Showing posts with label spiritualisme pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label spiritualisme pekerjaan. Show all posts

Tuesday, 30 October 2018

, , , , ,

Pre librarian - librarian - post librarian

Menjadi pustakawan itu berkah. Demikian seharusnya memaknai. Meskipun memang benar, ada yang kemudian berpindah atau keluar dari profesi tersebut. Semua punya sejarah, alasan, dan dasar yang pada dasarnya harus dihormati. 

Paijo, pustakawan dari pelosok kampung itu masih mencari pemaknaan dirinya terhadap profesinya. Dia ingin menempatkan pustakawan secara tepat pada dirinya. Penempatan yang pas, ora komplang. Manjing. Tidak menyakralkan, namun juga tidak meremehkan. Pemaknaan ini penting, agar selanjutnya dia bisa merdeka berjalan di jalan yang tepat, dan diyakini. Serta tentunya tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai isu dan dinamika dari luar. 

Dia tidak memungkiri, bahwa sesamanya ada yang telah selesai dengan pemaknaan pada profesi ini. Dia anggap begitu beruntungnya mereka. Namun, kadang dia juga berprasangka lain. Mungkin juga mereka tidak begitu memikirkan apa yang sedang difikirkan Paijo. Entahlah.

Paijo yakin bahwa semua pustakawan berhak memaknai perjalanan berpustakawannya. Bahkan pemaknaan itu boleh berbeda dengan orang lainnya. Tidak harus sama. Tidak ada yang mewajibkan harus sama. Tidak ada dosa jika berbeda. Paijo ingat ketika masih sekolah, diskusi bersama teman-temannya tentang tafsir pada ayat suci. Ayat suci yang turun dari Tuhan, ketika sampai pada mufasir akan menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika semua orang yang tidak masuk pada level mufasir ikut menafsirkan, pasti akan lebih beragam. Tafsir pada hal yang sakral pun bisa berbeda, apalagi hanya pada sebuah profesi ciptaan manusia. Demikian yakin Paijo.

Imaji Paijo pun meliar. Ketika di perpustakaan, sambil bekerja, sambil melamun, mencoba menggali makna pekerjaannya.  Berharap menemukan titik-titik pemberhentian dan berjumpa dengan  makna kepustakawanannya. Untuk mengejar makna ini, buku para begawan juga pernah dibaca, meski tidak semuanya selesai. Apa sebab? Entah. Dia sendiri juga bingung. 

###

Paijo melanjutkan perenungan perjalanan kepustakawannya. Kali ini sendirian, tidak ditemani Karyo, yang sedang pergi entah kemana. Juga tanpa sego thiwul kesukaannya. Dia ingin sendiri, kontemplasi. Agar fokus, kontemplasi Paijo dibatasi dahulu sesuai apa yang dia alami: pustakawan formal yang lahir dari pendidikan (ilmu) perpustakaan. 

Dalam perjalanan kontemplasi itu, Paijo memilah 3 fase keberpustakawanan yang dia lalui: pre librarian, librarian, dan post librarian. Paijo mencoba menelisik dirinya pada tiga fase ini.

Pre librarian merupakan waktu ketika masih berjuang agar nantinya dapat disebut pustakawan. Berbagai hal dilakukan dalam fase ini. Salah satunya dengan menempuh pendidikan. Pada masa ini idealisme dibangun. Berbagai artikel dan buku dilahap. Berbagai keterampilan diasah. Diskusi didatangi, serta cerdik cendikia didaulat untuk duduk (kadang juga berdiri) berbicara. Tujuannya satu: agar ketika sudah menjadi pustakawan, diperoleh predikat ideal.

Namun, pada masa ini Paijo juga merasa pernah jatuh. Linglung. Dirinya merasa aneh dengan pendidikan perpustakaan yang dia tempuh. ”Iki sekolah opo?”.  Kegamangan ini tidak hanya dialami  Paijo. Namun juga beberapa  temannya. Dibuktikan dengan kenyataan beberapa temannya berguguran, berpindah jurusan sebelum lulus. Bahkan, saat ini pun dia masih menemui mahasiswa yang sekolah perpustakaan merasa gamang. Sialnya, mahasiswa ini pernah bertanya, atau ngudo roso tentang kegamangan ini pada Paijo. Tak banyak yang bisa disampaikan Paijo, “lakukan yang terbaik pada apa yang ada di depanmu saat ini. Kamu boleh tidak suka dengan jurusan yang kamu ambil, tapi jangan remehkan (ilmu) ini”.

Kegamangan itu memang wajar. Seorang yang sudah masuk jurusan favorit macam kedokteran juga bisa gamang. Mungkin ndak sesuai minat, masuk karena ikut-ikutan, disuruh orang lain, atau sebab lainnya. Tapi begitulah, masa pre librarian memang kompleks. 

Pada masa ini, Paijo mencoba mengingat, meski ada yang gamang, ada pula yang berfikir idealis penuh percaya diri. Kompilasi bacaan tentang perpustakaan, yang ditulis dari berbagai sumber, mengantarkan mereka untuk presentasi pada pertemuan ilmiah. Atau paling tidak tulisannya menghiasi berbagai media massa.  Proses belajarnya harus dibenturkan pada berbagai bentuk pemikiran lainnya. Di pertemuan ilmiah tersebut, pandangan pro kontra akan mematangkan pemikirannya. Pada media massa, orang akan dapat membaca siapa dan bagaimana arah pemikirannya.  Ini hal yang positif pada masa pre librarian.

Berikutnya yaitu masa librarian, ketika sudah menjadi pustakawan. Inilah masa seseorang yang sudah menempuh pre librarian, kemudian  disebut sebagai pustakawan. Formal. Sesuai undang-undang,  atau sesuai ketentuan dan kebutuhan di institusi induknya.  Atau mungkin penyebutan itu berasal dari masyarakat sebagai sebuah penghargaan pada peran yang dilakukannya. Pada masa inilah idealisme bertemu dengan realita. 

Akan ada kompromi, penyesuaian, pertentangan, dan mungkin penguatan. Kompromi dilakukan ketika menemukan kenyataan yang ternyata tidak serta-merta sesuai dengan jabaran teks yang pernah dibaca sebelumnya, ataupun dengan teks dan interpretasi mutakhir yang juga terus diikuti. Akhirnya ada yang harus ditahan, dikalahkan, diprioritaskan dan lainnya. Hal itu dapat ditelisik dari pilihan bentuk kerja-kerja pustakawan.  Inilah masa-masa sulit. 

Pada masa ini pustakawan mulai menghadapi konsekuensi yang bukan hanya konsekuensi sebagai pustakawan. Namun juga konsekuensi sebagai manusia. Pustakawan harus mampu membaca dirinya sebagai manusia, bukan sekedar sebagai pustakawan semata. Sebagai pustakawan, diajarkan hal yang ideal: lowongan pustakawan yang menjadi haknya, bisa bekerja, sesuai pendidikan, digaji ideal. Tapi konsekuensi sebagai manusia lebih luas. Manusia itu harus mau diuji, berjalan di jalan yang berliku, penuh perjuangan, dan lainnya. Gajinya sedikit, diberi pekerjaan berlebih, dan lainnya. Ndak enak. Nah, pada masa itulah dia harus memutuskan: lanjut, atau cabut. 

Paijo ingat pernah pula dicurhati orang yang ada di level pustakawan. Pelik masalahnya. Bingung pula Paijo dalam menanggapi. Ketika itu, kawan Paijo diminta untuk pindah ke bagian lain. Dia dihadapkan pada pilihan idealisme, atau mengikuti perintah atasan. Paijo memberikan saran yang menurutnya paling barokah: ikuti perintah atasan, selama itu bukan perintah keburukan. Saran ini disampaikan, karena Paijo melihat di unit tersebut kurang orang, dan pada saat yang sama, bagian lain sangat membutuhkan. Kawan tersebutlah satu-satunya pilihan pimpinan. Bagaimana dengan perpustakaan yang ditinggalkan? Dengan pengondisian, dapat berjalan hingga sekarang. Mungkin saran tersebut tidak akan disampaikan, jika ternyata di unit masih ada banyak pilihan orang.

Orang yang (entah) kebetulan atau ditakdirkan jadi pustakawan, harus memandang dirinya sebagai manusia, dan siap dengan segala konsekuensinya sebagai manusia.

Paijo ingat, pada sebuah buku disampaikan bahwa hidup itu ujian, baru kemudian ada pelajaran dari ujian itu. Demikian pula ketika pustakawan masih kuliah, porsi belajarnya baru 20%. Yang 80% main-main. Sementara ketika jadi pustakawan, 100% kesehariannya adalah belajar, praktik, dan ujian. Dia dihadapkan para kenyataan dan ujian. Barulah dari dua hal ini dicari nilai pelajarannya, begitu seterusnya. Itupun jika mampu mencerna ujian yang dihadapi. Jika tidak, maka yang muncul hanya keluhan, umpatan, dan semacamnya. 

Sekolah itu pelajaran dulu, baru ujian. Sementara kehidupan alam, ujian dulu baru diberi pelajaran. (sumbernya lupa)

Perjalanan kepustakawanan tidak hanya selesai di sini. Keberpustakawan tidak hanya selesai ketika seseorang menjadi atau mendapat predikat pustakawan dengan berbagai tantangannya. Namun secara substansi, masih bisa naik pada level post-librarian. Beyond librarian.

Post librarian, merupakan masa ketika seorang pustakawan sudah melewati masa “librarian”. Ini posisi terakhir, pungkasan. Pergulatan, kompromi, pertentangan, sudah dilewatinya. Meskipun secara nyata saat itu dia masih menyandang predikat pustakawan, masih melakukan kerja-kerja seorang pustakawan, namun pemaknaannya bisa dinaikkan pada level post-librarian.

Seseorang yang sudah post, berarti sudah selesai dengan berbagai dinamika yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Manjing ajur-ajer. Penempatan arti “pustakawan” pada dirinya sendiri sudah selesai. Konflik, kekecewaan, dan semacamnya yang muncul sewaktu-waktu sudah dapat dia kendalikan di internal dirinya sendiri. Bahkan ketika konflik, kekecewaan, dan semacamnya itu hadir pada ruang dan waktu yang berbeda. Sudah selesai. Dia fokus pada inti profesinya sebagai pustakawan dalam berhubungan dengan orang lain. Inti! bukan atribut. 

Menempati posisi post, berarti sudah mapan. Bukan mapan secara finansial, namun mapan secara pemikiran dan pemaknaan. Dia sudah tidak lagi terikat pada dikotomi “saya pustakawan” dan “engkau pemustaka”.  Pada taraf inilah, ketentuan pustakawan formal yang terikat undang-undang atau peraturan, sudah tidak berlaku bagi dirinya. Semua manusia itu pustakawan, dan semua manusia sekaligus juga pemustaka. 

Inilah masa ketika pustakawan tidak lagi terikat pada batasan: siapa yang berhak menjadi pustakawan, dan siapa itu pemustaka. Baginya, semuanya sudah melebur. 

Paijo mengambil nafas panjang. Tatapannya dialihkan ke jalan di depan rumahnya. Jalan yang cukup ramai lalu lalang orang ke tegalan. Kiri kanan jalanan itu tumbuh pohon jati yang rindang. Angin semilir melewati batang pohon, terus dan terus berhembus. Akhirnya sampailah hembusan itu di emperan tempat Paijo duduk. Wajahnya diterpa angin. Wusss. Sejuk. Dia bergumam, “lalu, aku ada pada posisi mana?”. Paijo bertanya pada dirinya sendiri.


Prestasi terbesar pustakawan
Prestasi. Satu kata, namun menjadi tuah sakti untuk banyak orang, berbagai profesi, bahkan berbagai kepentingan. Bermacam kalimat penambah samangat dibuat menggunakan kata “prestasi”: gapailan prestasimu, kejar prestasi, belajar untuk meraih prestasi. Prestasi, secara alami akan dikejar. Bentuknya bisa bermacam, terpaut pada kepentingan si pengejar prestasi itu.

Ada yang menganggap pencapaian pendidikan tertinggi, atau mampu membeli mobil (mewah) sebagai sebuah prestasi. Atau, bagi sebuah partai politik: mempertahankan kekuasaan merupakan prestasi puncak, yang mengikuti prestasi lainnya: merebut kekuasaan.

Demikian pula pustakawan. Ada prestasi yang tertanam pada masing-masing mereka, sebagai angan untuk diwujudkan. Bisa berupa prestasi individu maupun kelompok. Menjadi pustakawan terbaik pada berbagai jenjang, jamak menjadi prestasi yang sering dimunculkan. Baik di level institusi, kabupaten, propinsi, atau nasional. Ya, syukur regional atau internasional. Memperoleh akreditasi ISO, salah satu contoh prestasi institusi yang sungguh merangsang. Menyertainya pula berbagai bentuk prestasi lainnya: mendapat bonus, mendapat beasiswa, presentasi di konferensi, artikel masuk jurnal. Atau mungkin berfoto dengan tokoh penting kepustakawanan idolah dengan berbagai pose aduhai dan gokil, kemudian mengunggahnya ke media sosialnya. Berharap tuah dan berkah melalui tombol like and share. Itu sah dianggap sebuah prestasi yang luar biasa.

Ada juga prestasi harian: mampu menemukan informasi yang dibutuhkan orang lain. Tepat, cepat, dan akurat. Prestasi harian ini mampu meningkatkan hormon kebahagiaan pustakawan di setiap hari. Tentunya prestasi harian ada berbagai macam bentuknya. Semakin sering prestasi ini dicapai, akan berpengaruh pada tingkat kebahagiaan pustakawan. Dia akan merasa dianggap ada dan dibutuhkan. Pihak yang membutuhkan pun merasa terpuaskan. 

###

Namun, apa sesungguhnya prestasi terbesar pustakawan?

Sebelum membahas prestasi terbesar pustakawan, ada baiknya kita telaah cara pandang pada profesi pustakawan oleh si pustakawan itu sendiri. Fokus pandangan pustakawan yang mengagungkan pernyataan  “pustakawan itu penting”, harus digeser kepada  “hal penting apa yang bisa dilakukan pustakawan”. Jika demikian, maka fokus pustakawan akan ada pada perannya, bukan dirinya. Cara pandang ini penting, karena akan mengantarkan pustakawan pada pemaknaan profesi yang luas dan tidak terkungkung pada batasan-batasan tradisional. Meskipun demikian, tetap terkait ruh dasar kepustakawanan.

Prestasi besar pustakawan akan terwujud ketika dikotomi pustakawan-pemustaka sudah tidak ada, sudah hilang. Masa ketika seorang pustakawan akan menganggap orang lain juga merupakan pustakawan. Hal ini bisa dijelaskan dengan filosofi jawa “nguwongke uwong”, menjadi “nguwongke pemustaka”. Pemustaka tidak lagi  dianggap sebagai pemustaka saja. Di sisi lain, si pustakawan juga  menganggap dirinya sendiri seorang pemustaka, yang memerlukan sebagian kerja kepustakawannya, untuk dirinya sendiri.  

Ketika substansi ber-pustakawan telah menempel pada diri setiap pemustaka, maka pada masa inilah, prestasi terbesar seorang pustakawan terwujud. Semua telah pustakawan.

Proses menghilangkan perbedaan pustakawan dan pemustaka ini disebut sebagai proses memustakawankan pemustaka. Hal inilah yang merupakan “hal penting yang bisa dilakukan pustakawan”. Thetek bengek pekerjaan rutin yang selama ini dilakukan pustakawan, merupakan  turunan dari hal dasar ini. Proses inilah inti utama kerja pustakawan. Menjadikan pemustaka mampu secara mandiri menemukan informasi yang diperlukan, memfilter kualitasnya, dan menggunakan untuk dirinya sendiri, serta disebarkan kepada orang lain. Atau pemustaka menjadi mampu menemukan komunitasnya sendiri, untuk berkumpul dan bertukar pengetahuan. 

Proses di atas, sangat mungkin berakibat pemustaka akan menjadi lebih “pustakawan” daripada si pustakawan. Ini tidak mengapa, justru bernilai positif. Ibarat seorang guru, pustakawan akan merasa bangga jika muridnya telah mampu mengalahkan dirinya. Demikian sabda Begawan Parasurama. 

Pada saat inilah, tidak akan ada lagi kekhawatiran hilangnya profesi pustakawan, karena semua orang telah pustakawan. Peran pustakawan menempel pada diri masing-masing manusia (pemustaka), pada semua profesi. Keberpustakawanan merupakan kerja semua orang, bukan monopoli pustakawan formal semata. 

Pustakawan hanyalah perantara, lantaran yang hanya opsional agar semua manusia bisa mencapai tingkat berpustakawan untuk dirinya masing-masing. 


###

Mendung bergulung tipis. Menurunkan air yang juga tipis-tipis, alias gerimis. Mata Paijo berbinar, senyumnya merekah. Dia merasa  memperolah pencerahan. “Kang, ini ada telo godog”, suara lembut istrinya terdengar dari dalam rumah. Keluar sambil nyangking nampan berisi piring berisi ketela mateng yang masih anget, dua cangkir berisi gula batu. Serta teko bercat hijau berisi air teh tubruk, yang tentunya saja masih panas. 

Lelaki setengah tua berjalan di bawah gerimis, membawa kail, lewat jalan di depan rumah Paijo. “Mau kemana, Kang?”, sapa Paijo. “Mancing, Kang. Gerimis begini, air agak keruh, ikan mudah untuk dipancing”, jawab Kromo dengan yakin.

Paijo bergumam, "Kang Kromo telah menjadi pustakawan, minimal untuk dirinya sendiri"



Tuesday, 13 February 2018

, ,

Rekreasi yang sesungguhnya (3, habis)

Tulisan sebelumnya: http://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Tubing (di) sungai. Aliran air sebagai aliran kehidupan, gelombang air adalah gelombang kehidupan, aliran menurun adalah kehidupan menurun. Ban tempat hidup yang untuk dikendalikan. Tebing kanan kiri dan bebatuan di bawah adalah ancaman. Jadi disaat kita naik butuh keseimbangan untuk mengendalikan dengan situasi dan kondisi aliran air/aliran kehidupan yang deras dan bergelombang juga kadang menurun. Kanan-kiri-bawah mengancam yang bisa membuat kita jatuh, dan disaat kita terjatuh itu bisa kembali naik ke atas atau pupus. Maksudnya dalam kehidupan disaat kita bisa kembali bangkit, naik iman takwa kita, atau kita berhenti menjadi orang yang tidak (ber)takwa lagi. (Kang Sabar, dalam memaknai wisata tubing)


Purwo.co -- Minggu tanggal 11 Februari, hari terakhir dari rentetan kegiatan 3 hari kami. Pagi itu, setelah pengajian Subuh, kami sarapan kemudian bersiap menuju arena tubing yang jaraknya sekitar 3 kilo dari tempat menginap.

Kami berjalan kaki, beriringan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ini waktu yang saya harapkan, agar bisa menelisik lebih dalam tentang keindahan lokasi yang kami kunjungi.

Benar dugaan saya, daerah ini sangat indah. Penduduknya yang ramah, turut menambah keindahan. Klakson motor dan senyum warga yang berpapasan dengan kami menjadi buktinya. Perjalanan naik turun bukit yang cukup jauh itu menjadi tidak begitu melelahkan.

Jalan yang kami lalui hanya muat untuk satu kendaraan roda 4. Jika ada yang berpapasan, maka salah satu harus mengalah untuk berhenti dan agak minggir. Tikungan tajam juga kerap kami temui, yang memaksa kendaraan harus ekstra hati-hati. Apalagi yang belum pernah berkunjung, kemungkinan terpesona pada alamnya, bisa berpotensi membuyarkan konsentrasi dan berakibat buruk saat berkendara.

Jalan yang hanya muat satu mobil roda 4 itu semakin menyempit, yang akhirnya benar-benar hanya muat 1 mobil saja, tidak bisa berpapasan, meskipun dengan motor. Bahkan, jika ada mobil lewat, maka pejalan kaki harus berhenti dan minggir ke selokan agar mobil bisa bergerak. Di ujung  jalan, kami temukan sebuah gerbang lokasi tubing. Tidak bisa tidak, kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi start tubing.

###

Kami menyusuri jalan setapak di atas sebuah sungai. Jalan tersebut sudah dikeraskan pada beberapa bagian menggunakan semen. Tampak usaha agar pengunjung tubing bisa merasa nyaman berjalan ke lokasi. Jalan tersebut terletak di atas sungai, di antara dua bukit yang menjulang tinggi, hijau dengan tanaman sayur yang siap panen.

Sejauh mata memandang, selain tegalan sayuran, juga tampak orang-orang yang merambat naik-turun tegalan yang kemiringannya sekitar 80 derajat itu, untuk membersihkan rumput, memberi pupuk, mengobati, atau memanen sayuran.

Setelah beberapa waktu perjalanan, kami sampai di lokasi start. Setelah briefing tentang aspek keamanan selama tubing, kami antri memakai peralatan pengaman kemudian membawa ban yang sudah diisi angin ke titik start. Bagi yang belum dapat antrian, bisa mengisi waktu dengan berlatih memanah.

###

Kami rela antri untuk merasakan sensasi memanah di ruang terbuka. Terkadang, kami harus menunggu karena di sisi kiri sasarann ada warga yang melintas, pulang dari atau ke tegalan. Ada satu titik sasaran panah, serta dua busur yang tersedia. Jarak sasaran kurang lebih 10 meter. Teriakan girang memecah suasana, ketika salah satu diantara kami mampu membidik sasaran dengan tepat, meski tidak benar-benar menancap di tengah. Setelah semua anak panah habis, maka salah satu dari kami akan mengambil. Sementara yang memegang busur harus sabar menunggu sampai anak panah ditemukan atau dicabut dari titik sasaran.

###

Jalur tubing ditempuh pada jarak yang lumayan jauh. Batu yang ada di sepanjang sungai tampaknya benar-benar masih alami. Satu per satu kami naik di atas ban, kemudian membiarkan arus sungai bebas menyeret kami ke hilir. Benturan dengan batu, atau ketika ketemu teman yang macet, kami pun bisa berbenturan. Bukan hanya benturan, namun ada juga yang terjatuh karena tidak seimbang ketika melewati turunan. Yang tidak sigap, bisa terpisah dari ban, kemudian jatuh ke air. Tak pelak, minum air sungai sangat mungkin terjadi pada kondisi demikian. Gelak tawa pecah di antara kami.

Setelah melewati perjalanan menggunakan ban dalam tersebut, kami sampai di akhir. Tulisan yang seharusnya finish itu tertulis berbeda, agaknya disengaja, "VINISH". Tepat di sebelah batu besar yang gagah berdiri. Di lokasi finish ini ada bagian sungai yang cukup lebar dan dalam. Kami lampiaskan kegembiraan di titik ini, sambil menunggu peserta lain yang belum selesai.

Setelah semua mencapai finish, kami kembali ke titik kumpul tubing.

Di samping lokasi tubing itu terdapat air terjun. Airnya yang bening, seolah melambaikan tangan, agar kami mendekat dan merasakan kesegaran di balik dinginnya. Beberapa yang telah selesai tubing, mencoba mendekat ke air terjun ini, sembari membersihkan badan.

Yang lainnya menikmati telo goreng, dan nasi montok. Nasi montok merupakan nasi khas, yang dikukus dengan bungkus daun pisang. Lauknya semacam botok. Teh panas yang telah dituang menjadi pelengkap, yang jika tidak segera diminum akan cepat dingin dihimpit suhu pegunungan.

###

Kami pun kembali ke penginapan. Sebelum Dzuhur dan makan siang, ada sajian 15 butir duren yang siap disantap. Kami beramai-ramai menikmati duren tersebut, istiharat, kemudian sholat Dzuhur serta makan siang. Menu makan siang terakhir itu berupa soto ayam kampung, lengkap dengan kerupuk dan tempe goreng.

Kami segera berkemas. Selain berkemas, kami juga ikut membersihkan rumah yang kami tempati, sebagai bentuk terimakasih pada si empunya rumah. Ada kejadian menarik pada saat ini. Embah yang punya rumah benar-benar melarang kami membantu membersihkan rumah, hingga kadang ada adegan lucu di antara kami yang harus menghindar karena sapu atau pel yang kami pegang hendak direbut simbah. Ucapan terimakasih kami sampaikan pada Embah Kakung dan Putri pemilik rumah.

Setelah berkemas, kami berkumpul di masjid, mendengarkan pesan terakhir, kemudiah sholar Ashar lalu pulang.


###


Epilog
“Model seperti ini kayae malah menyenangkan. Selain dapat ilmu, juga dapat gembira. Plus bisa melihat pemandangan sebagai bentuk rekreasi”, demikian inti komentar beberapa kawan. Ya, tentunya dengan biaya yang murah pula. Dengan tanpa beban, tidak dikejar-kejar waktu, kita diajak untuk jujur pada diri sendiri untuk melihat sisi lain dari proses hidup yang kita jalani.

Saya tidak ingin menggiring atau merampatkan, bahwa semuanya sepakat dengan pandangan di atas. Namun, bagi saya pribadi, ini merupakan pengalaman berharga. Ada banyak hal menarik, positif yang diperoleh selama kegiatan. Pembiasaan hidup tertib, melalui kebiasaan sholat jamaah, sholat tahajud, ikut pengajian, berkunjung kepada warga, yang dibentuk selama 3 hari, harapannya dapat diteruskan ketika (khususnya) menjalankan pekerjaan di institusi.

Hidup perlu perjuangan, seperti halnya ketika bergembira tubing. Bisa jatuh, bisa naik lagi. Bisa terluka dan lainnya. Tubing itu menurun, waktu yang sudah kita lalui, tak bisa diulang lagi. Seperti yang dimaknai Kang Sabar, kawan saya, sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

Tamat

, ,

Agar tidak menyesal ketika mati, dan minta dihidupkan lagi (2)

Tulisan terkait sebelumnyahttp://www.purwo.co/2018/02/akhirnya-sop-daging-itu-meruntuhkan.html

Purwo.co -- Sore itu, setelah sholat Ashar kami berkumpul, duduk melingkar di dalam masjid. Ketua Takmir masjid, yang tadi menjadi imam masjid memberikan sambutan. Kami dikenalkan pada beberapa orang yang akan membersamai kami selama kegiatan. Kami juga menyepakati usulan kegiatan yang akan kami lakukan.

Selepas magrib di Jumat sore, kami akan dibagi beberapa kelompok untuk berkunjung ke rumah warga sekitar. Selain silaturahmi, kami juga diminta mengajak mereka datang ke masjid untuk sholat Isya’ dan mendengarkan pengajian. Kemudian untuk hari Sabtu, akan dilanjutkan beberapa kajian setelah sholat wajib. Beberapa dari kami dijadwal untuk memberi tausiah atau membaca hadits. Kemudian pada sabtu sore akan dibagi lagi dalam beberapa kelompok, berpencar ke masjid-masjid sekitar sampai setelah Isya. Setiap hari kegiatan selesai pukul 9 malam, kemudian istirahat. Bangun pukul 3 pagi untuk sholat tahajud, dilanjutkan Subuh berjamaah. Pada hari Minggu setelah kajian pagi, kami akan bersenang-senang di sebuah arena tubing (naik ban dalam), yang jaraknya beberapa kilo dari rumah yang kami tempati.

Demikian gambaran kegiatan selama beberapa hari ke depan.

###

Pada kunjungan ke rumah warga di Jumat sore, kami berempat memperoleh titik tujuan yang paling jauh. Berjalan menyusuri jalan menanjak, dan tanpa penerangan untuk mencapai lokasi. Ditemani 2 panitia: satu orang asli sebagai penunjuk arah, satunya pendamping yang akan membersamai selama ngobrol dengan penduduk.

Sebenarnya saya agak ragu. Tidak biasanya saya berkunjung ke rumah orang pada waktu antara Magrib dan Isya’. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk istirahat, bercengkerama dengan keluarga. Namun, beda tempat beda kebiasaan. Di tempat ini, justru pada waktu tersebut lazim dilakukan, karena sebelum Magrib mereka harus bersih-bersih diri sepulang dari tegalan. Sementara setelah Isya’ mereka bersiap istirahat, atau menghadiri hajatan kampung.

Kunjugan pertama ke rumah Pak Sur, kemudian Pak Eko, dan terakhir Pak Rian. Ketiga nama ini, bukan nama sebenarnya, melainkan nama dari anak pertama mereka. Pak Sur memiliki anak pertama yang bernama Sur, maka beliau dipanggil Pak Sur. Demikian pula dengan Pak Eko dan Pak Rian. Mereka bertiga menyambut kami dengan suka cita. Pak Eko, yang kabarnya baru sembuh dari sakit, tampak senang ketika kami berkunjung.

“Pripun, Pak? Sampun dangan?”, demikian kami membuka pembicaraan, yang akhirnya mengantarkan pada berbagai topik.

Kunjungan kami berikutnya dilakukan pada hari Sabtu sore. Karena dijadwalkan berkunjung ke dusun sebelah, maka kami, menggunakan dua mobil berangkat pada Sabtu sore, sebelum Magrib. Tujuan kami sebuah masjid yang merupakan bagian dari sebuah pondok pesantren, yang dilengkapi kompleks madrasah aliyah. Sesampainya di masjid, kami berempat meninggalkan masjid, mewakili rombongan bekunjung ke rumah pengasuh pondok.

###

Rumah itu tampak megah. Bagian depan terpasang plakat identitas sebuah yayasan pendidikan berwarna hijau. Kami mengetok pintu, tak lama kemudian si empunya rumah membukakan pintu. Seorang laki-laki, usianya di atas 40 tahun, mengenakan kopiah, berbaju koko dan mengenakan sarung. Jenggot tipis menghiasi wajahnya yang teduh dan penuh senyuman. "Pak Kyai", demikian teman saya menyebutnya. Dengan penuh hormat, kami masuk dan duduk lesehan di ruang tamu yang tampak luas, bersih dan tertata. Beberapa komputer rapi terpasang pada tempatnya. Agaknya ruang tamu itu juga difungsikan sebaca ruang kerja atau kantor kecil.

Setelah basa-basi, kami pun terlibat pembicaraan, ditemani oleh buah duku, teh manis dan roti yang sudah dipotong-potong. Ketika minuman dihidangkan, teman di samping saya begitu sigapnya membantu Pak Kyai menata minuman, khas seorang santri yang begitu menghormati kyainya.

Fiqh rumah tangga menjadi topik pembicaraan sore itu. Topik ini dilatar belakangi oleh salah satu dari kami, yang bekerja di pembinaan pegawai daerah yang sering menghadapi permasalahan rumah tangga pegawai yang masuk ke meja kerjanya. Pak Kyai menjelaskan beberapa hal secara singkat, sekaligus nasihat pada kawan saya tersebut. "Mendamaikan dan membimbing mencari jalan keluar dari masalah rumah tangga, itu profesi terpuji", demikian kurang lebih salah satu komentar Pak Kyai. Sore itu, saya merasakan atmorfir ngaji dadakan dengan cara sowan pada kyai. Pembicaraan yang menarik itu, harus dihentikan oleh suara Adzan magrib. Kami bergegas ke masjid. Berkunjung dan ngaji langsung ke seorang Kyai, nyatanya akan menemukan berbagai hikmah dan ilmu.

###

Shof laki-laki dan perempuan telah terisi. Iqomah pun dikumandangkan. Pak Kyai yang tadi kami temui, sudah ada di antara kami, untuk menjadi imam sholat magrib. Suaranya yang merdu, mengalun mengiringi sholat kami di sore itu.

Selepas Magrib, kami dibagi 3. Dua orang di masjid untuk pengajian, sementara dua kelompok lain melakukan kunjungan ke rumah penduduk sekitar. Saya ikut kelompok yang berkunjung ke penduduk.

Pak Parman, seorang guru SD yang 3 tahun lagi pensiun menyambut kami. Senyumnya yang ramah selalu mengembang selama obrolan di sore itu. Kumis tipis, dan kulitnya yang hampir keriput menambah keramahannya. Di dinding tampak lukisan Bima/Werkudoro yang sedang berperang melawan seekor ular. Lukisan itu lukisan Pak Parman sendiri. “Bakat yang tak tersalurkan, Mas”, demikian ungkapnya. Sebagai seorang guru SD memang harus menguasai banyak hal: matematika, bahasa, IPA, IPS, hingga kesenian, termasuk menggambar.

Lukisan Bima tersebut menjadi titik pangkal pembicaraan kami. Lukisan Bima, lakon wayang Bima Suci yang merupakan lakon pertama yang dimainkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, sampai pada cerita nyantriknya Kanjeng Nabi Musa pada Nabi Khidir. Tentunya beberapa cerita di atas, dikaitkan dengan proses hidup kita saat ini. Belajar, terutama belajar agama tidak mengenal usia, karena kita tidak tahu, kapan kita akan meninggal.

###

Menjelang Isya’ kami pamit, kembali ke masjid. Di masjid tampak Pak Kyai sedang berdiskusi dengan jamaah. Kami bergabung, sampai kemudian adzan Isya berkumandang. Setelah sholat, beberapa menit pengajian, kamu pun pamit. “Adakah pesan untuk kami, Kyai?”, salah seorang dari kami bertanya. Saya tak begitu jelas dengan teks arabnya, namun dalam bahasa Indonesia, Pak Kyai menyampaikan bahwa “keikhlasan dan konsistensi pada kebaikan akan mengantarkan kita pada kesuksesan”.

###

Kami kembali ke penginapan. Di masjid tampak teman-teman sudah berkumpul. Di luar dugaan, kami dikunjungi oleh pengurus fakultas. Satu per satu, mewakili departemen, teman-teman menyampaikan testimoninya terkait kegiatan yang dilakukan, dan apa yang dirasakan selama hampir 3 hari itu.


###

Agar tidak menyesal ketika telah mati
“Agar tidak menyesal ketika telah mati”, merupakan kalimat kunci, atau ringkasan selama kegiatan 3 hari.  Meskipun kita semua belum merasakan mati, namun dengan melihat proses kehidupan manusia sejak sebelum lahir, maka ada pelajaran yang bisa dipetik. Apa yang penting untuk kehidupan bayi yang masih dalam alam kandungan, menjadi tidak penting ketika telah lahir di dunia. Demikian pula, apa yang dianggap penting ketika hidup di dunia, bisa menjadi tidak penting setelah meninggal. Maka menyeimbangkan apa yang saat ini penting, dengan apa yang nanti (setelah meninggal) dianggap penting, menjadi penting untuk diperhatikan.

Dunia yang dialami sejak di alam kandungan, dunia, dan setelah mati memiliki 3 perbedaan: luasnya berbeda, lamanya berbeda, serta kebutuhan pokoknya berbeda. Di alam kandungan kurang lebih hanya 9 bulan 10 hari, dengan luas alam yang paling sempit. Alam dunia setelah lahir lebih luas, juga lebih lama. Ada yang usianya belasan, puluhan atau bahkan ada yang di atas seratusan tahun. Alam setelah mati, akan lebih luas dan lebih lama lagi.

"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu'minuun : 99-100)

Oleh karena itu, jangan sampai setelah meninggal, merasa kekurangan bekal (yang ketika hidup tidak dianggap penting), sehingga minta dihidupkan lagi ke dunia untuk mencari bekal tersebut. Tentunya itu sudah terlambat. Kita harus mampu membedakan beberapa kategori nikmat, sehingga bisa memilah dan mengusahakannya secara berimbang sebagai bekal kehidupan berikutnya.

Nikmat dunia, merupakan nikmat yang paling rendah derajatnya. Di atasnya ada nikmat sehat. Ketika tidak memiliki kesehatan (sakit), orang berani mengeluarkan sebanyak-banyaknya nikmat dunia (harta), agar kembali sehat. Seorang karyawan yang sakit, akan diberi ijin (dimaklumi) untuk tidak masuk kerja. Ini juga bukti bahwa nikmat sehat itu begitu berharga, dan kedudukannya di atas nikmat keduniaan.

Nikmat tertinggi adalah kenikmatan iman. Orang yang meletakkan nikmat iman di atas nikmat dunia dan kesehatan, dan mau berusaha agar keimanannya selalu meningkat, maka nikmat dunia dan kesehatan akan datang dan menentramkannya.

###

Benang merah di dunia kerja
Menyadari dan mengusahakan amal untuk bekal hidup setelah mati, bukan berarti meninggalkan proses usaha selama  hidup di dunia. Umur itu amanah, maka selama umur itu masih ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Memiliki pekerjaan, sebagai karyawan maupun pekerjaan lain, juga merupakan posisi “mumpung” yang harus dimanfaatkan. Mumpung kerja, maka kita harus memaknai kerja kita dengan pemaknaan luas. Pada proses kerja kita sehari-hari ada bagian yang rewardnya untuk dunia, misalnya: gaji, bonus, pangkat dan semacamnya. Namun kita juga harus memperluasnya agar juga memiliki reward sebagai tabungan di akherat. Reward untuk tabungan akherat ini lebih berat usahanya, karena dia akan berwujud pengorbanan dan keikhlasan: pengorbanan untuk ikhlas, pengorbanan yang ikhlas untuk berbagi ilmu, pengorbanan dan ikhlas untuk tunduk pada aturan yang berlaku, jujur dan lainnya.

Meningkatkan performa kerja berlandaskan keimanan, berarti memiliki kinerja yang tidak dibatasi oleh “ketakutan” pada pimpinan. Namun, karena kepatuhan pada pimpinan dan aturan sebagai bagian dari kewajiban yang diberlakukan pada dirinya sebagai makhluk, dilandasi pada proses menjalankan peran pribadinya sebagai manusia, di tengah dan bersama manusia lainnya.

Bersambung ke tulisan berikutnya: http://www.purwo.co/2018/02/rekreasi-yang-sesungguhnya-3-habis.html
Sambisari, Selasa Wage 13 Februari 2018
06.17 pagi

Monday, 12 February 2018

, ,

Akhirnya, sop daging itu meruntuhkan kekhawatiran kami (1)


Purwo.co - Kami harus merasa menjadi orang beruntung. Karena, pada dasarnya memang demikian, bukan hanya kami, namun semua orang dalam posisi beruntung. Kami berduapuluh enam, berangkat mengikuti program dari FT UGM bertajuk outbond spiritual. Dilihat dari daftar acara, kami akan dihadapkan pada sentuhan spiritual terkait pribadi kami: belajar agama, ibadah dan semacamnya.

Kegiatan ini bisa disebut baru. Selama saya bekerja, ya baru kali ini ikut kegiatan semacam ini. Biasanya tamasya, diselingi outbond di lokasi wisata. Namun kali ini berbeda. Setelah melalui perjalanan yang lumayan membuat deg-degan, naik turun bukit,  terkadang kendaraan yang kami tumpangi harus antri ketika menemukan tanjakan tajam atau merambat pelan karena harus melewati turunan tajam,  kami sampai di sebuah perkampungan. Perkampungan di lereng bukit, dengan hamparan lahan pertanian pada kemiringan 80 derajat. Sebagian siap panen, sebagian siap untuk ditanami sayuran.

Rumah-rumah di perkampungan ini saling berdekatan dan sebagian besar beratapkan seng. Hanya beberapa saja yang jaraknya cukup jauh dari rumah lainnya. Sedangkan jarak antar kampung cukup jauh, serta harus ditempuh melalui jalanan yang naik turun. Pemandangan yang hijau, perbukitan yang tampak berdiri gagah menjadi pemandangan begitu memesona. "Pemandangan inilah yang akan melengkapi kegiatan kami selama 3 hari", fikir saya. Air yang mengalir deras, bening dan terasa dingin menjadi pelengkap keindahan. Berharap, kami akan dapat waktu yang cukup untuk menelisik lebih jauh pemandangan indah ini.

Warga hilir mudik dari tegalan, berjalan atau menggunakan kendaraan bermotor. Kaki-kaki kokoh mereka menjadi bukti, bahwa mereka telah menjalani kegiatan itu sejak lama. Menyusuri jalan yang menurun, dengan sepatu boot yang mereka kenakan, menambah kesah kokohnya kaki-kaki mereka. Pupuk, hasil panen, atau rumput makanan ternak tampak mereka bawa. Senyum dan salam, selalu tersungging di wajah ketika kami berpapasan.  Hawa dingin sore itu cukup terasa, meskipun tidak begitu ekstrim. Berharap jaket yang saya bawa, bisa cukup menahan hawa dingin nanti malam.


###

Kami sampai di lokasi pukul 13.30. Beberapa orang dengan  ramah menyambut kami. Ada dua rumah yang disiapkan untuk kami, agaknya rumah penduduk yang dikosongkan sementara. Lokasinya berdampingan, di selatan masjid. Masjid ini sepertinya akan menjadi pusat kegiatan "spiritual" selama di lokasi.


"Yang ahli hisab di bawah, yang tidak hisab di atas ", suara itu cukup jelas terdengar. Sayapun kembali naik menuju rumah bagian atas, padahal sudah sampai di rumah yang ada di sisi bawah. Maklum, saya bukan "ahli hisab". Saya agak paranoid dengan asap rokok. Di kampung saya, kalau pulang ronda dan baju saya bau rokok, maka malam itu saya harus siap tidur sendirian.

Pembagian ini hanya untuk mempermudah saja, agar kepentingan "ahli hisab" dan yang bukan, tetap terakomodir. Kebijakan pembagian untuk menjaga toleransi: yang merokok menghormati perokok, yang tidak merokok juga mempersilakan yang merokok untuk merokok di tempat terpisah.

###


"Monggo istirahat dulu, nanti sholat tahiyatul masjid, kemudian kita makan bersama",  seru seorang panitia yang cukup saya kenal. "Siap, cocok Pak", begitu jawab teman-teman ketika mendengar informasi "makan"  dari panitia.  Seolah telinga dan perut kami sudah janjian untuk transfer informasi, jika ada kabar tentang waktu makan. Nasi gudeg yang kami makan ketika perjalanan, tampaknya tak lagi mampu mengganjal perut kami.

Kami menuju masjid, ambil air wudlu, kemudian sholat tahiyatul masjid, sesuai arahan panitia. Setelah itu kami bersiap makan bersama. Bau khas itu begitu terasa. "Kayake daging, Kang", bisik saya. Benar. Hidangan sop daging sapi, nasi putih, sambel, kecap, dan krupuk terhidang di ruangan masjid. Kamipun duduk berhadap-hadapan dan mulai makan bersama.  Ya, guyonan pun terkadang terlontar selama kami makan. Seorang kawan yang duduk di depan saya agaknya nambah beberapa kali. Sayapun demikian. Teman-teman yang ketika perjalanan sempat istirahat dan mampir di angkringan, agaknya juga sama, makan dengan lahapnya.

"Ini, siapa mau nambah sop?", panitia datang sambil membawa panci berisi sop. Kami pun menyambutnya. Makan sop di mangkuk yang telah habis sop-nya. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.

Selain di luar dugaan, sop daging sapi ini benar-benar kami nantikan. Di luar dugaan, karena kami tak menyangka, kami akan mendapatkan sop daging sebagai menu makan pertama di tempat ini. Sebagian dari kami mengira akan mendapatkan makanan yang seadanya, dan dalam jumlah yang terbatas. Sop daging yang kami santap sore itu, meruntuhkan kekhawatiran kami.

Berikutnya, selama tiga hari kami disuguhi menu yang tetap di luar dugaan. Jumat ketika sampai lokasi kami disiguhi sop daging sapi, malamnya tongseng. Sabtu pagi ada sajian bubur plus roti kemudian disambung sarapan nasi pecel, makan siang sayur lodeh lauk bandeng, tempe dan lempeng. Kemudian makan malam di hari Sabtu itu ditutup dengan nasi kebuli. Pada hari Minggu pagi, sebelum ke arena tubing kami sarapan lauk ikan bawal, sedangkan makan siang soto ayam kampung. Ketika pulang, kami diberi nasi box lauk daging. Oia, ada pesta duren pula di minggu siang sepulang dari tubing.

Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?  (Q.S. Ar-Rahman 55)

"Sekarang silakan istirahat, nanti kumpul ketika Ashar. Kegiatan kita mulai selepas Ashar", demikian seru panitia. Agaknya beliau memang menjadi penghubung antara kami, para peserta, dengan pemateri.

Kami pun istirahat.

####

Adzan pertanda masuk waktu Ashar berkumandang. Suara adzan yang tidak asing bagi kami. Ternyata, salah satu diantara rombongan kami lah yang menjadi muadzin. Suaranya memang sering terdengar di mushola kampus. Kami bergegas mengambil air wudlu, kemudian masuk masjid. Seperti disetel otomatis, melihat jamaah lain sholat dua rakaat, kamipun mengikuti.

Bersambung...

Tulisan terkait berikutnyahttp://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Wednesday, 27 December 2017

, , ,

Pustakawan perlu meniru spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional ini (1)

Purwo.co -- Dokter, juga polisi, tentara dan presiden merupakan profesi atau pekerjaan, atau dalam istilah jawa “pangkat” yang diimpikan, favorit alias primadona. Dia menjadi jawaban sekti mandraguna anak-anak, ketika ditanya, “mau jadi apa ketika sudah besar nanti?”.

Namun, agaknya bukan hanya anak-anak yang memiliki keinginan memiliki profesi di atas. Yang sudah bekerja pun memiliki keinginan agar pekerjaannya bisa semoncer dan seterhormat dokter, misalnya. Entah, mungkin karena tidak keturutan cita-citanya, atau dihantui perasaan under estimate yang tinggi pada profesinya saat ini.

###

“Kita harus seperti dokter”. Pernahkah rekan pustakawan mendengar kalimat itu? sama persis, atau beda susunan kata namun isinya sama; ketika kuliah dilontarkan dosen sebagai wujud penyemangat, atau mungkin ketika jagongan dengan teman sesama pustakawan. Sebagai profesi yang dibanggakan, tentunya profesi lain terutama yang dirasa belum mapan, ingin sekali semapan dokter. Dihargai, dan punya posisi tawar tinggi.

Melihat profesi dokter, serta profesi lainnya yang populer itu ibarat ndangak. Ndangak ke atas, memang perlu sebagai penyemangat. Namun apakah ndangak ini selalu berefek positif?

Hati-hati, kebanyakan ndangak akan berakibat buruk pada tulang leher, cengeng (e seperti pada "sepeda"). Bisa-bisa perlu ngundang tukang pijet agar kembali normal.

Ndungkluk ke bawah, juga tidak kalah penting. Ndungkluk, melihat profesi lainnya yang terkadang disepelekan, namun memiliki nilai adiluhung, memiliki tuladha cara menjalankan profesi dengan baik dan migunani liyan.

Pada buku Iman Budhi Santoso, “Profesi Wong Cilik: spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional”, dikupas spiritualisme kerja 18 profesi tradisional. Bagaimana si pelaku memaknai/menjiwai profesi, berinteraksi dengan orang lain, dengan profesi lain, menyikapi perkembangan jaman dan lainnya. Buku ini ngajari kita untuk ndungkluk, agar tidak lupa asal-usul kita, atau asal-usul berbagi profesi yang saat ini ada.

Berikut, saya coba ulas semampu saya, apa saja yang bisa pustakawan teladani dari profesi tradisional ini. Karena ada 18 profesi, maka saya tuliskan paket per paket, sekuat mata saya menatap dan jari saya mengetik.

Pemikat perkutut
Profesi ini dilakukan untuk memperoleh burung perkutut baru, atau menangkap perkutut yang lepas. Memikat perkutut, berbeda dengan menangkap ikan di sungai, atau menangkap belalang yang biasanya berakhir sebagai lauk yang menemani nasi tiwul. Menangkap perkutut dan memeliharanya menjadi salah satu pertanda kesuksesan orang Jawa, yaitu kepemilikan kukila atau binatang piaraan yang sangat berharga, perkutut lah binatang itu.

Katuranggan perkutut yang baik selalu dicari. Bahkan perkutut dijadikan judul lagu yang termasyhur, “kutut manggung”.


Sore-sore…, yo lah bapak
Perkutute njaluk ngombe…
Yo bapak, bapakku de..we…

Perkutut, meskipun bisa diternakkan dengan hasil yang banyak, namun perkutut hasil pemikatan dari kehidupan aslinya, akan memiliki kualitas yang lebih baik. Memikat perkutut, baik proses persiapannya sampai menunggu perkutut terpikat, perlu kepasrahan dan kesabaran. Bagi si pemikat, proses ini merupakan proses spiritual.

###

Bagi pustakawan, hubungan pemikat dan perkutut bisa tarik pada hubungan antara pustakawan dan buku. Meskipun sekarang banyak muncul jenis buku yang tidak dapat dipegang secara fisik (e-book), namun buku tercetak (perkutut yang hidup di alam bebas) tetap memiliki nilai lebih. Meski e-book tersebut dapat secara mudah duplikasi sehingga meningkatkan penyebarannya, namun buku tercetak tetap disenangi, karena akan ada tautan emosional antara buku dan si pembaca. Buku tercetak tetap harus dijaga.

Sama seperti perkutut hasil pikatan, buku tercetak akan dihargai lebih dari pada e-book. Buku tercetak yang isinya berkualitas, dan asli, maka semakin tua jusrtu memiliki nilai ekonomis dan non-ekonomis yang tinggi. Dia akan naik derajat, “pantas” dijadikan cinderamata pada orang-orang cendikia.

Selain itu juga bisa ditarik ke hubungan pustakawan dan pemustaka. Pustakawan harus mampu memikat pemustaka agar hadir dan memanfaatkan buku yang dikoleksinya. Proses memikat ini, lebih dari sekedar membuat datang ke perpustakaan, namun dalam bahasa perburungan disebut "cumbu". Serasa memiliki rumah sendiri di perpustakaan, enggan pergi kecuali setelah semua hasrat intelektualnya terpenuhi. Proses memikat yang sampai taraf ini, harus dilambari dengan laku spiritual si pustakawan.

Pemikat perkutut, pada umumnya bukan orang yang berkecukupan. Sering disamakan dengan cah angon, pencari rencek, atau tukang ngarit. Berani menjadi pemikat perkutut, berarti berani mengambil risiko, bahwa kelas sosialnya ada pada kelas bawah (hal. 28). Demikian pula pustakawan, sebagai profesi yang saat ini masih belum “mapan”, menjadi pustakawan harus siap segala-galanya. Bahkan menelan kenyataan pahit sekalipun.

Beberapa kebiasaan lain dari pemikat perkutut yaitu: melepas perkutut kesayangan, minimal seekor dalam satu tahun. Serta mengambil perkutut hasil pikatan secara tidak berlebihan. Jumlah yang diambil disesuaikan dengan jumlah neptu. Hal ini bisa dicontoh oleh pustakawan, bahwa buku yang dimiliki pustakawan pun, juga bisa dijadikan buku layaknya koleksi perpustakaan (dilepas ke alam bebas), agar dapat dimanfaatkan banyak orang.

Dukun bayi 
“Tulung bayi”, demikian istilah yang dipilih penulis buku ini untuk menggambarkan kegiatan dukun bayi. Tulung bayi merupakan kegiatan “penyelamatan” dalam permulaan proses kehidupan manusia.

Prosesi kegiatan seorang dukun bayi, bukan sekedar kegiatan transaksional jualan jasa. Tapi lebih tinggi derajatnya dari itu. Proses penyelamatan ini, rela dilakukan meskipun rumah si dukun bayi didodok, sebagai tanda sowan kulo nuwun pada tengah malam. Dia rela bangun, meski badan keju (e seperti pada kelinci) setelah seharian kerja di sawah, kemudian berjalan kaki menuju rumah ibu yang hendak melahirkan. Senjatanya sederhana, welat, kunir dan doa suwuk.

Setelah prosesi melahirkan, pekerjaan dukun bayi tidak begitu saja selesai. Dia akan rela menengok bayi tersebut sampai beberapa lama, ndadah secara berkala, dan menyiapkan acara pupakan (potong pusar), sembari melantunkan doa-doa pada jabang bayi. Meski, setelah melahirkan itu dia tidak serta merta mendapatkan uang jalan, yang kadang diangsur atau dibayar dengan barang lain. Dia tetap rela dengan profesinya tersebut.

Jaman yang selalu berubah (owah gingsir) juga disikapi dengan bijak oleh para dukun bayi. Termasuk ketika mereka, karena aturan, harus berkolaborasi dengan bidan yang diproduksi oleh pendidikan formal jaman modern. Dan mungkin, ketika suatu saat dukun bayi harus hilang, tidak ada lagi karena telah tergantikan penuh oleh profesi yang mensyaratkan pendidikan formal jaman sekarang, para dukun bayi ini harus rela.

###

Demikian pula pustakawan. Pekerjaannya tidak harus dinilai dengan transaksi jual beli. Pustakawan harus memandang pekerjaannya sebagai kerja kemanusiaan. Kerja kemanusiaan berarti menempatkan peran kesehariannya sebagai kontribusi meningkatkan kualitas manusia, menjembatani keterbatasan manusia dalam mengakses pengetahuan agar setara dengan manusia lainnya.

Penyelamatan bayi ketika lahir ini, juga ditekankan pada prinsip kerja seorang dukun bayi. “Nyawa bayi sedikit-banyak menjadi tanggungjawab dukun bayi, sedangkan nyawa si Ibu diserahkan pada kekuasaan Allah” (hal. 48). Yang dilakukan pustakawan sama dengan penyelamatan bayi, yaitu kerja untuk masa depan, masa mendatang.

Pekerjaan pustakawan juga tidak selesai ketika buku berpindah tangan saat dipinjam pemustaka, atau setelah pengetahuan menyebar dari satu kepala ke kepala lainnya. Namun, juga usaha memastikan pengetahuan tersebut bermanfaat bagi si penerimanya. Proses komunikasi setelah buku dipinjam, perlu dilakukan pustakawan dalam rangka memastikan hal di atas.

Tentunya, sebagaimana dukun bayi yang melantunkan doa bagi si jabang bayi, pustakawan juga harus melambari proses layanannya dengan doa-doa kebaikan bagi si pemustaka. “Semoga buku yang dibaca bermanfaat, mencerahkan, membawa barakah untuk kemaslahatan ummat manusia”, kurang lebihnya demikian.

Terhadap owah gingsiring (perkembangan/perubahan) jaman, pustakawan juga bisa belajar dari dukun bayi. Keikhlasan berkolaborasi sebagai respon owah gingsiring jaman, telah diajarkan oleh mereka sejak lama. Pustakawan pun harus ikhlas berbagi pekerjaan dengan profesi lain, yang sebelumnya selama bertahun-tahun dilakukannya sendirian. Bukan sekedar kolaborasi, namun juga adopsi teknologi. Sebagaimana welat sebagai senjata untuk memotong pusat bayi, yang diganti dengan gaman yang lebih steril, pustakawan juga harus menguasai teknologi-teknologi terkini yang mampu meningkatkan kualitas perannya.


Juru kunci
Juru kunci (makam), merupakan pekerjaan pengabdian untuk nguri-uri makam leluhur (hal. 54). Mulai dari hal kecil menjaga kebersihan, keindahan, serta menghafal letak cungkup serta siapa yang ada di balik cungkup itu. Selain itu, juru kunci juga agen atau srono komunikasi para peziarah dalam berdoa. Dia nyengkuyung doa peziarah sesuai ketentuan yang digariskan Sang Pemilik Kekuatan Alam.

###

Pustakawan, sesungguhnya juga berperan sebagai penjaga makam. Buku yang ada di perpustakaan, terkadang penulisnya sudah meninggal. Buku yang ditinggalkan merupakan pemakaman dari ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya. Makam itu harus dijaga, dirawat agar tidak rusak, selalu jelas siapa yang dikuburkan di balik makam tersebut. Bukan sekadar namanya, namun akan lebih mantap jika pustakawan juga mengetahui asal-usul serta riwayat pemikirannya.

Pustakawan juga berperan menjari srono komunikasi imajiner antara pemustaka dengan si pemilik pemikiran. Oleh karena itulah pentingnya pustakawan tidak sekadar tahu letak cungkup, tapi juga apa yang ada di dalam cungkup tersebut, pemikian apa yang ada dalam buku-buku koleksi perpustakaan. Pengetahuan itu akan bermanfaat bagi pustakawan dalam rangka membantu dalam menembus sekat-sekat yang menghalangi pemustaka memahami pemikiran yang terkandung dalam buku.

Ini pekerjaan yang berat, tidak main-main.

Bersambung......


#pustakawanblogggerindonesia

Sambisari,   27 Desember 2017
23.17 malam