Monday, 2 June 2008

, , ,

Igos Summit 2

Beruntung, ketika terjadi perhelatan Igos Summit tanggal 27-28 Mei 2008 ini saya berkesempatan datang ke sana. Tepatnya ikut andil di stand Senayan Library Automation, yang merupakan software aplikasi untuk perpustakaan. bareng temen-temen yang lebih idealis -dari pada saya--, saya belajar banyak tt FOSS.

Igos Summit ini merupakan yang kedua. Selain menghadirkan stand-stand juga ada seminar bertema FOSS. Di arena Igos Summit ini pula, saya berkesempatan ketemu -lagi- dengan pak Onno, selain itu tak disangka ketemu pula dengan pak Bambang Prastowo. Hal yang lucu terjadi adalah ketika stand Senayan didatangi oleh sosok berpostur tinggi besar berkacamata dan yang disambangi pertama kali adalah mas Hendro. Setelah terlibat percakapan, selesai dan beliau meninggalkan stand Senayan... lha ternyata itu Mas Romi Satria Wahono.. halah...tak kirain siapa. Temen-teman yang biasanya ketemunya lewat dunia maya, baik email ataupun YM pun ketemu juga di sini. Beberapa temem-temen alumni UI, bahkan dengan temen satu kantor (UGM) malah ketemunya di Jakarta..

Cerita lainnya adalah ketika pak Hanjar Basuki datang di stand Senayan... karena saya tidak kenal, maka saya sodori saja brosur Senayan dan perpustakaan Diknas. Setelah beliau pergi... eh mas Yono (Wardiyono) cerita bahwa setelah saya memberikan brosur kepada beliau mas Yono ketawa. "Itu pak Hanjar Basuki, Pur. Penanggungjawab/koordinator perpustakaan Diknas" walah... wong "pemilik" sendiri kok saya beri brosur.

Berbagai produk dan inovasi di tawarkan oleh stand yang gabung di Igos Summit ini. Senayan sendiri menawarkan Senayan stable 4 yang sudah mendukung multi bahasa, selain itu juga Igloo versi 6.0. "Igloo ini sudah bisa youtube-youtube-an" begitu kata mas Hendro. Igloo yang diberikan cuma-cuma ini memang mendukung pengelolaan koleksi video dengan model seperti youtube. Igloo ini dikemas dalam Kopimanis, dan merupakan hasil dari implementasi dari sebuah perpustakaan. Disinilah indahnya semangat opensource. Pesan--> implementasi--> lempar ke publik dengan semangat opensource.

Stand BPPT, mengembangkan perintah suara di Linux. Dari demo yang dilakukan komputer (OS nya Linux) mampu "mendengar" dan menerjemahkan perintah lisan. "Buka Console" "Buka Firefox" "Jelajah detik" "Jelajah kompas" "tutup aplikasi" dan berbagai perintah lainnya. Kambingnya UI bagi-bagi CD distro, pak Onno dengan Wajanboliknya, Sisfokampus dengan FOSS sisfokampunyanya, kemudian ada POSS UGM, POSS Presiden university, POSS UPI dengan berbagai inovasi sesuai karakternya masing-masing.

Selain itu --ini kebiasaan pengunjung, apalagi dari luar kota-- mencari gratisan merupakan misi wajib. Ada beberapa stand yang menyediakan gratisan. Ada Cd linux berbagai distro, buku, CD OSS, berbagai aplikasi, sampai yang kecil-kecil seperti ngobrol dan keluh kesah atau konsultasi tt OSS.

Sunday, 25 May 2008

, ,

Freeport Mengangkangi Emas Papua

Di ketinggian 4200 m di tanah Papua, Freeport McMoran (FM), perusahaan induk PT. Freeport Indonesia mengangkangi tambang emas terbesar di dunia dengan cadangan terukur kurang lebih 3046 ton emas, 31 juta ton tembaga, dan 10 ribu ton lebih perak tersisa di pegunungan Papua. Berdasarkan perhitungan kasar, cadangan ini diperkirakan masih akan bisa dikeruk hingga 34 tahun mendatang.

Menurut catatan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak 1991 hingga tahun 2002, PT Freeport memproduksi total 6.6 juta ton tembaga, 706 ton emas, dan 1.3 juta ton perak. Dari sumber data yang sama, produksi emas, tembaga, dan perak Freeport selama 11 tahun setara dengan 8 milyar US$. Sementara perhitungan kasar produksi tembaga dan emas pada tahun 2004 dari lubang Grasberg setara dengan 1.5 milyar US$.

Berdasarkan laporan pemegang saham tahun 2005, nilai investasi FM di Indonesia mencapai 2 milyar dollar. Freeport merupakan perusahaan emas penting di Amerika karena merupakan penyumbang emas nomor 2 kepada industri emas di Amerika Serikat setelah Newmont. Pemasukan yang diperoleh Freeport McMoran dari PT Freeport Indonesia, dan PT. Indocopper Investama (keduanya merupakan perusahaan yang beroperasi di Pegunungan Tengah Papua) mencapai 380 juta dollar (hampir 3.8 trilyun) lebih untuk tahun 2004 saja. Keuntungan tahunan ini, tentu jauh lebih kecil pendapatan selama 37 tahun Freeport beroperasi di Indonesia...

selengkapnya klik di sini

Sunday, 18 May 2008

, , ,

Terjajah ExxonMobil di Cepu

postingan ini saya salinkan dari http://ketikataku.wordpress.com
juga tersedia di Jatam.org

Saya memang "seneng" membaca berita tt minyak, energi, pertambangan, lapindo dll. Salah satu sebabnya adalah karena saya bekerja pada institusi yang mempersiapkan para calon pengelola sumberdaya alam, mungkin ada semacam keterkaitan emosional :) . Keterkaitan emosional ini, kadang juga saya sampaikan kepada mahasiswa. Misalnya pada suatu ujian, pernah saya mengatakan kepada mahasiswa, bahwa "Bertindaklah jujur, karena Anda adalah calon pengelola dan penjaga gawang sumberdaya alam Indonesia".

Berlebihankan apa yang saya sampaikan itu? ah semoga saja tidak... Apa yang saya katakan itupun juga bukan berarti saya teleh jujur... hehe :)
Meskipun ini artikel lama, tapi semoga bermanfaat...

------------------------------------//-----------------------

Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusaha an asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, “Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri.”

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia. Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan berhasil. Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan “pokoknya tidak”.

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia sendiri. Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, “Bukankah kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?”

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, “Man does not live by bread alone.” Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat diperbarui. Penduduk indonesia bertambah terus seiring dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, “Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah Anda.” Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang
diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah edan semua.

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap,isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice president-ya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. “I am just doing my job”. Kepala Bappenas mengatakan lagi, “Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argument penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima.”

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, “Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri.”
*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas

Tuesday, 6 May 2008

Sunday, 4 May 2008

,

Perpustakaan Gunung Kidul

Ketika pulang kampung minggu lalu, ada yang tidak terduga.

Niat awalnya adalah "tilik" orang tua sambil membawa titipan temen yang belum saya sampaikan. Akhirnya pulang, karena sabtu tidak bisa, ya minggu.

Di kota wonosari, karena terhadang iring-iringan Konvoi Partai G****R, terpaksa jalan muter lewat di depan perpustakaan daerah Gunungkidul, nama tepatnya adalah UPTD (Unit Pelaksana Teknik Daerah) Perpustakaan. Tidak disangka ternyata perpustakaan buka pada hari minggu. Karena titipan temen itu mesti saya antarkan ke perpustakaan, kebetulan sekali sekalian mampir. Sebenarnya juga ingin sekali ke almamater, tapi....ndak jadi.

Stelah masuk dan sedikit basa-basi akhirnya saya meluangkan waktu untuk melihat ruang, membaca buku dan sekedar ngobrol dengan pustakawannya.

Saya tidak bisa cerita banyak tt perpustakaan ini, tidak banyak data yang saya dapatkan.

Di perpustakaan ini sudah ada komputer untuk internet sejumlah emm kira-kira 6 unit, kemudian ruang multimedia dan ruang baca. Di ruang multimedia terdapat dua televisi besar yang bisa untuk main game dan nonton film, sementara di ruang internet (menurut) peraturan pengguna hanya bisa mencari informasi, tidak boleh untuk game, buka film, apalagi film porno :) Untuk menjadi anggotapun murah, cuma 1000 rupiah selama setahun (ingat-ingat lupa) CMIIW

Yang membuat saya heran adalah peraturan di ruang internet yaitu LAB BUKAN UNTUK BERLATIH INTERNET.
Pikir saya lab internet di perpustakaan, untuk para anggota perpustakaan, perpustakaan untuk belajar, lha kok kita nggak boleh belajar internet, kok lucu ya..

Ah...semoga saya berkesempatan kesana lagi (paling tidak untuk mengembalikan buku) dan menanyakanya...

Peraturan lab komputerGerbang Perpustakaan
Rak  buku-bukuAnak-anak lagi nontong bareng

Monday, 21 April 2008

, , , , ,

Ngobras :: liat elims :: nonton pameran (estafet dalam sehari)

Pagi itu (20/4/2008) saya janjian dengan beberapa temen jurusan ilmu perpustakaan dan informasi UIN Sunan kalijaga untuk Ngobras (Ngobrol santae Senayan). Jam sembilan lebih saya datang ke UIN. Telat memang, karena janjinya pukul 09:00 (afwan jiddan). Namun sesampainya disana, saya kepikiran untuk ke PKSI-nya UIN guna mendapat lisensi menggunakan fasiltas wifi di lingkungan UIN.

Walah, ternyata ini sabtu ya, kok jadi pelupa gini, UIN kan 5 hari kerja.... Akhirnya guagual, gak berhasil. Kembali ke Perpustakaan, tepat di lokasi parkir ketemu dengan Mas Tarto dan Ari Suseno. Bareng-bareng masuk ke perpustakaan, tambah satu lagi temen, mas Nurwahid.

Akhirnya kamipun ngobrol, nginstall bareng aplikasi Senayan --baik psenayan maupun install sourcenya di xampp--. Mencoba bersama, begitulah kira-kira.

Dari percobaan ini, kita sama-sama mendapatkan manfaat. Ada beberapa "kebingungan" yang sama-sama terpecahkan. Ditemukaannya solusi kegagalan mas Tarto saat instalasi psenayan dan source di xampp, kemudian yang tidak kalah pentingnya dalah ditemukannya bugs baru. Penemuan bugs ini sangat berguna dalam pengembangan Senayan berikutnya...
dsc02114.JPG
Pada pertemuan itu pula, mas Tarto saya daulat untuk ngajari Athenaeum. Jujur saya belm bisa mengoperasionalkan aplikasi ini. Namun, dengan tanpa ragu-ragu mas Tarto berkenan mengajari saya Athenaeum. Kebingungan saya sedikit-demi sedikit mulai terkurangi....

Ditengan-tengah kami asyik ngobrol, datanglah kang Budhi, yang pustakawan double degree sekaligus tentor komputer --hebat kan--, beliaupun kemudian bergabung.

Ah indah memang jika kita mau saling berbagi ilmu....

selesai Ngobras, muncul ide untuk keliling perpustakaan, lihat e-Lims yang diterapkan di UIN. Kami -empat orang- meninggalkan beberapa bawang bawaan kami di ruang multimedia, minta tolong mas Khusairi --yang lagi jaga internet-- untuk menjaga. Akhirnya dengan percaya diri kami naik ke lantai dua. Tapi karena tidak menemukan alat yang kami cari, kami naik lagi menuju lantai tiga.

Disana kami mendekati seonggok alat, yang dijaga dua orang akhwat --cakep lho :) --. Ternyata mereka mahasiswa yang sedang PKL. Dengan penampilan sok akrab, kami bertanya macem-macem tentang alat itu. Beruntung pula, ada mahasiswa yang akan meminjam buku. Hingga kami dapat melihat cara kerja alat tersebut.
dsc02122.JPGdsc02124.JPG
Alat tersebut -yang terlihat jelas dari kejauhan-- hanya monitor, ternyata di depannya terdapat tempat yang kira-kira berukuran 20x20 cm. Monitor memperlihatkan langkah-langkah opesasionnalnya, canggihnya alat ini, touch screen. Baru kali ini saya melihat langsung. Peminjaman menggunakan KTM --single sign on-- dan buku yang dipinjam diletakkan di atas tempat didepan monitor, maksimal 4 buku. Ini dilakukan untuk membaca RFID-nya buku.

Layanan canggih ini, dilengkapi pula dengan ruang perpustakaan yang megah, luas, nyaman. Dengan berbagai corner yang mendukung.

Ah andai semua perpustakaan -minimal- seperti perpustakaan UIN ini...

Setelah puas cuci mata di perpustakaan UIN, saya -sendiri- pergi ke Jogja gallery. Informasi dari temen, disana ada pameran lukisan-foto dan benda kenangan ibu Fatmawati.

Akhirnya sampailah saya disana. Tidak bisa saya ceritakan detail pameran itu. Beberapa kesimpulan dari pameran itu adalah:
Bu Fat adalah sosok ibu yang sederhana dan penyayang
Bu Fat adalah sosok istri yang setia --beliau tidak mau dimadu--
Bu Fat adalah sosok pejuang yang diterima semua
Bu Fat adalah sosok wanita yang Cerdas, dan
Bu Fat adalah sosok wanita yang Cantik... :)

terimakasih
salam

Thursday, 17 April 2008

, ,

Perpustakaan MAN 3 Yogyakarta...

Iseng sebenarnya, tapi karena sangat penasaran akhirnya berusaha datang juga saya ke sana. Kata orang perpustakaan MAN 3 Yogyakarta itu bagus. Juara 1 tingkat nasional.... Hemmmm.

Akhirnya pada hari selasa, 15 April 2008, pada waktu istirahat kerja, setelah workshop SIPUS di UPT Perpuskaan UGM saya sempatkan ke MAN 3.

Kebetulan ada dua teman yang manjadi pustakawan di MAN 3, jadi lebih leluasa dan tidak canggung. :)

Hendak saya ceritakan sekilas tentang perpustakan MAN 3, baik dari pengamatan saya, dari cerita teman saya yang kerja disana (Bu Rita dan Mbak Nuzul), serta dari brosur perpustakaan MAN 3. Wuih keren kan, perpustakaan sekolah punya brosur segala, berwarna lagi.

Saya sampai sekitar pukul duabelas lebih limabelas menit. Para siswa masih istirahat...

Langsung saya menuju ke perpustakaan. Tidak begitu banyak yang ada di sana, kecuali ruang multimedia yang sedang dipakai untuk KBM, beberapa pustakawan dan guru yang sedang asyik membaca. Ah menarik.. setelah berkenalan dengan salah satu pustakawan, saya utarakan bahwa saya mencari Mbak Nuzul/Mbak Rita "Saya teman kuliahnya dulu pak". Sambil menunggu, saya keliling dan mengambil gambar. Wah benar-benar baru kali ini saya menemukan perpustakaan sekolah sebagus ini (apa karena kurang gaul aja ya :) ).

Akhirnya saya ketemu dengan dua pustakawan yang dulu satu angkatan dengan saya (Mbak Rita -pengantin baru nih....--- dan mbak Nuzul). Beberapa hal saya dapatkan dari beliau...
dsc02103.JPGlorong intelektual
Ternyata perpustakaan ini juga di fungsikan sebagai ruang KBM, "kalau pagi sampai siang kadang penuh, sampai nolak-nolak bahkan" kata mbak Rita dalam logat jawa yang begitu kental. "Para gurupun juga dituntut paham tentang perpustakaan" sambungnya. Dari sinilah hubungan antara KBM dan perpustakaan muncul.

Selain itu, beberapa program menjadi unggulan perpustakaan ini:
1. Lomba resensi buku
2. Pendampingan Mayoga Books Lover, dimana perpustakaan dijadikan sebagai tempat kongkow-kongkow (basecamp)
3. Pemilihan best reader dengan kriteria: frekuensi kunjungan, keaktifan mengkomunikasikan bahan bacaannya, dan kesinambungan membaca.
4. Gerakan wakaf buku. Ini diberlakukan bagi siswa yang akan lulus. Mulai 2007 gerakan ini juga diberlakukan bagi guru dan karyawan. --ini ni yang namanya berbagi, jadi kalo punya buku gak cuma dibaca sendiri--
dsc02106.JPG
Oya, untuk sirkulasi perpustakaan ini sudah memakai sarana komputer, atau lazim disebut sistem automasi. Software yang digunakan adalah Siprus. Katalognya dapat diakses lewat internet lho, keren kan.

Sedikit catatan tentang sistem ini:
Menurut saya lebih baik server untuk sirkulasi ditempatkan di lingkungan perpustakaan/Sekolah, sehingga akses menjadi lebih cepat. Bukan lewat jaringan internet dan tidak tergantung jaringan internet. Sementara OPAC bisa disatukan dalam web MAN 3 yogyakarta sendiri. Sehingga urlnya akan lebih enak dibaca dan mencerminkan MAYOGA. Misalnya http://mayoga.sch.id --> untuk web sekolah, sedang OPACnya http://mayoga.sch.id/lib atau http://pustaka.mayoga.sch.id

Konsekwensinya memang karus menyediakan operator khusus untuk maintenance server koleksi/sirkulasi dan updating web.

Ini sekedar cerita.... jika masih ada waktu dan bahan nanti akan ada kelanjutannya...semoga

salam pustaka dan SEMAGAT :)
maaf foto-fotonya belum di unggah :(

Thursday, 10 April 2008

, , ,

Senayan..........

Saya tidak juga tahu, kenapa SENAYAN yang dipilih untuk menandai aplikasi ini.

Lepas dari itu semua, di sini saya ingin bercerita sedikit tentang aplikasi ini.

Senayan merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan. Pengembang utama perangkat lunak ini adalah HEndro Wicaksono (Pemimpin Pengembang sekaligus Pereka Disain Database), Wardiyono (Pereka Disain Database), Arie Nugraha (Penulis Utama Program).

Perangkat ini berjalan dengan model jejaring (web). Cukuplah kita mengaksesnya dengan menggunakan Firefox 2., IE > 6, atau secara garis besar browser yang mendukung AJAX (Java).

Dari manual, serta diskusi dalam kelompok diskusi Senayan, diketahui bahwa Senayan dikembangkan berpijak pada OS Linux namun juga dapat dijalankan di Windows, Solaris, dan FreeBSD, menggunakan bahasa program PHP 5, database Mysql 5, serta AJAX dan berproses sempurna pada server apache 2.

Senayan menawarkan fitur dasar untuk pengelolaan perpustakaan, mulai dari sirkulasi, katalogisasi, laporan, OPAC. Namun demikian Senayan juga menawarkan beberapa fitur unggulan. Fitur tersebut antara lain:

1. Logging, untuk mengetahui jejak pekerjaan aplikasi Senayan - dalam modul System
2. Stock Take, merupakan fitur untuk pekerjaan pemutakhiran koleksi (stock op name).
3. Master file, untuk mencantumkan data babon - ini berguna sekali untuk menguradi pengulangan penulisan data-data yang ada dalam bibliografi (Pengarang, Topik, Penerbit, Tempat Terbit)
4. Pendefinisian hari libur, ini berguna untuk proses penghitungan masa pinjam dan denda.
5. Piranti untuk proses membuat cadangan data (backup) yang begitu mudah
6. Piranti untuk membuat barcode dan juga label koleksi.
7. Fasilitas XML, data lengkap, unggah image dan unggah file koleksi.
8. Didukung pula dengan tampilah mewah yang tentunya dapat kita "obrak-abrik" sesuai dengan keinginan kita.

-------------

Tercatat, selama pengembangan Senayan, tidak hanya ketiga orang diatas yang terlibat.

Sistem pelaporan lobang (bugs) yang dibuat, baik ver 1 http://senayan.diknas.go.id/bugsreport maupun ver 2 http://senayan.diknas.go.id/bugsreport2 telah menampung banyak laporan dan permintaan fasilitas (feature). Hal inilah yang membuat Senayan dapat berkembang. Selain itu, adanya Percobaan Bersama yang dilaksanakan di Perpustakaan Pendidikan Nasional (library@senayan), pada 23 Maret, yang sebelumnya didahului oleh SDD (Senayan Developers Day=Hari bagi Pengembang Senayan), juga menjadi tonggak pengembangan Senayan.


Bagaimana Senayan nantinya, itu tergantung kita semua... khususnya para Pustakawan.

Satu waktu dalam sebuah forum pelatihan saya pernah mengatakan "Belajar Otomasi (meskipun cuma ngoprek) bagi pustakawan adalah Sunat Mu'akad", -- sunat yang mendekati wajib-- (bener nggak ya?), bukan bermaksud apa-apa (saya bukan ahli fiqh), selain memacu para pustakawan dan calon pustakawan untuk dapat bersama-sama belajar....

terimakasih dan mohon maaf.....

Thursday, 3 April 2008

Saturday, 1 March 2008

Nilai Esensial Perpustakaan ===> Oleh : Ana Nadhya Abrar

Lama saya tidak menulis sendiri, hingga harus comot sana sini untuk mengisi blog ini.... Gak papalah, sekalian buat arsip..

di ambil dari Kedaulatan Rakyat
29/02/2008 08:56:45 Hari itu, seorang Wakil Rektor sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta memanggil kepala perpustakaan universitas tersebut. Dia lantas bertanya tentang jumlah uang yang bisa disumbangkan perpustakaan untuk universitas. Rupanya dia berhasrat agar perpustakaan bisa menghasilkan uang.
Mendengar pertanyaan sang wakil rektor, kepala perpustakaan itu bingung sesaat. Setelah itu, dia menjawab terus-terang bahwa perpustakaan tidak mungkin menghasilkan uang. “Perpustakaan hanya menghabiskan uang,” tambahnya.
Kita tidak mengerti apa yang terlintas dalam pikiran sang wakil rektor setelah mendengar jawaban kepala perpustakaan itu. Yang jelas, perpustakaan adalah sebuah proyek rugi dari segi uang. Tapi, manfaatnya sangat banyak buat peradaban manusia. Itulah sebabnya seluruh buku yang terbit di Amerika Serikat (AS) tercatat di Katalog Perpustakaan Kongres (Library of Congress Cataloging)nya. Lalu, apa sesungguhnya nilai esensial yang dimiliki perpustakaan?
Membuka Kesadaran
Seluruh mantan Presiden AS di zaman modern memiliki perpustakaan pribadi yang terbuka untuk umum. Perpustakaan tersebut disiapkan oleh negara. Tetapi, koleksinya disiapkan oleh mantan presiden yang bersangkutan. Maka kita mengenal Perpustakaan John F Kennedy, Perpustakaan Ronald Reagan dan sebagainya.
Perpustakaan pribadi mantan Presiden AS menyimpan banyak buku. Buku-buku tersebut ada yang dibeli secara pribadi, ada juga yang berupa sumbangan dan bahkan ada pula yang merupakan hadiah. Semuanya mendokumentasikan pengetahuan. Semakin banyak jumlah koleksi bukunya, semakin banyak pula pengetahuan yang tersimpan di perpustakaan itu.
Melalui perpustakaan pribadinya, mantan Presiden AS bisa memperdalam pengetahuannya. Setelah tidak lagi menjadi presiden, dia bisa mendalami pengetahuan di perpustakaan pribadinya. Dia bahkan bisa menemukan sesuatu yang kelak bisa disampaikannya kepada masyarakat. Itulah sebabnya seorang mantan Presiden AS tetap bisa mengikuti perkembangan zaman dan bahkan meresponsnya dengan tepat.
Kalau ditanyakan kepada pemerintah AS tentang alasan pembuatan perpustakaan pribadi mantan Presiden AS, tentu jawaban yang segera muncul adalah: untuk memberikan penghargaan kepada sang mantan presiden. Tetapi, mengapa harus perpustakaan? Bukankah banyak penghargaan lain? Jawaban yang masuk akal adalah, perpustakaan bisa menjadi sekolah hidup. Para pengunjungnya bisa belajar kapan saja di sana. Pembelajaran itu akan membuka kesadaran mereka tentang sebuah zaman, kekuatan bangsanya, perkembangan pengetahuan dan sebagainya. Semakin banyak orang yang memiliki kesadaran semacam ini semakin bermanfaat mereka buat kemajuan bangsa mereka.
Lalu, sudahkah pemerintah Indonesia membuatkan perpustakaan pribadi untuk mantan presidennya? Sepertinya belum. Perpustakaan pribadi yang dimiliki mantan Presiden RI adalah hasil kerja keras sang mantan presiden. Wajar kalau perpustakaan itu tertutup untuk umum. Akibatnya, masyarakat tidak tahu sejauh mana sebenarnya perpustakaan itu menyimpan pengetahuan. Lebih dari itu, masyarakat juga tidak mengerti minat mantan presiden tersebut terhadap pengetahuan.
Mengenal Potensi
Melalui buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan, kita bisa mengetahui bagaimana generasi pendahulu kita menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Sekalipun persoalan itu tergolong besar, toh mereka berhasil menyelesaikannya tanpa kekerasan. Mereka mampu mengendalikan diri dan mengedepankan rasa kasih sayang.
Dalam buku-buku yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana generasi pendahulu kita bekerja keras membangun negara ini. Mereka tidak cengeng dalam berkarya. Mereka tidak berhenti belajar demi menggapai cita-cita mereka. Lebih dari itu, mereka senantiasa mengasah kecerdasan mereka agar bisa memenangkan persaingan dengan sehat.
Semua petuah ini tentu saja membangkitkan kesadaran bahwa kita sebenarnya memiliki potensi untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Kita pernah memiliki etos kerja yang kuat dan senantiasa berusaha demi memuaskan obsesi kita. Kenyataan ini tentu menjadikan kita bersemangat untuk meniru apa yang sudah dilakukan oleh generasi pendahulu kita. Kita pun sadar bahwa sebenarnya kita punya potensi untuk itu.
Menyadari bahwa perpustakaan bisa membangkitkan potensi masyarakat Irak, AS menghancurkan perpustakaan negara milik Irak. AS membumihanguskan semua perpustakaan Irak yang sebenarnya menyimpan karya besar peradaban Islam masa lampau. AS tidak ingin generasi mendatang Irak mengetahui persis potensi yang dimiliki bangsa mereka. Tegasnya, AS memutus mata rantai generasi lama dengan generasi baru Irak.
Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada negara lain yang membumihanguskan perpustakaan milik bangsa Indonesia. Tetapi, perpustakaan kita tidak selalu terawat dengan baik. Tidak jarang perpustakaan kita berlokasi di tempat yang tidak strategis dan suasana di dalamnya tidak nyaman. Akibatnya, perpustakaan tersebut sepi pengunjung. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin masyarakat bisa mengenali potensi bangsa ini?
Memperoleh Rujukan
Sesungguhnya kita tidak bisa berpendapat tanpa mengetahui pendapat orang lain. Pendapat kita, sekalipun berbeda dengan pendapat orang lain, dipicu oleh pendapat orang lain. Tetapi, tidak berarti bahwa kita harus menunggu pendapat orang lain dulu sebelum berpendapat. Pendapat kita hanya tidak pernah lahir begitu saja.
Keadaan seperti ini menyebabkan kita tidak pernah berhenti mencari rujukan. Kita akan merasa tidak percaya diri bila tidak memiliki rujukan dalam berpendapat. Kita bahkan akan disebut sombong bila tidak punya rujukan dalam berpendapat. Maka mencari rujukan menjadi semacam keniscayaan bagi manusia sebelum membuat keputusan.
Rujukan itu bisa kita peroleh melalui buku-buku yang disimpan di perpustakaan. Rujukan tersebut sangat luas. Bagi orang-orang yang sangat tekun, mereka bisa memperoleh rujukan yang sangat lengkap di perpustakaan. Bagi yang tidak, mereka juga bisa menemukan rujukan di perpustakaan. Tegasnya, mereka yang memang berniat mencari rujukan, perpustakaan memang tempatnya.
Bagi mereka yang menulis makalah, skripsi, laporan penelitian, rujukan menjadi sangat penting. Ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa pada akhir tulisan tersebut tertulis “daftar pustaka”. “Daftar pustaka” di sini tidak berarti nama-nama pustaka yang mereka kunjungi, melainkan daftar buku yang mereka pakai sebagai rujukan. Buku-buku ini bisa dibaca di perpustakaan.
Pentingnya perpustakaan sebagai tempat mencari rujukan disampaikan secara plastis oleh sebuah film berjudul “National Treasure: Book of Secrets” yang dibintangi oleh Nicolas Cage. Di film itu diceritakan, untuk memperoleh informasi tentang rujukan tentang kota yang hilang (lost city), Nicolas Cage harus menyandera Presiden AS. Dari Presiden AS inilah dia mengetahui rujukan yang dia cari ternyata tersimpan di Pustaka Kongres AS. Berdasarkan rujukan itulah dia kemudian berhasil menemukan kota yang hilang dan membersihkan nama kakek buyutnya yang dituduh sebagai pembunuh Abraham Lincoln. q - m. (3172-2008).
*) Ana Nadhya Abrar, Pengajar Fisipol UGM dan kandidat doktor dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.