Monday, 21 August 2017

, ,

Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya


Sesungguhnya kerja memustaka dan memustakawan adalah kerja abadi setiap manusia 


Semua orang akan menyebut nama sebuah perpustakaan, misalnya Perpustakaan A, sebagai jawaban atas pertanyaan: “perpustakaan apa yang terbesar di dunia?”. Namun ketika ditanya tentang perpustakaan yang paling lengkap, maka jawabnya adalah: tidak ada perpustakaan yang paling lengkap. “Semua perpustakaan saling melengkapi”, demikian jamak orang memberi alasan.


sawah dan kedamaian
Perpustakaan yang ada dan saling melengkapi itu, jika disatukan, hasilnya adalah jagat raya yang kita tempati ini serta  segenap isinya. Jagat raya ini, merupakan perpustakaan terbesar sekaligus terlengkap. Di dalamnya terkandung semua ilmu pengetahuan, yang dibutuhkan ummat manusia dalam proses kehidupannya, dan tersusun sistematis. Ada yang telah terbukukan, atau yang belum. Ada yang terpecahkan, ada yang masih menjadi tanda tanya. Semuanya ada di jagat raya ini.

Apa yang ada di jagat raya, kemudian dipilihi, sesuai tujuannya dan disimpan dalam ruang-ruang yang diinstitusikan, agar manusia mudah menemukannya ketika membutuhkan. Ruang-ruang tersebutlah yang kemudian disebut sebagai perpustakaan dalam arti umum saat ini. Perpustakaan ini, hanya bagian kecil saja dari perpustakaan terbesar, jagat raya. Pengelolanya disebut pustakawan.


Jagat raya adalah perpustakaan terbesar dan terlengkap, gedung/ruang perpustakaan adalah perpustakaan kecil.

Penamaan pengelola perpustakaan kecil dengan sebutan “pustakawan” disebabkan oleh sistem. Terkait dengan legal-formal ciptaan manusia, terkait dengan status, struktur, profesi dan hajat hidup manusia. Ya, hajat hidup si "pustakawan" itu sendiri, agar lahannya tidak diambil orang lain. Pustakawan dalam "perpustakaan kecil" ini  lahir karena aturan tertulis manusia, dan justru menyempitkan konsep pustakawan yang universal.

###

Perpustakaan-perpustakaan kecil, menjadi ladang penciptaan struktur yang baru. Pustakawan – pemustaka.  Struktur yang di dalamnya ada hak dan kewajiban, diatur dengan aturan internal, bahkan dengan undang-undang, yang harus ditaati keberadaannya. Ketidaktaatan pada undang-undang, akan berakibat gejolak kecil pada perpustakaan dan pustakawan kecil, dalam bentuk protes dan keberatan. 

Pustakawan menyediakan segalanya untuk melayani pemustaka. Mereka dituntut untuk selalu mengembangkan perpustakaannya, mengikuti jaman, mengikuti tren, mengikuti kebutuhan pemustaka. Di sisi lain, pemustaka menempatkan pustakawan sebagai pihak yang mengelola dalam arti seluas-luasnya, tempat bertanya jika membutuhkan informasi, tempat mengonfirmasi informasi valid atau hoax dan lainnya. Tentu saja, orang yang dituju ketika mau meminjam dan mengembalikan buku.


###


Semua manusia yang tersebar di dunia ini sesungguhnya adalah pustakawan. Mereka pustakawan (minimal) bagi dirinya sendiri. Mereka semua memiliki cara mereka masing-masing untuk mencari, menyimpan, mengolah dan menemukan kembali informasi serta menyebarkan kembali pada orang lain. Cara mereka unik, yang mungkin berbeda satu dan lainnya, dan mungkin hasil pencariannya juga akan berbeda.


Setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri

Hasil pada masing-masing proses dapat dianggap berbeda, dianggap benar, dan juga dianggap keliru oleh sebagian lainnya. Padahal, orang lain yang menganggap keliru tersebut, tidak otomatis semua proses pencarian informasinya benar. Tidak ada jaminan. Maka, demikianlah,  semua memainkan dirinya sebagai pustakawan, bagi dirinya sendiri. Mereka saling mengonfirmasi  informasi dan pengetahuan yang diperoleh.

Jagat raya, yang merupakan perpustakaan terlengkap ini menaungi semua manusia. Mereka punya posisi sama pada informasi di perpustakaan tersebut. Namun, alat dan jangkauan masing-masing pustakawan ini yang berbeda. Sama dengan pustakawan di perpustakaan kecil, yang juga memiliki alat dan jangkauan yang berbeda.


###


Sebagai perpustakaan yang terlengkap di dunia, jagat raya memiliki posisi istimewa. Segala dinamikanya, akan diikuti oleh perpustakaan kecil. Atau, jika dibalik maka kalimatnya menjadi “perkembangan perpustakaan kecil mengikuti apa yang terjadi di perpustakaan besar (jagat raya)”.

Ketika di jagat raya orang merasa nyaman di tempat-tempat sunyi, dingin dan duduk di sofa empuk sambil tiduran, maka atmosfir tersebut dibawa ke perpustakaan kecil. Hasilnya, ruang perpustakaan akan dilengkapi dengan AC yang terjamin suhunya, sofa yang nyaman dengan berbagai bentuknya untuk duduk dan membaca, serta bercengkerama. Ketika di jagat raya ada orang yang senang bergerombol dan berdiskusi, perpustakaan kecil juga menyediakan ruang-ruang agar mereka bisa terfasilitasi, lengkap dengan layar elektronik berteknologi tinggi.

Ketika di jagat raya muncul tren cepatnya informasi ditemukan di internet, maka perpustakaan menduplikasinya dengan memabuat sistem-sistem canggih yang membuat apa yang diperoleh di jagat raya, dapat pula dilakukan di perpustakaan.

Ketika di jagat raya ada pertunjukkan chef ngganteng yang mempraktikkan resep masakan di depan ibu-ibu muda yang begitu bersemangat, kemudian bersama mencicipi makanan tersebut, maka perpustakaan menduplikasinya. Hasilnya merupakan tawaran untuk melakukan hal serupa di perpustakaan, dengan dalih menyatukan buku dan mempraktikkan apa yang ada dalam buku tersebut.

Ketika di jagat raya terdapat kecenderungan orang membaca sambil olahraga, maka perpustakaan berusaha menduplikasinya. “Hoei, di perpustakaan juga perlu alat olah raga, lho. Agar orang yang belajar, bisa melepas penat belajar dengan  olah raga”, demikian serunya. Akhirnya, ada alat olah raga di perpustakaan.

Ketika di jagat raya, ditemukan orang sangat tertarik dengan game terkini, maka dibawalah game tersebut ke perpustakaan. Dengan harapan, orang-orang akan semakin banyak yang datang ke perpustakaan. Bahkan, game digunakan sebagai alat untuk mengenalkan perpustakaannya. Tentunya, agar manusia tertarik menggunakan perpustakaan kecil ini.

Ketika di jagat raya ditemukan.. dan seterusnya-seterusnya…


Tren di perpustakaan kecil, adalah duplikasi dari apa yang terjadi di jagat raya

Atmosfir yang dibawa ke perpustakaan tersebut, kemudian dilabeli dengan istilah terkini, yang menjadi daya magis dan menyihir para pustakawan. Learning common, maker space, dua di antaranya. Demikian juga scholarly communication, blended librarian, embedded librarian dan lainnya

Mengikuti tren perpustakaan, sama dengan mengikuti tren jagat raya. Ikuti saja yang diperlukan. Jangan silau pada tren. Tidak semua yang ada di jagat raya dapat dibawa ke perpustakaan kecil. Tidak muat, Bro.


Setiap tempat adalah perpustakaan, setiap manusia adalah pustakawan, dan setiap manusia juga pemustaka bagi manusia lainnya.


 Sambisari, 21 Agustus 2017
lima lebih dua puluh menit pagi


Catatan: “setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri”, merupakan perenungan yang sejak lama muncul dalam benak saya. Jagat raya sebagai perpustakaan terbesar, dikukuhkan dengan cerita seorang kawan, Maryanto (http://www.kangsumar.net/, setelah menonton pertunjukan wayang Suluk Salya, dengan dalang Sujiwo Tedjo di Fakultas Filsafat UGM, 18 Agustus 2017.

Friday, 11 August 2017

Menjadi mayoritas ketika minoritas

Purwo.co - Melakukan perjalanan jauh, bisa dirasakan sebagai sebuah kenikmatan, ada yang menganggap tantangan, ada juga yang dilakukan untuk liburan.


Ruang Muslim Club
Tapi ini bukan tentang liburan, namun sebuah tugas yang bagi saya cukup berat. Boleh dianggap sebagai tantangan, dengan dilengkapi unsur hiburan serta jalan-jalan. Jangan lupa bergembira.

Bu Kepala Perpustakaan UGM, menawari saya untuk datang di sebuah perhelatan pustakawan AUNILO | Libraries of ASEAN University Network di Thailand pada 10-11 Agustus 2017. Setelah beberapa pertimbangan, dan diskusi dengan istri, akhirnya saya menyanggupi tawaran tersebut. Sebagai bawahan, ya tentunya nderek saja. Bu Kepala mengutus dua orang, saya bersama seorang senior, Pak Haryanta.

###

Ketika melihat tanggal dan bulan pelaksanaan, ternyata pelaksanaannya termasuk hari Jumat. Selain itu, Thailand adalah negara yang sedikit populasi muslimnya. Sebagai seorang Muslim, saya bertanya-tanya, "di mana saya bisa melakukan sholat Jumat, dan dimana mendapatkan makanan halal?"

Sayapun mencari informasi tentang tempat pelaksanaan, Mahidol Universiti.  Ternyata Mahidol memiliki klub mahasiswa muslim, dan tersedia ruang untuk melakukan sholat, termasuk sholat Jum'at tentunya. Saya mendapatkan informasi ini dari beberapa pihak yang saya kontak. Dari web, panitia, dan dari Samadee, seorang mahasiswa Muslim di  Mahidol University, yang kontaknya saya peroleh dari panitia. Salut saya untuk panitia yang begitu sigap menjawab email saya.

Central Plaza
Selain itu, saya bertanya pada alumni Mahidol yang berasal dari Indonesia. Daftar alumni saya peroleh dari web universitas. Saya cek namanya, yang saya yakini pemilik namanya seorang muslim, saya kirimi email. Hasilnya sama, ada ruang yang disediakan untuk sholat Jum'at. Ah, lega rasanya.
Saya juga bertanya pada teman di Thailand. Prasitichai Lertratanakehakarn, yang saya kenal melalui komunitas SLiMS.

Begitulah. Karena saking ndredegnya,  apapun saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi saya. Ndeso, kata orang kota.

###

Setelah perjalanan panjang Jogja-Jakarta, Jakarta-Svarnabhumi, serta perjalanan darat dari bandara di tengah macet yang memakan waktu 3 jam lebih, akhirnya, Rabu sore (9/8) jam 7 malam sampailah saya di penginapan. Sebuah hotel/pavilion yang dikelola oleh unit International Center di Mahidol University kampus Salaya. Tidak ada perbedaan waktu antara Jogja dan Salaya.

Pustakawan/panitia dari Mahidol University menjemput kami, sampai memastikan kami mendapatkan kamar menginap. Dalam perjalanan dari bandara, mereka menawarkan permen, atau minuman dengan menunjukkan logo halal minuman itu pada saya terlebih dulu. Tampak, di wajahnya tergambar kelelahan. Layanan panitia yang sangat mengesankan.

###

Sore menjelang malam itu, perasaan kami kurang nyaman dan gelisah, karena perut kami kosong. Tak ada lagi makanan tersisa di penginapan. Ketika kami bertanya tentang makanan halal, tidak ada, dan saya diminta pesan buah atau semacamnya saja dulu. Saya maklum, sepertinya restoran hotel memang sudah tutup. Tak apalah.. Kami mengucapkan terimakasih, tapi tidak jadi pesan makanan.

Malam pertama itu, kami mengganjal perut dengan mi gelas yang dibawa oleh Pak Haryanta dari Jogja. Dua mi gelas yang sempat ikut naik pesawat itupun, menjadi penolong kami dari rasa lapar.


Bersama Pak Catering muslim
Pagi harinya, kami memastikan kehalalan makan pagi di penginapan. Resepsionis penginapan mengatakan bahwa tak ada makanan halal di penginapan, dapur pun tidak halal. Demikian katanya sambil meminta maaf, dalam bahasa Inggris yang saya tangkap sebisanya.

Pagi harinya, kami menuju ke sebuah gerai waralaba di depan penginapan. Berdasarkan informasi dari sebuah blog muslim di Thailand, makanan halal Thailand ditandai dengan label halal, dalam sebuah kotak segi empat.

perburuan di waralaba
Setelah berjuang mentelengi barang dagangan, akhirnya mata saya tertuju pada sebuah bungkusan yang tidak asing, lengkap dengan logo MUI. Artinya, barang ini import dari Indonesia. Ah, halal... Kami ambil beberapa buah, tepatnya 8 bungkus, untuk pagi dan malam selama beberapa hari di negeri orang ini. Dua botol air mineral, dan dua bungkus roti berlabel halal kami beli.  Meski si penjual menyapa dan berbicara kepada kami dalam bahasa Thailand, angka yang muncul di mesin kasir, cukup membantu kami menyiapkan uang bath untuk membayar. Tidak perlu menggunakan bahasa isyarat.

Dua kali kami menyambangi waralaba ini, untuk sekedar membeli air minum yang cukup untuk kebutuhan di kamar penginapan.

Di jembatan penyeberangan depan waralaba, ada seseorang yang berpapasan dengan kami mengucapkan Assalamualaikum. Kami kaget. Apakah wajah kami ini wajah assalamualaikum, ya?. Si empunya salam, ternyata dari Malaysia. Diapun memberi informasi beberapa gerai makanan halal di sekitar penginapan.


###

Kami ikut acara workshop tentang MOOC (Massive Open Online Course) di Mahidol Learning Center. Panitia, sebelumnya menanyakan tentang jenis makanan yang diinginkan. Tentunya, saya memilih makanan halal. Ketika break, tampak di meja terdapat tanda halal, sebagai informasi bahwa makanan yang disediakan merupakan makanan halal. Seorang laki-laki berkopiah, juga mondar-mandir membawa makanan. Tampaknya, dia yang menjaga garansi halalnya makanan yang disediakan panitia.


"Innamal mu'minuna ikhwah"
Pukul 12, waktu istirahat. Saya pun mencari tempat sholat yang diinformasikan mahasiswa yang saya kontak via email. Tempat tersebut ada di lantai 2 gedung MLC.[1] Informasi petunjuk tempat sholat yang tertempel di dinding, membuat saya mudah menemukan ruang tersebut. Seorang mahasiswa saya hampiri dan tanyai tentang tempat wudhu. Mungkin karena logat saya dikenalnya, dia justru bertanya balik. "Dari Indonesia, Pak?". Mahasiswa dari Sragen, alumni UNAIR yang melanjutkan di Mahidol itu mengantarkan saya ke tempat wudhu.

Tempat wudhu tidak disediakan khusus. Namun menggunakan shower yang tersedia di kamar mandi. Ruang sholat juga tidak begitu luas, ada dua ruang yang dipisahkan oleh tembok. Kami pun menunaikan sholar Dhuhur dan Ashar dengan cara gabung-ringkas.

Beberapa mahasiswa muslim dari Indonesia belajar di Mahidol. Ada yang S2, ada yang S3. Saya menemukan mahasiswa S2 yang melanjutkan di Institute of Innovative Learning Mahidol Univ., melalui beasiswa Norwegia. Juga dosen dari IAIN Syeh Nurjati Cirebon yang sedang S3.

Ketika sholat Jum'at, mahasiswa atau tepatnya komunitas muslim ini berkumpul untuk menunaikan ibadah Jum'at. Mereka berasal dari berbagai negara, mungkin juga berbagai aliran fikih. Macam-macam asal itu, cukup terlihat dari bentuk khas wajah mereka.

Ruang sholat yang dipisahkan tembok itu, digunakan untuk ibadah Jumat. Tidak ada adzan yang berkumandang sampai berkilo meter. Sholat Jumat tanggal 11 Agustus itu di pimpin khotib, yang juga tidak melengkapi dirinya dengan sorban atau jubah putih. Cukup kupluk sederhana, berkaos lengan panjang, dan tentunya celana panjang.
Ibadah Jum'at

Salam yang diucapkan khotib menandai dimulainya ibadah Jum'at. Adzan dilakukan dengan pengeras suara, tapi tidak saya dengar di ruangan yang saya tempati. Sepertinya, pengeras itu diletakkan di ruang sebelah. Ruang sebelah yang terhalang tembok itu juga digunakan untuk ibadah Jumat. Adzannya sama. Tidak ada yang beda. Khotib membuka dengan membaca beberapa ayat Quran. Sama, tidak ada yang beda. Sampai ketika khotib mulai menjelaskan beberapa pesan khutbahnya, kalimat dalam bahasa Thai yang terdengar. Tentu saja saya tidak paham. Namun, beberapa istilah membantu saya menebak-nebak isi khutbahnya. Allah Subhana wa ta'ala, Nabi Muhammad, ayat, dan berbagai istilah lainnya, serta beberapa ayat yang dia baca, tidak ada bedanya dengan yang biasa saya dengar ketika mengikuti khutbah di Indonesia.
Semua sama
Ketika khutbah dalam bahasa Thailand itu berakhir, sebelum khotib duduk antara dua khutbah, ternyata masih ada sambungannya. Semacam pengulangan khutbah, namun dalam bahasa Inggris. Terkait hal ini, seorang mahasiswa muslim bercerita bahwa khotib Jum'at selalu bergantian, dari Indonesia, Thailand, dan negara lainnya. Kadang satu bahasa, dua atau bahkan tiga bahasa.

###

stempel halal
Jum'at itu, adalah hari terakhir saya di lokasi kegiatan. Esok harinya, kami harus kembali ke Indonesia. Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di kantin kampus, dan menuju ke ujung kedai. Kedai halal, terletak di ujung. Seorang bapak, dan istrinya yang berjilbab muncul dan bertanya kepada kami, dalam bahasa Thailand. Saya tak paham. Namun, setelah mengucapkan Assalamualaikum, kami pun jadi lebih akrab. Kami pesan dua porsi makanan, total harganya 65 bath. Di diskon jadi 60 bath, dan digratisi sebotol air mineral. Tak ada pembayaran langsung pada penjual. Pembayaran dilakukan di kasir, dengan kartu elektronik. Canggih.

Sebelum pulang, kami foto bersama. "Innamal mu'minuna ikhwah", kata si Bapak. Saya sahut dengan  "fa aslihu baina akhwaikum". Kami pun bersalaman, dan berpisah.

Embak penjual roti
Tiga hari, kami merasakan hidup menjadi minoritas. Namun, sesungguhnya kami menjadi mayoritas ketika minoritas. Bertemu sesama muslim, mulai dari peserta kegiatan, mahasiswa, penjaga kantin, serta si Bapak katering, menjadikan perasaan menjadi mayoritas. Prasitichai, kawan dari Thailand yang bersusah-susah mengunjungi saya di penginapan, dan mengajak jalan-jalan mengelilingi Bangkok di malam Jum'at untuk mencari makanan halal, sampai ketemu dengan seorang perempuan muslim Patani penjual roti. Panitia yang begitu ramah, informasi kebutuhan tempat sholat yang begitu mudah ditemukan, membuat saya merasa tidak minoritas.


Tak ada minoritas, semua mayoritas. Mayoritas atas dasar kemanusiaan.

Agar rasa mayoritas kita paripurna, jangan lupa bawa sabun mandi, pasta gigi dan sikat gigi ketika ke Thailand. Tentunya, sabun, pasta dan sikat gigi yang halal. Atau anda akan merasakan mandi tiga hari tanpa sabun mandi, karena khawatir sabunnya tidak halal. :). Ah, ndeso.


Salaya Pavillion, Mahidol International College, Thailand, kamar 702
sebelas Agustus 2017
delapan lima menit malam



  1. Beberapa foto tentang ruang Muslim Club, silakan lihat di http://www.li.mahidol.ac.th/AUNILO2017/travel-information/muslim-prayer-room/

Monday, 7 August 2017

,

Cara menghitung h-index dan g-index

note: mohon koreksi jika pemahaman saya keliru.

Purwo.co - Dalam dunia tulis menulis –ilmiah-, dikenal beberapa indikator karya penulis. Indikator menunjukkan seberapa besar produktifitas penulis, dan pengaruhnya pada penulis lain. Dua diantaranya h-indeks dan g-indeks. H-index juga kerap dihitung untuk lembaga atau jurnal.

Baca juga: Menulis di jurnal: ikut-ikutan, kebutuhan, atau terperangkap pada keadaan?
Sumber Wikipedia
H-indeks, dipopulerkan oleh JE Hirsch. H mengacu pada Hirsch. H-index merupakan angka, yang menunjukkan jumlah (h) artikel yang masing-masing artikel itu dikutip minimal sejumlah h. Atau titik temu antara jumlah artikel dan jumlah dikutip.Sehingga misalnya seseorang memiliki h-indeks 10, maka dari semua dokumen yang ditulisnya, terdapat 10 dokumen yang masing-masing dari 10 itu, telah dikutip minimal 10 kali.

Pada hitungan h-index, dimungkinkan sebuah artikel telah dikutip ratusan kali, namun karena artikel berikutnya sesuai urutan banyaknya dikutip, hanya memiliki jumlah kutipan sedikit, maka h-index-nya juga kecil. H-index dihitung terkait masing-masing dokumen dan jumlah dikutipnya. Jumlah dikutip pada dokumen lain, tidak berpengaruh dokumen lainnya. Sehingga sebaran atau bobot keseimbangan jumlah dikutip pada masing-masing dokumen menjadi penting.

Baca juga: Menaklukkan Scopus secara bermartabat

G-index, juga berwujud angka. G-index diusulkan oleh Leo Egghe. G-index ditawarkan setelah munculnya h-index, dengan lebih menghargai jumlah akumulasi kutipan pada artikel. Jumlah dikutip sebuah dokumen dapat berpengaruh pada dokumen lain dalam menghitung g-index. G-index menekankan pada rata-rata dikutip. Atau dalam kata lain, angka pada g-indek  merupakan jumlah rata-rata dikutip secara keseluruhan, setelah diurutkan sampai angka g.

Menghitung g dan h-index, harus dilakukan dengan menghitung artikel + jumlah dikutipnya, kemudian diurutkan dari yang paling banyak.

Mari kita lihat contoh penentuan g dan h-index berikut ini.

Jumlah kali dikutip
Urutan dokumen ke:
Akumulasi jumlah dikutip
Urutan dokumen ke, dikuadratkan
30
1
30
1
25
2
55
4
23
3
78
9
21
4
99
16
19
5
118
25
17
6
135
36
16
7
151
49
16
8
167
64
15
9
182
81
14
10
196
100
12
11
208
121
10
12
218
144
9
13
227
169
8
14
235
196
7
15
242
225
6
16
248
256
5
17
253
289

H dan g-index merupakan angka pada urutan dokumen ke, setelah dokumen diurutkan berdasar jumlah dikutip.

Dari tabel di atas, maka h-index-nya adalah 11. Karena, pada urutan ke 11 inilah, memenuhi syarat: minimal 11 dokumen, yang masing-masing dikutip minimal 11 kali. Jika dinaikkan menjadi 12, menjadi tidak memenuhi syarat, karena dokumen ke 12 hanya dikutip 10 kali.

Jika ingin menaikkan h-indeks, maka harus ada pertambahan jumlah kutipan pada artikel secara berimbang. Titik perimbangan itulah yang akan menentukan angka h-index.

Jumlah artikel pada h-indeks bisa disebut "kualitas" penulis, sementara jumlah kutipan mewakili kualitas artikel.


Sementara g-index-nya 15.  Pada urutan ke 15 ini, akumulasi dikutipnya 242 kali. Dan jika dikuadratkan, 15 bernilai 225, masih terpenuhi dengan angka 242 kali. Namun, jika dinaikkan menjadi 16, menjadi tidak terpenuhi, karena akumulasinya hanya 248, sedangkan kuadrat dari 16 adalah 256. Masih kurang 8 angka. 


Costas (2018) menyatakan dalam penelitiannya, bahwa g dan h, saling melengkapi. “Current research suggests that these indexes do not substitute each other but that they are complementary”.





Sambisari, hari ke tujuh, bulan delapan
dua ribu tujuh belas
pagi hari. enam, sembilan menit.

Referensi:
Costas, R., & Bordons, M. (2008). Is g-index better than h-index? An exploratory study at the individual level. Scientometrics, 77(2), 267–288. https://doi.org/10.1007/s11192-007-1997-0

Egghe, L. (2006). Theory and practise of the g-index. Scientometrics, 69(1), 131–152. https://doi.org/10.1007/s11192-006-0144-7

Hirsch, J. E. (2005). An index to quantify an individual’s scientific research output. Proceedings of the National Academy of Sciences, 102(46), 16569–16572. https://doi.org/10.1073/pnas.0507655102

baca juga:
Christoph Bartneck & Servaas Kokkelmans (2011). "Detecting h-index manipulation through self-citation analysis"Scientometrics 87 (1): 85–98. PMC 3043246PMID 21472020doi:10.1007/s11192-010-0306-5

Thursday, 3 August 2017

,

Menata artikel menggunakan Latex melalui Overleaf

Purwo.co - Dunia jurnal tidak bisa dilepaskan dari tata letak. Ada berbagai pilihan perangkat lunak untuk tata letak jurnal, dari yang berbayar sampai yang bebas guna. Salah satu yang terkenal adalah Latex. Latex, memiliki kemampuan penataan teks yang baik, direkomendasikan pada penulisan rumus yang kompleks. Sebatas yang saya tahu, hasilnya akan bagus dan konsisten. 

informasi lisensi

Namun, pemasangan dan penggunaanya agak rumit, dan dibutuhkan belajar beberapa hal terkait model penulisannya. Nah, di internet disediakan antarmuka Latex online, salah satunya Overleaf. Overleaf ini layanan berbayar, namun menyediakan versi gratisnya. Saya penasaran dengan Overleaf ini, setelah salah satu pengelola jurnal di UGM menggunakannya untuk menata letak artikel. Biasanya, saya belajar menggunakan Latex di desktop (Miktex: miktex.org/download). 

akun yang bisa digunakan

Pertama, kita bisa membukanya di https://www.overleaf.com, kemudian membuat akun, atau login menggunakan akun Twitter, Google, atau ORCID yang kita miliki.


pilihan template



Selanjutkan, kita bisa membuat projek baru, dengan memilih template yang sesuai kebutuhan. Tersedia template berbagai jurnal, buku, kalender, poster dan lainnya. 

detail template

Misalnya kita pilih template jurnal PNAS. Setelah dipilih, akan muncul tampilan di atas, yang berisi contoh hasil, unduh pdf, dan membuka templatenya. Kita bisa klik open template untuk menulis paper dalam template yang disediakan.

template yang dibuka, tampak ki-ka antara template dan hasilnya


Gambar di atas menunjukkan source di kiri, dan hasilnya di sebelah kanan. Untuk menata artikel, misalnya cukup salin abstrak pada bagian yang ditentukan pada source code di sebelah kiri. Maka di sebelah kanan akan muncul hasilnya. Demikian pula yang lainnya. Kita cukup edit saja judul sesuai kebutuhan, pengarang sesuai kebutuhan, maka overleaf yang akan melakukan penataan. Kita tidak dipusingkan dengan tata letak yang dihasilkan. 


history perubahan dokumen


Jika dilakukan perubahan, overleaf juga memiliki log. Misalnya pada gambar di atas, ketika saya klik history, sistem akan menunjukkan bagian mana yang pernah diubah. Jika kita ingin balik ke dokumen awal, kita bisa kembalikan dengan klik restore. Selain history, juga bisa kita bagikan pada orang lain.

bisa cek history, berbagi dan unduh pdf


bisa memberi komen dan membalas

Kitapun dapat memberi komentar pada dokumen. Jika dokumen telah dibagikan pada orang lain, dia juga dapat mekakukan review, lengkap dengan reply jika dibutuhkan.



komentar yang dibuat

Pada laman https://www.overleaf.com/benefits, disebutkan beberapa kelebihan Overleaf ini. Diantaranya: realtime, effortless sharing karena memiliki URL unik untuk dibagikan, dapat digunakan untuk mengerjakan projek bersama, realtime preview. Selain itu Rich Text Mode yang dapat mengkonversi kode rumus menjadi rumus itu sendiri, sehinga kita tidak bingung dengan hasil. Seperti konsep WYSIWYG.

Kemudian error juga dapat ditemukan, karena ada notifikasi dari sistem. Overleaf tidak hanya untuk artikel, serta yang terakhir kita dapat menambah dan menghapus kolaborator dengan mudah. 

Monday, 24 July 2017

,

Menulis di jurnal: ikut-ikutan, kebutuhan, atau terperangkap pada keadaan?

Paijem sedang pusing. Dia dikejar waktu agar segera menerbitkan tulisannya di jurnal. Paijem, mahasiswa tingkat akhir, pada jenjang studi paling prestisius itu, memang diwajibkan menulis di jurnal, agar proses belajarnya pungkas. Selain itu, konon katanya, agar jumlah publikasi yang lahir dari negeri ini semakin banyak. Malu pada negeri tetangga, yang jumlah penduduknya lebih sedikit, tapi publikasinya lebih banyak.

Purwo.co - Tidak ada yang menyangkal, jurnal, sebagai terbitan berkala dengan tingkat keilmiahan tertentu, saat ini sedang jadi buah bibir, terutama pada kalangan ilmuwan. Mirip seperti bunga desa, atau bunga kampus yang dibicarakan karena  kecantikannya. 

telo bakar, agak gosong
Jurnal banyak dicari, baik sebagai wadah tulisan, ataupun (isinya) sebagai referensi. Dia akan didekati karena kualitas isinya. Kadang, jika kesulitan menimbang isi, orang akan mencari bantuan pihak yang menyediakan angka-angka kualitas jurnal.

Orang yang tulisannya terbit di jurnal dengan kualifikasi apapun, akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang naik sekian persen, dibanding sebelumnya. Tentunya, terkait ilmu yang digelutinya. Tidak jauh beda dengan Odet di serial OK-Jek, yang kegantengannya naik setelah sisiran belah tengah dan pakai minyak wangi, waktu memacak diri menjemput Nurul. Masalah jaket dan celana jin yang dia pakai robek, tidak jadi masalah. 

Jika tulisan yang terbit di jurnal tersebut dikutip banyak orang, maka kepakaran ilmuwan menjadi tidak diragukan. Semua mata akan tertuju padanya, diperebutkan untuk bicara di berbagai forum terhormat. Jadwal manggung menjadi padat. Orang berebut menjemput kedatangannya, dengan penuh harap bisa ngobrol dan mencerap ilmunya. Satu mobil, atau sekedar memboncengkan akan terpatri dalam ingatan, dan menjadi bahan cerita pada handai taulan. "Saya pernah menjemput Paijo, lho. Ilmuwan yang baru selesai kuliah doktornya, masih fresh, dan artikelnya terbit di jurnal-jurnal top."

Maka, jika ingin kaffah dalam pergulatan ilmiah, ingin memiliki tingkat kePD-an dan kegantengan naik beberapa persen, serta naik level (ke)ilmuwan(nya), maka menulislah di jurnal. Apalagi, jika menulis di jurnal yang memiliki angka metrik yang tinggi. Selain terkenal, anda akan dapat bonus menggiurkan. Namun anda harus siap modal, karena kadang ada yang mematok harga, atau harus melewati acara konferensi yang juga perlu biaya. Atau anda harus sabar menunggu antrian para pe-review yang siap menghakimi tulisan anda.

Jurnal tetap akan diagungkan, meski ada kekurangan. Istilah jurnal abal abal, kita masih ingat?  Namun jurnal tetaplah jurnal,  yang dibekingi ilmuwan dengan pengalaman intelektual dan gelar segudang. Cap jurnal predator pun, akan di lawan. Meski itu masih taraf dimungkinkan. 

Begitulah jurnal, wadah, yang semakin banyak orang ingin menitipkan tulisannya di sana, maka semakin naik tingkat kegantengan jurnal tersebut. Bahkan, tidak sampai diterbitkan di jurnal tersebut pun tidak mengapa, asal pe-review berkenan mengomentari artikelnya. Antrian yang panjang, kadang menjadikan jurnal mendahului takdirnya. Ketika tahun baru berjalan, namun sudah terbit artikel untuk tahun atau periode yang akan datang. 
"Mendahului takdir, yang dianggap ilmiah, sepertinya ya cuma terkait penerbitan jurnal".
Sistem bersepakat, bahwa identitas jurnal memang lebih prestisius.  Kesepakatan itu tentunya berimplikasi luas. Itulah sistem, yang bisa kalem, bisa juga kejam.

Pendorongan orang kepada orang untuk menulis di jurnal, pun penghargaan pada orang yang menulis di jurnal, juga bermunculan.  Sebaliknya, orang dengan artikel jurnal sedikit, akan tersisih, atau disisihkan oleh keadaan. Orang dengan keadaan yang demikian, pengembaraan intelektualnya dianggap belum paripurna,  ilmunya dianggap belum teruji. 

Artikel yang telah masuk jurnal, jangan coba-coba letakkan di tempat lain. Bisa kena pinalti, meskipun itu tulisan anda sendiri, kecuali anda punya nyali. Setelah jurnal menerbitkan tulisan anda, maka jurnal memiliki hak tunggal penyebaran tulisan anda, kecuali jurnal mengatakan lain.  Maka membaca aturan main sebuah jurnal harus teliti. Bahkan, sangat mungkin untuk jurnal tipe tertentu, anda akan kesulitan memperoleh artikel anda sendiri yang telah diterbitkan sebuah jurnal. Anda pun harus membayar untuk memperolehnya. Aneh? Tidak! Itulah bisnis.
Kejam, namun demikianlah kesepakatan itu. 
Jurnal memang berbeda dengan blog. Blog, sebagai sebuah media yang kasta keilmiahannya di bawah jurnal, juga merupakan media untuk menulis. Jarak kasta blog ini semakin jauh, sejak muncul blog beromset, dengan berita gorengan, yang mempermainkan psikologi masyarakat, untuk menaikkan klik, demi segepok dollar.  Blog-blog tersebut, tentu sangat menyakiti,  merendahkan dan mencemarkan martabat blogger, terutama yang baru belajar, seperti saya.

Blog, oleh para ilmuwan tidak disarankan untuk dikutip begitu saja, atau bahkan tidak boleh sama sekali. Alasannya, bebeda dengan jurnal yang memiliki pe-review, blog (pribadi) tidak memilikinya. Orang bisa menulis di blog, semaunya, sekali klik maka terpampanglah tulisannya di dunia maya. Coba bandingkan dengan proses jurnal yang harus melalui reviewer, bahkan kadang berbulan-bulan baru bisa terbit. Atau bahkan berbulan-bulan malah baru dapat komentar reviewer, itupun jika masih beruntung. Jika tidak, maka penantian lama hanya berbuah penolakan saja.

------

Apa tujuan menulis?

Setiap orang berhak menentukan tujuan dia menulis. Terpaksa dilakukan untuk mengejar angka kredit, demi meraih jenjang guru besar, pustakawan utama, honor, aktualisasi diri, kewajiban akademik, mengikuti tren, atau alasan karena tidak mau kalah dengan seseorang. Atau mungkin alasan sakral ingin menyebarkan ide dan pikirannya sebagai sebuah bentuk ibadah, serta alasan lainnya. Mana alasan yang didahulukan? hanya masing-masing penulislah yang mengetahuinya.

"Menuliskah buku! maka namamu akan dikenang harum, bahkan setelah meninggal". "Menulislah, maka kamu akan mengubah dunia".  "Menulislah!, maka kamu akan hidup abadi". "Menulislah!, maka kamu akan cepat naik pangkat". "Menulislah!, maka kamu akan....". Atas bisikan tersebut, maka, seseorang menulis . Atau ada pula yang tanpa bisikan tersebut, secara sadar seseorang menulis.  Entah agar namanya harum dikenang, entah karena berharap tulisannya bisa mengubah dunia. 

Setiap orang punya keunikannya sendiri dalam menulis. Menulis di blog, memiliki kebebasan, tanggungjawab, dan kemerdekaannya sendiri. Demikian pula, menulis buku, di jurnal, konferensi, atau sekedar menulis dalam bathin kita. Di manapun, berusahalah agar tulisan kita hidup, dan memiliki makna. 

Bukan tentang di mana kita menulis, tapi apakah kita butuh menulis? Bukan tentang apakah tulisan kita akan mengubah dunia, tapi apakah kita sendiri sudah berubah menjadi seperti yang kita tulis (tawarkan) pada orang lain?

Kepada para blogger yang senasib belum mampu menulis di jurnal, yakinlah!, Tuhan bersama kita. Teriring do'a, semoga artikel Paijem segera terbit, agar ilmunya segera sempurna. Yang penting lagi, setelah terbit, Paijem tetap menulis. Tidak kalah penting lagi, tulisan dan risetnya bermanfaat bagi ummat manusia. Aamiin.

Salam sambel bawang.

Sambisari,
hari ke duapuluh empat, bulan ke tujuh, tahun duaribu tuju belas.
dua belas, tiga enam pagi