Thursday, 19 April 2012

Lyx to html dengan ELyXer

Elyxer adalah aplikasi yang dibangun untuk konversi dari Lyx ke html.
Saya beberapa kali menggunakan fitur lyx2html yang dimiliki lyx, namun sayang kurang memuaskan.

Saat SDD bulan Maret 2012, saya menemukan Elyxer. bagaimana Penggunaan Elyxer.

Menggunakan Lycid Lynx.
Saat SDD saya menggunakan Ubuntu LL, untuk instalasi dapat langsung dari paket, cukup


sudo apt-get install elyxer


(enter)

Penggunaannya juga cukup mudah, cukup mengetikkan


elyxer file.lyx file.html




Karmic Koala
Ketika di kantor, saya mencoba install di KK, ternyata di paket tidak tersedia. Terpaksa install manual


1. Ambil source code di http://download.savannah.gnu.org/releases/elyxer/
Pastikan dalam komputer anda ada program Phyton
2. Ekstrak file yang masih dikompress
3. Masuk ke direktori hasil ekstrak
4. # python install.py
5. Selesai.
Cara menggunakannya:
$ elyxer.py document.lyx document.html





selengkapnya:
http://elyxer.nongnu.org/
http://elyxer.nongnu.org/userguide.html

Wednesday, 11 April 2012

, ,

Petisi: Hentikan Tradisi Kebijakan Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan

http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/10/petisi-hentikan-tradisi-kebijakan-penempatan-pegawai-bermasalah-di-perpustakaan/

Untuk kedua kalinya, citra perpustakaan sekolah diperburuk oleh kebijakan penempatan guru bermasalah di perpustakaan sekolah. Kasus terbaru di SMPN 26 Purworejo seperti yang diberitakan oleh Harian Suara Merdeka, 18 Maret 2012 dengan judul “Guru Pemukul Siswa Dibebastugaskan Mengajar”. Dalam berita tersebut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo, menyatakan bahwa guru berinisial Ar yang melakukan penganiayaan terhadap siswa SMPN 26 Purworejo untuk sementara dibebastugaskan dari mengajar dan untuk sementara menjadi petugas perpustakaan. Tahun 2009, kasus yang sama terjadi di SMP Negeri 79 Jakarta, seperti yang dimuat di Koran Tempo pada tanggal 19 Januari 2009 dengan judul “Guru Penganiaya Siswa Dipindah Tugas ”.

Menyikapi kasus-kasus tersebut di atas, kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) sebagai lembaga pengembangan kepustakawan sekolah Indonesia menyampaikan keberatan terhadap kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan karena telah memberi citra buruk bagi perpustakaan sekolah sebagai tempat penghukuman.

Kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan merupakan bentuk kurang pahamnya para pengambil kebijakan di instansi-instansi yang mengelola bidang pendidikan tentang fungsi perpustakaan sekolah serta standar perpustakaan sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25 Tahun 2008. Kasus ini, selain memberi citra buruk terhadap perpustakaan sekolah juga merupakan pelecehan terhadap profesi pustakawan.

Kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama APISI berharap di masa mendatang kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah lain serta di semua jenis perpustakaan di Indonesia.

Secara tegas kami menyatakan:

“Hentikan tradisi kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan!”

Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)
Alamat Sekretariat APISI
Jl. Dahlia No. 355A Rt 007/15 Serua Ciputat 15414
Telepon: 021- 94326925; 021-818155374; Faks: 021-746 37 522
Email: kotaksurat@apisi.org
Website: http://apisi.org/

Solidaritas Pustakawan Tolak Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan
Ahmad Subhan 081 227 1955 77
lempoxe@yahoo.com
http://www.facebook.com/groups/solidaritaspustakawanindonesia

Petisi ini didukung oleh:

1. AC Sungkana Hadi (Pustakawan Utama Universitas Cendrawasih).
2. Acep Muslim (Pustakawan AKATIGA Bandung).
3. Achmad Djunaedi (Pustakawan PUSTAKA, Bogor).
4. Ade Heri Wibawa (Pustakawan SDN 2 Klampok Banjarnegara).
5. Adi Prasetyawan (Pustakawan UPN Veteran Jatim).
6. Aditya Nugraha (Perpustakaan UK Petra Surabaya).
7. Ahmad Subhan (Pustakawan IRE Yogyakarta).
8. Ahmadul Fajri (Riau).
9. Akhmad Syaikhu (Pustakawan PUSTAKA Bogor).
10. Ali Minanto (Pustakawan PolGov UGM).
11. Amy Lee (Pustakawan SMAN 3 Metro-Lampung).
12. Andang Liestyarini (Ujungberung).
13. Andres Amrulloh, S.Sos. (Bogor)
14. Andya Nur Cahyono (Pustakawan Unindra).
15. Any Fauzianie (Bandung International School).
16. Arie Nugraha (Dosen IP&I UI).
17. Arief Budiman (Alumni IP&I UNPAD).
18. Arif Surachman (Pustakawan FEB UGM).
19. Aris Maulana (Mahasiswa IP&I UI).
20. Arman Kurniadi (Jakarta).
21. Arsidi Ahmad (Pustakawan Sekolah Teladan, Pengurus ATPUSI Yogyakarta).
22. Asbahul Pajri Taslim (Pustakawan Universitas Dehasen Bengkulu).
23. Asep Saeful Rohman (Dosen IP&I UNPAD).
24. Bagus Ramdan (Konsultan Perpustakaan, Bandung).
25. Bambang Murdianto (Ungaran).
26. Bambang Setianto (Bojonegoro).
27. Banu Susanto (Pustakawan UNIMED).
28. Basya Zia (SDIT Luqman Hakim Yogya, Pengurus ATPUSI Kota Yogya).
29. Bayu Setya Pambudi, A.Md. (Yogyakarta).
30. Bondhan Endriawan (Pustakawan Univ. Negeri Trunojoyo Madura).
31. Christina Retno (Pustakawan, Bekasi).
32. Christina Tulalessy (Jakarta).
33. Christine Sadeli (Pustakawan Global Prestasi School, Jakarta).
34. Daud Saputra (Depok).
35. Dewi Apriliani (Bandung).
36. Dewi Puspitasari (Pustakawan UNAIR).
37. Dhama Gustiar Baskoro (Pustakawan UPH).
38. Dicky Ermandara (Sumedang).
39. Didik Witono (Surabaya).
40. Dimas Rizky Prasetio (Librarian Ruang Depan Gallery S.14).
41. Dimas Wahyu Nugroho (Pusat Dokumentasi HAM UBAYA).
42. Dina Isyanti (Pustakawan, Jakarta).
43. Dindin Catur Nur Putrianti (INTI College Indonesia).
44. Djoko Prasetyo (Purwokerto).
45. Dwi Novita Ernaningsih (Pustakawan UM).
46. Elfian Sumendap (Perpustakaan STA Tiranus, Bandung).
47. Elisabeth Sondang (Associate Librarian - JIS).
48. Endang Ernawati (Library and Knowledge Center Bina Nusantara University).
49. Endang Fatmawati (Kepala Perpustakaan FEB UNDIP).
50. Endang Fitriyah (Surabaya).
51. Endang Gunarti (Surabaya).
52. Endhar Priyo Utomo (Semarang).
53. Erizt Putra Kelana (Alumni IP&I UIN Sunan Kalijaga).
54. Etin Sumiyati (Sekretariat Wakil Presiden RI).
55. Evalien Suryati (Salatiga).
56. Fahma Rianti (Pustakawan STEI SEBI Sawangan Depok).
57. Faishal Hidayatullah (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro).
58. Firman Edi (ATPUSI Riau).
59. Francisca Messakh (Sekolah Pelita Harapan Karawaci).
60. Galuh Paramita Swasti (Pustakawan UDINUS Semarang).
61. Gamma (Staff Library News TV ONE).
62. Gerri Mulyawandry (Labschool Kebayoran).
63. Halima Bustami (Pustakawan UNJ).
64. Hamid Mahmud Marrancang (Perpustakaan STAIN Parepare).
65. Hanna Latuputty (Pengurus Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia - APISI).
66. Hartanto (Sidoarjo).
67. Hastun Rifa’i (Wonogiri).
68. Hendriyanto (Kulonprogo).
69. Heni Feviasari (Pustakawan STEI Tazkia).
70. Heri Kurniawan (Pustakawan SMAN 1 Lendah Kulonprogo DIY).
71. Heriyanto (Pengajar Ilmu Perpustakaan di Semarang).
72. Herlina (UPT Perpustakaan IAIN Raden Fatah, Palembang).
73. Hertanto Eko, A.Ma.Pust (Pustakawan SD di Kab. Tegal).
74. Hijrah Fitriani (Pustakawan RSUP Fatmawati Jakarta).
75. Hilda Putong (Librarian, Head of Research Center Ssttintim Makassar).
76. I Gede Edy Purwaka (Staf Unit Capacity Development, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta).
77. Ika Wulandari (Bandung).
78. Ikatan Alumni Ilmu Perpustakaan dan Informasi Sunan Kalijaga Yogyakarta.
79. Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII).
80. Imam Budi P (Binus Business School Librarian).
81. Imelda Nuralam Pakpahan (Pustakawan di Kementerian Kelautan dan Perikanan)
82. Imron Rosyadi (Pustakawan IAIN Walisongo Semarang).
83. Information Resource Center (IRC) Jakarta.
84. Irma Elvina (Perpustakaan IPB).
85. Irman Siswadi (Pustakawan UI).
86. Ishak Juarsa (Perpustakaan Sumatera Selatan).
87. Iskandar Said (Pustakawan Unhas Makassar).
88. Ismawati Setyaningsih (Pustakawan, Bekasi).
89. Iwan Prasetyo (Jakarta).
90. Iwan Tero (Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara).
91. Jajang Burhanudin (Pustakawan UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
92. Jazimatul Husna Arba’i (Pustakawan FTM TL UPN ” V” Yogyakarta ).
93. Joko Bangun Nugroho (Pustakawan SDN Kabuaran, Prb, Kbm).
94. Jumadi (Grobogan-Purwodadi).
95. Jurusan Ilmu Informasi & Perpustakaan Fikom UNPAD.
96. Kalarensi Naibaho (Pustakawan UI).
97. Kemala Widya Paramita (Jakarta).
98. Klub Perpustakaan Indonesia (KPI).
99. Kurnia Utami (Perpustakaan UMS).
100. Latifah Wahyuni (Pustakawan SMPN 7 Magelang).
101. Leilla Claudya (Surabaya).
102. Lenny Florida Sitanggang (Pustakawan Sekolah Medan).
103. Lenti Sitorus (Pustakawan Khusus – Jakarta).
104. Lesdi suryadi said,S.IP, (Pustakawan SMAN 9 Kota Tangerang Selatan).
105. Lilies Fardhiyah (Bogor).
106. Lis Setyowati (FT UNDIP).
107. Lukman Budiman (Bogor).
108. Lulu Lucyana (Jakarta).
109. Luthfianti Makarim (Pustakawan, Jakarta).
110. M. Harfano A (Pustakawan SMP/SMA Sutomo 1, Medan).
111. Mamok Suparmo Paulus (Yogyakarta).
112. Mariyah (Pustakawan UI).
113. Maryani Septiana (Pustakawan Poltek Batam).
114. Maryulisman (Pustakawan UIN Jakarta).
115. Mat Sjafii (Pustakawan Unair).
116. Melkion Donald (Pustakawan Baperpusip Prov. Jatim).
117. Minanuddin (Forum Perpustakaan Khusus).
118. Misbah Munir (Banjarmasin).
119. Mochamad Ariyo Faridh Zidni (Pustakawan Konsultan/Independen/ Jakarta-Bogor).
120. Moh Rif’an SIP (Pustakawan MAN 2 Madiun).
121. Mohamad Aries (Depok).
122. Mohammad Luthfil Hakim (Pustakawan Fak. Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
123. Muhammad Sholihin (Universitas Sebelas Maret).
124. Muhammad Tawwaf, S.IP.M.Si (Pustakawan UIN Suska Riau & Ketua PD IPI Riau).
125. Mujaini (Pustakawan Inspektorat Jenderal Kemenkeu).
126. Munawaroh (Perpustakaan STIE Perbanas Surabaya).
127. Murad Maulana (Pustakawan Bapusda Kab. Indramayu).
128. Muraro Bidami (Mahasiswa IP&I IAIN Raden Fatah Palembang).
129. Murtini Pendit (Pustakawan Senior).
130. Mustika Wati (Jakarta).
131. Musyawarah Kerja Pengelola Perpustakaan Sekolah (MKPPS) Kota Metro-Lampung.
132. Mutri Batul Aini ( Pustakawan Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta).
133. Nasirullah Sitam (Alumni IP&I UIN Sunan Kalijaga).
134. Neni Trisnawati (Bogor).
135. Nina Purwani Istiana (Pustakawan UGM).
136. Nurma Baity Abidin, S.Hum (Perpustakaan SMKN 1 Tengaran, Kab.Semarang).
137. Nurul Hayati (JIP UIN Jakarta).
138. Ola Triana (Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan Fikom Unpad).
139. Perpustakaan American Corners Indonesia.
140. Perpustakaan Antropologi Padjadjaran.
141. Perpustakaan Dbuku (Surabaya).
142. Perpustakaan UNIKOM (Bandung).
143. Prafita Imadianti (Mahasiswa Magister Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia).
144. Prakoso Bambang (Surabaya).
145. Prita Hw (Alumni IIP Unair, Founder Jaringan Insan Baca, Penulis).
146. Puti Asmarani (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
147. Quraisy Mathar (Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar).
148. Rahmad Adhi Tama (Depok).
149. Rahmat Saputra (Depok).
150. Ratna Kriswijayanti (Perpusda Kab. Jepara).
151. Reni Siti Zachrani (Pustakawan Balitnak, Bogor).
152. Resty Jayanti Fakhlina (Dosen Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi IAIN Imam Bonjol Padang).
153. Retno Vian Rosika (Pustakawan SMP 8, Kota Batu).
154. Riana Mardina (Pustakawan UKRIDA).
155. Rika Mustikawati, S.Sos (Sukabumi).
156. Rini Yastuti (Semarang).
157. Rosita T (Perpustakaan HITS Tangerang).
158. Rotmianto Mohamad (Pemkab Magetan).
159. Salmubi (Perpustakaan B.J. Habibe Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar).
160. Samuel Tri Santoso (Pustakawan SMA WARGA Surakarta).
161. Sasadara Manjer Kawuryan (Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang).
162. Sekar Dinihari K. Wardhana (Ichthus School Jakarta South).
163. Shanti Maulani (Mahasiswa II&P Fikom Unpad).
164. Siti Nurningsih (Jakarta).
165. Sri Ati Suwanto (Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP).
166. Sri Sulastri Prabowo (Bogor).
167. Sri Wulan (Pustakawan Biologi LIPI).
168. Sugeng Wahyu Ariyadi (Pustakawan Baperpusip Prov. Jatim).
169. Sulistiorini (Pustakawan Unair).
170. Sulistyo Basuki (Profesor Ilmu Perpustakaan & Informasi).
171. Supriyadi (Pustakawan STKIP MPL LAMPUNG).
172. Sushanty Chandradewi (Librarian The Japan Foundation, Jakarta).
173. Suzanna Katharina Mamahit (Universitas Ciputra Library).
174. Tan Kayen (Kedungwuni).
175. Tatang Pamungkas (Surabaya).
176. Taufik Hidayah (Pustakawan SMP Negeri 2 Maos,Cilacap).
177. Tri Hardiningtyas (Pustakawan UNS).
178. Trini Haryanti (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia).
179. Umi Proboyekti (FPPTI DIY).
180. Verina Maria Oktaviane (Pustakawan Majalah SWA).
181. Vivit Wardah Rufaidah (PUSTAKA BOGOR).
182. Wahid Nashihuddin (PDII LIPI).
183. Wasli Andril Fajar (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UNAIR).
184. Wawan Darmawan (Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan UNPAD).
185. Welmin Suharto (Pustakawan Universitas Brawijaya).
186. Wibowo Purnomohadi (Pendiri Grup Republik Pustakawan).
187. Wiji Lestari (Mahasiswi D3 Perpustakaan UNS).
188. Winda Hanifa (Mahasiswa IP&I).
189. Wuri Indri Pramesti (Sumedang).
190. Yanti Kustanti, A.Md., S.Sos. (Pustakawan SMA Negeri 3 Sidoarjo - Jawa Timur).
191. Yanto Dhiya’uddin (Mahasiswa S2 IP&I UIN Sunan Kalijaga).
192. Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI).
193. Yoseva Silaen (Pustakawan Khusus).
194. Yournetty (Pustakawan Perpustakaan Umum LIA).
195. Yuli Asmini (Pustakawan dan Educator Komnas HAM Indonesia).
196. Yulianti Fajar Wulandari (Pustakawan Kementerian Kehutanan RI).
197. Yulianti Sodikin (Pustakawan Fikom Unpad).
198. Yusri Fahmi (Pustakawan STAIN Padangsidimpuan Sumatera Utara).
199. Yustin Ningsih (Jombang).
200. Zulianto Adi (Pustakawan Sekolah Alam Cikeas).

Monday, 12 December 2011

,

Diskusi tentang GPL/Opensource

Yang saya posting dibawah ini, adalah jawaban atas diskusi yang ada pada sebuah wall Facebook. Wall tersebut adalah wall aplikasi perpustakaan. Aplikasi tersebut adalah aplikasi yang dijual dan tidak dilisensikan dibawah GPL v.3. Padahal ada pengakuan di wall, bahwa aplikasi tersebut menggunakan 30% code SLiMS.
Yang saya pahami, jika menggunakan GPL maka turunan harus GPL.

Sayangnya, pengakuan 30% tersebut sekarang telah dihapus dan tidak ada dokumentasinya. Maka untuk lebih baiknya, saya tidak menuliskan nama aplikasi tersebut.

Berikut adalah jawaban saya terkait diskusi mengenai GPL di wall tersebut yang sekarang telah dihapus, untungnya saya masih ada dokumentasinya.



Mohon maaf, bisa jadi apa yang saya pahami tentang GPL, khususnya v.3 belum pas dan masih ada kesalahan. Mohon koreksinya:


--------------------



1. Gratis tapi tidak gratis -> saya kira jelas, bahwa gratis bukan identifikasi dari OS
2. Kita permudah saja diskusi ini dengan cerita ini:
Ada orang yang membuat program, kemudian dia ingin semua orang dapat mereview programnya, memodifikasi dan menyebarkan kembali. Maka dia memberikan lisensi GPL v.3. Dan dia ingin segala turunan dari program itu juga berlisensi GPL.
Nah suatu ketika ada yang menggunakan program dia, tepatnya sourcecodenya untuk dikembangkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Setelah jadi dia jual, tapi ternyata setelah dijual dia mengurangi hak orang lain terkait kebebasan yang sebagaimana yang diinginkan si pembuat pertama sesuai lisensi GPL.
Bisakah si pemodifikasi ini disebut sebagai melanggar hak/lisensi? Karena setelah sampai pada si pemodifikasi, idealisme pembuat pertama menjadi terhambat.

3. Jika seserorang mengembangkan program berlisensi GPL, maka dia harus ikut aturan GPL. Jika tidak, dalam arti dia akan memotong hak kebebasan pada lisensi ini makas sebaiknya dia tidak menggunakan program berlisensi GPL. Lebih baik dia membuat dari awal. Di sini perlu jelinya seorang programmer menggunakan kode yang tersebar diinternet, tahu apa lisensinya dan tahu apa konsekuensi dari lisensi itu. Ketahui dulu lisensinya, keinginan pembuatnya dan hormati lisensi itu beserta segenap konsekuensinya

4. Bagaimana jika seorang programmer menemukan pada program non-GPLnya (proprietary) ditemukan source-code berlisesnsi GPL? maka ada beberapa pilihan.
a. Dia harus menghilangkan semua code berlisensi GPL itu
b. Dia harus memberikan lisensi GPL keseluruhan program
c. Dia harus negosiasi pada pemilik source-code (pencipta pertama) yang dia pake, agar mendapat ijin menggunakan dalam bentuk lisensi yang berbeda.

5. Point 4 di atas, jelas menerangkan etika dalam GPL. Jika memotong lisensi GPL maka dia harus minta ijin. Kan code itu bukan dia yang bikin?

6. Bagaimana jika menyebarkan hasil modifikasi, termasuk theme yang katanya berhak cipta sesuai UU ITE padahal tidak diijinkan oleh pemodifikasi?
Sebelum sampai pada kasus ini, sebenarnya si pembuat/pemodif sudah melanggar GPL terlebih dahulu. Jadi sebelum ke UU yang lain, GPL sudah dilanggar.
Pengubahan lisensi/pengurangan hak pada lisensi GPL = pelanggaran penyebaran theme.

7. GPL aturan dasarnya = proprietary. Minta ijinlah kepada pemilik jika ingin berbuat sesuatu yang lain daripada yang disebutkan dalam lisensi. Dalam hak cipta juga demikian, "dilarang...... tanpa ijin dari penulis/pemegang lisensi". jadi kalau ingin berbuat sesuatu yang berbeda dengan lisensi GPL terhadap code yang berlisensi GPL ya harus ijin ke pemilik lisensi atau membuat dari awal, atau menggunakan lisensi opensource yang lebih longgar. Kalau tidak ijin=penjiplakan.
Dalam hukum ada yang disebut "fair use". Dalam UU Hak cipta ini ada pada pasal 15, yaitu sebuah produk digunakan dalam pendidikan atau penelitian. Nah bagaimana dengan produk berlisesnsi GPL? Justru produk GPL sangat mendukung pendidikan dan penelitian untuk kemanfaatan dan juga penyebaran ilmu pengetahuan.

8. GPL harus disandingkan ITE. Maaf saya awam hukum, tapi menurut kajian hukum terkait opensource dan hukum di indonesia, tak ada yang bertentangan dan justru sesuai dengan hak cipta. Hak cipta GPL ada pada si pemilik lisensi/pembuat pertama = hak cipta secara konvensional. Artinya jika keinginan pencipta pertama program GPL terkait ciptaannya dilanggar itu sama dengan ketika sebuah produk proprietary dicopy dan disebarkan tanpa ijin pemegang lisensi.

9. Coba kita kembalikan ke filsafat dasar Gerakan FOSS. Kenapa FOSS (khususnya GPL) menyediakan kemerdekaan untuk melihat sourcecode, memodif, menyebarkan dan segenap turunannya harus berlisensi GPL?
Karena ini akan mendukung percepatan penyebaran pengetahuan. Ilmu pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan ummat manusia sehingga semua berhak untuk melihat code, memodif dan menyebarkan kembali. Sourcecode yang berlisesnsi GPL diharapkan dapat membuat semua orang dapat mempelajari dan akhirnya pengetahuan dapat tertransfer dari si pembuat code ke orang lain, begitu seterusnya.
Hal ini sudah dapat dirasakan hasilnya. Berapa banyak orang yang akhirnya dapat melakukan remastering Linux, berapa orang yang akhirnya dapat mempelajari programming bahkan tanpa sekolah programming.

Ada buku menarik terkait ini "Lisensi Copyleft dan Perlindungan Opensource software di indonesia" penulisnya Ika Riswanti Putranti. Penerbit Gallery Ilmu 2010.


-------------

Berikutnya juga postingan jawaban saya pada sebuah diskusi di group SLiMS:

keterangan:
>>=saya
>=Fulan

>>Saya merasa, selama ini ketika kita membeli sebuah aplikasi, kebanyakan bukan membeli, tapi menyewa.

>Dilema juga menggunakan atau memodifikasi opensource GPL v3 tsb, mengapa? di satu sisi katakanlah"tertolong" karena opensource - codenya terbuka jadi para programmer bisa belajar tentang pemrograman,akan tetapi tidak mempunyai lisensy - lisency selalu dibawah GPL.

>> Itulah yang disebut sebagai konsekuensi mas. GPL, khususnya v.3 saya sering menyebut sebagai bentuk aturan gotong royong di era digital. Gotong royong, bukan berorientai uang, tapi penghargaan pada orang yang ikut gotong royong dan bersifat pengembangan komunitas/kebersamaan. Sedikit unsur "uang" dalam proses gotong royong.

>programmer indonesia ingin bisa menciptakan suatu karya tersendiri dengan munculnya open source ini bukan sebatas pakai, ganti template tanpa ada perkembangan lebih lanjut.

>> dan setahu saya sudah ada mas? KOHA itu opensource, SLiMS opensource, GDL juga, dan kesemuanya dipakai tidak hanya di negara pengembang, tapi sudah lintas negara. SLiMS dan GDL produk indonesia, sekedar menyebut dua diantara banyak produk.
Gerakan OS sendiri mendorong orang untuk mengembangkan lebih lanjut kok mas. hanya saja, kondisi perkomunitas sepertinya berpengaruh pada cepat-lambatnya perkembangan ini. SLiMS yang dilempar ke komunitas pustakawan, akan berbeda dengan kernel linux yang dilempar ke programmer.

>dengan adanya belajar ini diharapkan "ini loh buatan indonesia" bukan atau tergantung dari produk luar terus, programmer indonesia saat ini mulai maju dan giat sekali dan kebanyakan masuk ke jajaran team Microsoft dan Borland - Delphi, kenapa karena Hasil karya nya ada dan itu diakui, akan tetapi sayangnya close source., dan sedikit untuk open source karena "nasib dan hasil karyanya tidak jelas/ tidak diakui" .. inilah dunia open source tsb, dan banyak lisensy selain GPL, yg bagus lisency LGPL karena bersahabat.

>>Nah, lisensi akhirnya adalah sebuah pilihan dan bagaimana kita dapat memilih sesuai dengan kebutuhan. GPL juga bersahabat, untuk yang dapat bersahabat dengan GPL. LGPL juga demikian. Relasi antara manusia dan teknologi itu berdasar kompromi dan berbeda antara satu orang dan lainnya. Masuk Microsoft juga bagus, tapi yang perlu diingat microsoft juga punya kepentingan.
"nasib dan hasil karyanya tidak jelas/tidak diakui" Maksudnya?


>pertanyaannya :
>1. sebagai generasi muda IT Indonesia mana yang sebaiknya dipilih - Open source atau Close source ?
>> berbeda antara satu dan lainnya mas. Sebagai orang awam TI saya pilih opensource. OS lebih demokratis dan kesannya egaliter. Saya sering menyebut OS sebagai bentuk gotong royong era digital. Lebih baiknya coba kita pelajari awal kelahiran gerakan Opensource ini. Budaya memberi "gift culture" yang saya ingat, adalah dasar kelahiran gerakan Free/Opensource. Itu kompromi saya saat ini.

>2. Sekarang melalui team Bizpark Microsoft sedang dibinanya beberapa programmer2 indonesia (pengembang) selama dua tahun untuk membuat produk atau program buatan sendiri (made in Indonesia) ?

>>bagus. Tapi ingat, teknologi apapun bentuknya selalu punya "kepentingan", bahkan Opensource sebagai sebuah gerakan juga punya kepentingan. Saya sendiri mencoba mencari kepentingan apa dibalik itu. Linux, windows, slims, juga punya kepentingan.

>3. Banyak programmer indonesia yg kerja keluar negeri karena di luar negeri diakui, akan tetapi di dalam negeri tidak diakui, dll.ini realita di lapangan.
>> hubungan dengan Opensource?

>4. apakah tidak ingin Indonesia membuat produk sendiri ?
>>Pengen, dan saat ini sudah ada.

>5. Opensource ini bukan buatan rakyat indonesia, akan tetapi hanya modifikasi, kerja keras tapi tetap saja di bwh lisensy GPL, mau sampai kapan terus begini?

>> coba pelajari filosofi Opensource dulu mas. Maksud dari "bukan buatan rakyat indonesia?" bisa diberikan contoh nyata?
Kalau misal GPL dianggap tidk cocok untuk seorang programmer, maka 1) jika dia membuat aplikasi jangan melisensikan dibawah GPL 2) jika dia ingin mengembangkan aplikasi OS, jangan mengembangkan dari yang berlisensi GPL.


Mungkin mas Fulan dapat menjelaskan filosofi Close source/proprietary ?
Menurut mas Fulan, apa kekurangan dari lisensi GPL v.3/opensurce dengan close source?
Mas Fulan sendiri memilih yang mana?

Friday, 9 December 2011

Surat cinta buat mamak (di syurga pastinya) -10 Januari 2011-

bismillah.....



Mak, pa kabarmu di sana?
bolehkan aku mengirim surat ini untukmu,
ku harap Allah juga ridho
amieeen
mak, kini ku tahu
betapa hebatnya engkau
betapa tak hebat coba?
Jika aku melihat suami dan adikku hebat,
pastiah mereka dilahirkan dari orang yg tak hanya sekedar hebat
pasti super hebat
dan itu engkau mak
mak,pastinya engkau (di syurga) bangga kan?
Bagaimana tak banga coba jika aku yg di sini (dunia) saja bangga
lihatlah mak, putramu tumbuh jadi lelaki yg membanggakan
lihat pula mak putrimu, dia juga tumbuh jadi pribadi yg menyenangkan
dari mereka mak, aku belajar banyak
ikhlas, syukur, sabar, kerja keras......,(dan masih banyak mak)
mamak, dulu sekali ketika Allah mengajakmu “pergi”
aku sempat “mengadu” bahkan mungkin juga “marah”
kataku “mengapa Allah kau ajak pergi mamak?” padahal kan aku belum sempat melihatnya ?”
Allah tak menjawab mak saat itu
tapi sekarang mak, Allah menjawabku
aku “melihatmu” di suami dan adikku
mak, aku juga pernah pula “berteriak” pada NYA
kenapa mamak Kau taruh di syurga sekarang ya Allah?
Dan aku tahu mak,
semua karena DIA dan keiklhasanmu (untuk pergi) hanya
karena ingin melihat suami dan adikku menjadi soleh, solehah
bukankah pahalamu yang tak terputus doa dari anak yang soleh dan solehah mak?
Itulah kenapa Allah menjemputmu awal mak
meski mak, semua terasa sakittttttttttt
mamak, aku memang buka siapa-siapamu
melihatmu pun Allah tak memberi waktu
dan aku tak tahu mak, apa doaku slama ini sampai
karena darahmu tak ada padaku
semoga aku dapat pula menjaring pahala menajdikan suami dan adikku bertambah soleh
mak, kau tahu
aku juga pernah bermimpi bertemu engkau
tapi aku lupa kau bicara apa padaku
(kecewa)
aku ingin bercerita banyak mak
tapi mungkin kali ini cukup sampai di sini dulu ya
satu hari nanti entah aku, suami atau adikku pasti akan melanjutkan surat ini
jangan bosan tunggu kami ya mak di syurga
mak aku ingin berdoa untukmu bersama suami dan adikku, dengarkan ya mak


ya Robbi.
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
Robbi auzi’ni an-asykuro ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala sholihan tardhohu wa adkhilni bi rohmatika fi ‘ibadikash sholihin", "Ya Robb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh", (Q.S. 27 : 19).


amieeeen



maka ya Robbi, saksikanlah doa ini
buatlah mengguncang kehidpuan 'arsyiMu

ditulis oleh Fitri Saudah

Wednesday, 20 October 2010

, , , , , , , , , , ,

Degex, linux distribution with LIS apps

Sumber Open-Lib




Pada artikel terdahulu saya pernah berjanji (kepada diri sendiri) untuk melanjutkan proyek puppylib dengan menyertakan free/libre and opensource software (floss) lebih banyak dan lebih mutakhir di bidang perpustakaan dan informasi. Tetapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan untuk membuat proyek baru yang serupa tapi tak sama. Puppylib sendiri merupakan distro linux dengan beberapa aplikasi perpustakaan hasil remastering dari Puppylinux 4.20. Saat tulisan ini dibuat Puppylinux sudah mencapai release 5 (codename lupu alias “lucid puppy” karena dibangun menggunakan paket binari Ubuntu 10.04 (Lucid lynx))

Jadilah saya memulai proyek baru dengan pindah ke basis Ubuntu, distribusi linux yang memang dipakai sehari-hari di kantor. Hal lain juga karena ubuntu adalah distro besar dalam arti dukungan korporat dan komunitasnya sehingga tidak kesulitan menemukan jawaban apabila ada masalah. Adapun demikian saya tetap merekomendasikan Puppylinux untuk komputer lama karena tidak membutuhkan resource yang tinggi. Puppy juga cocok untuk live-cd internet cafe atau belajar remastering linux karena sudah tersedia utility remastering.

Degex, linux distribution with LIS apps


What’s in a name?


Nama “degex” dipilih karena distro ini didedikasikan untuk “dgek”. Sesederhana itu. Saya akan sangat bersyukur apabila degex bisa juga bermanfaat untuk orang lain, khususnya pustakawan atau mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi yang tertarik dengan berbagai macam software di bidang perpustakaan. Degex adalah remastering dari Ubuntu 10.04 LTS (lucid lynx) dengan ukuran 1.8GB. Untuk itu resiko yang ada adalah dibutuhkan resource/spesifikasi komputer yang cukup bagus. Di rekomendasikan minimal RAM 512 MB memory dan kartu grafis support 3D untuk menjalankan compiz.

What’s within?

Aplikasi yang ada di degex ini merupakan aplikasi yang saya pikir penting untuk diketahui dan dipelajari oleh seorang pustakawan atau mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi. Beberapa diantaranya merupakan aplikasi yang jarang digunakan bahkan didengar di sini, namun begitu populer di luar negeri seperti marcedit, mendeley atau bibexcel. Ada juga satu aplikasi sistem perpustakaan yang begitu terkenal sehingga banyak digunakan oleh khalayak pustakawan di Indonesia, yaitu Senayan Library Management System (SliMS). Bahkan hadirnya degex juga untuk mempromosikan SliMS ke dunia luar sebagai salah satu produk opensource kebanggaan anak bangsa. Pastinya anda akan mendengar alunan lagu “Indonesia Raya” ketika degex pertama kali beraksi :D

Tentu saja tidak semua software yang ada di degex dibutuhkan. Sebuah atau beberapa software membutuhkan software lainnya agar berfungsi secara optimal seperti bibexcel atau winisis dengan pajek untuk membuat mapping. Yang lain berupa aplikasi mandiri atau wujud sebagai extension atau plugins yang terintegrasi seperti openoffice dengan mendeley, zotero dan mediawiki.

Dan yang tidak kalah penting Degex merupakan distro linux dengan multimedia-ready yang bergaya Mac (thanks to cairo-dock). Ini artinya semua codec yang dibutuhkan untuk memainkan file multimedia telah terinstall dengan baik. Ayoo maaanngggg….

Di bawah ini, saya membuat menu berdasarkan 6 katerogi kategori aplikasi yang secara subjektif mewakili kebutuhan pustakawan :

  1. bibliometric and mapping
      bibexcel

      network workbench (nwb) tool

      pajek

      publish or perish (PoP)

      txt2pajek

      VOSViewer


  2. data mining
      weka

      WinIDAMS


  3. library system
      CDS/ISIS family: isis2xml, isismarc, winisis, xml2isis

      oclc dewey cutter program

      senayan library management system (slims)

      mediawiki

      resourcespace (digital asset management)


  4. metadata tools
      marcedit

      marcview


  5. mindmapping
      freemind

      vue: visual understanding environment

      vym: view your mind

      xmind


  6. reference management
      bibus

      I, Librarian

      JabRef

      Pybliographic

      referencer


  7. thesaurus tools
      TheW

      ThManager

      XRefHTJ



network workbench tool (nwb)
vosviewer-cluster
isismarc-isis2xml
slims - multimedia player
marcedit
marcview
bibexcel
thmanager
stardict - kamus dan thesaurus
publish or perish
slims - z3950 protocol
menu

Diluar pembagian kategori diatas, ada pengurangan dan penambahan aplikasi. Sebagai contoh Stardict (memuat oxford advanced learner’s dictionary, kamus besar bahasa indonesia, tesaurus bahasa indonesia dan beberapa bahasa asing), shutter, chmsee (chm reader), guake terminal, shotwell photo manager menggantikan f-spot, tesseractGUI (the best scanner software), drivel journal editor (blogging client), gwibber, liferea feed reader, fbreader (ebook reader), pdf editor, cheese, gpodder (podcasting tool), skype, pino, ekiga, gtk-recordmydesktoop, bleachbit, poedit (translations editor), Xaos (fractal zoomer), etc.

Saya sudah menginstall banyak plugins untuk firefox yang dirasa penting untuk dimiliki dan digunakan oleh pustakawan dalam kegiatan sehari-hari. Untuk menyebut beberapa diantaranya : zotero, SimilarWeb, mobile barcoder, QR code tag, screengrab, scribefire, fireftp, shareholic, twitterbar, web developer, server spy, dan masih banyak lagi yang lainnya. Menu bookmarks firefox dipenuhi oleh link blog para pustakawan yang menarik untuk disimak dan online tools yang sangat dibutuhkan.

Degex merupakan live-dvd linux karena ukurannya lumayan gemuk yaitu 1,8 GB. Harap maklum. Bagi pihak yang tertarik mencoba ikuti link download berikut ini. Bila ada yang berminat untuk copy secara offline dipersilakan menghubungi saya di nomor ini 081318024601 atau email di cyberariani@gmail.com. Untuk menghindari kesalahpahaman, perlu dikatakan disini bahwa degex adalah hasil remastering dari Ubuntu 10.04 yang memuat banyak aplikasi opensource dan freeware. Oleh karena itu degex juga produk free/libre and opensource sofware (floss) dan dibebaskan bagi siapapun untuk copy tanpa perlu biaya apapun. Yang perlu dipersiapkan hanyalah DVD kosong dan saya akan membakarnya untuk anda.

Terimakasih.
http://vlado.fmf.uni-lj.si/pub/networks/pajek/



|

http://vlado.fmf.uni-lj.si/pub/networks/pajek/

Wednesday, 22 September 2010

, , , , , , , , ,

Ibra Foss ke SLiMS, + openbiblio dan siprus to SLiMS

Sebagaimana diketahui, SLiMS memiliki fitur eksport dan import data. Dimana memungkinkan kita membuat sebuah database dengan format csv seperti di SLiMS dan mengimportnya.

Atau mengambil database tertentu untuk kemudian memformat sesuai csv SLiMS dan mengimportnya ke SLiMS.

Pada postingan kali ini, saya akan memberikan sebuah tips untuk mengeksport database IBRA FOSS agar dapat dimodifikasi dan dimigrasikan ke databas SLiMS.

Database IBRA yang saya jadikan rujukan adalah IBRA FOSS yang terdapat di http://mitraperpustakaan.com
Dalam database ibrav3_opensource terdapat beberapa tabel, yaitu:

* abstraksi
* buku
* conifos
* conuser
* digital
* digital_abstraksi
* inventaris
* menu
* statistik
* user

Dalam hal ini yang akan kita migrasikan hanya dari tabel buku, yang memuat data bibliografi koleksi, dan tabel inventaris yang memuat data item buku.

Pertama:
Saya asumsikan yang mencoba memiliki database IBRA. Download file export_ibra.php dan submenu.php di SINI dan copikan di /admin/modules/bibliography/

Kedua:
buat duplikasi sysconfig.inc.php di Senayan anda, caranya klik file tersebut dan copy-paste. File baru hasil copian berinama, misalnya: sysibra.inc.php

Ketiga:
edit file sysibra.inc.php, cari konfigurasi database dan isikan sesuai database ibra anda, misalnya:

define('DB_HOST', 'localhost');
define('DB_PORT', '3306');
define('DB_NAME', 'databaseibra');
define('DB_USERNAME', 'root');
define('DB_PASSWORD', 'admin');

Ingat, konfigurasi ini ada dalam file sysibra.inc.php, bukan di sysconfig.inc.php.

Keempat:
Buka file export_ibra.php yang tadi anda download, yang sudah ada kopikan di
/admin/modules/bibliography/
Cari baris 25 yang berisi :
require '../../../sysconfig.inc.php';
Ubah menjadi:
require '../../../sysibra.inc.php';

Dengan demikian maka export_ibra.php akan membaca database dari sysibra.inc.php yaitu database ibra anda sesuai langkah ketiga.

Kelima:
Buka Senayan anda, masuk ke halaman administrasi, masuk ke modul bibliografi, maka seharusnya anda menemukan tampilan ini:



Keenam:
Lakukan proses eksport, maka anda akan mendapatkan database csv dengan format sebagai berikut:

"Perpustakaan kita","2nd","isbn","Bentang Budaya","2010","ii; 89 hlm.; ilus ","700 Puj p","Ind","Yogyakarta","perpustakaan","","<123><345>","Pengarang","subyek"

Nah, setelah itu anda dapat mengolahnya dengan Openoffice Calc atau Excell, sesuai csvnya SLiMS dan mengimportnya ke SLiMS lewat Modul Bibliography.

Bagaimana dengan jenis database lainnya (openbiblio, phpmylibrary, atau database ibra anda tidak sama dengan contoh di atas), silakan mencoba dengan melakukan modifikasi di export_ibra.php pasti bisa.

Selamat mencoba.

tambahan 12/1/2012. Script migrasi dari OB, Siprus, Ibra ke SLiMS download di sini

Thursday, 9 September 2010

, , , , , , , , ,

JogjaLib.Net

JogjaLib.Net merupakan portal yang misi pertamanya menyatukan katalog perpustakaan, baik yang online maupun tidak online di internet. JLN dikhususkan pada para pengguna SLiMS (http://senayan.diknas.go.id) di Jogjakarta dan sekitarnya. Namun demikian para pengguna aplikasi selain SLiMS dapat pula bergabung, dengan mengkonversi data ke model SLiMS terbelih dahulu. Konversi dapat dilakukan sendiri dengan menggunakan manual yang disediakan tim SDC (dapat diunduh di http://senayan.diknas.go.id/download/docs) atau mengkonversi dengan kreativitasnya masing-masing. Selain itu juga dapat menggunakan jasa komunitas.

Saat ini sudah ada 18 perpustakaan yang berkeinginan untuk bergabung, sebagian besar telah menyetorkan data bibliografinya di JLN. Perpustakaan tersebut terdiri dari SMA, Perguruan Tinggi, LSM, SD, SMP, MAN, dll.

JLN digerakkan oleh komunitas SLiMS Jogjakarta, yang terdiri dari para pustakawan berbagai institusi, dan para mahasiswa ilmu perpustakaan.

Dengan JLN ini, maka para pengguna sistem informasi khususnya SLiMS dapat melakukan publikasi koleksi di internet secara terpadu, serta dapat melakukan P2P Service.

P2P service merupakan fasilitas yang dimiliki SLiMS untuk berbagi data bibliografi. Jika sebuah perpustakaan mempunyai koleksi baru, dimana koleksi itu telah ada dalam data biblio JLN, maka perpustakaan tersebut tidak perlu mengetik ulang deskripsi bibliografinya, cukup mengambil data bibliografi dari JLN.

URL JLN ada di http://jogjalib.net

[caption id="attachment_780" align="center" width="450" caption="JogjaLib.Net"]JogjaLib.Net[/caption]

Harapan kami, nantinya akan muncul katalog-katalog bersama yang berdiri berdasar disiplin ilmu tertentu (misal katalog bersama perpustakaan Geografi Se Indonesia) atau berdasar teritori (perpustakaan bersama se propinsi Papua) atau berdasar jenis perpustakaannya.

Terimakasih kepada pak Hendro Wicaksono dkk yang telah mengembangkan SLiMS, semoga dicacat sebagai amal jariah yang mengalir terus pahalanya.... Amin.
, , , , , ,

SLiMS dan IndoMARC

MARC merupakan kepanjangan dari Machine Readable Cataloging yang merupakan standar penulisan katalog elektronik, Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC ternyata sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat, konsep ini akhirnya diadopsi oleh berbagai Negara termasuk Indonesia yang menggunakan INDOMARC.

INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2719 untuk Indonesia, format IndoMARC ini terdiri dari 700 elemen bibliografi yang sangat lengkap. Kode MARC ini nantinya akan sangat berguna apabila terjadi proses saling bagi data elektronik antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, biasanya dikenal dengan istilah Harvesting atau saling pungut. Sumber UPI


Dari penelusuran penulis, ada dua model INDOMARC, versi Dikti dan versi Perpustakaan Nasional. Kebetulan penulis berhasil menemukan Indomarc versi Dikti di sini.

Bagaimana field bibliografi SLiMS? Apakah dapat mengakomodasi tag yang ditentukan dalam IndoMarc. Kita lihat gambar IndoMarc berikut ini: (klik untuk ukuran besar)

[caption id="attachment_774" align="aligncenter" width="500" caption="IndoMarc versi Dikti"]IndoMarc versi Dikti[/caption]


Ketika membandingkan dengan deskripsi bibliografi di SLiMS, saya menemukan bahwa 98% yang ada dalam IndoMarc versi Dikti ini telah terakomodir di SLiMS. Ada dua tag yang tidak ada dalam SLiMS, yaitu Kode Operator dan Badan Pemilik. Meskipun demikian, Badan Pemilik dalam Indomarc dapat diwakili oleh Location di SLiMS, sementara Kode Operator dapat ditambahkan sendiri dengan menggunakan fitur Custom Bibliographic Record.

Untuk pertukaran data, perbedaan ada pada penamaan tengara. Misalnya di MARC pengarang diwakili oleh 100, maka di SLiMS xml untuk pertukaran data menggunakan MODS.

Friday, 18 June 2010

, ,

Plugin Daftar Online di SLiMS

Berikut plugin untuk proses daftar ulang anggota perpustakaan yang menggunakan SLiMS. Ini dibuat ketika di perpustakaan saya (Geologi UGM) menghadapi mahasiswa baru yang banyak dan harus memasukkan satu-satu.
Pada awal saya buat sangat jadul, tapi berkat polesan Om Arie Nugraha, jadi lebih ramping.

Dengan cara online para anggota baru dapat mendaftarkan diri dan petugas tinggal mengaktifkan saja. Ketika mendaftar online, keanggotaan masih di disable.

Sayangnya plugin ini masih belum ada fitur upload foto dan pengamanan antispamnya.

Masukkan kedua file ini di /lib/contens/
Kemudian panggil dengan menggunakan /index.php?p=form

File dapat diunduh di sini

Friday, 4 June 2010

, , , ,

Komunitas SLiMS Jogja: sejarah singkat

"All of Us together are smarter than just a few of us" 1


Komunitas ini merupakan komunitas yang mempunyai minat bersama pada perangkat lunak SLiMS. SLiMS merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan yang dirilis dengan lisensi opensource (http://senayan.diknas.go.id). SLiMS telah digunakan oleh lebih dari 120 perpustakaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. SLiMS sendiri dikembangkan oleh pustakawan di Indonesia dan didukung oleh para programer dari luar negeri.

Ide mendirikan komunitas ini adalah didorong oleh keinginan untuk belajar bersama tentang SLiMS, terinspirasi model komunits Linux dengan visi ingin memerdekaan pustakawan dan meningkatkan kompetensi pustakawan terutama dalam bidang teknologi informasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa masih ada banyak pengelola perpustakaan yang belum mengenal perangkat untuk manajemen perpustakaan. Komunitas SLiMS ingin mengangkat harkat dan martabat pustakawan dengan SLiMS yang menyediakan solusi berbasis komunitas.

Kegiatan yang dilakukan adalah kumpul bulanan belajar menggunakan dan sedikit demi sedikit belajar mengembangkan software SLiMS. Tempatnya bergiliran dan diusahakan free alias tidak berbayar bagi setiap orang yang ingin bergabung.

Komunitas SLiMS berdiri kurang lebih pada bulan Januari 2010, padaa saat ini berkumpul 6 orang di selasar KPTU Fakultas Teknik UGM. Keenam orang ini adalah Purwoko, Budhi Santoso, Sumaryanto, Yusuf, Adi dan Haris. Pertemuan yang kemudian berpindah di perpustakaan Teknik Geologi UGM ini membuat kesepakatan akan ditindaklanjuti dengan acara (yang akan diusahakan) bulanan dengan format awal belajar bersama mengenai SLiMS. Personil yang kemudian bergabung cukup banyak, tercatat ada Tarto, Ari Suseno, Heri Abi; dari luar kota ada Awriel Apria S (Banjarnegara), Hartono (Kudus), Wisnu (solo), Priyanto (solo), Muhtarom (bantul) dan banyak lagi.

Pertemuan kedua pada bulan berikutnya juga diadakah di selasar KPTU Fakultas Teknikn UGM. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh 14-an orang baik mahasiswa perpustakaan maupun pustakawan. Di KPTU ini ke 14 orang tersebut belajar upgrade SLiMS dan menginstall SLiMS terbaru. Pada saat acara ini bertepatan dengan seminggu sebelum Mini SDD (Senayan Developers Day) di Jakarta yang dilaksanakan oleh SDC (Senayan Developer Community).

Pertemuan ketiga dilaksanakan di UIN Sunan Kalijaga, tepatnya di masjid darurat UIN (Sebelah gedung serbaguna). Hadir sekitar 34 orang terdiri dari mahasiswa, pustakawan dan bebetulan juga di hadiri oleh 2 developer SLiMS dari Jakarta (Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha) yang kebetulan ada acara di IAIN Walisongo Semarang.

Pertemuan keempat dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fakultas Geografi UGM dan dilaksanakan di lingkungan Fakultas Geografi UGM. Diluar dugaan pertemuan keempat ini dihadiri oleh bukan hanya dari wilayah jogja, namun juga dari Solo, Boyolali, Kudus dan Klaten. Keseluruhan yang hadir mencapai 70-an orang. Pertemuan kali ini membahas tentang upgrade SLiMS dan SLiMS for beginner.

Pertemuan kelima diadakan di Ruang Seminar 1 Fisipol UGM (29 Mei 2010) dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fisipol UGM. Hadir dalam pertemuan ini seratusan lebih dari berbagai daerah, diantaranya Kudus, Boyolali, Klaten, Bantul, Banjarnegara. Pertemuan kali ini diberi tajuk Senayan Community Meetup yang dihadiri oleh kelompok developer senayan dari jakarta (Hendro Wicaksono, Arie Nugraha, Arif Syamsudin dan Wardiyono).

Pertemuan kelima ini cukup fenomenal, karena disampaikan secara langsung oleh pengembang tentang fitur baru di SLiMS stable 14 (Seulanga) dan ide-ide yang akan diterapkan di SLiMS stable 15 (Matoa).

Fitur baru di Seulanga adalah Union Catalog Service, P2P Service, Cetak bukti transaksi, Flexible custom field di membership dan bibliografi. Semetara ide untuk Matoa adalah implementasi third party indexing, P2P paging, pencarian yang baru dan dukungan notasi klasifikasi.

Target komunitas SLiMS kedepan adalah membuat perpustakaan yang ingin menggunakan perangkat lunak untuk otomasi dapat terfasilitasi dengan SLiMS, kemudian perpustakaan yang telah menggunakan SLiMS di Jogja dapat disatukan dalam sebuah katalog induk Jogja, sehingga orang yang ingin mengunjungi perpustakaan Jogja tinggal mengklik satu url saja. Fasilitas untuk Union Catalog ini telah tersedia di Seulanga (Stable 14). Selain itu, bersama dengan para developer, Komunitas Jogja berharap menjadi acuan pembangunan komunitas serupa di daerah lain di Indonesia.

Komunitas SLiMS jogja juga membuka diri untuk diajak bekerjasama dalam pengembangan teknologi informasi perpustakaan berbasis komunitas, baik dengan peerintah kota, kabupaten atau propinsi dalam rangka pengembangan perpustakaan.



Fitur Home





Fitur OPAC





Komunitas SLiMS mempunyai blog di http://slims.blogdetik.com, dan untuk komunitas jogja dapat dihubungi saudara Tarto (081904042823)

Salam..

* jika ada yang masih kurang dari tulisan ini boleh ditambahi, terutama tanggal-tanggal kegiatan