Saturday, 21 December 2024

Profil Riset Mbak Stella

Sedang populer nama Stella Christie di media sosial. Menyampaikan ini dan itu, tentang pendidikan tinggi di Indonesia. Termasuk di dalamnya tentang riset.

Dengan semangat keisengan yang tinggi, ya seperti biasanya lah, Paijo membuka kita suci para peneliti Indonesia: Scopus.

Meski kitab ini turun di benua lain, tapi di Indonesia cukup disucikan. Dakwah Scopus diterima dengan baik. Setidaknya oleh sebagian besar peneliti, dan didukung oleh majlis peneliti nasional.


Paijo menemukan nama Stella Christie di Scopus. Mbak Stella memiliki ID Scopus 24279360300. Selain di Scopus, Mbak Stella juga muncul di Scival dengan ID Customer/206003/Researcher/17671198.

Paijo memotret beberapa informasi dari Mbak Stella. Oia, ada Stella lain yang ada di Scopus namun oleh Paijo tidak ikut dianalisis. Stella itu afiliasinya ke University of Hertfordshire dengan 6 dokumen. 


profil di Scopus

Mbak Stella yang berafiliasi ke Tsinghua punya 23 dokumen di Scopus, dan h indeks 8 atau 34,7 % dari total publikasi. Artinya Stella 34.7% dari total publikasinya ada pada titik imbang antara kualitas dan produktifitas.

Publikasi berdasar tahun

Nah. Di atas gambar yang menunjukkan produktifitasnya dari tahun ke tahun. Sejak 2020 hingga 2024 terdapat 13 publikasi. Artinya 13/5 = 2.6 publikasi per tahun. Angka ini tergolong rendah jika dibanding dengan para peneliti Indonesia yang bertengger di papan atas Sinta. Namun, meski rendah, justru kualitasnya bisa tinggi.

Publikasi 2.6 per tahun, berarti rata-rata 4 bulan untuk 1 paper. Tentu ini mestinya lebih berkualitas dari pada yang hampir tiap bulan publikasi. Hehe.


Bagaimana dengan kolaborasinya?
Akun Scival Mbak Stella menunjukkan bahwa dari 23 papernya, 29% ditulis dengan skema kolaborasi internasional (antar negara). Paling banyak sih kolaborasi institusi. Selain itu ada 23% yang hanya single author. 




Menariknya, Scival menunjukkan tak ada publikasi yang menggambarkan kolaborasi akademic-coporate. 😊

patent di Scival


Pada menu paten, Scival tidak menemukan paten dari publikasi yang melekat pada profil Mbak Stella.

***********************

Nah, di bawah ini beberapa gambar yang diolah Paijo menggunakan Vosviewer, berdasar 23 dataset publikasi Mbak Stella. Namun, dari 23 ini tidak semuanya punya kata kunci.

Biblioshiny menunjukkan data di bawah ini.


Ada 9 publikasi yang datasetnya tidak memiliki keyword. Visualisasi dari data set tersebut adalah sebagai berikut.


Jika di tabelkan, kata kunci pada network di atas akan diketahui occurence dan kekuatan jejaringnya. Silakan lihat tabel di bawah ini.



Nah. Jika dilihat overlay-nya, akan kelihatan topik/kata kunci berdasar tahun munculnya. Lihat di bawah ini.



Kesimpulan
Tidak ada kesimpulan. Saya nulisnya sambil ngopi, dan posisi belum mandi. Apalagi kopinya sendirian, ndak ada camilannya. Jadi belum bisa bikin analisis.

Tafsir diserahkan pada sidang pembaca.


Sekian

21/12/2024
08.26

Wednesday, 18 December 2024

“Bibliometrik non-science”

SAYA TIDAK MENOLAK KEBUTUHAN UNTUK gulma, namun jika penyiangan yang dikonfirmasi oleh Bruce Farrar dan Bill Bailey (Sept., hal. 588-90) terus berlanjut, maka persahabatan tradisional antara pustakawan dan akademisi, donatur dan pelanggan akan menguap, dan tak ada satu pun pustakawan yang tidak tahu malu.

Bibliometrika bukanlah ilmu pasti. Ilmu pasti memerlukan kecanggihan yang lebih tinggi daripada aritmatika kelas delapan. Rak yang kosong lebih mahal bagi pembayar pajak daripada rak yang penuh sesak.

Selain itu, tidak semua buku dibuat sama, buku tidak menjadi usang dengan cara yang sama, dan sirkulasi dingin bukanlah satu-satunya kriteria untuk mengukur penggunaan buku.

Baik digunakan atau tidak, Penyair Inggris karya Chalmers (1810) dan banyak buku lainnya merupakan polis asuransi budaya, dan premi retensi harus dibayar baik buku tersebut beredar atau tidak. Sekali lagi, masyarakat perpustakaan terus berubah, dan di tengah irama kemunduran dan pembaruan serta gelombang etnis yang berurutan, perpustakaan umum harus menjadi pusat stabilitas sekaligus responsif dalam hal kemanusiaan yang positif. Setiap generasi harus membangun tambahan baru dan memasang balkon untuk menampung koleksi yang tak terelakkan bertambah.

Direktur perpustakaan haruslah seorang generalis dengan gelar Ph.D. tradisional serta pelatihan dalam bidang katalogisasi dan penggalangan dana; dan para pemegang gelar Ph.D. yang menganggur dalam bidang humaniora mungkin akan menjadi pustakawan yang lebih baik daripada kebanyakan lulusan sekolah perpustakaan karena mereka tahu apa yang ada di dalam buku.

Saya berharap Farrar mau membaca beberapa kritik Cooper dan mendapatkan salinan buku Waller dari West Virginia, Deep in the Hearts of Men (1924), untuk perpustakaannya. Bagaimanapun, moderasi ekstrem dalam penyiangan koleksi perpustakaan adalah suatu kebajikan. Itu bukan keburukan. Lebih baik tidak dibaca daripada mati.

J. WESLEY MILLER, Springfield, Mass.

https://www.jstor.org/stable/25629424





Sunday, 8 December 2024

Sunday, 17 November 2024

Catatan Si Kimpul

Pada hari Senin, Kimpul berangkat kuliah ke kampus kebanggaannya Universitas Rakyat Lucu (URL). Dibawanya buah-buahan rambutan pisang segala rupa; oleh-oleh pamannya yang datang dari desa. Rambutan pisang itu dibawa untuk dimakan bareng teman-teman kuliahnya. Tak lupa, biar ringkes dan mudah dicangking, dibungkuslah rambutan pisang itu dengan plastik.

Memasuki gerbang kampus, sorot mata keamanan kampus langsung tertuju padanya. Tanpa fufu fafa, Kimpul ditanya, “Kenapa pakai bungkus plastik?”.

Kimpul kaget.

Plastik merupakan potensi sampah yang sulit diurai. Kampus menerapkan peraturan ketat terkait plastik. Peraturan adalah peraturan. Harus ditegakkan setegak-tegaknya.  Bukankah peraturan itu dibuat untuk menciptakan keteraturan dan kedisiplikan, juga keadilan. Siapa bawa plastik harus dicatat pada buku besar. Catatan itu sebagai bukti dan sejarah, bahwa ada murid bandel di kampus. Catatan itu hanya bisa dihapus jika Kimpul mau ikut berkontribusi, patroli menegakkan peraturan kampus.

Pada hari Rabu, Gaplek, tenaga kependidikan kampus, berangkat kerja. Gaplek datang ke kampus naik ojek online. Motornya sedang tidak baik-baik saja. Perlu dibengkelkan. Sampai gerbang kampus, Geplek dicegat Kimpul. Dengan berseragam rompi biru, Kimpul melakukan interogasi, “Kenapa tidak pakai helm?”. 

Gaplek kaget.

Helm wajib dipakai saat naik kotor, meskipun di dalam kampus. Kampus menerapkan peraturan ketat tentang helm. Ini wujud kepedulian pada keselamatan warga kampus. Peraturan adalah peraturan. Harus ditegakkan setegak-tegaknya. Bukankah peraturan itu dibuat untuk menciptakan keteraturan dan kedisiplikan, juga keadilan. Siapapun yang naik motor tidak pakai helm harus dicatat pada buku besar. Catatan itu sebagai bukti dan sejarah, bahwa ada tendik bandel di kampus. Catatan itu hanya bisa dihapus jika Gaplek mau berkontribusi pada penegakan peraturan kampus. Gaplek harus ikut patroli.

Pada hari Kamis,  Pak dosen Kaspo habis mengajar. Mulutnya kecut. Di taman kampus dia keluarkan bekal slepen berisi tembakau, lengkap dengan cengkeh dan woor cap 55. Setelah diramu, diapun klepas-klepus merokok. Gaplek, tendik yang tempo hari tertangkap tidak pakai helm, melihat dosen Kaspo. Di dekati, disapa, dan kemudian di tanya, “Pak Dosen merokok?”. 

Dosen Kaspo kaget.

Merokok adalah hal nista di kampus. Kampus menerapkan peraturan ketat tentang rokok. Ini wujud kepedulian pada kesehatan warga kampus. Peraturan adalah peraturan. Harus ditegakkan setegak-tegaknya.  Bukankah peraturan itu dibuat untuk menciptakan keteraturan dan kedisiplikan, juga keadilan. Siapa yang merokok di dalam kampus harus dicatat pada buku besar. Catatan itu sebagai bukti dan sejarah, bahwa ada dosen bandel merokok di kampus. Catatan itu hanya bisa dihapus jika dosen Kaspo mau berkontribusi pada penegakan peraturan kampus. Dosen Kaspo harus ikut patroli.

Pada hari Jumat, Bu Mlati ke kampus. Bu Mlati adalah istri dosen, pegiat dharma wanita. Seperti biasa, dia menuju kantin. Buka lapak dagangan, baik bikinan sendiri maupun titipan. Mulai dari minuman ringan sampai makanan berat. Baik dipajang di etalase, maupun ada di kulkas.

Dosen Kaspo habis mengajar. Mulutnya kecut tapi dia tak lagi berani merokok. Khawatir dipergoki Gaplek yang kemarin memergokinya. Dia pilih masuk kantin, mencari cemilan pengganti rokok. Begitu masuk, dosen Kaspo tak menyangka isi di dalamnya. Dia dapati banyak dagangan kantin yang berbungkus plastik. Benda terlarang di kampus tempat dia berkerja. 

Dosen Kaspo pun dapat ide untuk menghapus catatan pelanggaran merokok yang tempo hari dilakukannya. Temuan plastik sebagai bungkus dagangan di kantin akan diajukan sebagai bukti penghapus catatan. Dosen Kaspo bersiap melakukan operasi.

Dia dekati bu Mlati, untuk menanyakan dan memotret sekitar sebagai bukti. 

"Bu Mlati jualan dagangan berbungkus plastik?"

Bu Mlati tidak kaget. 

Tanpa fufu fafa, tanpa sepatah kata, Bu Mlati justru menatap tajam ke dosen Kaspo. Nyali dosen Kaspo langsung ciut. Wibawa yang selalu melekat pada dirinya, hilang seketika. Mengkerut, lalu sirna. Dosen Kaspo tidak berani melanjutkan misinya menghapus catatan pelanggaran.

Tak berani membalas tatapan bu Mlati, dosen Kaspo balik kanan. Pergi keluar kampus, memilih jajan bakso dan es teh di warung Yu Terong.

[tamat]


Cerita di atas fiktif belaka. Kesamaan nama hanya kebetulan saja. Alur dan ide cerpen di atas terinspirasi dari cerpen mini berjudul "Hukuman" karya Eko Triyono yang dimuat pada buku Republik Rakyat Lucu. Judul buku juga menginspirasi penamaan Universitas Rakyat Lucu pada tulisan ini.

Friday, 1 November 2024

Paijo, plastik, dan suksesnya hilirisasi riset

Ini tentang Paijo. Pustakawan ndeso, yang tak lagi muda, tidak kaya, tapi cukup berbahaya. 

Rumahnya di pelosok, hanya hitungan meter dari tepi hutan. Saat malam hari, suasana sepi. Hening. Hanya suara angin berhembus, jangkrik mengerik. Kadang kodok mengorek, kunang-kunang beterbangan. 

Suasana itulah yang sering dimanfaatkan Paijo untuk kontemplasi. Dia begitu terobsesi dengan Suryomentaraman. Bangsawan yang menanggalkan status kebangsawanannya, keluar keraton, gemar menepi untuk mencari yang sejati. 

*****
Malam belum larut. Paijo menikmatinya dengan nyante. Ditangannya terselip udud lintingan. Harum cengkehnya terasa kuat. Tajam. Menguar di udara. 

Di atas lincak teras rumah dia duduk. Klepas-klepus sambil melihat bintang di langit. Di sampingnya tersaji secangkir kopi dan tempe garit goreng di atas daun pisang.

Sejenak dia duduk sendirian. Hingga tampak dari kejauhan, Karyo, teman karibnya datang mendekat.
Karyo: "Jo, setiap aku ketemu kamu, seringnya kamu melamun. Pilihan presiden sudah selesai, pulung telah jatuh pada orang yang tepat. Jangan kau pikirkan"
Paijo: "Kang. Bukan presidennya yang tak pikirkan, Kang. Tapi wa..."

Paijo menutup mulutnya sendiri. Suara "Wa.." yang keluar dari mulutnya tidak berlanjut. 

"Sedang memikirkan plastik, Kang," ungkap Paijo.

Karyo kaget. Tidak biasanya Paijo begitu.

"Lamunanmu di luar nalar, Jo," ucap Karyo.

Umumnya Paijo melamun tak jauh dari masalah perpustakaan, mulai dari perkembangannya, pustakawannya, dan kritiknya. Sekarang masalah plastik. Tentu ini jauh dari kebiasaan. Barang sepele macam plastik, jadi lamunannya Paijo. Sepertinya materi plastik itu tidak setara dengan kapasitas Paijo. Terlalu remeh. Receh.

Namun Karyo tetap mencoba mendengarkan uraian Paijo.

Tak berselang lama, istri Paijo muncul, membawa nampan berisi secangkir kopi. Tentu saja untuk Karyo, kawan karib suaminya.

****

Paijo mulai bercerita.

Kehidupan manusia saat ini, tak dapat lepas dari plastik. Jika toh bisa, pasti ada pengecualiannya. Plastik telah sukses masuk ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Dari tingkat atas sampai bawah, dari kaya sampai miskin, dari desa sampai kota. 

Dan saat begitu banyak orang memanfaatkan plastik, maka potensi sampah plastik pun semakin banyak. Menggunung. Di pasar, di pinggir jalan, bahkan di sungai sampai lautan.

"Di sisi lain, kita tidak dapat tutup mata, Kang. Plastik itu wujud suksesnya hilirisasi riset", ungkap Paijo.

Ya. Bagi Paijo, plastik menjadi contoh riset yang sukses. Riset yang berdampak, riset yang bermanfaat, riset yang membumi, riset yang bukan utopia, riset yang begitulah.

Para peneliti, menurut Paijo harus berkaca pada ekosistem risetnya plastik sekaligus penyerapan oleh konsumennya.

"Jangan semena-mena sama plastik," tegasnya.

Plastik itu simple, ringan, tapi bermanfaat. Tepat guna. Seharusnya riset punya ruh yang membumi.

"Bukan riset yang ngawang-awang, narsistik, tapi dampaknya mendekati 0 (nol)," kata Paijo.

"Wah, ya jangan terlalu keras begitu, Jo," Karyo menasehati.

Paijo sebenarnya tidak keras juga dalam menanggapi riset yang tak berdampak. Toh memang itu terjadi. Riset, yang dicita-citakan dapat terhilirkan itu, tak semua berhasil. Macam-macam masalahnya. Mulai dari manfaat yang kurang, perlu dukungan dana besar untuk melakukan produksi massal, maupun karena memang sebenarnya kurang berkualitas, kalah jauh dari hasil riset perusahaan.

"Kalah, Kang," kata Paijo. Perusahaan itu punya dana untuk riset, dan lab yang tak kalah canggih. Lebih canggih bahkan dibanding milik kampus. Perusahaan hanya kalah dalam satu hal.

"Apa itu, Jo," tanya Karyo.
"Ndak punya Profesor", jawab Paijo.

"Tapi, perusahaan itu, dengan dana yang dimiliki bisa manggil profesor kampus, diajak mroyek. Mesti seneng. Begitu. Hahahaha," Paijo ngakak.

----

"Jo, jangan-jangan level kita itu bukan hilirisasi riset!, ungkap Karyo.

"Lalu?", tanya Paijo

"Hilirisasi periset," Karyo menjawab sambil membetulkan sarungnya yang melorot. Pulang.

Paijo tersenyum. Agaknya dia membenarkan ungkapan Karyo.


Udud klembak menyan yang tersisa sesenti itu dicecek. Paijo meraih cangkir kopinya. Hampir habis. Tinggal satu sruputan saja. Dia habiskan. Ditarik sarungnya jadi selimut. Dia bergumam, memanjatkan doa. Semoga penemu plastik mendapat pahala, diampuni dosanya, dan masuk surga.

Sesaat kemudian Paijo sudah terbaring, tidur pulas di lincak teras rumah bercengkerama dengan mimpinya.

[kalau ada ide lagi, bisa ada sambungannya] 



Sunday, 20 October 2024

Universitas mana yang publikasinya paling berkualitas? Hasilnya mencengangkan

Muncul poster yang menggelitik. Poster itu berisi nama-nama universitas dengan urutan berdasar kualitas riset. Paling atas ada UMS. Ini yang mungkin membuat mak jegagik.

Ini posternya.

Sumber: IG ini

Baik, sekarang mari kita cek silang ke database yang dapat sedikit menggambarkan kondisi riset kampus-kampus tersebut. Saya pakai Incites lagi. Ya, sekedar mengonfirmasi saja, sih.

Oia, ini mur-ni iseng ya. Jika ada yang tidak sepakat dengan term kualitas didasarkan pada data Incites dan beberapa angka di dalamnya, saya tetap terima. Santai saja. 

Oke, tanpa fufu fafa -  fufu fafa, berikut saya sajikan data yang diambil per 20 Oktober 2024. Untuk versi fullscreen silakan klik di sini: https://datawrapper.dwcdn.net/dLcWB/5/

Keterangan terkait angka dan kategori dapat dilihat di https://incites.zendesk.com/hc/en-gb/articles/24647448030353-InCites-Indicators-Cheat-Sheet

Dari data di atas, untuk total publikasi tidak usah dibahas dulu. Universitas besar biasanya berbanding lurus dengan jumlah publikasinya. Kita fokus ke angka yang konon dianggap mewakili kualitas.

Berikut ini beberapa catatan saya.

  1. Dalam bentuk persen, paling tinggi pada kategori  documen in top 1% adalah UMS. Sebanyak 15 dari 459 publikasinya menduduki top 1%. Jika dikonversi ke % UMS memperoleh angka 3.27%. Sementara UGM ada di posisi 11 dengan 0,46%.
  2. Pada kategori top in 10%, posisi paling atas juga diduduki UMS, dengan angka 9,59%. Angka ini diperoleh dari 44 dokumen dari 459 publikasinya. Sementara UGM ada di posisi 11 dengan 6,05%.
  3. Pada angka % highly cited papers, UMS masih bertahan di posisi paling atas. dengan 2,61%. Angka ini diperoleh dari 12 dari 459 publikasi. Sementara UGM ada di posisi 10 dengan 0,26%.
  4. Untuk kategori % hot papers, posisi puncak diduduki UAD dengan 0,56%. UMS ada di posisi kedua dengan angka 0,22%. Sementara UGM ada di posisi 8 dengan 0,04%.
  5. Untuk kategori % dokumen yang terbit di jurnal Q1, posisi paling atas diduduki oleh Universitas Syah Kuala. Unsyiah memiliki 37,23% publikasi di Q1. Sementara UGM ada di posisi 4 dengan 32,91%.

Kesimpulan
Sidang pembaca dapat menyimpulkan sendiri-sendiri, apakah hasilnya mirip dengan poster yang beredar atau...


Sekian dan terima kasih

Tulisan terkait:

Saturday, 19 October 2024

Dari 9 kampus ini, manakah publikasinya yang paling bermanfaat?

Oke, to de poin saja. Ini analisis iseng. Ingin tahu seberapa dampak dari publikasi para anggota kampus (biasanya disebut civitas) yang ada di Indonesia. Tidak semua, hanya 9 saja yang saya sajikan.

Sembilan itu terdiri dari UI, ITB, UGM, IPB, ITS, Undip, Binus dan UII.

Dampak alias impact, atau pada judul saya pakai istilah "manfaat",  saya ambil dari Incites. Beberapa angka yang tampil yaitu

  • total dokumen sejak 2020 s.d. 2024 (per 19 oktober 2024)
  • total dokumen yang dikutip 
  • total berapa kali dikutip
  • dokumen dikutip dalam %
  • h-indeks
  • h-indeks dalam %
  • h-indeks tanpa self sitasi
  • total berapa kali dikutip tanpa self sitasi
  • citation impact (rata-rata sitasi per paper)
  • impact relative to world

Dampak dalam hal ini, hanya dilihat dari berapa kali dikutip dengan beberapa variasi angka turunannya. Misalnya h-indeks.

Saya sajikan datanya dalam datawrapper di bawah ini.

Note: tampilan layar penuh ada di https://datawrapper.dwcdn.net/gO5b0/3/

Beberapa kesimpulan kecil

  1. Dari jumlah dokumen, UI menempati ranking teratas dengan 10.344 dokumen
  2. Dari jumlah publikasi yang disitasi, UI juga menempati ranking teratasa dengan 5.962 dokumen yang dikutip
  3. Berdasar jumlah dikutip, UI tetap nomor 1 dengan 62.771 kali disitasi
  4. Jika dihitung dalam persen, berdasar dokumen yang dikutip, paling tinggi ITS. Dari total 2.562 publikasi ITS, sebanyak 66,74% dikutip. UI hanya membukukan 57,64% dari total publikasinya saja, dan menempati posisi terbawah.
  5. Berdasar h-indeks, UI memiliki angka 72, dan menempati posisi paling atas
  6. Jika h-indeks dihitung dalam persen dari total publikasi, paling tinggi ditempati oleh UII dengan 2,66%. UI, dengan h-indeks 72 jika dihitung dalam % hanya 0,70% dari total publikasi
Data lengkapnya, silakan cek pada tabel di atas, atau untuk tampilan layar penuh silakan klik: https://datawrapper.dwcdn.net/gO5b0/3/

Kesimpulan besar
  1. Banyaknya dokumen berpengaruh pada tingginya dokumen tersebut dikutip oleh peneliti lain
  2. Banyaknya dokumen juga berpengaruh pada angka h-indeks
  3. Namun, banyaknya dokumen juga berbanding lurus dengan banyaknya dokumen mubadzir. Mubadzir dalam arti dikutip, lho ya. Ini terlihat dari UI yang dokumennya terbanyak, namun yang dikutip hanya 57,4% saja. Sedangkan ITS dengan 2.562 publikasi, sebanyak 66,74% diantaranya dikutip
  4. Pada h-indeks juga demikian, UI memiliki h-indeks tertinggi. Namun angka itu hanya 0,70% dari total publikasinya. Sedangkan UII meski cuma memiliki h-indeks 26, namun itu sebanyak 2,66% dari total publikasinya.
  5. UGM, sebagai perguruan tinggi yang jumlah warganya paling banyak, ternyata...
    1.  dari sisi jumlah publikasi kalah dengan UI. 
    2. Dari jumlah dokumen publikasi yang dikutip oleh publikasi lain, juga kalah dari UI. 
    3. Dari % publikasinya yang dikutip publikasi lain malah ada di posisi 7 dari 9 kampus yang disajikan angkanya. 
    4. Dari sisi h-indeks ada di posisi 3, namun jika dikonversi ke % ada di posisi buncit bareng UI dengan 0,70%.
    5. dari sisi citation impact (rata-rata sitasi per paper) ada di posisi 8, dengan angka 4,24.

Karyo: Lalu, mana yang paling bermanfaat?
Paijo: YNTKTS

Itu!







, , , ,

Demonstrasi Pasca 98 di UGM yang perlu diketahui, mulai isu UKT, Bonbin, Tukin, dan simulasi

Pasca 1998, aksi demonstrasi mahasiswa memiki kecenderungan fluktuatif. Naik turun intensitas dan isu yang dibawa. Termasuk di dalam kampus UGM. Bunderan dan gedung pusat menjadi titik tempat berkumpulkan para demonstran. Maka, aksi tidak dapat dilepaskan dari dua tempat ini.

Lalu, aksi apa saja yang perlu kita ketahui pasca 1998, dan terjadi di dalam kampus UGM?

Menurut saya, setidaknya ada 2 aksi yang perlu kita ketahui.


Aksi dosen tahun 2005

Dosen? Iya. Dosen. Jadi anda, sidang pembaca perlu tahu, bahwa dosen juga pernah melakukan aksi di kampus UGM. Itu terjadi tahun 2005, bulan mei, tanggal 2. Tepat di hari pendidikan nasional. Bahkan, pada media ditulis bahwa dosen mengancam mogok. 

Isu apa yang di bawa? 

"Mereka memprotes kenaikan gaji rektor hingga empat kali lipat dan mengancam akan mogok jika keputusan itu tidak direvisi.Para dosen dan karyawan mengenakan pita hitam di lengan kiri." Demikian dikutip dari https://nasional.tempo.co/read/60429/dosen-ugm-ancam-mogok.

"Ini sebagai aksi duka atas matinya dan kebersamaan di UGM. Semua dosen dan karyawan akan mengenakan pita hitam," kata staf pengajar Fisipol UGM, Arie Sujito. Demikian kutipan dari https://news.detik.com/berita/d-353296/gesekan-di-ugm-makin-ramai.

Berita terkait dapat dilihat di tautan berikut:

  • https://nasional.tempo.co/read/60429/dosen-ugm-ancam-mogok
  • https://nasional.tempo.co/read/60497/rektor-janji-tidak-akan-berikan-sanksi
  • https://news.detik.com/berita/d-353472/rektor-ugm-tolak-dialog-dengan-dosen-di-lokasi-demo-
  • https://news.detik.com/berita/d-357840/soal-demo-kenaikan-gajinya-rektor-ugm-siap-berdialog
  • https://news.detik.com/berita/d-353296/gesekan-di-ugm-makin-ramai--
  • https://news.detik.com/berita/354801/dosen-ugm-ancam-gugat-rektor
  • https://news.detik.com/berita/d-353428/ratusan-dosen-dan-mahasiswa-ugm-demo-di-balairung
  • https://news.detik.com/berita/352632/gaji-rektor-ugm-naik-400--dosen-ancam-mogok-kerja

Aksi tahun 2016
Sama seperti 2005, di tahun 2016 aksi juga bertepatan dengan 2 Mei. Ribuan peserta aksi berasal dari mahasiswa dan tendik. Isu yang dibawa terkait dengan UKT, Tunjangan Kinerja tenaga kependidikan, dan kantin bonbin atau kebon binatang di FIB. 

Selain itu, mahasiswa dipicu juga oleh anggapan rektor bahwa aksi yang dilakukan hanya merupakan simulasi. 

"Sementara itu, Rektor UGM Dwikorita menyampaikan bahwa aksi demo yang dilakukan oleh para mahasiswa ini adalah simulasi untuk melatih mahasiswa berpolitik" demikian dikutip dari https://regional.kompas.com/read/2016/05/02/15514441/Demonstrasi.Disebut.Cuma.Simulasi.Ribuan

Rekaman pernyataan rektor terkait simulasi ada di https://www.youtube.com/watch?v=H3a040yowPM


Berita terkait dapat dilihat di

  • https://www.liputan6.com/regional/read/2497944/rektor-ugm-sebut-aksi-demo-mahasiswa-cuma-simulasi
  • https://www.youtube.com/watch?v=1wMpQT5e97k
  • http://www.tribunnews.com/regional/2016/05/03/rektor-ugm-masih-dikepung-mahasiswa-gara-gara-ucapan-soal-demo
  • https://www.youtube.com/watch?v=H3a040yowPM
  • https://www.youtube.com/watch?v=7boZ6R7zN0M
  • https://regional.kompas.com/read/2016/05/02/15514441/Demonstrasi.Disebut.Cuma.Simulasi.Ribuan.Mahasiswa.UGM.Tuding.Rektor.Bohong
  • https://news.detik.com/berita/d-3201547/1000-an-mahasiswa-ugm-demo-menolak-ukt-dan-relokasi-kantin-bonbin
  • https://news.detik.com/berita/d-3202227/ini-penjelasan-ugm-terkait-demo-mahasiswa-kemarin
  • http://wargajogja.net/lingkungan/kontroversi-relokasi-kantin-bonbin-ugm.html
  • http://kopertis12.or.id/2016/05/02/peringati-hardiknas-ribuan-mahasiswa-ugm-demo-rektor.html

Friday, 18 October 2024

,

Plastik dan tanggung jawab intelektual ilmuwan

Kemajuan, konon selalu dilekatkan pada peran para ilmuwan. Hal ini akan lebih jelas jika dilihat titik-titik waktu yang dijadikan ciri perkembangan jaman, yang kemudian disebut berbagai tingkatan revolusi industri. 

Paijo: Atau, jangan-jangan bangunan konsep revolusi industri itu adalah projek ilmuwan/insinyur untuk mendakwa bahwa mereka penting? 
Karyo: Bisa jadi, Jo.

sumber: ini

Lihat gambar di atas, penciri revolusi industri 1  sampai 4, terkait dengan teknologi. Mulai dari mesin uap, listrik dan produksi massal, IT dan saat ini cyber.

Karya para insinyur memang mengubah. Namun, ada yang terlewat. Mereka melupakan dampak yang akan terlihat setelah terakumulasi sekian tahun.

Misalnya pada karya berbentuk plastik kresek atau semacamnya.

Plastik, pada saat awalnya muncul dan ditemukan teknologi penciptaannya, pasti dianggap sebagai capaian gemilang. Keberhasilannya dirayakan dengan suka cita. Setelah ditemukan, melalui bentuk plastik pada umumnya, manusia dapat memiliki bungkus yang sangat elastis, dapat dipakai untuk membawa apapun, dalam bentuk dan ukuran yang beragam, dan tentu saja murah. Mereka pun bergembira.

Saking murahnya, plastik selalu disediakan oleh para pedagang sebagai bentuk peningkatan kualitas layanan. Pembeli otomatis akan dapat plastik saat membeli barang. 

Namun siapa sangka, sekian puluh tahun kemudian plastik menjadi masalah.

Plastik yang awalnya jadi capaian gemilang, kini menjadi musuh dan dimusuhi. Bahkan, orang yang berhasil menjaga jarak sejauh-jauhnya dengan plastik, dianggap berprestasi dan berkontribusi pada keberlanjutan bumi. Ironis.

Pendek kata, di balik capaian gemilang para ilmuwan yang berhasil menciptakan plastik, ada keterlambatan kesadaran akan dampaknya. 

Sebenarnya bukan hanya plastik. Namun juga mobil, motor, pemanfaatan batu bara, dan lainnya lupa. Dampak buruknya dirasakan sekian puluh tahun kemudian. Kesadaran yang terlambat ini, kemudian memunculkan konsep perlambatan entropi, untuk mengurangi beban lingkungan.

Begitulah ilmuwan, mereka juga manusia biasa.
Kadang saya berfikir, kerusakan lingkungan merupakah anak haram dari perselingkuhan antara ilmuwan dan para pemilik modal.
Itu!

Atau, sebenarnya ketika kita pakai plastik.....
.......kita sedang memberi penghargaan, apresiasi para insinyur penemunya. 

Itu (lagi)! 

*** 

Lalu apa tanggung jawab intelektual ilmuwan pada plastik?

Kalau mereka bisa membuat, mereka harusnya juga bisa mengolah kembali apa yang dia buat. Melakukan rekayasa terbalik. Itu tanggung jawab intelektualnya. Ironi jika mereka justru menghindari yang dulu diciptakannya.

Masalah plastik seharusnya tidak selalu diarahkan pada para konsumen plastik. Tariklah ke hulunya! Produsennya! Dan juga ilmuwan yang menciptakannya. Pada mereka melekat tanggung jawab tentang permasalahan plastik. Bahkan tanggung jawabnya lebih besar dari konsumen yang menggunakannya.

Itu!

Tuesday, 8 October 2024

Roti Sisir di kampus kita

Entah berdasar sisi sebelah mana roti ini disebut roti sisir. Saya cari gigi sisirnya? ndak ada. Ompong? Mungkin. Tapi anehnya ya tetap saya beli juga. Meskipun saya ndak punya rambut yang cukup untuk disisir.

Saya kenal roti ini saat harganya kisaran 200-250 rupiah per bungkus. Sebelum krisis moneter tahun 98, yang kemudian gonjang-ganjingnya membuat Pak Wo harus pergi ke Yordan. Saat itu, kebetulan ibu saya buka warung kelontong. Jadi saya tahu harganya. 

Membeli dan makan roti sisir, bagi saya semacam membangkitkan memori masa lalu. Kenangan yang sangat sentimentil, dan begitu menyentuh perasaan. Roti ini merupakan roti yang harganya paling terjangkau dibanding roti sejenis lainnya. Jadi primadona. Saat makan, suasana yang tercipta mirip makan roti seperti di iklan tipi-tipi. Apalagi itu, ada menteganya. Wis lah. Ini roti sangat ramah dengan kantong warga saat itu.

Saya tak perlu ceritakan ditailnya. Rekan-rekan yang seusia dengan saya, kemungkinan besar pernah merasakannya.

****

Agaknya roti ini cocok jika dimakan sambil ngopi. Bisa bikin sendiri, atau beli di lantai 4 SGLC. Itu lho, yang kata /rif tinggal tunjuk sana dan tunjuk sini bagai seorang raja. Lalu dibikinkan. Satu menit setelahnya langsung jadi. Layanannya benar-benar prima, lebih prima dari Prima. Tapi ya tetap harus bayar. Ndak gratis.

Lebih masuk lagi jika dimakan bareng-bareng, setelah olah raga misalnya, di Jumat pagi. Sambil ngobrol ngalor ngidul, fufu fafa fifi fefe dan fofo. Mengobrolkan apapun. Tentang negara, tentang UKT, tentang macetnya jalanan kota, angsuran, pekerjaan, pilkada, harga-harga, dan semacamnya. 

Atau tentang strategi-strategi menyelamatkan masa depan bumi dan lingkungan, yang kabarnya diambang bahaya. Apapun, lah. Bebas.

**

Kini, meski beda merk, roti sisir harganya Rp4000 per bungkus. Sekitar 16x lipat atau 1600% naiknya, dalam 26 tahun. Tentu saja, ada banyak pertimbangan hingga si produsen memasang harga segitu. Mungkin mahal, tapi untuk sebuah nostalgia rasa dan suasana, bisa jadi tidak mahal. 

Namun demikian, semoga UU Cipta Kerja bisa berdampak pada penuruhan harganya. Atau mungkin distribusinya perlu pakai mobil Esemka, biar harganya dapat ditekan dan lebih terjangkau, khususnya bagi mahasiswa.

Oia, roti sisir ini saya beli di Teknik Mart. Lokasinya di dalam kampus. Dekat dan tentu saja bersahabat. 

Yang ingin membangkitkan memori masa lalu yang sentimentil, bisa meluncur ke sana. Bisa bayar dengan cara apapun, uang pas, uang receh, atau uang tak kasat mata. 

Salam plastik. Eh, Roti Sisir