Showing posts with label dosen ilmu perpustakaan. Show all posts
Showing posts with label dosen ilmu perpustakaan. Show all posts

Wednesday, 31 October 2018

, , ,

Gitu aja kok repot, Jo....

Banjir. Bikin repot, tapi membawa rejeki.
"Gitu aja kok repot". Mendadak seloroh yang pernah dipopulerkan Gus Dur itu muncul lagi. 
------

Suatu siang, seorang dosen ilmu perpustakaan berkomentar pada curhatan Paijo. Paijo curhat tentang beban berat pustakawan sekolah yang pernah dihadapi Kimpul. Pak Dosen berkata, "lulusan ilmu perpustakaan jangan mau kerja di perpus yang gajinya kecil". Tidak berhenti di situ,  Pak Dosen melanjutkan: "masih ada lembaga lain yang bisa beri gaji besar. Lulusan (ilmu) perpustakaan tak harus kerja di perpustakaan". 

Sekali lagi, demikianlah dulu alasan Kimpul hingga akhirnya keluar dari pekerjaannya sebagai pustakawan sekolah. Gajinya kecil, hingga membuat Kimpul ragu ketika dihadapkan pada biaya nikah dan setelah nikah. Persoalan gaji merupakan persoalan klasik di perpustakaan sekolah.

Saran Pak Dosen di atas logis, solutif, informatif. Maklum, beliau dosen yang ilmunya setinggi langit dan sedalam sumur minyak. Berbeda dengan pustakawan. Dari ajarannyalah pustakawan menjadi ada. Jika ada yang mengaku pustakawan, namun tidak lahir dari ajarannya, maka perlu dipertanyakan kepustakawanannya. Demikian katanya.

Namun, keluar dari perpustakaan sekolah, sebagaimana disarankan Pak Dosen tadi, ada konsekuensinya. Sekolah yang benar-benar minim anggaran akan benar-benar ditinggalkan oleh para alumni ilmu perpustakaan, semacam Kimpul, Yem, juga Paijo atau Karyo. "Gajinya kecil, ngapain kerja di situ", demikian kurlebnya. Ketika ditinggalkan, maka harapannya kemudian ada pada guru atau staf non guru lainnya. Hal ini pun akan meninggalkan permasalahan. "Harusnya dikelola oleh alumni ilmu perpustakaan. Harusnya ada lowongan pustakawan. Inpassing lagi, lagi-lagi inpassing", demikian teriak-teriak yang akan didengar kemudian.

"Gitu aja kok repot", kata yang mulia dosen ilmu perpustakaan itu menutup komentarnya.

###

Ya, memang, kami, para pustakawan sekolah repot. Harus kami akui sejak awal. Atau, jika tidak boleh kami atas namakan pustakawan, sebut saja sebagian pustakawan sekolah. Kami repot, kok. Ketika kerja di perpustakaan sekolah, di antara kami hanya lulusan SMA. Namun karena kecintaan kami pada perpustakaan sekolah, kami juga rela nyapu, ngepel, nyulakki sawang di langit-langit. Tidak hanya itu, Pak. Sabtu  dan Minggu, yang biasanya kami gunakan untuk kumpul dengan keluarga, kami korbankan.  Kami kuliah lagi, meski hanya 2 hari sepekan. Repot memang. Namun kami ingin ketemu dengan bapak/ibu tentor yang pintar-pintar. Kami ingin ketularan pintarnya mereka. Maka kami kuliah. Sekali lagi, kuliah kami ini memang repot, tapi tetap kami lakukan.

Apa yang terjadi? Setelah lulus tidak serta merta mengubah nasib kami. Kami memang repot. Sebagian kami ini masih honorer, mau sekolah tinggi, sarjana ilmu perpustakaan, atau "dan informasi", pangkat mana yang mau menerima kami?. Kami memang repot, Pak. Apalagi kalau kami keluar dari perpustakaan sekolah itu. Lontang-lantung lagi.

Sebenarnya kami ingin bertahan, Pak. Karena kami berfikir tentang anak-anak di sekolah itu. Ya, tak banyak yang bisa kami lakukan untuk masa depan mereka. Hanya sebatas melayani mereka di perpustakaan. Namun, mereka sudah jadi bagian dari hidup kami. Kami ini sering ketemu dengan orang tuanya. Maklum, di kampung, sudah seperti saudara. Ketika kami ketemu dengan orang tuanya, mereka mengatakan, "nitip Thole ya, Bu". Berat, repot, Pak. Kata-kata, pengharapan simboknya Thole itu sampai ke ulu hati kami, Pak.  Nyesek. Mereka berharap dengan sekolah, Thole bisa memperbaiki hidupnya. Perpustakaan itu juga bagian dari sekolahnya Thole, Pak. Juga dengan  buku-buku itu, yang setiap hari kami sentuh dan sodorkan pada anak-anak. Tapi kami juga harus realistis. Hidup perlu biaya. Kalau kami tak punya usaha sampingan, maka keluar adalah jalan satu-satunya.

Repot, Pak. Terkadang dari kami masih sering  ketemu Ibunya Thole, yang satu grup arisan. Kadang merasa malu. "Kok keluar, Bu. Lalu siapa yang membimbing Thole?". Seolah-olah, kami tak mampu memberikan harapan pada Thole.

Tapi semua itu kami singkirkan. Sebabnya satu, karena suntikan semangat dari bapak.  Ya, melalui komentar "gitu aja kok repot", yang pernah bapak sampaikan. Sungguh kalimat pendek itu menjadi pemompa semangat kami.

Apalagi ada teman kami yang sudah duluan pindah profesi lain atau institusi lain seperti saran Bapak. Struktural kalau ada yang menerima, yang jelas-jelas jenjangnya.

Sebenarnya kami masih ingin bertahan, Pak. Namun, sekali lagi setelah bapak sampaikan "gitu saja kok repot", semangat kami jadi melecu, membara dan berkobar-kobar. Pernyataan bapak menambah semangat kami, semangat untuk resign. Kami jadi tidak lagi berat meninggalkan perpustakaan yang tak memberi kami gaji yang layak. Kami tak lagi berat dengan anak-anak itu, buku-buku itu. Kami akan pikirkan diri kami sendiri. Mencari pekerjaan yang lebih banyak gajinya.  Karena Bapak seorang dosen, maka kalimat itu menjadi dasar hukum keputusan kami, legal secara akademis.

Doakan kami kuat, pintar, terampil, dan bisa sehebat Bapak. Ah, jangan sehebat Bapak, nanti ndak dikira nyaingi Pak Dosen. Biarlah kami, kualitasnya tetap di bawah Bapak saja. Namun harapan kami semoga bisa ayem tentrem. Mendapatkan pangupo jiwo yang jadi lumantar rejeki. Meski mungkin tetap harus repot.

Hidup memang repot, Pak. Tidak bisa tidak repot. Hidup dan repot itu sudah saling mengisi. Hidup tanpa repot, kurang menarik.

"Pak Dosen, biarlah kerepotan itu untuk kami saja. Kerepotan itu berat, engkau tak akan kuat".

Tolong bekali adik-adik kami dengan kemampuan yang linuwih,  agar tidak serepot kami. Agar mereka bisa masuk lembaga yang bisa menggaji dengan layak. Satu lagi pesan kami, jika memang di perpustakaan sekolah itu kami tidak bisa mendapat gaji layak, atau tak bisa disebut pustakawan, tolong hapus saja jenis perpustakaan sekolah, Pak. Atau jangan jadikan lowongan perpustakaan sekolah sebagai bahan proposal pendirikan atau promosi jurusan ilmu perpustakaan.

Jangan menambah orang yang repot, Pak.

####

Suatu waktu, Paijo sampaikan pengalamannya ini pada Karyo.

"Lulusan ilmu perpustakaan kok jangan bekerja di perpustakaan. Aneh ndak, Kang?", kata Paijo.

Kalimat ini bagi Paijo sebenarnya agak masih agak aneh. Lulusan ilmu perpustakaan - jangan kerja - perpustakaan - gajinya kecil. Empat kata kunci, dengan dua kata "perpustakaan" yang rasa-rasanya  bertolak belakang. 

"Yo tidak, tho. Itu kan yang ngomong dosen ilmu perpustakaan. Pasti benar, valid, dan bernilai tinggi". Sahut Karyo.

"Bernilai tinggi bagaimana, Kang?"

"Pernyataan bernilai tinggi dan sudah membuktikan sendiri, bahwa ilmu perpustakaan itu tidak percaya diri. Bukan ilmu", Karyo menjawab.

"Gandrik...". Paijo kaget. 


[[ selesai ]]

Thursday, 23 November 2017

Di manakah sebaiknya beskem dosen (ilmu) perpustakaan?

Hujan dan kelapa muda
Purwo.co -- Departemen (ilmu) perpustakaan menempati posisi unik. Hanya beberapa saja yang menyamai uniknya departemen ini.

Dia unik, karena yang dikaji ada di lingkungannya sendiri. Pada perguruan tinggi yang memiliki departemen ini, pasti juga memiliki perpustakaan pada berbagai tingkatan. Perpustakaan yang ada, dapat sekaligus menjadi laboratorium bagi mahasiswa yang belajar pada departemen (ilmu) perpustakaan. Mahasiswanya bisa langsung praktik, menerapkan pengetahuan yang diperoleh ketika kuliah.

Paijo: “wah, jadi kudunya perpustakaan yang ada di perguruan tinggi tersebut pasti maju ya, Kang?”
Karyo: “ya pasti, Bro. Wong yang mengelola juga para winasis bidang perpustakaan, je”.
###
Nah, bagaimana dengan dosennya?
Fakultas yang memiliki laboratorium, menempatkan beskem dosen pada lab yang paling dekat dengan minat dosen yang bersangkutan. Dengan demikian, dosen bisa dekat dengan alat yang ada di lab, dekat dengan laboran yang mengelola lab, dan tentunya dekat dengan mahasiswa yang sedang nge-lab untuk menyelesaikan penelitiannya.

Kondisi di atas, menjadikan lab sebagai pusat kegiatan ilmiah antara mahasiswa-laboran-dosen dengan perannya masing-masing. Jika mahasiswa perlu alat, maka laboran akan dengan sigap membantu dan mendampingi praktikum. Jika mahasiwa dan laboran kesulitan, maka dosen akan dengan datang mudah membantu, karen memang jaraknya dekat. Dosen, menjadi tidak tercerabut dari apa yang diajarkannya. Tiga pihak tersebut bisa saling membantu.

Bagaimana dengan dosen (ilmu) perpustakaan?
Pada awal tulisan telah saya tulis, bahwa perguruan tinggi yang memiliki departemen (ilmu) perpustakaan, pasti juga memiliki perpustakaan. Nah, sesuai dengan fakta bahwa sudah umum jika dosen memiliki beskem di lab, maka tidak ada pilihan lain pula bagi dosen (ilmu) perpustakaan.

Paijo: “pilihan opo, Kang?”
Karyo: “ya pilihan nge-pos di perpustakaan, Jo”

Jika dia benar-benar memiliki ruh kepustakawanan, maka dia semestinya nge-pos di perpustakaan. Karena ruh itu akan menggiringnya untuk ke perpustakaan. Dengan begitu dia akan dekat dengan mahasiswa, dan juga dekat dengan pustakawan, sosok yang setiap hari proses “produksinya” dia lakukan. Dosen bisa ngetes ilmu yang dimilikinya dengan nge-pos di perpustakaan. Benarkah dia juga mampu melayani pemustaka dalam berbagai karakternya? Menjawab pertanyaan mahasiswa yang membutuhkan informasi atau semacamnya? Dan ikut menjadi bagian dari pemecah masalah yang muncul pada pengelolaan sehari-hari perpustakaan.

Paijo: "loh, apakah jika tidak nge-pos di perpustkaan, berarti tidak memiliki ruh kepustakawanan?"
Karyo: "ya, ndak gitu juga tho, Jo. Hanya salah satu kemungkinan penciri saja"

Dosen (ilmu) perpustakaan yang nge-pos di perpustakaan, bisa melayani kebutuhan mahasiswa level atas. Mahasiswa S3 misalnya, yang kemungkinan kebutuhannya adalah kebutuhan tingkat tinggi. Ya, maklum saja, wong mahasiswa S3. Tentunya terkait berbagai hal yang akan lebih mantap jika yang melayani adalah dosen (ilmu) perpustakaan. Atau, melayani pemustaka dari kategori dosen.

Paijo: “loh, pustakawan berarti ndak mampu, Kang?”
Karyo: “yo, mampu juga, asal belajar, Jo”.

Dia juga bisa tahu lebih banyak tentang kebutuhan mahasiswa, kesulitannya, serta memonitor kemampuan pustakawan yang sudah lahir dari proses produksi yang dia lakukan. Kalau ada kerusakan (ibarat mobil), maka dia bisa langsung memperbaikinya.

Kolaborasi pustakawan-dosen lebih mudah dilakukan. Kesehariannya mereka bertemu, sehingga sekat-sekat status di perguruan tinggi bisa dirobohkan. Semua sama, yang beda cuma gajinya.

Kegiatan konsultasi, dan bimbingan yang diperlukan mahasiswanya, juga dilakukan di perpustakaan. Maka, lengkaplah. Perpustakaan benar-benar pusat, dia dihidupkan bukan saja oleh pustakawan, namun juga secara rutin oleh dosen-dosen (ilmu perpustakaan) nya.

Dosen (ilmu) perpustakaan yang mau mengambil posisi ini, benar-benar dosen yang patut diteladani.

Sebaliknya, ketika dia masih mengasingkan diri di ruang-ruang yang jauh dari perpustakaan, maka sesungguhnya dia secara sadar membuat jarak dengan mahasiswa dan pustakawan, sosok yang diproduksinya sendiri. Dia meletakkan perpustakaan sebagai “yang lain”, terpisah, tidak menubuh.

Paijo: “jadi nge-pos di perpustakaan itu, bukan sekedar nge-pos, Kang?”
Karyo: “ya ndak tho, Jo. Kalau bisa ya ada ruang kecil buat mereka, dan ndak sekedar duduk dan ngetik di perpustakaan. Tapi juga bersama melakukan layanan pada pemustaka. Lah, seneng tho. Akur tur guyub”

Karyo, hanya sedekar menyampaikan perenungannya saja, dengan harapan apa yang direnungkan itu memberi manfaat. Karyo menyadari, ada pro-kontra pada pendapatnya. Karyo menghormati itu semua.



Sambisari
Kemis Pahing, 4 Mulud 1951 Je
05.29  enjeng

#pustakawanbloggerindonesia