![]() |
| tangkapan layar 13 April 2026 |
Majelis Wali Amanat merupakan salah satu organ kampus yang punya 15 wewenang. Dari 15 wewenang itu, yang paling masyhur adalah mengangkat dan memberhentikan rektor.
~ sesungguhnya tidak ada tafsir tunggal dalam ilmu dan tren pengembangan perpustakaan ~
![]() |
| tangkapan layar 13 April 2026 |
Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide dan pengalaman. Ada ide dan konsep, yang sayang jika terbuang. Meski tak mungkin tidak dapat diulang kembali setara 100%.
---
Pembuka
Pertemuan tersebut berbau misi. Saya menciumnya. Dan ini misi ke-dua, meskipun pembawanya beda orang. Misi pertama, saya bisa lepas secara baik dan benar. Ya, setidaknya saya jujur dalam prosesnya. Pada misi ke-dua ini, saya melipir. Saya sempat sampaikan tentang kebanggaan saya menjadi pustakawan meskipun honornya tidak sebanyak bidang lain, dan bahkan image-nya pun tidak positif sepenuhnya. Saya mencintai profesi fungsional ini.
Pernah ada cerita, saat fakultas mengundang tim "reformasi kepegawaian" dari fakultas yang sudah mapan, tim ini berkomentar bahwa pustakawan identik dengan menunggu dan melayani yang datang. Saya marah? Tidak. Justru ini kesempatan saya untuk menunjukkan bahwa pustakawan punya peran penting, meski tak terasa langsung sebagaimana keuangan, kepegawaian dan semacamnya.
Berhasil saya membalik image pustakawan? Tidak 100%. Namun arah angin itu semakin terasa. Mahasiswa, komentar positif dosen dll, muncul. Namun hal ini, dugaan saya tidak sampai pada para anggota tim reformasi kepegawaian dari fakultas lain tersebut.
Hembusan angin ini mau saya perkuat. Begitu idealisme saya, pada profesi ini.
Harapan saya, dengan cerita kebanggan saya pada perpus dan pustakawan di misi ke-2 ini, pejabat tersebut berubah pikiran.
Namun tidak....
Tapi ternyata tidak. Mungkin memang secara administratif tidak ada pilihan lain, meski secara kapasitas ada yang lebih baik. Saya harus berbagi. Bukan berpindah. Menjadi Koordinator, yang saat itu menggantikan nomenklatur jabatan kasie, tidak saya bayangkan sebelumnya. Sama sekali.
Bidang yang diberikan pada saya merupakan bidang baru yang menuntut kreatifitas. Cair, bisa masuk ke berbagai lini, meski tanpa harus klaim sekalipun.
Ada canggung di awal waktu, bahkan sampai berakhirnya jabatan tersebut. Dari sekian tugas, saya hanya punya 2 modal: pernah mengelola medsos dan bikin podcast--itupun saya nyambi jadi pustakawan--. Humas, IT, Alumni, saya tak punya modal banyak. Apalagi "informasi" kefakultasan.
Beruntungnya semua rekan di bidang ini suportif. Tidak terkecuali. Tapi saya tetap canggung. Lokasinya di gedung baru, terpisah dari gedung perpus yang selama 10 tahun saya tempati setiap hari. Ada jarak, baik fisik maupun psikologis. Pada posisi ini, duduk di ruang yang disiapkan untuk saya pun jarang. Ini hambatan psikologis lainnya. Saya lebih senang duduk bareng di meja kursi bareng teman-teman. Jika dihitung, 90% waktu saya di sana, bukan di kursi ruang terpisah.
Bahkan, saat mengambil sebuah ide, saya benar-benar rikuh, dan berkali saya sampaikan dan tegaskan, "wis bener urung ya". Termasuk hal yang sejak awal saya hindari: uang. Misalnya merekrut partime, benar-benar penuh pertimbangan. Merektur partime ini pun saya lakukan setelah terdesak oleh keadaan. Meminta partime, berarti menambah beban keuangan fakultas. Saya tak punya pengalaman dengan keuangan, saya tak tahu seberapa banyak kemampuan fakultas, dan boleh atau tidak jika saya minta partime. Akhirnya, meski saya (ini saya sadari belakangan) ternyata punya sedikit otoritas, saya baru memutuskan merekrut partime sekian bulan setelah saya di bidang ini. Itupun hanya satu. Dan itupun setelah saya sampaikan ke atasan, dan disampaikan "oke, 1 masih oke". Saya khawatir, permintaan saya membebani fakultas.
Sebagaimana saat masih mengelola medsos FT (IG) sendirian, dari pada membebani keuangan fakultas, saya coba kerjakan sendiri.
Cerita lain ketidak enakan perasaan adalah saat harus nembung iPhone untuk keperluan medsos ke bagian keuangan dengan perasaan dag dig dug. "Ono duwite ora, ya". Boleh ndak, jangan-jangan diminta ketemu WD atau bahkan Dekan dahulu. Duh. Ketemu pejabat merupakan hal yang saya hindari. Saya lakukan jika dan hanya jika benar-benar perlu.
Ruang kreativitas
Bidang Informasi, Humas, IT, Medsos, dan Alumni merupakan bidang yang menuntut kreatifitas. Cair, sisi administratifnya sangat kecil. Sembilan puluh % kreatifitas, termasuk membuka ruang-ruang baru agar bidang ini--sebagai bidang baru--bisa selevel dengan bidang lain yang sudah ada (tridharma, aset maintenance pengadaan, SDM keuangan).
Jujur, saat awal mula saya dapat honor jabatan, saya kaget. Duh. Dapat honor segini, tapi kerja-kerja saya masih begini saja. Melihat bidang lain yang sudah dulu ada dan tentu saja mapan perannya, hati saya bergolak. Honor saya terlalu besar dibanding peran saya. Begitu fikir saya waktu itu.
Menjelang akhir masa jabatan (saya di bidang ini selama 1 tahun 3 bulan), saya lontarkan guyonan dengan teman-teman.
"Bidang ini ada beberapa bagian: sistem informasi, jaringan, media/media sosial. Sistem informasi bisa dihandle si A, jaringan si B, medsos si C. Si A,B,C itu sudah ada dalam ploting saya. Lalu saya? kembali ke perpustakaan. Tentu teman-teman berteriak. Ini normal.
Sebenarnya ini--saya sadari kemudian--semacam cek ombak. Ketika 3 bagian itu sudah ada PIC-nya, berikutnya saya bertugas memperluas peran tim. Ini strategi yang saya lakukan saat full time di perpus. Saya ingin lakukan juga di tim yang baru.
Saya akan mencoba masuk pada: mengembangkan konsep "media" dengan segala turunannya, mengembangkan konsep humas dengan segala turunannya, mengembangkan konsep IT tidak dalam tataran teknis namun ke hal yang lebih strategis, mengembangkan kosep "informasi" menjadi lebih strategis (pada tulisan lain di blog ini saya tuliskan bahwa bidang informasi bisa seperti PIK di Kompas, atau PDAT di Tempo, dia jadi sumber info dan analisis organisasi), mengembangkan pengelolaan alumni. Mengelola informasi masih sesuai dengan fungsional saya sebagai pustakawan. Apalagi saya pernah menemukan berbagai arsip tua milik fakultas dalam bentuk foto. Ah. Sepertinya menyenangkan.
Saya termasuk yang lambat belajar, penuh pertimbangan, dan dalam kondisi normal tidak dapat cepat berani ambil risiko. Butuh waktu lama dalam menyesuaikan diri. Penyesuaian selama 1 tahun 3 bulan di bidang ini mungkin cukup. Namun ternyata saya harus berpindah. Apa yang telah saya bayangkan dan rencanakan, tentu harus saya ikhlaskan.
Marah
Saya ingat, satu hal yang saya tanyakan ke teman-teman pada bidang ini, dan ingin saya pastikan sebelum saya berpindah adalah: tidak ada yang pernah saya marahi.
Marah pada rekan kerja (dalam hal ini staf di bidang saya) saya hindari. Saya tak berhak marah pada mereka, justru mereka yang memiliki hak marah pada saya. Ketika saya marah, itu artinya saya tak mampu mengajak mereka diskusi tentang apa tugas dan kewajiban, oleh karena itu mereka-lah yang justru berhak marah.
Berpindah
Berpindah ke bidang baru, tentu diikuti berbagai pertanyaan, utamanya tentang: "apa yang akan saya lakukan?". Apalagi, berbeda dengan bidang humas, medsos, alumni, dan informasi, yang saya masih punya modal meski sedikit; pada bidang tridharma modal saya nyaris 0. Tidak ada sama sekali.
Selain itu, juga pertanyaan: seberapa luas saya bisa berkreasi sebagaimana pada bidang sebelumnya?
Tuhan punya skenario. Selalu ada pola yang terlihat setelah ketidakberaturan.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan __Heraclitus (filsuf Yunani kuno, 540-480 SM)
---- bersambung.....
"Terimakasih telah berkenan menjadi percobaan saya," joke saya membuka pelatihan pada Senin 2/3/26 di ruang pelatihan lantai 1 Perpus FT. Kenapa "percobaan"? Karena cukup lama saya tidak melakukan interaksi ini dengan mahasiswa.
Ya. 15 orang mahasiswa ini mau mendaftar dan hadir pada acara pelatihan yang saya fasilitasi. Sederhana, tentang membuat catatan/anotasi paper.
Peserta ini hadir berkat bantuan teman-teman admin pasca FT. "Mohon saya dibantu untuk kembali membangkitkan jiwa kepustakawanan saya, yang cukup lama meredup", begitu pesan yang saya sampaikan ke teman-teman admin pasca sehari sebelum acara.
Peserta berasal dari berbagai departemen. Ada yang S2 dan juga S3. Ada yang berasal dari fakultas lain. "Tahu dari mana, mas?, saya bertanya. "Dari teman kos", jawabnya sambil menunjuk teman sebelahnya yang berasal dari FT.
Itulah yang membuat hati saya mongkog. Seakan mengingatkan kembali, saat berkegiatan di perpustakaan FT hadir mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebenarnya selama saya sedikit undur diri, kegiatan masih berlangsung. Namun saya absen cukup lama. Dan ini pertemuan saya yang pertama.
Ini memang kelas yang nekad (pakai d). Jika tidak begini maka saya akan tercerabut dari interaksi intelektual bersama mahasiswa.
Ini salah satu cara saya, agar interaksi administratif yang akhir akhir ini saya geluti, bisa saya pertemukan dengan interaksi intelektual dan mendapatkan bentuk yang ideal.
Apakah ada cara lain? Ada. Saat ini, dengan hak yang saya miliki, saya "bebas" ikut di setidaknya 4 mata kuliah Fakultas. Tentu saya manfaatkan. Meski saya ndak bisa dapat ijazah M.Eng. namun minimal saya pernah ikut kuliahnya.
**
"Dari mana, mas/mbak?", tanya saya di akhir acara.
Tidak disangka-sangka, ternyata beberapa dari 15 mahasiswa ini punya latar belakang yang sama. Ada yang sama asalnya, sama universitas saat studi sarjana dll. Hal ini yang menjadi sebab kedua hati saya mongkog. Dari interaksi seperti ini, ide-ide riset dan kolaborasi riset muncul.
"Sebenernya, pelatihan seperti ini bukan hanya difasilitasi oleh pustakawan. Teman teman mahasiswa juga bisa. Jika ada yang bisa skill A, kita fasilitasi," ungkap saya.
"Tapi kami tidak menyediakan honor. Kami sediakan sertifikat dari fakultas," jelas saya.
Setelah acara selesai, ada mahasiswa yang japri saya. "Saya tertarik memberi kelas materi x,xx,xy, Pak".
"Siapa, Pak," kita atur waktunya. Inilah sebab ketiga yang membuat hati saya mongkog.
-bersambung-
Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide yang pernah muncul di otak saya, kira-kira 2 tahun lalu. Dari pada terbuang. Tentu ini opini saya pribadi. Beberapa istilah juga kreasi yang muncul dari otak saya. Spontan. Mungkin berguna.
******
Setidaknya ada dua jenis berita yang ada di web perguruan tinggi, baik itu fakultas maupun universitas, yaitu pasive news dan active news. Dua jenis berita ini juga dapat dinisbahkan pada jurnalisnya.
Passive news merupakan berita yang berasal dari kegiatan yang ada di lingkungan kampus. Jurnalis tinggal duduk, berita akan datang. Ekstrimnya, pengelola web tinggal menunggu atau meminta, atau menodong pelaksana kegiatan untuk melaporkan kegiatannya. Atau paling jauh, mereka akan hadir pada acara dan kemudian menulis berita berdasar acara tersebut.
Berita jenis ini dekat ke jenis laporan. Berita berupa modifikasi dari laporan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam atau luar kampus oleh civitas akademika. Kegiatan diantarkan ke jurnalis, kemudian jurnalis membuat berita, dimuat di web lalu disebarkan ke dalam dan keluar. Pemberitaan jenis ini bisa disebut sebagai pengabaran, pemberian kabar. Kabar bahwa kampus telah melakukan A,B,C,D.....
Trigger munculnya berita jenis ini bukan jurnalis, melainkan panitia kegiatan. Jurnalis bersifat pasif.
Jenis berita ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Kedua, active news. Pada berita jenis ini, seorang jurnalis harus berfikir dan bertindak lebih aktif di banding pada berita jenis passive. Jurnalis menjadi trigger munculnya tulisan.
Misalnya, jurnalis melihat kondisi luar kampus, dianalisis, ditarik ke dalam kampus, diolah, dicarikan nara sumber. Apa yang terjadi di luar kampus dibenturkan dengan pendapat pakar di dalam kampus. Kerja-kerja ini dapat dikaitkan dengan visi misi kampus + mengaitkan dengan ideologi jurnalisme kemudian dirangkai dengan tujuan tertentu.
Jurnalis, melalui analisisnya, menjadi trigger munculnya berita. Pada berita jenis ini, ada ruh, visi dari jurnalis. Pada berita jenis ini pula, dapat dilihat ke mana arah pemikiran jurnalis. Ada misi para jurnalis kampus untuk mengarusutamakan pemikiran dan peran kampus yang berdampak. Apakah dia menjalankan jurnalisme kampus untuk advokasi (dalam arti luas), propaganda, kritis dll.
Berita jenis ini menjadi penyeimbang berita seremonial dan kegiatan. Active news mungkin lebih sedikit dari passive news. Namun bobot active news harus berlipat lebih daripada passive news
****
Di FT UGM, jurnalis, pengelola web dihimpun bersama dengan "informasi" dan "humas", diwadahi dalam struktur Tim Kerja, setara dengan 3 tim kerja lainnya.
Saya lihat, nilai minusnya (baru nemu) hanya 1, utamanya jika disandingkan dengan tim kerja yang lain. Setara. Karena setara, maka tim lain tidak dapat melakukan perintah secara langsung. Sifatnya koordinatif. Posisinya bukan sub ordinat. Karena bukan sub ordinat, maka pada kondisi normal, hubungan tim kerja bidang jurnalis dengan tim kerja lain bersifat administratif. Nah. Butuh kebesaran hati dari tim kerja jurnalis untuk embedded ke bidang-bidang yang lain untuk menggali berita.
Tim Kerja bidang pemberitaan dapat memantau kegiatan pada bidang lain melalui (administratif) sistem informasi, kemudian mengonversinya menjadi berita. Atau Tim Kerja yang lain memberi tahu kegiatan untuk diliput menjadi berita, atau setor berita. Namun pilihan kedua ini hukumnya sunah, karena dalam jurnalisme, yang seharusnya aktif itu jurnalis, bukan sumber berita. Jurnalis yang harus aktif bertanya terkait kegiatan, jika perlu melakukan wawancara pada sumber berita (Tim Kerja lain), bukan menunggu berita/data disampaikan. Keaktivan sumber berita (dalam bentuk setor berita atau memberitahu kegiatan) merupakan bonus saja.
-------
Namun, struktur informasi-humas-medsos ada pada level yang sejajar dengan Tim Kerja yang lain, juga memiliki nilai positif yang tidak dimiliki oleh fakultas lain. Ada kemerdekaan dan keleluasaan para jurnalis (sebagai aktor) untuk membawa misi pada proses jurnalistik kampus. Misalnya misi perubahan, pengarusutamaan isu dan lainnya. Tentu saja dengan cara yang harus disesuaikan dengan kondisi arena (lingkungan). Dalam struktur yang sejajar itu, maka potensi active news dalam segala bentuknya menjadi lebih besar.
Selain itu, ketika jurnalis menjadi satu dengan bidang dengan data, informasi, humas dan IT, dapat menjadi penyuplai informasi fakultas untuk berbagai kebijakan. Tim kerja ini punya informasi, punya data, sekaligus punya infratruktur pengelolaannya.
Dari kerja-kerja jurnalis diperoleh informasi, dari dalam berbagai sistem informasi yang dikelola (diolah) juga diperoleh data. Data-data pada sistem informasi dapat ramu menjadi informasi yang lebih berguna. Data science dapat diterapkan.
Masih dari aspek informasi, bidang ini juga dapat membentuk/membuat informasi baru melalui berbagai kajian. Paling sederhana melalui riset/survey pada mahasiswa, dosen, pihak luar dll.
Apa yang disurvey? Banyak. Banyak sekali. Opini bisa digali, pendapat bisa digali. Penyebaran informasi bisa diukur. Banyak yang bisa dikaji.
Bidang ini berpotensi menjadi tabung pemikiran (think-thank). Kajian dan informasi yang dimiliki akan menjadi penopang kebijakan fakultas. Mirip seperti PDAT-nya Tempo, atau PIK-nya Kompas.
Sebagai pengelola informasi fakultas, pertanyaan terkait data dan informasi diarahkan ke bidang ini, bukan bidang lain. Berapa jumlah mahasiswa? Berapa wisudawan? Berapa IP rata-rata? dll.
Termasuk memastikan apakah informasi seputar kampus sampai kepada mahasiswa. Bagaimana tanggapan mahasiswa? apa saluran terbaik untuk menyampaikan informasi pada mahasiswa/civitas? Bagaimana efektifitas tiap saluran informasi.
Informasi tidak sekedar disebarkan kemudian selesai. Tapi diukur efektifitasnya.
(data/info di sistem informasi + informasi internal + data/informasi dari kajian) -> Jurnalis -> diwadahi IT -> disebarkan melalui berbagai format dan media.
Penutup
Dengan konsep ini, maka bidang ini tidak atau bukan bidang yang sifatnya administratif. Ada berbagai peran strategis yang dapat diambil dan dilaksanakan. Jurnalis bekerja layaknya jurnalis, ideologis bukan sekedar administratif. Cara berhubungan pun ala jurnalis. Relasinya berupa relasi jurnalis dengan sumber berita, buka boss dengan bawahan. Pada mereka juga melekat etika jurnalis(me).
"Informasi, Humas, Media Sosial + IT" bukan bagian-bagian yang terpisah. Itu satu kesatuan.
1 November 2024 s.d. 31 Oktober 2025.
Setahun di Tridharma. Cukup? Belum. Tentu bukan "belum" dalam arti ingin lebih lama di Tridharma, melainkan belum cukup untuk memahami tridharma.
Sebagaimana saya pernah tuliskan, tridharma merupakan bagian yang sudah mapan dibanding bidang saya sebelumnya. Ada luasan hingga ke berbagai sudut yang saya belum memahami. Tidak jarang ada hal baru yang muncul, yang kami semua belum pernah menemui.
Dunia tridharma merupakan dunia yang lebih administratif dibanding dunia saya sebelumnya. Saya menyebutnya sebagai dunia surat-suratan. Semua harus sesuai prosedur, tentu saja ini juga berlaku di bidang lain. Namun di tridharma, surat begitu lekat. Semua harus ada formalnya. Berbeda dengan dunia saya sebelumnya yang cenderung jagongan. Rembugan.
Namun demikian, ada banyak hal yang saya peroleh di Tridharma; atau ada potensi yang dapat saya peroleh di tridharma jika dikaitkan dengan kepustakawanan, profesi utama yang masih melekat pada diri saya.
Interaksi saya dengan mahasiswa lebih terbuka, dan cakupannya lebih luas. Pokok pembicaraan terkait mahasiswa yang menghilir ke saya lebih banyak, dan tentu ada banyak yang dapat saya kaitkan dengan dunia kepustakawanan.
Hal lain yang menarik, adalah interaksi perkuliahan. Saya punya kesempatan lebar untuk ikut hadir di kelas. Utamanya MK yang dikelola fakultas, saya pernah hadir dan duduk di dalam kelas. Mendengarkan dosen memberikan kuliah. Dari proses ini saya tahu bagaimana kuliah itu diberikan, interaksi dosen-mahasiswa, dinamika, dan hal lain yang sebelumnya tidak saya ketahui.
Masih dengan perkuliahan, saya punya kesempatan masuk di MK yang memiliki versi daringnya. Ada 1 MK yang diangkat dari kegiatan perpustakaan, yaitu MK etika dan teknik penulisan ilmiah. MK ini memiliki versi online (MOOC) di Elok. Saya dapat ikut di dalamnya, sehingga sedikit lebih tahu bagaimana MOOC dikelola.
*****
Interaksi dengan mahasiswa juga terbangun melalui berbagai kegiatan dan organisasi mahasiswa. Ini yang dulu, saat di perpus benar-benar saya inginkan. Saat di perpus, saya pernah nekad mengundang organisasi mahasiswa ke perpus. Mengajak mereka diskusi tentang bagaimana menghidupkan perpus dengan berbagai kegiatan. Berhasil? Ada berbagai kegiatan KM/HM/BEM/BSO yang diselenggarakan di perpus. Dengan peminjaman ruang yang mudah, mereka memilih perpus untuk berkegiatan sekaligus memromosikan organisasinya.
Di Tridharma, diri saya diuji pula dengan kegiatan-kegiatan besar. Bagaimana mengawal kegiatan tersebut agar terlaksana dengan baik, berhasil dan minim catatan. Berhasil? Tentu belum sepenuhnya. Masih ada catatan pasca kegiatan yang menjadi PR untuk perbaikan kegiatan berikutnya.
Beberapa kegiatan besar tersebut, mulai dari Pionir Kesatria yang melibatkan ribuan mahasiswa. Kemudian Teknik Fair, Pesta Rakyat Teknik, Porsenigama, Teknisiade. Kemudian kegiatan baru yang berpotensi menjadi kegiatan besar: career summit.
Di Tridharma, intensitas pertemuan saya dengan organisasi mahasiswa lebih tinggi. Tinggal bagaimana memanfaatkan ini untuk lebih menghidupkan perpustakaan. Terlaksana? Belum. Inilah PR saya. Menyeimbangkan antara di Tridharma dan profesi kepustakawanan. Perlu strategi untuk itu.
****
Besarnya potensi manfaat yang dapat saya ambil, baik untuk diri saya (sebagai bagian dari pengembangan diri) maupun untuk pekerjaan, tentu juga berbanding dengan tantangan dan risikonya. "Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula kadar manfaat yang akan diterima," begitu kata buku. Saya lupa judulnya, antara Leader Who Had No Title, atau Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodoh. Artinya, sebuah pilihan yang punya risiko atau tantangan yang besar, juga memiliki dampak/manfaat besar pula. Demikian pula di Tridharma.
Apa saja itu?
Paijo, pustakawan ndeso itu berdiskusi dengan kawan karibnya: Karyo. Selepas Isya, di atas lincak, di depan rumahnya. Disela suara-suara jangkrik. Kadang angin malam berhembus mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Tak seperti biasanya, kali ini topiknya agak berat. Bukan ngrasani perpustakaan dan koleksinya, tapi tentang integritas.
"Ini tentang integritas, Kang", Paijo memulai. "Datanya juga tidak main-main. Ini data dari KPK," tambahnya.
"Lho, kamu masih percaya KPK, Jo?" Karyo memastikan.
"Lihat dulu datanya, Kang!".
********
KPK, lembaga yang padanya dipercayakan beban berat pemberantasan korupsi, mengeluarkan laporan indeks integritas tahun 2024. Ada berbagai kategori yang diukur, salah satunya pendidikan.
KPK melaporkan indeks kategori pendidikan dengan 3 level: SD/SMP sederajat, SMA sederajat, dan pendidikan tinggi (perguruan tinggi?). Bagaimana hasilnya?
![]() |
| Indeks integritas jenjang SD/SMP |
![]() |
| Indeks integritas pendidikan nasional (jenjang dikti) |
![]() |
| Indeks integritas pendidikan tinggi (KEMENDIKTISAINTEK) |
Karyo: "Paripurna? Memang ada orang yang ilmunya paripurna, Jo?"Paijo: "Minimal secara administratif"Karyo mrengut.
Angka indeks pendidikan baik Kemendikbud maupun perguruan tinggi secara umum, masih lebih rendah dibanding indeks integritas pendidikan secara nasional.
![]() |
| Indeks SD/SMP dan aspek temuannya |
![]() |
| Indeks Perguruan tinggi (nasional) dan aspek temuannya |
Karyo: lalu apa kesimpulanmu, Jo?
Paijo: Sesungguhnya, setiap kita punya hak menjadi mufasir. Semua berhak menafsir dan menyimpulkan. 😊
Hadirnya Anies, bagi saya merupakan "penyeimbang" dari 3 tamu di tahun sebelumnya. Selain itu, hadirnya Anies sebagai bentuk komitmen dunia akademik untuk mendukung tumbuhnya sikap kritis dan peduli para mahasiswa baru. Namun demikian, diakui pula bahwa hadirnya Anies berpotensi mengundang komentar yang mengarah pada keberpihakan dan sarana promosi Anies untuk panggung (pilpres) 2029.
Terkait kemungkinan kedua, perlu dilihat dan dicek lagi konteksnya.
Pertama, kehadiran Anies di Pionir sebagai warga negara biasa, dan bukan juru kampanye. Anies hadir tidak membawa partai atau organisasi politik, melainkan membawa pengalaman yang lengkap, mulai bidang pergerakan, pendidikan, birokrasi, politik. Kehadiran Anies dan pengalamannya, justru merupakan bentuk keberpihakan Fakultas Teknik pada pentingnya menghadirkan berbagai perspektif dalam berkontribusi pada bangsa dan negara. Diperlukan tokoh yang mampu mengajak mahasiswa baru berpikir kritis, dan tidak membunuh argumen dengan otoritas. Anies punya kapasitas untuk itu.
Kedua, jika dipaksa dihubungkan dengan agenda politik, maka sesungguhnya semua tamu talkshow Pionir Kesatria punya kepentingan politik. Kita cek tamu-tamu sebelumnya: Ganjar yang saat itu gubernur Jawa Tengah, Basuki yang saat itu Menteri PUPR, Budi Karya yang saat itu Menteri Perhubungan; ketiganya merupakan pejabat politik, pejabat aktif di pemerintahan.
Basuki, saat menjadi pembicara talkshow tahun 2023 membawa materi yang erat dengan pembangunan infrastruktur. Berbagai pejabat di kementriannya dibawa dan beberapa dipanggil naik panggung. Ada unsur propaganda terkait program pemerintah untuk para mahasiswa.
Sebagai tambahan, ada catatan saya terkait hadirnya Basuki dan Budi Karya saat Pionir (PPSMB) tahun 2023 dan 2024: jogetan dan bagi-bagi uang. Bagi saya (maaf jika berbeda pendapat) dua hal ini cukup berjarak dari semangat intelektual kampus, apalagi obyeknya mahasiswa baru.
Dibanding dengan 3 pejabat politik sebelumnya, hadirnya Anies sebagai warga negara biasa—sekali lagi—menjadi penyeimbang. Tidak melulu mengundang pejabat pemerintah, melainkan ada genre atau mahzab lain untuk mempertimbangan pemateri talkshow.
Paling penting untuk dilihat, menurut saya, bukan siapa yang datang, melainkan seperti apa atmosfir yang terbentuk saat hadirnya tamu tersebut. Apakah bisa memantik sikap kritis, memperluas perspektif mahasiswa baru, dan menjadikan mahasiswa berani berargumen yang argumennya itu tidak dibunuh oleh otoritas? Atau sekedar euforia pada popularitas dan nama besar tamu yang hadir semata.
Oke. Kita lanjut terkait politik. Lalu, apakah politik menjadi hal tabu untuk mahasiswa, khususnya mahasiswa teknik?
Tidak!
Politik adalah ilmu, dia diakui dan memiliki prodi di UGM. Sah sebagai sesuatu yang dapat dan boleh dipelajari. Sama seperti hukum, ekonomi, filsafat, dan lainnya.
Kemudian, jika kita tarik ke belakang, sejarah berdirinya FT UGM merupakan keputusan yang terkait dengan kondisi politik. Mulai dari pemindahan STT Bandung ke Jogja, dan bergabungnya STT Jogja menjadi bagian dari UGM. Saat itu pun, Soekarno yang alumni sekolah teknik, juga merupakan politisi. Prof. Roosseno, sosok yang lekat dengan berdirinya STT Jogja juga pernah bergabung di partai politik, sebagai seorang politisi.
FT UGM juga terus melahirkan politisi. Beberapa sampai di posisi penting partai: ketum dan sekjen. Ini berarti politik atau pilihan menjadi politisi bagi alumni teknik, merupakan bagian peran yang harus diambil untuk turut membangun bangsa ini. Ilmu teknik akan mandeg jika tidak ditopang oleh dukungan kebijakan publik, dan ini erat dengan politik. Tentu saja, kebijakan yang diharapkan merupakan kebijakan yang ideal, bukan berdasar kepentingan politik elektoral semata.
Jadi, teknik dan politik sudah menyatu, saling mempengaruhi.
****
Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Anies saat menjadi tamu talkshow Pionir Kesatria. Materi yang dibawakan tentu berbeda dari tiga edisi talkshow pada Pionir sebelumnya.
Anies menyatakan bahwa kampus adalah penyuplai orang berintegritas, bukan suplier koruptor. Kalimat ini sebenarnya umum, namun menjadi beda saat Anies yang menyampaikan. Anies punya sejarah, Anies menyampaikan sejarah penyusunan indeks integritas di Kemdikbud, yang saat itu disusun oleh tim di bawah koordinasi Prof. Nizam (mantan Dekan FT saat masih bertugas di Kemdikbud).
Masih saat membahas integritas, Anies sempat menyinggung nama Tom Lembong, yang pada saat yang sama, banyak dibicarakan kasus hukumnya, hingga kemudian mendapatkan pengampunan. Pada bagian ini, mahasiswa mendapatkan perspektif segar yang berbeda dengan tiga talkshow sebelumnya.
Anies juga menggaris bawahi, bahwa teknologi memberikan kemampuan teknis, namun kepekaan sosial memberikan arah untuk masa depan. Mahasiswa didorong untuk terlibat, tidak hanya menjadi tukang, namun juga memberikan arah.
Anies juga menyuguhkan rumus sukses bagi mahasiswa baru. Trust=competency+intimacy, namun harus diikuti dengan pengurangan self-interest.
Saat membahas self-interest, Anies menyebut bahayanya mendahulukan kepentingan pribadi dan keluarga. Pesan ini memang sensitif, karena dalam konteks bernegara dapat dikaitkan dengan polemik saat ini masih ada bahkan bisa dianggap belum selesai. Namun, sebagai sebuah pesan dan rumus, yang disampaikan Anies relevan untuk mahasiswa yang sedang membangun karakter dan prinsip hidup.
Saat sesi tanya jawab, ada mahasiswa yang bertanya tentang apatisme mahasiswa teknik terhadap politik. Anies memberikan jawaban yang mudah dicerna: membangun jembatan adalah kerja teknik, tetapi menentukan di mana jembatan dibangun adalah keputusan politik. Begitu pula, memutuskan lokasi ibu kota negara bukan sekadar urusan insinyur, melainkan kebijakan politik. Lagi-lagi, saat menyebut lokasi ibu kota, tentu dapat dikaitkan dengan polemik yang ada. Artinya, jangan apatis pada politik. Banyak hal disekitar ditentukan oleh keputusan politik.
Di sinilah Anies berhasil memancing mahasiswa baru untuk berfikir kritis. Jangan sampai alumnus teknik hanya menjadi tukang, dan pemburu proyek tanpa tahu substansi proyek tersebut.
****
Mahasiswa teknik perlu memahami dan mempelajari politik sejak dini—bukan untuk sekedar menjadi politisi, tetapi agar memahami dan mengambil peran pada keterkaitan antara ilmu teknik dan kebijakan publik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Keterlibatan orang teknik dalam politik atau kepedulian mahasiswa teknik pada politik bukanlah hal tabu. Peran tersebut telah lama dilakukan dan terus harus dilakukan.
Hadirnya Anies, pada dasarnya sama dengan hadirnya Ganjar, Basuki, dan Budi Karya pada periode Pionir sebelumnya. Alumnus-alumnus terbaik yang diundang untuk hadir di depan mahasiswa baru. Semua tamu memiliki kekhasannya masing-masing.
Hadirnya Anies menjadi penyeimbang, dan bentuk keadilan dalam memilih tamu yang hadir. Hadirnya Anies merupakan keberpihakan. Bukan keberpihakan pada kepentingan politik Anies, melainkan keberpihakan pada kepentingan mahasiswa.
Semoga, dengan demikian kampus makin kuat menghadirkan mimbar akademik—ruang terbuka untuk ide, kritik, dan sikap kritis terhadap kondisi masyarakat dan juga kritis pada kekuasaan.
Sudah 10 tahun alumnus teknik menjadi pembantu alumnus kehutanan. Ayo, Bangkit!
*** selesai ***
Kalasan, sisi barat daya candi sambisari
10 Agustus 2025, bakda subuh
“Mau ke mana, Pak Kimpul?”, tanya Paijo pada Pak Kimpul, kenalannya.
“Ngajar, mas”, jawabnya tegas. Sambil berjalan bergegas, tangan kanannya memegang tablet berlogo Apple krowak ukuran 11 inc. Bahunya menggendong tas ransel hitam berisi penuh. Bibirnya menyunggingkan senyum membalas sapaan Paijo.
Mendengar jawaban Pak Kimpul, Paijo kaget. Kok bisa jawabnya “mengajar”. Dia merasa ada yang aneh dengan jawaban itu. Ingatannya pun ke sana dan kemari.
Yang Paijo tahu, di negaranya ada Menteri Pendidikan. Di lingkup kementerian itu ada dirjen pendidikan tinggi, dirjen pendidikan dasar dan menengah, dan juga dirjen pendidikan vokasi. Setiap tanggal 2 Mei, dengan gegap gempita meskipun bertepatan dengan hari libur, Paijo dapat undangan untuk ikut upacara: Hari Pendidikan. Tanggal 2 Mei itu dinisbahkan pada tanggal lahir sang Bapak Pendidikan. Pidato menteri pendidikan pun dibacakan saat upacara itu. Isinya tak lain tak bukan, ya seputar optimisme kemajuan bangsa melalui pendidikan warga negaranya. Paijo rajin hadir dengan baju putih dan celana panjang berwarna hitam.
Yang juga Paijo tahu, pada pasal 31 UUD pun tertulis “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Pada UUD ini, Paijo menghitung, kata pendidikan disebut 10x, sementara pengajaran 1x saja.
Pada undang-undang sistem pendidikan nasional, kata pendidikan disebut 564x. Sementara pengajaran hanya 2x. Pada UU pendidikan tinggi, ada 323x disebut kata pendidikan; sementara kata pengajaran 0x.
Setahu Paijo, sekolah dan universitas juga berbagai institusi serupa lainnya disebut sebagai institusi pendidikan. Guru dan dosen itu disebut sebagai tenaga pendidik. Mahasiswa menurut undang-undang didefinisikan sebagai peserta didik.
Para pemikir terkait, sebutannya juga pemikir pendidikan. Filosofinya juga filsafat pendidikan, bukan filsafat pengajaran. Buku yang terkait pun berjudul pendidikan. Misalnya pendidikan yang membebaskan, pendidikan kaum tertindas, dan semacamnya.
****
![]() |
| Gambar bikinan ChatGPT |
ChatGPT juga mengenali pendidikan. Menurut GPT, pendidikan lebih luas dari pengajaran. Tidak sekedar transfer pengetahuan, namun juga karakter, sikap. Tidak sekedar untung rugi, namun ada di tingkat benar salah dan bahkan baik buruk (etik).
Scopus, saat di tanya apa beda mendidik dan mengajar, juga memberikan defisi singkat dan beda antar keduanya. Begini kata Scopus: Secara ringkas, sementara mengajar adalah komponen dari pendidikan yang fokus pada memfasilitasi pembelajaran melalui aktivitas spesifik, pendidikan adalah konsep yang lebih luas yang mencakup berbagai pengalaman belajar yang bertujuan untuk perkembangan pribadi dan sosial secara keseluruhan. Keduanya saling terkait, dengan mengajar menjadi elemen penting dalam kerangka pendidikan yang lebih besar.
Di bawah ini tabel yang dihasilkan Scopus AI terkait mendidik dan mengajar.
Nah. Orang-orang yang ke sekolah, ke kampus, ke universitas itu mau dapat apa? Tentu saja ingin memperoleh pendidikan, lah!
Lalu kenapa saat di kelas yang didapat justru pengajaran? Ah. Anda bercanda.
****
Indonesia, tahun 2029.
“Mau ke mana, Pak Kimpul?”, tanya Paijo
“Mau mendidik, Mas”, jawab Pak Kimpul.
"Mewujudkan manusia yang paripurna, beretika dan berintegritas, melalui mata kuliah Kalkulus", lanjutnya.
"Gokil, Pak. Keren!"
Paijo tersenyum gembira. Bersyukur, karena yang terjadi di kampus-kampus, sekolah-sekolah dan semacamnya itu bukan lagi sekedar proses administrarif ajar-mengajar, melainkan proses substansial: didik-mendidik.
*****
"Byur..."
Paijo kaget, bangun tidur basah kuyup disiram air oleh simboknya. Ternyata dia baru saja bermimpi. Namun Paijo tetap berharap.
--------------------------
Referensi
Di level departemen, perpus pertama yang berbenah serius secara fisik itu teknik sipil. Tata ruangnya jadi rujukan perpus departemen lain. Namun sayang, perpus ini dipindah. Meski warnanya serupa, namun luasnya berkurang. Perpustakaan lainnya kemudian menyusul melakukan perombakan. Ada teknik kimia, teknik geodesi, teknik geologi juga berbenah. Termasuk perpustakaan teknik mesin dan industri. Beberapa didukung oleh alumni.
Perpus Teknik Mesin dan Teknik Industri berkonsep baru. Mereka mendaku "literacy center". Perpus DTMI ini punya kekhasan dibanding perpus lain di departemen. Ya. Harusnya memang begitu. Perpustakaan yang melekat pada unit, mestinya punya kekhasan. Kalau tidak, lalu apa bedanya? Ndak ada yang dapat dijual.
Saya lihat, di perpus DTMI saat ini, jumlah buku tercetaknya jauh berkurang, kemudian koleksi non tekniknya diperbanyak. Serupa dengan yang kami bangun di perpus fakultas, hanya saja DTMI lebih berani soal dana. Mereka import banyak buku non teknik, plus game-game yang merangsang kreativitas. Bahkan, ada novel yang menjadi rujukan untuk kuliah. Judulnya Madre, karya Dewi Dee.
Selain itu, ada partime yang (beberapa yang saya kenal) punya semangat baca yang tinggi. Ini yang saya suka. Hasilnya, perpus lebih dikenal dari aktivitasnya. Fisik hanya pendukung. Saat rekrut partime, menurut cerita pembinanya, salah satu yang ditanyakan adalah berapa banyak buku yang dibaca, dan ceritakan salah satu buku yang pernah di baca.
Perpustakaan memang harus digerakkan oleh orang yang suka baca. Wajib. Tidak bisa tidak. Pustakawan itu aktor, penggerak. Bukan administrator.
Perubahan konsep perpus DTMI ini ini meyakinkan saya, bahwa perpustakaan itu aktivitas, bukan berhenti di fasilitas.
Menggerakkan aktivitas di perpustakaan dapat dilakukan dengan banyak hal. Pustakawan harus terlibat, tidak hanya menyediakan dan menonton dan administrator saja. Dan, aktivitas yang tak akan lekang oleh waktu adalah kembali ke buku.
*****
Partime di perpustakaan
Masuknya mahasiswa sebagai partime di perpus memiliki 2 pilihan dampak yang ekstrim. Mereka akan tahu dapur perpustakaan, sehingga pandangan mereka pada perpus dan pustakawan akan terkonfirmasi ekstrim positif atau ekstrim negatif.
Partime di perpustakaan bukan meringankan tugas pustakawan. Seting pemikirannya harus diubah. Mereka menjadi penghubung dengan pemustaka. Cari yang usianya sama, satu generasi. Agar nyambung.
Jangan kasih mereka tugas-tugas administratif. Peminjaman buku, pengembalian. Jangan! Apaan itu? Jangan sampai mereka punya pandangan sepele pada tugas kepustakawanan, dan melihat pustakawan itu administratif. Arahkan ke hal yang lebih substansial, ideologis.
Gerakkan mereka untuk membuat kegiatan, beri keleluasaan. Dorong mereka punya visi dan mewujudkan visinya di perpustakaan.
