Monday, 2 October 2017

Pustakawan bukan siapa-siapa*)

Purwo.co – SEORANG KAWAN MENGGEBU, mengatakan bahwa pustakawan merupakan agen perubahan. Benteng literasi bagi generasi penerus, mengenalkan berbagai sumber informasi yang valid, di tengah gempuran informasi aliran sesat yang ada di sekitar.

Heroiknya pustakawan, akan terkait pula terkait dengan buku. Tragedi perbukuan, baik 0 buku, atau pembakaran buku, merupakan tragedi yang menunjukkan bahwa pustakawan sebagai pengelola buku, memiliki peran penting, dianggap penting untuk menjaga harga diri buku, atau kadang juga dianggap berbahaya. Agar tidak terjadi tragedi 0 buku, maka pustakawan harus ditempatkan pada tempat yang semestinya.

Paijo: “gandrik!, pengelola buku?. Sampeyan bisa diprotes nulis “pengelola buku”.

Tuah literasi (li-terasi), yang selama ini digaungkan selalu didekatkan dengan pustakawan. “Literasi itu penting, dan pustakawan memiliki peran penting di dalamnya”, demikian katanya. “Pustakawan seperti kita, bukan hanya mengolah buku, meminjamkannya, tapi kita juga harus bisa mengajar”, begitu timpal tambahannya.

Tuah literasi juga diformalkan melalui gerakan literasi, populer dengan simbol L, menggunakan telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Bentuknya jadi seperti pistol. Dor... Wujudnya macam-macam: gerakan literasi nasional, gerakan literasi sekolah, gerakan literasi….

Tapi satu yang terlupa, gerakan literasi pustakawan.

Simbol L itu, seolah ingin menunjukkan bahwa peran pustakawan semakin penting, bahkan penting sekali. Simbol L menjadi ruh dan menyatukan semangat pustakawan, dia menjadi perekat. Dia harus mampu mendobrak ke atas, sebagaimana jari telunjuk, dan menyebar ke sekitar sebagaimana ibu jari, yang keduanya membentuk huruf L tadi.

Melalui simbol L itu, pustakawan merumuskan peran-perannya di dunia pendidikan, dan juga di masyarakat. Peran baru dilakukan, dimunculkan, dan bukti keberhasilannya diposting di media sosial. Tentunya, agar semua orang, atau setidaknya teman-teman di jejaring sosialnya melihat dan tahu bahwa dia punya peran penting, bukan main-main, terkait huruf L tersebut.

Foto-foto dengan jari tangan membentuk L kerap dijumpai. Tentu dengan pose-pose aduhai. Menunjukkan keseksian dunia literasi.

Li-terasi, entah mulai kapan dia populer. Literasi, dulu dikenalkan di bangku kuliah dengan arti ke-melek-huruf-an. Arti yang mungkin tidak semua mahasiswa paham benar apa makna sesungguhnya. Waktu itu, yang penting “saya dengar, saya lihat (soal), saya bisa menjawab dengan benar”.

Dengan label “gerakan”, seolah literasi merupakan bentuk perlawanan, perjuangan pustakawan untuk merebut (atau menunjukkan) peran mereka dalam rangka mewujudkan kondisi yang ideal.  Merebut dari siapa? Entah. Itupun jika benar-benar merebut. Atau apa yang mau direbut? Atau mencari peran yang selama ini dianggap tidak diperhatikan? Atau mengais peran-peran yang tercecer?


###

INDONESIA PASTI BAHAGIA, melihat lulusan baru pendidikan perpustakaan. Karena dengan demikian, akan muncul pustakawan-pustakawan baru yang siap menjadi agen literasi pada siswa-siswa, pelajar dan mahasiswa di negeri ini.

Produk hasil didikan para dosen ilmu perpustakaan ini siap ditempatkan di mana saja. Di sekolah kota atau pelosok, di perguruan tinggi, di lembaga sosial, atau bahkan di perusahaan, serta di kampung-kampung menjadi “dai” literasi.


Konon, kabarnya masih banyak perpustakaan sekolah yang belum memiliki pustakawan. Perpustakaan ini, jumlahnya menjadi lahan penempatan para alumni ilmu perpustakaan. Jumlah inilah, salah satunya yang dijadikan bahan tawaran pada alumni SMA, agar masuk ke program studi perpustakaan, dan tentunya, menjadi agen perubahan, agen literasi pada para generasi bangsa.

Paijo: “Kalau tak ada alumni SMA yang mau masuk jurusan perpustakaan, piye ya Yo?”
Karyo: “bubar, Jo. Alumni dari SMA ini penting bagi keberlangsungan sekolah perpustakaan”.

Namun kenyataan di lapangan tidak selalu indah.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Pustakawan butuh makan. Kadang, mereka tidak bisa hidup hanya dari status pustakawan. Ada yang masih jadi pustakawan dengan pangkat rendah, bergaji kecil. Sehingga harus nyambi ini-itu untuk mempertahankan agar dapur tetap ngebul. Undangan kondangan pernikahan teman sejawat, bisa berakibat fatal, dan membuat kepala puyeng. Selain galau karena ditinggal menikah,  juga harus menyiapkan amplop beserta isinya, atau paling tidak kado terakhir sebagai ucapan melepas lajang.

"Semoga berbahagia, jangan lupa berdoa dan olah raga", demikian katanya setelah memasukkan amplop di kotak yang disediakan.

Selain tuntutan untuk mencari pasangan menikah, pustakawan juga dituntut untuk pintar-pintar mencari rejeki untuk menafkahi. Mereka harus mendapatkan pasangan yang siap lahir bathin, menjadi pasangan hidup pustakawan.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Mereka tipe pejuang kelas tinggi. Yang telah ditempatkan di pustakawan, ada yang berkorban dengan bersekolah lagi di jurusan perpustakaan, dengan harapan menjadi pegawai tetap di tempatnya bekerja. “Berjuang”, demikian konon istilahnya. Maka, mereka berbondong melanjutkan sekolah lagi, baik di universitas modern maupun konvensional. Namun, konon kabarnya, setelah lulus ada yang tidak ditempatkan di perpustakaan lagi, namun di rotasi ke bagian lainnya. Mungkin, bagian lain itu dianggap lebih penting.

Demikianlah awalannya, pustakawan bukan siapa-siapa.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Pustakawan, juga bukan tuah yang membanggakan semua orang. Itulah mengapa, ada pustakawan yang bekerja di perpustakaan, namun ketika ditanya pekerjaan, jawabnya “buruh”. “Saya cuma buruh saja, kok”. Atau karena kerjanya di universitas, lebih senang dikenal dengan sebutan dosen.

Ya, orang kampung jika tahu kerjanya di universitas, langsung dianggap “dosen”. Keliru, tapi membuat yang disebut senang, ya dibiarkan saja.

Status pustakawan, memang bukan apa-apa. Sangat jarang anak sekolah yang menyebut pustakawan sebagai cita-citanya. Jika kemudian ternyata menjadi pustakawan, itu karena “paksaan” sejarah, sebagian besar bukan karena memperjuangkan profesi itu sejak lama, secara sadar.

Kepopuleran pustakawan sebagi cita-cita, jauh dibanding tentara, polisi, dokter, atau guru. Itu sudah kenyataan sejarah.

Pustakawan memang bukan siapa-siapa.
Organisasi profesi yang semestinya mengayomi,  kadang malah bertolak belakang. Pelatihan kepala perpustakaan sekolah, yang tidak sedikit pustakawan yang mengeluhkan, justru masih dilakukan. Aturan yang ada di atasnya, dijadikan bemper pengesahan kegiatan ini.  Entah, kepentingan apa yang ada di belakangnya. Ini seolah menunjukkan pada dirinya sendiri, bahwa pustakawan bukan siapa-siapa, bahkan bagi organisasi profesinya.

Ah, namun harus diakui bahwa organisasi kepustakawanan memanjakan pustakawan dengan dunia ilmiah, melalui kegiatan bertajuk call for paper. Pustakawan didorong untuk menulis (ilmiah) dan mengirimkannya. Namun, kadang ditarik biaya yang tidak sedikit. Tak sedikit pustakawan yang kandas keinginannya, karena kurang dana.

Pustakawan memang bukan siapa-siapa
Hadirnya tentu diharapkan menjadi sumber jawaban atas berbagai pertanyaan. Namun terkadang alih-alih menjadi filter berita hoax, malah terhanyut pada berita hoax yang seharusnya disaringnya. Atau menjawab pertanyaan tetangga tentang harga cabe sekilo, pustakawan merasa kesulitan.

Ya, memang tidak semua harus bisa dijawab oleh pustakawan. Tentunya berat untuk memberi jawaban pada semua pertanyaan. Justru itulah, menunjukkan bahwa pustakawan memang bukan siapa-siapa.


Pustakawan bukan siapa-siapa.
Di kampung atau di masyarakat, banyak orang yang beperan selayaknya pustakawan,meskipun dia tidak (bukan) alumni dari pendidikan formal pengelolaan perpustakaan. Mereka megelola buku, serta koleksi lainnya, serta membuat kegiatan yang berguna bagi masyarakat. Dan mereka bisa melakukannya.

Peran ini, tak urung, memberikan ruang tafsir pegiatnya tentang pustakawan. Apa sebenarnya peran pustakawan di masyarakatnya? Sebatas apa gerakan literasi yang digaungkan itu berpengaruh pada tetangganya?

Baca juga: Hati-hati masuk jurusan ilmu perpustakaan!!! #inpassing

Pustakawan bukan siapa-siapa
Konon, kabarnya ada penolakan atas kebijakan sebuah institusi yang membuka lowongan pengelola perpustakaannya untuk orang dari alumni selain program studi perpustakaan. “Itu hak alumni perpustakaan, bukan yang lainnya…”, begitu katanya. Mereka tidak sadar, bahwa ada juga alumni ilmu perpustakaan yang bekerja sebagai tenaga administrasi di perguruan tinggi, misalnya. Tidak ada alumni manajemen perkantoran yang protes. "Saya sudah berhenti menawarkan software saya. Lah kalah sama gerakan pustakawan menyebarkan open source", konon kabarnya ada yang mengatakan demikian.

Bahkan mungkin ada juga pustakawan yang bekerja menjadi teller di bank, tidak ada alumni keuangan, perbankan, yang protes. Atau kita tidak tahu?


Pustakawan bukan siapa-siapa
Di tengah perjuangan pustakawan yang masih panjang, justru para ilmuwan gencar memopulerkan ilmu informasi. Entah, mana yang lebih luas. “Informasi” dianggap lebih kekinian, lebih mutakhir, lebih bisa mengayomi semua aspek kegiatan kerja-kerja pustakawan. Para ilmuwan, dengan kepakarannya hendak meletakkan posisi yang benar, antara ilmu perpustakaan dan ilmu informasi. “Di luar negeri, ilmu perpustakaan sudah ditinggalkan, beralih ke ilmu informasi, i-science”, begitu kurang lebihnya. Para pakar yang dikenal dengan ilmu perpustakaan, mendadak menjadi lebih (ingin) populer dengan ilmuwan informasi. Kenyataan ini menunjukkan, pustakawan memang bukan (si)apa-(si)apa. Seolah status pustakawan ditinggalkan, dan diminta “berjuang” sendirian.

"Saya profesional informasi", celetuk yang lainnya. Tidak apa-apa. Semua itu pilihan. Pustakawan memang buka (si)apa-(si)apa.


Pustakawan bukan siapa-siapa
Menjadi pustakawan perlu nyali. Keberanian. Jika tidak maka dia akan mengungsi. Jika hanya setengah-setengah, maka dia akan pergi ke profesi lain. Profesi yang lebih mapan, dengan tingkat strata sosial yang lebih tinggi, yang tidak perlu lagi perjuangan yang berdarah-darah.

Ironisnya, setelah mereka pindah itu, mereka mengatakan: "pustakawan itu penting". Atau mengritik pustakawan.

Jika penting, mengapa pindah profesi?

Ah. Pustakawan memang bukan siapa-siapa.


Pustakawan bukan siapa-siapa
Diskusi tentang “ilmu” perpustakaan seolah tidak berakhir. Bahkan pada hal paling mendasar: ontologi. Diskusi dilakukan di meja kuliah, kuliah umum, konferensi, dan lainnya.

Para ilmuwan perpustakaan (dan informasi) ngotot, bahwa ilmu perpustakaan itu ada. Namun, ternyata, meskipun tentunya bisa berubah, nomenklatur menyebutkan lain. “Perpustakaan dan Sains Informasi”.

Baca juga: Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan
Karyo, dengan tampang lusuh sepulang dari sawah mengatakan, “Diskursus tentang ilmu perpustakaan itu, tak akan berpengaruh pada kerja-kerja kita, Jo. Aku dhewe menyadari. Tapi aku yakin, Jo. Sembilan puluh sembilan persen (99%) yang menentukan orang lain mengamini perpustakaan itu sebagai ilmu atau bukan, tidak terletak pada ilmuwan perpustakaannya. Namun, justru akan dilihat dari kerja-kerja kita ini, sebagai pustakawan”.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Sejarah telah mencatat, bahwa profesi pustakawan tidak sepopuler dokter, tentara, polisi atau guru. Tidak apa-apa, memang demikian adanya. Sejarah selalu akan menunjukkan buktinya. Jika suatu saat nasib pustakawan harus seperti “dukun bayi” di pelosok kampung, yang sekarang semakin jarang, ya harus diakui. Tidak apa-apa, itu adalah bagian dari ketentuan sing wis ginaris deneng Gusti.


Pustakawan bukan siapa-siapa. Jika ingin tahu mereka, datanglah ke perpustakaan yang dikelolanya. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Atau, lihatlah institusi pendidikan yang mencetak mereka, bagaimana kurikulumnya. Atau, maaf, lihatlah diklat-diklat yang mereka ikuti. Diklat itu ada yang mencukupkan mereka untuk bisa disebut pustakawan.

Pustakawan adalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya.


###


Paijo, sambil leyeh-leyeh dan mengipaskan capingnya yang sudah sobek sebelah, menjawab ucapan Karyo, “Pustakawan itu bukan siapa-siapa. Ojo rumongso biso, tapi biso’o rumongso. Mung sak dermo nglampahi. Mau ada ilmu perpustakaan atau tidak, tidak masalah. Ada hal lain yang lebih perlu dicurahi energi untuk difikirkan, ilmu urip.”.

Sambisari, Senen Kliwon, tanggal 11 Suro 1951
lima, tiga sembilan pagi


*judul dicontek dari esai seorang kawan “mahasiswa bukan siapa-siapa”, tulisan Rachmad Resmiyanto. http://rachmadresmi.blogspot.com/2006/03/mahasiswa-bukan-siapa-siapa.html






Monday, 25 September 2017

Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan

Paijo: “enake ngobrol apa, Yo?”
Karyo: “jarene ada nomenklatur baru di pendidikan tinggi, tentang nama departemen dan gelar bagi yang lulus ngangsu ilmu, Jo?


Purwo.co - Keduanya sibuk mengobrolkan tentang nomenklatur yang dimaksud. Tentunya, ngalor ngidul mereka ngobrol ala wong ndeso yang tak punya beban, kecuali beban pekerjaan sehari-hari, yang itupun kadang dilewati dengan senang gembira, lebih pada rekreasi dari pada bekerja. Obrolan itu terasa lengkap, karena ada nasi putih hangat, sambel bawang, tak lupa daun pepaya mentah yang sudah dibersihkan. Persiapan cabe untuk tambahan nyambel, dan juga minuman. Obrolan berlangsung di atas lincak bambu samping rumah.

Obrolan mereka, merupakan obrolan ringan, yang kadang agak nggaya ikut menganalisis keadaan. Padahal, ya dimungkinkan banyak bolong-bolongnya, berbeda dengan kaum cerdik cendikia yang analisisnya setinggi langit dan sedalam sumur minyak. Seperti biasanya, obrolan mereka terkait dunia perpustakaan, dan nyerempet dunia informasi.


Nomenklatur (tentang nomenklatur, lihat di sini) yang baru tentang  nama-nama rumpun ilmu dan program studi telah beredar. Nomenklatur tersebut ada dalam keputusan Menteri Riset, Teknologi,  dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, nomor 257/M/KPT/2017. Keterangan nama program studi perpustkaan ada di lampiran pertama halaman 28. Nah, apa gerangan yang baru di bidang perpustakaan? Itulah pokok obrolan Paijo dan Karyo hari itu.





Ternyata, “perpustakaan” masuk pada bagian sains informasi, yang program studinya disebut “Perpustakaan dan Sains Informasi”. Nama ini juga disebut dalam Bahasa Inggris sebagai “Library and Information Science”. Penyebutan ini urutannya didahului dalam Bahasa Indonesia, kemudian di sampingnya dalam bahasa Inggris. Artinya, nama “gawan bayinya” itu Perpustakaan dan Sains Informasi, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi “Library and Information Science”.



Bingung mana yang diterjemahkan, mana hasil terjemahannya?
Perpustakaan dan Sains Informasi, cukup asing bagi Paijo dan Karyo. Mereka mencoba membuka kamus atau dokumen terpercaya tentang bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, yang di dalamnya memuat ketentuan menuliskan kalimat, menjadi salah satu yang mereka buka.


Hal yang agak asing, terkait Perpustakaan dan Sains Informasi adalah kata “dan” yang memisahkan bagian pertama dan kedua. "Rasane kok aneh, ya?". Perpustakaan dan Sains Informasi, apakah ini justru penerjemahan dari Library and Information Science?. Kayake, dalam bahasa Inggris, science (jika tanpa embel-embel) ditulis di belakang mengikuti ilmu yang disebut. Government Science, misalnya. Jadi kalau Library and Information Science, ya mestinya ilmu perpustakaan dan informasi. Perpustakaan dan Informasi dikenai ilmu, keduanya itu dianggap sebagai ilmu. Berbagai pertanyaan dan hipotesa hinggap di kepala Paijo dan Karyo.



Paijo: kui kayak MD, DM, menerangkan diterangkan, Yo?
Karyo: mungkin, Jo.
Dalam PUEBI ditemukan beberapa contoh penggunaan “dan”. Misalnya “Menteri Pendidikan dan Kebudayaan”. Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan dua kata yang dikenai “menteri”. Artinya si menteri membidangi pendidikan dan juga kebudayaan.  Ada lagi “Presiden dan/atau Wakil Presiden. Jelas di sini, bahwa hanya kata presiden yang kedua yang dikenai kata wakil. Presiden yang pertama tidak dikenai kata wakil.

Coba dibalik menjadi Pendidikan dan Menteri Kebudayaan.



Paijo: Lah, malah dadi aneh kui. Menteri opo kui?
“Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring”. Inggris, tolak, dan ring merupakan jenis kunci. Pada PUEBI semuanya diawali dengan kunci. Sementara itu,  “Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura”, nama jenis batik tetap diawali dengan kata “batik”. Kemudian kalimat “Singkatan nama diri dan gelar”, berarti nama diri dan juga nama gelar. Mungkin karena hanya dua kata yang dipisah, maka “nama” cukup ditulis satu kali. Coba diubah “Singkatan diri dan nama gelar”. Beda ndak artinya?

Contoh lain, selain dari PUEBI, misalnya: kesehatan gigi dan mulut. Gigi dan mulut, dikenai kata kesehatan. Berbeda dengan gigi dan kesehatan mulut, yang artinya gigi sebagai kata benda, dan kesehatan mulut.


Nah, sekarang lihat “Perpustakaan dan Sains Informasi”. Apa yang bisa dianalisis? Pertama kata perpustakaan, kemudian yang kedua sains informasi. Perpustakaan seolah menjadi kata tersendiri dan tidak dikenai “sains”. Sains hanya disematkan pada informasi, sains informasi. Tidak untuk perpustakaan. Rasanya tak ada unsur sains perpustakaan pada nama program studi tersebut.


Loh, kan sains sudah ditulis pada rumpunnya, Sains Informasi yang menaungi “perpustakaan”. Kalau alasan ini digunakan, kok yo yang informasi masih pakai “sains”?


Perpustakaan dan sains informasi, jika dipecah maka terdapat unsur perpustakaan serta sains informasi. Perpustakaan sebagai kata benda yang berarti bangunan perpustakaan serta isinya, serta sains informasi sebagai sebuah sains tentang (yang mempelajari) informasi.


Hal ini akan beda rasa jika bandingkan dengan Sains Informasi dan Perpustakaan, atau Sains Perpustakaan dan Informasi. Informasi dan Perpustakaan menjadi satu kesatuan yang dikenai sains.



Paijo: “nasi tiwul dan goreng, tiwul dan nasi goreng, es teh dan dawet, dawet dan es teh, anak Karyo dan Sipon, Karyo dan anak Sipon”.
Karyo: “hus, jangan bawa-bawa nama saya, Jo.”
Paijo: “loh, saya ini mempraktikkan penjelasanmu je, Yo.”
Karyo: “dada dan buah jambu, buah dada dan jambu”
Paijo: “hus!, aurat”
###
Lalu, apa artinya?
Sekarang jelaslah sudah, bahwa tak ada lagi ilmu perpustakaan. Ini sudah ditunjukkan sendiri oleh nomenklatur yang dikeluarkan pemerintah. 


Karyo: "hmm. Pantesan sekarang para winasis lebih condong ke ilmu informasi, dan mendeklarasikan diri sebagai ilmuwan informasi, ketimbang pustakawan.
###
Antara sains dan ilmu
Munculnya kata “sains” dalam nomenklatur terkait perpustakaan serta informasi, cukup menarik. 


Siapa gerangan yang mengusulkan?
Ilmu, nek ra kleru turunan dari Ø¹Ù„Ù… (sumber di sini) yang berasal dari bahasa Arab. Ilm dan ilmu, telah dikenal sejak lama baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Ilm, ilmu, berilmu, digunakan dalam proses komunikasi sehari-hari. Kita kenal istilah-istilah atau ungkapan sebagai berikut: orang berilmu, ngudi ngelmu, menuntut ilmu, berilmu tinggi, ilmu kanuragan, ilmu kasekten, dan lainnya. Ilm dan ilmu memiliki arti luas.

Sains, agaknya merupakan serapan dari “science”. “The intellectual and practical activity encompassing the systematic study of the structure and behavior of the physical and natural world through observation and experiment: the world of science and technology.“, merupakan salah satu penjelasan tentang makna science, yang bersumber dari kamus yang menempel alat buatannya Mbah Job. Agaknya, science terkait dengan physical dan natural world.


Science, agaknya datang belakangan. Science serta sains, tidak memiliki sejarah panjang dalam penggunaannya di masyarakat kita. Tidak dikenal istilah “orang bersains”, misalnya. Makna sains tidak seluas ilmu. Sains hanya bagian kecil saja dari ilmu.



###

Lalu apa sebab ilmu digantikan sains?
Biar modern? Biar keren? Biar kekinian? Untuk menggeser istilah serapan lainnya?

Sambil mengeluarkan sebatang rokok dan hendak menyulutnya, Paijo berkata, “Rasah digagas, Yo. Penting nyambut gawe. Kita ini, mau mikir kayak gitu serius, ra ana gunane. Kalau besok kita tidak masuk kerja di perpustakaan, iso dipotong gajine. Obrolan kayak gini, bagi kita kan hanya ngisi waktu luang, Kang. Mau informasi, mau perpustakaan, mau ilmu, mau sains, yang penting sawahe digarap."


Karyo yang melihat Paijo, langsung mendekat dan merebut sebatang rokok yang hendak disulut Paijo. 



Karyo: “Udud jangan di sembarang tempat. Orang kalau ndak belajar ilmu informasi, ya ndak tahu bahaya merokok. Tapi omonganmu bener juga, Jo. Cocok. Rasah dipikir, nggo hiburan saja, ojo ngeceh-ceh pikir”.
Paijo
: "iya, mending mikir kapan sawah warisan itu mau ditanami"

Setelah Karyo menjauh, diam-diam Paijo membuka bungkus rokoknya lagi. Sialnya, sebatang rokok yang direbut Karyo adalah yang terakhir. “Wah, bakalan kecut”, Paijo menggerutu.


Sambisari, tanggal 5 Suro, tahun 1951
Jam empat lima puluh delapan pagi

Saturday, 16 September 2017

, ,

Kompetensi pustakawan merupakan bentuk pengganti dari keterbatasan anggaran perpustakaan

candi sambisari, Jogja
Purwo.co - Selama ini, kabarnya masih ada perpustakaan yang hidup dengan anggaran yang tidak memadai. Akhirnya ada keterbatasan pengelolaan, koleksi terbatas, fasilitas terbatas, pengembangan juga terbatas.


Paijo: perpus mana, To? - 
Parto: ah, mestine ya ana, Jo
.

Ini wajar. Karena memang anggaran memiliki posisi penting dalam menjalankan roda organisasi perpustakaan serta pengembangannya. Namun, apakah tidak ada jalan lainnya?

Perpustakaan merupakan lembaga atau unit yang bergerak untuk membantu organisasi induknya. Misal perpustakaan sekolah untuk mendukung sekolah, perpustakaan perguruan tinggi untuk mendukung perguruan tinggi, perpustakaan daerah untuk mendukung visi misi daerah dalam rangka melayani masyarakatnya. Secara umum demikian, jika dalam pelaksanaannya muncul kreatifitas ke kanan atau kiri, itu bentuk fleksibilitas profesi saja.

Nah, jika sebuah perpustakaan kekurangan anggaran, misal karena anggaran dipotong, dikurangi, apa yang harus dilakukan pustakawan?


Jangan galau, dipikir karo seneng wae. 

Efek kurangnya anggaran, dipotongnya anggaran dan semacamnya, tidak dibebankan pada pustakawan. Bukan!. Jadi pustakawan tidak perlu GR dan baper. Efeknya akan dirasakan oleh si pemimpin organisasi induk. Yakinlah. Kalau perpustakaannya kurang bagus, pustakawan wajib mengusulkan perbaikan dan penambahan anggaran. Kalau anggaran ditolak, efeknya ada di pemimpin organisasinya, bukan pustakawan dan pemimpin perpustakaannya.


“Siapa sih bupatinya?”, “siapa sih walikotanya?”, “siapa sih kepala sekolahnya?”.
Jadi, ndak usah dipikir terlalu dalam. Sik penting bergembira dan utamakan kesehatan.

Kalau perpustakaan sekolah anggarannya minim, ya ndak apa. Karena memang mungkin sebatas angka itu institusi mampu memberi anggaran. Atau ada prioritas lain yang oleh pemimpin dianggap lebih penting. Tidak apa, memang pemimpin berhak memberi prioritas anggaran sesuai dengan visi dan misi yang dia canangkan.

Jalankan saja perpustakaan sesuai  dengan anggaran yang diberikan. Fokuskan anggaran tersebut pada hal yang anda anggap paling penting dalam pengelolaan perpustakaan anda. Koleksi, fasilitas, atau apapun. Kalau tetap kurang  bagaimana?


Jalankan dengan filosofi hidup. Sitik akeh, sik penting disyukuri. Insyaalllah berkah, kekurangane Gusti Allah sik nyukupi.
.

Lalu, bagaimana selanjutnya?

Mainkan kompetensi atau skill anda untuk menjalankan roda organisasi perpustakaan. Inilah pentingnya kompetensi, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Pustakawan sekolah yang mahir Corel Draw atau aplikasi desain grafis lainnya, bisa digunakan untuk membuat kegiatan pelatihan desain grafis bagi pemustaka/siswanya. Pustakawan yang mahir Bahasa Indonesia (tata bahasa, dan lainnya), dia bisa memainkan keahliannya tersebut untuk membimbing mahasiswa menulis. Pemustaka yang mahir menggambar kaligrafi, sket gambar, atau semacamnya, bisa membuat kegiatan terkait, bersama pemustaka.

Paijo: Ngajari nggambar? Itu tugas pustakawan kah?
Parto: rasah digagas, sik penting nyambut gawe. Memang selama ini kan pustakawan itu pekerjaannya “mengais” (jawa: golek-golek) pekerjaan.


saoto bathok Sambisari
Contoh di atas hanya beberapa saja, ada banyak kompetensi yang bisa digali untuk digunakan pustakawan menggerakkan perpustakaannya. Tentunya level perpustakaan yang dikelola akan berpengaruh. Kompetensi pustakawan merupakan bentuk lain dari terbatasnya anggaran perpustakaan.

Luasnya kompetensi pustakawan, selain kompetensi inti pustakawan, menjadi sangat penting dalam pengelolaan perpustakaannya. Di sini, pustakawan perlu melihat berbagai perkembangan ilmu selain perpustakaan, dan mencoba menguasai dan menerapkannya untuk melayani pemustaka. Bukan hanya hardskill, namun juga softskill.


Paijo: loh, koleksi kan penting, Kar? Sekarang jurnal harganya melangit. Larang, mahal, dan susah ditawar. 
Karyo: yo ra popo. Kalau mahal, ya ndak usah dibeli kalau duitnya ndak cukup. Rasah dipikir ribet, utamakan kesehatanmu, Jo. Gampang, tho? 

Untuk memenuhi kemampuan/kompetensi tersebut, pustakawan dapat belajar mandiri, di sinilah konsep belajar sepanjang hayat menemukan ruangnya. Jika ada kesempatan belajar (sekolah) lagi, usahakan kuliah pada program studi selain ilmu perpustakaan. Jangan linear. Dengan demikian, pustakawan akan lebih kaya.



Sambisari, tanggal enam belas, bulan sembilan
tahun dua ribu tujuh belas.
enam, empat belas pagi




Friday, 15 September 2017

Sinta: indikator produktifitas ilmuwan Indonesia

Purwo.co - SINTA (Science and Technology Index) yang beralamat di sinta.ristekdikti.go.id, setelah versi pertama, beberapa waktu lalu dirilis versi kedua. SINTA, sebagaimana ditulis di webnya, merupakan sistem informasi penelitian, yang menyajikan informasi sitasi dari berbagai ilmuwan dengan berbagai keahliannya.

Web sinta sudah responsif, sehingga nyaman dibuka di gadget.

Sinta menampilkan berbagai informasi, yang dihimpun dari Google Scholar dan Scopus.  Terdapat tiga informasi utama dalam SINTA, yaitu penulis, afiliasi (organisasi), dan jurnal.
Laman profile Prof. Panut Mulyono (Rektor UGM)


Informasi terkait penulis, menampilkan informasi ranking penulis yang terdapat di SINTA berdasar skor SINTA. Saat tulisan ini dibuat, ranking pertama adalah Suharyo Sumowidagdo, dari LIPI dengan SINTA score 278. Cukup jauh, menyusul pada peringkat kedua Suryadi Ismadji dari Universitas Katolik Widya Mandala dengan skor 86. Tentunya, peringkat ini tetap akan dinamis, sembari data masuk dalam SINTA.

Pada masing-masing profil penulis, terdapat informasi h-index di Scopus dan Google Scholar, jumlah artikel, book chapter dan conference papers yang pernah ditulis, jumlah dokumen di Scopus dan Google Scholar lengkap dengan sitasinya dan pertumbuhannya tahun demi tahun, serta lima dokumen tertinggi sitasinya. Selain itu, SINTA juga menampilkan area keahlian dari si pemilik profil.

Fitur menarik, Sinta menampilkan jejaring penulis dalam visual yang nyaman dilihat. Si pemilik profil dapat melihat siapa saja yang berjejaring dan bagaimana polanya.
Jejaring Prof. Panut Mulyono

Sayangnya, belum ada informasi kontak pada profil penulis.

Informasi berikutnya terkait afiliasi atau organisasi. Saat tulisan ini dibuat, UGM menempati posisi teratas dengan skor 18,763 disusul IPB dengan skor 14,544. Jika dilihat detail afiliasi, akan diperoleh informasi jumlah penulis yang terverifikasi SINTA dari institusi tersebut, grafik pertumbuhan jumlah dokumen terindeks Scopus dan Google Scholar berdasar tahun serta jumlah sitasinya. Serta jumlah artikel jurnal, book chapter dan conference papers dari institusi tersebut.
Lima Institusi score tertinggi 


Informasi terakhir terkait jurnal. Jurnal yang terdeteksi di SINTA dikategorikan dalam skor S1 sampai S6. Informasi jurnal yang ditampilkan SINTA memuat skor, h-index dan jumlah di sitasinya, keterangan diindeks oleh Scopus (jika telah terindeks Scopus), grafik statistik sitasi  berdasar tahun, alamat web, email, dan nomor telepon, informasi editor jurnal, serta artikel yang diurutkan berdasar jumlah disitirnya berdasar data di Google Scholar.
6 jurnal score tertinggi


Saat tulisan ini dibuat, peringkat pertama jurnal diraih oleh Telkomnika yang memperoleh skor S1, dengan h-index 22, dan sitasi 3.348.

Angka yang ada di SINTA, baik terkait penulis, afiliasi dan juga jurnal tentunya memiliki makna, serta aturan penghitungan tertentu. Angka yang muncul, dapat menjadi tolok ukur produktifitas, dan posisi jurnal, afiliasi dan penulis di tengah masyarakat ilmiah. Indikator ini, tentunya menjadi indikator mandiri bangsa Indonesia, yang menggabungkan angka yang muncul di Google Scholar dan Scopus.


Namun, jangan sampai hanya berhenti pada angka-angka tersebut. Kemanfaatan ilmu para ilmuwan, juga harus melampaui angka-angka di SINTA. Artinya juga harus menciptakan angka-angka di tengah masyarakat luas, bangsa Indonesia yang selalu menantikan karya dan kontribusi para ilmuwan untuk kemaslahatan ummat manusia.


Wednesday, 23 August 2017

,

Zotero 5.0: mulai dari feed reader, my publication, editor style, multi bahasa

Zotero merupakan aplikasi manajemen dokumen referensi. Beberapa waktu lalu, Zotero merilis versi 5.0. Judul di atas, sebebarnya belum mewakili fitur baru di Zotero. Untuk melihat lebih lengkap, silakan klik https://www.zotero.org/support/5.0_changelog#changes_in_50_july_10_2017. Apa saja yang baru?

RSS di Zotero

Zotero sekarang memiliki fitur feed. Sebuah alamat feed dapat kita pasang di Zotero, maka akan tampil artikel terbaru, atau sesuai setingan feed. Di sebelah kanan, ada fitur untuk langsung menyimpan artikel tersebut, termasuk file ke dalam database Zotero. Keren kan?
Tidak harus memasang dua aplikasi berbeda untuk manajemen referensi dan feed reader.

metadata dan file yang disimpan
Gambar di atas menunjukkan data yang disimpan, termasuk juga file PDFnya. Untuk membuka file PDF, tinggal double click saja.

pencarian lanjut
Selain itu, terdapat pencarian lanjutan yang lebih lengkap. Pencarian yang dilakukan, dapat disimpan untuk dibuka dilain waktu. Sehingga tidak perlu melakukan pencarian ulang.

panel untuk mengubah gaya kutipan

Gambar di atas juga fitur baru, editor gaya kutipan. Dengan fitur ini, kita dapat mengubah gaya kutipan, dan menyimpan gaya tersebut untuk kita gunakan. Pada versi sebelumnya, kita harus melakukan manual dengan membuka file CSL, atau melalui CSL editornya Citationstyles.

pra tayang gaya kutipan

Melengkapi fitur sebelumnya, tersedia juga pra tayang dari gaya kutipan yang terpasang. 

, ,

Konsep kerja pustakawan profetik

tulisan ini sekedar untuk mengikat perenungan saya saja. Tentunya, belum layak disebut artikel.
Pustakawan dalam tulisan ini saya batasi terkait profesi seseorang yang mendedikasikan dirinya bekerja di institusi perpustakaan, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di dalamnya. 

Tulisan ini hendak menyampaikan sisi pustakawan yang tetap harus dijaga sebagai bagian dari proses hidupnya sebagai manusia yang berketuhanan. Salah satu bagian dari judul tulisan ini adalah kata profetik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti terkait dengan kenabian. Keterangan di laman https://kbbi.kemdikbud.go.id/ tertulis pro.fe.tik /profètik/ a berkenaan dengan kenabian atau ramalan.

Lalu apa yang dimaksud pustakawan profetik?

Kita periksa pengertian pengobatan profetik, yang dimaknai sebagai konsep pengobatan yang berdasarkan hadits nabi, atau Qur'an. Kalimat aslinya begini "Prophetic medicine is the total authentic Hadith narrated by the Prophet, peace be upon him, in relation to medicine, whether Qur'anic verses or honourable Prophetic Hadith". [3] Sementara itu, guru profetik ditarsirkan sebagai guru yang memiliki 3 sikap: humanisasi, liberasi dan transendensi yang mewujud dalam kepribadiannya. [5]


Nah, sekarang apa itu pustakawan profetik?
Paijo: loh, kok cuma dua referensinya?
Parto: tidak apa-apa

dalem ageng Kyai Mohammad Besari, Ponorogo.
Pustakawan profetik, adalah pustakawan yang selain dia sadar menjalankan peran-peran sebagai pustakawan dalam mengelola perpustakaannya, dia juga melakukan tugas dengan meniru semangat atau karakter kenabian pada proses pekerjaannya. Semangat ini terkait dengan kesadaran kemanusiaannya yang hidup di antara manusia lain, dan terkait dengan unsur keakhiran dirinya, yang tidak akan hidup selamanya. Dengan demikian, pustakawan akan menggunakan posisi profesinya untuk selalu menyampaikan kebaikan kepada orang lain, dan saling membantu dalam kebaikan. 

Point semangat yang diemban, sama dengan point semangat dari guru profetik. Semangat profetik pertama adalah humanisasi, memanusiakan manusia. Semangat kerja pustakawan harus memanusiakan manusia melalui konsep hubungan yang berpusat pada Tuhan, dengan pekerjaan kebaikan dan kebenaran yang mengacu pada kepentingan manusia. Memanusiakan manusia, dengan menganggap semua manusia sejajar, dan memiliki hak untuk mendapatkan informasi dan layanan dari perpustakaan. 

Orang yang datang ke perpustakaan, adalah orang yang memiliki masalah, serta membutuhkan jalan keluar dari masalahnya. Dia wajib dilayani (sesuai jenis perpustakannya) untuk menemukan titik terang jalan keluar dari masalah yang menghimpitnya. Orang ini harus diposisikan ibarat orang yang kehausan dan membutuhkan minum. Tidak ada kata lain, kecuali memberi segelas (atau secukupnya) air minum, sebagai bagian dari memanusiakan manusia. Karena, kebutuhan manusiawi tersebut akan berlaku pada siapapun.

Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya 

Selain humanisasi yang berpusat pada Tuhan, berikutnya pustakawan profetik harus punya semangat liberasi. KBBI mengartikan liberasi, salah satunya sebagai proses membebaskan seseorang dari kontrol atau kendali orang lain. [6] Semangat ini merupakan semangat untuk membebaskan manusia, atau dalam hal ini pemustakanya dari kondisi keterbelakangan, kemunduran, menuju kemajuan.

Liberasi dalam hal ini dimulai dari liberasi di lingkungan terdekat dari perpustakaannya dan dirinya. Pustakawan harus mampu merumuskan permasalahan-permasalahan dalam komunitas pemustakanya, kemudian mencari jalan keluar yang mungkin dilakukan oleh pustakawan. Tentunya, tidak  berhenti pada konsep saja, pustakawan harus secara nyata melakukan proyek liberasi tersebut secara terus menerus.

Transendensi, sebagai semangat ke tiga yang mendasari kedua aspek di atas. Transendensi berwujud keimanan (yang diikuti dengan menjalankan ritual bukti iman) kepada Tuhan yang akan mendorong, mengarahkan serta rambu proses liberasi dan memanusiakan manusia (humanisasi) yang berpusat pada Tuhan agar sesuai dengan jalannya. Proyek liberasi dan humanisasi, sangat mungkin akan bersinggungan dengan aspek non transenden. Aspek transendensi lah yang akan mengontrol proyek ini.

Semangat pustakawan profetik ini, dapat dimaknai dari semua agama, atau siapapun pustakawan dengan agama apapun. 

Dengan 3 hal tersebut di atas, pustakawan akan memiliki arah dan pedoman yang jelas dan luhur. Tidak hanya sekedar bekerja, dan lepas dari perannya sebagai penerus semangat kenabian. Namun dengan semangat tersebut, pustakawan akan memiliki pandangan arif dan bijak dari gejolak-gejolak yang ada dalam profesinya, yang terkadang masih belum mapan. Karena gejolak yang ada dalam profesinya, adalah bagian dari proyek humanisasi, liberasi dan transendensi yang diembannya. Orang yang kemudian dianggap sebagai akar masalah, harus dipandang sebagai orang yang perlu dicerahkan, mereka adalah obyek dari semangat liberasi pustakawan profetik.

Dengan konsep tersebut, diharapkan pustakawan akan berimbang dalam bekerja. Sehingga aspek ruhiyah dan lahiriah dapat berjalan beriringan. Hal ini penting, di tengah perkembangan jaman yang semakin (kata orang) maju.

Pustakawan diharapkan dapat berperan optimal sesuai profesinya, namun dia juga tidak boleh tercerabut dari pemaknaan dirinya sebagai makhluk yang tidak akan hidup selamanya.

Pustakawan, juga akan mampu melihat sisi-sisi tersembunyi yang bisa dikembangkan untuk kebaikan perpustakaan dan masyarat sekitarnya (pemustaka).

Monggo, boleh berkomentar di kolom komentar.

*) terinspirasi dari istilah ekonomi profetik, guru profetik, dan kemudian menemukan istilah Ilmu Sosial Profetik. Point tulisan ini dipengaruhi oleh laman tentang ilmu sosial profetik di Wikipedia + buku Kuntowijoyo [4]

4. Kuntowijoyo (2004). Islam sebagai ilmu: epistemologi, metodologi dan etika 
5. KEPRIBADIAN GURU YANG PROFETIK (Kajian Analitik Terhadap Buku Spiritual Teaching Karya Abdullah Munir)  http://digilib.uin-suka.ac.id/5540/1/BAB%20I%2C%20IV%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Sambisari, hari terakhir bulan agustus 
tahun dua ribu tujuh belas
enam dua sembilan pagi