Tuesday, 6 May 2008

Sunday, 4 May 2008

,

Perpustakaan Gunung Kidul

Ketika pulang kampung minggu lalu, ada yang tidak terduga.

Niat awalnya adalah "tilik" orang tua sambil membawa titipan temen yang belum saya sampaikan. Akhirnya pulang, karena sabtu tidak bisa, ya minggu.

Di kota wonosari, karena terhadang iring-iringan Konvoi Partai G****R, terpaksa jalan muter lewat di depan perpustakaan daerah Gunungkidul, nama tepatnya adalah UPTD (Unit Pelaksana Teknik Daerah) Perpustakaan. Tidak disangka ternyata perpustakaan buka pada hari minggu. Karena titipan temen itu mesti saya antarkan ke perpustakaan, kebetulan sekali sekalian mampir. Sebenarnya juga ingin sekali ke almamater, tapi....ndak jadi.

Stelah masuk dan sedikit basa-basi akhirnya saya meluangkan waktu untuk melihat ruang, membaca buku dan sekedar ngobrol dengan pustakawannya.

Saya tidak bisa cerita banyak tt perpustakaan ini, tidak banyak data yang saya dapatkan.

Di perpustakaan ini sudah ada komputer untuk internet sejumlah emm kira-kira 6 unit, kemudian ruang multimedia dan ruang baca. Di ruang multimedia terdapat dua televisi besar yang bisa untuk main game dan nonton film, sementara di ruang internet (menurut) peraturan pengguna hanya bisa mencari informasi, tidak boleh untuk game, buka film, apalagi film porno :) Untuk menjadi anggotapun murah, cuma 1000 rupiah selama setahun (ingat-ingat lupa) CMIIW

Yang membuat saya heran adalah peraturan di ruang internet yaitu LAB BUKAN UNTUK BERLATIH INTERNET.
Pikir saya lab internet di perpustakaan, untuk para anggota perpustakaan, perpustakaan untuk belajar, lha kok kita nggak boleh belajar internet, kok lucu ya..

Ah...semoga saya berkesempatan kesana lagi (paling tidak untuk mengembalikan buku) dan menanyakanya...

Peraturan lab komputerGerbang Perpustakaan
Rak  buku-bukuAnak-anak lagi nontong bareng

Monday, 21 April 2008

, , , , ,

Ngobras :: liat elims :: nonton pameran (estafet dalam sehari)

Pagi itu (20/4/2008) saya janjian dengan beberapa temen jurusan ilmu perpustakaan dan informasi UIN Sunan kalijaga untuk Ngobras (Ngobrol santae Senayan). Jam sembilan lebih saya datang ke UIN. Telat memang, karena janjinya pukul 09:00 (afwan jiddan). Namun sesampainya disana, saya kepikiran untuk ke PKSI-nya UIN guna mendapat lisensi menggunakan fasiltas wifi di lingkungan UIN.

Walah, ternyata ini sabtu ya, kok jadi pelupa gini, UIN kan 5 hari kerja.... Akhirnya guagual, gak berhasil. Kembali ke Perpustakaan, tepat di lokasi parkir ketemu dengan Mas Tarto dan Ari Suseno. Bareng-bareng masuk ke perpustakaan, tambah satu lagi temen, mas Nurwahid.

Akhirnya kamipun ngobrol, nginstall bareng aplikasi Senayan --baik psenayan maupun install sourcenya di xampp--. Mencoba bersama, begitulah kira-kira.

Dari percobaan ini, kita sama-sama mendapatkan manfaat. Ada beberapa "kebingungan" yang sama-sama terpecahkan. Ditemukaannya solusi kegagalan mas Tarto saat instalasi psenayan dan source di xampp, kemudian yang tidak kalah pentingnya dalah ditemukannya bugs baru. Penemuan bugs ini sangat berguna dalam pengembangan Senayan berikutnya...
dsc02114.JPG
Pada pertemuan itu pula, mas Tarto saya daulat untuk ngajari Athenaeum. Jujur saya belm bisa mengoperasionalkan aplikasi ini. Namun, dengan tanpa ragu-ragu mas Tarto berkenan mengajari saya Athenaeum. Kebingungan saya sedikit-demi sedikit mulai terkurangi....

Ditengan-tengah kami asyik ngobrol, datanglah kang Budhi, yang pustakawan double degree sekaligus tentor komputer --hebat kan--, beliaupun kemudian bergabung.

Ah indah memang jika kita mau saling berbagi ilmu....

selesai Ngobras, muncul ide untuk keliling perpustakaan, lihat e-Lims yang diterapkan di UIN. Kami -empat orang- meninggalkan beberapa bawang bawaan kami di ruang multimedia, minta tolong mas Khusairi --yang lagi jaga internet-- untuk menjaga. Akhirnya dengan percaya diri kami naik ke lantai dua. Tapi karena tidak menemukan alat yang kami cari, kami naik lagi menuju lantai tiga.

Disana kami mendekati seonggok alat, yang dijaga dua orang akhwat --cakep lho :) --. Ternyata mereka mahasiswa yang sedang PKL. Dengan penampilan sok akrab, kami bertanya macem-macem tentang alat itu. Beruntung pula, ada mahasiswa yang akan meminjam buku. Hingga kami dapat melihat cara kerja alat tersebut.
dsc02122.JPGdsc02124.JPG
Alat tersebut -yang terlihat jelas dari kejauhan-- hanya monitor, ternyata di depannya terdapat tempat yang kira-kira berukuran 20x20 cm. Monitor memperlihatkan langkah-langkah opesasionnalnya, canggihnya alat ini, touch screen. Baru kali ini saya melihat langsung. Peminjaman menggunakan KTM --single sign on-- dan buku yang dipinjam diletakkan di atas tempat didepan monitor, maksimal 4 buku. Ini dilakukan untuk membaca RFID-nya buku.

Layanan canggih ini, dilengkapi pula dengan ruang perpustakaan yang megah, luas, nyaman. Dengan berbagai corner yang mendukung.

Ah andai semua perpustakaan -minimal- seperti perpustakaan UIN ini...

Setelah puas cuci mata di perpustakaan UIN, saya -sendiri- pergi ke Jogja gallery. Informasi dari temen, disana ada pameran lukisan-foto dan benda kenangan ibu Fatmawati.

Akhirnya sampailah saya disana. Tidak bisa saya ceritakan detail pameran itu. Beberapa kesimpulan dari pameran itu adalah:
Bu Fat adalah sosok ibu yang sederhana dan penyayang
Bu Fat adalah sosok istri yang setia --beliau tidak mau dimadu--
Bu Fat adalah sosok pejuang yang diterima semua
Bu Fat adalah sosok wanita yang Cerdas, dan
Bu Fat adalah sosok wanita yang Cantik... :)

terimakasih
salam

Thursday, 17 April 2008

, ,

Perpustakaan MAN 3 Yogyakarta...

Iseng sebenarnya, tapi karena sangat penasaran akhirnya berusaha datang juga saya ke sana. Kata orang perpustakaan MAN 3 Yogyakarta itu bagus. Juara 1 tingkat nasional.... Hemmmm.

Akhirnya pada hari selasa, 15 April 2008, pada waktu istirahat kerja, setelah workshop SIPUS di UPT Perpuskaan UGM saya sempatkan ke MAN 3.

Kebetulan ada dua teman yang manjadi pustakawan di MAN 3, jadi lebih leluasa dan tidak canggung. :)

Hendak saya ceritakan sekilas tentang perpustakan MAN 3, baik dari pengamatan saya, dari cerita teman saya yang kerja disana (Bu Rita dan Mbak Nuzul), serta dari brosur perpustakaan MAN 3. Wuih keren kan, perpustakaan sekolah punya brosur segala, berwarna lagi.

Saya sampai sekitar pukul duabelas lebih limabelas menit. Para siswa masih istirahat...

Langsung saya menuju ke perpustakaan. Tidak begitu banyak yang ada di sana, kecuali ruang multimedia yang sedang dipakai untuk KBM, beberapa pustakawan dan guru yang sedang asyik membaca. Ah menarik.. setelah berkenalan dengan salah satu pustakawan, saya utarakan bahwa saya mencari Mbak Nuzul/Mbak Rita "Saya teman kuliahnya dulu pak". Sambil menunggu, saya keliling dan mengambil gambar. Wah benar-benar baru kali ini saya menemukan perpustakaan sekolah sebagus ini (apa karena kurang gaul aja ya :) ).

Akhirnya saya ketemu dengan dua pustakawan yang dulu satu angkatan dengan saya (Mbak Rita -pengantin baru nih....--- dan mbak Nuzul). Beberapa hal saya dapatkan dari beliau...
dsc02103.JPGlorong intelektual
Ternyata perpustakaan ini juga di fungsikan sebagai ruang KBM, "kalau pagi sampai siang kadang penuh, sampai nolak-nolak bahkan" kata mbak Rita dalam logat jawa yang begitu kental. "Para gurupun juga dituntut paham tentang perpustakaan" sambungnya. Dari sinilah hubungan antara KBM dan perpustakaan muncul.

Selain itu, beberapa program menjadi unggulan perpustakaan ini:
1. Lomba resensi buku
2. Pendampingan Mayoga Books Lover, dimana perpustakaan dijadikan sebagai tempat kongkow-kongkow (basecamp)
3. Pemilihan best reader dengan kriteria: frekuensi kunjungan, keaktifan mengkomunikasikan bahan bacaannya, dan kesinambungan membaca.
4. Gerakan wakaf buku. Ini diberlakukan bagi siswa yang akan lulus. Mulai 2007 gerakan ini juga diberlakukan bagi guru dan karyawan. --ini ni yang namanya berbagi, jadi kalo punya buku gak cuma dibaca sendiri--
dsc02106.JPG
Oya, untuk sirkulasi perpustakaan ini sudah memakai sarana komputer, atau lazim disebut sistem automasi. Software yang digunakan adalah Siprus. Katalognya dapat diakses lewat internet lho, keren kan.

Sedikit catatan tentang sistem ini:
Menurut saya lebih baik server untuk sirkulasi ditempatkan di lingkungan perpustakaan/Sekolah, sehingga akses menjadi lebih cepat. Bukan lewat jaringan internet dan tidak tergantung jaringan internet. Sementara OPAC bisa disatukan dalam web MAN 3 yogyakarta sendiri. Sehingga urlnya akan lebih enak dibaca dan mencerminkan MAYOGA. Misalnya http://mayoga.sch.id --> untuk web sekolah, sedang OPACnya http://mayoga.sch.id/lib atau http://pustaka.mayoga.sch.id

Konsekwensinya memang karus menyediakan operator khusus untuk maintenance server koleksi/sirkulasi dan updating web.

Ini sekedar cerita.... jika masih ada waktu dan bahan nanti akan ada kelanjutannya...semoga

salam pustaka dan SEMAGAT :)
maaf foto-fotonya belum di unggah :(

Thursday, 10 April 2008

, , ,

Senayan..........

Saya tidak juga tahu, kenapa SENAYAN yang dipilih untuk menandai aplikasi ini.

Lepas dari itu semua, di sini saya ingin bercerita sedikit tentang aplikasi ini.

Senayan merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan. Pengembang utama perangkat lunak ini adalah HEndro Wicaksono (Pemimpin Pengembang sekaligus Pereka Disain Database), Wardiyono (Pereka Disain Database), Arie Nugraha (Penulis Utama Program).

Perangkat ini berjalan dengan model jejaring (web). Cukuplah kita mengaksesnya dengan menggunakan Firefox 2., IE > 6, atau secara garis besar browser yang mendukung AJAX (Java).

Dari manual, serta diskusi dalam kelompok diskusi Senayan, diketahui bahwa Senayan dikembangkan berpijak pada OS Linux namun juga dapat dijalankan di Windows, Solaris, dan FreeBSD, menggunakan bahasa program PHP 5, database Mysql 5, serta AJAX dan berproses sempurna pada server apache 2.

Senayan menawarkan fitur dasar untuk pengelolaan perpustakaan, mulai dari sirkulasi, katalogisasi, laporan, OPAC. Namun demikian Senayan juga menawarkan beberapa fitur unggulan. Fitur tersebut antara lain:

1. Logging, untuk mengetahui jejak pekerjaan aplikasi Senayan - dalam modul System
2. Stock Take, merupakan fitur untuk pekerjaan pemutakhiran koleksi (stock op name).
3. Master file, untuk mencantumkan data babon - ini berguna sekali untuk menguradi pengulangan penulisan data-data yang ada dalam bibliografi (Pengarang, Topik, Penerbit, Tempat Terbit)
4. Pendefinisian hari libur, ini berguna untuk proses penghitungan masa pinjam dan denda.
5. Piranti untuk proses membuat cadangan data (backup) yang begitu mudah
6. Piranti untuk membuat barcode dan juga label koleksi.
7. Fasilitas XML, data lengkap, unggah image dan unggah file koleksi.
8. Didukung pula dengan tampilah mewah yang tentunya dapat kita "obrak-abrik" sesuai dengan keinginan kita.

-------------

Tercatat, selama pengembangan Senayan, tidak hanya ketiga orang diatas yang terlibat.

Sistem pelaporan lobang (bugs) yang dibuat, baik ver 1 http://senayan.diknas.go.id/bugsreport maupun ver 2 http://senayan.diknas.go.id/bugsreport2 telah menampung banyak laporan dan permintaan fasilitas (feature). Hal inilah yang membuat Senayan dapat berkembang. Selain itu, adanya Percobaan Bersama yang dilaksanakan di Perpustakaan Pendidikan Nasional (library@senayan), pada 23 Maret, yang sebelumnya didahului oleh SDD (Senayan Developers Day=Hari bagi Pengembang Senayan), juga menjadi tonggak pengembangan Senayan.


Bagaimana Senayan nantinya, itu tergantung kita semua... khususnya para Pustakawan.

Satu waktu dalam sebuah forum pelatihan saya pernah mengatakan "Belajar Otomasi (meskipun cuma ngoprek) bagi pustakawan adalah Sunat Mu'akad", -- sunat yang mendekati wajib-- (bener nggak ya?), bukan bermaksud apa-apa (saya bukan ahli fiqh), selain memacu para pustakawan dan calon pustakawan untuk dapat bersama-sama belajar....

terimakasih dan mohon maaf.....

Thursday, 3 April 2008

Saturday, 1 March 2008

Nilai Esensial Perpustakaan ===> Oleh : Ana Nadhya Abrar

Lama saya tidak menulis sendiri, hingga harus comot sana sini untuk mengisi blog ini.... Gak papalah, sekalian buat arsip..

di ambil dari Kedaulatan Rakyat
29/02/2008 08:56:45 Hari itu, seorang Wakil Rektor sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta memanggil kepala perpustakaan universitas tersebut. Dia lantas bertanya tentang jumlah uang yang bisa disumbangkan perpustakaan untuk universitas. Rupanya dia berhasrat agar perpustakaan bisa menghasilkan uang.
Mendengar pertanyaan sang wakil rektor, kepala perpustakaan itu bingung sesaat. Setelah itu, dia menjawab terus-terang bahwa perpustakaan tidak mungkin menghasilkan uang. â€Å“Perpustakaan hanya menghabiskan uang,” tambahnya.
Kita tidak mengerti apa yang terlintas dalam pikiran sang wakil rektor setelah mendengar jawaban kepala perpustakaan itu. Yang jelas, perpustakaan adalah sebuah proyek rugi dari segi uang. Tapi, manfaatnya sangat banyak buat peradaban manusia. Itulah sebabnya seluruh buku yang terbit di Amerika Serikat (AS) tercatat di Katalog Perpustakaan Kongres (Library of Congress Cataloging)nya. Lalu, apa sesungguhnya nilai esensial yang dimiliki perpustakaan?
Membuka Kesadaran
Seluruh mantan Presiden AS di zaman modern memiliki perpustakaan pribadi yang terbuka untuk umum. Perpustakaan tersebut disiapkan oleh negara. Tetapi, koleksinya disiapkan oleh mantan presiden yang bersangkutan. Maka kita mengenal Perpustakaan John F Kennedy, Perpustakaan Ronald Reagan dan sebagainya.
Perpustakaan pribadi mantan Presiden AS menyimpan banyak buku. Buku-buku tersebut ada yang dibeli secara pribadi, ada juga yang berupa sumbangan dan bahkan ada pula yang merupakan hadiah. Semuanya mendokumentasikan pengetahuan. Semakin banyak jumlah koleksi bukunya, semakin banyak pula pengetahuan yang tersimpan di perpustakaan itu.
Melalui perpustakaan pribadinya, mantan Presiden AS bisa memperdalam pengetahuannya. Setelah tidak lagi menjadi presiden, dia bisa mendalami pengetahuan di perpustakaan pribadinya. Dia bahkan bisa menemukan sesuatu yang kelak bisa disampaikannya kepada masyarakat. Itulah sebabnya seorang mantan Presiden AS tetap bisa mengikuti perkembangan zaman dan bahkan meresponsnya dengan tepat.
Kalau ditanyakan kepada pemerintah AS tentang alasan pembuatan perpustakaan pribadi mantan Presiden AS, tentu jawaban yang segera muncul adalah: untuk memberikan penghargaan kepada sang mantan presiden. Tetapi, mengapa harus perpustakaan? Bukankah banyak penghargaan lain? Jawaban yang masuk akal adalah, perpustakaan bisa menjadi sekolah hidup. Para pengunjungnya bisa belajar kapan saja di sana. Pembelajaran itu akan membuka kesadaran mereka tentang sebuah zaman, kekuatan bangsanya, perkembangan pengetahuan dan sebagainya. Semakin banyak orang yang memiliki kesadaran semacam ini semakin bermanfaat mereka buat kemajuan bangsa mereka.
Lalu, sudahkah pemerintah Indonesia membuatkan perpustakaan pribadi untuk mantan presidennya? Sepertinya belum. Perpustakaan pribadi yang dimiliki mantan Presiden RI adalah hasil kerja keras sang mantan presiden. Wajar kalau perpustakaan itu tertutup untuk umum. Akibatnya, masyarakat tidak tahu sejauh mana sebenarnya perpustakaan itu menyimpan pengetahuan. Lebih dari itu, masyarakat juga tidak mengerti minat mantan presiden tersebut terhadap pengetahuan.
Mengenal Potensi
Melalui buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan, kita bisa mengetahui bagaimana generasi pendahulu kita menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Sekalipun persoalan itu tergolong besar, toh mereka berhasil menyelesaikannya tanpa kekerasan. Mereka mampu mengendalikan diri dan mengedepankan rasa kasih sayang.
Dalam buku-buku yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana generasi pendahulu kita bekerja keras membangun negara ini. Mereka tidak cengeng dalam berkarya. Mereka tidak berhenti belajar demi menggapai cita-cita mereka. Lebih dari itu, mereka senantiasa mengasah kecerdasan mereka agar bisa memenangkan persaingan dengan sehat.
Semua petuah ini tentu saja membangkitkan kesadaran bahwa kita sebenarnya memiliki potensi untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Kita pernah memiliki etos kerja yang kuat dan senantiasa berusaha demi memuaskan obsesi kita. Kenyataan ini tentu menjadikan kita bersemangat untuk meniru apa yang sudah dilakukan oleh generasi pendahulu kita. Kita pun sadar bahwa sebenarnya kita punya potensi untuk itu.
Menyadari bahwa perpustakaan bisa membangkitkan potensi masyarakat Irak, AS menghancurkan perpustakaan negara milik Irak. AS membumihanguskan semua perpustakaan Irak yang sebenarnya menyimpan karya besar peradaban Islam masa lampau. AS tidak ingin generasi mendatang Irak mengetahui persis potensi yang dimiliki bangsa mereka. Tegasnya, AS memutus mata rantai generasi lama dengan generasi baru Irak.
Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada negara lain yang membumihanguskan perpustakaan milik bangsa Indonesia. Tetapi, perpustakaan kita tidak selalu terawat dengan baik. Tidak jarang perpustakaan kita berlokasi di tempat yang tidak strategis dan suasana di dalamnya tidak nyaman. Akibatnya, perpustakaan tersebut sepi pengunjung. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin masyarakat bisa mengenali potensi bangsa ini?
Memperoleh Rujukan
Sesungguhnya kita tidak bisa berpendapat tanpa mengetahui pendapat orang lain. Pendapat kita, sekalipun berbeda dengan pendapat orang lain, dipicu oleh pendapat orang lain. Tetapi, tidak berarti bahwa kita harus menunggu pendapat orang lain dulu sebelum berpendapat. Pendapat kita hanya tidak pernah lahir begitu saja.
Keadaan seperti ini menyebabkan kita tidak pernah berhenti mencari rujukan. Kita akan merasa tidak percaya diri bila tidak memiliki rujukan dalam berpendapat. Kita bahkan akan disebut sombong bila tidak punya rujukan dalam berpendapat. Maka mencari rujukan menjadi semacam keniscayaan bagi manusia sebelum membuat keputusan.
Rujukan itu bisa kita peroleh melalui buku-buku yang disimpan di perpustakaan. Rujukan tersebut sangat luas. Bagi orang-orang yang sangat tekun, mereka bisa memperoleh rujukan yang sangat lengkap di perpustakaan. Bagi yang tidak, mereka juga bisa menemukan rujukan di perpustakaan. Tegasnya, mereka yang memang berniat mencari rujukan, perpustakaan memang tempatnya.
Bagi mereka yang menulis makalah, skripsi, laporan penelitian, rujukan menjadi sangat penting. Ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa pada akhir tulisan tersebut tertulis â€Å“daftar pustaka”. â€Å“Daftar pustaka” di sini tidak berarti nama-nama pustaka yang mereka kunjungi, melainkan daftar buku yang mereka pakai sebagai rujukan. Buku-buku ini bisa dibaca di perpustakaan.
Pentingnya perpustakaan sebagai tempat mencari rujukan disampaikan secara plastis oleh sebuah film berjudul â€Å“National Treasure: Book of Secrets” yang dibintangi oleh Nicolas Cage. Di film itu diceritakan, untuk memperoleh informasi tentang rujukan tentang kota yang hilang (lost city), Nicolas Cage harus menyandera Presiden AS. Dari Presiden AS inilah dia mengetahui rujukan yang dia cari ternyata tersimpan di Pustaka Kongres AS. Berdasarkan rujukan itulah dia kemudian berhasil menemukan kota yang hilang dan membersihkan nama kakek buyutnya yang dituduh sebagai pembunuh Abraham Lincoln. q - m. (3172-2008).
*) Ana Nadhya Abrar, Pengajar Fisipol UGM dan kandidat doktor dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

Wednesday, 13 February 2008

Catatan kecil hatiku...

Awalnya tulisan ini saya terima cukup panjang, namun karena sesuatu hal, hanya puisinya saja yang saya postingkan.


menjelajah dunia, menelisik warnanya
mencari....tantangan, untuk menempa kedewasaan
saat kembali, kuingin bercerita
langit itu biru
hujan itu air bukan sembarang air
sungai itu mengalir mengalunkan nada
pohon itu hijau
dan gunung itu tinggi
semua kuceritakan dengan cerita yang akan berbeda
bercerita dengan cinta, karena penjelajahan itu telah kudapati cintaNYA
dan yang paling ingin kucerita.....adalah tentang pelangi
biar tinggi di langit, dia terasa dekat
biar menjulang ke angkasa, dia seakan dapat diraih
biar beda tiap warnanya, dia tetap satu….INDAH
di biru langitNYA
semua ingin kuceritakan, di sebuah rumah
yang kubangun dengan cintaku dan cintaNYA


(Bidadari Syurga)

Monday, 11 February 2008

Kisah Jumat sore.....

ditulis atas saran dari Fitri S.

Mulai dari rabu malem, saya bersama dua temen, Mas Heri dan Mas Arif disibukkan dengan beberapa persiapan untuk membantu sebuah pelatihan perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga. Tepatnya Rabu malem, lembur burning CD yang akan dibagikan pada hari Kamis. Kamis pagi sampe sore, seharian penuh di UIN. Malemnya masih harus bertemu lagi dengan peserta, sampe sekitar jam 9 malem.

Sampailah pada hari jum'at. Kantor sedang libur, hingga bisa digunakan untuk istirahat. Setelah merasa cukup istirahat, sore harinya saya mempersiapkan hal-hal untuk pelatihan perpustakaan di UAD. Pelatihan ini kami lakukan bertiga, atas nama Jogjasoft.com (saya, Mas Heri Abi, dan Mas Arif Surachman). Satu hal yang mesti saya lakukan adalah mengantarkan inventaris printer ke rumah Mas Arif, yang kami jadikan tempat kongkow-kongkow. Menjelang magrib saya sampe disana. Ternyata Mas Arif, Mbak Fafa (Istrinya) dan Nada (anaknya) tidak ada. Kata Mbak yang jaga rumah, sedang keluar sebentar.

Saya titipkan dulu printer di dalam rumah, kemudian saya sempatkan membeli kertas HVS. Setelah kembali ke rumah Mas Arif, beberapa saat kemudian beliau bertiga datang.

Di dalam rumah, saya dan mas Arif membuka printer yang memang masih di segel, kemudian memasang di komputer. Sambil menunggu intalasi driver kami ngobrol ngalor ngidul. Mendadak Nada (anak mas Arif) datang sambil bawa mainan uang-uangan dari kertas. Sambil bermain dia memperlihatkan keluguan dan kelucuan anak kecil.

Tiba-tiba "om uangnya kejepit" seru Nada. Ternyata uang-uangan Nada keinjek kaki kursi yang saya duduki. Kemudian saya berdiri memberi kesempatan Nada untuk mengambil uangnya.

Saya kira uang-uangannya sudah diambil, saya berniat duduk lagi. Baru beberapa persen badan saya mau duduk, Nada teriak "aduhhhhh sakitttttttt" Dalam hati saya bertanya "Kenapa sih". Lha ternyata jari Nada keinjek kursi yang saya duduki. Dia langsung menjerit menangis, wajahnya memerah pula. Ya Allah salah saya ini.

Mbak Fafa langsung menggendongnya dalam keadaan terus menangis. "Maafin Om ya Nada" hanya kata-kata itu yang bisa muncul dari mulut saya. Dalam kamar saya mendengar dia masih saja menangis. Sumpah, jadi belingsatan saya waktu itu. Kacau.... Saya bilang ke mas Arif, "bawa ke dokter saja mas". "Nggap papa kok, paling cuma memar sedikit, nanti juga sembuh sendiri" jawab mas Arif.

Setelah magrib saya pulang. Pikiran saya gak karuan...betapa jahatnya saya, bikin anak kecil menangis keras, dengan wajah memerah pula. Pasti sakit sekali.

Di jalan, sya merasa ada sms masuk ke hp saya. Saya buka, ternyata mas Arif yang SMS dengan mengatas namakan Nada. Bunyinya gini "om tangan Nada da sembuh kok, ni sudah main game HP. maafi Nada ya om, tadi nabok Om". Kemudian saya balas "Alhamdulillah, Om yang minta maaf, om kurang hati-hati. Satu pelajaran yang om dapet sore ini, bahwa om harus lebih hati-hati. Om doa moga tangan Nada cepat sembuh dan Nada jadi anak pinter"

Sesampainya di kos, saya coba taruh jadi di bawah kaki kursi, kemudian saya sedikit duduk. Ternyata memang sakit... bagi saya saja sakit, apalagi bagi Nada yang masih 4 tahunan.

Nada, maafin om ya... :)

Friday, 1 February 2008

Membunuh Kreativitas --tentang HAKI--

sumber jawa pos

Oleh Nurul Barizah

Tulisan ini mencermati fatwa MUI tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang dikeluarkan sebagai respons atas permohonan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP). Prinsipnya, mendukung usaha pemerintah memerangi banjir pembajakan di Indonesia.

Berdasarkan fatwa tersebut, pelanggaran HKI di Indonesia sudah berada pada taraf mengganggu, merugikan, dan membahayakan berbagai pihak, terutama para pemegang hak, negara, dan masyarakat. Karena itu, MUI mengeluarkan fatwa tentang status hukum Islam HKI sebagai petunjuk bagi umat Islam.

Intinya, pertama, HKI yang mendapat perlindungan hukum Islam adalah HKI yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Kedua, setiap bentuk pelanggaran, termasuk pembajakan, adalah zalim. Status hukumnya haram.

Permasalahan

Lalu, apa permasalahannya? Tentu, ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam fatwa tersebut.

Pertama, ditetapkan bahwa HKI yang mendapat perlindungan adalah yang tidak bertentangan dengan hukum Islam, secara incontrario, berarti MUI mengakui bahwa tidak semua HKI itu sesuai dengan Islam, atau ada HKI yang bertentangan dengan hukum Islam.

Namun, fatwa itu tidak menjelaskan lebih lanjut, mana HKI yang sesuai dengan Islam dan mana yang tidak, dan apa batasannya. Pada ketentuan umum, MUI menjelaskan cakupan HKI, namun tidak menjelaskan bagian mana yang tidak Islami.

Kedua, penjatuhan status hukum haram terhadap pelanggaran hukum publik (hukum tentang HKI) sama artinya dengan menganggap bahwa penggunaan HKI tanpa izin pemegang hak adalah zalim dan melanggar hukum Allah bagi setiap pelanggarnya.

Mencampurkan konsep haram (hukum Allah) dengan pelanggaran hukum positif adalah kurang tepat karena seseorang dianggap melanggar hukum positif jika telah ada putusan pengadilan yang tetap. Hukum positif adalah hukum yang dinamis, dapat berubah setiap waktu.

Jika konsep haram dikaitkan dengan hukum positif, maka konsep haram juga akan berubah-rubah sesuai dengan kondisi. Bukankah hal ini tidak malah membinggungkan?

Ketiga, sifat pelanggaran HKI itu termasuk innocent infringement atau passive infringement. Artinya, pelanggaran bisa terjadi tanpa adanya niat untuk melanggar atau tanpa adanya kesengajaan. Apakah passive infringement ini termasuk HKI yang sesuai dengan Islam menurut fatwa tersebut?

Jika passive infringement juga haram karena melanggar hukum positif, pertanyaannya, bagaimana seseorang yang di luar prediksinya atau secara kebetulan menciptakan desain atau merek tertentu dan ternyata hasilnya sama dengan desain yang sudah ada sebagai perbuatan yang zalim dan haram? Tidakkah ini akan membunuh kreativitas?

Bagi yang mengikuti fatwa tersebut, barangkali, lebih baik memilih tidak kreatif daripada melakukan dosa. Karena itu, fatwa MUI tersebut menjadi kontraproduktif.

Keempat, dalam invensi di bidang bioteknologi, sumber daya genetik, varietas tanaman, pelanggaran pasif merupakan masalah yang serius. Kasus Monsanto v Percy Schemeiser jadi keprihatinan berbagai pihak. Scheimeiser, seorang petani Kanada, mengembangkan canolanya sendiri, sedangkan tetangga petani lainnya membeli bibit Roundup Ready Canola dari perusahaan Monsanto. Dia juga menyimpan sebagian hasil panen untuk ditanam pada musim tanam berikutnya seperti petani Indonesia.

Ternyata berdasarkan investigasi pihak Monsanto, ditemukan Roundup Ready Canola tanpa lisensi tumbuh di ladang miliknya. Meski bukti di pengadilan meyakinkan Canola tersebut menyebar ke ladang Schemeiser tanpa disengaja, secara alamiah dengan proses; (1) penyerbukan silang oleh serangga dan angin; (2) bibit terbang dari truk tetangga yang tutupnya lepas dan kantong bibit yang bocor; dan (3) bibit yang menempel dari alat-alat pertanian yang tidak dibersihkan.

Namun, putusan pengadilan tetap menyatakan Schemeiser bersalah dan menghukum membayar denda serta ganti rugi miliaran.

Jika kasus tersebut terjadi di Indonesia dan menimpa petani kecil, apakah petani yang di lahannya tumbuh secara tidak sengaja suatu tanaman yang dilindungi HKI tanpa lisensi termasuk dalam kategori haram berdasarkan pandangan MUI? Dan petaninya dianggap melakukan dosa?

Jika demikian, betapa tidak fairnya perlindungan HKI itu, betapa tidak adilnya aturan Islam yang dimanifestasikan dalam fatwa tersebut. Bukankah Islam itu agama yang adil? Kenapa yang dipermasalahkan cuma VCD bajakan, software bajakan, kepentingan siapa sebenarnya di balik itu semua? Kepentingan negara Indonesia? Kepentingan masyarakat Indonesia? Tentu MUI sudah tahu jawabannya.

Pengguna Hak

Terakhir, maraknya pembajakan HKI seharusnya tidak semata-mata dilihat dari perspektif pemegang hak saja, tetapi juga pengguna hak. HKI tidaklah hanya norma hukum positif yang melindungi karya intelektual dan alat untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi.

HKI juga mesti dipahami menyeluruh dari berbagai perspektif, filosofi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dampaknya bagi masyarakat secara keseluruhan dalam akses terhadap barang-barang publik dan vital lainnya.

HKI bukan hanya pembagian kue ekonomi dan wealth creation bagi pemegang hak, tetapi juga berkaitan langsung dengan distribusi sumber daya langka. Lebih-lebih di bidang kesehatan, HKI merupakan masalah hidup dan mati.


Nurul Barizah, dosen Hukum Hak Kekayaan Intelektual pada Fakultas Hukum Unair, sedang menempuh program PhD pada University of Technology, Sydney