Thursday, 6 July 2017

Makerspace di perpustakaan: konsep baru, atau sekedar kemas ulang saja?

Paijo: nulis opo menehhhhh. Nganggo gambar gedang goreng barang. 
Parto: gedang goreng disamping, produk dari proses menggoreng, yang membutuhkan alat, ada orangnya. Dan yang paling penting, ono sik luwe butuh mangan, Jo. Gelem? Meh njaluk wae ndadak komentar.
-------------------------
Pisang goreng, produk makerspace :)

Purwo.co -  S
ayup-sayup saya mendengar kata #makerspace yang disandingkan dengan perpustakaan. Perpustakaan sebagai makerspace.  Karena lama tidak mengikuti kuliah ilmu perpustakaan, maka saya tidak kuasa memahami istilah langitan tersebut dengan cepat. 

"Penasarun", begitu kata Odet di serial Ok Jek pada salah satu TV swasta di Indonesia. Saya cari, apa maksud makerspace ini. 

Ternyata, makerspace tidak hanya disematkan pada perpustakaan. Pada postingan ini https://teknojurnal.com/makerspace/, ditulis contoh tempat yang digolongkan sebagai makerspace. Didirikan oleh seseorang, dan dilengkapi dengan berbagai alat yang mendukung proses yang diharapkan terjadi pada tempat tersebut. 

Silakan cek juga di https://id.techinasia.com/daftar-makerspace-di-jakarta

Makerspace, istilah yang berbau Inggris yang jika dialih bahasa ke Bahasa Indonesia, mungkin kurang lebih "ruang para pembuat" (maaf kalau keliru), atau tempat berkumpulnya para pembuat. Fasilitas yang ada di makerspace berupa  mesin, alat, serta tempat yang memadai untuk melakukan pembuatan produk. [1] Definisi lainnya tentang makerspace adalah "spaces used by people to share tools, knowledge, and ideas". Demikian dikemukakan Burke. [3, chapter 1 hal. 2]

Apa yang dilakukan dalam ruang tersebut? Mursyid menuliskan pada artikelnya, bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan [2]. Mulai dari  memperbaiki laptop, handphone, mencetak 3D dan lainnya. Konon, kabarnya termasuk memasak atau praktik resep tertentu. Lebih lanjut tentang contoh yang tergolong kegiatan di perpustakaan makerspace dapat dilihat dibukunya Burke. [3]

Nah, apakah makerspace ini barang baru di perpusatakaan? sehingga, konon disebut generasi ke-lima pada perkembangan perpustakaan?

Saya berfikir, konsep makerspace ini mengandung beberapa unsur. Orang, ruang, alat, tujuan tertentu. Jika di perpusakaan ada orang, ruang, alat, tujuan tertentu terkait proses "membuat" sesuatu, maka sangat mungkin di perpustakaan juga bisa menjadi makerspace.
Paijo: unsur itu ada landasan ilmiahnya ora, To?
Parto: ra ono, gur lamunan. 
Nah, bagaimana di perpustakaan selama ini?. Silakan lihat gambar di atas. Itu adalah gambar pisang
goreng (produk), hasil dari proses menggoreng yang dilakukan di perpustakaan. Unsur yang lain dari gambar tersebut adalah resep, alat dan tempat menggoreng, orang yang menggoreng, alasan menggoreng.

Karena proses di atas dilakukan di perpustakaan, maka sesunggungnya perpustakaan telah menjadi makerspace. Dan tentunya proses tersebut sudah ada sejak lama. Silakan cek, pasti ada gelas, piring, bahkan kompor di perpustakaan.
Loh, itu yang menggoreng siapa? yang bikin kopi siapa? kan pegawai atau pustakawannya? Tidak melibatkan pemustaka.  Ah, belum makerspace itu. Baru level kebiasaan saja, belum ilmiah.
Kawan, pustakawan itu juga pemustaka. Pemustaka juga pustakawan. Pustakawan itu menjadi pustakawan bagi orang lain, tapi juga menjadi pustakawan yang melayani dirinya sendiri sebagai pemustaka. Pemustaka, juga menjadi pustakawan pada dirinya sendiri. Jadi, proses menggoreng di atas, sudah melibatkan pemustaka.

Clear?

Nah, artinya sebenarnya makerspace itu bukan konsep baru di perpustakaan. Contoh lain selain menggoreng pisang, juga ada praktik meracik kopi, meracik teh, mempraktikkan cara memasak mi goreng dan lain sebagainya. Hanya saja, tidak ditempeli istilah makerspace seperti sekarang ini. Kalau yang disodorkan saat ini, dalam konsep makerspace di perpustakaan itu adalah produk dengan dukungan teknologi modern, itu hanya kemasannya saja. Konsep dasarnya, sudah ada sejak lama.
Loh, itu masih belum makerspace. Makerspace harus melibatkan teknologi. Semacam printer 3D. 
Bro, nggoreng dan bikin kopi itu juga butuh teknologi. Jadi kalau ditanya, "Perpustakaanmu sudah menerapkan makerspace, belum?". Jawablah dengan lantang, "wis suwe!".


Sumber: Burke (2014)

Namun jangan lupa, mulailah ajak orang lain untuk bergembira di makerspace-mu. Agar semakin semarak.

Makerspace itu punya tempatnya sendiri-sendiri. Di perpustakaan juga demikian, penyesuaikan pada kemampuan perpustakaan, jenis, dan lingkungan perpustakaan tetap perlu dilakukan.


Salam tiwul goreng. 


[1] https://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab1/2014-2-01348-MC%20Bab1001.pdf
[2] http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/jipi/article/view/97/61
[3] Burke, dalam Makerspace: a practical guide for librarian. Terbit tahun 2014.

Note: tulisan ini terbersit, ketika naik motor perjalanan ke tempat buruh. Hati-hati,  ini tulisan tidak ilmiah. :). Boleh tidak setuju dengan tafsir di atas. Satu yang pasti, kita harus bergembira.

Tuesday, 4 July 2017

, ,

Memanfaatkan Google Map untuk membuat peta hasil penelitian

Paijo: kowe nulis opo, To?
Parto: babagan peta, Jo. Mbuh, iki. Mugo-mugo ana manfaate. Idep-idep nggo catetan, Jo.
Membaca postingan Pak Andi Arsana di https://madeandi.com/2010/11/14/membuat-peta-dengan-google-maps/, saya kepikiran membuat peta untuk hasil penelitian koleksi perpustakaan. Tentunya, pemetaan berdasar wilayah.

Misalnya peta penelitian mahasiswa terkait kesehatan di Jogjakarta. Nah, kita bisa buat titik-titik tempat dilakukan penelitian + abstrak + URL dokumen yang yang lebih lengkap.

Silakan buka https://www.google.co.id/maps. Pastikan anda telah login ke email gmail anda. 

tampilan awal, dan tanda telah login
Jika telah login, maka di kanan atas akan muncul logo email anda. 
Kemudian, lihat di sebelah kiri atas. Klik garis tiga yang jika mouse didekatkan muncul tulisan Menu. 

tampilan awal kiri atas
Kemudian klik "tempat anda", maka akan muncul tampilan yang memunculkan beberapa pilihan, yaitu: Berlabel, Tersimpan, Pernah dikunjungi, Peta. Lihat bagian paling bawah ada tulisan "BUAT PETA". Klik tulisan Buat Peta tersebut.
Add caption
tab PETA untuk membuat peta baru
Maka akan muncul tampilan sebagaimana gambar  di bawah ini.

lembar kerja peta


Kotak pencarian dapat digunakan untuk mencari lokasi yang akan ditandai dengan lebih tepat. Untuk menandai, dapat dilakukan dengan cara klik tanda seperti di bawah ini, yang berada di bawah kotak pencarian. Kemudian klik tempat di peta yang akan ditandai. 
untuk penanda peta

Setelah klik di lembar kerja peta, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Kita bisa memberi judul, dan keterangan. Keterangan juga dapat diisi URL tertentu yang berisi informasi lebih lengkap terkait judul yang dimaksud.



membuat judul titik, dan keterangannya

Setelah judul dan keterangan diisi, maka akan dimunculkan pada panel di kiri atas. 

hasil pembuatan titik di peta, akan muncul di panel kiri atas.


Lakukan pada titik yang ingin ditandai. Selain membuat titik pada peta, kita juga bisa membuat garis batas pada peta untuk menandai daerah tertentu. 

Silakan coba beberapa menu yang ada di bawah kotak pencarian.


membuat titik, membuat garis


Nah, setelah selesai, bisa disematkan di web, blog, atau ditampilkan layar penuh. Monggo.

Berikut contoh yang saya buat:

Sunday, 2 July 2017

Lebaran 1438 H: Bersilaturahmi dan Berburu Jejak Silsilah Leluhur Keluarga

Alhamdulillah, saya mendapatkan silsilan leluhur saya, sampai 5 tingkat ke atas.
Lebaran tahun ini, saya lalui dengan libur yang cukup lama, 10 hari. Pertama, kami melewatkan lebaran di Nglipar Kidul, daerah saya berasal. Saya berniat melaksanakan apa yang sebelumnya ingin saya lakukan, sowan ke tetangga dan mengunjungi saudara, untuk menelisik jejak leluhur saya. Sebenarnya, saya pernah menelisik jejak leluhur saya dan membuat silsilah, ketika nenek dan ibu saya masih ada. Namun, kertas dokumentasi hilang entah ke mana.
tegalan/sawah yang kami garap
Mbah Suci, tetangga rumah, usianya sepantaran nenek saya. Dia sering datang ke rumah saya, saat itulah saya bertanya tentang silsilah sebagai modal awal penelusuran lebih dalam. Mbah Suci sendiri merupakan orang yang berjasa untuk kami, beliau yang membantu mengurus nenek saya ketika sakit. Saya kadang malu, mengingat kenakalan saya ketika kecil, yang iseng mengganggu mbah Suci dan Mbah Amat, ibunya.

Dari keterangan Mbah Suci, saya mendapat informasi bahwa Mbah Rikul yang merupakan orang tua dari kakek saya, merupakan saudara dari ibu Mbah Suci yang bernama Mbah Amat. Ketika ditelisik siapa orang tua Mbah Rikul, Mbah Suci tidak begitu terang menceritakan, kecuali menyebut Mbah Kasan. Namun, saya mendapatkan info tambahan tentang suami mbah Amat (Amat merupakan nama dari suaminya, nama aslinya adalah Wonorejo). Suami mbah Amat, sebut saja Mbah Amat Dalem, merupakan modin pada masanya. “Cok ngurusi wong nggantung”, begitu mbah Suci menceritakan. Hal ini juga dibenarkan oleh Pak Harto, sosok yang saya ceritakan di bagian akhir tulisan ini. Mbah Suci juga menceritakan bahwa bapaknya pernah memiliki beberapa buku kuno. Prediksi saya, buku tersebut adalah Qur’an. Sayang saya tidak dapat melihat buku tersebut.

Berikutnya, saya sowan ke mbah Rubiyem dan mbah Kasinem. Sayang, saya hanya punya waktu untuk berbincang dengan Mbah Rubiyem dan suaminya, Mbah Basuki. Karena ketika ke Mbah Kasinem, beliau sedang tidak ada di rumah. Di rumah Mbah Rub saya diminta setengah paksa untuk ikut makan, dan ketika pamit diberi beberapa tangkai buah petai segar. Teringatlah saya pada masa dulu, sering mampir di rumah ini.

kandang ternak. sekarang kosong
Saya punya kenangan indah dengan rumah Mbah Rubiyem. Ketika masih sekolah, saya sering membantu nenek saya mencari rumput untuk pakan ternak ke Kreteg. Kreteg adalah nama daerah yang kami memiliki tanah garapan di sana, kurang lebih 5 KM dari rumah. Kadang saya sendiri, kadang saya ndalani anak mbah Rub yang bernama Marsudi dan Pardi  untuk menuju tanah garapan tersebut guna mencari rumput pakan ternak. Nah, ketika pulang kadang saya mampir di rumah Mbah Rub, sekedar istirahat, dan kadang saya ikut makan di sana. Tentu saja, menuju ke tanah garapan tersebut dengan jalan kaki, dan ketika pulang harus ditambah dengan membawa pakan ternak, atau hasil panen, yang disunggi, atau dipikul. Kurang lebih 8-10 KM pulang-pergi.

Mbah Rub, merupakan anak termuda (ragil) dari Mbah Buyut saya (Mbah Taruno), dan tinggal di tabon. Tabon merupakan sebutan untuk rumah asli dari yang dituakan. Dari Mbah Rubiyem, saya mendapatkan jejak silsilah dari Mbah Taruno putra dan putri, yang nama mudanya Mbah Rantiyo dan Mbah Wantiyem. Orang tua jaman dulu, biasanya setelah menikah mengganti nama, atau menambah nama, yang jamak disebut nama tua (jeneng tuwo). Mbah Taruno putra berasal dari Ngrandu, dan memiliki beberapa saudara.

Menurut Mbah Rubiyem, masih ada satu saudara Mbah Taruno putra yang saat ini masih hidup, dan tinggal di Kulon Gedong. Sayang, saya tidak bisa berkunjung ke sana. Beberapa nama saudara Mbah Taruno putra berhasil saya peroleh.

kertas coretan silsilah
Sementara mbah Taruno putri (Wantiyem), merupakan anak dari Mbah Irojoyo (pa/pi?). Mbah Wantiyem memiliki beberapa saudara. Mbah Kromo klego, mbah Sodimejo, Mbah Ngadiko putri. Lebaran ini, saya berkesempatan ke rumah Mbah Kasiman, yang merupakan anak dari Mbah Kromo, saudara Mbah Wantiyem. Tentu saja, selain silaturahim, juga melakukan crosscheck terkait silsilah ini. Dengan keturunan Mbah Sodimejo, saya ketemu putranya, yang bernama Mbah Tukino beserta istri dan anaknya, namun hanya kebetulan di jalan. Kami bertegur sapa, salaman dan saling mendoakan.

Di rumah Mbah Kasiman, saya menemukan Mbah Kasiman putra dan putri serta dua anak, dua menantu dan cucunya. Terhadap Mbah Kasiman, saya tidak begitu asing, namun pada anaknya (Edi dan Liah), tentunya sangat asing. Maklum, puluhan tahun saya tidak ketemu. Mbah Kasiman tinggal di tabon Mbah Kromo klego. Pertama, saya mengucapkan bela sungkawa, karena salah satu anak Mbah Kasiman meninggal dunia beberapa waktu lalu. Namanya Lek Sri, yang usianya sepantaran saya. SD dan SMP nya juga satu sekolah dengan saya.
Di tempat Mbah Kasiman, saya sekaligus menengok tanah di samping rumahnya, yang dulu, ketika kecil kami garap bersama Bapak, Ibu, dan kakek nenek saya. Dulu, kami jalan dari rumah, sekitar 4-5 KM, membawa bekal, dan kadang membawa hewan ternak untuk kepentingan membajak. Tanah tersebut kami tanami padi dan palawija lainnya. Jika waktu istirahat, kami gunakan untuk jagongan, alam-alaman masing-masing. Alam-alaman, berarti berbagi pengalaman. Tak jarang, Mbah Kasiman juga memberikan makanan untuk kami nikmati sembari istirahat.

Selain ke Mbah Kasinem, Rubiyem, Kasiman, saya juga sowan ke Lek Sastro, Wari, dan Sambiyo. Tiga nama terakhir ini merupakan anak dari Mbah Ngatmo. Mbah Ngatmo (pa/pi?) merupakan saudara kandung Kakek saya, Mbah Saimin (Martowiharjo). Kecuali lek Sastro, yang merupakan menantu, dari anak kandung Mbah Ngatmo yang bernama (alm) Suji, yang telah meninggal.
Perjalanan saya, juga mengantarkan ke rumah Lek Pardi. Lek Pardi ini, secara usia di bawah saya, tapi awune lebih tua dari saya. Lek Pardi adalah anak dari Mbah Rubiyem, saudara nenek saya. Sehingga Lek Pardi ini sejajar dengan bapak/ibu saya. Karena lahir dari adik nenek (lebih muda), maka saya memanggilnya dengan Lek (Lek merupakan pemendekan dari Pak Lek, Bapak Cilek, Bapak Kecil, lawan dari Pak Dhe, Bapak Gedhe).

Semua informasi yang saya peroleh, atas rekomendasi Bapak saya, diminta untuk dicek ke Pak Harto.
Siapakah Pak Harto?
belik Nggelo
Pak Harto tinggal di samping barat sumber sungai Nggelo, putra dari Mbah Pawiro. Mbah Pawiro adalah saudara termuda dari Mbah Rikul, orang tua kakek saya. Mbah Pawiro merupakan anak termuda (ragil) dari Mbah Kasan. Atau, dalam kata lain Mbah Kasan memiliki anak: Mbah Rikul, Mbah Pawiro dan beberapa anak lainnya. Saya, masih ndenangi Mbah Pawiro. Beliau yang dulu membantu kakek saya ketika memindah rumah belakang ke depan, dan Mbah Pawiro pula yang mengecat penuwun rumah saya dengan warna kuning hijau khas kraton.  Orang yang awunya paling tua, dan sempat saya temui, selain kakek buyut Pawiro, juga Mbah Taruno putra putri, serta mbah Ngapiyo (saudara mbah Taruno putra).

Nah, Pak Harto, saat saya menulis ini, merupakan orang tertua dan masih hidup dari silsilah yang saya telisik. Sehingga cocok jika beliau menjadi tumpuan terakhir untuk pelacakan silsilah yang saya lakukan.

Dari crosscheck dengan Pak Harto, saya menemukan beberapa informasi:

  1. Mbah Kasan, memiliki anak Mbah Rikul, mbah Setro dan beberapa lainnya (9 orang). Saya lahir dari jalur mbah Rikul. Sementara mbah Setro, ternyata tinggalnya di utara rumah saya. Mempunyai keturunan yang akhirnya sampai ke Lek Sumirah. Saya terbiasa dan kenal benar dengan Lek Sumirah, namun saya baru ngeh, jika ternyata Lek Sum ini mempunyai jalur saudara dengan saya melalui Mbah Kasan.
  2. Saya berkesimpulan bahwa pekarangan saya dikampung + pekarangan Mbah Suci, + pekarangan garapan Lek Sastro, + pekarangan Lek Sum + Lek Warni/Jumio + utara lek Sum dulu kala dimiliki oleh satu orang, Mbah Kasan.
  3.  Mbah Kasan, memiliki saudara, namanya Mbah Irojoyo (pa/pi?). Nah, mbah Wantiyem adalah cucu dari Mbah Irojoyo.
  4. Dari informasi nomor tiga, maka ternyata kakek dan nenek saya merupakan cucu dari dua saudara kandung. Mbah Martowiharjo (kakek laki-laki saya) merupakan cucu dari Mbah Kasan lewat mbah Rikul. Sementara Mbah Laginem (nenek saya), merupakan cucu Mbah Irojoyo melalui Mbah Wantiyem. Dalam Bahasa jawa, Putu ketemu Putu.
  5. Informasi tambahan tentang hak milik tanah. Bahwa dulu, orang membakar lahan untuk memperoleh tanah garapan. Sampai di mana api itu berakhir, maka tanah bekas api itu menjadi hak milik si pembakar. Namun, untuk meminimalisir konflik, pemerintah membuat peraturan, yang berbunyi kurang lebih, “silakan ambil tanahnya, namun bayar pajaknya”.
Tidak semua saudara dapat saya kunjungi. Anak dari saudara kakek saya yang tinggal di seputaran Nggojo, tidak bisa saya sambangi. Kecuali pada lebaran pertama, kami melayat ke Mbah Pur. Mbah Pur merupakan anak (atau menantu?) dari mbah Kromo. Mbah Kromo merupakan saudara kandung kakek saya. Yang tidak bisa saya sambangi juga, keluarga dari keturunan Mbah Sonto Klego. Mbah Sonto merupakan saudara perempuan dari kakek saya. 

Semoga lain waktu, saya dapat mengunjungi mereka. Saya juga belum sempat ziarah ke sarean simbah buyut saya dari jalur kakek.

Sarean Eyang Taruno (Mbah Buyut saya)
Namun, Alhamdulillah, langkah kaki saya bisa membawa saya sowan ke beberapa tetangga dekat rumah, meski tidak semua. Beberapa orang sepuh bisa saya temui. Mbah Tarjan, sosok sepuh di lingkungan rumah, yang konon kabarnya nama saya juga berasal dari usulan Mbah Tarjan. Kemudian Mbah Sastro putri (Kirah), suami dari Mbah Sasto, orang yang sangat berjasa bagi saya dan banyak orang di kampung. Mbah Sastro merupakan orang pintar yang dapat menjadi sebab kesembuhan beberapa penyakit. Dulu, ketika saya demam, biasanya di bawa ke Mbah Sastro untuk di suwukke, dan sembuhlah saya. Suwuk adalah prosesi berdoa dengan air putih, lalu disemburkan ke orang yang disuwuk.

Kemudian mbah Tomo, Mbah Adi Slamet, Mbah Pawiro Sowo. Sayangnya, saya gagal bertemu Mbah Parto. Mbah Parto tinggal di selatan salah satu tanah yang kami garap. Karena itu, kami akrab. Mbah Parto juga memiliki tanah garapan persis di samping tanah kami. Usia mbah Parto sudah sangat sepuh, sudah tidak keluar rumah, sehingga saya sulit menemuinya. Dua atau tiga tahun lalu, saya masih sempat bertemu dengan beliau.

Sensasi bertemu dan silaturahmi
“kowe ki sopo”, 
“sampeyan sinten”, 
“iki mas Purwoko, yo”. 
“anake Pak Sangadi/Tamiyem?”. 
“Putune Laginem?”.

Merupakan beberapa kalimat yang keluar dari simbah-simbah yang saya temui. Sungguh menjadikan saya terharu. Pernah, saya iseng pada simbah-simbah, dengan mengatakan dalam bahasa jawa, “nderek langkung mbah, ajeng sekolah”. Artinya, “permisi mbah, ini mau sekolah”. Simbah tersebut terheran-heran, sampai kemudian saya sampaikan, “kulo Purwoko”. “Saya Purwoko”, demikian jelas saya, yang membuat simbah tersebut terkejut dan kemudian mengulang kisah saya dan teman-teman ketika lewat samping rumahnya, menuju sekolah.

“Mugo-mugo lancar gaweane, oleh rejeki sing kalal, didohke soko godo ndoyo, bisikan setan sing mbebayani uripmu, Pur”. 
“Tansah rukun, mugo-mugo uripmu iso lancar, tansah ojo lali ngibadah”. 
“Dongakno aku dowo umure, lan sik baku diparingi sehat”. 
“Mamakmu, karo simbah biyen, jian kulino karo aku, Pur.”

Kalimat di atas, adalah kalimat yang jamak disampaikan dengan ikhlas dari para sesepuh di desa pada anak-anak mereka, pada siapa saja yang sowan dan bersilaturahmi.

Untuk diketahui, bahwa meskipun saya laki-laki, hampir pada semua orang tua yang saya temui, saya menitikkan air mata, ketika mendengar doa-doa mereka untuk saya, atau doa-doa mereka untuk nenek, kakek dan ibu saya yang telah mendahului saya menghadap Allah SWT.


Suasana desa, membuat saya selalu ingin kembali ke desa.

Tuesday, 20 June 2017

Monday, 19 June 2017

,

Dataverse: aplikasi opensource untuk mengelola data riset

Tulisan sebelumnya tentang manajemen data riset, saya menulis singkat tentang Mendeley Data. Silakan cek di http://www.purwo.co/2016/06/mengelola-data-riset-menggunakan.html. Mendeley data gratis, namun storage ada di server Mendeley. Tentunya ini jadi pertimbangan jika akan merekomendasikan, atau paling tidak, pengguna harus paham hal tersebut.

Nah, kita lihat alternatif lainnya. Studi banding saya ke Harvard, mengantarkan saya pada URL https://dataverse.harvard.edu. "Share, archive, and get credit for your data. Find and cite dataacross all research fields.", demikian tulisan yang ada di header alamat tersebut. Sebagai praktisi, bagi saya yang menarik adalah: "pakai software apa, yak?". Ternyata di bagian bawah tertulis "Dataverse".


Ketika saya telusur, ketemulah web berikut: https://dataverse.org/best-practices/data-management
Dataverse is an open source web application to share, preserve, cite, explore, and analyze research data. It facilitates making data available to others, and allows you to replicate others' work more easily. Researchers, data authors, publishers, data distributors, and affiliated institutions all receive academic credit and web visibility.
Pada web tersebut, dicantumkan pula alamat kode sumber aplikasi, yang ternyata pengembangannya dikelola menggunakan Github. Silakan cek di https://github.com/IQSS/dataverse. Sepertinya aplikasi ini rajin diperbarui. Ketika saya membuka laman Git tersebut, ada yang baru diupdate 10, 5, bahkan 3 hari yang lalu. Demo aplikasi ini juga tersedia di https://demo.dataverse.org/

isian dataset
Dataverse mampu mengunggah file dari dropbox. Selain itu, contoh milik Harvard menunjukkan bahwa dataverse bisa ditempeli DOI, sehingga penemuan data menjadi lebih akurat, tentunya juga memudahkan dalam pengutipan data.


Dataverse juga memungkinkan satu metadata memiliki banyak file. Serta mendukung versioning data. Silakan lihat gambar di bawah ini.


Semoga bermanfaat.

Wednesday, 31 May 2017

URL bermanfaat untuk belajar Latex

Latex merupakan aplikasi untuk membuat dokumen, dengan filosofi WYSIWYM (what you see is what you mean).

Berikut beberapa URL yang berisi informasi singkat untuk belajar latex dasar.

https://bellatania68.wordpress.com/2013/07/10/membuat-jurnal-menggunakan-latex/
Tulisan di atas, bisa diikuti dan dipraktikkan untuk belajar dasar menulis menggunakan Latex dari baris awal.


http://komunitas.ui.ac.id/mod/groups/topicposts.php?topic=12949&group_guid=1572
Berisi template tugas akhir, dan contoh hasilnya. Dibuat oleh komunitas UI

https://en.wikibooks.org/wiki/LaTeX
Tutorial Latex dari A-Z. Jika sudah mencoba membuat sendiri melalui URL paling atas, bisa dikembangkan menggunakan berbagai tips di web ini, dan di bawah ini.

https://www.sharelatex.com/learn/Headers_and_footers
Berisi tips membuat header dan footer pada latex

https://www.latextemplates.com/  dan https://www.sharelatex.com/templates/
Dua web di atas, menyediakan template berbagai gaya. Bisa digunakan untuk meningkatkan hacking latexnya.

Monday, 29 May 2017

Afi Nihaya Faradisa: siswi yang suka membaca buku di perpustakaan



Video di atas, merupakan rekaman diskusi di FISIPOL UGM, yang menghadirkan siswi SMA yang sempat membuat heboh jagad media sosial melalui tulisannya, Asa Firda Inaya yang dikenal dengan nama Afi Nihaya Faradisa (AFI). Diskusi dimoderatori oleh dosen "gaul" dari DPP (Departemen Politik dan Pemerintahan), Dr. Abdul Gaffar Karim.

Saya tidak mengikuti diskusinya dari awal, juga belum mendengarkan video yang tidak sempat saya ikuti streamingnya. Namun, satu hal yang menjawab pertanyaan saya terkait AFI dan perpustakaan, yaitu AFI ternyata sering membaca buku di perpustakaan sekolahnya. Dia menyebut perpustakaan sekolahnya terbuka untuk dia bebas keluar masuk. Dia juga menyampaikan membaca beberapa buku berat (bagi saya, karena belum pernah membaca -tet-tot-), yaitu Ihya Ulummudin, Riyadus Shalihin dan semacamnya. Dua buku yang direkomendasikan AFI bagi anak muda adalah The Magic of Thinking Big, dan 7 Habbit-nya Covey.

Afi suka membaca dari internet dan buku. Dia punya target 1-3 buku dibaca dalam sebulan. (http://regional.liputan6.com/read/2962063/afi-si-penulis-warisan-dapat-tawaran-beasiswa-kuliah.

Tulisan Afi, yang kabarnya sempat menghebohkan saya peroleh lognya di https://hype.idntimes.com/viral/amanda-14/tulisan-afi-nihaya-ini-bikin-merinding-c1c2/full. Jika dilihat isinya, memang mungkin ada yang terganggu, mungkin juga biasa saja. Saya sendiri merasa tulisan tersebut tidak ada yang perlu ditakutkan.  Afi juga mengonfirmasi saat diskusi, terkait kebenaran agama, "semua agama benar, bagi pemeluknya masing-masing. titik.".


Glorifikasi
Istilah ini muncul ketika diskusi. Semua sepakat, bahwa glorifikasi bagi Afi justru membahayakan. Di KBBI https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/glorifikasi, glorifikasi diartikan dengan n proses, cara, perbuatan meluhurkan, memuliakan dan sebagainya. Afi pun sekapat, glorifikasi pada dirinya justru akan berakibat buruk. Justru kritik (baik biasa maupun pedas) akan membuatnya bisa selalu memperbaiki diri dan idenya.

Menulis, bagi anak muda di Indonesia adalah hal istimewa, jangan ganggu mereka dengan dalih macam-macam. Jika tidak setuju, ajak saja diskusi, dan hadapi dengan tulisan.

Friday, 26 May 2017

,

Artikel "Mengembangkan Perpustakaan FT UGM", dan "Kompetensi Scholarly Communication untuk pustakawan"

Berikut ini, dua artikel yang saya tulis dalam rangka lomba penulisan Dies Perpustakaan UGM tahun 2015 dan 2016.

Keduanya telah diterbitkan dalam bentuk buku dan di berkala Media Informasi. Namun, untuk kepentingan penyebaran informasi, bukan sebagai tulisan baru, saya unggah pula di repository.ugm.ac.id, atas ijin Kepala Perpustakaan UGM.  Sebelum saya unggah, saya format ulang menggunakan Latex dengan memanfaatkan template Elsarticle.


Artikel berjudul Scholarly Communication: kompetensi wajib pustakawan perguruan tinggi, dapat diunduh di https://repository.ugm.ac.id/273436/ (menunggu indeks selesai 24 jam, akan online pada 27 Mei 2017)



Artikel berjudul Membangun Perpustakaan Kreatif: Pengalaman Pengembangan Perpustakaan Fakultas Teknik UGM  dapat diunduh di https://repository.ugm.ac.id/273434/ (menunggu indeks selesai 24 jam, akan online pada 27 Mei 2017)

, ,

Kahoot, aplikasi sederhana untuk membuat game dan kuis di perpustakaan

Kuis dan game memang menarik, tentunya juga untuk perpustakaan. Nah, kali ini saya coba tuliskan secara singkat tentang Kahoot, aplikasi berbasis web yang dapat digunakan untuk membuat kuis dan game sederhana.

Kahoot terbagi dua, untuk peserta dan untuk admin. Untuk peserta beralaman di kahoot.it, sedangkan untuk admin https://getkahoot.com/.

Admin dapat melalukan login menggunakan akun Gmail, atau akun lainnya. Tentunya ini memudahkan bagi yang sudah memiliki akun Gmail atau FB, karena dapat menggunakan single ID.

Kahoot memiliki 4 fitur: game, kuis, diskusi dan survey. Untuk game, kita bisa membuat jenis pertanyaan, dan menentukan jawaban yang paling tepat serta waktu yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Uniknya, jawaban nantinya akan diwakili oleh gambar dan warna. Peserta diminta memilih warna/gambar yang mewakili jawaban.

Nah, disinilah serunya. Selain mencari jawaban yang tepat, peserta hanya memastikan agar tidak salah sentuh (klik) ketika memilih jawaban.
Memilih tipe kuis yang akan dibuat oleh admin


tampilan di layar peserta
Tampilan pertanyaan di layar admin yang bisa dilihat peserta
 Admin harus menampilkan gambar di atas di layar besar, sehingga bisa dilihat oleh peserta. Peserta, setelah sebelumnya diminta masuk ke kahoot.it dan memasukkan pin serta nama, akan disodori pilihan gambar seperti di bawah ini.

Peserta harus memilih gambar untuk menjawab


Nah, peserta harus milih gambar yang mewakili jawaban. Jika game telah selesai, maka di layar admin akan diinformasikan nama pemenangnya. Jawaban dinilai dari ketepatan dan kecepatan menjawab.

Beberapa gambar di atas, adalah penggunaan Kahoot type kuis. Untuk type game dan lainnya, silakan pelajari sendiri.

Game atau kuis tersebut, bisa digunakan untuk kepentingan sosialisasi sumber informasi, literasi informasi, atau sekedar selingan di sebuah acara perpustakaan.

Selain Kahoot, coba juga https://quizizz.com/join yang juga bisa digunakan untuk kuis jarak jauh. Dengan cara ini, peserta bisa ada diberbagai tempat. Soal bisa diacak, dan dibatasi waktunya. 

Coba juga  menti.com