Showing posts with label ilmu perpustakaan. Show all posts
Showing posts with label ilmu perpustakaan. Show all posts

Friday, 28 December 2018

,

Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?

Saya punya kawan. Lulusan sekolah perkebunan, yang  dulu belajar tanam-tanaman. Tinggalnya di kawasan, tepat di dekat daerah yang jadi pusat persatean. Tak  heran, hobinya pun sesatean. Tidak sembarangan,  sate kambing yang dia pesan. Entah berapa porsi sekali pesan. Saya tak tahu, hobi ini murni dari dirinya sendiri, atau pesanan.

Kabar terakhir, hobi ini sudah berkurang. "Wis jarang banget, ngelingi awake...", katanya.

Syukurlah...

***
Kami  tidak sengaja kenalan. Ya, memang  tidak disengaja, wong tidak ada janjian. Waktu itu pasca terjadi gempa besar yang tanpa dugaan. Bisa teman-teman tebak kisaran tahunnya, kan?. Di sebuah ruangan 8x10 meter, dia jadi peserta, sementara saya ikut jadi narasumber pendampingan perpustakaan.

Dia salah satu peserta yang sampai sekarang menjadi kawan. Entah, kenapa cuma dia yang nyantol. Padahal dia itu lelaki, sudah beristri pula. Tapi percayalah, kami sebatas kawan. Tidak lebih.

Kawan saya ini mengelola perpustakaan sekolah, yang kemudian terdampak gempa. Terbayang keadaannya berantakan. Beruntung ada bantuan untuk pembangunan, kemudian perpustakaan dikembangkan. Akhirnya perpustakaan itu bisa nembus kompetisi tingkat nasional. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Keren, kan? Padahal pengelolanya, ya kawan saya ini, bukan alumni ilmu perpustakaan. Bagaimana ceritanya? 
Masih mau kuliah ilmu perpustakan?
Kawan saya memang pejuang tangguh. Semenjak  pendampingan itu, dia semakin rajin mengelola perpustakaannya. Kami komunikasi via email atau sms-an. Inovasi dia lakukan. "Anak masuk perpus selain baca buku, saya suruh nyatet apa yg dibaca", katanya meyakinkan. Dia pasang otomasi untuk perpustakaan, tampilannya disesuaikan dengan anak SD pengunjung perpustakaan. "Biar anak-anak senang", demikian dia mengatakan. Kawan saya memang suka coding, dan berkali-kali ngisi pelatihan pustakawan. Padahal, dia bukan alumni ilmu perpustakaan. Ilmu codingnya juga bukan ilmu sekolahan.
Masih mau kuliah ilmu perpustakan?".
Ketika kerja di SD,  statusnya honorer.  Gajinya minim, sehingga harus usaha sambilan kiri kanan.  Ingat: minim. Ini sih sebenarnya sudah rahasia para honorer perpustakaan (sekolah), apalagi swasta "perjuangan". Sampai kemudian nasibnya berubah karena lolos PNS hasil seleksi pungkasan. Gajinya pun ada peningkatan, hidupnya juga ada perbaikan. Ssst, sekarang kabarnya PNS dimoratoriumkan. Jadi tidak bisa berharap banyak untuk jadi PNS, sebagaian tujuan status pekerjaan.
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?"
Kawan saya pernah kepincut kuliah UT ilmu perpustakaan. Sudah ndaftar, tapi tak dilanjutkan. Kabarnya karena tak ada dana, pemasukan pas-pasan. "Ra duwe ragad", katanya, mohon dimaklumkan. Honor tak cukup untuk membayar biaya pendidikan. Akhirnya dia otodidak dalam belajar pengelolaan perpustakaan.  Bisa kok. Tanya kiri kanan, dan baca buku di perpustakaan. Jangan lupakan juga nonton panduan sambil yutuban.
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?" _
Tapi,  saya akui, dia memang sungguh bersungguh-sungguh dalam belajar, khususnya IT dengan kemandirian, seperti saya sampaikan di depan. Mulai dari oprek joomla, oprek SLiMS (software perpustakaan), sampai belajar coding pemrograman. Menggunakan framework, atau coding dari 0 (nol) sebagai awalan.  "Modalnya cuma http://stackoverflow.com", katanya memastikan.  Intinya dia belajar coding, bersungguh-sungguh, serta memanjatkan doa pada Tuhan. Ingat! dia tidak jadi kuliah ilmu perpustakaan.
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?"
***
Jadi pustakawan itu tak perlu kuliah ilmu perpustakaan. Wong pada dasarnya semua manusia itu pustakawan. Ini juga sudah ditekankan oleh pemilik kebijakan. Siapapun bisa. Intinya mau belajar, penuh kesungguhan. Pendidikan tidak hanya di sekolah atau kuliahan. Formal, informal, non formal mestinya juga ada pengakuan. Kawan saya itu sudah membuktikan.

***
Namun, akhirnya....

Kawan saya sekarang tak lagi kerja di perpustakaan. Kemampuannya cocok di tempat lain yang lebih membutuhkan. Keterampilan otodidaknya sangat bermanfaat. Otodidak. Ingat ya, otodidak. Baru setelah PNS dia disekolahkan coding, kursus atau pendidikan/latihan.

###

Kawan...

Harap diingat: sulit mencari yang seperti itu. Gigih, dan tak kenal lelah dalam perjuangan. Tidak bisa dirampatkan. Tentu saja, faktor nasib dan takdir juga ikut berperan. Kita tidak tahu, takdir apa yang akan diberikan. Jalani saja, jika ilmu perpustakaan sudah jadi pilihan, terpaksa atau penuh kesadaran. 
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?

Pendidikan, tak hanya terkait pekerjaan. Tapi lebih ke adab dan kemanusiaan. Serta perintah Tuhan. Percayalah pada Tuhan, rejeki tak akan ada pertukaran, tinggal diusahakan. 


Jangan ragu. Kalau ragu, lebih baik mundur saja.

Tuesday, 30 October 2018

, , , , ,

Pre librarian - librarian - post librarian

Menjadi pustakawan itu berkah. Demikian seharusnya memaknai. Meskipun memang benar, ada yang kemudian berpindah atau keluar dari profesi tersebut. Semua punya sejarah, alasan, dan dasar yang pada dasarnya harus dihormati. 

Paijo, pustakawan dari pelosok kampung itu masih mencari pemaknaan dirinya terhadap profesinya. Dia ingin menempatkan pustakawan secara tepat pada dirinya. Penempatan yang pas, ora komplang. Manjing. Tidak menyakralkan, namun juga tidak meremehkan. Pemaknaan ini penting, agar selanjutnya dia bisa merdeka berjalan di jalan yang tepat, dan diyakini. Serta tentunya tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai isu dan dinamika dari luar. 

Dia tidak memungkiri, bahwa sesamanya ada yang telah selesai dengan pemaknaan pada profesi ini. Dia anggap begitu beruntungnya mereka. Namun, kadang dia juga berprasangka lain. Mungkin juga mereka tidak begitu memikirkan apa yang sedang difikirkan Paijo. Entahlah.

Paijo yakin bahwa semua pustakawan berhak memaknai perjalanan berpustakawannya. Bahkan pemaknaan itu boleh berbeda dengan orang lainnya. Tidak harus sama. Tidak ada yang mewajibkan harus sama. Tidak ada dosa jika berbeda. Paijo ingat ketika masih sekolah, diskusi bersama teman-temannya tentang tafsir pada ayat suci. Ayat suci yang turun dari Tuhan, ketika sampai pada mufasir akan menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika semua orang yang tidak masuk pada level mufasir ikut menafsirkan, pasti akan lebih beragam. Tafsir pada hal yang sakral pun bisa berbeda, apalagi hanya pada sebuah profesi ciptaan manusia. Demikian yakin Paijo.

Imaji Paijo pun meliar. Ketika di perpustakaan, sambil bekerja, sambil melamun, mencoba menggali makna pekerjaannya.  Berharap menemukan titik-titik pemberhentian dan berjumpa dengan  makna kepustakawanannya. Untuk mengejar makna ini, buku para begawan juga pernah dibaca, meski tidak semuanya selesai. Apa sebab? Entah. Dia sendiri juga bingung. 

###

Paijo melanjutkan perenungan perjalanan kepustakawannya. Kali ini sendirian, tidak ditemani Karyo, yang sedang pergi entah kemana. Juga tanpa sego thiwul kesukaannya. Dia ingin sendiri, kontemplasi. Agar fokus, kontemplasi Paijo dibatasi dahulu sesuai apa yang dia alami: pustakawan formal yang lahir dari pendidikan (ilmu) perpustakaan. 

Dalam perjalanan kontemplasi itu, Paijo memilah 3 fase keberpustakawanan yang dia lalui: pre librarian, librarian, dan post librarian. Paijo mencoba menelisik dirinya pada tiga fase ini.

Pre librarian merupakan waktu ketika masih berjuang agar nantinya dapat disebut pustakawan. Berbagai hal dilakukan dalam fase ini. Salah satunya dengan menempuh pendidikan. Pada masa ini idealisme dibangun. Berbagai artikel dan buku dilahap. Berbagai keterampilan diasah. Diskusi didatangi, serta cerdik cendikia didaulat untuk duduk (kadang juga berdiri) berbicara. Tujuannya satu: agar ketika sudah menjadi pustakawan, diperoleh predikat ideal.

Namun, pada masa ini Paijo juga merasa pernah jatuh. Linglung. Dirinya merasa aneh dengan pendidikan perpustakaan yang dia tempuh. ”Iki sekolah opo?”.  Kegamangan ini tidak hanya dialami  Paijo. Namun juga beberapa  temannya. Dibuktikan dengan kenyataan beberapa temannya berguguran, berpindah jurusan sebelum lulus. Bahkan, saat ini pun dia masih menemui mahasiswa yang sekolah perpustakaan merasa gamang. Sialnya, mahasiswa ini pernah bertanya, atau ngudo roso tentang kegamangan ini pada Paijo. Tak banyak yang bisa disampaikan Paijo, “lakukan yang terbaik pada apa yang ada di depanmu saat ini. Kamu boleh tidak suka dengan jurusan yang kamu ambil, tapi jangan remehkan (ilmu) ini”.

Kegamangan itu memang wajar. Seorang yang sudah masuk jurusan favorit macam kedokteran juga bisa gamang. Mungkin ndak sesuai minat, masuk karena ikut-ikutan, disuruh orang lain, atau sebab lainnya. Tapi begitulah, masa pre librarian memang kompleks. 

Pada masa ini, Paijo mencoba mengingat, meski ada yang gamang, ada pula yang berfikir idealis penuh percaya diri. Kompilasi bacaan tentang perpustakaan, yang ditulis dari berbagai sumber, mengantarkan mereka untuk presentasi pada pertemuan ilmiah. Atau paling tidak tulisannya menghiasi berbagai media massa.  Proses belajarnya harus dibenturkan pada berbagai bentuk pemikiran lainnya. Di pertemuan ilmiah tersebut, pandangan pro kontra akan mematangkan pemikirannya. Pada media massa, orang akan dapat membaca siapa dan bagaimana arah pemikirannya.  Ini hal yang positif pada masa pre librarian.

Berikutnya yaitu masa librarian, ketika sudah menjadi pustakawan. Inilah masa seseorang yang sudah menempuh pre librarian, kemudian  disebut sebagai pustakawan. Formal. Sesuai undang-undang,  atau sesuai ketentuan dan kebutuhan di institusi induknya.  Atau mungkin penyebutan itu berasal dari masyarakat sebagai sebuah penghargaan pada peran yang dilakukannya. Pada masa inilah idealisme bertemu dengan realita. 

Akan ada kompromi, penyesuaian, pertentangan, dan mungkin penguatan. Kompromi dilakukan ketika menemukan kenyataan yang ternyata tidak serta-merta sesuai dengan jabaran teks yang pernah dibaca sebelumnya, ataupun dengan teks dan interpretasi mutakhir yang juga terus diikuti. Akhirnya ada yang harus ditahan, dikalahkan, diprioritaskan dan lainnya. Hal itu dapat ditelisik dari pilihan bentuk kerja-kerja pustakawan.  Inilah masa-masa sulit. 

Pada masa ini pustakawan mulai menghadapi konsekuensi yang bukan hanya konsekuensi sebagai pustakawan. Namun juga konsekuensi sebagai manusia. Pustakawan harus mampu membaca dirinya sebagai manusia, bukan sekedar sebagai pustakawan semata. Sebagai pustakawan, diajarkan hal yang ideal: lowongan pustakawan yang menjadi haknya, bisa bekerja, sesuai pendidikan, digaji ideal. Tapi konsekuensi sebagai manusia lebih luas. Manusia itu harus mau diuji, berjalan di jalan yang berliku, penuh perjuangan, dan lainnya. Gajinya sedikit, diberi pekerjaan berlebih, dan lainnya. Ndak enak. Nah, pada masa itulah dia harus memutuskan: lanjut, atau cabut. 

Paijo ingat pernah pula dicurhati orang yang ada di level pustakawan. Pelik masalahnya. Bingung pula Paijo dalam menanggapi. Ketika itu, kawan Paijo diminta untuk pindah ke bagian lain. Dia dihadapkan pada pilihan idealisme, atau mengikuti perintah atasan. Paijo memberikan saran yang menurutnya paling barokah: ikuti perintah atasan, selama itu bukan perintah keburukan. Saran ini disampaikan, karena Paijo melihat di unit tersebut kurang orang, dan pada saat yang sama, bagian lain sangat membutuhkan. Kawan tersebutlah satu-satunya pilihan pimpinan. Bagaimana dengan perpustakaan yang ditinggalkan? Dengan pengondisian, dapat berjalan hingga sekarang. Mungkin saran tersebut tidak akan disampaikan, jika ternyata di unit masih ada banyak pilihan orang.

Orang yang (entah) kebetulan atau ditakdirkan jadi pustakawan, harus memandang dirinya sebagai manusia, dan siap dengan segala konsekuensinya sebagai manusia.

Paijo ingat, pada sebuah buku disampaikan bahwa hidup itu ujian, baru kemudian ada pelajaran dari ujian itu. Demikian pula ketika pustakawan masih kuliah, porsi belajarnya baru 20%. Yang 80% main-main. Sementara ketika jadi pustakawan, 100% kesehariannya adalah belajar, praktik, dan ujian. Dia dihadapkan para kenyataan dan ujian. Barulah dari dua hal ini dicari nilai pelajarannya, begitu seterusnya. Itupun jika mampu mencerna ujian yang dihadapi. Jika tidak, maka yang muncul hanya keluhan, umpatan, dan semacamnya. 

Sekolah itu pelajaran dulu, baru ujian. Sementara kehidupan alam, ujian dulu baru diberi pelajaran. (sumbernya lupa)

Perjalanan kepustakawanan tidak hanya selesai di sini. Keberpustakawan tidak hanya selesai ketika seseorang menjadi atau mendapat predikat pustakawan dengan berbagai tantangannya. Namun secara substansi, masih bisa naik pada level post-librarian. Beyond librarian.

Post librarian, merupakan masa ketika seorang pustakawan sudah melewati masa “librarian”. Ini posisi terakhir, pungkasan. Pergulatan, kompromi, pertentangan, sudah dilewatinya. Meskipun secara nyata saat itu dia masih menyandang predikat pustakawan, masih melakukan kerja-kerja seorang pustakawan, namun pemaknaannya bisa dinaikkan pada level post-librarian.

Seseorang yang sudah post, berarti sudah selesai dengan berbagai dinamika yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Manjing ajur-ajer. Penempatan arti “pustakawan” pada dirinya sendiri sudah selesai. Konflik, kekecewaan, dan semacamnya yang muncul sewaktu-waktu sudah dapat dia kendalikan di internal dirinya sendiri. Bahkan ketika konflik, kekecewaan, dan semacamnya itu hadir pada ruang dan waktu yang berbeda. Sudah selesai. Dia fokus pada inti profesinya sebagai pustakawan dalam berhubungan dengan orang lain. Inti! bukan atribut. 

Menempati posisi post, berarti sudah mapan. Bukan mapan secara finansial, namun mapan secara pemikiran dan pemaknaan. Dia sudah tidak lagi terikat pada dikotomi “saya pustakawan” dan “engkau pemustaka”.  Pada taraf inilah, ketentuan pustakawan formal yang terikat undang-undang atau peraturan, sudah tidak berlaku bagi dirinya. Semua manusia itu pustakawan, dan semua manusia sekaligus juga pemustaka. 

Inilah masa ketika pustakawan tidak lagi terikat pada batasan: siapa yang berhak menjadi pustakawan, dan siapa itu pemustaka. Baginya, semuanya sudah melebur. 

Paijo mengambil nafas panjang. Tatapannya dialihkan ke jalan di depan rumahnya. Jalan yang cukup ramai lalu lalang orang ke tegalan. Kiri kanan jalanan itu tumbuh pohon jati yang rindang. Angin semilir melewati batang pohon, terus dan terus berhembus. Akhirnya sampailah hembusan itu di emperan tempat Paijo duduk. Wajahnya diterpa angin. Wusss. Sejuk. Dia bergumam, “lalu, aku ada pada posisi mana?”. Paijo bertanya pada dirinya sendiri.


Prestasi terbesar pustakawan
Prestasi. Satu kata, namun menjadi tuah sakti untuk banyak orang, berbagai profesi, bahkan berbagai kepentingan. Bermacam kalimat penambah samangat dibuat menggunakan kata “prestasi”: gapailan prestasimu, kejar prestasi, belajar untuk meraih prestasi. Prestasi, secara alami akan dikejar. Bentuknya bisa bermacam, terpaut pada kepentingan si pengejar prestasi itu.

Ada yang menganggap pencapaian pendidikan tertinggi, atau mampu membeli mobil (mewah) sebagai sebuah prestasi. Atau, bagi sebuah partai politik: mempertahankan kekuasaan merupakan prestasi puncak, yang mengikuti prestasi lainnya: merebut kekuasaan.

Demikian pula pustakawan. Ada prestasi yang tertanam pada masing-masing mereka, sebagai angan untuk diwujudkan. Bisa berupa prestasi individu maupun kelompok. Menjadi pustakawan terbaik pada berbagai jenjang, jamak menjadi prestasi yang sering dimunculkan. Baik di level institusi, kabupaten, propinsi, atau nasional. Ya, syukur regional atau internasional. Memperoleh akreditasi ISO, salah satu contoh prestasi institusi yang sungguh merangsang. Menyertainya pula berbagai bentuk prestasi lainnya: mendapat bonus, mendapat beasiswa, presentasi di konferensi, artikel masuk jurnal. Atau mungkin berfoto dengan tokoh penting kepustakawanan idolah dengan berbagai pose aduhai dan gokil, kemudian mengunggahnya ke media sosialnya. Berharap tuah dan berkah melalui tombol like and share. Itu sah dianggap sebuah prestasi yang luar biasa.

Ada juga prestasi harian: mampu menemukan informasi yang dibutuhkan orang lain. Tepat, cepat, dan akurat. Prestasi harian ini mampu meningkatkan hormon kebahagiaan pustakawan di setiap hari. Tentunya prestasi harian ada berbagai macam bentuknya. Semakin sering prestasi ini dicapai, akan berpengaruh pada tingkat kebahagiaan pustakawan. Dia akan merasa dianggap ada dan dibutuhkan. Pihak yang membutuhkan pun merasa terpuaskan. 

###

Namun, apa sesungguhnya prestasi terbesar pustakawan?

Sebelum membahas prestasi terbesar pustakawan, ada baiknya kita telaah cara pandang pada profesi pustakawan oleh si pustakawan itu sendiri. Fokus pandangan pustakawan yang mengagungkan pernyataan  “pustakawan itu penting”, harus digeser kepada  “hal penting apa yang bisa dilakukan pustakawan”. Jika demikian, maka fokus pustakawan akan ada pada perannya, bukan dirinya. Cara pandang ini penting, karena akan mengantarkan pustakawan pada pemaknaan profesi yang luas dan tidak terkungkung pada batasan-batasan tradisional. Meskipun demikian, tetap terkait ruh dasar kepustakawanan.

Prestasi besar pustakawan akan terwujud ketika dikotomi pustakawan-pemustaka sudah tidak ada, sudah hilang. Masa ketika seorang pustakawan akan menganggap orang lain juga merupakan pustakawan. Hal ini bisa dijelaskan dengan filosofi jawa “nguwongke uwong”, menjadi “nguwongke pemustaka”. Pemustaka tidak lagi  dianggap sebagai pemustaka saja. Di sisi lain, si pustakawan juga  menganggap dirinya sendiri seorang pemustaka, yang memerlukan sebagian kerja kepustakawannya, untuk dirinya sendiri.  

Ketika substansi ber-pustakawan telah menempel pada diri setiap pemustaka, maka pada masa inilah, prestasi terbesar seorang pustakawan terwujud. Semua telah pustakawan.

Proses menghilangkan perbedaan pustakawan dan pemustaka ini disebut sebagai proses memustakawankan pemustaka. Hal inilah yang merupakan “hal penting yang bisa dilakukan pustakawan”. Thetek bengek pekerjaan rutin yang selama ini dilakukan pustakawan, merupakan  turunan dari hal dasar ini. Proses inilah inti utama kerja pustakawan. Menjadikan pemustaka mampu secara mandiri menemukan informasi yang diperlukan, memfilter kualitasnya, dan menggunakan untuk dirinya sendiri, serta disebarkan kepada orang lain. Atau pemustaka menjadi mampu menemukan komunitasnya sendiri, untuk berkumpul dan bertukar pengetahuan. 

Proses di atas, sangat mungkin berakibat pemustaka akan menjadi lebih “pustakawan” daripada si pustakawan. Ini tidak mengapa, justru bernilai positif. Ibarat seorang guru, pustakawan akan merasa bangga jika muridnya telah mampu mengalahkan dirinya. Demikian sabda Begawan Parasurama. 

Pada saat inilah, tidak akan ada lagi kekhawatiran hilangnya profesi pustakawan, karena semua orang telah pustakawan. Peran pustakawan menempel pada diri masing-masing manusia (pemustaka), pada semua profesi. Keberpustakawanan merupakan kerja semua orang, bukan monopoli pustakawan formal semata. 

Pustakawan hanyalah perantara, lantaran yang hanya opsional agar semua manusia bisa mencapai tingkat berpustakawan untuk dirinya masing-masing. 


###

Mendung bergulung tipis. Menurunkan air yang juga tipis-tipis, alias gerimis. Mata Paijo berbinar, senyumnya merekah. Dia merasa  memperolah pencerahan. “Kang, ini ada telo godog”, suara lembut istrinya terdengar dari dalam rumah. Keluar sambil nyangking nampan berisi piring berisi ketela mateng yang masih anget, dua cangkir berisi gula batu. Serta teko bercat hijau berisi air teh tubruk, yang tentunya saja masih panas. 

Lelaki setengah tua berjalan di bawah gerimis, membawa kail, lewat jalan di depan rumah Paijo. “Mau kemana, Kang?”, sapa Paijo. “Mancing, Kang. Gerimis begini, air agak keruh, ikan mudah untuk dipancing”, jawab Kromo dengan yakin.

Paijo bergumam, "Kang Kromo telah menjadi pustakawan, minimal untuk dirinya sendiri"



Tuesday, 9 October 2018

[[ teranglah sudah: tak ada ilmu perpustakaan #2 ]]

“Kang, lowongan kebutuhan pustakawan dari alumni non ilmu perpustakaan itu sesungguhnya sebuah tamparan. Telak!", kata Paijo.
“Tamparan untuk siapa, Jo?.

###

Waktu berjalan. Malam berganti siang, siang ke sore, sore ke petang, lalu malam lagi. Pagi pun muncul. Setelah beberapa waktu, Paijo mendapat kabar bahwa ada rekruitmen pustakawan untuk sarjana non ilmu perpustakaan di perpustakaan nasional. Ini berita gembira, umumnya dianggap membuka peluang kerja banyak orang. Bagi sarjana ilmu perpustakaan, ini berita pahit. Lahannya berkurang. Paijo pun sudah mbabar panjang lebar pendapatnya terkait hal ini, pada Karyo, di Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

Namun, Paijo berfikir masih ada yang aneh pada pengumuman itu. Ya! Seperti yang diomongkan pada Karyo, bahwa pengumuman itu menjadi bukti bahwa setiap orang sesungguhnya berpotensi menjadi pustakawan. Apapun ilmu yang melatarbelakanginya. Semua punya hak, meski berlatarbelakang  operator mesin fotokopi. Menjadi pustakawan itu hak semua manusia.

Namun, lebih dari itu, Paijo tetap merasa ada yang aneh… Tirakat dilakukan, semedi, dan laku prihatin juga dilakukan. Mengurangi makan, memperbanyak melek, agar wangsit turun dan memberi jawaban atas kegelisahannya. Doa-doa dilantunkan. Semoga bukan doa junub yang lantunkan Paijo.

###

Wis… ketemu sekarang”. Paijo girang bukan kepalang. Apa yang dicarinya ketemu. Apa yang membuatnya galau, seolah sudah ditakhlukkan.

Lowongan pustakawan untuk alumni selain ilmu perpustakaan itu, bagi Paijo merupakan bukti berikutnya bahwa tidak ada ilmu perpustakaan. Sama seperti semua orang bisa mendaftar jadi wartawan, dan tidak mensyaratkan sarjana ilmu wartawan. Karena memang jurusan ilmu wartawan itu tidak ada. 

“Menjadi wartawan itu syaratnya biasanya sarjana, bisa dari jurusan apapun. Karena jurusannya itu sangat bermanfaat ketika menjalankan fungsi kewartawanan”. Demikian kawan Paijo pernah berkata. Pola rekruitmen wartawan ini, agaknya yang menjadikan wartawan itu punya bobot dalam proses penguatan masyarakat.

"Jangan-jangan, memang paling tepat untuk pustakawan ya model seperti wartawan ini?. Klop wis".

Ketika semua orang bisa jadi pustakawan, dibuktikan dengan lowongan di perpustakaan nasional itu, maka sesungguhnya memang tidak ada ilmu perpustakaan. Ilmu perpustakaan itu menempel, embedded pada setiap orang yang mau mempelajarinya. Sebagaimana jiwa kewartawanan manusia: dia fitrah. Hal ini juga mirip seperti ustaz atau ulama. Tidak perlu pendidikan formal. Ngaji rutin, menjadi batur Pak Kyai, sambil mendengarkannya ngaji, bisa menjadi lantaran menjadi ulama.

“Loh, pada kenyataannya kan ada jurusan ilmu perpustakaan?”, bathin Paijo masih menguji hipotesanya.

Bukankah juga ada ilmu dakwah dalam dunia perulamaan? tapi apakah menjadi ulama itu domain tunggal alumni fakultas dakwah? “Tidak juga”, pikir Paijo, seolah menemukan analogi yang tepat bagi pustakawan. Semua orang bisa menjadi ustaz, asalkan masyarakat mengakuinya.

“Tapi apakah ulama punya organisasi?”. Paijo masih menguji keyakinannya. Dia ingat bahwa profesi itu syaratnya harus ada organisasi yang menaunginya. Ya, meskipun syarat itu bagi Paijo juga bukan sebuah keharusan. “O, punya. Bahkan bisa bermacam-macam namanya: MUI, IKADI, MIUMI”. Proses bertanya dan berjawab sendiri ini berlangsung lama pada diri Paijo.

“Pustakawan juga bisa mirip petani”, Paijo melanjutkan petualangan imajinasinya. Profesi inilah yang digeluti simbahnya selama hidupnya. Pergi ke ladang, macul, menanam padi dan berbagai tanaman lainnya. Semua dilakukan dengan “sekolah” pada kehidupan. Bukan sekolah formal pertanian. Profesi ini kemudian dilanjutkan oleh ibunya, yang selain bertani juga berjualan. Yang lebih meyakinkan lagi bagi Paijo, adalah bapaknya. Bapaknya Paijo ini guru, namun sampai di rumah, jadi petani. Ada peran profesi ganda yang dilakukan bapaknya Paijo. Padahal formalnya hanya sekolah guru, bukan sarjana pertanian.

Mirip. Keduanya memiliki pendidikan formalnya: ilmu perpustakaan, dan ilmu pertanian. Sama. Sarjana pertanian itu berpeluang besar jadi petani, tapi apa kenyataannya? tidak semuanya mau jadi petani. Tidak. Dan mereka tidak serakah bahwa petani itu harus sarjana pertanian. Tidak, kan?. Apalagi memiliki sertifikat pertanian, spesialis macul, spesialis nandur, atau spesialis matun alias dhangir. Ndak.

Para petani juga tidak di protes oleh pada pedagang. Pedagang tetap mau mengambil hasil pertanian mereka, meski petaninya cuma lulusan SD, atau bahkan tidak sekolah formal. Meski tidak diolah sesuai prinsip di ilmu pertanian yang diajarkan di perguruan tinggi. Kualitas hasil akhir dari pertanian itu yang utama. Para petani ini, paling banter ya ikut kursus, pelatihan, atau penyuluhan pertanian. Petani juga punya HKTI.

Ada jurusan pertanian, tapi tak ada klaim menjadi petani harus alumni ilmu pertanian. Padahal pertanian sangat vital bagi kehidupan manusia. Berhubungan dengan makan, hidup, dan urip. Ada  pula fakultas dakwah, tapi tak ada klaim menjadi ulama harus alumni fakultas dakwah. Padahal dakwah sangat penting bagi kehidupan, tidak hanya saat ini, namun juga setelah kematian. Ada jurusan penjualan, pemasaran, tapi tidak ada klaim menjadi pedagang harus alumni pemasaran. Padahal pekerjaan pegadang ini menjadi fondasi kehidupan manusia. Dia merupakan sumber rejeki paling banyak dijadikan profesi. Ada jurusan pedalangan, karawitan, namun tidak ada klaim menjadi dalang harus sarjana pedhalangan. Nyantrik bisa jadi sarana orang jadi dhalang atau seniman. 

Kenapa? karena itu pekerjaan mandiri. Pengakuan masyarakatlah yang menentukan.

“Klaim bahwa menjadi pustakawan itu harus dari alumni ilmu perpustakaan, itu hanya berlaku di lowongan pekerjaan pustakawan sebagai PNS. Coba lihat sekolah swasta, universitas swasta, apakah ada protes keras dari para alumni ilmu perpustakaan? Kalau pimpinannya berkehendak, ya ngikut. Wong mereka yang nggaji, kok. Apalagi di perpustakaan kampung, rumah baca, dan lainnya? mana protesnya? Kenapa? karena ndak ada hubungannya dengan kepentingan pekerjaan.”

“Klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”.

Demikian, proses berfikir Paijo. Kadang digumamkan, disuarakan sendiri melalui mulutnya. Kadang hanya dibathin saja.  Bisa dalam bentuk pernyataan kemudian dibantah atau diperkuat dengan pernyataan lainnya. Atau dalam bentuk pertanyaan, kemudian dijawab sendiri.

###

Apa yang difikirkan Paijo disampaikan pada Karyo. Teman karibnya itu. Karyo mengangguk, seolah setuju, namun masih menyimpan keraguan.
“Namun demikian, tetap ada bedanya antara ilmu pertanian dan ilmu perpustakaan, Kang!”, kilah Paijo, mencoba membaca raut wajah Karyo yang masih menyimpan pertanyaan.
“Apa, Jo?”
“Ilmu pertanian itu tidak sekedar membahas cara matun, dan cara nggathul. Tapi bahasannya sudah melampai itu. Lebih ke substansi: bibit”. Kata Paijo.
“Lah, kalau ilmu perpustakaan?”.
“Hanya mentok, atau dimentokkan pada kulitnya, Kang. Klasifikasi, katalog, label. Atau sekarang diperparah dengan kegemaran beli sofa. Pustakawan sudah kurang PD mengelola isi. Menulis resensi buku, paling banter jadi syarat naik pangkat. Bisa dihitung dengan jari, pustakawan yang menulis kritik atas buku dan menerbitkannya”.

“Lalu bedanya dengan dokter apa, Jo?”. Karyo hendak mengonfirmasi tawaran Paijo beberapa waktu lalu, untuk menjelaskan bedanya profesi dokter dan pustakawan.

Paijo menyarankan pada Karyo, agar jangan memaksakan menarik persamaan atau memaksakan pustakawan harus sama dengan dokter. Keduanya beda, bedo. Dia mengulang penjelasannya beberapa waktu lalu, bahwa dari sisi keketatan pendidikan sudah beda. Dan keketatan pendidikan perpustakaan itu sudah menjadi bukti bagi dirinya sendiri, diri pustakawan itu sendiri bahwa pustakawan dan dokter itu beda. Keketatan pendidikan di kedokteran itu sendiri juga menjadi bukti bahwa profesi dokter itu levelnya di atas pustakawan.

Level profesi dokter itu sudah matang, sudah tua, dia sudah mapan. Berbeda dengan pustakawan. Jauh.

“Kalau pustakawan ingin disamakan dengan profesi dokter, minta saja pustakawan itu menganggap dirinya dokter buku, Kang. Hehehe”.
“Hus, ra sopan”.

###

“Kang, klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”. Demikian kesimpulan awalku. “Apalagi dilanjutkan dengan protes. Wong institusinya membutuhkan, kok diprotes."

Paijo meminta Karyo berfikir, apakah selama ini ada protes keras, jika lowongan itu dibuka oleh institusi non negara, alias bukan lowongan PNS pustakawan?. Karyo diam saja. Agaknya memang sulit mencari contoh protes pada lowongan pustakawan untuk non alumni ilmu perpustakaan, pada jalur swasta.

"Kang, saya punya teman. Alumni ilmu perpustakaan, kerja di media. Para akademisi ilmu perpustakaan menyebutnya berhasil: ini alumni kita, bisa bekerja di perpustakaan media swasta. Katanya demikian. Tapi kalau kawan saya yang di swasta itu membuka lowongan di perpustakaannya itu untuk alumni ilmu komputer, misalnya, apakah akan diprotes?. Tidak, tho?". Tanya Paijo.

"Lowongan untuk non ilmu perpustakaan itu juga berkaitan dengan eksistensi para penggerak pendidikan ilmu perpustakaan itu sendiri, Kang. Tamparan keras. Orang akhirnya ragu: jan-janya ilmu perpustakaan itu apa?”, Paijo melanjutkan.

“Selain itu, kita melupakan satu hal lain, Kang”
“Apa, Jo?”

“Kita ini dijebak pada lingkaran syarat pendidikan formal untuk sebuah pekerjaan. Padahal, ada pendidikan non dan informal. Tidak semua pekerjaan perlu pendidikan formal, ada yang cukup in dan non formal saja”. 

Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Adanya lowongan kebutuhan pustakawan dengan latar belakang bukan alumni ilmu perpustakaan, merupakan tamparan nyata pada institusi pendidikan ilmu perpustakaan. Nyata, cetha wela-wela”. 


[tamat]


Sunday, 7 October 2018

, ,

Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

“Revolusioner, anti kemapanan, anti kejumudan. Benar-benar luar biasa dan di luar dugaan”, Paijo bergumam sendirian. Wajahnya semringah, sambil memandangi layar gadget barunya, bermerk China yang sedang kondhiang saat ini. Gadget itu dibeli setelah mendapat acc istrinya beberapa hari yang lalu. Tentunya setelah berdebat sepanjang hari. 

###

Paijo tampak bergembira. Senyumnya lebar, kadang singsut-singsut, bersiul sambil menyusuri jalanan kampung. Tampak benar-benar dalam keadaan bahagia. Sejurus kemudian, sampailah dia di depan rumah Karyo. Tampak Karyo sedang santai bersih-bersih ladang depan rumah, persiapan untuk masa tanam yang segera akan datang. 

“Kang, ana berita bagus”. Tegas, lugas, Paijo setengah teriak pada Karyo. Karyo yang sedang memegang gathul, agak terkejut. Untunglah dia menguasai diri, dan tidak melempar gathul ke sumber suara. Jika itu terjadi, entah kegemparan apa yang akan meledak sore itu. Karyo menghentikan aktivitasnya, kemudian duduk. Paijo mendekat.

“Kang ini lihat, berita bagus. Lowongan kerja di Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Nasional!”. Paijo menekankan kata "Perpustakaan Nasional" dengan  nada tinggi. Karyo tidak mengerti. Yang dia tahu, Paijo itu sudah kerja, mapan, mosok mau mendaftar lagi. Usianya juga sudah overdosis, dan tidak masuk kriteria 35 tahun. Jika membuka alamat pendaftaran online, kemungkinan langsung macet dan muncul notifikasi “maaf, anda sudah tua”. 

“Bukan saya yang mau mendaftar. Tapi lihat lowongan ini. Lowongan pustakawan, dengan syarat yang revolusioner dan anti kejumudan. Ini berita bagus. Apalagi di Perpustakaan Nasional, perpustakaan tingkat tertinggi sebagai pembina perpustakaan lainnya”. Celetuk Paijo.

Paijo menunjukkan pengumuman  lowongan melalui gadgetnya. Tertulis, ada 19 lowongan pustakawan ahli, 17 di antaranya bukan dari ilmu perpustakaan. Melainkan bersyarat lulusan sastra jawa, sastra bugis, sastra belanda dan lainnya. Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Loh, bukannya itu keliru, Jo?. Kudunya ya alumni ilmu perpustakaan, tho?”, tanya Karyo.

“Justru itu. Ini luar biasa. Perpustakaan Nasional bertindak progresif, revolusioner, reformis, tentunya anti kemapanan, menerobos kejumudan. Perpusnas sudah memberikan contoh yang bagus dalam pengembangan perpustakaan. Tulodho, Kang. Tulodho alias contoh. Ini harus kita dukung. Saya setuju dengan lowongan ini. Ndak cuma 100%, tapi 110% setuju.” Paijo mulai memunculkan pandangannya.

“Kang, coba lihat, Sastra Jawa bisa jadi pustakawan. Wangun tenan. Saya membayangkan, pekerjaannya tidak hanya menata buku, tapi juga ngaji isinya buku sastra jawa yang ada di perpustakaan. Apalagi itu ada lowongan untuk sastra bali, sastra bugis, sastra batak. Mathuk itu. Perpustakaan mestinya,  jika tidak ada halangan, nantinya akan dipenuhi ahli-ahli, ilmuwan”, Paijo menjelaskan dengan girang, senang, layaknya anak balita disodori susu ibunya ketika kehausan.

Memang Paijo saat ini kukuh dengan pandangannya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari ilmu perpustakaan. Siapapun bisa masuk jadi pustakawan. Syarat pertama mau, kedua mau, ketiga mau, keempat terus belajar belajar. Dengan modal ilmu lain yang dimiliki, maka si pustakawan bukan hanya menyusun jajaran buku. Dia bisa “membaca” isi buku dan menyebarkannya. Paijo berkaca pada ruh aseli saat lahirnya perpustakaan. Pengelolanya bervariasi, dan memiliki latar keilmuwan bermacam. Sehingga lebih optimal dalam “membaca” isinya, tidak sekadar menata fisiknya. Demikian kurang lebih pandangan Paijo saat ini.

“Kalau buku sastra jawa, berbahasa jawa kuno itu ada di tangan alumni ilmu perpustakaan, paling banter diseken, disampuli, lalu disusun di rak, beri kapur barus biar tidak dimakan ngengat, plus ditiup jika ada debunya. Kadang malah panggil jasa perawatan profesional dari luar.  Iyo ora?. Pernyataan sekaligus pertanyaan Paijo membuat Karyo tergegun. Dia tidak menjawab, justru bertanya balik.

“Lha yang nglasifikasi buku siapa, Jo?”. 
“Nah,  itu tugasnya alumni ilmu perpustakaan, Kang. Yang dianggap paling berbobot ya nglasifikasi itu. Hahaha”. 

“Hus. Sampeyan itu ndak sopan, tidak berempati. Lowongan itu dianggap keliru oleh banyak orang, karena menerima dari luar ilmu perpustakaan. Coba hitung, berapa orang alumni ilmu perpustakaan yang kandas karena lowongan itu. Kamu tahu, selama ini sudah dipatenkan bahwa lowongan pustakawan itu cuma untuk alumni ilmu perpustakaan. Kudunya sampeyan meluruskan, jangan malah berdendang  gembira ria dan membuat opini menyesatkan!!”. Karyo bicara dengan ada ditinggikan. 


Paijo pun ngoceh, bahwa dari buku yang dia baca, manusia sekarang kena wabah psikologis, orang  tidak menerima dengan tenang, bahwa kadang ada hal-hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, merasa kalah dikalahkan, ditindas dan lainnya. [1] Nah, untuk itulah, masih sesuai buku yang Paijo baca, harus dilakukan proses mengalahkan perasaan  tertindas, tertekan, kalah dan lainnya, dalam rangka mencapai kemenangan spiritual, kemanangan sejati. [2] "Pustakawan dan calon pustakawan harus tahu filosofi hidup ini, Kang", tutup Paijo, dilanjutkan rentetan pertanyaan.

“Kang, saya tanya: kenapa kudu alumni ilmu perpustakaan? siapa yang mewajibkan? kalau institusi yang mbayari perlu dari luar ilmu perpustakaan, njuk mau apa? protes?. Saya tanya lagi: boleh ndak dari luar ilmu perpustakaan ndaftar S2 ilmu perpustakaan?”.

Sejenak Karyo diam, kemudian menjawab, lirih: “bisa saja”.  

“Dor!!!”, tangan Paijo diposisikan seperti menembak, diarahkan ke Karyo.  “Nah, itu. Kenyataan bahwa pasca sarjana ilmu perpustakaan, atau apapun namanya, menerima mahasiswa dari lulusan non ilmu perpustakaan, itu sudah bukti cetho welo-welo ketok mata, kelihatan dengan mata, mata kita semuanya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari alumni ilmu perpustakaan.”

Fakta yang disampaikan Paijo, membuat Karyo diam. Sejenak suasana hening. Memang benar, Karyo pun punya kenalan yang ambil master bidang perpustakaan. Sementara mereka bukan dari S1 ilmu perpustakaan: ada yang dari bahasa inggris, bahasa indonesia, hubungan internasional,  ada juga dari teknik. Semuanya masuk, diterima, dan tentu saja: lulus.

"Dalam hal lowongan ini, aku bangga dengan perpustakaan nasional, Kang".


Karyo diam, suasana hening. Paijo juga menahan mulutnya. Karyo tahu, Paijo kadang ngomong penuh sindiran, meski kadang juga sebaliknya. Namun dari kalimat terakhir, Karyo yakin bahwa Paijo tenanan, benar-benar setuju dengan langkah Perpustakaan Nasional membuka lowongan untuk non alumni ilmu perpustakaan. 

####

Karyo sedang di halaman rumahnya, meneruskan proses membersihkan ladang tempo hari. Senjatanya pun masih sama: gathul. Sekitar jam 4 sore ketika badan sudah mulai berkeringat, Karyo menghentikan kegiatannya. Dia raih handuk kumal yang disampirkan di genteng emperan. Sebuah ember, ciduk berisi sabun yang tinggal setipis ATM dan juga tinggal sekali pakai, sikat gigi dan odol yang tinggal sak crit, turut dibawanya. Dia hendak ke sungai, mandi sore. Ya, dari pada diomelin istrinya, dan disuruh tidur di kursi kamar tamu, lebih baik dia segera mandi. Apalagi malam itu malam Jumat. Di musim kemarau, sore hari sangat terasa  dingin, namun wajib hukumnya untuk mandi.  

Di atas sungai yang biasa digunakan untuk mandi, terbentang jembatan yang menghubungkan dari barat dan timur. Jembatan itu memiliki pengaman di sisi kiri kanannya. Tampak Paijo sudah nangkring di bibir jembatan. Setelah udur-uduran tempo hari, sore itu pertama kali mereka ketemu. Wajah Paijo menyimpan kalimat. Kalimat yang menunggu waktu paling tepat, untuk disampaikan. Pada siapa lagi kalau bukan ke Karyo?.

“Kang, aku tahu, pandanganku kemarin, tentang lowongan pustakawan dari berbagai jurusan itu berbuntut panjang. Orang jadi tanya padaku: kalau saya kursus kesehatan 3 bulan apa bisa jadi dokter? apa saya bisa ndaftar profesi dokter? apa tukang fotokopi bisa naik jadi pustakawan?, dan lainnya”. Paijo membuka pembicaraan.

Apa yang disampaikan Paijo tersebut memang benar. Biasanya demikianlah tanggapan orang. Paling sering, membandingkan dengan dokter. Karyo pun pernah ditanyai demikian. Karyo sendiri maklum, para alumni ilmu perpustakaan itu sudah kuliah lama, namun ketika lulus, justru lahannya diambil atau bahkan diserahkan pada alumni jurusan lain. Nyesek

Trus kamu jawab piye, Jo?”, Karyo memancing agar Paijo segera mengeluarkan uneg-unegnya. Karyo paham, dengan sedikit pancingan saja, Paijo akan banyak cerita. Bahkan, jika tidak dipotong, cerita pribadi pun bisa mrucut disampaikan. Maka dari itu, dalam rangka ngemong, Karyo kadang memotong penjelasan Paijo.

“Kemarin kan saya sudah bilang, Kang. Bahwa sekolah pasca jurusan ilmu perpustakaan itu bisa dimasuki oleh orang dari berbagai lulusan. Multi entry. Hal itu sudah menunjukkan, bahwa jadi pustakawan itu bisa dari macam-macam bidang studi. Nah, bagaimana dengan dokter?. Paijo mulai menjelaskan.

Paijo menjelaskan bahwa dokter, dan pustakawan itu beda. Yang bisa mengambil pendidikan profesi dokter, ya hanya lulusan pendidikan dokter. Apalagi mengambil spesialis. Dari luar kedokteran, tidak bisa ambil. Apalagi lulusan ilmu perpustakaan. Dari sisi keketatan pendidikan saja sudah kelihatan. Intinya level profesinya beda. 

Ada beberapa level profesi menurut Paijo, ditilik dari siapa yang bisa masuk ke dalamnya. Ada level tinggi, semacam dokter, dan lawyer. Ada yang tingkat di bawahnya, semacam pustakawan, atau wartawan.

###

“Nah, membandingkan pustakawan dengan dokter itu tidak nyambung. Lebih pas dengan wartawan, atau petani!”, kata Paijo. “Besok tak critani lebih lanjut. Sekarang kita mandi dulu. Badanmu wis bau keringat. Jangan kecewakan istrimu malam ini, Kang Karyo.”.

Hus. Omonganmu, Jo”. Karyo buru-buru terjun ke sungai.

[[ bersambung ]]

[1] Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, Mark Manson (2018)
[2] Profesi wong cilik, Iman Budhi Santoso (2017)

catatan:
cerita ini diilhami oleh rasa suka cita terkait berita formasi lowongan pustakawan di http://cpns.perpusnas.go.id/alokasi-formasi/

Monday, 25 September 2017

Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan

Paijo: “enake ngobrol apa, Yo?”
Karyo: “jarene ada nomenklatur baru di pendidikan tinggi, tentang nama departemen dan gelar bagi yang lulus ngangsu ilmu, Jo?


Purwo.co - Keduanya sibuk mengobrolkan tentang nomenklatur yang dimaksud. Tentunya, ngalor ngidul mereka ngobrol ala wong ndeso yang tak punya beban, kecuali beban pekerjaan sehari-hari, yang itupun kadang dilewati dengan senang gembira, lebih pada rekreasi dari pada bekerja. Obrolan itu terasa lengkap, karena ada nasi putih hangat, sambel bawang, tak lupa daun pepaya mentah yang sudah dibersihkan. Persiapan cabe untuk tambahan nyambel, dan juga minuman. Obrolan berlangsung di atas lincak bambu samping rumah.

Obrolan mereka, merupakan obrolan ringan, yang kadang agak nggaya ikut menganalisis keadaan. Padahal, ya dimungkinkan banyak bolong-bolongnya, berbeda dengan kaum cerdik cendikia yang analisisnya setinggi langit dan sedalam sumur minyak. Seperti biasanya, obrolan mereka terkait dunia perpustakaan, dan nyerempet dunia informasi.


Nomenklatur (tentang nomenklatur, lihat di sini) yang baru tentang  nama-nama rumpun ilmu dan program studi telah beredar. Nomenklatur tersebut ada dalam keputusan Menteri Riset, Teknologi,  dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, nomor 257/M/KPT/2017. Keterangan nama program studi perpustkaan ada di lampiran pertama halaman 28. Nah, apa gerangan yang baru di bidang perpustakaan? Itulah pokok obrolan Paijo dan Karyo hari itu.





Ternyata, “perpustakaan” masuk pada bagian sains informasi, yang program studinya disebut “Perpustakaan dan Sains Informasi”. Nama ini juga disebut dalam Bahasa Inggris sebagai “Library and Information Science”. Penyebutan ini urutannya didahului dalam Bahasa Indonesia, kemudian di sampingnya dalam bahasa Inggris. Artinya, nama “gawan bayinya” itu Perpustakaan dan Sains Informasi, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi “Library and Information Science”.



Bingung mana yang diterjemahkan, mana hasil terjemahannya?
Perpustakaan dan Sains Informasi, cukup asing bagi Paijo dan Karyo. Mereka mencoba membuka kamus atau dokumen terpercaya tentang bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, yang di dalamnya memuat ketentuan menuliskan kalimat, menjadi salah satu yang mereka buka.


Hal yang agak asing, terkait Perpustakaan dan Sains Informasi adalah kata “dan” yang memisahkan bagian pertama dan kedua. "Rasane kok aneh, ya?". Perpustakaan dan Sains Informasi, apakah ini justru penerjemahan dari Library and Information Science?. Kayake, dalam bahasa Inggris, science (jika tanpa embel-embel) ditulis di belakang mengikuti ilmu yang disebut. Government Science, misalnya. Jadi kalau Library and Information Science, ya mestinya ilmu perpustakaan dan informasi. Perpustakaan dan Informasi dikenai ilmu, keduanya itu dianggap sebagai ilmu. Berbagai pertanyaan dan hipotesa hinggap di kepala Paijo dan Karyo.



Paijo: kui kayak MD, DM, menerangkan diterangkan, Yo?
Karyo: mungkin, Jo.
Dalam PUEBI ditemukan beberapa contoh penggunaan “dan”. Misalnya “Menteri Pendidikan dan Kebudayaan”. Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan dua kata yang dikenai “menteri”. Artinya si menteri membidangi pendidikan dan juga kebudayaan.  Ada lagi “Presiden dan/atau Wakil Presiden. Jelas di sini, bahwa hanya kata presiden yang kedua yang dikenai kata wakil. Presiden yang pertama tidak dikenai kata wakil.

Coba dibalik menjadi Pendidikan dan Menteri Kebudayaan.



Paijo: Lah, malah dadi aneh kui. Menteri opo kui?
“Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring”. Inggris, tolak, dan ring merupakan jenis kunci. Pada PUEBI semuanya diawali dengan kunci. Sementara itu,  “Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura”, nama jenis batik tetap diawali dengan kata “batik”. Kemudian kalimat “Singkatan nama diri dan gelar”, berarti nama diri dan juga nama gelar. Mungkin karena hanya dua kata yang dipisah, maka “nama” cukup ditulis satu kali. Coba diubah “Singkatan diri dan nama gelar”. Beda ndak artinya?

Contoh lain, selain dari PUEBI, misalnya: kesehatan gigi dan mulut. Gigi dan mulut, dikenai kata kesehatan. Berbeda dengan gigi dan kesehatan mulut, yang artinya gigi sebagai kata benda, dan kesehatan mulut.


Nah, sekarang lihat “Perpustakaan dan Sains Informasi”. Apa yang bisa dianalisis? Pertama kata perpustakaan, kemudian yang kedua sains informasi. Perpustakaan seolah menjadi kata tersendiri dan tidak dikenai “sains”. Sains hanya disematkan pada informasi, sains informasi. Tidak untuk perpustakaan. Rasanya tak ada unsur sains perpustakaan pada nama program studi tersebut.


Loh, kan sains sudah ditulis pada rumpunnya, Sains Informasi yang menaungi “perpustakaan”. Kalau alasan ini digunakan, kok yo yang informasi masih pakai “sains”?


Perpustakaan dan sains informasi, jika dipecah maka terdapat unsur perpustakaan serta sains informasi. Perpustakaan sebagai kata benda yang berarti bangunan perpustakaan serta isinya, serta sains informasi sebagai sebuah sains tentang (yang mempelajari) informasi.


Hal ini akan beda rasa jika bandingkan dengan Sains Informasi dan Perpustakaan, atau Sains Perpustakaan dan Informasi. Informasi dan Perpustakaan menjadi satu kesatuan yang dikenai sains.



Paijo: “nasi tiwul dan goreng, tiwul dan nasi goreng, es teh dan dawet, dawet dan es teh, anak Karyo dan Sipon, Karyo dan anak Sipon”.
Karyo: “hus, jangan bawa-bawa nama saya, Jo.”
Paijo: “loh, saya ini mempraktikkan penjelasanmu je, Yo.”
Karyo: “dada dan buah jambu, buah dada dan jambu”
Paijo: “hus!, aurat”
###
Lalu, apa artinya?
Sekarang jelaslah sudah, bahwa tak ada lagi ilmu perpustakaan. Ini sudah ditunjukkan sendiri oleh nomenklatur yang dikeluarkan pemerintah. 


Karyo: "hmm. Pantesan sekarang para winasis lebih condong ke ilmu informasi, dan mendeklarasikan diri sebagai ilmuwan informasi, ketimbang pustakawan.
###
Antara sains dan ilmu
Munculnya kata “sains” dalam nomenklatur terkait perpustakaan serta informasi, cukup menarik. 


Siapa gerangan yang mengusulkan?
Ilmu, nek ra kleru turunan dari Ø¹Ù„Ù… (sumber di sini) yang berasal dari bahasa Arab. Ilm dan ilmu, telah dikenal sejak lama baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Ilm, ilmu, berilmu, digunakan dalam proses komunikasi sehari-hari. Kita kenal istilah-istilah atau ungkapan sebagai berikut: orang berilmu, ngudi ngelmu, menuntut ilmu, berilmu tinggi, ilmu kanuragan, ilmu kasekten, dan lainnya. Ilm dan ilmu memiliki arti luas.

Sains, agaknya merupakan serapan dari “science”. “The intellectual and practical activity encompassing the systematic study of the structure and behavior of the physical and natural world through observation and experiment: the world of science and technology.“, merupakan salah satu penjelasan tentang makna science, yang bersumber dari kamus yang menempel alat buatannya Mbah Job. Agaknya, science terkait dengan physical dan natural world.


Science, agaknya datang belakangan. Science serta sains, tidak memiliki sejarah panjang dalam penggunaannya di masyarakat kita. Tidak dikenal istilah “orang bersains”, misalnya. Makna sains tidak seluas ilmu. Sains hanya bagian kecil saja dari ilmu.



###

Lalu apa sebab ilmu digantikan sains?
Biar modern? Biar keren? Biar kekinian? Untuk menggeser istilah serapan lainnya?

Sambil mengeluarkan sebatang rokok dan hendak menyulutnya, Paijo berkata, “Rasah digagas, Yo. Penting nyambut gawe. Kita ini, mau mikir kayak gitu serius, ra ana gunane. Kalau besok kita tidak masuk kerja di perpustakaan, iso dipotong gajine. Obrolan kayak gini, bagi kita kan hanya ngisi waktu luang, Kang. Mau informasi, mau perpustakaan, mau ilmu, mau sains, yang penting sawahe digarap."


Karyo yang melihat Paijo, langsung mendekat dan merebut sebatang rokok yang hendak disulut Paijo. 



Karyo: “Udud jangan di sembarang tempat. Orang kalau ndak belajar ilmu informasi, ya ndak tahu bahaya merokok. Tapi omonganmu bener juga, Jo. Cocok. Rasah dipikir, nggo hiburan saja, ojo ngeceh-ceh pikir”.
Paijo
: "iya, mending mikir kapan sawah warisan itu mau ditanami"

Setelah Karyo menjauh, diam-diam Paijo membuka bungkus rokoknya lagi. Sialnya, sebatang rokok yang direbut Karyo adalah yang terakhir. “Wah, bakalan kecut”, Paijo menggerutu.


Sambisari, tanggal 5 Suro, tahun 1951
Jam empat lima puluh delapan pagi