Saturday, 18 February 2023

Buku LI-nya FPPTI: catatan pungkasan saya

Telah ada 3 tulisan saya sebelumnya, yang membahas buku LI-nya FPPTI yang baru. Pertama secara umum, kedua terkait Bab 5, dan yang ketiga tentang Bab 2.

Sebelumnya, sebagai bagian dari proses komunikasi (agak) ilmiah, saya hendak mencoba menuliskan telaah pada setiap bab buku tersebut. Sebagai produk yang dikonsumsi publik, tentu saja bukan hal terlarang untuk ditelaah. Saya melakukan telaah bukan karena saya sempurna, melainkan karena menjadi bagian dari proses saya belajar. 

Namun, agaknya berat jika meneruskan telaah semua bab. Selain itu, kawan saya, Kang Yogi dalam grup Pustakawan Blogger menyarankan agar disudahi saja. Sebagai junior saya ngestoake dhawuh senior. Saya sudahi saja telaah per bab, saya alihkan ke catatan pungkasan.

Dan, tulisan ini merupakan catatan akhir atau pungkasan itu.

Buku LI-nya FPPTI terbit November 2022. Jika dihitung sampai saat ini, saat tulisan ini saya buat, usia terbitnya sekitar 3-4 bulan. Pada halaman sampul tertulis judul dan logo FPPTI + tahun 2022.  Judul lengkapnya Panduan Literasi Informasi Pendidikan Tinggi. Tidak ada nama penulis.

Nama-nama yang bertanggung jawab atas buku ini ditulis di halaman ii. Nama yang ditulis dikelompokkan pada beberapa peran. Pertama tertulis Tim Pengarah (4 nama),  Penyusun (1 nama dengan keterangan “Ketua Tim”), Tim Perumus (5 nama), Tim Ahli (5 nama), Tim Penyusun (5 nama), Tim Pelatih (2 nama), Tim Reviewer (2 nama), Editor (2 nama), Sekretaris (2 nama). Total ada 28 nama.

Pada halaman iii tertulis hak cipta 2022 Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. Pada halaman iv tertulis Katalog dalam Terbitan (KDT), yang memuat informasi penerbit Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti dan FPPTI. 

Namun yang saya belum paham, pada bagian lain di halaman iv, yang tegas ditulis sebagai penerbit hanya FPPTI.

Munculnya nama Kemenristekdikti ini dikuatkan oleh Ketua FPPTI pada halaman v, yang menyebutkan bahwa buku ini lahir dari usulan FPPTI pada Dirjen PRP Kemenristekdikti.

*** 

Berdasar pembacaan saya, yang sebagian telah saya tuangkan pada 3 tulisan sebelumnya, maka ada beberapa catatan pungkasan saya pada buku ini.

Pertama, buku ini terbit November 2022 dengan penerbit (sebagaimana tertulis pada KDT) Kemenristekdikti dan FPPTI. Jika dirunut, pada 2021 Ristek menyatu dengan Kemendikbud. Maka bisa dianggap buku ini terbit terlambat. Diterbitkan oleh institusi, yang saat tahun terbit, institusi tersebut sudah tidak ada.

Kedua, naskah buku ini saya anggap belum selesai sepenuhnya. Setidaknya saya berkesimpulan demikian karena saya (dengan segala kekurangan saya) menemukan berbagai kesalahan yang seharusnya tidak terjadi untuk sebuah buku yang ditulis oleh nama-nama kredibel dan telah tinggi jam terbangnya. Apalagi diberi testimoni sangat positif oleh dua akademisi, salah satunya merupakan guru besar.

Kesalahan tersebut, yang sepele misalnya salah ketik, juga pilihan kata yang tidak tepat. Kemudian yang agak berat misalnya kalimat yang rancu, definisi yang tanpa referensi, bahkan ada referensi yang saya belum temukan di daftar pustaka.

Ketiga, sebagai sebuah buku panduan, buku ini tetap dapat digunakan untuk pustakawan yang hendak belajar menjalankan praktik mengajar literasi informasi sesuai dengan konsep yang diusung buku ini. Namun, jika hendak digunakan sebagai pengayaan teoritis, menurut saya tidak sepenuhnya (bahkan kurang) layak. 

Kenapa? Ada pernyataan yang tanpa dilandasi argumen ilmiah dan referensi. Misanya pada penentuan jurnal atau konferensi yang kredibel dengan melandaskan pada Scopus, Beallslist, ScimagoJR, juga ScolarlyOA.

Keempat, dengan catatan-catatan kekurangannya, buku ini dapat dijadikan contoh karya yang berbeda antara idealisme isi dan kenyataannya.

Misalnya, pada halaman 78 disebutkan tindakan plagiarisme yang tidak disengaja. Dua diantaranya tidak konsisten dalam menggunakan model sitasi, dan jumlah antara sumber yang dikutip dalam teks berbeda dengan yang tercantum dalam daftar pustaka.

Sebatas yang saya lihat, buku ini tidak konsisten dalam menggunakan model atau gaya penulisan sitasi dan referensi, juga berbeda jumlah antara referensi yang ada di teks dan daftar pustaka.

Dengan kalimat pendek, kesimpulan saya: meski mendakwa diri sebagai panduan literasi, buku ini sendiri kurang literasi.

***

Sebagai tambahan informasi, pada halaman sampul belakang, tertulis testimoni dari 2 pengajar Ilmu Perpustakaan.


Terima kasih


Bab 2 buku LI-nya FPPTI yang baru, apa catatan saya?

Oke, sekarang masuk ke Bab 2.

Kenapa tidak urut Bab 4?

Bab 4 halamannya cukup banyak, sehingga berpotensi membuat saya lelah fisik dan pikiran. Saya cari yang sedikit halamannya saja.

Bab 2 berjudul Penelusuran Sumber Informasi yang Reflektif, dimulai dari halaman 25 sampai 43. Total 19 halaman.

Halaman 25 kita mulai dari bagian tujuan instruksional. Bagian ini terdiri dari 10 baris, kurang lebih 70 kata, yang hanya dimuat dalam 1 kalimat. Bayangkan saat membaca, agaknya kesulitan ambil nafas. Terengah-engah.

Halaman 26 terdapat saltik “post tes”. Lanjut di halaman 27 muncul “praktek”, “weaving” yang pada bagian glosari (?) ditulis “Waving”.

Eh, kenapa di akhir glosari saya beri tanda tanya?

Coba cek di KBBI, ya.

Pada halaman ini juga muncul “dimana”. Agaknya ada pengaruh “where” dalam bahasa Inggris. 

Pada halaman 28 masih muncul “praktek”, bahkan lebih dari 1 kali. Ada pula ketidakkonsistenan penulisan huruf pada kata yang mengawali tahapan. 

Pada halaman 29  muncul “dimana”, serta penggunaan yang kurang tepat pada kalimat.

Kalimatnya begini, “Ada beberapa pengertian topik,  dimana berasal dari Bahasa Yunani, yaitu topoi yang artinya inti utama…(dst)”.

Keanehan lain terdapat pada kalimat ini, “Dari dua definisi tersebut memiliki kesamaan, yaitu topik merupakan pokok pembicaraan atau permasalahan yang dibahas.”

Halaman 30 muncul domain Rama dan Garuda yang menginduk ke ristekdikti. Muncul juga kata “peserta”, yang kurang sinkron dengan “Saudara” di Bab 5. 

Masih di halaman 30, penjelasan tentang Contribution terasa rancu. Lihat tangkapan layar di bawah ini.


Pada halaman 31 terdapat awal kalimat, “Berdasarkan tahapan di atas tadi, …”. 

Kemudian ada penyebutan “Misalnya:” untuk mengawai tabel. Alangkah lebih oke jika langsung disebut nomor tabelnya.

Pada halaman 32 terdapat 2 kalimat yang harusnya ada pada paragraf yang sama, namun dipisah.

Kemudian ada kalimat, “Dari pencarian menggunakan website xxxx, misalnya ditemukan kata kunci pencarian dari kata-kata di atas adalah:”. Aneh, ndak?

Halaman 33 terdapat kata “form” tanpa cetak miring. Sederhana, sih. Tapi tetap keliru.

Pada halaman ini masih saja muncul “dimana” yang dekat dengan “where” sebagai penghubung dalam ungkapan bahasa Inggris.

Penyebutan informasi dalam tabel dengan tanpa menyebut tabel juga terjadi di halaman 33.

Bukankah menyebutnya nomor tabel merupakan hal dasar dalam menulis ilmiah?

Lanjut ke halaman 34. Muncul “sintaks”. Cek di KBBI, ya.

Halaman 35 muncul kata “frase” ketika menjelaskan tanda petik dua dalam strategi pencarian. Kalimat lengkapnya silakan lihat pada gambar di bawah ini.


Jika dicari di KBBI, frasa (pakai a) berarti gabungan dari dua kata atau lebih. Cek di KBBI.

Halaman 36 masih terdapat kata “sintaks”, juga “dibawah”. Pada halaman 37 ada kekeliruan penulisan “sciencedirect” pakai “s”. 

Halaman 38 terdapat 3 kata “adalah”, yang dipakai untuk menyebutkan contoh. Menurut saya, lebih tepat menggunakan “yaitu”, atau “misalnya”.  Coba cek arti “adalah” di KBBI. Pada halaman 38 juga terdapat kalimat yang rancu, bahkan ada 2. 

Begini kalimat itu:

1. Informasi tentang sumber primer yang disusun secara sistematis supaya mudah diakses.

2. Sumber tersier (..) merupakan memuat informasi berupa saringan, rangkuman atau kumpulan dari sumber primer dan sekunder.

Halaman 39 terdapat tabel yang tanpa nama dan nomor. Tentu ini beda dengan tabel sebelumnya. Muncul pula “adalah”, serta kalimat yang belum selesai. Begini kalimat itu, “Sumber referensi ini ada yang tercetak atau biasa disebut dengan buku referensi.”

Selain tercetak tidak disebutkan.

Masih di halaman 39, terdapat definisi “data” namun tanpa referensi. Hal serupa ada di halaman 40, yang terdapat definisi kearifan lokal tanpa referensi.

Halaman 40 juga terdapat “disini”, juga pengulangan “dilakukan” dalam 1 kalimat. Halaman 41 juga terdapat pengulangan kata “melihat” dalam 1 kalimat, kemudian diulangi pada kalimat berikutnya.

Halaman 42 terdapat kata “rate” yang dipetik. Apakah ada maksud khusus dari “rate” ini hingga perlu diapit tanda “? Mungkin lebih tepat dicari istilah pengganti saja. 

Halaman 43 terdapat contoh soal dan jawabannya.

Contoh soal itu begini,  “Carilah semua website tentang korupsi dari semua website berdomain pendidikan universitas”.

Soal di atas tidak diakhiri oleh tanda baca apapun. Di bawah soal terdapat jawaban: intitle:korupsi site:edu

Apakah jawaban tersebut sudah mewakili perintah pencarian ke “semua”?

Bagimana dengan domain *.ac.id?

*****

Paijo: sudah kumplit 19 halaman, Kang?

Referensi:

https://ivanlanin.wordpress.com/2009/12/15/di-mana/ 


Friday, 17 February 2023

Bab 5 Buku LI-nya FPPTI yang baru: saltik; kalimat yang tidak nyambung, tidak efektif, dan....

Karyo: Lanjut, Jo?

Paijo: Gass, Kang.

Bab 5 terdiri dari 18 halaman, mulai dari 103-120, judulnya Diseminasi Pengetahuan Baru. Bab ini merupakan bab yang hampir terakhir, sebelum penutup. Oia, postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya, yang ada di sini.


Oke, saya akan coba ulas per halaman.

  1. Pada halaman 103 terdapat pemborosan kata “mampu” dan “dapat” yang muncul bersamaan, jejeran, alias berdampingan. Selain itu, pada halaman ini juga muncul kata “Pelatih”, padahal di bagian lain menggunakan kata “Pengajar”. Agaknya karya ini bentuknya kumpulan, lalu penyelaras bahasa kurang optimal perannya. Atau, mungkin tidak ada penyelaras bahasa.
  2. Halaman 104 terdapat kata “praktek”, padahal di KBBI tertulis “praktik”. Juga kata “researchgate” dengan “r” kecil. Jika ini dimaksudkan sebagai nama, maka seharusnya “R”. Reseachgate pada halaman ini disandingkan dengan jurnal, prosiding, dan repositori. Sudah tepatkah? Menurut saya tidak tepat.
  3. Lanjut halaman 105, ya. Pada halaman ini tertulis “pos-tes”, “mempraktekkan”, awalan point dengan huruf kecil: “refleksi”, “Waving” yang pada bagian lain tertulis “weaving”,  “praktek” muncul lagi.
  4. Halaman 106 saya lihat ada kalimat-kalimat yang tidak efektif, tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya. Ada kata “peserta” dan “penelitian” yang muncul pada sebuah kalimat secara tiba-tiba, serta penulisan “di” yang tidak tepat. Bagian ini membahas pentingnya diseminasi karya ilmiah, namun tidak disertai referensi. Okelah, mungkin memang tidak mengutip. Ketidakkonsistenan tanda titik juga muncul di halaman ini.
  5. Lanjut ke halaman 107. Terdapat kata “dalam” pada kalimat pertama, yang rasanya kurang pas. Kemudian kata “mengkomunikasikan”, adanya perulangan frasa  dalam kalimat, definisi tanpa disertai referensi, kalimat yang membingungkan, penulisan “peer review” yang tidak konsisten.
  6. Halaman 108 juga saya cermati. Penulisan nama (bukan istilah) kenapa ditulis miring, ya? Misalnya Elsevier. Pada bagian ini terdapat kalimat yang menghadap-hadapkan jurnal “berbayar” dan “open access”. Agaknya itu tidak tepat. Penulisan “open access” sebagai istilah pun keliru, karena ditulis dengan diawali huruf kapital.
  7. Oke, mari lanjut ke halaman 109. Muncul kata “diatas”, yang seharusnya “di atas”. Sederhana, sih. Tapi fatal untuk sebuah buku level nasional yang ditulis banyak orang. Lanjutkan. Pada halaman ini juga ditulis ResearchGate yang dicetak miring. Ada pula “academia.edu” yang penulisannya kurang tepat. Academia.edu yang sudah ditulis itu, kemudian diulang di kalimat yang sama, namun dengan menulis url. Jika konteksnya penyebutan nama, mestinya tetap nama.
  8. Pada halaman 110 terdapat penulisan urutan langkah yang tidak konsisten dalam penempatan tanda “.” (titik). Penulisan “researchgate” dan “academia.edu” yang tidak konsisten di halaman sebelumnya, berlanjut pula di halaman ini.
  9. Halaman 111 ada tanda baca yang tidak tepat. Misalnya terdapat kalimat yang seharusnya menggunakan “,” serta penulisan tanda “.” pada akhir point. Penulisan url Sinta juga tidak konsisten dengan halaman lainnya.
  10. Penggunaan tanda baca, dan ketidakkonsistenan penulisan alamat Sinta juga muncul di halaman 112.
  11. Pada halaman 113,  muncul pula ketidakkonsistenan dalam mengakhiri point. Selain itu, ada 1 kalimat yang boros, hanya mengulang apa yang sudah sebut sebelumnya. Halaman ini membahas jurnal internasional dan jurnal internasional bereputasi, menggunakan rujukan tahun 2016. Agaknya lebih baik lagi rujukannya ditampak PO PAK Dikti 2019.
  12. Lanjut halaman 114. Terdapat penulisan “Quartile journal”, huruf “Q” kapital, sementara “j” kecil. Penulisan SCIMAGOJR juga tidak konsisten. Pada halaman ini terdapat kata sapaan orang ke-2: “Saudara”, yang sepertinya tidak sinkron dengan bagian lainnya. Saltik juga ada pada halaman ini. Penulisan jurnal dan conference yang bersandingan (padahal keduanya beda). Lho kok beda? Ya bedah, dong. Jurnal itu bahasa Indonesia, sementara conference bukan. Mbok ya pakai yang sama-sama bahasa Indonesia saja. Selain itu ada juga penulisan “Questionable Journal”.
  13. Halaman 115. Pada halaman ini, penulis buku cukup berani menuliskan alamat web Beallslist dan Scholarlyoa. Okelah, mungkin mereka punya pertimbangan, namun paling tidak harus ada landasan ilmiahnya. Lanjut… Ada yang fatal di halaman ini, yaitu penulisan ciri jurnal (dan konferensi) yang diragukan, namun kalimat awalnya tidak lugas dalam menjelaskan. Terdapat kalimat kalimat penjelas setelahnya, namun juga tidak lugas.
  14. Halaman 116. Pada halaman ini, sub bab 5 dimulai dengan kalimat yang menurut saya rancu atau minimal maknanya sulit ditangkap. Begini kalimat itu, “Diseminasi karya ilmiah pada jurnal ilmiah perlu pemahaman yang jelas tentang ruang lingkup karya ilmiah yang kita miliki. Menelusuri jurnal ilmiah sesuai bidang ilmu karya ilmiah yang kita milili”. Beberapa saltik juga ada pada halaman ini.
  15. Halaman 117. Saltik ada juga di halaman ini, selain itu terdapat kalimat yang agaknya bagian dari alur/proses namun ditulis terpisah. Pada halaman ini, mak bedunduk muncul “OJS”.
  16. Halaman 118. Terdapat kalimat penjelas langkah submission sangat tidak efektif. Juga ada potongan kalimat ini, “… maka penting baginya untuk memiliki profil penulis atau ID Unik Penulis.” Apa dasar huruf “U” dan “P” ditulis kapital?
  17. Pada halaman 119 muncul lagi kata “Saudara”. Saltik juga tetap muncul di halaman ini, juga ketidakkonsistenan penulisan nama yang kadang diawali huruf kapital, kadang kala tidak.

 Total 17 halaman, ya. Semua ada catatannya.

Karyo: Weh. Setiap halaman kamu baca, Jo? Kamu mengambil alih tugas editor.  Njuk oleh bayaran piro? Trus apa tulisanmu di atas sudah benar semua tanpa salah.

Paijo: Weh, ya ndak bayaran, tho. Ini kerja probono. Aku bukan proyektor, Kang. Hh. Dan tentu saja, tulisanku pasti ada salahnya. Tugas sidang pembaca untuk mengoreksinya. 

Karyo: Wuih, gayamu, Jo. 

Eh, terlewat. 

Terakhir, halaman 120 yang hanya terdiri dari setengah halaman. Namun, apakah lolos dari coretan saya? Tidak. Silakan cek, ya. :)

Gass. Total 18 halaman.

                                                                                                                                                  

Wednesday, 15 February 2023

Buku LI-nya FPPTI yang baru, pakai rujukan apa?

Sudah saya bilang berkali-kali, literasi informasi (LI) jadi tuah sakti bagi pustakawan, tidak terkecuali pustakawan perguruan tinggi.

Berbagai kegiatan berjudul LI pun dikembangkan, baik semacam pelatihan maupun seminar atau lainnya. Termasuk oleh FPPTI,  organisasi hebat pustakawan perguruan tinggi, yang akhirnya menerbitkan buku tentang LI.

Bukan yang pertama sih, tapi patut dihargai. Sebelumnya ada beberapa perpustakaan atau pustakawan yang sudah menyusun buku-buku tentang LI. 

Tujuannya satu: meningkatkan posisi tawar pustakawan. Lainnya merupakan tujuan turunan saja.

*****

Selasa, 14 Februari 2023, di hari valentine dan tepat 1 tahun menjelang pemilu 2024, saya hadir di acara Musda FPPTI DIY. 

Sst. Ini kegiatan saya ikut seminar pertama secara luring, setelah sekian lama mengundurkan diri dari hiruk pikuk kegiatan serupa. :)

Di depan pintu masuk ruang acara, ada meja yang memajang buku-buku. Tampaknya juwalan. 

Saya dekati. Semua buku yang ada di meja tentang perpus. Akeh pokoke. Salah satunya ya buku LI-nya FPPTI tadi. Judulnya “Panduan Literasi Informasi Pendidikan Tinggi”, terbit November 2022, penerbitnya FPPTI.

Buku setebal 148 halaman ini dibandrol 110.000 diskon 10%. Dua lembar uang 50-an ribu saya berikan ke penjual, saya dapat kembalian 1000. Harganya jadi 99.000.

Mahal?

Iya. Untuk ukuran buku setebal 148 halaman, menurut saya mahal. Jika dibelanjakan untuk buku lain, uang 99.000 sudah dapat buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat-nya Mark Manson. Atau sudah bisa bawa pulang Homo Deus-nya Harari, atau kalau mau Sapiens, tinggal nambahi sedikit.

Tapi, buku LI-nya FPPTI itu tetap saya beli.

Kenapa?

Saya penasaran. Setelah pernah merasa kecewa oleh buku LI yang terbit sebelumnya, saya berharap banyak pada buku LI-nya FPPTI ini.

Oia, apa sebab saya kecewa pada buku LI yang sebelumnya saya beli?

Karena isinya (pinjem istilah Pak Faiz, kawan saya) klak-klik. 

*** 

Setelah saya dapat kembalian 1000 rupiah, buku saya terima, lalu saya duduk manis di kursi deretan belakang. Saya buka buku baru itu. Saya bolak-balik halaman isinya. Acak.

Mak jenggirat.

Kesan pertama saya ada pada penomoran halaman. Terdapat 4 halaman yang isinya berupa tabel dan berurutan, tepatnya nyambung. Disajikan berdampingan tapi ungkur-ungkuran, landscape, nomornya ada di sisi luar. 

Bisa dibayangkan. Betapa sulit jadinya saat hendak membaca.

Anda sulit membayangkan?

Maafkan. 

Halaman yang saya maksud yaitu 20-21, 22-23.

** 

Oke. Mari kita lihat daftar isinya. Buku ini, sebagaimana diklaim dalam sambutan ketua umum FPPTI (hal. v), difungsikan sebagai instrumen  pemetaan kompetensi literasi informasi, selain itu juga berwujud modul pelatihan LI.  

Dari dua klaim fungsi buku di atas, isi buku dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian 1 berjudul Panduan dan Framework Literasi informasi. Bagian ini hanya berisi 1 bab saja, yang isinya dibagi dari a sampai g.  Framework yang dibahas dalam bagian  ini, sayang sekali tidak dilengkapi dengan gambar.  

Kemudian Bagian 2 yang diberi judul Modul Literasi Informasi. Bagian ini terdiri dari 4 bab, di awali dengan GBPP (Garis Besar Pengajaran Pelatihan). Setiap bab, agaknya, merupakan penjabaran 4 framework yang dijelaskan di Bagian 1.

Oia, "Bagian" yang saya tuliskan di atas ada dalam isi, mengawali Bab terkait. Namun, "Bagian" itu tidak ditulis pada daftar pustaka. Kenapa? Entahlah.

Setiap framework pada Bagian 2 diulas dalam bentuk SAP alias Satuan Acara Pelatihan. 

Saudara-saudara yang berbahagia. 

Pada bagian inilah, akhirnya lagi dan lagi… saya menemukan  panduan teknis. Ada petunjuk yang berbentuk instruksi klak-klik. Misalnya hal 92-93 tentang Mendeley, 101 tentang edit video, 98 tentang Canva, 109 tentang academia edu, 113 tentang ScimagoJR, serta masih ada lainnya.

Ada pula gambar yang semestinya sudah tidak relevan lagi. Gambar pada  halaman 91 berupa tangkapan layer menu literature search di Mendeley. Padahal, fitur ini sudah lama tidak ada di Mendeley Desktop. Mendeley Desktop pun sebenarnya sudah tidak didukung lagi sejak 1 September 2022, sebulan sebelum buku terbit.

***

Berikutnya terkait tata tulis. Saya nemu beberapa kekeliruan. Misalnya “paraphrase”, yang jika dicari di KBBI akan ditemukan “parafrasa”, pakai “a” bukan “e”. Lebih jelas dapat dilihat di halaman 87. Pada halaman vi juga terdapat saltik. Pada halaman 48 terdapat kesalahan penulisan "di". Pada halaman tersebut "disitus" ditulis gandeng. Juga "diatas". Mungkin juga ada di halaman lainnya.

Cetak miring untuk istilah asing juga kurang konsisten. Misalnya di halaman 55, essential oil tidak dicetak miring. Padahal, masih di halaman yang sama, ada istilah asing yang dicetak miring.

Pada halaman 69-72, terdapat penulisan contoh kerangka tulisan. Namun, rasanya jarak barisnya sangat mengganggu pembaca. 

Buku ini diklaim terbit November 2022. Terhitung baru. Usianya pun, jika dihitung sampai saya menulis review ini, baru 3-4 bulan. Namun, pada halaman 15, saat menjelaskan tentang url Sinta, masih menggunakan sinta.ristekbrin.go.id. Ketidakkonsistenan penulisan URL Sinta juga terlihat di halaman 112. Pada halaman ini, URL Sinta ditempel pada domain ristekdikti, bukan ristekbrin sebagaimana halaman 15. Itupun Sinta2. Padahal, URL Sinta sudah berganti menjadi kemdikbud.

Kemungkinan ini akibat penulisan bareng-bareng, yang penyelaras bahasa-nya kurang kuat berperan.

***

Pada halaman 76, ada penjelasan tentang plagiat yang diambil dari Permendikbud tahun 2010. Padahal, sudah ada Permen baru terkait penegakan integritas dalam publikasi, yaitu Permendikbud nomor 39 tahun 2021 yang di dalamnya juga membahas tentang plagiat.  

Jika buku ini terbit November 2022, semestinya acuan tentang plagiat dapat dipakai yang lebih baru.


-----------***-------------

Catatan (mungkin) yang terakhir.

Pada daftar pustaka tercantum 13 karya. Dari 13 karya itu, yang terbit 2016 ada 2, 2019 ada 1, 2020 ada 1, selain itu terbitan 2013 dan lebih tua lagi. Paling tua, saya lihat tahun 1999. Judulnya the plague of plagiarism. 

Sebagai karya yang terbit 2022, agaknya, hmmm, referensinya kurang kuat.

Pada penulisan daftar pustaka pun ada ketidakkonsistenan. Ada judul karya yang ditulis dengan title case, ada pula yang sentence case. 

Duh.

Referensi framework pada buku ini diklaim dinisbahkan pada Information Literacy Competency Standards for Higher Education dari ACRL 2018, sebagaimana disebutkan pada halaman v, serta pada Bagian 1 halaman 4.

Namun, saya coba cek di daftar Pustaka, tidak saya temukan referensi di atas. 

Nah.

Kalau dari URL ini, https://alair.ala.org/handle/11213/7668, Information Literacy Competency Standards for Higher Education itu berangka tahun 2000, bukan 2018. Yang lebih baru dari 2000 ada, yaitu 2016. Namun judulnya "Framework for Information Literacy for Higher Education" bukan seperti yang ditulis pada buku LI-nya FPPTI. 

Lalu, buku itu pakai referensi yang mana?

Entahlah.

-----**--------

Oke. Dari beberapa catatan di atas, apakah buku literasi ini sudah masuk kategori literate?

Monggo, jika perlu dijawab, boleh dijawab.

Kemudian, apakah buku ini layak dibeli. 

Nah. Kalau ini, ya jelas layak-lah. Wong saya juga beli. :)

Kawan, kalau anda punya uang berlebih, dan ingin tahu LI, belilah. Itung-itung menghargai karya FPPTI, organisasi hebat perpustakaan perguruan tinggi Indonesia.

Namun, jika anda tipis uang, jangan beli. Pinjamlah saja di perpustakaan.

Saran saya logis, kan?

Apalagi buku ini dibuat dengan melibatkan banyak orang, dengan beragam peran. Mulai dari pengarah, penyusun, perumus, tim ahli, tim pelatih, reviewer, editor, dan sekretaris. Total saya hitung ada 28 nama untuk semua peran itu. 

Selain itu, di sampul belakang juga tertulis testimoni 2 begawan ilmu perpustakaan Indonesia. Yang, tentu saja, sebelum memberi testimoni pasti sudah membaca keseluruhan isi buku.

Kurang apa lagi?

Kurang referensi? #ups

Sunday, 22 January 2023

, ,

Anggota MWA Unsur Tendik, menulislah! Karena....

Saya teringat pada sebuah peristiwa hampir 19 tahun lalu. Tahun 2004 di University Center UGM (saat ini disebut University Club). Peristiwa itu, salah satu bagiannya berupa pengumuman anugerah MURI untuk seorang anggota legislatif DPR RI atas nama Zulkifli Halim.

Apa sebab?

Zulkifli Halim merupakan anggota legislatif pertama yang berinisiatif melaporkan kinerjanya pada publik.

Ya. Peristiwa di 2004 itu, tepatnya 13 Februari 2004 (sesuai dokumen arsip yang masih saya simpan) berjudul Dialog Publik dan Pertanggungjawaban Anggota DPR RI atas nama Zulkifli Halim. Silakan lihat gambar untuk lebih jelasnya.

Pada dokumen riwayat rekor, menerangkan bahwa ZH melaporkan (kinerja) kepada masyarakat karena  dia mewakili suatu daerah pemilihan.

Lalu, apa hubungannya dengan anggota MWA UT (Unsur Tendik)?

Bukan rekornya yang penting, melainkan apa yang dilakukannya.

*****

Begini saudara...

Sebelumnya, saya tekankan bahwa yang saya tuliskan di bawah ini, tidak terikat pada MWA UT pada universitas tertentu saja.

MWA merupakan kependekan dari Majelis Wali Amanah. Sebuah lembaga yang ada di perguruan tinggi tertentu. Tendik, atau tenaga kependidikan menjadi salah satu unsur dari MWA. 

MWA UT yang ada di UGM, misalnya, pada periode terakhir saat tulisan ini dibuat, diangkat dari hasil proses pemilihan internal para tendik. Artinya, anggota MWA UT dianggap benar-benar mewakili tendik. Sebagaimana anggota DPR mewakili rakyat di daerah pemilihannya (DAPIL).

Anggota MWA UT di universitas lain mungkin juga demikian. Ditentukan melalui proses pemilihan.

Nah.

Maka, sebagaimana Zulkifli Halim di atas, ada tiga hal yang bagi saya menarik dan lebih baik jika dilakukan anggota MWA UT.

1. Menulis

Tentu saja yang saya maksud yaitu menuliskan berbagai pengalaman yang dirasakan saat menjadi anggota MWA. Senangnya, susahnya, sulitnya, mudahnya. Tantangannya, pengalamannya, dan tentu juga bagaimana menghadapi dan menjalaninya saat harus sekaligus bertugas sebagai tenaga kependidikan.

Bisa tulisan berkala, maupun tulisan pertugas. Sebagai anggota unsur tendik, hanya 1 orang saja, ada di antara tokoh besar (menteri, pejabat BUMN, dosen, pengusaha, dll) tentu banyak pengalaman berharga yang perlu diketahui (terutama) tendik lainnya.

Tentu saja, yang sangat rahasia tidak perlu dituliskan. 

Pengalaman ini akan membuka cakrawala berfikir tendik lain yang berpotensi melanjutkannya di MWA.

Jangan sampai pengalaman itu hanya tersebar di lingkaran tertentu, yang dekat dengan anggota tersebut saja. Jika demikian, maka tentu saja akan menutup orang di luar lingkaran untuk punya keberanian mendaftar sebagai anggota MWA. Serta akan memperburuk proses kaderisasi anggota MWA.

Hasil pencarian di Google

Gambar di atas merupakan hasil pencarian saya di Google. Dengan kata kunci  "pengalaman menjadi anggota MWA", hanya ditemukan 5 hasil. Tentu ini kurang menggembirakan. 

Menulis, menjadi hal wajib yang harus dilakukan MWA UT.


2. Membuat laporan

Sebagaimana Pak Zulkifli Halim, karena MWA UT merupakan produk hasil pilihan tendik, maka selayaknya dia menulis, membuat laporan kinerjanya pada tendik yang diwakilinya. Dengan demikian, informasi akan tersebar ke semua tendik, tidak hanya kepada tendik yang ada dalam circle anggota tersebut saja.

Senada dengan nomor 1, hal ini akan lebih membuka cakrawala tendik-tendik lain dalam memahami apa itu MWA dan bagaimana peran MWA UT. 


3. Jalan-jalan ke fakultas

Menarik yang dilakukan MWA UT di UI ini, https://www.fkm.ui.ac.id/diskusi-bersama-wakil-mwa-ui-unsur-tendik-dan-tendik-fkm-ui/, melakukan diskusi dengan wakil di fakultas. Hendaknya hal ini dilakukan lebih luas dan meningkat kualitasnya.

Diskusi ini, tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai metode, luring maupun daring. Hasil diskusi kemudian ditulis dan dan disebarkan

*****

Penutup

Ya!

Menulis, mengarsip pengalaman, merupakan aktivitas penting agar sejarah tidak terputus. Agar pengalaman dapat tersebar luas. 

Menulis, kaitannya dengan MWA UT, merupakan bagian dari usaha agar kualitas tendik di MWA semakin meningkat. 

Pemilihan MWA UT melalui pilihan oleh para tendik merupakan bentuk kemajuan demokrasi di kampus. Namun tidak hanya sampai di situ. Produk demokrasi itu harus menjaga demokrasi yang melahirkannya. Sekaligus juga dijaga, agar tetap demokratis.

Tentu saja, yang saya maksud bukan hanya MWA UT universitas tertentu saja. Melainkan dari universitas manapun. 

Salam waras! *)


Data pendukung:

  1. https://www.ugm.ac.id/id/berita/20968-nur-budiyanto-terpilih-sebagai-anggota-mwa-unsur-tendik-periode-2021-2026
  2. https://www.youtube.com/watch?v=PqFfidAw6ys (Pemilihan Anggota MWA Unsur Tenaga Kependidikan Periode 2021-2026)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=N5-ZF_3Gftk (Curah Gagasan MWA UGM Unsur Tendik)

____

Sambisari, 22 Januari 2023 

Ngahad Pon 29 Jumadilakir Ehe 1956

11.41 siang


*) "Waras" sering diucapkan Ketua DGB UGM, Prof. Maksum, terutama (yang saya ketahui) saat membuat rapat pengukuhan Guru Besar UGM.

Tuesday, 17 January 2023

Ikhwal Sesat Pikir dan Cacat Logika (ringkasan pertama)

"Percaya itu mudah, namun berpikir itu sulit. Berpikir tentang mengapa kita percaya, itu lebih sulit lagi - Erik Pevernagie (hal:30)

Buku ini hadir didasari oleh banyaknya informasi yang beredar, sehingga diperlukan sikap kritis (tajam analisisnya) dan skeptis (ragu/tidak langsung percaya).

Filsafat terbagi menjadi 3 bagian, etika yang berkaitan dengan baik-buruk; estetika yang berkaitan dengan indah-tidak indah atau harmoni; serta logika yang berkaitan dengan benar-salah. 

Begini kurang lebih contoh di keseharian

Ketika ada rekan kerja mengaku melakukan kesalahan, maka kita harus peduli (logika). Selain itu, secara etika semestinya kita memberi saran padanya; saran itu kita sampaikan dengan cara yang baik, sopan, tidak menyakiti (estetika).


Buku ini membahas dua hal. Pertama bias, kemudian pada bagian kedua membahas sesat pikir. Terdapat 22 bias yang dibahas, serta 11 jenis sesat pikir.


Bias

Bias, dalam KBBI berarti:

  • n Fis belokan arah dari garis tempuhan karena menembus benda bening yang lain (seperti cahaya yang menembus kaca, bayangan yang berada dalam air).
  • n kecenderungan untuk mendukung atau menentang sesuatu hal, orang, atau kelompok daripada yang lain dengan cara yang kurang adil


1. Action Bias: Orang hanya melihat tindakan, tidak melihat ketepatan, fungsi, efektivitasnya.

Contoh:

Saat menghadapi tendangan pinalti, kiper yang tidak memilih diam, namun lebih memilih bergerak ke kanan atau kiri. Kiper ingin dianggap yang penting sudah berusaha. Padahal tendangan juga bisa mengarah ke tengah. 

Secara psikologis lebih baik melakukan sesuatu dibanding diam saat menghadapi ketidakpastian


2. Association bias: menghubungkan sesuatu dengan yang lain, padahal tidak ada hubungannya.

Contoh:

  • setiap memakai baju putih saat ujian, saya selalu mendapat nilai baik.
  • rokok dan kegagahan


3. Availability bias: Menggambarkan sesuatu atau menyimpulkan dengan bukti yang paling mudah ditemukan atau muncul di pikiran.

Contoh:

  • rokok itu tidak membahayakan kesehatan, buktinya kakekku perokok tapi usia 90 tahun masih sehat.

Solusi:

  • buka pikiran, dan jangan gunakan kacamata kuda.


4. Framing: Bukan apa yang kau katakan, tapi bagaimana kau mengatakannya

Contoh:

600 warga kena wabah, ada dua pilihan strategi:

  • 200 warga selamat
  • 66% meninggal

600 warga kena wabah, ada dua pilihan strategi:

  • membiarkan 400 orang meninggal
  • menyelamatkan 33%


Kedua kelompok strategi di atas hasilnya sama. Namun, kemungkinan besar, pada kelompok pertama orang akan memilih strategi 200 warga selamat, sementara pada kelompok kedua akan dipilih menyelamatkan 33%. Kedua pilihan ini sama (200 = 33% dari 600)

  • Di dunia kerja, kita semua pelaku framing. Saat bicara ke rekan kerja, ke atasan, ke staf, dan lainnya. Agar pesan ditangkap sesuai dengan kehendak penyampai pesan


"Mengetahui kebenaran itu mudah; yang sulit itu menjadi benar"

- Hazrat Inayat Khan


Logical Fallacy

  • salah fokus, prosedur, variable.
  • terlihat benar padahal mengandung kesalahan dalam penalarannya


1. Kesalahan karena berbelok kepada orangnya

Mengubah pembicaraan pada orang yang membuat pernyataan, bukan  kebenaran pernyataannya

Terdiri dari:

 a. Argumentum ad hominem -> menyerang karakter

  • Abusive -> menyerang pembuat pernyataan
  • Circumstancial -> membahas situasi pembuat pernyataan
  • Tu quoque -> penyerang dianggap tidak melaksanakan pernyataannya sendiri


b. Argumentum ad verecundiam -> merujuk orang yang dianggap punya otoritas mendukung pernyataannya, namun:

  • orang yang dirujuk tidak punya kualifikasi
  • ada orang yang lebih punya kualifikasi
  • orang yang dirujuk tidak dalam keadaan serius


c. Anonymous authorities -> otoritas yang ditunjuk tidak disebutkan

Contoh:

"kabarnya akan tahun depan akan ada piknik ke Singapura"

"akan ada tambahan libur di tahun depan"


d.  Style over substance -> mempermasalahkan cara penyampaian dibanding substansi yang disampaikan

Contoh:

  • "rektor itu mampu mencegah aksi demo mahasiswa, maka pasti rektor itu benar"
  • "argumen bumi bulat itu keliru, karena  cuma pakai animasi"


****

"belajar supaya mampu (berfikir), tidak keliru dalam berfikir, tidak tertipu oleh kekeliruan orang lain, dan tidak tersesat oleh kekeliruan diri sendiri" (vi)

Sunday, 4 December 2022

, ,

MWA UGM Unsur Tendik: apa saja gagasannya, dan bagaimana pelaksanaannya?

MWA unsur tendik UGM periode 2021-2026 dipilih oleh tenaga kependidikan. Semua tendik UGM diberi kesempatan mendaftar dan kemudian memilih calonnya.

Pemilihan diawali dengan curah gagasan, semacam kampanye, yang dilaksanakan pada 6 April 2021.

Enam calon diminta menyampaikan ide/gagasan, kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab. Rekaman curah gagasan dapat dilihat di sini.

Setelah curah gagasan usai, pemilihan berlangsung. Total terdapat 1.536 suara masuk. Nur Budiyanto memperoleh suara terbanyak, total suara 325 suara (21,15%). Jumlah ini mengungguli 5 calon lainnya.  Ia pun berhak menjadi anggowa MWA unsur tendik.

Berikut ini daftar lengkap perolehan suaranya.



Berita resminya ada di sini.

***

Apa saja pandangan calon anggota MWA unsur tendik saat curah gagasan?

Oke. Kita coba cek.

Ada beberapa point yang saya catat, dari sesi curah gagasan sesi anggota MWA terpilih dari unsur tendik. 

  1. Aggota MWA unsur tendik terpilih menggarisbawahi bahwa gagasan (pengembangan UGM) ada pada semua tendik di UGM. "Dari ujung Fakultas Teknik sampai dengan ujung Fakultas Peternakan, dari Sekolah Pascasarjana sampai Sekolah Vokasi," demikian ungkapnya. (Ada pada rentang waktu 1:03:15)
  2. "Gagasannya tersebar di teman-teman tendik semuanya, tinggal sebetulnya bagaimana mewadahi aspirasi tesebut, bagaimana membikin wadah yang membuat teman-teman tendik ini nyaman untuk menyampaikan aspirasinya, nyaman untuk menyampaikan ide dan gagasannya". (Ada pada rentang waktu  1:03:40)
  3. Menjadi tugas siapapun yang nanti terpilih menjadi anggota MWA adalah mengawal menyampaikan ide dan gagasan teman-teman tendik (Ada pada rentang waktu 1:04:00)
Pada sesi tanya jawab, berikut beberapa gagasan anggota MWA unsur tendik terpilih yang saya catat.
  1. Mendorong kebijakan umum untuk menghilangkan kotak-kotak di UGM. Tentu "kotak" dalam hal ini bermakna kiasan. Selengkapnya silakan cek pada rekaman paparan.
  2. Membuat saluran aspirasi, agar aspirasi nyaman disampaikan.
  3. Mengawal karier tendik agar semakin luas.
  4. Dengan pengalaman yang dimiliki, akan berusaha mendorong kebijakan umum berpihak pada tenaga kependidikan. Masukan tendik sangat diperlukan.
  5. Ada kegiatan tendik yang mengarah pada pemahaman pada jati diri UGM

Anggota MWA terpilih unsur tendik ini hendak merangkul tendik dengan segala idenya, membuat salurannya, mewadahi, dan menyampaikan.

Hasil akhirnya: ide tersampaikan, karir tendik semakin luas, kebijakan universitas berpihak pada tendik, dan adanya kegiatan tendik yang mengarah pada penguatan pemahaman jati diri UGM.

***

Nah, bagaimana implementasi gagasan tersebut?

Oke, untuk menguji, kita lihat tugas awal MWA, yaitu pemilihan rektor.

Sebagai tendik UGM, sebatas yang saya tahu, saya tidak melihat  terobosan MWA unsur tendik saat pemilihan rektor pada tahun 2022, dalam kapasitasnya sebagai wakil tendik, dikaitkan dengan visi atau ide saat curah gagasan.

Hal ini berbeda dengan MWA unsur mahasiswa, yang berani menyelenggarakan forum mahasiswa untuk memilih rektor baru. Silakan baca di sini.

Ada usaha membangun hubungan antara mahasiswa yang duduk di MWA dengan unsur yang diwakilinya. Artinya, siapapun nama carek pilihan unsur mahasiswa pada pilrek, anggota MWA unsur mahasiswa tidak masuk kotak suara dengan cek kosong. Dia ada bahan pertimbangan dari mahasiswa, konstituen yang diwakilinya.

Nah. Saya tidak melihat ini dilakukan oleh MWA  unsur tendik.

Lalu, gagasan berikutnya, terkait membangun saluran aspirasi. Adakah?

Saya belum melihat adanya usaha membangun komunikasi anggota MWA unsur tendik dengan tendik yang diwakilinya.

Itu, sih, yang saya rasakan.

Semoga saya salah. Namun, jika benar demikian, semoga ada perbaikan.

--------------------------


Tulisan terkait

1. Anggota MWA Unsur Tendik, menulislah! Karena....

Monday, 7 November 2022

Tok! Akhirnya IPPI resmi terbentuk

Tok!. Ketokan palu itu menandai sahnya pemilihan ketua umum IPPI.

*****

Pagi yang cerah. Beberapa sesepuh pustakawan berkumpul. Ada yang sudah pensiun, ada yang menjelang pensiun. Terdapat hal penting yang mereka bicarakan. Hal itu nampak dari mimik wajah dan cara mereka berdiskusi.

Maklum, sebagai pustakawan senior, mereka memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga agar roda kepustakawanan tetap berjalan.

“IPPI harus terbentuk!”, celetuk salah satu di antaranya. Disambung dengan penjelasan singkat, tentang apa itu IPPI.

“Ikatan Pensiunan Pustakawan. Kita perlu organisasi ini, agar kemampuan dan pengalaman para pensiunan dalam mengelola perpustakaan tetap dapat terwadahi”, lanjutnya. Sosok yang sedang menjelaskan ini agaknya paling senior. Yang lain tampak mengangguk, sepakat. 

“Dengan IPPI, selain punya wadah, kita tidak mengganggu organisasi yang sudah ada. Tidak mengganggu organisasi wadahnya yang masih aktif. Ini juga sebagai upaya, agar kita tetap punya kegiatan dan kesibukan pasca pensiun”, lanjutnya.

"Kita bisa bikin acara, ngumpul, nostalgia, dan lainnya. Masa pasca pensiun itu kan berat." lanjutnya lagi.

Ya. Ini bisa dimaklumi. Bukankah banyak organisasi para purna tugas pada berbagai profesi.

"Ya, kan? Ya, kan?" tanyanya.

Yang lain mengangguk. Bersepakat.

“Dengan IPPI, kita bisa memberikan nasihat, wejangan, dan menularkan berbagai kebijaksanaan dalam menjalankan profesi pustakawan. Generasi muda pustakawan harus diajari tata krama. Dan, dari asam garam yang kita cecap selama aktif, sebelum pensiun, kita punya segalanya,” lanjutnya dengan semangat.

"Kita agendakan pembentukannya. Kita undang pula para junior," suara itu sangat bersemangat. 

*** 

Pada awal bulan November, pada tahun yang 2 dijit paling belakang kembar, di sebuah hotel mewah para senior dan junior bidang perpustakaan berkumpul. Tentu saja, berkumpulnya dua pustakawan beda generasi ini atas undangan senior. Tujuannya tentu saja mulia: pembentukan IPPI.

Junior diundang, dengan harapan agar mereka paham sejarah pentingnya IPPI. Toh itu untuk mereka juga, nanti, setelah pensiun.

Setelah penjelasan panjang lebar, pilihan dilakukan. Termasuk memilih ketua umum IPPI yang pertama. Pilihan dilakukan dengan sederhana. Malam-malam, setelah acara jalan-jalan, nostalgia, foto-foto dilakukan. 

Prosesinya juga sederhana. Tidak ada kotak suara, tidak ada verifikasi suara. Pokoknya panggil yang hadir, diminta maju, beri kertas untuk menuliskan pilihannya: Setuju atau Tidak setuju, dan siapa ketua IPPI pertama pilihan mereka.

Meski levelnya nasional, pemilihan dibuat sesederhana mungkin. Mirip pilihan ketua RT. Gembira, ger-geran.

Pemilihan selesai. Suara dihitung. Sebanyak 38 suara menyetujui. Namun ternyata ada 22 lainnya kurang setuju. Dari suara hasil hitungan inipun, tidak ada verifikasi dengan jumlah yang hadir.

Semua sah.

Tok. Akhirnya IPPI terbentuk. Teriakah hore terdengar, mewakili perasaan senang dan bangga terbentuknya IPPI dan juga ketua terpilih.

***

Malam berlalu. Pagi menjelang. Diskusi hangat pasca terbentuknya IPPI tetap berlangsung. Di sudut hotel, di ruang makan, di tepi kolam. Oleh para senior dan juga junior.

“Kawan, ternyata ada 22 yang tidak setuju terbentuknya IPPI,” salah satu tokoh senior membuka percakapan pasca pemilihan.

“Jangan khawatir, 22 suara ini tidak setuju karena belum tahu manfaat IPPI. Kemungkinan 22 suara ini dari generasi muda. Mereka belum berfikir matang, masih grusa-grusu. Bukankah jika ditelaah, IPPI itu nanti juga untuk mereka, saat mereka pensiun, untuk mewadahi pengalaman mereka agar tetap bermanfaat,” jelas pencetus ide IPPI dengan semangat.

Pencetus ini, juga merupakan ketua umum IPPI terpilih.

****

Sementara itu, di sudut lain, masih di kawasan hotel, para junior juga berkumpul.

“Saya tak habis fikir, kenapa kita yang belum pensiun diundang dalam pembentukan organisasi pensiunan. Bukankah itu cukup dilakukan oleh mereka sendiri,” celetuk salah satu diantara mereka.

“Kayak kamu ndak paham saja, kawan. Para senior itu hendak mencari legitimasi dari kita, yang masih aktif, yang belum pensiun,” jelas salah satu, juga di antara mereka.

“Eh. Tapi, aneh juga ya, ternyata ada 22 suara yang tidak sepakat. Apa gerangan alasan tidak sepakatnya pemilik 22 suara ini?”, tanya salah satu, juga di antara mereka.

“O, itu. …. 22 suara itu sebagai bentuk penggambaran bahwa pendapat para senior itu, entah secara personal, maupun lewat IPPI, tidak selamanya dapat diterima begitu saja oleh para junior,” celetuk salah satu dari mereka.

“Lalu apa sikap kita sekarang pada IPPI,” tanya salah satu, juga di antar mereka.

Semua diam. Berfikir, apa sebaiknya sikap yang tepat pada organisasi baru bentukan para senior itu.

“Organisasi pensiunan biarlah diurus para pensiunan. Kita biarkan saja. Toh manfaatnya juga belum tentu ada”, kata salah satu, juga di antara mereka.

[[ tamat ]]


Sunday, 21 August 2022

Pujian untuk IPI: adakah? #1 (jawaban untuk Mas Yuan)

Seorang kawan, namanya Yuan, menantang saya untuk memberi pujian kepada IPI, Ikatan Pustakawan Indonesia. Tepatnya 5 pujian. Dia menyebut angka.

Mas Yuan, lengkapnya Yuan Oktavian, merupakan senior saya di dunia kepustakawanan. Jika boleh saya buka kartu, dari beliau lah saya kenal istilah recall and precision dalam sistem temu kembali. Pada masa awal saya kerja, atau beberapa waktu setelah lulus kuliah. Tepatnya saya lupa. Namun saya ingat betul, waktu itu kami dipertemukan melalui Yahoo Messenger. 

Komunikasi di YM ini berkesan bagi saya. Saya berfikir Mas Yuan ini orang yang tidak pelit ilmu. Dia mau berbagi ilmu pada orang yang belum dikenalnya. 

Saat beliau cerita tentang recall and precision itu, saya pas di kampung halaman. Saya chat pakai HP Sony Ericsson, kalau tidak salah K320i. 

Terima kasih, Mas Yuan.

***

Ok. Balik ke tantangan Mas Yuan. Tantangan ini bukan perkara mudah untuk dijawab. "Sik, Mas. Mikir dulu", jawab saya.

Memuji IPI  bagi saya tidak mudah, bukan karena tak ada slot yang layak dipuji. Bukan. Melainkan karena saya tak banyak tahu tentang daleman IPI.

Saat ini saya bukan anggota IPI. Dulu memang pernah jadi bagian dari IPI. Satu periode sesuai masa keanggotaan, atau masa KTA. Perlu diketahui, bahwa KTA saya itu pun bukan karena saya mendaftar. Melainkan karena ada kawan yang berbaik hati, atau mungkin ingin saya masuk IPI. Dia daftarkan, dia bayari, KTA jadi lalu diberikan pada saya. Waktu itu saya hanya setor foto.

Pada masa KTA itu masih berlaku, saya pun tak berkegiatan di IPI. Tidak. Atau nyaris tidak! Untuk sekedar memberi ruang bahwa ada kegiatan yang saya lupa. Saya juga tak yakin, apakah saya memperoleh manfaat selama masa keanggotaan itu. Agaknya tidak.

Oleh karena itu... beralasan sekali jika saya katakan saya tidak tahu daleman IPI. Maka sulit pula saya menerima atau menjawab tantangan kawan Yuan.

Tapi baiklah. Saya coba mengenali IPI melalui websitenya. Berharap ada bagian-bagian yang bisa diubah menjadi 5 slot pujian, bagi IPI.

Saya buka web IPI, lalu coba lihat menu dan isinya.

****

Karir. Menarik juga, web IPI ada informasi karir. Meski sebenarnya saya bertanya-tanya. Yang diurusi IPI itu pustakawan, atau calon pustakawan, sih?

Ikatan pustakawan atau ikatan calon pustakawan?

Okelah. Saya coba telusuri. Siapa tahu ada informasi lowongan yang ada di database ini. Maklum, lowongan memang merupakan informasi sangat berharga bagi para lulusan ilmu perpustakaan. Mungkin IPI juga ingin mendekat pada calon pustakawan lewat web dan info lowongan. Dengan harapan, hatinya tertaut dan segera bergabung jadi anggota IPI.

Namun, ternyata ketika saya coba cari dengan kata kunci 'pustakawan', zonk. Tidak ada.

https://portal.ipi.web.id/info-karir/


Berikutnya....

Saya coba cari kepengurusan. Penasaran siapa saja pengurus IPI periode ini. Pada menu profil, saya temukan tombol tautan Profil, dan mengarah ke informasi pada path web "tentan- kami".

Pada bagian agak tengah ketemulah tautan seperti gambar di bawah ini.


https://portal.ipi.web.id/tentang-kami/

Namun, ternyata URL tombol ini menuju ke https://portal.ipi.web.id/tentang-kami/#. Alias zonk. 

Duh. Mosok  sejak 2018, tidak ada dokumen nama pengurus yang diunggah.

****

Harapan awal saya, dari info karir dapat memunculkan pujian bagi IPI. Sementara dari nama pengurus, dapat dijadikan umpan penelurusan, untuk mengetahui lebih lanjut tentang IPI, yang akhirnya memunculkan pujian bagi IPI.

Namun, agaknya saya harus berusaha lagi.

Mas Yuan, maafkan. Saya belum menemukan. Tapi percayayalah! Pujian itu pasti ada. Hanya belum ketemu saja.

****

Mengamati web ini pernah saya lakukan beberapa tahun lalu. Ini arsipnya.

Semoga bersambung, setelah saya menemukan point yang dapat dijadikan pujian.

Catatan: penelusuran web saya lakukan dengan batasan waktu sebagaimana tercatat sistem atau saya tuliskan. 


21 Agustus 2022

Bumi Petilasan Rakai Garung

07.12 pagi













Monday, 15 August 2022

Mengomentari komentar Mas Alam. Masih tentang KPDI, media sosial, dan prosidingnya

Saudara..

Dalam dunia blog per blog-an, tulis menulis, biasalah kita beradu tinta. Tidak selalu buat menang kalah, sih. Ada juga yang untuk melemaskan jari-jari tangan, agar antara otak dan gerakan tangan bisa nyambung, melatih logika, atau tujuan lainnya.

Juga... buat mendidik penguasa. 

Penguasa bisa luas maknanya, lho. Mulai dari penguasa pikiran, penguasa isu, penguasa anu dan anu..

****

Oke. Senang sekali, kawan saya, mas Alam menanggapi tulisan ringan saya  beberapa waktu lalu. Silakan lihat di sini

Di bawah ini ringkasan yang saya buat, + respon singkat saya.



Respon agak panjang saya sebagai berikut.

  1. Memang saya hanya membahas Medsos FB. Kenapa? Ya itu yang paling mudah saya akses pas nulis. Hh. Sesuai judul juga, saya ingin melihat bagaimana para penggawa itu mencitrakan KPDI melalui media sosialnya (FB, dengan batasan waktu saat saya melakukan percermatan). Apakah ilmiah, reuni, makan-makan, atau foto-foto? Hasilnya.. paling banyak foto-foto, juga makan-makan. Lha kok cuma 3 akun yang dilihat? Sst. Itu diambil pada para tokoh SC. Dan, waktu itu, pas nulis sudah dalam keadaan ngantuk. Selain 3 akun SC itu, ada juga yang saya lihat, tapi malah tidak ada postingan KPDInya. Mau nyari yang lainnya lagi, wis kriyip-kriyip
  2. Apakah kesimpulan bahwa ternyata isinya makan-makan itu salah? Tidak. Tentu tidak salah. Suka-suka pemilik akun. Namun...
  3. Apakah tujuan pada nomor 1 di atas penting? Penting. Karena mereka public figure kepustakawanan. Cara mereka bermedsos, cara mereka menggunakan medsos untuk mencitrakan perpustakaan dan kegiatan perpustakaan -KPDI- (semestinya) akan di(jadikan)contoh para penerusnya. 
  4. Terkait web KPDI yang pindah,  itu di luar wilayah saya. Saya hanya melihat apa yang saat ini ada. Mau mlumah mengkurep,  faktanya saat saya coba, prosiding tidak bisa diakses. 😁


Salam jadah goreng....