Tuesday, 9 October 2018

[[ teranglah sudah: tak ada ilmu perpustakaan #2 ]]

“Kang, lowongan kebutuhan pustakawan dari alumni non ilmu perpustakaan itu sesungguhnya sebuah tamparan. Telak!", kata Paijo.
“Tamparan untuk siapa, Jo?.

###

Waktu berjalan. Malam berganti siang, siang ke sore, sore ke petang, lalu malam lagi. Pagi pun muncul. Setelah beberapa waktu, Paijo mendapat kabar bahwa ada rekruitmen pustakawan untuk sarjana non ilmu perpustakaan di perpustakaan nasional. Ini berita gembira, umumnya dianggap membuka peluang kerja banyak orang. Bagi sarjana ilmu perpustakaan, ini berita pahit. Lahannya berkurang. Paijo pun sudah mbabar panjang lebar pendapatnya terkait hal ini, pada Karyo, di Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

Namun, Paijo berfikir masih ada yang aneh pada pengumuman itu. Ya! Seperti yang diomongkan pada Karyo, bahwa pengumuman itu menjadi bukti bahwa setiap orang sesungguhnya berpotensi menjadi pustakawan. Apapun ilmu yang melatarbelakanginya. Semua punya hak, meski berlatarbelakang  operator mesin fotokopi. Menjadi pustakawan itu hak semua manusia.

Namun, lebih dari itu, Paijo tetap merasa ada yang aneh… Tirakat dilakukan, semedi, dan laku prihatin juga dilakukan. Mengurangi makan, memperbanyak melek, agar wangsit turun dan memberi jawaban atas kegelisahannya. Doa-doa dilantunkan. Semoga bukan doa junub yang lantunkan Paijo.

###

Wis… ketemu sekarang”. Paijo girang bukan kepalang. Apa yang dicarinya ketemu. Apa yang membuatnya galau, seolah sudah ditakhlukkan.

Lowongan pustakawan untuk alumni selain ilmu perpustakaan itu, bagi Paijo merupakan bukti berikutnya bahwa tidak ada ilmu perpustakaan. Sama seperti semua orang bisa mendaftar jadi wartawan, dan tidak mensyaratkan sarjana ilmu wartawan. Karena memang jurusan ilmu wartawan itu tidak ada. 

“Menjadi wartawan itu syaratnya biasanya sarjana, bisa dari jurusan apapun. Karena jurusannya itu sangat bermanfaat ketika menjalankan fungsi kewartawanan”. Demikian kawan Paijo pernah berkata. Pola rekruitmen wartawan ini, agaknya yang menjadikan wartawan itu punya bobot dalam proses penguatan masyarakat.

"Jangan-jangan, memang paling tepat untuk pustakawan ya model seperti wartawan ini?. Klop wis".

Ketika semua orang bisa jadi pustakawan, dibuktikan dengan lowongan di perpustakaan nasional itu, maka sesungguhnya memang tidak ada ilmu perpustakaan. Ilmu perpustakaan itu menempel, embedded pada setiap orang yang mau mempelajarinya. Sebagaimana jiwa kewartawanan manusia: dia fitrah. Hal ini juga mirip seperti ustaz atau ulama. Tidak perlu pendidikan formal. Ngaji rutin, menjadi batur Pak Kyai, sambil mendengarkannya ngaji, bisa menjadi lantaran menjadi ulama.

“Loh, pada kenyataannya kan ada jurusan ilmu perpustakaan?”, bathin Paijo masih menguji hipotesanya.

Bukankah juga ada ilmu dakwah dalam dunia perulamaan? tapi apakah menjadi ulama itu domain tunggal alumni fakultas dakwah? “Tidak juga”, pikir Paijo, seolah menemukan analogi yang tepat bagi pustakawan. Semua orang bisa menjadi ustaz, asalkan masyarakat mengakuinya.

“Tapi apakah ulama punya organisasi?”. Paijo masih menguji keyakinannya. Dia ingat bahwa profesi itu syaratnya harus ada organisasi yang menaunginya. Ya, meskipun syarat itu bagi Paijo juga bukan sebuah keharusan. “O, punya. Bahkan bisa bermacam-macam namanya: MUI, IKADI, MIUMI”. Proses bertanya dan berjawab sendiri ini berlangsung lama pada diri Paijo.

“Pustakawan juga bisa mirip petani”, Paijo melanjutkan petualangan imajinasinya. Profesi inilah yang digeluti simbahnya selama hidupnya. Pergi ke ladang, macul, menanam padi dan berbagai tanaman lainnya. Semua dilakukan dengan “sekolah” pada kehidupan. Bukan sekolah formal pertanian. Profesi ini kemudian dilanjutkan oleh ibunya, yang selain bertani juga berjualan. Yang lebih meyakinkan lagi bagi Paijo, adalah bapaknya. Bapaknya Paijo ini guru, namun sampai di rumah, jadi petani. Ada peran profesi ganda yang dilakukan bapaknya Paijo. Padahal formalnya hanya sekolah guru, bukan sarjana pertanian.

Mirip. Keduanya memiliki pendidikan formalnya: ilmu perpustakaan, dan ilmu pertanian. Sama. Sarjana pertanian itu berpeluang besar jadi petani, tapi apa kenyataannya? tidak semuanya mau jadi petani. Tidak. Dan mereka tidak serakah bahwa petani itu harus sarjana pertanian. Tidak, kan?. Apalagi memiliki sertifikat pertanian, spesialis macul, spesialis nandur, atau spesialis matun alias dhangir. Ndak.

Para petani juga tidak di protes oleh pada pedagang. Pedagang tetap mau mengambil hasil pertanian mereka, meski petaninya cuma lulusan SD, atau bahkan tidak sekolah formal. Meski tidak diolah sesuai prinsip di ilmu pertanian yang diajarkan di perguruan tinggi. Kualitas hasil akhir dari pertanian itu yang utama. Para petani ini, paling banter ya ikut kursus, pelatihan, atau penyuluhan pertanian. Petani juga punya HKTI.

Ada jurusan pertanian, tapi tak ada klaim menjadi petani harus alumni ilmu pertanian. Padahal pertanian sangat vital bagi kehidupan manusia. Berhubungan dengan makan, hidup, dan urip. Ada  pula fakultas dakwah, tapi tak ada klaim menjadi ulama harus alumni fakultas dakwah. Padahal dakwah sangat penting bagi kehidupan, tidak hanya saat ini, namun juga setelah kematian. Ada jurusan penjualan, pemasaran, tapi tidak ada klaim menjadi pedagang harus alumni pemasaran. Padahal pekerjaan pegadang ini menjadi fondasi kehidupan manusia. Dia merupakan sumber rejeki paling banyak dijadikan profesi. Ada jurusan pedalangan, karawitan, namun tidak ada klaim menjadi dalang harus sarjana pedhalangan. Nyantrik bisa jadi sarana orang jadi dhalang atau seniman. 

Kenapa? karena itu pekerjaan mandiri. Pengakuan masyarakatlah yang menentukan.

“Klaim bahwa menjadi pustakawan itu harus dari alumni ilmu perpustakaan, itu hanya berlaku di lowongan pekerjaan pustakawan sebagai PNS. Coba lihat sekolah swasta, universitas swasta, apakah ada protes keras dari para alumni ilmu perpustakaan? Kalau pimpinannya berkehendak, ya ngikut. Wong mereka yang nggaji, kok. Apalagi di perpustakaan kampung, rumah baca, dan lainnya? mana protesnya? Kenapa? karena ndak ada hubungannya dengan kepentingan pekerjaan.”

“Klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”.

Demikian, proses berfikir Paijo. Kadang digumamkan, disuarakan sendiri melalui mulutnya. Kadang hanya dibathin saja.  Bisa dalam bentuk pernyataan kemudian dibantah atau diperkuat dengan pernyataan lainnya. Atau dalam bentuk pertanyaan, kemudian dijawab sendiri.

###

Apa yang difikirkan Paijo disampaikan pada Karyo. Teman karibnya itu. Karyo mengangguk, seolah setuju, namun masih menyimpan keraguan.
“Namun demikian, tetap ada bedanya antara ilmu pertanian dan ilmu perpustakaan, Kang!”, kilah Paijo, mencoba membaca raut wajah Karyo yang masih menyimpan pertanyaan.
“Apa, Jo?”
“Ilmu pertanian itu tidak sekedar membahas cara matun, dan cara nggathul. Tapi bahasannya sudah melampai itu. Lebih ke substansi: bibit”. Kata Paijo.
“Lah, kalau ilmu perpustakaan?”.
“Hanya mentok, atau dimentokkan pada kulitnya, Kang. Klasifikasi, katalog, label. Atau sekarang diperparah dengan kegemaran beli sofa. Pustakawan sudah kurang PD mengelola isi. Menulis resensi buku, paling banter jadi syarat naik pangkat. Bisa dihitung dengan jari, pustakawan yang menulis kritik atas buku dan menerbitkannya”.

“Lalu bedanya dengan dokter apa, Jo?”. Karyo hendak mengonfirmasi tawaran Paijo beberapa waktu lalu, untuk menjelaskan bedanya profesi dokter dan pustakawan.

Paijo menyarankan pada Karyo, agar jangan memaksakan menarik persamaan atau memaksakan pustakawan harus sama dengan dokter. Keduanya beda, bedo. Dia mengulang penjelasannya beberapa waktu lalu, bahwa dari sisi keketatan pendidikan sudah beda. Dan keketatan pendidikan perpustakaan itu sudah menjadi bukti bagi dirinya sendiri, diri pustakawan itu sendiri bahwa pustakawan dan dokter itu beda. Keketatan pendidikan di kedokteran itu sendiri juga menjadi bukti bahwa profesi dokter itu levelnya di atas pustakawan.

Level profesi dokter itu sudah matang, sudah tua, dia sudah mapan. Berbeda dengan pustakawan. Jauh.

“Kalau pustakawan ingin disamakan dengan profesi dokter, minta saja pustakawan itu menganggap dirinya dokter buku, Kang. Hehehe”.
“Hus, ra sopan”.

###

“Kang, klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”. Demikian kesimpulan awalku. “Apalagi dilanjutkan dengan protes. Wong institusinya membutuhkan, kok diprotes."

Paijo meminta Karyo berfikir, apakah selama ini ada protes keras, jika lowongan itu dibuka oleh institusi non negara, alias bukan lowongan PNS pustakawan?. Karyo diam saja. Agaknya memang sulit mencari contoh protes pada lowongan pustakawan untuk non alumni ilmu perpustakaan, pada jalur swasta.

"Kang, saya punya teman. Alumni ilmu perpustakaan, kerja di media. Para akademisi ilmu perpustakaan menyebutnya berhasil: ini alumni kita, bisa bekerja di perpustakaan media swasta. Katanya demikian. Tapi kalau kawan saya yang di swasta itu membuka lowongan di perpustakaannya itu untuk alumni ilmu komputer, misalnya, apakah akan diprotes?. Tidak, tho?". Tanya Paijo.

"Lowongan untuk non ilmu perpustakaan itu juga berkaitan dengan eksistensi para penggerak pendidikan ilmu perpustakaan itu sendiri, Kang. Tamparan keras. Orang akhirnya ragu: jan-janya ilmu perpustakaan itu apa?”, Paijo melanjutkan.

“Selain itu, kita melupakan satu hal lain, Kang”
“Apa, Jo?”

“Kita ini dijebak pada lingkaran syarat pendidikan formal untuk sebuah pekerjaan. Padahal, ada pendidikan non dan informal. Tidak semua pekerjaan perlu pendidikan formal, ada yang cukup in dan non formal saja”. 

Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Adanya lowongan kebutuhan pustakawan dengan latar belakang bukan alumni ilmu perpustakaan, merupakan tamparan nyata pada institusi pendidikan ilmu perpustakaan. Nyata, cetha wela-wela”. 


[tamat]


Monday, 8 October 2018

[[ mereka yang sukses dengan pendidikan yang tidak linear ]]

Menjadi pustakawan, harus berpendidikan (ilmu) perpustakaan. Konon, kabarnya demikian. Diperkuat dengan aturan, menjadikan pekerjaan "pustakawan" dihegemoni, dikuasai oleh lulusan (ilmu) perpustakaan. Kalau sudah terlanjur, maka kudu diputihkah: diklat, atau sekolah lagi ambil (ilmu) perpustakaan. Dari luar jurusan ini tidak boleh. Mereka haram disebut pustakawan sesuai undang-undang, dan tak boleh mendaftar sebagai pustakawan. Pokoknya, jika ada lowongan pustakawan, maka syaratnya harus, dan harus: alumni (ilmu) perpustakaan. Namun, apakah demikian adanya? tidak juga. Ada yang tanpa pendidikan (ilmu) perpustakaan, nyatanya juga bisa mengelola perpustakaan. Jalan, lancar, dan dicintai mahasiswa. Mentor saya salah satu contohnya: Pak Ngudi Raharjo di Teknik Geologi UGM.
Lalu bagaimana yang sudah jadi pustakawan, apakah mereka minat sekolah (ilmu) perpustakaan (lagi)? Tentunya ada yang minat. Kawan saya, Pakne Ibrahim (Rachmad Resmiyanto) mengatakan, "kalau memang (ilmu) perpustakaan itu ada, harus ada yang "gila" pada ilmu itu. Kawan saya ini seorang fisikawan. Wajahnya mirip Einstein. Analisanya pun tajam, melebihi tajamnya pisau cukur. Dia mampu menggunakan fisikanya untuk menganalisis bidang lain. Dia memang bisa menunjukkan "gila" ilmu itu seperti apa. Dan dia menantang saya.
Namun, dalam dunia kepustakawanan (dosen maupun pustakawan), linearitas pendidikan tidaklah harga mati. Ada banyak kawan yang ternyata tidak mengambil jurusan yang linear. Hal ini tidaklah salah, justru benar. Inilah beberapa di antaranya.
Kawan Arif Surachman Ibn Sukarno, diploma dan sarjananya (ilmu) perpustakaan, namun S2 mengambil magister manajemen. Kawan Arif merupakan pustakawan UGM, sekarang menjadi kabid database dan jaringan. Salah satu prestasinya dalam pengembangan sistem informasi perpustakaan terintegrasi di UGM, yang lancar jaya ditanganinya. Hal ini tak jauh beda dengan kawan Wardi Yono, lead Dev Slims yang sarjananya perpustakaan, namun S2-nya MM.
Kawan Nur Cahyati Wahyuni, yang pernah dinobatkan menjadi pusakawan berprestasi nasional dikti, nomor satu diantara ribuan pustakawan pada ribuan pulau di Indonesia + beberapa kali menjadi juri pustakawan berprestasi dikti nasional, pendidikan diplomanya perpustakaan namun sarjananya antropologi. Bahkan S2nya magister manajemen perguruan tinggi.
Ada lagi kawan Minanto Ali, yang pernah menjadi pustakawan di DPP Fisipol UGM dan menjadi pustakawan berprestasi 2 nasional dikti. Ali memiliki ijazah diploma 3 perpustakaan, sarjanya komunikasi, dan s2 kajian budaya. Sekarang menjadi dosen di UII.
Lain lagi dengan kawan Arie Nugraha, core programmer Slims dan dosen JIP UI ini memiliki ijazah sarjana perpustakaan, namun S2 mengambil MTI. Pengetahuan kepustakawanan di S1 + studi MTI di S2 menjadikannya semakin matang.
Masih ada yang lain? banyak. Itu baru contoh di jaman ini, belum di jaman dulu kala.
Maka, saya mengulang status saya beberapa waktu lalu: bagi pustakawan yang sudah memiliki ijazah perpustakaan (diploma/sarjana), coba pikirkan bidang ilmu lain untuk studi lanjutnya.
Kalau ada alumni selain bidang (ilmu) perpustakaan yang ingin jadi pustakawan? Bisa, dan boleh saja. Ada mbak Wuwul Fitria, yang bergelar ST, MM, membawa Perpustakaan Telkom menjadi perpustakaan terbaik dunia akherat. Pak Taufiq Abdul Gani yang sang doktor elektro yang menyulap perpustakaan unsyiah. Ada pula Prof. Djoko Saryono, sastrawan cum penulis cum dosen, yang mewarnai perpustakaan UM dengan ide-ide yang menebobos kejumudan.
Masih kukuh pustakawan harus dari (ilmu) perpustakaan? Sudahlah, tidak ada itu ilmu perpustakaan.
[selesai]

[[ salam sofa ]]

Paijo kembali ndagel. Dasar Paijo. Kali ini benar-benar dia meragukan ilmu perpustakaan. Lah bagaimana tidak, argumen, Karyo kawan setianya itu selalu dibantahnya. Bahkan ketika Paijo terpojok pun, tetap mengatakan pokoke. “Pokoke ngono, Kang”, begitu kira-kira.
“Jo, ilmu perpustakaan itu ada. Kalau ndak ada bagaimana pustakawan mendesain ruangannya?”, kata Karyo. Inipun langsung dibantah Paijo. Katanya itu tata ruang kerjaannya orang arsitektur, bukan pustakawan. Kemampuan pustakawan untuk tata ruang, itu cuma secuilnya orang arsitektur. Jadi cuma nyilih, pinjem. Begitu katanya.

“Jo, di kajian perpustakaan itu ada bibliometrik. Itu ilmu penting, Jo”. Inipun dibantah dengan pokoknya oleh Paijo. Katanya itu ilmu statistik. Cuma sak upritnya ilmu statistik. Cuma nempil, nyilih saja itu.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan ada psikologi pemakai. Penting itu untuk pengembangan perpustakaan”. Kata Paijo, itu sudah jelas: psikologi. Itu ilmunya psikologi. Jelas, cetho welo-welo.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan itu orang harus bisa membuat sistem informasi yang bagus, Jo. Itu ada ilmunya”. Ini Paijo lebih semangat menanggapi Karyo. Katanya itu ilmunya orang komputer atau informatika. Lebih jauh lagi, namanya programming itu sekarang sudah jadi hobi. Tidak sekolah komputer pun bisa jadi programmer. Paijo menguatkan pendapatnya itu dengan cerita tentang kawannya yang orang kehutanan, tapi pintar programming, atau lulusan sekolah perkebunan yang juga pintar programming. Semuanya karena otodidak.

Karyo cep klakep. Tak bisa menjawab lagi.

“Jo, di ilmu perpustaskaan ada literasi informasi. Ini penting, Jo”. Paijo tertawa kecil, kemudian melanjutkan penjelasannya. Bahwa itu literasi informasi pekerjaan banyak orang, lintas disiplin. Bukan dominasi pustakawan atau alumni ilmu perpustakaan. Apalagi, lanjut Paijo, “Itu ideator literasi informasi saja bukan orang ilmu perpustakaan kok, Kang. Piye, jal?”.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan, kita diajari membedakan informasi valid dan tidak valid. Ini penting. Bagaimana menggunakan Google dengan baik dan benar”. Karyo tak mau kalah. Paijo menghela nafas sebentar. Kemudian menjawab, “Kang, pustakawan yang kena informasi hoax juga banyak. Trus cara menggunakan Google, dari mana epistemologinya kalau itu bagian dari pekerjaan pustakawan?. Itu bukan domain pustakawan, itu milik semua orang”.

Karyo dalam hati membenarkan apa yang disampaikan Paijo. Memang kesannya ilmu perpustakaan itu gabungan potongan potongan ilmu.

"Jane ya ndak salah, Kang. Ketika ilmu perpustakaan itu nggabungkan beberapa ilmu. Hora salah. Neng kok saya merasa embuh, ya. Ana sik aneh." Paijo menambah penjelasannya.

###

“Njuk, karepmu piye, Jo?”. Karyo setengah putus asa.

“Pustakawan itu, sejak adanya pendidikan ilmu perpustakaan, jadi pekerjaan yang administratif dan mengambil pekerjaan yang tidak dikerjakan orang lain. Mengais pekerjaan yang terserak. Cuma perantara, atau semacamnya, Kang.”. Paijo memberikan argumennya. Bagi Paijo, pustakawan itu peran yang menempel pada setiap profesi, setiap orang. Jika toh ada perpustakaan, maka pengelolanya seorang ilmuwan, yang dia diberi tugas untuk mengelola perpustakaan. Dengan begitu, justru perpustakaan akan hidup. “Namun tetap ada syaratnya, Kang. Kudu tenanan”, tegas Paijo.

“Lah sekarang pustakawan membanggakan pekerjaannya membuat akun google scholar, atau membuat akun Sinta. Itu kan pekerjaan temporer. Pekerjaan yang dikerjakan karena dibutuhkan orang lain, ketika tidak ada orang khusus yang membantu. Maka, tampillah pustakawan, menjadi juru selamat. Kalau nanti semua sudah punya akun google scholar, lalu mau apa pustakawan?. Nganggur?”. Paijo ganti membombardir Karyo dengan pertanyaan-pertanyaan.

Karyo tidak menyangka, selama ini dia ngemong Paijo, dan baik-baik saja. Kok sekarang rodo kendhel, ndugal, tur kemlinthi. Entah, ada apa dengan Paijo.

Paijo membuka gadgetnya, dia merawak ke berbagai laman internet. Tampak dia buka akun google scholar dosen dan ilmuwan perpustakaan, terutama yang bergelar doktor. “Apa lagi, Jo?”. Tanya Karyo. “Sik, Kang. Tak nonton produk intelektual para ilmuwan perpustakaan. Ada yang baru atau tidak, atau jangan-jangan hanya seputar sofa dan kopi di perpustakaan”.

"Lalu apa sebenarnya pekerjaan pustakawan yang paling hakiki, Jo?", Karyo bertanya balik.

"Memustakawankan pemustaka, Kang. Itu pekerjaannya pustakawan". Paijo menjawab.

Dari seberang jalan, seorang lelaki 40-an tahun berjalan. Menenteng buku dengan wajah sumringah. Setengah berteriak, dia berkata “Salam sofa, Jo”.

[mungkin bersambung]

Sunday, 7 October 2018

, ,

Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

“Revolusioner, anti kemapanan, anti kejumudan. Benar-benar luar biasa dan di luar dugaan”, Paijo bergumam sendirian. Wajahnya semringah, sambil memandangi layar gadget barunya, bermerk China yang sedang kondhiang saat ini. Gadget itu dibeli setelah mendapat acc istrinya beberapa hari yang lalu. Tentunya setelah berdebat sepanjang hari. 

###

Paijo tampak bergembira. Senyumnya lebar, kadang singsut-singsut, bersiul sambil menyusuri jalanan kampung. Tampak benar-benar dalam keadaan bahagia. Sejurus kemudian, sampailah dia di depan rumah Karyo. Tampak Karyo sedang santai bersih-bersih ladang depan rumah, persiapan untuk masa tanam yang segera akan datang. 

“Kang, ana berita bagus”. Tegas, lugas, Paijo setengah teriak pada Karyo. Karyo yang sedang memegang gathul, agak terkejut. Untunglah dia menguasai diri, dan tidak melempar gathul ke sumber suara. Jika itu terjadi, entah kegemparan apa yang akan meledak sore itu. Karyo menghentikan aktivitasnya, kemudian duduk. Paijo mendekat.

“Kang ini lihat, berita bagus. Lowongan kerja di Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Nasional!”. Paijo menekankan kata "Perpustakaan Nasional" dengan  nada tinggi. Karyo tidak mengerti. Yang dia tahu, Paijo itu sudah kerja, mapan, mosok mau mendaftar lagi. Usianya juga sudah overdosis, dan tidak masuk kriteria 35 tahun. Jika membuka alamat pendaftaran online, kemungkinan langsung macet dan muncul notifikasi “maaf, anda sudah tua”. 

“Bukan saya yang mau mendaftar. Tapi lihat lowongan ini. Lowongan pustakawan, dengan syarat yang revolusioner dan anti kejumudan. Ini berita bagus. Apalagi di Perpustakaan Nasional, perpustakaan tingkat tertinggi sebagai pembina perpustakaan lainnya”. Celetuk Paijo.

Paijo menunjukkan pengumuman  lowongan melalui gadgetnya. Tertulis, ada 19 lowongan pustakawan ahli, 17 di antaranya bukan dari ilmu perpustakaan. Melainkan bersyarat lulusan sastra jawa, sastra bugis, sastra belanda dan lainnya. Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Loh, bukannya itu keliru, Jo?. Kudunya ya alumni ilmu perpustakaan, tho?”, tanya Karyo.

“Justru itu. Ini luar biasa. Perpustakaan Nasional bertindak progresif, revolusioner, reformis, tentunya anti kemapanan, menerobos kejumudan. Perpusnas sudah memberikan contoh yang bagus dalam pengembangan perpustakaan. Tulodho, Kang. Tulodho alias contoh. Ini harus kita dukung. Saya setuju dengan lowongan ini. Ndak cuma 100%, tapi 110% setuju.” Paijo mulai memunculkan pandangannya.

“Kang, coba lihat, Sastra Jawa bisa jadi pustakawan. Wangun tenan. Saya membayangkan, pekerjaannya tidak hanya menata buku, tapi juga ngaji isinya buku sastra jawa yang ada di perpustakaan. Apalagi itu ada lowongan untuk sastra bali, sastra bugis, sastra batak. Mathuk itu. Perpustakaan mestinya,  jika tidak ada halangan, nantinya akan dipenuhi ahli-ahli, ilmuwan”, Paijo menjelaskan dengan girang, senang, layaknya anak balita disodori susu ibunya ketika kehausan.

Memang Paijo saat ini kukuh dengan pandangannya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari ilmu perpustakaan. Siapapun bisa masuk jadi pustakawan. Syarat pertama mau, kedua mau, ketiga mau, keempat terus belajar belajar. Dengan modal ilmu lain yang dimiliki, maka si pustakawan bukan hanya menyusun jajaran buku. Dia bisa “membaca” isi buku dan menyebarkannya. Paijo berkaca pada ruh aseli saat lahirnya perpustakaan. Pengelolanya bervariasi, dan memiliki latar keilmuwan bermacam. Sehingga lebih optimal dalam “membaca” isinya, tidak sekadar menata fisiknya. Demikian kurang lebih pandangan Paijo saat ini.

“Kalau buku sastra jawa, berbahasa jawa kuno itu ada di tangan alumni ilmu perpustakaan, paling banter diseken, disampuli, lalu disusun di rak, beri kapur barus biar tidak dimakan ngengat, plus ditiup jika ada debunya. Kadang malah panggil jasa perawatan profesional dari luar.  Iyo ora?. Pernyataan sekaligus pertanyaan Paijo membuat Karyo tergegun. Dia tidak menjawab, justru bertanya balik.

“Lha yang nglasifikasi buku siapa, Jo?”. 
“Nah,  itu tugasnya alumni ilmu perpustakaan, Kang. Yang dianggap paling berbobot ya nglasifikasi itu. Hahaha”. 

“Hus. Sampeyan itu ndak sopan, tidak berempati. Lowongan itu dianggap keliru oleh banyak orang, karena menerima dari luar ilmu perpustakaan. Coba hitung, berapa orang alumni ilmu perpustakaan yang kandas karena lowongan itu. Kamu tahu, selama ini sudah dipatenkan bahwa lowongan pustakawan itu cuma untuk alumni ilmu perpustakaan. Kudunya sampeyan meluruskan, jangan malah berdendang  gembira ria dan membuat opini menyesatkan!!”. Karyo bicara dengan ada ditinggikan. 


Paijo pun ngoceh, bahwa dari buku yang dia baca, manusia sekarang kena wabah psikologis, orang  tidak menerima dengan tenang, bahwa kadang ada hal-hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, merasa kalah dikalahkan, ditindas dan lainnya. [1] Nah, untuk itulah, masih sesuai buku yang Paijo baca, harus dilakukan proses mengalahkan perasaan  tertindas, tertekan, kalah dan lainnya, dalam rangka mencapai kemenangan spiritual, kemanangan sejati. [2] "Pustakawan dan calon pustakawan harus tahu filosofi hidup ini, Kang", tutup Paijo, dilanjutkan rentetan pertanyaan.

“Kang, saya tanya: kenapa kudu alumni ilmu perpustakaan? siapa yang mewajibkan? kalau institusi yang mbayari perlu dari luar ilmu perpustakaan, njuk mau apa? protes?. Saya tanya lagi: boleh ndak dari luar ilmu perpustakaan ndaftar S2 ilmu perpustakaan?”.

Sejenak Karyo diam, kemudian menjawab, lirih: “bisa saja”.  

“Dor!!!”, tangan Paijo diposisikan seperti menembak, diarahkan ke Karyo.  “Nah, itu. Kenyataan bahwa pasca sarjana ilmu perpustakaan, atau apapun namanya, menerima mahasiswa dari lulusan non ilmu perpustakaan, itu sudah bukti cetho welo-welo ketok mata, kelihatan dengan mata, mata kita semuanya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari alumni ilmu perpustakaan.”

Fakta yang disampaikan Paijo, membuat Karyo diam. Sejenak suasana hening. Memang benar, Karyo pun punya kenalan yang ambil master bidang perpustakaan. Sementara mereka bukan dari S1 ilmu perpustakaan: ada yang dari bahasa inggris, bahasa indonesia, hubungan internasional,  ada juga dari teknik. Semuanya masuk, diterima, dan tentu saja: lulus.

"Dalam hal lowongan ini, aku bangga dengan perpustakaan nasional, Kang".


Karyo diam, suasana hening. Paijo juga menahan mulutnya. Karyo tahu, Paijo kadang ngomong penuh sindiran, meski kadang juga sebaliknya. Namun dari kalimat terakhir, Karyo yakin bahwa Paijo tenanan, benar-benar setuju dengan langkah Perpustakaan Nasional membuka lowongan untuk non alumni ilmu perpustakaan. 

####

Karyo sedang di halaman rumahnya, meneruskan proses membersihkan ladang tempo hari. Senjatanya pun masih sama: gathul. Sekitar jam 4 sore ketika badan sudah mulai berkeringat, Karyo menghentikan kegiatannya. Dia raih handuk kumal yang disampirkan di genteng emperan. Sebuah ember, ciduk berisi sabun yang tinggal setipis ATM dan juga tinggal sekali pakai, sikat gigi dan odol yang tinggal sak crit, turut dibawanya. Dia hendak ke sungai, mandi sore. Ya, dari pada diomelin istrinya, dan disuruh tidur di kursi kamar tamu, lebih baik dia segera mandi. Apalagi malam itu malam Jumat. Di musim kemarau, sore hari sangat terasa  dingin, namun wajib hukumnya untuk mandi.  

Di atas sungai yang biasa digunakan untuk mandi, terbentang jembatan yang menghubungkan dari barat dan timur. Jembatan itu memiliki pengaman di sisi kiri kanannya. Tampak Paijo sudah nangkring di bibir jembatan. Setelah udur-uduran tempo hari, sore itu pertama kali mereka ketemu. Wajah Paijo menyimpan kalimat. Kalimat yang menunggu waktu paling tepat, untuk disampaikan. Pada siapa lagi kalau bukan ke Karyo?.

“Kang, aku tahu, pandanganku kemarin, tentang lowongan pustakawan dari berbagai jurusan itu berbuntut panjang. Orang jadi tanya padaku: kalau saya kursus kesehatan 3 bulan apa bisa jadi dokter? apa saya bisa ndaftar profesi dokter? apa tukang fotokopi bisa naik jadi pustakawan?, dan lainnya”. Paijo membuka pembicaraan.

Apa yang disampaikan Paijo tersebut memang benar. Biasanya demikianlah tanggapan orang. Paling sering, membandingkan dengan dokter. Karyo pun pernah ditanyai demikian. Karyo sendiri maklum, para alumni ilmu perpustakaan itu sudah kuliah lama, namun ketika lulus, justru lahannya diambil atau bahkan diserahkan pada alumni jurusan lain. Nyesek

Trus kamu jawab piye, Jo?”, Karyo memancing agar Paijo segera mengeluarkan uneg-unegnya. Karyo paham, dengan sedikit pancingan saja, Paijo akan banyak cerita. Bahkan, jika tidak dipotong, cerita pribadi pun bisa mrucut disampaikan. Maka dari itu, dalam rangka ngemong, Karyo kadang memotong penjelasan Paijo.

“Kemarin kan saya sudah bilang, Kang. Bahwa sekolah pasca jurusan ilmu perpustakaan itu bisa dimasuki oleh orang dari berbagai lulusan. Multi entry. Hal itu sudah menunjukkan, bahwa jadi pustakawan itu bisa dari macam-macam bidang studi. Nah, bagaimana dengan dokter?. Paijo mulai menjelaskan.

Paijo menjelaskan bahwa dokter, dan pustakawan itu beda. Yang bisa mengambil pendidikan profesi dokter, ya hanya lulusan pendidikan dokter. Apalagi mengambil spesialis. Dari luar kedokteran, tidak bisa ambil. Apalagi lulusan ilmu perpustakaan. Dari sisi keketatan pendidikan saja sudah kelihatan. Intinya level profesinya beda. 

Ada beberapa level profesi menurut Paijo, ditilik dari siapa yang bisa masuk ke dalamnya. Ada level tinggi, semacam dokter, dan lawyer. Ada yang tingkat di bawahnya, semacam pustakawan, atau wartawan.

###

“Nah, membandingkan pustakawan dengan dokter itu tidak nyambung. Lebih pas dengan wartawan, atau petani!”, kata Paijo. “Besok tak critani lebih lanjut. Sekarang kita mandi dulu. Badanmu wis bau keringat. Jangan kecewakan istrimu malam ini, Kang Karyo.”.

Hus. Omonganmu, Jo”. Karyo buru-buru terjun ke sungai.

[[ bersambung ]]

[1] Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, Mark Manson (2018)
[2] Profesi wong cilik, Iman Budhi Santoso (2017)

catatan:
cerita ini diilhami oleh rasa suka cita terkait berita formasi lowongan pustakawan di http://cpns.perpusnas.go.id/alokasi-formasi/

Tuesday, 2 October 2018

Pendidikan tokoh berpengaruh bidang kepustakawanan *)

Berikut ini tabel tokoh kepustakawanan, atau tokoh yang berpengaruh dalam dunia kepustakawanan, beserta sekilas pendidikannya, atau keahliannya.

Kami suguhkan nama, keahlian atau kontribusi, pendidikan, dan keterangan yang berisi sumber informasi pendukungnya. Tentunya daftar ini akan terus diperbarui jika ditemukan informasi baru. Bukan hanya tokoh dari luar Indonesia, namun juga tokoh dari Indonesia.

Berharap dari daftar ini, khususnya para pustakawan memperoleh informasi baru terkait jenjang pendidikan para pustakawan atau pemikir/tokoh yang berpengaruh pada dunia kepustakawanan. Informasi tersebut bisa menjadi landasan pustakawan dalam memilih pendidikan, dalam rangka menjadi pustakawan ideal.


No Nama Kontribusi Pendidikan
Pertama Kedua Ketiga Keterangan
1 Melvil Dewey Klasifikasi DDC, 1876 Lib.

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/160471/Melvil-Dewey,  & https://www.jstor.org/stable/25548614
2 Paul Otlet Klasifikasi UDC, 1904 Law

https://www.britannica.com/biography/Paul-Otlet
3 SR Ranganathan CC dan 5 hukum perpustakaan, 1931 Math Lib
http://www.isibang.ac.in/~library/portal/Pages/SRRBIO.pdf
4 Leo Egghee Perumus g-indeks, 2006 Math

http://garfield.library.upenn.edu/smetrics/egghe_rousseau.pdf & http://link.springer.com/article/10.1007/s11192-006-0144-7
5 Eugene Garfield Founder of ISI web of science, 1955 Chem Lib Linguistik. http://www.garfield.library.upenn.edu/educat.html & https://www.the-scientist.com/daily-news/scientometrics-pioneer-eugene-garfield-dies-31963
6 Paul Zurkowski Founder Information Literacy concept, 1974 Law

http://hlwiki.slais.ubc.ca/index.php/Information_literacy
7 Jorge E. Hirsch Perumus h-indeks, 2005 Physics

https://jorge.physics.ucsd.edu/jh.html & http://www.pnas.org/content/pnas/104/49/19193.full.pdf

Melvil Dewey, siapa pustakawan tidak mendengar nama ini? 99.9% pasti pernah mendengarnya. Dewey berpengaruh dalam hal pengembangan klasifikasi, yang kemudian dikenal dengan DDC. Selaras dengan Dewey, ada Otlet yang membuat UDC, Ranganathan yang membuat Colon Classification. Ranganthan juga merumuskan 5 hukum perpustaskaan.

Leo Eghhe, mungkin jarang didengar, namun Egghee merupakan penemu/perumus g-indeks. G-indeks dirumuskan setelah h-indeks oleh Hirsch. Indeks ini berpengaruh dalam dunia kepustakawanan terkait scholarly communication librarian. G dan h indeks ini, diklaim sebagai bagian dari perkembangan info/bibliometrik.  Pustakawan diminta tahu berbagai indeks ini agar lancar dalam memberikan referensi terkait komunikasi ilmiah pada mahasiswa.

Zurkowski, si penemu istilah literasi informasi. Jamak pustakawan memaklumi, LI merupakan tuah sakti yang saat ini digandrungi. LI digunakan pustakawan untuk meneguhkan bahwa dirinya ada.

Kemudian Garfield, si perintis ISI WoS. WoS ini masih terkait dengan h dan g-indeks, terkait pula dengan impacf factor pada dunia komunikasi ilmiah.

Nah, dari latar belakang pendidikan tokoh di atas, kita bisa lihat. Bagaimana dinamika ilmu yang ada pada para tokoh? Ada ilmu lain (mereka sudah ilmuwan dahulu dalam hal lain) sebelum (ilmu) perpustakaan. Atau, tidak harus tahu (ilmu) perpustakaan dahulu, untuk bisa berpengaruh atau memberi kontribusi pada kepustakawanan.

*) jika menemukan kekeliruan, silakan koreksi di komentar

Monday, 1 October 2018

,

[[ ciloknya pustakawan ]]

Kampus ternama di kota pendidikan itu tampak lengang. Sore itu tidak begitu ramai. Tamannya luas, juga berbagai sarana lain. Terasa sejuk dengan pepohonan yang rindang. Hanya ada beberapa mahasiswa di taman. Ada yang belajar, ada yang diskusi. Atau sekedar ngenet, dan menunggu senja.

Sepasang mahasiswa ada di sudut taman kampus. Kimpul, mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, berduaan dengan gadis pujaannya: Paijem. Wajah Kimpul tidak begitu ngganteng. Namun, dia punya senyum dan kumis tipis yang memesona. Ditambah dengan otaknya yang encer: klop, jadi sebab mahasiswi teriak histeris. Tidak kalah histeris dengan teriakan ABG saat nonton KPop.

Berbeda dengan Kimpul, Paijem kuliah di jurusan ekonomi. Wajahnya bersih meski agak ndeso, meluluhkan hati Kimpul. Klepek-klepek.

Dengan tanpa modal, pada semester dua, Kimpul nembak Paijem di bangku taman, persis yang  sekarang sedang dipakai berduaan. Keputusan nembak itu muncul, setelah sekian waktu memata-matai Paijem. Ilmu penelusuran informasi, literasi informasi, digunakan Paijo untuk menelisik latar belakang, dan diri Paijem. Akhirnya ndesonya Paijem membuat Kimpul tertarik. Tidak neko-neko, dan bisa diajak berjuang bersama mbangun bale griyo bebrayan. 

Tidak dengan kata-kata romantis, saat Kimpul nembak Paijem. Paijem pun juga tanpa kata romantis ketika menerima cinta Kimpul. "Aku seneng kowe, Jem", kemudian Paijem menjawab "Iyo, Jo. Podo". Selesai sudah dar-der-dor itu, sah. Resmilah mereka pacaran.

Sore itu, pada semester 7, pada detik-detik akhir perkuliahan mereka akan selesai, mereka kembali nostalgia di tempat saling menembak, 6 semester lalu.

***

Disaat mereka yang-yangan, seorang penjual cilok mendekat. Wajahnya setengah tua, memakai topi  lusuh bergambar logo kampus ternama. Mungkin pemberian mahasiswa, yang empati. Tidak mentolo melihat orang tua berjuang kepanasan jualan cilok. Masih ada sepuluhan butir cilok di gerobaknya. “Cilok mas”, sapa si penjual. Tentu saja, penjual itu berharap Kimpul akan mborong ciloknya, untuk nraktir Paijem, sebagaimana umumnya orang yang-yangan.

Jantung Kimpul berdegup cepat, deg-degan tidak karuan. Bukan karena ada Paijem di sampingnya, tapi karena saat bakul cilok itu mendekat, dia sedang tak pegang uang sepeserpun. Bokek, demikian kata orang. Namun bokeknya Kimpul merupakan bokek berkelas. Dia bokek karena uang kiriman bulanan sudah habis untuk mencetak e-book dan artikel terkini bidang ilmu perpustakaan. Memang, pengorbanan tersebut berbanding lurus, Kimpul dikenal mahasiswa pinter yang banyak baca. Dia tahu banyak hal sebelum yang lain tahu. Terkait kepustakawanan, dari artikel pelitian terkini: makerspace, big-data, learning common, embedded librarian, dan sebangsanya dia ketahui sebelum yang lai tahu. Namun sial, dia jadi cupet uang jajannya. Bahkan untuk nraktir cilok buat Paijem saja, dia tidak mampu. Duh. Nasib.

Beruntung, Paijem pengertian. Dia segera menghampiri tukang cilok, memesan dua porsi sekaligus membayarnya. Kimpul tersenyum. Senyum bangga, karena Paijem-nya sangat pengertian. Terbayang jika sudah menikah, pasti hidupnya bahagia dunia akherat. Namun juga senyum sedih, malu, jika ketahuan teman-temannya bahwa sore itu dia ditraktir Paijem. Bukan sebaliknya sebagaimana mestinya orang pacaran.

Sore itu, mereka berduaan makan cilok, melanjutkan ngobrol ngalor-ngidul tentang masa depan mereka setelah lulus. Kimpul lulus dan melamar kerja sebagai pustakawan, bekerja, menabung. Kemudian menikahi Paijem.

###

Kimpul berjalan mendorong gerobak. Rambutnya hitam tersisir rapi, tangannya kuat memegang dua gagang gerobak, terkadang sambil bersiul dan memukul bende kecil. "Tong-tong-tong...." Bende itu sebagai tanda bagi siapapun, bahwa dia hadir. Bajunya rapi disetrika, ujungnya dimasukkan ke dalam celana panjang hitam bermerk lokal. Sandal selop menutup rapi kaki dan jari-jari kakinya. Necis. Jalannya pasti, dan tentu saja berwibawa.

Kimpul, Sarjana Ilmu Perpustakaan itu keliling keluar masuk kampung menjajakan ciloknya. 

Dandanan Kimpul rapi, tidak seperti penjual cilok pada umumnya. Hal itu dipelajarinya dari mata kuliah promosi perpustakaan yang pernah dia ambil, dengan nilai A di bawah pengampu dosen killer bergelar Ph.D. di kampusnya. Dia harus berdandan rapi, meski hanya berjualan cilok. Diapun harus menarik pembeli dari berbagai segmen. Bukan hanya anak-anak generasi milenial. Namun juga generasi X, atau Y yang lahir tahun 80-an, anak-anak maupun dewasa. Berbagai artikel jurnal yang membahas pembagian generasi serta karakternya, sangat berpegaruh dalam strategi jualan ciloknya Kimpul.

Dia juga tahu hukum perpustakaan Ranganathan, seorang matematikawan India yang kemudian menjadi pustakawan, “every book, it's reader”. Dia gubah menjadi "setiap cilok, pasti ada penggemarnya"; atau "setiap usia, pasti ada jenis ciloknya". Dengan keyakinan itu, dia anggap setiap orang yang berpapasan dengannya merupakan calon konsumen potensial. Dia harus rayu mereka agar membeli ciloknya. Tentu metode rayuannya beda beda: untuk anak-anak, yang sedang pacaran, atau bapak-bapak yang sedang boncengan sama istrinya. Beda. 

Dia juga menerapkan formula Mbah Otlet, lulusan bidang hukum yang kemudian punya ketertarikan di bidang kepustakawanan. Konsep formula UDC Mbah Otlet diterapkan pada cilok dagangannya, tentunya dengan gubahan, disesuaikan dengan kebutuhan. Kimpul yakin, Mbah Otlet tidak keberatan pada gubahannya tersebut. Dia klasifikasikan cilok untuk anak-anak dengan rasa kekinian, serta rasa berbeda untuk orang dewasa yang ingin nostalgia cilok tahun 90-an, jaman ketika Dilan dan Milea masih remaja. Atau cilok universal, kelas umum untuk semua usia. Ada juga cilok dengan klasifikasi menurut fisiknya: ukuran sedang, atau besar agar Kimpul mudah menemukannya. Cilok-cilok tersebut disusun rapi dalam wadah di gerobak dorongnya. Berlapis kaca, mudah dilihat calon pembelinya. Tinggal tunjuk, Kimpul pun akan mengambil dan memasakknya.

Dalam berjualan, Kimpul tidak asal dalam mendorong gerobaknya. Dia tidak hanya memanfaatkan intuisi seperti umumnya penjual cilok keliling. Dia tahu betul manfaat kuliah big data, dari dosen pengampunya, yang lagi-lagi bergelar Ph.D. dari universitas luar negeri yang tersohor. Mulai dari memanfaatkan google map, dia bisa tahu tempat-tempat ramai yang berpotensi untuk jualan. Kimpul juga mendapat suplai informasi kawan lamanya, yang kini kerja di bidang big data. Dia kerap diberi info tempat-tempat ramai pada jam tertentu yang paling dekat dengan tempatnya berada. Itulah sebabnya, dagangan Kimpul cepat habis.

###

Setelah lulus, Kimpul pernah kerja di sekolah swasta, sebagai honorer pengelola perpustakaan. Dia mendaftar dengan jaminan selembar ijazah, serta selembar transkrip nilai kuliahnya dengan IPK nyaris sempurna. Tanpa banyak pertimbangan, diapun lolos diterima bekerja. Mengelola perpustakaan SD yang ruangnya terletak di ujung gedung. Pada hari pertama bekerja, ruang perpustakaannya lebih layak disebut gudang. Buku tergeletak tidak beraturan. Ada yang di dalam almari, ada yang di lantai, atau di atas meja. Bercampur. Debu tipis menyelimuti buku dalam almari dan rak. Pertanda jarang disentuh. Namun, dengan semangat membara, Kimpul rombak perpustakaan tersebut. Hingga pernah mendapatkan penghargaan sebagai perpustakaan terbaik se kecamatan.

Kimpul tidak minta banyak anggaran untuk menyulap perpustakaannya. Dia tahu, sekolah SD swasta yang tak bergitu favorit, memiliki keterbatasan dana. Dia tak ingin membebani anggaran sekolah. Diterima bekerja saja dia anggap berkah luar biasa. Dia hanya cukup menyusun koleksi agar rapih, mengondisikan perpustakaannya bersih, sehingga nyaman dikunjungi. Laptop tua yang pernah menjadi saksi menyelesaikan tugas akhirnya, dia bawa ke perpustakaan. Dia ajari anak SD dengan desain grafis, menulis, mengolah angka dan lainnya. Dengan modal kuota data pas-pasan, dia koneksikan laptopnya dengan internet untuk ngajari siswa melek informasi. Kimpul tahu, pustakawan sedang gandrung dengan tuah literasi informasi. Dia tangkap peluang ini di tempat dia kerja. Pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas Kimpul menjadikannya populer di mata siswa.

Dia bangun komunikasi dengan siswa-siswa sekolah. Kimpul ingat buku "The Atlas of new librarianship"nya Lankes, bahwa new librarian itu "participatory librarianship" yang dibangun melalui komunikasi dengan pemustaka.

Kepopuleran Kimpul sampai ke almamaternya. Mantan dosennya, Dr. Tumini, tahu pretasi Kimpul hingga kemudian mendatanginya di perpustakaan. Mereka berdiskusi tentang kiat-kiat dalam mengelola perpusakaan. Akhirnya Kimpul pun ditawari untuk didaulat sebagai brand ambassador jurusan. Fotonya menghiasi leaflet promosi jurusan ilmu perpustakaan di almamaternya. “Pustakawan berprestasi”, demikian judulnya. Deretan testimoni Kimpul tertulis pada leaflet tersebut. Tentunya, kampus berharap akan banyak pendaftar di jurusan ilmu perpustakaan, dan membuat alumni lainnya turut bangga dengan profesi pustakawan. Semakin banyak yang mendaftar, semakin banyak yang diterima, semakin panjang nafas jurusan ilmu perpustakaan.

Setiap bulan, Kimpul mendapat gaji tetap. Masuk dari pagi sampai sore hari selama 5 hari kerja. Namun, ya begitulah, gajinya tak seberapa. “Gajimu dibanding tunjangan sertifikasi dosen ilmu perpustakaan, ndak ada apa-apanya, Pul”, demikian informasi yang dia peroleh dari kawannya, sesama alumni ilmu perpustakaan. Tersebar kabar, bahwa dosen yang sudah serfifikasi akan mendapat tambahan gaji. Tidak hanya itu, dosen yang berhasil menulis di jurnal internasional, juga akan mendapatkan insentif. Besar. Lebih besar dari gaji bulanan Kimpul. Padahal, Kimpul harus segera menyiapkan ubo rampe untuk meminang gadis pujaannya, Paijem, yang sudah menunggunya untuk diboyong. Kimpul ingin segera menikah, membina rumah tangga bersama Peijem. Wajah ndeso Paijem yang membuat adem dan tentrem selalu terbayang.

Kimpul mikir. Akhirnya, gaji kecil yang masih menjadi ganjalan itu ternyata justru membuat ide kreatifnya muncul. Ketika istirahat sekolah, dia nyambi jualan cilok di sekolahan. Ini juga dilakukannya dengan berkeliling pada sabtu dan minggu, ketika dia tidak “ngantor” di perpusakaan sekolah. Tanpa rasa malu atau minder. Demi Paijem, akan dilakukannya.

Kerampilan membuat cilok, Kimpul peroleh dari baca buku: Panduan meracik cilok. Buku tersebut ditemukannya pada tumpukan ketika membereskan perpustakaannya, di hari pertama. Saat menemukan buku tersebut, Kimpul terkejut. Hatinya berdesir, bayangannya langsung teringat ketika ditraktir cilok oleh Paijem saat kuliah. 

Tidak disangka, pendapatannya dari sambilan jualan cilok cukup lumayan. Bahkan jika diseriusi, bisa lebih banyak dari gaji bulanan yang dia peroleh sebagai pustakawan sekolah. Akhirnya, Kimpul memutuskan untuk serius jualan cilok. Impiannya tidak hanya dengan satu gerobak, namun dengan banyak gerobak. Akhirnya Kimpul resign dari sekolah. Alasannya jelas, ingin cari modal untuk segera menghalalkan Paijem. Sekolah tak bisa menahan.

###

Di suatu kampung, sore itu. Matahari sebentar lagi tenggelam. Anak-anak kecil menghabiskan waktunya, bermain di halaman, atau jalanan. Sesekali mereka harus menyingkir ketika ada motor atau bahkan mobil lewat. Semenara para orang tua saling sapa, dan bercerita tentang sekolah anaknya.

Sore itu, Kimpul masih melanjutkan keliling menjajakan cilok. Tampak cilok dagangannya tinggal beberapa butir. Wajahnya sumringah, jalannya bersemangat. Dia arahkan gerobaknya menuju rumah. Wajah Paijem yang sudah setahun dinikahinya, terbayang. Kimpul ingin segera sampai rumah, mencium kening Paijem, dan memeluknya.

Paijem yang biasanya sudah menyiapkan teh hangat dan menunggunya di serambi. Senyumnya, sapanya, dan sejuknya udara rumah, membuatnya tak sabar untuk sampai rumah. Sambil mendorong gerobak, dia berharap, akan ada satu dua anak, atau orang tua yang yang membeli sisa-sisa ciloknya. Jika toh tidak ada, akan dia sedekahkan pada siapapun yang dia temui: entah anak-anak, atau orang dewasa.

Di ujung jalan, sebuah mobil berjalan berlawanan, berhenti tepat ketika berpapasan dengan Kimpul. Seorang perempuan berpakaian rapi turun, bergegas menghampiri Kimpul. Wajah dan pakaiannya menandakan dia orang berpendidikan, pinter dan winasis.

“Kimpul, ini Kimpul, kan?”, sapanya tergesa.

Kimpul glagepan, kaget. Namun ia pun segera bisa menguasai dirinya. Dia ingat, di hadapannya berdiri Dr. Tumini, dosennya dulu. Dr. Tumini merupakan alumni doktor ilmu perpustakaan dari universitas luar negeri. Terkenal.  Dia pernah menemuinya ketika masih kerja di perpustakaan sekolah. Dr. Tumini sering mengisi seminar kepustakawan di berbagai tempat. Ikut konferensi, dan benchmarking perpustakaan pada berbagai perpustakaan terbaik dunia. Namanya sering ditulis dengan Dr. Tumini, kadang juga Tumini, Ph.D. Meski belum profesor, dia kerap dipanggil Prof. oleh sejawat dan mahasiswanya. Maklum, ilmunya setinggi langit dan sedalam sumur minyak.

“Wah, Dr. Tumini. Apa kabar, Bu?”.
“Kimpul, kamu ndak kerja di perpustakaan lagi. Ini kok jualan cilok”?, Bu Tumini heran dan penasaran.

Kimpul pun cerita sebab musabab dia memutuskan jualan cilok. Dr. Tumini tampak kecewa. Dia berharap banyak pada Kimpul, agar bisa mengangkat harkat dan derajat jurusan ilmu perpustakaan kampusnya. Apalagi, Kimpul pernah berprestasi, foto dan testimoninya pernah pula dipajang di leaflet promosi kampus. Namun, apa yang dilihat Dr. Tumini sore itu benar-benar di luar dugaan. Dr. Tumini kecewa. Wajahnya menyiratkan itu, meski disembunyikan.

“Sore ini saya hanya iseng, kok. Karyawan saya sudah muter keliling. Kebetulan ada satu yang sakit, maka saya coba menggantikannya keliling. Sekaligus ingin merasakan kondisi lapangan ketika jualan cilok. Bukahkah kita harus merasakan langsung, agar bisa berempati, Bu?”. Kimpul menutup ceritanya.

Dr. Tumini kaget. Kimpul merupakan mantan pustakawan yang banting stir jadi juragan cilok. Sukses dengan omset besar serta banyak karyawan. Demikian kurang lebih kesimpulannya.

“Hehe, saya bukan mantan pustakawan, Bu. Saya tetap pustakawan, minimal untuk diri saya sendiri, keluarga dan untuk karyawan saya. Teriring doa, semoga Ibu lekas menjadi profesor”.

Dr. Tumini kaget dengan jawaban Kimpul. Meskipun halus, seolah ada tamparan mampir di wajahnya. Plak. Tampak, Kimpul tahu apa yang dirasakan mantan dosennya itu. Kimpul merasa ndak enak.

Dr Tumini diam sejenak, mendengar penjelasan tambahan Kimpul. Diam-diam, hatinya mengamini doa terakhir Kimpul: jadi profesor. Impian tiap dosen, apalagi dosen ilmu perpustakaan, yang profesornya masih sedikit.

“Bu Tumini, apa mungkin ya, leaflet kampus yang dulu bergambar diri saya itu diganti?”. Kimpul bertanya.

“Diganti apa, Pul?”. Dr. Tumini bertanya balik, dengan senyum yang agak dipaksakan.

“Diganti foto saya lengkap dengan gerobak cilok ini, Bu", jawab Kimpul.

"Agar calon mahasiswa ilmu perpustakaan sadar bahwa alumni ilmu perpustakaan juga dimungkinkan jadi penjual cilok”, lanjut Kimpul.

Senyum Dr. Tumini, yang tadi muncul dengan agak dibuat-buat, hilang. Berganti dengan ekspresi kaget yang tak dapat disembunyikan. Entah apa arti kerutan yang tiba-tiba muncul di wajahnya itu.

“O, kalau itu, perlu dirapatkan dan disetujui di senat dulu, Pul. Sudah ya, saya pamit”, Dr. Tumini gugup menjawab. Dia buru-buru pamitan, tak ingin gugupnya tampak lebih nyata terlihat dihadapan Kimpul.

Dr. Tumini buru-buru masuk mobil. Mesin dihidupkan, tancap gas meninggalkan Kimpul. Dari jauh, melalui kaca spion, mata Dr. Tumini melihat Kimpul mengangkat plastik putih berisi cilok. Melihat mantan anak didiknya itu, matanya berkaca-kaca. Beberapa butir air mata menetes. Buru-buru diusap dengan sapu tangan hitam berlogo universitas di Amerika.

"Bu Tumini, ini cilok buat Ibu.....", Kimpul setengah teriak. Namun sudah terlambat.

(selesai)


Catatan:
ini cerpen yang pertama saya tulis. Di tulis pada Senin Wage, 20 Suro 1952 Be. Selepas Subuh s.d. 06.15 WIB. Kemudian diedit perbaikan.

Wednesday, 26 September 2018

,

Open Knowledge Maps: cari, temukan, dan identifikasi

A visual interface to the world's scientific knowledge, demikian jargon dari website ini, https://openknowledgemaps.org/. Dengan tool ini, peneliti bisa memperoleh informasi tentang informasi ilmiah dari berbagai sumber dalam bentuk map. Melalui 3 langkap: get an overview - find papers - identify relevant concepts, peneliti disajikan peta yang dapat diterjemahkan untuk menentukan riset yang hendak dilakukan.

Ada empat keuntungan yang ditawarkan oleh alat ini:

Get an overview of a research topic: knowledge maps provide an instant overview of a topic by showing the main areas at a glance, and papers related to each area. This makes it possible to easily identify useful, pertinent information.


Identify relevant concepts: one of the most difficult tasks when you are new in a research field is to learn the “language” of the field. Open Knowledge Maps makes it easier for you by labeling research areas with relevant concepts.


Separate the wheat from the chaff: we cluster similar papers together. This makes it easier to identify relevant content when you are searching for an ambiguous term, or when you would like to identify content from a single discipline in a multidisciplinary field.


Find open content: our knowledge maps include both closed and open access papers. However we highlight open access papers - and the majority of those papers can be read from within the interface. And if not, the fulltext is only a click away.

 Sebagai contoh, saya tuliskan kata kunci "green energy" pada BASE all diciplines.



Maka akan ditampilkan hasil yang memuat topik dan referensi yang terkait.


Pada gambar di atas terlihat hamparan topik terkait green energy yang diwakili pada tiap lingkaran yang terkadang saling beririsan dengan lingkaran lainnya. Setiap lingkaran, berisi judul artikel terkait. Jika lingkaran diklik, maka kita akan disuguhkan ditail referensi dan tautannya.

Sunday, 23 September 2018

, ,

Tentang DOI dan manfaatnya

DOI, kependekan dari Digital Object Identifier. DOI merupakan identitas unik pada dokumen digital. Mirip seperti DNA bagi manusia.

Dengan adanya DOI, maka akan mudah menemukan data lengkap sebuah dokumen: judul, penulis, penerbit, halaman, dan seterusnya. Atau, jika tak sengaja kita menemukan potongan kertas yang memuat abstrak sebuah tulisan, tanpa judul, namun ada DOI-nya, maka dapat dilacak identitas dokumen tersebut.

Atau bagi mahasiswa yang memerlukan artikel tertentu, untuk meminta bantuan pada pustakawan tidak perlu menuliskan judul lengkap + penulisnya. Cukup mengirimkan DOI dokumen yang dibutuhkan. Maka si pustakawan akan secara tepat mengetahui dokumen yang dibutuhkan.

Pelacakan DOI bisa dilakukan melalui laman DOI.org. Kita tinggal menuliskan nomor DOI-nya, maka DOI.org akan mengantarkan kita pada laman asli yang memuat dokumen tersebut. Bagaimana jika ingin mengaksesnya?



Akses tergantung apakah kita punya hak atau tidak. Jika dokumen tersebut berbayar, maka kita harus membayar untuk dapat memperolehnya.

Contoh DOI dari 10.1016/j.ccs.2018.05.002. Angka 10.1046 merupakan prefix yang menjadi identitas jurnal. Sementara itu kode setelah tanda "/" mengindikasikan kode untuk artikel. Jika DOI tersebut untuk artikel jurnal, biasanya memuat kode nama jurnal serta volume nomornya.

Untuk memudahkan penulisan, disediakan pemendek URL DOI, yang beralamat di http://shortdoi.org

Secara umum, DOI dibedakan menjadi dua. Berbayar dan gratis.

DOI berbayar
DOI versi ini dapat dibeli ke Crossref, dengan biaya per item DOI + biaya keanggotaan pertahun. Kode DOI dapat ditempel pada dokumen yang disimpan oleh masing-masing institusi yang membeli. Misalnya DOI untuk jurnal UGM, dapat ditempel pada laman web jurnal yang ada di server UGM.

Di Indonesia, pembelian DOI bisa melalui RJI (Relawan Jurnal Indonesia). Silakan lihat http://doi.relawanjurnal.id/?page_id=733

DOI hasil pembelian ini dapat ditempel via OJS, dataverse, maupun aplikasi lainnya.

DOI Gratis
Berbeda dengan versi pertama, pemilik dokumen/data tidak perlu membeli kode DOI. Penyedialah yang membeli kode prefik dari Crossref, dan menyediakan tiap kode dokumen pada yang membutuhkan. Ada beberapa layanan yang menyediakan DOI. Misalnya Zenodo, Mendeley data, InaRxiv, Figshare.

Untuk memperoleh DOI ini, kita harus menyimpan dokumen atau dataset yang kita miliki pada server yang telah disediakan. Umumnya sekali upload tidak dapat ditarik/hapus lagi.

Baca juga tulisan http://lukito.staff.ugm.ac.id/2014/03/08/memanfaatkan-doi-dalam-review-karya-ilmiah-dalam-penilaian-angka-kredit-di-dikti/








Pustakawan ideal?


Malam itu, Paijo sibuk di pojok ruang rumahnya. Satu gelas kopi racikan istrinya, habis tak bersisa. Dia tak berniat meracik ulang kopi, khawatir tidak bisa tidur malam itu. Namun sudah terlambat. Segelas kopi sudah membuatnya sulit memejamkan mata.

Untuk membunuh waktu, sebuah buku diambilnya dari rak. Judulnya Perpustakaan Islam. Buku pemberian langsung dari si penulis, dengan sebuah catatan kecil pada laman depan: "semoga menginspirasi", plus tandatangan dan nama terang si penulis: Agus Rifai. Halaman buku itu dibolak-balik, dan sampailah pada halaman 154-157. Pada sebuah sub-bab berjudul tenaga pengelola perpustakan. Sub bab ini menjabarkan nama-nama pustakawan pada jaman (sesuai judul buku) peradaban Islam Klasik.

Matanya menyapu laman demi laman. Deretan nama beserta keahliannya, Paijo menandainya dengan stabilo warna-warni yang diraihnya dari atas meja. Nama pertama yang ditandainya adalah Abdus Salam, seorang pustakawan di Darl Al Kutub yang merupakan seorang pakar humaniora, ahli hadis dan leksikografi. Kemudian Al Qayrawani, pustakawan di Madrazah Nizamiyah yang merupakan pakar filologi. Abu Yusuf Al-Asfarayani, Ahmad al Abuyardi, Ali Ibn Ahmad ibn Bakr juga pustakawan di Madrasah Nizamiyah sekaligus ahli sastra terkenal.

Ibn Al Futhi, seorang pustakawan di Madrasah Al Mustansyiriah yang juga ahli sejarah. Pada perpustakaan yang sama, ada Ibn Al Sai Taj- al Din Ali Ibn Anjab yang merupakan ahli sejarah, sastra, hafidz dan ahli hadis. Ada pula Abu Mansyur Muhamad bih Ahmad yang merupakan pakar fikh mahzah syiah imamiyah, tata bahasa dan leksikografi. Al-Thai, seorang pustakawan yang juga kepala rumah sakit, dan ahli humaniora. Pustakawan perpustakaan Adud al Daulah, Ibn Miskawih merupakan pakar sejarah dan historiografi. Al Syabisyati, seorang sastrawan yang menjadi pustakawan di perpustakaan Daulah Fatimiyah.

###

Paijo tertegun. “O, jadi begini sosok para pustakawan jaman dahulu”, bisiknya. Mereka tidak hanya pustakawan, mereka juga ilmuwan pada bidang ilmu tertentu. Paijo kemudian mencoba melacak para pustakawan pada jaman sekarang.

Paijo ingat pula pada beberapa baris yang tertulis di bukunya Ziaudin Sardar. Pada buku tersebut tertulis, ibn Nadim menyebutkan pustakawan di Bayth al Hikmah merupakan sosok yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat karena kecendikiawanan mereka. Perpustakaan Al Hikmah juga dikelola oleh koleborasi sejumlah cendikiawan Muslim dan Non Muslim. Keunggulah Bayth al hikmah, yang hanya dapat dikalahkan oleh perpustkaan Madrasah Nizamiyah pada 1065 M, yaitu memiliki pustakawan tetap dengan gaji tinggi. Al Kindi, sang filosof yang juga penulis buku kedokteran, filsafat dan musik juga pernah bekerja sebagai pustakawan di Bayth Al Hikmah.  Hunain, serta dokter dari India, Duban, serta Al Khwarizmi, matematikawan tersohor  juga pustakawan di perpustakaan tersebut.

***

Matanya menerawang, melamun, dan membayangkan tokoh-tokoh pustakawan yang dikenalnya. Setiap pustakawan ditelisik, latar belakang keilmuwannya. Namun Paijo kesulitan mencari padanan pustakawan jaman klasik tersebut dengan jaman sekarang. “Mungkin jaman memang sudah berubah”, pikir Paijo. Padahal, Al-Attas, ilmuwan yang membangun perpustakaan ISTAC sudah mewanti-wanti bahwa pustakawan itu juga haruslah seorang ilmuwan. Paijo yakin, Al-Attas menyandarkan pendapatnya tersebut pada kenyataan kepustakawan jaman lampau yang tetap relevan.

Paijo membolak-balik laman internet. Paijo menemukan berbagai istilah yang sedang ngetren di dunia akademik, publikasi, dan perjurnalan. Berbagai istilah muncul, mulai dari h-indeks, g-indeks, scopus, web of science dan lainnya. Istilah ini diwakili dengan angka (metrik) yang menunjukkan performa akademisi. Metrik ini, oleh ilmuwan perpustakaan dan informasi diklaim sebagai anak kandung bibliometrik, sciencetometrik, dan informetric, yang merupakan bidang kajian dalam ilmu perpustkaan dan informasi. “Kalau benar demikian, mestinya ada campur tangan para ilmuwan perpustakaan”, Paijo memprediksi.

Rasa penasaran Paijo mengantarkanya pada siapa yang merumuskan istilah-istilah tersebut.

Impact Factor, ternyata dirumuskan oleh Eugene Garfield. Gene menempuh pendidikan pertamanya dalam bidang Chemistry, kemudian library science. Sedangkan studi doktoralnya dalam bidang linguistic. Sementara itu Jorge E. Hirsch (perumus h-indeks) merupakan profesor fisika. Leo Egghe si perumus g-indeks merupakan seorang matematikawan. Thesis keduanya  Egghe tentang information systems, hingga akhirnya berprofesi pula sebagai pustakawan (kepala perpustakaan).

Baca juga: Ilmu dan Kebijakan, unsur perpustakaan

Temuan tersebut membuat Paijo terkejut. Polanya sama dengan pada masa Islam Klasik, sebagaimana diceritakan pada buku. Garfield, Egghe, dan Hirsch merupakah ilmuwan pada bidangnya, baru kemudian nyemplung pada  dunia Perpustakaan dan informasi. Ilmu pertama yang dikuasai ketiganya, berpengaruh pada pola kajiannya pada bidang perpustakaan dan informasi.

Pustakawan jaman sekarang, didorong untuk menempatkan perpustakaan sebagai ilmu tersendiri: ilmu perpustakaan, dengan segala kajiannya. Namun, dengan cara demikian, ternyata justru tidak melahirkan seorang pustakawan yang ilmuwan. Jauh dari praktik kepustakawanan jaman dahulu. Ya, mungkin jaman memang telah berubah. Bergeser, owah gingsir, menuruti jaman.

"Jangan-jangan, memang pendidikan ilmu perpustakaanlah yang menyebabkan terdistorsinya penghargaan pada peran pustakawan", bisik Paijo dalam hati.

***

Hari itu Minggu, Paijo libur dari aktivitas kerjanya. Dia hendak ketemu sahabatnya, Karyo. Kakinya melangkah menuju rumah Karyo, yang jaraknya tak begitu jauh. Beruntung Karyo ada di emperan rumahnya, ditemani secangkir kopi dan beberapa potong singkong rebus.

"Kang Karyo. Saya mau ngomong. Penting", teriak Paijo. Mereka pun terlibat obrolan di emperan rumah. Kadang diselingi dengan tawa lepas, kadang terlihat Paijo ngotot menyatakan pendapatnya. Dasar Paijo, yang memang tak mau mengalah. Untungnya Karyo bijak. Dia tak menyalahkan jika pandangan Paijo tak sejalan dengan pandangannya. Dia hanya menanya ulang pada Paijo. Dengan cara ini dia ingin menguji sejauh mana Paijo kukuh dengan pandangannya.

"Kang, membaca profil singkat para pustakawan jaman dahulu, kok aku jadi kepikiran bahwa memang sebenarnya program inpassing pustakawan itu benar adanya. Maksudku program yang sudah benar. Pustakawan memang seharusnya memiliki kadar keilmuwan lain selain mengelola perpustakaan itu sendiri, Kang!". Paijo memulai pendapatnya.

"Apa kesimpulanmu tidak tergesa-gesa, Jo?", Karyo bertanya. "Ya, memang dasar saya baru pengamatan saja, dan itu terjadi pada masa lampau. Tapi ya tak ada salahnya, tho. Ini proses saya merenung. Lha, daripada ndak berfikir sama sekali", Paijo menjawab setengah membela diri.

"Berarti kamu setuju inpassing pustakawan, Jo?". Mendapat pertanyaan ini, Paijo langsung nerocos. "Saat ini saya berkesimpulan, Kang. Kalau setiap orang berhak jadi pustakawan. Bahkan sarjana ilmu lain pun bisa. Tidak harus sarjana (ilmu) perpustakaan. Memang, yang harus dipastikan ada cara rekruitmennya, agar inpassing tidak sekadar dimanfaatkan oleh orang yang ingin pensiun lebih lama".

Paijo memang berkesimpulan, bahwa pustakawan pada lembaga perpustakaan, idealnya merupakan pekerjaan yang tertempel pada ilmuwan bidang ilmu tertentu. Atau untuk menjadi pustakawan, tidaklah harus menempuh studi (ilmu) perpustakaan. Namun, bisa dimasuki oleh ilmuwan bidang lain, dengan ditambah kursus atau pelatihan kepustakawanan.