Showing posts with label jurnal. Show all posts
Showing posts with label jurnal. Show all posts

Monday, 11 November 2019

Sunday, 27 October 2019

, ,

Wajah Jurnal UGM di Scopus #1: Gama IJB

Catatan: analisis di bawah ini diperoleh dari dataset dari Scopus, tanpa proses pengurangan, pengeditan, pengecekan apapun. Sangat mungkin dataset memuat data yang dobel (misal: nama, institusi, dll.). 
Analisis ini merupakan analisis pribadi, sebagai bagian dari latihan menulis dan melakukan analisis bibliometrik. Ada beberapa visualisasi yang belum disertakan, dan analisis masih berpeluang untuk dilakukan lebih mendalam. Kami menerima koreksi dan atau pertanyaan terkait.

Gama IJB menempati ranking 11 di Sinta. Ranking ini tertinggi diantara jurnal lain yang diterbitkan UGM. Oleh karena itu, menarik untuk menganalisis Gama IJB.

Di Scimago, Gama IJB memiliki h-indeks 6. Sedangkan di Sinta, h-indeks Gama IJB mendapat skor tinggi: 28. Scimago mengelompokan scope Gama IJB menjadi 2: bussiness and international management, serta  economics and econometric. Keduanya memiliki kategori quartile 3 di tahun 2018.

Berikut ini merupakan analisis yang kami buat berdasarkan dataset  jurnal Gama IJB  yang terindeks Scopus. Dengan menggunakan strategi pencarian "Gadjah Mada International Journal of Business" sebagai Source Title, pada hari Sabtu sore, 26 Oktober 2019.

Hasil pencarian memperlihatkan ada 147 dokumen terindeks Scopus sejak 2010. Beberapa grafik berikut dapat memperlihatkan wajah Gama IJB di Scopus.



Pergerakan dokumen per tahun
Dokumen per tahun konsisten pada angka belasan. Maksimal 16 dokumen pada tahun 2011 dan 2015. Tahun 2019, sampai data ini diambil, ada pada angka 10 dokumen. Angka ini tentunya masih akan bertambah, bahkan meskipun sudah masuk di tahun 2020.

Jenis dokumen
Jenis dokumen yang terbit terbagi 3. Paling  banyak kategori artikel sebanyak 141 dokumen. Selain itu ada pula kategori editorial dan review.

5 penulis terproduktif
Hartono J (Akuntansi FEB UGM), merupakan penulis yang paling produktif menulis di Gama IJB, dengan jumlah 6 dokumen. Disusul oleh Ciptono (Manajemen FEB UGM), Purwanto (FEB UGM), Utama (FEB UGM), dan Abd. Majid (Unsyiah Aceh).



Negara asal penulis
Sebagai jurnal yang terbit di Indonesia, tidak mengherankan jika penulisnya banyak berasal dari Indonesia, khususnya dari UGM (lihat grafik berikutnya). Namun, Malaysia patut diperhatikan. Malaysia memiliki 44 dokumen yang terbit di Gama IJB. Lebih detail bisa dilihat di visualisasi VV pada bagian berikutnya.
Institusi asal penulis
Dari 5 institusi paling banyak kontribusi pada Gama IJB, ada data yang menarik. Ternyata 3 institusi asal penulis yang menempati top five ini justru berasal dari Malaysia. Tiga institusi tersebut yaitu: UKM, UUM, dan IIUM.


VISUALISASI VOSVIEWER

Penulis minimal 1 dokumen
Tampilan di atas memperlihatkan semua penulis, dengan minimal memiliki 1 dokumen di Gama IJB. Terlihat ada beberapa nama yang memiliki jejaring dengan penulis lainnya. Ada pula yang hanya menulis sendirian saja. Vosviewer mendeteksi ada 300 nama penulis.

Total penulis tersebut terbagi dalam 121 cluster penulis. 92 di antaranya merupakan cluster yang berjejaring. Artinya ada 92 kelompok penulis yang berpasangan (menulis bersama). Total dari 92 klaster tersebut adalah 271 penulis. Sisanya, sebanyak 29 penulis merupakan single author (penulis jomblo).
Penulis berjejaring
Gambar di atas menunjukkan salah satu cluster penulis yang berjejaring, dan dianggap dominan oleh vosviewer. Penulis di atas fokus (bisa dianggap pula sebagai yang paling berpengaruh) pada nama Hartono J, yang berjejaring dengan beberapa klaster kecil: Utomo dkk, Hanafi dkk, dan Amilia dkk. 

author 1 overlay

Jika semua penulis ditampilkan pada mode overlay, akan terlihat penulis baru yang muncul pada tahun terakhir. Misalnya Mahatma T, Muftiadi,  dan nama lain yang berwarna kuning.

Keyword all
Visual di atas memperlihatkan sebaran kata kunci yang ditentukan oleh penulis. Ada beberapa kluster kata kunci yang dominan, misalnya Indonesia. Hal ini berarti topik penelitian yang ada pada Gama IJB banyak dikaitkan dengan kasus di indonesia. Uniknya, ada juga nama negara Malaysia sebagai kata kunci dan memiliki beberapa tautan/hubungan dengan kata kunci lainnya. 

Kata kunci lain yang menjadi fokus klaster yaitu: corporate governance, customer satisfaction, enterpreneurial orientation.

Keyword Indonesia
Gambar di atas memperlihatkan jejaring kata kunci Indonesia. Terlihat pembahasan tentang Indonesia pada Gama IJB terkait dengan bussiness enterprises, abusive supervision, company performance, consumer motivation, local food, dan lainnya. 

Beberapa kata kunci yang belum terhubung dengan Indonesia, merupakan kata kunci yang masih berpeluang dilakukan riset.

keyword minimal 2

Jika keyword yang ditampilkan hanya yang minimal 2x digunakan, kita bisa melihat beberapa kata kunci yang muncul dan berjejaring. Malaysia dan Indonesia memiliki angka kemunculan yang sama: 9. Namun, visual di atas memperlihatkan Malaysia justru ada di tengah, dan Indonesia ada di pinggir.

Hal ini menunjukkan bahwa justru kajian dengan minimal 2 dokumen tentang Malaysia lebih dominan dalam jejaring antar keyword daripada kata kunci Indonesia. Kajian tentang Malaysia terkait dengan transparancy, smes, customer satisfaction, knowlege sharing, absortive capacity, job satisfaction, juga tentang organizational commitment.

overlay all keyword
Pada mode overlay, terlihat kata kunci yang memperlihatkan tren kajian di Gama IJB. Kata kunci warna kuning muncul pada kisaran tahun 2018. Sementara warna lainnya muncul sesuai dengan kode warna pada angka tahun di kanan bawah.
Negara jejaring
Visual di atas memperlihatkan nama negara asal penulis. Ada negara yang sendirian ada juga yang berjejaring. Dari visual di atas dapat kita lihat beberapa nama negara yang penulisnya mengisi Gama IJB. 

Nama negara yang sendirian (ada di luar titik sentral), mengindikasikan penulis dari negara tersebut tidak menulis bersama co-author dari negara lain, bahkan bisa juga malah hanya sendirian.

Sementara itu, pada titik tengah, terdapat beberapa nama negara yang berjejaring. Lebih detail, silakan lihat visual di bawah ini.
Negara berjejaring.

Selain dengan Malaysia dan Australia, penulis dari Indonesia juga berjejaring dengan penulis dari US, UK, Senegal, New Zaeland, Canada, Norway, dan China. 

Sementara itu, penulis dari Malaysia menulis bersama penulis dari Indonesia dan Australia, serta memiliki jejaring justru dengan Egyp, Saudi Arabia dan Tanzania. 

Ada negara yang bersama Indonesia namun tidak bersama Malaysia, ataupun sebaliknya. 

Dengan data di atas, dapat dijadikan gambaran, dengan negara mana saja penulis dari Indonesia bisa membuka peluang menulis bersama. 



Kesimpulan:
belum dibuat kesimpulan :)

Ngahad Kliwon 27 Sapar Wawu 1953 AJ.

Wednesday, 15 November 2017

,

Menerbitkan artikel: memilih prestise atau kemudahan akses?

Karyo: "kok melamun, Jo?"
Paijo: "jian, saya itu sudah meneliti, menulis hasilnya, saya kirim ke jurnal, proses, terbit. Lah kok setelah terbit, saya sendiri sebagai penulis ndak bisa mendapatkan hasil tulisan saya. Lah aneh, tho?"

Karyo
: "sabar, Jo. Kui jenenge bisnis"

Purwo.co -- Tidak dipungkiri, bahwa menulis artikel untuk jurnal, saat ini menjadi salah satu ukuran kepakaran seseorang, khususnya di dunia akademik. Dosen, mahasiswa, pustakawan, dan siapapun. Angka yang muncul dan menginformasikan berapa kali dikutip, akan meningkatkan citra dirinya. Ada lagi angka yang disebut h-index, g-index dan lainnya.

Ingat, lho. Hanya salah satu.

Jeguran neng kali
Artikel, tentunya bermula dari sebuah penelitian, apapun jenisnya. Ditulis, dikirim ke jurnal, melewati berbagai proses dan kemudian terbit. Tentunya jika tidak ditolak.

Jurnal bisa dibedakan menjadi beberapa macam. Ada yang lokal, dengan reviewer terbatas dari institusi tertentu; nasional dengan reviewer dari satu negara tertentu; atau internasional yang memiliki reviewer dari berbagai negara, dan penulisnya juga dari berbagai negara. Begitu kira-kira.

Artikel dalam jurnal ada yang dapat diakses bebas oleh orang lain, ada yang harus berbayar. Ada pula jurnal yang memiliki angka-angka yang membedakan kelasnya dengan jurnal lainnya. Ada angka quartile, h-indeks, dan lainnya.

Jurnal, ada yang dijual dan ternyata banyak pula yang membeli. Kemampuan institusi untuk membeli akan membedakan status institusi tersebut di antara institusi lainnya. Ada pula jurnal yang gratis, dan tetap banyak dicari, ada juga yang digratiskan tapi kurang diminati. Jurnal yang dijual, sekaligus diakui memiliki kualitas yang bagus, akan merasa jumawa dengan jurnalnya.

“Harus beli terus. Kalau ada jeda, kemudian mau beli lagi maka harga naik”. Semacam orang jual properti di tivi-tivi itu. Jurnal yang demikian, biasanya merupakan jurnal internasional yang telah memiliki posisi tawar. Banyak artikel pakar diterbitkannya. Orang yang terlibat di dalamnya, tentu akan merasa naik tingkat intelektualnya beberapa derajad. Baik sebagai reviewer atau sebagai penulis. Semakin banyak yang membutuhkan, semakin banyak pakar yang memasukkan tulisannya, maka akan semakin kuat posisi tawar jurnal tersebut.

Sebagai pustakawan, saya kadang merasa sedih ketika penulis artikel meminta bantuan mencarikan artikelnya sendiri yang sudah terbit di jurnal, dan dia sendiri tidak bisa mengaksesnya karena oleh jurnal dibuat berbayar. Ini memang sangat dimungkinkan. Bahkan penulis sendiri tidak bisa mengunduh artikelnya yang sudah terbit.

Paijo: “Edian kui”.

Rekan-rekan yang berbahagia. Jurnal atau database jurnal yang populer, seolah ingin menguasai semua lini proses ilmiah. Ya, namanya bisnis, tentunya wajar. Mulai dari menerbitkan artikel, menilai artikel, penilaian jurnal, membuat metrik untuk proses ilmiah, manajemen referensi, dan lainnya. Intinya dari mencari informasi, mengunduh, mengelola, menulis, menerbitkan, menilai hasil terbitan dan wadah terbitan (jurnal).

Dan, itu dijual.

Ini jadi dilema. Di satu sisi, ilmuwan bernafsu ingin menerbitkan artikelnya di jurnal yang bagus (dengan berbagai angka yang disematkan pada jurnal tersebut), tapi di sisi lain, tulisan yang dia tulis juga harus mudah diakses orang lain, sehingga proses ilmiah yang terjadi setelahnya menjadi lancar.

Menerbitkan artikel di jurnal luar negeri + akses berbayar, sama dengan memberikan gratis penelitian kita pada orang kaya (mampu membeli artikel), serta justru membatasi akses diri sendiri + bangsa. Apa sebab?

Coba bayangkan. Peneliti yang meneliti menggunakan uang negara, setelah selesai penelitian, ditulis dan diterbitkan di jurnal yang penerbitnya di LUAR NEGERI. Ini keanehan pertama. Yang membiayai negara/rakyat sendiri, atau dia bisa dapat bantuan karena dia warga Indonesia, tapi hasil penelitiannya diterbitkan di jurnal LUAR NEGERI.

Paijo: "itu kalau yang membiayai negara. Nek golek dewe, Kang?"
Karyo: "karepmu, Jo"
Karyo: "kalau masih bebas diakses, ya ndak papa, Jo".
 

Efek dari keanehan pertama tersebut, akan sangat terasa jika jurnal tersebut ternyata berbayar. Kalau masih bebas diakses, ndak masalah. Lah, kolega sendiri, atau warga negara Indonesia, yang satu tumpah darah dengannya, mau unduh kudu bayar. Hopo ora nggumuni?

Maka, saya ulangi lagi kalimat di atas: menerbitkan artikel di jurnal yang terbit di luar negeri, dan bukan open access = memberikan hasil penelitian kita pada orang kaya, serta membatasi akses bagi saudara atau tetangga kita sendiri.

Antara prestis dan kemudahan akses
Mencari cethul ketika banjir
Ilmuwan yang mendahulukan penyebaran ilmu dibanding prestisius, mestinya akan mendahulukan jurnal yang memudahkan proses aksesnya, dibanding kepopuleran jurnal. Sebagai ilmuwan, harusnya mendahulukan manfaat dari pada prestis. Pemilihan jurnal, bukan hanya didasarkan pada angka-angka statistik yang melekat (lebih tepatnya dilekatkan) pada jurnal. Namun, setelah pertimbangan tersebut, harus periksa lagi dengan pertimbangan “mudah tidaknya dokumen tersebut diakses orang lain”.

Bagaimana caranya? Ya diterbitkan di jurnal yang tepat dan ideal. Jurnal ideal untuk publikasi adalah jurnal bergenre open access, serta dikelola sendiri.

Mengapa open access?, karena menjamin semua orang dari semua tingkatan ekonomi bisa mengunduhnya secara gratis. Tanpa harus membayar, dan direpotkan dengan proses bayar-membayar model kartu kredit dan semacamnya. Jika mudah diakses, maka manfaat ilmu untuk ilmu dan untuk ummat manusia akan terasa.  Dikelola sendiri, maksudnya jika ranahnya institusi, maka jurnal tersebut dikelola institusi itu sendiri. Ya, tentunya jika ada orang lain dari institusi lain yang ingin menerbitkan, ya boleh saja.

Paijo: “kalau dikelola sendiri, nanti pilih kasih, Kang?”
Karyo: “kalau itu terkait profesionalisme, Jo. Ketentuan sebaran reviewer kudu dipenuhi. Kudu profesional. Hora njuk, diakeb dewe!”

"Lah, kalau tak punya?" Ya terbitkan di jurnal open access lainnya, di manapun. Karena open access akan menjamin kemudahan akses hasil penelitian tersebut.

Kebahagiaan hakiki seorang penulis, adalah ketika tulisannya banyak dibaca orang (kemudian dikutip).


Artikel lebih tinggi derajadnya dibanding jurnal
Kualitas artikel lebih tinggi derajadnya dibanding kualitas jurnal. Saya kira pernyataan ini harus diakui. Bagi para penulis, ini harus diyakini, karena terkait harga diri mereka sebagai ilmuwan. Dengan keyakinan ini, maka selayaknya, penulis memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dari pada jurnal.

Kita masih ingat kasus-kasus jurnal abal-abal. Jika ada artikel yang terbit di jurnal yang teridentifikasi abal-abal, maka artikel tersebut bisa digugurkan jika digunakan sebagai syarat administrasi dengan tujuan tertentu. Atau kasus sebaliknya, artikel abal-abal yang terbit di sebuah jurnal yang bukan abal-abal. Bagaimana kasus ini dilihat dari kaidah “artikel lebih tinggi derajadnya dibanding jurnal?”.

Untuk kasus pertama, meski (sengaja atau tidak sengaja) terbit di jurnal abal-abal, maka artikel akan tetap menjadi sebuah artikel. Dia akan dibaca, dan diakui kebenaran analisisnya, jika memang analisisnya benar. Derajad artikel tetap akan ada di atas jurnal.

Untuk kasus kedua, sudah jelas bahwa artikel tersebut abal-abal. Misal artikel yang diatasnamakan penyanyi dangdut Indonesia, yang pernah terbit tahun 2012. “Artikel” tersebut tidak bisa disebut artikel, sehingga tidak dikenai pernyataan di atas.

"Loh, kan itu sudah dianggap artikel?"

Okelah, ketika artikel tersebut terbit, dan terbukti abal-abal, sekarang artikel tersebut (artikel yang nama penulisnya penyanyi dangdut) sudah tidak lagi ada di jurnal, sudah dihapus. Jurnal akan rusak jika memuat artikel abal-abal. Hal ini, secara langsung membuktikan bahwa nilai artikel lebih tinggi dari jurnal.  Tapi artikel bagus, tidak akan rusak substansinya ketika diterbitkan oleh jurnal abal-abal. Artikel akan mempengaruhi kualitas jurnal. Artikel tetap lebih tinggi derajadnya dibanding jurnal.

Loh, menerbitkan artikel di jurnal butuh waktu je. Berbulan-bulan, bahkan sampai hampir setahun.

Paijo: “Nah, itulah, perlu terobosan, Kang. Trus, prestise atau kemudahan akses?
Karyo
: "kalau bisa ya dua-duanya, Jo"


Sambisari,
Rebo Wage, 25 Mulud 1951 Dal
5.33 esuk



Sunday, 12 November 2017

,

Neliti.com dan disrupsi di dunia pengelolaan jurnal

Paijo: "Waduh, tautan artikel jurnalku langsung ke web Neliti"
Karyo: "Maksude piye, Jo?"

Purwo.co -- Neliti yang saya maksud adalah portal Neliti.com. Tentunya, tulisan ini hanya sebatas kecil/sedikit pengetahuan saya.

Pada webnya, Neliti didefinisikan sebagai mesin pencari penelitian yang membantu lembaga penelitian dan universitas di Indonesia untuk menemukan kembali hasil penelitian, data primer dan fakta. Sebagai mesin pencari, Neliti mengindeks berbagai sumber dan disatukan pencariannya melalui portal Neliti.com. Sehingga orang yang membutuhkan, tidak harus membuka masing-masing alamat satu/satu. Cukuplah membuka Neliti.com

Neliti beralamat di blog D, lantai 4 Perpusnas RI.  (
https://www.neliti.com/id/about)

Dalam proses mengindeks, Neliti memanfaatkan protokol OAI-PMH yang terpasang pada masing-masing jurnal, repository atau sumber lainnya. Protokol ini terpasang secara default pada berbagai aplikasi berbasis web populer yang banyak digunakan untuk mengelola jurnal atau repository. Nah, karena sudah tersedia, maka siapapun dengan kreatifitasnya dapat mengambil metadata tersebut. Hal ini sudah jamak dilakukan.

Misalnya pengambilan data menggunakan Z.3950 ke worldcat atau ke Library of Congress menggunakan aplikasi SLiMS atau aplikasi lainnya. Pustakawan sebuah perpustakaan universitas di pulau Sumatera, ada yang mengumpulkan metadata berbagai jurnal open access ke satu pintu menggunakan OHS (Open Harvester). Ini sah-sah saja, sebagai sebuah upaya mengelola informasi, dan meningkatkan visibilitas tulisan, serta memberikan layanan yang bagus untuk pemustaka mereka.

Jika sebuah jurnal/repository tidak mau diambil datanya, ya matikan protokolnya, atau batasi.
####

Nah, masalah muncul dari sini. Pada alamat https://www.neliti.com/id/news/gs-indexing, Neliti memposting berita permohonan maaf karena permasalahan indeks dari GoogleScholar yang mengarahkan sumber ke Neliti, bukan ke sumber aslinya (alamat URL jurnal atau repository).

Saya coba cari dengan kata kunci site:neliti.com pada Google Scholar, hasilnya seperti gambar di atas. Tentunya, dikaitkan dengan trafik sebuah alamat web jurnal, ini merugikan jurnal. Orang yang seharusnya membuka web jurnal, justru membuka Neliti. Jumlah trafik yang seharusnya dibukukan oleh jurnal, justru dicapai oleh Neliti. Apalagi jika trafik tersebut berkaitan dengan angka-angka sakti untuk akreditasi, pasti akan dianggap merugikan pengelola(an) jurnal. Angka tersebut turut berpengaruh pada proses naik kelasnya sebuah jurnal.

Siapa lagi yang dirugikan? Penulis? 

Ooo, tunggu dulu. Bagi peneliti, atau penulis, bisa jadi itu ndak begitu berpengaruh. Yang penting tulisan dia banyak diketahui orang. Semakin banyak sumber yang menyediakan tulisannya, semakin besar kemungkinan penulis bergembira, karena dengan begitu semakin tinggi kemungkinan orang mengutip tulisannya. Toh, dalam artikel yang diunduh, dan di web Neliti juga tercantum metadata dokumen tersebut, sehingga bagi penulis yang paham, dia tidak akan keliru kutip.

Paijo: “Kegembiraan hakiki seorang penulis artikel, adalah ketika artikelnya  dibaca dan dikutip orang lain”.
Karyo:” Sarujuk, Jo”.

#####

Paijo: “trus piye kang?”
Karyo: “pokoke, rumusnya kemudahan akses lebih utama dari prestise”.

Disrupsi
Pernah mendengar disrupsi? Ya, apa yang dilakukan oleh Neliti, agaknya merupakan sebuah kreatifitas, namun di sisi lain bisa dianggap sebagai gangguan. Ini disrupsi di dunia pengelolaan jurnal. Kreatifitas yang dilakukan Neliti menguntungkan penulis, karena visibilitas tulisannya semakin luas. Bagi pencari informasi, juga menguntungkan, karena menjadi mudah melakukan pencarian dan hanya perlu membuka satu portal saja.

Disrupsi, kata orang pintar, “menyerang” kaki-kaki. “Kaki” dari jurnal salah satunya adalah pengguna jurnal, dan juga penulis. Neliti memanjakan dua pihak ini. Nah, ibarat pengusaha taksi konvensional, atau ojek konvensional yang berteriak minta diperhatikan karena adanya kehadiran kompetitor mereka yang versi online;  maka dalam kasus Neliti, pengelola jurnallah yang kemungkinan akan berteriak karena kehadiran Neliti.

“Oei, ini trafik ke jurnal saya turun gara-gara Neliti”.
“Oei, akreditasi jurnal saya bisa terancam dong oleh Neliti, karena trafik masuk ke mereka”.

Regulasi yang terlambat

"Apakah perlu melarang internet, agar PT POS tetap hidup?". Ungkapan ini (tidak sama persis), saya baca di buku Disruption-nya Rhenald Khasali. 

Konon kabarnya, terkait disrupsi, salah satu hal yang menjadi permasalahan adalah terlambatnya regulasi, yang tidak mengikuti perkembangan jaman. Nah, dalam kasus trafik jurnal di atas, agaknya juga terkait regulasi tentang  pemanfaatan trafik tersebut. Regulasi akreditasi jurnal. Kalau demikian, kenapa tidak regulasinya yang diubah? Trafik jurnal untuk akreditasi juga diperhitungkan dari trafik pengindeks. Ya, tentunya ada pro-kontra. Okelah. Namun, kita perlu lebih bijak menyikapi.

OAI-PMH (yang terbuka) + NELITI = visibilitas penelitian.

Oie, itu kan orang asing. Data kita bisa dimiliki mereka, dong. 
Adakah yang analisisnya sampai disitu? Yang masuk di Neliti merupakan artikel jurnal yang sistemnya menyediakan OAI-PMH. Nah, rata-rata mereka menggunakan OJS. Hehe, akan lucu jika ada yang menaikkan analisisnya dengan, “OJS ini proyek pengambilan data jurnal, dengan iming-iming software gratis”.

Jika mau mengambil, kenapa harus dibuat portal publik? Bukankah cukup diam, ambil datanya, selesai. Agaknya analisis di atas, kurang tepat.

Solusi
Ski-hap (penulisannya tidak sama persis), merupakan mesin yang dianggap mengganggu pengelola jurnal, terutama jurnal besar. Kepentingan bisnis mereka terganggu. Ski-hap mendasarkan kegiatannya pada “ilmu untuk semua”. Atas jasanya, banyak penulis yang mudah mendapatkan artikel penulis lain, sehingga banyak penulis yang bertambah penyitir artikelnya.

Neliti, tentunya tidak sama persis dengan Ski-hap. Namun ada efek yang sama, yaitu terbantunya penulis artikel dan penulis yang membutuhkan artikel untuk kegiatan ilmiah mereka. Pustakawan cukup, “silakan buka Neliti.com, kita cari artikel yang dibutuhkan di url itu”.

Permintaan maaf yang disampaikan Neliti, merupakan sebuah itikad baik pengelolanya. Apalagi disampaikan bahwa tujuan Neliti yang sebenarnya adalah meningkatkan traffik web jurnal, dan membantu menyebarkan karya ilmiah di Indonesia.

Solusi dari keadaan ini, semestinya ya sinergi. Jurnal sebagai wadah resmi penerbitan artikel, lengkap dengan volume, nomor, halamannya. Sedang Neliti merupakan alat untuk memperluas cakupan sebaran artikel jurnal tersebut di dunia online. Hasilnya adalah semakin luasnya kemanfaatan artikel jurnal bagi kemaslahatan ummat manusia. Bukankah hasil itu merupakan goal dari proses ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan? Termasuk proses yang dilakukan dalam dunia jurnal.

Paijo: "semakin luas jangkauan penyebaran artikel, semakin tinggi kemungkinan h-indeks penulis naik".
Karyo: "agaknya demikian, Jo. Penulis yang senang"

Kalau mau win-win solution, Neliti cukup mengindeks metadatanya saja, jika orang membutuhkan pdf, maka diarahkan ke URL jurnal aslinya. Saat ini, sepertinya Neliti juga mengambil metadata termasuk file .pdf dari artikel. Misalnya seperti metadata "Determinan Efisiensi Teknis Usahatani Padi di Lahan Sawah Irigasi" yang file .pdf tersedia di https://media.neliti.com/media/publications/99279-ID-determinan-efisiensi-teknis-usahatani-pa.pdf.  Tentunya, solusi ini perlu saling komunikasi.

Alamat Neliti, yang ada di lingkup Perpusnas RI (seperti yang tercantum pada web neliti), menurut saya adalah bentuk cerdas Perpusnas untuk menggandeng, atau membuat sinergi. Hal-hal seperti ini, yang semestinya terus dilakukan.

Neliti.com itu bukan gangguan, tapi ikut memberdayakan.


Sambisari, 12 November 2017
7.24 pagi

Monday, 24 July 2017

,

Menulis di jurnal: ikut-ikutan, kebutuhan, atau terperangkap pada keadaan?

Paijem sedang pusing. Dia dikejar waktu agar segera menerbitkan tulisannya di jurnal. Paijem, mahasiswa tingkat akhir, pada jenjang studi paling prestisius itu, memang diwajibkan menulis di jurnal, agar proses belajarnya pungkas. Selain itu, konon katanya, agar jumlah publikasi yang lahir dari negeri ini semakin banyak. Malu pada negeri tetangga, yang jumlah penduduknya lebih sedikit, tapi publikasinya lebih banyak.

Purwo.co - Tidak ada yang menyangkal, jurnal, sebagai terbitan berkala dengan tingkat keilmiahan tertentu, saat ini sedang jadi buah bibir, terutama pada kalangan ilmuwan. Mirip seperti bunga desa, atau bunga kampus yang dibicarakan karena  kecantikannya. 

telo bakar, agak gosong
Jurnal banyak dicari, baik sebagai wadah tulisan, ataupun (isinya) sebagai referensi. Dia akan didekati karena kualitas isinya. Kadang, jika kesulitan menimbang isi, orang akan mencari bantuan pihak yang menyediakan angka-angka kualitas jurnal.

Orang yang tulisannya terbit di jurnal dengan kualifikasi apapun, akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang naik sekian persen, dibanding sebelumnya. Tentunya, terkait ilmu yang digelutinya. Tidak jauh beda dengan Odet di serial OK-Jek, yang kegantengannya naik setelah sisiran belah tengah dan pakai minyak wangi, waktu memacak diri menjemput Nurul. Masalah jaket dan celana jin yang dia pakai robek, tidak jadi masalah. 

Jika tulisan yang terbit di jurnal tersebut dikutip banyak orang, maka kepakaran ilmuwan menjadi tidak diragukan. Semua mata akan tertuju padanya, diperebutkan untuk bicara di berbagai forum terhormat. Jadwal manggung menjadi padat. Orang berebut menjemput kedatangannya, dengan penuh harap bisa ngobrol dan mencerap ilmunya. Satu mobil, atau sekedar memboncengkan akan terpatri dalam ingatan, dan menjadi bahan cerita pada handai taulan. "Saya pernah menjemput Paijo, lho. Ilmuwan yang baru selesai kuliah doktornya, masih fresh, dan artikelnya terbit di jurnal-jurnal top."

Maka, jika ingin kaffah dalam pergulatan ilmiah, ingin memiliki tingkat kePD-an dan kegantengan naik beberapa persen, serta naik level (ke)ilmuwan(nya), maka menulislah di jurnal. Apalagi, jika menulis di jurnal yang memiliki angka metrik yang tinggi. Selain terkenal, anda akan dapat bonus menggiurkan. Namun anda harus siap modal, karena kadang ada yang mematok harga, atau harus melewati acara konferensi yang juga perlu biaya. Atau anda harus sabar menunggu antrian para pe-review yang siap menghakimi tulisan anda.

Jurnal tetap akan diagungkan, meski ada kekurangan. Istilah jurnal abal abal, kita masih ingat?  Namun jurnal tetaplah jurnal,  yang dibekingi ilmuwan dengan pengalaman intelektual dan gelar segudang. Cap jurnal predator pun, akan di lawan. Meski itu masih taraf dimungkinkan. 

Begitulah jurnal, wadah, yang semakin banyak orang ingin menitipkan tulisannya di sana, maka semakin naik tingkat kegantengan jurnal tersebut. Bahkan, tidak sampai diterbitkan di jurnal tersebut pun tidak mengapa, asal pe-review berkenan mengomentari artikelnya. Antrian yang panjang, kadang menjadikan jurnal mendahului takdirnya. Ketika tahun baru berjalan, namun sudah terbit artikel untuk tahun atau periode yang akan datang. 
"Mendahului takdir, yang dianggap ilmiah, sepertinya ya cuma terkait penerbitan jurnal".
Sistem bersepakat, bahwa identitas jurnal memang lebih prestisius.  Kesepakatan itu tentunya berimplikasi luas. Itulah sistem, yang bisa kalem, bisa juga kejam.

Pendorongan orang kepada orang untuk menulis di jurnal, pun penghargaan pada orang yang menulis di jurnal, juga bermunculan.  Sebaliknya, orang dengan artikel jurnal sedikit, akan tersisih, atau disisihkan oleh keadaan. Orang dengan keadaan yang demikian, pengembaraan intelektualnya dianggap belum paripurna,  ilmunya dianggap belum teruji. 

Artikel yang telah masuk jurnal, jangan coba-coba letakkan di tempat lain. Bisa kena pinalti, meskipun itu tulisan anda sendiri, kecuali anda punya nyali. Setelah jurnal menerbitkan tulisan anda, maka jurnal memiliki hak tunggal penyebaran tulisan anda, kecuali jurnal mengatakan lain.  Maka membaca aturan main sebuah jurnal harus teliti. Bahkan, sangat mungkin untuk jurnal tipe tertentu, anda akan kesulitan memperoleh artikel anda sendiri yang telah diterbitkan sebuah jurnal. Anda pun harus membayar untuk memperolehnya. Aneh? Tidak! Itulah bisnis.
Kejam, namun demikianlah kesepakatan itu. 
Jurnal memang berbeda dengan blog. Blog, sebagai sebuah media yang kasta keilmiahannya di bawah jurnal, juga merupakan media untuk menulis. Jarak kasta blog ini semakin jauh, sejak muncul blog beromset, dengan berita gorengan, yang mempermainkan psikologi masyarakat, untuk menaikkan klik, demi segepok dollar.  Blog-blog tersebut, tentu sangat menyakiti,  merendahkan dan mencemarkan martabat blogger, terutama yang baru belajar, seperti saya.

Blog, oleh para ilmuwan tidak disarankan untuk dikutip begitu saja, atau bahkan tidak boleh sama sekali. Alasannya, bebeda dengan jurnal yang memiliki pe-review, blog (pribadi) tidak memilikinya. Orang bisa menulis di blog, semaunya, sekali klik maka terpampanglah tulisannya di dunia maya. Coba bandingkan dengan proses jurnal yang harus melalui reviewer, bahkan kadang berbulan-bulan baru bisa terbit. Atau bahkan berbulan-bulan malah baru dapat komentar reviewer, itupun jika masih beruntung. Jika tidak, maka penantian lama hanya berbuah penolakan saja.

------

Apa tujuan menulis?

Setiap orang berhak menentukan tujuan dia menulis. Terpaksa dilakukan untuk mengejar angka kredit, demi meraih jenjang guru besar, pustakawan utama, honor, aktualisasi diri, kewajiban akademik, mengikuti tren, atau alasan karena tidak mau kalah dengan seseorang. Atau mungkin alasan sakral ingin menyebarkan ide dan pikirannya sebagai sebuah bentuk ibadah, serta alasan lainnya. Mana alasan yang didahulukan? hanya masing-masing penulislah yang mengetahuinya.

"Menuliskah buku! maka namamu akan dikenang harum, bahkan setelah meninggal". "Menulislah, maka kamu akan mengubah dunia".  "Menulislah!, maka kamu akan hidup abadi". "Menulislah!, maka kamu akan cepat naik pangkat". "Menulislah!, maka kamu akan....". Atas bisikan tersebut, maka, seseorang menulis . Atau ada pula yang tanpa bisikan tersebut, secara sadar seseorang menulis.  Entah agar namanya harum dikenang, entah karena berharap tulisannya bisa mengubah dunia. 

Setiap orang punya keunikannya sendiri dalam menulis. Menulis di blog, memiliki kebebasan, tanggungjawab, dan kemerdekaannya sendiri. Demikian pula, menulis buku, di jurnal, konferensi, atau sekedar menulis dalam bathin kita. Di manapun, berusahalah agar tulisan kita hidup, dan memiliki makna. 

Bukan tentang di mana kita menulis, tapi apakah kita butuh menulis? Bukan tentang apakah tulisan kita akan mengubah dunia, tapi apakah kita sendiri sudah berubah menjadi seperti yang kita tulis (tawarkan) pada orang lain?

Kepada para blogger yang senasib belum mampu menulis di jurnal, yakinlah!, Tuhan bersama kita. Teriring do'a, semoga artikel Paijem segera terbit, agar ilmunya segera sempurna. Yang penting lagi, setelah terbit, Paijem tetap menulis. Tidak kalah penting lagi, tulisan dan risetnya bermanfaat bagi ummat manusia. Aamiin.

Salam sambel bawang.

Sambisari,
hari ke duapuluh empat, bulan ke tujuh, tahun duaribu tuju belas.
dua belas, tiga enam pagi

Thursday, 13 July 2017

, , , , ,

Menaklukkan Scopus secara bermartabat

Purwo.co Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui peraturan nomor 20 tahun 2017 memberlakukan beberapa ketentuan terkait dosen. Bagi dosen dengan jabatan lektor kepala harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional terakreditasi; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Sementara itu, bagi professor harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional bereputasi, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Dikaitkan dengan jurnal internasional, atau jurnal internasional bereputasi, nama Scopus mencuat.

Ketika membahas Scopus, hal pertama yang harus digaris bawahi adalah pengindeks, bukan penerbit. Scopus yang saat ini populer di Indonesia, merupakan alat pengindeks ribuan jurnal internasional. Pengindeksan dilakukan dengan menerapkan kriteria tertentu. Indeks yang dilakukan, kemudian diolah, dan hasilnya adalah berbagai informasi tentang artikel, penulis, jurnal, institusi atau bahkan negara. Bisa dianalogikan dengan Google Scholar, namun dengan menerapkan syarat tertentu. Jika ingin karyanya terindeks Scopus, maka seorang penulis harus mencari jurnal yang telah terindeks Scopus.

Tidak banyak jurnal di Indonesia yang masuk di dalam indeks Scopus. Tercatat sampai pada tanggal 3 Maret 2017, terdapat 26 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus. Sementara itu, data tanggal 3 Maret 2017 menunjukkan kurang lebih 58.000 dokumen terindeks Scopus dengan afiliasi penulis dari Indonesia. Jika diperbandingkan, maka kecil kemungkinan 58.000 dokumen tersebut diterbitkan semua pada 26 jurnal yang disebutkan sebelumnya. Sebaliknya, besar kemungkinan, dari 58.000 dokumen tersebut lebih banyak diterbitkan di berbagai jurnal yang penerbitnya bukan institusi di Indonesia.

Kondisi di atas cukup memprihatinkan. Jika genre jurnal dari luar Indonesia yang mewadahi tulisan akademisi Indonesia ini bukan open-access, maka akses pada hasil tulisan yang sudah terbit di jurnal luar Indonesia tersebut pun akan sulit, karena harus membayar. Inilah masalahnya, dikhawatirkan hasil riset akademisi Indonesia justru akan dikuasai oleh penerbit raksasa di luar negeri dan sulit diakses akademisi Indonesia, karena harganya yang begitu mahal. Masalah lain yang muncul, meskipun menurut saya hanya efek sampingan, adalah terjebaknya akademisi pada jurnal atau konferensi abal-abal, karena ketidaktahuan dan ketidak hati-hatian ketika dipacu untuk menerbitkan tulisan pada level internasional.

Tulisan yang bagus, dan jurnal yang berkualitas
Kemristekdikti, sepertinya menghendaki agar akademisi di Indonesia semakin produktif meneliti dan menulis. Dilanjutkan dengan menerbitkan tulisan tersebut di jurnal yang berkualitas. Terdapat dua kata kunci yang perlu digaris bawahi, yaitu tulisan bagus, dan jurnal yang berkualitas. Tentunya tulisan yang bagus dan jurnal yang berkualitas, perlu kriteria. Mulai dari proses riset yang berkualitas, tema tulisan, editor, reviewer, layout, impact factor jurnal dan lainnya.
Kemristekdikti perlu standard untuk menilai dua hal di atas. Pada wilayah inilah, Scopus dipakai sebagai standard. Entah Scopus yang menawarkan, atau Kemristekdikti yang memilih dan memutuskan.
Tentunya ada kekhawatiran yang muncul pada para dosen lektor kepala dan profesor, hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Mulai dari kemungkinan ketidaktahuan tentang jurnal bereputasi yang dimaksudkan Kemristekdikti, tidak cukupnya jurnal di Indonesia sebagai wadah publikasi, pemahaman yang belum sepenuhnya benar tentang Scopus. Sebab lainnya bisa juga karena iklim meneliti dan menulis yang belum bagus karena kewajiban mengajar yang harus dipenuhi, ditambah beban administrasi yang harus diselesaikan. Atau budaya akademik, khususnya menulis di jurnal, pada masing-masing bidang ilmu yang berbeda-beda.

Kolaborasi menaklukkan Scopus
Sebatas pengetahuan penulis, Scopus hanya merupakan alat. Kriteria yang dimiliki Scopus, oleh pengelola jurnal dapat dijadikan sebagai tolok ukur posisi jurnal yang dikelolanya. Pengelola jurnal pun dapat menentukan target-target perbaikan pengelolaan jurnalnya, disesuaikan dengan kriteria yang dimiliki Scopus, untuk kemudian mendaftakan jurnal pada pengindeks tersebut. Terindeksnya jurnal di Scopus, berarti sama dengan menaklukkannya, sehingga nilai tawar jurnal akan menjadi tinggi di mata penulis. Jika telah terindeks, pengelola dapat mengetahui posisi jurnal diantara jurnal lain dengan scope dan focus yang sama dari berbagai negara, melalui angka quartile, h-indeks, citescore, impact factor, dan lainnya.
Sementara itu, bagi penulis artikel, data olahan Scopus dapat digunakan untuk memperoleh informasi posisi dia di antara penulis lain dari berbagai negara. Dinilai dari konten artikel, tidak ada ruginya. Jika tulisan dan jurnal terindeks, maka sebenarnya Scopus mengakui, namun tidak memiliki. Mengakui kualitas artikelnya, namun tidak memiliki fisik file artikel yang ditulis oleh penulis. Tidak ada ruginya, bukan?.

Menaklukkan Scopus dan berbagai pengindeks lainnya dengan cara demikian, lebih bermartabat dari pada menggunggat Scopus dan pengindeks lainnya. Meningkatnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks Scopus, berarti semakin meningkat pula wadah menulis bagi para akademisi Indonesia.
Dari paparan di atas, kondisi ideal untuk menaklukkan Scopus ditopang dua hal. Pertama, dari sisi penulis sendiri serta dukungan lingkungan untuk meneliti dan menulis. Kedua, tersedianya jurnal berkualitas, khususnya yang dikelola oleh kampus. Selain itu, dukungan elemen lain, misalnya pustakawan dalam mendukung proses komunikasi ilmiah para akademisi juga perlu ditingkatkan.

Dunia perjurnalan di Indonesia, sedang memperlihatkan keseriusannya. Munculnya Arjuna sebagai sarana akreditasi secara online, munculnya Relawan Jurnal Indonesia yang siap membantu pengelolaan jurnal, dibentuknya unit khusus yang mengurusi jurnal di berbagai perguruan tinggi, lahirnya Sinta Dikti sebagai alat monitor produktifitas akademisi, merupakan beberapa contoh keseriusan tersebut. Dari sisi pustakawan, mulai bermunculan pustakawan yang juga belajar dunia penerbitan ilmiah, berbagai metrik jurnal, dunia tata tulis, untuk mendampingi pemustaka dalam proses scholarly communication. Dukungan tersebut, tentunya adalah hal positif, untuk bersama-sama menaklukkan Scopus.

Keseriusan pengelola jurnal di Indonesia, agar dapat menaklukkan berbagai pengindeks tersebut, harus terus dipacu. Dengan semakin banyak yang terindeks Scopus, maka, pilihan jurnal terbitan Indonesia sebagai wadah karya akademisi Indonesia juga akan semakin banyak. Setelah terindeks, kualitas tetap harus dijaga. Jangan sampai, karena telah terindeks Scopus, kemudian mengendorkan tata kelola jurnal, menerima artikel dengan tanpa proses yang benar, hanya karena pesanan pejabat yang hendak naik pangkat. Jika telah banyak jurnal yang mampu menaklukkan Scopus, maka Scopus sudah bukan barang aneh dan menakutkan lagi. Submit artikel yang bagus pada jurnal bereputasi, menjadi jamak dilakukan. Terindeks Scopus, nantinya hanya menjadi bonus saja.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan agar riset tidak sia-sia, yaitu kemudahan akses artikel hasil riset. Memilih jurnal open access, akan meningkatkan sebaran tulisan hasil riset, terutama bagi yang berkepentingan, namun terbatas secara finansial.

Ditulis bulan maret 2017. Baru diunggah bulan Juli 2017