Monday, 1 October 2018

,

[[ ciloknya pustakawan ]]

Kampus ternama di kota pendidikan itu tampak lengang. Sore itu tidak begitu ramai. Tamannya luas, juga berbagai sarana lain. Terasa sejuk dengan pepohonan yang rindang. Hanya ada beberapa mahasiswa di taman. Ada yang belajar, ada yang diskusi. Atau sekedar ngenet, dan menunggu senja.

Sepasang mahasiswa ada di sudut taman kampus. Kimpul, mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, berduaan dengan gadis pujaannya: Paijem. Wajah Kimpul tidak begitu ngganteng. Namun, dia punya senyum dan kumis tipis yang memesona. Ditambah dengan otaknya yang encer: klop, jadi sebab mahasiswi teriak histeris. Tidak kalah histeris dengan teriakan ABG saat nonton KPop.

Berbeda dengan Kimpul, Paijem kuliah di jurusan ekonomi. Wajahnya bersih meski agak ndeso, meluluhkan hati Kimpul. Klepek-klepek.

Dengan tanpa modal, pada semester dua, Kimpul nembak Paijem di bangku taman, persis yang  sekarang sedang dipakai berduaan. Keputusan nembak itu muncul, setelah sekian waktu memata-matai Paijem. Ilmu penelusuran informasi, literasi informasi, digunakan Paijo untuk menelisik latar belakang, dan diri Paijem. Akhirnya ndesonya Paijem membuat Kimpul tertarik. Tidak neko-neko, dan bisa diajak berjuang bersama mbangun bale griyo bebrayan. 

Tidak dengan kata-kata romantis, saat Kimpul nembak Paijem. Paijem pun juga tanpa kata romantis ketika menerima cinta Kimpul. "Aku seneng kowe, Jem", kemudian Paijem menjawab "Iyo, Jo. Podo". Selesai sudah dar-der-dor itu, sah. Resmilah mereka pacaran.

Sore itu, pada semester 7, pada detik-detik akhir perkuliahan mereka akan selesai, mereka kembali nostalgia di tempat saling menembak, 6 semester lalu.

***

Disaat mereka yang-yangan, seorang penjual cilok mendekat. Wajahnya setengah tua, memakai topi  lusuh bergambar logo kampus ternama. Mungkin pemberian mahasiswa, yang empati. Tidak mentolo melihat orang tua berjuang kepanasan jualan cilok. Masih ada sepuluhan butir cilok di gerobaknya. “Cilok mas”, sapa si penjual. Tentu saja, penjual itu berharap Kimpul akan mborong ciloknya, untuk nraktir Paijem, sebagaimana umumnya orang yang-yangan.

Jantung Kimpul berdegup cepat, deg-degan tidak karuan. Bukan karena ada Paijem di sampingnya, tapi karena saat bakul cilok itu mendekat, dia sedang tak pegang uang sepeserpun. Bokek, demikian kata orang. Namun bokeknya Kimpul merupakan bokek berkelas. Dia bokek karena uang kiriman bulanan sudah habis untuk mencetak e-book dan artikel terkini bidang ilmu perpustakaan. Memang, pengorbanan tersebut berbanding lurus, Kimpul dikenal mahasiswa pinter yang banyak baca. Dia tahu banyak hal sebelum yang lain tahu. Terkait kepustakawanan, dari artikel pelitian terkini: makerspace, big-data, learning common, embedded librarian, dan sebangsanya dia ketahui sebelum yang lai tahu. Namun sial, dia jadi cupet uang jajannya. Bahkan untuk nraktir cilok buat Paijem saja, dia tidak mampu. Duh. Nasib.

Beruntung, Paijem pengertian. Dia segera menghampiri tukang cilok, memesan dua porsi sekaligus membayarnya. Kimpul tersenyum. Senyum bangga, karena Paijem-nya sangat pengertian. Terbayang jika sudah menikah, pasti hidupnya bahagia dunia akherat. Namun juga senyum sedih, malu, jika ketahuan teman-temannya bahwa sore itu dia ditraktir Paijem. Bukan sebaliknya sebagaimana mestinya orang pacaran.

Sore itu, mereka berduaan makan cilok, melanjutkan ngobrol ngalor-ngidul tentang masa depan mereka setelah lulus. Kimpul lulus dan melamar kerja sebagai pustakawan, bekerja, menabung. Kemudian menikahi Paijem.

###

Kimpul berjalan mendorong gerobak. Rambutnya hitam tersisir rapi, tangannya kuat memegang dua gagang gerobak, terkadang sambil bersiul dan memukul bende kecil. "Tong-tong-tong...." Bende itu sebagai tanda bagi siapapun, bahwa dia hadir. Bajunya rapi disetrika, ujungnya dimasukkan ke dalam celana panjang hitam bermerk lokal. Sandal selop menutup rapi kaki dan jari-jari kakinya. Necis. Jalannya pasti, dan tentu saja berwibawa.

Kimpul, Sarjana Ilmu Perpustakaan itu keliling keluar masuk kampung menjajakan ciloknya. 

Dandanan Kimpul rapi, tidak seperti penjual cilok pada umumnya. Hal itu dipelajarinya dari mata kuliah promosi perpustakaan yang pernah dia ambil, dengan nilai A di bawah pengampu dosen killer bergelar Ph.D. di kampusnya. Dia harus berdandan rapi, meski hanya berjualan cilok. Diapun harus menarik pembeli dari berbagai segmen. Bukan hanya anak-anak generasi milenial. Namun juga generasi X, atau Y yang lahir tahun 80-an, anak-anak maupun dewasa. Berbagai artikel jurnal yang membahas pembagian generasi serta karakternya, sangat berpegaruh dalam strategi jualan ciloknya Kimpul.

Dia juga tahu hukum perpustakaan Ranganathan, seorang matematikawan India yang kemudian menjadi pustakawan, “every book, it's reader”. Dia gubah menjadi "setiap cilok, pasti ada penggemarnya"; atau "setiap usia, pasti ada jenis ciloknya". Dengan keyakinan itu, dia anggap setiap orang yang berpapasan dengannya merupakan calon konsumen potensial. Dia harus rayu mereka agar membeli ciloknya. Tentu metode rayuannya beda beda: untuk anak-anak, yang sedang pacaran, atau bapak-bapak yang sedang boncengan sama istrinya. Beda. 

Dia juga menerapkan formula Mbah Otlet, lulusan bidang hukum yang kemudian punya ketertarikan di bidang kepustakawanan. Konsep formula UDC Mbah Otlet diterapkan pada cilok dagangannya, tentunya dengan gubahan, disesuaikan dengan kebutuhan. Kimpul yakin, Mbah Otlet tidak keberatan pada gubahannya tersebut. Dia klasifikasikan cilok untuk anak-anak dengan rasa kekinian, serta rasa berbeda untuk orang dewasa yang ingin nostalgia cilok tahun 90-an, jaman ketika Dilan dan Milea masih remaja. Atau cilok universal, kelas umum untuk semua usia. Ada juga cilok dengan klasifikasi menurut fisiknya: ukuran sedang, atau besar agar Kimpul mudah menemukannya. Cilok-cilok tersebut disusun rapi dalam wadah di gerobak dorongnya. Berlapis kaca, mudah dilihat calon pembelinya. Tinggal tunjuk, Kimpul pun akan mengambil dan memasakknya.

Dalam berjualan, Kimpul tidak asal dalam mendorong gerobaknya. Dia tidak hanya memanfaatkan intuisi seperti umumnya penjual cilok keliling. Dia tahu betul manfaat kuliah big data, dari dosen pengampunya, yang lagi-lagi bergelar Ph.D. dari universitas luar negeri yang tersohor. Mulai dari memanfaatkan google map, dia bisa tahu tempat-tempat ramai yang berpotensi untuk jualan. Kimpul juga mendapat suplai informasi kawan lamanya, yang kini kerja di bidang big data. Dia kerap diberi info tempat-tempat ramai pada jam tertentu yang paling dekat dengan tempatnya berada. Itulah sebabnya, dagangan Kimpul cepat habis.

###

Setelah lulus, Kimpul pernah kerja di sekolah swasta, sebagai honorer pengelola perpustakaan. Dia mendaftar dengan jaminan selembar ijazah, serta selembar transkrip nilai kuliahnya dengan IPK nyaris sempurna. Tanpa banyak pertimbangan, diapun lolos diterima bekerja. Mengelola perpustakaan SD yang ruangnya terletak di ujung gedung. Pada hari pertama bekerja, ruang perpustakaannya lebih layak disebut gudang. Buku tergeletak tidak beraturan. Ada yang di dalam almari, ada yang di lantai, atau di atas meja. Bercampur. Debu tipis menyelimuti buku dalam almari dan rak. Pertanda jarang disentuh. Namun, dengan semangat membara, Kimpul rombak perpustakaan tersebut. Hingga pernah mendapatkan penghargaan sebagai perpustakaan terbaik se kecamatan.

Kimpul tidak minta banyak anggaran untuk menyulap perpustakaannya. Dia tahu, sekolah SD swasta yang tak bergitu favorit, memiliki keterbatasan dana. Dia tak ingin membebani anggaran sekolah. Diterima bekerja saja dia anggap berkah luar biasa. Dia hanya cukup menyusun koleksi agar rapih, mengondisikan perpustakaannya bersih, sehingga nyaman dikunjungi. Laptop tua yang pernah menjadi saksi menyelesaikan tugas akhirnya, dia bawa ke perpustakaan. Dia ajari anak SD dengan desain grafis, menulis, mengolah angka dan lainnya. Dengan modal kuota data pas-pasan, dia koneksikan laptopnya dengan internet untuk ngajari siswa melek informasi. Kimpul tahu, pustakawan sedang gandrung dengan tuah literasi informasi. Dia tangkap peluang ini di tempat dia kerja. Pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas Kimpul menjadikannya populer di mata siswa.

Dia bangun komunikasi dengan siswa-siswa sekolah. Kimpul ingat buku "The Atlas of new librarianship"nya Lankes, bahwa new librarian itu "participatory librarianship" yang dibangun melalui komunikasi dengan pemustaka.

Kepopuleran Kimpul sampai ke almamaternya. Mantan dosennya, Dr. Tumini, tahu pretasi Kimpul hingga kemudian mendatanginya di perpustakaan. Mereka berdiskusi tentang kiat-kiat dalam mengelola perpusakaan. Akhirnya Kimpul pun ditawari untuk didaulat sebagai brand ambassador jurusan. Fotonya menghiasi leaflet promosi jurusan ilmu perpustakaan di almamaternya. “Pustakawan berprestasi”, demikian judulnya. Deretan testimoni Kimpul tertulis pada leaflet tersebut. Tentunya, kampus berharap akan banyak pendaftar di jurusan ilmu perpustakaan, dan membuat alumni lainnya turut bangga dengan profesi pustakawan. Semakin banyak yang mendaftar, semakin banyak yang diterima, semakin panjang nafas jurusan ilmu perpustakaan.

Setiap bulan, Kimpul mendapat gaji tetap. Masuk dari pagi sampai sore hari selama 5 hari kerja. Namun, ya begitulah, gajinya tak seberapa. “Gajimu dibanding tunjangan sertifikasi dosen ilmu perpustakaan, ndak ada apa-apanya, Pul”, demikian informasi yang dia peroleh dari kawannya, sesama alumni ilmu perpustakaan. Tersebar kabar, bahwa dosen yang sudah serfifikasi akan mendapat tambahan gaji. Tidak hanya itu, dosen yang berhasil menulis di jurnal internasional, juga akan mendapatkan insentif. Besar. Lebih besar dari gaji bulanan Kimpul. Padahal, Kimpul harus segera menyiapkan ubo rampe untuk meminang gadis pujaannya, Paijem, yang sudah menunggunya untuk diboyong. Kimpul ingin segera menikah, membina rumah tangga bersama Peijem. Wajah ndeso Paijem yang membuat adem dan tentrem selalu terbayang.

Kimpul mikir. Akhirnya, gaji kecil yang masih menjadi ganjalan itu ternyata justru membuat ide kreatifnya muncul. Ketika istirahat sekolah, dia nyambi jualan cilok di sekolahan. Ini juga dilakukannya dengan berkeliling pada sabtu dan minggu, ketika dia tidak “ngantor” di perpusakaan sekolah. Tanpa rasa malu atau minder. Demi Paijem, akan dilakukannya.

Kerampilan membuat cilok, Kimpul peroleh dari baca buku: Panduan meracik cilok. Buku tersebut ditemukannya pada tumpukan ketika membereskan perpustakaannya, di hari pertama. Saat menemukan buku tersebut, Kimpul terkejut. Hatinya berdesir, bayangannya langsung teringat ketika ditraktir cilok oleh Paijem saat kuliah. 

Tidak disangka, pendapatannya dari sambilan jualan cilok cukup lumayan. Bahkan jika diseriusi, bisa lebih banyak dari gaji bulanan yang dia peroleh sebagai pustakawan sekolah. Akhirnya, Kimpul memutuskan untuk serius jualan cilok. Impiannya tidak hanya dengan satu gerobak, namun dengan banyak gerobak. Akhirnya Kimpul resign dari sekolah. Alasannya jelas, ingin cari modal untuk segera menghalalkan Paijem. Sekolah tak bisa menahan.

###

Di suatu kampung, sore itu. Matahari sebentar lagi tenggelam. Anak-anak kecil menghabiskan waktunya, bermain di halaman, atau jalanan. Sesekali mereka harus menyingkir ketika ada motor atau bahkan mobil lewat. Semenara para orang tua saling sapa, dan bercerita tentang sekolah anaknya.

Sore itu, Kimpul masih melanjutkan keliling menjajakan cilok. Tampak cilok dagangannya tinggal beberapa butir. Wajahnya sumringah, jalannya bersemangat. Dia arahkan gerobaknya menuju rumah. Wajah Paijem yang sudah setahun dinikahinya, terbayang. Kimpul ingin segera sampai rumah, mencium kening Paijem, dan memeluknya.

Paijem yang biasanya sudah menyiapkan teh hangat dan menunggunya di serambi. Senyumnya, sapanya, dan sejuknya udara rumah, membuatnya tak sabar untuk sampai rumah. Sambil mendorong gerobak, dia berharap, akan ada satu dua anak, atau orang tua yang yang membeli sisa-sisa ciloknya. Jika toh tidak ada, akan dia sedekahkan pada siapapun yang dia temui: entah anak-anak, atau orang dewasa.

Di ujung jalan, sebuah mobil berjalan berlawanan, berhenti tepat ketika berpapasan dengan Kimpul. Seorang perempuan berpakaian rapi turun, bergegas menghampiri Kimpul. Wajah dan pakaiannya menandakan dia orang berpendidikan, pinter dan winasis.

“Kimpul, ini Kimpul, kan?”, sapanya tergesa.

Kimpul glagepan, kaget. Namun ia pun segera bisa menguasai dirinya. Dia ingat, di hadapannya berdiri Dr. Tumini, dosennya dulu. Dr. Tumini merupakan alumni doktor ilmu perpustakaan dari universitas luar negeri. Terkenal.  Dia pernah menemuinya ketika masih kerja di perpustakaan sekolah. Dr. Tumini sering mengisi seminar kepustakawan di berbagai tempat. Ikut konferensi, dan benchmarking perpustakaan pada berbagai perpustakaan terbaik dunia. Namanya sering ditulis dengan Dr. Tumini, kadang juga Tumini, Ph.D. Meski belum profesor, dia kerap dipanggil Prof. oleh sejawat dan mahasiswanya. Maklum, ilmunya setinggi langit dan sedalam sumur minyak.

“Wah, Dr. Tumini. Apa kabar, Bu?”.
“Kimpul, kamu ndak kerja di perpustakaan lagi. Ini kok jualan cilok”?, Bu Tumini heran dan penasaran.

Kimpul pun cerita sebab musabab dia memutuskan jualan cilok. Dr. Tumini tampak kecewa. Dia berharap banyak pada Kimpul, agar bisa mengangkat harkat dan derajat jurusan ilmu perpustakaan kampusnya. Apalagi, Kimpul pernah berprestasi, foto dan testimoninya pernah pula dipajang di leaflet promosi kampus. Namun, apa yang dilihat Dr. Tumini sore itu benar-benar di luar dugaan. Dr. Tumini kecewa. Wajahnya menyiratkan itu, meski disembunyikan.

“Sore ini saya hanya iseng, kok. Karyawan saya sudah muter keliling. Kebetulan ada satu yang sakit, maka saya coba menggantikannya keliling. Sekaligus ingin merasakan kondisi lapangan ketika jualan cilok. Bukahkah kita harus merasakan langsung, agar bisa berempati, Bu?”. Kimpul menutup ceritanya.

Dr. Tumini kaget. Kimpul merupakan mantan pustakawan yang banting stir jadi juragan cilok. Sukses dengan omset besar serta banyak karyawan. Demikian kurang lebih kesimpulannya.

“Hehe, saya bukan mantan pustakawan, Bu. Saya tetap pustakawan, minimal untuk diri saya sendiri, keluarga dan untuk karyawan saya. Teriring doa, semoga Ibu lekas menjadi profesor”.

Dr. Tumini kaget dengan jawaban Kimpul. Meskipun halus, seolah ada tamparan mampir di wajahnya. Plak. Tampak, Kimpul tahu apa yang dirasakan mantan dosennya itu. Kimpul merasa ndak enak.

Dr Tumini diam sejenak, mendengar penjelasan tambahan Kimpul. Diam-diam, hatinya mengamini doa terakhir Kimpul: jadi profesor. Impian tiap dosen, apalagi dosen ilmu perpustakaan, yang profesornya masih sedikit.

“Bu Tumini, apa mungkin ya, leaflet kampus yang dulu bergambar diri saya itu diganti?”. Kimpul bertanya.

“Diganti apa, Pul?”. Dr. Tumini bertanya balik, dengan senyum yang agak dipaksakan.

“Diganti foto saya lengkap dengan gerobak cilok ini, Bu", jawab Kimpul.

"Agar calon mahasiswa ilmu perpustakaan sadar bahwa alumni ilmu perpustakaan juga dimungkinkan jadi penjual cilok”, lanjut Kimpul.

Senyum Dr. Tumini, yang tadi muncul dengan agak dibuat-buat, hilang. Berganti dengan ekspresi kaget yang tak dapat disembunyikan. Entah apa arti kerutan yang tiba-tiba muncul di wajahnya itu.

“O, kalau itu, perlu dirapatkan dan disetujui di senat dulu, Pul. Sudah ya, saya pamit”, Dr. Tumini gugup menjawab. Dia buru-buru pamitan, tak ingin gugupnya tampak lebih nyata terlihat dihadapan Kimpul.

Dr. Tumini buru-buru masuk mobil. Mesin dihidupkan, tancap gas meninggalkan Kimpul. Dari jauh, melalui kaca spion, mata Dr. Tumini melihat Kimpul mengangkat plastik putih berisi cilok. Melihat mantan anak didiknya itu, matanya berkaca-kaca. Beberapa butir air mata menetes. Buru-buru diusap dengan sapu tangan hitam berlogo universitas di Amerika.

"Bu Tumini, ini cilok buat Ibu.....", Kimpul setengah teriak. Namun sudah terlambat.

(selesai)


Catatan:
ini cerpen yang pertama saya tulis. Di tulis pada Senin Wage, 20 Suro 1952 Be. Selepas Subuh s.d. 06.15 WIB. Kemudian diedit perbaikan.

Wednesday, 26 September 2018

,

Open Knowledge Maps: cari, temukan, dan identifikasi

A visual interface to the world's scientific knowledge, demikian jargon dari website ini, https://openknowledgemaps.org/. Dengan tool ini, peneliti bisa memperoleh informasi tentang informasi ilmiah dari berbagai sumber dalam bentuk map. Melalui 3 langkap: get an overview - find papers - identify relevant concepts, peneliti disajikan peta yang dapat diterjemahkan untuk menentukan riset yang hendak dilakukan.

Ada empat keuntungan yang ditawarkan oleh alat ini:

Get an overview of a research topic: knowledge maps provide an instant overview of a topic by showing the main areas at a glance, and papers related to each area. This makes it possible to easily identify useful, pertinent information.


Identify relevant concepts: one of the most difficult tasks when you are new in a research field is to learn the “language” of the field. Open Knowledge Maps makes it easier for you by labeling research areas with relevant concepts.


Separate the wheat from the chaff: we cluster similar papers together. This makes it easier to identify relevant content when you are searching for an ambiguous term, or when you would like to identify content from a single discipline in a multidisciplinary field.


Find open content: our knowledge maps include both closed and open access papers. However we highlight open access papers - and the majority of those papers can be read from within the interface. And if not, the fulltext is only a click away.

 Sebagai contoh, saya tuliskan kata kunci "green energy" pada BASE all diciplines.



Maka akan ditampilkan hasil yang memuat topik dan referensi yang terkait.


Pada gambar di atas terlihat hamparan topik terkait green energy yang diwakili pada tiap lingkaran yang terkadang saling beririsan dengan lingkaran lainnya. Setiap lingkaran, berisi judul artikel terkait. Jika lingkaran diklik, maka kita akan disuguhkan ditail referensi dan tautannya.

Sunday, 23 September 2018

, ,

Tentang DOI dan manfaatnya

DOI, kependekan dari Digital Object Identifier. DOI merupakan identitas unik pada dokumen digital. Mirip seperti DNA bagi manusia.

Dengan adanya DOI, maka akan mudah menemukan data lengkap sebuah dokumen: judul, penulis, penerbit, halaman, dan seterusnya. Atau, jika tak sengaja kita menemukan potongan kertas yang memuat abstrak sebuah tulisan, tanpa judul, namun ada DOI-nya, maka dapat dilacak identitas dokumen tersebut.

Atau bagi mahasiswa yang memerlukan artikel tertentu, untuk meminta bantuan pada pustakawan tidak perlu menuliskan judul lengkap + penulisnya. Cukup mengirimkan DOI dokumen yang dibutuhkan. Maka si pustakawan akan secara tepat mengetahui dokumen yang dibutuhkan.

Pelacakan DOI bisa dilakukan melalui laman DOI.org. Kita tinggal menuliskan nomor DOI-nya, maka DOI.org akan mengantarkan kita pada laman asli yang memuat dokumen tersebut. Bagaimana jika ingin mengaksesnya?



Akses tergantung apakah kita punya hak atau tidak. Jika dokumen tersebut berbayar, maka kita harus membayar untuk dapat memperolehnya.

Contoh DOI dari 10.1016/j.ccs.2018.05.002. Angka 10.1046 merupakan prefix yang menjadi identitas jurnal. Sementara itu kode setelah tanda "/" mengindikasikan kode untuk artikel. Jika DOI tersebut untuk artikel jurnal, biasanya memuat kode nama jurnal serta volume nomornya.

Untuk memudahkan penulisan, disediakan pemendek URL DOI, yang beralamat di http://shortdoi.org

Secara umum, DOI dibedakan menjadi dua. Berbayar dan gratis.

DOI berbayar
DOI versi ini dapat dibeli ke Crossref, dengan biaya per item DOI + biaya keanggotaan pertahun. Kode DOI dapat ditempel pada dokumen yang disimpan oleh masing-masing institusi yang membeli. Misalnya DOI untuk jurnal UGM, dapat ditempel pada laman web jurnal yang ada di server UGM.

Di Indonesia, pembelian DOI bisa melalui RJI (Relawan Jurnal Indonesia). Silakan lihat http://doi.relawanjurnal.id/?page_id=733

DOI hasil pembelian ini dapat ditempel via OJS, dataverse, maupun aplikasi lainnya.

DOI Gratis
Berbeda dengan versi pertama, pemilik dokumen/data tidak perlu membeli kode DOI. Penyedialah yang membeli kode prefik dari Crossref, dan menyediakan tiap kode dokumen pada yang membutuhkan. Ada beberapa layanan yang menyediakan DOI. Misalnya Zenodo, Mendeley data, InaRxiv, Figshare.

Untuk memperoleh DOI ini, kita harus menyimpan dokumen atau dataset yang kita miliki pada server yang telah disediakan. Umumnya sekali upload tidak dapat ditarik/hapus lagi.

Baca juga tulisan http://lukito.staff.ugm.ac.id/2014/03/08/memanfaatkan-doi-dalam-review-karya-ilmiah-dalam-penilaian-angka-kredit-di-dikti/








Pustakawan ideal?


Malam itu, Paijo sibuk di pojok ruang rumahnya. Satu gelas kopi racikan istrinya, habis tak bersisa. Dia tak berniat meracik ulang kopi, khawatir tidak bisa tidur malam itu. Namun sudah terlambat. Segelas kopi sudah membuatnya sulit memejamkan mata.

Untuk membunuh waktu, sebuah buku diambilnya dari rak. Judulnya Perpustakaan Islam. Buku pemberian langsung dari si penulis, dengan sebuah catatan kecil pada laman depan: "semoga menginspirasi", plus tandatangan dan nama terang si penulis: Agus Rifai. Halaman buku itu dibolak-balik, dan sampailah pada halaman 154-157. Pada sebuah sub-bab berjudul tenaga pengelola perpustakan. Sub bab ini menjabarkan nama-nama pustakawan pada jaman (sesuai judul buku) peradaban Islam Klasik.

Matanya menyapu laman demi laman. Deretan nama beserta keahliannya, Paijo menandainya dengan stabilo warna-warni yang diraihnya dari atas meja. Nama pertama yang ditandainya adalah Abdus Salam, seorang pustakawan di Darl Al Kutub yang merupakan seorang pakar humaniora, ahli hadis dan leksikografi. Kemudian Al Qayrawani, pustakawan di Madrazah Nizamiyah yang merupakan pakar filologi. Abu Yusuf Al-Asfarayani, Ahmad al Abuyardi, Ali Ibn Ahmad ibn Bakr juga pustakawan di Madrasah Nizamiyah sekaligus ahli sastra terkenal.

Ibn Al Futhi, seorang pustakawan di Madrasah Al Mustansyiriah yang juga ahli sejarah. Pada perpustakaan yang sama, ada Ibn Al Sai Taj- al Din Ali Ibn Anjab yang merupakan ahli sejarah, sastra, hafidz dan ahli hadis. Ada pula Abu Mansyur Muhamad bih Ahmad yang merupakan pakar fikh mahzah syiah imamiyah, tata bahasa dan leksikografi. Al-Thai, seorang pustakawan yang juga kepala rumah sakit, dan ahli humaniora. Pustakawan perpustakaan Adud al Daulah, Ibn Miskawih merupakan pakar sejarah dan historiografi. Al Syabisyati, seorang sastrawan yang menjadi pustakawan di perpustakaan Daulah Fatimiyah.

###

Paijo tertegun. “O, jadi begini sosok para pustakawan jaman dahulu”, bisiknya. Mereka tidak hanya pustakawan, mereka juga ilmuwan pada bidang ilmu tertentu. Paijo kemudian mencoba melacak para pustakawan pada jaman sekarang.

Paijo ingat pula pada beberapa baris yang tertulis di bukunya Ziaudin Sardar. Pada buku tersebut tertulis, ibn Nadim menyebutkan pustakawan di Bayth al Hikmah merupakan sosok yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat karena kecendikiawanan mereka. Perpustakaan Al Hikmah juga dikelola oleh koleborasi sejumlah cendikiawan Muslim dan Non Muslim. Keunggulah Bayth al hikmah, yang hanya dapat dikalahkan oleh perpustkaan Madrasah Nizamiyah pada 1065 M, yaitu memiliki pustakawan tetap dengan gaji tinggi. Al Kindi, sang filosof yang juga penulis buku kedokteran, filsafat dan musik juga pernah bekerja sebagai pustakawan di Bayth Al Hikmah.  Hunain, serta dokter dari India, Duban, serta Al Khwarizmi, matematikawan tersohor  juga pustakawan di perpustakaan tersebut.

***

Matanya menerawang, melamun, dan membayangkan tokoh-tokoh pustakawan yang dikenalnya. Setiap pustakawan ditelisik, latar belakang keilmuwannya. Namun Paijo kesulitan mencari padanan pustakawan jaman klasik tersebut dengan jaman sekarang. “Mungkin jaman memang sudah berubah”, pikir Paijo. Padahal, Al-Attas, ilmuwan yang membangun perpustakaan ISTAC sudah mewanti-wanti bahwa pustakawan itu juga haruslah seorang ilmuwan. Paijo yakin, Al-Attas menyandarkan pendapatnya tersebut pada kenyataan kepustakawan jaman lampau yang tetap relevan.

Paijo membolak-balik laman internet. Paijo menemukan berbagai istilah yang sedang ngetren di dunia akademik, publikasi, dan perjurnalan. Berbagai istilah muncul, mulai dari h-indeks, g-indeks, scopus, web of science dan lainnya. Istilah ini diwakili dengan angka (metrik) yang menunjukkan performa akademisi. Metrik ini, oleh ilmuwan perpustakaan dan informasi diklaim sebagai anak kandung bibliometrik, sciencetometrik, dan informetric, yang merupakan bidang kajian dalam ilmu perpustkaan dan informasi. “Kalau benar demikian, mestinya ada campur tangan para ilmuwan perpustakaan”, Paijo memprediksi.

Rasa penasaran Paijo mengantarkanya pada siapa yang merumuskan istilah-istilah tersebut.

Impact Factor, ternyata dirumuskan oleh Eugene Garfield. Gene menempuh pendidikan pertamanya dalam bidang Chemistry, kemudian library science. Sedangkan studi doktoralnya dalam bidang linguistic. Sementara itu Jorge E. Hirsch (perumus h-indeks) merupakan profesor fisika. Leo Egghe si perumus g-indeks merupakan seorang matematikawan. Thesis keduanya  Egghe tentang information systems, hingga akhirnya berprofesi pula sebagai pustakawan (kepala perpustakaan).

Baca juga: Ilmu dan Kebijakan, unsur perpustakaan

Temuan tersebut membuat Paijo terkejut. Polanya sama dengan pada masa Islam Klasik, sebagaimana diceritakan pada buku. Garfield, Egghe, dan Hirsch merupakah ilmuwan pada bidangnya, baru kemudian nyemplung pada  dunia Perpustakaan dan informasi. Ilmu pertama yang dikuasai ketiganya, berpengaruh pada pola kajiannya pada bidang perpustakaan dan informasi.

Pustakawan jaman sekarang, didorong untuk menempatkan perpustakaan sebagai ilmu tersendiri: ilmu perpustakaan, dengan segala kajiannya. Namun, dengan cara demikian, ternyata justru tidak melahirkan seorang pustakawan yang ilmuwan. Jauh dari praktik kepustakawanan jaman dahulu. Ya, mungkin jaman memang telah berubah. Bergeser, owah gingsir, menuruti jaman.

"Jangan-jangan, memang pendidikan ilmu perpustakaanlah yang menyebabkan terdistorsinya penghargaan pada peran pustakawan", bisik Paijo dalam hati.

***

Hari itu Minggu, Paijo libur dari aktivitas kerjanya. Dia hendak ketemu sahabatnya, Karyo. Kakinya melangkah menuju rumah Karyo, yang jaraknya tak begitu jauh. Beruntung Karyo ada di emperan rumahnya, ditemani secangkir kopi dan beberapa potong singkong rebus.

"Kang Karyo. Saya mau ngomong. Penting", teriak Paijo. Mereka pun terlibat obrolan di emperan rumah. Kadang diselingi dengan tawa lepas, kadang terlihat Paijo ngotot menyatakan pendapatnya. Dasar Paijo, yang memang tak mau mengalah. Untungnya Karyo bijak. Dia tak menyalahkan jika pandangan Paijo tak sejalan dengan pandangannya. Dia hanya menanya ulang pada Paijo. Dengan cara ini dia ingin menguji sejauh mana Paijo kukuh dengan pandangannya.

"Kang, membaca profil singkat para pustakawan jaman dahulu, kok aku jadi kepikiran bahwa memang sebenarnya program inpassing pustakawan itu benar adanya. Maksudku program yang sudah benar. Pustakawan memang seharusnya memiliki kadar keilmuwan lain selain mengelola perpustakaan itu sendiri, Kang!". Paijo memulai pendapatnya.

"Apa kesimpulanmu tidak tergesa-gesa, Jo?", Karyo bertanya. "Ya, memang dasar saya baru pengamatan saja, dan itu terjadi pada masa lampau. Tapi ya tak ada salahnya, tho. Ini proses saya merenung. Lha, daripada ndak berfikir sama sekali", Paijo menjawab setengah membela diri.

"Berarti kamu setuju inpassing pustakawan, Jo?". Mendapat pertanyaan ini, Paijo langsung nerocos. "Saat ini saya berkesimpulan, Kang. Kalau setiap orang berhak jadi pustakawan. Bahkan sarjana ilmu lain pun bisa. Tidak harus sarjana (ilmu) perpustakaan. Memang, yang harus dipastikan ada cara rekruitmennya, agar inpassing tidak sekadar dimanfaatkan oleh orang yang ingin pensiun lebih lama".

Paijo memang berkesimpulan, bahwa pustakawan pada lembaga perpustakaan, idealnya merupakan pekerjaan yang tertempel pada ilmuwan bidang ilmu tertentu. Atau untuk menjadi pustakawan, tidaklah harus menempuh studi (ilmu) perpustakaan. Namun, bisa dimasuki oleh ilmuwan bidang lain, dengan ditambah kursus atau pelatihan kepustakawanan.



Monday, 20 August 2018

Mengembalikan anak-anak kepada dunianya (dolanan bareng di Candi Sambisari)

Purwo.co. Candi Sambisari, sebuah candi unik, karena ada di bawah permukaan tanah. Letaknya di dusun Sambisari, Purwomartanani Kalasan Sleman. Kalau teman-teman tahu Soto Bathok atau Sop Jadoel, nah candi ini ada di dekatnya. Kurleb 200 meter dari candi ada sebuah masjid kuno yang sudah direhab, Masjid Quwwatul Muslimin.

Candi Sambisari siang itu (19/8)  tampak cerah. Nuansa peringatan kemerdekaan masih terasa. Tampak di kiri kanan jalan menuju candi masih terpasang rapi bendera merah-putih. Waktu belum masuk Zuhur. Sejumlah anak muda mondar-mandir di dalamnya. Beberapa sedang menggotong box besar, berisi buku dan alat permainan. Sementara lainnya membawa potongan bambu, spanduk, nampan, berbagai jenis dan ukuran kertas, serta soundsystem. 

Ayo Dolanan: roadshow dolanan cilik-cilik’an, demikian judul acara yang hendak mereka gelar. Kegiatan ini  dikoordinir oleh beberapa komunitas.  Tas Pustaka, sebagai pegiat literasi yang setiap Sabtu hadir di Candi Sambisari menjadi motor penggeraknya. Bergabung pula Dolanan Anak Jogja, Artmosfir, Raja Egrang, Omah Kreatif, dan Perempuan Tatto Indonesia. Anak-anak yang hendak datang, tak perlu membayar. Mereka bisa main sepuasnya. Ya, tentunya ketika masuk candi harus membeli tiket.

Mas Unu, pegiat Tas Pustaka, memberitahu kegiatan ini sepekan lalu. Namun, pada hari yang sama ada kegiatan kampung pada pagi harinya. Sehingga setelah Ashar saya baru bisa bergabung. “RT 1 mas”, demikian saya sampaikan pada juru tiket. Sayapun bisa masuk, dan bergabung. Tampak anak-anak riuh bermain, membaca, dan membuat karya. Kegiatan dilakukan di sisi lor wetan alias timur laut  candi. Pojok ini memang  lebih teduh, terlindung dahan dan daun dari beberapa pohon besar. Satu bangunan saung, menjadikannya tempat favorit bermain anak-anak.

###

Ada beberapa kelompok dolanan. Di sisi paling utara ada kelompok mewarnai, di sampingnya ada yang menggunting kertas berpola kemudian melipatnya menjadi bentuk-bentuk menarik. Tampak seorang anak sedang memainkan hasil karyanya: sebuah miniatur pesawat terbang yang terbuat dari kardus, dan juga layang-layang. Di sisi timur ada banyak buku dengan berbagai tema anak-anak. Ada yang membaca sendirian, ada pula yang ditemani ibunya. Sementara pojok selatan anak-anak bermain lompat tali. Tali yang digunakan terbuat dari karet gelang disambung sedemikian rupa.

Sebelah barat terbagi beberapa tempat. Ada lokasi bermain Sundamanda dan gobag sodor. Pada kelompok gobag sodor, tampak anak-anak memperlihatkan kemahiran mereka berlari dan menghindari penjaga. Terdengar tawa riang dan senyum bangga ketika mampu melewati beberapa penjaga. Sementara pada garis Sundamanda, anak-anak mencoba melompat dan mendarat pada kotak-kotak yang tergambar, sesuai aturan.

Pada bagian tengah ada dua permainan. Tampak puluhan gasing tersedia, siap dimainkan. Gasing ini terbuat dari bambu, dibuat sedemikian rupa, dilengkapi seutas tali. Di antara  gasing-gasing, terlihat beberapa mainan yo-yo. Banyak anak mencoba kedua mainan ini. Ada yang berhasil, ada pula yang harus mengulanginya beberapa kali agar berhasil. Sementara di sebelahnya, selembar tikar berisi beberapa alat permainan dakon. Anak-anak duduk manis memungut dan membagi isi dakon. 

###

Ada puluhan anak hadir pada acara tersebut. Ada yang datang sendiri bagi yang rumahnya dekat. Namun juga ada yang diantar orang tuanya. Ada yang datang langsung bergabung, ada pula yang malu-malu dan harus dijemput lambaian tangan panitia agar mau bergabung.

“Mari kita pelajari lagi permainan jadul yang kita miliki”, demikian teriak Mbak Dewi, pembawa acara yang memandu acara sore itu. “Terimakasih pada orang tua yang sudah mengantarkan anaknya ke sini, dan terimakasih pula tidak menggunakan gadget selama acara ini. Kita usahakan selama acara berlangsung, anak-anak kita bebas dari gadget”, lanjutnya.

Benar, orang tua hanya menggunakan gadgetnya untuk mendokumentasikan polah lucu anaknya. Ketika main gasing, ketika menggambar, berjuang memperoleh point pada gobak sodor atau sunda manda. Atau tingkah lucu lainnya.

Pukul 16.30, dengan berat hati Mbak Dewi mengumumkan bahwa acara harus selesai. "Adik-adik, kita harus selesaikan acara ini, ya. Ketemu lagi lain waktu...", demikian katanya. Ijin memang diberikan hanya sampai 16.30. Selepas itu mereka harus membersihkan area, tentunya bersama-sama. Tidak boleh ada sampah berserakan, tikar dilipat, spanduk dilepas, tali yang mengikatnya diambil. Kertas berserakan dipunguti. Plastik hitam ukuran besar disediakan untuk mengumpulkan sampah, kemudian diletakkan di tempat sampah.

Area Dolanan Anak itu kembali bersih.

###

Bertebarannya mainan anak di sore itu, menjadi wadah mengembalikan anak pada dunianya. Mereka, anak-anak itu perlu merdeka dari intervensi hiburan orang tuanya. Meski hanya beberapa jam. “Permainan tradisional ini melatih kita untuk konsentrasi, lho”, nasihat panitia pada peserta. Tentunya, selain memiliki nilai-nilai kebaikan, anak-anak diajari (lagi) membuat mainan untuk dirinya. Diajari untuk menjadi produsen permainannya sendiri, bukan hanya menjadi konsumen.

Sore itu anak-anak bergembira dan merdeka dengan dunianya: dunia anak-anak. Mengembalikan mereka pada dunianya, merupakan usaha agar berkembang pada jalan yang semestinya. Mendapatkan mainan sesuai usianya, mendapatkan hiburan juga sesuai usianya. Sore itu pula, mereka, anak-anak itu mengenal teman-teman barunya. Mereka belajar berinteraksi, sekaligus saling menghargai.

###

Angkat topi, untuk teman-teman pegiat Dolanan Anak di sore tadi. Bawalah mainan dolanan itu, ke manapun, dan sampaikan pada semuanya, bahwa nenek moyang kita sejak dulu punya kreatifitas adilihung untuk mendidik anak-anaknya.

Baca juga: Tas Pustaka dan geliat literasi di Candi Sambisari






Thursday, 16 August 2018

Semua manusia itu sejajar (catatan bimtek pustakawan 2018)

Seperti biasanya, Paijo ngopi sambil duduk di lincak, depan rumah. Tak lama kemudian Karyo datang menghampiri, ikut nimbrung. Paijo pun nerocos, cerita tentang pengalamannya ikut bimtek beberapa waktu lalu.
"Sebagai pustakawan, saya diminta sejajar sama dosen, Kang", ungkap Paijo. "Ya bagus itu. Memang harusnya demikian. Setiap manusia itu kan sejajar, yang membedakan hanya tingkat keimanannya saja", ceramah Karyo pada Paijo.
"Sejajar bagaimana, Kang. Wong di perguruan tinggi itu pustakawan tidak masuk menjadi civitas akademika, kok. Saya itu ya pembantu, membantu saja", Paijo menanggapi. "Cen ngeyel kok kamu itu, Jo".
Purwo.co. Pekan kemarin, 7-9 Agustus 2018, saya mendapatkan kesempatan mengikuti bimtek. Kegiatan yang baru pertama saya ikuti. Diselenggarakan Dikti, bertempat di kawasan Tugu Jogja. Banyak kawan yang kemudian saya kenal di acara ini. Banyak ilmu pula yang (seharusnya) bisa saya cerap.

Menyenangkan. Ketemu saudara seprofesi, dari ujung Sumatra sampai Papua. Pematerinya pun keren bin beken. Para ilmuwan dan praktisi kepustakawanan yang sudah malang melintang di jagad kepustakawanan. Ilmunya mendalam, dan pantas dijadikan teladan.

###

Tiga hari itu, kami diberi materi dengan tema besar "bagaimana membuat pustakawan menjadi mitra dosen. Sejajar, tidak lagi subordinat". Jika dipilah, kategori materi pada bimtek tersebut terbagi 3: teori  dekonstruksi, teori aplikatif, dan praktis. 


"Pustakawan itu mitra dosen, setara", kata seorang pemateri dengan semangat menggebu. Beliau seorang dosen asli (ilmu) perpustakaan. Sudah tugasnya meyakinkan produk yang dihasilkannya agar ideal dalam pekerjaannya. Jika pustakawan keren, tentunya para dosen (ilmu) perpustakaan juga akan riang gembria.  Beberapa pertanyaan juga dimunculkan: kepala perpustakaanmu dosen atau pustakawan? apa pendapatmu? mengapa dosen/pustakawan?. Pemateri lain juga memberi pertanyaan, yang membuat kami instrospeksi. Dari hal sepele: kami itu penjaga informasi atau penjaga akses?. Sampai dengan ajakan melihat visi misi institusi induk. Terus terang, saya nyontek juga. Wong tidak hafal. 


Kemudian kami diajak diskusi tentang aspek legal dari repository, plagiarisme, kemudian dikenalkan pada Scopus dan pengindeks lainnya. Tidak lupa, mbak Sinta, bapak Garuda, dan mas Arjuna, sebagai produk dari Dikti; yang dalam hal ini sebagai pemilik acara. Ada pula materi praktis: Mendeley dan Subject Plus sebagai alat membuat pathfinder online.

Banyak hal yang disodorkan pada kami, selama 3 hari itu. Tak cukuplah saya tulis di halaman ini. Yang pasti menyenangkan dan tentunya bermanfaat. Percayalah!

###
Namun, ada beberapa pertanyaan yang kemudian muncul. Di balik menggebunya pemateri yang menyampaikan bahwa pustakawan harus menjadi mitra dan sejajar dosen, apa bentuk riilnya? dan siapa yang bisa kami jadikan tauladan? Terkait pertanyaan instrospektif yang diajukan pada kami, sejauh apa pemateri menyikapi dan memberi teladan?

Sejajar, apa arti sejajar yang dimaksudkan? sejajar menurut interpretasi siapa? Interpretasi dosen (ilmu) perpustakaan, atau interpretasi si pustakawan?

Apakah ketika sebuah perpustakaan itu kepala perpustakaannya dosen, berarti tidak ada kesejajaran antara pustakawan dan dosen? Apakah ketika seorang dosen memarahi pustakawan, itu berarti pustakawan dianggap rendah oleh dosen? Apakah ketika seorang pustakawan sekolah membantu administrasi guru, itu berarti tidak sejajar?

Apakah dalam (ilmu) perpustakaan ada definisi sejajar yang nyata, sebagai acuan pustakawan untuk memosisikan dirinya?. Kalau ada, itu bagus. Karena menjadi jelas. Jika tidak ada, maka semua dikembalikan pada masing-masing pustakawan.

Kegundahan di atas beralasan. Berbagai teori yang disampaikan pemateri, merupakan dunia ideal. Kamilah, para pustakawanlah yang diharap mencapai dunia ideal itu. Bagi kami (saya), akan lebih mudah menerima ketika diberikan sosok contoh. Saya sendiri meyakini, bahwa memraktikkan itu lebih sulit dari meneorikan. Menjadi pustakawan itu lebih sulit daripada menjadi dosen (ilmu) perpustakaan. 



Pernyataan di atas bukan karena saya menyepelekan dosen (ilmu) perpustakaan, atau siapapun yang "meneorikan" (ilmu) perpustakaan. Namun realita, bahwa hitam-putihnya perpustakaan itu yang dicocor pertama kali adalah pustakawannya, bukan dosen (ilmu) perpustakaannya.  Ini bentuk pembelaan dan kebanggaan saya pada profesi pustakawan. Paling tidak sampai saat ini.

Maka, memilah cerapan ceramah dari para ilmuwan (ilmu) perpustakaan menjadi hal penting yang harus dilakukan. Pustakawan itu merdeka, bahkan juga merdeka dari intervensi dan intimidasi (ilmu) perpustakaan. 

Pemilahan ini sangat berguna dalam rangka menjaga fikiran dan proses berfikir pustakawan, agar tetap sehat dan, tentunya, merdeka.


Baca juga: Pustakawan bukan siapa-siapa

Di perguruan tinggi, pustakawan tidak masuk dalam civitas akademika. Civa hanyalah dosen dan mahasiswa. Pustakawan memang kasta kedua, tidak bisa dipungkiri. "Rajanya universitas itu mahasiswa",  kata seorang kawan. Dosen itu juga melayani mahasiswa. Apalagi kami, pustakawan. Kalau pustakawan mau setara persis dengan dosen, tidaklah bisa. Pustakawan ya pustakawan, dosen ya dosen. Titik. 

Bagi pustakawan/tendik, menjalankan pekerjaan membantu mahasiswa atau dosen, artinya tetap membantu, mensupport, mendukung. Core utama perguruan tinggi itu dosen dan mahasiswa. Semua elemen bergerak pada mereka. Termasuk pustakawan. Ini sudah sejak lama terjadi. Bentuknya saja yang berubah. Jika dulu pustakawan hanya sekedar menyimpankan buku di perpustakaan dan dipinjamkan, sekarang berubah menjadi membuatkan akun Google Scholar. Sama saja. Membantu. 


Konsep sejajar, ada pada diri masing-masing pustakawan. Ketika seorang pustakawan membantu administrasi guru, sangat mungkin itu dianggap sebagai bentuk kesejajaran oleh si pustakawan. Ketika seorang dosen marah pada pustakawan, sangat mungkin si pustakawan justru menganggap dosen tersebut tidak sejajar dengan pustakawan. Bukan sebaliknya.


Adanya dorongan agar pustakawan berupaya menyejajarkan diri dengan guru atau dosen, merupakan bentuk nyata bahwa pustakawan itu sendiri yang menganggap dirinya tidak sejajar. 

Lakukan saja tugas pustakawan secara optimal, tugas dosen secara optimal, dalam rangka mencetak lulusan yang berkualitas. Ndak usah berfikir sejajar setara.


###

Di sela acara, tersedia kopi, teh, dan juga camilan yang rasanya luar biasa. Ya, meski kadang hanya kacang rebus atau tahu goreng. Namun ketika dimakan bareng-bareng, sungguh nikmat rasanya.
Apalagi ketika istirahat tiba. Siang, atau sore dan juga pagi hari. Berbagai menu makan tersedia. Dompet yang biasanya terbuka dan kudu berhitung untuk bisa mendapatkan sepiring empek-empek, bisa bersembunyi untuk beberapa waktu.  Alangkah beruntungnya saya.
Yang lebih menyenangkan lagi, mendapat sertifikat. Konon, sertifikat ini bernilai 1 untuk modal naik pangkat. Dan, mulai kemarin, saya berniat jika ada acara bimtek lagi, ikut mencoba peruntungan. Siapa tahu lolos.
Ah, bimtek. Kapan lagi kau ada?

###

"Kang, aku tahu. Aku nemu jawabannya sekarang.". Paijo memandang Karyo serius, seolah mendapatkan wangsit dari langit. Tentunya terkait sejajarnya pustakawan dengan dosen. "Apa, Jo?".
"Sejajar itu adalah hati, Kang. Tidak bisa diukur dengan peran-peran tertentu. Kesejajaran itu ada dalam makna (pemaknaannya), tidak dalam fisik. Disingkirkan, disingkurkan bukanlah bukti bahwa kita lebih rendah. Justru bisa sebaliknya. Ketika kita dianggap rendah, maka kita sesungguhnya lebih tinggi. Kesejararan pustakawan dan dosen itu ada di hati. Hati siapa? Hati masing-masing dari kita, dalam memaknainya". Paijo menjelaskan pada Karyo, dilanjut menenggak kopi yang tinggal sepertiga gelas. 

"Pinter kamu, Jo. Kerjakan saja tugasmu dengan baik. Semua manusia itu sudah setara sejak dari lahirnya. Tak usah kau fikirkan kesetaraan semu di dunia.", Karyo mengamini.

Wednesday, 15 August 2018

, ,

Software terkait analisis bibliometrik

Di suatu pagi, Paijo ngecek email. Ada email baru masuk. Seorang mahasiswa S3 mengirim artikelnya, yang baru saja terbit di jurnal internasional. Artikel itu membahas tentang analisis bibliometrik subyek ilmu yang sedang dikajinya. Agaknya dia sedang memetakan dan memilih kajiannya agar dapat menentukan novelty penelitiannya. "Terimakasih atas bantuannya, Pak", demikian dia sampaikan pada Paijo via email. Tentu senang dan gembira  dirasakan Paijo. Beberapa materi pelatihan yang Paijo berikan bisa digunakan untuk melakukan kajian dan menuliskannya di artikel.

###

Scopus (scopus.com)
Sebenarnya ini bukan software, tapi lebih ke semacam sistem informasi. Atau lebih tepat lagi disebut sebagai pengindeks.

Scopus, dengan mekanisme tertentu mengindeks berbagai jurnal. Tentunya menggunakan metode dan ada syaratnya. Hasil indeks diolah, kemudian setelah matang, lalu dimakan  sajikan.  Data Scopus ini tidak gratis, namun harus ditebus dengan uang dollar. Informasinya memuat performance jurnal, artikel, negara, peneliti. Termasuk info jejaring dan lainnya.
Baca juga Apa saja maanfaat Scopus bagi seorang peneliti? (pustakawan juga harus tahu)

ScimagoJR (scimagojr.com)
JR, bukan berarti Junior, apalagi Koboi Junior. Bukan, tentu saja bukan. JR kependekan dari Journal Rank, alias peringkat jurnal. Ya, Scimago ini mengambil data di Scopus, kemudian diolah lagi. Angka hasil olahan digunakan untuk memeringkatkan jurnal. Di Scimago dikenal istilah Q alias Quartile. Ada Q1,2,3,4. Artinya pemeringkatan jurnal dibagi 4. Seperempat terendah, seperempat di atasnya, seperempat di atasnya lagi, dan seperempat paling atas.

Konon, menembus jurnal ber Q1, sangat sulit. Lebih sulit dari menembus pertahanan Real Madrid.

PoP (https://harzing.com/resources/publish-or-perish)
PoP, tidak dibaca pop, tapi P-o-P alias Publish or Perish. Istilah ini sudah dikenal luas: terbit atau mati. Namun PoP ini juga nama sebuah software. PoP bisa mengambil data dari GS dan menampilkan serta menyimpannya. Hasilnya bisa dianalisis menggunakan VosViewer. GS itu bukan Ganteng Srigala, lho. Tapi Google Scholar.
Baca juga Publish or Perish Software.

VosViewer (http://www.vosviewer.com/)
salah satu hasil di Vosviewer
Nah, ini software keren. VV menampilkan data biblio dalam bentuk visual. Teman-teman pasti sepakat, bahwa visual itu lebih banyak makna dari pada sebaris kata-kata. Sepotong coklat lebih berarti daripada perkataan ai lov yu. Ya, meski cuma sepotong coklat. Entah bayar kontan atau hasil ngutang di kantin kampus.

VV menampilkan jejaring penulis, kaitan antar subyek, jejaring negara, dalam bentuk visual. Ada perbedaan warna pada masing-masing kedalamannya. Kedalaman ini ditentukan oleh kuantitas data yang dihidung. Misal: jika kata perpustakaan itu banyak, maka dia akan pekat, dibanding kata lainnya.

Selain VV ada juga software sejenis HistCit,  BibExcel, Pajek, Sci2, Cytoscape, Gephy, atau lihat di sini untuk daftar lengkapnya.

Beberapa contoh penelitian bibliometrik yang menggunakan aplikasi di atas:

  1. Visualization and analysis of SCImago Journal & Country Rank structure via journal clustering
  2. Bibliometric analysis of the term 'green manufacturing'




Tuesday, 14 August 2018

[[ al balad ]]

Kisah bersama Bapak #2
Gelap, tak ada penerangan. Jangkrik mengerik memecah malam. Angin bertiup, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Malam itu malam minggu. Bapak mengajak saya menuju masjid, yang letaknya 200 meteran dari rumah. Berbekal lampu senter kami menembus malam. Malam itu pengajian remaja rutin. Saya belum usia remaja, mungkin usia SD. Agaknya Bapak mengajak, sebagai upaya mendidik dan mengenalkan saya pada "pengajian". Kejadian ini sudah lama. Agak samar dalam ingatan.

Namun ada beberapa hal yang masih jelas saya ingat.

Masjid masih sepi. Setelah membuka pintu dan masuk dalam masjid, Bapak menyalakan lampu senthir, satu-satunya lampu penerang yang jamak digunakan orang kampung. Untung masih tersedia lengo pet (sebutan minyak tanah) sebagai bahan bakarnya. Sumbu senthir pun menyala. Sinarnya menerangi sudut masjid. Tidak semua sudut kebagian terangnya api senthir, namun paling tidak di bagian depan dekat papan tulis hitam (board) terlihat lebih terang.

Papan tulis hitam itu digunakan untuk tempat menulis materi sinau ngaji. Terkadang, jika pengajian libur, Bapak menuliskan pengumuman pada papan tersebut: "pengajian libur'. Sehingga siapapun yang datang di malam itu bisa membaca pengumuman. Maklum, kala itu belum ada sms atau sound system untuk mengumumkan.

###

Satu per satu remaja datang. Saya masih ingat beberapa diantaranya. Ada kang Basuki, Kang Jono, Kang Sugit dan lainnya. Malam itu, sekian puluh tahun lalu, masih saya ingat materi pengajiannya: ngaji surat Al-Balad. Surat yang terdiri dari 20 ayat, ada di urutan ke 90, dan termasuk surat Makkiyah (diturunkan di Makkah). Al-Balad berarti Negeri.

Ayat pertama, kedua, ketiga, Bapak tulis di board hitam menggunaan kapur tulis. Board hitam kecil itu tak mampu menampung banyak ayat. Secukupnya saja yang ditulis untuk kemudian dihafalkan dan dipelajari ayat demi ayatnya.  "Lā uqsimu bihāżal-balad", demikian ayat pertama yang ditulis. Bapak membacakan, kemudian ditirukan remaja yang hadir. Saya ikut menirukannya. Sampai akhirnya dalam beberapa pertemuan, pelajaran Al-Balad itu selesai.

###

Pengalaman ini masih membekas. Dari pengajian inilah saya hafal surat Al-Balad. Pada pertemuan pengajian yang berlangsung sekian puluh tahun silam. Di sebuah masjid, menggunakan penerangan senthir dan papan tulis hitam + kapur tulis. Dan yang paling istimewa langsung belajar dari Bapak
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

[[ senter ]]

Kisah bersama Bapak #1
Senter. Benda kecil namun berharga. Senter merupakan alat penerang yang menjadi senjata menembus malam. Sangat berguna, terutama di kampung yang belum ada listrik. Ada bebe ukuran senter. Ada yang isinya 4 batere besar, 3, atau 2. Ada juga yang berisi 2 batere tanggung. Atau paling kecil 2 batre jam dinding.

Lebih istimewa, bagi kami dulu, ketika bulan puasa memiliki senter sendiri. Ketika masih SD, membawa senter sendiri saat pergi ke masjid menjadi kebanggaan. Menunjukkan senter pada teman sebaya, akan menambah kepercayaan diri, karena berarti ada kemandirian dalam proses perjalanan menuju masjid. Saya pernah merengek minta senter, yang berukuran kecil. Bapak menjanjikan akan membelikan senter merek Tiger. Senter Tiger populer ketika itu. Sebelum akhir-akhir ini muncul senter yang bisa dicas dengan berbagai ukuran.

###

Cerita tentang senter tidak berhenti ketika saya masih SD. Bahkan ketika kuliah dan setelah menikah. Cerita senter ini masih antara saya dan Bapak.

Beberapa tahun setelah menikah, ketika pulang kampung saya masih tidur di bekas kamar semasa SMA. Kamar ini ada di serambi luar, sehingga ketika ada yang keluar rumah, pasti saya terbangun oleh suara pintu yang dibuka. Setiap pagi, menjelang subuh Bapak membuka pintu sambil membawa senter, siap-siap menuju masjid. Namun setelah mengunci pintu, senter ditiinggalkan di teras rumah. Senter tidak dibawa. Bapak sudah terbiasa menembus pagi buta tanpa penerangan. Bapak hafal jalan menuju masjid meskipun rumah kami ada di sisi paling luar dusun. Jarak ke masjid sekitar 200 meter, dengan jalan menanjak dan setengahnya tanpa penerangan. “Ko, iki sentere”, demikian kata Bapak ketika meletakkan senter di teras. Seolah membangunkan saya untuk diajak ke masjid. Ya, senter yang ditinggalkan itu untuk saya. Agar saya mudah berjalan menuju masjid.

Jika bapak belum begitu jauh melangkah, saya akan ikut bareng Bapak ke masjid. “Pak, ngentosi”, begitu teriak saya agar saya ditunggu. Jika tidak maka saya menyusul sendirian. Terkadang saya memakai senter itu, terkadang saya mengeluarkan motor agar lebih cepat sampai masjid.

"Allahu akbar-allahu akbar", suara adzan Bapak nyaring menyambut pagi. Menandakan waktu subuh sudah manjing.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

Thursday, 9 August 2018

Hasil pencarian di ScimagoJR : Istilah dan artinya

tampilan pencarian di ScimagoJR

Gambar di atas memperlihatkan hasil pencarian di web SJR. Berikut beberapa penjelasan tentang keterangan angka sesuai gambar di atas.

Type of publication:
  • b: Book
  • k: Book Series
  • p: Conferences and Proceedings
  • j: Journals
  • d: Trade Journals
SJR: SCImago Journal Rank indicator. It is a measure of journal's impact, influence or prestige. It expresses the average number of weighted citations received in the selected year by the documents published in the journal in the three previous years. The SJR indicator measures the scientific influence of the average article in a journal, it expresses how central to the global scientific discussion an average article of the journal is. 

H-Index: merupakan jumlah H yang merupakan angka titik temu/terdekat antara jumlah artikel dan jumlah berapa kali dikutip.

Total Docs: total dokumen 
Total Ref: total referensi yang ada pada jurnal tahun 2014
Total Cites : total kutipan
Citable Docs: jumlah dokumen yang dikutip
Cites/Docs: jumlah rata-rata dokumen/artikel dikutip dalam 2 tahun. Keterangan dalam CJR "measures the scientific impact of an average article published in the journal, it is computed using the same formula that journal impact factor ™ (Thomson Reuters)."
Artinya Cites/Doc (2y) dihitung dengan cara yang sama dengan penghitungan impact factor. 
Ref/Docs: jumlah rata-rata referensi pada tahun terakhir (dalam gambar 2014)

-------------

Quartiles
The set of journals have been ranked according to their SJR and divided into four equal groups, four quartiles. Q1 (green) comprises the quarter of the journals with the highest values, Q2 (yellow) the second highest values, Q3 (orange) the third highest values and Q4 (red) the lowest values.

SJR
The SJR is a size-independent prestige indicator that ranks journals by their 'average prestige per article'. It is based on the idea that 'all citations are not created equal'. SJR is a measure of scientific influence of journals that accounts for both the number of citations received by a journal and the importance or prestige of the journals where such citations come from It measures the scientific influence of the average article in a journal, it expresses how central to the global scientific discussion an average article of the journal is.

Citations per document
This indicator counts the number of citations received by documents from a journal and divides them by the total number of documents published in that journal. The chart shows the evolution of the average number of times documents published in a journal in the past two, three and four years have been cited in the current year. The two years line is equivalent to journal impact factor ™ (Thomson Reuters) metric.

Total Cites Self-Cites
Evolution of the total number of citations and journal's self-citations received by a journal's published documents during the three previous years.
Journal Self-citation is defined as the number of citation from a journal citing article to articles published by the same journal.

External Cites per Doc Cites per Doc
Evolution of the number of total citation per document and external citation per document (i.e. journal self-citations removed) received by a journal's published documents during the three previous years. External citations are calculated by subtracting the number of self-citations from the total number of citations received by the journal’s documents.

% International Collaboration
International Collaboration accounts for the articles that have been produced by researchers from several countries. The chart shows the ratio of a journal's documents signed by researchers from more than one country; that is including more than one country address.

Cited documents Uncited documents
Ratio of a journal's items, grouped in three years windows, that have been cited at least once vs. those not cited during the following year.

Citable documents Non-citable documents
Not every article in a journal is considered primary research and therefore "citable", this chart shows the ratio of a journal's articles including substantial research (research articles, conference papers and reviews) in three year windows vs. those documents other than research articles, reviews and conference papers.