Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, 31 October 2018

, , ,

Gitu aja kok repot, Jo....

Banjir. Bikin repot, tapi membawa rejeki.
"Gitu aja kok repot". Mendadak seloroh yang pernah dipopulerkan Gus Dur itu muncul lagi. 
------

Suatu siang, seorang dosen ilmu perpustakaan berkomentar pada curhatan Paijo. Paijo curhat tentang beban berat pustakawan sekolah yang pernah dihadapi Kimpul. Pak Dosen berkata, "lulusan ilmu perpustakaan jangan mau kerja di perpus yang gajinya kecil". Tidak berhenti di situ,  Pak Dosen melanjutkan: "masih ada lembaga lain yang bisa beri gaji besar. Lulusan (ilmu) perpustakaan tak harus kerja di perpustakaan". 

Sekali lagi, demikianlah dulu alasan Kimpul hingga akhirnya keluar dari pekerjaannya sebagai pustakawan sekolah. Gajinya kecil, hingga membuat Kimpul ragu ketika dihadapkan pada biaya nikah dan setelah nikah. Persoalan gaji merupakan persoalan klasik di perpustakaan sekolah.

Saran Pak Dosen di atas logis, solutif, informatif. Maklum, beliau dosen yang ilmunya setinggi langit dan sedalam sumur minyak. Berbeda dengan pustakawan. Dari ajarannyalah pustakawan menjadi ada. Jika ada yang mengaku pustakawan, namun tidak lahir dari ajarannya, maka perlu dipertanyakan kepustakawanannya. Demikian katanya.

Namun, keluar dari perpustakaan sekolah, sebagaimana disarankan Pak Dosen tadi, ada konsekuensinya. Sekolah yang benar-benar minim anggaran akan benar-benar ditinggalkan oleh para alumni ilmu perpustakaan, semacam Kimpul, Yem, juga Paijo atau Karyo. "Gajinya kecil, ngapain kerja di situ", demikian kurlebnya. Ketika ditinggalkan, maka harapannya kemudian ada pada guru atau staf non guru lainnya. Hal ini pun akan meninggalkan permasalahan. "Harusnya dikelola oleh alumni ilmu perpustakaan. Harusnya ada lowongan pustakawan. Inpassing lagi, lagi-lagi inpassing", demikian teriak-teriak yang akan didengar kemudian.

"Gitu aja kok repot", kata yang mulia dosen ilmu perpustakaan itu menutup komentarnya.

###

Ya, memang, kami, para pustakawan sekolah repot. Harus kami akui sejak awal. Atau, jika tidak boleh kami atas namakan pustakawan, sebut saja sebagian pustakawan sekolah. Kami repot, kok. Ketika kerja di perpustakaan sekolah, di antara kami hanya lulusan SMA. Namun karena kecintaan kami pada perpustakaan sekolah, kami juga rela nyapu, ngepel, nyulakki sawang di langit-langit. Tidak hanya itu, Pak. Sabtu  dan Minggu, yang biasanya kami gunakan untuk kumpul dengan keluarga, kami korbankan.  Kami kuliah lagi, meski hanya 2 hari sepekan. Repot memang. Namun kami ingin ketemu dengan bapak/ibu tentor yang pintar-pintar. Kami ingin ketularan pintarnya mereka. Maka kami kuliah. Sekali lagi, kuliah kami ini memang repot, tapi tetap kami lakukan.

Apa yang terjadi? Setelah lulus tidak serta merta mengubah nasib kami. Kami memang repot. Sebagian kami ini masih honorer, mau sekolah tinggi, sarjana ilmu perpustakaan, atau "dan informasi", pangkat mana yang mau menerima kami?. Kami memang repot, Pak. Apalagi kalau kami keluar dari perpustakaan sekolah itu. Lontang-lantung lagi.

Sebenarnya kami ingin bertahan, Pak. Karena kami berfikir tentang anak-anak di sekolah itu. Ya, tak banyak yang bisa kami lakukan untuk masa depan mereka. Hanya sebatas melayani mereka di perpustakaan. Namun, mereka sudah jadi bagian dari hidup kami. Kami ini sering ketemu dengan orang tuanya. Maklum, di kampung, sudah seperti saudara. Ketika kami ketemu dengan orang tuanya, mereka mengatakan, "nitip Thole ya, Bu". Berat, repot, Pak. Kata-kata, pengharapan simboknya Thole itu sampai ke ulu hati kami, Pak.  Nyesek. Mereka berharap dengan sekolah, Thole bisa memperbaiki hidupnya. Perpustakaan itu juga bagian dari sekolahnya Thole, Pak. Juga dengan  buku-buku itu, yang setiap hari kami sentuh dan sodorkan pada anak-anak. Tapi kami juga harus realistis. Hidup perlu biaya. Kalau kami tak punya usaha sampingan, maka keluar adalah jalan satu-satunya.

Repot, Pak. Terkadang dari kami masih sering  ketemu Ibunya Thole, yang satu grup arisan. Kadang merasa malu. "Kok keluar, Bu. Lalu siapa yang membimbing Thole?". Seolah-olah, kami tak mampu memberikan harapan pada Thole.

Tapi semua itu kami singkirkan. Sebabnya satu, karena suntikan semangat dari bapak.  Ya, melalui komentar "gitu aja kok repot", yang pernah bapak sampaikan. Sungguh kalimat pendek itu menjadi pemompa semangat kami.

Apalagi ada teman kami yang sudah duluan pindah profesi lain atau institusi lain seperti saran Bapak. Struktural kalau ada yang menerima, yang jelas-jelas jenjangnya.

Sebenarnya kami masih ingin bertahan, Pak. Namun, sekali lagi setelah bapak sampaikan "gitu saja kok repot", semangat kami jadi melecu, membara dan berkobar-kobar. Pernyataan bapak menambah semangat kami, semangat untuk resign. Kami jadi tidak lagi berat meninggalkan perpustakaan yang tak memberi kami gaji yang layak. Kami tak lagi berat dengan anak-anak itu, buku-buku itu. Kami akan pikirkan diri kami sendiri. Mencari pekerjaan yang lebih banyak gajinya.  Karena Bapak seorang dosen, maka kalimat itu menjadi dasar hukum keputusan kami, legal secara akademis.

Doakan kami kuat, pintar, terampil, dan bisa sehebat Bapak. Ah, jangan sehebat Bapak, nanti ndak dikira nyaingi Pak Dosen. Biarlah kami, kualitasnya tetap di bawah Bapak saja. Namun harapan kami semoga bisa ayem tentrem. Mendapatkan pangupo jiwo yang jadi lumantar rejeki. Meski mungkin tetap harus repot.

Hidup memang repot, Pak. Tidak bisa tidak repot. Hidup dan repot itu sudah saling mengisi. Hidup tanpa repot, kurang menarik.

"Pak Dosen, biarlah kerepotan itu untuk kami saja. Kerepotan itu berat, engkau tak akan kuat".

Tolong bekali adik-adik kami dengan kemampuan yang linuwih,  agar tidak serepot kami. Agar mereka bisa masuk lembaga yang bisa menggaji dengan layak. Satu lagi pesan kami, jika memang di perpustakaan sekolah itu kami tidak bisa mendapat gaji layak, atau tak bisa disebut pustakawan, tolong hapus saja jenis perpustakaan sekolah, Pak. Atau jangan jadikan lowongan perpustakaan sekolah sebagai bahan proposal pendirikan atau promosi jurusan ilmu perpustakaan.

Jangan menambah orang yang repot, Pak.

####

Suatu waktu, Paijo sampaikan pengalamannya ini pada Karyo.

"Lulusan ilmu perpustakaan kok jangan bekerja di perpustakaan. Aneh ndak, Kang?", kata Paijo.

Kalimat ini bagi Paijo sebenarnya agak masih agak aneh. Lulusan ilmu perpustakaan - jangan kerja - perpustakaan - gajinya kecil. Empat kata kunci, dengan dua kata "perpustakaan" yang rasa-rasanya  bertolak belakang. 

"Yo tidak, tho. Itu kan yang ngomong dosen ilmu perpustakaan. Pasti benar, valid, dan bernilai tinggi". Sahut Karyo.

"Bernilai tinggi bagaimana, Kang?"

"Pernyataan bernilai tinggi dan sudah membuktikan sendiri, bahwa ilmu perpustakaan itu tidak percaya diri. Bukan ilmu", Karyo menjawab.

"Gandrik...". Paijo kaget. 


[[ selesai ]]

Monday, 29 October 2018

,

Pustakawan sekolah: dua beban beratnya

Sore itu, Kamis, pekan terakhir di bulan Oktober, Paijo leyeh-leyeh di bawah pohok talok depan rumah. Pohon talok itu sangat bersejarah. Kala kecil, Paijo sering memanjat memburu buahnya. Di sampingnya berdiri pacul dan sebilah sabit. Namun, dua gaman itu tidak digunakan. Paijo justru tetap duduk di bawah pohon. Melamun. Dalam lamunannya, Paijo teringat Kimpul, teman lamanya. Paijo pun tahu, dari kabar yang beredar, bahwa Kimpul mengundurkan diri dari profesi pustakawan. Diapun tahu alasannya. (cerita tentang Kimpul ada di http://www.purwo.co/2018/10/ciloknya-pustakawan.html)

###

Kenyataan yang dihadapi Kimpul, membawa Paijo pada lamunan panjang di sore itu. Betapa beban berat yang harus dipikul Kimpul, dan kemudian memaksannya mengambil keputusan yang kurang populis: mundur. Namun Paijo juga mafhum bahwa menghalalkan Paijem serta menghidupinya perlu uang, pendapatan, atau pangupo jiwo. Memang tidak harus banyak, tapi cukup. Itung-itungan lah tentang pangupo jiwo itulah yang membawa Kimpul harus mundur.

Awalnya Paijo kecewa, namun akhirnya Paijo justru salut pada keputusan Kimpul. Keputusan mundur itu membuktikan Kimpul punya sikap. Dia tidak fanatik pada pekerjaan, dan juga tidak fanatik bahwa sekolah perpustakaan itu harus jadi pustakawan. Atau minimal Kimpul berfikir bahwa alumni ilmu perpustakaan itu tidak harus ngantor, entah di negeri atau swasta. Sekolah itu untuk membentuk watak, pola pikir, dan semacamnya termasuk menempa diri agar tahan banting. Bersekolah harusnya tidaklah menyempitkan lahan pekerjaan, tapi justru sebaliknya. Sekolah itu memperluas kemungkinan pekerjaan.

Jika seseorang sekolah ilmu perpustakaan kok hasil akhirnya selalu harus “pustakawan”, itu berarti kurang memahami arti sekolah itu sendiri. Jelas itu menyempitkan ilmu perpustakaan. Sekolah ilmu perpustakaan juga bisa jadi bakul bakso, atau bakul cilok seperti Kimpul. Itu baru benar. Sekolah itu memperluas, bukan mempersempit. 

###

Kejadian Kimpul membawa Paijo merenung, terkait kondisi yang dialami pustakawan, khususnya pustakawan sekolah. Setidaknya ada dua beban berat yang pernah dipikul Kimpul ketika kerja di perpustakaan sekolah. Paijo ingat pernyataan Kang Tomo, “350 ewu” atau 350.000. Angka itu merupakan angka gaji pustakawan di sebuah sekolah dasar. Ada juga, Yu Painuk yang menginformasikan bahwa di daerahnya seorang pegawai tidak tetap perpustakaan mendapat gaji hampir sejuta, tapi itu karena dia sudah mengabdi puluhan tahun. Di tempat yang sama, pegawai baru kategori tak tetap mendapat 600 ribu sebulan. Keduanya memperoleh bayaran itu dengan pekerjaan tambahan: kebersihan. 

Pekerjaan tambahan sebagai tenaga kebersihan memang sudah umum. Memang hal ini bisa dilihat dari dua sisi. Tambahan pekerjaan itu sebagai wujud budi baik pimpinan, agar ada alasan untuk menambah insentif pegawai. Atau si pustakawan bisa memaknainya sebagai  wujud tempaan alam, ujian, laku prihatin. Namun di sisi lain, ya tetap itu tidak pada tempatnya.

Kang Bendol dan temannya, keduanya pustakawan sekolah, mengamini ini. Ketika menanggapi tentang usulan dicantumkannya angka-angka gaji pustakawan sekolah pada promosi ilmu perpustakaan, dia komentar: “Biar gak kaget kalau harus pegang sapu dan pel”, katanya.  “Ngenes, Lur”. Gumam Paijo mengingat angka dan pekerjaan tambahan yang disebut Kang Tomo, Kang Bendol dan kawannya. Paijo ingat, pernah ngundang tukang bangunan yang kemudian nawar, nganyang minta 100.000 sehari. Itupun dengan sekali makan siang, dan uang rokok. Jika dibandingkan, kerja tukang bangunan sepekan, bisa sama dengan pegawai tidak tetap selama sebulan.

Itulah beban pertama yang harus dipikul pustakawan sekolah, “krisis ekonomi” kata Kang Tomo. Ya, memang tidak semuanya. Di perpustakaan negeri, dan jika si pustakawan sudah berstatus PNS, tentunya beda keadaannya. Di situ gajinya sudah standard. Atau di sekolah swasta terkenal, larang, pasti gajinya lebih besar. 

Kemungkinan masih ada yang bergaji lebih kecil dari yang diketahui Paijo. Gaji yang hanya seper sekian dari tunjangan sertifikasi guru. Ironisnya, konon kabarnya guru yang sertifikasinya sekian kali lipat gaji pustakawan itu, dapat sertifikasi karena diberi “jam” di perpustakaan.

###

Pekerjaan tambahan, mulai dari kebersihan sampai membantu administrasi merupakan efek dari risiko beban kedua. Beban ini tidak kalah berat, bahkan lebih berat. Beban menanggung anggapan bahwa beban pekerjaannya dianggap tidak berisiko. Bingung, tho?. Jangan bingung. Risiko jenis ini jamak dialami oleh si pustakawan.  Padahal pustakawan sekolah itu menjaga aset negara juga. Banyaknya buku paket, yang jika sudah tak terpakai pun tetap harus disimpan, sampai gudang penuh tak muat lagi. Setidaknya ini curhatan Yu Giyem, pustakawan juga.

Mungkin anggapan inilah yang menjadi salah satu alasan gaji pustakawan sekolah ada yang cuma seiprit. Ya, tentu saja juga karena alasan tidak adanya anggaran yang cukup. Seperti sekolah Kimpul dulu, sebuah sekolah swasta yang tak begitu populer di kampung pinggiran.

Setiap pekerjaan itu berisiko, apapun risikonya. Tentunya termasuk pustakawan sekolah. Ekspektasi pimpinan sekolah pada perpustakaanlah yang turut menentukan ringan tidaknya risiko yang diemban pustakawan. 

###

Kondisi ini sangat menyakitkan, ketika  selamanya dijadikan bahan promosi. Masih kurangnya sekolah yang memiliki pustakawan dijadikan bahan promosi sekolah ilmu perpustakaan untuk menggaet lulusan sekolah atas untuk mendaftar jadi mahasiswa. Harusnya sekolah ilmu perpustakaan itu fair. Ketika mencantumkan angka jumlah sekolah yang tidak memiliki pustakawan, harus sekaligus mencantumkan berapa gaji pustakawan sekolah. Bahkan sekalian dengan apa saja pekerjaan tambahannya. Ngepel, nyapu, dan lainnya.

Banyak yang komentar setuju dengan pencantuman gaji pustakawan sekolah pada promosi sekolah perpustakaan. Bukan hanya pustakawan sekolah, namun juga Pak Ruri, salah satu dosen ilmu perpustakaan. Bagi pustakawan, ini wajar. Harapannya agar para calon adik mereka tahu betul yang terjadi di lapangan sebelum memutuskan pilihan. Namun, bagi Pak Dosen, kesetujuan ini luar biasa. 

"Semoga saja ditindak lanjuti. Kurang pas jika gaji besar dijadikan promosi, tetapi kalau gaji kecil tidak dicantumkan. Perguruan tinggi, khususnya prodi ilmu perpustakaan harus memulai kejujuran dan memberikan informasi yang utuh ini", demikian harapan Paijo.

###

Apakah ada yang sudah ideal?. Demikian lanjutan lamunan Paijo. Jika melihat beberapa informasi, ada pustakawan sekolah yang sudah mapan. Bahkan senang dan menikmati profesinya. Perannya juga bagus, gajinya juga baik, cukup. Kalau melihat ini, berarti ada yang sudah ideal. Meskipun, kata wong jawa  tetap harus “wang sinawang”.

Lamunan Paijo ini mengantarkan pada kesimpulan yang menguatkan kesimpulannya sebelumnya, “memang wajar apa yang dilakukan Kimpul”. Keluar dari profesi pustakawan itu wajar, manusiawi, jentelmen, dan justru bagus dalam kasus tertentu. Namun, hati-hati, karena juga bisa dianggap pengecut atau pecundang, bahkan pengkhianatan pada profesi.

Kisah Kimpul, bukan yang pertama didengar Paijo. Sebelumnya ada informasi yang diterimanya tentang pustakawan yang kemudian mengundurkan diri. Alasannya bermacam. Lingkungan kerja, tak cocok dengan pimpinan, juga terkait gaji. Terakhir Kang Dodo, yang memilih mundur setelah belasan tahun jadi pustakawan, pindah jabatan. Ada juga Kang Seno yang berwiraswasta, atau Lek Takin yang jadi juragan lele.

###

Beberapa hari kemudian, di tegalan, Paijo istirahat dari ngorek'i tanah. Dia hentikan pekerjaannya itu ketika Karyo datang menghampirinya. Seperti biasa, dua konco kenthel itu jagongan.

“Kang, pas nglamun kemarin malah keterusan sampai sore. Tadinya mau ngorek’i tanah pekarangan, malah ndak jadi. Akhirnya saya diomeli wong wedhok”, Paijo laporan pada sahabat karibnya, Karyo. 

Cen, kowe kui ra nonton wektu, kok. Padahal itu pas Kamis sore, tho. Kudune ya ndang adus, reresik awak,  persiapan ngaji di masjid. Malah nglamun!”. 

Paijo, melanjutkan ceritanya. Dia sampaikan lamunannya dari A sampai Z  pada Karyo.

“………………….”

Loh, piye maksudmu Jo? Kok bisa bagus, wajar, jentelmen, manusiawi, tapi di sisi lain juga bisa berbeda 180 derajat: pengecut, pecundang, bahkan pengkhianatan profesi”. Sekonyong-konyong Karyo bertanya atas penjelasan Paijo.

“Lah, sampeyan penasaran, tho?”. Paijo cengengesan melihat wajah Karyo.

“Kang. Sebenarnya saya ini juga wedi komentar. Pustakawan, khususnya di sekolah itu bebannya berat. Ya seperti yang saya critakan tadi. Maka, keputusan mereka adalah yang terbaik untuk mereka. Mereka perlu menentukan sikap, untuk masa sepannya. Saya juga merasa, bahwa bukan tidak mungkin saya akan mengalaminya sendiri. Dihadapkan pada kondisi yang, meski tidak persis, tapi minimal mirip. Namun kang, satu hal yang saya tidak harapkan, jangan sampai keputusan saya nanti, masuk kategori mengkhianati profesi”. Paijo meneruskan penjelasannya.

Paijo tidak menjelaskan, tentang kapan mengundurkan diri dari pustakawan itu dianggap manusiawi, wajar, dan kapan dianggap pengkhianatan profesi.

Karyo semakin penasaran.

[[ bersambung ]]

Monday, 8 October 2018

[[ salam sofa ]]

Paijo kembali ndagel. Dasar Paijo. Kali ini benar-benar dia meragukan ilmu perpustakaan. Lah bagaimana tidak, argumen, Karyo kawan setianya itu selalu dibantahnya. Bahkan ketika Paijo terpojok pun, tetap mengatakan pokoke. “Pokoke ngono, Kang”, begitu kira-kira.
“Jo, ilmu perpustakaan itu ada. Kalau ndak ada bagaimana pustakawan mendesain ruangannya?”, kata Karyo. Inipun langsung dibantah Paijo. Katanya itu tata ruang kerjaannya orang arsitektur, bukan pustakawan. Kemampuan pustakawan untuk tata ruang, itu cuma secuilnya orang arsitektur. Jadi cuma nyilih, pinjem. Begitu katanya.

“Jo, di kajian perpustakaan itu ada bibliometrik. Itu ilmu penting, Jo”. Inipun dibantah dengan pokoknya oleh Paijo. Katanya itu ilmu statistik. Cuma sak upritnya ilmu statistik. Cuma nempil, nyilih saja itu.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan ada psikologi pemakai. Penting itu untuk pengembangan perpustakaan”. Kata Paijo, itu sudah jelas: psikologi. Itu ilmunya psikologi. Jelas, cetho welo-welo.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan itu orang harus bisa membuat sistem informasi yang bagus, Jo. Itu ada ilmunya”. Ini Paijo lebih semangat menanggapi Karyo. Katanya itu ilmunya orang komputer atau informatika. Lebih jauh lagi, namanya programming itu sekarang sudah jadi hobi. Tidak sekolah komputer pun bisa jadi programmer. Paijo menguatkan pendapatnya itu dengan cerita tentang kawannya yang orang kehutanan, tapi pintar programming, atau lulusan sekolah perkebunan yang juga pintar programming. Semuanya karena otodidak.

Karyo cep klakep. Tak bisa menjawab lagi.

“Jo, di ilmu perpustaskaan ada literasi informasi. Ini penting, Jo”. Paijo tertawa kecil, kemudian melanjutkan penjelasannya. Bahwa itu literasi informasi pekerjaan banyak orang, lintas disiplin. Bukan dominasi pustakawan atau alumni ilmu perpustakaan. Apalagi, lanjut Paijo, “Itu ideator literasi informasi saja bukan orang ilmu perpustakaan kok, Kang. Piye, jal?”.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan, kita diajari membedakan informasi valid dan tidak valid. Ini penting. Bagaimana menggunakan Google dengan baik dan benar”. Karyo tak mau kalah. Paijo menghela nafas sebentar. Kemudian menjawab, “Kang, pustakawan yang kena informasi hoax juga banyak. Trus cara menggunakan Google, dari mana epistemologinya kalau itu bagian dari pekerjaan pustakawan?. Itu bukan domain pustakawan, itu milik semua orang”.

Karyo dalam hati membenarkan apa yang disampaikan Paijo. Memang kesannya ilmu perpustakaan itu gabungan potongan potongan ilmu.

"Jane ya ndak salah, Kang. Ketika ilmu perpustakaan itu nggabungkan beberapa ilmu. Hora salah. Neng kok saya merasa embuh, ya. Ana sik aneh." Paijo menambah penjelasannya.

###

“Njuk, karepmu piye, Jo?”. Karyo setengah putus asa.

“Pustakawan itu, sejak adanya pendidikan ilmu perpustakaan, jadi pekerjaan yang administratif dan mengambil pekerjaan yang tidak dikerjakan orang lain. Mengais pekerjaan yang terserak. Cuma perantara, atau semacamnya, Kang.”. Paijo memberikan argumennya. Bagi Paijo, pustakawan itu peran yang menempel pada setiap profesi, setiap orang. Jika toh ada perpustakaan, maka pengelolanya seorang ilmuwan, yang dia diberi tugas untuk mengelola perpustakaan. Dengan begitu, justru perpustakaan akan hidup. “Namun tetap ada syaratnya, Kang. Kudu tenanan”, tegas Paijo.

“Lah sekarang pustakawan membanggakan pekerjaannya membuat akun google scholar, atau membuat akun Sinta. Itu kan pekerjaan temporer. Pekerjaan yang dikerjakan karena dibutuhkan orang lain, ketika tidak ada orang khusus yang membantu. Maka, tampillah pustakawan, menjadi juru selamat. Kalau nanti semua sudah punya akun google scholar, lalu mau apa pustakawan?. Nganggur?”. Paijo ganti membombardir Karyo dengan pertanyaan-pertanyaan.

Karyo tidak menyangka, selama ini dia ngemong Paijo, dan baik-baik saja. Kok sekarang rodo kendhel, ndugal, tur kemlinthi. Entah, ada apa dengan Paijo.

Paijo membuka gadgetnya, dia merawak ke berbagai laman internet. Tampak dia buka akun google scholar dosen dan ilmuwan perpustakaan, terutama yang bergelar doktor. “Apa lagi, Jo?”. Tanya Karyo. “Sik, Kang. Tak nonton produk intelektual para ilmuwan perpustakaan. Ada yang baru atau tidak, atau jangan-jangan hanya seputar sofa dan kopi di perpustakaan”.

"Lalu apa sebenarnya pekerjaan pustakawan yang paling hakiki, Jo?", Karyo bertanya balik.

"Memustakawankan pemustaka, Kang. Itu pekerjaannya pustakawan". Paijo menjawab.

Dari seberang jalan, seorang lelaki 40-an tahun berjalan. Menenteng buku dengan wajah sumringah. Setengah berteriak, dia berkata “Salam sofa, Jo”.

[mungkin bersambung]

Sunday, 7 October 2018

, ,

Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

“Revolusioner, anti kemapanan, anti kejumudan. Benar-benar luar biasa dan di luar dugaan”, Paijo bergumam sendirian. Wajahnya semringah, sambil memandangi layar gadget barunya, bermerk China yang sedang kondhiang saat ini. Gadget itu dibeli setelah mendapat acc istrinya beberapa hari yang lalu. Tentunya setelah berdebat sepanjang hari. 

###

Paijo tampak bergembira. Senyumnya lebar, kadang singsut-singsut, bersiul sambil menyusuri jalanan kampung. Tampak benar-benar dalam keadaan bahagia. Sejurus kemudian, sampailah dia di depan rumah Karyo. Tampak Karyo sedang santai bersih-bersih ladang depan rumah, persiapan untuk masa tanam yang segera akan datang. 

“Kang, ana berita bagus”. Tegas, lugas, Paijo setengah teriak pada Karyo. Karyo yang sedang memegang gathul, agak terkejut. Untunglah dia menguasai diri, dan tidak melempar gathul ke sumber suara. Jika itu terjadi, entah kegemparan apa yang akan meledak sore itu. Karyo menghentikan aktivitasnya, kemudian duduk. Paijo mendekat.

“Kang ini lihat, berita bagus. Lowongan kerja di Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Nasional!”. Paijo menekankan kata "Perpustakaan Nasional" dengan  nada tinggi. Karyo tidak mengerti. Yang dia tahu, Paijo itu sudah kerja, mapan, mosok mau mendaftar lagi. Usianya juga sudah overdosis, dan tidak masuk kriteria 35 tahun. Jika membuka alamat pendaftaran online, kemungkinan langsung macet dan muncul notifikasi “maaf, anda sudah tua”. 

“Bukan saya yang mau mendaftar. Tapi lihat lowongan ini. Lowongan pustakawan, dengan syarat yang revolusioner dan anti kejumudan. Ini berita bagus. Apalagi di Perpustakaan Nasional, perpustakaan tingkat tertinggi sebagai pembina perpustakaan lainnya”. Celetuk Paijo.

Paijo menunjukkan pengumuman  lowongan melalui gadgetnya. Tertulis, ada 19 lowongan pustakawan ahli, 17 di antaranya bukan dari ilmu perpustakaan. Melainkan bersyarat lulusan sastra jawa, sastra bugis, sastra belanda dan lainnya. Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Loh, bukannya itu keliru, Jo?. Kudunya ya alumni ilmu perpustakaan, tho?”, tanya Karyo.

“Justru itu. Ini luar biasa. Perpustakaan Nasional bertindak progresif, revolusioner, reformis, tentunya anti kemapanan, menerobos kejumudan. Perpusnas sudah memberikan contoh yang bagus dalam pengembangan perpustakaan. Tulodho, Kang. Tulodho alias contoh. Ini harus kita dukung. Saya setuju dengan lowongan ini. Ndak cuma 100%, tapi 110% setuju.” Paijo mulai memunculkan pandangannya.

“Kang, coba lihat, Sastra Jawa bisa jadi pustakawan. Wangun tenan. Saya membayangkan, pekerjaannya tidak hanya menata buku, tapi juga ngaji isinya buku sastra jawa yang ada di perpustakaan. Apalagi itu ada lowongan untuk sastra bali, sastra bugis, sastra batak. Mathuk itu. Perpustakaan mestinya,  jika tidak ada halangan, nantinya akan dipenuhi ahli-ahli, ilmuwan”, Paijo menjelaskan dengan girang, senang, layaknya anak balita disodori susu ibunya ketika kehausan.

Memang Paijo saat ini kukuh dengan pandangannya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari ilmu perpustakaan. Siapapun bisa masuk jadi pustakawan. Syarat pertama mau, kedua mau, ketiga mau, keempat terus belajar belajar. Dengan modal ilmu lain yang dimiliki, maka si pustakawan bukan hanya menyusun jajaran buku. Dia bisa “membaca” isi buku dan menyebarkannya. Paijo berkaca pada ruh aseli saat lahirnya perpustakaan. Pengelolanya bervariasi, dan memiliki latar keilmuwan bermacam. Sehingga lebih optimal dalam “membaca” isinya, tidak sekadar menata fisiknya. Demikian kurang lebih pandangan Paijo saat ini.

“Kalau buku sastra jawa, berbahasa jawa kuno itu ada di tangan alumni ilmu perpustakaan, paling banter diseken, disampuli, lalu disusun di rak, beri kapur barus biar tidak dimakan ngengat, plus ditiup jika ada debunya. Kadang malah panggil jasa perawatan profesional dari luar.  Iyo ora?. Pernyataan sekaligus pertanyaan Paijo membuat Karyo tergegun. Dia tidak menjawab, justru bertanya balik.

“Lha yang nglasifikasi buku siapa, Jo?”. 
“Nah,  itu tugasnya alumni ilmu perpustakaan, Kang. Yang dianggap paling berbobot ya nglasifikasi itu. Hahaha”. 

“Hus. Sampeyan itu ndak sopan, tidak berempati. Lowongan itu dianggap keliru oleh banyak orang, karena menerima dari luar ilmu perpustakaan. Coba hitung, berapa orang alumni ilmu perpustakaan yang kandas karena lowongan itu. Kamu tahu, selama ini sudah dipatenkan bahwa lowongan pustakawan itu cuma untuk alumni ilmu perpustakaan. Kudunya sampeyan meluruskan, jangan malah berdendang  gembira ria dan membuat opini menyesatkan!!”. Karyo bicara dengan ada ditinggikan. 


Paijo pun ngoceh, bahwa dari buku yang dia baca, manusia sekarang kena wabah psikologis, orang  tidak menerima dengan tenang, bahwa kadang ada hal-hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, merasa kalah dikalahkan, ditindas dan lainnya. [1] Nah, untuk itulah, masih sesuai buku yang Paijo baca, harus dilakukan proses mengalahkan perasaan  tertindas, tertekan, kalah dan lainnya, dalam rangka mencapai kemenangan spiritual, kemanangan sejati. [2] "Pustakawan dan calon pustakawan harus tahu filosofi hidup ini, Kang", tutup Paijo, dilanjutkan rentetan pertanyaan.

“Kang, saya tanya: kenapa kudu alumni ilmu perpustakaan? siapa yang mewajibkan? kalau institusi yang mbayari perlu dari luar ilmu perpustakaan, njuk mau apa? protes?. Saya tanya lagi: boleh ndak dari luar ilmu perpustakaan ndaftar S2 ilmu perpustakaan?”.

Sejenak Karyo diam, kemudian menjawab, lirih: “bisa saja”.  

“Dor!!!”, tangan Paijo diposisikan seperti menembak, diarahkan ke Karyo.  “Nah, itu. Kenyataan bahwa pasca sarjana ilmu perpustakaan, atau apapun namanya, menerima mahasiswa dari lulusan non ilmu perpustakaan, itu sudah bukti cetho welo-welo ketok mata, kelihatan dengan mata, mata kita semuanya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari alumni ilmu perpustakaan.”

Fakta yang disampaikan Paijo, membuat Karyo diam. Sejenak suasana hening. Memang benar, Karyo pun punya kenalan yang ambil master bidang perpustakaan. Sementara mereka bukan dari S1 ilmu perpustakaan: ada yang dari bahasa inggris, bahasa indonesia, hubungan internasional,  ada juga dari teknik. Semuanya masuk, diterima, dan tentu saja: lulus.

"Dalam hal lowongan ini, aku bangga dengan perpustakaan nasional, Kang".


Karyo diam, suasana hening. Paijo juga menahan mulutnya. Karyo tahu, Paijo kadang ngomong penuh sindiran, meski kadang juga sebaliknya. Namun dari kalimat terakhir, Karyo yakin bahwa Paijo tenanan, benar-benar setuju dengan langkah Perpustakaan Nasional membuka lowongan untuk non alumni ilmu perpustakaan. 

####

Karyo sedang di halaman rumahnya, meneruskan proses membersihkan ladang tempo hari. Senjatanya pun masih sama: gathul. Sekitar jam 4 sore ketika badan sudah mulai berkeringat, Karyo menghentikan kegiatannya. Dia raih handuk kumal yang disampirkan di genteng emperan. Sebuah ember, ciduk berisi sabun yang tinggal setipis ATM dan juga tinggal sekali pakai, sikat gigi dan odol yang tinggal sak crit, turut dibawanya. Dia hendak ke sungai, mandi sore. Ya, dari pada diomelin istrinya, dan disuruh tidur di kursi kamar tamu, lebih baik dia segera mandi. Apalagi malam itu malam Jumat. Di musim kemarau, sore hari sangat terasa  dingin, namun wajib hukumnya untuk mandi.  

Di atas sungai yang biasa digunakan untuk mandi, terbentang jembatan yang menghubungkan dari barat dan timur. Jembatan itu memiliki pengaman di sisi kiri kanannya. Tampak Paijo sudah nangkring di bibir jembatan. Setelah udur-uduran tempo hari, sore itu pertama kali mereka ketemu. Wajah Paijo menyimpan kalimat. Kalimat yang menunggu waktu paling tepat, untuk disampaikan. Pada siapa lagi kalau bukan ke Karyo?.

“Kang, aku tahu, pandanganku kemarin, tentang lowongan pustakawan dari berbagai jurusan itu berbuntut panjang. Orang jadi tanya padaku: kalau saya kursus kesehatan 3 bulan apa bisa jadi dokter? apa saya bisa ndaftar profesi dokter? apa tukang fotokopi bisa naik jadi pustakawan?, dan lainnya”. Paijo membuka pembicaraan.

Apa yang disampaikan Paijo tersebut memang benar. Biasanya demikianlah tanggapan orang. Paling sering, membandingkan dengan dokter. Karyo pun pernah ditanyai demikian. Karyo sendiri maklum, para alumni ilmu perpustakaan itu sudah kuliah lama, namun ketika lulus, justru lahannya diambil atau bahkan diserahkan pada alumni jurusan lain. Nyesek

Trus kamu jawab piye, Jo?”, Karyo memancing agar Paijo segera mengeluarkan uneg-unegnya. Karyo paham, dengan sedikit pancingan saja, Paijo akan banyak cerita. Bahkan, jika tidak dipotong, cerita pribadi pun bisa mrucut disampaikan. Maka dari itu, dalam rangka ngemong, Karyo kadang memotong penjelasan Paijo.

“Kemarin kan saya sudah bilang, Kang. Bahwa sekolah pasca jurusan ilmu perpustakaan itu bisa dimasuki oleh orang dari berbagai lulusan. Multi entry. Hal itu sudah menunjukkan, bahwa jadi pustakawan itu bisa dari macam-macam bidang studi. Nah, bagaimana dengan dokter?. Paijo mulai menjelaskan.

Paijo menjelaskan bahwa dokter, dan pustakawan itu beda. Yang bisa mengambil pendidikan profesi dokter, ya hanya lulusan pendidikan dokter. Apalagi mengambil spesialis. Dari luar kedokteran, tidak bisa ambil. Apalagi lulusan ilmu perpustakaan. Dari sisi keketatan pendidikan saja sudah kelihatan. Intinya level profesinya beda. 

Ada beberapa level profesi menurut Paijo, ditilik dari siapa yang bisa masuk ke dalamnya. Ada level tinggi, semacam dokter, dan lawyer. Ada yang tingkat di bawahnya, semacam pustakawan, atau wartawan.

###

“Nah, membandingkan pustakawan dengan dokter itu tidak nyambung. Lebih pas dengan wartawan, atau petani!”, kata Paijo. “Besok tak critani lebih lanjut. Sekarang kita mandi dulu. Badanmu wis bau keringat. Jangan kecewakan istrimu malam ini, Kang Karyo.”.

Hus. Omonganmu, Jo”. Karyo buru-buru terjun ke sungai.

[[ bersambung ]]

[1] Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, Mark Manson (2018)
[2] Profesi wong cilik, Iman Budhi Santoso (2017)

catatan:
cerita ini diilhami oleh rasa suka cita terkait berita formasi lowongan pustakawan di http://cpns.perpusnas.go.id/alokasi-formasi/

Monday, 1 October 2018

,

[[ ciloknya pustakawan ]]

Kampus ternama di kota pendidikan itu tampak lengang. Sore itu tidak begitu ramai. Tamannya luas, juga berbagai sarana lain. Terasa sejuk dengan pepohonan yang rindang. Hanya ada beberapa mahasiswa di taman. Ada yang belajar, ada yang diskusi. Atau sekedar ngenet, dan menunggu senja.

Sepasang mahasiswa ada di sudut taman kampus. Kimpul, mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, berduaan dengan gadis pujaannya: Paijem. Wajah Kimpul tidak begitu ngganteng. Namun, dia punya senyum dan kumis tipis yang memesona. Ditambah dengan otaknya yang encer: klop, jadi sebab mahasiswi teriak histeris. Tidak kalah histeris dengan teriakan ABG saat nonton KPop.

Berbeda dengan Kimpul, Paijem kuliah di jurusan ekonomi. Wajahnya bersih meski agak ndeso, meluluhkan hati Kimpul. Klepek-klepek.

Dengan tanpa modal, pada semester dua, Kimpul nembak Paijem di bangku taman, persis yang  sekarang sedang dipakai berduaan. Keputusan nembak itu muncul, setelah sekian waktu memata-matai Paijem. Ilmu penelusuran informasi, literasi informasi, digunakan Paijo untuk menelisik latar belakang, dan diri Paijem. Akhirnya ndesonya Paijem membuat Kimpul tertarik. Tidak neko-neko, dan bisa diajak berjuang bersama mbangun bale griyo bebrayan. 

Tidak dengan kata-kata romantis, saat Kimpul nembak Paijem. Paijem pun juga tanpa kata romantis ketika menerima cinta Kimpul. "Aku seneng kowe, Jem", kemudian Paijem menjawab "Iyo, Jo. Podo". Selesai sudah dar-der-dor itu, sah. Resmilah mereka pacaran.

Sore itu, pada semester 7, pada detik-detik akhir perkuliahan mereka akan selesai, mereka kembali nostalgia di tempat saling menembak, 6 semester lalu.

***

Disaat mereka yang-yangan, seorang penjual cilok mendekat. Wajahnya setengah tua, memakai topi  lusuh bergambar logo kampus ternama. Mungkin pemberian mahasiswa, yang empati. Tidak mentolo melihat orang tua berjuang kepanasan jualan cilok. Masih ada sepuluhan butir cilok di gerobaknya. “Cilok mas”, sapa si penjual. Tentu saja, penjual itu berharap Kimpul akan mborong ciloknya, untuk nraktir Paijem, sebagaimana umumnya orang yang-yangan.

Jantung Kimpul berdegup cepat, deg-degan tidak karuan. Bukan karena ada Paijem di sampingnya, tapi karena saat bakul cilok itu mendekat, dia sedang tak pegang uang sepeserpun. Bokek, demikian kata orang. Namun bokeknya Kimpul merupakan bokek berkelas. Dia bokek karena uang kiriman bulanan sudah habis untuk mencetak e-book dan artikel terkini bidang ilmu perpustakaan. Memang, pengorbanan tersebut berbanding lurus, Kimpul dikenal mahasiswa pinter yang banyak baca. Dia tahu banyak hal sebelum yang lain tahu. Terkait kepustakawanan, dari artikel pelitian terkini: makerspace, big-data, learning common, embedded librarian, dan sebangsanya dia ketahui sebelum yang lai tahu. Namun sial, dia jadi cupet uang jajannya. Bahkan untuk nraktir cilok buat Paijem saja, dia tidak mampu. Duh. Nasib.

Beruntung, Paijem pengertian. Dia segera menghampiri tukang cilok, memesan dua porsi sekaligus membayarnya. Kimpul tersenyum. Senyum bangga, karena Paijem-nya sangat pengertian. Terbayang jika sudah menikah, pasti hidupnya bahagia dunia akherat. Namun juga senyum sedih, malu, jika ketahuan teman-temannya bahwa sore itu dia ditraktir Paijem. Bukan sebaliknya sebagaimana mestinya orang pacaran.

Sore itu, mereka berduaan makan cilok, melanjutkan ngobrol ngalor-ngidul tentang masa depan mereka setelah lulus. Kimpul lulus dan melamar kerja sebagai pustakawan, bekerja, menabung. Kemudian menikahi Paijem.

###

Kimpul berjalan mendorong gerobak. Rambutnya hitam tersisir rapi, tangannya kuat memegang dua gagang gerobak, terkadang sambil bersiul dan memukul bende kecil. "Tong-tong-tong...." Bende itu sebagai tanda bagi siapapun, bahwa dia hadir. Bajunya rapi disetrika, ujungnya dimasukkan ke dalam celana panjang hitam bermerk lokal. Sandal selop menutup rapi kaki dan jari-jari kakinya. Necis. Jalannya pasti, dan tentu saja berwibawa.

Kimpul, Sarjana Ilmu Perpustakaan itu keliling keluar masuk kampung menjajakan ciloknya. 

Dandanan Kimpul rapi, tidak seperti penjual cilok pada umumnya. Hal itu dipelajarinya dari mata kuliah promosi perpustakaan yang pernah dia ambil, dengan nilai A di bawah pengampu dosen killer bergelar Ph.D. di kampusnya. Dia harus berdandan rapi, meski hanya berjualan cilok. Diapun harus menarik pembeli dari berbagai segmen. Bukan hanya anak-anak generasi milenial. Namun juga generasi X, atau Y yang lahir tahun 80-an, anak-anak maupun dewasa. Berbagai artikel jurnal yang membahas pembagian generasi serta karakternya, sangat berpegaruh dalam strategi jualan ciloknya Kimpul.

Dia juga tahu hukum perpustakaan Ranganathan, seorang matematikawan India yang kemudian menjadi pustakawan, “every book, it's reader”. Dia gubah menjadi "setiap cilok, pasti ada penggemarnya"; atau "setiap usia, pasti ada jenis ciloknya". Dengan keyakinan itu, dia anggap setiap orang yang berpapasan dengannya merupakan calon konsumen potensial. Dia harus rayu mereka agar membeli ciloknya. Tentu metode rayuannya beda beda: untuk anak-anak, yang sedang pacaran, atau bapak-bapak yang sedang boncengan sama istrinya. Beda. 

Dia juga menerapkan formula Mbah Otlet, lulusan bidang hukum yang kemudian punya ketertarikan di bidang kepustakawanan. Konsep formula UDC Mbah Otlet diterapkan pada cilok dagangannya, tentunya dengan gubahan, disesuaikan dengan kebutuhan. Kimpul yakin, Mbah Otlet tidak keberatan pada gubahannya tersebut. Dia klasifikasikan cilok untuk anak-anak dengan rasa kekinian, serta rasa berbeda untuk orang dewasa yang ingin nostalgia cilok tahun 90-an, jaman ketika Dilan dan Milea masih remaja. Atau cilok universal, kelas umum untuk semua usia. Ada juga cilok dengan klasifikasi menurut fisiknya: ukuran sedang, atau besar agar Kimpul mudah menemukannya. Cilok-cilok tersebut disusun rapi dalam wadah di gerobak dorongnya. Berlapis kaca, mudah dilihat calon pembelinya. Tinggal tunjuk, Kimpul pun akan mengambil dan memasakknya.

Dalam berjualan, Kimpul tidak asal dalam mendorong gerobaknya. Dia tidak hanya memanfaatkan intuisi seperti umumnya penjual cilok keliling. Dia tahu betul manfaat kuliah big data, dari dosen pengampunya, yang lagi-lagi bergelar Ph.D. dari universitas luar negeri yang tersohor. Mulai dari memanfaatkan google map, dia bisa tahu tempat-tempat ramai yang berpotensi untuk jualan. Kimpul juga mendapat suplai informasi kawan lamanya, yang kini kerja di bidang big data. Dia kerap diberi info tempat-tempat ramai pada jam tertentu yang paling dekat dengan tempatnya berada. Itulah sebabnya, dagangan Kimpul cepat habis.

###

Setelah lulus, Kimpul pernah kerja di sekolah swasta, sebagai honorer pengelola perpustakaan. Dia mendaftar dengan jaminan selembar ijazah, serta selembar transkrip nilai kuliahnya dengan IPK nyaris sempurna. Tanpa banyak pertimbangan, diapun lolos diterima bekerja. Mengelola perpustakaan SD yang ruangnya terletak di ujung gedung. Pada hari pertama bekerja, ruang perpustakaannya lebih layak disebut gudang. Buku tergeletak tidak beraturan. Ada yang di dalam almari, ada yang di lantai, atau di atas meja. Bercampur. Debu tipis menyelimuti buku dalam almari dan rak. Pertanda jarang disentuh. Namun, dengan semangat membara, Kimpul rombak perpustakaan tersebut. Hingga pernah mendapatkan penghargaan sebagai perpustakaan terbaik se kecamatan.

Kimpul tidak minta banyak anggaran untuk menyulap perpustakaannya. Dia tahu, sekolah SD swasta yang tak bergitu favorit, memiliki keterbatasan dana. Dia tak ingin membebani anggaran sekolah. Diterima bekerja saja dia anggap berkah luar biasa. Dia hanya cukup menyusun koleksi agar rapih, mengondisikan perpustakaannya bersih, sehingga nyaman dikunjungi. Laptop tua yang pernah menjadi saksi menyelesaikan tugas akhirnya, dia bawa ke perpustakaan. Dia ajari anak SD dengan desain grafis, menulis, mengolah angka dan lainnya. Dengan modal kuota data pas-pasan, dia koneksikan laptopnya dengan internet untuk ngajari siswa melek informasi. Kimpul tahu, pustakawan sedang gandrung dengan tuah literasi informasi. Dia tangkap peluang ini di tempat dia kerja. Pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas Kimpul menjadikannya populer di mata siswa.

Dia bangun komunikasi dengan siswa-siswa sekolah. Kimpul ingat buku "The Atlas of new librarianship"nya Lankes, bahwa new librarian itu "participatory librarianship" yang dibangun melalui komunikasi dengan pemustaka.

Kepopuleran Kimpul sampai ke almamaternya. Mantan dosennya, Dr. Tumini, tahu pretasi Kimpul hingga kemudian mendatanginya di perpustakaan. Mereka berdiskusi tentang kiat-kiat dalam mengelola perpusakaan. Akhirnya Kimpul pun ditawari untuk didaulat sebagai brand ambassador jurusan. Fotonya menghiasi leaflet promosi jurusan ilmu perpustakaan di almamaternya. “Pustakawan berprestasi”, demikian judulnya. Deretan testimoni Kimpul tertulis pada leaflet tersebut. Tentunya, kampus berharap akan banyak pendaftar di jurusan ilmu perpustakaan, dan membuat alumni lainnya turut bangga dengan profesi pustakawan. Semakin banyak yang mendaftar, semakin banyak yang diterima, semakin panjang nafas jurusan ilmu perpustakaan.

Setiap bulan, Kimpul mendapat gaji tetap. Masuk dari pagi sampai sore hari selama 5 hari kerja. Namun, ya begitulah, gajinya tak seberapa. “Gajimu dibanding tunjangan sertifikasi dosen ilmu perpustakaan, ndak ada apa-apanya, Pul”, demikian informasi yang dia peroleh dari kawannya, sesama alumni ilmu perpustakaan. Tersebar kabar, bahwa dosen yang sudah serfifikasi akan mendapat tambahan gaji. Tidak hanya itu, dosen yang berhasil menulis di jurnal internasional, juga akan mendapatkan insentif. Besar. Lebih besar dari gaji bulanan Kimpul. Padahal, Kimpul harus segera menyiapkan ubo rampe untuk meminang gadis pujaannya, Paijem, yang sudah menunggunya untuk diboyong. Kimpul ingin segera menikah, membina rumah tangga bersama Peijem. Wajah ndeso Paijem yang membuat adem dan tentrem selalu terbayang.

Kimpul mikir. Akhirnya, gaji kecil yang masih menjadi ganjalan itu ternyata justru membuat ide kreatifnya muncul. Ketika istirahat sekolah, dia nyambi jualan cilok di sekolahan. Ini juga dilakukannya dengan berkeliling pada sabtu dan minggu, ketika dia tidak “ngantor” di perpusakaan sekolah. Tanpa rasa malu atau minder. Demi Paijem, akan dilakukannya.

Kerampilan membuat cilok, Kimpul peroleh dari baca buku: Panduan meracik cilok. Buku tersebut ditemukannya pada tumpukan ketika membereskan perpustakaannya, di hari pertama. Saat menemukan buku tersebut, Kimpul terkejut. Hatinya berdesir, bayangannya langsung teringat ketika ditraktir cilok oleh Paijem saat kuliah. 

Tidak disangka, pendapatannya dari sambilan jualan cilok cukup lumayan. Bahkan jika diseriusi, bisa lebih banyak dari gaji bulanan yang dia peroleh sebagai pustakawan sekolah. Akhirnya, Kimpul memutuskan untuk serius jualan cilok. Impiannya tidak hanya dengan satu gerobak, namun dengan banyak gerobak. Akhirnya Kimpul resign dari sekolah. Alasannya jelas, ingin cari modal untuk segera menghalalkan Paijem. Sekolah tak bisa menahan.

###

Di suatu kampung, sore itu. Matahari sebentar lagi tenggelam. Anak-anak kecil menghabiskan waktunya, bermain di halaman, atau jalanan. Sesekali mereka harus menyingkir ketika ada motor atau bahkan mobil lewat. Semenara para orang tua saling sapa, dan bercerita tentang sekolah anaknya.

Sore itu, Kimpul masih melanjutkan keliling menjajakan cilok. Tampak cilok dagangannya tinggal beberapa butir. Wajahnya sumringah, jalannya bersemangat. Dia arahkan gerobaknya menuju rumah. Wajah Paijem yang sudah setahun dinikahinya, terbayang. Kimpul ingin segera sampai rumah, mencium kening Paijem, dan memeluknya.

Paijem yang biasanya sudah menyiapkan teh hangat dan menunggunya di serambi. Senyumnya, sapanya, dan sejuknya udara rumah, membuatnya tak sabar untuk sampai rumah. Sambil mendorong gerobak, dia berharap, akan ada satu dua anak, atau orang tua yang yang membeli sisa-sisa ciloknya. Jika toh tidak ada, akan dia sedekahkan pada siapapun yang dia temui: entah anak-anak, atau orang dewasa.

Di ujung jalan, sebuah mobil berjalan berlawanan, berhenti tepat ketika berpapasan dengan Kimpul. Seorang perempuan berpakaian rapi turun, bergegas menghampiri Kimpul. Wajah dan pakaiannya menandakan dia orang berpendidikan, pinter dan winasis.

“Kimpul, ini Kimpul, kan?”, sapanya tergesa.

Kimpul glagepan, kaget. Namun ia pun segera bisa menguasai dirinya. Dia ingat, di hadapannya berdiri Dr. Tumini, dosennya dulu. Dr. Tumini merupakan alumni doktor ilmu perpustakaan dari universitas luar negeri. Terkenal.  Dia pernah menemuinya ketika masih kerja di perpustakaan sekolah. Dr. Tumini sering mengisi seminar kepustakawan di berbagai tempat. Ikut konferensi, dan benchmarking perpustakaan pada berbagai perpustakaan terbaik dunia. Namanya sering ditulis dengan Dr. Tumini, kadang juga Tumini, Ph.D. Meski belum profesor, dia kerap dipanggil Prof. oleh sejawat dan mahasiswanya. Maklum, ilmunya setinggi langit dan sedalam sumur minyak.

“Wah, Dr. Tumini. Apa kabar, Bu?”.
“Kimpul, kamu ndak kerja di perpustakaan lagi. Ini kok jualan cilok”?, Bu Tumini heran dan penasaran.

Kimpul pun cerita sebab musabab dia memutuskan jualan cilok. Dr. Tumini tampak kecewa. Dia berharap banyak pada Kimpul, agar bisa mengangkat harkat dan derajat jurusan ilmu perpustakaan kampusnya. Apalagi, Kimpul pernah berprestasi, foto dan testimoninya pernah pula dipajang di leaflet promosi kampus. Namun, apa yang dilihat Dr. Tumini sore itu benar-benar di luar dugaan. Dr. Tumini kecewa. Wajahnya menyiratkan itu, meski disembunyikan.

“Sore ini saya hanya iseng, kok. Karyawan saya sudah muter keliling. Kebetulan ada satu yang sakit, maka saya coba menggantikannya keliling. Sekaligus ingin merasakan kondisi lapangan ketika jualan cilok. Bukahkah kita harus merasakan langsung, agar bisa berempati, Bu?”. Kimpul menutup ceritanya.

Dr. Tumini kaget. Kimpul merupakan mantan pustakawan yang banting stir jadi juragan cilok. Sukses dengan omset besar serta banyak karyawan. Demikian kurang lebih kesimpulannya.

“Hehe, saya bukan mantan pustakawan, Bu. Saya tetap pustakawan, minimal untuk diri saya sendiri, keluarga dan untuk karyawan saya. Teriring doa, semoga Ibu lekas menjadi profesor”.

Dr. Tumini kaget dengan jawaban Kimpul. Meskipun halus, seolah ada tamparan mampir di wajahnya. Plak. Tampak, Kimpul tahu apa yang dirasakan mantan dosennya itu. Kimpul merasa ndak enak.

Dr Tumini diam sejenak, mendengar penjelasan tambahan Kimpul. Diam-diam, hatinya mengamini doa terakhir Kimpul: jadi profesor. Impian tiap dosen, apalagi dosen ilmu perpustakaan, yang profesornya masih sedikit.

“Bu Tumini, apa mungkin ya, leaflet kampus yang dulu bergambar diri saya itu diganti?”. Kimpul bertanya.

“Diganti apa, Pul?”. Dr. Tumini bertanya balik, dengan senyum yang agak dipaksakan.

“Diganti foto saya lengkap dengan gerobak cilok ini, Bu", jawab Kimpul.

"Agar calon mahasiswa ilmu perpustakaan sadar bahwa alumni ilmu perpustakaan juga dimungkinkan jadi penjual cilok”, lanjut Kimpul.

Senyum Dr. Tumini, yang tadi muncul dengan agak dibuat-buat, hilang. Berganti dengan ekspresi kaget yang tak dapat disembunyikan. Entah apa arti kerutan yang tiba-tiba muncul di wajahnya itu.

“O, kalau itu, perlu dirapatkan dan disetujui di senat dulu, Pul. Sudah ya, saya pamit”, Dr. Tumini gugup menjawab. Dia buru-buru pamitan, tak ingin gugupnya tampak lebih nyata terlihat dihadapan Kimpul.

Dr. Tumini buru-buru masuk mobil. Mesin dihidupkan, tancap gas meninggalkan Kimpul. Dari jauh, melalui kaca spion, mata Dr. Tumini melihat Kimpul mengangkat plastik putih berisi cilok. Melihat mantan anak didiknya itu, matanya berkaca-kaca. Beberapa butir air mata menetes. Buru-buru diusap dengan sapu tangan hitam berlogo universitas di Amerika.

"Bu Tumini, ini cilok buat Ibu.....", Kimpul setengah teriak. Namun sudah terlambat.

(selesai)


Catatan:
ini cerpen yang pertama saya tulis. Di tulis pada Senin Wage, 20 Suro 1952 Be. Selepas Subuh s.d. 06.15 WIB. Kemudian diedit perbaikan.

Wednesday, 4 March 2009

, , ,

Rerasane Pustakawan

Entah kenapa, saya ingin memindah beberapa cerpen ringan yang masih amatir, yang sebelumnya saya posting di http://purwoko.blog.ugm.ac.id ke blogspot.

Mungkin sekedar pengen merasakan blogspot itu rasanya seperti apa.
Nama blognya adalah mustoko. Saya namai mustoko, karena kata Prof Damarjati, pustaka itu juga bisa diidentikan dengan mustoko, yang artinya kepala. Walah.... ngakak

-------
Perpustakaan, Harjo, Poltak dan Karyo

Di negeri ini, perpustakaan merupakan hal yang tidak aneh lagi. Sejak dari SD sampai perguruan tinggi terdapat ruang yang namanya perpustakaan. Bahkan, meski bukan tempat orang belajar yang formal, tetap ada perpustakaanya. Sebut saja perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan gereja, atau apa yang para aktifis menyebutnya perpustakaan alternatif.

Kalau dibaca dari tulisan para cerdik pandai, pembagian perpustakaan itu ada bermacam-macam. Ada perpustakaan umum dan khusus, ada perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi dan semacamnya.

Lalu apa yang ada dalam perpustakaan? tentunya ada buku. Kan perpustakaan itu berasal dari “pustaka” yang artinya buku, atau dalam bahasa arab disebut kitab.

selengkapnya ada di http://mustoko.blogspot.com