Showing posts with label pustakawan kreatif. Show all posts
Showing posts with label pustakawan kreatif. Show all posts

Friday, 15 January 2016

, ,

Mengawinkan Mendeley dengan Simpan.UGM (OwnCloud) untuk mengelola artikel permintaan mahasiswa

"Mas Bro, mosok saya install 3 Mendeley di komputer yang berbeda, maksudnya biar bisa bertukar data untuk mengelola artikel permintaan mahasiswa oleh 3 orang yang berbeda. Tapi, setelah sinkronisasi, ternyata semua komputer menyimpan semua file yang sama. Kan ngebak-ebaki. Piye iki?"

Rekan sekalian.., ternyata belajar memang dapat dipicu apa saja. Salah satunya, dari pertanyaan orang lain. Tidak semua pertanyaan, dapat terjawab. Pasti. Kadang kita harus mencari dulu jawabnya, baru disampaikan.
Mumet ki Dhab. Piye ya..
Akhirnya, saya mikir... dan karena ini hari Jumat, maka pertanyaan tersebut terbawa ke sholat Jumat. Jian... Tapi, saya dapat jalan keluarnya. Setelah Jum'atan, saya coba dan berhasil. Intinya mengawinkan Mendeley dengan aplikasi SIMPAN milik UGM yang menggunakan OwnCloud.

Ada yang belum tahu aplikasi Simpan.UGM? slentik kupinge.

Lakukan langkah satu dan dua di bawah ini pada komputer yang sama. Komputer ini yang nanti akan digunakan untuk mencari artikel dan menyimpannya dengan Mendeley.
Cara ini silakan dicoba, sangat mungkin ada cara lain. Santae wae Bro. Tapi, aplikasi ownCloud dalam tulisan ini mengacu ke server yang dimiliki UGM lho.. dari selain UGM, silakan menyesuaikan.

Install Mendeley
Install mendeley hanya di satu tempat saja. lakukan semua proses pengunduhan dari satu tempat ini.
Seting Mendeley, agar penyimpanan dokumen ditempatkan pada folder yang ditentukan. D://DATA, misalnya. Jangan lupa, seting rename file sesuai pengarang dan judul dan jurnal. Penamaan ini untuk mempermudah pencarian.
Ingat ya Kang, pada konteks tulisan ini, ketika melakukan penyimpanan ke Mendeley dilakukan dengan diunduh lebih dulu baru simpan ke Mendeley. Bukan menggunakan fitur Mendeley Web Importer (save to mendeley). Ssst, kecuali dengan Zotero, beda maning.

Install ownCloud Client
Instasll dan seting sincronisasi ownCloud ke folder tempat penyimpanan file yang dikelola dengan Mendeley.
Ssst, jangan lupa, ketika login ke ownCloud, gunakan akun UGM, dan arahkan server ke https://simpan.ugm.ac.id.


Nah, dengan dua langkah di atas, maka ketika dokumen dimasukkan dalam Mendeley, maka secara otomatis juga akan tersincronisasi ke layanan Cloudnya UGM.

Bagaimana jika mahasiswa meminta artikel, dan artikel tersebut sudah dimiliki dan dikelola dengan Mendeley?
Pustakawan yang melayani tidak harus menginstall dan membuka mendeley di komputernya. Layanan bisa dilakukan di mana saja (dengan catatan file sudah dikelola/dimiliki), dari komputer yang terkoneksi internet. Tidak harus di perpustakaan, di rumah juga bisa.

Caranya adalah:
Buka http://simpan.ugm.ac.id
Login dengan username dan password UGM yang sama dengan ketika seting ownCloud.
Setelah itu... tra lalalala.. Lihat, sudah ada file-file PDF yang nama filenya menggunakan nama pengarang-jurnal-judul artikel, sesuai dengan seting penamaan/rename file yang dilakukan di Mendeley?

Bagaimana mengirim ke yang membutuhkan? klik saja tombol "Bagikan", sesuai baris dokumen yang dibutuhkan. Lalu, ada dua pilihan: copy paste url download dan kirimkan ke email yang membutuhkan, atau langsung tulis email yang membutunkan, dan klik Kirim.
tampilan sincronisasi di OwnCloud SIMPAN.UGM

Terimakasih untuk Bu Martina Uki atas inspirasi siang ini.

Semoga bermanfaat, sik tak mbaleni le #madhiang

Wednesday, 30 December 2015

, ,

Study Guide and Strategies : apa pentingnya bagi pustakawan?

Hi bro...Ngubek-ubek inet mencari referensi tentang membaca, akhirnya menemukan. Secara umum ada istilah membaca cepat a.k.a Speed Reading (klik di sini), namun ada lagi konsep membaca yang disebug SQ3R, atau Survey, Question, Read, Recite and Review. Jika susun, kurang lebih menjadi: before you read, please SURVEY the chapter, make a QUESTION while you are surveying, then when you begin to READ....look for answers to the questions you first raised etc, RECITE after you've read a section..., and REVIEW: an ongoing process. Referensi tentang SQ3R ini saya peroleh dari http://www.studygs.net/texred2.htm. Selain web tersebut, juga dapat dilihat pengembangannya di http://www.ucc.vt.edu dan http://www.openpolytechnic.ac.nz.

Selain tentang membaca, ternyata web StudiGS juga menyediakan berbagai referensi tentang thinking, memorizing, reading critically, reading difficult material, dan lain-lain.
SGS sendiri, telah eksis selama 16 tahun dan diakses dari berbagai negara. Amerika menjadi pengakses terbesar (48%), sementara Indonesia bersama Columbia dengan angka  1%. Lebih lengkap tentang profilnya, klik http://www.studygs.net/enews/.Ups, hampir ketinggalan. Web ini juga tersedia dalam berbagai Bahasa pengantar. Untuk bahasa Indonesia, silakan klik http://www.studygs.net/indon/.

Apa fungsinya bagi pustakawan? banyak bro.. selain untuk diri sendiri, bisa juga dibagikan pada pemustaka. Pustakawan dapat bermain pada ranah ini. Caranya? ah... pustakawan pasti tahulah.
Coba lihat digital literacy,  bagian learning skill dan information literacy pada URL https://www.jisc.ac.uk/.

Tuesday, 11 August 2015

,

Mengoptimalkan Twitter untuk penyebaran informasi riset UGM

Twitter @perpusftugm saya buat tahun 2012. Saat itu masih belum ada konsep penggunaan twitter ini. Namun lambat laun, muncul beberapa ide. Selain berkicau tentang kegiatan di perpus, buku baru, foto, dan semacamnya... saya mengutip ETD yang dikembangkan Perpustakaan UGM sebagai bahan berkicau.

Sebenarnya tidak sebatas ETD, namun lebih luas tentang hasil penelitian yang dikelola perpustakaan. Ketika diskusi dengan mahasiswa yang sedang baca TA digital, saya diberi saran bahwa kicauan bisa dikaitkan dengan tema yang sedang HOT saat ini. Dia menyebut kekeringan, kondisi rupiah sebagai contoh. Atau mencari di twitter, apa yang sedang menjadi trending topics.

Kekeringan misalnya, saya coba cari kekeringan di Gunungkidul di ETD. Alhamdulillah ketemu. Saya post via twitter, dan saya mention pihak terkait, yaitu @kabarGunKid dan @tentangGK. Beberapa waktu kemudian, ada retweet dari salah satu akun twitter tersebut. Sederhana sepertinya.. namun jika dilakukan berulang-ulang, maka sebaran informasi yang sebelumnya terendap di perpusakaan akan semakin banyak diketahui orang banyak.

Rumus yang kami lakukan adalah:
  1. ketahui isu
  2. ketahui orang yang terkait isu tersebut (membutuhkan dalam arti positif)
  3. cari sumber
  4. posting isu+pihak terkait

Silakan coba

@kabarGunKid

@kota_jogja

@motoupdate

Saturday, 1 August 2015

, ,

Menggunakan template Latex (.tex) IEEE di LyX dan Latex

Rekan sekalian, LyX merupakan aplikasi pengolah dokumen yang telah banyak dikenal.  IEEE juga menyediakan template .tex untuk digunakan oleh calon penulisnya. Ada kalanya orang tidak begitu nyaman dengan perintah  tex di LateX dan terbiasa langsung dengan GUI seperti di LyX.

Bagaimana membuka dokumen .tex di LyX?

  1. Unduh template .tex di url ini, cari yang sesuai dengan sistem operasi anda. Saya menggunakan windows.
  2. Urai master Latex yang telah diunduh.
  3. Misal, kita ingin membuka dokumen bare_jrnl.tex du LyX, maka:
  4. Instsall .cls file, yaitu IEEEtran.cls dengan cara copy ke C:\Program Files (x86)\MiKTeX 2.9\tex\latex\lyx
  5. Buat file layout mengacu pada cls yang dibuat, misal: IEEEtran.layout
  6. Reconfigure ulang LyX anda
  7. Buka aplikasi LyX, klik File --> Import --> Latex Plain --> arahkan ke bare_jrnl.tex
  8. Maka LyX akan secara otomatis membuat file baru bare_jrnl.lyx

Sementara itu, menggunakan file .tex di Latex cukup membuka langsung dengan Latex editor, misalnya TextEditor. Syaratnya file .cls ada pada folder (satu tempat) dengan file .tex.

Bacaan lain:



Wednesday, 29 July 2015

,

Seting sinkronisasi di Mendeley

Ternyata, ternyata nih.. ada setingan sinkronisasi di Mendeley. Coba lihat gambar di samping. Pada mendeley ternyata dimungkinkan menentukan opsi sinkronisasi (akan mensinkronkan file yang dilampirkan atau tidak), serta memilih yang akan disinkronkan. Ada dua pilihan, semua koleksi (for my entire library), atau untuk forder terpilih (for selected folders).

Jika memilih yang kedua, maka sebelumnya koleksi harus kita pilah dalam folder, dan kita tentukan folder yang akan disingkronkan dengan mendeley web. Jika ada artikel yang kita tidak ingin disingkronkan dengan mendeley web, maka jangan dipilih kumpulan foldernya atau jangan dimasukkan dalam folder yang akan disinkronkan. Konsekuensi pilihan kedua adalah jaga baik-baik koleksi anda, karena jika hilang maka tidak ada cadangannya.

Sunday, 26 July 2015

,

Mandiri dan belajar seumur hidup : ruh pengembangan diri pustakawan

Saya ingat ada dosen ilmu perpsutakaan selalu menyebut profesi dokter yang kuat jejaringnya, dihargai dan bermartabat (setidaknya sepengetahuan saya). Beliaupun menyampaikan bahwa pustakawan harusnya juga seperti ini. Para pustakawan juga demikian, meminta profesinya disejajarkan dengan dosen. "saya/kita ini fungsional, sama dengan dosen", begitu kira-kira.

Seorang kawan yang berprofesi sebagai dosen menjawab "mendidik mahasiswa yang belajar pada jurusan yang tidak diinginkan", ketika saya tanya "apa tugas dosen yang paling sulit/berat?". Pertanyaan ini sebenarnya ingin saya alihkan dengan pertanyaan "apa tugas pustakawan yang paling berat?".

Dosen selalu memperbaharui ide, pengetahuannya tentang (minimal) ilmu yang dia geluti melalui berbagai kegiatan, baik itu riset, membaca, pertemuan ilmiah, menulis dan lain sebagainya. Lalu apa yang jamak dilakukan pustakawan untuk mengembangkan pengetahuannya? apakah juga melakukan riset, menulis, membaca dan semacamnya? Atau justru pasrah pada keadaan dan cenderung mencari aman, dengan "cukup ada di kantor (perpustakaan)"?

Ketika kuliah, terus terang saya tidak begitu paham dengan istilah "mandiri" dan "belajar sepanjang hayat" yang sering disampaikan para dosen. Namun lambat-laun sekarang saya memahaminya. Tuntutan untuk sejajar dengan profesi lain, dihargai secara sosial dan finansial tidak ada artinya tanpa mensejajarkan peran dengan profesi lain.

Ketika kita masih berkutat dengan kegiatan meminjam dan mengembalikan buku, sepanjang itu pula orang lain akan memandang perpustakaan dan tugas pustakawan hanya meminjam dan mengembalikan buku. Sepanjang waktu itu pula, pustakawan akan diremehkan pekerjaannya.

Kemandirian pustakawan untuk melihat hal baru, kemudian mempelajarinya; melihat kebutuhan pemustaka, kemudian mencari peran untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menjadi hal mutlak. Tidak hanya menunggu perintah dan mengharap bantuan orang lain.

Seorang kawan, Murad Maulana pernah menyatakan bahwa kegiatan di perpustakaan jika mau dikembangkan sangat menarik. Misalnya pengalaman mencarikan informasi penting bagi pemustaka, jika ditulis dalam blog akan membawa manfaat berantai pada pencari informasi serupa. Jika pengalaman teknis/non teknis tersebut dibukukan, dapat dijual. Efek lain dapat diminta menjadi pembicara pada event terkait.

Mulai sekarang, para pustakawan.. mandiri-lah dan belajarlah seumur hidupmu.
, ,

Mengoptimalkan SCOPUS dan Jurnal Citation Report untuk penelitian

Tentunya kita sering mendengar orang menyebut SCOPUS dan Jurnal Citation Report (JCR). Secara umum orang menganggap, jika ada artikel masuk di index SCOPUS maka  dianggap berkualitas. DIKTI sendiri dalam laman http://pak.dikti.go.id/portal/?p=41 menyebutkan bahwa untuk memeriksa PAK dosen terkait artikel jurnal, maka jujugan pertamanya adalah SCOPUS an JCRnya Thomson ISI Knowledge.

Nah, apakah fungsinya hanya itu? di SCOPUS sekedar mencari jurnal apa yang diindex dan di JCR hanya mencari jurnal apa yang IFnya paling tinggi?. Tentu saja tidak. Bagi peneliti dapat mengoptimalkan keduanya untuk kepentingan riset, mencari artikel yang banyak dikutip pada bahasan tertentu, sehingga mudah menemukan tulisan yang berpengaruh pada banyak tulisan lain.

Begini.
view ref aktif
Berangkat dari laman web DIKTI di atas, maka kita bisa menganggap bahwa artikel di SCOPUS dan jurnal yang terhitung IFnya JCR adalah berkualitas, maka kita bisa memulai mencari tema riset dari keduanya, menemukan artikel referensi dari kedua sumber tersebut.
  1. Tentukan kata kunci terkait penelitian yang ingin anda lakukan, kemudian cari di SCOPUS
  2. Setelah menemukan artikel yang anda butuhkan, anda dapat membaca dan menelusur daftar pustaka artikel tersebut. Tentunya SCOPUS telah mampu mengantarkan anda pada alamat url dari daftar pustaka yang tertulis.
  3. Pengarang artikel yang anda inginkan, dapat anda analisis produktifitasnya melalui h-index di SCOPUS
  4. Andapun dapat menemukan alamat asli referensi tersebut dengan mudah. Termasuk menemukan frekuensi sitir pada tiap referensi. Semakin banyak dikutip, maka semakin banyak artikel tersebut berpengaruh pada tulisan lain. Temukan artikel tersebut pada database yang dilanggan oleh kampus anda.
  5. Jika tidak menemukan artikel yang dimaksud, kontak pustakawan.
view ref non aktif
Menemukan referensi sekaligus frekuensi referensi hanya dapat dilihat jika memiliki akses langganan ke SCOPUS, jika tidak maka tentu saja tidak dapat melihat secara lengkap referensi+frekuensi kutipannya. 




referensi dan frekuensi dikutip
Pada JCR, kita dapat mengetahui jurnal apa, pada bidang apa yang memiliki IF tertinggi. Jika jurnya memiliki IF tinggi, maka jurnal tersebut berpengaruh pada jurnal/tulisan lain. Singkatnya artikel pada jurnal tersebut banyak dikutip. 

Sunday, 12 July 2015

,

Mencari tema untuk kegiatan kreatif di perpustakaan

Adalah Hazman, teman saya berkebangsaan Singapura yang mengundang saya masuk di grup Doctorate Support Group. Awalnya saya tidak tahu apa fungsi grup ini. Lambat laun, saya respek dengan grup ini. Diskusi di dalamnya hidup dengan bahasan tentang pendidikan doktoral dan segala yang berkaitan.  Tentang beasiswa, SPSS, mencari ide, manajemen dokuemen, topik penelitian dan juga kalimat-kalimat penyemangat dari tokoh DSG, Dr. Othman Thalib (OT). Member dari DSG ini juga sesekali mengadakan pertemuan untuk membahas topik tertentu. DSG juga mengadakaan webinar. Temanya tidak harus berat-berat. Simple, misalnya bagaimana menggunakan Ms Word untuk menulis thesis yang rapi. Klik https://www.youtube.com/watch?v=NYulUWIDqLQ



Dari grup ini saya memperolah tautan ke url http://dsgportal.org/site/ dan http://www.postgraduateworkshop.com/. Pada web kedua, saya menemukan berbagai tema yang diselenggarakan untuk mendukung percepatan pendidikan. Tema ini yang bagi saya sangat bermanfaat sebagai pemantik ide kegiatan kreatif di perpustakaan yang saya kelola. Beberapa training pada web tersebut telah pula dilakukan di perpustakaan FT UGM, namun banyak yang belum. Tidak harus ditiru semuanya, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan. Beberapa tema pada web tersebut yang dapat dikembangkan adalah:

  1. Bengkel Penulisan Jurnal Berkesan dan Penerbitan
  2. Doing A Critical Literature Review: Tips To Constructing A Quality Thesis
  3. Writing Research Proposal
  4. Research Tools: Supporting Research and Publication (klik)
  5. One Day Workshop on Analysing Literature using Socratic Questioning Method
  6. Writing Thesis and Journal Paper with Ease Using LaTeX
  7. One Day Workshop on Literature Review using ATLAS.ti
  8. Research Methodology
  9. Workshop on Qualitative Data Analysis with ATLAS.ti
Tema di atas melengkapi tema yang telah diselenggarakan perpustakaan yaitu: Plagiat dan cara menghindarinya, menembus reviewer jurnal internasional,  metode kualitatif untuk bidang teknik, LyX, manajemen dokumen ilmiah, presentasi menggunakan Prezi, mindmapping menggunakan XMind, serta (dalam rencana) berbagai kesalahan teknis dalam menulis ilmiah.

Baca juga:
Menjadi pustakawan, jangan terlalu spaneng. Sayang, jika hidup sekali dijadikan spaneng. Bergembira, jadi hal utama. 

                  Thursday, 2 July 2015

                  , , , ,

                  Ketertarikan pada bidang ilmu dan pustakawan terbang : menentukan jumlah dan penempatan pustakawan

                  perhitungan kebutuhan staf
                  Ditempatkan di perpustakaan bagus, teknologinya modern, gedungnya megah, pekerjaannya mudah, gajinya tinggi, insentif lancar.. Pastinya banyak pustakawan yang menginginkan hal ini. Pertimbangan ini secara umum adalah pertimbangan dari si pustakawan itu sendiri.

                  Namun pertimbangan lain yang lebih penting adalah dari sisi manajemen. Pertimbangan tersebut adalah: kebutuhan serta jenjang jabatan pustakawan yang disesuaikan dengan kebutuhan jumlah pustakawan. Selain itu, hobby dan ketertarikan bidang ilmu juga memiliki peran penting dalam penempatan pustakawan. Pertimbangan-pertimbangan ini berlaku pada keadaan staf telah tersedia, dalam rangka menempatkan staf. Bukan tentang rekruitmen.

                  Kebutuhan disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan berbanding jumlah staf, apakah masih dibutuhkan (ditambah/dikurangi) dan berapa jumlah idealnya. Jenjang jabatan disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang ada; jenjang pustakawan apa yang dibutuhkan pada bagian tersebut+kompetensi. Jenjang jabatan pustakawan dan jumlah pustakawan yang ideal harus klop.

                  Hobby dan ketertarikan bidang ilmu pustakawan yang dipertemukan dengan lingkungan perpustakaan yang sesuai dengan bidang ilmu tersebut, menurut saya akan berimbas positif terhadap perkembangan perpustakaan. Pustakawan yang memiliki ketertarikan ilmu bidang filsafat, tempatkan di perpustakaan filsafat. Pustakawan yang memiliki ketertarikan pada bidang sastra, tempatkan di bidang sastra. Dan seterusnya. Dengan demikian, maka pustakawan juga akan bergelut dengan konten tidak hanya dengan fisik koleksi.

                  Setelah jumlah pustakawan, jenjang pustakawan dan ketertarikan pada bidang ilmu terpenuhi, yang perlu diperhatikan berikutnya adalah pustakawan terbang. Istilah ini saya ambil dari istilah "kelas terbang" di masa saya SMA. Kelas terbang merupakan kelas yang anggota kelasnya berpindah-pindah karena tidak memiliki ruang kelas. Misal karena keterbatasan ruang maka kelas 1A dalam seminggu menempati ruang-ruang kosong yang tersedia secara bergantian. Ketika analogi ini saya gunakan untuk istilah pustakawan terbang, yang saya maksudkan adalah pustakawan yang dia mobile, dari satu ruang ke ruang lain untuk menggantikan atau membantu pustakawan, menemui dan berdiskusi dengan mahasiswa-dosen dan berbagai pihal lain, mengunjungi perpustakaan unit, membantu perpustakaan unit, menjangkau pemustaka di perpustakaan unit, sembari melakukan RnD perpustakaan. Tugas pustakawan terbang memang demikian, dia menjadi penghubung antara semua elemen.

                  Demikian. Tulisan di atas tentunya saya tulis berdasar pengalaman di dunia perpustakaan perguruan tinggi.

                  Update:
                  Pengarusutamaan jender dan komposisi usia
                  Pengarusutamaan jender, memberi ruang yang sama untuk berkreasi dan berperan antara pustakawan laki-laki dan perempuan dalam perpustakaan. Kesetaraan dapat dipandang dari membuka semua kesempatan berkreasi tanpa ada pembedaan, atau menjaga komposisi laki-laki dan perempuan yang berperan agar berimbang.

                  Komposisi usia juga perlu diperhatikan, hal ini terkait dengan regenerasi. Jika semuanya berusia muda, itu bagus untuk jangka pendek. Namun jika nanti ada pada masa pensiun maka semuanya akan sama-sama ada pada masa pensiun. Ini berbahaya. Oleh karena itu, usia harus berimbang. Ada yang tua ada yang muda. Sehingga ketika yang tua pensiun, akan ada pengganti yang lebih muda dan lebih muda dari staf yang sebelumnya. Demikian seterusnya.

                  , ,

                  Ruang akses digital : konsep di Perpustakaan FT UGM

                  Saya mencoba membuat konsep ruang akses digital di Perpustakaan FT UGM. Tata ruang menjadikan  pustakawan yang bertugas di ruang ini menyatu bersama pengunjung. Referensi saya adalah yang pernah saya rasakan di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Selain melayani sirkulasi, ada proses diskusi tentang berbagai hal dengan berbagai pengunjung, baik dosen atau mahasiswa. Perpustakaan Teknik Geologi adalah perpustakaan jurusan, interaksi antara pustakawan-mahasiswa sangat baik, termasuk antara mahasiswa-dosen, pustakawan-dosen dalam ruang perpustakaan. Berbagai ide dan perkembangan keilmuan geologi kerap saya peroleh dari interaksi ini.

                  Terkait ruang akses TA di FT UGM, melayani peminjaman komputer untuk akses koleksi digital merupakan tugas sampingan saja pada pustakawan yang bertugas di ruang ini. Tugas utamanya adalah membimbing dan menjadi teman diskusi pengunjung. Tentang apa? tentang apa saja, baik terkait substansi ilmu mereka ataupun hal lain yang berkaitan dengan dunia referensi ilmiah.



                  mind map konsep ruang akses digital

                  Tentunya kompetensi pustakawan menjadi hal yang penting dalam hal ini. Idealnya peran pustakawan dalam ruang ini tidak menitikberatkan pada teknis, namun sudah ke substansi. Penguasaan kepada berbagai hasil penelitian mahasiswa yang pernah ada terkait berbagai topik tertentu harus dimiliki oleh pustakawan. Dari mana memulainya? dari diskusi dengan mahasiswa, membaca dan merangkum. Hasilnya dapat digunakan untuk kembali melayani mahasiswa.

                  Baca juga: http://www.purwo.co/2015/06/interaksi-dan-diskusi-dengan-bidang.html

                  Wednesday, 1 July 2015

                  ,

                  Embedding Librarianship in LMS: pustakawan yang tertanam dalam proses kuliah

                  Klik
                  Saya menemukan slide ini ketika mencari sebuah buku tentang "embedding librarianship". Tadinya ingin beli, karena ada slidenya maka saya urungkan. Silakan klik di sini.

                  Inti dari slide tersebut, adalah usaha pustakawan mengetahui kebutuhan pengguna melalui proses perkuliahan. Ketika tahu proses perkuliahan, maka pustakawan akan tahu pula kebutuhan pengguna perpustakaan.

                  Terlibat dalam proses perkuliahan ada beberapa cara: ikut kuliah atau membenamkan diri dalam akun LMS (learning management systems). Cara pertama, tentunya dengan mengikuti kuliah sesuai jadwal yang ditentukan dosen. Mengikuti proses, melihat potensi kebutuhan informasi pengguna dan merancang peran perpustakaan. Cara pertama ini pernah diutarakan mentor kepustakawanan saya, Ir. Wartono Rahardjo di Jurusan Teknik Geologi UGM, sebagaimana pernah saya tulis di klik. Cara kedua tidak kalah menarik. Dengan memiliki akun di LMS, pustakawan dapat mengikuti dinamika kuliah online, mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, simpan dalam sistem (atau catat URLnya) kemudian sampaikan kepada anggota grup.


                  Gambar di atas adalah potensi peran EL dan hasil yang bisa diraih. Hasil dari proses embedded librarian berupa sumber informasi yang tepat guna untuk mata kuliah tertentu ini (sesuai yang diikuti pustakawan) dapat dijadikan modal membuat Subject Guide.

                  Ada beberapa saran untuk EL, saya ambilkan dari web ini.
                  • Be a team player
                  • Secure support from your organization and colleagues
                  • Have an entrepreneurial mindset
                  • Accept risk
                  • Translate library science to other disciplines
                  • Build trusted relationships
                  • Move outside of your comfort zone.
                  • Don’t just think, but act outside of the box.     

                  Tentang EL:
                  http://crln.acrl.org/content/72/3/167.full
                  http://www.aallnet.org/mm/publications/products/aall-ilta-white-paper/embedded.pdf
                  http://embeddedlibrarian.com/
                  http://www.educause.edu/ero/article/embedded-librarian-program
                  https://www.insidehighered.com/news/2010/06/09/hopkins
                  http://www.sla.org/wp-content/uploads/2013/05/Models_of_Embedded.pdf


                  Baca juga:
                  http://www.purwo.co/2015/06/library-guide-perpustakaan-ft-ugm.html
                  ,

                  Pustakawan Perpustakaan FT harus masuk kualifikasi "Research Librarian"

                  Kondisi Perpustakaan FT UGM saat ini memaksa pustakawan berubah. Sebelumnya menyandarkan diri pada kegiatan sirkulasi (pinjam-kembali) atau mengelola wujud fisik koleksi, sekarang harus bergeser ke konten.

                  Sepertinya yang paling tepat adalah mengarah ke Research Librarian. Mengacu pada salah satu peran RL di Macquarie Uniersity, maka peran RL ini ada beberapa:
                  • work with you to support your teaching and research activities
                  • advise you on the best sources of information for your research
                  • provide information skills training to find and manage information for research
                  • meet with you to discuss your research needs
                  RL harus memahami model dan perkembangan pendidikan dan proses belajar mengajar di kampus. Sehingga akan mampu melihat berbagai peluang peran yang bisa dimainkan. RL juga dapat memberi saran sumber informasi terbaik yang dapat digunakan untuk penelitian, secara aktif menyediakan berbagai training untuk menemukan dan mengelola informasi dalam rangka riset. Yang menarik adalah RL dapat menjadi teman diskusi tentang kebutuhan riset. Kemampuan komunikasi pada berbagai pihak tentunya dibutuhkan dalam hal ini. Penguasaan bahasa asing (minimal Bahasa Inggris) baik untuk berkomunikasi atau untuk membaca informasi mutlak dibutuhkan.

                  Komunikasi tidak hanya dilakukan dengan mahasiswa, namun juga dengan dosen dan staf lainnya. Dari komunikasi inilah akan diperoleh gambaran tentang yang diinginkan pemustaka dan kemampuan pustakawan. Keaktifan pustakawan menjadi hal penting.

                  Pada setiap bidang riset (terkait fakultas) tentunya akan berbeda sumber dan kebutuhan informasinya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang bidang ilmu dari perpustakaan yang dikelola harus dimiliki. Demikian juga pada Perpustakaan FT UGM. Diskusi dengan mahasiswa, dosen tentang perkembangan ilmu dan riset yang berlangsung menjadi wajib dilakukan oleh pustakawan. Pada website ini, ada syarat terlait lowongan RL yaitu "knowledge of Ontario and federal politics". Syarat tersebut turut menekankan betapa penting pengetahuan pustakawan pada bidang informasi dan perkembangan ilmu yang dikelola.

                  Saya ingat ide dari mentor kepustakawanan saya, Ir. Wartono Raharjo di Jurusan Teknik Geologi UGM. Beliau pernah menyampaikan bahwa staf di jurusan ini (Teknik Geologi) minimal/didorong untuk pernah mengikuti kuliah pengantar atau Geologi Dasar. Dengan cara ini maka, (dalam hal ini) pustakawan akan mampu membaca peta ilmu Geologi. Dari ide ini, sepertinya menarik jika para pustakawan perguruan tinggi secara aktif juga (dengan ijin dahulu) mengikuti kuliah pengantar/dasar pada sebuah jurusan. Pustakawan juga dapat embedded dalam kegiatan kuliah online

                  RL di Perpustakaan FT UGM menjadi hal yang wajib di Perpustakaan Fakultas, dan berpotensi besar pula dilaksanakan di jurusan. Mengapa di Perpustakaan Fakultas menjadi wajib? Karena bisa dikatakan jenis pustakawan sirkulasi dan referensi telah "selesai" di wilayah jurusan. Melayani sirkulasi semestinya hanya menjadi hal kecil saja dalam layanan di Perpusakaan FT UGM. Pustakawan yang bertugas dipengolahan berpotensi besar untuk memahami dan mengetahui koleksi baru yang dapat menunjang riset pengguna perpustakaan.

                  Tulisan tentang RL:


                   

                  Tuesday, 30 June 2015

                  , ,

                  Library Guide Perpustakaan FT UGM

                  Pada tulisan sebelumnya, saya pernah menulis Subject Plus (http://www.purwo.co/2015/05/subjectplus-membuat-pathfinder-daring.html). Pada tulisan ini saya akan utarakan konsep Library Guide yang menggunakan Subject Plus, di Perpustakaan FT UGM.

                  Konsep LibGuide 


                  LibGuide yang memanfaatkan SP ini ditujukan untuk memandu mahasiswa dalam menemukan informasi yang bermanfaat untuk kegiatan akademiknya. LG dipisahkan dari website perpustakaan FT UGM. Konsep ini sepertinya jamak dilakukan oleh berbagai perpustakaan.

                  subject guide
                  Isi dari LG terdiri dari video, audio, tautan ke sumber informasi berdasar subyek, kata kunci atau mata kuliah. LG menyatukan dan mensistematiskan berbagai informasi dan sumberdaya yang dimiliki perpustakaan, agar mahasiswa mudah menemukan apa yang dibutuhkannya. Video dan audio termasuk rekaman kegiatan ilmiah yang diselenggarakan perpustakaan. Subyek dan informasi pendukungnya dapat diperoleh dari proses diskusi bersama mahasiswa dan dosen di perpustakaan.

                  Misalnya subyek Petrologi, maka dalam LG akan berisi informasi buku wajib yang harus dibaca ketika belajar mata kuliah petrologi, artikel terkait, slide dosen (dapat diambilkan dari url di Elisa), video tentang petrologi (dari sumber terpercaya).  Jika isinya topik riset, maka dilengkapi dengan buku, artikel, video dan sumber informasi lainnya. Dapat pula dilengkapi RSS dari sumber informasi online yang dilanggan UGM. Setiap isian dilengkapi dengan pustakawan subject spesialis yang dapat membantu menemukan sumber informasi tersebut. Nah, dalam pengisian ini akan terasa pentingnya kolaborasi antara pustakawan-staf dosen-mahasiswa.

                  LG akan diisi oleh staf perpustakaan FT UGM, dan tidak menutup kemungkinan juga staf perpustakaan jurusan di FT UGM. Konsep akan berkembang menyesuaikan kebutuhan dan dinamika yang ada.

                  Baca juga:
                  http://www.purwo.co/2015/07/embedding-librarianship-in-lms.html
                  http://www.purwo.co/2015/07/pustakawan-perpustakaan-ft-harus-masuk.html

                  Monday, 22 June 2015

                  , , ,

                  Kegiatan sebagai Mendeley Advisor selama 2014/2015

                  Selama semester 2 2014/2015, sebagai Mendeley Advisor, saya melaksanakan pelatihan Manajemen Dokumen Ilmiah menggunakan Mendeley. Gambar di samping merupakan dokumentasi sederhana kegiatan tersebut.

                  Selain kegiatan pelatihan, terkait Mendeley juga dilaksanakan kuis dengan hadiah kaos Mendeley yang dilaksanakan di Perpustakaan FT UGM. Kegiatan pelatihan Mendeley dilaksanakan di  beberapa tempat di Jogjakarta, terutama di Perpustakaan FT UGM sebagai tempat utama saya bekerja, Perpustakaan UAJY, Perpustakaan AMIKOM, serta kegiatan pelatihan bersama Komunitas SLiMS Jogjakarta. Peserta pelatihan terdiri dari mahasiswa dari berbagai universitas di Jogjakarta serta beberapa pustakawan dari luar Jogjakarta.

                  Baca juga: http://www.purwo.co/2015/05/buku-panduan-mendeley-dan-zotero.html

                  Kompetensi dan Peran Pustakawan FT UGM

                  Pada tulisan sebelumnya saya menulis kompetensi pustakawan tingkat fakultas FT UGM,  di http://www.purwo.co/2015/02/kompetensi-teknologi-wajib-untuk.html, berikut saya kerucutkan lagi

                  Pembagian dua peran utama
                  Gambar di atas adalah pembagian peran pustakawan dalam dua peran utama. Pengelolaan kegiatan tradisional, dan pengembangan. Kegiatan tradisional merupakan kegiatan perpustakaan yang umum dilakukan dan selama ini menjadi tumpuan pustakawan dalam memenuhi kewajibannya. Kegiatan pengembangan selalu dinamis, berubah menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar dalam bentuk kegiatan kreatif.
                  Pekerjaan terkait angka kredit


                  Gambar di atas merupakan gambaran pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh pustakawan terampil, di perpustakaan FT UGM dalam rangka memenuhi angka kreditnya. Terlihat selain kegiatan sirkulasi, pengolahan dan layanan referensi, masih banyak hal yang dapat dilaksanakan oleh pustakawan terampil. Kegiatan tersebut berpotensi untuk dilaksanakan reguler sehingga dapat pula menjadi sarana memenuhi angka kredit pustakawan.

                  Sunday, 21 June 2015

                  ,

                  Ikut organisasi, berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai jurusan: wajib bagi (mahasiswa) calon pustakawan


                  M: "Selamat siang pak, saya dari luar (jurusan ini) dan ingin membaca TA di Teknik Geologi".
                  P: "dari mana Mbak?".
                  M: "dari UIN Pak, jurusan Fisika".
                  P: "oo, mahasiswanya pak Rosyid ya"
                  M: "iya pak, kok tahu pak Rosyid pak?"
                  Kemudian saya cerita tentang Pak Rosyid. Sebenarnya saya belum pernah bertemu dengan beliau, kawan saya Rachmad Resmiyanto yang pernah menjadi mahasiswa bimbingannya pernah cerita tentang Pak Rosyid ini. Saya sedikut tahu tentang ekonofisika serta beberapa teori peluang dari cerita kawan Rachmad ini ketika beliau bimbingan dengan Pak Rosyid. Kawan saya ini memang sangat teguh menggeluti ilmunya. Pernah dia menyarankan saya untuk meneliti (untuk skripsi saya) perpustakaan dengan menggunakan teori fisika. Sedikit pengetahuan tentang ekonofisika dan teori peluang ini kadang saya gunakan untuk memancing diskusi dengan mahasiswa. Interaksi saya dengan kawan Rachmad ini saya lakukan ketika masih mahasiswa. Beliau adalah Mahasiswa Jurusan Fisika MIPA UGM, yang saat ini menjadi dosen di UIN Sunan Kalijaga.

                  M: "selamat siang mas, saya ingin meminta surat bebas pustaka"
                  P: "baik bu, boleh lihat KTMnya bu?"
                  P: "dari jurusan Arsitektur ya bu, wah disertasinya tentang apa bu?"
                  M: "tentang kajian ruang di keraton mas"
                  P: "wah menarik sekali bu, bagaimana hasil peletiannya bu?"
                  Si Mahasiswa  kemudian bercerita tentang hasil penelitiannya. Sambil membuatkan surat bebas pustaka, saya juga menimpali informasi yang beliau sampaikan. Setelah  selesai, saya berikan surat bebas pustaka kepada beliau. Si Mahasiswa ini juga mengundang saya dalam sidang terbuka disertasinya.

                  Saya yakin, bukan hanya saya saja yang pernah mengalami hal tersebut di atas. Banyak pustakawan lain dengan variasi cerita yang berbeda pernah mengalaminya.

                  Hasilnya, saya merasakan ada kesan positif (mungkin juga ada yang menganggap saya sok tahu). Namun demikianlah, saya meyakini bahwa interaksi pustakawan dengan bidang ilmu lain sangat penting. Minimal untuk membuka diskusi dengan mahasiswa, kemudian melanjutkan dengan diskusi tentang berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian dalam bidang ilmu tersebut. Pengetahuan ini tentunya akan bermanfaat bagi pustakawan untuk mengetahui tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan berbagai sumber informasi yang diperlukan mahasiswa.

                  Mengetahui berbagai perkembangan bidang ilmu, terutama yang digeluti oleh mahasiswa yang dilayani harus dilatih secara terus menerus. Pengalaman organisasi yang digeluti oleh pustakawan, mulai dari sejak mahasiswa juga akan berpengaruh. Jika ketika mahasiswa, pustakawan sudah terbiasa berinteraksi dan berdiskusi dengan mahasiswa lain dari jurusan lain tentang berbagai hal, maka wawasan mahasiswa perpustakaan ini akan bertambah dan berguna ketika mereka menjadi pustakawan.

                  Jadi jangan sepelekan ikut organisasi di kampus.

                  Saturday, 20 June 2015

                  , , , , ,

                  Beberapa foto tentang buku "Manajemen Dokumen Ilmiah menggunakan Zotero dan Mendeley"

                  Terimakasih kepada berbagai pihak yang tertarik untuk memiliki panduan mengelola dokumen ilmiah menggunakan Zotero dan Mendeley yang saya susun. Semoga bermanfaat.

                  Bersama Dekan FTI UKDW (Foto by Umi Proboyekti)

                  Bersama Iswanto (dosen UMY/Mahasiswa S3 FT UGM)

                  Lasa Hs, pustakawan senior

                  Imam Budhi, ketua FPPTI

                  Win Muldian, Staf Perpustakaan DIKBUD dan pegiat literasi

                  Bersama Tri Susiati, Presiden FPPTI DIY


                  Friday, 19 June 2015

                  , ,

                  Ikut seminar internasional, dengan biaya lokal

                  Rekan pustakawan... tentunya kita ingin ikut seminar atau workshop internasional untuk meningkatkan kompetensi kita. Namun kesempatan dan biaya kadang menjadi kendala. Jalan keluar dari masalah tersebut adalah ikut webinar, salah satunya webinar di Elsevier.
                  Silakan klik http://libraryconnect.elsevier.com/library-connect-webinars, url tersebut berisi berbagai rekaman webinar yang pernah diselenggarakan oleh Elsevier.

                  Di bawah ini salah satu rekaman seminar di LibrariConnect.

                  Sunday, 14 June 2015

                  ,

                  Belajar Mendeley bersama Pustakawan

                  Foto by Risti
                  Sabtu (13/6) saya berkesempatan mengisi pelatihan Mendeley untuk teman-teman pustakawan. Acara ini diselenggarakan di Univesity Hotel Jogjakarta oleh Komunitas SLiMS Yogyakarta.
                  Materi Mendeley dasar disampaikan pada acara ini, mulai dari install, mendaftar di mendeley web, input dokumen, mengolah dokumen, melengkapi metadata, berbagi dokumen, mencari dokumen di mendeley dan di mendeley web serta penggunaan Mendeley pada aplikasi pengolah kata.
                  Semua peserta belum pernah mengenal Mendeley sebelumnya, harapannya mereka dapat mendalami Mendeley dan berbagai keterampilan pengelolaan dokumen ilmiah pada para pemustaka di perpustakaannya masing-masing.
                  Peserta memberi respon positif pada pelatihan ini. Terdapat peserta yang akan menindaklanjuti pelatihan ini dengan pelatihan serupa di perpusakaannya masing-masing bagi mahasiswa dan dosen.
                  Tentunya ini menarik, karena kebutuhan mengelola dokumen referensi dengan baik dan benar telah dirasakan para pustakawan dan dianggap oleh mereka sebagai peluang untuk memberikan variasi layanan pada pemustaka. 


                  Foto by Maryanto
                  Foto by Eddy Subratha

                  Tersedia buku panduan penggunaan Mendeley dan Zotero sebagai aplikasi Manajemen Dokumen Ilmiah, klik di sini.

                  Thursday, 11 June 2015

                  Mencuri ilmu untuk menjadi pustakawan kreatif

                  Perpustakaan kita masih mengedepankan layanan PINJAM - KEMBALI koleksi? Ah itu bukan perpustakaan, itu tempat sewa buku yak, ada dendanya juga jika terlambat.

                  Perpustakaan bukan sekedar tempat pinjam dan kembali buku. Jika anda pustakawan, dan anda masih duduk di belakang meja menunggu pengunjung datang, jika sepi merasa galau... maka sepertinya makna pustakawan perlu disegarkan kembali. [1]

                  Ssst, ojo ngono. Saya juga kadang kesepian di perpustakaan.

                  Berusaha menjadi kreatif dalam mengelola perpustakaan itu penting. Namun untuk menjadi kreatif perlu usaha, tidak hanya berpangku tangan. Berikut beberapa tips yang saya kira tak ada salahnya anda coba untuk mewujudkan perpustakaan kreatif.

                  lihat perkembangan perpustakaan lain dan dunia profesional di luar perpustakaan
                  Melihat ndak harus studi banding berkunjung, namun bisa mengintip dari web berbagai perpustakaan yang maju, kemudian jadikan model. Lihat perkembangan perpustakaan tersebut, cari layanan yang dilakukan perpustakaan tersebut selain sirkulasi. Lihat pula perkembangan dunia profesi di luar kepustakawanan.

                  pahami lingkungan organisasi, cari peluang.
                  Bekerja di perpustaakaan, wajib mengetahui karakter organisasi yang menaunginya. Pada perpusakaan kampung/desa pun juga demikian. Mengetahui lingkungan organisasi, melihat berbagai kekurangan, masalah yang ada akan memunculkan ide terkait peran perpustakaan.
                  Syukur kita dapat menemukan masalah penting yang perlu dicari solusinya, lalu cari peran perpustakaan untuk ikut memecahkan permasalahan tersebut.

                  menyatu dengan bidang ilmu yang digeluti pemustaka (dikelola perpustakaan)
                  Menyatu dengan bidang ilmu itu penting. Jika kita mengelola perpusakaan bidang A namun kita tak menyukai bidang tersebut, maka pengembangan akan terhambat. Bukan satu-satunya penghambat.. namun akan berpengaruh.
                  Akan lebih baik jika kita bekerja di perpustakaan yang memiliki tantangan unik, dan bidang ilmunya kita sukai. Jika senang sastra, maka bekerja di perpsutakaan sastra,jika senang filsafat maka bekerja di perpustakaan filsafat. Pasti sangat menarik. Kita bisa menceburkan diri dalam ilmu yang digeluti mahasiswa, ikut diskusi, ikut membaca bukunya dan seterusnya.
                  Dalam hal ini, penempatan staf perpustakaan memegang peranan penting. Penempatan semestinya juga memperhatikan bidang ilmu yang disenangi pustakawan.

                  ajak semua pihak, dan curi ilmu dari mereka. ilmu ini nanti bisa untuk modal melayani pemustaka
                  Ndak akan bisa kita mengelola perpustakaan sendirian. Ajak orang lain. Jika di perguruan tinggi, ajak dosen muda, dekati mahasiswa, organisasi mahasiswa dan lainnya.  Ajak guru, orang tua siswa dan lainnya. Jangan menunggu mereka datang, datangi tempat mereka berkumpul dan ikut diskusi yang mereka lakukan.
                  Ingat! mengajak orang melakukan kegiatan bukan berarti pustakawan menjadi EO lho.
                  Minta para dosen mengisi tema-tema aktual yang dapat memecahkan permasalahan mahasiswa/pemustaka.... rekam dan curi ilmunya. Maka ketika ada mahasiswa lain bertanya tentang hal yang sama, kita bisa menggunakan ilmu curian tadi untuk menjawanb dan membimbing mahasiswa.

                  pertemukan berbagai ide pemustaka dalam wadah virtual atau fisik.
                  Pertemukan berbagai ide dalam diskusi tentang suatu topik, maka topik akan dikupas dari berbagai sudut pandang. Dalam hal ini (jika berhasil) maka sebagai pustakawan mampu mengeluarkan pengetahuan mahasiswa untuk berdialektika dengan mahasiswa lain. Jangan lupa, curi ilmunya.


                  Berbagai hal di atas tentunya harus dibarengi dengan softskill dan hardskill pustakawan yang selalu diasah.

                  [1] kalimat itu agak terpengaruh dengan judul artikel Ulil Absar Abdalla yang pernah heboh, "Menyegarkan kembali pemahaman Islam" http://islamlib.com/gagasan/islam-liberal/menyegarkan-pemahaman-islam/