Sunday, 12 January 2014

Bagi kami, banjir itu menyenangkan...

kang pithuk mencari ikan
Banjir, bagi banyak orang merupakan peristiwa yang menakutkan. Apalagi bagi orang yang rumahnya di perkotaan atau yang tinggal dekat  sungai.
Tapi tidak untuk kami, yang tinggal di desa.
Peristiwa ini saya alami ketika pulang ke kampung halaman liburan akhir pekan ini (11-12/1).


hasil perburuannya kang Pithuk
Kebetulan sesampainya di rumah, hujan turun dengan lebatnya, meski tak selebat hujan pertama musim hujan ini. Hujan lebat yang pertama pada musim hujan ini  sangat besar. Air meluap sampai ke persawahan di kiri-kanan sungai. Rumah sayapun terkena imbasnya, karena air masuk ke rumah. Hujan lebat pertama, menjadi hujan yang menyapu bersih berbagai sampah di sungai.
Saya jadi ingat, bahwa ketika hujan dan banjir banyak dimanfaatkan untuk mencari ikan di sungai.  Anak-anak menyusuri banjir dengan membawa ember dan "irik". Irik merupakan alat dapur yang terbuat dari bambu yang dianyam. Sela-sela anyaman dapat digunakan untuk lobang air, sehingga alat ini bisa digunakan untuk mencari ikan.
Meski menemukan satu orang yang mencari ikan diarus banjir ini, saya tidak menemukan "irik" yang digunakan. Seorang pencari ikan, sebut saja kang Pithuk menggunakan jaring kecil dan sebuah ember. Ikan yang didapatkan cukup banyak, meski tak sebanyak ketika hujan lebat pertama turun. Benceng, cethul, lunjar, wader dan jika beruntung bisa mendapatkan ikan lele.
Gunawan, teman saya sejak kecil sedang mancing

Selain mencari ikan, memancing kala hujan juga hal yang kerap dilakukan. Jika beruntung, ikan lele bisa dibawa pulang.  Sayangnya sejak ada aktifitas "menyetrum" dan "meracun", hasil dari memancing tidak sebanyak masa-masa dahulu.





Gunawan, bersama Sapto dan Kang Sunar sedang mancing
Hal yang tidak saya temukan ketika kemarin hujan lebat adalah mencari belalang. Konon, waktu hujan mereda dan masih tersisa gerimis adalah waktu terbaik untuk mencari belalang. Berbekal sebatang bambu dan semangat berlari, perburuan belalangpun dimulai. Bambu dipukulkan ke batang pohon dan rerimbunan daun, jika ada belalang di tempat itu pasti akan terbang. Terbang diwaktu hujan tentu sulit bagi belalang, maka akhirnya belalang akan terbang rendah dan menyentuh tanah. Kala itu, siapa berlari cepat dia akan dapat belalang. Selain itu, arah terbang belalang juga menentukan siapa yang beruntung mendapatkannya.

Hidup di desa itu menyenangkan...

Wednesday, 8 January 2014

jagongan dengan kang Amien Rakhmanto

tKaryo, Harjo dan Poltak tak menyangka, grenengannya  ada yang menanggapi. "Wah Kang, grenengan kita ada yang menanggapi, tapi sudah lama sekali dan baru saja aku membacanya", seloroh Karyo.
"Coba kita baca bersama kang, lalu kita coba telisik dan berikan tanggapan. Ndak enak, sudah dikunjungi kok kita tidak ngaruhke", timpal Harjo.
Kemudian mereka berdua membaca tanggapan dari pak Amien Rakhmanto, seorang programmer di sebuah perusahaan IT di Jogjakarta.

..."Lha coba kamu lihat, di Indonesia ini, banyak perpustakaan yang berlomba-lomba membuat sistem sendiri-sendiri. Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing. Ada yang dibiayai dengan duit negara. Lha coba, kalau yg bikin itu satu saja lalu di pake bareng-bareng, pasti lebih irit to kang.!"...
..."banyak perpustakaan yang berlomba-lomba membuat sistem sendiri-sendiri"...

Kang Amien:
Menurut saya, adanya berbagai macam sistem yg dikembangkan oleh masing - masing perpustakaan adalah buah dari kurangnya perhatian pemerintah yang berujung pada rancu-nya standar baku sistem perpustakaan. Ambil contoh dari proses katalogisasi, dari berbagai usaha untuk mengadopsi metode dari luar negeri semacam US Library of Congress - Marc Record, masih perlu banyak penyesuaian untuk bisa diterima dan digunakan di perpustakaan Indonesia. Penghargaan atas jerih payah penyusunan standar baku yg selama ini dilakukan (misal : INDOMARC) tidaklah berarti, jika tidak ada campur tangan pemerintah dalam hal penerapan kebijakan. Penerapan standar baku haruslah melingkupi semua aspek perpustakaan, sehingga menjadi acuan baik bagi perpustakaan, pengembang perangkat lunak perpustakaan, dan perusahaan pengembang perangkat keras untuk membangun sebuah sistem yang memiliki keseragaman "protokol". Keseragaman inilah yang dijadikan dasar bagi komunikasi antar sistem perpustakaan.

Tanggapan Karyo dkk:
"Wah, benar juga kang Amien ini. Perhatian pemerintah, semoga saja segera menjadi perhatian kepada perpustakaan ya kang". Demikian Karyo nyeletuk. "Lah, sekarang programmer yang membuat program perpustakaan ada juga yang asal jadi kok, setelah jadi dan dikaji sesuai teori juga ndak klop. Sedihnya, program perpustakaan ada yang masih egois dan tidak mendukung kerjasama antar perpustakaan", Harjo menambahi. "lah, programmer kan kerja berdasar pesanan. ya sah saja kalau buatan mereka tak sesuai standar, tapi sesuai pesanan", dari jauh Poltak datang dan berkomentar. "Memang saatnya sekarang, meski beda program ya biarkan sajalah, wong itu rejekinya sendiri-sendiri. yang penting standarnya sama dan diketahui orang lain, sehingga mudah jika berkolaborasi", Harjo menutup denga bijaknya.

... "Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing"...
Kang Amien:
Ketidakseragaman ini menjadi peluang bagi perusahaan pengembang sistem informasi perpustakaan untuk ikut andil dalam proses otomasi perpustakaan. Sadar atau tidak, perusahaan - perusahaan tersebut berperan dalam memajukan perpustakaan. Dalam proses pembangunan sistem, perusahaan dan perpustakaan saling bahu - membahu untuk mewujudkan sistem yang ideal, dan implikasinya adalah ... "Semua mengunggulkan sistemnya masing-masing"...
Tanggapan Karyo dkk: 
"Hmm, benar juga ya. Kalau ndak ada perusahaan IT dari mana perpustakaan bisa mendapatkan program untuk otomasinya?", Poltak berkata. "Loh, jangan ngenyek kang Poltak, sekarang ini beda dengan tahun 2009 atau tahun sebelumnya ketika kita dulu grenengan. Sekarang pustkawan sudah pada pinter. Beberapa perpusakaan, sistemnya dibuat oleh pustakawannya sendiri lho kang", demikian Karyo berkata.
"Semua turut andil, dan syukur sekali sekarang banyak program yang bisa dikembangkan, pustakawan semakin pinter sehingga bisa membuat program sendiri atau mengembangkan dari yang sudah ada. Akhirnya bisa mandiri dan tak tergantung pada pihak lain. Apalagi, sekarang sedang ngetren software yang berjenis opensource, lebih mudah lagi untuk otomasi", Poltak menyambung dengan gaya khasnya.

"Kita semua harus saling menghormati, yang mau bisnis di program otomasi ya dipersilakan, yang mau membuat sendiri dipersilakan, yang mau mengembangkan dari aplikasi yang sudah ada juga dipersilakan. Rejeki sudah ada yang mengatur", Harjo menutup komentar.


..."Lha coba, kalau yg bikin itu satu saja lalu di pake bareng-bareng, pasti lebih irit to kang.!"..."
Kang Amien:
Perkembangan teknologi seringkali melangkah jauh di depan, meninggalkan bermacam hasrat dan tawaran mengiurkan bagi pengguna dan pengelola perpustakaan untuk segera menikmatinya, diluar konteks kebutuhan dasar bagi perpustakaan itu sendiri. Masing - masing pengembang menawarkan inovasi sistem yang menjadi unggulan, dan tentu saja sisi positifnya adalah memperkaya khasanah sistem informasi perpustakaan disamping mengurangi angka pengangguran intelektual :) Jadi menurut saya lagi), irit dalam hal tertentu tidaklah sesuai yang kita bayangkan.

amien.rakhmanto@ptpci.co.id
Tanggapan Karyo dkk: 
Benar kang Amien. Monggo kita berlomba-lomba berinovasi..." Karyo menjawab. Poltak, menutup diskusi mengatakan, "tanggapan kang amien ini harus kita apresiasi lho karena itu menunjukkan kepeduliannya, dan kalau nanti ada yang menanggapi grenengan kita, jangan nesu lho. Kita harus senang dan menanggapi kembali". 
Harjo, ternyata masih menyambung, "bener, kan puskawan itu harus rajin diskusi, tukar pendapat dan semacamnya. Satu lagi, tidak anti kritik".

Wednesday, 1 January 2014

Siapa di balik media SLiMS?

Sejak SLiMS lahir tak dipungkiri media terutama internet menjadi hal yang penting dalam penyebaran informasi terkait SLiMS.
Saat ini, dalam menggerakkan medianya, SLiMS atau SDC mendapatkan bantuan dari komunitas pengguna dan simpatisannya.
Siapa saja itu?
  1. SLiMS.web.id sebagai penerus senayan.diknas.go.id. Web ini digawangi
    oleh personil SDC, namun hosting dan bandwith dari web ini merupakan donasi  simpatisan SLiMS dari Bogor (mas Eko Junaidi) dari Jupiter Data Center sejak awal dibangun. Kapasitas hosting terbilang besar dan mencukupi untuk menangani akses website
  2. SLiMS.web.id/forum. Web site forum ini menginduk pada slims.web.id, dalam menggerakkan web ini SDC dibantu oleh pegiat SliMS dari Makassar, saudara Azwar Muin
  3. Maskot SLiMS, "tarsius" merupakan desain dari mas Widianto. 
    Dari desain ini, muncul turunan maskot SLiMS; misalnya Tarsius Digital oleh Eddy Subratha, tarsius full-body oleh Zae Mahrus.
  4. GoSliMS.net, merupakan web yang memuat produk-produk komunitas. Dalam menggerakkan GoSLiMS.Net, admin web ditangani oleh pegiat SLiMS dari Purbalingga yaitu Waris Agung Widodo aka Ido Alit
  5. GoSliMS mendapatkan donasi hosting dan domain dari Suttehost yang dikelola oleh Ansari Saleh Ahmar (simpatisan SLiMS dari makassar)
  6. @slims_official, merupakan akun twitter resmi SLiMS. Admin twitter ini ditangani oleh Maryanto Jr. (pegiat SLiMS dari Jogjakarta)

jupiter.co.id
suttehost.com
tarsius


Friday, 27 December 2013

Nikmatnya hidup di desa


Libur akhir tahun 2013, tepatnya 25-26 Desember cukup dapat digunakan untuk bertamasya. Tanggal 26 Desember, kampung saya, di Nglipar Kidul, Nglipar GK Yogyakarta merupakan tujuan saya bersama istri dan keponakan. Naik motor, perjalanan 40-an kilometer kami tempuh dalam 1 jam.

Sampai di rumah,  sungai adalah tujuan pertama saya. Memang sajak lama saya ingin sekali merasakan kembali mandi di sungai. Mandi di sungai kami sebut dengan "jeguran". Di tegalan (area bercocok tanam) dekat sungai, saya temukan beberapa orang -sebut saja kang Yoto dan mbah Darmo- sedang mengangkut bibit sengon laut dan jati. Katanya akan ditanam di tempat lain dan nantinya dijual setelah berumur. Bibit ini merupakan bantuan dari pemerintah daerah yang dikembangkan dan kemudian dibagian ke warga. Selain itu, sebut saja GunGun dan Wandi yang pulang dari mencari rumput. Biasanya, setelah mencari rumput, warga melakukan ritual mandi di sungai ini sebelum pulang ke rumah.

Sungai seperti dalam gambar, bernama Kali Banger. Banger, berarti berbau. Konon kabarnya, ketika musim tertentu air sungai ini mengeluarkan bau yang tidak sedap. Pada masa kemarau, sebelum ada saluran air minum dari perusahaan pemerintah masuk di desa saya, kami antri ambil air di sungai ini. Antri air pada waktu itu dilakukan menjelang magrib dan ketika subuh. Ketika antri mengambil air, warga desa ini asyik dalam suasana kekeluargaan sambil membicarakan berbagai hal. Antri air menjadi sarana berdiskusi warga. Sayangnya, setelah layanan air dari perusahaan daerah masuk desa, suasana antri air tak lagi ditemukan.

Warga di desa saya ini sungguh merupakan para pekerja keras. Pagi-pagi mereka sudah ke sawah, untuk bercocok tanam, merawat tanaman atau mencari rumput. Memandikan ternak, bercengkrama dengan warga lain, gotongroyong, kerja bhakti merupakan hal-hal yang lumrah dilakukan.
Relatif jauh dari hiruk pikuk berdebatan politik yang membosankan, dekat dengan alam yang begitu menakjubkan dan penuh kreatifitas dalam berkarya.

bibit jati dan sengon laut
mencari rumput
mengangkut bibit

motor multi fungsi

renang disungai

renang















Wednesday, 25 December 2013

Merancang Visi dan Misi Komunitas SLiMS Indonesia

FFF by Eddy Subratha
Ketika diskusi tentang SLiMS, ada seorang rekan pegiat komunitas yang bertanya, "mau dibawa ke mana komunitas ini?"

Pertanyaan ini saya kira beralasan, karena memang belum ada panduan tertulis tentang arah dari komunitas. Komunitas SLiMS yang bergerak dengan semangat gotong royong dan paguyuban.
Sebagai sebuah komunitas yang menyandarkan diri pada perangkat lunak, di luar komunitas ini ada juga komunitas software: Komunitas Blender, Linux, Ubuntu, Blankon, Mysql dan lainnya. Di dunia perpustakaan, pernah ada ISIS dan juga Atheaneum serta aplikasi lainnya. Nama pertama pernah populer pada masanya, menjadi aplikasi otomasi perpustakaan pilihan. Nama terakhir memiliki alamat blog komunitas di http://kali-indonesia.blogspot.com/.
Memang tantangan antara satu komunitas dan komunitas lainnya berbeda, nah  bagaimana dengan SLiMS?
Saya pernah menulis tentang Komunitas SliMS (di sini), melanjutkan tulisan itu dan didorong oleh rekan komunitas yang menyarankan bahwa semestinya komunitas punya panduan berupa visi dan misi, maka saya coba tulis konsep visi misi komunitas SLiMS Indonesia.

Nama:
Komunitas SLiMS ....., yang berciri paguyuban.

Anggota:
Pustakawan, tenaga perpustakaan, pengelola perpustakaan, pengelola TBM, mahasiswa, guru, masyarakat dan lainnya.

Model keanggotaan:
terdata, diberi kartu anggota atasnama perpustakaan atau pribadi dengan hak dan kewajiban tertentu
(untuk model keanggotaan ini sangat opsional, bisa dengan kartu anggota bisa juga tanpa kartu anggota)

Visi:
Mewujudkan pengelola perpustakaan yang berpengetahuan luas, terampil serta mandiri demi terwujudnya perpustakaan yang ideal.

Misi:
  1. meningkatkan pengetahuan terkini dalam bidang kepustakawanan
  2. meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan perpustakaan
  3. meningkatkan kemampuan teknologi informasi
  4. menyebarkan aplikasi berbasis opensource kepada para pengelola perpustakaan dan pemerhati perpustakaan
  5. bekerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan perpustakaan dan pengelola perpusakaan
  6. melakukan kegiatan berbagi pengetahuan secara berkala
  7. membuat produk komunitas
Jika misi di atas diturunkan dalam bentuk kegiatan, maka kira-kira Komunitas SLiMS akan melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya:
  • meningkatkan pengetahuan terkini dalam bidang kepustakawanan, dalam bentuk belajar bersama tentang: (dalam hal ini komunitas wajib membaca keadaan, atau tren yang berkembang dalam dunia perpustakaan)
    • literasi informasi
    • etika profesi
    • manajemen perpustakaan
    • kepemimpinan
    • strategi mengelola perpustakaan (pengalaman pengelola perpustakaan yang berada dalam lingkungan terbatas, namun dapat sukses patut dijadikan narasumber. Atau bisa juga kerjasama dengan praktisi lain)
    • evaluasi informasi di internet 
    • ....
  • meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan perpustakaan, dalam bentuk belajar bersama tentang:
    • pengolahan koleksi
    • klasifikasi
    • tata ruang perpustakaan
    • SOP
    • pengembangan koleksi
    • ....
  • meningkatkan kemampuan teknologi informasi, dalam bentuk belajar bersama tentang:
    • optimalisasi mesin pencari (google, bing dll)
    • pemasangan, dan penggunaan sistem informasi perpustakaan SLiMS
    • penggunaan google drive dan aplikasi cloud lainnya
    • instalasi linux, blender, GIMP,  dan penggunaannya
    • instalasi Xmind, drupal, wordpress, zotero, mendeley, Lyx dan belajar penggunaannya
    • tips membuat presentasi menarik
    • programming sederhana
    • modifikasi fitur sistem informasi perpustkaan SLiMS
    • ....
  • menyebarkan aplikasi berbasis opensource kepada para pengelola perpustakaan dan pemerhati perpustakaan
    • instalasi sistem informasi perpustakaan SLiMS pada berbagai perpustakaan, baik secara probono maupun berbayar
    • menyelenggarakan pelatihan penggunaan sistem informasi perpustakaan berbasis opensource (pelatihan berbayar: keuntungan finansial bisa digunakan untuk menggerakkan komuntitas, memberi kenang-kenangan pada narasumber dari pihak luar dll)
    • ....
  • bekerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan perpustakaan dan pengelola perpusakaan
    • ATPUSI, KPLI, IPI, programmer,  Perpusda, Perpus kota, akademisi jurusan perpustakaan, akademisi bidang lain dalam bentuk kerjasama acara atau mengundang sebagai narasumber belajar bersama.
    • Komunitas juga dapat mengundang para pustakawan (praktisi), atau pengelola TBM untuk berbagi pengetahuan.
    • ....
  •  membuat produk komunitas
    • membangun katalog induk, (sebagai sarana belajar dan juga mempererat hubungan antara anggota komunitas)
    • membuat fitur baru dari aplikasi (SLiMS) sesuai kebutuhan anggota
    • membangun taman bacaan (siapa tahu ada komunitas yang dapat mengembangkan komunitasnya menjadi yayasan :) ) 
    • ....
Pendanaan:
  • iuran ketika belajar bersama (misal sekali pertemuan Rp2000)
  • pendaftaran pelatihan profesional (pelatihan berbayar) --> berdasarkan situasi dan kondisi di masing-masing komunitas
  • jualan jasa, baik kepada institusi atau kepada perorangan. Misalnya jasa implementasi SLiMS di institusi tertentu yang meminta, atau kerjasama dengan perpustakaan daerah mengisi acara workshop SLiMS untuk sekolah, dll. 
Tempat kegiatan
  • sekolah tempat anggota komunitas bekerja
  • pos ronda
  • masjid
  • balai desa
  • rumah anggota
  • kerjasama dengan instansi
  • ruang publik lainnya


------
Visi dan misi ini, tentunya dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pengelola masing-masing komunitas.
Pimpinan Komunitas dituntut untuk jeli melihat situasi tentang kebutuhan komunitasnya, trend bidang perpustakaan yang sedang berkembang, dan jangan selalu terjebak pada jumlah anggota atau jumlah yang datang ketika mengadakan kegiatan.
Satu, dua, tiga, empat orang yang datang tidaklah jadi persoalan.

Tuesday, 24 December 2013

Peta Fitur SLiMS

Ini adalah peta fitur dalam SLiMS:
Ukuran asli, unduh di sini,  
versi 2.0 di sini
Ini adalah peta fitur yang ada di SLiMS. Tak terasa sejak 2008 sampai saat ini, rekan-rekan pengembang SliMS khususnya para programmer, database design, konseptor dan juga komunitas pengguna telah memasang berbagai fitur dalam SLiMS.
Peta yang ada belum merepresentasikan fitur dalam SLiMS secara keseluruhan.


Tuesday, 17 December 2013

Seni "thek-thek"

Kentongan, alat komunikasi   ini sangat dikenal secara luas. Kentongan dapat dibuat dari bambu atau kayu.
Kentongan yang dibuat dari bambu, di kampung saya biasanya digunakan untuk bunyi-bunyian pada saat ronda kampung, atau karnaval 17-an.
Hal inilah yang kemudian menginspirasi Tugino -seorang seniman yang bertempat tinggal di Gondang Rejo, Gari Wonosari- membentuk kelompok kesenian yang memanfaatkan bambu sebagai bahan membuat gamelan.  Layaknya gamelan pada umumnya, alat musik dari bambu ini juga terdiri dari beberapa unsur gamelan. Meskipun ada beberapa tambahan alat musik non-bambu. Misalnya kendang, siter, kecrek. Sedangkan gambang, dan bahkan Gong terbuat dari bambu.
Bunyi yang dihasilkan, dipadu dengan suara waranggono yang merdu tentunya nyaman dinikmati.
Nuansa etnik kental terasa.

beraksi

siap-siap

dados lurrr

Saturday, 14 December 2013

Nyinom dan rewang: wujud persaudaraan yang harus dilestarikan

Tulisan sederhana ini saya dedikasikan untuk tetangga, keluarga, rekan, sahabat dan semuanya yang telah membantu gawe orang tua saya pada awal bulan (12/13).  Sungguh, kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segenap bantuan dari awal hingga akhir. Mohon maaf jika selama acara ada banyak kesalahan kami selaku tuan rumah. 

-------

Tanggal 1 dan 2 Desember tahun 2013 ini orang tua saya punya gawe. Ngunduh mantu, tasyakuran pernikahan adik saya.

masak mburi
Ada hal menarik yang hendak saya ceritakan tentang acara ini.

Ketika ada yang punya gawe, di kampung muncul kegiatan “nyinom” atau “rewang”. Kegiatan ini merupakan wujud dari kekeluargaan atau gotong royong di desa.

Nyinom merupakan istilah yang digunakan untuk kaum laki-laki, sedangkan rewang biasanya digunakan untuk kaum perempuan. Nyinom bagi kaum laki-laki dilakukan dengan membantu si empunya rumah dalam menyukseskan “gawe”. Misalnya: memasak air, mencuci gelas, melayankan makanan, melayani tamu, mencari daun untuk bungkus makanan, memasang dekor, menata meja kursi,  mengelola parkir dan lain sebagainya.

hiburan "thek-thek" (alat musik dari bambu)
Sedangkan rewang, biasanya dengan masak nasi, masak lauk, menata bumbu, membungkus nasi, memotong kue dan lainnya.

Kegiatan ini dilakukan layaknya orang kota, ada panitia dengan strukturnya.  Kepanitiaan dibentuk beberapa waktu sebelum hari H, setelah terbentuk kemudian dilakukan “klumpukan” (berkumpul). Menjelang hari H, para panitia ini mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk hari H. Mulai dari mencari/meminjam meja kursi, piring, membuat panggung dan lain sebagainya.

njayengan
Munjung, merupakan acara yang biasanya dilakukan H-1. Acara ini berwujud kegiatan mengirim makanan kepada para saudara si empunya gawe dan juga kepada perangkat pemerintahan terutama dusun dan desa.

Punjungan kepada perangkat desa/dusun inilah yang kadang jadi simalakama. Karena perangkat pemerintahan yang dikirimi “punjungan” otomatis “harus” ikut “nyumbang”. Nyumbang merupakan kegiatan mendatangi orang yang punya gawe, baik diundang maupun tidak dan memberikan sumbangan berupa bahan makanan atau uang. Bayangkan! jika dalam sebulan, seorang perangkat desa/dusun dipunjung 10 orang dan kepada tiap orang rata-rata menyumbang 25.000. Maka sudah Rp250.000 dikeluarkan dalam sebulan. 

Di desa, tamu tidak harus dengan undangan. Tetangga dekat, biasanya datang dengan tanpa undangan. Justru menjadi tidak etis jika tetangga dekat diminta hadir dengan diberi undangan resmi.

###

Jangan kaget, jika pada hari H, antara sinoman laki-laki dan perempuan, justru para perempuan lebih
persiapan
dulu datang. Mereka datang pada bagi buta dan langsung memasak, sementara biasanya laki-laki datang pada pagi harinya. Untuk siapa para wanita yang datang pagi buta ini memasak? Untuk para sinoman laki-laki.
Ketika pagi, sinoman laki-laki datang, pertama kali langsung dipersilakan sarapan dengan masakan yang hasil olahan para rewang perempuan yang datang lebih dulu. Baru ketika sinoman laki-laki selesai sarapan, para perempuan ini makan.
Jangan heran, inilah wujud pengabdian para perempuan ini kepada laki-laki. Hal ini juga berlaku ketika makan siang dan sore. Para perempuan akan makan setelah sinoman laki-laki makan. Betama mulianya para wanita.

Beberapa kegiatan selama gawe ada beberapa macam.
Laden, merupakan kegiatan menyajikan makanan dan minuman kepada tamu. Biasanya laki-laki menggunakan “beki” atau semacam nampan untuk membawa makanan dan minuman. Kemudian penerima tamu yang selalu siap diruang utama sigap menurunkan makanan dan minuman ini untuk tamu.

adang sego
Among tamu, merupakan bagian yang menyiapkan tempat duduk sekaligus mempersilakan tamu untuk duduk. Among tamu harus pintar-pintar mengatur lokasi agar tidak sampai penuh. Among tamu biasanya koordinasi dengan bagian “prasmanan”. Bagian prasmanan mengatur alur antrian makan. Kerjasama dua bagian ini akan melancarkan proses makan para tamu dan juga menjaga agar ruang tamu yang digunakan transit tamu tidak penuh. Ketika tamu sudah duduk sementara waktu sambil minum, kemudian dipersilakan makan di ruang prasmanan lalu pulang. Demikian seterusnya silih-berganti

Jayengan, merupakan bagian yang tugasnya membuat minum. Meski cuma membuat minum, tugas juruh”. Juruh merupakan air putih panas yang diberi gula. Juruh digunakan untuk campuran membuat teh, atau sekedar membuat air putih manis panas.
ini juga berat. Dia harus menjaga agar suplai air panas tidak tersendat, kemudian digunakan untuk membuat teh dan juga “

Adang, merupakan kegiatan memasak nasi. Ini juga berat, karena harus memastikan suplai nasi yang telah masak tidak tersendat untuk melayani tamu. Bayangkan jika tamunya datang bersamaan, dan bagian ini tidak sigap, pasti akan terjadi kekacauan. Adang biasanya dilakukan dengan soblok atau panci besar dan memasaknya menggunakan kayu bakar.

Para sinom di bagian adang dan jayengan harus punya pandangan yang prediktif, harus tahu kapan waktu-waktu tamu datang dalam sehari.

Selain beberapa bagian di atas, ada bagian lainnya yang tak bisa dianggap sepele. Pengelola snack (gedhong njero) yang menyiapkan makanan kecil untuk tamu, pencatat tamu dan bawaan tamu, “uleh-uleh” yang harus sigap menyerahkan nasi dan lauk kepada tamu yang hendak pulang. Bagian uleh-uleh ini juga harus jeli agar “tenggok” yang dipakai tamu membawa barang sumbangan tidak tertukar. Ada lagi bagian perparkiran, asah-asah (mencuci piring), dan lainnya.

Apa yang dilakukan oleh si empunya gawe  ketika acara ini? Mereka duduk saja menunggu tamu. Tabu jika ada anggota keluarga ikut membantu teknis acara. Saya pernah ketika gawe tanggal 1-2 Desember ini iseng membantu laden, alhasil saya ditegur, “mboten wonten tiyang sanes nopo mas?” (apa tidak ada orang lain yang bisa bantu mas?). Padahal saya ikut laden hanya sekedar ingin merasakan nuansa laden yang pernah saya lakukan ketika tetangga punya gawe.

Kesemua bagian ini dipimpin oleh ketua sinoman. Ketua sinoman terdiri dari ketua sinoman laki-laki dan perempuan. Ada pula yang menentukan wakil keluarga yang punya gawe pada struktur
kepanitiaan. Wakil keluarga ini berguna sebagai rujukan jika ada permasalahan yang membutuhkan si empunya gawe untuk menyelesaikan.

Demikian, tulisan singkat tentang tradisi yang ada dikampung saya, Ngliparkidul, Nglipar GK Yogyakarta. Jika ada update, akan saya susulkan sebagai tambahan tulisan.

Pada artikel berikutnya, saya akan ceritakan seni etnik yang pernah mengiringi acara tasyakuran di tempat saya.



Friday, 13 December 2013

Buah manis perjuangan komunitas pustakawan

Duaribu tigabelas adalah tahun yang istimewa untuk kami, Tim SDC (SLiMS Developers Community). Tahun ini SLiMS lebih dikenal lagi oleh berbagai kalangan pengelola perpustakaan. Hanya dibutuhkan usaha untuk mengunduh, mempelajari dan kemudian mengimplementasikan pada berbagai jenis perpustakaan.
Tahun ini pula, SLiMS mendapat testimoni dari seorang pegiat SLiMS (istilah ini digunakan untuk menyebut sosok aktivis SLiMS) dari Australia yang dikenal dengan Guru Jim. “SLiMS is too good to be a secret - I want to help share it with the world”, begitu katanya. Jim juga berkesempatan membuat testimoni dalam bentuk video.
peserta slimscommeet 2013
Daniel D’Esposito dari Huridocs Executive Director pun tidak kalah dalam mengomentari SLiMS, “I amhoping it will be the winner so we can promote it like crazy”, tulis Daniel di sebuah artikel.
Selain itu, perjuangan mengenalkan pada para pustakawan bahwa kita (Indonesia) punya aplikasi SLiMS yang dapat digunakan oleh berbagai jenis perpustakaan; dan dapat menekan biaya yang biasanya dikeluarkan oleh perpustakaan terasa manis pada akhir tahun 2013 ini.

SLiMSCommeet (SLiMS Community Meetup) yang digelar di Bogor tanggal 7 - 8 Desember 2013 adalah buktinya. Commeet kali ini dihadiri oleh komunitas SLiMS dari Thailand, Mr. Prasitichai dan Mr. Rappepong. Hal yang lebih menggembirakan lagi, ternyata rekan-rekan pegiat SLiMS Thailand ini menggunakan SLiMS untuk perpustakaan daerah di Thailand. Sungguh kepercayaan yang luar biasa.

Tidak mau kalah dengan komunitas SLiMS Thailand, komunitas SLiMS dari Indonesia yang hadir pada Commeetpun punya cerita menarik. Kami, para developer pernah berfikir; 

bersama slims thailand
tak terbayangkan sebelumnya hanya karena sebuah software, rekan-rekan pegiat SLiMS dan perpustakaan rela berjibaku datang jauh-jauh dari berbagai pulau di Indonesia untuk datang dan berkumpul.

Tak ada keuntungan finansial ketika datang di acara ini bahkan mungkin justru banyak yang dengan dana sendiri. Namun begitulah, kami ucapkan banyak terimakasih pada para pegiat SLiMS di berbagai tempat. Semoga kita semua dapat lebih memajukan perpustakaan kita di tahun 2014 nanti.

Thursday, 12 December 2013

[Terima Kasih 2013] Tahun Menemukan Bentuk Ideal Perpustakaan

dimuat dalam: citizen6
Tahun 2013 adalah tahun kedua saya diberi amanah menjadi penanggungjawab perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), tepatnya sejak Mei 2012.

Dengan kondisi perpustakaan yang baru direnovasi, koleksi yang disusutkan 80% menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Renovasi perpustakaan sendiri, meski sudah diresmikan pada awal 2012, baru secara penuh selesai di bulan-bulan akhir 2012.

Memposisikan perpustakaan fakultas di antara perpustakaan jurusan yang sudah mapan secara koleksi dan layanan merupakan sebuah tantangan. Akhirnya saya membuat rencana strategis dalam pengembangan; pertama penataan ruang secara berkelanjutan, pengembangan kemampuan staf, pengadaan koleksi khas, dan pengembangan kegiatan kreatif.

Perpustakaan kami bagi menjadi 2 kategori ruang; merah untuk ruang khusus belajar mendiri dan tak boleh ada diskusi, hijau untuk ruang yang dapat digunakan untuk diskusi dengan suara rendah. Beberapa asesoris perpustakaan juga berhasil kami wujudkan pada tahun ini. Teman-teman pustakawan pun kami ajarkan berbagai tips mencari informasi di internet dan juga workshop tools akademik.

Pengadaan koleksi khas yang berupa novel, cerpen, biografi, filsafat, dan semacamnya ternyata mendapat sambutan dari mahasiswa. Hal ini sangat wajar, karena di fakultas hanya kami yang menyediakan koleksi non-teknik seperti ini.

Pengembangan kegiatan kreatif juga menjadi inti yang kami kembangkan. Jika ada mahasisswa yang mencari koleksi artikel jurnal dan tidak dimiliki perpustakaan atau tidak dilanggan perpustakaan, kami bantu untuk mendapatkannya dari berbagai jejaring yang kami miliki. Tawaran berbagai workshop terkait tools akademik juga mendapat sambutan. Ada workshop zotero, mendeley, lyx, pencarian jurnal, dan prezi.

Selain itu, kami mengajak mahasiswa untuk berkegiatan di perpustakaan. Bedah buku, diskusi, dan juga yang baru-baru ini kami lakukan adalah membuat Library English Club.

Sambutan datang tidak hanya dari mahasiswa, namun staf (karyawan) juga mulai memanfaatkan jasa perpustakaan. Dosen juga mulai ada yang berkontribusi dalam pengembangan perpustakaan dengan mengisi workshop, memberi masukan dan menyumbangkan koleksi. Di 2014, saya berharap apa yang telah kami lakukan dapat terus dikembangkan dengan berbagai perbaikan. (mar)

Penulis
Purwoko
Yogyakarta, tamanjxxx@gmail.com