Saturday, 14 October 2017

Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

dikutip dari Arnold Hirshon
Purwo.co - Perpustakaan dan (ilmu) perpustakaan, bergantung pada pustakawan. Sesungguhnya pustakawan adalah kunci.

Pustakawan, merupakan sosok yang menggerakkan kerja-kerja di perpustakaan.  Perpustakaan dan pustakawan, merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Perpustakaan tanpa pustakawan, tentunya kurang optimal. Pustakawan tanpa perpustakaan, maka penyebutan pustakawan menjadi kurang afdal. Tentunya, perpustakaan dalam hal ini, adalah perpustakaan dalam arti seluas-luasnya.

Karena saling terkait, maka keduanya tidak dapat dipisahkan, dan tentunya terkait citra, akan saling mempengaruhi. Namun, sekali lagi, pustakawan adalah kunci. Perpustakaan yang baik  akan mempengaruhi citra pustakawan, tetapi perpustakaan dianggap baik itu tergantung pustakawannya.  Pustakawan yang baik, akan berpengaruh pada citra perpustakaan. Dan jika kerja-kerja pustakawan ini sampai pada level tertentu, maka pandangan orang di luar perpustakaan tentang status ilmu perpustakaan, akan terpengaruh. 


Tiga citra tersebut sesungguhnya dibebankan pada pustakawan.  Mulai dari citra pustakawan (dirinya sendiri), citra perpustakaan, dan citra ilmu perpustakaan.


Citra pustakawan (dirinya sendiri)
Sebagai orang yang bertanggung jawab pada berjalannya fungsi perpustakaan, maka pustakawan melakukan berbagai hal dia dianggap perlu. Mulai dari menjalankan tugas rutin, maupun tugas lainnya yang berkaitan dengan hubungan pada atasan, komunikasi pada pemustaka, komunikasi antar unit, layanan yang diberikan pada unit lain, kerja pengembangan, dan lainnya. 

Kerja-kerja tersebut, akan mempengaruhi citra (gambar) dirinya pada orang lain. Orang lain (pemustaka, dan orang luar perpustakaan) akan menilai si pustakawan dari manfaat yang dia peroleh ketika berhubungan dengan si pustakawan.  Citra ini harus dijaga oleh pustakawan, agar tetap baik di mata orang lain, atau menjadi baik jika pustakawan sebelumnya dianggap kurang baik. 

Setiap pustakawan adalah mufassir, dan pustakawan merupakan pemegang otoritas tafsir atas perpustakaannya.

Hal yang perlu diingat, citra pustakawan ini terkadang dimaknai secara personal. Pengangkatan citra dilakukan untuk pribadi-pribadi, bukan atau tidak menarik citra tempat dia bekerja. Hal ini, tentunya kurang elok.


Citra perpustakaan
Segala yang dilakukan pustakawan dalam rangka menggerakkan perpustakaannya, akan mempengaruhi citra perpustakaannya. Baik-buruknya perpustakaan, akan dimulai dari si pustakawannya sendiri.

Pustakawan yang pintar, tidak otomatis akan membawa citra baik untuk perpustakaannya, jika kepandaian itu tidak diaplikasikan pada pengembangan perpustakaan. Pustakawan yang justru sibuk dengan kerja-kerja di luar wilayah perpustakaanya dan "melupakan" rumah utamanya, juga demikian, justru akan berpotensi berpengaruh buruk pada perpustakaannya. 

Untuk membangun citra perpustakaan, pustakawan perlu keberanian (menjadi benar-benar pustakawan, pustakawan paripurna), bertindak lokal namun berefek global, dan fokus pada perpustakaan yang dia kelola. 

Perlukah pustakawan memunculkan dirinya di gelanggang yang lebih tinggi?. Perlu. Namun, selama pemunculan itu terkait dengan dirinya sebagai pustakawan, maka tetap dia harus membawa nama "pustakawan" dan perpustakaan tempat dia bekerja. 

Masuk ke dalam pentas yang lebih tinggi, tapi tidak dengan nama "pustakawan", sama dengan pengkhianatan profesi.
Dengan membawa nama pustakawan/pengelola perpustakaan tertentu, maka secara langsung akan mengangkat citra perpustakaannya. 

Citra ilmu perpustakaan
Perpustakaan sebagai ilmu, agaknya masih diragukan. Benarkah benar-benar ilmu yang harus dipelajari di bangku kuliah secara formal, atau memang…ya, cukup melalui jalur kursus atau pengalaman otodidak saja. Setidaknya ini ditunjukkan dengan nomenklatur yang saat tulisan ini dibuat, tidak menyebutkan ilmu. Tertulis "perpustakaan dan sains informasi".
Baca juga: Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan
Pandangan positif dari orang selain pustakawan pada “ilmu” perpustakaan, ditentukan oleh kerja-kerja pustakawannya. Karena mereka, orang-orang itu melihat yang nyata di lapangan, apa yang mereka rasakan dari layanan pustakawan, bukan sekadar yang ada di atas kertas yang dipresentasikan di berbagai konferensi. Kerja nyata ini, hanya dilakukan oleh pustakawan

Ada kenyataan pengelola perpustakaan yang tidak alumni prodi ilmu perpustakaan, ternyata bisa mengelola perpustakan dengan modal kemauan belajar sepanjang hayat. Ketika ternyata hasilnya sama dengan yang dikelola orang yang alumni sekolah perpustakaan, akan menjadi kenyataan yang cukup berpengaruh. Setidaknya, bagi institusi yang menaungi perpustakaan tersebut.

Kenyataan tersebut akan mendorong pada kesimpulan-kesimpulan, misalnya: tak perlu alumni sekolah perpustakaan untuk mengelola perpustakaan, atau jika telah dikelola oleh alumni sekolah perpustakaan, maka justru dia dipindah ke bagian lain yang dianggap lebih penting. “Cukup dikelola alumni SMA, saja. Nanti bisa sambil belajar”, begitu kira-kira.

Bagi pustakawan yang meyakini bahwa ilmu perpustakaan itu benar-benar ada, maka hendaknya dia menunjukkan pada kerja-kerjanya. Namun, bagi pustakawan yang menganggap ilmu perpustakaan itu tidak ada, maka kepatuhan pada pimpinan adalah cukup baginya. 

Beratnya beban citra pustakawan
Tiga hal di atas menunjukkan beratnya citra yang harus ditanggung oleh pustakawan, disamping perjuangan dirinya sendiri untuk tetap bertahan menjadi pustakawan.

Pustakawan harus selalu belajar agar kemampuannya selalu sesuai dengan perkembangan jaman, agar perpustakaannya tidak ketinggalan, dan agar dia selalu bisa menguasai dan menerapkan berbagai hal baru terkait perpustakaan.

Pustakawan bukan orang yang berhenti di teori-teori di atas kertas. Pustakawan itu mempelajari, melakukan dan mempublikasikan. Dan untuk “melakukan”, membutuhkan keberanian.

Karyo: "Saya pernah dengar curhat orang yang sebelumnya menjadi praktisi, bukan pustakawan, Jo. Tapi akhirnya menyerah karena beratnya beban yang harus ditanggungnya. Kemudian si praktisi ini pindah menjadi akademisi.
Paijo: "Abot yo, Kang."

Demikian pula pustakawan, jika tidak kuat dengan tanggungjawab menjaga 3 citra di atas, maka sangat mungkin dia meloncat pindah ke profesi lain yang lebih mapan, dengan tingkat strata sosial lebih tinggi, dan tentunya lebih prestisius.

Ilmu perpustakaan itu ada atau tidak, tidak ditentukan oleh debat atau diskusi ilmiah para ilmuwan perpustakaannya. Namun 99% ditentukan oleh kerja-kerja pustakawan. 

Agar tanggungan citra tersebut terasa ringan, maka cukuplah bagi pustakawan untuk bekerja sebaik-baiknya, pasrah dan serahkan hasilnya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika memang dirasa ada profesi lain yang bisa dimasuki dan lebih baik untuk anda, cobalah. Tidak ada larangan. Tapi, tentunya andapun boleh tidak setuju dengan saya.



Tanah leluhur Rakai Garung, Sambisari.
tanggal 14, bulan sepuluh tahun 2017
01.33 dini hari



Monday, 2 October 2017

Pustakawan bukan siapa-siapa*)

Purwo.co – SEORANG KAWAN MENGGEBU, mengatakan bahwa pustakawan merupakan agen perubahan. Benteng literasi bagi generasi penerus, mengenalkan berbagai sumber informasi yang valid, di tengah gempuran informasi aliran sesat yang ada di sekitar.

Heroiknya pustakawan, akan terkait pula terkait dengan buku. Tragedi perbukuan, baik 0 buku, atau pembakaran buku, merupakan tragedi yang menunjukkan bahwa pustakawan sebagai pengelola buku, memiliki peran penting, dianggap penting untuk menjaga harga diri buku, atau kadang juga dianggap berbahaya. Agar tidak terjadi tragedi 0 buku, maka pustakawan harus ditempatkan pada tempat yang semestinya.

Paijo: “gandrik!, pengelola buku?. Sampeyan bisa diprotes nulis “pengelola buku”.

Tuah literasi (li-terasi), yang selama ini digaungkan selalu didekatkan dengan pustakawan. “Literasi itu penting, dan pustakawan memiliki peran penting di dalamnya”, demikian katanya. “Pustakawan seperti kita, bukan hanya mengolah buku, meminjamkannya, tapi kita juga harus bisa mengajar”, begitu timpal tambahannya.

Tuah literasi juga diformalkan melalui gerakan literasi, populer dengan simbol L, menggunakan telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Bentuknya jadi seperti pistol. Dor... Wujudnya macam-macam: gerakan literasi nasional, gerakan literasi sekolah, gerakan literasi….

Tapi satu yang terlupa, gerakan literasi pustakawan.

Simbol L itu, seolah ingin menunjukkan bahwa peran pustakawan semakin penting, bahkan penting sekali. Simbol L menjadi ruh dan menyatukan semangat pustakawan, dia menjadi perekat. Dia harus mampu mendobrak ke atas, sebagaimana jari telunjuk, dan menyebar ke sekitar sebagaimana ibu jari, yang keduanya membentuk huruf L tadi.

Melalui simbol L itu, pustakawan merumuskan peran-perannya di dunia pendidikan, dan juga di masyarakat. Peran baru dilakukan, dimunculkan, dan bukti keberhasilannya diposting di media sosial. Tentunya, agar semua orang, atau setidaknya teman-teman di jejaring sosialnya melihat dan tahu bahwa dia punya peran penting, bukan main-main, terkait huruf L tersebut.

Foto-foto dengan jari tangan membentuk L kerap dijumpai. Tentu dengan pose-pose aduhai. Menunjukkan keseksian dunia literasi.

Li-terasi, entah mulai kapan dia populer. Literasi, dulu dikenalkan di bangku kuliah dengan arti ke-melek-huruf-an. Arti yang mungkin tidak semua mahasiswa paham benar apa makna sesungguhnya. Waktu itu, yang penting “saya dengar, saya lihat (soal), saya bisa menjawab dengan benar”.

Dengan label “gerakan”, seolah literasi merupakan bentuk perlawanan, perjuangan pustakawan untuk merebut (atau menunjukkan) peran mereka dalam rangka mewujudkan kondisi yang ideal.  Merebut dari siapa? Entah. Itupun jika benar-benar merebut. Atau apa yang mau direbut? Atau mencari peran yang selama ini dianggap tidak diperhatikan? Atau mengais peran-peran yang tercecer?


###

INDONESIA PASTI BAHAGIA, melihat lulusan baru pendidikan perpustakaan. Karena dengan demikian, akan muncul pustakawan-pustakawan baru yang siap menjadi agen literasi pada siswa-siswa, pelajar dan mahasiswa di negeri ini.

Produk hasil didikan para dosen ilmu perpustakaan ini siap ditempatkan di mana saja. Di sekolah kota atau pelosok, di perguruan tinggi, di lembaga sosial, atau bahkan di perusahaan, serta di kampung-kampung menjadi “dai” literasi.


Konon, kabarnya masih banyak perpustakaan sekolah yang belum memiliki pustakawan. Perpustakaan ini, jumlahnya menjadi lahan penempatan para alumni ilmu perpustakaan. Jumlah inilah, salah satunya yang dijadikan bahan tawaran pada alumni SMA, agar masuk ke program studi perpustakaan, dan tentunya, menjadi agen perubahan, agen literasi pada para generasi bangsa.

Paijo: “Kalau tak ada alumni SMA yang mau masuk jurusan perpustakaan, piye ya Yo?”
Karyo: “bubar, Jo. Alumni dari SMA ini penting bagi keberlangsungan sekolah perpustakaan”.

Namun kenyataan di lapangan tidak selalu indah.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Pustakawan butuh makan. Kadang, mereka tidak bisa hidup hanya dari status pustakawan. Ada yang masih jadi pustakawan dengan pangkat rendah, bergaji kecil. Sehingga harus nyambi ini-itu untuk mempertahankan agar dapur tetap ngebul. Undangan kondangan pernikahan teman sejawat, bisa berakibat fatal, dan membuat kepala puyeng. Selain galau karena ditinggal menikah,  juga harus menyiapkan amplop beserta isinya, atau paling tidak kado terakhir sebagai ucapan melepas lajang.

"Semoga berbahagia, jangan lupa berdoa dan olah raga", demikian katanya setelah memasukkan amplop di kotak yang disediakan.

Selain tuntutan untuk mencari pasangan menikah, pustakawan juga dituntut untuk pintar-pintar mencari rejeki untuk menafkahi. Mereka harus mendapatkan pasangan yang siap lahir bathin, menjadi pasangan hidup pustakawan.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Mereka tipe pejuang kelas tinggi. Yang telah ditempatkan di pustakawan, ada yang berkorban dengan bersekolah lagi di jurusan perpustakaan, dengan harapan menjadi pegawai tetap di tempatnya bekerja. “Berjuang”, demikian konon istilahnya. Maka, mereka berbondong melanjutkan sekolah lagi, baik di universitas modern maupun konvensional. Namun, konon kabarnya, setelah lulus ada yang tidak ditempatkan di perpustakaan lagi, namun di rotasi ke bagian lainnya. Mungkin, bagian lain itu dianggap lebih penting.

Demikianlah awalannya, pustakawan bukan siapa-siapa.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Pustakawan, juga bukan tuah yang membanggakan semua orang. Itulah mengapa, ada pustakawan yang bekerja di perpustakaan, namun ketika ditanya pekerjaan, jawabnya “buruh”. “Saya cuma buruh saja, kok”. Atau karena kerjanya di universitas, lebih senang dikenal dengan sebutan dosen.

Ya, orang kampung jika tahu kerjanya di universitas, langsung dianggap “dosen”. Keliru, tapi membuat yang disebut senang, ya dibiarkan saja.

Status pustakawan, memang bukan apa-apa. Sangat jarang anak sekolah yang menyebut pustakawan sebagai cita-citanya. Jika kemudian ternyata menjadi pustakawan, itu karena “paksaan” sejarah, sebagian besar bukan karena memperjuangkan profesi itu sejak lama, secara sadar.

Kepopuleran pustakawan sebagi cita-cita, jauh dibanding tentara, polisi, dokter, atau guru. Itu sudah kenyataan sejarah.

Pustakawan memang bukan siapa-siapa.
Organisasi profesi yang semestinya mengayomi,  kadang malah bertolak belakang. Pelatihan kepala perpustakaan sekolah, yang tidak sedikit pustakawan yang mengeluhkan, justru masih dilakukan. Aturan yang ada di atasnya, dijadikan bemper pengesahan kegiatan ini.  Entah, kepentingan apa yang ada di belakangnya. Ini seolah menunjukkan pada dirinya sendiri, bahwa pustakawan bukan siapa-siapa, bahkan bagi organisasi profesinya.

Ah, namun harus diakui bahwa organisasi kepustakawanan memanjakan pustakawan dengan dunia ilmiah, melalui kegiatan bertajuk call for paper. Pustakawan didorong untuk menulis (ilmiah) dan mengirimkannya. Namun, kadang ditarik biaya yang tidak sedikit. Tak sedikit pustakawan yang kandas keinginannya, karena kurang dana.

Pustakawan memang bukan siapa-siapa
Hadirnya tentu diharapkan menjadi sumber jawaban atas berbagai pertanyaan. Namun terkadang alih-alih menjadi filter berita hoax, malah terhanyut pada berita hoax yang seharusnya disaringnya. Atau menjawab pertanyaan tetangga tentang harga cabe sekilo, pustakawan merasa kesulitan.

Ya, memang tidak semua harus bisa dijawab oleh pustakawan. Tentunya berat untuk memberi jawaban pada semua pertanyaan. Justru itulah, menunjukkan bahwa pustakawan memang bukan siapa-siapa.


Pustakawan bukan siapa-siapa.
Di kampung atau di masyarakat, banyak orang yang beperan selayaknya pustakawan,meskipun dia tidak (bukan) alumni dari pendidikan formal pengelolaan perpustakaan. Mereka megelola buku, serta koleksi lainnya, serta membuat kegiatan yang berguna bagi masyarakat. Dan mereka bisa melakukannya.

Peran ini, tak urung, memberikan ruang tafsir pegiatnya tentang pustakawan. Apa sebenarnya peran pustakawan di masyarakatnya? Sebatas apa gerakan literasi yang digaungkan itu berpengaruh pada tetangganya?

Baca juga: Hati-hati masuk jurusan ilmu perpustakaan!!! #inpassing

Pustakawan bukan siapa-siapa
Konon, kabarnya ada penolakan atas kebijakan sebuah institusi yang membuka lowongan pengelola perpustakaannya untuk orang dari alumni selain program studi perpustakaan. “Itu hak alumni perpustakaan, bukan yang lainnya…”, begitu katanya. Mereka tidak sadar, bahwa ada juga alumni ilmu perpustakaan yang bekerja sebagai tenaga administrasi di perguruan tinggi, misalnya. Tidak ada alumni manajemen perkantoran yang protes. "Saya sudah berhenti menawarkan software saya. Lah kalah sama gerakan pustakawan menyebarkan open source", konon kabarnya ada yang mengatakan demikian.

Bahkan mungkin ada juga pustakawan yang bekerja menjadi teller di bank, tidak ada alumni keuangan, perbankan, yang protes. Atau kita tidak tahu?


Pustakawan bukan siapa-siapa
Di tengah perjuangan pustakawan yang masih panjang, justru para ilmuwan gencar memopulerkan ilmu informasi. Entah, mana yang lebih luas. “Informasi” dianggap lebih kekinian, lebih mutakhir, lebih bisa mengayomi semua aspek kegiatan kerja-kerja pustakawan. Para ilmuwan, dengan kepakarannya hendak meletakkan posisi yang benar, antara ilmu perpustakaan dan ilmu informasi. “Di luar negeri, ilmu perpustakaan sudah ditinggalkan, beralih ke ilmu informasi, i-science”, begitu kurang lebihnya. Para pakar yang dikenal dengan ilmu perpustakaan, mendadak menjadi lebih (ingin) populer dengan ilmuwan informasi. Kenyataan ini menunjukkan, pustakawan memang bukan (si)apa-(si)apa. Seolah status pustakawan ditinggalkan, dan diminta “berjuang” sendirian.

"Saya profesional informasi", celetuk yang lainnya. Tidak apa-apa. Semua itu pilihan. Pustakawan memang buka (si)apa-(si)apa.


Pustakawan bukan siapa-siapa
Menjadi pustakawan perlu nyali. Keberanian. Jika tidak maka dia akan mengungsi. Jika hanya setengah-setengah, maka dia akan pergi ke profesi lain. Profesi yang lebih mapan, dengan tingkat strata sosial yang lebih tinggi, yang tidak perlu lagi perjuangan yang berdarah-darah.

Ironisnya, setelah mereka pindah itu, mereka mengatakan: "pustakawan itu penting". Atau mengritik pustakawan.

Jika penting, mengapa pindah profesi?

Ah. Pustakawan memang bukan siapa-siapa.


Pustakawan bukan siapa-siapa
Diskusi tentang “ilmu” perpustakaan seolah tidak berakhir. Bahkan pada hal paling mendasar: ontologi. Diskusi dilakukan di meja kuliah, kuliah umum, konferensi, dan lainnya.

Para ilmuwan perpustakaan (dan informasi) ngotot, bahwa ilmu perpustakaan itu ada. Namun, ternyata, meskipun tentunya bisa berubah, nomenklatur menyebutkan lain. “Perpustakaan dan Sains Informasi”.

Baca juga: Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan
Karyo, dengan tampang lusuh sepulang dari sawah mengatakan, “Diskursus tentang ilmu perpustakaan itu, tak akan berpengaruh pada kerja-kerja kita, Jo. Aku dhewe menyadari. Tapi aku yakin, Jo. Sembilan puluh sembilan persen (99%) yang menentukan orang lain mengamini perpustakaan itu sebagai ilmu atau bukan, tidak terletak pada ilmuwan perpustakaannya. Namun, justru akan dilihat dari kerja-kerja kita ini, sebagai pustakawan”.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Sejarah telah mencatat, bahwa profesi pustakawan tidak sepopuler dokter, tentara, polisi atau guru. Tidak apa-apa, memang demikian adanya. Sejarah selalu akan menunjukkan buktinya. Jika suatu saat nasib pustakawan harus seperti “dukun bayi” di pelosok kampung, yang sekarang semakin jarang, ya harus diakui. Tidak apa-apa, itu adalah bagian dari ketentuan sing wis ginaris deneng Gusti.


Pustakawan bukan siapa-siapa. Jika ingin tahu mereka, datanglah ke perpustakaan yang dikelolanya. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Atau, lihatlah institusi pendidikan yang mencetak mereka, bagaimana kurikulumnya. Atau, maaf, lihatlah diklat-diklat yang mereka ikuti. Diklat itu ada yang mencukupkan mereka untuk bisa disebut pustakawan.

Pustakawan adalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya.


###


Paijo, sambil leyeh-leyeh dan mengipaskan capingnya yang sudah sobek sebelah, menjawab ucapan Karyo, “Pustakawan itu bukan siapa-siapa. Ojo rumongso biso, tapi biso’o rumongso. Mung sak dermo nglampahi. Mau ada ilmu perpustakaan atau tidak, tidak masalah. Ada hal lain yang lebih perlu dicurahi energi untuk difikirkan, ilmu urip.”.

Sambisari, Senen Kliwon, tanggal 11 Suro 1951
lima, tiga sembilan pagi


*judul dicontek dari esai seorang kawan “mahasiswa bukan siapa-siapa”, tulisan Rachmad Resmiyanto. http://rachmadresmi.blogspot.com/2006/03/mahasiswa-bukan-siapa-siapa.html






Monday, 25 September 2017

Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan

Paijo: “enake ngobrol apa, Yo?”
Karyo: “jarene ada nomenklatur baru di pendidikan tinggi, tentang nama departemen dan gelar bagi yang lulus ngangsu ilmu, Jo?


Purwo.co - Keduanya sibuk mengobrolkan tentang nomenklatur yang dimaksud. Tentunya, ngalor ngidul mereka ngobrol ala wong ndeso yang tak punya beban, kecuali beban pekerjaan sehari-hari, yang itupun kadang dilewati dengan senang gembira, lebih pada rekreasi dari pada bekerja. Obrolan itu terasa lengkap, karena ada nasi putih hangat, sambel bawang, tak lupa daun pepaya mentah yang sudah dibersihkan. Persiapan cabe untuk tambahan nyambel, dan juga minuman. Obrolan berlangsung di atas lincak bambu samping rumah.

Obrolan mereka, merupakan obrolan ringan, yang kadang agak nggaya ikut menganalisis keadaan. Padahal, ya dimungkinkan banyak bolong-bolongnya, berbeda dengan kaum cerdik cendikia yang analisisnya setinggi langit dan sedalam sumur minyak. Seperti biasanya, obrolan mereka terkait dunia perpustakaan, dan nyerempet dunia informasi.


Nomenklatur (tentang nomenklatur, lihat di sini) yang baru tentang  nama-nama rumpun ilmu dan program studi telah beredar. Nomenklatur tersebut ada dalam keputusan Menteri Riset, Teknologi,  dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, nomor 257/M/KPT/2017. Keterangan nama program studi perpustkaan ada di lampiran pertama halaman 28. Nah, apa gerangan yang baru di bidang perpustakaan? Itulah pokok obrolan Paijo dan Karyo hari itu.





Ternyata, “perpustakaan” masuk pada bagian sains informasi, yang program studinya disebut “Perpustakaan dan Sains Informasi”. Nama ini juga disebut dalam Bahasa Inggris sebagai “Library and Information Science”. Penyebutan ini urutannya didahului dalam Bahasa Indonesia, kemudian di sampingnya dalam bahasa Inggris. Artinya, nama “gawan bayinya” itu Perpustakaan dan Sains Informasi, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi “Library and Information Science”.



Bingung mana yang diterjemahkan, mana hasil terjemahannya?
Perpustakaan dan Sains Informasi, cukup asing bagi Paijo dan Karyo. Mereka mencoba membuka kamus atau dokumen terpercaya tentang bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, yang di dalamnya memuat ketentuan menuliskan kalimat, menjadi salah satu yang mereka buka.


Hal yang agak asing, terkait Perpustakaan dan Sains Informasi adalah kata “dan” yang memisahkan bagian pertama dan kedua. "Rasane kok aneh, ya?". Perpustakaan dan Sains Informasi, apakah ini justru penerjemahan dari Library and Information Science?. Kayake, dalam bahasa Inggris, science (jika tanpa embel-embel) ditulis di belakang mengikuti ilmu yang disebut. Government Science, misalnya. Jadi kalau Library and Information Science, ya mestinya ilmu perpustakaan dan informasi. Perpustakaan dan Informasi dikenai ilmu, keduanya itu dianggap sebagai ilmu. Berbagai pertanyaan dan hipotesa hinggap di kepala Paijo dan Karyo.



Paijo: kui kayak MD, DM, menerangkan diterangkan, Yo?
Karyo: mungkin, Jo.
Dalam PUEBI ditemukan beberapa contoh penggunaan “dan”. Misalnya “Menteri Pendidikan dan Kebudayaan”. Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan dua kata yang dikenai “menteri”. Artinya si menteri membidangi pendidikan dan juga kebudayaan.  Ada lagi “Presiden dan/atau Wakil Presiden. Jelas di sini, bahwa hanya kata presiden yang kedua yang dikenai kata wakil. Presiden yang pertama tidak dikenai kata wakil.

Coba dibalik menjadi Pendidikan dan Menteri Kebudayaan.



Paijo: Lah, malah dadi aneh kui. Menteri opo kui?
“Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring”. Inggris, tolak, dan ring merupakan jenis kunci. Pada PUEBI semuanya diawali dengan kunci. Sementara itu,  “Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura”, nama jenis batik tetap diawali dengan kata “batik”. Kemudian kalimat “Singkatan nama diri dan gelar”, berarti nama diri dan juga nama gelar. Mungkin karena hanya dua kata yang dipisah, maka “nama” cukup ditulis satu kali. Coba diubah “Singkatan diri dan nama gelar”. Beda ndak artinya?

Contoh lain, selain dari PUEBI, misalnya: kesehatan gigi dan mulut. Gigi dan mulut, dikenai kata kesehatan. Berbeda dengan gigi dan kesehatan mulut, yang artinya gigi sebagai kata benda, dan kesehatan mulut.


Nah, sekarang lihat “Perpustakaan dan Sains Informasi”. Apa yang bisa dianalisis? Pertama kata perpustakaan, kemudian yang kedua sains informasi. Perpustakaan seolah menjadi kata tersendiri dan tidak dikenai “sains”. Sains hanya disematkan pada informasi, sains informasi. Tidak untuk perpustakaan. Rasanya tak ada unsur sains perpustakaan pada nama program studi tersebut.


Loh, kan sains sudah ditulis pada rumpunnya, Sains Informasi yang menaungi “perpustakaan”. Kalau alasan ini digunakan, kok yo yang informasi masih pakai “sains”?


Perpustakaan dan sains informasi, jika dipecah maka terdapat unsur perpustakaan serta sains informasi. Perpustakaan sebagai kata benda yang berarti bangunan perpustakaan serta isinya, serta sains informasi sebagai sebuah sains tentang (yang mempelajari) informasi.


Hal ini akan beda rasa jika bandingkan dengan Sains Informasi dan Perpustakaan, atau Sains Perpustakaan dan Informasi. Informasi dan Perpustakaan menjadi satu kesatuan yang dikenai sains.



Paijo: “nasi tiwul dan goreng, tiwul dan nasi goreng, es teh dan dawet, dawet dan es teh, anak Karyo dan Sipon, Karyo dan anak Sipon”.
Karyo: “hus, jangan bawa-bawa nama saya, Jo.”
Paijo: “loh, saya ini mempraktikkan penjelasanmu je, Yo.”
Karyo: “dada dan buah jambu, buah dada dan jambu”
Paijo: “hus!, aurat”
###
Lalu, apa artinya?
Sekarang jelaslah sudah, bahwa tak ada lagi ilmu perpustakaan. Ini sudah ditunjukkan sendiri oleh nomenklatur yang dikeluarkan pemerintah. 


Karyo: "hmm. Pantesan sekarang para winasis lebih condong ke ilmu informasi, dan mendeklarasikan diri sebagai ilmuwan informasi, ketimbang pustakawan.
###
Antara sains dan ilmu
Munculnya kata “sains” dalam nomenklatur terkait perpustakaan serta informasi, cukup menarik. 


Siapa gerangan yang mengusulkan?
Ilmu, nek ra kleru turunan dari Ø¹Ù„Ù… (sumber di sini) yang berasal dari bahasa Arab. Ilm dan ilmu, telah dikenal sejak lama baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Ilm, ilmu, berilmu, digunakan dalam proses komunikasi sehari-hari. Kita kenal istilah-istilah atau ungkapan sebagai berikut: orang berilmu, ngudi ngelmu, menuntut ilmu, berilmu tinggi, ilmu kanuragan, ilmu kasekten, dan lainnya. Ilm dan ilmu memiliki arti luas.

Sains, agaknya merupakan serapan dari “science”. “The intellectual and practical activity encompassing the systematic study of the structure and behavior of the physical and natural world through observation and experiment: the world of science and technology.“, merupakan salah satu penjelasan tentang makna science, yang bersumber dari kamus yang menempel alat buatannya Mbah Job. Agaknya, science terkait dengan physical dan natural world.


Science, agaknya datang belakangan. Science serta sains, tidak memiliki sejarah panjang dalam penggunaannya di masyarakat kita. Tidak dikenal istilah “orang bersains”, misalnya. Makna sains tidak seluas ilmu. Sains hanya bagian kecil saja dari ilmu.



###

Lalu apa sebab ilmu digantikan sains?
Biar modern? Biar keren? Biar kekinian? Untuk menggeser istilah serapan lainnya?

Sambil mengeluarkan sebatang rokok dan hendak menyulutnya, Paijo berkata, “Rasah digagas, Yo. Penting nyambut gawe. Kita ini, mau mikir kayak gitu serius, ra ana gunane. Kalau besok kita tidak masuk kerja di perpustakaan, iso dipotong gajine. Obrolan kayak gini, bagi kita kan hanya ngisi waktu luang, Kang. Mau informasi, mau perpustakaan, mau ilmu, mau sains, yang penting sawahe digarap."


Karyo yang melihat Paijo, langsung mendekat dan merebut sebatang rokok yang hendak disulut Paijo. 



Karyo: “Udud jangan di sembarang tempat. Orang kalau ndak belajar ilmu informasi, ya ndak tahu bahaya merokok. Tapi omonganmu bener juga, Jo. Cocok. Rasah dipikir, nggo hiburan saja, ojo ngeceh-ceh pikir”.
Paijo
: "iya, mending mikir kapan sawah warisan itu mau ditanami"

Setelah Karyo menjauh, diam-diam Paijo membuka bungkus rokoknya lagi. Sialnya, sebatang rokok yang direbut Karyo adalah yang terakhir. “Wah, bakalan kecut”, Paijo menggerutu.


Sambisari, tanggal 5 Suro, tahun 1951
Jam empat lima puluh delapan pagi

Saturday, 16 September 2017

, ,

Kompetensi pustakawan merupakan bentuk pengganti dari keterbatasan anggaran perpustakaan

candi sambisari, Jogja
Purwo.co - Selama ini, kabarnya masih ada perpustakaan yang hidup dengan anggaran yang tidak memadai. Akhirnya ada keterbatasan pengelolaan, koleksi terbatas, fasilitas terbatas, pengembangan juga terbatas.


Paijo: perpus mana, To? - 
Parto: ah, mestine ya ana, Jo
.

Ini wajar. Karena memang anggaran memiliki posisi penting dalam menjalankan roda organisasi perpustakaan serta pengembangannya. Namun, apakah tidak ada jalan lainnya?

Perpustakaan merupakan lembaga atau unit yang bergerak untuk membantu organisasi induknya. Misal perpustakaan sekolah untuk mendukung sekolah, perpustakaan perguruan tinggi untuk mendukung perguruan tinggi, perpustakaan daerah untuk mendukung visi misi daerah dalam rangka melayani masyarakatnya. Secara umum demikian, jika dalam pelaksanaannya muncul kreatifitas ke kanan atau kiri, itu bentuk fleksibilitas profesi saja.

Nah, jika sebuah perpustakaan kekurangan anggaran, misal karena anggaran dipotong, dikurangi, apa yang harus dilakukan pustakawan?


Jangan galau, dipikir karo seneng wae. 

Efek kurangnya anggaran, dipotongnya anggaran dan semacamnya, tidak dibebankan pada pustakawan. Bukan!. Jadi pustakawan tidak perlu GR dan baper. Efeknya akan dirasakan oleh si pemimpin organisasi induk. Yakinlah. Kalau perpustakaannya kurang bagus, pustakawan wajib mengusulkan perbaikan dan penambahan anggaran. Kalau anggaran ditolak, efeknya ada di pemimpin organisasinya, bukan pustakawan dan pemimpin perpustakaannya.


“Siapa sih bupatinya?”, “siapa sih walikotanya?”, “siapa sih kepala sekolahnya?”.
Jadi, ndak usah dipikir terlalu dalam. Sik penting bergembira dan utamakan kesehatan.

Kalau perpustakaan sekolah anggarannya minim, ya ndak apa. Karena memang mungkin sebatas angka itu institusi mampu memberi anggaran. Atau ada prioritas lain yang oleh pemimpin dianggap lebih penting. Tidak apa, memang pemimpin berhak memberi prioritas anggaran sesuai dengan visi dan misi yang dia canangkan.

Jalankan saja perpustakaan sesuai  dengan anggaran yang diberikan. Fokuskan anggaran tersebut pada hal yang anda anggap paling penting dalam pengelolaan perpustakaan anda. Koleksi, fasilitas, atau apapun. Kalau tetap kurang  bagaimana?


Jalankan dengan filosofi hidup. Sitik akeh, sik penting disyukuri. Insyaalllah berkah, kekurangane Gusti Allah sik nyukupi.
.

Lalu, bagaimana selanjutnya?

Mainkan kompetensi atau skill anda untuk menjalankan roda organisasi perpustakaan. Inilah pentingnya kompetensi, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Pustakawan sekolah yang mahir Corel Draw atau aplikasi desain grafis lainnya, bisa digunakan untuk membuat kegiatan pelatihan desain grafis bagi pemustaka/siswanya. Pustakawan yang mahir Bahasa Indonesia (tata bahasa, dan lainnya), dia bisa memainkan keahliannya tersebut untuk membimbing mahasiswa menulis. Pemustaka yang mahir menggambar kaligrafi, sket gambar, atau semacamnya, bisa membuat kegiatan terkait, bersama pemustaka.

Paijo: Ngajari nggambar? Itu tugas pustakawan kah?
Parto: rasah digagas, sik penting nyambut gawe. Memang selama ini kan pustakawan itu pekerjaannya “mengais” (jawa: golek-golek) pekerjaan.


saoto bathok Sambisari
Contoh di atas hanya beberapa saja, ada banyak kompetensi yang bisa digali untuk digunakan pustakawan menggerakkan perpustakaannya. Tentunya level perpustakaan yang dikelola akan berpengaruh. Kompetensi pustakawan merupakan bentuk lain dari terbatasnya anggaran perpustakaan.

Luasnya kompetensi pustakawan, selain kompetensi inti pustakawan, menjadi sangat penting dalam pengelolaan perpustakaannya. Di sini, pustakawan perlu melihat berbagai perkembangan ilmu selain perpustakaan, dan mencoba menguasai dan menerapkannya untuk melayani pemustaka. Bukan hanya hardskill, namun juga softskill.


Paijo: loh, koleksi kan penting, Kar? Sekarang jurnal harganya melangit. Larang, mahal, dan susah ditawar. 
Karyo: yo ra popo. Kalau mahal, ya ndak usah dibeli kalau duitnya ndak cukup. Rasah dipikir ribet, utamakan kesehatanmu, Jo. Gampang, tho? 

Untuk memenuhi kemampuan/kompetensi tersebut, pustakawan dapat belajar mandiri, di sinilah konsep belajar sepanjang hayat menemukan ruangnya. Jika ada kesempatan belajar (sekolah) lagi, usahakan kuliah pada program studi selain ilmu perpustakaan. Jangan linear. Dengan demikian, pustakawan akan lebih kaya.



Sambisari, tanggal enam belas, bulan sembilan
tahun dua ribu tujuh belas.
enam, empat belas pagi




Friday, 15 September 2017

Sinta: indikator produktifitas ilmuwan Indonesia

Purwo.co - SINTA (Science and Technology Index) yang beralamat di sinta.ristekdikti.go.id, setelah versi pertama, beberapa waktu lalu dirilis versi kedua. SINTA, sebagaimana ditulis di webnya, merupakan sistem informasi penelitian, yang menyajikan informasi sitasi dari berbagai ilmuwan dengan berbagai keahliannya.

Web sinta sudah responsif, sehingga nyaman dibuka di gadget.

Sinta menampilkan berbagai informasi, yang dihimpun dari Google Scholar dan Scopus.  Terdapat tiga informasi utama dalam SINTA, yaitu penulis, afiliasi (organisasi), dan jurnal.
Laman profile Prof. Panut Mulyono (Rektor UGM)


Informasi terkait penulis, menampilkan informasi ranking penulis yang terdapat di SINTA berdasar skor SINTA. Saat tulisan ini dibuat, ranking pertama adalah Suharyo Sumowidagdo, dari LIPI dengan SINTA score 278. Cukup jauh, menyusul pada peringkat kedua Suryadi Ismadji dari Universitas Katolik Widya Mandala dengan skor 86. Tentunya, peringkat ini tetap akan dinamis, sembari data masuk dalam SINTA.

Pada masing-masing profil penulis, terdapat informasi h-index di Scopus dan Google Scholar, jumlah artikel, book chapter dan conference papers yang pernah ditulis, jumlah dokumen di Scopus dan Google Scholar lengkap dengan sitasinya dan pertumbuhannya tahun demi tahun, serta lima dokumen tertinggi sitasinya. Selain itu, SINTA juga menampilkan area keahlian dari si pemilik profil.

Fitur menarik, Sinta menampilkan jejaring penulis dalam visual yang nyaman dilihat. Si pemilik profil dapat melihat siapa saja yang berjejaring dan bagaimana polanya.
Jejaring Prof. Panut Mulyono

Sayangnya, belum ada informasi kontak pada profil penulis.

Informasi berikutnya terkait afiliasi atau organisasi. Saat tulisan ini dibuat, UGM menempati posisi teratas dengan skor 18,763 disusul IPB dengan skor 14,544. Jika dilihat detail afiliasi, akan diperoleh informasi jumlah penulis yang terverifikasi SINTA dari institusi tersebut, grafik pertumbuhan jumlah dokumen terindeks Scopus dan Google Scholar berdasar tahun serta jumlah sitasinya. Serta jumlah artikel jurnal, book chapter dan conference papers dari institusi tersebut.
Lima Institusi score tertinggi 


Informasi terakhir terkait jurnal. Jurnal yang terdeteksi di SINTA dikategorikan dalam skor S1 sampai S6. Informasi jurnal yang ditampilkan SINTA memuat skor, h-index dan jumlah di sitasinya, keterangan diindeks oleh Scopus (jika telah terindeks Scopus), grafik statistik sitasi  berdasar tahun, alamat web, email, dan nomor telepon, informasi editor jurnal, serta artikel yang diurutkan berdasar jumlah disitirnya berdasar data di Google Scholar.
6 jurnal score tertinggi


Saat tulisan ini dibuat, peringkat pertama jurnal diraih oleh Telkomnika yang memperoleh skor S1, dengan h-index 22, dan sitasi 3.348.

Angka yang ada di SINTA, baik terkait penulis, afiliasi dan juga jurnal tentunya memiliki makna, serta aturan penghitungan tertentu. Angka yang muncul, dapat menjadi tolok ukur produktifitas, dan posisi jurnal, afiliasi dan penulis di tengah masyarakat ilmiah. Indikator ini, tentunya menjadi indikator mandiri bangsa Indonesia, yang menggabungkan angka yang muncul di Google Scholar dan Scopus.


Namun, jangan sampai hanya berhenti pada angka-angka tersebut. Kemanfaatan ilmu para ilmuwan, juga harus melampaui angka-angka di SINTA. Artinya juga harus menciptakan angka-angka di tengah masyarakat luas, bangsa Indonesia yang selalu menantikan karya dan kontribusi para ilmuwan untuk kemaslahatan ummat manusia.