Tuesday, 28 September 2021
Monday, 13 September 2021
Keren! Penulis ini dalam 1 tahun hasilkan 1,25 paper per pekan, semuanya terindeks Scopus
Pada berita di atas, disebutkan bahwa si penulis masuk MURI. Untuk memastikan benar-benar masuk MURI, saya cari di web MURI. Ketemulah laman berikut ini.
| Sumber: https://muri.org/Website/ |
Ketiga, ketika ditelusur ke ORCID, ditemukanlah laman profil di bawah ini.
![]() |
| Profil ORCID a.n. Agus Purwanto |
Pada ORCID tertera Scopus ID yang ditautkan sama persis dengan Scopus ID pada gambar 1, yaitu 57215569034. Artinya klop juga.
Dengan tiga verifikasi tersebut, saya anggap saja profil Scopus itu valid dan dipelihara.
Terdapat 73 paper di Scopus (sampai 4 Juli 2021) yang terkait dengan ID Scopus 57215569034.
![]() |
| Source type dari 65 publikasi 2020 |
![]() |
| Type dokumen dari 65 publikasi 2020 |
Sebenarnya ini biasa. Yang jadi luar biasa, 1,25 paper per pekan itu semuanya terbit. Dari 65 dokumen terbit di tahun 2020 tersebut, semuanya terbit di jurnal. Bentuknya pun 93% artikel, dan sisanya review (versi Scopus).
Tentu ini menambah luar biasa lagi.
| Dokumen berdasar negara penulis |
| Filter berdasar UPH dalam berbagai variasi |
| Laman Sinta ID 6706160 |
| Hasil filter berdasar UPH |
| Paper penulis di Systematic Review in Pharmacy |
![]() |
| Status Jurnal SRP di SCopus |
| Sebaran paper di Systematic Review in Pharmacy |
| Jumlah penulis unik |
| Frekuensi 1st author |
Gambar di atas menunjukkan frekuensi nama-nama yang menjadi penulis pertama pada 65 dokumen yang terbit di tahun 2020.
![]() |
| TreeMap berdasar author keywords |
Tentu saja produktifitas menulis ini dapat menjadi penyemangat kita, dan kita semuanya bisa lebih produktif lagi dalam menulis juga menerapkan tulisan tersebut.
Sunday, 15 August 2021
Pernyataan penulis berdasar CRediT
Kawan semuanya
Pernah menulis ilmiah? pernah kolaborasi?
Nah, setiap orang yang ikut kolaborasi pasti ada peran masing-masing. Benar, kan? Kecuali ada "tangan kuasa" yang nitip nama demi popularitas atau ingin meningkatkan indeks-nya. Cilakanya, anda tak punya kuasa menolaknya.
Nah, CRediT bisa jadi solusi menentukan peran masing-masing penulis.
Info tentang CRediT ada di https://casrai.org/credit/. CRediT sendiri kependekan dari (Contributor Roles Taxonomy). Saat saya menulis blog ini, CRediT memilah peran para kontributor dalam 14 peran.
Dalam proses penulisan paper, jurnal yang menerapkan CRediT akan meminta para penulis untuk menandatangi pernyatan yang menunjukkan peran masing-masing kontributor.
Peran dan nama kontributor kemudian ditulis pada bagian akhir paper. Contohnya di bawah ini, ditulis di atas references, di bawah Acknowledgments:
| Sumber paper https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.1003706 |
Nah, jadi jelas siapa melakukan apa.
Nah, jika ada yang mau nitip nama, sekarang bisa ditanya, "Mau ditulis sebagai apa, Tuan?"
Tuesday, 20 July 2021
Vosviewer online: wajib anda pakai di paper bibliometrik
Kawan semuanya
Analisis bibliometrik sepertinya sedang digemari. Analisis yang konon diklaim miliknya pustakawan ini sudah melebar, dilakukan oleh siapapun yang berminat. Apalagi, saat ini alatnya semakin mudah digunakan. Tidak perlu manual mengumpulkan dan menghitung.
Kasihan para pustakawan, ya. Lahannya tergerus. 😄
Salah satu alat yang dipakai yaitu Vosviewer. Nah, jika kita lakukan pencarian paper-paper dengan kata kunci, title, atau abstrak mengandung kata "vosviewer" pada databas Scopus, maka terlihat grafik di bawah ini.
Gambar 1: Grafik pertumbuhan paper "Vosviewer" di Scopus
Gambar di atas memperlihatkan pertumbuhan paper-paper analisis bibliometrik yang menggunakan Vosviewer sebagai alatnya. Tahun 2020 terdapat 495 paper, sementara itu tahun 2021 pertengahan sudah ada 494 paper. Artinya jika sampai akhir 2021 kemungkinan besar akan semakin banyak lagi.
****
Nah, visualisasi dataset menggunakan Vosviewer pada paper-paper tersebut masih berbentuk file statis. Tidak interaktif. Namun, mestinya sekarang tidak lagi.
Vosviewer telah memiliki versi online sebagai penyempurnaan versi online sebelumnya. Vosviewer online ini beralamat di https://app.vosviewer.com/. Panduan penggunaan, termasuk cara memanfaatkan fitur share dapat dilihat di https://app.vosviewer.com/docs/. Pokoknya lengkap di situ.
Ndak perlu saya ulangi lagi, ya.
Oia, saya pakai Simpan UGM untuk file json-nya, sehingga url Vosviewer online-nya akan seperti ini:
https://app.vosviewer.com/?json=URLSIMPANUGM&scale=1.5&curved_links=false
Berikut beberapa tampilan VV online dari dataset yang pernah saya buat.
Sunday, 13 June 2021
[[ bahasa ]]
Saturday, 29 May 2021
Sertifikat
Namun, seksinya sertifikat itu ternyata juga membuat kepala pening.
“Sebel saya kalau pas presentasi ada yang tanya: link sertifikatnya mana?”, kata Dr. Ciprut, dosen tersohor di kampusnya. Pertanyaan tentang sertifikat itu sebenarnya hanya di ruang obrolan pertemuan maya, namun tetap saja mengganggu. Bagaimana tidak, wong saat seminar luring ndak pernah ada peserta yang angkat tangan tanya sertifikat. Apalagi, Dr. Ciprut merupakan dosen senior, mana ada yang berani. Tentu ini perubahan yang ekstrim.
Sama meski tidak persis, dengan yang dialami Dr. Kuprit. URL presensi seminar yang dikelolanya tersebar di berbagai grup WA. Presensi itu jadi dasar pembuatan sertifikat. Efeknya bisa ditebak. Banyak yang tidak hadir, namun mengisi presensi. Karena presensi ini diset otomatis ke sistem sertifikat, maka banyak gundul-gundul yang tidak hadir, tapi dapat sertifikat. Sindikat yang luar biasa, sistematis, masif dan terencana. Sekaligus mencermintakan solidaritas yang tinggi. Top. Tapi tetap bikin pening.
“Lha, kok ya URL presensi disebar di grup WA. Harusnya kan hanya boleh di ruang seminar saja,” kata Dr. Kuprit sambil tertawa. Ngakak. Geli campur sedih. Mungkin juga marah. Karena geli, sedih, juga marah itu mungkin wajah inteleknya jadi berubah: imut dan lucu.
**********
Sore itu sehabis Magriban, Paijo makan malam bersama istrinya. Lesehan saja di rumah, dengan menu sebungkus nasi goreng ukuran jumbo.
Setelah acara makan bersama itu selesai, Paijo membuka obrolan. “Saya ndak habis pikir, Bu,” ucap Paijo. “Ada dosen yang marah-marah, gara-gara waktu presentasi di seminar online, pesertanya malah tanya link sertifikat,” lanjutnya.
“Ya wajar, tho,” istrinya menjawab. Pendek saja.
Paijo heran, kenapa jawaban istrinya cuma sependek itu. Malah dianggap wajar. “Ya wajar, wong tanyanya pas sedang presentasi, jadinya ya terganggu,” imbuh istri Paijo sebelum ditanya.
“Lho, ya ndak bisa begitu. Mosok yang disalahkan selalu pesertanya,” tanggap Paijo.
“Harusnya dosen itu juga introspeksi diri, bertanya pada dirinya sendiri tentang materi yang dia bawakan, mungkin tidak menarik. Atau mungkin peserta sudah bosan, dan semacamnya. Sebagai sesama pustakawan, jelas aku merasa tersinggung juga” tambah Paijo.
“Bentar, Kang. Itu jane dosen apa dan siapa pesertanya?”, tanya Istri Paijo.
“Yang presentasi dosen (ilmu) perpustakaan, pesertanya para pustakawan,” jawab Paijo.
“Wo. Pantes saja, kang,” kata istri Paijo sambil mberesi piring.
“Lho, pantas bagaimana tho, Bu?”, tanya Paijo.
“Itu sudah kodrat, Kang. Pustakawan itu yang memang mungkin levelnya baru segitu. Nyari sertifikat. Kudune dosen-dosen itu sadar juga, bahwa itulah realita dari para produknya sendiri, yang tentu saja mencerminkan kualitas produsennya. Wong dosen juga demikian. Sama saja, kok,” ungkap Istri Paijo.
“Memangnya dosen ilmu perpustakaan juga pada cari sertifikat?”, Paijo heran sambil bertanya.
“Iya. Tapi bentuknya beda. Kalau pustakawan itu kesempatannya ya berburu sertifikat, namun kalau dosen (ilmu) perpustakaan memburu sertifikat (si) + tunjangannya,” tegas Istri Paijo sambil membuka kran, lalu sibuk mencuci piring.
Paijo mlongo. Dia sadar. Ternyata memang sama saja. Podho wae. Ora bedo. Tidak pada rumangsa.
Inilah masa, ketika sertifikat bukan menjadi bukti kualitas seseorang "setelah", namun menjadi penarik seseorang "sebelum" sebuah acara dimulai.
[[ tamat ]]
Sumber gambar: pixabay
Wednesday, 26 May 2021
Inilah peta jejaring kabinet rektor UGM sejak 1998, prediksi rektor 2022, serta peluang hattrick FT UGM
Iseng saja, melihat peta kabinet rektor UGM sejak 1998-2021. Keisengan ini saya lakukan pas liburan, Rabu kemarin, tanggal 26 Mei 2021, atau 14 Sawal tahun 1954 Jimakir.
Pemetaan ini dilakukan untuk mendukung analisis koalisi dalam kabinet rektor di UGM, serta bagaimana kemungkinan kompetisi pilihan rektor (pilrek) periode berikutnya. Pemetaan ini menggunakan data kabinet rektor sejak 1998-2021, yang terdiri dari 6 rektor terpilih beserta para wakil/pembantu rektor yang ada pada masing-masing periode. Data diperoleh dari googling serta validasi menggunakan data dari rekan-rekan di kantor arsip UGM.
Tujuan utama dari pemetaan ini adalah sinau menggunakan Vosviewer. :)
Sebagai data awal, berikut merupakan data rektor UGM + pembantu/wakil rektor sejak 1998 berdasarkan fakultas.
(Tabel 1: data fakultas pada 6 periode rektor)
- 1998 - 2001: Fisipol, FE, FKU, FPn, FPt, FT, FTP
- 2002 - 2007: Fisipol, FE, FFa, FKH, FMIPA, FPn, FT
- 2007 - 2012: FT, FE, FFa
- 2012 - 2014: Fisipol, FE, FGeo, FT, FKU
- 2014 - 2017: FT, FE, FGeo, FH, FKU
- 2017 - 2022: FT, FE, FH, FKG, FTP
Koreksi:Ada koreksi terkait asal Wakil Rektor pada periode nomor 1 dan 2. FTP seharusnya FPn, FKH seharusnya FPt. Saya belum bisa edit di sini, grafik perbaikan ada di sini.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, "kenapa sejak 1998?"
Jawabannya sederhana, karena saya masuk UGM pada 2001. Pada saat itu rektor yang sedang menjabat merupakan rektor periode 1998-2001. Atau bisa juga didasarkan bahwa pada masa-masa itulah perubahan model pilrek di UGM terjadi, seiring dengan berubahnya status menjadi BHMN. 😆
Oke, lanjut, ya. Data di atas diwadahi dalam software Zotero. Periode dipasang sebagai judul, nama orang (pejabat) pada masing-masing periode dipasang sebagai author, sementara asal fakultas dipasang sebagai tag. Kemudian data dialihkan dalam bentuk RIS, lalu divisualkan menggunakan Vosviewer berdasar nama pejabat yang ada di author, serta visualisasi fakultas berdasarkan isian pada tag/kata kunci.
Catatan: jika pada satu periode ada 2/lebih pejabat dari fakultas yang sama, maka nama fakultas hanya ditulis 1x saja.
Pola rektor sejak 1998
Sejak 1998, jabatan rektor di UGM hanya "dikuasai" oleh 2 fakultas saja, yaitu Fisipol dan FT. Dua fakultas ini berbagi rata. Dari 6 masa jabatan rektor, masing-masing menempatkan 3 rektor. Pola yang terbentuk: Fisipol, Fisipol, FT, Fisipol, FT, FT. Coba lihat polanya, rapih kan?.
Dua fakultas ini sama-sama memiliki 2 periode yang bersambung, serta 1 periode yang terhimpit fakultas lain. Namun, ada 1 catatan, yaitu salah satu dari 3 jabatan rektor yang ditempati FT hanya penyelesaian periode yang belum habis. Hal ini terjadi ketika Prof. Dwikorita (FT) menggantikan Prof. Pratikno (Fisipol) yang diberi jabatan lebih tinggi: menteri.
Catatan lain terkait pola rektor sejak 1998, yaitu meskipun ada fakultas yang bersambung pada 2 periode berturut-turut, namun jika acuannya nama rektor, maka belum pernah ada (baik dari FT maupun Fisipol) yang kadernya berhasil menduduki jabatan rektor pada 2 periode berturut-turut.
Apakah ada yang mencoba? Ada. Pada periode pemilihan 2002, menurut catatan Tempo, Prof. Ichlasul Amal mencoba ingin kembali menjabat rektor, namun gagal. Kemudian pada 2007, menurut catatan ini, Prof. Sofian juga hendak mencoba kembali menjabat rektor, namun gagal. Serta pada 2017, menurut catatan ini, Prof. Dwikorita juga berkeinginan menjabat rektor kembali, namun gagal.
Hal di atas bisa memiliki banyak tafsir. Misalnya tidak adanya rektor yang memiliki kinerja luar biasa sehingga memungkinkan terpilih kembali, atau selalu ada orang baru (pendatang) baru yang menawarkan harapan baru, atau bisa juga menunjukkan bahwa konstelasi "politik" kampus selalu dinamis.
Dominasi FT dan FE
![]() |
| Gambar 1: Kemunculan dan kekuatan jaringan |
Gambar di atas menunjukkan kemunculan fakultas dalam jabatan rektor dan wakil rektor sejak 1998, serta kekuatan jaringannya. Terdapat 13 fakultas yang berkontribusi selama 6 periode rektor. Berarti ada 5 fakultas yang selama 6 periode ini tidak mendudukkan kadernya di jajaran rektor atau wakil/pembantu rektor, yaitu FIB, Filsafat, Psikologi, Biologi, Kehutanan. Ayo, terus berjuang!!
Berdasar gambar di atas, FT selama 6 periode rektor selalu ikut serta dalam kabinet. Rutin. Siapapun rektornya FT selalu ada. Ini juga berlaku untuk FE, bahkan meskipun FE belum pernah mendudukkan kadernya sebagai rektor pada 6 periode terakhir. Siapapun rektornya, FE juga selalu kebagian jatah wakil/pembantu rektor.
Lain halnya dengan Fisipol. Meski 3 dari 6 periode terakhir ini Fisipol berhasil mendudukkan kadernya sebagai rektor, namun peran di kabinet rektor ya hanya pada 3 periode rektor tersebut. Tidak ada kader Fisipol saat rektornya tidak dari Fisipol. Kenapa? ha embuh.
Kabinet FT dan Fisipol
Sebagai 2 fakultas yang mendominasi dalam mendudukkan kadernya sebagai rektor pada 6 periode terakhir, menarik untuk dilihat jejaring kabinetnya.
Namun, sebelum kita lihat kabinet dua fakultas ini, saya garis bawahi lagi fakta menarik, bahwa saat kader Fisipol menjadi rektor, selalu ada kader FT yang terlibat sebagai wakil/pembantu rektor. Namun saat kader FT menjadi rektor, kader Fisipol selalu tidak ada yang terlibat menjadi wakil/pembantu rektor.
Apakah hal tersebut karena Fisipol tidak mau, atau tidak ditawari/ajak, saya belum ada informasi. Anda punya?
Berikut gambar jejaring kabinetnya FT serta kabinetnya Fisipol.
![]() |
| Gambar 2: Jejaring kabinet FT |
Dalam menjalankan tugasnya sebagai rektor selama 3 periode, kader FT menempatkan wakil/pembantu rektor yang berasal dari fakultas teknik dan fakultas lain. Terdapat 8 node (fakultas) jejaring, di antaranya FE, FFa, FGeo, FKU, FH, FTP, dan FKG.
![]() |
| Gambar 3: Jejaring kabinet Fisipol |
Lain halnya dengan Fisipol. Meskipun sama-sama pernah menempatkan 3 kader sebagai rektor, namun berdasar gambar di atas, Fisipol lebih banyak memiliki jejaring fakultas yang ditempatkan sebagai wakil/pembantu rektor. Total ada 11 fakultas, yaitu Fisipol sendiri, kemudian FE, FKU, FPt, FTP, FGeo, FT, FPn, FFa, FKH, FMIPA.
![]() |
| Gambar 4: Jejaring kabinet rektor (keseluruhan) |
![]() |
| Gambar 5: Jumlah keikutsertaan di kabinet rektor serta kekuatan jejaringnya |
Nama pejabat rektor dan wakil rektor pada 6 periode terakhir, memiliki keterlibatan maksimal 2 kali pada kabinet rektor yang berbeda. Diantaranya Prof. Sudjarwadi, Prof. Retno Sunarminingsih, Prof. Didi Achjari, serta beberapa nama lainnya. Total ada 33 nama yang terlibat dalam kabinet rektor selama 6 periode terakhir. Data selengkapnya bisa dilihat pada gambar di atas.
Dari 33 nama pejabat rektorat pada 6 periode terakhir sejak 1998, jika divisualkan membentuk 3 kelompok jaringan, yang terdiri dari 5 klaster.
![]() |
| Gambar 6: Jejaring nama pejabat rektor/wakil rektor |
- Ir. Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan) - FT
- Perry Warjiyo, S.E., M.Sc., Ph.D., (Gubernur Bank Indonesia) - FE
- Ir. Mochamad Basuki Hadimuljono, M.Sc., Ph.D., (Menteri PUPR) - FT
- Retno L.P Marsudi., S.IP., MA., (Menteri Luar Negeri) - FISIPOL
- Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc., (Mensesneg) - FISIPOL
- Ir. Agus Priyatno, IPU., (Direktur Umum Kaltim Methanol Indonesia) - FT
- Prof. Dr. Dato’ Sri Tahir, MBA., - Dr. (HC) bidang Kedokteran
- Ir. Ahmad Yuniarto (Dirut Pertamina Geothermal Energi) - FT
- Dr. Bagus Santoso, M.Soc.Sc. - FE
- Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog. - FPsi
- Dr. dr. Rustamadji., M.Kes. - FK
- Prof.dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.d. - FK
- Prof. Dr. Apt., Subagus Wahyuono, M.S.c. - FFa
- Prof. Dr. Chairil Anwar. - FMIPA
- Ade Agoes Kevin Dwi Kesuma Parta - FH
- M. Nur Budiyanto. - Tendik bertugas di SV
Kita perlu rektor yang ilmuwan benar-benar, bukan sekedar kepala administrasi
- Sejak 1998, terdapat 6 kabinet rektor.
- Dari 6 kabinet itu, hanya ada 2 fakultas yang calonnya berhasil menjadi rektor: 3 dari Fisipol, 3 dari FT.
- Satu dari 3 yang dari FT "hanya" meneruskan jatah yang belum habis.
- Ketika Fisipol jadi rektor, FT selalu ikut ambil bagian sebagai wakil/pembantu rektor.
- Ketika FT jadi rektor, Fisipol selalu tidak ada dalam jajaran wakil/pembantu rektor.
- FT dan FE selalu mendapat peran dalam 6 kabinet rektor.
- Dari 6 periode kabinet rektor sejak 1998-2021, nama pejabat pada periode pertama membentuk 1 klaster terpisah. Periode 2 dan 3 saling terhubung; periode 4,5,6 juga saling terhubung.
- Dari catatan di atas kertas, FT punya peluang besar untuk jabatan rektor pada pilrek 2022, sekaligus peluang mencetak hattrick.
- Terkait dengan nomor 8, jika ingin mempertahankan trend serta "mengambil" jatah, FISIPOL harus mencari kader terbaik dengan tingkat popularitas dan keterpilihan tinggi.
- Belum pernah ada rektor yang menjabat 2x berturut-turut.
- Meskipun yang berpeluang besar di tahun 2022 itu FT, saya kira agar sehat, harus ada pergantian rezim.
- FE, yang selama 6 periode selalu berkontribusi, mestinya punya modal sosial tinggi untuk menempatkan kadernya menjadi rektor.
- Pada 6 periode terakhir, terdapat 13 fakultas yang memiliki kader sebagai rektor maupun wakil/pembantu rektor; sedangkan 5 fakultas lain masih belum.
Sunday, 9 May 2021
Paijo ikut Konferensi IFLA
Konsep acaranya jelas bukan lagi jalan-jalan yang dibungkus konferensi, seperti yang biasanya itu, tapi benar-benar full jalan-jalan. Tanpa tedeng aling-aling.
Presenter yang mendapat undian pertama: Lek Was, petani brambang yang sudah beberapa kali panen.
"Iki wis umur 48 hari," ucap Lek Was. Petani brambang itu sedang mempresentasikan tanamannya di depan Paijo dan Kang Supri. Menanggapi presentasi itu, keduanya manthuk-manthuk, lalu bertanya, "Kurang berapa hari lagi bisa panen?"
"Ya, 12 hari lagi lah. Genap 60 hari, panen. Kemarin sudah ada PPL yang datang memeriksa. Katanya brambang ini bagus-bagus", ucap Lek Was mantap.
Dia pun melanjutkan presentasinya tentang bagaimana strategi merawat tanaman brambang. Mulai dari pemupukan, penyemprotan, pengairan, dan semacamnya. "Pengairan juga dilakukan di malam hari," imbuhnya.
Presenter kedua, Kang Pri. Bukan brambang yang dia tanam, melainkan cabe hijau ukuran jumbo. Dia sengaja nanam yang jumbo. Harganya lebih bagus, demikian alasannya. Sudah 2 bulanan usianya. Daunnya sudah mulai lebat, bunga juga mulai muncul. Tanda-tanda kesuksesannya sudah di depan mata.
"Ini, kalau bentuknya sudah seperti ini, sebentar lagi muncul cabenya," ucapnya penuh harap sambil menunjukkan salah satu batang cabe yang cukup subur. Senyum tersungging di bibirnya. Matanya berbinar. Ada harap yang begitu terasa, agar panenan kali ini benar-benar sukses.
Paijo menarik nafas. Terkesima, nggumun. Ternyata rekan-rekannya sudah melesat jauh di depannya. Mereka tak lagi monoton dalam bertani. Tegalan yang dulu hanya ditanami PKK alias padi kacang ketela itu sekarang sudah bervariasi. Ada brambang, cabai, dan macam lainnya. Bahkan konon kabarnya ada tawaran nandur porang.
"Pak Bupati sudah menawari, jika ada yang ada lahan dan mau, modal dan pemasaran siap", sela Kang Sunar, salah satu peserta yang datang terlambat. Berbeda dengan Lek Ran dan Kang Pri, Kang Sunar menanam kacang tanah. Beberapa contoh yang telah panen dia tunjukkan. Tampak biji kacang panenannya mentes dan gembodog. Gerr, cocok buat teman teh panas.
"Nggowo wae, iso digodog," tawarnya pada Paijo, langsung diiyakan dengan wajah sumringah.
***
Mendadak presentasi itu berhenti. Mobil angkutan barang lewat dengan terseok-seok karena beratnya muatan mencuri perhatian mereka.
"Ngusung apa itu?" Paijo bertanya.
"Melon. Total panen 18 ton"
Paijo kaget. Elok tenan. Luar biasa. "Sedulurku wis literate babagan pertanian!"
[[ selesai ]]
IFLA: Imajiner Farm(er) Library(an) Associations
Thursday, 6 May 2021
Menulis parafrasa dalam beberapa kalimat atau paragrap
Kawan,
Ketika cek dokumen menggunakan turnitin, saya kerap menemukan kasus seperti ini (ilustrasi saja):
Paragrap pertama terdeteksi/blok (baik blok keseluruhan maupun potongan), tanpa sumber. Sementara paragrap kedua terdeteksi/blok (baik blok keseluruhan maupun potongan), namun ada sumber.
Ternyata, kalimat pada paragrap pertama sumbernya dari sumber yang sama dengan paragrap 2.
Atau kasus lain seperti ini: sebuah paragrap terblok semua, padahal sumbernya nyempil di akhir. Seperti contoh ini:
Nah, dari web APA Style ini ( https://apastyle.apa.org ), saya peroleh panduan sebagaimana gambar di atas. Cara melakukan parafrasa jika hasilnya lebih dari 1 kalimat, atau lanjut ke paragrap baru.
Jika tidak hati-hati, khawatirnya paragrap atau kalimat yang tanpa sumber tadi, oleh pembaca akan dianggap milik penulis paper, bukan hasil parafrasa
Saturday, 1 May 2021
Siapa pengguna dan bagaimana bekerjanya Skihup?
http://www.sciencemag.org/news/2016/05/survey-most-give-thumbs-pirated-papers
https://scholarlykitchen.sspnet.org/2016/02/25/sci-hub-how-does-it-work/
If Sci-Hub cannot locate a copy in LibGen, it then uses multiple institutional access systems to search across publisher platforms, bypassing any access control barriers, and it retrieves a copy of the item. It then does two things. One, it delivers a copy back to the user who requested it; two it stores a copy in LibGen so that it is easier to serve up when the next request comes in. During this process, Sci-Hub will exhort you to donate money in order to keep it running. Bitcoins are the preferred method of donating.




















