Friday, 4 June 2010

, , , ,

Komunitas SLiMS Jogja: sejarah singkat

"All of Us together are smarter than just a few of us" 1


Komunitas ini merupakan komunitas yang mempunyai minat bersama pada perangkat lunak SLiMS. SLiMS merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan yang dirilis dengan lisensi opensource (http://senayan.diknas.go.id). SLiMS telah digunakan oleh lebih dari 120 perpustakaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. SLiMS sendiri dikembangkan oleh pustakawan di Indonesia dan didukung oleh para programer dari luar negeri.

Ide mendirikan komunitas ini adalah didorong oleh keinginan untuk belajar bersama tentang SLiMS, terinspirasi model komunits Linux dengan visi ingin memerdekaan pustakawan dan meningkatkan kompetensi pustakawan terutama dalam bidang teknologi informasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa masih ada banyak pengelola perpustakaan yang belum mengenal perangkat untuk manajemen perpustakaan. Komunitas SLiMS ingin mengangkat harkat dan martabat pustakawan dengan SLiMS yang menyediakan solusi berbasis komunitas.

Kegiatan yang dilakukan adalah kumpul bulanan belajar menggunakan dan sedikit demi sedikit belajar mengembangkan software SLiMS. Tempatnya bergiliran dan diusahakan free alias tidak berbayar bagi setiap orang yang ingin bergabung.

Komunitas SLiMS berdiri kurang lebih pada bulan Januari 2010, padaa saat ini berkumpul 6 orang di selasar KPTU Fakultas Teknik UGM. Keenam orang ini adalah Purwoko, Budhi Santoso, Sumaryanto, Yusuf, Adi dan Haris. Pertemuan yang kemudian berpindah di perpustakaan Teknik Geologi UGM ini membuat kesepakatan akan ditindaklanjuti dengan acara (yang akan diusahakan) bulanan dengan format awal belajar bersama mengenai SLiMS. Personil yang kemudian bergabung cukup banyak, tercatat ada Tarto, Ari Suseno, Heri Abi; dari luar kota ada Awriel Apria S (Banjarnegara), Hartono (Kudus), Wisnu (solo), Priyanto (solo), Muhtarom (bantul) dan banyak lagi.

Pertemuan kedua pada bulan berikutnya juga diadakah di selasar KPTU Fakultas Teknikn UGM. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh 14-an orang baik mahasiswa perpustakaan maupun pustakawan. Di KPTU ini ke 14 orang tersebut belajar upgrade SLiMS dan menginstall SLiMS terbaru. Pada saat acara ini bertepatan dengan seminggu sebelum Mini SDD (Senayan Developers Day) di Jakarta yang dilaksanakan oleh SDC (Senayan Developer Community).

Pertemuan ketiga dilaksanakan di UIN Sunan Kalijaga, tepatnya di masjid darurat UIN (Sebelah gedung serbaguna). Hadir sekitar 34 orang terdiri dari mahasiswa, pustakawan dan bebetulan juga di hadiri oleh 2 developer SLiMS dari Jakarta (Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha) yang kebetulan ada acara di IAIN Walisongo Semarang.

Pertemuan keempat dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fakultas Geografi UGM dan dilaksanakan di lingkungan Fakultas Geografi UGM. Diluar dugaan pertemuan keempat ini dihadiri oleh bukan hanya dari wilayah jogja, namun juga dari Solo, Boyolali, Kudus dan Klaten. Keseluruhan yang hadir mencapai 70-an orang. Pertemuan kali ini membahas tentang upgrade SLiMS dan SLiMS for beginner.

Pertemuan kelima diadakan di Ruang Seminar 1 Fisipol UGM (29 Mei 2010) dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fisipol UGM. Hadir dalam pertemuan ini seratusan lebih dari berbagai daerah, diantaranya Kudus, Boyolali, Klaten, Bantul, Banjarnegara. Pertemuan kali ini diberi tajuk Senayan Community Meetup yang dihadiri oleh kelompok developer senayan dari jakarta (Hendro Wicaksono, Arie Nugraha, Arif Syamsudin dan Wardiyono).

Pertemuan kelima ini cukup fenomenal, karena disampaikan secara langsung oleh pengembang tentang fitur baru di SLiMS stable 14 (Seulanga) dan ide-ide yang akan diterapkan di SLiMS stable 15 (Matoa).

Fitur baru di Seulanga adalah Union Catalog Service, P2P Service, Cetak bukti transaksi, Flexible custom field di membership dan bibliografi. Semetara ide untuk Matoa adalah implementasi third party indexing, P2P paging, pencarian yang baru dan dukungan notasi klasifikasi.

Target komunitas SLiMS kedepan adalah membuat perpustakaan yang ingin menggunakan perangkat lunak untuk otomasi dapat terfasilitasi dengan SLiMS, kemudian perpustakaan yang telah menggunakan SLiMS di Jogja dapat disatukan dalam sebuah katalog induk Jogja, sehingga orang yang ingin mengunjungi perpustakaan Jogja tinggal mengklik satu url saja. Fasilitas untuk Union Catalog ini telah tersedia di Seulanga (Stable 14). Selain itu, bersama dengan para developer, Komunitas Jogja berharap menjadi acuan pembangunan komunitas serupa di daerah lain di Indonesia.

Komunitas SLiMS jogja juga membuka diri untuk diajak bekerjasama dalam pengembangan teknologi informasi perpustakaan berbasis komunitas, baik dengan peerintah kota, kabupaten atau propinsi dalam rangka pengembangan perpustakaan.



Fitur Home





Fitur OPAC





Komunitas SLiMS mempunyai blog di http://slims.blogdetik.com, dan untuk komunitas jogja dapat dihubungi saudara Tarto (081904042823)

Salam..

* jika ada yang masih kurang dari tulisan ini boleh ditambahi, terutama tanggal-tanggal kegiatan

Wednesday, 2 June 2010

, , , , ,

Menggunakan Github

Kalau dalam berinteraksi dengan orang lain ada Facebook dengan segala fiturnya, maka dalam melakukan coding/programming ada Github. Sesuai dengan mottonya, Github merupakan Social Coding.

Untuk menggunakan Github dalam melakukan coding secara bersama-sama (sebenarnya bukan hanya coding pemrograman, namun bisa juga untuk berbagi selain pemrograman) kita harus melakukan registrasi dan kemudian mendaftarkan SSH Public Key.

Untuk mendaftarkan SSH Public Key silakan baca manual berikut.

Kemudian melakukan Fork dari projec yang kita ingin bergabung.

Beberapa perintah dalam Git:

git clone git@github.com:slims/s3-doc-id.git s3-doc-id (mengclone projec s2-doc-idnya SLiMS dari github ke folder s3-doc-id lokal) Kode git@github.com:slims/s3-doc-id.git bisa anda dapatkan dari folder projec yang ingin anda ikuti, untuk SLiMS misalnya http://github.com/slims/
contoh di console:
tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs$ git clone git@github.com:slims/slims5_meranti.git slims5_meranti


Setelah clone, kemudian hasil clone di komputer lokal anda dapat anda buka, anda tambah atau kurangi. Setelah proses pengembangan program di komputer lokal anda selesai, kemudian anda harus mengunggah hasilnya ke server github untuk dapat di satukan dengan apa yang dikembangkan oleh orang lain.

Untuk mengunggah, atau dalam github di sebut push anda harus melakukan beberapa langkah terlebih dahulu:



git add . Keterangan:add [spasi] titik. (perintah ini dilakukan jika ada file baru yang ditambahkan pada sebuah project, misal ada image atau file lain yang dimasukkan)
git commit -a --Keterangan:commit[spasi] minus a [spasi] minus-minus (perintah jika ada perubahan pada sebuah file). Pada perintah commit ini, kita akan diperintahkan untuk menuliskan identitas perubahan yang telah dilakukan. Misalnya "Added: News Module"


Setelah itu, barulah kita push ke server github, perintahnya:

git push git@github.com:slims/s3-doc-id.git master (mengirimkan file dari komputer ke github)


Untuk mengantisipasi, siapa tahu ada orang lain yang sudah melakukan unduh dan mengubah,serta sudah di push, maka kita harus menyatukan apa yang sudah ada di server dengan yang telah kita modifikasi di komputer lokal.


git pull git@github.com:slims/s3-doc-id.git master


Bagaimana jika anda membuat dokumen baru dikomputer anda, lalu anda ingin mengunggahnya (push) ke github? (contoh sebelumnya dilakukan untuk projec yang sudah ada di git, kita tinggal meng clone).



1. setelah melakukan otentifikasi SSH, maka anda harus membuat dokumen
2. setelah dokumen jadi dan ingin mem-push ke github, anda harus:
3. membuat folder di github anda
4. masuk ke direktori yang sudah anda buat, lalu:
5. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git init
6. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git add .
7. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git commit -a
8. tamu@purwoko-ubuntu:/opt/lampp/htdocs/ucs_doc_id$ git push git@github.com:purwoko/ucs-doc-id.git master






Git juga bisa melakukan pull dan push dari komputer lokal anda, contoh perintanya:
git pull ../s3st14-docclone master (mengepull file dari posisi ke s3st14-docclone master)


Git akan melakukan penyatuan dan pencatatan perubahan yang dilakukan. Informasi perubahan dapat dilihat dengan perintah:

gitk


Selain itu, dapat dilihat pula di http://github.com/[nama projec]/commits/master, misalnya http://github.com/slims/s3-doc-id/commits/master

Beberapa manual github dapat dibaca di:

1. Git Guide
2. Tips 1
3. Tips 2
4. Tips 3
5. Git di Wikipedia
6. Git Clone @kernel.org

Thursday, 20 May 2010

, , , , , ,

LiGOS: Library Goes Opensource (Pengalaman di Perpustakaan Geologi UGM)

Gaung opensource di Indonesia, menurut saya sangat kuat. Berbagai komunitas mulai muncul sebagai bentuk penyatuan ide dan minat bersama pada opensource. Ada komunitas Linux, Komunitas Ubuntu, Komunitas SuSe, Komunitas Blender, Komunitas SLiMS dan lain sebagainya.

Kemungkinan perpustakaan migrasi ke opensource sebetulnya sangat besar. Jika dilihat kebutuhan minimal perpustakaan ddapat di cakup oleh software opensource. Operating systems dan kebutuhan perkantoran dapat dicakup oleh Linux dan Openoffice. Untuk otomasi perpustakaaan dapat digunakan software opensource untuk perpustakaan.


Di perpustakaan Geologi UGM, dari 6 komputer yang ada 5 diantaranya sudah opensource, baik operating systems maupun aplikasi perkantoran. Satu komputer yang masih menggunakan OS berbayar karena digunakan untuk membuka sistem informasi perpustakaan lama yang masih berbasis DOS.

Operating systems yang saya gunakan adalah Ubuntu Dekstop, termasuk Server menggunakan ubuntu 8.04 LTS. ISO Linux saya dapatkan dari repo Ubutu di UGM, http://repo.ugm.ac.id, sehingga menjadi mudah dan juga murah. Keculi biaya beli CD, penggunaan operating systems di perpustakaan Geologi UGM bisa dikatakan Rp.0.

Rp.0 ini juga berlaku dalam pembangunan sistem informasi manajemen perpustaaan. Sistem ini saya bangun dengan software opensource SLiMS (http://senayan.diknas.go.id), dengan diawali migrasi database ISIS ke SLiMS pada bulan Februari 2009.

Beruntung sekali, rekan kerja sangat mendukung saya dan meski lebih tua dari saya, beliau sangat menghargai dan mau belajar menggunakan Linux dan SLiMS. Bisa dikatakan bahwa di geologi ugm, perpustakaan dan karyawan perpustakaan merupakan yang pertama menggunakan opensource dibanding unit kerja lainnya.

Berikut beberapa tahapan dan yang harus diperhatikan dalam migrasi perpustakaan ke opensource
1. Kenali kebutuhan
Di Perpustakaan Geologi yang saya temukan adalah kebutuhan software sistem otomasi perpustakaan, aplikasi perkantoran (olah kata, olah angka, olah presentasi), aplikasi internet (browser, Instant Messenger), dan sistem operasi.

2. Temukan jawaban atas kebutuhan
Pada tahab ini saya melakukan pemilihan software opensource pada kebutuhan. Software opensource apa yang akan digunakan untuk otomasi, perkantoran, aplikasi internet dan sistem operasi. Standar minimal dari pemilihan ini adalah standar pada software yang telah digunakan sebelumnya. Misalnya untuk software otomasi, saya membandingkan fitur software opensource pilihan saya dengan fitur software otomasi yang lama. Hal ini untuk mengatasi agar tidak terjadi gap yang terlalu lebar ketika telah bermigrasi ke opensource.
Pada tahab ini juga harus dipastikan kemungkinan keberlanjutan migrasi, SDM yang diplot untuk bertanggungjawab pada pengembangan. Termasuk bagaimana meningkatkan kompetensi SDM pada penguasaan opensource.

3. Kemukakan kepada rekan kerja atau unit.
Mengemukakan ide dan konsep migrasi kepada rekan kerja dan atau unit lain (jika perpustakaanya luas dan punya cabang) menjadi penting untuk memberikan masukan dan mencegah resistensi. Selain itu juga untuk memantapkan bahwa kebutuhan memang akan terpenuhi dengan opensource, serta mendapatkan komitmen bersama.
Dengan proses ini, maka migrasi sebenarnya dilakukan dengan dukungan banyak fihak bukan oleh salah satu orang saja.

4. Menyusun strategi
Tahap ini dilakukan sebagai pedoman dalam menjalankan migrasi. Berisi time schedule, pihak yang dilibatkan, anggaran dan lain sebagainya.

5. Implementasi
Merupakan tahab implementasi atau migrasi ke opensource yang telah ditentukan.

Kurang lebihnya seperti itulah yang saya lakukan, dalam migrasi ke opensource di perpustakaan teknik geologi ugm. Beruntungnya saya adalah rekan kerja yang sangat kooperatif dan mendukung.

Semoga menjadi inspirasi.

Monday, 19 April 2010

, ,

Membuat SIM di Polres Gunungkidul

Sejak adanya UU lalu lintas yg baru, kabarnya pencari SIM semakin banyak. Kata seorang kawan antrian di polres sampai malem, ya karena banyaknya orang yg nyari. Ada yg nyari sendiri, ada yang kolektif.

SIM saya hilang kira-kira 1 1/2 tahun yang lalu, dan baru bulan ini saya mencari, tepatnya tanggal 9 April 2010. Berikut urutan-urutan saya ketika mencari SIM di Polres Gunungkidul

1. Datang ke Polres membawa KTP, lebih baik bawa juga surat keterangan sehat dari dokter. Saat itu saya tidak membawa surat keterangan sehat, jadi saya mencari surat keterangan sehat di bagian kesehatan Polres dengan biaya Rp. 20.000

2. Sidik jari, di bagian sidik jari Polres. Biaya Rp. 5000

3. Selanjutnya berkas keterangan sehat, sidik jari dan fotokopi KTM di bawa ke ruang pendaftaran, petugas akan memberikan formulir, untuk kita isi. Kemudian..

4. Membayar di BRI, juga ada di lingkungan polres. Untuk SIM baru Rp. 75.000, untuk perpanjangan Rp. 60.000

5. Setelah itu menuju ruang ujian, dan menyerahkan berkas, menanti panggilan.

6. Setelah ada panggilan, (saya) menuju lapangan ujian praktik. Polisi akan menawarkan apakan praktik menggunakan motor sendiri atau motor kepolisian. Sebelum praktik ini, bagusnya pak Polisi mencontohkan terlebih dahulu. Jadi saya jadi berfikri bahwa ujian praktik itu bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Saat itu saya menggunakan motor sendiri (Shogun 125). Ujian pertama adalah melewati rintangan, berbelok belok sempit dan membentuk angka 8. Tiga kali saya baru berhasil, itu saja dengan mengganti motor dengan motor kepolisian (VEGA R) karena lebih kecil dan enteng.

7. Ujian praktik kedua adalah membelok membentuk huruf U, terdiri dari belok ke kiri dan ke kanan. Pada bagian inilah saya gagal.
Karena gagal dan harus mengulang, maka pak polisi meminta saya untuk mengambil kembali uang Rp. 75000 yang telah saya bayarkan di Bank.

Akhirnya saya mengulang pada tanggal 16 April 2010 dan hanya diawali dengan latihan 1 kali pada pagi harinya.

Ujian kali ini berhasil.

8. Berkas kemudian di bawa ke ruang ujian, dicek, dan saya diminta membayar Rp. 75000 lagi ke BRI.

9. Setelah dari BRI, berkas dibawa lagi ke ruang ujian, di cek. Saya disodori kertas diminta untuk tandatangan serta mengisi form (semacan catatan kesan/pesan/kritik selama di kepolisian). Pada form ini, masyarakat yg mencari SIM juga diminta menuliskan berapa jumlah uang yang dikeluarkan, termasuk jika menggunakan Calo. Tidak aneh, ketika masuk ke lingkungan polres, memang ada yang menawari untuk menjadi perantara pembuatan SIM, baik yang terang-terangan maupun dengan bahasa yang halus.

10. Setelah selesai, berkas saya bawa ke ruang foto dan menunggu panggilan untuk foto.

11. Setelah menerima panggilan foto, saya masuk ke ruang foto dan dilakukan foto langsung (digital)+sidik ibu jari kiri dan kanan.

12. Selanjutnya adalah mengisi daftar hadir Foto, dan menunggu foto tercetak.

Uniknya, tempat saya membubuhkan tandatangan kehadiran tersebut juga terdapat alat cetak SIM. Saya langsung bisa menunggu dan mengambil SIM saya langsung dari alat cetak.

Setelah itu mengucapkan terimakasih dan pulang.... Pengalaman ini sangat banyak perubahan dibanding 10 tahun lalu, ketika pertama kali saya berurusan dengan kepolisian dalam pembuatan SIM. Tentunya berubah kepada yang lebih baik.

Total biaya pembuatan SIM baru Rp. 100.000. Ayo jangan ragu untuk bikin sim dan ikut Ujian SIM. Khususnya untuk yg masih muda :), ujiannya mudah kok.

Friday, 12 February 2010

, , , , ,

Install YAZ di Ubuntu Karmic Koala

Senayan Library Automation menggunakan YAZ, sebagai bagian dari fitur Z3950. Singkatnya untuk dapat mengaktifkan fitur Z3950, library YAZ harus terinstall.

Berikut cara instalasi YAZ pada Ubuntu Karmic Koala. Untuk Ubuntu Hardy dan Jaunty tidak jauh berbeda.

Pada Karmic Koala, YAZ sudah ada pada paket, sehingga lebih memudahkan dalam proses instalasinya.

1. Buka Synaptic.
2. Cari YAZ


3. Pilih yaz, libyaz3, libyaz3-dev dan libnet-z3950-zoom-perl untuk diinstall


4. Klik Apply


Setelah semuanya selesai, masuk ke konsole dan lakukan perintah

sudo pecl install yaz


Terakhir edit php.ini (default ada di /etc/php5/apache2/php.ini) dan tambahkan

extension=yaz.so


Kemudian cek, apakah YAZ sudah terinstall dimesin anda dengan mengecek pada paket php.


Jika sudah, maka anda bisa mengecek pada Senayan anda. Masuk Admin, Klik Bibliografi kemudian klik Z3950 service. Jika muncul tampilan seperti di bawah ini, berarti beresss.



Untuk menjalan fitur z3950, port 7090 harus terbuka.

Selamat mencoba.

Wednesday, 27 January 2010

, , , , , ,

Refleksi Ngo-Opensource

Saya seorang pustakawan. Belajar komputer, bagi saya gampang-gampang susah. Namun melihat kenyataan bahwa tidak semua orang yg mahir komputer, mahir pemrograman adalah lulusan dari jurusan komputer atau informatika, menjadikan semangat tersendiri. Sampai saya berfikir, bahwa "teknologi informasi" itu bukan masalah pendidikan, tapi masalah hobby.

Pertama kenal opensource pada tahun 2000-an di UAD--> ikut kursus jaringan berbasis Windows dan Linux. Setelah itu, pulang langsung sewa Fedora Core 2 kemudian saya install, tapi kaget kok gak mau muter .mp3 pake xmms. AKhirnya ganti Suse 9, dan berganti-ganti dengan fedora dan Opensuse, sampai akhirnya hardisk saya hancur.

Setelah punya komputer baru, tepatnya laptop Lenovo G400, sejak maret 2009 sampai sekarang saya menggunakan Ubuntu.

Sejak saat itu, saya sebisa mungkin menggunakan aplikasi Opensource. Memang berat, apalagi jika dihadapkan pada pekerjaan yang (dipahami) hanya bisa dilakukan di atas Windows.

Saat ini, di tempat kerja, dari 6 komputer tinggal satu yang tidak pake Linux. Ini semata-mata karena ada kompatibilitas data sirkulasi perpustakaan pada perangkat lunak lama.

Kejadian yang memaksa saya menggunakan OS non-Opensource adalah ketika diminta membuat cd proceeding interaktif berisi file2 .pdf. Saya mesti mengindeks dan membuat navigasi antar file .pdf.

Selain itu, saya selalu berusaha menggunakan aplikasi Opensource. Sepertinya, jika kita berusaha mencari pasti akan menemukan. Misalnya ketika saya mau menggabung file .pdf, dulu pake PDF Maker. Nah setelah "bertanya" di Google ternyata saya menemukan UnePDF, kemampuan menggabung .pdf cukup mudah dan sederhana.

Pengalaman lain adalah ketika hendak mengubah file .DAT ke .flv, atau .ogv ke .flv. Akhirnya saya menemukan FFMPEG. Baru saja, saya hendak membuat video turorial. Setelah mencari ternyata ketemu dengan RECORDMYDESKTOP, yang di paket Ubuntu sudah tersedia, tinggal

sudo apt-get install recordmydesktop gtk-recordmydesktop


Untuk pengetikan, LyX sangat bisa diandalkan. Dengan hasil yang bagus dan proses pengetikan yang mudah dan tentunya ringan. Konsepnya tidak WYSIWYG, namun WYMIWYG (What You Mean is What You Get). Aplikasi perpustakaan, tentunya sampai saat ini dipercayakan kepada Senayan.

Monday, 4 January 2010

, , , , , ,

SOCIAL INFORMATICS

Sumber: http://rkcsi.indiana.edu/archive/SI/si2001.html

Apakah Informatika Sosial itu?

Informatika Sosial (IS) adalah studi yang sistematik dan interdisipliner pada disain, penggunaan dan konsekuensi dari Teknologi Informasi, yang ambil bagian pada interaksi dengan institusi dan konteks budayanya. Sehingga, ini merupakan studi aspek sosial dari komputer, telekomunikasi dan teknologi yang berhubungan, serta menguji isu-isu, misalnya bagaimana TI membentuk hubungan antara organisasi dan aspek sosialnya, bagaimana gerakan sosial mempengaruhi penggunaan dan disain TI. Sebagai contoh, peneliti IS tertarik pada pertanyaan mengenai akibat pengembangan TI di masa depan. Bagaimanapun, tidak seperti gaung spekulasi pada umumnya, strategi peneliti IS biasanya berdasar pada data empirik. Peneliti SI menggunakan data untuk menganalisis keadaan saat ini dan yang baru saja terjadi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bagaimana perubahan sosial itu dimungkinkan, yang masuk akal dan dimungkikan pada masa akan datang.

Istilah TI biasanya merujuk pada berbagai aplikasi yang luas, misal email, pengolah kata, program pengubah video, perambah jajaring, sampai pada teknologi yang mendukung berbagai aplikasi yang berbeda, misal jaringan fober-optik. Pada tataran individu, penggunaan TI membutuhkan penggunaan seperangkat aplikasi TI yang spesifik, misalnya datbase atau internet. Di Amerika Utara, istilah TI sering digunakan agak tidak tepat, untuk merujuk pada aplikasi khusus atau teknologi dasar yang luas.

Salah satu konsep kunci dari IS adalah bahwa TI tidak didisain atau digunakan pada aspek sosial dan teknologi yang terpisah. Dari sudut pandang ini, kontek sosial dari TI mempengaruhi pengembangan, penggunaan dan akibatnya. Akibat, dapat terjadi dengan tidak langsung dan terlihat pada hitungan periode, tahun atau dekade, bukan pada hitungan bulan.

Dari perspektif SI, aplikasi TI dapat di lihat sebagai "jaringan sosio teknologi", yang mana sistem terdiri dari berbagai elemen berbeda, seperti perangkat keras, perangkat lunak, kontrak resmi serta orang dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan elemen sistem yang lain.

Dari perspektif non-IS, pada penggunaan dan efek dari TI terpusat hampir semata-mata pada katakteristik teknis (misal: fitur pemroses informasi pada komputer), dan posit specific effects due to those features.


Posisi ini disebut dengan detirminisme teknologi. Perspektif ini memandang banyak elemen penting, misalnya kontek sosial dan organisasional daro teknologi dan manusia yang menggunakannya. Beberapa perspektif juga membentuk asumsi yang keliru, isalnya asumsi bahwa aplikasi TI punya arti yang sama untuk semua yang menggunakannya dan akan mempunyai akibat yang sama untuk semua.

Pada area ini, misalnya, banyak orang yang antusias pada kemungkinan penggunaan internet untuk meningkatkan pendidikan publik di Amerika. Pada akhir 1990-an, banyak sekolah yang diberi internet dan mendapatkan laboratorium komputer. Bagaimanapun, banyak politisi dan orangtua yang tidak merealisasikan pelajar menggunakan internet untuk mendorong penelitian baru, dipengaruhi cara guru menggabungkan sumberdaya internet kedalam pengajarannya. Dalam banyak kasus, meskipin sekolah diberi akses pada internet, guru tidak dibantu dalam mengembangkan minat dan cara terbaik dalam mengajar menggunakan layanan internet.

Peneliti IS mengharapkan bahwa akan ada perbedaan mendasar pada nilai pendidikan intenet pada sekolah, dimana guru mempunyai cukup dukungan untuk memikirkan dan mengaplikasikan cara baru dalam mengajar, dibanding dengan sekolah yang tidak memiliki (intenet).

Dengan demikian, peneliti IS tidak akan mengharapkan untuk menemukan akibat yang sama pada lintas sekolah yang menerima koneksi internet.

Bersambung..

Tuesday, 29 December 2009

, , , ,

Pentingnya Paradigma Socio-technical Systems

Pentingnya Paradigma STS

Singkatnya, teori sosioteknis adalah relevan, karena fokusnya pada keseimbangan dan kesetimbangan dari keseluruhan organisasi, orang, mesin dan konteks.
Ada beberapa pertanyaan yang mendorong majunya literatur Socio-technic. Pertanyaan pertama adalah "kenapa sistem gagal?" secara umum, "kenapa meskipun teknologi dibangun/disain dengan bagus dapat berakhir dengan produksi/hasil yang kurang dari batas efisien, yang tidak memenuhi keinginan stakeholder. Ini berpusat pada bagaimana mengelola faktor yang tidak terprediksi dari lingkungan sosial. Pertanyaan kedua, "bagaimana meningkatkan organisasi melalui pemberian perhatian dan optimasi sejajar pada sosial sistems. Ini terekspresi pada kutipan mendasar oleh Baxter dan Sommerville:

"Kegagalan dari sistem komplek yang luas untuk memenuhi batas waktu capaian, biaya dan keinginan stakeholder tidak karena kegagalan teknologi. Namun, projek ini gagal karena mereka tidak menghargai kompleksitas sosial dan organisasional dalam lingkungan dimana sistem itu di terapkan. Konsekuensinya adalah persyaratan yang tidak seimbang, miskinnya disain system dan interface user yang inefisien dan inefektif."

Oleh karena itu, pengakuan kepada konteks sosial, dan kontek latarbelakang organisasional harus di kedepankan dalam rekayasa system dan software. Sebagai tambahan, paradigma STS menawarkan manajemen-diri (self-management) dalam tim organisasi, menggiring pada praktek kerja yang demokratis serta pengambilan keputusan yang tidak terpusat. Hal ini memungkinkan organisasi untuk menyesuaikan perubahan konteks dan varian, dan diakhiri dengan sistem yang lebih "terbuka", yang memelihara keadaan yang kokoh/mantab (mencapai tujuan produksi, dll), tanpa mengkompromikan kualitas output atau kualitas keberlangsungan kerja.

Perspektif Socio-technical
Area dari STS, dari perspektif IT didudukkan pada kelompok "software intensive systems", dimana "berisi interaksi kompleks antara komponen software, alat dan komponen sosial (orang atau kelompok orang), tidak sebagai pengguna software tapi sebagai pemain yang digunakan dalam sistem pada umumnya". Dalam literatur definisi dari STS terpusat secara jelas pada eksistensi subsistem inti pada sosial dan teknical. Hubungan antara dua subsistem ini berputar dan berdasar pada dorongan saling memberi manfaat diantara keduanya. Manusia/sistem sosial rasional membutuhkan sistem teknik untuk melakukan kegiatannya, dan sistem teknis bergantung pada sosial sistem untuk penggunaan sehari-hari, validasi, kontrol dan kegiatan lain yang membutuhkan aktor rasional atau bahkan aktor yang berpengetahuan.

Interaksi diantara sistem yang berbeda ini, dan konteks interaksinya mempunyai akibat pada kemampuan orgnisasi untuk mencapai tujuan stakeholder.

Terutama sekali, paling tidak ada empat pandangan berbeda dalam literatur mengenai STS, yaitu social scientist, technology engineer, organizational scientis and designer, dan complex systems engineer. Disiplin ini menunjukkan penelitian interdisilin yang diarahkan pada area social science, organizational science, engineering dan complex systems. Literatir social sciences sering menganggap STS sebagai serangkaian alat untuk meningkatkan kualitas keberlangsungan kerja manusia dalam organsasi.


Perspektif yang berlawanan dengan teknologi berfokus terutama pada membangun kualitas sistem teknologi yang mempunyai jaminan kualitas (berdasar kepraktisan umum). Sudut pandang ilmuan organisasional lebih terpusat, bertujuan untuk mengelola tujuan riil stakeholdel (efisiensi, keuntungan) melalui disain dari konsep organisasi yang sesuai, termasuk barangkali struktur/hirarki manajemen dari sistem sosial, serta memperoleh dukungan teknologi terbaik, dan menyewa orang-orang terbaik. Keempat adalah teknik sistem yang kompleks, dimana mengeksplorasi interaksi da ontek dalam rangka menyusun tiap komponen secara lokal, sebagai langkah untuk menemukan tujuan organisasi secara umum. Pandangan ini juga utama, dan punya banyak masalah, bertujuan pada pembuatan sistem teknologi yang adaptif yang mendukung dan mengantisipasi pembuatan keputusan oleh manusia, tugas-kerja, dan kriteria komunikasi sebagai sistem komputasi yang otonom. Pendekatan ini berada diantara yang terbaru dan menjadi availabel, menyandarkan pada keandalan teknologi, dan jaringan sensor komuter yang ada dimana-mana.

Artikel Terkait

Wednesday, 23 December 2009

, , , ,

Socio-Technical Systems in ICT: A Comprehensive Survey

(terjemahan bebas, sebebas-bebasnya dari artikel Alexis Morris) :)
kalau ada yg berkenan mengedit, bisa tulis di komentar.


Pada setiap organisasi, baik berisi manusia, mesin maupun fenomena alami, prinsip-prinsip sistem yang komplek akan berjalan. Komponen pada sistem itu bisa aktor yang rasional, semi rasional, atau tidak rasional, dimana semuanya berimplikasi pada lingkungan juga pada keseluruhan organisasi.

Pada tulisan ini, cakupan STS (Socio-technical systems) yang luas akan di survei dan dipaparkan bedasar empat perspektif kunci yang ditemukan dalam literatur. Prinsip ini bertujuan untuk menunjukkan sulitnya STS bekerja, serta untuk mendiskusikan teori, analisis, disain, dan teknik dari tiap sistem. Bagian kedua membahas konsep secara lebih ditail, mendeskripsikan definisi, karakteristik, prinsip dan pentingnya paradigma. Bagian 3 mendeskripsikan perbedaan dalam berbagai perspektif dalam hubungannnya dengan STS. Bagian 4 mendiskusikan pendekatan literatur pada perspektif yang disebutkan sebelumnya. Baguan lima menyajikan diskusi dan kesimpulan dari paper ini.

STS
: Socio-Technical Systems
Definisi: definisi singkat untuk STS sulit untuk ditemukan yang paling tepat dalam literatur. Majchzrak dan Borys mencatat bahwa konsep ini berdasar pada teori sistem terbuka, namun dalam suatu waktu juga 'sebuah filosofi dan metodologi, paradigma yang terdiri dari skema konseptual, disain proses, serangkaian nilai tentang kerja, kondisi kontekstual, dan tradisi sejarah berdasar psikologi, sosiologi dan penelitian tempat kerja". Griffit dan Dougherty, dalam diskusinya tentang peran sistem ini pada management teknologi dan engineering, mendifinisikan perspektif STS sebagai " organisasi yang dibangun oleh manusia (sistem sosial) menggunakan alat, teknik dan pengetahuan (technical sistems) untuk menghasilkan barang atau layanan yang bernilai untuk customers (yang menjadi bagian dari lingkungan eksternal organisasi)". Definisi yang lebih linear dengan ranah ICT adalah yang diungkapkan oleh Baxter dan Sommerville. STS adalah "sistem yang berisi interaksi kompleks antara manusia, mesin dan aspek lingkungan dari sistem yang berjalan".

Karakteristik dan Prinsip STS

Kebetulan ada banyak istilah yang mirip pada literatur yang menjelaskan sistem sejenis yang kurang lebihnya adalah socio-technic, sebagaimana dijelaskan diatas. Diantaranya adalah: techno-social systems, cyber-physical systems, ensemble engineering, software intensive systems, holarchies, actor-network theory, agent-oriented mechanism design, autonomic computing, dan societal computing. Baxter dan Sommerville telah menyajikan survei yang lebih komprehensive pada STS dari perspektif ICT, dan menghasilkan beberapa karakteristik kunci dari sistem tersebut dan prinsip dasar untuk disain sosio-teknologi. Mereka juga memotivasi adanya kebutuhan untuk menggabung lebih dalam lima komunitas kunci dalam satu kesatuan tunggal disiplin Socio-Technocal Systems Engineering (STSE).

Komunitas kunci pada penelitian Socio-technical
Ada banyak aspek dalam penelitian STS, tapi diantaranya merupakan kunci untuk mempercepat perkembangannya. Kunci-kunci tersebut adalah:

    1. - disain kerja dan tempat kerja
    2. - sistem informasi
      - Computer-supported cooperative Work (CSCW)
      - cognitive systems engineering
      - Interaksi manusia-komputer
      - Ubiquitous (dimana-mana) Computing.



Karakteristik kunci dari sistem sosio-teknik
Bagian ini memberi catatan bagaimana membedakan STS, berdasarkan karakteristik umum

    • - Mempunyai bagian yang saling bergantung
    • - Dapat menyesuaikan pada perubahan dalam lingkungan untuk mengejar tujuan
      - Mempunyai lingkungan internal sama sebagaimana lingkungan sebenarnya (real world)
      - Terpisah, tetapi saling bergantung, baik subsistem sosial maupun teknis
      - Berjalan pada lingkungan dimana ada pilihan/pembuatan keputusan
      - Adanya perpaduan optimisme, dari systems berdasar optimisme tiap subsistems


Lebih lanjut, Trist mendeskripsikan karakteristik STS berikut sebagai paradigma, menunjukkan bagaimana pendekatan penelitian STS berbeda dari faktor teknologi sebagai penentu.



Paradigma lama
Pentingnya teknologi
manusia merupakan perpanjangan mesin
manusia sebgai suku cadang habis pakai
rincian tugas maksimal, ketrampilan terbatas
kontrol eksternal (supervisor, staf khusus)
bagan organisasi tinggi, gaya otokrasi
kompetisi, gamesmanship
hanya kepentingan organisasi
pengasingan (alienation)
kemauan ambil risiko rendah



paradigma baru
gabungan
manusia saling mengisi dengan mesin
manusia sumberdaya yang dapat ditingkatkan
kelompok tugas optimal, ketrampilan beragam
internal kontrol (self regulating subsystems)
bagan organisasi datar, gaya partisipatif
kolaborasi, kolegial
ada kepentingan/tujuan masyarakat dan anggota
commitment
penuh inovasi




Prinsip kunci STS

beberpa prinsip disain STS lebih lanjut ada dalam banyak literatur, tapi yang paling populer adalah yang diungkapkan Chern. Pendekatan lain dari disain STS dalam paper yang sama (Chern), memuat analisis kerja kognitif, disain kontekstual, rekayasa sistem kognitif, diantaranya. Point pentingnya adalah prinsip disain STS dipelajari dengan baik, tapi gagak diadopsi dalam ranah praktis dengan berbagai alasan, yang mana dapat dikoreksi melalui penggabungan area tersebut sebelumnya. Cern mencatat bahwa sosial sistem mempunyai empat fungsi subsistem yang harus ada dalam sistem yang sukses/berhasil, dan oleh karena itu harus di teliti oleh desainer. Yaitu harus:
- mencapai tujuan organisasi
- menyesuaikan diri dengan lingkungan
- menyatukan aktifitas manusia dan menjadi solusi masalah
- fill occupational roles via recruitment and sosialization

bersambung...

Thursday, 10 December 2009

, , , , , , ,

FB, Prita, KPK dan Opensource: Gotong royong era digital.

Gotong royong. Tahukah anda apa itu gotong royong? Gotong: merupakan bahasa jawa yang artinya membawa sesuatu bersama sama. Misalnya nggotong kayu (Menggotong kayu).

Gotong royong, sejauh yang saya pahami (saya tidak membuka kamus bahasa Indonesia atau kamus bahasa Jawa) adalah kegiatan melakukan sesuatu bersama-sama -untuk hal positif- tanpa mengharap imbalan materi. Dilakukan untuk membantu yang memerlukan bantuan, atau membantu orang yang kesusahan. Misalnya gotong royong mendirikan rumah, gotong royong mencangkun disawah dan seterusnya.

Seorang kawan, sewaktu kuliah pernah presentasi bahwa budaya gotong royong ini telah terkikis, belum hilang sepenuhnya. Katanya ini karena dampak globalisasi, karena manusia lebih cenderung hidup individualis, sibuk dengan kegiatan pekerjaan yang berorientasi pada materi semata ditempat kerja. Sehingga lupa bahwa dia hidup di wilayah sosial kemasyarakaatan.

Apakah demikian?
Sebagai seorang awam saya melihat bahwa seiring dengan tumbuh suburnya teknologi, modernisasi, globalisasi dan yang semacamnya, gotong royong tradisional memang tergeser. Namun muncul model gotong royong baru.

Facebook, yang banyak orang menyebutnya sebagai jejaring sosial ternyata menyuguhkan fenomena tersendiri. Setidaknya ini ditunjukkan dengan berhasilnya FB menggalang solidaritas tanpa pamrih material atas kasus Bibit dan Chandra (KPK). Gerakan 1 juta FB-kers yang mendukung mereka berdua ternata punya andil pula dalam mewarnai gerakan sosial di Indonesia.

Meskipun sempat redup, karena kalah pemberitaan dengan kasus Bibit dan Chandra, sebelumnya ada group FB mendukung Prita, seorang ibu rumah tangga yang didakwa melakukan pencemaran nama baik RS OMNI. Pasalnya Bu Prita ini menuliskan keluhannya dan dikirimkan ke beberapa kawannya.

Anggota group pendukung Prita memang tidak sebanyak pendukung Bibit dan Chandra, namun terbukti gerakan ini juga punya taring. Setelah ada vonis harus membayar 204-juta, berbagai elemen masyarakat menggalang Koin untuk Prita. Tentunya untuk membantu bu Prita membayar denda. Prita dianggap sebagai simbul rakyat yang kalah, ketika harus mengeluarkan pendapat atas sebuah layanan justru dituduh melakukan pencemaran nama baik.

Pengumpulan koin ini, dilakukan oleh berbagai elemen, mulai dari komunitas milis, Facebookers, ibu rumah tangga, anak-anak, bahkan ada sekelompok anak TK yang keliling meneriakkah "Hidup Ibu Prita".

Entah karena fenomena ini atau bukan, kabarnya OMNI bermaksud mencabut gugatan perdata.

Saya sendiri berfikir, bahwa kalau yang bersimpati sudah lintas umur, etnis dan tempat tentunya ini akan berdampak buruk bagi RS OMNI. Kenapa? coba kita bayangkan kalau anak-anak sudah dikenalkan untuk menggalang Koin Untuk Prita, karena di denda atas email keluhan layanan RS OMNI. Tentunya dalam benak anak-anak TK yang berkeliling mencari koin ini akan tahu dan terpatri, bahwa RS OMNI lah yang menjadikan bu Prita harus membayar denda. Padahal siapa sih sasaran Rumah Sakit? manusia kan? rakyat Indonesia ini. Dan kalau yang TK saja sudah tahu, maka berapa generasi yang akan menjauhi RS ini.

Tentunya ini tidak akan berdampak baik pada kelangsungan RS yang bersangkutan di masa datang.

Opensource, yang merupakan model pengembangan perangkat lunak juga bisa dimasukkan dalam gotong royong. Berbagai individu dan komunitas bersama-sama mengembangkan sebuah perangkat lunak, padahal di lepas di pasaran secara bebas. Baik bebas mendapatkan maupun [ada yang] bebas secara finansial.

Sepertinya demikian.