Wednesday, 23 October 2019

Wajah publikasi warga UGM pada database Scopus yang terbit sejak 1954-2019

Selama perjalanan menuju tempat buruh, Paijo melamun. Ada yang hendak dilakukannya sesampainya di tempat dia kerja. Dia ingin tunaikan niatnya yang sudah lama tersimpan dalam dada. #halah. Beberapa kali dia mengunduh dataset publikasi universitasnya, tapi tak sempat diolah. "Pagi ini harus. Dan langsung posting di blog", begitu janjinya. Paijo melakukannya, sebagai cara untuk berlatih menulis dan membaca  visualisasi dari VosViewer. :)
****

UGM, sebagai universitas tua, tentu saja banyak menghasilkan karya. Riset dan publikasi, misalnya. Dengan 18 fakultas, dan 2 sekolah, serta sekian banyak pusat studi yang diisi orang yang winasis  di bidangnya masing-masing, serta diperkuat dengan kolaborasi antar mereka, tentu banyak sekali riset dan publikasinya.

Lalu, bagaimana wajah publikasi para civitas UGM?. Itulah pertanyaan yang ada dalam bathin Paijo. Dalam dunia ilmiah, mungkin biasa disebut pertanyaan penelitian. Tapi karena ini posting di blog, anggap saja itu sebagai pertanyaan iseng untuk mengantarkan tulisan ini.

***

Menggunakan mode pencarian institusi "Universitas Gadjah Mada" pada database Scopus, ditemukan total 9041 dokumen, dengan 6092 penulis. Dokumen tersebut terbit sejak 1954 hingga data diambil, Rabu pagi 23 Oktober 2019.

Dokumen tertua berjudul Dissociation with double interference, yang terbit di American Heart Journal Volume 48, Issue 3, September 1954, Pages 475-48. Artikel ini ditulis oleh P.J.Zuidema M.D. yang saat itu memiliki afiliasi ke Gadjah Mada dengan ID Scopus 24733341300. Tertulis pada footnote halaman pertama From the Gadjah Mada University at Jogjakarta, Indonesia; Received for publication Jan 30 1954.

Pada laman URL jurnal, artikel tersebut memiliki status Received 30 January 1954, dan Available online 13 April 2004, dengan kode DOI: https://doi.org/10.1016/0002-8703(54)90037-X.

***

Berikut ini gambaran singkat publikasi yang diterbitkan oleh penulis dengan afiliasi UGM, yang terindeks Scopus. Data diambil dan diolah tanggal 23 Oktober 2019.

Pergerakan jumlah dokumen per tahun

Dari 2015 hinggal 2018, jumlah dokumen publikasi terus mengalami peningkatan. Peningkatan paling signifikan terjadi di tahun 2018 dengan total 1961 dokumen. Meningkat 584 dokumen atau 42% dari tahun sebelumnya.

Tahun 2018 kemungkinan banyak kegiatan ilmiah di UGM yang dokumen publikasinya terindeks Scopus.

Bagaimana dengan 2019?
Tahun 2019 belum berakhir, maka dokumen tahun 2019 masih terus terindeks, bahkan meskipun sudah masuk 2020. Masih ada waktu penambahan. Kita bisa lihat posisi 2019 mulai stabil pada pertengahan 2020.

Total open access berbanding non-open access


Dari total dokumen, 37% merupakan dokumen open access sementara 63% bukan open access. Dari data ini terlihat bahwa dokumen publikasi warga UGM hanya ada 37% yang bebas diakses oleh ummat manusia. Sementara 63% lainnya kemungkinan harus membayar jika ingin mengaksesnya.

Paijo: "Sayang sekali, ya."

Tapi jangan khawatir, jika dilihat per tahun ada perubahan yang menggembirakan.

perbandingan jenis open access dan non open access per tahun
Misalnya tahun 2018, dokumen jenis open access berjumlah 1016, sedangkan non open access hanya 945. Tahun 2018 ada pertukaran posisi jenis open access dan non open access, dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2017  open access sejumlah 535, lebih sedikit dari non open access 842 dokumen. Serta 2016 yang menyumbang open access 405, kalah jumlah dibanding non open access pada tahun yang sama sebanyak 744.

Kenaikan presentase open access di tahun 2018, agaknya juga diikuti di tahun 2019 (terhitung sampai data ini diolah), yaitu: 708 dokumen berjenis open access, serta 592 non open access.

***

Jumlah Jurnal dan Prosiding per tahun
Nah, bagaimana dengan jenis dokumennya?
Grafik di atas memperlihatkan bahwa berdasar filter source type di Scopus, jumlah dokumen yang terbit di jurnal konsisten tiap tahun selalu lebih tinggi dari prosiding.





Berdasar subject area
Pada pengategorian bidang, bidang engineering menempati posisi paling atas dengan 2180 dokumen. Disusul bidang medicine, agricultural and biological sciences, serta computer science.

Jurnal tempat publikasi
Terkait wadah publikasi, AIP Conference (American Institute of Physics) menjadi tempat favorit dengan 569 dokumen. Posisi 2 dan 3 masih ditempati oleh wadah publikasi konferensi, yaitu IOP bidang earth and environmental, serta bidang material science.

Meskipun demikian, berdasar data source type di Scopus, publikasi jenis jurnal tetap menempati posisi paling tinggi dengan 6150 dokumen. Sementara conference prosiding hanya 2834 dokumen. Ini berarti warga UGM dominan publikasi di jurnal di banding prosiding.

Berdasar penulis
Meskipun subyek paling tinggi ditempati bidang engineering, tetapi penulis yang memiliki dokumen paling banyak justru dari bidang kesehatan, yaitu Abdul Rohman dengan 175 dokumen.

Namun demikian, dari data di atas terlihat bahwa dari sebaran 5 besar penulis terproduktif, 3 di antaranya ditempati penulis dari bidang engineering.  Tiga nama tersebut yaitu: Hanung AN, Lukito Edi N, dan Teguh Bharata Aji. Jika dilihat pada 10 terproduktif (grafik tidak ditampilkan), 7 atau 70% di antaranya berasal dari engineering. 

Maka, meski top author tidak jadi engineering, namun kemungkinan sebaran produktifitas di bidang engineering justru lebih merata dibanding  klaster kesehatan.  Dugaan ini perlu dicek detailnya.


Negara jejaring dalam menulis
Karena UGM merupakan universitas di Indonesia, maka wajar jika jejaring penulis paling banyak adalah antar penulis di Indonesia. Sementara itu, untuk data antar negara, Jepang menempati peringkat tertinggi dengan 960 dokumen, disusul Australia, Netherland, dan Malaysia.

Paijo: "Ini berarti meskipun Jepang itu mantan penjajah, sekarang sudah damai dan saling kerjasama, ya?
Karyo: "Iya, Jo. Bagus itu".

Institusi jejaring penulis UGM

Kyusu University, merupakan lembaga luar negeri yang paling banyak melakukan riset bersama penulis di UGM dengan 135 dokumen, disusul oleh University of Melbourne dengan 96 dokumen. Sementara itu, dari dalam negeri ada UNS dengan 239 dokumen, disusul UNDIP, UII, dan UI. 

Dari grafik di atas, agaknya antara UGM-UNS-UNDIP-UII, dan UI memiliki kedekatan dalam publikasi. Kenapa ITB dan ITS tidak masuk 5 besar jejaring?

Paijo: "Sepertinya perlu menganalisis ITB dan ITS"
Karyo: "Benar, Jo. Jadi nanti bisa dibandingkan".

Visualisasi dengan VOSVIEWER
Sementara itu, berikut tampilan visualisasi menggunakan VosVieser dari dokumen publikasi UGM semenjak awal hinggal 2019 per 23 Oktober 2019 yang terindeks Scopus.

Author keyword min 14
Visualisasi di atas berdasar kata kunci dari pengarang, dengan minimal kata kunci muncul 14 kali dalam dokumen berbeda.

Kata kunci Indonesia menempati posisi paling tinggi. Ini berarti penelitian yang dilakukan lebih banyak membahas topik yang dikaitkan dengan Indonesia. Sementara itu, bidang yang terkait terbagi menjadi beberapa klaster.

Indonesia, yang berwarna ungu menjadi satu klaster dengan remote sensing, climate change, conservation, java, dan diversity.

Klaster lainnya machine learning yang dikaitkan dengan beberapa kata kunci. Klaster yang terpusat pada kata kunci chitosan; terpusat pada ftir spectroscopy, terpusat pada antioxidant, juga terpusat pada tuberculosis.

Dari klaster yang muncul di atas, terlihat beberapa bidang yang dominan pada dokumen publikasi civitas UGM. Selain itu, kata kunci yang tidak berhubungan dengan kata kunci yang lain, berarti memiliki peluang untuk dijadikan topik penelitian.

Author keyword min 14
Pada mode overlay, beberapa topik yang muncul minimal 14x, maksimal muncul sampai tahun 2017. Sementara 2018 belum terlihat ada topik yang muncul minimal 14x.

Namun demikian, dari visual di atas, kita bisa lihat beberapa topik terkini yang dibahas (ditunjukkan dengan warna kuning). Misalnya: machine learning, climate change, feature extraction, antibacterial, data mining, genetical algoritm, dan lainnya.

Paijo: "Dominannya topik yang dikaitkan dengan Indonesia ini tentunya sangat menggembirakan. Semoga juga dibarengi dengan terus meningkatnya jenis open access. Sehingga publikasinya bisa lebih banyak dimanfaatkan."

Author minimal 20
Dengan setelan minimal memiliki 20 dokumen (nama muncul 20x), hasilnya adalah visualisasi di atas.

Klaster yang terkumpul di tengah, merupakan kelompok penulis yang memiliki kedekatan kerjasama, dan saling terhubung dengan klaster lainnya yang berbeda warna melalui (minimal) satu penulis dari klaster tersebut.

Klaster kuning diisi penulis dari bidang engineering, khususnya Teknik Elektro dan TI. Selain itu, ada pula klaster yang juga diisi penulis dari engineering. Misalnya Sopha BM dari Teknik Industri, Sulistyo H dari Teknik Kimia, Sulistyo S dari DTETI. Dari fakultas lain, terlihat ada dari MIPA, Geografi, FKKMK, Farmasi.

Jika klaster di atas saling dihubungkan, berarti ada proses riset yang melibatkan antar fakultas. Misalnya peternakan dengan teknik, mipa dengan farmasi, geografi dengan teknik, teknik sipil dengan teknik geologi, teknik dengan farmasi.

Terlihat pula, penulis yang namanya terpisah dari kumpulan tengah. Ini berarti penulis tersebut menulis (sendiri atau dengan penulis lain) dengan minimal 20 dokumen, namun tidak ada jejaring (penulis) yang menghubungkan dengan kelompok penulis yang memiliki minimal 20 dokumen yang terkumpul di tengah.

Untuk jejaring penulis dari klaster lain yang tidak tervisualkan, kemungkinan ada, namun jumlahnya kurang dari 20 dokumen.

Dari visual di atas, kita bisa melihat klaster dan (kelompok) penulis yang dominan serta jejaringanya.
Negara minimal 5

Visual di atas menunjukkan jejaring negara asal penulis. Civitas UGM, seperti pada grafik sebelumnya, paling banyak menulis bersama penulis dari Jepang. 

Terlihat pada warna hijau, jejaring dengan Jepang bersamaan dengan penulis di Malaysia, Cambodia, Laos, Myanmar, Korea Selatan, Vietnam dan Serbia. Sementara itu, pada klaster warna merah, kelompok penulis jejaring dengan India, Belgia, Sudan, Congo dan beberapa negara lainnya.

Ada pula klaster kuning dan biru. Total jika diklasterkan, ada 5 kelompok besar jejaring penulis civitas UGM. 

Overlay negara minimal 5

Jika dilihat visualisasi mode overlay,  terlihat tren jejaring negara dengan minimal 5 dokumen mulai tahun 2011 sampai 2015. Congo, Mexico, Columbia, Laos, Cambodia, Norwegia, Finlandia, merupakan beberapa negara yang pada tahun 2015 muncul sebagai jejaring yang memiliki dokumen minimal 5. 

Hal ini berarti proses menulis/riset civitas UGM dilakukan dengan berbagai negara di berbagai belahan dunia, meskipun angkanya belum seimbang.

Catatan:
Kemungkinan anda bertanya-tanya, "kenapa minimal 14 dokumen, kenapa minimal 5 dokumen". Seting itu saya lakukan suka-suka saja, agar muncul visualisasi yang enak di baca. Sebenarnya, jika angka tersebut diganti, bisa memunculkan analisis yang melengkapi.

Ada visualisasi yang belum dilakukan. Misalnya untuk memvisualkan dokumen yang mengutip dokumen lain. Visualisasi ini bisa menunjukkan indikasi self citation. Sehingga bisa dilihat tulisan apa yang mengutip tulisannya sendiri.

Atau juga visualisasi referensi paling populer. 

Kesimpulan:
Belum dibuat kesimpulan. :)


****
Rêbo Lêgi 23 Sapar Wawu 1953 AJ.


Wednesday, 9 October 2019

Menggunakan paket ggplot2 di R untuk memvisualkan data

ggplot2 merupakan paket di R yang bebas diunduh dan digunakan untuk membuat berbagai bentuk grafik. Sebagai alternatif gnuplot yang juga free, atau ? (lupa).

Untuk memasang ggplot2, cukup memasang R, R Studio, kemudian menulis perintah:

install.packages("ggplot2")  
pada R Studio yang sudah terpasang.

Ada panduan singkat yang cukup bisa mengantarkan saya dalam menggunakan (dasar) ggplot.
Silakan buka di sini. Blog tersebut merupakan terjemahan dari blog ini. Namun perlu diperhatikan dalam menyalin kodenya, pastikan pengapitnya bukan ”, melainkan ".

tampilan ggplot
Gambar di atas merupakan tampilan ggplot2, yang menggunakan dataset yang terdiri dari 8524 baris yang dapat diunduh di sini.

salah satu bentuk grafik yang dihasilkan

Grafik yang dihasilkan bisa dieksport ke png, pdf, atau langsung saling ke clipboard dengan beberapa pengaturan.

opsi copy to clipboard

Bacaan lebih lanjut:
  1. https://datascience.or.id/article/Membuat-Visualisasi-Peta-Menggunakan-ggplot2-+-sf-5a8fa6e6
  2. https://medium.com/@ayundyahkesumawati/visualisasi-data-menggunakan-ggplot2-di-r-bagian-1-f4154adec33c
  3. https://medium.com/@ayundyahkesumawati/visualisasi-data-menggunakan-ggplot2-di-r-bagian-2-745d402a2f2
  4. https://hanifrahmath.wordpress.com/2017/08/12/7-visualisasi-data-dengan-r-yang-harus-anda-pelajari/
  5. https://www.r-bloggers.com/7-visualizations-you-should-learn-in-r/

Tuesday, 8 October 2019

Monday, 7 October 2019

Gnuplot: alternatif software grafik

Gnuplot is a portable command-line driven graphing utility for Linux, OS/2, MS Windows, OSX, VMS, and many other platforms. The source code is copyrighted but freely distributed (i.e., you don't have to pay for it). It was originally created to allow scientists and students to visualize mathematical functions and data interactively, but has grown to support many non-interactive uses such as web scripting. It is also used as a plotting engine by third-party applications like Octave. Gnuplot has been supported and under active development since 1986  (http://gnuplot.info/)

Berbagai jenis grafik bisa dibuat menggunakan GnuPlot



Gnuplot juga bisa dipanggil sebagai paket di Latex. Silakan baca di https://tex.stackexchange.com/questions/135308/how-can-we-import-the-gnuplot-output-in-latex

Gnuplot bisa jadi alternatif software, jika kiranya software berbayar sulit dijangkau.


Silakan baca panduan Gnuplot di: http://warmada.staff.ugm.ac.id/Buku/gnuplot-double-A4.pdf atau di https://simpan.ugm.ac.id/s/rS0M7ItiesIv7cD (GnuPlot untuk orang lugu)

Thursday, 3 October 2019

, ,

Analisis Bibliometrik menggunakan Paket Bibliometrix di R

Bibliometrix, merupakan paket di software R. Info lengkap ada di http://www.bibliometrix.org/. Untuk menjalankan aplikasi ini, perlu memasang aplikasi R, R studio, kemudian memasang paket bibliometrix.

Berikut panduan singkat instal dan menjalankan aplikasi:

Install R: https://cran.r-project.org/
Install R Studio: https://rstudio.com/products/rstudio/download/#download


Jalankan R Studio, kemudian jalankan perintah ini:

> install.packages("bibliometrix")
> library(bibliometrix)
> biblioshiny()

Artikel yang membahas aplikasi ini pernah diterbitkan di Sciencedirect. Judulnya "bibliometrix: An R-tool for comprehensive science mapping analysis", yang bisa diunduh di https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1751157717300500. Artikel lainnya bisa dilihat di http://www.bibliometrix.org/Papers.html.

Selain itu, baca pula keterangan yang dimuat di https://cran.r-project.org/web/packages/bibliometrix/vignettes/bibliometrix-vignette.html

****

Seperti halnya VosViewer (http://ugm.id/ban), Bibliometrix membantu kita dalam membuat visualisasi analisis bibliometrik. Terdapat 7 (tujuh) bagian utama visualisasi pada aplikasi ini. Sources, authors, documents; serta  conceptual, intelectual, dan social structure. Setiap bagian memuat sub menu visualisasi.

Ada beberapa perbedaan dengan VV. Salah satunya, Bibliometrix dapat digunakan untuk melihat nasab topik pada sebuah data set. Juga dapat memperlihatkan timeline produktifitas peneliti, membuat plot 3 field, serta beberapa perbedaan lainnya.

Berikut beberapa tangkapan layarnya.







Silakan ikuti panduan pembacaan visualisasi Bibliometrix di https://bibliometrix.org/documents/bibliometrix_Report.html
panduan versi code ada di https://rdrr.io/cran/bibliometrix/

Monday, 30 September 2019

Dua "kubu" karakter surat edaran kampus tentang aksi gejayan memanggil di Jogja


Visualisasi apakah ini? 
Ini visualisasi surat edaran dari beberapa institusi terkait aksi Gejayan memanggil beberapa hari lalu di Jogja (September 2019).

Bagaimana caranya?
Surat edaran kami kumpulkan. Terdapat 9 surat yang terkumpul, masing-masing point pada surat saya cari kata kuncinya. Setelah itu, saya dimasukkan ke Zotero. Judul pada Zotero diisi nama institusi, kemudian kata kunci dimasukkan di tag. Setelah selesai dieksport ke RIS, kemudian dimasukkan ke Vos Viewer.

Apa hasilnya?
Hasilnya ada di bawah ini. Pada bagian kiri, dihuni beberapa institusi (diperlihatkan dengan beberapa warna berbeda) dengan kata kunci dominan: tidak mendukung, akademik tetap berjalan, dll. 

sisi kiri

Kata kunci itu menunjukkan sikap institusi pada aksi dan pada peserta aksi (mahasiswa). Tidak mendukung artinya tidak mendukung aksi, akademik tetep berjalan artinya hendak menunjukkan bahwa di kampus masih ada proses kuliah. Seolah ingin menyampaikan bahwa aksi yang diadakan itu menyalahi jam akademik.

Sementara sebelah kanan hanya sendirian tidak terkait dengan institusi lain yang ditunjukkan oleh warna yang hanya satu (merah). Kata kuncinya pun berbeda karakternya dengan yang kiri. Sebelah kanan ini justru muncul: tidak melarang, melakukan kajian, serta peduli masalah bangsa. 

Sisi kanan 


Artinya, institusi yang ada di sisi kanan ini ingin menunjukkan sikap tidak melarang aksi, asal dengan kajian, dan peduli (atau menunjukkan kepedulian) pada masalah bangsa.

Keren, kan! 

Untuk melihat versi interaktif, silakan cermati dataset yang telah kami pasang di Vosviewer online di bawah ini:
(Silakan tekan Shift + Scrool untuk zoom in/out di Windows)

Lalu, apa artinya?
Ada beberapa institusi yang bersuara sama. Ada yang surat edarannya mirip.

Namun di sisi lain, ada yang sendirian, dan berbeda. Keberanian institusi yang membuat narasi surat edaran berbeda dengan yang lainnya ini (menurut saya) layak diapresiasi. Keren dan joss.

Mana yang masuk kelompok kanan, mana yang kiri? Bisa dicek dari beberapa tangkapan layar di bawah ini.

Kesimpulannya?
Monggo disimpulkan sendiri.

Data:









Khusus SE UII saya peroleh dari twitter

Sumber: Twitter https://twitter.com/Justitia20_/status/1176000982351634432/photo/1 
(info tambahan ada di URL Bernasnews)






Thursday, 12 September 2019

, , ,

Bookless library


Paijo, dan tentu saja dengan kawan-kawannya, ngepos di gardu ronda. Hampir tak ada yang absen. Mereka kolega satu klub dalam meronda.  Namun mereka rival dalam pergaplean, salah satu ritual wajib dalam ronda.

Sambil guyon ngalor ngidul, Paijo sebagaimana biasanya, tentu saja sambil promosi ilmunya: ilmu perpustakaan. Ia, bagaimanapun juga, ingin agar orang lain tahu perkembangan ilmu yang selama ini digeluti. Ya. Meski lebih sering dia ragukan, paling tidak orang lain tahu, bahwa dia pernah kuliah. Sinau di universitas.

***

"Sekarang perkembangan perpustakaan semakin maju, lho," Paijo membuka diskusi sambil nyabetke kartu bergambar bulatan merah berjumlah 12, yang sejak lama nangkring di genggamannya.

Teman-temannya diam. Mereka fokus. Konsentrasi pada kartu di tangan masing-masing, tentu saja sambil menghitung-hitung dan memrediksi.

"Sekarang ada yang disebut bookless library" lanjut Paijo. Teman-temannya masih saja diam, sesekali senyum melihat kartu, atau tangannya meraih gelas berisi kopi kental tur pahit. "Srrrup," suara itu terdengar ketika kopi disruput, disusul mata yang merem melek. Gerrr.

"Itu perpustakaan yang tidak ada bukunya. Tempatnya bagus, keren, kekinian. Bisa untuk selonjoran, tiduran, sambil dolanan laptop, nggambar utawa nggawe video," Paijo nerocos. Agaknya beberapa point yang ingin dijelaskan dikeluarkan semua. Berharap bisa mencuri perhatian kawan-kawannya.

"Isa juga sambil ngopi, ada kafenya". Paijo tampak tambah mantap menjelaskan.

Beberapa lama teman-temannya tetap diam. Mereka tetap fokus pada permainan. Paijo terus bermain sambil meneruskan penjelasannya.

Ketika Paijo sejenak berhenti menjelaskan, salah satu kawannya tertawa ngakak. "Jo, kayak gitu kok dibilang maju," Soplo, rival abadi Paijo dalam pergaplean menyela.

"Sampeyan cerita, pikiranku tidak ke mana-mana. Tetap di gardu ronda ini, je" lanjut Soplo.

Soplo menunjukkan kartunya sudah habis. Dia menang.

"Kok iso, Plo?, Paijo penasaran.

"Lah, bisa saja. Yang kamu ceritakan itu semuanya ada di gardu ronda ini, je. Selonjoran bisa, main laptop bisa, dolanan hape bisa. Di sini juga ndak ada buku sama sekali. Bookless seperti yang kamu bilang tadi. Sama," terang Soplo.

"Di sini apapun bisa. Mau gawe video juga bisa. Tinggal pakai hapemu itu buat merekam kita yang lagi gaple ini. Upload ke yutub lalu dapat duit" Soplo melanjutkan.

"Ngopi?, gampang. Ndak perlu kita pencat-pencet gadget pesan kopi. Tiap malam wis ana sik njatah. Ndak hanya kopi, tapi lengkap sama pacitane. Mau baca buku, tinggal buka hape, trus gugling. Akeh. Yang paling penting, di sini bisa gaple, Jo." Soplo melanjutkan.

"Ndak usah jauh-jauh. Pos ronda kita ini juga bookless library, Jo," kata Soplo.

Paijo kaget. Wajahnya kecut. Dia diam, lalu lanjut mengaduk kartu dan membagikannya. Gaple putaran berikutnya dimulai. Ya dimulai.

Sunday, 8 September 2019

,

Perpustakaan di mata Google: sebuah analisis kuanlitatif

Latar belakang
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona.  Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.

Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan  guyub para pustakawannya.

Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.

Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?

Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.

Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?

Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.

Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.

Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.

Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.

Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.

Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.

Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.

Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.

Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
no
nama perpus
skor (bintang) di Google
jumlah komentar
rata-rata pemustaka di perpus (jam)
Jam tutup (malam)
1
ITS
-
69
4
19
2
Kota Jogja
4.4
394
3.5
24 jam
3
UGM
4.7
255
3.5
20
4
UIN Jakarta
4.4
69
3.5
20
5
FT UGM
4.7
52
3.5
19.30
6
UMY
4.4
28
3.5
17
7
UI
4.5
388
3
19
8
UIN Jogja
4.6
137
3
18
9
UNIBRAW
4.5
129
3
22
10
ITB
4.8
109
3
21
11
IPB
4.6
100
3
21
12
USU
4.5
81
3
16
13
UIN Malang
4.7
44
3
18
14
UNSYIAH
-
19
2.5
21
15
UIN Walisongo
4.6
60
2
17
16
UII
4.9
29
-
-
17
UAJY
4.3
14
-
19
18
UIN Sunan Ampel
4.1
10
-
18

Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.

Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi  ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.

Sementara itu, paling banyak diulas yaitu perpustakaan Kota Jogja, dengan 394 pengulas. Angka ini memunculkan skor 4.4. Agaknya dengan banyaknya pengulas, skor ini sudah mulai stabil. Beda dengan UII yang baru 29.

Untuk rata-rata jam dihabiskan di perpusakaan, paling lama di perpustakaan ITS, 4 jam. Perpustakaan lainnya hanya kisaran 3-3,5. Bahkan ada yang hanya 2 jam saja. Sayangnya, Google tidak mendefinisikan skor perpustakaan ITS. Entah apa yang dimiliki perpustakaan ini. Empat jam itu setara 3 SKS lebih.



Perpustakaan kota jogja, selain memiliki pengulas paling banyak,  juga memegang rekor buka paling lama. Google mengenalinya sebagai perpustakaan yang buka 24 jam full 7 hari terus-terusan. Uelok tenan. Hal ini juga terkonfirmasi pada laman https://arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id/menu.php?page=2.



Latar depan
Apa itu latar depan? Latar depan itu latar yang terlihat banyak orang. Kalau latar belakang, ndak semua orang bisa lihat. Nah, latar depan itu isinya kesimpulan.

Mosok ada latar belakang, kok ndak ada latar depan.

Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu. 

Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.

Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).

Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.

Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.

Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.



Thursday, 25 July 2019

, , ,

Pustaka Data UGM, tempat menyimpan data agar terus berguna


Data penelitian bermacam bentuknya. Ada yang rekaman wawancara, data set dalam spreadsheet, dan lainnya.

Data-data tersebut, meskipun sudah diolah dan ditulis dalam laporan, sangat mungkin masih bisa digunakan orang lain yang memiliki kepentingan sama atau mirip. Sehingga perlu disimpan, diarsipkan dengan baik agar mudah ditemukan lagi. Bahkan dikutip.

Selama ini kita kenal Mendeley Data, Figshare, Zenodo dan semacamnya. Nah, UGM membuat Pustakadata. Alamatnya di https://pustakadata.ugm.ac.id.

Untuk bisa mengunggah data ke pustakadata, perlu register lebih dahulu.

Beberapa organisasi yang sudah dibuat

Jika ada perubahan data, bisa ADD new resource untuk versioningnya

Friday, 19 July 2019

Tiga tingkatan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi

Paijo ndleming. Di dekat pohon kelapa depan rumah, samping pohon pelem, di atas rerumputan yang sedikit berpasir. Tak jauh dari tempatnya duduk ngebrok, ada pohon belimbing dan jambu air yang daunnya mengering. Maklum, sudah beberapa bulan tidak tersiram air hujan.

Paijo ndleming. Melihat kenyataan di berbagai perpustakaan perguruan tinggi, yang dipimpin oleh orang dari latar belakang bervariasi. Jika dikelompokkan, para pemimpin ini ada dua golongan: pustakawan, dan selain pustakawan. Selain pustakawan itu biasanya dosen. 

Terkait maju atau  berhasil tidaknya, tidak bisa didasarkan dengan dasar dua golongan ini. Yang dipimpin pustakawan juga bisa maju, yang dipimpin dosen juga demikian. Apalagi, Paijo, sejak lama meyakini bahwa semua orang boleh menjadi kepala perpustakaan. Bukan hanya kepala Perpustakaan, bahkan menjadi pustakawan pun, Paijo meyakini, semua orang berhak. Maka bagi Paijo, secara umum, keduanya tidak masalah.

Profesi pustakawan ini profesi yang demokratis, yakinnya.

Namun…

Ada yang mengganggu pikiran Paijo. Perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan ini, ada yang memiliki jurusan ilmu perpustakaan, ada juga yang tidak.

Jika pada perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, keyakinan Paijo di atas berlaku. Tetapi bagaimana dengan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki jurusan ilmu Perpustakaan?


****

Ndlemingnya Paijo, sampai pada kesimpulan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi.

“Jadi, derajat kepustakawanan di perguruan tinggi itu bisa dibedakan dalam beberapa tingkat, Kang”, kata Paijo. Karyo yang ada di dekatnya mendengarkan dengan seksama.

Tingkatan tertinggi, tingkat pertama, kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh pustakawan.

Tingkat kedua (2), ditempati oleh dua kategori kepustakawanan. Keduanya beda tipis. Bisa saling bertukar posisi pada tingkatan ini. Posisi 2.1 kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan. Posisi 2.2 kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dan perpustakannya dipimpin oleh pustakawan. 

Tingkatan ketiga, atau terakhir, atau terendah, yaitu kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, serta kepala perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan.

***

Paijo berkeyakinan, bahwa jika di PT itu ada jurusan ilmu Perpustakaan, maka kondisi idealnya, Perpustakaan PT tersebut dipimpin, dikepalai oleh pustakawan. Apalagi jurusan ilmu perpustakaan tersebut ada program yang lengkap, dari D3, sampai S3. Kenapa?


Dan, idealnya perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dipimpin oleh pustakawan.

Karena dengan demikian, menunjukkan sempurnanya keberhasilan pendidikan ilmu Perpustakaan di PT tersebut, berhasilnya kaderisasi pada pustakawan, dan berhasilnya dosen ilmu perpustakaan menunjukkan keilmuwan perpustakaan.


Karyo: “lha, kalau perpus jenis ini dipimpin dosen Ilmu Perpustkaan, Jo?”, tanya Karyo.
Paijo: “ya ndak pa. Pada dasarnya ndak salah, kecuali melanggar aturan institusi tersebut. Tapi..”
Karyo: “tapi apa, Jo?”
Paijo: “tapi itu menunjukkan ada titik belum suksesnya pendidikan ilmu perpustakaan di PT tersebut”.

Karyo menyahut, menjelaskan bahwa ada perguruan tinggi yang masalahnya kompleks. Tidak mudah, sulit ditembus. Usulan dari pustakawan, atau dosen ilmu perpustakaan sulit diterima. Maka, untuk memperkuat posisi, kepala perpustakaan harus dosen, pendidik, yang sama-sama kategorinya dengan pengelola perguruan tinggi. Setara. "Kamu tahu kan, Jo?. Bahwa civitas akademika di PT itu dosen dan mahasiswa. Pustakawan itu tidak termasuk civitas akademika". Karyo menutup, berusaha meyakinkan Paijo.


Paijo: “memang, Kang. Ada yang begitu kompleks masalahnya. Justru kekompleksan masalah itulah wilayah para dosen ilmu perpustakaan, untuk menunjukkan derajat ilmu perpustakaannya pada manajemen universitas”.

Karyo: "bagaimana jika dosen ilmu perpustakaan pun tidak mampu?"Paijo: "berarti dia memang sekedar dosen, Kang. Hanya berkutat teori" 


***
Karyo mengangguk. Namun, tetap dia ingin menguji Paijo dengan pertanyaan lagi.  "Bagaimana jika dipimpin oleh tenaga kependidikan selain pustakawan, sekaligus bukan bukan dosen ilmu perpustakaan, Jo?", Karyo bertanya.

Paijo mesem. Dilihatnya pohon jambu dan belimbing yang daunnya layu. Lama sekali hujan tak turun. Kemarau tahun ini begitu panjang.


Sambisari,
Jumungah Kliwon 16 Dulkangidah Be 1952