Showing posts with label filsafat kepustakawanan. Show all posts
Showing posts with label filsafat kepustakawanan. Show all posts

Tuesday, 30 October 2018

, , , , ,

Pre librarian - librarian - post librarian

Menjadi pustakawan itu berkah. Demikian seharusnya memaknai. Meskipun memang benar, ada yang kemudian berpindah atau keluar dari profesi tersebut. Semua punya sejarah, alasan, dan dasar yang pada dasarnya harus dihormati. 

Paijo, pustakawan dari pelosok kampung itu masih mencari pemaknaan dirinya terhadap profesinya. Dia ingin menempatkan pustakawan secara tepat pada dirinya. Penempatan yang pas, ora komplang. Manjing. Tidak menyakralkan, namun juga tidak meremehkan. Pemaknaan ini penting, agar selanjutnya dia bisa merdeka berjalan di jalan yang tepat, dan diyakini. Serta tentunya tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai isu dan dinamika dari luar. 

Dia tidak memungkiri, bahwa sesamanya ada yang telah selesai dengan pemaknaan pada profesi ini. Dia anggap begitu beruntungnya mereka. Namun, kadang dia juga berprasangka lain. Mungkin juga mereka tidak begitu memikirkan apa yang sedang difikirkan Paijo. Entahlah.

Paijo yakin bahwa semua pustakawan berhak memaknai perjalanan berpustakawannya. Bahkan pemaknaan itu boleh berbeda dengan orang lainnya. Tidak harus sama. Tidak ada yang mewajibkan harus sama. Tidak ada dosa jika berbeda. Paijo ingat ketika masih sekolah, diskusi bersama teman-temannya tentang tafsir pada ayat suci. Ayat suci yang turun dari Tuhan, ketika sampai pada mufasir akan menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika semua orang yang tidak masuk pada level mufasir ikut menafsirkan, pasti akan lebih beragam. Tafsir pada hal yang sakral pun bisa berbeda, apalagi hanya pada sebuah profesi ciptaan manusia. Demikian yakin Paijo.

Imaji Paijo pun meliar. Ketika di perpustakaan, sambil bekerja, sambil melamun, mencoba menggali makna pekerjaannya.  Berharap menemukan titik-titik pemberhentian dan berjumpa dengan  makna kepustakawanannya. Untuk mengejar makna ini, buku para begawan juga pernah dibaca, meski tidak semuanya selesai. Apa sebab? Entah. Dia sendiri juga bingung. 

###

Paijo melanjutkan perenungan perjalanan kepustakawannya. Kali ini sendirian, tidak ditemani Karyo, yang sedang pergi entah kemana. Juga tanpa sego thiwul kesukaannya. Dia ingin sendiri, kontemplasi. Agar fokus, kontemplasi Paijo dibatasi dahulu sesuai apa yang dia alami: pustakawan formal yang lahir dari pendidikan (ilmu) perpustakaan. 

Dalam perjalanan kontemplasi itu, Paijo memilah 3 fase keberpustakawanan yang dia lalui: pre librarian, librarian, dan post librarian. Paijo mencoba menelisik dirinya pada tiga fase ini.

Pre librarian merupakan waktu ketika masih berjuang agar nantinya dapat disebut pustakawan. Berbagai hal dilakukan dalam fase ini. Salah satunya dengan menempuh pendidikan. Pada masa ini idealisme dibangun. Berbagai artikel dan buku dilahap. Berbagai keterampilan diasah. Diskusi didatangi, serta cerdik cendikia didaulat untuk duduk (kadang juga berdiri) berbicara. Tujuannya satu: agar ketika sudah menjadi pustakawan, diperoleh predikat ideal.

Namun, pada masa ini Paijo juga merasa pernah jatuh. Linglung. Dirinya merasa aneh dengan pendidikan perpustakaan yang dia tempuh. ”Iki sekolah opo?”.  Kegamangan ini tidak hanya dialami  Paijo. Namun juga beberapa  temannya. Dibuktikan dengan kenyataan beberapa temannya berguguran, berpindah jurusan sebelum lulus. Bahkan, saat ini pun dia masih menemui mahasiswa yang sekolah perpustakaan merasa gamang. Sialnya, mahasiswa ini pernah bertanya, atau ngudo roso tentang kegamangan ini pada Paijo. Tak banyak yang bisa disampaikan Paijo, “lakukan yang terbaik pada apa yang ada di depanmu saat ini. Kamu boleh tidak suka dengan jurusan yang kamu ambil, tapi jangan remehkan (ilmu) ini”.

Kegamangan itu memang wajar. Seorang yang sudah masuk jurusan favorit macam kedokteran juga bisa gamang. Mungkin ndak sesuai minat, masuk karena ikut-ikutan, disuruh orang lain, atau sebab lainnya. Tapi begitulah, masa pre librarian memang kompleks. 

Pada masa ini, Paijo mencoba mengingat, meski ada yang gamang, ada pula yang berfikir idealis penuh percaya diri. Kompilasi bacaan tentang perpustakaan, yang ditulis dari berbagai sumber, mengantarkan mereka untuk presentasi pada pertemuan ilmiah. Atau paling tidak tulisannya menghiasi berbagai media massa.  Proses belajarnya harus dibenturkan pada berbagai bentuk pemikiran lainnya. Di pertemuan ilmiah tersebut, pandangan pro kontra akan mematangkan pemikirannya. Pada media massa, orang akan dapat membaca siapa dan bagaimana arah pemikirannya.  Ini hal yang positif pada masa pre librarian.

Berikutnya yaitu masa librarian, ketika sudah menjadi pustakawan. Inilah masa seseorang yang sudah menempuh pre librarian, kemudian  disebut sebagai pustakawan. Formal. Sesuai undang-undang,  atau sesuai ketentuan dan kebutuhan di institusi induknya.  Atau mungkin penyebutan itu berasal dari masyarakat sebagai sebuah penghargaan pada peran yang dilakukannya. Pada masa inilah idealisme bertemu dengan realita. 

Akan ada kompromi, penyesuaian, pertentangan, dan mungkin penguatan. Kompromi dilakukan ketika menemukan kenyataan yang ternyata tidak serta-merta sesuai dengan jabaran teks yang pernah dibaca sebelumnya, ataupun dengan teks dan interpretasi mutakhir yang juga terus diikuti. Akhirnya ada yang harus ditahan, dikalahkan, diprioritaskan dan lainnya. Hal itu dapat ditelisik dari pilihan bentuk kerja-kerja pustakawan.  Inilah masa-masa sulit. 

Pada masa ini pustakawan mulai menghadapi konsekuensi yang bukan hanya konsekuensi sebagai pustakawan. Namun juga konsekuensi sebagai manusia. Pustakawan harus mampu membaca dirinya sebagai manusia, bukan sekedar sebagai pustakawan semata. Sebagai pustakawan, diajarkan hal yang ideal: lowongan pustakawan yang menjadi haknya, bisa bekerja, sesuai pendidikan, digaji ideal. Tapi konsekuensi sebagai manusia lebih luas. Manusia itu harus mau diuji, berjalan di jalan yang berliku, penuh perjuangan, dan lainnya. Gajinya sedikit, diberi pekerjaan berlebih, dan lainnya. Ndak enak. Nah, pada masa itulah dia harus memutuskan: lanjut, atau cabut. 

Paijo ingat pernah pula dicurhati orang yang ada di level pustakawan. Pelik masalahnya. Bingung pula Paijo dalam menanggapi. Ketika itu, kawan Paijo diminta untuk pindah ke bagian lain. Dia dihadapkan pada pilihan idealisme, atau mengikuti perintah atasan. Paijo memberikan saran yang menurutnya paling barokah: ikuti perintah atasan, selama itu bukan perintah keburukan. Saran ini disampaikan, karena Paijo melihat di unit tersebut kurang orang, dan pada saat yang sama, bagian lain sangat membutuhkan. Kawan tersebutlah satu-satunya pilihan pimpinan. Bagaimana dengan perpustakaan yang ditinggalkan? Dengan pengondisian, dapat berjalan hingga sekarang. Mungkin saran tersebut tidak akan disampaikan, jika ternyata di unit masih ada banyak pilihan orang.

Orang yang (entah) kebetulan atau ditakdirkan jadi pustakawan, harus memandang dirinya sebagai manusia, dan siap dengan segala konsekuensinya sebagai manusia.

Paijo ingat, pada sebuah buku disampaikan bahwa hidup itu ujian, baru kemudian ada pelajaran dari ujian itu. Demikian pula ketika pustakawan masih kuliah, porsi belajarnya baru 20%. Yang 80% main-main. Sementara ketika jadi pustakawan, 100% kesehariannya adalah belajar, praktik, dan ujian. Dia dihadapkan para kenyataan dan ujian. Barulah dari dua hal ini dicari nilai pelajarannya, begitu seterusnya. Itupun jika mampu mencerna ujian yang dihadapi. Jika tidak, maka yang muncul hanya keluhan, umpatan, dan semacamnya. 

Sekolah itu pelajaran dulu, baru ujian. Sementara kehidupan alam, ujian dulu baru diberi pelajaran. (sumbernya lupa)

Perjalanan kepustakawanan tidak hanya selesai di sini. Keberpustakawan tidak hanya selesai ketika seseorang menjadi atau mendapat predikat pustakawan dengan berbagai tantangannya. Namun secara substansi, masih bisa naik pada level post-librarian. Beyond librarian.

Post librarian, merupakan masa ketika seorang pustakawan sudah melewati masa “librarian”. Ini posisi terakhir, pungkasan. Pergulatan, kompromi, pertentangan, sudah dilewatinya. Meskipun secara nyata saat itu dia masih menyandang predikat pustakawan, masih melakukan kerja-kerja seorang pustakawan, namun pemaknaannya bisa dinaikkan pada level post-librarian.

Seseorang yang sudah post, berarti sudah selesai dengan berbagai dinamika yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Manjing ajur-ajer. Penempatan arti “pustakawan” pada dirinya sendiri sudah selesai. Konflik, kekecewaan, dan semacamnya yang muncul sewaktu-waktu sudah dapat dia kendalikan di internal dirinya sendiri. Bahkan ketika konflik, kekecewaan, dan semacamnya itu hadir pada ruang dan waktu yang berbeda. Sudah selesai. Dia fokus pada inti profesinya sebagai pustakawan dalam berhubungan dengan orang lain. Inti! bukan atribut. 

Menempati posisi post, berarti sudah mapan. Bukan mapan secara finansial, namun mapan secara pemikiran dan pemaknaan. Dia sudah tidak lagi terikat pada dikotomi “saya pustakawan” dan “engkau pemustaka”.  Pada taraf inilah, ketentuan pustakawan formal yang terikat undang-undang atau peraturan, sudah tidak berlaku bagi dirinya. Semua manusia itu pustakawan, dan semua manusia sekaligus juga pemustaka. 

Inilah masa ketika pustakawan tidak lagi terikat pada batasan: siapa yang berhak menjadi pustakawan, dan siapa itu pemustaka. Baginya, semuanya sudah melebur. 

Paijo mengambil nafas panjang. Tatapannya dialihkan ke jalan di depan rumahnya. Jalan yang cukup ramai lalu lalang orang ke tegalan. Kiri kanan jalanan itu tumbuh pohon jati yang rindang. Angin semilir melewati batang pohon, terus dan terus berhembus. Akhirnya sampailah hembusan itu di emperan tempat Paijo duduk. Wajahnya diterpa angin. Wusss. Sejuk. Dia bergumam, “lalu, aku ada pada posisi mana?”. Paijo bertanya pada dirinya sendiri.


Prestasi terbesar pustakawan
Prestasi. Satu kata, namun menjadi tuah sakti untuk banyak orang, berbagai profesi, bahkan berbagai kepentingan. Bermacam kalimat penambah samangat dibuat menggunakan kata “prestasi”: gapailan prestasimu, kejar prestasi, belajar untuk meraih prestasi. Prestasi, secara alami akan dikejar. Bentuknya bisa bermacam, terpaut pada kepentingan si pengejar prestasi itu.

Ada yang menganggap pencapaian pendidikan tertinggi, atau mampu membeli mobil (mewah) sebagai sebuah prestasi. Atau, bagi sebuah partai politik: mempertahankan kekuasaan merupakan prestasi puncak, yang mengikuti prestasi lainnya: merebut kekuasaan.

Demikian pula pustakawan. Ada prestasi yang tertanam pada masing-masing mereka, sebagai angan untuk diwujudkan. Bisa berupa prestasi individu maupun kelompok. Menjadi pustakawan terbaik pada berbagai jenjang, jamak menjadi prestasi yang sering dimunculkan. Baik di level institusi, kabupaten, propinsi, atau nasional. Ya, syukur regional atau internasional. Memperoleh akreditasi ISO, salah satu contoh prestasi institusi yang sungguh merangsang. Menyertainya pula berbagai bentuk prestasi lainnya: mendapat bonus, mendapat beasiswa, presentasi di konferensi, artikel masuk jurnal. Atau mungkin berfoto dengan tokoh penting kepustakawanan idolah dengan berbagai pose aduhai dan gokil, kemudian mengunggahnya ke media sosialnya. Berharap tuah dan berkah melalui tombol like and share. Itu sah dianggap sebuah prestasi yang luar biasa.

Ada juga prestasi harian: mampu menemukan informasi yang dibutuhkan orang lain. Tepat, cepat, dan akurat. Prestasi harian ini mampu meningkatkan hormon kebahagiaan pustakawan di setiap hari. Tentunya prestasi harian ada berbagai macam bentuknya. Semakin sering prestasi ini dicapai, akan berpengaruh pada tingkat kebahagiaan pustakawan. Dia akan merasa dianggap ada dan dibutuhkan. Pihak yang membutuhkan pun merasa terpuaskan. 

###

Namun, apa sesungguhnya prestasi terbesar pustakawan?

Sebelum membahas prestasi terbesar pustakawan, ada baiknya kita telaah cara pandang pada profesi pustakawan oleh si pustakawan itu sendiri. Fokus pandangan pustakawan yang mengagungkan pernyataan  “pustakawan itu penting”, harus digeser kepada  “hal penting apa yang bisa dilakukan pustakawan”. Jika demikian, maka fokus pustakawan akan ada pada perannya, bukan dirinya. Cara pandang ini penting, karena akan mengantarkan pustakawan pada pemaknaan profesi yang luas dan tidak terkungkung pada batasan-batasan tradisional. Meskipun demikian, tetap terkait ruh dasar kepustakawanan.

Prestasi besar pustakawan akan terwujud ketika dikotomi pustakawan-pemustaka sudah tidak ada, sudah hilang. Masa ketika seorang pustakawan akan menganggap orang lain juga merupakan pustakawan. Hal ini bisa dijelaskan dengan filosofi jawa “nguwongke uwong”, menjadi “nguwongke pemustaka”. Pemustaka tidak lagi  dianggap sebagai pemustaka saja. Di sisi lain, si pustakawan juga  menganggap dirinya sendiri seorang pemustaka, yang memerlukan sebagian kerja kepustakawannya, untuk dirinya sendiri.  

Ketika substansi ber-pustakawan telah menempel pada diri setiap pemustaka, maka pada masa inilah, prestasi terbesar seorang pustakawan terwujud. Semua telah pustakawan.

Proses menghilangkan perbedaan pustakawan dan pemustaka ini disebut sebagai proses memustakawankan pemustaka. Hal inilah yang merupakan “hal penting yang bisa dilakukan pustakawan”. Thetek bengek pekerjaan rutin yang selama ini dilakukan pustakawan, merupakan  turunan dari hal dasar ini. Proses inilah inti utama kerja pustakawan. Menjadikan pemustaka mampu secara mandiri menemukan informasi yang diperlukan, memfilter kualitasnya, dan menggunakan untuk dirinya sendiri, serta disebarkan kepada orang lain. Atau pemustaka menjadi mampu menemukan komunitasnya sendiri, untuk berkumpul dan bertukar pengetahuan. 

Proses di atas, sangat mungkin berakibat pemustaka akan menjadi lebih “pustakawan” daripada si pustakawan. Ini tidak mengapa, justru bernilai positif. Ibarat seorang guru, pustakawan akan merasa bangga jika muridnya telah mampu mengalahkan dirinya. Demikian sabda Begawan Parasurama. 

Pada saat inilah, tidak akan ada lagi kekhawatiran hilangnya profesi pustakawan, karena semua orang telah pustakawan. Peran pustakawan menempel pada diri masing-masing manusia (pemustaka), pada semua profesi. Keberpustakawanan merupakan kerja semua orang, bukan monopoli pustakawan formal semata. 

Pustakawan hanyalah perantara, lantaran yang hanya opsional agar semua manusia bisa mencapai tingkat berpustakawan untuk dirinya masing-masing. 


###

Mendung bergulung tipis. Menurunkan air yang juga tipis-tipis, alias gerimis. Mata Paijo berbinar, senyumnya merekah. Dia merasa  memperolah pencerahan. “Kang, ini ada telo godog”, suara lembut istrinya terdengar dari dalam rumah. Keluar sambil nyangking nampan berisi piring berisi ketela mateng yang masih anget, dua cangkir berisi gula batu. Serta teko bercat hijau berisi air teh tubruk, yang tentunya saja masih panas. 

Lelaki setengah tua berjalan di bawah gerimis, membawa kail, lewat jalan di depan rumah Paijo. “Mau kemana, Kang?”, sapa Paijo. “Mancing, Kang. Gerimis begini, air agak keruh, ikan mudah untuk dipancing”, jawab Kromo dengan yakin.

Paijo bergumam, "Kang Kromo telah menjadi pustakawan, minimal untuk dirinya sendiri"



Wednesday, 27 December 2017

, , ,

Pustakawan perlu meniru spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional ini (1)

Purwo.co -- Dokter, juga polisi, tentara dan presiden merupakan profesi atau pekerjaan, atau dalam istilah jawa “pangkat” yang diimpikan, favorit alias primadona. Dia menjadi jawaban sekti mandraguna anak-anak, ketika ditanya, “mau jadi apa ketika sudah besar nanti?”.

Namun, agaknya bukan hanya anak-anak yang memiliki keinginan memiliki profesi di atas. Yang sudah bekerja pun memiliki keinginan agar pekerjaannya bisa semoncer dan seterhormat dokter, misalnya. Entah, mungkin karena tidak keturutan cita-citanya, atau dihantui perasaan under estimate yang tinggi pada profesinya saat ini.

###

“Kita harus seperti dokter”. Pernahkah rekan pustakawan mendengar kalimat itu? sama persis, atau beda susunan kata namun isinya sama; ketika kuliah dilontarkan dosen sebagai wujud penyemangat, atau mungkin ketika jagongan dengan teman sesama pustakawan. Sebagai profesi yang dibanggakan, tentunya profesi lain terutama yang dirasa belum mapan, ingin sekali semapan dokter. Dihargai, dan punya posisi tawar tinggi.

Melihat profesi dokter, serta profesi lainnya yang populer itu ibarat ndangak. Ndangak ke atas, memang perlu sebagai penyemangat. Namun apakah ndangak ini selalu berefek positif?

Hati-hati, kebanyakan ndangak akan berakibat buruk pada tulang leher, cengeng (e seperti pada "sepeda"). Bisa-bisa perlu ngundang tukang pijet agar kembali normal.

Ndungkluk ke bawah, juga tidak kalah penting. Ndungkluk, melihat profesi lainnya yang terkadang disepelekan, namun memiliki nilai adiluhung, memiliki tuladha cara menjalankan profesi dengan baik dan migunani liyan.

Pada buku Iman Budhi Santoso, “Profesi Wong Cilik: spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional”, dikupas spiritualisme kerja 18 profesi tradisional. Bagaimana si pelaku memaknai/menjiwai profesi, berinteraksi dengan orang lain, dengan profesi lain, menyikapi perkembangan jaman dan lainnya. Buku ini ngajari kita untuk ndungkluk, agar tidak lupa asal-usul kita, atau asal-usul berbagi profesi yang saat ini ada.

Berikut, saya coba ulas semampu saya, apa saja yang bisa pustakawan teladani dari profesi tradisional ini. Karena ada 18 profesi, maka saya tuliskan paket per paket, sekuat mata saya menatap dan jari saya mengetik.

Pemikat perkutut
Profesi ini dilakukan untuk memperoleh burung perkutut baru, atau menangkap perkutut yang lepas. Memikat perkutut, berbeda dengan menangkap ikan di sungai, atau menangkap belalang yang biasanya berakhir sebagai lauk yang menemani nasi tiwul. Menangkap perkutut dan memeliharanya menjadi salah satu pertanda kesuksesan orang Jawa, yaitu kepemilikan kukila atau binatang piaraan yang sangat berharga, perkutut lah binatang itu.

Katuranggan perkutut yang baik selalu dicari. Bahkan perkutut dijadikan judul lagu yang termasyhur, “kutut manggung”.


Sore-sore…, yo lah bapak
Perkutute njaluk ngombe…
Yo bapak, bapakku de..we…

Perkutut, meskipun bisa diternakkan dengan hasil yang banyak, namun perkutut hasil pemikatan dari kehidupan aslinya, akan memiliki kualitas yang lebih baik. Memikat perkutut, baik proses persiapannya sampai menunggu perkutut terpikat, perlu kepasrahan dan kesabaran. Bagi si pemikat, proses ini merupakan proses spiritual.

###

Bagi pustakawan, hubungan pemikat dan perkutut bisa tarik pada hubungan antara pustakawan dan buku. Meskipun sekarang banyak muncul jenis buku yang tidak dapat dipegang secara fisik (e-book), namun buku tercetak (perkutut yang hidup di alam bebas) tetap memiliki nilai lebih. Meski e-book tersebut dapat secara mudah duplikasi sehingga meningkatkan penyebarannya, namun buku tercetak tetap disenangi, karena akan ada tautan emosional antara buku dan si pembaca. Buku tercetak tetap harus dijaga.

Sama seperti perkutut hasil pikatan, buku tercetak akan dihargai lebih dari pada e-book. Buku tercetak yang isinya berkualitas, dan asli, maka semakin tua jusrtu memiliki nilai ekonomis dan non-ekonomis yang tinggi. Dia akan naik derajat, “pantas” dijadikan cinderamata pada orang-orang cendikia.

Selain itu juga bisa ditarik ke hubungan pustakawan dan pemustaka. Pustakawan harus mampu memikat pemustaka agar hadir dan memanfaatkan buku yang dikoleksinya. Proses memikat ini, lebih dari sekedar membuat datang ke perpustakaan, namun dalam bahasa perburungan disebut "cumbu". Serasa memiliki rumah sendiri di perpustakaan, enggan pergi kecuali setelah semua hasrat intelektualnya terpenuhi. Proses memikat yang sampai taraf ini, harus dilambari dengan laku spiritual si pustakawan.

Pemikat perkutut, pada umumnya bukan orang yang berkecukupan. Sering disamakan dengan cah angon, pencari rencek, atau tukang ngarit. Berani menjadi pemikat perkutut, berarti berani mengambil risiko, bahwa kelas sosialnya ada pada kelas bawah (hal. 28). Demikian pula pustakawan, sebagai profesi yang saat ini masih belum “mapan”, menjadi pustakawan harus siap segala-galanya. Bahkan menelan kenyataan pahit sekalipun.

Beberapa kebiasaan lain dari pemikat perkutut yaitu: melepas perkutut kesayangan, minimal seekor dalam satu tahun. Serta mengambil perkutut hasil pikatan secara tidak berlebihan. Jumlah yang diambil disesuaikan dengan jumlah neptu. Hal ini bisa dicontoh oleh pustakawan, bahwa buku yang dimiliki pustakawan pun, juga bisa dijadikan buku layaknya koleksi perpustakaan (dilepas ke alam bebas), agar dapat dimanfaatkan banyak orang.

Dukun bayi 
“Tulung bayi”, demikian istilah yang dipilih penulis buku ini untuk menggambarkan kegiatan dukun bayi. Tulung bayi merupakan kegiatan “penyelamatan” dalam permulaan proses kehidupan manusia.

Prosesi kegiatan seorang dukun bayi, bukan sekedar kegiatan transaksional jualan jasa. Tapi lebih tinggi derajatnya dari itu. Proses penyelamatan ini, rela dilakukan meskipun rumah si dukun bayi didodok, sebagai tanda sowan kulo nuwun pada tengah malam. Dia rela bangun, meski badan keju (e seperti pada kelinci) setelah seharian kerja di sawah, kemudian berjalan kaki menuju rumah ibu yang hendak melahirkan. Senjatanya sederhana, welat, kunir dan doa suwuk.

Setelah prosesi melahirkan, pekerjaan dukun bayi tidak begitu saja selesai. Dia akan rela menengok bayi tersebut sampai beberapa lama, ndadah secara berkala, dan menyiapkan acara pupakan (potong pusar), sembari melantunkan doa-doa pada jabang bayi. Meski, setelah melahirkan itu dia tidak serta merta mendapatkan uang jalan, yang kadang diangsur atau dibayar dengan barang lain. Dia tetap rela dengan profesinya tersebut.

Jaman yang selalu berubah (owah gingsir) juga disikapi dengan bijak oleh para dukun bayi. Termasuk ketika mereka, karena aturan, harus berkolaborasi dengan bidan yang diproduksi oleh pendidikan formal jaman modern. Dan mungkin, ketika suatu saat dukun bayi harus hilang, tidak ada lagi karena telah tergantikan penuh oleh profesi yang mensyaratkan pendidikan formal jaman sekarang, para dukun bayi ini harus rela.

###

Demikian pula pustakawan. Pekerjaannya tidak harus dinilai dengan transaksi jual beli. Pustakawan harus memandang pekerjaannya sebagai kerja kemanusiaan. Kerja kemanusiaan berarti menempatkan peran kesehariannya sebagai kontribusi meningkatkan kualitas manusia, menjembatani keterbatasan manusia dalam mengakses pengetahuan agar setara dengan manusia lainnya.

Penyelamatan bayi ketika lahir ini, juga ditekankan pada prinsip kerja seorang dukun bayi. “Nyawa bayi sedikit-banyak menjadi tanggungjawab dukun bayi, sedangkan nyawa si Ibu diserahkan pada kekuasaan Allah” (hal. 48). Yang dilakukan pustakawan sama dengan penyelamatan bayi, yaitu kerja untuk masa depan, masa mendatang.

Pekerjaan pustakawan juga tidak selesai ketika buku berpindah tangan saat dipinjam pemustaka, atau setelah pengetahuan menyebar dari satu kepala ke kepala lainnya. Namun, juga usaha memastikan pengetahuan tersebut bermanfaat bagi si penerimanya. Proses komunikasi setelah buku dipinjam, perlu dilakukan pustakawan dalam rangka memastikan hal di atas.

Tentunya, sebagaimana dukun bayi yang melantunkan doa bagi si jabang bayi, pustakawan juga harus melambari proses layanannya dengan doa-doa kebaikan bagi si pemustaka. “Semoga buku yang dibaca bermanfaat, mencerahkan, membawa barakah untuk kemaslahatan ummat manusia”, kurang lebihnya demikian.

Terhadap owah gingsiring (perkembangan/perubahan) jaman, pustakawan juga bisa belajar dari dukun bayi. Keikhlasan berkolaborasi sebagai respon owah gingsiring jaman, telah diajarkan oleh mereka sejak lama. Pustakawan pun harus ikhlas berbagi pekerjaan dengan profesi lain, yang sebelumnya selama bertahun-tahun dilakukannya sendirian. Bukan sekedar kolaborasi, namun juga adopsi teknologi. Sebagaimana welat sebagai senjata untuk memotong pusat bayi, yang diganti dengan gaman yang lebih steril, pustakawan juga harus menguasai teknologi-teknologi terkini yang mampu meningkatkan kualitas perannya.


Juru kunci
Juru kunci (makam), merupakan pekerjaan pengabdian untuk nguri-uri makam leluhur (hal. 54). Mulai dari hal kecil menjaga kebersihan, keindahan, serta menghafal letak cungkup serta siapa yang ada di balik cungkup itu. Selain itu, juru kunci juga agen atau srono komunikasi para peziarah dalam berdoa. Dia nyengkuyung doa peziarah sesuai ketentuan yang digariskan Sang Pemilik Kekuatan Alam.

###

Pustakawan, sesungguhnya juga berperan sebagai penjaga makam. Buku yang ada di perpustakaan, terkadang penulisnya sudah meninggal. Buku yang ditinggalkan merupakan pemakaman dari ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya. Makam itu harus dijaga, dirawat agar tidak rusak, selalu jelas siapa yang dikuburkan di balik makam tersebut. Bukan sekadar namanya, namun akan lebih mantap jika pustakawan juga mengetahui asal-usul serta riwayat pemikirannya.

Pustakawan juga berperan menjari srono komunikasi imajiner antara pemustaka dengan si pemilik pemikiran. Oleh karena itulah pentingnya pustakawan tidak sekadar tahu letak cungkup, tapi juga apa yang ada di dalam cungkup tersebut, pemikian apa yang ada dalam buku-buku koleksi perpustakaan. Pengetahuan itu akan bermanfaat bagi pustakawan dalam rangka membantu dalam menembus sekat-sekat yang menghalangi pemustaka memahami pemikiran yang terkandung dalam buku.

Ini pekerjaan yang berat, tidak main-main.

Bersambung......


#pustakawanblogggerindonesia

Sambisari,   27 Desember 2017
23.17 malam