Monday, 25 May 2009

, ,

Aero Template untuk Senayan

Template baru untuk OPAC Senayan ini saya modifikasi dari Aero-solutions. Terimakasih pada kawan lama saya, Haris Sri Wibowo. Ternyata ketemu kawan lama itu benar-benar memberikan keberuntungan.



untuk sourcenya silakan download di sini
Aero ini saya modif dari Aero. dan menggunakan header dari Template Blue-nya mas Edy Subrata. Pada source lama, ada kesalahan kode html pada menu sebelah kiri. Sudah saya perbaiki, sehingga hasilnya lebih enak dilihat. silakan unduh di sini



Penting: Saya baru sadar kalau menu sebelah kirinya masih nyangkut data saya dan kawan saya. Bagi yang mendownload, silakan edit YM online dan Librarian nya di file /aero-solutions/index-template.html. Cari kode htmlnya dan ubah sesuai kebutuhan. Sekalian nyoba mengoprek.




Contoh ada di http://geologi.ugm.ac.id/lib/

semoga bermanfaat

Monday, 18 May 2009

, , , ,

Naskah Pidato Drs. Lasa dan Drs. Purwono

Pada 6 september 2007 yang lalu, Drs Lasa dan Drs Purwono (keduanya Pustakawan di UGM) dikukuhkan menjadi Pustakawan Utama. Pengukuhan ini dilaksanakan di UPU Perpustakaan UGM Unit I. Tampak hadir para kepala perpustakaan, dosen perpustakaan, Kepala Perpustakaan Nasional dan juga Alm Djauzan Farouk sang Pelopor Mabulir.











Pada kesempatan itu pula, keduanya menyampaikan Pidato pengukuhan. Bagi yang ingin membaca silakan unduh pada url berikut:

Naskah Drs. Purwono, M.Si
Naskah Drs. Lasa, M.Si.

semoga bermanfaat.

salam

Thursday, 14 May 2009

Tuesday, 12 May 2009

,

Perpustakaan Kita

Update terbaru unduhan Blog Ilmu Perpustakaan dan Informasi (http://iperpin.wordpress.com) tanggal 12/5/2009. Silakan unduh di sini. Ekstrak kemudian jalankan file index.htm

---------------------------------------------------------------------------------------------------
Perpustakaan kita

Membincangkan perpustakaan, menurut saya adalah sebuah perbincangan yang cukup menarik. Tidak akan mudah selesai pada satu ide pusat yang sanggup menjadi obat dari segenap permasalahan perpustakaan yang ada. Pergeseran paradigma perpustakaan dari perantara menjadi penyedia, merupakan contoh nyatanya. Masih kita syukuri hanya sebuah pergeseran, jika yang terjadi adalah sebuah kematian paradigma, maka yang terjadi adalah kematian ilmu perpustakaan. Setidaknya sampai saat ini perpustakaan masih hadir sebagai sebuah institusi dan sebuah ilmuâ, entah nanti.

Membaca tentang perpuatakaan kita hari ini, akan memaksa kita untuk memeras olah pikir kita, sepanas dan sekeras apapun, ini adalah sebuah pilihan, jika ingin perpustakaan menjadi penentu perkembangan peradaban ummat manusia.

Konsepsi-konsepsi harus keluar dari hasil olah pikir kita. Menelorkan berbagai formula yang diharapkan ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang menggerogoti tubuh perpustakaan kita. Baik penyakit yang berasal dari diri perpustakaan kita sendiri, maupun berbagai virus penyakit dari luar diri kita sendiri.

Judul diatas diambil, dengan sengaja menjiplak sebuah buku karya Alm. Nurcholis Madjid. Indonesia Kita. Dalam bukunya, Cak Nur, begitu beliau akrab dipanggil, menawarkan 10 formula untuk menyehatkan kembali indonesia. Namun dalam tulisan ini, bukannya akan mengetengahkan formula Cak Nur itu untuk Indonesia. Namun berupaya mengotak-atik formula tersebut untuk perpustakaan kita. Dengan harapan akan ada keterkaitan diantaranya. Mengelola perpustakaan sebagai sebuah lembaga yang didalamnya ada manusia, ada sumberdaya, ada tujuan, ada perpustakaan (negara) tetangga, ada undang-undang (tata tertib), maka tidak ada salahnya kita perbandingkan ini dengan sebuah negara.

Formula, atau disebut sebagai agenda pertama dalam pengelolaan perpustakaan adalah mewujudkan good governance dalam pengelolaan perpustakaan. Good governance dalam hal ini, dapat kita pahami sebagai pelaksanaan pengelolaan perpustakaan yang transparan dan akuntabel. Tidak ada “tedeng aling-aling” dalam segala kebijakannya. Tidak ada tendensi pribadi dan nafsu-nafsu sesaat yang diagungkan. Prinsip transparansi dalam pengelolaan ini, akan dapat membangkitkan kepercayaan kepercayaan dari rakyat atas pemimpinnya, laiknya dalam sebuah negara. Maka para pemakai perpustakaan, bahkan para pustakawan akan semakin bangkit rasa “ngeh” nya dalam berkarya. Kepercayaan inilah yang menjadi modal dasar dalam pengelolaan sebuah perpustakan (negara). Jika kepercayaan sudah mulai tumbuh dan menemukan tempatnya, maka kesamaan visi dan semangat kebersamaan akan semakin mengembang.

Formula kedua adalah menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekwen. Dalam hal ini dapat kita pahami sebagai sebuah pelaksanaan hukum yang selalu berada pada jalurnya, dan menerima segala konsekwensi dari pelaksanaan hukum ini, meskipun untuk dirinya sendiri. Setelah kepercayan bangkit, sebagai hasil dari good governance, maka penegakan hukum menjadi pasangan serasi dalam melaksanakan agenda-agenda berikutnya. Dalam perpustakaan, layaknya hukum dalam lingkungan negara, berupa reward dan punishment. Pemberian penghargaan atas sebuah prestasi yang diperoleh, atas sebuah pengabdian nyata tentunya layak diberikan. Punishment demikian juga. Hukuman kepada pelanggar aturan, layak untuk diberikan. Selain itu, supremasi hukum dapat dipahami sebagai sebuah pelaksanaan aturan yang fair, adil dan tidak berat sebelah. Karena hukum memang harus ditegakkan.

Melaksanakan rekonsiliasi nasional, dengan menarik pelajaran pait di masa lalu, menatap masa depan dengan perdamaian dengan menyatukan dan mendayagunakan segenap kekuatan bangsa (baca perpustakaan). Dalam perpustakaan hal ini dapat kita maknai dengan membangun pola hubungan dengan semua lapisan perpustakaan, atau pustakawan. Semua perpustakaan direngkuh untuk maju bersama, beserta segenap sumberdaya didalamnya, terutama pustakawan. Dibarengi dengan selalu belajar dari masa lalu sebagi sebuah pengalaman.

Keempat, adalah merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan yang produktif dari bawah. Ini berkait erat dengan peran seorang pemimpin. Sipemimpin harus mau melihat apa yang menjadi aspirasi bawahannya. Mendengar sekaligus memberikan jalan keluar jika itu sebuah masalah, memberi ruang aktualisasi jika apa yang berasal dari bawah itu adalah sebuah ide. Dengan demikian “rakyat” akan menjadi sekumpulan rakyat yang di manusiakan. Dianggap status kerakyatnnya. Bawahan, atau lebih tepat disebut ujungtombak pepustakaan, yaitu pustakawan yang langsung berinteraksi dengan pemakai, mengetahui betul apa yang diinginkan oleh pemakai. Maka selayaknyalah mereka diajak, langsung maupun tidak untuk mengkonsep kegiatan-kegiatan atau terobosan perpustakaan. Ide ide pengembangan haruslah selalu dikonfirmasikan ke ranah paling bawah. Baik ide pengembangan yang bersifat teknik-mekanis seperti pengembangan sistem otomasi, maupun pengembangan yang bersifat konseptual, misalnya perluasan pelayanan dengan berlangganan database.

Kelima adalah mengembangkan dan memperkuat pranata demokrasi, menjamin kebebasan pers dan akademik. Perpustakaan, sampai saat ini anggapan perpustakaan sebagai sebuah ilmu masih ada dan punya pijakan, maka kerangka akademik selalu akan mendahului dalam setiap perkembangannya. Kebebasan berekspresi secara akademik inilah yang perlu di perkokoh. Hal ini dapat berupa forum berbagi rasa, berbagi ide, melontarkan pendapat lewat lembaga pers, atau berdebat didepan publik sekalipun. Asal semuanya dapat dipertanggungjawabkan dan tetap dalam kerangka akademik. Semuanya sah-sah saja.

Meningkatkan ketahanan dan keamanan dengan meningkatkan harkat dan martabat para personil pustakawannya. Hal ini berarti, diperlukannya sebuah upaya untuk meningkatkan martabat dan martabat para pustakawan. Dengan peningkatan harkat dan martabat ini, maka diharapkan semangat esprit de corps, semangat kesatuan akan tumbuh dan selalu tumbuh. Hal ini akan berbanding lurus dengan peningkatan ketahanan dan keamanan kepustakawanan.

Ketujuh, adalah memelihara keutuhan perpustakaan dengan pendekatan budaya, dan pembangunan otonomisasi. Jika semangat esprit de corps telah terwujud, maka selanjutnya adalah memelihara kesatuan dalam sebuah kerangka budaya dan konsep otonomisasi. Konsep budaya berarti dalam pengelolaan perpustakaaan, terutama dalam perpustakaan besar dan mempunyai cabang-cabang, maka penghargaan atas budaya dan iklim yang dinamik dari setiap perpustakaan yang dimungkinkan berbeda-beda harus kita akui dan hargai keberadaannya. Otonomi berarti pemberian wewenang yang luas dalam mengelola kerumahtanggannya, namun tetap dalam garis-garis kebijakan umum.

Kedelapan adalah berkaitan dengan perataan pendidikan diseluruh lapisan. Diharapkan tidak ada lagi gap, jarak, ketimpangan tingkat pendidikan diantara para pustakawan. Para pengelola perpustakaan haruslah mendorong para pustakawannya untuk kembali mencerap iklim akademik murni dalam sebuah universitas. Para pustakawan yang berniat untuk sekolah lagi, baik beasiswa murni maupun self foundation atau parent foundation sekalipun (oops.), harus didukung dan diarahkan. Semakin meratanya tingkat pendidikan para pustakawan, maka semakin merata dan bervariasi pula tingkat pemikirannya. Tentunya ini merupakan kondisi sangat sehat untuk menggali ide-ide pengambangan. Pendidikan dalam hal ini tidak melulu pendidikan formal an sich, namun juga pendidikan pendidikan moral dan etika yang mesti diterapkan pada semua lapisan. Lagi-lagi pemimpin memegang peranan untuk menjadi contoh dalam hal ini. Jika pemimpin mampu memberi contoh keteladanan etika, maka diharapkan lapisan bawah akan ikut untuk mencontohnya. Namun meskipun bawahan mempunyai landasan etika yang mapan, jika pemimpinnya jauh dari ideal, maka kemungkinan bawahan akan tergerus watak pemimpinnya menjadi besar. Pemimpin wajib mendidik bawahan, baik langsung maupun tidak langsung, melalui contoh-contoh nyata. Tidak sekedar contoh dalam bidang yang digeuti (perpustakaan), namu juga contoh dalam etika dan moralitas. Moralitas pemimpin merupakan harga mati untuk diterapkan.

Mewujudkan keadilan bagi seluruh warga. Keadilan, kadangkala akan menjadi alasan utama terjadinya berbagai gejolak. Pembagian “kue” yang tidak merata, sesuai dengan porsi yang semestinya akan menimbulkan gejolak. Baik gejolak yang bersifat vertikal maupun horisontal. Analogi kue disini dapat kita pahami sebagai kue dalam arti sebenarnya maupun kue dalam arti konotatif. Jangan sampai setelah kita bangun berbagai hal mulai dari langkah pertama sampai ke delapan, hancur dalam langkah kesembilan. Keadilan, secara lebih luas adalah menempatkan segala sesuatunya dalam sebuah pola aturan yang sesuai dan proporsional.

Terakhir, formulasi dalam pengembangan perpustakaan kita adalah dengan selalu mengambil peran aktif dalam mewujudkan peradaban ummat manusia yang maju dan dan beretika.

Terimakasih dan mohon maaf

Monday, 27 April 2009

, , , ,

Template Senayan versi Geologi UGM

Entah kenapa pengen ngoprek template OPAC senayan, pilihan jatuh ke Invention. Setelah jadi, maka saya pake untuk OPACnya Teknik Geologi UGM. Kalau di pikir-pikir template ini ndak nyambung ya sama Geologi.

Tidak banyak yg saya ubah, pun juga cuma berdasar suka-suka saja. Jadi jangan di ketawain ya :)

Contohnya di http://geologi.ugm.ac.id/lib/




Sourcenya saya beri nama Classic, ada di http://upload.ugm.ac.id/748classic.tar.gz

terimakasih semoga bermanfaat

Thursday, 23 April 2009

, , , ,

Video Lautan Jilbab

lautan Jilbab, satu dari beberapa pementasan Teater Jamaah Shalahuddin UGM pada tahun 1980-an.

Bagi yang menginginkan rekamannya silakan unduh di:

CD Satu
dan
CD Dua

semoga bermanfaat.

Note:

Mungkin ada yang betanya-tanya "Kok kualitasnya jelek ya?". Rekaman saya dapatkan dari mas Wisnu Wirawan, bentuknya kaset Betamax. Setelah saya bawa ke studio di daerah Demangan Baru, Pemilik studio mengatakan kalau susah mencari mesin pembacanya, dan akhirnya saya di rekomendasikan ke studio di Sapen (lupa namanya). Disana si pemilik mengatakan kl kualitasnya tidak begitu bagus. Meski kecewa, saya yakin rekaman itu akan berguna. Anehnya, tanpa saya beritahukan judul pementasan itu, si pemilik studio memberi title "Lautan Jilbab" pada cover CD. Jangan-jangan dia salah satu pemainnya :)

Monday, 20 April 2009

, ,

Senayan support RFID

Pada hari Sabtu tanggal 18 APril 2009 kemarin, Forum Pustakawan UGM berkesempatan mengadakan kegiatan Diskusi dengan tajuk "PEngembangan Software Opensource untuk perpustakaan: kiat dan model bisnisnya".

BEruntung sekali, Mas Arie Nugraha dan Hendro Wicaksono bersedia mampir untuk menjadi pemantik diskusi kali ini. Tidak disangka peserta diskusi menembus angka 70-an, terdiri dari pustakawan UGM, mahasiswa UIN dan pustakawan LSM.

Acara ini Gratis.

Dalam press releasenya, Forum pustakawan UGM menuliskan bahwa Senayan merupakan aplikasi perpustakaan yg dibangun oleh pustakawan. Penekanan ini begitu berasalan, karena kebanyakan model software untuk perpustakaan dikembangkan oleh para praktisi TI yang bukan pustakawan.

Ada quote menarik pada acara ini

Hendro Wicaksono (Lead Developers Senayan) mengatakan:


Dalam acara workshop yang dilaksanakan oleh tim SDC (Senayan Developers Community), ada 3M sebagai sponsor. Ketika 3M diberi software senayan untuk di ujicoba dalam mesin RFID milik 3M, ternyata Senayan berjalan dengan baik


Muhtarom (Pustakawan SD Sriharjo Bantul)


Pak Muhtarom ini ternyata mengimplementasikan Senayan Stable2 di perpustakaan SD nya. Karena masih Stable2 maka senayan ini masih berbahasa Inggris. Untuk memenuhi kebutuhan anak-anak SD, maka dengan sebaga upaya beliau membuat versi bahasa Indonesia dan juga bahasa Jawa. Berhasil. Dan Alhamdulillan mendapatkan juara pada lomba perpustakaan SD se Bantul.




salam
Unduh, Gunakan dan Laporkan.

Thursday, 16 April 2009

, , , ,

Kata-kata bijak dalam jagad kepustakawanan

Dua url ini saya temukan ketika SDD #2 di perpustakaan Pendidikan Nasional Jakarta.

Entah kenapa saya cari dan buka-buka kembali.



The true university these days is a collection of books.
- Thomas Carlyle






Make thy books thy companions. Let thy cases and shelves be thy pleasure grounds and gardens.
- Judah ibn-Tibbon (12th century)






To add a library to a house is to give that house a soul.
- Cicero






Libraries are as the shrine where all the relics of the ancient saints, full of true virtue, and that without delusion or imposture, are preserved and reposed.
- Bacon



Selengkapnya: http://www.useful-information.info/quotations/library_quotes.html

dan juga http://reference.stcc.edu/random.htm

Monday, 30 March 2009

,

Pengalaman menggunakan linux....

1. Saya mengetahui bahwa ada OS yang namanya Linux, pertama kali kurang lebih pada tahun 2000. Ketika itu saya masih kuliah di IlKom UAD. Namun hanya sekedar tahu dari membaca diktat saja, belum pada tahap instalasi dan implementasi. Apalagi kemudian saya drop out dari UAD.

2. Berikutnya, melompat ke tahun 2004. Yaitu saat kursus jaringan di Smile group. Pada saat ini saya praktik instalasi Fedora Core 1. Yang difungsikan sebagai server internet menggunakan telkomnet instant.

3. Dikos-kosan saya menginstall sendiri Fedora core 3 yang saya pinjam di rental. Cukup lama saya menikmati FC 3

4. Kemudian disusul dengan Suse 9. Kemudian ke Suse 10.3 Namun sayangnya karena kompi saya jadul, tidak mampu saya install Suse 10. Akhirnya balik pake Suse 9, ditambah dengan OS windows saya kena virus, maka cukup lama, sekitar 3 bulanan saya menggunakan Suse 9. (klik)

5. Setelah punya kompi baru, saya pasang ubuntu 8.04 aka Hardy Heron. Kemudian Ibex.

6. Karena tertarik pada Debian, maka saya mencoba menginstall Debian. Tapi ternyata saya lebih nyaman menggunakan ubuntu. Sampai sekarang. Dan sudah beberapa waktu kompi saya hanya terpasang OS Linux Ubuntu 8.04.2, bukan dual boot dengan windows.

7. Di tempat kerjaan, hampir, semua menggunakan Ubuntu. Server Otomasi menggunakan Ubuntu, 2 komputer akses internet menggunakan Ubuntu FF dan Blankon, yang sehari-hari saya gunakan menggunakan HH. Tinggal 2 yg belum OS.

Mencoba hidup dengan Ubuntu, bisa gak ya?

Banjir otomasi.

Sudah diketahui banyak orang, di negri yang dinamakan Indonesia ini yang namanya perpustakaan belum semaju negri-negri tetangga. Namun ada yang menarik dari Negri Indonesia ini.

salah satu perangkat dalam perpustakaan adalah alat otomasi. Alat ini berbentuk perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola perpustakaan secara komputerize, begitu kurang lebihnya.

Dalam perkembangan awalnya, hanya ada CDS/ISIS buatan UNESCO serta beberapa software, misalnya NCI Bookman dan DYNIX. Kemudian pada beberapa universitas ada yang membuat sendiri. Tentunya ini butuh biaya dan sdm yang tidak sembarangan.

Namun sekarang, cobalah kita tengok. Kalau diminta menyebut software otomasi, wah bisa puluhan kita sebut. Dari yang versi jualan, versi gratisan, dari luar negeri dari dalam negeri, yang hanya untuk otomasi sampai dengan untuk digital.

"wah-wah kalau begini para pustakawan bisa dibikin bingung ya" celetuk Poltak.
"Bingung bagaimana Tak?" tanya Karyo.

"Coba bayangkan, para pustakawan kalau diminta pimpinan instansi dimana dia bekerja sebagai pustakawan untuk menerapkan sistem yang pake komputer, atau otomasi. Wah milihnya bisa berhari-hari" jawab Poltak.

"Semua perangkat lunak ini menawarkan kelebihannya masing-masing" lanjut Poltak.

"Iya Tak, memang banyak dan punya kelebihan masing-masing, tapi kl mau menggunakan semestinya kita sesuaikan dengan kebutuhan. Bagaimana dan sejauh mana kebutuhan kita. lalu kalau kebutuhan itu meningkat, bagaimana kemampunya sistem yang sudah ada dalam mengakomodir kebutuhan kita" jelas Karyo.

"Kalian ini bicara apa, pustakawan yang diminta untuk membuat sistem otomasi perpustakaan lalu mikirnya "Mau pake software apa ya, dan nyarinya dimana ya?" itu saja masih ada kok" sela Harjo.

"maksudmu apa kang?" tanya karyo

"Begini, masih ada lho pustakawan yang bingung kalau diminta bikin otomasi untuk perpustakaanya, mau pake apa dan nyarinya dimana. Selain itu ada juga yang terpaksa sudh beli jutaan tapi ndak kepake..." lanjut Harjo.

"Ooo masih ada ya kang?" Poltak dan Karyo bersamaan.