Thursday, 6 March 2014

SLiMS Commeet2014

Setelah sukses menggelar Commeet pada tahun 2012 dan 2013, maka SLiMS Indonesia akan kembali menggelar Community Meetup (Commeet) pada tahun 2014 ini.

Disepakati Commeet 2014 akan diselenggarakan di Semarang pada kurun waktu antaraa Oktober-November 2014. Rekan-rekan pegiat SLiMS Semarang telah membentuk kepanitiaan dan mulai mempersiapkan diri.

Tema dan pengisi acara ini masih dalam pembicaraan. Hampir sama dengan acara sebelumnya, Commeet tahun ini juga menjadi wahana mengumpulkan berbagai pegiat SLiMS di Indonesia, seminar dan mengetahui perkembangan baru tentang SLiMS.

Persiapkan diri, persiapkan kreasi SLiMS kita, dan kita berbagi di Commeet2014
Follow: @slims_official || slims.web.id || slimscommeet.web.id
desain by Ido Alit

Monday, 3 March 2014

Makanan khas yang mulai sulit didapatkan

Sambel:
  1. Sambel cokak. Merupakan sambel yang berbahas cabe hijau, bawang merah, garam + cokak. Semua digoreng dulu lalu dicampur atau diuleg di lemper (cobek)
  2. Sambel prencok. Bahan dasarnya cabe hijau, kedelai goreng dan parutan kelapa yang dibakar
  3. Sambel crepeng. Bahan dasarnya cabai, garam, bawang putih dan crepeng bakar. Crepeng merupakan hewan terbang yang biasanya hidup di pohon kesambi
  4. Sambel yuyu. Mirip dengan sambel crepeng, namun crepeng diganti dengan yuyu (kepiting sungai)
  5. Sambel cabuk. Khas cabuk berasal dari wijen dan kemangi. 
Sayur:
  1. Sayur gude
  2. Sayur gadog

Sunday, 2 March 2014

Tabiat dasar politik

Sebagai warga negara, selama mencerap informasi politik, partai politik, politisi maka saya menyimpulkan beberapa hal:

  1. Jangan percaya partai politik, sampai terlihat bukti bahwa dia dapat dipercaya
  2. Simpatisan cenderung menyerang politikus/simpatisan partai lain jika simpatisan partai lain tersebut melakukan kesalahan, namun diam ketika simpatisan/politikusnya melakukan kesalahan
  3. Kesalehan/kebaikan seorang politikus akan diklaim oleh partai (melalui orang dalam stuktur kepemiminan atau oleh rekan politikus/simpatisan lain) sebagai keberhasilan kaderisasi atau nilai positif partai, namun ketika politikus/simpatisan tersebut melakukan kesalahan/kejahatan maka partai akan mengatakan itu urusan pribadi yang bersangkutan
  4. Kepentingan mendahului prinsip. Artinya, apa kepentingan yang dicari, baru kemudian mencari-cari dasar dari prinsip yang dianut. Yang terjadi adalah otak-atik-gathuk
  5. Klenik, ini dapat terlihat dari penafsiran angka/nomor urut partai yang bersangkutan. Angka terseubut dihubungkan dengan berbagai hal yang mendukung partainya.
  6. Naluri simpatisan untuk membela lebih tinggi dari pada untuk mengritik.





Saturday, 1 March 2014

JLN @GMLF UGM 2014

Tanggal 24 Februari s.d. 1 Maret Komunitas SLiMS Jogja ikut pameran di acara GMLF UGM 2014. Pada pameran ini, komunitas menyuguhkan informasi tentang SliMS dengan jasa instalasi SLiMS, konsultasi perpustakaan pribadi dan juga konsultasi penggunaan SLiMS.

Rektor UGM, Prof. Pratikno dalam acara mengellingi stand peserta juga mampir di stand SLiMS.
Rektor UGM, Prof. Pratikno
Kunjungan Rektor UGM ke Stand SLiMS,..
Beliau sangat mengapresiasi pengembangan SLiMS dan kontribusi dari komunitasnya, terkhususkan pada esensi katalog induk yang dibangun oleh komunitas SLiMS Yogyakarta (jogjalib.net) yang mampu mewadahi proses transfer informasi dari berbagai perpustakaan yang ada di Yogyakarta pada umumnya.
(Muklis)
 

Wagiman Wijadtono di stand slims
Kunjungan Bapak Mc Wagiman Wijadtono (ke stand SLiMS), darii Pundong Bantul Pemerhati perpustakaan dan Budayawan, meski baru mengenal SLiMS, namun beliau sangat merespon positif dg diciptakanx perangkat lunak perpustakaan yang mampu memberikan warna baru di dunia perpustakaan, serta yang membuat beliau kagum karena SLiMS adalah buatan anak Indonesia.
*Pesan beliau "anak muda memang saatnya harus kreatif".
(Muklis)



Hazman Aziz dari Singapura
Kunjungan dari Hazman Aziz (@hazmanlabs) (perwakilan Mendeley Asia Pasific) ke Stand SLiMS Jogja. Menyempatkan diri foto bersama Ketua GMLF 2014 (Mr. Arif Surachman) dkk.
Hazman menulis dalam blognya: "We spoke about Mendeley, Zotero and also SLiMS. I will opening user based in Singapore"

Selain kunjugan di atas, ada juga kunjungan mahasiswa MIP UGM, SLiMS Semarang dan pada hari terakhir workshop digelar Workshop SLiMS.
bersambung ...






Memasang kotak pencarian SLiMS dan Summon di Web kita

SLiMS merupakan aplikasi otomasi perpustakaan, pasti di dalamnya ada fasilitas pencarian. Summon merupakan tool pencarian satu pintu untuk berbagai database yang dimiliki perpustakaan.
Nah, bagaimana agar kotak pencarian satu pintu dari masing-masing dapat kita tampilkan di blog/web kita?

Alamat url opac SLiMS, misalnya http://kit.ft.ugm.ac.id/ucs dan Summon ada di http://ugm.summon.serialssolutions.com/.

Berdasar dokumentasi di http://gvsulib.com/labs/custom_summon/ maka untuk katalog SLiMS adalah sebagai berikut:
<!-- Start of Custom Summon Search code --> <form action="http://kit.ft.ugm.ac.id/ucs/index.php?" method="GET" target="_blank">
<input name="keywords" type="text" />
<input name="search" type="hidden" value="Search" />
<input type="submit" value="Search" />
</form>
<!-- End of Custom Summon Search code -->

Untuk Summon:
<!-- Start of Custom Summon Search code -->
<form action="http://ugm.summon.serialssolutions.com/search" method="GET" target="_blank">
<input name="s.q" type="text" />
<input name="s.fvf[]" type="hidden" value="IsFullText,true" />
<input name="spellcheck" type="hidden" value="true" />
<input name="keep_r" type="hidden" value="true" />
<input type="submit" value="Search" />
</form>
<!-- End of Custom Summon Search code -->

dan tampilan di blog/web akan seperti ini:

Wednesday, 12 February 2014

Mendaftarkan Web ke Zotero

Zotero merupakan aplikasi untuk mengelola data riset, data online dan membantu dalam menyusun daftar pustaka.
Agar website/katalog perpustakaan/katalog penerbit dan semacamnya dapat ditangkap metadatanya oleh Zotero, kita harus mendaftarkannya.

Silakan masuk ke forum.zotero.org dan berkomunikasilah dengan Mr. Adam Smith.
Seperti yang saya lakukan terhadap katalog Perpustakaan FT UGM yang dibangun dengan SLiMS.

https://forums.zotero.org/discussion/30565/catalog-library-slims-metadata-mods-xml-shcema/

Demikian, semoga membantu

Sunday, 9 February 2014

Koleksi kuno di Perpustakaan UGM

Perpustakaan UGM memiliki gedung baru. Gedung megah dengan desain yang
modern. Di balik gedung yang megah ini, perpustakaan UGM masih menyimpan berbagai koleksi kuno nan langka yang kono kabarnya merupakan hibah dari perpustakaan Yayasan Hatta. Perpustakaan Yayasan Hatta sebelumnya terletak di utara Mandala Bhakti Wanitatama, sekitar 300 meter dari kampus UIN Sunan Kalijaga.

Koleksi dari Yayasan Hatta ini ditempatkan di lantau 3 gedung L6 Perpustakaan UGM. Memasuki ruang ini, aura kuno sangat terasa. Bagaikan masuk di perpustakaan klasik yang belum tersentuh teknologi jaman komputer. Koleksi buku mendominasi ruangan ini. Koleksi buku kuno tersebut telah mulai dipindai menjadi bentuk digital.  

Ada 2 orang yang saat ini menjadi penjaga gawang peradaban yang tersimpan  ruang ini, sebut saja Mas Nugroho dan Mas Maryono. Dua orang yang enerjik ini, ketika saya datang selalu sigap menyapa dan manjawab pertanyaan. Kang Nugroho bahkan sempat menunjukkan berbagai buku temuannya. Buku ini beliau temukan ketika merapikan ribuan buku sesuai dengan subyeknya. Mulai buku asli Karl Mark, buku tentang Borobudur, buku kajian tentang berbagai negara dan lainnya. "Merapihkan buku kuno sambil melihat sampul judulnya itu sangat menyenangkan, apalagi jika menemukan buku yang pernah kita dengar sebelumnya namun belum pernah tahu. Atau ketika menemukan buku yang ditulis oleh tokoh terkenal yang sudah meninggal".  Jika Bung Hatta dulu memiliki dan melahap berbagai buku seperti ini, tentunya kita sekarang juga harus mengikutinya.

Tulisan Prof. Djoko Luknanto berikut ini bisa anda ikuti untuk mendapatkan gambaran lebih dalam tentang koleksi langka di Perpustakaan UGM: http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka/


Perpustakaan UGM: integrasi yang semakin menampakkan hasilnya

Integrasi, kabarnya ini menjadi cita-cita Perpustakaan UGM sejak lama. Tak dapat dipungkiri bahwa di UGM terdapat banyak perpustakaan, baik pada level fakultas, pusat studi, jurusan, pasca sarjana serta 1 (satu) di tingkat pusat.

Pada dasarnya, saya sepakat bahwa semuanya adalah Perpustakaan UGM. Dua tahun terakhir, ketika dipindah ke Perpustakaan Fakultas Teknik saya bisa dapat melihat semakin banyak perubahan pada Perpustakaan UGM.

SIPUS, sebagai sebuah sistem informasi perpustakaan yang dikembangkan UGM mulai menampakkan hasil terkait integrasi. Saat saya menulis tulisan ini, telah ada 4 perpustakaan yang menggunakan satu sistem untuk semua. Bukan, 4 perpustakaan menggunakan sistem yang sama, namun memang benar-benar ada satu sistem yang dipasang kemudian digunakan oleh 4 perpustakaan tersebut sebagai role model.

Sistem tersebut, tetap diberi nama SIPUS telah mampu menjadi sistem multi unit dengan multi user. Katalog real time empat perpsutakaan tersebut dapat dilihat di http://sipus.simaster.ugm.ac.id/digilib/. Melanjutkan pengembangan SIPUS, juga dilakukan standardisasi metadata SIPUS. Artinya, selain integrasi sistem, perpustakaan juga telah memperhatikan berbagai aspek integrasi yang lain.

Selain terkait SIPUS, koordinasi rutin terkait pengadaan koleksi, kerjasama kegiatan, dan lainnya juga dilakukan. Kegiatan yang muncul dari proker perpustakaan Pusat dapat dijalankan oleh perpustakaan tingkat di bawahnya. Hal ini tentunya akan menumbuhkan kebersamaan yang semakin kuat.

Sunday, 12 January 2014

Bagi kami, banjir itu menyenangkan...

kang pithuk mencari ikan
Banjir, bagi banyak orang merupakan peristiwa yang menakutkan. Apalagi bagi orang yang rumahnya di perkotaan atau yang tinggal dekat  sungai.
Tapi tidak untuk kami, yang tinggal di desa.
Peristiwa ini saya alami ketika pulang ke kampung halaman liburan akhir pekan ini (11-12/1).


hasil perburuannya kang Pithuk
Kebetulan sesampainya di rumah, hujan turun dengan lebatnya, meski tak selebat hujan pertama musim hujan ini. Hujan lebat yang pertama pada musim hujan ini  sangat besar. Air meluap sampai ke persawahan di kiri-kanan sungai. Rumah sayapun terkena imbasnya, karena air masuk ke rumah. Hujan lebat pertama, menjadi hujan yang menyapu bersih berbagai sampah di sungai.
Saya jadi ingat, bahwa ketika hujan dan banjir banyak dimanfaatkan untuk mencari ikan di sungai.  Anak-anak menyusuri banjir dengan membawa ember dan "irik". Irik merupakan alat dapur yang terbuat dari bambu yang dianyam. Sela-sela anyaman dapat digunakan untuk lobang air, sehingga alat ini bisa digunakan untuk mencari ikan.
Meski menemukan satu orang yang mencari ikan diarus banjir ini, saya tidak menemukan "irik" yang digunakan. Seorang pencari ikan, sebut saja kang Pithuk menggunakan jaring kecil dan sebuah ember. Ikan yang didapatkan cukup banyak, meski tak sebanyak ketika hujan lebat pertama turun. Benceng, cethul, lunjar, wader dan jika beruntung bisa mendapatkan ikan lele.
Gunawan, teman saya sejak kecil sedang mancing

Selain mencari ikan, memancing kala hujan juga hal yang kerap dilakukan. Jika beruntung, ikan lele bisa dibawa pulang.  Sayangnya sejak ada aktifitas "menyetrum" dan "meracun", hasil dari memancing tidak sebanyak masa-masa dahulu.





Gunawan, bersama Sapto dan Kang Sunar sedang mancing
Hal yang tidak saya temukan ketika kemarin hujan lebat adalah mencari belalang. Konon, waktu hujan mereda dan masih tersisa gerimis adalah waktu terbaik untuk mencari belalang. Berbekal sebatang bambu dan semangat berlari, perburuan belalangpun dimulai. Bambu dipukulkan ke batang pohon dan rerimbunan daun, jika ada belalang di tempat itu pasti akan terbang. Terbang diwaktu hujan tentu sulit bagi belalang, maka akhirnya belalang akan terbang rendah dan menyentuh tanah. Kala itu, siapa berlari cepat dia akan dapat belalang. Selain itu, arah terbang belalang juga menentukan siapa yang beruntung mendapatkannya.

Hidup di desa itu menyenangkan...

Wednesday, 8 January 2014

jagongan dengan kang Amien Rakhmanto

tKaryo, Harjo dan Poltak tak menyangka, grenengannya  ada yang menanggapi. "Wah Kang, grenengan kita ada yang menanggapi, tapi sudah lama sekali dan baru saja aku membacanya", seloroh Karyo.
"Coba kita baca bersama kang, lalu kita coba telisik dan berikan tanggapan. Ndak enak, sudah dikunjungi kok kita tidak ngaruhke", timpal Harjo.
Kemudian mereka berdua membaca tanggapan dari pak Amien Rakhmanto, seorang programmer di sebuah perusahaan IT di Jogjakarta.

..."Lha coba kamu lihat, di Indonesia ini, banyak perpustakaan yang berlomba-lomba membuat sistem sendiri-sendiri. Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing. Ada yang dibiayai dengan duit negara. Lha coba, kalau yg bikin itu satu saja lalu di pake bareng-bareng, pasti lebih irit to kang.!"...
..."banyak perpustakaan yang berlomba-lomba membuat sistem sendiri-sendiri"...

Kang Amien:
Menurut saya, adanya berbagai macam sistem yg dikembangkan oleh masing - masing perpustakaan adalah buah dari kurangnya perhatian pemerintah yang berujung pada rancu-nya standar baku sistem perpustakaan. Ambil contoh dari proses katalogisasi, dari berbagai usaha untuk mengadopsi metode dari luar negeri semacam US Library of Congress - Marc Record, masih perlu banyak penyesuaian untuk bisa diterima dan digunakan di perpustakaan Indonesia. Penghargaan atas jerih payah penyusunan standar baku yg selama ini dilakukan (misal : INDOMARC) tidaklah berarti, jika tidak ada campur tangan pemerintah dalam hal penerapan kebijakan. Penerapan standar baku haruslah melingkupi semua aspek perpustakaan, sehingga menjadi acuan baik bagi perpustakaan, pengembang perangkat lunak perpustakaan, dan perusahaan pengembang perangkat keras untuk membangun sebuah sistem yang memiliki keseragaman "protokol". Keseragaman inilah yang dijadikan dasar bagi komunikasi antar sistem perpustakaan.

Tanggapan Karyo dkk:
"Wah, benar juga kang Amien ini. Perhatian pemerintah, semoga saja segera menjadi perhatian kepada perpustakaan ya kang". Demikian Karyo nyeletuk. "Lah, sekarang programmer yang membuat program perpustakaan ada juga yang asal jadi kok, setelah jadi dan dikaji sesuai teori juga ndak klop. Sedihnya, program perpustakaan ada yang masih egois dan tidak mendukung kerjasama antar perpustakaan", Harjo menambahi. "lah, programmer kan kerja berdasar pesanan. ya sah saja kalau buatan mereka tak sesuai standar, tapi sesuai pesanan", dari jauh Poltak datang dan berkomentar. "Memang saatnya sekarang, meski beda program ya biarkan sajalah, wong itu rejekinya sendiri-sendiri. yang penting standarnya sama dan diketahui orang lain, sehingga mudah jika berkolaborasi", Harjo menutup denga bijaknya.

... "Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing"...
Kang Amien:
Ketidakseragaman ini menjadi peluang bagi perusahaan pengembang sistem informasi perpustakaan untuk ikut andil dalam proses otomasi perpustakaan. Sadar atau tidak, perusahaan - perusahaan tersebut berperan dalam memajukan perpustakaan. Dalam proses pembangunan sistem, perusahaan dan perpustakaan saling bahu - membahu untuk mewujudkan sistem yang ideal, dan implikasinya adalah ... "Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing"...
Tanggapan Karyo dkk: 
"Hmm, benar juga ya. Kalau ndak ada perusahaan IT dari mana perpustakaan bisa mendapatkan program untuk otomasinya?", Poltak berkata. "Loh, jangan ngenyek kang Poltak, sekarang ini beda dengan tahun 2009 atau tahun sebelumnya ketika kita dulu grenengan. Sekarang pustkawan sudah pada pinter. Beberapa perpusakaan, sistemnya dibuat oleh pustakawannya sendiri lho kang", demikian Karyo berkata.
"Semua turut andil, dan syukur sekali sekarang banyak program yang bisa dikembangkan, pustakawan semakin pinter sehingga bisa membuat program sendiri atau mengembangkan dari yang sudah ada. Akhirnya bisa mandiri dan tak tergantung pada pihak lain. Apalagi, sekarang sedang ngetren software yang berjenis opensource, lebih mudah lagi untuk otomasi", Poltak menyambung dengan gaya khasnya.

"Kita semua harus saling menghormati, yang mau bisnis di program otomasi ya dipersilakan, yang mau membuat sendiri dipersilakan, yang mau mengembangkan dari aplikasi yang sudah ada juga dipersilakan. Rejeki sudah ada yang mengatur", Harjo menutup komentar.


..."Lha coba, kalau yg bikin itu satu saja lalu di pake bareng-bareng, pasti lebih irit to kang.!"..."
Kang Amien:
Perkembangan teknologi seringkali melangkah jauh di depan, meninggalkan bermacam hasrat dan tawaran mengiurkan bagi pengguna dan pengelola perpustakaan untuk segera menikmatinya, diluar konteks kebutuhan dasar bagi perpustakaan itu sendiri. Masing - masing pengembang menawarkan inovasi sistem yang menjadi unggulan, dan tentu saja sisi positifnya adalah memperkaya khasanah sistem informasi perpustakaan disamping mengurangi angka pengangguran intelektual :) Jadi menurut saya lagi), irit dalam hal tertentu tidaklah sesuai yang kita bayangkan.

amien.rakhmanto@ptpci.co.id
Tanggapan Karyo dkk: 
Benar kang Amien. Monggo kita berlomba-lomba berinovasi..." Karyo menjawab. Poltak, menutup diskusi mengatakan, "tanggapan kang amien ini harus kita apresiasi lho karena itu menunjukkan kepeduliannya, dan kalau nanti ada yang menanggapi grenengan kita, jangan nesu lho. Kita harus senang dan menanggapi kembali". 
Harjo, ternyata masih menyambung, "bener, kan puskawan itu harus rajin diskusi, tukar pendapat dan semacamnya. Satu lagi, tidak anti kritik".