Monday, 28 December 2015

, ,

Menghilangkan player control di video Youtube (embed)

Dalam melampirkan video yutube, kita dapat membuat setelah agar control player tidak ditampilkan. Caranya adalah sebagai berikut:

Ambil code embed dari youtube (iframe)
Contoh:
<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/BI5rXsoTWM8" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Tambahkan pada akhir url Youtube dengan kode dibawah ini:
?modestbranding=1;autohide=1&amp;showinfo=0&amp;controls=0;

sehingga akan menjadi:
<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/BI5rXsoTWM8?modestbranding=1;autohide=1&amp;showinfo=0&amp;controls=0;" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Hasilnya, seperti hasil di bawah ini:

[Tips for Writing Your Research Proposal] (copas)

Sumber: klik

1. Know yourself: Know your area of expertise, what are your strengths and what are your weaknesses. Play to your strengths, not to your weaknesses. If you want to get into a new area of research, learn something about the area before you write a proposal. Research previous work. Be a scholar.
.
2. Know the program from which you seek support: You are responsible for finding the appropriate program for support of your research.
.
3. Read the program announcement: Programs and special activities have specific goals and specific requirements. If you don’t meet those goals and requirements, you have thrown out your chance of success. Read the announcement for what it says, not for what you want it to say. If your research does not fit easily within the scope of the topic areas outlined, your chance of success is nil.
.
4. Formulate an appropriate research objective: A research proposal is a proposal to conduct research, not to conduct development or design or some other activity. Research is a methodical process of building upon previous knowledge to derive or discover new knowledge, that is, something that isn’t known before the research is conducted.
.
5. Develop a viable research plan: A viable research plan is a plan to accomplish your research objective that has a non-zero probability of success. The focus of the plan must be to accomplish the research objective.
.
6. State your research objective clearly in your proposal: A good research proposal includes a clear statement of the research objective. Early in the proposal is better than later in the proposal. The first sentence of the proposal is a good place. A good first sentence might be, “The research objective of this proposal is...” Do not use the word “develop” in the statement of your research objective.
.
7. Frame your project around the work of others: Remember that research builds on the extant knowledge base, that is, upon the work of others. Be sure to frame your project appropriately, acknowledging the current limits of knowledge and making clear your contribution to the extension of these limits. Be sure that you include references to the extant work of others.
.
8. Grammar and spelling count: Proposals are not graded on grammar. But if the grammar is not perfect, the result is ambiguities left to the reviewer to resolve. Ambiguities make the proposal difficult to read and often impossible to understand, and often result in low ratings. Be sure your grammar is perfect.
.
9. Format and brevity are important: Do not feel that your proposal is rated based on its weight. Use 12-point fonts, use easily legible fonts, and use generous margins. Take pity on the reviewers. Make your proposal a pleasant reading experience that puts important concepts up front and makes them clear. Use figures appropriately to make and clarify points, but not as filler.
.
10. Know the review process: Know how your proposal will be reviewed before you write it. Proposals that are reviewed by panels must be written to a broader audience than proposals that will be reviewed by mail. Mail review can seek out reviewers with very specific expertise in very narrow disciplines.
.
11. Proof read your proposal before it is sent: Many proposals are sent out with idiotic mistakes, omissions, and errors of all sorts. Proposals have been submitted with the list of references omitted and with the references not referred to. Proposals have been submitted to the wrong program. Proposals have been submitted with misspellings in the title. These proposals were not successful. Stupid things like this kill a proposal. It is easy to catch them with a simple, but careful, proof reading. Don’t spend six or eight weeks writing a proposal just to kill it with stupid mistakes that are easily prevented.
.
12. Submit your proposal on time: Duh? Why work for two months on a proposal just to have it disqualified for being late? Remember, fairness dictates that proposal submission rules must apply to everyone. It is not up to the discretion of the program officer to grant you dispensation on deadlines. Get your proposal in two or three days before the deadline.

10 types of plagiarism in research (copas)

Sumber http://exchanges.wiley.com/blog/2015/11/12/10-types-of-plagiarism-in-research/

Last year, we wrote about the steps Wiley is taking to target plagiarism. For each manuscript submitted to a Wiley Open Access journal using the ScholarOne submission system, an automatic report is generated using the iThenticate anti-plagiarism software, a process that benefits authors and editors alike by ensuring high ethical standards across the open access programme.
Plagiarism however, continues to be a huge problem in scientific publishing. In order to address these ongoing issues, a deeper knowledge and understanding of the nature of plagiarism is required. With this in mind, iThenticate have conducted a survey of scientific researchers, in which respondents were asked to both rate the severity and commonness of ten forms of plagiarism. The following infographic (used with permission from iThenticate) shows the ten types, along with percieved commonness and seriousness. You can also view the survey summary here.


Related Posts:

  1. Wiley takes measures to target plagiarism
  2. CrossCheck Implementation Supports Detection of Plagiarism
  3. ALPSP Seminar on Plagiarism Detection and Management
  4. CrossCheck / iThenticate – An Update
  5. How to promote your research through blogging

Monday, 21 December 2015

Mengapa saya tidak [belum] tertarik RFID untuk perpustakaan FT UGM?

Siapa yang tidak tahu RFID, teknologi canggih yang akhir-akhir ini banyak digandrungi pada pustakawan. Seolah-olah, RFID menjadi tolok ukur dalam pengembangan perpustakaan.

Namun, saya tidak (atau lebih halus: belum) tertarik menerapkan RFID di perpusakaan yang saya kelola, Perpustakaan FT UGM. Mengapa?

Tidak kuat mikir
menerapkan RFID tidak sekali jadi. Akan ada keberlangsungan secara terus menerus. Konsekuensi pikiran yang harus dialokasikan untuk memikirkan solusi masalah, negosiasi trouble shooting, mengikuti trend baru perkembangan RFID tentu harus dilakukan. Selain itu juga mikir perawatan, pengadaan chip baru untuk koleksi baru dan seterusnya. Hal ini juga berhubungan dengan ketidak kuatan saya dalam mikir anggaran. Saya berprinsip, dari pada mikir untuk minta anggaran menerapkan RFID, lebih baik untuk beli koleksi, atau membangun kegiatan serta berbagai pendukungnya yang lebih bersifat substansial untuk perpustakaan. Bagi saya, di perpustakaan FT UGM, RFID saat ini berposisi pada teknologi sampingan saja, bukan alat utama dalam pengembangan perpustakaan.


Tidak sebanding dengan buku yang dimiliki
Koleksi perpustakaan FT UGM tidaklah banyak. Untuk level perpsutakaan fakultas, hanya memiliki 5000-an koleksi. Tentunya jika di RFIDkan harus ditimbang-timbang sisi manfaatnya.



Jenjang pendidikan pustakawan dan pekerjaan rutinnya

Catatan: semesta pembicaraan dalam artikel ini adalah pustakawan perguruan tinggi. Boleh setuju, boleh pula tidak setuju.


Pustakawan, dibagi menjadi dua kelompok, terampil dan ahli. Masing-masing juga dibagi menjadi beberapa jenjang. Selain penjenjangan tersebut, pustakawan juga (dapat) dibedakan dari jenjang pendidikannya, mulai D3, S1, S2, S3. Lalu apa perbedaan perpustakaan yang dikelola oleh beberapa jenis kelompok/jenjang tersebut?

Terus terang, kadang saya belum bisa menemukan perbedaannya. Namun, setelah njungkel njempalik, mikir ngiwo nengen, saya sampai pada kesimpulan bahwa bagaimanapun juga, pustakawan itu pekerjaannya berhubungan dengan pemustaka. TITIK. Maka, semakin tinggi jenjang pustakawan (baik pendidikan atau fungsionalnya), maka seharusnya semakin bertambah kualitas hubungannya dengan pemustaka.

Pertanyaannya, bagaimana membedakan kualitasnya? Nah, sampai di sini saya mumet lagi. Karena saya tidak menemukan pengelompokan layanan berdasar pendidikan pustakawan. Kalau berdasar jenjang fungsional, pastinya berdasar peraturan para pejabat (Perpusnas atau yang berwenang). Terkait kompetensi layanan dan kualitas layanan berdasar pendidikan ini menurut saya penting. Artinya, ketika ada pustakawan lulus S1,S2,S3, maka institusi sudah dapat mempunyai gambaran, layanan dan kualitas yang akan bertambah di perpustakaannya. Kalau ternyata kualitasnya sama dengan sebelumnya, maka investasi institusi terkait SDM, gagal. Jenis layanan, tentunya juga disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka, prediksi kebutuhan mahasiswa, kemampuan penawaran layanan baru kepada mahasiswa oleh si pustakawan.


ketika ada pustakawan lulus S1,S2,S3, maka institusi sudah dapat mempunyai gambaran, layanan dan kualitas yang akan bertambah di perpustakaannya.

Seorang kawan (tidak di Indonesia), ada yang berpendapat bahwa pustakawan cukup maksimal S2. Kalau S3, mungkin mau ke jenjang struktural, nyambi jadi dosen atau sebagai cadangan jika pensiun dapat digunakan untuk mengajar di institusi pendidikan. Saya lihat memang jarang pustakawan yang memiliki ijazah S3. Jika ada, biasanya dia nyambi jadi dosen. Padahal, kalau statusnya pustakawan, maka semestinya harus terlihat, kegiatan yang dia layankan kepada mahasiswa sebagai bentuk kegiatan rutin di perpustakaan.


Perguruan tinggi, hendaknya juga membuat standard kualifikasi pustakawan pada masing-masing jenjang (S1,S2,S3) yang ada di institusinya, dikaitkan dengan capaian institusi yang diinginkan.

Berikut pendapat saya, terkait kompetensi pustakawan berdasar jenjang pendidikan. Pendapat ini dalam batasan perpustakaan perguruan tinggi, dan tentunya masih terbuka untuk dikritisi, tur ya durung rampung (dan juga belum selesai). Namanya juga buat ngisi blog. *halah*.

Pendidikan, yang saya maksud pada pembagian di bawah ini adalah pendidikan bidang perpustakaan dan informasi. Namun, jika pustakawan memiliki ijazah pendidikan bidang lain, maka konsekuensinya adalah, dia harus mampu menerapkan ilmu tersebut dalam perpustakaan. Misalnya memiliki ijazah bidang pendidikan, maka kewajiban dia adalah membawa skill mendidik dalam lingkup perpustakaan. Memiliki ijazah komunikasi, maka dia harus menjadi tulang punggung komunikasi dengan pemustaka baik tulisan, media sosial, web dan lainnya.

Pendidikan S1, minimal:
  • menguasasi konsep metadata dan mampu membuat metadata yang benar
  • melakukan pemasaran perpustakaan
  • menguasai minimal 1 teknologi informasi untuk otomasi dan repository
  • mulai menganalisis literasi dalam berbagai aspek dan menurunkannya dalam bentuk layanan
  • mampu membuat sebuah produk, yang didasarkan pada kebutukan pemustaka
  • Membaca, menulis

Pendidikan S2, minimal:
  • menguasai kompetensi S1
  • menguasai berbagai aspek literasi (informasi, teknologi,....), serta menurunkannya dalam berbagai layanaan harian perpustakaan, termasuk strategi implementasinya.
  • mampu menggali kebutuhan pemustaka dan visi institusi induk dan dijabarkan pada layanan/kegiatan rutin perpustakaan
  • mampu membangun komunikasi pada pemustaka, dosen, pimpinan dan pihak eksternal, serta membangun kegiatan bersama
  • Membaca, menulis
  • mampu merancang dan mengeksekusi pengembangan perpustakaannya

Pendidikan S3, minimal:

  • menguasai standard kompetensi minimal pendidikan S2
  • membantu mahasiswa dalam penelitian, terkait berbagai hal pada penelitian: metode penelitian, korelasi antar bab-bab dalam penulisan, mengutip yang benar, dan memastikan tulisan tidak mengandung plagiat (teknis dan substansi )
  • membuat analisis perpustakaan secara makro, serta menjaga perpustakaan agar tetap sesuai perkembangan jaman dan memenuhi kebutuhan pemustaka
  • mampu merancang dan mengeksekusi pengembangan perpustakaannya
  • membaca, menulis

Lalu, bagaimana dengan Pustakawan Utama?


Parto: "Kang, kalau mau tahu tugas pustakawan yang bergelar Doktor, minta saja dosen Ilmu Perpustakaan yang bergelar doktor itu, untuk bertugas di perpustakaan. Lihat, seberapa jauh kualitas hubungan yang dia buat dengan pemustaka"

Karyo: "weh, ide brilian kang, tumben kowe pinter?"

catatan publikasi artikel:
  1. 21 Desember 2015

Friday, 18 December 2015

Thursday, 17 December 2015

,

Pustakawan UGM itu bergelimang fasilitas : di mana pustakawan UGM dapat menerbitkan tulisannya?

Pustakawan di UGM itu bergelimang fasilitas. Mau apa? jaringan internet, ada. Jurnal internasional, ada, tinggal unduh. Meskipun saya yakin, bagian pengadaan jurnal ini berat pekerjaannya. Lepas dari itu, pustakawan tinggal unduh. ScienceDirect, SpringerBook, dan berbagai database lainnya.

Demikian pula dalam penerbitan tulisan atau hasil karya. Dengan email @ugm / @mail.ugm yang dimiliki, pustkawan  secara mandiri bisa mengunggah karyanya dalam berbagai media daring. Apa saja?

Media internal UGM
Blog pribadi .ugm
Blog pribadi ini dapat diaktifkan menggunakan email @ugm, dengan melakukan login di http://blog.ugm.ac.id. Pustakawan dapat mengelola blog tersebut dengan mudah. Blog menggunakan mesin Wordpress yang sangat populer digunakan.

Merupakan repository yang memuat karya ilmiah warga UGM. Pustakawan yang memiliki artikel ilmiah dapat mengunggah dalam repository ini. Caranya dengan login terlebih dahulu menggunakan akun email @ugm. Repository ini terhitung pada webometric. Sehingga dengan rajin mengunggah artikel di mesin ini, pustakawan juga berkontribusi pada peningkatan ranking webo UGM.

http://pustakawan.lib.ugm.ac.id
Merupakan blog Forum Pustakawan UGM. Pustakawan dapat memposting tulisan ringan bidang kepustakawanan pada blog ini. Caranya mudah, cukup kirimkan tulisan ke email forumpustakawan@ugm.ac.id. Tulisan akan direview dan diunggah lengkap dengan tag nama penulis.

Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, serta Media Informasi
Media ini merupakan media cetak terbitan Perpustakaan UGM yang menerima tulisan ilmiah, serta resensi buku dari para pustakawan. Tentu saja, untuk bisa masuk dalam media ini, perlu mengirimkan tulisan ilmiah dan akan melalui beberapa tahap analisis kelayakan.


Media luar UGM
Berbagai jurnal/majalah kepustakawanan lainnya
Sama dengan BIPI dan MI, berbagai perpustakaan, terutama perguruan tinggi juga menerbitkan terbitan berkala. Pustakawan dapat berkompetisi pada media ini. 


http://eprints.rclis.org/
Merupakan portal yang memuat tulisan bidang computer dan library and information science berbagai ilmuwan dari berbagai negara, bersifat open access. Pustakawan dapat mengirim tulisan mereka ke portal ini, dan tentunya portal ini terindex Google. Artinya akan terhitung di GoogleScolar dan h-index Google.
Prosedur mengirim artikel ke portal ini adalah:



Thursday, 10 December 2015

Studi banding ke University of Texas at Austin: Wah, ternyata banyak tema workshop yang bisa dilakukan di perpustakaan !!!

Rekan sekalian, kunjungan saya kali ini adalah ke daratan Amerika, yaitu ke University of Texas at Austin. Tentunya saya datang ke perputakaannya. Berbagai tampilan dalam perpustakaan berhasil saya peroleh, salah satunya adalah ruang baca seperti gambar di bawah ini. Sebutannya sih "collaborative common"
sumber https://connectrac.com/wp-content/uploads/2014/06/PCLupdate020.jpg

Cakep kan? Oia, yang selalu menjadikan saya penasaran adalah apa sih kegiatan perpustakaannya?
Nah, dari tempat ini saya peroleh informasi, klik di sini. Perpustakaan ini menyelenggarakan berbagai kegiatan yang terangkum dalam event WORKSHOP. Sering sekali bro... cakep banget. Nah, saya penasaran nih, apakah semua diampu pustakawan? atau kolaborasi.


Salah satu materinya adalah Secrets of effective peer review, yang diampu oleh Professor Davida Charney. Ternyata perpustakaan berkolaborasi dengan dosen. Sebagian besar kegiatan dilaksanakan pada hari Selasa sampai Kamis.  Tantangan dalam mengelola, termasuk mencari pemari dari benyak materi, saya yakin marai mumet 7 keliling. Joss tenan..

Berikut beberapa tema kegiatan yang diselenggarakan di perpustakaan ini, mulai September sampai Desember 2015.

    1. Resumes that Get Results
    2. Time Management for Scholars
    3. Personal Statements: Standing Out While Fitting In
    4. Getting in your Teacher’s Head: Reading Prompts
    5. Create a podcast with Audacity
    6. Time & Procrastination
    7. Long Haul: Organizing Long Papers
    8. From Evidence to Argument
    9. Learning Commons Workshop: Short Video Production
    10. Better Together: Creating and Maintaining a Writing Group
    11. Digital Writing for Digital Natives
    12. Study Smarter Not Harder
    13. Secrets of Effective Peer Review
    14. Copyright and Academic Work
    15. Read Between the Lines
    16. Learning Commons Workshop: Public Speaking
    17. Learning Commons Workshop: Lights… Camera… Longhorns! Get Your Videos on the Web with iMovie
    18. Learning Commons Workshop: Book Repair for your Personal Collection
    19. Learning Commons Workshop: Using the Thesis/Dissertation Templates
    20. Learning Commons Workshop: Breaking Through Writer's Block
    21. Learning Commons Workshop: Academic Style is Not an Oxymoron
    22. Learning Commons Workshop: What is Version Control? Learn about Git/GitHub
    23. Learning Commons Workshop: Publishing While Studenting
    24. Learning Commons Workshop: Grammar and Punctuation
    25. Learning Commons Workshop: Cite it Right
    26. Inspiration & Research for Creative Writers
    27. Say it with Infographics
    28. Learning Commons Workshop: Publishing Digital Projects Using Scalar
    29. Learning Commons Workshop: Conducting and Writing a Literature Review
    30. Learning Commons Workshop: Death of the Red Pen: Responding to Grammar and Usage Errors Effectively
    31. Graduate Writing Retreat
    32. Learning Commons Workshop: Poster Design Workshop
    33. Learning Commons Workshop: Network Analysis with Palladio for Humanists
    34. Learning Commons Workshop: Writing a Research Paper
    35. Learning Commons Workshop: Grade Faster: Minimal Marking for Maximum Learning
    36. Learning Commons Workshop: Revising and Proofreading Papers
    37. Learning Commons Workshop: LinkedIn for Career Exploration
    38. Learning Commons Workshop: Surviving Finals
    39. Surviving Finals
    Informasi lengkap keterangan masing-masing materi, dapat dilihat di http://www.lib.utexas.edu/
    Ada kegiatan yang diberi label "learning commons workshop", Maksudnya apa ya? Kita analisis dulu, sik penting posting dulu.

    Semoga bermanfaat. 

                                                                                Wednesday, 2 December 2015

                                                                                ,

                                                                                Beberapa media simpan online di UGM

                                                                                UGM menyediakan berbagai layanan media penyimpanan online. Media ini dapat digunakan sebagai wadah pencadangan dokumen yang dimiliki oleh civitas. Misalnya data skripsi, agar tidak hilang karena virus atau sebab lainnya.

                                                                                GoogleDrive
                                                                                UGM menyediakan GoogleApps untuk civitas akademika, termasuk GoogleDrive dengan kuota unlimited. Warga UGM yang memiliki akun email @ugm atau @mail.ugm dapat masuk melalui ugmail.ugm.ac.id. Tapilan sama persis seperti menggunakan email GMail.

                                                                                Office 365.
                                                                                Office 365 dapat diakses menggunakan email UGM dengan alamat akses 365.ugm.ac.id. Ada kuota 1 TB yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan akademik.

                                                                                Simpan UGM.
                                                                                Layanan ini juga dapat diakses menggunakan email UGM, dengan alamat akses simpan.ugm.ac.id. Default layanan ini menyediakan kapasitas 7GB dan dapat ditambah sesuai kebutuhan. Layanan ini menyediakan fitur berbagi file baik via email atau URL.

                                                                                Tuesday, 1 December 2015

                                                                                ,

                                                                                Menengok layanan perpustakaan di negara lain: Queensland University Library

                                                                                Studi banding saya kali ini adalah di  Queensland University Library (QUL), alamatnya di https://www.library.uq.edu.au/. Sama seperti studi banding sebelumnya, saya mencari tahu layanan perpustakaan di QUL, selain sirkulasi.

                                                                                Setelah sampai di QUL, saya menemukan dua informasi, seperti ada dalam gambar berikut:
                                                                                Research dan Teaching support
                                                                                Research dan Teaching Support. Penasaran, saya ingin tahu apa peran perpustakaan dalam mendukung penelitian, hasilnya ada di bawah ini.
                                                                                layanan dukungan riset https://www.library.uq.edu.au/research-support
                                                                                Gambar di atas memperlihatkan informasi yang dihimpun perpustakaan untuk mendukung riset pemustaka. Mulai dari informasi kontak pustakawan, tips untuk peneliti pemula, document delivery, berbagai training penggunaan fasilitas dan TI, serta informasi terkait penerbitan (scolarly publishing, copyright, metric, impact factor). Jika ditelisik lebih jauh, masing-masing layanan ini akan memberikan berbagai cabang layanan.  Research Data Management, misalnya. RDM akan ditampilkan dengan pengertian dan konsep, serta video terkait. Referencing software, menampilkan berbagai pilihan dan layanan trainingnya.

                                                                                Layanan kedua adalah dukungan proses belajar-mengajar.
                                                                                dukungan belajar-mengajar https://www.library.uq.edu.au/teaching-support
                                                                                Pada layanan ini, kita lihat ada keterkaitan antara sumber belajar online dengan perpustakaan. Beberapa rekaman courses, informasi plagiarism dan lainnya.

                                                                                Berbagai layanan di atas, tentunya harus didukung dengan kemampuan SDM yang memadai, baik terkait konsep (copyright, IF, metric...) atau hardskill. Artinya, jika kita ingin juga mempunyai peran yang semakin berbobot dalam rangka ikut serta mendukung misi universitas, maka berbagai kemampuan terkait hard skill serta penguasaan pada berbagai isu dan konsep dunia informasi serta dunia penerbitan ilmiah harus kita kuasai.