Wednesday, 31 May 2017

URL bermanfaat untuk belajar Latex

Latex merupakan aplikasi untuk membuat dokumen, dengan filosofi WYSIWYM (what you see is what you mean).

Berikut beberapa URL yang berisi informasi singkat untuk belajar latex dasar.

https://bellatania68.wordpress.com/2013/07/10/membuat-jurnal-menggunakan-latex/
Tulisan di atas, bisa diikuti dan dipraktikkan untuk belajar dasar menulis menggunakan Latex dari baris awal.


http://komunitas.ui.ac.id/mod/groups/topicposts.php?topic=12949&group_guid=1572
Berisi template tugas akhir, dan contoh hasilnya. Dibuat oleh komunitas UI

https://en.wikibooks.org/wiki/LaTeX
Tutorial Latex dari A-Z. Jika sudah mencoba membuat sendiri melalui URL paling atas, bisa dikembangkan menggunakan berbagai tips di web ini, dan di bawah ini.

https://www.sharelatex.com/learn/Headers_and_footers
Berisi tips membuat header dan footer pada latex

https://www.latextemplates.com/  dan https://www.sharelatex.com/templates/
Dua web di atas, menyediakan template berbagai gaya. Bisa digunakan untuk meningkatkan hacking latexnya.

Monday, 29 May 2017

Afi Nihaya Faradisa: siswi yang suka membaca buku di perpustakaan



Video di atas, merupakan rekaman diskusi di FISIPOL UGM, yang menghadirkan siswi SMA yang sempat membuat heboh jagad media sosial melalui tulisannya, Asa Firda Inaya yang dikenal dengan nama Afi Nihaya Faradisa (AFI). Diskusi dimoderatori oleh dosen "gaul" dari DPP (Departemen Politik dan Pemerintahan), Dr. Abdul Gaffar Karim.

Saya tidak mengikuti diskusinya dari awal, juga belum mendengarkan video yang tidak sempat saya ikuti streamingnya. Namun, satu hal yang menjawab pertanyaan saya terkait AFI dan perpustakaan, yaitu AFI ternyata sering membaca buku di perpustakaan sekolahnya. Dia menyebut perpustakaan sekolahnya terbuka untuk dia bebas keluar masuk. Dia juga menyampaikan membaca beberapa buku berat (bagi saya, karena belum pernah membaca -tet-tot-), yaitu Ihya Ulummudin, Riyadus Shalihin dan semacamnya. Dua buku yang direkomendasikan AFI bagi anak muda adalah The Magic of Thinking Big, dan 7 Habbit-nya Covey.

Afi suka membaca dari internet dan buku. Dia punya target 1-3 buku dibaca dalam sebulan. (http://regional.liputan6.com/read/2962063/afi-si-penulis-warisan-dapat-tawaran-beasiswa-kuliah.

Tulisan Afi, yang kabarnya sempat menghebohkan saya peroleh lognya di https://hype.idntimes.com/viral/amanda-14/tulisan-afi-nihaya-ini-bikin-merinding-c1c2/full. Jika dilihat isinya, memang mungkin ada yang terganggu, mungkin juga biasa saja. Saya sendiri merasa tulisan tersebut tidak ada yang perlu ditakutkan.  Afi juga mengonfirmasi saat diskusi, terkait kebenaran agama, "semua agama benar, bagi pemeluknya masing-masing. titik.".


Glorifikasi
Istilah ini muncul ketika diskusi. Semua sepakat, bahwa glorifikasi bagi Afi justru membahayakan. Di KBBI https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/glorifikasi, glorifikasi diartikan dengan n proses, cara, perbuatan meluhurkan, memuliakan dan sebagainya. Afi pun sekapat, glorifikasi pada dirinya justru akan berakibat buruk. Justru kritik (baik biasa maupun pedas) akan membuatnya bisa selalu memperbaiki diri dan idenya.

Menulis, bagi anak muda di Indonesia adalah hal istimewa, jangan ganggu mereka dengan dalih macam-macam. Jika tidak setuju, ajak saja diskusi, dan hadapi dengan tulisan.

Friday, 26 May 2017

,

Artikel "Mengembangkan Perpustakaan FT UGM", dan "Kompetensi Scholarly Communication untuk pustakawan"

Berikut ini, dua artikel yang saya tulis dalam rangka lomba penulisan Dies Perpustakaan UGM tahun 2015 dan 2016.

Keduanya telah diterbitkan dalam bentuk buku dan di berkala Media Informasi. Namun, untuk kepentingan penyebaran informasi, bukan sebagai tulisan baru, saya unggah pula di repository.ugm.ac.id, atas ijin Kepala Perpustakaan UGM.  Sebelum saya unggah, saya format ulang menggunakan Latex dengan memanfaatkan template Elsarticle.


Artikel berjudul Scholarly Communication: kompetensi wajib pustakawan perguruan tinggi, dapat diunduh di https://repository.ugm.ac.id/273436/ (menunggu indeks selesai 24 jam, akan online pada 27 Mei 2017)



Artikel berjudul Membangun Perpustakaan Kreatif: Pengalaman Pengembangan Perpustakaan Fakultas Teknik UGM  dapat diunduh di https://repository.ugm.ac.id/273434/ (menunggu indeks selesai 24 jam, akan online pada 27 Mei 2017)

, ,

Kahoot, aplikasi sederhana untuk membuat game dan kuis di perpustakaan

Kuis dan game memang menarik, tentunya juga untuk perpustakaan. Nah, kali ini saya coba tuliskan secara singkat tentang Kahoot, aplikasi berbasis web yang dapat digunakan untuk membuat kuis dan game sederhana.

Kahoot terbagi dua, untuk peserta dan untuk admin. Untuk peserta beralaman di kahoot.it, sedangkan untuk admin https://getkahoot.com/.

Admin dapat melalukan login menggunakan akun Gmail, atau akun lainnya. Tentunya ini memudahkan bagi yang sudah memiliki akun Gmail atau FB, karena dapat menggunakan single ID.

Kahoot memiliki 4 fitur: game, kuis, diskusi dan survey. Untuk game, kita bisa membuat jenis pertanyaan, dan menentukan jawaban yang paling tepat serta waktu yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Uniknya, jawaban nantinya akan diwakili oleh gambar dan warna. Peserta diminta memilih warna/gambar yang mewakili jawaban.

Nah, disinilah serunya. Selain mencari jawaban yang tepat, peserta hanya memastikan agar tidak salah sentuh (klik) ketika memilih jawaban.
Memilih tipe kuis yang akan dibuat oleh admin


tampilan di layar peserta
Tampilan pertanyaan di layar admin yang bisa dilihat peserta
 Admin harus menampilkan gambar di atas di layar besar, sehingga bisa dilihat oleh peserta. Peserta, setelah sebelumnya diminta masuk ke kahoot.it dan memasukkan pin serta nama, akan disodori pilihan gambar seperti di bawah ini.

Peserta harus memilih gambar untuk menjawab


Nah, peserta harus milih gambar yang mewakili jawaban. Jika game telah selesai, maka di layar admin akan diinformasikan nama pemenangnya. Jawaban dinilai dari ketepatan dan kecepatan menjawab.

Beberapa gambar di atas, adalah penggunaan Kahoot type kuis. Untuk type game dan lainnya, silakan pelajari sendiri.

Game atau kuis tersebut, bisa digunakan untuk kepentingan sosialisasi sumber informasi, literasi informasi, atau sekedar selingan di sebuah acara perpustakaan.

Selain Kahoot, coba juga https://quizizz.com/join yang juga bisa digunakan untuk kuis jarak jauh. Dengan cara ini, peserta bisa ada diberbagai tempat. Soal bisa diacak, dan dibatasi waktunya. 

Coba juga  menti.com

Monday, 17 April 2017

Prof. Panut Mulyono, rektor UGM (2017-2022) terpilih, yang sabar meniti karir struktural sejak 1994

Prof. Panut Mulyono
Pada Senin (17/4) Rektor UGM 2017 - 2022 telah terpilih. Setelah melalui proses awal, akhirnya muncul 3 nama yang dipilih oleh MWA (25 suara). Tiga nama yang dibawa ke MWA UGM adalah Prof. Panut Mulyono, Prof. Ali Agus, Dr. Erwan Agus.

Di level MWA ini, pilihan dilakukan dalam 3 putaran. Putaran pertama, Prof. Panut Mulyono mendapat 11 suara, Dr. Erwan Agus 7 suara, Prof. Ali Agus 7 suara.

Putaran kedua antara Dr. Erwan Agus dan Prof. Ali Agus untuk menentukan yang akan "melawan" Prof. Panut Mulyono di putaran final. Akhirnya Prof. Ali Agus mendapatkan suara lebih banyak dari Dr. Erwan Agus, untuk kemudian dipilih bersama Prof. Panut Mulyono.

hasil akhir
Pada tahap 3, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. mendapatkan suara 15, sementara Prof. Ali Agus 10, sehingga rektor terpilih UGM 2017-2022 adalah Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., yang saat ini merupakan dekan FT UGM.

Penelusuran saya pada buku profil dosen dan karyawan FT UGM, yang terbit 1 Februari 2008, tercatat Prof. Panut memulai karir struktural di KPFT sejak 1994, yaitu sebagai PPF (Pembantu Pengurus Fakultas) Bidang Sarana Prasarana. Saat itu dekan FT UGM dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Sri Harto, dan Prof. Panut belum menjadi profesor.

Parto: benar-benar karir dari bawah, ya Kang?
Karyo: Iya, To. Buah dari kesabaran.

Sri Sultan memilih
Karir di FT ini dilalui Prof. Panut dalam beberapa jabatan berbeda sampai menjadi dekan FT UGM 2 periode. Saat terpilih menjadi rektor, Prof. Panut menjalankan jabatan dekan periode dua.

Berikutnya, tahun 1997-1998, Prof. Panut masih menjadi PPF bidang sarana prasarana. Berikut ini kutipan lengkap beberapa jejak karir Prof. Panut Mulyono.

1994 - 1997: PPF Bidang Sarana Prasana
1997 - 1998: PPF Bidang Sarana Prasarana
1998 - 2000: PPF Bidang Sarana Prasarana
2000 - 2004: PPF Bidang Sarana Prasana, kemudian berganti menjadi PPF Bidang Keuangan
2004 - 2008: Asistek Wadek bidang Perencanaan dan Sarana Prasarana
2008 - 2012: Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan
2012 - 2016: Dekan FT UGM
2016 - sekarang: Dekan FT UGM

Setelah 23 tahun berlalu sejak 1994, tepatnya 17 April 2017, Prof. Panut Mulyono terpilih menjadi Rektor UGM pada sidang MWA. Jabatan tertinggi di UGM yang diraih dari titian awal jabatan. Sebuah kesabaran menjalani amanah yang menurut saya, luar biasa.

Akhirnya telah terpilih Rektor UGM 2017-2022, sosok yang dulu sering menghabiskan waktu di perpustakaan UGM (sekip) dan di gelanggang mahasiswa [1], Prof. Panut Mulyono.

Selamat, semoga dapat membawa gerbong UGM menjadi lebih baik lagi.



tahap pertama
Prof. Sofian Effendie memberi sambutan

penghitungan tahap 3

Dato Sri Tahir memilih


Prof. Pratikno memimpin sidang





Referensi:

[1] lihat http://kagama.co/prof-ir-panut-mulyono-m-eng-d-eng-sering-tidur-di-gelanggang-mahasiswa-ugm

Sumber data: Profil Dosen dan Karyawan FT UGM, diterbitkan oleh Fakultas Teknik UGM tahun 2008. Kecuali data setelah 2008, dari saya sendiri (hasil mengingat) :)

Sumber gambar: capture dari streaming ugm.ac.id/streaming, saat proses pemilihan.

Foto Prof. Panut Mulyono: http://ft.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2016/12/10R-2_resize.jpg

Baca juga http://bulaksumurugm.com/wawancara-eksklusif-prof-ir-panut-mulyono-m-eng-d-eng-rektor-harus-berpikir-besar-bertingkah-detail/


Thursday, 13 April 2017

, ,

Beberapa software ini perlu dikuasai oleh Pustakawan Perguruan Tinggi

Teman-teman, tulisan ini hanya berdasar yang saya rasakan saja, sebagai praktisi. Bukan dari riset ilmiah ala ilmuwan perpustakaan.

Selama 5 tahun mengabdi di Perpusakaan FT UGM, setelah sebelumnya 8 tahun di Jurusan Teknik Geologi, maka saya menyarankan beberapa aplikasi berikut untuk dipelajari dan dikuasai. Tujuannya, untuk meningkatkan layanan perpustakaan dalam bentuk pendampingan atau bimbingan penggunaannya pada mahasiswa.

Tolong jangan ditanya, "bagaimana itu dikaitkan dengan kerja pustkawan, apakah itu pekerjaan pustakawan?". Hehe, kadang saya ndak berfikir ekstrim seperti itu. Apa yang bisa kita lakukan untuk mahasiswa, itu lebih penting daripada mendiskusikan idealisme kerja kepustakawanan. Jangan protes yak. Tapi, saya rasa kaitannya dengan beberapa aplikasi yang saya tulis ini, masih berhubungan dengan kerja kepustakawanan.

Sing paling utomo, kudu seneng lan bergembira. 

Aplikasi yang saya tuliskan di bawah ini berkaitkan dengan peran layanan  langsung pustakawan pada mahasiswa. Untuk software yang mendukung layanan secara tidak langsung, saya akan tuliskan pada postingan lainnya.

Paijo: "bedanya layanan langsung dan tidak langsung, apa To?"
Parto: "embuh".

Zotero, Mendeley, Endnote, serta file RIS, BIB
Zotero, Mendeley dan Endnote adalah aplikasi untuk pengelolaan referensi. Intinya, aplikasi tersebut menjadi sebuah katalog induk dari koleksi referensi, baik itu buku, jurnal, prosiding dan semacamnya, tercetak maupun digital. Jika semua sudah dikelola di dalamnya, maka si pemilik akan mudah menemukan dan membacanya. Selain itu, aplikasi tersebut akan membantu dalam membuat kutipan dan daftar pustaka.
Lalu, apa itu bib dan ris?.
Bib dan Ris adalah format file dari metadata referensi. Jurnal online, biasanya menyertakan file jenis ini pada databasenya, untuk diunduh dan digunakan. Cara penggunaannya mudah. Bisa diimport ke aplikasi Zotero, Mendeley atau Endnote; atau digunakan untuk membuat referensi di aplikasi berbasis tex (latex atau lyx).

Latex
Latex adalah aplikasi untuk membuat tulisan, mirip seperti Ms. Word atau Libreoffice. Namun filosofinya beda. Ms. Word dan Libre itu What You See is What You Get. Sedangkan Latex menggunakan filosofi What You See is What You Mean.
Beberapa jurnal mensyaratkan penulisan artikelnya menggunakan Latex, terutama jurnal yang mmuat banyak rumus. Aplikasi ini populer di kalangan matematikawan.
Menguasai aplikasi ini, akan menciptakan peran baru pustakawan terkait literasi teknologi.

Powerpoint 
Lah, itu kan aplikasi yang sudah umum, ngapain di tulis di sini?. Beberapa mahasiswa belum mendalami powerpoint secara baik. Sehingga hasil slidenya juga standard saja. Coba dalami berbagai fitur di PP, niscaya akan sangat bermanfaat untuk layanan.

Prezi
Aplikasi ini ada yang berbayar ada yang gratis. Digunakan untuk membuat presentasi, dengan beberapa kelebihan. Menguasai aplikasi ini akan melengkapi kemampuan Powerpoint sebagai alternatif lain untuk membuat presentasi.

Xmind dan Mindmapple
Aplikasi ini digunakan untuk membuat peta konsep. Selain itu, khusus Mindmapple versi free juga bisa menkonversi filenya ke Ms. Word atau Powerpoint. Sehingga, jika digunakan untuk membuat konsep riset atau konsep presentasi, akan mudah dilanjutkan penulisannya di PP atau di Word.

Ms. Word dan Libreoffice Write
Dua aplikasi ini digunakan untuk menulis. Lalu apa yang harus didalami pustakawan? Word dan Libre untuk menulis ilmiah. Coba cek ke mahasiswa, bagaimana cara mereka membuat daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, memanipulasi halaman, memanipulasi nomor halaman, membuat halaman arab dan romawi. Jika ada yang membuat daftar isi dengan cara nulis manual, maka akan kesulita jika ada perubahan nomor halaman.
Nah, heading style di Ms. Word dan Libre Write akan membantu hal ini.

yEd, DIA
Dua aplikasi ini alternatif untuk membuat flowchart selain Visio. yEd dan DIA gratis dan dapat diunduh secara bebas


Mendeley data
Lanjutan dari fitur di Mendeley, Mendeley Data digunakan untuk mengelola data riset. Fungsi lebih lanjut silakan buka http://www.purwo.co/2016/06/mengelola-data-riset-menggunakan.html atau di webnya langsung, https://data.mendeley.com.

----------------

Masih ada yang lain? mestinya masih.

Saya tidak merampatkan semua pustakawan perguruan tinggi harus menguasai aplikasi di atas. Bisa jadi ada skala prioritas atau semacamnya. Yang perlu digaris bawahi adalah bergembira.




Sambisari, 
Kemis Pon, 16 Rejeb 1950, tahun Je, Sengoro Langkir.
Esuk, jam 5.57 wektu Indonesia ireng kulon 




Tuesday, 11 April 2017

Mencoba Menggunakan Handl.in, platform registrasi online buatan warga UGM

Handl.In, "Let’s take your event registration to the next level!" demikian ditulis dalam web https://www.handl.in/.

Web ini mirip seperti eventbrite, namun dibuat oleh lokal Indonesia, khususnya lokal UGM. Namun demikian, dapat digunakan oleh siapapun. Lebih lengkap tentang siapa dibalik HI ini, cek di https://www.handl.in/about_us.

Saya mencoba memanfaatkan HI untuk beberapa acara di perpustakaan FT UGM. Membuat acara cukup mudah, dengan tampilan yang sederhanya, tidak banyak pernak-perniknya.
HI dapat digunakan untuk acara gratis maupun berbayar, dengan skema tertentu. Untuk acara gratis, tidak dipungut biaya apapun.

Model konfirmasi pada pendaftar menggunakan email. Setelah pendaftar mendaftar acara, pemilik acara dapat mengirim balik verifikasi, dan si pendaftar, dapat melakukan konfirmasi via email secara otomatis. HI juga dilengkapi form manual. Misalnya ada yang mendaftar secara offline pun, bisa dimasukkan ke form di HI oleh admin.

Untuk mengingatkan pendaftar, akan ada email reminder H-2 acara.

contoh konfirmasi
contoh tiket



tampilan form juga sudah responsiv


Mari kita coba gunakan produk dalam negeri.



Monday, 10 April 2017

Penyelenggaraan Diklat Kepala Perpustakaan Sekolah untuk Guru: strategi, bisnis atau sebuah bentuk pengkhianatan intelektual?


Paijo: nulis opo meneh iki, Dul?
Dul: hus, iki latihan nulis. Rak ra popo, tho?. Yo isih iso kleru, Jo. Tak akoni.

Paijo: karepmu! 


Purwo.co - Sebagaimana kita ketahui, ada penyelenggarakan diklat Kepala Perpustakaan Sekolah. Dasar dari pelaksanaan kegiatan ini adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 25 tahun 2008. Pada peraturan ini disebutkan bahwa perpustakaan sekolah DAPAT mengangkat kepala perpustakaan, dengan beberapa dasar.

dapat, bukan wajib
Beberapa institusi dan juga asosiasi profesi, ada yang ikut menyelenggarakan diklat ini. Tentunya dengan beberapa asesoris yang ditawarkan untuk menarik peserta. Salah satunya adalah MoU kerjasama dengan Perpustakaan Nasional, bahwa si institusi atau asosiasi memang mendapatkan mandat untuk menyelenggarakannya.

Siapa peserta kegiatan diklat ini?

Jika dilihat dari peraturan menteri, ada dua opsi Kepala Perpustakaan Sekolah. Pertama adalah tenaga pendidik, dengan syarat tertentu. Kedua, tenaga kependidikan. Pustakawan atau alumni ilmu perpustakaan, masuk pada opsi kedua. Bagi pendidik, minimal D4 atau S1. Sedangkan bagi tenaga kependidikan, minimal D2 ilmu perpustakaan

Karena yang dikelola adalah perpustakaan, maka jika peserta yang diajukan untuk ikut diklat kepala perpustakaan sekolah adalah alumni ilmu perpustakaan yang ditempatkan di perpustakaan, maka hal tersebut bisa dianggap kondisi ideal.  Bukankah sekolah merekrut alumni ilmu perpustakaan memang untuk mengelola perpustakaan?


Organisasi profesi pustakawan berkewajiban meningkatkan kemampuan pustakawan, bukan menfasilitasi kompetensi guru.

Berbagai isu muncul pada level pelaksanaannya ketika yang diajukan untuk mengikuti diklat adalah guru yang ditempatkan di perpustakaan. Isu guru yang mengikuti diklat karena diminta menjadi kepala perpustakaan sekolah akibat kurangnya jam mengajar, isu beban kerja yang hanya dikerjakan oleh si pustakawan, pustakawan yang dianggap tidak mampu menjalankan fungsi manajerial kepala perpustakaan, dan sebagainya.

Ada beberapa kondisi yang bisa dipetakan, terkait kepesertaan diklat kepala perpustakaan sekolah ini.


  1. Sekolah tidak memiliki alumni perpustakaan untuk mengelola perpustakaan sekolah
  2. Meski ada pengelola perpustakaan dari alumni Ilmu Perpustakaan, namun dipandang kurang tenaga untuk mengelola perpustakaan sekolah
  3. Alumni ilmu perpustakaan dipandang tidak cakap menjadi kepala perpustakaan sekolah
  4. Meski ada alumni perpustakaan, dan dipandang mampu, namun ada guru yang kekurangan jam mengajar.

Kita coba renungkan dulu, kondisi ideal di sekolah. Idealnya yang mengelola perpustakaan sekolah adalah orang yang mengetahui seluk beluk perpustakaan sekolah. Dan, idealnya guru, tidak kekurangan jam mengajar. Maka, ketika ada guru yang diminta mengelola perpustakaan, itu tidak ideal. Pun ketika ada perpustakaan sekolah yang tidak dikelola oleh orang yang mengetahui seluk beluk perpustakaan, juga tidak ideal. Maka dari itu, kebijakan yang harus dikeluarkan adalah membuat perpustakaan sekolah dikelola oleh orang yang memiliki kemampuan ilmu perpustakaan, dan membuat agar guru tidak kekurangan jam mengajar. Berdasarkan hal tersebut pula,  jika ada alumni ilmu perpustakaan bekerja di perpustakaan sekolah, namun ada penempatan guru yang kekurangan mengajar (maupun tidak) untuk menjadi kepala perpustakaan sekolah, adalah kondisi tidak wajar dan tidak ideal.

Kembali ke diklat kepala perpustakaan sekolah. Jika dikaitkan dengan empat kondisi yang saya tulis di atas, maka: idealnya, yang mengikuti diklat kepala perpustakaan sekolah, adalah orang yang berlatar belakang ilmu perpustakaan. Jika yang mengikuti diklat dari unsur guru, misalnya, maka dapat dipastikan, apapun alasannya, pasti itu kondisi darurat. Darurat karena tidak ada tenaga perpustakaan dari alumni ilmu perpustakaan, atau darurat karena guru tersebut kekurangan jam mengajar sehingga diberi tanggungjawab tambahan.

Alasan darurat pertama, dapat dimaklumi. Mengapa? Ya, karena tidak ada yang mengurusi perpustakaan. Lah, mau bagaimana lagi?.

Alasan darurat kedua, karena guru kekurangan jam mengajar, sehingga diberi jam tambahan untuk menjadi kepala perpustakaan sekolah melalui diklat. Dari sisi mana alasan ini dapat dimaklumi? Alasan ini logis ketika ada alasan pertama. Atau alasan kedua ini bisa masuk nalar, jika disertai alasan pertama. Jika alasan kedua ini berdiri sendiri, maka sangat tidak logis dan tidak dapat diterima nalar.

Guru yang kekurangan jam mengajar, bisa diminta membantu mengelola perpustakaan. Namun statusnya adalah membantu pustakawan yang telah ada (jika ada). Kontrol dan manajerial, tetap ada di pustakawan, bukan di guru tersebut.


Perpustakaan PT, dan asosiasi pustakawan tidak memiliki kewajiban memfasilitasi guru yang kekurangan jam mengajar untuk memenuhi jam mengajarnya.

Darurat karena pustakawan dianggap tidak mampu, dan darurat karena tenaga perpustakaan belum pegawai negeri.

Darurat model ini, agak aneh menurut saya. Yang pertama, bermakna meragukan institusi pendidikan yang mencetak pustakawan. Bagaimana mungkin, tenaga perpustakaan sekolah dianggap tidak mampu, padahal mereka lulus dari pendidikan tinggi kepustakawanan? Pandangan ini meremehkan institusi pendidikan tinggi, dengan segenap proses pendidikan di dalamnya. Padahal, di dalamnya ada dosen berkualitas, pemikir kepustakawanan yang sehari-hari menggembleng mereka hingga lulus.

Sementara, jika alasannya karena tenaga perpustakaan dari alumni ilmu perpustakaan belum berstatus PNS pun tidak masuk diakal. Bukankah di Peraturan Menteri tidak ada dikotomi PNS atau bukan PNS. Kekhawatiran jika belum PNS maka ada kemungkinan mereka akan resign, juga tidak beralasan. Bukankah guru pun demikian, mereka bisa dirotasi antar sekolah.



kalau guru kurang jam mengajar, trus ditambal dengan menjadi kepala perpustakaan sekolah, itu biar apa tho? kan kalau jam mengajarnya kurang, malah kepenak.


Siapa yang menjerit akibat adanya diklat kepala perpustakaan sekolah?

salah satu ungkapan pustakawan sekolah
Yang menjerit akibat diklat ini adalah tenaga perpustakaan. Beberapa kutipan yang saya peroleh mengindikasikan bahwa ada ketimpangan kerja. Pekerjaan keseharian dilakukan pustakawan, guru dengan mudah dapat tambahan jam mengajar. Mirisnya lagi, jika pustakawan yang ada disekolah ini bergaji minim.

Institusi pencetak pustakawan, saya lihat tidak “menjerit”. Kenapa? Karena mereka menikmati kue dari keadaan darurat ini. Kue penyelenggara diklat kepala perpustakaan sekolah. Pastinya, dengan penyelenggaraan ini akan ada “gizi” tambahan bagi para pematerinya.


Diklat guru menjadi kepala perpustakaan sekolah: sebuah strategi.
Ada yang menyatakan bahwa diklat ini dilakukan sebagai sebuah strategi. Strategi untuk memasukkan ide-ide kepustakawanan ideal, pada para guru yang diberi mandat menjadi kepala perpustakaan sekolah.

Jika penyelenggaraan “kue” diklat tersebut dianggap strategi, maka ada beberapa pertanyaan, menurut saya harus dijawab oleh penyelenggra diklat. Sampai kapan akan dilaksanakan? Sampai kapan kebutuhan diklat kepala perpustakaan sekolah tersebut akan terpenuhi?


Pustakawan harus bekerjasama dengan guru dalam rangka mengembangkan perpustakaan, namun dengan pola hubungan kerjasama yang tepat.

Sebagai sebuah strategi, perlu skema timeline sampai pada titik jenuh dan ideal. Artinya, si penyelenggara harus punya hitungan dan target. Berapa sekolah yang membutuhkan diklat kepala perpustakaan sekolah dari unsur guru? Tentunya dengan alasan yang masuk nalar. Kapan kebutuhan tersebut akan terpenuhi dengan diklat? Apa target setelah diklat untuk mencapai kondisi ideal?
komentar lainnya

Jika kondisi ideal yang dimaksud adalah: kepala perpustakaan sekolah didelegasikan pada pustakawan, dan guru dikembalikan pada fungsi mendidik, maka pasca diklat, si penyelenggara harus memiliki skema tanggungjawab pasca diklat untuk mengarahkan pengelolaan perpustakaan sekolah ke kondisi ideal. Pengelola diklat, harus memiliki skema, lini waktu yang jelas tentang hal ini.

Jika pasca diklat, penyelenggara tidak memiliki strategi untuk menempatkan pengelolaan perpustakaan pada kondisi ideal, maka diklat yang dilakukan tidak lebih dari sekedar BISNIS. BISNIS yang diselenggarakan di atas jeritan tenaga perpustakaan sekolah.


Memfasilitasi guru yang kekurangan jam mengajar untuk menjadi kepala perpustakaan sekolah, dengan mengesampingkan posisi pustakawan, adalah bentuk pengkhianatan intelektual pada profesi.

Jangan sampai, diklat kepala perpustakaan sekolah untuk guru, ibarat pabrik rokok, yang jualan rokok, tapi tidak bertanggungjawab pada akibat rokok. Padahal, di bungkus rokok jelas tertera efek buruknya.

Strategi, bisnis, atau bentuk pengkhianatan intelektual? masing-masing penyelenggara punya jawaban sendiri. 


komentar Pak Ihsan via WA


note: koreksi dari Pak Ihsan, penekanan pada tafsir Permen 25 2008 terkait pendidik atau kependidikan yang berijazah diploma atau sarjana ilmu perpustakaan,tidak perlu diklat lagi, otomatis dapat menjadi kepala perpustakaan sekolah. Tanggapan saya: hal ini semakin memperkuat, bahwa jika ada alumni ilmu perpustakaan di sekolah tersebut, menjadi sangat-sangat tidak logis jika yang menjadi kepala perpustakaan sekolah adalah guru yang bukan alumni Ilmu Perpustakaan. 



Slonjoran, wedangan jahe anget.. ger
tulisan ini adalah pandangan saya pribadi, sebatas info dan pengetahuan yang saya miliki.
Sambisari, Kalasan, Sleman, akhir pekan, pekan pertama April 2017

Surat undangan rapat RT dalam Bahasa Jawa: nguri-uri Boso Jowo

Hidup di kampung, namun undangan rapatnya berbahasa Indonesia. Kok kadang merasa aneh yak? Jika demikian, maka Bahasa Jawa hanya akan menunggu waktu saja untuk punah di daerah sendiri.

Berawal dari hal tersebut, akhirnya saya berinisiatif membuat surat undangan rapat RT dalam Bahasa Jawa.

Paijo: sik nyusun kowe kabeh?

Tentunya saya tidak menyusun dari awal, namun menyusun berdasarkan contoh, lalu disesuaikan.

Bagaimana dengan orang yang tidak berasal dari daerah yang terbiasa bahasa Jawa? ya, biarkan mereka belajar.

Ketika membuat surat tersebut pun, saya merasa ada beberapa kata yang hilang. Catatan, misalnya. Namun, dengan bertanya ke beberapa teman, saya temukan kata yang saya anggap cocok.

Kalau ada koreksi surat di atas, monggo, dengan senang hati saya terima.

Ayo lur, nguri-uri boso jowo !

Monday, 27 March 2017

, , ,

Perpustakaan UNSYIAH: model ideal untuk menjadi "lebih dari sekedar perpustakaan"

Banyak sekali jumlah perpustakaan di Indonesia. Khusus perpustakaan perguruan tinggi, ada 800-an lebih [1]. Nah, dari sekian banyak ini, mana yang paling menarik? Tentu, bagi masing-masing orang akan berbeda-beda, karena pengalaman dan cara memandangnya pun berbeda.

Perpustakaan yang “lebih dari sekedar perpustakaan”, akan lebih terlihat jika dipandang dari sisi pemustaka. Berikut adalah kisah singkat perjalanan virtual saya sebagai pemustaka, berdasarkan informasi yang saya peroleh selama ini tentang Pustaka Unsyiah.

Poltak: “Unsyiah itu di mana tho, Jo?” 
Paijo: “Di Nangroe Aceh Darussalam, Bro.”
##########

Saya mengenal Pustaka Unsyiah dari internet, serta melalui diskusi dengan Pak Taufiq Abdulgani selaku Kepala Perpustakaan Unsyiah. Saya pernah bertemu beliau pada beberapa acara kepustakawanan. Saya belum pernah datang berkunjung ke Pustaka Unsyiah, bahkan ke Aceh, ataupun ke bumi swarnadwipa.

Namun, pagi ini saya punya rencana, saya hendak berkunjung ke Pustaka Unsyiah. Sebuah perpustakaan perguruan tinggi, yang berdiri sejak 1970 di propinsi ujung Sumatra. Perjalanan pun saya mulai dan nikmati, sampai akhirnya saya tiba di depan bangunan Pustaka Unsyiah. Gedung tiga lantai, bercat putih, yang terlihat begitu kokoh,  

Memasuki gedung Pustaka Unsyiah, rasa nyaman dan hangat telah mulai terasa. Kesan ramah dan bersahabat ditawarkan oleh petugas bagian front-office. Tidak jarang, kita juga akan disambut mahasiswa-mahasiswi paruh waktu yang telah dididik dengan berbagai pelatihan pelayanan. Wajah mereka khas, ramah dan tidak membosankan. Hal ini wajar dan tidak perlu diragukan. Kabarnya, mereka adalah mahasiswa pilihan, dari sekian banyak mahasiswa yang berbondong-bondong mengajukan diri menjadi tenaga paruh waktu di perpustakaan, mereka lah yang lolos seleksi. Luar biasa. Dari kesan awal ini, terasa sekali manfaat perpustakaan bagi mahasiswa.
http://detak-unsyiah.com/wp-content/uploads/2016/12/1481707186622.jpg

Sebelum masuk di area koleksi, saya dihadapkan pada pintu yang terpasang presensi elektronik. Pemustaka tidak lagi menulis manual bukti kehadirannya, namun cukup mendekatkan kartu anggotanya di mesin presensi. Alat ini seolah ingin mengatakan, bahwa meski perpustakaan ini berada di ujung Sumatra, namun tidak kalah dari sisi teknologi. Ide dan keberanian implementasi pengelola Pustaka Unsyiah dari aspek teknologi, menghadirkan pengalaman menarik bagi pemustaka. 

Mahasiswa antri mengular untuk masuk di perpustakaan. Namun, dari apa yang mereka bawa, terasa ada yang aneh. Setelah saya cermati, ternyata tas. Ya!, mahasiswa masuk perpustakaan diizinkan membawa tas. Apakah saling percaya pada semua elemen di perpustakaan hendak dibangun (dan ditunjukkan) dengan (salah satunya) izin boleh membawa tas masuk di perpustakaan?. Aneh? Risiko? Kejujuran? Kehilangan? Tentunya itu yang ada dibenak saya.

http://library.unsyiah.ac.id/g
Tapi tidak. Sepertinya Pustaka Unsyiah ingin menerapkan dan menanamkan saling percaya antar semua elemen di perpustakaan. Tentunya dengan mekanisme tertentu, ada petugas khusus pemeriksaan tas, misalnya. Selain itu, konon kabarnya kebijakan ini diambil karena loker tas sudah tidak mampu menampung tas pemustaka yang kedatangannya melebihi kapasitas loker. Menurut saya, ini menarik. Dari sebuah keterbatasan, melahirkan kebijakan yang justru memberikan nilai lebih pada  Pustaka Unsyiah. Ah, kenapa saya heran? Toh ini Aceh, propinsi istimewa dengan segudang sejarah, dan lekat dengan nilai-nilai akhlak Islam. Selayaknya lah jika saling percaya, kejujuran diterapkan di kehidupan sehari-hari, pun dari perpustakaan.

Ketika masuk di ruang perpustakaan, saya dihadapkan pada pemandangan yang luar biasa. Mulai dari banyaknya mahasiswa yang beraktivitas di meja ruang sirkulasi, dan di antara rak buku serta koleksi yang berjajar rapi. Tampilan rak terlihat minimalis, namun menghadirkan informasi lengkap tentang koleksi yang dimuatnya, mulai dari subyek dan nomor kelasnya. Jangan salah! Buku berjajar rapi, bukan karena jarang digunakan. Namun, ternyata karena Pustaka Unsyiah memiliki pasukan mahasiswa shelving (penataan buku) yang akan menjaga kerapihan koleksi. 

Saya melanjutkan berkeliling. Sampai lah saya, di berbagai ruang yang berdesain unik, penuh mahasiswa yang belajar sambil duduk, diskusi, menggambar di meja, yang bisa mereka ubah posisi meja tersebut sesuai keinginan. Duduk di sofa, atau lesehan santai sambil diskusi, adalah pemandangan rutin di tiap harinya. Sesekali pustakawan terlihat berkeliling, memastikan pemustaka benar-benar mendapatkan apa yang mereka butuhkan di perpustakaan.
http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2016/06/IMG_20160614_112816.jpg

Pengalaman saya sampai di beberapa ruang tersebut, telah cukup membuat saya takjub pada Pustaka Unsyiah. Perjalanan tetap saya lanjutkan.

##########

Tampak, di bagian lain pustaka, mahasiswa berbondong-bondong menenteng laptop, masuk ke sebuah ruangan. Pustakawan dengan sigap mengatur dan mengarahkan tempat duduk mahasiswa. Sejurus kemudian, mahasiswa telah siap di kursi masing-masing, lengkap dengan laptop yang siap digunakan. Di depan, layar dan laptop pemateri telah terpasang siap digunakan, lengkap dengan alat pelantang suara. Ternyata, ada kelas literasi informasi (LI), demikian informasi yang saya dapatkan dari pustakawan. 

UnsyiahLib MobileApp
Pustakawan memulai kelas LI, dengan menyampaikan berbagai sumber informasi yang bisa diakses mahasiswa, database yang dilanggan Pustaka Unsyiah, cara aksesnya, serta koleksi tercetak. Lengkap dengan cara akses menggunakan telepon cerdas (smartphone). Agaknya, pengelola telah menyiapkan aplikasi mobile di aplikasi Android untuk penyebaran koleksinya. Tak lupa, cara memilih informasi yang paling tepat, dan cara mengelolanya juga disampaikan. Peserta mengikuti dengan mempraktikkan pada laptop masing-masing. Sesekali ada yang bertanya kepada pemateri. Beberapa informasi terlihat di layar, mulai dari alamat library.unsyiah.ac.id, uilis.unsyiah.ac.id, etd.unsyiah.ac.id. Menarik sekali, layanan dan fasilitas yang menawarkan pengalaman menarik bagi pemustaka. Pustakawan pun aktif terlibat, dan menjadi pihak yang paling depan untuk membuat mahasiswa literate pada informasi. Saya mengikuti kelas LI ini sampai selesai.


##########

http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG_4270.jpg
Perjalanan mengeksplorasi perpustakaan saya lanjutkan…. Menjelang siang, setelah kelas LI, saya melihat di sebuah sudut, mahasiswa mulai berkumpul. “Ada apa lagi ini?”, pikir saya. Saya bergegas menuju kerumunan mahasiswa tersebut. Tampak sebuah bagian, yang dipersiapkan sebagai pusat kegiatan. “Kegiatan apakah?”, saya masih belum menemukan jawaban. Tak lama, seorang dengan pakaian unik maju dan menempatkan diri. Tangannya memegang benda aneh, yang kemudian dimainkan… Mahasiswa menonton dengan serius, terlihat senyum kegembiraan dan penasaran di wajah mereka. Ternyata yang saya lihat adalah pertunjukan sulap, pada acara Relax and Easy (RE) @unsyiahlib. Kegiatan santai yang dihadirkan Pustaka Unsyiah untuk menghibur mahasiswa. Konon kabarnya, kegiatan RE diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari sulap, seperti yang baru saja saya saksikan, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menyanyi, komedi tunggal (stand up comedy), dan lainnya. Selain melalui RE, dari informasi awal yang saya peroleh, mahasiswa juga diberi wahana kreativitas di Librisyana, sebuah majalah yang diterbitkan Pustaka Unsyiah.

RE ini tidak dilakukan seharian, jadi jangan khawatir mengganggu kegiatan belajar. Justu mahasiswa tampak menunggu, hiburan apa yang akan ditawarkan di acara RE pada pekan berikutnya.

Saya kembali ke rak koleksi di ruang sirkulasi, berniat menyempatkan membuka buku koleksi dan membaca beberapa halaman. Siapa tahu, bisa kenalan dengan mahasiswa Unsyiah, atau malah mahasiswinya...

Terlihat, di salah satu meja, ada mahasiswa yang tampak sendirian. Saya pun menghampirinya. "Ah, mahasiswa pun tak apa, semoga bisa mendapat informasi darinya.", saya bergumam. Dan kami pun mengobrol dengan volume suara yang tetap terkontrol agar tidak mengganggu pemustaka lainnya.

“Wah, asyik mas di perpustakaan, fasilitasnya lengkap, modern, canggih. Bisa akses dari smartphone pula”, seloroh mahasiswa tersebut ketika saya tanya pendapatnya tentang perpustakaan, sambil menunjukkan telepon pintar (smartphone) miliknya yang telah terpasang aplikasi UILIS Mobile Library. Mahasiswa ini ramah, dan terkesan sangat bangga dengan perpustakaannya. “Ikuti saya mas”. Dia meminta saya mengikutinya. Sambil membawa beberapa buku yang sebelumnya dia baca, menuju ke bagian depan ruang sirkulasi. Agaknya dia telah lama di ruang ini untuk mencari koleksi yang dia butuhkan.

Di antrian yang mengular menuju ke sebuah kotak setinggi kira-kira 1.5 meter, dia berhenti. Saya tetap mengikutinya. Sampailah gilirannya di depan kotak tersebut, saya tetap mengikuti di belakangnya. Dia terlihat menyentuh layar model touchscreen, meletakkan buku di kotak kemudian mengambilnya lagi, lalu menenteng buku itu keluar antrian. Saya mencermati apa yang dia lakukan sampai selesai. Dia lakukan sendiri, tanpa bantuan pustakawan. Jelas! dia telah terbiasa melakukannya. 

“Saya tadi meminjam buku, Mas. Meminjam secara mandiri pakai alat tersebut. Cepat,
http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2015/11/IMG_0503.jpg
dan mudah. Kata pengelola, itu pakai RFID dengan software SLiMS. Gratis softwarenya, Mas. Kemudian perpustakaan mengembangkannya sesuai kebutuhan”

Dia begitu bersemangat bercerita kepada saya. 

Pengembangan SliMS berikutnya, dilakukan sendiri, kadang dengan mahasiswa. Bagi mahasiswa Unsyiah juga bisa sebagai tugas akhir. Sehingga mahasiswa mudah dalam mencari tema TA, sementara perpustakaan juga mendapat manfaatnya. Anggaran software pun bisa ditekan.”. Dari cerita mahasiswa ini, agaknya dia banyak tahu tentang perpustakaan, dan tahu apa saja yang ditawarkan perpustakaan untuk mahasiswa.

Hmmm, di ujung Indonesia ada perpustakaan secanggih ini. Pengalaman yang ditawarkan kepada pemustaka, sungguh di atas rata-rata. 

Saya mendengar kabar, bahwa pengelola berhasil meyakinkan pimpinan untuk mewujudkan idealisme pengelolaan perpustakaan, sekaligus mendobrak dinding tebal kejumudan perpustakaan. Salah satunya adalah model bisnis Google Adsense dari repository Unsyiah. Dalam hal ini, perpustakaan telah berhasil mendobrak pandangan perpustakaan yang cost center, dan membuktikan bahwa perpustakaan juga bisa menghasilkan pendapatan. [2]


##########

Saya masih mengikuti langkah kaki mahasiswa yang baru saja saya jumpa di ruang sirkulasi itu. Kali ini dia menuju ke sebuah kerumunan di sebuah sudut perpustakaan. “Café?”. Tak sadar mulut saya mengucapkannya. “Iya, mas. Ini semacam café, ya memang café, sih”, si mahasiswa mulai menjelaskan seputar cafe tersebut, tanpa saya minta. Ternyata, perpustakaan ini memiliki café yang dikelola secara rapi, bersih dan berkelas, melengkapi fasilitas perpustakaan dan turut menghadirkan pengalaman “berpustaka” yang lebih dari sekedar perpustakaan. 

http://detak-unsyiah.com/wp-content/uploads/2016/10/unnamed-5.jpg
Tampak banyak mahasiswa di café ini asyik menikmati sajian yang telah dipesan, berdiskusi tentang berbagai hal, atau sekedar istirahat. Beberapa orang yang sudah berumur, dengan pakaian rapih juga terlihat menikmati sajian cafe ini. Mahasiswa tampak takdzim pada orang tersebut. “Mereka pejabat universitas, Mas. Kadang mereka juga datang ke sini, bertemu mahasiswa dan menikmati sajian di cafe pustaka”, terang si Mahasiswa tanpa saya minta. Mungkin karena dia melihat saya memperhatikan sekeliling dan penuh pertanyaan. Dia pun menjelaskan tentang cafe ini, yang merupakan hasil kerjasama dengan Caffee Cho, dalam hal ini pihak eksternal perpustakaan [3].

Setelah memesan minuman, kami pun menikmatinya. “Mantap.. pantas mahasiswa ini bangga dengan perpustakaannya”. Dengan kebaikan hatinya, si mahasiswa menraktir saya. Dengan senang hati, saya ucapkan terimakasih. “Ah, baik sekali mahasiswa ini, memuliakan tamunya meski belum begitu kenal”, pikir saya. 

Setelah membayar minuman, dia menyampaikan bahwa dia hendak melanjutkan aktivitasnya di kampus, mungkin tak sabar ingin segera membaca buku yang baru saja dipinjam. Sebelum berpisah, dia memberi saya sebuah leaflet dan berkata,”mas ikut acara ini, ya”. Saya mengangguk, dengan keyakinan bahwa acara yang dia maksud, pasti menarik. 

Kami berpisah. Di depan gedung perpustakaan, saya duduk-duduk sambil menikmati suasana. Leaflet masih di tangan saya. Sejenak saya baca judulnya, “FREE Blogger Competition Library Fiesta 2017”. Kegiatan yang diselenggarakan Pustaka Unsyiah, yang pada tahun 2017 ini bertemakan “more than just a library”. Agaknya, mahasiswa tadi adalah blogger, dan memberitahu saya, agar ikut acara yang diselenggarakan perpustakaan. 

“Saya mau ikut lomba ini”, pikir saya. 

Tema lomba blogger ini menarik, pengalaman saya berkeliling perpustakaan Unsyiah, cukup meyakinkan saya, bahwa perpustakaan Unsyiah memang lebih dari sekedar perpustakaan. Mulai dari fasilitas, kegiatan, koleksi, keramahan petugas dan juga mahasiswa partime, kolaborasi kegiatan yang dilakukan, dapat menghadirkan suasana perpustakaan yang melebihi suasana perpustakaan pada umumnya.

#######

Masih sambil duduk-duduk di depan perpustakaan, ditambah suasana menyenangkan di kampus ini, mengatarkan saya merenungi perjalanan yang baru saja saya lakukan.


Ada satu hal lagi, yang saya ketahui dan mengejutkan saya. Kepala Perpustakaan Unsyiah saat ini, yang menjadi ideolog pengembangan perpustakaan hingga lolos akreditasi Perpustakaan Nasional serta sertifikat ISO adalah seorang dosen, dari fakultas teknik, serta bukan orang yang berlatar belakang ilmu perpustakaan [4]. Menurut saya, ini justru menjadi nilai lebih, dan menjadikan Pustaka Unsyiah terus mendekati ideal untuk dijadikan tolok ukur atau tempat studi banding bagi para pustakawan di Indonesia.


Jika ingin belajar mengelola perpustakaan dari praktisi, riil, nyata perkembangan dan prestasinya, maka belajarlah ke Unsyiah”, ungkapan ini ada di benak saya. Di ujung Sumatera, bukan dipimpin oleh orang berpendidikan ilmu perpustakaan, dalam waktu singkat mampu meraih ISO dan akreditasi. Jika nilai sempurna itu 10, Pustaka Unsyiah memulainya dari angka 3, naik 6 point menjadi 9. Saya pikir, ini capaian yang sungguh luar biasa.

“Perpustakaan bukan sekedar tempat meminjam dan mengembalikan buku”, merupakan ungkapan yang selama ini saya yakini. Ungkapan ini sepertinya mewakili kesamaan pandangan saya dengan perpustakaan Unsyiah, yang “more than just a library”. Memang, selayaknya perpustakaan harus lebih dari sekedar “perpustakaan” sebagaimana umumnya dahulu dipandang orang. 

Koleksi perpustakaan, pun bukan sekedar buku tercetak yang dipinjam dan dikembalikan pemustaka, namun, meminjam istilah Prof. Djoko Saryono, bahwa peristiwa dan kegiatan ilmiah juga merupakan pustaka [5]. Saya jadi ingat, seorang pernah mengatakan pada saya, "handphone itu awalnya untuk telepon dan sms, namun saat ini yang dijual dan dipromosikan bukan kemampuan telepon dan SMSnya, namun justru kameranya". Benar juga ya, seharusnya perpustakaan yang "dijual", juga bukan hanya koleksi dan layanan sirkulasinya, namun tawaran pengalaman tentang berbagai hal, kepada pemustaka. Koleksi dan sirkulasi sudah jadi barang wajib.

Lalu, apa yang menjadikan Pustaka Unsyiah ini lebih dari sekedar “perpustakaan”?. Kreativitas. Ya, saya yakin kreativitas lah yang menjadikannya (dan mestinya juga perpustakaan lainnya) menjadi lebih dari sekedar perpustakaan. 

Jejaring dibuat oleh pengelola untuk memberikan nilai lebih. Perpustakaan tidak sekedar digerakkan oleh pustakawan sendiri, namun juga berbagai elemen lainnya. Dengan mahasiswa, dosen, pimpinan dan juga pihak eksternal, sementara pustakawan menjadi pusatnya, yang menggerakkan dan memastikan semua elemen berjalan saling mendukung.  

Dukungan semua elemen tersebut, diarahkan pada ketersediaan fasilitas yang memadai, ruang yang nyaman dan menarik, koleksi yang cukup serta mudah aksesnya, dan tentu saja memastikan kegiatan kreatif selalu berjalan. 

Perjalanan saya membukakan mata, bahwa pengelolaan perpustakaan sudah tidak lagi dibedakan Jawa - luar Jawa. Namun oleh kreatif - tidak kreatif. Tentunya, disamping berbagai nilai lebih Pustaka Unsyiah, ada catatan atau kekurangan yang tetap harus selalu diperbaiki. 
Pengelola harus selalu memastikan bahwa apa yang telah dilakukannya akan terus berjalan, selalu diperbaiki. Ideolog pengembangan harus disebar rata pada semua staf, agar estafet kepemimpinan berjalan dengan baik. Tentunya, dengan semangat bersama, pengembangan selanjutnya dapat dilakukan, untuk mewujudkan perpustakaan ideal bagi para pemustaka.


#ditulis untuk lomba blogger Library Fiesta Perpustakaan Unsyiah 2017


Sambisari, Ngayogyakarta Hadiningrat
Sabtu, tanggal duapuluh lima, bulan ke tiga, tahun dua ribu tujuh belas
Menjelang siang, pukul delapan pagi


----------------------------------------------------------------------------------------------

[1]. Data diambil dari Slide "Indonesia One Search: Latar Belakang, Road Map , dan Progress" yang disampaikan Ismail Fahmi pada Lokakarya Perpustakaan Digital Indonesia. https://www.slideshare.net/IsmailFahmi3/indonesia-onesearch-latar-belakang-road-map-dan-progress.


[2]. Informasi dari diskusi di grup whatsapp FPPTI Indonesia, serta dikuatkan dengan informasi di http://library.unsyiah.ac.id/pemasukan-dari-google-adsense-etd-perpustakaan-unsyiah-di-tahun-pertama/

[3]. Informasi lengkap tentang Caffe dapat di baca di Librisyiana, edisi 5, Januari 2017. Online di http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2017/02/Librisyana-Edisi-5-Fixx-1.pdf

[4]. Informasi lengkap dapat dibaca di http://fsd.unsyiah.ac.id/topgan/

[5]. Disampaikan Prof. Djoko Saryono pada acara Seminar Nasional FPPTI DIY, "Mengembangkan Ide Kreatif pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi. http://www.fppti-diy.or.id/2016/05/mengembangkan-ide-kreatif-pengembangan.html


Gambar diperoleh dari http://library.unsyiah.ac.id/http://detak-unsyiah.comsebagaimana ditulis pada caption setiap gambar.

Gambar UILIS Mobile dari https://play.google.com/store/apps/details?id=id.ac.unsyiah.library 

-----------------------------------------------

Tulisan ini menjadi pemenang ketiga, pada lomba blog dalam rangka Unsyiah Library Fiesta 2017. Pengumuman di http://library.unsyiah.ac.id/ulf-2017-lomba-blogger/