Showing posts with label pustakawan. Show all posts
Showing posts with label pustakawan. Show all posts

Sunday, 25 October 2020

, ,

Tantangan untuk ISIPII


M
usim sudah berganti. Kemarau berangsur hilang. Hujan mulai turun. Banjir juga mulai terjadi. Tak terkecuali di kampung Paijo. Ya. Tapi tidak di perumahan. Yang kena banjir ya sungainya. Hehe. 

Sore itu, selepas hujan lebat pergi, Paijo merenung. Lama dia tidak merenung. Pada masa pandemi ini, sebenarnya dia banyak di rumah. Kerja. Online. Daring istilah bakunya. Namun, justru kerja online dari rumah ini membuatnya kurang produktif dalam merenung untuk kemudian menuliskannya.

Sore itu dia berusaha sekuat pikiran, untuk merenung. Beberapa diskusi, atau tepatnya lontaran diskusinya, mendapat tanggapan. Dan itu membuatnya merenung. Menerka arah dan argumen yang muncul dari rekan-rekannya.

****

Sekelebat dia ingat, masih tentang perpustakaan, pustakawan, dan kepustakawanan. Konon kabarnya, di negara lain yang dianggap maju perpustakaannya, pustakawan itu pendidikannya unik.

Kalau pendidikan tinggi dasarnya tentang perpustakaan, maka jenjang berikutnya pustakawan tidak mengambil lagi studi perpustakaan. Namun mengambil pendidikan lain. Atau sebaliknya. Pendidikan tinggi dasarnya tentang ilmu lain, kemudian pustakawan akan ambil masternya tentang perpustakaan.

Hal itulah yang kemudian (salah satunya) dianggap berkontribusi pada skill dan pengetahuan pustakawan.

Namun, di Indonesia tidak demikian. Banyak pustakawan yang tidak bosan sekolah tentang perpustakaan, atau kini diperluas dengan informasi. Diplomanya perpustakaan, sarjana perpustakaan, masternya juga demikian. Tidak bosan. Ya, seperti Paijo sendiri. Haha. 

"Hanya doktor yang tidak", batinnya. Ya. Jelas. Di Indonesia belum ada program doktor ilmu perpustakaan. Ada, sih. Tapi program nebeng. 

Paijo berfikir. Kudunya tidak demikian. Ya, minimal jika ingin sama seperti negara tetangga, lah. Kan selama ini begitu kebiasaan membandingkannya. Pustakawan tidak boleh sekolah terus di bidang perpustakaan. Ini harus dikampanyekan. Kudu variasi. Biar enak, menantang, dan tidak bosan.

Lalu siapa yang harus mengampanyekannya?

"Tidak ada yang lain. Ya para lulusannya", bathin Paijo. Juga organisasi lulusannya. Organisasi yang mewadahi para sarjana ilmu perpustakaan. "ISIPII," ucap Paijo setengah teriak.

"Untuk pengembangan kepustakawanan Indonesia, kami serukan pada para sarjana IPI untuk merdeka ambil S2 di bidang apapun"

Wani ra?

Tapi apa ISIPII berani? Paijo tidak yakin.

Renungan itu menyisakan tantangan.

Selesai

Saturday, 18 January 2020

,

Membandingkan Kopernio dan Lean Library + Unpaywall

Sebelum membandingkan, Saya lakukan install add on Kopernio dan Lean Lib di chrome.
Proses pencarian institusi di Kopernio
Proses di atas menunjukkan salah satu langkah setelah kopernio terpasang di Chrome. Setelah membuat akun, Kopernio menawarkan pemilihan institusi.

Agaknya Kopernio telah memiliki data subscriptions berbagai universitas. Mungkin ini terkait dengan keterangan di laman https://kopernio.com/compare/kopernio-vs-lean-library yang menyebut "No, works with most libraries by default. Libraries can amend as necessary at any time.", terkait dengan library setup. Berbeda dengan Lean Lib yang memerlukan library setup.

Permintaan koneksi ke Library Subscriptions
Lanjutan proses koneksi ke library subscriptions. Ada proses login SSO di sini.

Seting Kopernio
Kopernio memiliki locker free 100 MB. Juga dapat disetel citation yang digunakan, termasuk software manajemen sitasi yang digunakan.

Sementara itu, setelah memasang add on Lean Library, saya hanya diminta mencari library sesuai insitusi.

Pemilihan institusi di Lean Lib
Pada pemasangan unpaywall, tidak ada hal yang istimewa.

Setelah selesai, hasilnya akan muncil icon 3 add on tersebut di kanan atas browser.


****

respon 3 add on (+ unpaywall)
Gambar di atas menunjukkan respon 3 add on. Karena artikel yang dibuka memang masih bebas diunduh (lihat logo PDF, di sampingnya ada kata "download PDF" yang menandakan artikel bisa diunduh langsung), maka respon ketiganya memberi keterangan unduh. Atau pada unpaywall berwarna hijau.

Selanjutnya kita lihat gambar di bawah ini.

respon 3 add on

Ini mulai berbeda. Keterangan di Sciencedirect menunjukkan kata "Get Access", artinya artikel ini tidak bisa diunduh langsung, meskipun sudah dilanggan UGM. Namun Kopernio, Lean, dan unpaywall kompak menunjukkan sinyal positif.

Lean Lib memberi tahu "... this article available for you...". Demikian pula Kopernio, serta Unpaywall mendeteksi adanya versi Open Access dan memberi sinyal warna hijau.

Perbedaan akan terjadi ketika 3 add on tersebut di klik.

Kopernio akan menampilkan Kopernio Locker, yang kita langsung disodori artikelnya full text. Lean Library akan mengarahkan ke Summon. Sementara Unpaywall mengarahkan ke alamat URL utama asal artikel tersebut.

Sebagai catatan, Lean Lib yang mengarah ke Summon dimungkinkan kadang bermasalah. Hal ini disebabkan karena adanya tautan yang keliru di Summon ke url sumber.

Silakan lihat gambar di bawah.

Hasil dari Lean lib

Hasil dari Unpaywall ke Pubmed
Hasil dari Kopernio
Hasil dari Kopernio bisa disimpan dulu di locker, diunduh, dan tersedia fitur eksport referensi dalam bentuk .ris

*****

Bagaimana jika artikel itu berbayar, dilanggan institusi, namun tidak ada versi open accessnya?

Semua positif, kecuali unpaywall

Bagaimana jika UGM tidak melanggannya?

Jika tidak dilanggan UGM

Jika artikel tidak dilanggan, sehingga saya ndak ada akses, maka 3 add on akan menunjukkan sinyal negatif. Termasuk ketika tidak ditemukan versi OA dari artikel tersebut.


***
Ada yang menarik di Lean Lib, ketika akses dilakukan di dalam jaringan kampus. Agaknya Lean telah mendeteksi IP, sehingga muncul komentar seperti pada gambar.
tampilan Lean Lib ketika akses dari dalam kampus


***

Informasi jumlah dikutip di database WoS

Gambar di atas menunjukkan fitur di Kopernio, yang terintegrasi dengan WoS sehingga bisa memberi informasi artikel yang sedang aktif itu telah dikutip berapa kali di database WoS.

Gambar di atas, jika posisi belum login ke Kopernio, maka pencarian akan dilakukan ke database Google Scholar.

****

Kesimpulan

Pencarian menggunakan 3 add on ini dilakukan menggunakan browser, bisa langsung mencari menggubakan Google, atau langsung ke url jurnal berada. Pencarian tidak harus dilakukan menggunakan Summon atau mesin discovery sejenis lainnya. Tentu ini hal menarik, karena bisa mengakomodir kebiasaan pencarian mahasiswa.

Kopernio, merupakan bagian dari WoS. Sementara Lean Lib bagian dari Sage. Ini tentang dagang.

Dari sisi fitur tidak jauh berbeda. Ada perbedaan satu dua itu wajar.

Meskipun demikian, patut di catat bahwa  Kopernio bisa digunakan langsung, dan kita menerima fitur apa adanya. Sementara Lean Lib tidak. Lean harus ada setting dahulu berdasar permintaan. Seting di Lean ini memungkinkan adanya custom atau permintaan fitur. Ini sebuah kelebihan.

Bagaimana dengan Unpaywall?
Menyertakan pemasangan Unpaywall menjadi tambahan jangkauan data. Jika ternyata Lean dan Kopernio tidak mampu mencari versi OA, siapa tahu Unpaywall bisa menemukan.


Sambisari
18 Januari 2020
Pulang ronda, 01.23 pagi

Friday, 3 May 2019

, ,

Tiga lawan satu: koalisi partai dalam vosviewer

Koalisi, kamus suci bahasa Indonesia memberikan arti kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen. Jelas, koalisi merupakan istilah yang dipagari hanya untuk bidang politik. KBBI mengelompokkannya sebagai kata benda dalam bidang politik dan pemerintahan.

Sekian lama Indonesia merdeka, koalisi menjadi hiasan setiap perhelatan politik. Utamanya setelah masa reformasi, koalisi terjadi dalam berbagai kepentingan. Pemilihan presiden, menjadi perebutan paling seksi hingga partai harus koalisi.

Data untuk olahan visualisasi  ini,  diambilkan dari
  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Poros_Tengah
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Presiden_Indonesia_2004
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Presiden_Indonesia_2009
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Presiden_Indonesia_2014
  5. https://www.kpu.go.id/ 
Setidaknya, setelah reformasi, ada 5 kali pemilihan presiden. Pada 1999 dilakukan oleh MPR, setelahnya dilakukan secara langsung. Ada yang sekali putaran, ada pula yang memerlukan 2 putaran. Dari 5 pemilihan itu, setidaknya ada 16  kubu yang dibentuk, baik sendirian maupun berkoalisi.

Pada tahun 1999, ada dua kubu/kelompok/koalisi. Tahun 2004 terbagi menjadi 2 putaran, dengan 5 kelompok pada putaran pertama, dan 2 pada putaran kedua. Tahun 2009 dengan 3 kelompok, 2014 dan 2019 masing-masing dua kelompok.

Data dari sumber, sejumlah 16 kelompok,  dimasukkan dalam aplikasi Zotero. Dengan menganggap nama partai sebagai author, kemudian dieksport dalam bentuk RIS, lalu divisualkan rentetan proses tawar-menawar dalam politik pasca reformasi ini menggunakan visualisasi vosviewer.


visualisasi partai dengan minimal kemunculan 1x

Gambar di atas visualisasi partai dengan minimal kemunculan 1x. Artinya, setiap partai yang muncul sebagai bagian dari pendukung calon presiden, akan dimunculkan.

Kelompok merah, merupakan partai yang hanya sekali-dua kali muncul, setelah itu tidak lagi ada pada proses selanjutnya. Partai ini hanya kembang-kembang proses pemilu saja, yang kemudian layu karena tak mampu bertahan.  Kelompok merah ini menjadi kelompok sendiri karena pernah memiliki kesamaan pandangan dalam koalisi ketika mendukung demokrat mengajukan calon presidennya di 2009.

Kelompok lainnya terbagi menjadi 3 bagian. Ketiganya ditunjukkan oleh warna kuning dengan pks, demokrat dan pan; biru yang berisi pbb, pkpi, golkar, pkb, ppp, hanura, nasdem, dan partai baru partai solidaritas indonesia; serta hijau yang berisi pdip sebagai yang mendominasi, partai kedaulatan, pni marhaenisme, pakar pangan, partai syarekat islam, partai merdeka dan partai buruh.

Kenapa gerindra tidak ikut kelompok kuning, sebagaimana kita lihat selama 2 kali pilihan presiden?

Gerindra memang 2 kali bersama dengan pan, pks, dan demokrat. Namun, gerindra menjadi berwarna hijau (sekelompok dengan pdip dll.) karena di antara gerindra, pks, pan, dan demokrat, gerindralah yang pernah berbeda. Yaitu ketika tahun 2009 berkoalisi dengan pdip. Atas dasar hal inilah, gerindra dianggap berbeda oleh vosviewer, sehingga tidak ikut dalam kelompok warna kuning.

visualisasi dengan minimal muncul 2x
Minimal kemunculan 2x, berarti yang divisualkan hanya partai yang muncul dalam minimal 2 kali koalisi/kubu.

Kategori ini hanya terbagi 3: merah dengan pan, pbb, pks dan demokrat; hijau yang berisi golkar, pkpi, pdip, pkb, dan hanura; serta biru yang berisi ppp, pbr, dan pds. Kelompok biru merupakan partai yang pernah cendering ke hijau atau juga pernah ke kelompok merah.
visualisasi dengan minimal muncul 5x
Nah, ketika dimunculkan minimal 5x, akan terlihat 2 kubu besar. Pan, demokrat, pks dan pbb di sisi kiri, serta ppp, golkar, pkb dan pdip di sisi kanan. Gerindra tak lagi muncul. Hal ini karena gerindra baru mengikuti kompetisi selama 4 kali saja.

Pada sisi merah, terlihat PBB yang pada gambar pertama muncul di kelompok biru, berubah menjadi kelompok merah. Sementara Golkar dan PKB yang pada gambar pertama sekelompok dengan PBB di warna biru, menjadi kelompok hijau bersama PDIP.

Dua kubu terakhir ini dipisahkan oleh Demokrat, PAN dan PKS di sisi kiri, serta fokus PDIP di sisi kanan. Dua kelompok ini merupakan partai yang saling berhadapan dan belum pernah serumah. Selain partai tersebut (PBB, PPP, PKB, GOLKAR), dalam sejarahnya bisa ke kiri atau ke kanan, termasuk Gerindra.

Apakah ini akan jadi seteru abadi?

Jangan lupa, pada 2001 ada sidang istimewa, yang petanya tidak boleh dilupakan dalam proses politik kekuasaan di Indonesia. Peta partai ketika sidang istimewa itu tidak saya masukkan dalam data untuk visualisasi ini.

Bagaimana peta politik di 2024?


Visualisasi interaktif dapat dilihat melalui Vosviewer online ini:
(gunakan Shift+scroll untuk zoom in/out di Windows)

Wednesday, 10 April 2019

[[ Pilih call for papers, atau call for ngarit? ]]

Ikuti! call for papers dengan berbagai topik. Terindeks Scopus, masuk di jurnal bergengsi ber-impact tinggi.

***

Call for paper sedang moncer. Dia banyak di cari. Tak terkecuali bagi para pustakawan.

Call for paper itu bicara di depan banyak orang. Bahan yang disampaikan tentunya ilmiah, ditelisik dan ditulis dengan metode ilmiah. Disampaikan pada forum ilmiah, di depan orang ilmiah. Pastinya sudah lolos saringan oleh para ilmuwan yang pikirannya sangat ilmiah.

Tanya jawab yang muncul, juga akan ilmiah. Tidak baen-baen. Semakin banyak orang membukukan prestasi ikut call for paper, maka namanya akan semakin membumbung tinggi. Tinggi-tinggi sekali. Kiri kanannya akan duduk orang yang levelnya sejajar.

Call for paper ada banyak motifnya. Motif paling ideal adalah untuk meningkatkan kemampuan diri, dan berbagi dengan orang lain. Hal ini dilakukan melalui pemaparan tulisan yang sudah disusunnya. Ini motif yang derajadnya paling tinggi.

Namun demikian, ada motif yang derajatnya ada di bawah. Motif jalan-jalan misalnya. Hal ini dikuatkan dengan poster call for paper yang terkadang dilengkapi dengan paket perjalanan budaya, alias piknik, atau tamasya. Dipromosikan dengan berbagai kalimat yang menggoda.

Misalnya: "lokasi presentasi dekat dengan taman hiburan yang paling panas. Panasnya tiada tara".


Call for paper itu perjalanan intelektual.
***

Berbeda dengan call for paper, call for ngarit merupakan proses mencari sekaligus memberi. Mencari suket untuk pakan sapi, atau wedhus. Proses call for ngarit tidak bicara di depan banyak orang. Justru diam, tenang, fokus pada menggerakkan arit agar tepat menebas suket. Sesekali memang ada proses tanya jawab, tapi hanya bumbu saja. "Saweg ngrumput, Kang?", demikian pertanyaan yang biasanya terlontar. Call for ngarit adalah usaha membangun hubungaan dengan sapi dan wedhus, melalui suket. Sebagai wujud cinta kasih sesama makhluk.

Berbeda dengan call for paper, call for ngarit tidak perlu promosi perjalanan budaya. Karena sesungguhnya proses ngarit itu sendiri sudah perjalanan budaya, perjalanan spiritual. Menyatu dengan alam, berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan. Nembung pada suket untuk dibabat sebagai pakan ternak. Ada proses meminta, mencari, ikhlas, dan pengorbanan.

Call for ngarit itu perjalanan spiritual.

****

Keduanya, call for papers dan call for ngarit tentu saja beda tujuan, beda karakter. Kita bisa menolak call for paper, karena untuk bergabung perlu modal uang untuk mendaftar. Kalau call for papernya tingkat tinggi, apalagi terindeks Scopus, maka akan mahal. Berbeda dengan call for ngarit. Kalau Simbok sudah mengadakan "call for ngarit", maka kranjang dan arit harus segera disandang. Tidak perlu diawali dengan mengajukan abstrak, atau full paper. Tanpa proposal. Langsung mangkat neng ngalas. Kalau menolak, berarti tidak berbhakti. Tidak perlu modal uang, cukup sangu sebotol air mineral, dan satu dua buah telo mentah untuk dibakar, itupun jika perlu.

Simboke Paijo: "Jo, sapine ngeleh (lapar)".
Paijo: "Siap, tanpa abstrak, langsung mangkat".

Call for ngarit lebih utama dari call for papers.

Friday, 1 February 2019

, ,

Pustakawan: makhluk dongkrak-an dan malapraktik pendidikan pustakawan

**[1]**

“Pustakawan: makhluk apa itu?”

Pertanyaan yang tidak umum.  “Sejatinya, makhluk seperti apakah pustakawan itu?,” gumam  Paijo.

Setelah renungan panjang, diuyak-uyak alias dikejar-kejar, akhirnya dia ingat, dulu pernah nulis di blognya dengan judul “pustakawan itu bukan siapa-siapa”.

Ya. Bukan siapa-siapa! Paijo memang yakin begitu. Pustakawan itu manusia biasa. Dia bukan manusia super yang bisa ini itu. Berarti, kesimpulannya pustakawan itu makhluk yang bukan siapa-siapa. Dudu sopo-sopo!.

Tulisan itu, fikirnya, sebenarnya sudah bisa menjawab pertanyaan “pustakawan makhluk apa itu?”. 

Namun, Paijo ingin mengejar, “bukan siapa-siapa itu karena apa?”.

Paijo ingin menelisik, sebab musabab pustakawan itu bukan siapa-siapa.

Menelisik “sebab” dengan waktu yang terbatas tidaklah mungkin. Kecuali lewat perenungan, kontemplasi agar turun wahyu, kemudian: cling, ketemu jawabannya. Tapi Paijo juga sadar. Dia manusia biasa yang berlumur dosa. Kesalahan dan dosanya sangat mungkin menjadi penghambat turunnya ilham. Ada tabir pemisah pada ilham dan wahyu yang sulit ditembus. 

**[2]**

Di grup pustakawan blogger yang Paijo ikuti, pernah terlontar pertanyaan atas dasar sebuah pengalaman.

Kang Yogi, seorang manajer aset digital terkemuka di Indonesia, kaget tak terkira. Ketika itu dia sedang memilah dan memilih para pelamar. Salah satu yang dilihat, tentunya selain foto pelamar yang bening-bening, juga IPK. Dia kaget saat melihat IPK adik angkatannya yang menjulang tinggi, setinggi tugu monas. Tugu yang kabarnya juga disebut MONumen Akal Sehat. Padahal, dulu di jamannya, IPK mau setinggai tiang bendera saja susahnya minta ampun. Sulit. 

Ada beberapa prediksi dari Kang Yogi, apa sebab IPK si pelamar itu bisa menjulang tinggi. Mungkin si mahasiswa makanannya bergizi, daya hafalnya luar biasa, kemudian yang terakhir nilai menjulang tinggi itu karena dongkrakan.

Dongkrak?

Dongkrak, menurut kamus suci Bahasa Indonesia, berarti alat untuk mengumpil atau menaikkan. Hasil dongkrak-an, berarti hasil dinaikkan, hasil umpilan, angkatan, yang sebelumnya di bawah menjadi naik ke atas. Mumbul.  

Komentar muncul, masih dalam grup itu, yang mengatakan bahwa dongkrakan itu diperlukan agar akreditasi kampus tetap oke, dan tentunya tuntutan pasar. Mungkin ada belas kasihan dari dosen pada alumni kalau IPK kecil, karena bisa menyebabkan tidak lolos masuk syarat mendaftar ASN. Efek berikutnya  akan dahsyat. Si sekolah perpustakaan akan dijauhi calon mahasiswa. Jelas ini berbahaya. Para dosen tidak mau ini terjadi. Itu pasti!

Namun, apakah prediksi ini benar?

“Harus diinvestigasi,” Paijo mengepalkan tangan.

**[3]**

Nah, sore ini, Paijo buka facebook. Biasa, buka akun satu dan lainnya, buka wall kemudian baca status banyak orang. Tanpa sengaja dia nemu status seorang dosen. Tentunya dosen ilmu perpustakaan, bukan dosen ilmu lainnya. Dia tak berani membahas yang lain.

Status di laman FB itu masih ada hubungannya dengan dongkrak mendongkrak. Begitu lugunya si dosen membuka rahasia dapurnya pada status sebuah facebook. 

Entah keluguan itu muncul karena memang lugu, atau, ya mungkin sedang menikmati posisinya sebagai dosen, yang memiliki "kuasa" atas mahasiswanya. Atau bisa juga karena saking mumetnya menjalankan perannya sebagai dosen (ilmu) perpustakaan.

“nilai-nilai itu sudah hasil dongkrak sana dan sini”, demikian tulis dosen itu di laman FBnya. 

“Ini jelas bukan status lugu,” gumam Paijo mengoreksi anggapan awalnya. Karena dia yakin, dosen itu sebagai ilmuwan yang boleh salah, tapi tidak boleh bohong dan harus jujur. “Lebih tepatnya ini status jujur,” koreksi Paijo dalam hati. Status itu sudah melewati tes kevalidan, kajian ilmiah, review, dan akhirnya keluar. Kabarnya ada juga yang nilainya D atau E.

Paijo mikir, kalau D dan E itu juga sudah hasil dongkrakan, lalu aslinya berapa? 

Sebenarnya Paijo masih heran, kenapa selevel dosen membuat status seperti itu? 

Ah, entahlah. 

Status itu merupakan bukti kejujuran, yang didukung oleh keluguan dan apa adanya. Status itu, yang berwujud kumpulan huruf, menjadi kata, menjadi kalimat, kemudian melahirkan tafsir, adalah tanda.  Ini bahasa semiotik. Tanda itu dikirim/terkirim oleh si dosen kepada publik, tentang apa yang terjadi dalam dapurnya.  Jika itu disengaja, maka memang ada pesan yang sengaja dikirim oleh si dosen. Jika itu tidak sengaja alias alamiah, atau tanpa sadar, maka memang demikianlah adanya.


Status itu cukuplah membuktikan, atau bukti awal prediksi Kang Yogi. Selain itu, juga cukup sebagai bukti awal, kenapa pustakawan itu “bukan siapa-siapa”. Atau, juga bukti awal, silang sengkarut kepustakawanan di Indonesia.

Paijo berkesimpulan, dongkrak-mendongkrak itu benar adanya.

"Ah, diperlukan lebih banyak dosen (ilmu) perpustakaan, yang berani membuka dapurnya di muka umum. Agar dunia kepustakawan lebih terang benderang duduk masalahnya," gumam Paijo.

**[4]**

Sendirian, Paijo masih melanjutkan lamunannya. Masih tentang dongkrak mendongkrak. 

Paijo mikir. “Jangan-jangan nilaiku dulu juga dongkrakan, katrolan”. Oh tidak…

Seorang kawannya yang bekerja di bidang penjaminan mutu pendidikan pernah berkata. Waktu itu di sebuah kafe samping rumahnya mereka ngobrol. Intinya: malapraktiknya pendidik itu efeknya sangat panjang, lama. Bahkan efek itu bisa menimbulkan efek ikutan lainnya. Bahaya, dan berpengaruh pada perjalanan bangsa dan negara.

Apakah proses pendongkrakan ini, merupakan malapraktik dalam pendidikan pustakawan?

Jika iya, maka jelas sudah. Silang sekarut kepustakawanan Indonesia memang bermula dari pendidikan pustakawannya. Bermula dari, ah... sudahlah.

Entahlah.
---------------

[[ titik - selesai ]]

Tulisan ini sebelumnya diposting di sini


Sambisari, 
Selasa Wage pagi hari, 22 Jumadilawal, 
Wuku Pahang, 1952 tahun be.

Friday, 21 December 2018

Strategi mencintai tempat kerja (perpustakaan)

Deg-deg-ser. Itulah kemungkinan pertama yang dirasakan ketika masuk tempat kerja baru tanpa tahu kondisi sebelumnya. Pertanyaan betah atau tidak, nyaman atau tidak, dibully atau disayang, kemungkinan besar masuk dalam pikiran.

Ketika kuliah diploma, beberapa teman berkesempatan menjadi tenaga partime di perpustakaan. Saya gagal. Tentunya bagi teman-teman partime, mendapatkan pengalaman menarik dan berharga, karena ketika masuk kerja sudah bisa membaca kondisi. Apalagi jika bekerja di tempat partime yang sama. Sama saja dengan libur trus masuk kuliah lagi. Kepenak, meski juga ada kekurangannya. Kurang berwarna.

###

Setelah lulus, saya pernah magang di Perpustakaan Fisipol UGM, 3 bulan lamanya. Blank. Mirip sama suasana nembak gebetan kemudian ditolak. Buyar.  Bingung pekerjaannya apa ya? Mau ngapain?

Beruntung saya punya kenalan yang sudah kerja di perpustakaan tersebut. Cukup membantu.

***

Kemudian, saya memasuki tempat kerja sesungguhnya, pertama kali di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Seperti yang saya sampaikan di atas, awal masuk berbagai pertanyaan juga mampir di pikiran saya. Kalau pas masuk terus dikerjain, bagaimana yak? Atau jika saya bikin kesalahan, waduh bisa kacau.

Saya mulai kerja di Teknik Geologi. Perpustakaannya penuh buku tentang minyak bumi, batu, fosil dan semacamnya. Beda dengan perpustakaan Fisipol, yang (meski saya tak suka baca, waktu itu :) ), masih bisalah saya paksakan membaca buku-bukunya. Mahasiswanya juga berimbang antara i dan a. Lah di Geologi, kebanyakan a, jarang i-nya. Tentu ini masalah tersendiri, dan cukup mengganggu. #halah

Harus ada cara supaya saya senang di perpustakaan ini.

Hingga, saya diberi anak kunci untuk membuka ruang tesis lapangan dan menata koleksi di dalamnya. Di ruang ini tersimpan tesis lapangan dari awal berdirinya teknik Geologi sampai sekarang. Isi tesis lapangan itu pemetaan daerah sekian km x sekian km.  Pembahasan tentang bentang alam, dan lainnya. Terdapat peta geologi dan jenis peta lainnya. Intinya ruang tersebut bisa disebut miniatur keadaan alam Indonesia.

Tesis lapangan ini membahas daerah di Indonesia dari ujung barat sampai timur. Lengkap.

Waktu berjalan. Saya nemukajian tentang pertambangan, perusahaan tambang, politik sumberdaya alam. Kenal website jatam (https://www.jatam.org/), dan semacamnya. Pada titik inilah saya mulai tertarik dengan geologi, tidak hanya tentang ilmunya, namun justru selipan tema sosial/politik terkait geologi. Membangkitkan adrenalin. Tema-tema ini yang terkadang saya obrolkan ringan dengan mahasiswa.

Dari obrolan itu saya mulai dekat dan bisa membangun komunikasi dengan mahasiswa. Kesempatan tersebut cukup membantu pula dalam mengenal ilmu geologi itu sendiri. Kemudian saya tahu ada beberapa alumni yang pernah ada di pemerintahan, mahasiswa yang ternyata anak pergerakan + tulisannya. Informasi ini cukup membantu saya menyenangi perpustakaan geologi.

***

Tahun 2012, saya pindah ke Fakultas Teknik. Perpustakaannya, tentu saja, memiliki koleksi lintas departemen. Hubungan dengan mahasiswa juga tidak sedekat di departemen. Ini masalah.

Setahun pertama, ada penyesuaian yang cukup berat. Melebihi beratnya Dilan menahan rindu pada Milea. Hingga pernah ingin mundur saja. Berat. Asli. "Milea, saya mundur saja, ya. Aku ikhlaskan dirimu untuk Kang Adi".

Tapi ternyata tidak. Dilan tetap berjuang untuk mendapatkan Milea. #halah.

Akhirnya saya menemukan beberapa titik yang mencerahkan. Apa itu ilmu teknik? siapa saja tokoh ilmu teknik? apa yang bisa saya dapat dari ilmu teknik? kenapa ini lebih baik dari pada saya kerja di ilmu sosial? dan lainnya.

Sukarno itu orang teknik. Dia juga proklamator, politisi, bahkan juga nyantri di rumahnya Pak Tjokro. Ini menarik. FT memiliki nuansa ilmiah, riset, yang kental. Tidak berarti saya beranggapan fakultas lain tidak sebaik FT. Tidak, tidak begitu. Namun apa yang ada di hadapan saya, seperti itulah adanya. Di FT, 8 departemen memiliki keahlian riil yang beragam. Saya bebas belajar pada siapa saja. Ini menarik. Perpustakaan FT ini semi otonom, letaknya yang terpisah, kerumahtanggaannya yang 90% mandiri, berpotensi menjadikan pustakawannya merdeka. Merdeka dalam arti positif tentunya.

Pertanyaannya, bagaimana saya memanfaatkan fasilitas di atas? Inilah yang menjadi tantangannya.

***

Memasuki tempat kerja yang baru, bagi saya, perlu mencari titik-titik menarik yang bisa menantang. Hal menantang dan menarik ini, akan membuat kita betah bekerja. Atau paling tidak membawa aura positif bagi proses kita mencari rejeki. Beda orang, beda strategi, beda pula pointnya. Ada yang bagi orang lain menarik, namun bagi yang lainnya kurang, atau bahkan dihindari.

Hal menarik itu bisa tentang koleksinya, manajemennya, efek dari ilmu yang ada di perpustakaan. Atau mungkin pemustakanya. Atau lainnya. Anda, saya, kita semua merdeka mendefinisikannya.


Thursday, 20 December 2018

, ,

“Pustakawan cuma dikasih sisa, dong!?"

Angkringan kang Kuat Gelanggang
Seorang cerdik cendikia bidang perpustakaan dan informasi mengatakan bahwa pustakawan itu perlu sekolah hingga bergelar doktor. Perlu, penting, agar kajian kepustakawanan lebih oke, tokcer, dan joss. Mungkin memang demikian alasannya. Beberapa hitungan pustakawan  kemudian kuliah sampai jenjang doktor. Di luar negeri, atau di dalam negeri. Mbayar sendiri, atau beasiswa.

###

Seperti adat saben, Paijo dan Karyo, dua sahabat karib beda usia jagongan nguda rasa. Tukar kawruh, saling berbagi. 

“Kalau sudah kuliah, lalu lulus, kemudian ngopo, Kang?”. Paijo membuka obrolan dengan Karyo. Obrolan itu terjadi di jalan depan rumah. Tempat biasanya orang lalu-lalang dari kebon. Ngebrok. “Mbok di sini saja jagongannya, Kang Karyo!”, istri Paijo setengah teriak menawari tempat obrolan di teras rumah. Tampak sambil membawa nampan berisi teko dan cangkir, serta sebuah piring. “Di sini saja, Yu. Silir. Sambil nunggu Kang Gimin dari kebon”, jawab Karyo. Mbok Paijo pun menghampiri suaminya dan sahabat karib suaminya itu.

Sejurus kemudian di depan Paijo dan Karyo tersuguh teh tubruk nasgitel  model campuran, racikan istrinya Paijo. Teh model ini dibuat dari beberapa merek teh. Konon kabarnya, lebih nikmat, sepet, tur gerrr. Di samping teko wadah teh, ada piring putih bermotif kembang. Pinggiran piring porselen itu sudah cuwil beberapa bagian. Tandanya piring itu sudah berumur. Lungsuran dari simbah-simbah-simbah dahulu. Namun, piring itu masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Dia masih bisa jadi wadah yang sempurna. Bahkan terkesan antik dan berkelas. Kemampuan mbok Paijo merawat perabot memang luar biasa.

Di atas piring tampak camilan ungkrung goreng, serta sebuah sendok dari daun pisang yang dilipat. Sendok itu dipakai untuk njumput ungkrung, diletakkan di telapan tangan, lalu dicamili satu persatu. “Ini ungkrung buruan tadi pagi sampai siang, Kang. Lumayan, dapat 6 ons”, terang Paijo. Ungkrung memang sedang naik daun. Bisa ratusan ribu sekilo. Melebihi harga daging ayam, lele, bawal, dan semacamnya.

Ungkrunge ndang dimakan, Jo. Jangan dinggorke saja”, basa-basi Karyo tidak langsung menjawab pertanyaan Paijo. Dia malah ambil ungkrung goreng lalu njumputi satu satu ke mulutnya. Mrus-mrus.  Tangan kanannya meraih gagang cangkir, lalu nyeruput teh nasgitel. “Ger…”, Karyo bergumam setelah kerongkongannya basah oleh teh manis racikan mbok Paijo.

“Jo. Pertanyaannya tidak langsung ‘kemudian ngapain setelah lulus?’!, Karyo mulai berkomentar.
“Lalu, apa, Kang?”.

Proses menjadi doktor bidang perpustakaan, tidak serta merta, tidak mak bedunduk. Ada kepentingan-kepentingan, atau gegayuhan hingga seorang pustakawan mau mendaftar program doktor. Kemudian, doktor itu idealnya kerja riset. Kalau sudah doktor maka tidak boleh lepas dari yang namanya riset. Dia punya tanggungjawab pengembangan. Kecuali menyatakan selesai. Karyo melanjutkan penjelasannya.

“Sik, maksudmu apa, Kang?. Mumet saya”.

“Yang harus ditanyakan pada pustakawan yang sudah bergelar doktor itu, pertama kali adalah “apakah mereka masih mau jadi pustakawan? atau jika sebelumnya belum pustakawan, apakah mereka mau mendaftar jadi pustakawan?’. Itu dulu yang harus ditanyakan”.

Pertanyaan dan pernyataan itu bagi Karyo agaknya dirasa penting, sehingga dijadikan awalan menjawab pertanyaan Paijo. Untuk memastikan dahulu, apakah konsistensi si pustakawan ketika sudah jadi doktor masih sama. Atau ndleyo, mengkeret, munter, balik arah, kemudian mengatakan,  “baju pustakawan sudah tidak muat untuk saya yang sudah doktor”.

“Kenyataan alias kasunyatan. Menjadi pustakawan dengan title akademik tertinggi: doktor, itu berat. Dia harus mau dan mampu memberi contoh sesama pustakawan. Dalam hal apapun. Dia harus bisa dicontoh dalam kesehariannya sebagai pustakawan”. Karyo melanjutkan penjelasannya.

“Bukahkah semuanya harus memberi contoh, Kang?. Tidak hanya doktor, yang sarjana, atau diploma sekalipun harus. Bahkan pustakawan hasil diklat”, Paijo setengah membantah.

“Benar, Jo. Pada dasarnya semuanya. Namun jika ada yang menyandang titel tetinggi, maka bebannya lebih banyak. Dia akan jadi sasaran pandangan pertama oleh orang di luar pustakawan. Citra pustakawan akan bergantung lebih padanya”, Karyo menambahkan.

“Kalau sampai setelah jadi doktor kok pindah profesi, atau tidak ambil profesi pustakawan, maka kamu itu Jo, kamu itu”, tangan Karyo sambil menunjuk muka Paijo.  “Harus ikhlas! Ikhlas jika memang pustakawan itu kelas kedua dalam pilihan profesi. Cuma dapat residu, sisanya saja”. Karyo nerocos melanjutkan penjelasannya.

"Itu belum apa-apa, Jo. Jika setelah jadi dosen, mereka mengatakan "pustakawan harus ini itu", kamu harus siap lahir bathin", Karyo menambahi lagi.

"Tapi, jika setelah jadi doktor tetap konsisten jadi pustakawan, maka kamu harus mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa",  Karyo menutup kuliahnya pada Paijo.

Paijo diam. Batinnya bergemuruh. Dia ingat bagaimana dosen ilmu perpustakaan begiti entengnya mengatakan "Pustakawan itu hari begini dan begitu". Tanpa beban. Mereka tak tahu bagaimana kondisi sosial politik perpustakaan yang di hadapi. Sak enak'e dhewe, mentang-mentang dosen njuk kemlinthi. Paijo mbathin.

Wajahnya lesu. “Aku berarti cuma residu, sisa-sisa, Kang?”.

Karyo tidak menjawab. Tangannya justru meraih teko wadah air teh, kemudian menuangnya ke cangkir yang hampir habis isinya. Kemudian dia jumput lagi ungkrung goreng di piring, lalu satu persatu di masukkan ke mulut.

Suasana hening….

###

Hening itu berlangsung beberapa saat. Karyo tetap diam. Menunggu reaksi Paijo. Paijo justru melamun. Mata Paijo menerawang, tampaknya sedang mengingat sesuatu. Sepintas kemudian dia mulai bicara.

“Kang, saya pernah dengar. Seorang cerdik cendikia mengatakan bahwa dia mengambili pustakawan terbaik di kampusnya, untuk diproyeksikan menjadi dosen ilmu perpustakaan”, Paijo berbagi informasi.

“Nah, itu Jo. Kamu dengar sendiri. Yang terbaik diambil, dinaikkan “derajat”nya. Di selamatkan dari goncangan profesi pustakawan. Dijadikan dosen (ilmu) perpustakaan. Logikanya, kalau yang pinter diambil jadi dosen, lalu pustakawan tinggal sisanya. Padahal pustakawan perlu orang pintar yang bisa memberi contoh jadi pustakawan yang baik dan benar. Menjadi praktisi itu lebih berat dari akademisi (ilmu) perpustakaan. Kalau yang lebih berat saja dikasih sisa, lalu?”, Karyo ngegongi Paijo.

Embuh, Kang!”. Paijo menyerah.

“Kang Paijo, wis meh magrib. Sapine dimasukkan kandang. Ndang siram. Nanti ada kondangan di tempatnya Lek Gimin, tho”, teriak Mbok Paijo sebagai wujud perhatian dan tresno pada suaminya.

Wis, tak bali dulu, Jo. Nanti ketemu di tempatnya Kang Gimin. Satu hal yang tetap harus kamu ingat: jika setelah jadi doktor tetap konsisten jadi pustakawan, maka kamu harus mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa", Karyo tahu diri dan pulang.

Kang Gimin, tetangga mereka, malam ini ada kondangan nyewu (seribu hari) kematian keluarganya. Kondangan terakhir, setelahnya tak ada lagi tersisa. Namun doa-doa tetaplah dipanjatkan, sepanjang masa. 


Sambisari,
Kamis Wage, 11 Bakdomulud 1952 Be
04.54 pagi

Tuesday, 30 October 2018

, , , , ,

Pre librarian - librarian - post librarian

Menjadi pustakawan itu berkah. Demikian seharusnya memaknai. Meskipun memang benar, ada yang kemudian berpindah atau keluar dari profesi tersebut. Semua punya sejarah, alasan, dan dasar yang pada dasarnya harus dihormati. 

Paijo, pustakawan dari pelosok kampung itu masih mencari pemaknaan dirinya terhadap profesinya. Dia ingin menempatkan pustakawan secara tepat pada dirinya. Penempatan yang pas, ora komplang. Manjing. Tidak menyakralkan, namun juga tidak meremehkan. Pemaknaan ini penting, agar selanjutnya dia bisa merdeka berjalan di jalan yang tepat, dan diyakini. Serta tentunya tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai isu dan dinamika dari luar. 

Dia tidak memungkiri, bahwa sesamanya ada yang telah selesai dengan pemaknaan pada profesi ini. Dia anggap begitu beruntungnya mereka. Namun, kadang dia juga berprasangka lain. Mungkin juga mereka tidak begitu memikirkan apa yang sedang difikirkan Paijo. Entahlah.

Paijo yakin bahwa semua pustakawan berhak memaknai perjalanan berpustakawannya. Bahkan pemaknaan itu boleh berbeda dengan orang lainnya. Tidak harus sama. Tidak ada yang mewajibkan harus sama. Tidak ada dosa jika berbeda. Paijo ingat ketika masih sekolah, diskusi bersama teman-temannya tentang tafsir pada ayat suci. Ayat suci yang turun dari Tuhan, ketika sampai pada mufasir akan menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika semua orang yang tidak masuk pada level mufasir ikut menafsirkan, pasti akan lebih beragam. Tafsir pada hal yang sakral pun bisa berbeda, apalagi hanya pada sebuah profesi ciptaan manusia. Demikian yakin Paijo.

Imaji Paijo pun meliar. Ketika di perpustakaan, sambil bekerja, sambil melamun, mencoba menggali makna pekerjaannya.  Berharap menemukan titik-titik pemberhentian dan berjumpa dengan  makna kepustakawanannya. Untuk mengejar makna ini, buku para begawan juga pernah dibaca, meski tidak semuanya selesai. Apa sebab? Entah. Dia sendiri juga bingung. 

###

Paijo melanjutkan perenungan perjalanan kepustakawannya. Kali ini sendirian, tidak ditemani Karyo, yang sedang pergi entah kemana. Juga tanpa sego thiwul kesukaannya. Dia ingin sendiri, kontemplasi. Agar fokus, kontemplasi Paijo dibatasi dahulu sesuai apa yang dia alami: pustakawan formal yang lahir dari pendidikan (ilmu) perpustakaan. 

Dalam perjalanan kontemplasi itu, Paijo memilah 3 fase keberpustakawanan yang dia lalui: pre librarian, librarian, dan post librarian. Paijo mencoba menelisik dirinya pada tiga fase ini.

Pre librarian merupakan waktu ketika masih berjuang agar nantinya dapat disebut pustakawan. Berbagai hal dilakukan dalam fase ini. Salah satunya dengan menempuh pendidikan. Pada masa ini idealisme dibangun. Berbagai artikel dan buku dilahap. Berbagai keterampilan diasah. Diskusi didatangi, serta cerdik cendikia didaulat untuk duduk (kadang juga berdiri) berbicara. Tujuannya satu: agar ketika sudah menjadi pustakawan, diperoleh predikat ideal.

Namun, pada masa ini Paijo juga merasa pernah jatuh. Linglung. Dirinya merasa aneh dengan pendidikan perpustakaan yang dia tempuh. ”Iki sekolah opo?”.  Kegamangan ini tidak hanya dialami  Paijo. Namun juga beberapa  temannya. Dibuktikan dengan kenyataan beberapa temannya berguguran, berpindah jurusan sebelum lulus. Bahkan, saat ini pun dia masih menemui mahasiswa yang sekolah perpustakaan merasa gamang. Sialnya, mahasiswa ini pernah bertanya, atau ngudo roso tentang kegamangan ini pada Paijo. Tak banyak yang bisa disampaikan Paijo, “lakukan yang terbaik pada apa yang ada di depanmu saat ini. Kamu boleh tidak suka dengan jurusan yang kamu ambil, tapi jangan remehkan (ilmu) ini”.

Kegamangan itu memang wajar. Seorang yang sudah masuk jurusan favorit macam kedokteran juga bisa gamang. Mungkin ndak sesuai minat, masuk karena ikut-ikutan, disuruh orang lain, atau sebab lainnya. Tapi begitulah, masa pre librarian memang kompleks. 

Pada masa ini, Paijo mencoba mengingat, meski ada yang gamang, ada pula yang berfikir idealis penuh percaya diri. Kompilasi bacaan tentang perpustakaan, yang ditulis dari berbagai sumber, mengantarkan mereka untuk presentasi pada pertemuan ilmiah. Atau paling tidak tulisannya menghiasi berbagai media massa.  Proses belajarnya harus dibenturkan pada berbagai bentuk pemikiran lainnya. Di pertemuan ilmiah tersebut, pandangan pro kontra akan mematangkan pemikirannya. Pada media massa, orang akan dapat membaca siapa dan bagaimana arah pemikirannya.  Ini hal yang positif pada masa pre librarian.

Berikutnya yaitu masa librarian, ketika sudah menjadi pustakawan. Inilah masa seseorang yang sudah menempuh pre librarian, kemudian  disebut sebagai pustakawan. Formal. Sesuai undang-undang,  atau sesuai ketentuan dan kebutuhan di institusi induknya.  Atau mungkin penyebutan itu berasal dari masyarakat sebagai sebuah penghargaan pada peran yang dilakukannya. Pada masa inilah idealisme bertemu dengan realita. 

Akan ada kompromi, penyesuaian, pertentangan, dan mungkin penguatan. Kompromi dilakukan ketika menemukan kenyataan yang ternyata tidak serta-merta sesuai dengan jabaran teks yang pernah dibaca sebelumnya, ataupun dengan teks dan interpretasi mutakhir yang juga terus diikuti. Akhirnya ada yang harus ditahan, dikalahkan, diprioritaskan dan lainnya. Hal itu dapat ditelisik dari pilihan bentuk kerja-kerja pustakawan.  Inilah masa-masa sulit. 

Pada masa ini pustakawan mulai menghadapi konsekuensi yang bukan hanya konsekuensi sebagai pustakawan. Namun juga konsekuensi sebagai manusia. Pustakawan harus mampu membaca dirinya sebagai manusia, bukan sekedar sebagai pustakawan semata. Sebagai pustakawan, diajarkan hal yang ideal: lowongan pustakawan yang menjadi haknya, bisa bekerja, sesuai pendidikan, digaji ideal. Tapi konsekuensi sebagai manusia lebih luas. Manusia itu harus mau diuji, berjalan di jalan yang berliku, penuh perjuangan, dan lainnya. Gajinya sedikit, diberi pekerjaan berlebih, dan lainnya. Ndak enak. Nah, pada masa itulah dia harus memutuskan: lanjut, atau cabut. 

Paijo ingat pernah pula dicurhati orang yang ada di level pustakawan. Pelik masalahnya. Bingung pula Paijo dalam menanggapi. Ketika itu, kawan Paijo diminta untuk pindah ke bagian lain. Dia dihadapkan pada pilihan idealisme, atau mengikuti perintah atasan. Paijo memberikan saran yang menurutnya paling barokah: ikuti perintah atasan, selama itu bukan perintah keburukan. Saran ini disampaikan, karena Paijo melihat di unit tersebut kurang orang, dan pada saat yang sama, bagian lain sangat membutuhkan. Kawan tersebutlah satu-satunya pilihan pimpinan. Bagaimana dengan perpustakaan yang ditinggalkan? Dengan pengondisian, dapat berjalan hingga sekarang. Mungkin saran tersebut tidak akan disampaikan, jika ternyata di unit masih ada banyak pilihan orang.

Orang yang (entah) kebetulan atau ditakdirkan jadi pustakawan, harus memandang dirinya sebagai manusia, dan siap dengan segala konsekuensinya sebagai manusia.

Paijo ingat, pada sebuah buku disampaikan bahwa hidup itu ujian, baru kemudian ada pelajaran dari ujian itu. Demikian pula ketika pustakawan masih kuliah, porsi belajarnya baru 20%. Yang 80% main-main. Sementara ketika jadi pustakawan, 100% kesehariannya adalah belajar, praktik, dan ujian. Dia dihadapkan para kenyataan dan ujian. Barulah dari dua hal ini dicari nilai pelajarannya, begitu seterusnya. Itupun jika mampu mencerna ujian yang dihadapi. Jika tidak, maka yang muncul hanya keluhan, umpatan, dan semacamnya. 

Sekolah itu pelajaran dulu, baru ujian. Sementara kehidupan alam, ujian dulu baru diberi pelajaran. (sumbernya lupa)

Perjalanan kepustakawanan tidak hanya selesai di sini. Keberpustakawan tidak hanya selesai ketika seseorang menjadi atau mendapat predikat pustakawan dengan berbagai tantangannya. Namun secara substansi, masih bisa naik pada level post-librarian. Beyond librarian.

Post librarian, merupakan masa ketika seorang pustakawan sudah melewati masa “librarian”. Ini posisi terakhir, pungkasan. Pergulatan, kompromi, pertentangan, sudah dilewatinya. Meskipun secara nyata saat itu dia masih menyandang predikat pustakawan, masih melakukan kerja-kerja seorang pustakawan, namun pemaknaannya bisa dinaikkan pada level post-librarian.

Seseorang yang sudah post, berarti sudah selesai dengan berbagai dinamika yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Manjing ajur-ajer. Penempatan arti “pustakawan” pada dirinya sendiri sudah selesai. Konflik, kekecewaan, dan semacamnya yang muncul sewaktu-waktu sudah dapat dia kendalikan di internal dirinya sendiri. Bahkan ketika konflik, kekecewaan, dan semacamnya itu hadir pada ruang dan waktu yang berbeda. Sudah selesai. Dia fokus pada inti profesinya sebagai pustakawan dalam berhubungan dengan orang lain. Inti! bukan atribut. 

Menempati posisi post, berarti sudah mapan. Bukan mapan secara finansial, namun mapan secara pemikiran dan pemaknaan. Dia sudah tidak lagi terikat pada dikotomi “saya pustakawan” dan “engkau pemustaka”.  Pada taraf inilah, ketentuan pustakawan formal yang terikat undang-undang atau peraturan, sudah tidak berlaku bagi dirinya. Semua manusia itu pustakawan, dan semua manusia sekaligus juga pemustaka. 

Inilah masa ketika pustakawan tidak lagi terikat pada batasan: siapa yang berhak menjadi pustakawan, dan siapa itu pemustaka. Baginya, semuanya sudah melebur. 

Paijo mengambil nafas panjang. Tatapannya dialihkan ke jalan di depan rumahnya. Jalan yang cukup ramai lalu lalang orang ke tegalan. Kiri kanan jalanan itu tumbuh pohon jati yang rindang. Angin semilir melewati batang pohon, terus dan terus berhembus. Akhirnya sampailah hembusan itu di emperan tempat Paijo duduk. Wajahnya diterpa angin. Wusss. Sejuk. Dia bergumam, “lalu, aku ada pada posisi mana?”. Paijo bertanya pada dirinya sendiri.


Prestasi terbesar pustakawan
Prestasi. Satu kata, namun menjadi tuah sakti untuk banyak orang, berbagai profesi, bahkan berbagai kepentingan. Bermacam kalimat penambah samangat dibuat menggunakan kata “prestasi”: gapailan prestasimu, kejar prestasi, belajar untuk meraih prestasi. Prestasi, secara alami akan dikejar. Bentuknya bisa bermacam, terpaut pada kepentingan si pengejar prestasi itu.

Ada yang menganggap pencapaian pendidikan tertinggi, atau mampu membeli mobil (mewah) sebagai sebuah prestasi. Atau, bagi sebuah partai politik: mempertahankan kekuasaan merupakan prestasi puncak, yang mengikuti prestasi lainnya: merebut kekuasaan.

Demikian pula pustakawan. Ada prestasi yang tertanam pada masing-masing mereka, sebagai angan untuk diwujudkan. Bisa berupa prestasi individu maupun kelompok. Menjadi pustakawan terbaik pada berbagai jenjang, jamak menjadi prestasi yang sering dimunculkan. Baik di level institusi, kabupaten, propinsi, atau nasional. Ya, syukur regional atau internasional. Memperoleh akreditasi ISO, salah satu contoh prestasi institusi yang sungguh merangsang. Menyertainya pula berbagai bentuk prestasi lainnya: mendapat bonus, mendapat beasiswa, presentasi di konferensi, artikel masuk jurnal. Atau mungkin berfoto dengan tokoh penting kepustakawanan idolah dengan berbagai pose aduhai dan gokil, kemudian mengunggahnya ke media sosialnya. Berharap tuah dan berkah melalui tombol like and share. Itu sah dianggap sebuah prestasi yang luar biasa.

Ada juga prestasi harian: mampu menemukan informasi yang dibutuhkan orang lain. Tepat, cepat, dan akurat. Prestasi harian ini mampu meningkatkan hormon kebahagiaan pustakawan di setiap hari. Tentunya prestasi harian ada berbagai macam bentuknya. Semakin sering prestasi ini dicapai, akan berpengaruh pada tingkat kebahagiaan pustakawan. Dia akan merasa dianggap ada dan dibutuhkan. Pihak yang membutuhkan pun merasa terpuaskan. 

###

Namun, apa sesungguhnya prestasi terbesar pustakawan?

Sebelum membahas prestasi terbesar pustakawan, ada baiknya kita telaah cara pandang pada profesi pustakawan oleh si pustakawan itu sendiri. Fokus pandangan pustakawan yang mengagungkan pernyataan  “pustakawan itu penting”, harus digeser kepada  “hal penting apa yang bisa dilakukan pustakawan”. Jika demikian, maka fokus pustakawan akan ada pada perannya, bukan dirinya. Cara pandang ini penting, karena akan mengantarkan pustakawan pada pemaknaan profesi yang luas dan tidak terkungkung pada batasan-batasan tradisional. Meskipun demikian, tetap terkait ruh dasar kepustakawanan.

Prestasi besar pustakawan akan terwujud ketika dikotomi pustakawan-pemustaka sudah tidak ada, sudah hilang. Masa ketika seorang pustakawan akan menganggap orang lain juga merupakan pustakawan. Hal ini bisa dijelaskan dengan filosofi jawa “nguwongke uwong”, menjadi “nguwongke pemustaka”. Pemustaka tidak lagi  dianggap sebagai pemustaka saja. Di sisi lain, si pustakawan juga  menganggap dirinya sendiri seorang pemustaka, yang memerlukan sebagian kerja kepustakawannya, untuk dirinya sendiri.  

Ketika substansi ber-pustakawan telah menempel pada diri setiap pemustaka, maka pada masa inilah, prestasi terbesar seorang pustakawan terwujud. Semua telah pustakawan.

Proses menghilangkan perbedaan pustakawan dan pemustaka ini disebut sebagai proses memustakawankan pemustaka. Hal inilah yang merupakan “hal penting yang bisa dilakukan pustakawan”. Thetek bengek pekerjaan rutin yang selama ini dilakukan pustakawan, merupakan  turunan dari hal dasar ini. Proses inilah inti utama kerja pustakawan. Menjadikan pemustaka mampu secara mandiri menemukan informasi yang diperlukan, memfilter kualitasnya, dan menggunakan untuk dirinya sendiri, serta disebarkan kepada orang lain. Atau pemustaka menjadi mampu menemukan komunitasnya sendiri, untuk berkumpul dan bertukar pengetahuan. 

Proses di atas, sangat mungkin berakibat pemustaka akan menjadi lebih “pustakawan” daripada si pustakawan. Ini tidak mengapa, justru bernilai positif. Ibarat seorang guru, pustakawan akan merasa bangga jika muridnya telah mampu mengalahkan dirinya. Demikian sabda Begawan Parasurama. 

Pada saat inilah, tidak akan ada lagi kekhawatiran hilangnya profesi pustakawan, karena semua orang telah pustakawan. Peran pustakawan menempel pada diri masing-masing manusia (pemustaka), pada semua profesi. Keberpustakawanan merupakan kerja semua orang, bukan monopoli pustakawan formal semata. 

Pustakawan hanyalah perantara, lantaran yang hanya opsional agar semua manusia bisa mencapai tingkat berpustakawan untuk dirinya masing-masing. 


###

Mendung bergulung tipis. Menurunkan air yang juga tipis-tipis, alias gerimis. Mata Paijo berbinar, senyumnya merekah. Dia merasa  memperolah pencerahan. “Kang, ini ada telo godog”, suara lembut istrinya terdengar dari dalam rumah. Keluar sambil nyangking nampan berisi piring berisi ketela mateng yang masih anget, dua cangkir berisi gula batu. Serta teko bercat hijau berisi air teh tubruk, yang tentunya saja masih panas. 

Lelaki setengah tua berjalan di bawah gerimis, membawa kail, lewat jalan di depan rumah Paijo. “Mau kemana, Kang?”, sapa Paijo. “Mancing, Kang. Gerimis begini, air agak keruh, ikan mudah untuk dipancing”, jawab Kromo dengan yakin.

Paijo bergumam, "Kang Kromo telah menjadi pustakawan, minimal untuk dirinya sendiri"



Tuesday, 23 October 2018

, , ,

Ketua IPI memang harus Pustakawan Utama. Harus!!

Paijo bersama Karyo, seperti biasanya di depan rumah, jagongan tentang berbagai hal. Kali ini mereka grenengan tentang kongres IPI yang baru saja selesai. Konon kabarnya, telah terpilih ketua yang baru. Obrolan itu kemudian berlangsung, mengalir seperti biasanya. Ada segelas kopi di depan mereka. Plus jadah goreng yang masih anget di atas daun jati. Warna kemerahan daun jati akibat panasnya jadah membuat si jadah tampak lebih gurih ketika digigit. 
###

Kongres IPI, milik para pustaka(m)wan, di tahun 2018 telah berakhir. Hiruk pikuk pelaksanaannya juga sudah selesai. Mulai dari seminar, diskusi, grenengan, glenak-glenik. Bahkan mungkin sampai pada cinta lokasi para pegiatnya, lirak-lirik cari jodoh, atau nostalgia masa muda mereka. Seangkatan ketika diklat alih jenjang, ujian sertifikasi, satu kampus, atau dulu pernah menjalin asmara ketika kuliah. Atau mungkin ngobrol tentang jumlah remunerasi yang diterima, dan dibelanjakan untuk apa.


Atau bertukar pengalaman benchmarking, publikasi, atau tampil presentasi di mana saja.


Semua agenda, selesai.


Kongres tersebut merupakan wahana terhormat. Tempat berkumpulnya para pustakawan kualitas pertama, yang sangat dihargai di kancah kepustakawanan Indonesia, telah berhasil memilih ketua yang baru. Ketua untuk periode sekian tahun ke depan.

Kabarnya selama ini, ketua selalu dijabat oleh golonga tua, sekaligus yang kesehariannya di perpustakaan nasional. Melihat hal ini, tentu jika golongan muda berharap ketua IPI bergulir dijabat oleh mereka yang masih muda. Entah, muda itu ukurannya apa. Mungkin usia 50,40, 30 tahun atau di bawahnya. Muda berarti enerjik, mampu mengikuti perkembangan jaman dengan lebih baik, leluasa bergerak, dan tentunya, jejaring kekiniannya kuat. Harapan ini agaknya ada sejak lama.

Namun, ternyata kenyataan berkata lain. Ketua terpilih merupakan pustakawan yang (katanya) tak lagi muda, dan (lagi-lagi) bekerja di Perpustakaan Nasional. Database pustakawan menunjukkan bahwa awalan NIPnya 1954, maka bisa dihitung berapa usianya sekarang. Ketua terpilih berpangkat Pembina Utama Madya (IV/d), dengan jabatan Pustakawan Ahli Utama. Informasi ini menunjukkan bahwa sang ketua ada di usia matang bahkan usia mbegawan. Serta tentunya ada pada posisi jenjang kepustakawan puncak, paripurna, tuntas. Masa abdinya pun tentu sudah lama. Sudah paham, mana yang pahit, manis, asam, dan kecutnya dunia kepustakawanan.


Jenjang tersebut menunjukkan pada para pustakawan muda yang sekarang masih meniti karir, bahwa sang ketua baru adalah orang yang pinilih. Sebagai pemegang predikat Pustakawan Utama, maka sekaligus juga langka. Sulit dicari, dan pilih tanding. Hanya beberapa orang yang sanggup sampai jenjang ini. Seorang dengan predikat ini, telah wareg pahit getirnya kepustakawanan. Mulai dari indil-indil, sampai ondol-ondol. Mulai dari hal remeh, sampai hal penting tingkat tinggi, dan berhubungan dengan para pemangku kekuasaan. Mulai dari shelving buku, sampai menjelaskan isi buku. Pustakawan Utama mampu untuk itu. Jejak jenjang karir kepustakawannya dipersembahkan untuk buku, pustaka. Hidupnya sudah ibarat buku yang berjalan.


Sehingga wajarlah jika terpilih.

###

"Seorang presiden harusnya berumur di bawah 60 tahun", demikian seorang pakar berkata. Tapi pendapat ini hanya untuk presiden, buka untuk ketua IPI. Artinya ketua IPI berusia lebih dari 60 tahun itu boleh, wajar dan sebuah kehormatan. Ini adalah bentuk bakti dan penghormatan para muda pada yang lebih sepuh. Memberikan ruang bagi golongan tua yang terpilih untuk tetap bisa berkarya bagi bangsa dan negaranya, bahkan di masa penghujung pengabdiannya.  Lebih-lebih, ketika tak ada pustakawan muda yang  mau tampil. Maka, demikianlah adatnya. Golongan tua dan dari perpusnas selalu mengambil risiko, menempati tempat yang golongan muda tak mau menempati.


Tentang tak adanya golongan muda yang mau tampil, ini wajar. Ketua IPI itu berat. Memikirkan kepentingan pustakawan se Indonesia, baik plat merah, kuning, hijau, maupun yang tak punya plat sekalipun. Semua harus difikirkan dan dicari jalan keluar masalahnya. Siapa yang memikirkan? ya ketua IPI. 

Pernah membayangkan ketua IPI bukan pustakawan utama dan bukan dari perpusnas?


Tak terbayangkan. Saya tak sanggup membayangkan sulit dan beratnya. Maka tampilnya golongan tua dan dari perpusnas ini, memang benar-benar berkah. Tua dan perpusnas, merupakah gabungan dua status sakti yang tak akan tertandingi. Penolong bagi berlangsungnya roda organisasi sakral pustakawan ini.


"Kalau ketuanya macam saya, yang di perpustakaan kecil, kalau mau tugas luar menjalankan tugas kedinasan ketua IPI, mosok harus ijin atasan. Lah kalau tidak diijinkan? lak ya lucu, tha?", sambung Paijo.


"Lah iya, Jo. Apalagi kamu masih ingusan. Teori dan praktikmu belum sejauh para pustakawan utama.", Karyo menjawab grenengane Paijo.
"Itulah, Jo. Dengan dijabat orang perpusnas, maka geraknya jadi lincah. Mau ke sini ke sana, mudah. Dan dengan jabatan pustakawan utama, klop. Ilmunya sempurna", lanjut Karyo.
###

Namun, dengan menyingkir dan memberikan ruang, jangan dikira para muda ini tidak punya semangat. Jangan salah. Anda keliru. Justru dengan memberi ruang pada yang tua, itu sebuah bukti bahwa yang muda ini semangatnya sangat membara. Membara sepanas api kawah candradimuka, atau sekeras besi baja bahan membuat pedang naga puspa kresna. Semangat para muda ini adalah semangat memberi, bukan meminta. Bahkan diberikan saat sebelum diminta. Sebuah sikap tawadhu' yang luar biasa. Mereka, para muda ini menunjukkan ilmu ikhlas. Mengikhlaskan jabatan ketua IPI dipegang (kembali) oleh golongan tua. Sementara para muda, kembali pada habitatnya: berkecimpung berbagai organisasi kepustakawan baru, atau membentuk simpul-simpul kepustakawanan yang baru. Sungguh, ini merupakah akhlak terpuji, yang harus disyukuri telah ada semenjak muda.

Bukankah dulu, ketika jaman perjuangan juga demikian. Golongan muda memberikan ruang pada golongan tua untuk menduduki posisi puncak. Ini adalah contoh yang harus selalu diikuti. Termasuk pada hajat pemilihan ketua IPI.


###


Akhirnya, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah sebagai Ketua IPI, Pak. Di usia yang ke 64, semoga bapak selalu diberikan kesehatan, menahkodai IPI, melaut, menjangkar, menebar jaring, menangkap ikan, dan menghadapi terjangan ombak. Kebersediaan bapak merupakan anugerah untuk kepustakawanan Indonesia.


Jangan lupa, jika ada karang menghadang, panggil para cucu yang muda untuk maju. Mereka, punya banyak senjata. Mereka paham dunia kekinian dalam kepustakawanan. Dari literasi sampai liberalisasi, dari angkringan sampai makerspace. Biarkan yang muda merasakan pahit dan beratnya menerjang karang, sebagaimana bapak dulu rasakan. Kemudian menggenapi masa keanggotaanya genap 10 tahun, dan menabung untuk beli rumah di wilayah Jabodetabek. Supaya nanti, saat yang muda itu tua, ya...di usia 64 seperti halnya bapak saat ini, mereka siap, dan punya nyali untuk menjadi ketua IPI.


Ya,  jika masih ada pustakawan utama, maka ketua IPI itu untuk mereka, bukan untuk yang lain. Yang lain harus sopan mempersilakan. Apalagi yang baru saja jadi pustakawan, meskipun doktor, dari luar negeri sekalipun. Kecuali jika, dan hanya jika, tidak ada lagi pustakawan utama yang mau dan rela mengemban beratnya ketua IPI. Maka, barulah para muda itu dianggap sopan untuk maju mengambilnya.


Ketua IPI haruslah seorang pustakawan utama. Ini wajib, tidak boleh tidak. Jika toh sekaligus tua dan dari perpustakaan nasional, itu kebetulan saja. Ingat, hanya kebetulan saja.
O, maaf. Bukan tua, lebih tepatnya sepuh. Sepuh itu matang, tua itu usia.

###



"O, jadi begitu ya. Aku berharap, Kang. Semoga sepuh, bukan tua. Semua orang yang sepuh, atau disepuhkan, dialah yang layak memimpih. Kasepuhan-nya akan mampu membawa sawab atau daya, energi kepemimpinan pada arah yang lebih baik. Tapi kemudian, sebagai pustakawan saya harus ngapain, Kang?"
"Loh, ya sudah jelas tho. Kerja. Kamu mau dipotong gaji?", jawab Karyo sekenanya.
Paijo mbesengut, ketika Karyo menjawab sekenanya. Tapi tidak mengapa, Paijo melanjutkan lagi kesendiriannya. Menjadi pustakawan memang ada risikonya. Termasuk risiko dianggap bahwa pekerjaannya tidak berisiko.
"Ora popo", gumamnya, sambil nyeruput kopi Bali yang tempo hari dibelinya. "Bueh, pahit".
"Kopi itu aslinya pahit, Jo. Kalau manis, itu gula. Kamu minum kopi atau minum air gula?", Karyo komentar sambil setengah ngakak.
Paijo melirik Karyo, kembali dengan muka mbesengut. Namun kemudian tersenyum. Entah apa arti senyumnya. 
Karyo, meninggalkan emperan rumah Paijo, pulang. Dari kejauhan dia teriak, "Jo, kamu itu jadi anggota IPI ndak?". Paijo, yang masih jelas mendengar pertanyaan Karyo menjawab, "Tidak, Kang. Tapi jangan ngomong-ngomong, ya".

[[ selesai ]]