Wednesday, 26 June 2024

Daftar Finalis Pustakawan Berprestasi 2024. Ada Fakta Mencengangkan!

 


Di atas adalah foto, nama, dan asal pustakawan finalis 2024, yang diselenggarakan PerpusNas RI.

Jika dilihat dari jenis kelamin, maka diperoleh data: perempuan 10 (66.66%), laki-laki 5 (33.3%). Dominasi perempuan dua kali lipat dibanding laki-laki.

Jika dilihat dari asal institusi: 8 perguruan tinggi, 5 dari Perpusnas/DA, dan 2 dari sekolah. 

Jika dilihat dari institusi negeri atau swasta, terdapat 3 perguruan tinggi terdiri negeri, sementara swasta ada 5. Yang menarik, 4 dari 8 ini dari perguruan tinggi Muhammadiyah.

Sementara dari sekolah, 100% dari sekolah negeri di bawah Kemenag.

Perpusda/nas terdiri dari 3 perpustakaan kabupaten/kota, 1 perpustakaan provinsi, dan 1 perpustakaan nasional.

Kesimpulan:
  1. Ke mana pustakawan laki-laki? kok hanya setengah dari pustakawan perempuan?
  2. Dari asal institusi, ternyata didominasi perpustakaan perguruan tinggi. Artinya, meski ini acara perpusnas, agaknya cukup fair sebaran asal institusinya.
  3. Ke mana perpustakaan PT negeri? Hanya ada 3 PTN, kalah dari swasta yang ada 5. Perpus dari PT gede ndak ada.
  4. Nah, dari 5 PTS itu, 4 dari Muhammadiyah. Luar biasa!
  5. Ke mana perpustakaan sekolah negeri? 100% perpus sekolah berasal dari sekolah di bawah Kemenag. Apakah ini berarti kaderasisasi perpus sekolah Kemdikbud gagal? atau paling tidak kalah dibanding Kemenag.

Itu!

Sunday, 2 June 2024

Kalau kita tulis kata kunci Jokowi OR "Joko Widodo" di Scopus, info apa yang kita dapat?

Oke, mulai!

Pencarian dilakukan di database Scopus, dengan kata kunci yang diletakkan pada ruang "article title", dilakukan tanggal 1 dan 2 Juni 2024.

Kenapa di ruas article title? Ben jelas. Artinya paper benar-benar membicarakan tentang kata kunci pencarian tersebut. Bukan menjadi bagian dari kajian lainnya. Selain itu, dengan hasil yang sedikit, penak le nganalisis (lebih gampang proses analisisnya).

Setelah dicari, ditemukan dokumen dengan judul memuat nama-nama presiden Indonesia.  

  • Joko Widodo OR Jokowi: 116 dokumen, 
  • Soeharto: 78 dokumen, 
  • "Abdurrahman Wahid" OR "Gus Dur": 12 dokumen.
  • Habiebie: 8 dokumen, 
  • Susilo Bambang: 8 dokumen, 
  • Megawati: 7 dokumen, 

Artikel dengan judul memuat kata Jokowi OR "Joko Widodo" menempati posisi terbanyak. Apa sebab?

Tentu harus ada usaha tersendiri untuk menelisik hal ini. Namun, jika dihubung-hubungkan kemungkinan ada kaitannya dengan kewajiban publikasi para akademisi. Di dukung dengan popularitas presiden Jokowi saat ini, tentu penelitian terkait kebijakan, dan hal lainnya menjadi banyak.

Jika dirinci, jumlah tersebut terdiri dari

  • Article 82 dokumen
  • Review 9 dokumen
  • Conference paper 8 dokumen
  • Book chapter 6 dokumen
  • Note 4 dokumen
  • Editorial 4 dokumen
  • Short survey 3 dokumen
Data di atas menunjukkan bahwa kajian tentang Jokowi atau Joko Widodo banyak dipublikasikan dalam bentuk artikel jurnal, di susul dalam bentuk review.

Dari tahun terbit, terdiri dari
  • Tahun 2024 10 dokumen
  • Tahun 2023 12 dokumen
  • Tahun 2022 14 dokumen
  • Tahun 2021 13 dokumen
  • Tahun 2020 8 dokumen
  • Tahun 2019 11 dokumen
  • Tahun 2018 19 dokumen
  • Tahun 2017 5 dokumen
  • Tahun 2016 9 dokumen
  • Tahun 2015 8  dokumen
  • Tahun 2014 5 dokumen
  • Tahun 2013 2 dokumen
Tahun 2013 merupakan masa-masa Jokowi masih menjadi gubernur Jakarta. Pada tahun ini, sesuai rekaman Scopus, paper tentang Jokowi mulai muncul. 

Nah, ada info menarik. Jika dilihat asal afiliasi, justru riset tidak berasal dari institusi di Indonesia. Ini datanya.
  • The Australian National University 15 dokumen
  • Universitas Indonesia 10 dokumen
  • Universitas Gadjah Mada 5 dokumen
  • Universitas Airlangga 5 dokumen
  • Universitas Diponegoro 5 dokumen

*************

Setelah diunduh dalam bentuk CSV, inilah bahasan (kata kunci) dari setiap presiden.

Joko Widodo:

Kata kunci saya bersihkan dulu pakai openrefine. Namun untuk paper tanpa kata kunci tetap saya biarkan saja. Ndak ada waktu buat cek 1 per 1. 

Nah, ini saya tampilkan minimal occurence 2, total ada 43 kata kunci yang terbagi 6 klaster (attraction 5, repulsion 0). 


Kata kunci urut occurences (klik untuk bikin gede)


Klaster kata kunci (klik untuk bikin gede)

Kajian terkait Joko Widodo terbagi menjadi 6 klaster. Yang kelompok merah agaknya dekat dengan bidang kebijakan luar negeri, klaster hijau tentang demokrasi yang bersinggungan dengan infrastruktur, relasi industri, gerakan buruh, dll. 

Klaster biru didominasi oleh social media dan covid, yang terkait dengan komunikasi politik. Klaster kuning kaitannya dengan democratic regression nyambung dengan election, election sendiri terkait dengan korupsi dan autoritarianisme.


Berdasar tahun (klik untuk bikin gede)

Paper tentang kebijakan luar negeri, muncul paling baru. Hal menarik, kebijakan luar negeri terkait dengan pragmatism dan populism. 

Sementara itu, terdapat klaster nyempil yang berisi  deixis analysis atas the speech of Joko Widodo.

Minimum occurence 1 (klik untuk menggedekan)


Biar gak penasaran, di atas saya sertakan semua kata kunci dengan minimal occurence 1, artinya semua disajikan. Total ada 285. Saya hailait hijau yang mungkin dirasa menarik.

Dah, gitu saja ya. Saya ndak melakukan analisis sampai detail, utamanya untuk topik klaster. 

Selesai!

Lho, lha SBY dan lainnya?

Lain waktu saja. 

Dataset dapat diunduh di: https://simpan.ugm.ac.id/s/w48NsRNGrhvGUfL




Minggu, 2 Juni 2024


Saturday, 1 June 2024

Pendidikan Tinggi dan Perlawanan Mahasiswa Pasca PTN-BH UGM 2012-2020

Ini dokumen tugas akhir, tepatnya skripsi. Ditulis oleh Joko Susilo, yang pada bagian ucapan terima kasih, tersirat berasal dari Gunung Kidul. Ya! Dari kabupaten yang sama dengan saya. 

Bangga? Iyalah.

Neoliberalisasi Pendidikan Tinggi Restrukturalisasi Institusi Dan Perlawanan Gerakan Mahasiswa Kini Studi Pasca PTN-HB UGM 2012-2020, begitu judul skripsinya, yang dikerjakan di bawah bimbingan Prof. Dr. Agus Erwan Purwanto.

Apa pertanyaan penelitian skripsi ini?
“Bagaimana organisasi-gerakan mahasiswa melawan neoliberalisasi pendidikan tinggi pasca PTN-BH di Indonesia?". Pertanyaan ini dipecah menjadi 3 sub pertanyaan.

  1. Bagaimana re-organisasi dan transformasi aktivisme mahasiswa pasca PTN-BH? 
  2. Bagaimana bentuk-varian gerakan mahasiswa dalam melawan neoliberalisasi pendidikan tinggi? 
  3. Apa capaian dan kegagalan gerakan mahasiswa serta alternatif atas neoliberalisasi pendidikan tinggi? 
Untuk menjawab pertanyaan di atas, data dikumpulkan dari informan. Siapa saja? Di bawah ini daftarnya.


Lalu apa saja rekomendasinya. Panjang jika ditulis. Salah satu rekomendasinya seperti tangkapan layar di bawah ini.


Ingin memperoleh PDF-nya?

Unduh saja di sini https://drive.google.com/file/d/1mOsOGsLAuGw71XkCfB3DtQl68c6FHjtP/view


Saturday, 30 December 2023

Peta jejaring rezim Rektor UGM selama 7 periode terakhir (s.d. 2022)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang ada di sini (jejaring rektor UGM).

Kali ini, dataset rezim rektor 2022 kami tambahkan. Oia, rezim di sini mengacu pada arti yang ada di KBBI, yaitu n tata pemerintah negara; pemerintahan yang berkuasa. 

Dataset memuat nama rektor pada tiap periode, + wakil rektor, beserta asal fakultasnya.

Hasilnya adalah peta jejaring fakultas dan nama para rektor dan wakil rektor. Fakultas atau nama rektor dan wakil rektor akan dihubungkan jika mereka pernah ada dalam satu periode rezim yang sama. Dengan demikian akan terlihat fakultas yang mendominasi,  dan wajah jejaringnya.

-------------***------------------

Berdasar fakultas


Terlihat FT dan FE masih mendominasi dengan perolehan 7 occurences. Selain itu total link strengthnya juga tertinggi. Artinya 7 periode rektor, FT dan FE selalu diajak gabung. Dibanding periode sebelumnya, ada pendatang baru yaitu FE-umum dan FIB. 

Sebagaimana diketahui, ada alumni FE yang bukan dosen, bergabung di kabinet rektor tahun 2022 yaitu Ignatius Susatyo Wijoyo. Informasi tersebut dapat dilihat di sini. Namunkemudian tidak tampak lagi di jajaran wakil rektor. Mungkin mengundurkan diri. Mungkin, lho. Silakan lihat gambar di bawah ini.

Tangkapan layar 30 Desember 2023

Kemudian ada pula FIB yang setelah sekian lama tidak masuk rezim, akhirnya mendapat kepercayaan di periode 2022.


Pada peta jejaring di atas, menguatkan gambar sebelumnya yang menunjukkan FE dan FT punya occurence sekaligus link strength tertinggi , terlihat FE dan FT ada di tengah. Artinya dua fakultas ini densitynya tinggi, dan centralitynya tinggi, alias menjadi (SDM) fakultas penggerak di sekian periode rektor.
Gambar di atas menunjukkan FIB dan FE-umum berwarna kuning, yang berarti muncul di tahun-tahun terkini (periode rektor terkini).


Berdasar nama

Jika dilihat dari nama, data menunjukkan Didi Achjari punya kemunculan 3x. Artinya DA ini ada di 3 periode rektor yang berbeda. Data menunjukkan DA ada di periode Sudjarwadi, Pratikno, dan Dwikorita Karnawati. (sumber: ini, ini, kemudian lanjut di periode Dwikorita K)


Gambar di atas menunjukkan bahwa Ova Emilia (klaster biru) melanjutkan tradisi beberapa periode sebelumnya, mengambil pejabat sebelumnya untuk lanjut di periode berikutnya. Pada periode 2022-2027 terdapat Supriyadi yang sebelumnya menjabat WR, kembali menjabat WR.

Hal di atas ditunjukkan oleh jejaring yang membentuk klaster namun saling terhubung (merah, biru, kuning,  toska, dan ungu. Sementara hijau menjadi klaster sendiri karena tidak ada pejabat yang menjadi jembatan ke periode berikutnya.


Gambar di atas menunjukkan nama-nama dan periode muncul sesuai warnanya. Pada warna kuning terlihat nama-nama yang menjadi pendatang baru di jajaran rektor dan wakil rektor. 












3 Capres di Database Scopus: siapa paling populer, dan apa yang dibahas?

Ingat! Ini bukan pencarian paper yang ditulis oleh para capres, melainkan mencari paper yang membahas para capre.

Pencarian dataset dilakukan di database Scopus. Total ditemukan sebanyak 48 publikasi, dengan kata kunci "anies baswedan" OR "prabowo subianto" OR "Ganjar pranowo" OR "Mahfud MD" OR "Muhaimin iskandar" OR "gibran rakabuming" pada title, absrak, keywords.

Sementara itu, untuk setiap keyword hasilnya sebagai berikut:

  1. Anies Baswedan: 9 artikel (5 conference, 4 jurnal) sejak 2018 s.d. 2023
  2. Prabowo Subianto: 34 artikel  (23 jurnal, 5 conference, 3 review, 1 book chapter, 1 erratum) sejak 2012 s.d. 2023
  3. Ganjar Pranowo: 7 artikel  (4 conference, 3 jurnal, 1 book chapter) sejak 2019 s.d. 2022
  4. Muhaimin Iskandar: 0 
  5. Gibran Rakabuming R: 1 paper di tahun 2023
  6. Mahfud MD: 0
----------

Total/gabungan

Kata kunci urut berdasar kemunculan

Dari dataset semua capres/cawapres, terlihat kata kunci paling banyak yaitu Indonesia, disusul twitter, elections, presidential election, sentiment analysis, social media.

Hal ini menunjukkan penelitian yang dilakukan terkait capres/cawapres, paling banyak terkait pemilihan umum serta analisis isu di media sosial.

kata kunci paper terkini

Paper terbaru lebih jelas lagi menunjukkan bahwa isu pilpres masih muncul. Selain itu dibahas pula topik militer, kontrol sipil, serta hubungan sipil militer.

Anies Baswedan

Topik terkait AB, paling banyak tentang covid-19 dan twitter. Agaknya analisis AB di media sosial cukup diminati para peneliti.

Klaster riset terkait AB

Pada gambar di atas, lebih jelas terlihat 9 artikel terkait AB membantuk 5 klaster dengan masing-masing isu utama pada tiap klaster.

Topik berdasar tahun terbit




Prabowo Subianto


Pada topiknya PS, topik pemilihan cukup mendominasi. Selain itu, muncul pula authoritarianism. Uniknya, pada topik PS ini muncul kata kunci jokowi dan joko widodo.

Visualisasi network PS

Visualisasi berdasar tahun

Ganjar Pranowo 

Topik urut berdasar kemunculan

Terkait GP, topik dibahas terkait media sosial utamanya twitter, kemudian disusul communication. 


Visualisasi jejaring kata kunci

Topik berdasar tahun



All by abstract (65 keyword minimal muncul 3x)
Visualisasi abstrak

Pada gambar di atas, tidak ada yang benar-benar menjadi sentral. Prabowo membuat klaster sendiri (merah), dengan berbagai frasa. Uniknya pada klaster ini ada nama Jokowi, yang juga ditemukan pada visualisasi dataset PS. Topik terkaitnya tentang demokrasi, ideologi, challenger, president, campaign, contestation.

Sementara itu GP dan AB tergabung pada klaster hijau, dengan berbagai term yang terkait dengan pengelolaan daerah. Misalnya covid-19, pandemic, policy, action. Jika pada PS ada nama Jokowi, pada GP dan AB ini muncul nama Ridwan Kamil


Tambahan
Pada posisi cawapres, hanya Gibran yang muncul di database scopus. Paper yang membahas Gibran yaitu:
The Political Economy of Media in Reporting the Individual Candidate Bagyo Wahyono-FX Suparjo in the 2020 Surakarta City Election, ditulis oleh Budianto, H. bersama Putra, A.M. dan Setiadji, S.A. Paper ini terbit di Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication, 39(3), pp. 530–543 tahun 2023. Paper dapat diunduh di https://doi.org/10.17576/JKMJC-2023-3903-29.


Kesimpulan

Penelitian popularitas 3 capres di media sosial masih mendominasi. Sementara itu, topik yang dibahas cukup beragam pada masing-masing capres. Mulai dari komunikasi, penanganan covid-19, otoritarianisme, sipil militer, juga demokrasi.

*****
Sambisari,
30 Desember 2023
Sehabis subuh sampai 07.49 WIB



Thursday, 12 October 2023

Produktivitas publikasi para dekan dan pimpinan di UGM

Latar belakang
Jujur, ini diawali dengan penasaran dan keisengan saja. Awalnya hanya ingin tahu produktifitas publikasi para dekan di UGM, khusus publikasi yang terindeks Scopus. 

Kenapa?

Karena dekan kan pimpinan tertinggi fakultas, mestinya bisa jadi contoh baik dalam publikasi, dong. 

Kenapa cuma di Scopus? Karena itu yang paling mudah dapat datasetnya.

Oia, ini saya lakukan sebagai bentuk pengembangan profesi saya sebagai pustakawan, yang salah satunya mengumpulkan data, lalu menyajikan. 

Pertanyaan penelitian
  1. Seperti apa profil publikasi para dekan di UGM?
  2. Bagaimana jejaring kepenulisan antar dekan di UGM?
  3. Maunya sih sekalian memetakan topik risetnya. Tapi untuk pertanyaan nomor 3 ini, mungkin nanti harus lebih serius, dan dipublikasikan di paper saja. :)
Metode penelitian
Pertama saya kumpulkan data nama dekan di UGM. Sumbernya dari sini, lalu dikonfirmasi ke web fakultas, terutama untuk dekan yang berganti karena satu dan lain hal. Misal FKKMK yang dekan-nya jadi rektor, juga di FKH yang berganti karena berhalangan tetap.

Nama dekan yang dimaksud, merupakan dekan periode 2021-2026. Lepas dari apapun jabatan sebelumnya, saya ingin tahu, seberapa produktif mereka di dunia publikasi. Ya... misalnya saat menjabat menjadi agak turun publikasinya, maka bisa dilihat pada batasan tahun 2021 ke bawah.

Ditemukan 25 nama, yang terdiri dari nama dekan dari 18 fakultas dan 2 sekolah, serta 5 pimpinan (rektor dan wakil rektor).

Nama tersebut dipakai untuk modal pencarian di Scopus. Pencarian dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2023 malam, setelah pulang dari bekerja. Data performa publikasi di Scopus diambil, termasuk dataset publikasinya. Data angka dibuat tabel lalu disajikan menggunakan Lookerstudio. 

Dataset masing-masing nama disatukan menggunakan Excel, lalu dilakukan pembersihan data nama menggunakan Openrefine. Setelah itu, dipetakan menggunakan Biblioshiny.

Penyatuan dataset menggunakan Excel ini sebenarnya kurang valid, sih. Semestinya pencarian dilakukan menggunakan gabungan ID Scopus. Okelah, ini nanti saya lakukan dipenelitian berikutnya, sebagai koreksi.

Disklaimer: ada 3 dekan yang publikasinya belum berhasil saya unduh datasetnya, yaitu dekan filsafat, dekan fisipol, dan dekan fakultas hukum. Serta ada 1 nama yang belum ditemukan ID Scopusnya, yaitu Arie Sujito. Saat dicek di Sinta, juga kosong. Kemungkinan memang belum punya ID Scopus.

Hasil penelitian
Produktifitas per tahun (klik untuk memperbesar gambar)

Gambar di atas menunjukkan produktifitas publikasi dekan tiap tahun. Terlihat, paling awal publikasi adalah Ova Emilia, yaitu di tahun 1991. Paper Ova berjudul Approaches to learning of students in an Indonesian medical school. Sayangnya, berdasar visualisasi pada gambar, Ova off dari 1991 s.d. 2011, baru di tahun 2012 mulai muncul publikasinya lagi.

Sementara itu, pendatang baru di dunia publikasi terindeks Scopus adalah Satibi, dengan paper paling tua tahun 2016 berjudul National health coverage system: Pharmacists and JKN participant satisfaction in primary health facilities

Lalu, siapa dekan paling banyak tulisannya?

Kuwat Triyana menempati urutan pertama dalam hal produktifitas, dengan total 180 paper dan h-indeks 25; disusul Budi S. Daryono dengan 125 paper dan h-indeks 9.

Terkait h-indeks, ada yang menarik. Meskipun Kuwat Triyana memiliki h-indeks tertinggl (25), namun jika dihitung persen atas jumlah paper, nilainya hanya 13,89%. Artinya, dari total 125 papernya, yang memiliki dampak secara merata dari sisi hitungan sitasi, hanya 13,89% saja.

Tertinggi dari sisi %, khususnya untuk pemilik paper di atas 10 ada pada Suryono dengan h-indeks 8 dari 19 paper, atau sekitar 42.11%.

Budi Setiadi Daryono, dengan total paper 125 (tertingi nomor 2) hanya mencatatkan h-indeks 9, atau sekitar 7.2% saja dari total paper. Lebih rendah dari Kuwat Triyana.

Lebih lengkap, jawaban atas pertanyaan penelitian pertama, terkait profil publikasi para dekan  bisa dilihat di sini. (Kami sajikan dalam LookerStudio)

-----------------####------------------

Jejaring penulis (klik untuk memperbesar gambar)

Gambar di atas menunjukkan klaster dari jejaring kepenulisan (co-author). Saya tandai nama dekan dengan titik merah. Network disajikan dengan setting 150 nama menggunakan aplikasi Biblioshiny.

Nah, dari situ dapat kita lihat jejaring para dekan dalam publikasi. 

Budi Setiadi, Kuwat Triyana, Mahendradata, Selo Sulistyo, Satibi, Budi Guntoro, Jaka Widada, Eni Hermayani memiliki klaster yang saling terhubung. Namun, hubungan ini agaknya (maafkan, belum saya pentelengi) tidak langsung, melainkan melalui co-author lainnya.

Sementara itu Teguh Budipitojo, Suryono, Wening Udasmoro, dan Setiadi hanya ada di 1 klaster terpisah saja.  Bahkan, dengan seting ditampilkan hanya 150 penulis, Wening Udasmoro terhubung dengan Setiadi saja.


Ada yang unik dari jejaring  Ova Emilia, yang berasal dari FKKMK. Ova berjejaring dengan Danang Sri Hatmoko melalu A Hidayat. 

Saya penasaran. Setelah saya telisik, ternyata A Hidayat yang menjadi partner Danang dan Ova merupakan orang yang berbeda. Bersama Danang Sri Hatmoko ada Agung Hidayat (ID 57215037004), sementara bersama Ova Emilia ada Asri Hidayat (ID 57224770220).

Ini kelemahan Biblioshiny, yang tidak bisa membedakan nama orang yang sama untuk orang yang berbeda.

----------------------##------------------------

Oke, pertanyaan penelitian sudah terjawab, ya.

Di bawah ini beberapa gambar lainnya, hasil olah dataset. 

Jejaring kata kunci (klik untuk memperbesar gambar)


Kata kunci urut occurrence (klik untuk memperbesar gambar)



Jejaring negara penulis (klik untuk memperbesar gambar)

Jejaring negara penulis (klik untuk memperbesar gambar)

----------------------###-------------------
Catatan:
  • untuk network negara dan topik, akan kami perbaiki dengan melalukan query menggunakan gabungan ID Scopus.
  • Itung-itung buat proyek iseng berikutnya. Siapa tahu bisa tembus jurnal, ya.... meski cuma Q4 lumayan, lah.
  • Menarik juga mengumpulkan ID Scopus guru besar per bidang ilmu, kemudian disajikan dibandingkan dengan kelompok guru besar di universitas lainnya.



--------------
Sambisari, tanggal 12 bulan ke 10, tahun 2023
Pukul 06.23 pagi


Wednesday, 3 May 2023

Membaca Buku "Perpustakaan Digital dalam penguatan akses informasi", karya Imas Maesaroh #1

Saat dikirimi URL buku ini, saya penasaran dengan isinya. Oleh karena itu, saya langsung lihat daftar isinya, untuk tahu apa yang dibahas. 

Namun demikian, agaknya perlu waktu untuk memahami isinya, sehingga pertama saya coba gunakan buku ini untuk belajar tata bahasa. 

Berikut catatan saya:

  1. Halaman vii: kapanpun dan dimanapun -> jika menurut https://ejaan.kemdikbud.go.id/eyd/penulisan-kata/partikel/ lebih tepat pun dipisah atau digabung, ya?
  2. Viii: tulisan tulisan -> tulisan-tulisan
  3. Daftar isi: ada yang  model kalimat, ada yang model judul
  4. TRI DHARMA -> bisa dicek di UU Pendidikan Tinggi
  5. Halaman 1: merubah -> atau mengubah?
  6. Halaman 1: dipubilkasikan -> dipublikasikan
  7. Halaman 1: Salah satu bidang yang sangat terpengaruh dengan perkembangan -> dengan atau oleh?
  8. Halaman 1: Menurut Worcman (2002) terdapat suatu tantangan besar dengan perkembangan teknologi informasi dimana teknologi informasi... -> pemakaian "dengan" sudah tepat? "dimana" apakah sudah tepat? Cek di https://ivanlanin.wordpress.com/2009/12/15/di-mana/. Saya temukan banyak pemakaian "dimana" pada buku ini.
  9. Halaman 1: "Para pengguna internet..." -> penggunaan para digabung dengan pengguna ini termasuk pemborosan ndak, ya?
  10. Halaman 2: Pengguna akan kesulitan untuk menentukan informasi mana yang sesuai dengan kebutuhan dan informasi mana yang memiliki kualitas pengetahuan yang tinggi -> kata "mana" jika dihilangkan agaknya menjadikan kalimat lebih enak di baca.
  11. Halaman 2: Sementara itu, Perguruan Tinggi memiliki --> penulisan "Perguruan Tinggi" diawali huruf besar?
  12. Halaman 2: Perpustakaan yang merupakan salat satu unit di perguruan tinggi memiliki.. -> salat -> salah. "perguruan tinggi" -> ini kecil semua, beda dengan sebelumnya.
  13. Halaman 2: Para dosen dan mahasiswa lebih banyak mengandalkan -> "Para" perlu dipakai?
  14. Halaman 3: sumber sumber -> sumber-sumber
  15. Halaman 3: kapanpun dan dimanapun -> hmm, bisa cek di https://ejaan.kemdikbud.go.id/eyd/penulisan-kata/partikel/
  16. Halaman 3: google -> Google?
  17. Halaman 3: merubah -> mengubah?
  18. Halaman 3: penulisan teknologi informasi dan TI tidak konsisten.
  19. Halaman 14: perpustakaan digital sebagai koleksi informasi yang di atur yang memiliki... -> di atur atau diatur?
  20. Halaman 13: menterjemahkan -> atau menerjemahkan?
  21. ..
Baru sampai halaman 3. Halaman 13 dan 14 di atas ikut dicek karena saya buka secara acak. Saya akan coba lihat lagi  nanti, jika sudah luang.

Wednesday, 22 March 2023

Melihat Publikasi Siti Nur Azizah (UNESA)

Kawan seperguruan, mari kita bersama lihat paper-paper Siti Nur Azizah di Scopus. Dapat saya ambil dengan dasar ID  57441632500.

Saya menemukan 6 paper terindeks Scopus.







Berikut ini daftarnya:

Tiga indikator pelayanan publik yang (menurut saya) menjadi prioritas di perguruan tinggi

Saya pernah ditanya: manakah di antara 9 indikator ini yang menjadi prioritas untuk diterapkan di perguruan tinggi? Saya diminta untuk memilih 3 indikator prioritas.

Sembilan pilihan tersebut yaitu: partisipatif, transparan, responsif, tidak diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien, akuntabel, sikap, dan terakhir etika. Penanya mendasarkan pilihan ini pada penelitian yang dilakukan Asih Setiawati (2018) yang terbit pada jurnal Wacana Kinerja, dengan DOI: 10.31845/jwk.v21i2.98.

Saya berfikir, bahwa jika indikator itu didasarkan pada sebuah riset, pasti semuanya penting. Jika diminta menentukan 3 prioritas, maka harus dicermati dengan sebaik-baiknya.

**** 

Setelah berfikir sejenak, saya memilih 3 prioritas ini sebagai jawaban: etika, akuntabel, dan responsif.

Namun, setelah saya jawab, ternyata ada pertanyaan berikutnya: apa alasannya, dan berikan contoh program nyata implementasi prioritas tersebut!. Hedew.

Oke. Begini ceritanya.

Tiga pilihan saya itu, merupakan hasil pemetaan dengan skema “mana menjadi dasar yang mana”. Ya, tentu saja, alasan dan proses saya saat memilih sangat mungkin ada kelemahannya. Namun, saya pastikan bahwa memilih dengan berfikir, bukan ngitung benek. Wk Wk

Etika saya pilih menjadi prioritas pertama, karena etika menjadi dasar dari 8 hal lainnya. Etika juga saling terkait dengan indikator sikap. Di perguruan tinggi, persoalan etika belum, bahkan tidak akan selesai. Jika toh sudah baik, perlu di jaga. Artinya tetap sama: tidak akan selesai. Lihat saja meski perguruan tinggi itu dianggap benteng moral dan etika, kasus-kasus etika tetap saja muncul: mulai dari pelecehan, sampai dengan joki plagiat, juga korupsi dan korupsi. Bahkan pernah menjadi headline berita media besar.

Uisin, tho?

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Saya bilang, mulai dari hal kecil, “Gerakan dosen menyapa lebih dulu”. Jadi, jika dosen ketemu mahasiswa, ketemu tenaga kependidikan, mereka harus menyapa lebih dahulu. Bukan sebaliknya. Ini sepele, tapi sangat mungkin berdampak besar di kemudian hari. Mahasiswa, dan tendik akan punya role model dalam bergaul, khususnya di kampus. 

Apalagi, dosen merupakan pusat dari proses akademik. Dosen itu yang utama mengajar, dan seharusnya juga yang mendidik mahasiswa. Dosen merupakan satu-satunya unsur sivitas akademika yang stay di kampus. Berbeda dengan unsur sivitas lain: mahasiswa, yang berganti setiap periode. Maka, dosen akan tetap menjadi sorotan sebagai contoh penerapan etika dan moral. Cara bicaranya, intonasinya, kata-kata yang diucapkannya, tulisannya, gaya hidupnya, pergaulannya, integritasnya, juga "nya-nya" yang lain.

Merah hitamnya mahasiswa, dosenlah yang menjadi acuannya.

Tidak berhenti di Gerakan dosen menyapa. Dosen juga harus diawasi agar tidak tergelincir pada pelanggaran etika lainnya. Caranya? Ada di prioritas ke-3.

Bagimana dengan tendik dan mahasiswa? Pokoke dosen duluan, wis. wkwk

Berikutnya akuntabel. Akuntabel, sesuai pada paper Setiawati (2018), berarti adanya pemahaman pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Indikator ini saya tempatkan pada posisi kedua, karena setelah etika sebagai dasar, maka kerja harus punya wujud nyata untuk dipertanggungjawabkan secara terbuka. 

Jika seorang pelayan publik mampu memaknai akuntabel dan tergerak untuk mempertanggungjawabkan secara publik, maka ada beberapa indikator lain yang akan ikut terimplementasikan, misalnya: efektif dan efisien, mudah dan murah, transparan. Tiga indikator yang saya sebut terakhir, ikut mendukung proses pertanggungjawaban.

Apa program nyatanya?

Dilakukan ekspose terbuka hasil kerja, pada tiap unit. Sehingga setiap bagian (dari unit tersebut) mengetahui apa yang dicapai bagian lain. Hasil-hasil ini juga dipublikasikan terbuka melalui berbagai media, untuk diketahui pihak dari luar unit (atau diketahui unit lain dalam 1 organisasi).

Terakhir responsif. Saya tempatkan ini di prioritas ke-3, karena sikap responsif akan mendukung akuntabel. Responsif sendiri akan men-drive aspek partisipatif, dan aspek tidak diskriminatif.

Apa program nyatanya? Semua unit layanan harus memasang kontak respon cepat, dan kontak aduan. 

Friday, 10 March 2023

Tentang pilihan rektor UGM 2022-2027, catatan rangkuman saya

Tanpa ba-bi-bu, ini catatan rangkuman saya.

Pra final MWA
  1. Terdapat 7 pendaftar. Enam dari internal, 1 orang dari eksternal (namun tercatat sebagai alumnus). Kondisi ini mengalami penurunan dibanding pendaftar periode sebelumnya. Misalnya 2007 terdapat 10 pendaftar, 2012 yang lolos jadi bakal calon ada 7, 2017 ada 9 pendaftar.
  2. Pada tahap verifikasi berkas, 1 orang pendaftar dari eksternal gagal lolos
  3. Enam bakal calon yang lolos terdiri dari 2 dekan aktif (KH dan KKMK), 2 dari FT, dan 2 mantan dekan (FH dan FPt).
  4. Melihat bakal calon di atas, maka jago saya: FH, dan FPt. Alasannya:
    • saya menganggap dekan aktif harus menyelesaikan dulu jabatan yang diembannya (apalagi itu diemban dengan meminta), maka 2 dekan aktif saya coret; ibarat orang minta minum susu ya harus dihabiskan dan jangan tergiur coklat panas kemudian sisa air susu dikembalikan. Ini masalah integritas yang paling sederhana;
    • saya menganggap perlu perpindahan kepemimpinan UGM ke luar FT. Maka 2 bakal calon dari FT saya coret. Tersisalah FH dan FPt.
  5. Dari enam bakal carek, ada dua potensi rekor:
    • terpilihnya rektor perempuan pertama hasil pilihan dari awal,
    • potensi hattrick FT UGM (3 rektor berturut-turut).
  6. Para bakal calon rektor, datanya dipampang di seleksirektor.ugm.ac.id. Termasuk CV dan video profilnya. Dari yang saya lihat, ada yang serius membuat video, ada juga yang (mungkin karena tersentil kualitas video lainnya) mengganti video profilnya. Sayangnya, di channel tersebut jejak video itu sudah tidak lengkap. Namun, jangan khawatir, jejak video itu masih ada di sini, tampil saat masing-masing bakal calon memulai presentasi.
  7. Dua statemen bakal carek yang bagi saya menarik: keputusan UGM dipengaruhi pihak luar, dan kebebasan akademik yang menurun



Saat final MWA
  1. Ada 3 calon yang masuk final: Ova Emilia (Dekan FKKMK), Deendarlianto dan Bambang Agus Kironoto (FT).
  2. Karena jago saya tidak masuk final, maka saya otak-atik lagi pilihannya. Saya tidak memilih yang potensial menang. Karena saya bukan/tidak bertaruh. Saya mencoba melihat mana yang layak saya pilih. Akhirnya saya lebih memilih FT. Bagi saya, dekan yang aktif (FKKMK) atau masih menjabat, harus menyelesaikan amanahnya. Bukankah ini tindakan mulia dan berintegritas? wkwkwk
  3. Namun, yang terpilih ternyata Prof. Ova, dekan FKKMK. Calon yang tidak saya jagokan. 
  4. Berbeda dari pilrek tahun sebelumnya (2017) dan seingat saya juga 2012; tahun 2022 ini saya tidak menemukan live streaming. Ini catatan menarik bagi saya. Jika benar, maka ada kemunduran. Tingkat transparansinya menurun.
  5. Dari berita beredar, sepertinya di MWA hanya 1 putaran, dengan perolehan angka: Ova 21, Deen 3, Bambang 1. Kenapa tidak ada final mempertemukan 2 calon? mungkin karena pemenang memperolah kemenangan telak. Kemudian disepakati tidak dilanjutkan. Cukup sudah. Atau, bisa jadi calon peringkat 2 menyatakan menerima, dan menyudahi saja prosesnya. Karena tidak ada live streaming, maka kemungkinan yang saya sampaikan di atas itu hanya tebakan saja.
  6. Angka perolehan di atas, menandakan Prof. Ova menang telak. Khusus analisis "kemanangan telak" ini ada di sini.
  7. Akhirnya UGM memiliki rektor perempuan yang dihasilkan dari proses pilihan sejak awal (bukan menggantikan).
  8. Prof. Ova menjadi rektor ke-3 UGM yang berasal dari FKKMK. Rektor UGM yang pertama dari FKKMK Prof. Sardjito, sekaligus rektor pertama UGM. Rektor UGM berikutnya dari FKKMK Prof. Jacob, atau rektor ke-7 UGM
  9. Prof. Ova merupakan rektor ke-17 UGM. Angka cantik hasil penyandingan dari angka 1 (Prof. Sardjito), dan 7 (Prof. Jacob).
  10. Fakultas Teknik UGM gagal membuat hattrick.

Catatan akhir
  1. Saya bukan orang yang punya hak pilih, lho.
  2. Saya mencoba melihat fenomena, kemudian menganalisisnya dengan pisau analisis saya secara pribadi. Latihan. Ini latihan nulis, dan mempertajam analisis.
  3. Yang membaca, jangan nesu, lho. Ini wujud kebebasan akademik. Saya memang blak-blakan.😅