Showing posts with label linux. Show all posts
Showing posts with label linux. Show all posts

Thursday, 5 June 2014

,

Instasll Lyx di Linuxmint 17 "Qiana"

Setelah lama menggunakan ubuntu (sejak 8.04), berbarengan dengan kemunculan Linuxmint 17, saya disarankan oleh mas Deddy Haryadi untuk menggunakan Qiana.

Ada beberapa aplikas wajib yang biasanya saya install di linux. 
  1. Poedit
  2. Lyx
  3. DIA
  4. LAMPP
  5. Vlc
  6. Gimp
  7. Inkscape
  8. Geany/sublimetext
  9. Git
  10. Wine
  11. Gnome player
Ketika menggunakan Mint, sepertinya sudah ada beberapa yang default terinstall. Masalah muncul ketika menginstall Lyx. Pada ubuntu sebelumnya menggunakan LyX 1.6, di Qiana LyX muncul dengan versi 2.0. Ada beberapa perbedaan, salah satunya adalah letak tool untuk generate .pdf, serta saya belum menemukan shourtcut generate pdf yang dahulu menggunakan Ctrl+R.

Hal yang aneh lainnya adalah fitur generate .pdf ini tidak ada secara default dan harus dilakukan instalasi tambahan terlebih dahulu. Class artikel juga tidak ditemukan sehingga muncul error ketika dijalankan.

Beberapa hal yang saya lakukan setelah LyX terinstall adalah:

sudo apt-get install texlive-latex-extra texlive-latex-recommended texlive-fonts-recommended texlive-latex-base texlive-base

sudo apt-get install texlive-lang-english

memindah /lyx ke tempat lain, agar ketika membuka lyx, lyx membuat yang baru lagi
sudo mv ~/.lyx/ /home/purwoko/Videos/

membuka LyX dengan perintah konsole:
lyx -userdir /tmp/lyxtmp


Referensi:
http://comments.gmane.org/gmane.editors.lyx.general/74430
http://forum.linuxmint.com/viewtopic.php?f=47&t=164502








  





Thursday, 20 May 2010

, , , , , ,

LiGOS: Library Goes Opensource (Pengalaman di Perpustakaan Geologi UGM)

Gaung opensource di Indonesia, menurut saya sangat kuat. Berbagai komunitas mulai muncul sebagai bentuk penyatuan ide dan minat bersama pada opensource. Ada komunitas Linux, Komunitas Ubuntu, Komunitas SuSe, Komunitas Blender, Komunitas SLiMS dan lain sebagainya.

Kemungkinan perpustakaan migrasi ke opensource sebetulnya sangat besar. Jika dilihat kebutuhan minimal perpustakaan ddapat di cakup oleh software opensource. Operating systems dan kebutuhan perkantoran dapat dicakup oleh Linux dan Openoffice. Untuk otomasi perpustakaaan dapat digunakan software opensource untuk perpustakaan.


Di perpustakaan Geologi UGM, dari 6 komputer yang ada 5 diantaranya sudah opensource, baik operating systems maupun aplikasi perkantoran. Satu komputer yang masih menggunakan OS berbayar karena digunakan untuk membuka sistem informasi perpustakaan lama yang masih berbasis DOS.

Operating systems yang saya gunakan adalah Ubuntu Dekstop, termasuk Server menggunakan ubuntu 8.04 LTS. ISO Linux saya dapatkan dari repo Ubutu di UGM, http://repo.ugm.ac.id, sehingga menjadi mudah dan juga murah. Keculi biaya beli CD, penggunaan operating systems di perpustakaan Geologi UGM bisa dikatakan Rp.0.

Rp.0 ini juga berlaku dalam pembangunan sistem informasi manajemen perpustaaan. Sistem ini saya bangun dengan software opensource SLiMS (http://senayan.diknas.go.id), dengan diawali migrasi database ISIS ke SLiMS pada bulan Februari 2009.

Beruntung sekali, rekan kerja sangat mendukung saya dan meski lebih tua dari saya, beliau sangat menghargai dan mau belajar menggunakan Linux dan SLiMS. Bisa dikatakan bahwa di geologi ugm, perpustakaan dan karyawan perpustakaan merupakan yang pertama menggunakan opensource dibanding unit kerja lainnya.

Berikut beberapa tahapan dan yang harus diperhatikan dalam migrasi perpustakaan ke opensource
1. Kenali kebutuhan
Di Perpustakaan Geologi yang saya temukan adalah kebutuhan software sistem otomasi perpustakaan, aplikasi perkantoran (olah kata, olah angka, olah presentasi), aplikasi internet (browser, Instant Messenger), dan sistem operasi.

2. Temukan jawaban atas kebutuhan
Pada tahab ini saya melakukan pemilihan software opensource pada kebutuhan. Software opensource apa yang akan digunakan untuk otomasi, perkantoran, aplikasi internet dan sistem operasi. Standar minimal dari pemilihan ini adalah standar pada software yang telah digunakan sebelumnya. Misalnya untuk software otomasi, saya membandingkan fitur software opensource pilihan saya dengan fitur software otomasi yang lama. Hal ini untuk mengatasi agar tidak terjadi gap yang terlalu lebar ketika telah bermigrasi ke opensource.
Pada tahab ini juga harus dipastikan kemungkinan keberlanjutan migrasi, SDM yang diplot untuk bertanggungjawab pada pengembangan. Termasuk bagaimana meningkatkan kompetensi SDM pada penguasaan opensource.

3. Kemukakan kepada rekan kerja atau unit.
Mengemukakan ide dan konsep migrasi kepada rekan kerja dan atau unit lain (jika perpustakaanya luas dan punya cabang) menjadi penting untuk memberikan masukan dan mencegah resistensi. Selain itu juga untuk memantapkan bahwa kebutuhan memang akan terpenuhi dengan opensource, serta mendapatkan komitmen bersama.
Dengan proses ini, maka migrasi sebenarnya dilakukan dengan dukungan banyak fihak bukan oleh salah satu orang saja.

4. Menyusun strategi
Tahap ini dilakukan sebagai pedoman dalam menjalankan migrasi. Berisi time schedule, pihak yang dilibatkan, anggaran dan lain sebagainya.

5. Implementasi
Merupakan tahab implementasi atau migrasi ke opensource yang telah ditentukan.

Kurang lebihnya seperti itulah yang saya lakukan, dalam migrasi ke opensource di perpustakaan teknik geologi ugm. Beruntungnya saya adalah rekan kerja yang sangat kooperatif dan mendukung.

Semoga menjadi inspirasi.

Monday, 13 July 2009

, , , , ,

Puppylib :: Linux LiveCD rasa perpustakaan


  • Silakan download di http://118.98.232.10/puppylib/puppylib.iso atau

  • Silakan download di http://upload.ugm.ac.id/207puppylib.iso

  • Situs resmi PuppyLib http://puppylib.open-lib.net



  • Merupakan sebuah LiveCD yang di remaster dari Puppylinux. Remastering ini dilakukan oleh Adnuri Mohamidi bersama dengan Yogi Rabani. Remastering ini didedikasikan untuk pustakawan. Khususnya untuk menggalakkan penggunaan Linux dikalangan pustakawan, serta mengenalkan beberapa LMS (Library Management System).

    Beberapa LMS yang dipaketkan dalam Puppylib ini adalah Senayan, WINISIS (CDS/ISIS versi Windows) dan Openbiblio. Selain itu dilengkapi pula dengan eyeOS dan OCLC Cutter. Senayan dan Openbiblio di paketkan dengan menggunakan LAMPP (Xampp for Linux) sebagai paket server dan database, sementara WINISIS dan OCLC Cutter dipaketkan dengan bantuan tool Wine.

    Rilis ini adalah Rilis pertama dengan diberi nama "Memo" dengan mengusung jargon Linux "distro" for Librarian.

    Berikut kutipan tentang PuppyLib:

    Welcome to Puppylib

    Its name may remind you with that small-but-superb Linux distribution... Yup, Puppylib is build under a puplet Macpup and is derived from Puppylinux 4.20. For your information, Puppylinux is a complete operating system for computers with just 100 MB in size. So slim, but still a beauty!! Puppy Linux is based on GNU/Linux. It's completely free and covered by the LGPL license, an open source license. In the other hand, Macpup is a puplet, the creation of customized derivatives, that comes with Mac-flavour in style thanks to Enlightenment Windows Manager.

    Puppylib is a remastering of Puppylinux for librarians. Its aims are to promote the usage of Linux in libraries and to provide and make the librarian examine the open-source library management system (LMS). Puppylib comes with 2 LMS: Senayan and Openbiblio. Since cloud-computing is becoming a trend, I also added this distribution with eyeOS, the leading opensource cloud-computing software. Last but not least, the veteran of library softwares, the CDS/ISIS from Unesco and Dewey Cutter Program are also made available in the desktop thanks to wine [wine is not an emulator].

    To make this distro user-friendly, here are the login details for each software:
    Senayan, with username=admin and password=admin
    Openbiblio, with username=admin and password=admin
    eyeOS, with username=root and password=admin

    This first release of Puppylib is called "memo", and is dedicated for dgekpuri.

    Monday, 30 March 2009

    ,

    Pengalaman menggunakan linux....

    1. Saya mengetahui bahwa ada OS yang namanya Linux, pertama kali kurang lebih pada tahun 2000. Ketika itu saya masih kuliah di IlKom UAD. Namun hanya sekedar tahu dari membaca diktat saja, belum pada tahap instalasi dan implementasi. Apalagi kemudian saya drop out dari UAD.

    2. Berikutnya, melompat ke tahun 2004. Yaitu saat kursus jaringan di Smile group. Pada saat ini saya praktik instalasi Fedora Core 1. Yang difungsikan sebagai server internet menggunakan telkomnet instant.

    3. Dikos-kosan saya menginstall sendiri Fedora core 3 yang saya pinjam di rental. Cukup lama saya menikmati FC 3

    4. Kemudian disusul dengan Suse 9. Kemudian ke Suse 10.3 Namun sayangnya karena kompi saya jadul, tidak mampu saya install Suse 10. Akhirnya balik pake Suse 9, ditambah dengan OS windows saya kena virus, maka cukup lama, sekitar 3 bulanan saya menggunakan Suse 9. (klik)

    5. Setelah punya kompi baru, saya pasang ubuntu 8.04 aka Hardy Heron. Kemudian Ibex.

    6. Karena tertarik pada Debian, maka saya mencoba menginstall Debian. Tapi ternyata saya lebih nyaman menggunakan ubuntu. Sampai sekarang. Dan sudah beberapa waktu kompi saya hanya terpasang OS Linux Ubuntu 8.04.2, bukan dual boot dengan windows.

    7. Di tempat kerjaan, hampir, semua menggunakan Ubuntu. Server Otomasi menggunakan Ubuntu, 2 komputer akses internet menggunakan Ubuntu FF dan Blankon, yang sehari-hari saya gunakan menggunakan HH. Tinggal 2 yg belum OS.

    Mencoba hidup dengan Ubuntu, bisa gak ya?