Showing posts with label perpustakaan kreatif. Show all posts
Showing posts with label perpustakaan kreatif. Show all posts

Friday, 26 May 2017

,

Artikel "Mengembangkan Perpustakaan FT UGM", dan "Kompetensi Scholarly Communication untuk pustakawan"

Berikut ini, dua artikel yang saya tulis dalam rangka lomba penulisan Dies Perpustakaan UGM tahun 2015 dan 2016.

Keduanya telah diterbitkan dalam bentuk buku dan di berkala Media Informasi. Namun, untuk kepentingan penyebaran informasi, bukan sebagai tulisan baru, saya unggah pula di repository.ugm.ac.id, atas ijin Kepala Perpustakaan UGM.  Sebelum saya unggah, saya format ulang menggunakan Latex dengan memanfaatkan template Elsarticle.


Artikel berjudul Scholarly Communication: kompetensi wajib pustakawan perguruan tinggi, dapat diunduh di https://repository.ugm.ac.id/273436/ (menunggu indeks selesai 24 jam, akan online pada 27 Mei 2017)



Artikel berjudul Membangun Perpustakaan Kreatif: Pengalaman Pengembangan Perpustakaan Fakultas Teknik UGM  dapat diunduh di https://repository.ugm.ac.id/273434/ (menunggu indeks selesai 24 jam, akan online pada 27 Mei 2017)

Tuesday, 14 July 2015

Foto Dr. Muhammad Isa Waley : saya lihat tahun 2003-an dan saya ingat sampai sekarang

foto karya peter sanders, sumber 
http://www.artofintegration.co.uk/
Purwo.co -- Tahun 2003-an saya pernah melihat foto karya Peter Sanders yang dipamerkan di Masjid Kampus UGM. Foto itu bercerita tentang seorang pustakawan di British Library bergelar doktor sedang diskusi dengan pengunjung.
Saya cari di internet ndak nemu, namun saya nemu ini. Mirip.

Foto tersebutlah selalu saya ingat dan meneguhkan saya, bahwa perpustakaan itu bukan sekedar tempat meminjam dan mengembalikan buku.

Kabarnya di jaman dulu kala, perpustakaan merupakan pusat. Di dalamnya ada pendidikan, penerjemahan dan kegiatan ilmiah lainnya. Pustakawan bekerja layaknya ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu. Pada gambar di atas tertulis "a specialist in Islamic manuscripts". Saya menerka jika kita berkunjung ke British Library dan membutuhkan informasi tentang Islamic manuscrips, maka kita bisa datang ke Dr. Isa tersebut, dan berdiskusi tentang manuskrip Islam bukan sekedar di mana letaknya bukunya namun juga apa isinya.

Saya tidak tahu apakah jejang pendidikan beliau pernah di bidang perpustakaan sehingga dipekerjakan di BL, atau beliau di BL karena keahlian dalam hal manuskrip Islam saja. Yang pasti, mestinya kehadiran ahli yang menguasai substansi konten perpustakaan, dibutuhkan untuk meningkatkan posisi tawar perpustakaan.

Isa Waley ini bergelar doktor, nah mestinya di Indonesia para pustakawan yang bergelar doktor juga melakukan hal serupa. Dengan terjunnya pustakawan bergelar doktor dalam layanan perpustakaan, maka dia akan berkontribusi dalam membuat citra pustakawan semakin bagus. 

Apa layanan yang bisa diberikan oleh pustakwan bergelar doktor? hanya mereka sendirilah yang paling tahu.

Pustakawan bergelar doktor tidak boleh hanya menulis atau meneliti saja. Jika mereka memang pustakawan, ya harus melakukan pelayanan. Pustakawan yang hanya meneliti, menulis, ikut konferensi, tanpa melakukan pelayanan ibarat orang yang mengaku petani, tapi tidak bisa macul.

Tuesday, 5 May 2015

,

Perpustakaan Kreatif v.1


saya takut perpustakaan saya tidak dikunjungi..
saya takut koleksi saya tidak disentuh lagi oleh mahasiswa..
saya takut saya ndak lagi punya pekerjaan jika disediakan koleksi dijital..
saya takut SKP saya ndak terpenuhi jika koleksinya digital dan daring ...
skema perpustakaan kreatif v.1
Peta di atas adalah peta perpustakaan kreatif  berdasarkan pengalaman saya mengelola perpustakaan. Peta di atas memperlihatkan beberapa peran pustakawan yang dapat dikembangkan selain kegiatan yang umum dilakukan di perpustakaan (pinjam- kembali).

Jika dalam dunia akademik (universitas) dosen memiliki peran mengajar, meneliti dan mengabdi pada masyarakat, maka menurut saya pustakawan juga demikian. Mengajarnya pustakawan tidak = dosen, demikian pula meneliti dan mengabdinya pada masyarakat.
Peran berbeda namun saling melengkapi, yang  menunjukkan bahwa keduanya merupakan profesi harus dibangun.

Yang umum dipahami adalah dosen mengajar mata kuliah tertentu. Selain mengajar, dosen juga mampu merekomendasikan buku dan mengetahui buku yang berkualitas untuk mata kuliahnya. Sementara itu pustakawan menyediakan koleksi tersebut secara fisik. Hanya menyediakan sajakah? atau sebenarnya dapat dioptimalkan lebih dari sekedar menyediakan-meminjamkan-mengembalikan? Seharusnya ada kerja kerja yang lebih berbobot dari pada kegiatan administratif.


Saya melihat sudah selayaknya pustakawan wajib memiliki (minimal) satu keterampilan dan pengetahuan yang khas untuk berhadapan langsung dengan mahasiswa dan membantu mereka dalam proses akademik. Keterampilan dan pengetahuan ini dapat digunakan oleh pustakawan khusus atau menempel pada peran tradisional pustakawan.

Membaca keadaan disekitar, merancang kegiatan agar berbagai isu dan ide pemustaka dapat lebih berkembang, menjadi pemantik diskusi, dan hal lainnya dapat dilaksanakan oleh pustakawan. Berat, tapi akan mengasyikkan.

Perpustakaan kreatif merupakan kombinasi antara layanan kreatif, dukungan teknologi kreatif dan kerjasama untuk menyelenggarakan kegiatan kreatif. Eh, kurang satu: tempatnya juga kreatif. Dengan perpustakaan dan pustakawan kreatif, maka ketakutan perpustakaan tidak dikunjungi pemustaka tidak lagi relevan lagi.