Showing posts with label perpustakaan. Show all posts
Showing posts with label perpustakaan. Show all posts

Monday, 9 December 2019

,

[ penjara ]

gambar: lisensi free dari Pixabay
Paijo janjian dengan Karyo. Tidak di gardu ronda, atau di halaman rumah. Kali ini mereka janjian ketemu di cafe.

Digilib Cafe, sebuah tempat yang kini jadi ikon di kampusnya.

“Biar kayak orang kaya, Jo?”, tanya Karyo.

“Wo, iya Kang. Selain itu, juga bisa sambil lirik kiri kanan,” Paijo menjawab dengan senyum ditahan.

“Haish. Gayamu, Jo!.”

***

Sampailah mereka di tempat tujuan. Takjub, heran, dan tak henti-hentinya mereka bersyukur bisa sampai di tempat cemlorot itu. Benar-benar nikmat yang tidak bisa didustakan.

Mereka masuk ke cafe. Lagak ndesonya Karyo tetap kelihatan ketika pesan minuman. Karyo heran melihat pembeli didepannya memesan dengan cara ngelus-elus layar. “Itu namanya tab, Kang. Tablet,” Paijo menjelaskan.

Paijo memang sudah pernah ke cafe ini. Dia mengajak Karyo sebagai usaha mengenalkan Karyo pada dunia luar. “Tablet? kayak obat wae.” Karyo bergumam. Paijo terkekeh.

Ketika tiba gilirannya ngelus-elus layar untuk milih menu, Karyo njondil. Matanya mencermati  harga yang tertera. “We, Kang Bayat bisa nesu ini”, lagi-lagi Karyo ngedumel. Bagaiana tidak? Kopi yang biasanya bisa dia tebus dengan harga 3000 dan itupun bisa ngutang, di tempat ini bisa berkali lipat dan tak boleh ngutang.

Paijo tersenyum.

***

Sambil menunggu pesanan, mereka duduk.

“Kang. Wis dengar kabar? tentang petugas penjara yang dipindah tugaskan sementara ke perpustakaan,” Paijo membuka obrolan dengan tema yang sudah disiapkan sejak sebelum berangkat.

“Yo,” Karyo menjawab pendek. Matanya menyapu ruangan. Berhenti sejenak di sudut-sudut ruang, ketika dapat pemandangan yang kontras berbeda. Tiga sosok bening-bening sedang berdiskusi, sesekali tertawa, kadang tersenyum. Mata Karyo tak lepas mamandang lesung pipi yang tiba-tiba tercetak ketika senyuman tersungging.

“Kang Karyo!. Wa, ini. Kalau lihat yang bening-bening, lalu lupa sama konconya.”

“Ssst. Lah, salahmu sendiri. Ngajak ke tempat ini. Neng angkringan ndak ada yang sebening itu, je”. Karyo jujur membela diri.

“Ya, aku dengar berita itu, Jo,” Karyo melanjutkan jawabannya.

“Keren itu, Kang.  Dengan memutuskan memindahkan ke perpustakaan, menunjukkan bahwa pimpinannya benar-benar visioner”, hampir sama dengan Karyo, Paijo membuka diskusinya ini dengan melihat sekeliling. Dua orang ini memang 11/12 kalau masalah yang bening-bening.

“Setidaknya, seperti maksud si pempimpin, petugas bisa belajar di perpustakaan. Keren tho ini, kang?. Tinggal dijelaskan saja target pemimpin pada si petugas yang dipindah,” kata Paijo.

Pandangan Paijo ini memang cukup berbeda. Atau bisa dibilang berbeda dari arus utama para pustakawan, yang sebagian besar menolak pemindahan petugas penjara ke perpustakaan. Pemindahan itu seolah meneguhkan bahwa perpustakaan itu tempat hukuman, begitu katanya.  Mungkin mereka lupa, bahwa itu di perpustakaan penjara. Lah penjaran kan memang tempat hukuman. Piye, tha.

Karyo menyela, “Kamu itu mbedani, Jo. Pustakawan lainnya pada protes. Mereka menganggap tidak sepantasnya perpustakaan dijadikan tempat hukuman. Kok kamu malah bergembira ria?”

Paijo tampak sedang menoleh ke bagian pemesanan. Berharap  kopi segera datang.

“Iya, Kang. Aku tahu. Tapi aku juga heran. Begitu banyaknya pustakawan berharap orang datang ke perpustakaan, ini ada petugas yang diminta rutin datang ke perpustakaan, malah sekalian bantu-bantu ngurusi perpustakaan, kok malah ditolak. Kan aneh?,” begitulah jawaban Paijo.

“Petugas ini juga berhak belajar. Meski dia pegawai, dia itu sekaligus pemustaka. Haknya sebagai pemustaka harus ditunaikan. Lak kudune pustakawan senang, ketika pimpinan memindahnya ke perpustakaan,” demikian Paijo.

“Iya, Jo. Tapi pandangannmu itu tidak sesuai dengan garis keumumam pendapat pustakawan. Ora umum.”

“Agaknya, kita sudah kehilangan ruh filosofi dasar perpustakaan sebagai tempat belajar bagi semua orang. Perpustakaan itu tempat belajar, apapun alasan orang itu belajar. Termasuk belajar karena diminta atau sebagai konsekuensi dari perbuatannya. Ya, seperti petugas penjara itu,” Paijo serius.

“Kita itu ingin menunjukkan kepedulian dengan cara melakukan penolakan, padahal kita tidak ada kuasa penuh atas takdir seseorang. Siapa tahu kepindahannya ke perpustakaan justru menjadi jalan titik balik dirinya. Bisa tho?” Paijo nerocos.

“Di sisi lain, Kang. Sebenarnya si petugas itu tidak dihukum. Dia justru disayang pimpinan, kemudian diminta belajar di perpustakaan. Sebaik-baik tempat untuk belajar. Siapa tahu di perpustakaan dia menemukan passion-nya,” Paijo mulai ndadi.

***

Di tengah obrolan, dua cangkir  kopi datang. Keduanya diletakkan di meja, lengkap dengan sedotan, tisu, dan gelas kecil air putih.

Karyo tampak bingung. Pesan kopi, kok juga diberi air putih. Dua paket kopi itu dibiarkan dulu di meja. Dipandangi dengan seksama. Dari kiri, dari kanan, dari atas. Hanya dari bawah saja yang tidak. Hora iso.

“Trus karepmu piye, Jo?, tanya Karyo.

“Memindah petugas yang bermasalah ke perpustakaan itu bagus kang. Kuncinya kejelasan dari si pimpinan. Target apa yang diberikan pada si petugas yang dipindah. Kalau pepusnya belum ada yang mengelola, justru bisa diminta mengelola. Kalau sudah ada pustakawannya, bisa kolaborasi. Dan ini ujian bagi perpustakaan. Mampukah sistem universal perpustakaan itu mampu melakukan perbaikan pada orang yang dianggap bermasalah?,” kata Paijo.

Agaknya Paijo ingin menjelaskan, bahwa jargon literasi dengan huruf L itu bisa diuji dengan kasus ini.

“Orang yang dianggap bermasalah itu berarti juga memiliki ketidak tahuan, maka tepat ketika diminta ke perpus, agar tahu,” itu prinsip dasarnya, Kang”.

Karyo mencerap penjelasan Paijo. Tuah senioritas Karyo lumpuh. Suasana Digilib membuatnya tak bisa berfikir banyak. Alurnya banyak dipengaruhi logika berfikir Paijo.

***

“Diminum, Kang!,” Paijo menyilakan Karyo.

Karyo meraih cangkir kopinya. Bibirnya mulai mendekat ke bibir cangkir. Dalam hitungan detik, dua bibir itu bertemu. Melumat dan dilumat. “Ssrrrppp”, suara khas nyeruput kopi itupun terdengar..

“Bsssssssss. Kok pahit banget, Jo?,” Karyo gebres-gebres.

Paijo menahan tawa yang sejengkal lagi meledak. “Normalnya kopi itu ya pahit, Kang. Makanya itu diberi segelas air putih sebagai penetralisir.”

“Tapi kalau ngopi di Kang Bayat kok ada manis-manisnya”.

“Itu air gula campur kopi, Kang. Bukan kopi," Paijo ngakak tidak bisa ditahan.

Obrolan itu selesai. Mereka sibuk dengan  cangkirnya masing-masing. Tentunya, dengan tetap melihat kiri kanan, alias cuci mata.

***

 “Wis, kita pulang, Kang,” ajak Paijo. “Jangan lupa cuci tangan. Tadi ketika pesan kopi, Kang Karyo ngelus-elus tablet, kan?”

“Emang kenapa, Jo?,” Karyo penasaran.

“Bekas elusan tablet bisa berpengaruh pada elusanmu pada Mbakyu Karyo nanti malam, Kang”

Karyo mrengut menahan mangkel.

“Tenang, Kang. Tak bayari." Sebuah e-money dicabut Paijo dari dompetnya. Digesek, menekan pin, lalu selesai.

[[ tamat ]]

Sunday, 8 September 2019

,

Perpustakaan di mata Google: sebuah analisis kuanlitatif

Latar belakang
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona.  Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.

Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan  guyub para pustakawannya.

Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.

Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?

Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.

Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?

Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.

Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.

Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.

Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.

Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.

Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.

Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.

Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.

Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
no
nama perpus
skor (bintang) di Google
jumlah komentar
rata-rata pemustaka di perpus (jam)
Jam tutup (malam)
1
ITS
-
69
4
19
2
Kota Jogja
4.4
394
3.5
24 jam
3
UGM
4.7
255
3.5
20
4
UIN Jakarta
4.4
69
3.5
20
5
FT UGM
4.7
52
3.5
19.30
6
UMY
4.4
28
3.5
17
7
UI
4.5
388
3
19
8
UIN Jogja
4.6
137
3
18
9
UNIBRAW
4.5
129
3
22
10
ITB
4.8
109
3
21
11
IPB
4.6
100
3
21
12
USU
4.5
81
3
16
13
UIN Malang
4.7
44
3
18
14
UNSYIAH
-
19
2.5
21
15
UIN Walisongo
4.6
60
2
17
16
UII
4.9
29
-
-
17
UAJY
4.3
14
-
19
18
UIN Sunan Ampel
4.1
10
-
18

Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.

Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi  ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.

Sementara itu, paling banyak diulas yaitu perpustakaan Kota Jogja, dengan 394 pengulas. Angka ini memunculkan skor 4.4. Agaknya dengan banyaknya pengulas, skor ini sudah mulai stabil. Beda dengan UII yang baru 29.

Untuk rata-rata jam dihabiskan di perpusakaan, paling lama di perpustakaan ITS, 4 jam. Perpustakaan lainnya hanya kisaran 3-3,5. Bahkan ada yang hanya 2 jam saja. Sayangnya, Google tidak mendefinisikan skor perpustakaan ITS. Entah apa yang dimiliki perpustakaan ini. Empat jam itu setara 3 SKS lebih.



Perpustakaan kota jogja, selain memiliki pengulas paling banyak,  juga memegang rekor buka paling lama. Google mengenalinya sebagai perpustakaan yang buka 24 jam full 7 hari terus-terusan. Uelok tenan. Hal ini juga terkonfirmasi pada laman https://arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id/menu.php?page=2.



Latar depan
Apa itu latar depan? Latar depan itu latar yang terlihat banyak orang. Kalau latar belakang, ndak semua orang bisa lihat. Nah, latar depan itu isinya kesimpulan.

Mosok ada latar belakang, kok ndak ada latar depan.

Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu. 

Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.

Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).

Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.

Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.

Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.



Wednesday, 3 January 2018

, ,

Digilib Cafe Fisipol UGM: cafe, co-working space, perpustakaan

Paijo, pustakawan berusia 30-an tahun itu hendak mencoba minum di cafe. Kabarnya, ada cafe baru di seputar tempat dia bekerja. DIGILIB Cafe, "lib"-nya (lib, library) yang menempel pada nama itu membuat naluri kepustakawanan Paijo terusik. Setelah memastikan ada uang di dompet, serta masih ada saldo di e-money, dia ajak temannya menuju cafe yang dimaksud. Niatnya ngopi + studi banding.
### 

Caffe Latte, yang juga dipesan Jokowi
Purwo.co -- Awal tahun ini, atas nama Ketua Forum Pustakawan UGM saya pernah diminta datang ke Fisipol untuk mendengarkan presentasi terkait pengembangan perpustakaan FISIPOL UGM. Menarik. Semua digital. 

Beberapa waktu kemudian, ketika saya bersepeda dari FT ke Perpustakaan Pusat, lewat sebelah barat FISIPOL saya melihat ada plakat nama DIGILIB-CAFE pada gedung FISIPOL yang hendak dijadikan perpustakaan. "Lah, sekarang ada cafenya?", saya setengah kaget. Beberapa hari kemudian, ketika acara puncak Dies UGM, setelah memberikan kuliah umum di Ghra Sabha Pramana, Presiden Jokowi mampir di Digilib Cafe ini.

Saya berfikir, konsep pidato kuliah umum Presiden memang agak nyrempet dengan konsep Digilib Cafe-nya Fisipol UGM. Benar saja, ketika saya, Mas Bagus dan Kang Arizal (barrista dan juga mahasiswa pasca Geologi UGM) datang ke Cafe ini, disuguhi dengan video kedatangan Presiden bersama menteri, rektor, gubernur dan pejabat lainnya. Mereka ngopi bareng.  Kurang lebih demikian. 

Eh, sebenarnya kami hendak berempat dengan Pak Alfa, mahasiswa S3 FT UGM, namun batal.

*** 

Kami berkunjung untuk studi banding, serta mencoba merasakan langsung ketemu barista, ngobrol kemudian merasakan sensasi memesan kopi dan makanan, menikmati sambil ngobrol di dalamnya. Ingin membuktikan desas desus, bahwa ngopi, khususnya di café bisa meningkatkan kreatifitas, memunculkan ide-ide segar dan orisinil. 

### 

di depan racikan kopi
Sebenarnya, cafe di perpustakaan sudah ada di beberapa tempat. Kafe yang cukup populer di kalangan pustakawan yaitu Kafe Pustaka di Universitas Negeri Malang. Kafe ini memiliki jargon "Kate nengdi, Bro? Ngopi kene lho, iso pinter: Sembari Ngopi Membangun Literasi". 

Ngopi, konon kependekan dari "ngobrol - pinter", begitu yang saya pernah dengar langsung dari Kepala Perpustakaan UM, Prof. Djoko Saryono. Ngobrol, diskusi, seminar juga bagian dari pustaka, bedanya dengan buku hanya pada wadahnya saja. Kalau buku, wadahnya kertas-kertas, kalau seminar maka wadah ilmunya ya kepala-kepala itu. "Diskusi dan seminar adalah bentuk dari pustaka juga", ini juga ungkapan dari Prof. Djoko. 

Ada beberapa acara di kafe ini; kudap buku, konser mini, baca puisi dan lainnya terkait dengan literasi. 

###

Bagimana dengan digilib cafe FISIPOL UGM ini?

Digilib cafe di FISIPOL UGM, sejauh yang saya tahu merupakan cafe terbaru di perpustakaan UGM. Menyusul cafe-cafe sebelumnya. Cafe ini berada di lantai 2, sementara lantai 1 untuk bank. Informasi yang saya peroleh, lantai 3 nantinya diproyeksikan untuk co-working space, dan lantai paling atas untuk perpustakaan. Saat kami datang, baru lantai 1 dan 2 saja yang difungsikan. 


melihat dan menunggu kopi diracik
Memasuki gedung tempat cafe ini berada, kami disuguhi dengan baliho besar yang memperlihatkan konsep besar dari co-working space yang dibangun FISIPOL. Kemudian pada pintu masuk terdapat tempat selfie dengan gambar yang kekinian. 

Sebelum masuk menuju lantai 2, terdapat mesin ATM yang siap memberi sangu sebelum ngopi. Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu ada yang lupa bawa uang, atau lupa ngetap e-money-nya. Kan malu pas mau bayar kok ndak bawa uang. Eit, jangah salah, ding. Bisa bayar secara cashless, kok. Tinggal gesek.

### 

Sampai di lantai 2, barista sudah menunggu, dan menyapa ramah. Saya ketemu dua orang barista: satu mahasiswa satunya lagi bukan. 

Dengan sok nggaya dan sok akrab, saya terus terang bahwa saya tak tahu menahu tentang kopi, "apa yang direkomendasikan, mas?". Pertanyaan to the point untuk menutupi keawaman saya pada dunia kopi. Akhirnya beberapa gambar menu kopi diperlihatkan kepada saya. Menu tersebut ada di tablet SAMS***, tinggal geser kiri kanan saja. Bukan hanya kopi, namun juga ada nasi goreng, mi, roti dan lainnya.

ngopi ala orang kaia
"Ini kopi yang kemarin dipesan Pak Jokowi, Mas. Kalau ini pakai susu, ini agak pahit....". Dengan PD saya pesan, "Saya pesan yang sama dengan pesanan Pak Jokowi, ya". Ini sesungguhnya strategi saya saja, sekali lagi agar tidak begitu ketahuan kebodohan saya tentang perkopian. Saya pesan coffe latte, dan mi goreng. Mas Bagus, teman saya pesan single origin. Sebenarnya saya ngrasani, "kok namanya pakai bahasa asing, ya?. Mbok namanya itu pakai bahasa jawa. Kopi ireng, kopi aseli, kopi jahe, atau apalah". 

### 

Latte yang saya pesan disajikan dalam cangkir, ada buihnya (foam), kemudian tercetak hiasan daun di atasnya. Embuh apa namanya, pokoknya kayak gitu. Sementara Single Origin disajikan dengan 3 gelas: cangkir untuk hasil seduhan kopi, cangkir kopi untuk minum, serta air putih untuk menetralkan. Ketiganya diletakkan di atas beki dari kayu. Air kopi ini defaultnya pahit, dan disediakan gula yang bisa ditambahkan sendiri.

Sementara, Kang Arizal yang datang lebih dulu memesan kopi sama roti. Nama menunya saya tidak tahu. Dia juga menyiapkan beberapa bijih kopi yang belum dihaluskan, yang kadang langsung digigit alias dikletak (jawa) begitu saja. Pahit, mungkin. Tapi kayake enak. "Saya sudah terbiasa menikmati kopi tanpa gula", katanya. Kang Rizal ini pernah beberapa tahun di Brazil, bekerja. Sehingga tahu banyak tentang kopi.  "Brazil merupakan negara penghasil kopi", terangnya. 

##

Ketika kami masuk, hanya ada 2 meja dipakai. Cafe ini sepi karena mahasiswa belum kuliah aktif. Kemudian beberapa dosen datang, memilih menu, kemudian mencari kursi sendiri. Saya sempat ketemu dengan salah satu dosen FISIPOL yang pernah ngajar saja ketika kuliah, namanya Bu Hermin. Teman-teman yang sering mendengarkan RRI (Radio Republik Indonesia), pasti pernah mendengarkan suara beliau membawakan tema analisis terkait komunikasi. Beliau dosen Ilmu Komunikasi. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi, kamipun melanjutkan agenda masing-masing.

###

tablet, menampilkan menu untuk dipesan
Harga makanan dan minuman di cafe ini, menurut Kang Rizal yang juga seorang barista, relatif murah dan terjangkau. Namun jika dibandingkan dengan ngopi di angkringan, ya jelas murah di angkringan. 

Karena saya memang penasaran, ya tetap saya bayar. Latte yang saya minum dihargai Rp.18.000, sementara single origin dihargai Rp.13.500. Untuk mie goreng di harga Rp.18.500 ribu per porsi.

Suasananya cafe ini nyaman. Ada kelompok meja dengan 2 kursi atau 4 kursi yang terbuat dari kayu, kursi sofa simple yang cukup nyaman untuk duduk. Ada pula ruang tertutup dengan sekinar 10 kursi mengitari meja + papan tulis.  Ruang ini bisa untuk rapat/diskusi dalam jumlah 10-an orang. Lantai 1, 2,3,4 dihubungkan oleh tangga tangga di sisi sebelah pojok tenggara. Langit-langit tiap lantai merupakan cor beton, sehingga aktivitas antar lantai tidak akan saling mengganggu. Fungsi ruang pada tiap lantai akan terjaga.

Pada bagian tengah ada panggung kecil, dengan desain agak tinggi dari lantai lainnya + latar belakang bertuliskan DIGILIB-CAFE lengkap dengan logo cangkir

di pintu masuk
Kami ngobrol ngalor ngidul. Kang Rizal banyak bercerita tentang perkopian di Jogja, pengalamanannya menjadi barista, pergeseran cara belajar mahasiswa jaman sekarang, dan pemanfaatan kopi + cafe untuk kumpul dan bertukar ide. 

"Mahasiswa sekarang perlu tempat yang bisa bebas ngobrol. Cafe + kopi menjadi paduan yang pas saat ini. Trend perkopian konsisten naik di Jogja", demikian Kang Rizal bercerita. 

Tak ketinggalan, Kang Rizal juga mengajari kami cara minum kopi. Jian, tak kira tinggal minum saja. Ternyata, misalnya pesanan Single Origin yang karena cara minumnya berbeda, maka harus menggunakan 3 gelas dengan fungsi masing-masing. Latte pesanan saya, karena tak mau repot, gula langsung saya tuang, saya aduk, lalu minum. Ora nganggo repot

Memang benar, ketika ngopi, rasanya plong“Mak pyar”, seperti komentar konco ronda setelah nyeruput kopi yang dibawa Kang Gimin, teman ronda juga. “Mak pyar”, juga saya rasakan setelah menyeruput kopi latte yang baru saja saya pesan, apalagi ketika masih panas. Harganya yang sekian kali lipat dibanding kopi di angkringan Kang Bayat, sudah terlupakan bersamaan dengan sruputan pertama. Pokoknya majas, sakti sekali kopi ala café ini untuk menghilangkan beban hidup, apalagi beban utangan. Ilang babar blas.


poster besar di depan pintu masuk


ruang pertama setelah pintu


tangga

 
panggung dalam cafe


"It's more than cafe. It's a coworking space for creativity", demikian jargon yang tertempel di beberapa sudut cafe ini. Ada juga "turn on your ideas". Konsep cafe ini, perpaduan cafe, co-working space dan perpustakaan untuk mendorong munculnya ide-ide dari siapapun, serta tempat berkumpulnya orang-orang yang membawa ide tersebut sehingga dimungkinkan adanya kolaborasi positif antar mereka. 

Mau mendiskusikan ide secara santai, ke cafe. Mau mengerjakan ide tersebut bersama-sama, bisa ke co-working space. Dan jika perlu referensi dari ide yang hendak dieksekusi, tersedia perpustakaan.

Begitulah cafe jaman now, perpustakaan jaman sekarang, cara belajar mahasiswa jaman sekarang, trend perpusakaan jaman sekarang. Semua perlu biaya. Baik membuatnya, maupun membeli kopinya. Sediakan uang yang lebih dari yang biasanya digunakan untuk membeli kopi instant. Maka anda bisa menikmati kopi di cafe, nggaya, dan kekinian. 


###


Selesai ngopi Paijo menuju kasir. Membuka dompet, menyodorkan kartu e-money untuk membayar. Di nota tertera Rp.31.500 untuk dua kopi yang gelasnya lebih kecil dari gelas yang biasa dia pakai ngopi di angkringan Kang Bayat. Diapun ingat lagi ketika sore-sore mampir angkringan Kang Bayat. Cukup Rp.18.000-an sudah bisa makan nasi piring dengan lauk sate dan beberapa gorengan  + minum jeruk anget, itupun berdua dengan istrinya. Paijo terbayang wajah istrinya. "Maafkan aku, istriku", Paijo membisik. Nota itu buru-buru dimasukkan ke kantong tersembunyi, agar istrinya tidak tahu, bahwa dia baru saja menghabiskan jatah ngangkring 2 x, untuk sekali ngopi.

Namun, sejurus kemudian Paijo ingat, bahwa niatnya bukan ngopi, tapi studi banding. "Ah, nanti saya beralasan ini biaya studi banding saja. Aman.."

Paijo merenung, apa iya untuk mengeluarkan ide kreatif harus mengeluarkan uang lebih besar dari biaya ngangkring malam malam, berdua dengan istri di angkringan Kang Bayat dekat rumah?. Rp.18.000-an sudah dapat nasi piring lauk pecel dua porsi, jeruk atau teh anget, lawuh sate plus beberapa gorengan. "Ah, kayake saya milih mencari ide kreatif dengan cara tradisionil saja, 
nang angkringan, atau sambil nyambel bawang, sambel kepik, atau lawuh putul goreng. Wedange degan yang metik dari depan rumah. Hora level yen nongkrong di cafe. Hora popo yen ora disebut kekinian". Paijo milih mikir kepenak, ayem luwih penting bagi Paijo.



Sekip, 3 Januari 2018
15.56

Info lainnya tentang cafe di perpustakaan:
  1. http://fisipol.ugm.ac.id/news/kunjungi-digilib-cafe-jokowi-akhirnya-ketemu-creative-hub-di-fisipol/id/
  2. http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/31/asyiknya-ngopi-literasi-ala-kafe-pustaka
  3. http://www.unsyiah.ac.id/berita/perpustakaan-unsyiah-sediakan-warkop




Monday, 21 August 2017

, ,

Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya


Sesungguhnya kerja memustaka dan memustakawan adalah kerja abadi setiap manusia 


Semua orang akan menyebut nama sebuah perpustakaan, misalnya Perpustakaan A, sebagai jawaban atas pertanyaan: “perpustakaan apa yang terbesar di dunia?”. Namun ketika ditanya tentang perpustakaan yang paling lengkap, maka jawabnya adalah: tidak ada perpustakaan yang paling lengkap. “Semua perpustakaan saling melengkapi”, demikian jamak orang memberi alasan.


sawah dan kedamaian
Perpustakaan yang ada dan saling melengkapi itu, jika disatukan, hasilnya adalah jagat raya yang kita tempati ini serta  segenap isinya. Jagat raya ini, merupakan perpustakaan terbesar sekaligus terlengkap. Di dalamnya terkandung semua ilmu pengetahuan, yang dibutuhkan ummat manusia dalam proses kehidupannya, dan tersusun sistematis. Ada yang telah terbukukan, atau yang belum. Ada yang terpecahkan, ada yang masih menjadi tanda tanya. Semuanya ada di jagat raya ini.

Apa yang ada di jagat raya, kemudian dipilihi, sesuai tujuannya dan disimpan dalam ruang-ruang yang diinstitusikan, agar manusia mudah menemukannya ketika membutuhkan. Ruang-ruang tersebutlah yang kemudian disebut sebagai perpustakaan dalam arti umum saat ini. Perpustakaan ini, hanya bagian kecil saja dari perpustakaan terbesar, jagat raya. Pengelolanya disebut pustakawan.


Jagat raya adalah perpustakaan terbesar dan terlengkap, gedung/ruang perpustakaan adalah perpustakaan kecil.

Penamaan pengelola perpustakaan kecil dengan sebutan “pustakawan” disebabkan oleh sistem. Terkait dengan legal-formal ciptaan manusia, terkait dengan status, struktur, profesi dan hajat hidup manusia. Ya, hajat hidup si "pustakawan" itu sendiri, agar lahannya tidak diambil orang lain. Pustakawan dalam "perpustakaan kecil" ini  lahir karena aturan tertulis manusia, dan justru menyempitkan konsep pustakawan yang universal.

###

Perpustakaan-perpustakaan kecil, menjadi ladang penciptaan struktur yang baru. Pustakawan – pemustaka.  Struktur yang di dalamnya ada hak dan kewajiban, diatur dengan aturan internal, bahkan dengan undang-undang, yang harus ditaati keberadaannya. Ketidaktaatan pada undang-undang, akan berakibat gejolak kecil pada perpustakaan dan pustakawan kecil, dalam bentuk protes dan keberatan. 

Pustakawan menyediakan segalanya untuk melayani pemustaka. Mereka dituntut untuk selalu mengembangkan perpustakaannya, mengikuti jaman, mengikuti tren, mengikuti kebutuhan pemustaka. Di sisi lain, pemustaka menempatkan pustakawan sebagai pihak yang mengelola dalam arti seluas-luasnya, tempat bertanya jika membutuhkan informasi, tempat mengonfirmasi informasi valid atau hoax dan lainnya. Tentu saja, orang yang dituju ketika mau meminjam dan mengembalikan buku.


###


Semua manusia yang tersebar di dunia ini sesungguhnya adalah pustakawan. Mereka pustakawan (minimal) bagi dirinya sendiri. Mereka semua memiliki cara mereka masing-masing untuk mencari, menyimpan, mengolah dan menemukan kembali informasi serta menyebarkan kembali pada orang lain. Cara mereka unik, yang mungkin berbeda satu dan lainnya, dan mungkin hasil pencariannya juga akan berbeda.


Setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri

Hasil pada masing-masing proses dapat dianggap berbeda, dianggap benar, dan juga dianggap keliru oleh sebagian lainnya. Padahal, orang lain yang menganggap keliru tersebut, tidak otomatis semua proses pencarian informasinya benar. Tidak ada jaminan. Maka, demikianlah,  semua memainkan dirinya sebagai pustakawan, bagi dirinya sendiri. Mereka saling mengonfirmasi  informasi dan pengetahuan yang diperoleh.

Jagat raya, yang merupakan perpustakaan terlengkap ini menaungi semua manusia. Mereka punya posisi sama pada informasi di perpustakaan tersebut. Namun, alat dan jangkauan masing-masing pustakawan ini yang berbeda. Sama dengan pustakawan di perpustakaan kecil, yang juga memiliki alat dan jangkauan yang berbeda.


###


Sebagai perpustakaan yang terlengkap di dunia, jagat raya memiliki posisi istimewa. Segala dinamikanya, akan diikuti oleh perpustakaan kecil. Atau, jika dibalik maka kalimatnya menjadi “perkembangan perpustakaan kecil mengikuti apa yang terjadi di perpustakaan besar (jagat raya)”.

Ketika di jagat raya orang merasa nyaman di tempat-tempat sunyi, dingin dan duduk di sofa empuk sambil tiduran, maka atmosfir tersebut dibawa ke perpustakaan kecil. Hasilnya, ruang perpustakaan akan dilengkapi dengan AC yang terjamin suhunya, sofa yang nyaman dengan berbagai bentuknya untuk duduk dan membaca, serta bercengkerama. Ketika di jagat raya ada orang yang senang bergerombol dan berdiskusi, perpustakaan kecil juga menyediakan ruang-ruang agar mereka bisa terfasilitasi, lengkap dengan layar elektronik berteknologi tinggi.

Ketika di jagat raya muncul tren cepatnya informasi ditemukan di internet, maka perpustakaan menduplikasinya dengan memabuat sistem-sistem canggih yang membuat apa yang diperoleh di jagat raya, dapat pula dilakukan di perpustakaan.

Ketika di jagat raya ada pertunjukkan chef ngganteng yang mempraktikkan resep masakan di depan ibu-ibu muda yang begitu bersemangat, kemudian bersama mencicipi makanan tersebut, maka perpustakaan menduplikasinya. Hasilnya merupakan tawaran untuk melakukan hal serupa di perpustakaan, dengan dalih menyatukan buku dan mempraktikkan apa yang ada dalam buku tersebut.

Ketika di jagat raya terdapat kecenderungan orang membaca sambil olahraga, maka perpustakaan berusaha menduplikasinya. “Hoei, di perpustakaan juga perlu alat olah raga, lho. Agar orang yang belajar, bisa melepas penat belajar dengan  olah raga”, demikian serunya. Akhirnya, ada alat olah raga di perpustakaan.

Ketika di jagat raya, ditemukan orang sangat tertarik dengan game terkini, maka dibawalah game tersebut ke perpustakaan. Dengan harapan, orang-orang akan semakin banyak yang datang ke perpustakaan. Bahkan, game digunakan sebagai alat untuk mengenalkan perpustakaannya. Tentunya, agar manusia tertarik menggunakan perpustakaan kecil ini.

Ketika di jagat raya ditemukan.. dan seterusnya-seterusnya…


Tren di perpustakaan kecil, adalah duplikasi dari apa yang terjadi di jagat raya

Atmosfir yang dibawa ke perpustakaan tersebut, kemudian dilabeli dengan istilah terkini, yang menjadi daya magis dan menyihir para pustakawan. Learning common, maker space, dua di antaranya. Demikian juga scholarly communication, blended librarian, embedded librarian dan lainnya

Mengikuti tren perpustakaan, sama dengan mengikuti tren jagat raya. Ikuti saja yang diperlukan. Jangan silau pada tren. Tidak semua yang ada di jagat raya dapat dibawa ke perpustakaan kecil. Tidak muat, Bro.


Setiap tempat adalah perpustakaan, setiap manusia adalah pustakawan, dan setiap manusia juga pemustaka bagi manusia lainnya.


 Sambisari, 21 Agustus 2017
lima lebih dua puluh menit pagi


Catatan: “setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri”, merupakan perenungan yang sejak lama muncul dalam benak saya. Jagat raya sebagai perpustakaan terbesar, dikukuhkan dengan cerita seorang kawan, Maryanto (http://www.kangsumar.net/, setelah menonton pertunjukan wayang Suluk Salya, dengan dalang Sujiwo Tedjo di Fakultas Filsafat UGM, 18 Agustus 2017.

Friday, 26 May 2017

, ,

Kahoot, aplikasi sederhana untuk membuat game dan kuis di perpustakaan

Kuis dan game memang menarik, tentunya juga untuk perpustakaan. Nah, kali ini saya coba tuliskan secara singkat tentang Kahoot, aplikasi berbasis web yang dapat digunakan untuk membuat kuis dan game sederhana.

Kahoot terbagi dua, untuk peserta dan untuk admin. Untuk peserta beralaman di kahoot.it, sedangkan untuk admin https://getkahoot.com/.

Admin dapat melalukan login menggunakan akun Gmail, atau akun lainnya. Tentunya ini memudahkan bagi yang sudah memiliki akun Gmail atau FB, karena dapat menggunakan single ID.

Kahoot memiliki 4 fitur: game, kuis, diskusi dan survey. Untuk game, kita bisa membuat jenis pertanyaan, dan menentukan jawaban yang paling tepat serta waktu yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Uniknya, jawaban nantinya akan diwakili oleh gambar dan warna. Peserta diminta memilih warna/gambar yang mewakili jawaban.

Nah, disinilah serunya. Selain mencari jawaban yang tepat, peserta hanya memastikan agar tidak salah sentuh (klik) ketika memilih jawaban.
Memilih tipe kuis yang akan dibuat oleh admin


tampilan di layar peserta
Tampilan pertanyaan di layar admin yang bisa dilihat peserta
 Admin harus menampilkan gambar di atas di layar besar, sehingga bisa dilihat oleh peserta. Peserta, setelah sebelumnya diminta masuk ke kahoot.it dan memasukkan pin serta nama, akan disodori pilihan gambar seperti di bawah ini.

Peserta harus memilih gambar untuk menjawab


Nah, peserta harus milih gambar yang mewakili jawaban. Jika game telah selesai, maka di layar admin akan diinformasikan nama pemenangnya. Jawaban dinilai dari ketepatan dan kecepatan menjawab.

Beberapa gambar di atas, adalah penggunaan Kahoot type kuis. Untuk type game dan lainnya, silakan pelajari sendiri.

Game atau kuis tersebut, bisa digunakan untuk kepentingan sosialisasi sumber informasi, literasi informasi, atau sekedar selingan di sebuah acara perpustakaan.

Selain Kahoot, coba juga https://quizizz.com/join yang juga bisa digunakan untuk kuis jarak jauh. Dengan cara ini, peserta bisa ada diberbagai tempat. Soal bisa diacak, dan dibatasi waktunya. 

Coba juga  menti.com

Friday, 24 March 2017

BookedScheduler: aplikasi free untuk peminjaman ruang secara online

Berawal dari perlunya tenaga ekstra untuk menertibkan peminjaman ruang diskusi dan belajar mandiri di perpustakaan yang kami kelola, akhirnya diputuskan untuk diberlakukan sistem secara online.

Rekomendasi software pertama adalah bookedscheduler.com, yang digunakan oleh perpustakaan UNSYIAH Aceh. Kedua adalah  http://mrbs.sourceforge.net/, yang digunakan di KPFT UGM. Setelah dicek fitur dan disesuaikan kebutuhan, maka pilihannya di bookedscheduler.com.

Aplikasi ini free, dan memiliki berbagai fitur, serta cocok untuk kebutuhan perpustakaan kami. Sebagai catatan, di perpustakaan FT kami berlakukan hak berbeda untuk pinjam ruang sesuai jenjang studi dan semesternya. Selain itu ada batasan lama maksimal pinjam. Semua itu dicakup di bookedscheduler.com.


tampilan depan


Selain itu, bookedscheduler.com juga memiliki fitur pengiriman email pada anggota/user sesuai kelompoknya. Hal ini sangat memudahkan jika ingin mengumumkan sesuatu pada user.

pengumuman ke email

Selain dikirim ke email, pengumuman juga bisa dipasang di dashboard aplikasi. Sehingga ketika user login, dapat melihat pengumuman tersebut.

Fitur lainnya dapat dipelajari melalui akun demo di http://demo2.php.brickhost.com/. Fitur dapat dilihat di http://www.bookedscheduler.com/whatsnew.

Semoga bermanfaat


Saturday, 20 February 2016

,

Membaca pandangan pimpinan terhadap perpustakaan dan pustakawan

Selamat membaca.., dan catat, bahwa anda boleh tidak setuju dengan pendapat atau tulisan saya ini,

Pimpinan dalam hal ini mengacu pada pejabat manajemen tertinggi pada sebuah institusi yang menaungi perpustakaan, atau di atas penanggungjawab/kepala perpustakaan.


Pimpinan yang perhatian penuh
Pimpinan model ini, sepertinya jarang. Pimpinan model ini bagus, namun jika tidak diimbangai dengan pustakawan yang mumpuni, maka tetap saja tidak optimal. Bentuk perhatiannya dapat berupa seringnya datang ke perpustakaan, menanyakan masalah dan kebutuhan, memberi anggaran untuk pengembangan, membantu kebijakan pengembangan, membagi/memberi peran perpus dalam rangka pengembangan institusi, memberi penghargaan pada pustakawan dan lainnya. Pimpinan model ini ada dua kemungkinan: waktu luangnya banyak, atau dia pandai membagi perhatian untuk unit-unit di bawahnya.

Perpustakaan itu tempat menyimpan buku
Pandangan ini biasanya dimiliki oleh pimpinan yang pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat. Kalau toh pendidikannya tinggi, dia hanya belajar di lingkungan terbatas. Bagi pimpinan  yang berpendidikan tinggi di sekolah ternama, namun memiliki pandangan seperti ini, biasanya disebabkan oleh kondisi institusinya.

Pustakawan sebagai penjaga buku, meminjamkan dan melayani pengembalian
Pandangan ini dimiliki oleh pimpinan yang hanya memandang perpus sebagai tempat menyimpan buku. Pandangan ini berpengaruh pada penempatan tenaga perpustakaan. Rotasi yang tidak kira-kira (?), kerap dilakukan, karena dianggap siapapun bisa melakukan layanan pinjam-kembali. Pekerjaan pinjam-kembali dianggap pekerjaan ringan, yang tidak perlu pendidikan tinggi. Maka staf berijazah SMP, SMA kerap ditempatkan pada perpustakaan. Bahkan perpustakaan ada juga yang dikelola staf yang nyambi dengan bagian lain.
Jika staf perpustakaan memiliki kemampuan lebih, dan merupakan pustakawan fungsional yang tidak mungkin dipindah, maka konsekuensinya dia akan ditambahi dengan pekerjaan lain. Fenomena ini disebabkan karena pekerjaan yang dilakukan sebagai pustakawan dianggap terlalu ringan, atau memang selama bekerja mencitrakan diri sebagai pengelola perpustakaan yang pekerjaannya berpotensi dianggap remeh oleh orang lain.

Tidak adanya perhatian pada perpustakaan
Tidak sedikit, pustakawan yang mengeluhkan perhatian pimpinan kepada perpustakaan. Bentuknya macam-macam, mulai dari tidak atau jarang berkunjung ke perpustakaan, jarang menanyakan kabar perpustakaan, tidak memberi kejelasan tentang peran perpustakaan di institusinya, tidak memberi kejelasan tentang status pengelola perpustakaan, dan lainnya.
Tentunya hal tersebut berefek negatif, namun jangan salah, tetap ada sisi positifnya.
Jarangnya kunjungan pimpinan bisa dimaknai sebagai sebuah kebebasan. Kreatifitas dapat dilakukan dengan bebas merdeka, tanpa tekanan. Catat, bahwa kebebasan dan kemerdekaan ini hal yang mahal. Demikian juga dengan beberapa bentuk tidak perhatiannya pimpinan lainnya di atas, justru memberi keleluasaan kepada pengelola perpustakaan.

Pimpinan yang pasrah “bongkokan” pada pustakawan
Pimpinan model ini, mempercayakan perpustakaan pada si pustakawan. Biasanya tidak memiliki konsep jelas terhadap perpustakaan yang ada di institusinya. Dia lebih sibuk mengurusi hal lain yang dianggap penting. Skala prioritas berperan dalam hal ini. Dia juga dimungkinkan memberi kepercayaan kepada pustakawan karena manganggap pustakawan mampu mengelola perpustakaan, dengan pengembangan secara mandiri.

Pimpinan yang menganggap “asal ada yang mengelola secara administratif dan bertanggungjawab”
Ini mirip dengan tipe sebelumnya, namun lebih parah. Karena selain tidak memiliki konsep terhadap pengembangan  perpustakaan di institusinya, dia mengganggap perpustakaan sebagai pelengkap keberadaan institusi, untuk syarat akreditasi dan semacamnya. Tipe ini ada yang sekaligus pasrah “bongkokan”, ada juga yang memberi suntikan dana, meski minimal dengan konsep “asal perpustakaan jalan”.

-----

Selain masa lalu atau pengalaman pimpinan pada perpustakaan, pandangan-pandangan di atas juga dapat dikuatkan oleh keadaan riil perpustakaan saat ini. Maka pencitraan yang dilakukan pustakawan pada dirinya sendiri sebagai pustakawan, serta untuk perpustakaannya menjadi penting. Pencitraan yang dilakukan pada pemustaka, diharapkan akan berimbas pada pimpinan.
Saya yakin, ada pekerjaan/yang bisa dilakukan pustakawan, yang tidak bergantung pada perhatian pimpinan. Kadang, kita harus menempatkan pimpinan sebagai "yang lain".
Menghadapi semua tipe pemimpin di atas, pustakawan harus selalu mengembangkan diri untuk pengembangan perpustakaannya. Khusus bagi pengelola perpustakaan yang bukan berijazah ilmu perpustakaan, khususnya lagi yang dari SMA ke bawah: lakukan saja kegiatan penyimpanan, peminjaman dan pengembalian, penataan dan kebersihan. Ini minimalnya, karena memang dimaklumi pendidikan anda bukan ilmu perpustakaan. Tetap jaga hubungan baik dengan pimpinan.


Bagi yang dari ilmu perpustakaan, anggap sebagai tantangan profesi. Pengalaman riil di atas tidak ada dalam bangku kuliah. Tunjukkan bahwa kita memang pustakawan yang telah terdidik dan terlatih melalui pendidikan kepustakawanan. Lakukan hal-hal lain, selain kegiatan rutin perpustakaan yang telah dikenal secara umum. Kaitkan dengan misi organisasi induk, dan ambil peran dalam mendukung misi tersebut.
Pekerjaan pustakawan berbeda dengan staf administrasi lainnya. Ada unsur kemandirian yang menjadi ciri utamanya (menurut saya sih.. :) 
Selain itu, tetaplah bergembira, tidak usah ngersulo. Toh mau bagaimanapun juga, hidup hanya sekali, nikmati berbagai karakter pemimpin di atas dengan riang gembira. Tetap tertawa dan tidak ada salahnya anda menertawakan pimpinan anda, karena keunikan-keunikannya itu adalah bukti kekuasaan Tuhan. Serta #singpentingmadhyiang