Showing posts with label scholarly communication librarian. Show all posts
Showing posts with label scholarly communication librarian. Show all posts

Friday, 29 March 2019

,

Dua extension di browser ini akan membantumu menemukan artikel ilmiah (pustakawan harus tahu, lho).

Paijo: Kang, ini ada alat baru. Bisa membuat pustakawan 6.0.
Karyo: Kok bisa? apa itu pustakawan 6.0?
Paijo: Pustakawan yang menang 6, lawannya 0.
Karyo: wo, itu remi, Jo.

Keduanya merupakan extension gratis untuk dipasang di browser. Saya coba di Chrome dan berhasil.
Intinya, dengan extensi ini, browser mendeteksi artikel ilmiah yang dibuka oleh user itu kategori open access, ada hak akses atau tidak/bukan.

Tentu saja akan memudahkan kita, karena bisa cepat tahu sebuah artikel itu bebas akses, atau berbayar.

Karyo: apik itu, Jo.

Jika open access atau ada hak akses, maka kita akan disuguhi icon unduh oleh extension, baik Unpaywall ataupun Kopernio. Tinggal klik, kita dapatkan file .pdf-nya.

Silakan dicoba.


http://unpaywall.org/

An open database of 22,839,854 free scholarly articles. 
We harvest Open Access content from over 50,000 publishers and repositories, and make it easy to find, track, and use.







https://kopernio.com/

Integrates with Web of Science, Google Scholar, PubMed and 20,000 other sites. 
Navigate paywalls Automatically search university library subscriptions, pre-print servers and institutional repositories for PDFs.




******


"Unpaywall is transforming Open Science" — Nature feature article, August 2018



Wednesday, 24 October 2018

, ,

ZBib: mengelola beberapa referensi mudah sekali

Kalau kita punya referensi banyak, biasanya dikelola menggunakan software manajemen referensi. Semacam Zotero atau Mendeley. Namun, untuk kepentingan kecil, kita bisa gunakan software online macam ZoteroBIB.

Alamatnya ada di https://zbib.org. 


Pencarian referensi berdasar URL
Pada tampilan di atas, kita bisa mencari metadata daftar pustaka berdasar DOI, URL, PMID, Arciv, atau title. ZBib akan mencarikan data lengkapnya, dan menampilkan style daftar pustakanya.


Pencarian referensi berdasar judul


Daftar referensi yang ditemukan

Di atas contoh daftar referensi yang sudah ditemukan, dan disusun berdasar style yang dipilih. Style ini bisa diganti sesuai style yang tersedia. Ada 9000 lebih style yang tersedia. Daftar referensi yang sudah tersusun, bisa disalin ke aplikasi pengolah kata yang kita gunakan. Atau bisa juga secara online dikirimkan pada orang lain untuk diedit atau digunakan.

salin daftar pustaka
Untuk menyalin daftar pustaka yang tersusun, klik copy to clipboard, dan tempel di aplikasi pengolah kata yang digunakan.
membuat URL untuk dikirim pada orang lain

Kita juga bisa membuat URL untuk dikirim pada orang lain. URL ini memuat informasi daftar pustaka yang kita buat. Orang yang memperoleh URL tersebut bisa mengedit dan menggunakannya.




Wednesday, 26 September 2018

,

Open Knowledge Maps: cari, temukan, dan identifikasi

A visual interface to the world's scientific knowledge, demikian jargon dari website ini, https://openknowledgemaps.org/. Dengan tool ini, peneliti bisa memperoleh informasi tentang informasi ilmiah dari berbagai sumber dalam bentuk map. Melalui 3 langkap: get an overview - find papers - identify relevant concepts, peneliti disajikan peta yang dapat diterjemahkan untuk menentukan riset yang hendak dilakukan.

Ada empat keuntungan yang ditawarkan oleh alat ini:

Get an overview of a research topic: knowledge maps provide an instant overview of a topic by showing the main areas at a glance, and papers related to each area. This makes it possible to easily identify useful, pertinent information.


Identify relevant concepts: one of the most difficult tasks when you are new in a research field is to learn the “language” of the field. Open Knowledge Maps makes it easier for you by labeling research areas with relevant concepts.


Separate the wheat from the chaff: we cluster similar papers together. This makes it easier to identify relevant content when you are searching for an ambiguous term, or when you would like to identify content from a single discipline in a multidisciplinary field.


Find open content: our knowledge maps include both closed and open access papers. However we highlight open access papers - and the majority of those papers can be read from within the interface. And if not, the fulltext is only a click away.

 Sebagai contoh, saya tuliskan kata kunci "green energy" pada BASE all diciplines.



Maka akan ditampilkan hasil yang memuat topik dan referensi yang terkait.


Pada gambar di atas terlihat hamparan topik terkait green energy yang diwakili pada tiap lingkaran yang terkadang saling beririsan dengan lingkaran lainnya. Setiap lingkaran, berisi judul artikel terkait. Jika lingkaran diklik, maka kita akan disuguhkan ditail referensi dan tautannya.

Wednesday, 15 August 2018

, ,

Software terkait analisis bibliometrik

Di suatu pagi, Paijo ngecek email. Ada email baru masuk. Seorang mahasiswa S3 mengirim artikelnya, yang baru saja terbit di jurnal internasional. Artikel itu membahas tentang analisis bibliometrik subyek ilmu yang sedang dikajinya. Agaknya dia sedang memetakan dan memilih kajiannya agar dapat menentukan novelty penelitiannya. "Terimakasih atas bantuannya, Pak", demikian dia sampaikan pada Paijo via email. Tentu senang dan gembira  dirasakan Paijo. Beberapa materi pelatihan yang Paijo berikan bisa digunakan untuk melakukan kajian dan menuliskannya di artikel.

###

Scopus (scopus.com)
Sebenarnya ini bukan software, tapi lebih ke semacam sistem informasi. Atau lebih tepat lagi disebut sebagai pengindeks.

Scopus, dengan mekanisme tertentu mengindeks berbagai jurnal. Tentunya menggunakan metode dan ada syaratnya. Hasil indeks diolah, kemudian setelah matang, lalu dimakan  sajikan.  Data Scopus ini tidak gratis, namun harus ditebus dengan uang dollar. Informasinya memuat performance jurnal, artikel, negara, peneliti. Termasuk info jejaring dan lainnya.
Baca juga Apa saja maanfaat Scopus bagi seorang peneliti? (pustakawan juga harus tahu)

ScimagoJR (scimagojr.com)
JR, bukan berarti Junior, apalagi Koboi Junior. Bukan, tentu saja bukan. JR kependekan dari Journal Rank, alias peringkat jurnal. Ya, Scimago ini mengambil data di Scopus, kemudian diolah lagi. Angka hasil olahan digunakan untuk memeringkatkan jurnal. Di Scimago dikenal istilah Q alias Quartile. Ada Q1,2,3,4. Artinya pemeringkatan jurnal dibagi 4. Seperempat terendah, seperempat di atasnya, seperempat di atasnya lagi, dan seperempat paling atas.

Konon, menembus jurnal ber Q1, sangat sulit. Lebih sulit dari menembus pertahanan Real Madrid.

PoP (https://harzing.com/resources/publish-or-perish)
PoP, tidak dibaca pop, tapi P-o-P alias Publish or Perish. Istilah ini sudah dikenal luas: terbit atau mati. Namun PoP ini juga nama sebuah software. PoP bisa mengambil data dari GS dan menampilkan serta menyimpannya. Hasilnya bisa dianalisis menggunakan VosViewer. GS itu bukan Ganteng Srigala, lho. Tapi Google Scholar.
Baca juga Publish or Perish Software.

VosViewer (http://www.vosviewer.com/)
salah satu hasil di Vosviewer
Nah, ini software keren. VV menampilkan data biblio dalam bentuk visual. Teman-teman pasti sepakat, bahwa visual itu lebih banyak makna dari pada sebaris kata-kata. Sepotong coklat lebih berarti daripada perkataan ai lov yu. Ya, meski cuma sepotong coklat. Entah bayar kontan atau hasil ngutang di kantin kampus.

VV menampilkan jejaring penulis, kaitan antar subyek, jejaring negara, dalam bentuk visual. Ada perbedaan warna pada masing-masing kedalamannya. Kedalaman ini ditentukan oleh kuantitas data yang dihidung. Misal: jika kata perpustakaan itu banyak, maka dia akan pekat, dibanding kata lainnya.

Selain VV ada juga software sejenis HistCit,  BibExcel, Pajek, Sci2, Cytoscape, Gephy, atau lihat di sini untuk daftar lengkapnya.

Beberapa contoh penelitian bibliometrik yang menggunakan aplikasi di atas:

  1. Visualization and analysis of SCImago Journal & Country Rank structure via journal clustering
  2. Bibliometric analysis of the term 'green manufacturing'




Monday, 7 August 2017

,

Cara menghitung h-index dan g-index

note: mohon koreksi jika pemahaman saya keliru.

Purwo.co - Dalam dunia tulis menulis –ilmiah-, dikenal beberapa indikator karya penulis. Indikator menunjukkan seberapa besar produktifitas penulis, dan pengaruhnya pada penulis lain. Dua diantaranya h-indeks dan g-indeks. H-index juga kerap dihitung untuk lembaga atau jurnal.

Baca juga: Menulis di jurnal: ikut-ikutan, kebutuhan, atau terperangkap pada keadaan?
Sumber Wikipedia
H-indeks, dipopulerkan oleh JE Hirsch. H mengacu pada Hirsch. H-index merupakan angka, yang menunjukkan jumlah (h) artikel yang masing-masing artikel itu dikutip minimal sejumlah h. Atau titik temu antara jumlah artikel dan jumlah dikutip.Sehingga misalnya seseorang memiliki h-indeks 10, maka dari semua dokumen yang ditulisnya, terdapat 10 dokumen yang masing-masing dari 10 itu, telah dikutip minimal 10 kali.

Pada hitungan h-index, dimungkinkan sebuah artikel telah dikutip ratusan kali, namun karena artikel berikutnya sesuai urutan banyaknya dikutip, hanya memiliki jumlah kutipan sedikit, maka h-index-nya juga kecil. H-index dihitung terkait masing-masing dokumen dan jumlah dikutipnya. Jumlah dikutip pada dokumen lain, tidak berpengaruh dokumen lainnya. Sehingga sebaran atau bobot keseimbangan jumlah dikutip pada masing-masing dokumen menjadi penting.

Baca juga: Menaklukkan Scopus secara bermartabat

G-index, juga berwujud angka. G-index diusulkan oleh Leo Egghe. G-index ditawarkan setelah munculnya h-index, dengan lebih menghargai jumlah akumulasi kutipan pada artikel. Jumlah dikutip sebuah dokumen dapat berpengaruh pada dokumen lain dalam menghitung g-index. G-index menekankan pada rata-rata dikutip. Atau dalam kata lain, angka pada g-indek  merupakan jumlah rata-rata dikutip secara keseluruhan, setelah diurutkan sampai angka g.

Menghitung g dan h-index, harus dilakukan dengan menghitung artikel + jumlah dikutipnya, kemudian diurutkan dari yang paling banyak.

Mari kita lihat contoh penentuan g dan h-index berikut ini.

Jumlah kali dikutip
Urutan dokumen ke:
Akumulasi jumlah dikutip
Urutan dokumen ke, dikuadratkan
30
1
30
1
25
2
55
4
23
3
78
9
21
4
99
16
19
5
118
25
17
6
135
36
16
7
151
49
16
8
167
64
15
9
182
81
14
10
196
100
12
11
208
121
10
12
218
144
9
13
227
169
8
14
235
196
7
15
242
225
6
16
248
256
5
17
253
289

H dan g-index merupakan angka pada urutan dokumen ke, setelah dokumen diurutkan berdasar jumlah dikutip.

Dari tabel di atas, maka h-index-nya adalah 11. Karena, pada urutan ke 11 inilah, memenuhi syarat: minimal 11 dokumen, yang masing-masing dikutip minimal 11 kali. Jika dinaikkan menjadi 12, menjadi tidak memenuhi syarat, karena dokumen ke 12 hanya dikutip 10 kali.

Jika ingin menaikkan h-indeks, maka harus ada pertambahan jumlah kutipan pada artikel secara berimbang. Titik perimbangan itulah yang akan menentukan angka h-index.

Jumlah artikel pada h-indeks bisa disebut "kualitas" penulis, sementara jumlah kutipan mewakili kualitas artikel.


Sementara g-index-nya 15.  Pada urutan ke 15 ini, akumulasi dikutipnya 242 kali. Dan jika dikuadratkan, 15 bernilai 225, masih terpenuhi dengan angka 242 kali. Namun, jika dinaikkan menjadi 16, menjadi tidak terpenuhi, karena akumulasinya hanya 248, sedangkan kuadrat dari 16 adalah 256. Masih kurang 8 angka. 


Costas (2018) menyatakan dalam penelitiannya, bahwa g dan h, saling melengkapi. “Current research suggests that these indexes do not substitute each other but that they are complementary”.





Sambisari, hari ke tujuh, bulan delapan
dua ribu tujuh belas
pagi hari. enam, sembilan menit.

Referensi:
Costas, R., & Bordons, M. (2008). Is g-index better than h-index? An exploratory study at the individual level. Scientometrics, 77(2), 267–288. https://doi.org/10.1007/s11192-007-1997-0

Egghe, L. (2006). Theory and practise of the g-index. Scientometrics, 69(1), 131–152. https://doi.org/10.1007/s11192-006-0144-7

Hirsch, J. E. (2005). An index to quantify an individual’s scientific research output. Proceedings of the National Academy of Sciences, 102(46), 16569–16572. https://doi.org/10.1073/pnas.0507655102

baca juga:
Christoph Bartneck & Servaas Kokkelmans (2011). "Detecting h-index manipulation through self-citation analysis"Scientometrics 87 (1): 85–98. PMC 3043246PMID 21472020doi:10.1007/s11192-010-0306-5

Thursday, 13 July 2017

, , , , ,

Menaklukkan Scopus secara bermartabat

Purwo.co Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui peraturan nomor 20 tahun 2017 memberlakukan beberapa ketentuan terkait dosen. Bagi dosen dengan jabatan lektor kepala harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional terakreditasi; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Sementara itu, bagi professor harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional bereputasi, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Dikaitkan dengan jurnal internasional, atau jurnal internasional bereputasi, nama Scopus mencuat.

Ketika membahas Scopus, hal pertama yang harus digaris bawahi adalah pengindeks, bukan penerbit. Scopus yang saat ini populer di Indonesia, merupakan alat pengindeks ribuan jurnal internasional. Pengindeksan dilakukan dengan menerapkan kriteria tertentu. Indeks yang dilakukan, kemudian diolah, dan hasilnya adalah berbagai informasi tentang artikel, penulis, jurnal, institusi atau bahkan negara. Bisa dianalogikan dengan Google Scholar, namun dengan menerapkan syarat tertentu. Jika ingin karyanya terindeks Scopus, maka seorang penulis harus mencari jurnal yang telah terindeks Scopus.

Tidak banyak jurnal di Indonesia yang masuk di dalam indeks Scopus. Tercatat sampai pada tanggal 3 Maret 2017, terdapat 26 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus. Sementara itu, data tanggal 3 Maret 2017 menunjukkan kurang lebih 58.000 dokumen terindeks Scopus dengan afiliasi penulis dari Indonesia. Jika diperbandingkan, maka kecil kemungkinan 58.000 dokumen tersebut diterbitkan semua pada 26 jurnal yang disebutkan sebelumnya. Sebaliknya, besar kemungkinan, dari 58.000 dokumen tersebut lebih banyak diterbitkan di berbagai jurnal yang penerbitnya bukan institusi di Indonesia.

Kondisi di atas cukup memprihatinkan. Jika genre jurnal dari luar Indonesia yang mewadahi tulisan akademisi Indonesia ini bukan open-access, maka akses pada hasil tulisan yang sudah terbit di jurnal luar Indonesia tersebut pun akan sulit, karena harus membayar. Inilah masalahnya, dikhawatirkan hasil riset akademisi Indonesia justru akan dikuasai oleh penerbit raksasa di luar negeri dan sulit diakses akademisi Indonesia, karena harganya yang begitu mahal. Masalah lain yang muncul, meskipun menurut saya hanya efek sampingan, adalah terjebaknya akademisi pada jurnal atau konferensi abal-abal, karena ketidaktahuan dan ketidak hati-hatian ketika dipacu untuk menerbitkan tulisan pada level internasional.

Tulisan yang bagus, dan jurnal yang berkualitas
Kemristekdikti, sepertinya menghendaki agar akademisi di Indonesia semakin produktif meneliti dan menulis. Dilanjutkan dengan menerbitkan tulisan tersebut di jurnal yang berkualitas. Terdapat dua kata kunci yang perlu digaris bawahi, yaitu tulisan bagus, dan jurnal yang berkualitas. Tentunya tulisan yang bagus dan jurnal yang berkualitas, perlu kriteria. Mulai dari proses riset yang berkualitas, tema tulisan, editor, reviewer, layout, impact factor jurnal dan lainnya.
Kemristekdikti perlu standard untuk menilai dua hal di atas. Pada wilayah inilah, Scopus dipakai sebagai standard. Entah Scopus yang menawarkan, atau Kemristekdikti yang memilih dan memutuskan.
Tentunya ada kekhawatiran yang muncul pada para dosen lektor kepala dan profesor, hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Mulai dari kemungkinan ketidaktahuan tentang jurnal bereputasi yang dimaksudkan Kemristekdikti, tidak cukupnya jurnal di Indonesia sebagai wadah publikasi, pemahaman yang belum sepenuhnya benar tentang Scopus. Sebab lainnya bisa juga karena iklim meneliti dan menulis yang belum bagus karena kewajiban mengajar yang harus dipenuhi, ditambah beban administrasi yang harus diselesaikan. Atau budaya akademik, khususnya menulis di jurnal, pada masing-masing bidang ilmu yang berbeda-beda.

Kolaborasi menaklukkan Scopus
Sebatas pengetahuan penulis, Scopus hanya merupakan alat. Kriteria yang dimiliki Scopus, oleh pengelola jurnal dapat dijadikan sebagai tolok ukur posisi jurnal yang dikelolanya. Pengelola jurnal pun dapat menentukan target-target perbaikan pengelolaan jurnalnya, disesuaikan dengan kriteria yang dimiliki Scopus, untuk kemudian mendaftakan jurnal pada pengindeks tersebut. Terindeksnya jurnal di Scopus, berarti sama dengan menaklukkannya, sehingga nilai tawar jurnal akan menjadi tinggi di mata penulis. Jika telah terindeks, pengelola dapat mengetahui posisi jurnal diantara jurnal lain dengan scope dan focus yang sama dari berbagai negara, melalui angka quartile, h-indeks, citescore, impact factor, dan lainnya.
Sementara itu, bagi penulis artikel, data olahan Scopus dapat digunakan untuk memperoleh informasi posisi dia di antara penulis lain dari berbagai negara. Dinilai dari konten artikel, tidak ada ruginya. Jika tulisan dan jurnal terindeks, maka sebenarnya Scopus mengakui, namun tidak memiliki. Mengakui kualitas artikelnya, namun tidak memiliki fisik file artikel yang ditulis oleh penulis. Tidak ada ruginya, bukan?.

Menaklukkan Scopus dan berbagai pengindeks lainnya dengan cara demikian, lebih bermartabat dari pada menggunggat Scopus dan pengindeks lainnya. Meningkatnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks Scopus, berarti semakin meningkat pula wadah menulis bagi para akademisi Indonesia.
Dari paparan di atas, kondisi ideal untuk menaklukkan Scopus ditopang dua hal. Pertama, dari sisi penulis sendiri serta dukungan lingkungan untuk meneliti dan menulis. Kedua, tersedianya jurnal berkualitas, khususnya yang dikelola oleh kampus. Selain itu, dukungan elemen lain, misalnya pustakawan dalam mendukung proses komunikasi ilmiah para akademisi juga perlu ditingkatkan.

Dunia perjurnalan di Indonesia, sedang memperlihatkan keseriusannya. Munculnya Arjuna sebagai sarana akreditasi secara online, munculnya Relawan Jurnal Indonesia yang siap membantu pengelolaan jurnal, dibentuknya unit khusus yang mengurusi jurnal di berbagai perguruan tinggi, lahirnya Sinta Dikti sebagai alat monitor produktifitas akademisi, merupakan beberapa contoh keseriusan tersebut. Dari sisi pustakawan, mulai bermunculan pustakawan yang juga belajar dunia penerbitan ilmiah, berbagai metrik jurnal, dunia tata tulis, untuk mendampingi pemustaka dalam proses scholarly communication. Dukungan tersebut, tentunya adalah hal positif, untuk bersama-sama menaklukkan Scopus.

Keseriusan pengelola jurnal di Indonesia, agar dapat menaklukkan berbagai pengindeks tersebut, harus terus dipacu. Dengan semakin banyak yang terindeks Scopus, maka, pilihan jurnal terbitan Indonesia sebagai wadah karya akademisi Indonesia juga akan semakin banyak. Setelah terindeks, kualitas tetap harus dijaga. Jangan sampai, karena telah terindeks Scopus, kemudian mengendorkan tata kelola jurnal, menerima artikel dengan tanpa proses yang benar, hanya karena pesanan pejabat yang hendak naik pangkat. Jika telah banyak jurnal yang mampu menaklukkan Scopus, maka Scopus sudah bukan barang aneh dan menakutkan lagi. Submit artikel yang bagus pada jurnal bereputasi, menjadi jamak dilakukan. Terindeks Scopus, nantinya hanya menjadi bonus saja.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan agar riset tidak sia-sia, yaitu kemudahan akses artikel hasil riset. Memilih jurnal open access, akan meningkatkan sebaran tulisan hasil riset, terutama bagi yang berkepentingan, namun terbatas secara finansial.

Ditulis bulan maret 2017. Baru diunggah bulan Juli 2017

Saturday, 18 February 2017

Mencari artikel di Scopus yang mengutip artikel di jurnal tertentu

Pengelola jurnal, kadang ingin mengetahui, artikel apa saja yang diterbitkan jurnalnya, yang dikutip oleh artikel yang terindeks Scopus.

Untuk mengetahui jumlah dan judul artikelnya, dapat dilakukan hal berikut:
Klik gambar untuk melihat dalam ukuran besar
  • Masuk di Scopus
Warga UGM bisa langsung ketik scopus.com, atau jika mengakses dari luar jaringan UGM, dapat masuk lebih dahulu ke http://ezproxy.ugm.ac.id, kemudian klik Scopus di nomor 35.
  • Lakukan pencarian, dengan kunci nama jurnal, sebagai REFERENSI. Misalnya mencari artikel yang mengutip dari artikel di jurnal Kawistara. Pencarian bisa di tab documents, atau di tab advanced
pencarian di Document

Pencarian di advanced


  • Hasil yang muncul, adalah jurnal yang dideteksi mengutip artikel dari jurnal pada kata kunci

  • Untuk melihat jurnal apa yang dikutip, cari teks "View Secondary Document", kemudian klik.


Tuesday, 13 December 2016

,

Apa pekerjaan sehari-hari Jeffrey Beall (admin scholarlyoa.com) sebagai Scholarly Communications Librarian?

Jeffrey Beall, merupakan sosok yang populer dengan ScholarlyOA.com-nya. Kadang, orang menyebut web ini dengan Beall List. Jurnal yang masuk di daftarnya Beall, akan dihindari untuk dijadikan sasaran submit artikel, atau minimal orang akan berhati-hati pada jurnal tersebut.

Saya tidak hendak membahas tentang kontroversi daftarnya Mas Beall ini, namun saya tertarik dengan pekerjaannya sebagai seorang pustakawan. Tertulis beliau adalah Scholarly Communication Librarian (SCL) di UCDenver. Nah, karena istilah SCL yang tertulis disamping nama Jeffrey Beall, maka saya kirim email pada 27 Juni 2016, untuk bertanya tentang pekerjaan sehari-harinya. Tentang JB, silakan klik http://www.purwo.co/2016/06/jeffrey-beall-sosok-scholarly.html.

Bertanya langsung pada praktisi pustakawan, adalah cara termudah, untuk mengetahui perkembangan layanan di tempat lain. Maklum, dengan keterbatasan saya mencerna naskah ilmiah para cerdik cendikia bidang perpustakaan dan menurunkannya pada tataran kerja riil di perpustakaan, maka saya memilih bertanya langsung.

Lah, email kirimanmu mana, Kang? -- Ssst, bahasa Inggrise belepotan.

Dan.. 17 jam sejak saya kirim email, saya dapat balasan.

Hi, Purwoko,

Thanks for your message. Here are some of the things I do:

  1. Advise students and faculty about good journals to publish their work in
  2. Keep up to date on anything related to scholarly communication, new programs, projects, companies, services, etc. (monitor social media, monitor scholarly literature)
  3. Serve as the library's copyright expert
  4. Work with others to develop workshops related to scholarly publishing
  5. Work at the reference desk and library chat (four hours per week)
  6. Inform my colleagues about changes and innovations in scholarly communication
  7. Help inform faculty members about how best to publicize and share their research
  8. Serve as an expert on scholarly metrics
  9. Serve as an expert on citation management software (like Mendeley)

I am also a faculty member, so research is part of my job. I sometimes write articles for publication, and I do work on my blog, and I answer many emails!

I also attend many meetings.

Nah, jelas sekarang, apa saja yang dilakukan JB sebagai pustakawan. Pekerjaan sehari-harinya inilah, yang sepertinya mendorong JB menulis tentang jurnal yang harus diwaspadai. Daftar jurnal tersebut menjadi topik yang hangat dibicarakan di Indonesia.

Saya rasa, pustakawan harus terus didorong, agar kerja-kerja kepustakawanannya mampu "menggerakkan" dan memberi pengaruh pada komunitas lain seperti Beall dengan penelitian tentang Openaccess, yang ditulis di ScholarlyOA.com.

Tentunya, ini perlu usaha. Bimbingan dan contoh dari para cerdik cendikia bidang perpustakaan tentunya sangat diharapkan para praktisi. Penyesuaian dengan kondisi perpustakaan masing-masing, tentunya juga harus dilakukan. Namun demikian, tetap harus disadari bahwa tak semua yang dari luar negeri itu langsung bisa diterapkan, dan tak semua yang dari Indonesia pasti tertinggal.

Tuesday, 25 October 2016

,

Mamanfaatkan Kelas Online ELISA UGM untuk layanan perpustakaan

Pemenang pertama kuis kelas online
Aplikasi online learning banyak dikembangkan oleh berbagai lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi. UGM, juga demikian. ELISA namanya, alamatnya di elisa.ugm.ac.id.

Pada aplikasi online tersebut, seorang dosen dapat membuat kelas, mengatur siapa saja yang bisa bergabung, membuat pokok bahasan, membuat kuis (perseorangan, kelompok, pilihan ganda atau essay) sekaligus menilainya. Membuat topik diskusi, mengunggah video atau slide kuliah, atau menautkannya dengan sumber referensi yang tersedia di perpustakaan.

Kami tertarik menggunakan Elisa ini, tentunya untuk perpustakaan yang kami kelola. Akhirnya, setelah kontak admin ELISA, saya disetel sebagai dosen ketika login ELISA. Sehingga, saya dapat membuat kelas dan lainnya.

loh, kowe kan dudu dosen tho, kang? 
Akhirnya, jadilah kelas ini:
Kelas online di http://elisa.ugm.ac.id/community/show/literasi-informasi/


Di kelas tersebut, kami membuat diskusi, mengundang orang, mempublikasikan dan membuat kuis berhadiah. Hadiahnya dari mana? cari berbagai dukungan.

Kelasmu itu sudah bagus po kang? --  Jelas durung tho, Lek. Wong lagi wae digawe, kok. 

Teman-teman pustakawan lain, mungkin bisa menengok perguruan tingginya, jika ada fasilitas serupa, bisa digunakan. Jika tidak ada, bisa membuat sendiri.

fitur Latex di Elisa

Kelas online ini, hanya sekedar suka-suka. Tanpa konsep yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun kami ucapkan terimakasih kepada Bu Purwani Istiana (Pustakawan Senior UGM), yang bersedia berdiskusi dan memberikan saran dalam pembuatan dan pemanfaatan kelas online ini. Kekurangan yang ada, murni dari kami.



note: kelas tersebut di bawah supervisi Ibu Purwani Istiana, MA. (Kepala Perpustakan Fakultas Geografi UGM)

Thursday, 20 October 2016

,

Menggunakan Latex untuk menulis artikel: tips, template, rumus, tabel

Pada umumnya, orang tahu Microsoft Word atau Libreoffice untuk menulis skripsi atau artikel atau dokumen lainnya. Padahal, ada bermacam software lain yang dapat digunakan untuk menulis. Misalnya Lyx, Latex, KingOffice.

Latex memang kurang populer, namun di kalangan mahasiswa Matematika atau fisika, agaknya menjadi software yang wajib diketahui. Beberapa jurnal, juga menyertakan template Latex untuk penulisan artikelnya, misalnya http://www.latextemplates.com/template/ieee, atau https://www.ieee.org/publications_standards/publications/authors/author_templates.html. Hasil dokumen yang diolah menggunakan Latex lebih bagus (menurut saya), presisi, rumusnya lebih pas (memangnya pakaian?..). Pokoke baguslah..

Yang ndak mau ribet belajar Latex, bisa mencoba converter word to latex. Saya belum coba hehe..., klik http://www.wordtolatex.com/

Kita bicara tentang Latex. Latex sebenarnya ada kemiripan dengan Lyx (kuwalik kayake). Lyx merupakan antarmuka dari Latex. Saya pernah membuat dokumen menggunakan Lyx, menantang namun menyenangkan dengan hasil yang memuaskan (unduh hasilnya di sini). Latex, saya kenal tahun 2005-an. Saat itu, seorang kawan, Rachmad Resmiyanto (dosen UIN Sukijo) menulis skripsinya menggunakan Latex. Lama tidak menggunakan, akhirnya lupa.

Ketika sesi sinau bareng di Perpustakaan FT UGM, menghadirkan seorang mahasiswa aktif pengguna Latex (Pak Warindi, mahasiswa S3 TETI UGM), memori saya kembali terbuka. "Menggunakan, atau tepatnya belajar Latex dengan studi kasus template Elsevier". Miktex dipasang sebagai antarmuka Latex. Kemudian mengunduh template Elsevier lengkap dengan cls, dan style daftar pustakanya. Ketika menuliskan abstrak, bab pendahuluan cukup kopas (kopi paste) dari Ms. Word ke section yang dimaksudkan. Nah, sulitnya adalah ketika membuat rumus, menyusun daftar pustaka, membuat tabel, dan menyisipkan gambar.


Membuat rumus
Rumus di latex ditulis dengan kode. Misal \frac \sum dan lainnya. Sulit bagi saya, karena saya tidak hafal nama kode tersebut. Sebagai jalan keluar, saya gunakan LyX.  LyX menyediakan GUI untuk pembuatan rumus, jika sudah jadi, tinggal ko-pas saja kodenya di halaman kerja Latex. Selesai.
Selain menggunakan LyX, dapat pula menggunakan web online latex4technic, misalnya. Cara kerjanya sama dengan LyX.

\sum\frac{1}{2\sqrt{2}}\int1 akan menghasilkan  


\int_{a}^{b} f(x)dx = F(b) - F(a) akan menghasilkan  


Menyusun daftar pustaka
Untuk menyusun daftar pustaka, diperlukan file style, dan file bib. Keduanya harus didefinisikan di dokumen tex. Perintah \bibliographystyle{ieeetr} berarti menggunaakan ieeetr sebagai style, sementara itu \bibliography{references_article} berarti menggunakan file references_article.bib sebagai sumber referensinya.

Contoh penulisan "kalimat \cite{kode}" untuk mendapatkan (Jones, Giannini and Chang, 2004). Atau "kalimat \citep{kode}" untuk mendapatkan Jones, Giannini and Chang (2004). Kecuali style IEEE, coba pakai \cite

Membuat tabel dan menyisipkan gambar
Perintah menyisipkan gambar adalah sebagai berikut:
\begin{figure}[h]
    \centering
    \includegraphics[width=4in, angle =0 ]{figure_6.pdf}
    \caption{Graph response of SN Ratio on calorific value of coconut shell charcoal}
    \label{fig : figure 6}
\end{figure}


Perintah di atas berarti menampilkan gambar dari file figure_6.pdf, dengan keterangan gambar sebagaimana disebut dalam caption. Gambar diberi label figure 6. Label ini bisa digunakan sebagai cross reference dalam dokumen.
Sementara itu, untuk memperbudah pembuatan tabel, bisa menggunakan file kecil latabel, atau menggunakan LyX. Caranya dengan membuat tabel sesuai kebutuhan, panggil kode latexnya, copy ke halaman kerja Latex.



Wednesday, 19 October 2016

,

Membaca metric-nya Google Scholar

Google Scholar (GS) juga mengembangkan metrik untuk membuat peringkat jurnal sekaligus menunjukkan angka kekuatannya. Tentu saja, jurnal yang ditampilkan adalah jurnal yang diindeks oleh google. Google Metric (GM) ini menampilkan informasi peringkat jurnal dalam berbagai bahasa, nama jurnal sesuai urutan peringkatnya, serta nilai indeks-h5 dan median-h5. Khusus yang berbahasa ingris, ditampilkan pula jurnal sesuai kategorinya.

Ssst, mau tahu kategori jurnal ilmu perpustakaan dan informasi? klik saja ini https://scholar.google.co.id/citations?view_op=top_venues&hl=id&vq=soc_libraryinformationscience

Angka 5 pada indeks-h5 dan median-h5 menunjukkan 5 tahun terakhir. Artinya indeks dihitung pada 5 tahun terakhir yang telah berlaku, demikian pula untuk mediannya.

Indeks-h5 adalah indeks-h untuk artikel-artikel yang diterbitkan pada 5 tahun terakhir. Ini adalah angka terbesar h sedemikian rupa sehingga artikel h yang diterbitkan pada 2011-2015 masing-masing memiliki setidaknya kutipan h
 Sementara itu,
Median-h5 untuk suatu terbitan adalah angka tengah kutipan untuk artikel yang membentuk indeks-h5
Pada saat artikel ini ditulis, sesuai dengan keterangan di laman GM, hasil dari GM adalah artikel yang diindeks Google Scholar sejak 2011-2015. Hasil indeks yang dihitung adalah pengindeksan pada Juni 2016. Mungkin ada yang bertanya-tanya, "kok, jurnalku gak mlebu, yo? . Itu bisa punya beberapa sebab. Mungkin karena artikelnya kurang dari 100 artikel dalam 5 tahun terhitung, tidak memenuhi guide dari GS, atau tidak ada yang mengutip :(. Cek selengkapnya di https://scholar.google.co.id/intl/id/scholar/metrics.html#coverage.

,

Jurnal: diindeks Proquest, tapi masuk daftar ScolarlyOA Jeffrey Beall

Saya menemukan jurnal, yang masuk di daftarnya Jeffrey Beall (JB), namun diindeks oleh Proquest (PQ). Jurnal tersebut berjudul "International Journal of Computer Science and Information Security". Pada https://scholarlyoa.com/individual-journals/ dapat dilihat pada gambar di samping. Jika di klik, tautan akan diarahkan ke https://sites.google.com/site/ijcsis/, yang menunjukkan identitas ISSN ISSN 1947 5500 .  Nah, sekarang silakan buka http://search.proquest.com/publication/616671/citation/C0C9B2996E044DE1PQ/1?accountid=13771. Jurnal tersebut ternyata juga diindeks oleh PQ. Tautan di atas memberi informasi identitas jurnal sebagai berikut:
Nomor ISSN sama dengan yang ada di web JB.

Agak aneh web tersebut. Selain webnya dibuat hanya menggunakan google site, artikel full text dari jurnal tersebut disimpan di academia.edu dan tempat lainnya. Namun, mengulang yang saya tulis di atas, juga disediakan tautan ke PQ. Silakan cek di https://sites.google.com/site/ijcsis/vol-13-no-12-dec-2015.

Eit, tunggu dulu.. tempat penyimpanan dan laman web yang menggunakan google site, bukan tolok ukur kualitas jurnal.  

Gambar di atas, memperlihatkan informasi tanggal kirim dan keputusan publikasi. Jarak antara terakhir dikirim dan pengumuman, hanya terpaut 3 hari. Informasi ini, sangat mungkin menjadikan orang ragu. "Jika ada paper yang disubmit tanggal 19, apa bisa cuma 3 hari proses reviewnya?". Keterangan berikutnya, yang tertulis "* Deadline extension to submit a paper can be offered on request.", ini mungkin juga akan menjadikan keraguan pada jurnal tersebut.

Lalu, bagaimana sebaiknya? Apakah yang masuk di web JB pasti diragukan atau malah predator?


Ada yang tidak ingin terjebak pada istilah "predator", kemudian menggunakan istilah "dipertanyakan". JB sendiri, pada web di atas menuliskan "Potential, possible, or probable predatory scholarly open-access journals"Artinya, daftar yang dibuat Beall, saya cenderung menggunakannya sebagai salah satu pedoman dalam menetapkan jurnal yang harus dihindari sebagai referensi, atau jurnal target.

Saya sendiri lebih cenderung bersikap hati-hati pada jurnal yang masuk di daftarnya Beall. Itung-itung, menggunakan daftar tersebut sebagai bantuan untuk mengidentifikasi jurnal yang akan digunakan sebagai referensi, atau disasar untuk menerbitkan artikel kita. Jika ada jurnal yang mau disasar ternyata ada di daftranya Beall, maka alangkah lebih baik jika  dibuka webnya, lalu diamati terkait: tanggal penting, siapa saja reviewernya, kalau perlu kontak ke penulis yang sudah pernah menerbitkan artikelnya disana.

Identifikasi kualitas jurnal, akan dibahas dipostingan lainnya.

Memang, bisa jadi lebih baik langsung dihindari. Toh, ada banyak jurnal lain yang bisa dijadikan sasaran untuk menerbitkan artikel. Mau aman? sasar jurnal yang Q1 atau Q2, dan ada atau terindeks di JCRnya Thomson Reuters.


Ssst, saya tidak menganjurkan menggunakan SJR, Scopus, dan TR sebagai satu-satunya tolok ukur, lho.. Tiga web tersebut, sebagai alat bantu identifikasi.