Showing posts with label koordinator. Show all posts
Showing posts with label koordinator. Show all posts

Sunday, 26 July 2026

, ,

Area Tim Kerja Tridharma. Di mana Perpustakaan dan Lab? Lalu apa peran Ketua Tim Kerja pada ERIC dan LKFT?

 

Gambar 1: peta tridharma

Pada tulisan terdahulu, saya pernah sampaikan bahwa tridharma itu ibarat lingkaran yang telah terdefinisikan luasnya (di sini). Sebagai tim kerja yang senior, posisinya lebih mapan. Sebelumnya disebut seksi, juga pernah disebut bidang. Tridharma punya sejarah panjang dalam struktur organisasi fakultas. 

Maka, ketika saya masuk, saya harus tahu seluas apa lingkaran itu. Untuk mengetahuinya, saya harus mulai dari titik tengah, kemudian menyebar. Kenapa dari tengah? Karena modal saya nyaris nol. 

Luas yang sebenar-benarnya tentu tidak akan dapat saya ketahui. Tridharma itu, meskipun (dugaan saya) sangat administratif, namun dinamis. Kasus baru selalu muncul. Memang, mungkin sudah ada kasus serupa yang muncul sebelumnya dan bisa dijadikan referensi, atau yurisprudensi. Namun, sayangnya yurisprudensi ini tidak tertulis. Memori staf menjadi andalan untuk kemudian menelusuri arsipnya. 

Usaha ini yang cukup menyita tenaga. Lho, kan tinggal mengandalkan staf saja?

Tidak. Bagi saya tidak. Prosesnya sudah benar. Namun, tridharma punya konsekuensi jangka panjang, sehingga sebisa mungkin saya paham apa yang dilakukan.

Awalnya, tridharma FT terdiri dari akademik, kemahasiswaan, kerja sama, P2M. Kemudian pada 6 Januari 2026, ditambah referensi dan alumni (pindahan dari tim kerja lain), serta laboratorium. 

Pada gambar 1, saya coba petakan bidang utama yang ditempelkan ke Tridharma. Pemecahan tiap bidang, saya sembunyikan.

Terdapat bidang-bidang yang ada di bawah WD P & K, serta di bawah WD P2MKA. Pada dua WD ini, saya kira sudah lebih jelas. 

Kemudian di bawahnya ada "Laboratorium", yang  tentu akan terkait pada 2 area: sebagai fisik lab, dan laboran sebagai orang yang mengelola lab. Terkait dua hal ini, masih menjadi PR saya untuk bertanya (atau jika perlu: merumuskan sendiri) terkait apa dan sejauh apa peran ketua tim kerja tridharma.

Apalagi, pada struktur (lihat gambar struktur) terdapat Ketua Layanan Lab yang berada dalam satu kotak dengan Ketua ERIC, posisinya di bawah Ka. ERIC. Tentu hal ini menambah samar, di mana peran ketua Tim Kerja.

***********************

Berikutnya ERIC dan LKFT. Saya sebut ERIC karena lekat dengan lab, saya sebut LKFT karena ada term kerjasama. Lab dan kerja sama merupakan bagian yang menjadi salah dua dari 7 bidang tridharma. Namun pada gambar 1, LKFT dan ERIC saya beri warna merah.

Kenapa saya warna merah?

Begini. Jika dilihat pada struktur FT (https://ft.ugm.ac.id/struktur-organisasi/), ERIC dan LKFT ada pada kotak di bawah Dekan dan WD, di atas kelompok departemen. Keduanya punya pimpinan dari unsur dosen. Sebutannya manager dan kepala. Selain itu, kotak ERIC tidak menyambung ke Ketua Tim. (lihat gambar)




Dari struktur ini, saya menemukan argumen yang kuat berdasar struktur yang ada, serta berdasar tafsir atas struktur tersebut. Saya berkesimpulan bahwa pada ERIC dan LKFT, ketua tim tridharma sebatas administratif staf saja. Misalnya penilaian staf. 

Sementara itu, tugas substansi dari keduanya, koordinasinya melekat pada Manajer ERIC dan Kepala PK-LKFT. Terkait tugas substansi ini, semua sudah paham. Selama ini, memang demikian adanya.

Dengan tafsir saya di atas, maka sesungguhnya kerja administratif pengelolaan staf LKFT dan ERIC bisa berubah dan berpindah ke semua Ketua Tim Kerja. Statusnya administratifnya menggantung, bisa menjadi bandul penyeimbang antar tim kerja. Tidak harus ke  tridharma. 

*****


Gambar 2: Akademik, Kemahasiswaan + P2M

Nah, gambar di atas merupakan kreasi saya, hasil tafsir fakta di lapangan. Menyajikan area yang sudah turun temurun, minimal sejak 2021, melekat pada Kasie/Koordinator/Ketua Tim Tridharma. Lingkaran mewakili staf, bisa satu bisa 2. Saya susun berdasar staf, untuk kepentingan memetakan kondisi lapangan, baik pekerjaan maupun beban staf. 

Irisan antar lingkaran menunjukkan dengan siapa saja bidang tersebut bersinggungan. Akademik, penelitian dan pengabdian (tridharma) menjadi titik pusat. Semua bagian yang mengelilinginya, mendukung proses ini. 

Perpustakaan dan laboratorium belum masuk pada gambar di atas. Kenapa?

Laboratorium, seperti saya sampaikan di atas, masih PR bagi saya, dan tentu bagi pimpinan. Sejauh apa peran ketua tim kerja. Jika dilihat dari SDM-nya (laboran) tentu ini bagian dari Tim Kerja SDM. Jika dilihat dari layanannya, cukuplah itu di prodi masing-masing (ada Ka. Layanan Lab). Jika dari sistem informasinya, atau publikasi layanannya, mestinya ini bagian dari humas dan IT.

Jika terkait pemantapan peran strategis lab pada pendidikan, penelitian dan pengabdian, maka itu mestinya bukan tugas di level ketua tim kerja. 

Bagaimana dengan perpustakaan? Kenapa belum masuk pada gambar 2?

Perpustakaan, bisa dianggap full support pada akademik. Namun di sisi lain, perpustakaan punya area-area yang tidak selalu terang-terangan mendukung tepat di jantung akademik. Dia bisa menjelma menjadi area yang mendukung akademik, namun dukungan itu mengarah dari samping kanan atau kiri. Bagi saya yang fungsional pustakawan, saya tempatkan perpustakaan sebagai pendukung akademik, namun juga independen, terkadang kritis dan nakal.

Struktur mengikuti kebutuhan, dan tentu saja kepentingan. Struktur tersebut bisa berubah, seiring perubahan pemilik jabatan politik: FT 1, yang sebentar lagi akan ada suksesi. Ke mana arah angin berhembus? Belum kelihatan.


Sambisari,
26 Juli 2026


Friday, 3 April 2026

,

Merawat memori: 1,3 tahun di Bidang Informasi, Mesdos, Humas dan Alumni

Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide dan pengalaman. Ada ide dan konsep, yang sayang jika terbuang. Meski tak mungkin tidak dapat diulang kembali setara 100%.

---

Pembuka

Menjadi koordinator bidang Humas, IT, Medsos, dan Alumni (Agustus 2023 - Oktober 2024) bukan hal yang saya bayangkan sebelumnya. Aroma ini tercium beberapa waktu sebelum SK itu turun. Di pojok perpus, orang penting fakultas mengajak diskusi, panjang dan lebar.

Pertemuan tersebut berbau misi. Saya menciumnya. Dan ini misi ke-dua, meskipun pembawanya beda orang. Misi pertama, saya bisa lepas secara baik dan benar. Ya, setidaknya saya jujur dalam prosesnya. Pada misi ke-dua ini, saya melipir. Saya sempat sampaikan tentang kebanggaan saya menjadi pustakawan meskipun honornya tidak sebanyak bidang lain, dan bahkan image-nya pun tidak positif sepenuhnya.  Saya mencintai profesi fungsional ini.

Pernah ada cerita, saat fakultas mengundang tim "reformasi kepegawaian" dari fakultas yang sudah mapan, tim ini berkomentar bahwa pustakawan identik dengan menunggu dan melayani yang datang. Saya marah? Tidak. Justru ini kesempatan saya untuk menunjukkan bahwa pustakawan punya peran penting, meski tak terasa langsung sebagaimana keuangan, kepegawaian dan semacamnya.

Berhasil saya membalik image pustakawan? Tidak 100%. Namun arah angin itu semakin terasa. Mahasiswa, komentar positif dosen dll, muncul. Namun hal ini, dugaan saya tidak sampai pada para anggota tim reformasi kepegawaian dari fakultas lain tersebut. 

Hembusan angin ini mau saya perkuat. Begitu idealisme saya, pada profesi ini.

Harapan saya, dengan cerita kebanggan saya pada perpus dan pustakawan di misi ke-2 ini, pejabat tersebut berubah pikiran. 


Namun tidak....

Tapi ternyata tidak. Mungkin memang secara administratif tidak ada pilihan lain, meski secara kapasitas ada yang lebih baik. Saya harus berbagi. Bukan berpindah. Menjadi Koordinator, yang saat itu menggantikan nomenklatur jabatan kasie, tidak saya bayangkan sebelumnya. Sama sekali. 

Bidang yang diberikan pada saya merupakan bidang baru yang menuntut kreatifitas. Cair, bisa masuk ke berbagai lini, meski tanpa harus klaim sekalipun.

Ada canggung di awal waktu, bahkan sampai berakhirnya jabatan tersebut. Dari sekian tugas, saya hanya punya 2 modal: pernah mengelola medsos dan bikin podcast--itupun saya nyambi jadi pustakawan--. Humas, IT, Alumni, saya tak punya modal banyak. Apalagi "informasi" kefakultasan. 

Beruntungnya semua rekan di bidang ini suportif. Tidak terkecuali. Tapi saya tetap canggung. Lokasinya di gedung baru, terpisah dari gedung perpus yang selama 10 tahun saya tempati setiap hari. Ada jarak, baik fisik maupun psikologis. Pada posisi ini, duduk di ruang yang disiapkan untuk saya pun jarang. Ini hambatan psikologis lainnya. Saya lebih senang duduk bareng di meja kursi bareng teman-teman. Jika dihitung, 90% waktu saya di sana, bukan di kursi ruang terpisah.

Bahkan, saat mengambil sebuah ide, saya benar-benar rikuh, dan berkali saya sampaikan dan tegaskan, "wis bener urung ya". Termasuk hal yang sejak awal saya hindari: uang. Misalnya merekrut partime, benar-benar penuh pertimbangan. Merektur partime ini pun saya lakukan setelah terdesak oleh keadaan. Meminta partime, berarti menambah beban keuangan fakultas. Saya tak punya pengalaman dengan keuangan, saya tak tahu seberapa banyak kemampuan fakultas, dan boleh atau tidak jika saya minta partime. Akhirnya, meski saya (ini saya sadari belakangan) ternyata punya sedikit otoritas, saya baru memutuskan merekrut partime sekian bulan setelah saya di bidang ini. Itupun hanya satu. Dan itupun setelah saya sampaikan ke atasan, dan disampaikan "oke, 1 masih oke". Saya khawatir, permintaan saya membebani fakultas.

Sebagaimana saat masih mengelola medsos FT (IG) sendirian, dari pada membebani keuangan fakultas, saya coba kerjakan sendiri.

Cerita lain ketidak enakan perasaan adalah saat harus nembung iPhone untuk keperluan medsos ke bagian keuangan dengan perasaan dag dig dug. "Ono duwite ora, ya". Boleh ndak, jangan-jangan diminta ketemu WD atau bahkan Dekan dahulu. Duh. Ketemu pejabat merupakan hal yang saya hindari. Saya lakukan jika dan hanya jika benar-benar perlu.

Ruang kreativitas
Bidang Informasi, Humas, IT, Medsos, dan Alumni merupakan bidang yang menuntut kreatifitas. Cair, sisi administratifnya sangat kecil. Sembilan puluh % kreatifitas, termasuk membuka ruang-ruang baru agar bidang ini--sebagai bidang baru--bisa selevel dengan bidang lain yang sudah ada (tridharma, aset maintenance pengadaan, SDM keuangan).

Jujur, saat awal mula saya dapat honor jabatan, saya kaget. Duh. Dapat honor segini, tapi kerja-kerja saya masih begini saja. Melihat bidang lain yang sudah dulu ada dan tentu saja mapan perannya, hati saya bergolak. Honor saya terlalu besar dibanding peran saya. Begitu fikir saya waktu itu.

Menjelang akhir masa jabatan (saya di bidang ini selama 1 tahun 3 bulan), saya lontarkan guyonan dengan teman-teman.

"Bidang ini ada beberapa bagian: sistem informasi, jaringan, media/media sosial. Sistem informasi bisa dihandle si A, jaringan si B, medsos si C. Si A,B,C itu sudah ada dalam ploting saya. Lalu saya? kembali ke perpustakaan. Tentu teman-teman berteriak. Ini normal.

Sebenarnya ini--saya sadari kemudian--semacam cek ombak. Ketika 3 bagian itu sudah ada PIC-nya, berikutnya saya bertugas memperluas peran tim. Ini strategi yang saya lakukan saat full time di perpus. Saya ingin lakukan juga di tim yang baru.

Saya akan mencoba masuk pada: mengembangkan konsep "media" dengan segala turunannya, mengembangkan konsep humas dengan segala turunannya, mengembangkan konsep IT tidak dalam tataran teknis namun ke hal yang lebih strategis, mengembangkan kosep "informasi" menjadi lebih strategis (pada tulisan lain di blog ini saya tuliskan bahwa bidang informasi bisa seperti PIK di Kompas, atau PDAT di Tempo, dia jadi sumber info dan analisis organisasi), mengembangkan pengelolaan alumni. Mengelola informasi masih sesuai dengan fungsional saya sebagai pustakawan. Apalagi saya pernah menemukan berbagai arsip tua milik fakultas dalam bentuk foto. Ah. Sepertinya menyenangkan.

Saya termasuk yang lambat belajar, penuh pertimbangan, dan dalam kondisi normal tidak dapat cepat berani ambil risiko. Butuh waktu lama dalam menyesuaikan diri. Penyesuaian selama 1 tahun 3 bulan di bidang ini mungkin cukup. Namun ternyata saya harus berpindah. Apa yang telah saya bayangkan dan rencanakan, tentu harus saya ikhlaskan.

Marah
Saya ingat, satu hal yang saya tanyakan ke teman-teman pada bidang ini, dan ingin saya pastikan sebelum saya berpindah adalah: tidak ada yang pernah saya marahi.

Marah pada rekan kerja (dalam hal ini staf di bidang saya) saya hindari. Saya tak berhak marah pada mereka, justru mereka yang memiliki hak marah pada saya. Ketika saya marah, itu artinya saya tak mampu mengajak mereka diskusi tentang apa tugas dan kewajiban, oleh karena itu mereka-lah yang justru berhak marah.


Berpindah

Berpindah ke bidang baru, tentu diikuti berbagai pertanyaan, utamanya tentang: "apa yang akan saya lakukan?". Apalagi, berbeda dengan bidang humas, medsos, alumni, dan informasi, yang saya masih punya modal meski sedikit; pada bidang tridharma  modal saya nyaris 0. Tidak ada sama sekali.

Selain itu, juga pertanyaan: seberapa luas saya bisa berkreasi sebagaimana pada bidang sebelumnya?

Tuhan punya skenario. Selalu ada pola yang terlihat setelah ketidakberaturan.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan __Heraclitus (filsuf Yunani kuno, 540-480 SM) 

 ---- bersambung.....

Saturday, 28 February 2026

,

Jurnalisme dan Informasi di Perguruan Tinggi

Tulisan ini saya buat untuk mengikat ide yang pernah muncul di otak saya, kira-kira 2 tahun lalu. Dari pada terbuang. Tentu ini opini saya pribadi. Beberapa istilah juga kreasi yang muncul dari otak saya. Spontan. Mungkin berguna.

******

Setidaknya ada dua jenis berita yang ada di web perguruan tinggi, baik itu fakultas maupun universitas, yaitu pasive news dan active news. Dua jenis berita ini juga dapat dinisbahkan pada jurnalisnya.

Passive news merupakan berita yang berasal dari kegiatan yang ada di lingkungan kampus. Jurnalis tinggal duduk, berita akan datang. Ekstrimnya, pengelola web tinggal menunggu atau meminta, atau menodong pelaksana kegiatan untuk melaporkan kegiatannya. Atau paling jauh, mereka akan hadir pada acara dan kemudian menulis berita berdasar acara tersebut.

Berita jenis ini dekat ke jenis laporan. Berita berupa modifikasi dari laporan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam atau luar kampus oleh civitas akademika.  Kegiatan diantarkan ke jurnalis, kemudian jurnalis membuat berita, dimuat di web lalu disebarkan ke dalam dan keluar. Pemberitaan jenis ini bisa disebut sebagai pengabaran, pemberian kabar. Kabar bahwa kampus telah melakukan A,B,C,D..... 

Trigger munculnya berita jenis ini bukan jurnalis, melainkan panitia kegiatan. Jurnalis bersifat pasif.

Jenis berita ini dapat digambarkan sebagai berikut:


Kedua, active news. Pada berita jenis ini, seorang jurnalis harus berfikir dan bertindak lebih aktif di banding pada berita jenis passive. Jurnalis menjadi trigger munculnya tulisan.

Misalnya, jurnalis melihat kondisi luar kampus, dianalisis, ditarik ke dalam kampus, diolah, dicarikan nara sumber. Apa yang terjadi di luar kampus dibenturkan dengan pendapat pakar di dalam kampus.  Kerja-kerja ini dapat dikaitkan dengan visi misi kampus + mengaitkan dengan ideologi jurnalisme  kemudian dirangkai dengan tujuan tertentu. 

Jurnalis, melalui analisisnya, menjadi trigger munculnya berita. Pada berita jenis ini, ada ruh, visi dari jurnalis. Pada berita jenis ini pula, dapat dilihat ke mana arah pemikiran jurnalis. Ada misi para jurnalis kampus untuk mengarusutamakan pemikiran dan peran kampus yang berdampak. Apakah dia menjalankan jurnalisme kampus untuk advokasi (dalam arti luas), propaganda, kritis dll. 


Berita jenis ini menjadi penyeimbang berita seremonial dan kegiatan.  Active news mungkin lebih sedikit dari passive news. Namun bobot active news harus berlipat lebih daripada passive news

****

Di FT UGM, jurnalis, pengelola web dihimpun bersama dengan "informasi" dan "humas", diwadahi dalam struktur Tim Kerja, setara dengan 3 tim kerja lainnya. 

Saya lihat, nilai minusnya (baru nemu) hanya 1, utamanya jika disandingkan dengan tim kerja yang lain. Setara. Karena setara, maka tim lain tidak dapat melakukan perintah secara langsung. Sifatnya koordinatif. Posisinya bukan sub ordinat. Karena bukan sub ordinat, maka pada kondisi normal, hubungan tim kerja bidang jurnalis dengan tim kerja lain bersifat administratif. Nah. Butuh kebesaran hati dari tim kerja jurnalis untuk embedded ke bidang-bidang yang lain untuk menggali berita.

Tim Kerja bidang pemberitaan dapat memantau kegiatan pada bidang lain melalui (administratif) sistem informasi, kemudian mengonversinya menjadi berita. Atau Tim Kerja yang lain memberi tahu kegiatan untuk diliput menjadi berita, atau setor berita. Namun pilihan kedua ini hukumnya sunah, karena dalam jurnalisme, yang seharusnya aktif itu jurnalis, bukan sumber berita. Jurnalis yang harus aktif bertanya terkait kegiatan, jika perlu melakukan wawancara pada sumber berita (Tim Kerja lain), bukan menunggu berita/data disampaikan. Keaktivan sumber berita (dalam bentuk setor berita atau memberitahu kegiatan) merupakan bonus saja. 

-------

Namun, struktur informasi-humas-medsos ada pada level yang sejajar dengan Tim Kerja yang lain, juga memiliki nilai positif yang tidak dimiliki oleh fakultas lain. Ada kemerdekaan dan keleluasaan para jurnalis (sebagai aktor) untuk membawa misi pada proses jurnalistik kampus. Misalnya misi perubahan, pengarusutamaan isu dan lainnya. Tentu saja dengan cara yang harus disesuaikan dengan kondisi arena (lingkungan). Dalam struktur yang sejajar itu, maka potensi active news dalam segala bentuknya menjadi lebih besar.


Selain itu, ketika jurnalis menjadi satu dengan bidang dengan data, informasi, humas dan IT, dapat menjadi penyuplai informasi fakultas untuk berbagai kebijakan. Tim kerja ini punya informasi, punya data, sekaligus punya infratruktur pengelolaannya.


Dari kerja-kerja jurnalis diperoleh informasi, dari dalam berbagai  sistem informasi yang dikelola (diolah) juga diperoleh data. Data-data pada sistem informasi dapat ramu menjadi informasi yang lebih berguna. Data science dapat diterapkan.

Masih dari aspek informasi, bidang ini juga dapat membentuk/membuat informasi baru melalui berbagai kajian. Paling sederhana melalui riset/survey pada mahasiswa, dosen, pihak luar dll. 

Apa yang disurvey? Banyak. Banyak sekali. Opini bisa digali, pendapat bisa digali. Penyebaran informasi bisa diukur. Banyak yang bisa dikaji.

Bidang ini berpotensi menjadi tabung pemikiran (think-thank). Kajian dan informasi yang dimiliki akan menjadi penopang kebijakan fakultas. Mirip seperti PDAT-nya Tempo, atau PIK-nya Kompas.

Sebagai pengelola informasi fakultas, pertanyaan terkait data dan informasi diarahkan ke bidang ini, bukan bidang lain. Berapa jumlah mahasiswa? Berapa wisudawan? Berapa IP rata-rata? dll. 

Termasuk memastikan apakah informasi seputar kampus sampai kepada mahasiswa. Bagaimana tanggapan mahasiswa? apa saluran terbaik untuk menyampaikan informasi pada mahasiswa/civitas? Bagaimana efektifitas tiap saluran informasi. 

Informasi tidak sekedar disebarkan kemudian selesai. Tapi diukur efektifitasnya.

(data/info di sistem informasi + informasi internal + data/informasi dari kajian) -> Jurnalis -> diwadahi IT -> disebarkan melalui berbagai format dan media.

Penutup

Dengan konsep ini, maka bidang ini tidak atau bukan bidang yang sifatnya administratif. Ada berbagai peran strategis yang dapat diambil dan dilaksanakan.  Jurnalis bekerja layaknya jurnalis, ideologis bukan sekedar administratif. Cara berhubungan pun ala jurnalis. Relasinya berupa relasi jurnalis dengan sumber berita, buka boss dengan bawahan. Pada mereka juga melekat etika jurnalis(me).

"Informasi, Humas, Media Sosial + IT" bukan bagian-bagian yang terpisah. Itu satu kesatuan.


Tuesday, 9 December 2025

Membangun (Perpustakaan) FT Sebagai Wadah

Setahun lebih, bahkan 2 tahun, saya agak berjauhan dengan perpustakaan. Niat awal, saat ndobel di Humas dan IT, satu tahun pertama dapat digunakan untuk memetakan kondisi, kemudian mengatur posisi agar dua peran dapat berjalan dengan baik. Namun takdir berkata lain. Saya harus pindah ke tridharma.

Kondisi itu mengharuskan saya harus mengatur ulang strategi. Di dunia yang 100% baru, tentu usaha penyesuaian diri pun akan lebih lama. Sebagai catatan, di Humas dan IT saya setidaknya perlu 1 tahun untuk bisa berfikir lebih leluasa. Di Tridharma bisa lebih lama.

***

Saat di tridharma, saya merasa ada titik terang tentang perpustakaan. Saya merasa ada peran atau otoritas yang lebih tinggi yang membuat saya bisa lebih leluasa menempatkan perpustakaan dalam rangka mendorong proses akademik yang baik dan bermutu di fakultas teknik. Tinggal cara dan bentuknya yang harus dicari.

Ide awal (meski munculnya juga diujung tahun pertama), adalah rekrut mahasiswa S3 untuk menghidupkan perpustakaan. Namun ini belum kesampaikan. Ada skala prioritas yang harus saya terapkan. Salah satunya prioritas untuk memikirkan. Membagi pikiran, agar tidak sumpek. 

Akhirnya, ada kejadian yang menuntun mempertemukan saya pada keadaan yang dapat diraih bersamaan. Saat rekrut partime IOA, tanpa saya campur tangan, yang dipilih adalah mahasiswa yang saya kenal begitu peduli pada literasi. Maka, sekalian saja diplot untuk perpustakaan.

Di sinilah gambaran pengembangan perpustakaan kembali mulai nampak. Ide mengadakan kegiatan "besar" di perpustakaan, yang berkali-kali gagal, dapat dilaksanakan. Minimal 1x di tahun 2025.

***

Leadership XYZ

Ada beberapa tamu yang hendak diundang pada tahun 2025. Mulai dari Leila Chudori untuk bicara tentang Laut Bercerita, Fahrudin Faiz yang mampu menyajikan filsafat dalam bahasa yang ramah pada generasi Z, dll. Adalah Cania Cita yang jadwalnya ada, namun sayangnya karena kondisi tidak dapat terlaksana di lingkungan FT. Pas libur panjang. Akhirnya dapat buku Leadership XYZ.

Obrolan tentang kegiatan perpus ini, sejak awal saya lakukan dengan Mas Adhika. Dia sanggup menghandle agenda ini. Sebagai awalan, Adhika mengajukan permintaan untuk oprec panitia. Terbuka untuk mahasisiswa UGM. Saya berusaha memahami. Bukti bahwa acara yang menghadirkan Cania itu sukses, tentu jadi pertimbangan saya. Saya meng-oke-kan. Oprek dilaksanakan. Hingga ada laporan sekian pendaftar, dan diterima 38. Asalnya dari berbagai fakultas di UGM, dengan berbagai posisi kepanitiaan. Pada titik inilah saya merasa harapan untuk branding FT melalui perpus muncul.

Belum selesai. Adhika menyarankan mengundang siswa SMP dan SMA di Jogja. Tentu saya kaget. Namun, sebagai upaya branding FT kenapa nanggung hanya di UGM, sekalian untuk siswa SMP dan SMA tentu akan lebih baik. Saya meng-iya-kan. Setuju.

Hari senin, atau H-5 surat baru jadi. Saya kirimkan ke panitia. Sebelumnya secara sistem telah terkirim by email ke sekolah-sekolah sesuai daftar. Saya tawarkan untuk dicetak di FT saja, tidak ada respon. Sepertinya mereka memilih mencetak sendiri. "Jadi mereka mengeluarkan uang untuk mencetak", fikir saya. 

Hari-hari menjelang hari H progress disampaikan Adhika ke saya. "Saya baru keliling sekolah, Pak," katanya. Membawa surat atas nama FT, padahal mereka dari  berbagai fakultas di UGM. Tidak ada uang bensin, dan tentu mereka juga berkorban tenaga. Laporan Adhika ini membuat saya gelisah. Saya hanya berharap tidak terjadi apa-apa pada panitia.

Menjelang acara, panitia (sebagaimana acara mahasiswa yang selama ini saya ikut mendampingi) mengadakan gladi. Pernah saya sampaikan agar gladi di hari H minus beberapa jam. Namun mereka menjawab. 

"Kalau bapak mau acara ini lancar, dengan segala hormat, ikut dengan cara kami Pak."

Jawaban ini merupakan salah satu yang lebih meyakinkan saya, bahwa mereka serius. Tidak dibayar, sukarela, namun serius. "Ah, brengsek," gumam saya. Tentu "brengsek" ini umpatan konotatif. Jarak usia yang 20 tahun lebih dengan saya, tidak membuat mereka takut bersuara dan menyampaikan ide/pendapat. Ini mahal.

*****

Ada cerita lain yang membekas, setidaknya pada diri saya. Panitia hendak menentukan, apakah tetap di auditorium atau pindah ke MR. Pada posisi ini, saya menjaga jarak. Saya persilakan teman-teman menentukan. Pada saat diskusi, saya mendengar jelas, bagian sar-pras yang sudah menyiapkan segala desain pelaksanaan di Auditorium menyampaikan, kurang lebih begini, "Kami memang punya idealisme, tapi posisi kami mengikuti permintaan. Jadi kami ikut apa kata SC/Project officer," kurang lebih begitu.

Tidak ada egoisme. Tentu ada diskusi, namun teman-teman menjaga agar struktur kepanitiaan itu dihormati. 

Terima kasih teman-teman semua.







Monday, 8 December 2025

Setahun di Tridharma

1 November 2024 s.d. 31 Oktober 2025.

Setahun di Tridharma. Cukup? Belum. Tentu bukan "belum" dalam arti ingin lebih lama di Tridharma, melainkan belum cukup untuk memahami tridharma.

Sebagaimana saya pernah tuliskan, tridharma merupakan bagian yang sudah mapan dibanding bidang saya sebelumnya. Ada luasan hingga ke berbagai sudut yang saya belum memahami. Tidak jarang ada hal baru yang muncul, yang kami semua belum pernah menemui. 

Dunia tridharma merupakan dunia yang lebih administratif dibanding dunia saya sebelumnya. Saya menyebutnya sebagai dunia surat-suratan. Semua harus sesuai prosedur, tentu saja ini juga berlaku di bidang lain. Namun di tridharma, surat begitu lekat. Semua harus ada formalnya. Berbeda dengan dunia saya sebelumnya yang cenderung jagongan. Rembugan.

Namun demikian, ada banyak hal yang saya peroleh di Tridharma; atau ada potensi yang dapat saya peroleh di tridharma jika dikaitkan dengan kepustakawanan, profesi utama yang masih melekat pada diri saya.

Interaksi saya dengan mahasiswa lebih terbuka, dan cakupannya lebih luas. Pokok pembicaraan terkait mahasiswa yang menghilir ke saya lebih banyak, dan tentu ada banyak yang dapat saya kaitkan dengan dunia kepustakawanan.

Hal lain yang menarik, adalah interaksi perkuliahan. Saya punya kesempatan lebar untuk ikut hadir di kelas. Utamanya MK yang dikelola fakultas, saya pernah hadir dan duduk di dalam kelas. Mendengarkan dosen memberikan kuliah. Dari proses ini saya tahu bagaimana kuliah itu diberikan, interaksi dosen-mahasiswa, dinamika, dan hal lain yang sebelumnya tidak saya ketahui. 

Masih dengan perkuliahan, saya punya kesempatan masuk di MK yang memiliki versi daringnya. Ada 1 MK yang diangkat dari kegiatan perpustakaan, yaitu MK etika dan teknik penulisan ilmiah. MK ini memiliki versi online (MOOC) di Elok. Saya dapat ikut di dalamnya, sehingga sedikit lebih tahu bagaimana MOOC dikelola. 

*****

Interaksi dengan mahasiswa juga terbangun melalui berbagai kegiatan dan organisasi mahasiswa. Ini yang dulu, saat di perpus benar-benar saya inginkan. Saat di perpus, saya pernah nekad mengundang organisasi mahasiswa ke perpus. Mengajak mereka diskusi tentang bagaimana menghidupkan perpus dengan berbagai kegiatan. Berhasil? Ada berbagai kegiatan KM/HM/BEM/BSO yang diselenggarakan di perpus. Dengan peminjaman ruang yang mudah, mereka memilih perpus untuk berkegiatan sekaligus memromosikan organisasinya.

Di Tridharma, diri saya diuji pula dengan kegiatan-kegiatan besar. Bagaimana mengawal kegiatan tersebut agar terlaksana dengan baik, berhasil dan minim catatan. Berhasil? Tentu belum sepenuhnya. Masih ada catatan pasca kegiatan yang menjadi PR untuk perbaikan kegiatan berikutnya.

Beberapa kegiatan besar tersebut, mulai dari Pionir Kesatria yang melibatkan ribuan mahasiswa. Kemudian Teknik Fair, Pesta Rakyat Teknik, Porsenigama, Teknisiade. Kemudian kegiatan baru yang berpotensi menjadi kegiatan besar: career summit. 

Di Tridharma, intensitas pertemuan saya dengan organisasi mahasiswa lebih tinggi. Tinggal bagaimana memanfaatkan ini untuk lebih menghidupkan perpustakaan. Terlaksana? Belum. Inilah PR saya. Menyeimbangkan antara di Tridharma dan profesi kepustakawanan. Perlu strategi untuk itu.

****

Besarnya potensi manfaat yang dapat saya ambil, baik untuk diri saya (sebagai bagian dari pengembangan diri) maupun untuk pekerjaan, tentu juga berbanding dengan tantangan dan risikonya. "Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula kadar manfaat yang akan diterima," begitu kata buku. Saya lupa judulnya, antara Leader Who Had No Title, atau Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodoh. Artinya, sebuah pilihan yang punya risiko atau tantangan yang besar, juga memiliki dampak/manfaat besar pula. Demikian pula di Tridharma.

Apa saja itu?



Sunday, 10 August 2025

Anies di Pionir Kesatria 2025: Penyeimbang dan pemantik sikap kritis sejak mahasiswa masih "baru"

"Selamat datang di kampus kebanggaan," sapa Anies Baswedan pada mahasiswa baru, diikuti riuh tepuk tangan.

Fakultas Teknik kembali menggelar agenda tahunan untuk mahasiswa baru: Pionir Kesatria 2025. Sekian bulan sebelumnya, panitia menyiapkan segalanya. Mulai dari lelang jabatan ketua/koordinator umum, pembuatan agenda, dan seterusnya. Tujuannya satu: acara yang bermutu dan berkualitas.

Salah satu agenda yang ditunggu adalah gelar wicara, atau sering disebut talkshow. Tahun ini, hadir  Anies Baswedan mengisi talkshow pada 7 Agustus 2025.

Hadirnya Anies, bagi saya merupakan "penyeimbang" dari 3 tamu di tahun sebelumnya. Selain itu, hadirnya Anies sebagai bentuk komitmen dunia akademik untuk mendukung tumbuhnya sikap kritis dan peduli para mahasiswa baru. Namun demikian, diakui pula bahwa hadirnya Anies berpotensi mengundang komentar yang mengarah pada keberpihakan dan sarana promosi Anies untuk panggung (pilpres) 2029. 

Terkait kemungkinan kedua, perlu dilihat dan dicek lagi konteksnya. 

Pertama, kehadiran Anies di Pionir sebagai warga negara biasa, dan bukan juru kampanye. Anies hadir tidak membawa partai atau organisasi politik, melainkan membawa pengalaman yang lengkap, mulai bidang pergerakan, pendidikan, birokrasi, politik. Kehadiran Anies dan pengalamannya, justru merupakan bentuk keberpihakan Fakultas Teknik pada pentingnya menghadirkan berbagai perspektif dalam berkontribusi pada bangsa dan negara. Diperlukan tokoh yang mampu mengajak mahasiswa baru berpikir kritis, dan tidak membunuh argumen dengan otoritas. Anies punya kapasitas untuk itu.

Kedua, jika dipaksa dihubungkan dengan agenda politik, maka sesungguhnya semua tamu talkshow Pionir Kesatria punya kepentingan politik. Kita cek tamu-tamu sebelumnya: Ganjar yang saat itu  gubernur Jawa Tengah, Basuki yang saat itu Menteri PUPR, Budi Karya yang saat itu Menteri Perhubungan; ketiganya merupakan pejabat politik, pejabat aktif di pemerintahan.

Basuki, saat menjadi pembicara talkshow tahun 2023 membawa materi yang erat dengan pembangunan infrastruktur. Berbagai pejabat di kementriannya dibawa dan beberapa dipanggil naik panggung. Ada unsur propaganda terkait program pemerintah untuk para mahasiswa. 

Sebagai tambahan, ada catatan saya terkait hadirnya Basuki dan Budi Karya saat Pionir (PPSMB) tahun 2023 dan 2024: jogetan dan bagi-bagi uang. Bagi saya (maaf jika berbeda pendapat) dua hal ini cukup berjarak dari semangat intelektual kampus, apalagi obyeknya mahasiswa baru.

Dibanding dengan 3 pejabat politik sebelumnya, hadirnya Anies sebagai warga negara biasa—sekali lagi—menjadi penyeimbang. Tidak melulu mengundang pejabat pemerintah, melainkan ada genre atau mahzab lain untuk mempertimbangan pemateri talkshow.

Paling penting untuk dilihat, menurut saya, bukan siapa yang datang, melainkan seperti apa atmosfir yang terbentuk saat hadirnya tamu tersebut. Apakah bisa memantik sikap kritis, memperluas perspektif mahasiswa baru, dan menjadikan mahasiswa berani berargumen yang argumennya itu tidak dibunuh oleh otoritas? Atau sekedar euforia pada popularitas dan nama besar tamu yang hadir semata.

Oke. Kita lanjut terkait politik. Lalu, apakah politik menjadi hal tabu untuk mahasiswa, khususnya mahasiswa teknik?

Tidak!

Politik adalah ilmu, dia diakui dan memiliki prodi di UGM. Sah sebagai sesuatu yang dapat dan boleh dipelajari. Sama seperti hukum, ekonomi, filsafat, dan lainnya.

Kemudian, jika kita tarik ke belakang, sejarah berdirinya FT UGM merupakan keputusan yang terkait dengan kondisi politik. Mulai dari pemindahan STT Bandung ke Jogja, dan bergabungnya STT Jogja menjadi bagian dari UGM.  Saat itu pun, Soekarno yang alumni sekolah teknik, juga merupakan politisi. Prof. Roosseno, sosok yang lekat dengan berdirinya STT Jogja juga pernah bergabung di partai politik, sebagai seorang politisi.

FT UGM juga terus melahirkan politisi. Beberapa sampai di posisi penting partai: ketum dan sekjen. Ini berarti politik atau pilihan menjadi politisi bagi alumni teknik, merupakan bagian peran yang harus diambil untuk turut membangun bangsa ini. Ilmu teknik akan mandeg jika tidak ditopang oleh dukungan kebijakan publik, dan ini erat dengan politik. Tentu saja, kebijakan yang diharapkan merupakan kebijakan yang ideal, bukan berdasar kepentingan politik elektoral semata.

Jadi, teknik dan politik sudah menyatu, saling mempengaruhi.

****

Anies bicara apa?

Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Anies saat menjadi tamu talkshow Pionir Kesatria. Materi yang dibawakan tentu berbeda dari tiga edisi talkshow pada Pionir sebelumnya. 

Anies menyatakan bahwa kampus adalah penyuplai orang berintegritas, bukan suplier koruptor. Kalimat ini sebenarnya umum, namun menjadi beda saat Anies yang menyampaikan. Anies punya sejarah, Anies menyampaikan sejarah penyusunan indeks integritas di Kemdikbud, yang saat itu disusun oleh tim di bawah koordinasi Prof. Nizam (mantan Dekan FT saat masih bertugas di Kemdikbud).

Masih saat membahas integritas, Anies sempat menyinggung nama Tom Lembong, yang pada saat yang sama, banyak dibicarakan kasus hukumnya, hingga kemudian mendapatkan pengampunan. Pada bagian ini, mahasiswa mendapatkan perspektif segar yang berbeda dengan tiga talkshow sebelumnya.

Anies juga menggaris bawahi, bahwa teknologi memberikan kemampuan teknis, namun kepekaan sosial memberikan arah untuk masa depan. Mahasiswa didorong untuk terlibat, tidak hanya menjadi tukang, namun juga memberikan arah. 

Anies juga menyuguhkan rumus sukses bagi mahasiswa baru. Trust=competency+intimacy, namun harus diikuti dengan pengurangan self-interest.

Saat membahas self-interest, Anies menyebut bahayanya mendahulukan kepentingan pribadi dan keluarga. Pesan ini memang sensitif, karena dalam konteks bernegara dapat dikaitkan dengan polemik saat ini masih ada bahkan bisa dianggap belum selesai. Namun, sebagai sebuah pesan dan rumus, yang disampaikan Anies relevan untuk mahasiswa yang sedang membangun karakter dan prinsip hidup.

Saat sesi tanya jawab, ada mahasiswa yang bertanya tentang apatisme mahasiswa teknik terhadap politik. Anies memberikan jawaban yang mudah dicerna: membangun jembatan adalah kerja teknik, tetapi menentukan di mana jembatan dibangun adalah keputusan politik. Begitu pula, memutuskan lokasi ibu kota negara bukan sekadar urusan insinyur, melainkan kebijakan politik. Lagi-lagi, saat menyebut lokasi ibu kota, tentu dapat dikaitkan dengan polemik yang ada. Artinya, jangan apatis pada politik. Banyak hal disekitar ditentukan oleh keputusan politik.

Di sinilah Anies berhasil memancing mahasiswa baru untuk berfikir kritis. Jangan sampai alumnus teknik hanya menjadi tukang, dan pemburu proyek tanpa tahu substansi proyek tersebut.

****

Lalu?

Mahasiswa teknik perlu memahami dan mempelajari politik sejak dini—bukan untuk sekedar menjadi politisi, tetapi agar memahami dan mengambil peran pada keterkaitan antara ilmu teknik dan kebijakan publik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.  Keterlibatan orang teknik dalam politik atau kepedulian mahasiswa teknik pada politik bukanlah hal tabu. Peran tersebut telah lama dilakukan dan terus harus dilakukan.

Hadirnya Anies, pada dasarnya sama dengan hadirnya Ganjar, Basuki, dan Budi Karya pada periode Pionir sebelumnya. Alumnus-alumnus terbaik yang diundang untuk hadir di depan mahasiswa baru. Semua tamu memiliki kekhasannya masing-masing.

Hadirnya Anies menjadi penyeimbang, dan bentuk keadilan dalam memilih tamu yang hadir. Hadirnya Anies merupakan keberpihakan. Bukan keberpihakan pada kepentingan politik Anies, melainkan keberpihakan pada kepentingan mahasiswa.  

Semoga, dengan demikian kampus makin kuat menghadirkan mimbar akademik—ruang terbuka untuk ide, kritik, dan sikap kritis terhadap kondisi masyarakat dan juga kritis pada kekuasaan.

Sudah 10 tahun alumnus teknik menjadi pembantu alumnus kehutanan. Ayo, Bangkit!

*** selesai ***


Kalasan, sisi barat daya candi sambisari

10 Agustus 2025, bakda subuh

Sunday, 9 February 2025

100 hari pertama, es tipis, dan jalan lama (100 hari #3)

Ferry Amsari, pada Tempo edisi 100 hari Prabowo Gibran memulai tulisannya dengan term "es tipis".

Es tipis ini dilalui oleh Presiden pada 100 hari pertama pemerintahannya. Saat menapaki es tipis, jika silap dan tergesa maka akan berpotensi jatuh dan terbenam. Namun, jika terlalu berhati-hati maka akan terkesan lamban.

Terima kasih,  Pak Ferry! Analogi ini saya pakai untuk instrospeksi diri.

Seratus hari pertama saya, saya coba nilai lagi. Saya tipe orang yang perhitungan, kadang keputusan diambil terlalu lambat. Kenapa? Ya, karena perhitungan itu tadi. Keputusan kadang muncul tak terduga. Kadang saat melamun saat perjalanan di atas motor, jalan kaki, di kamar mandi, atau lainnya. Di kondisi atau tempat itu, terkadang pertimbangan penting muncul, yang kemudian melahirkan keputusan.

Jalan baru dan jalan lama

Jika Pak Ferry memakai term "es tipis", dan pada tulisan sebelumnya saya pakai filosofi lingkaran dan aliran sungai, pada tulisan ini tepat juga jika saya pakai analogi jalan baru dan jalan lama.

Perumpamaan ini saya temukan saat saya naik motor. Saya nekat masuk ke jalan kampung, dengan keyakinan bahwa jalan itu akan tembus di jalan besar sisi utara (saat itu saya bermotor dari selatan).

Saat perjalanan itu, saya memutuskan memilih jalan dengan pertimbangan intuisi. Bisa benar, bisa salah hingga saya harus putar balik. Jika benar pun bisa jadi jalannya memutar sehingga perjalanan menjadi lebih jauh.

Saat perjalanan menelusuri jalan kampung itulah, saya berfikir bahwa 100 hari pertama saya, saya gunakan untuk menelisik jalan yang sebelumnya dilalui pendahulu saya. Ya. Memang ada point kunci yang tentu saya bisa bertanya, namun yang pasti, perjalanan itu harus saya lalui sendiri (sebagai pengambil keputusan). Risiko juga harus saya hadapi sendiri. Saya tak dapat lagi mengajak pendahulu saya untuk melalui jalan yang telah ditinggalkannya. Karena secara bersamaan, Dia telah menempuh jalan lain. 

Menelusuri jalan yang baru bagi saya, namun sebenarnya adalah jalan lama yang sudah didefinisikan  alur maupun risikonya, tentu memiliki tantangan tersendiri. Di perjalanan saya harus bertanya pada orang-orang di sekitar, maupun orang yang juga turut diperjalanan.

Saya mencoba men-trigger teman perjalanan (yang sebelumnya telah ikut perjalanan) untuk mengingat jalannya, risikonya, dan juga cara berjalannya. Termasuk, tentu saja, apa yang harus diperhatikan saat menapaki jalan itu. Selain itu juga mencoba mencari alternatif jalan lain yang lebih mudah, dan cepat sampainya.

Satu hal lagi, saya coba untuk menuliskan catatan perjalanan itu, agar dikemudian hari jika berganti nahkoda, akan mudah dalam menapakinya.

Jika digabungkan dengan perumpamaan "es tipis" yang dikemukakan Pak Ferry Amsari, ketika saya terlalu berhati-hati, saya pun akan dianggap lamban. Namun jika tergesa, maka potensi terjatuh akan ada.

Saya merasa dua kutub itu bukan pilihan yang harus dipilih salah satu untuk semua proses. Ada hal yang saya harus tergesa, dan dengan ukuran tertentu agak nekat. Namun ada pula yang saya harus berhati-hati, meski ada konsekuensi dianggap lamban.

****

Lalu, apakah semua jalan lama itu harus saya jelajahi? Tentu tidak.

Apakah yang harus saya jelajahi itu, sudah saya jelajahi semua dalam 100 hari pertama ? Tentu saja belum.

Terima kasih.

Saturday, 18 January 2025

Masuk di dunia baru, dan bagaimana memaknainya (100 hari #2)

Masuk di dunia baru, tentu memiliki berbagai konsekuensi. Dunia baru yang saya maksud pada tulisan ini adalah pekerjaan baru, posisi/jabatan pekerjaan yang baru.

Tulisan ini merupakan proses pemaknaan atas dunia baru yang saya alami; sebelumnya di bagian humas TI Medsos dan Alumni (selanjutnya saya tulis Humas dan IT), kemudian berpindah ke 3dharma.


Filosofi lingkaran

Jangan  menganggap dunia baru itu lebih luas, sulit, dari yang sebelumnya. Atau sebaliknya, dunia yang baru itu lebih sempit dan mudah dari sebelumnya. Keduanya sama. Itu yang saat ini saya camkan pada diri saya. Sama luasnya, perbedaan ada pada persepsi. Saya coba gambarkan dengan sebuah lingkaran.


A adalah dunia Humas & IT sesunguhnya, x adalah dunia Humas & IT saat saya masuk. B adalah dunia 3dharma.  Sebagai catatan, Humas dan IT merupakan bagian baru, sementara 3dharma sudah ada sejak lama.
Begini penjelasannya.
Saat saya masuk ke Humas dan IT, maka saya ada di lingkaran x. Luasnya x adalah luas yang ada pada persepsi saya pribadi saat saya masuk, yang merupakan bidang-bidang kerja bagian Humas IT (termasuk di dalamnya media sosial). Sebagai bidang baru, luasnya belum terdefinisikan.

Jika di lihat, luas ini (lingkaran x) lebih kecil dari luas B (bidang 3dharma). Namun sesungguhnya tidak. Luasnya sama, hanya belum terdefinisikan saja.

Apa yang harus saya lakukan agar luas x menjadi sama dengan luas B? Saya harus mendobrak dan mendorong batas lingkaran x agar membesar dan menjadi A yang luasnya sama dengan B.

Bagaimana caranya? Memetakan apa saja yang bisa menjadi bidang kerja dari Humas dan IT Medsos dan Alumni, dengan cara mencari mencipta hal baru baik layanan, maupun produk. Selama saya di Humas dan IT, saya belum sepenuhnya berhasil melakukan itu. 

Nah. Agak berbeda saat saya berpindah dari Humas IT ke 3dharma. Saya langsung ada dan memasuki lingkaran yang besar. Besarnya lingkaran ini telah terdefinisikan sejak sebelum saya ada di dalamnya. Maka, ketika saya masuk, saya harus merasakan sendiri luas yang sudah terdefinisikan itu. Saya mengitari lingkaran itu dari satu titik memutar terus 360 derajat, hingga bertemu titik awalnya lagi.

Proses merasakan luas ini tentu perlu waktu lama. Termasuk di dalamnya merasakan berbagai dinamika dan gejolak di dalamnya. Merasakan sendiri, bukan karena cerita dari orang lain.


Filosofi membendung sungai

foto freepik

Di atas merupakan gambar sungai. Saya akan menjelaskan pemaknaan saya, atas dunia baru saya dengan analogi sungai.

Bagini penjelasannya.

Saya diminta membendung sungai (bekerja di bagian 3dharma). Padahal saya bukan orang yang ahli membendung sungai (sebelumnya saya tidak pakar pada bidang 3dharma). Maka, saya harus belajar dahulu untuk membendung sungai.

Apa yang saya lakukan?

Saya akan duduk di tepi sungai, melihat aliran sungai, ke mana arahnya, dan di sisi mana aliran yang terlihat deras. Setelah itu, saya akan masuk ke sungai, merasakan sendiri derasnya aliran sungai itu, di mana yang terjal, dan di mana yang dalam.

Cukup? Belum.

Saya akan menunggu banjir. Saya harus tahu bagaimana kondisi saat banjir. Pertimbangan membuat bendungan tidak boleh hanya didasarkan pada kondisi normal. Harus pula mempertimbangkan banjir.

Setelah banjir datang, saya akan lakukan hal serupa: melihat, merasakan langsung derasnya aliran.

Saya catat semua temuan saya. Barulah saya akan coba membuat rancangan bendungan. Komposisinya apa saja, berapa bagian pasir, berapa bagian semen, berapa besi, bagaimana desainnya, dan lainnya.

Lamanya proses agar bergantung pada kondisi saya, dan dukungan lingkungan.


------------------ **** ----------------



Sunday, 12 January 2025

Tempat baru dan usaha merawat idealisme (100 hari #1)

"Bekerja sekedar mengerjakan, ibarat sekrup dan roda mesin pabrik yang berputar, yang didapat hanya lelah," begitu saya sampaikan ke diri saya. Seiring waktu, hal tersebut juga saya sampaikan ke rekan-rekan saya. Tentu bukan dalam bentuk doktrin, melainkan sekedar pendapat.

Sejak di perpustakaan Teknik Geologi, saya berusaha mencari nilai/value yang bagi saya (tentu ini subyektif) lebih menantang dari sekedar menggerakkan proses bisnis sebagaimana biasanya di perpustakaan. 

Nilai ini di kemudian hari, beberapa kali saya sampaikan sebagai alasan ideologis, bukan sekedar alasan pragmatis. Namun, beberapa waktu kemudian, setelah mendengar kuliahnya Rocky Gerung, istilah ini saya ganti. Agaknya saya salah secara teori, meski ada ruang benar dalam implementasi. Bukan lagi alasan ideologis, namun semacam alasan fundamen, alasan dasar. Alasan yang tempatnya di akar, di dalam, yang untuk menemukannya harus berfikir radikal (mengakar).


Pada periode pertama, saat di perpustakaan Teknik Geologi, setelah beberapa lama mengenal, saya menyimpulkan bahwa aplikasi ilmu geologi punya sisi lain yang berdampak negatif. Ini saya peroleh ketika saya menemukan web Jatam atau jaringan advokasi tambang. Ini menarik, dan ini bisa menjadi jalan saya untuk menemukan alasan fundamen sebagai pustakawan di teknik geologi. Begitu pikir saya. 

Pandangan saya waktu itu tentu saja masih dangkal.  Perlu dilengkapi dengan sumber lain. Namun, itulah yang memantik saya mengejar value agar bekerja tidak sekedar mengerjakan tugas-tugas rutin saja.

Setelah menemukan web Jatam itu, rasa penasaran saya bertambah. Beberapa artikel saya baca dan cetak kemudian tempel di papan pengumuman perpustakaan. Papan pengumuman tidak lagi berisi info buku baru, namun lebih beragam.

Dinamika isu dan perdebatan terkait hal di atas, menjadi semacam pemicu dan penyemangat saya dalam bekerja. 

*****

Hal di atas berlanjut saat berpindah ke perpustakaan tingkat fakultas pada Mei tahun 2012. Kasus semen di Kendeng saya ikuti, mulai warga yang demo, hingga terseretnya nama-nama intelektual kampus dalam pusaran kasus Kendeng tersebut. Puncaknya ya saat munculnya film Samin dan Semen.

Film itu saya putar di perpustakaan, di ruang belajar yang tersedia layar TV besar. 

Yang saya hadapi bukan hanya satu departemen, melainkan satu fakultas dengan berbagai latar belakang ilmu. Lebih luas. 

Saya pun teringat tentang Soekarno. "Soekarno, meski lulusan teknik, juga belajar berbagai hal, termasuk politik, hukum, seni dan lainnya," begitu keyakinan saya, yang menjadi salah satu dasar saya menggerakkan perpustakaan fakultas. 

Diskusi di perpustakaan pun tidak hanya terkait teknik. Pernah mengangkat filsafat, sastra, termasuk membuat cerpen, hukum, dan lainnya. 

Bahkan ada puisi dan kutipan sastra dalam ukuran besar terpajang di dinding perpustakaan. 

Pertama puisi dari Wiji Thukul, berjudul "Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu".  

Apa guna punya ilmu tinggi, Kalau hanya untuk mengibuli

Apa guna banyak baca buku, Kalau mulut kau bungkam melulu

Kedua, kutipan dari novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Thohari. "Kejujuran sebenarnya bukan suatu hal yang istimewa, dialah yang seharusnya dianggap biasa".

******


Takdir kemudian membawa saya untuk andil di humas dan media sosial tingkat fakultas, pada Juli 2023.  Ini bidang baru, sebelumnya belum ada. Di sini ada area lebih luas untuk saya, namun juga dibarengi dengan keharusan untuk berfikir ulang terkait apa yang akan dilakukan.

Tentu saja tidak mudah. Selama 1 tahun di bidang ini, sebenarnya kontribusi saya masih sangat sporadis. Pada paruh kedua pada 1 tahun itu, baru memulai merapikan pikiran, ide, dan tindakan sporadis itu.

Beberapa point fundamental sebenarnya sudah saya peroleh dan petakan. Bagaimana jejaring dibuat, dibentuk, siapa aktornya, dan bagaimana medianya. Selain itu, pada berbagai media, bagaimana pesan disajikan, dan apa saja yang perlu disajikan. 


Pesan pada berbagai media fakultas, tidak hanya pesan-pesan konvensional. Harus ada pesan yang meningkatkan mutu mahasiswa, juga perlu pesan-pesan masalah kebangsaan dan kemanusiaan. Untuk menemukan pesan-pesan tersebut, saya merasa perlu terus dan menerus untuk membaca. Tidak ada cara lain.

Pelibatan aktor mahasiswa dalam bentuk tenaga paruh waktu, saya idealkan akan menjadi kontribusi yang nge-pop dan membanggakan. Ada kebanggaan bagi siapa saja mahasiswa yang dapat bergabung di tim ini. 


Mereka, meski sebutannya tenaga paruh waktu, harus diberi kebebasan. Dari kebebasan itulah salah satu kebanggaan itu akan muncul. 

Hal lainnya, usaha untuk membuat produk dari bidang ini. Buku misalnya, atau sekedar leaflet rutin bulanan.


****

Satu tahun 4 bulan ternyata belum cukup. Belum banyak hal yang dapat saya lakukan. Hingga ternyata harus saya sudahi, karena harus bergeser ke tempat lain pada November 2024.

Tentu harus diikhlaskan. 

Di tempat baru, saya harus memulai lagi. Memulai mencari hal yang fundamen yang dapat saya jadikan pemicu agar saya bekerja tidak sekedar seperti mesin pabrik yang seketika berputar setelah tombol on di sentuh. Dan, tentu saja juga tetap menjaga agar saya tetap memperoleh ruang merdeka dalam berfikir dan bertindak. 


Sambisari, 12/1/2025

21.42 WIB