Wednesday, 15 April 2026

, , ,

Nur Bakti Susilo, yakin berani memastikan "aspirasi" tendik tersampaikan?


Pemilihan anggota MWA UGM kembali digelar. 

Video profil dan penyampaian visi misi Nur Bakti Susilo (NBS), salah satu calon MWA unsur tendik, tersebar. Sebagai bagian dan konsekuensi dari proses politik, tentu NBS terbuka untuk diberi catatan. Saya coba rangkum isinya dan berikan catatan.

Gagal merumuskan visi

NBS mengawali video dengan perkenalan, perjalanan karir dan, tentu saja yang harus dilakukan adalah menyampaikan prestasi, dilanjutkan dengan visi.

NBS memiliki visi "melaksanakan tugas anggota MWA sesuai kewenangan berdasarkan statuta UGM". Mari kita bedah. 



Visi yang dimiliki NBS tersebut rasanya cukup untuk menunjukkan bahwa NBS gagal merumuskan visi. 

Coba cek visi UGM: "Universitas Gadjah Mada sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila."  Pada visi UGM ini ada kondisi yang terus ideal yang perwujudan sempurnyanya masih imajiner, masih hanya bisa dibayangkan, yang semua diharap bersama terus menuju ke sana.

Visi lain, misalnya: menuju Indonesia Emas 2045. Ini masih khayalan, belum terwujud. 

Nah, yang disampaikan NBS itu bukan visi, itu tugas. Secara tersurat juga jelas tertulis "tugas". Visi seharusnya visioner, sesuatu yang ideal, imajiner, dan akan diraih. KBBI memberikan arti visi sebagai apa yang tampak dalam khayalan. Apakah NBS ingin menunjukkan anggota MWA unsur tendik selama ini belum "melaksanakan tugas anggota MWA". Selama ini masih khayalan, belum ideal, masih imajiner? 

Tafsir lain atas visi NBS ini adalah NBS bermain aman. Intinya begini: "jika terpilih, ya saya akan melaksanakan tugas sesuai ketentuan" titik.

Bagaimana dengan misi?



NBS memiliki misi "peningkatan capacity building tenaga kependidikan". NBS juga menyebut sertifikasi bagi tenaga kependidikan.

Jika dikaitkan dengan visi yang ditetapkan, misi ini tidak nyambung. 

Saya rasa, NBS gagal merumuskan visi dan misi. Namun demikian, pesan NBS dapat diterima. NBS ingin tendik lebih berdaya melalui pelatihan, dan berbagai bentuk pengembangan kapasitas tenaga kependidikan. Ini standard saja, sih.


Perumpamaan yang gagal (juga)


NBS, menempatkan tendik dengan perumpamaan

  • Jika dosen adalah kutub utara, maka
  • Tendik adalah kutub selatan
  • Semestanya adalah mahasiswa, alumni dan masyarakat

Dosen di kutub utara dan tendik di kutub selatan, rasanya aneh. Kenapa? Karena justru NBS menunjukkan jauhnya jarak tendik dan dosen. Kutub utara dan selatan, jamak dipakai untuk perumpamaan orang atau pihak yang saling berjauhan dan sulit bertemu. "Pikiran mereka bagaikan kutub utara dan selatan" yang menunjukkan betapa kontrasnya ide 2 orang yang berlawanan.  


Kemudian NBS menyebut "Semestanya adalah mahasiswa, alumni dan masyarakat". Ini aneh lagi. Jika 3 unsur ini adalah semesta, semestinya dosen dan tendik menjadi bagian dari semesta ini. Kenapa justru digambarkan terpisah?

Penutup yang harus diuji


Jika teman-teman mengingat lagi janji, gagasan, ide anggota MWA unsur tendik yang terpilih untuk masa jabatan 2021 sd 2026, kemudian mendengar penutup dari NBS kemungkinan besar merasa semacam de javu. Kayak pernah dengar.

Ada kata "aspirasi" dan "tersampaikan". Ya. Dulu, pendahulu NBS juga menyampaikan hal serupa. 

"Menjadi tugas siapapun yang nanti terpilih menjadi anggota MWA adalah mengawal menyampaikan ide dan gagasan teman-teman tendik", begitu yang dulu pernah disampaikan. Silakan cek di tulisan ini

Namun, gagasan itu, sejauh yang saya tahu, tidak terealisasi. Pada tugas MWA paling populer: memilih rektor, para tendik yang menjadi basis dia terpilih pun tidak dilibatkan. Saluan aspirasi? Mana ada. 

Dan, NBS dengan gagak berani menyelipkan kata "pasti" di antara kata aspirasi dan tersampaikan. Tentu ini akan diuji. Oleh siapa? Oleh dirinya sendiri.


Kelas elite

Sejak UGM memiliki MWA, sekian tendik duduk sebagai anggota, mewakili unsur tendik. Melalui pemilihan langsung maupun tidak. 

Ada pertaruhan saat anggota unsur tendik berasal dari kelas elit, seperti KKA. Sebagai pemegang jabatan struktural, KKA cenderung memiliki sifat yang lekat dengan kaum elit. Tidak semua bisa membaur dengan kalangan bawah, tidak mudah diakses. Paling jauh, KKA akan membaur dengan tendik di wilayah administratifnya sendiri. Itupun tentu ada lapisan-lapisan yang tercipta.

KKA akan akrab dan berani cerita terbuka kepada sesama KKA. Jika anggota MWA unsur tendik dari KKA, maka kecil harapannya mereka akan berbagi informasi berbagai dinamika MWA secara terbuka. Dan, jika demikian, maka informasi tentang perannya di MWA hanya akan tersebar di lingkaran terbatas. Akibatnya akan memperkecil keberanian tendik dari unsur bawah untuk maju, mendaftar sebagai anggota MWA. 

Kita ingin semakin banyak warga UGM yang berani maju menjadi anggota MWA, termasuk dari unsur paling bawah, dan paling jauh dari kekuasaan. 

Saya membayangkan anggowa MWA unsur tendik bikin acara jalan-jalan formal maupun tidak, ke fakultas, ngopi udud bareng di angkringan. Membaur. Cerita tentang MWA, profil calon rektor, minta saran dan masukan dari unsur yang diwakilinya. 

Kalau perlu sekalian bantu bagian kebersihan masuk gorong-gorong. Siapa tahu nanti jadi presiden. 

Bukan hanya yang lantang di kampanye, berteriak "Hei antek-antek asing!"

******

Grenengan saya yang pertama tentang sumber informasi pemilihan unsur mahasiswa, bisa dibaca di https://mustoko.blogspot.com/2026/04/di-mana-informasi-proses-pemilihan-mwa.html


Sambisari, 16 April 2026
06.00 pagi
 

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi