Monday, 5 September 2016

,

Feed Reader pada jurnal online: apa fungsinya?



 Kadang, dalam penelusuran jurnal kita menemukan fitur feed yang dilambangkan dengan kotak dengan garis melengkung di dalamnya. Apa fungsinya dan bagaimana menggunakannya?

Lihat gambar pertama, pada laman jurnal tersebut ada fitur get new article feed, dan get new open access article feed. Dua fitur ini, jika diklik, maka akan diarahkan ke gambar 2. Terdapat sebuah URL rss reader. URL ini dapat dicopy dan dimasukkan ke RSS reader software.  Maka software akan mampu menampilkan artikel terbaru berdasar kategori. Ada dua jenis fitur rss ini, 1) url untuk dipasang di rss reader, 2) kode html untuk dipasang di laman post web.

Lihat pada gambar 3. Terdapat beberapa menu jurnal di samping kiri, dan ada judul di tengah, serta detail dari judul di kanan. Judul tersebut adalah judul terbaru dari jurnal yang dipilih. Judul dipanggil menggunakan URL rss.
Dengan cara ini, maka seorang penikmat jurnal dapat mengetahui artikel terbaru sebuah jurnal dengan tanpa perlu masuk ke URL jurnal dan melakukan pencarian. Namun telah disajikan pada rss feed reader yang terinstall. Pada satu software rss reader dapat dipasang beberapa url rss.

Selain jurnal, berbagai portal berita juga menyediakan rss feed. Nah, dengan cara ini, tak perlu buka laman web sebuah portal berita untuk tahu berita terbaru. Pasang saja rss-nya.

Untuk rss yang di-embed di laman web, contoh dapat dilihat di http://lib.ft.ugm.ac.id/web/scopus-ft/. Laman tersebut diambil dari Scopus yang menampilkan artikel terbaru civitas FT UGM yang terindeks Scopus.

Saturday, 3 September 2016

, , ,

Ngudo roso pustakawan: antara seminar dan pelatihan atau workshop bidang perpustakaan

Mungkin karena keterbatasan pengetahuan atau pemahaman saya, namun saya pikir pikir antara seminar dan pelatihan kok lebih menarik pelatihan, ya.
Banyak seminar bidang perpustakaan, namun di era sekarang, materi seminar menurut saya dapat diperoleh dari berbagai tempat. Intinya tak perlu datang ikut seminar. Sumber informasi isu yang diseminarkan juga banyak, tinggal unduh dan baca, bahkan jika ingin diskusi point seminar langsung dengan pembicara juga dapat dilakukan via email atau jaringan online lainnya. Seminar itu seolah kok ada jarak antara peserta dan pembicara. Mungkin juga ada yang ikut seminar ya mung lungo, teko, oleh sertifikat.
Sementara pelatihan, menurut saya lebih punya manfaat bagi pustakawan, karena ada praktik yang bisa dimanfaatkan. Loh, bukannya juga bisa praktik sendiri? Bisa. Keduanya bisa. Namun dari keduanya itu kok kayake lebih mengena pelatihan, ya.
Namun, nilai "bertemu dengan orang lain secara langsung", itu yang berharga, baik di seminar atau workshop. Maka ketika ikut seminar atau pelatihan, salah satu yang harus dilakukan adalah memperluas jejaring.

Apakah kemudian seminar tidak penting? atau pelatihan lebih perlu daripada seminar?
Seminar tetap penting. Namun, mana yang lebih penting akan tergantung pada pandangan orang-perorang dengan berbagai latarbelakang kepentingannya.
Mungkin pandangan saya tersebut juga dipengaruhi oleh posisi saya yang pustakawan, praktisi, bukan akademisi (dosen ilmu perpustakaan atau semacamnya). "Sebagai praktisi dan orang teknis, maka sing dipentingke yang riil-riil saja", mungkin demikian singkatnya menurut saya, setidaknya saat saya menuliskan status ini. Ketika mendengar paparan para ahli, yang saya cermati adalah "lalu apa yang seharusnya saya lakukan?", jika saya mendapatkan point dari paparannya, maka saya anggap paparannya bagus. Namun jika saya kurang bisa menangkap point "apa yang harus saya lakukan", maka itu berarti saya yang kurang pengetahuan.
Boleh setuju, boleh tidak. Rapopo, #singpentingmadhiang

Thursday, 1 September 2016

, ,

FPPTI DIY, salah satu kawah tempat saya belajar

FPPTI, atau  Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia, khususnya yang ada di wilayah DIY merupakan organisasi penting dalam sejarah kepustakawanan saya. Di organisasi inilah, dari tidak tahu saya menjadi tahu banyak hal dengan berbagai dinamikanya.

Berawal dari pinangan Bu Umi Proboyekti tahun 2010, saya mengiyakan ketika diajak menjadi pengurus FPPTI DIY. Saya duduk di divisi TI bersama Ibu Anastasia Tri Susiati, MA (Kepala Perpustakaan UAJY). Saat itu saya masih bekerja di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Pinangan yang menurut saya sangat luar biasa, saya terima. Saya fikir tak ada salahnya saya belajar kepada orang lain, dan belum saya kenal.

Profil Umi Proboyekti saya cari di internet. Saya dapatkan berbagai informasi dan keterkarikan beliau pada literasi informasi. Tak aneh jika Beliau menjadi salah satu pemrakarsa LI di DIY. "Ah, pasti saya akan banyak belajar dan mendapat banyak hal", fikir saya. Namun, apa yang bisa saya beri ketika saya mendapat banyak hal?. Sambil jalanlah, sambil belajar.

Pada kepengurusan 2010-2013 ini pula, saya mendapat kesempatan pergi belajar ke Brunei Darussalam mengikuti acara kepustakawanan. Tentunya, lagi-lagi ini menjadi wadah belajar yang sangat berarti bagi saya. Mulai dari persiapan presentasi, melakukan presentasi, persiapan berangkat, pulang, termasuk cari dana **halah**. Berbagai tema diskusi FPPTI periode ini, saya ikuti. Bahkan dengan murah hati pengurus, saya diminta mengisi salah satu sesi DIP atau Dialog Ilmiah Perpustakaan. Grogi tak terkira menjelang acara, namun terimakasih tak terhingga untuk semua pengurus. Pada periode ini pula, pertama kali saya mendapat pengalaman menjadi panitia kegiatan nasional, Munas FPPTI 2012 di Yogyakarta. (tentang munas ini, klik di sini). Luar biasa tentunya.

Pergantian kepengurusan menuju 2013-2016 diselingi dengan tragedi "tiwul".

Pada 2013-2016, ketika ketua terpilih mencari pengurus, saya diajak kembali. Bu Susi, yang menjadi ketua periode ini menempatkan saya di divisi SDM. Hahaha, tak terkira berapa banyak pembelajaran saya pada periode ini. Meski rodo mbeling, namun terimakasih saya dimaklumi. Selain pengalaman dalam bentuk kegiatan di Jogja atau di luar Jogja, pengalaman juga saya dapatkan dalam bentuk diskusi ide yang berseliweran. Baik dari kepala masing-masing kami, atau dari luar yang dibawa ke pengurus. Alangkah beruntungnya saya, jika saya tidak jadi pengurus, pastinya saya tidak akan mendapat kesempatan memperoleh berbagai ide atau informasi terkini dunia kepustakawanan. Paling tidak, energi untuk memperolehnya lebih sedikit. Terimakasih..

Dua periode, atau kurang lebih 6 tahun, atau sekitar 74 purnama saya ikut bersama FPPTI DIY. Terimakasih atas semuanya.

Akhirnya, pada periode berikutnya... saya ucapkan selamat mengemban amanah untuk pengurus 2016-2019. Teman-teman pasti bisa, "beban amanah tak akan salah memilih pundaknya" (ups, saya mengutip siapa ya, yang pasti ini buka kata-kata saya, saya pernah dengar kalimat ini dari istri saya, sumber aslinya mungkin ini). Menjadi pengurus FPPTI DIY adalah pengalaman berharga, percayalah.

FPPTI DIY merupakan wadah yang tepat untuk pengembangan diri pustakawan Jogja.

Selamat menjalankan tugas, dan sukses.. Semakin banyak orang yang mendapatkan kesempatan menjadi pengurus FPPTI, semakin baik pula untuk perkembangan kepustakawanan DIY.

Terimakasih FPPTI DIY atas semuanya, dan mohon maaf atas semua kekurangan saya.Terimakasih pula untuk semua pihak, termasuk UGM yang memberi saya kesempatan menjadi pengurus organisasi kepustakawanan di luar UGM.


Tuesday, 30 August 2016

,

Tentang EEWOWW

Akhirnya, saya ikut juga acara pengenalan aplikasi web based (tidak tersedia versi offline/dekstop, dan harus online) EEWOO.
Beberapa catatan:
  1. aplikasi ini bisa menggabungkan kebutuhan peneliti pada alat tulis (software untuk menulis), + reference management software + template dari berbagai jurnal + penyebaran hasil karya + pengecekan kesamaan kata (plagiarism checker)
  2. Plagiarism checker dapat diperoleh ketika langganan. Ada model basic dan premium
  3. Pemeriksaan plagiat diambil dari open web, atau web yang ada di internet. Bukan dari jurnal di sciencedirect dll. Agaknya memang domain di jurnal berbayar ini sudah dimonopoli iThenti**** dan Turn****.
  4. Fitur publikasi, via kolega yang ada di Ewoo, ini mirip dengan group yang ada di Mendeley dan Zotero.

Komentar saya:
  1. Sejauh ini, kok saya masih lebih memilih Mendeley atau Zotero sebagai reference management software, plus word (Ms. atau Libre). Fitur lain yang ada di EEWOO bisa dicari dari sumber lain.
  2. Template, bisa dicari di laman web jurnal yang diinginkan
  3. Plagiarism checker EEWOO, yang diambil dari open web, hanya memudahkan saja. Jika dilihat di internet ada banyak fasilitas pemeriksaan yang gratis. Tentunya dengan berbagai konsekuensinya
  4. Saya mencoba menggunakan EEWOWW sebagai pengelola laman web yang saya rasa bagus. Inipun hanya menyimpan tautan. beda dengan Zotero yang mampu memotret laman web trsebut dan disimpan di piranti penyimpanan lokal. 

ewoo untuk menyimpan laman web

Friday, 26 August 2016

,

Mendeley tips: error word, dan SSL login

Please run Word at least once before installing the plugin
If you see this error message when trying to install the plugin via Tools >Install MS Word Plugin, you may need to try installing the Word plugin manually. You can do this by copying the.dot file from the Mendeley wordplugin folder in the Mendeley folder in Program Files to Documents and Settings\username\Application Data\Microsoft\Word\Startup and restarting Word and Mendeley Desktop. You should then be able to find the Word plugin in Word under the References ribbon.  
Sumber: klik

Jika Error SSL
Tekan Ctrl+Shif+D
Cari seting SSL, ubah ke true

Jika tidak bisa terinstall, maka dapat diinstall manual melalui:
File - option - Word Add-in - Add --> cari dotm-nya Mendeley di tempat Mendeley diinstall.

Jika error terkait ActiveX
masuk ke Ugm.id/5f atau simpan UGM , download dan install file vbs.


Referensi lain:

  1. http://aveyntoh-blog.blogspot.co.id/2014/07/mendeley-word-pulgin-error-address-is.html?m=1
  2. https://ilmubersama.com/2020/04/23/mendeley-desktop-tidak-bisa-login-ssl-error/
  3. https://ilmubersama.com/2020/05/11/tutorial-mendeley-bagian-12-tidak-bisa-login-ssl-error/
  4. https://ilmubersama.com/2020/05/13/tutorial-mendeley-tidak-bisa-sinkronasi-sorry-there-was-a-problem-syncing/


Tuesday, 23 August 2016

Mencari daftar jurnal yang terindeks Scopus

Sama seperti di Web of Science, kita dapta mengetahui jurnal apa saja yang terindeks Scopus secara bebas. Namun kita tidak bisa mengetahui informasi lebih terkait performa jurnal tersebut.

Untuk mendapatkan daftar jurnal tersebut, klik https://www.elsevier.com/solutions/scopus/content?sf29956008=1, klik Scopus Source List. Maka akan diminta mengunduh file .xsl. Unduh saja, kemudian buka file tersebut lalu sortir berdasar negara atau filter lainnya.
Gambar di bawah ini, menunjukkan daftar jurnal di Indonesia yang terindeks Scopus. Data diunduh pada 23 Agustus 2016.


Terdapat 23 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus. Dari 23 tersebut, terdapat 3 jurnal yang terindentifikasi inactive.

Memeriksa, apakah sebuah jurnal terindeks di Web of Science JCR atau tidak

Untuk melihat IF di Web of Science JCR, harus melanggan. Namun untuk mengetahui sebuah jurnal masuk di WoS atau tidak, kita bisa memeriksanya di
http://ip-science.thomsonreuters.com/mjl/.

The Master Journal List, begitu sebutannya. Yang pada web tersebut tertulis keterangan "includes all journal titles covered in Web of Science". 

gambar di atas menunjukkan, bahwa

INTERNATIONAL JOURNAL OF COMPUTER SCIENCE AND INFORMATION SECURITY

Monthly ISSN: 1947-5500

tercover di WoS.  Namun informasi IF tidak dimunculkan.

, ,

Eewoww: the cradle of ideas, apa fungsinya?

Eewoww, makhluk apa lagi ini? Beberapa waktu lalu mendapat informasi tentang adanya alat riset yang bernama eewoww yang akan dikenalkan di perpustakaan UGM pada tanggal 30 Agustus 2016.   Penasaran, akhirnya buka sana sini, mencoba registrasi dan melihat beberapa fiturnya. 
Sekilas, ada kemiripan dengan software pengelola dokumen referensi. Mendeley atau Zotero.  Ada space untuk metadata berbagai referensi, tampilan abstrak sekaligus file .pdfnya. Bedanya ini web based. Jika disamakan dengan Mendeley atau Zotero, maka mirip dengan Mendeley Web atau Zotero Web. 
Namun apa kira-kira perbedaannya? Jika dilihat dari web Eewoww, terdapat 5 fitur andalan. Silakan lihat gambar di bawah ini.

  1. Organize your ideas
  2. Get inspired from others
  3. Format manuscripts
  4. Ensure originality
  5. Maximize visibility

Ingin tahu lebih lanjut? Silakan datang di acara pengenalan Eewoww di Perpustakaan UGM pada tanggal 30 Agustus 2016. Gratis. Info selengkapnya http://lib.ft.ugm.ac.id/web/pengenalan-research-tools-eewoww-the-cradle-of-ideas-gratis-silakan-gabung/

Stock-opname menggunakan SIPUS UGM

Berikut prosedur yang dilakukan dalam stock-opname menggunakan SIPUS UGM
  1. Tentukan waktu, minimal seminggu.
  2. Rapikan semua buku yang ada di rak, agar mudah dalam mengambil ketika SO
  3. Siapkan stempel SO, misal berbunyi SO 2016
  4. Hubungi staf TI Perpustakaan UGM untuk menyetel agar semua koleksi dianggap hilang, kecuali yang terpinjam, atau yang diset rusak dan diperbaiki
  5. Catat semua barcode buku yang ada di perpustakaan. Pencatatan dapat dibagi per rak, atau per kelas pada para pustakawan. Setelah dicatat, pastikan ada staf yang memberi stempel pada buku yang telah dicatat barcodenya
  6. Setelah semua tercatat, masukkan kode barcode tersebut ke SIPUS pada menu Pendataan, dan kategori Shelving
  7. Seteleh selesai, minta hasil laporan ke admin SIPUS
  8. Lihat laporan, dan cermati apakah ada anomali. Jika ada, telusuri
  9. Selesai

Proses 5,6 dapat dilakukan pula dengan langsung membawa laptop ke rak, dan menembak barcode dengan barcode scanner ke menu Pendataan- Shelving.

Friday, 12 August 2016

Perpustakaan perguruan tinggi ramah anak: memfasilitasi anak mahasiswa dan staf FT UGM

anak mahasiswa S3 sedang pinjam buku
Sebagai pengelola perpustakaan perguruan tinggi, saya merasa bahwa tidak hanya mahasiswa dan dosen saja yang harus dilayani. Terkait budaya baca, literasi informasi dan semacamnya, maka siapapun yang berpotensi masuk perpustakaan harus dilayani.
Tidak terkecuali anak-anak. Di FT UGM tentunya banyak mahasiswa S3 yang tidak jarang sudah menikah dan memiliki putra. Nah, ada yang dari luar Jawa diajak ke Jogja untuk bersama belajar di Jogja. Anaknya sekolah, orang tuanya kuliah. Selepas sekolah, dijemput dan diajak ke kampus. Staf juga demikian. Ada yang menjemput anaknya dan kadang dibawa ke kantor.
bersama anak-anak di perpus FT UGM

Bagaimana peran perpustakaan?
Seharusnya perpustakaan, dengan berbagai fungsinya, bisa memainkan peran untuk semuanya.
Bagaimana caranya?
Penyediaan koleksi untuk anak, ruang khusus untuk anak, layanan dan bimbingan untuk anak. Tentunya pustakawan perguruan tinggi, juga harus berbagi peran agar juga bisa melayani anak-anak ini. Penguasaan terhadap literatur anak, membimbing anak-anak dalam menemukan informasi, menyaring informasi dan lainnya.
Siapa tahu, ada anak-anak staf dan mahasiswa yang di kemudian hari berjodoh...
**halah**