul Rohman), klik profilnya. Beliau juga pernah dinobatkan menjadi peneliti muda terbaik se-asia pasifik, klik.  Sementara urutan kedua adalah Rochmadi, dosen FT UGM yang menempati rangking satu untuk tingkat FT UGM. Ada yang aneh pada angka pak Rochmadi, di FT angka menunjukkan 20, sementara dengan kata kunci Gadjah Mada terdapat 25. Ada kemungkinan terdapat tulisan pak Rochmadi yang menggunakan afiliasi Gadjah Mada tanpa kata Engineering (fakultas).
      pencarian dengan "universitas indonesia" dan "indonesia university"
      Dengan kata kunci mengacu pada UI, ditemukan 922 artikel terindex SCOPUS.

      "universitas diponegorodan "diponegoro university"
      Kata kunci yang mengacu ke UNDIP menghasilkan 605 artikel terindex SCOPUS.

      Maaf, narasinya kurang lengkap. Silakan melihat gambar sambil menerjemahkannya. Berikutnya saya akan coba pada mesin pengindex ISI WoS dan MAS.