Monday, 18 April 2022

Wajah publikasi Prof. Jonner, guru besar baru bidang Ilmu Perpustakaan

Paijo kembali melanjutkan petualangannya. Setelah sebelumnya mencoba menyajikan publikasi 3 guru besar ilmu perpustakaan di Indonesia, kali ini Paijo hendak menelisik wajah publikasi per guru besar. Khususnya guru besar baru.

Dimulai dari Prof. Jonner Hasugian. Paijo melacak publikasi Pak Jonner dari beberapa sumber, di antaranya seperti tertulis di bawah ini. 

  1. Repo USU dengan kata kunci Jonner Hasugian, tahun dokumen antara 2010-2019
  2. Repo USU dengan kata kunci Jonner Hasugian, tahun dokumen antara 2020-2021
  3. Repo USU dengan kata kunci Jonner Hasugian, tahun dokumen antara 2020-2022
  4. Laman Google Scholar Jonner Hasugian https://scholar.google.com/citations?user=Miyd7poAAAAJ&hl=id&oi=ao
  5. Sumber lainnya, termasuk profil Scopus.
Hasil rekapnya disajikan pada tabel di bawah, atau klik ini untuk tampilan layar penuh. Oia, hanya ditampilkan publikasi antara 2010-2022, dengan asumsi paper/publikasi rentang tahun inilah yang digunakan sebagai syarat meraih guru besar. Data yang mengarah ke tugas akhir mahasiswa, kami keluarkan.

Kemudian, jika paper tidak menyebut secara jelas tahun terbit, maka identitas tahun diperoleh dari tampilan di laman repo. Sebenarnya bisa jadi tahun yang tampil bukan tahun publikasi dokumen, melainkan tahun upload ke repo. Tapi biarlah... wong ini cuma iseng saja, kok.

Ada pula paper yang tidak memiliki kata kunci. Untuk paper seperti ini, maka kata kunci ditambahkan sendiri. Ya, tentu sangat subyektif. Tapi tidak apa-apa. Kata kunci tambahan juga disertakan pada tabel di bawah. Bisa dikoreksi jika keliru.

Beberapa informasi di atas menjadi batasan dari analisis pada tulisan ini.

****



Berdasar daftar di atas, jika dikategorikan berdasar jenis publikasi, Pak Jonner memiliki 4 publikasi jurnal, 2 prosiding, 16 yang (kami) kategorikan repository, 1 laporan penelitian, dan 2 buku.

Dari 4 publikasi jurnal, 2 di antaranya jurnal nasional; serta 2 jurnal internasional yang salah satunya masih terindeks Scopus dan sisanya tak lagi diindeks Scopus (discontinued).

Kata kunci publikasi. Versi online klik di sini

Pak Jonner, pada pidato guru besarnya menyampaikan tema bibliometrik. Jika dilihat pada daftar publikasi di atas, melalui sebaran kata kunci, bibliometrik memiliki angka kemunculan 3. Hal ini berarti ada 3 karya publikasi Pak Jonner terkait bibliometrik. 

Bibliometrik memiliki angka kemunculan yang sama dengan repository dan information resources. 

Untuk link strength, bibliometrik kalah dengan information resources. Juga kalah dengan library use, gratification obtained, gratificatuon sought. Padahal 3 kata kunci terakhir ini occurrences (kemunculannya) lebih rendah dari bibliometrik. Hal ini berarti kajian bibliometrik yang dilakukan masih kurang variasi areanya (tidak banyak berhubungan dengan keyword lain).

Angka kemunculan 11 kata kunci teratas, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Kemunculan kata kunci

Tiga karya Pak Jonner terkait bibliometrik yaitu:Analisis Bibliometrika terhadap Publikasi Hasil Penelitian AIDS di Indonesia, buku berjudul Bibliometrika, dan Analisis Sitiran Terhadap Disertasi Program Doktor (S-3) Ilmu Kedokteran Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Oia, satu lagi, yang agaknya juga berkaitan dengan bibliometrik: Faktor Dampak Jurnal dan Pengindeksan (Journal Impact Factor and Indexing). 


Kesimpulan
Karyo: "Trus kesimpulanmu apa, Jo?"
Paijo: "Aku tidak mau menyimpulkan, Kang!"

Agaknya Paijo tidak membuat kesimpulan. Dia lebih ke ingin menyajikan data, semampu dia. Idep-idep buat latihan nulis. 


Friday, 15 April 2022

Fakta-fakta pemilihan rektor UGM 2022

Pemilihan tahun ini untuk memilih rektor ke-17

Sejak awal berdiri, jika dihitung maka rektor yang akan terpilih pada tahun ini merupakan rektor ke-17

Peluang deret cantik dari FK

Bagi Bu Ova (calon dari FKKMK), ada peluang membuat deret angka cantik jika beliau berhasil jadi rektor. Deret tersebut yaitu: 1,7,17. 
Deret ini terbentuk karena rektor ke-1 dari FK, rektor ke-7 dari FK. Maka jika disandingkan jadi angka 1&7 = 17. 

Jika Bu Ova berhasil jadi rektor, juga akan menjadi rektor perempuan pertama yang terpilih melalui proses  sejak awal. Rektor perempuan sebelumnya, Bu Rita, tidak melalui proses penuh sejak awal.

Bagi FT, ini peluang hatrick

Pada dua periode terakhir, Rektor UGM dari FT. Tahun ini peluang hatrick terbuka luas. Di atas kertas, jika dipetakan fakultas, FT UGM punya paling banyak alumni di MWA. Dosen FT juga ada yang di Kemendikbud. Ya, siapa tahu diminta pendapat/pertimbangan. 😀

Mendikbud kayake masih punya suara. 

Bagi Pak Ali Agus, ini "pertarungan" ke-2, dan sangat mungkin kesempatan terakhir sebelum pensiun.

Perjuangan benar-benar harus dilakukan Pak Ali Agus. Sebagai finalis pada pemilihan periode 2017, tentunya Pak Ali punya motivasi lebih ketika kembali mencalonkan diri.

Berhentinya pola FISIPOL-FT

Sejak 1998, sampai Pak Panut, pola rektor UGM yaitu: FISIPOL-FISIPOL, FT, FISIPOL, FT, FT. Jika deret ini konsisten, maka tahun ini seharusnya FISIPOL.
Namun, FISIPOL absen pada pilrek tahun ini.

FT tetap konsisten dengan >1 calon

Beberapa periode pemilihan rektor, FT selalu memiliki pendaftar lebih dari satu orang. 



Wajah publikasi 1 Profesor LIS Malaysia, bandingkan dengan dari Indonesia

Setelah memetakan publikasi 3 guru besar ilmu perpustakaan di Indonesia, atas saran seorang kawan, dilanjutkan dengan membandingkan dengan guru besar ilmu perpus negara tetangga.

Dari web ini IIUM: Staff Directory, saya temukan 1 nama yang profilnya mengarah pada: dosen di bidang perpustakaan dan informasi, serta sudah mencapai derajad Profesor: Roslina Bt. Othman.

Dataset bentuk csv dapat diunduh di sini.

Nah! Agar jeruk to jeruk, alias sejajar, maka saya coba cari juga daftar publikasinya yang terindeks Scopus. Hmm, sebenarnya tidak benar-benar jeruk to jeruk, ya. Karena yang Indonesia 3 nama, yang Malaysia saya baru dapat 1 nama. Tapi tak apalah.

Karyo: "Kok Scopus lagi, Jo?"

Paijo: "Lho, ya biar sama dengan yang sebelumnya, Kang."

profil 

Ketemulah laman profil ini. 

Laman profil ini sudah membuat saya ngilu. Dari jumlah dokumen, pada 1 orang guru besar saja, mencapai 37. Hampir 4 kali lipat gabungan 3 guru besar ilmu perpustakaan di Indonesia.

***

Kita lihat detailnya.


Dari tahun terbit, publikasi Bu Raslina dimulai tahun 2004. Bisa dibandingkan dengan guru besar dari Indonesia.

jejaring penulis

Asal jejaring penulis pun tidak hanya dari 1 negara saja. Ada 4 negara lain, selain Malaysia, yang bersama-sama Bu Raslina menulis. Jejaring antar penulis bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Klaster jejaring antar penulis


Dari 37 paper, memunculkan 129 kata kunci. Klaster dan jejaring kata kunci tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.


Dari 129 kata kunci, berbeda dengan 3 guru besar dari Indonesia, tidak ditemukan kata kunci spesifik Covid-19. Adanya "pandemic" yang muncul 1x bersama dengan learning gain, KM, dan syncronous learning.

Kata kunci yang baru berhubungan dengan ethic, kajian pemikiran, SNA, r-programming, dan semacamnya. Di bawah ini saya tampilkan kata kunci yang average pub years-nya paling tinggi.



Tampilan jejaring kata kunci secara online dapat dilihat di bawah ini.



Kesimpulan

Jika dibandingkan dengan publikasi guru besar ilmu perpustakaan di Indonesia, maka dapat kita lihat bahwa sesungguhnya....

Titik-titik dapat diisi sendiri.

[[ selesai ]]



Thursday, 14 April 2022

Publikasi 3 Profesor Ilmu Perpustakaan di Indonesia: sudah menggembirakan atau belum?

Setidaknya sampai saat ini, detik ini, pas saya nulis ini, ada tiga profesor atau guru besar bidang Ilmu Perpustakaan di Indonesia. 

Pertama, Sulistyo Basuki. Menurut data di sini, Pak Sulis memperoleh gelar profesornya pada 1995 dari Universitas Indonesia. Cukup lama Pak Sulis menjadi satu-satunya guru besar di bidang perpustakaan di Indonesia. Bertahun-tahun tak ada orang lain yang mampu menyusulnya.

Setelah sekian lama tidak ada guru besar baru, bahkan sampai Pak Sulis pensiun, baru pada tahun 2022 muncul guru besar baru. Pak Jonner Hasugian, yang menurut berita di sini, dikukuhkan pada 2022. Pak Jonner merupakan dosen di Universitas Sumatra Utara, tentu saja departemen ilmu perpustakaan.

Setelah Pak Jonner, pada tahun yang sama, ada Pak Nurdin Laugu dari Univ Islam Negeri Sunan Kalijaga yang meraih guru besar.

Nah. Guru besar tentu saja merupakan orang yang sangat mumpuni pada bidang ilmu tertentu. Mereka pasti banyak bergelut pada bidang penelitian, kemudian diterbitkan. Terbitan inilah yang  menjadi salah satu syarat mereka memperoleh jabatan guru besar. Konon begitu katanya.

Sebagai guru besar, ilmunya sudah menjulang tinggi. Melampaui sejawatnya yang masih lektor atau lektor kepala. 

Lalu, seperti apa wajah publikasi mereka?

***

Saya coba cari di database Scopus. Mengingat database ini menjadi salah satu tolok ukur pengajuan guru besar. Setidaknya demikian syarat dalam panduan pengajuan angka kredit yang dibuat oleh Dikti tahun 2019.

Karyo: "Kok cuma Scopus, Jo?"

Paijo: "Sik gampang tur cepet, Kang."

Saya telusuri ID Scopus 3 guru besar ini, kemudian dijadikan bahan untuk membuat rumus pencarian. 

Ini rumus yang saya gunakan: AU-ID ( "Nurdin, L."   57214073491 )  OR  AU-ID ( "Hasugian, Jonner"   57205436668 )  OR  AU-ID ( "Basuki, Sulistyo"   56496954400 ).

Pencarian menghasilkan 10 dokumen.

Total publikasi masing-masing GB

Pak Nurdin, meskipun paling baru sebagai guru besar, memiliki paper paling banyak.


Co-authornya Pak Nurdin

Pak Nurdin, yang memiliki 4 publikasi, ternyata ditulis dengan 4 orang lainnya. Artinya rata-rata 1 paper ditulis berdua dengan orang lain. Beberapa nama, sepertinya mahasiswa(nya), serta yang lain sesama dosen di kampusnya.

Co-authornya Pak Sulis

Cukup banyak co-author pada 3 publikasi Pak Sulis. Beberapa nama agaknya mahasiswa bimbingannya. Saya malah tidak menemukan (mengenal) nama yang merupakan dosen ilmu perpustakaan.


Sebagian penulis jejaringnya Pak Jonner


Cukup banyak penulis jejaringnya Pak Jonner, padahal papernya hanya 3.  Saya penasaran. Saya temukan paper ini, yang penulisnya ada 99 orang. Mungkin paper inilah yang menjadikan Pak Jonner punya banyak co-author.


Negara asal penulis

Hmm, dari 10 paper, semuanya ditulis oleh orang Indonesia. Agaknya kurang menggembirakan untuk ukuran seorang guru besar.



Gambar di atas menunjukkan wadah publikasi paper. Info terkait hal ini, lebih detail ada pada tabel bagian akhir tulisan ini. Yang jelas, LPP yang paling banyak dipakai publikasi (3 dari 10), sudah diskontinu dari Scopus. :)

***

Oke. Kita coba visualkan dengan VV agar lebih mudah menganalisnya. Oia, dataset saya unggah di sini. Monggo yang mau unduh.


co-author 3 guru besar 


Gambar di atas menunjukkan, bahwa ternyata 3 guru besar ilmu perpustakaan di Indonesia ini, tidak "berteman". Artinya apa?

Ya, berarti secara ide, mereka tidak terhubung melalui tulisan ilmiah.

Hmm, ada yang aneh. Ada 1 paper Pak Jonner yang penulisnya banyak (lihat keterangan sebelumnya), namun yang terbaca di visualisasi hanya beberapa. Saya belum nemu jawabnya.

kata kunci 2 guru besar baru


Gambar di atas merupakan bidang garap 2 guru besar baru, yaitu Pak Nurdin dan Pak Jonner yang ditunjukkan dengan kata kunci papernya. Setidaknya ada 6 klaster berdasar kata kunci, dari total 7 dokumen. Berarti ada 1  dokumen yang saling terkait sehingga menyatu dengan klaster lainnya.  
Kata kunci publikasi 3 guru besar

Gambar di atas kumpulan kata kunci dari semua guru besar. Total ada 8 klaster, dengan angka kemunculan terbanyak yaitu "academic libraries" sebanyak 3x. Lainnya cuma 1x.



overlay kata kunci publikasi 3 guru besar

Jika dipindah ke overlay, yang kuning atau lebih terang merupakan kata kunci yang munculnya paling baru. 

Saya coba ambil dari data map, berikut kata kunci yang average pub yearsnya paling tinggi, yang berarti relativ ada publikasi baru.

 

Ternyata, bidang perpustakaan juga ikut-ikutan meneliti covid-19, meski tentu saja dikaitkan dengan perpustakaan, misalnya bidang layanan. Kemunculan topik masjid terkait arsip, sejarah, juga cukup menarik.  

Juga imaging politics. Apa lagi ini...

Paijo: "Kang, kok ndak ada topik bookless atau sofa dan bantal, ya?"
Karyo: "Hus!"


Kesimpulan

Dari jumlah GB, jumlah paper, topik, jejaring penulis, dan lainnya, menurut anda publikasi  3 guru besar ilmu perpustakaan ini cukup menggembirakan atau tidak/belum?


Monggo diambil kesimpulan sendiri-sendiri, ya.


****
Berikut daftar 10 paper dari 3 guru besar di atas. Empat diantaranya, jurnalnya sudah diskontinyu dari Scopus. (Klik di sini untuk tampilan daftar publikasi fullscreen)

Thursday, 7 April 2022

Menelisik motivasi para calon rektor UGM

Sumber foto: UGM
Jumlah pendaftar (bakal) calon rektor UGM bervariasi tiap periode.

Jika dilihat dari periode sebelumnya, bakal calon periode ini menurun jumlahnya.  Tahun 2002, paling tidak ada 3 calon. Tahun 2007, menurut data ini, ada 10 orang. Tahun 2012, menurut data ini, ada 7 pendaftar.

Sebelum pemilihan 2022, yaitu proses pemilihan tahun 2017, menurut data ini, pendaftar sebanyak 9 orang.

Tahun 2022 ada 7 pendaftar. Artinya ada penurunan 2 angka. Dari 7 ini kemudian tersisa 6 bakal calon rektor UGM yang lolos administrasi. Kesemuanya dari internal UGM, satu-satunya calon dari luar UGM gagal melanjutkan.

Dengan skema terbuka bagi semua warga negara Republik Indonesia, tentu jumlah ini--setidaknya menurut saya-- kurang menggembirakan.

Apa yang menjadikan internal UGM kurang greget mendaftar? Dan apa yang membuat eksternal juga kurang berbondong-bondong mendaftar?

Tentu jawabnya bisa bermacam. Atau minimal terkaannya bisa bermacam. Bisa karena tidak menarik sama sekali. Atau alasan peluangnya kecil. Kecilnya peluang seorang calon, bisa dilihat dari komposisi MWA maupun suara menteri.

Mungkin banyak yang sadar diri. Berat. 

Entahlah.

***

Nah. Dari proses yang berjalan di 2022, pansel telah memajang profil beserta motivasi masing-masing carek di laman Seleksi Rektor. Profil yang dipasang, merupakan profil calon yang lolos seleksi administrasi.

Saya coba, iseng, mengambil data narasi motivasi masing-masing carek dari laman seleksi rektor, lalu saya masukkan NVIVO. Sekaligus upaya mengingat fitur di NVIVO, saya coba sajikan hasilnya di bawah ini.

Secara enteng-entengan, kita lihat satu per satu. 

*****

Prof. Ali Agus


Di atas merupakan kata yang yang paling banyak muncul pada paparan motivasi Pak Agus. "Amanah" menjadi kata paling banyak muncul.


Kata amanah dari Pak Agus terkait dengan cara pandang dirinya pada jabatan rektor. "Amanah tidak patut diminta," katanya. Juga "jabatan adalah amanah".


Prof. Bambang Kironoto


Pak Bambang banyak bicara tentang pengembangan.  Kata ini merupakan bagian dari semacam visi/komitmennya jika dipercaya menjadi rektor. 
Kata "pengembangan" yang disampaikan terkait dengan manajemen, leap frogging, tridharma, agile university governance. Agaknya, Pak Bambang memanfaatkan kesempatan menulis motivasi untuk menyisipkan point visi misinya. Ini menarik.


Prof. Deendarlianto

Sementara itu, Prof. Deen menempatkan "kepemimpinan" sebagai kata yang banyak disebut. 
Kepemimpinan yang disodorkan Pak Deen dikaitkan dengan tawaran model kepemimpinan yang akan diterapkannya jika dipercaya sebagai rektor. Kata kepemimpinan ini berhubungan dengan adaptif, humanis, dinamis.


Prof. Ova Emilia


"Komitmen" menjadi kata yang paling banyak ditulis Bu Ova dalam motivasinya. Disusul kata "pengembangan.
Kata "komitmen" yang disampaikan Bu Ova, yaitu  komitmen jika terpilih sebagai rektor. Ada lima komitmen Bu Ova, yaitu terkait mencetak, memperkuat, meningkatkan, membangun, dan mendorong.


Prof. Sigit Riyanto



Pak Sigit banyak menulis kata "kesempatan" pada motivasinya. 
Agaknya, kata "kesempatan" ini digunakannya untuk menyampaikan apa saja yang selama ini sudah pernah dilakukan. Mengemban (amanah), mengajar, membimbing, membantu. 

Terkait pencalonannya, kata "kesempatan" dikaitkan dengan tantangan dan juga mengabdi (sebagai rektor). 


Prof. Teguh Budipitojo


Kata "hewan" muncul sebagai kata paling banyak disebut Pak Teguh. Kata ini ternyata banyak disebut saat Pak Teguh bercerita tentang dirinya.
Jika dicari kata lain yang terkait dengan motivasi/visi misi, maka ditemukan kata inovatif.
Kata inovatif yang disampaikan Pak Teguh, berkaitan dengan kata "merancang". 



******

Kesimpulan

Para bakal  calon ada  yang masih samar dalam menyebutkan program. 

Hal ini wajar. Mungkin ada semacam program kunci yang enggan diketahui publik sebelum dipaparkan di depan SA.

Namun ada juga yang sudah menyampaikan point-point, atau sebut saja kata kunci, yang akan dilakukan jika terpilih jadi rektor. Mungkin dimaksudkan agar publik tahu bahwa dirinya benar-benar siap.


Kesimpulan? Ya itu tadi, rekap kata-kata paling banyak muncul: amanah, pengembangan, kepemimpinan, komitmen, kesempatan, dan inovatif. 

Kalau disatukan menjadi: kesempatan untuk memimpin pengembangan dengan inovatif, komitmen, dan amanah.

Kesimpilan mendalam?

Maaf, tulisan ini (awalnya) saya kerjakan pukul 23.28 malam. Pas ngantuk-ngantuknya. Kesimpulannya saya serahkan pada masing-masing pembaca saja. 

[[ selesai ]]

Sumber:


Wednesday, 6 April 2022

Teknik Sipil: jurusan tertua dan selalu ada pada 5 rezim terakhir rektor UGM

foto di Museum UGM

Fakultas Teknik UGM,  jika ditarik ke belakang, minimal sampai Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta (STT) Yogyakarta, menjadi bagian dari institusi yang menjadi cikal bakal UGM.

STT Yogyakarta merupakan sekolah pindahan dari STT Bandung, yang tentunya lebih tua lagi usianya. STT Bandung, jika dirunut masih ada sambungan ke TH Bandung, yang tentunya lebih tua lagi. Teknik Sipil merupakan salah satu bagian dari STT Yogyakarta.

***

STT Yogyakarta, bersama dengan sekolah lainnya, termasuk BPTGM bergabung menjadi UNGM. Setelah menjadi UGM, STT Yogyakarta inilah yang kemudian disebut Fakultas Teknik UGM.

Nah, seberapa banyak peran FT UGM, khususnya Teknik Sipil pada bergeraknya UGM, khususnya pada wilayah manajemennya?




Gambar di atas menunjukkan hadirnya FT UGM pada 6 rezim rektor terakhir, sejak periode 1998 hingga periode 2017-2022.

Berikut ini keterangan lebih lengkap. Oia, saya gunakan kata rezim sebagai judul, karena agaknya memang pas mewakili "pemerintahan" di universitas. Rezim, dalam KBBI berarti tata pemerintah negara; pemerintahan yang berkuasa.

--

1. Masa Rektor Prof.  Ichlasul Amal (1998-2002)

Pada periode ini, dari FT ada Ir. Soewandi Indanoe dari DTAP yang kemudian digantikan Prof. Achmad Djunaedi, juga dari DTAP, menjabat sebagai wakil rektor.

****

Pada periode pasca Ir. Soewandi dan Prof. Achmad Djunaedi ini, FT selalu mencatatkan dosen dari Teknik Sipil pada jabatan rektor atau wakil rektor. 

2. Masa Prof. Sofian Effendi (2002-2007)

Pada periode ini, Prof. Sudjarwadi (Teknik Sipil), menjadi wakil rektor. Saat itu disebut Wakil Rektor Senior.

3. Masa Prof. Sudjarwadi (2007-2012)

Sebelum menjabat sebagai rektor, Prof. Sudjarwadi (Teknik Sipil) bertarung pada pilrek, yang salah satu calonnya Prof. Sofian Effendi sendiri, yang waktu itu masih menjabat rektor. Dari FT, selain Prof. Sudjarwadi, pada masa ini ada Prof. Atyanto Dharoko yang berasal dari DTAP FT UGM sebagai wakil rektor. 

4. Masa Prof. Pratikno (2012-2014)

Sebelum terpilih, Prof. Pratikno harus mengikuti proses pemilihan yang juga diikuti oleh beberapa dosen dari DTSL FT UGM, yaitu Prof. Danang Parikesit dan Prof. Suryo Hapsoro, keduanya dari Teknik Sipil. Danang Parikesit berhasil masuk final.

Pada periode ini pun terdapat wakil rektor dari Teknik Sipil, Prof. Budi S. Wignyosukarto.

5. Masa Prof. Dwikorita Karnawati (2014-2017)

Prof. Rita menjabat rektor tanpa melalui pemilihan, namun meneruskan masa sisa jabatan Prof. Pratikno yang ternyata memilih naik sebagai menteri. Pada masa Prof. Rita ini, terdapat Prof. Budi S. Wignyosukarto dari Teknik Sipil yang menjabat wakil rektor..

6. Masa Prof.  Panut Mulyono (2017-2022)

Pada proses pemilihan, selain Prof. Panut, pada periode ini turut pula Prof. Rita (yang masih menjabat rektor), serta Prof. Nizam (Teknik Sipil).

Pada Prof. Panut, terdapat Prof. Bambang Kironoto dari Teknik Sipil yang menjabat sebagai wakil rektor.

7. Pilrek 2022

Saat ini, pada pilihan rektor 2022, terdapat dua nama dari FT UGM. Prof. Deendarlianto (DTMI), dan Prof. Bambang Agus Kironoto (Teknik Sipil) yang masih menjabat wakil rektor

***

Jadi, sejak 1998, selalu ada dosen FT UGM yang menjabat sebagai rektor atau wakil rektor. Dari 6 rezim rektor UGM sejak 1998, 5 rezim di antaranya selalu ada dari Teknik Sipil FT UGM, baik sebagai rektor atau wakil rektor. Sementara 1 lainnya dari Teknik Arsitektur dan Perencanaan.

Jika kembali pada awalan tulisan ini, mungkin memang karena usia, sehingga Teknik Sipil selalu ada, khususnya 5 periode rektor terakhir. Sebagai jurusan tua, maka kelimpahan SDM pun menjadi hal yang wajar, jejaringnya kuat.

Bagaimana periode berikutnya?

Kita lihat bersama.

*****************************************
Update periode Ova Emilia (2022-2027)
Pada pemerintahan Rektor 2022-2027 (Ova Emilia), Teknik Sipil kembali ikut menjadi bagian jabatan wakil rektor (Arief Setiawan Budi Nugroho). 

Sehingga pada 7 pemerintahan rektor sejak 1998 sampai 2022 (periode Ova Emilia) FT selalu ada. selalu ada. (8 Oktober 2024)


6 April 2022, pukul 12 siang

Sumber data: Arsip UGM



Saturday, 19 March 2022

7 Pendaftar Calon Rektor UGM, 1 orang dari luar UGM. Saya menjagokan siapa? (#1)

Sedulur, jangan harap berlebihan, ya. Tulisan ini hanya mengupas secara tidak mendalam, pencalonan rektor UGM pada tahap pendaftaran. 

Dari proses seleksi yang dilakukan pansel, muncul 7 pendaftar calon rektor UGM periode 2022-2027. Enam dari internal UGM, 1 dari luar UGM. Ini daftarnya:

  1. Prof. Dr. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. (F. Peternakan)
  2. Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto dari (FT)
  3. Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., M. Eng. (FT)
  4. Dr. Ir. Irawadi, CES  (Universitas Wijayakusuma Purwokerto)
  5. Prof. dr. Ova Emilia, M. Med., Ed., Sp.OG (K)., Ph.D. (FKKMK)
  6. Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M. (FH)
  7. Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D. (FKH)

***


Sumber: klik
Jika dilihat dari syarat umum, agaknya Pak Irawadi yang perlu dipastikan terkait syarat umum nomor 1.b. Minimal memenuhi syarat dosen PNS (yang ditempatkan di Unwiku). Saya coba telusuri, ketemu data di sini. Statusnya Dosen dengan Perjanjian Kerja. Saya kurang begitu paham apa artinya.

***

Pendaftar yang lolos administrasi, akan mengikuti proses berikutnya sesuai jadwal.

Dari 7 pendaftar tersebut, jangkauan saya hanya terbatas pada 6 pendaftar dari UGM. Itupun tidak mendalam. 

Nah, dari 6 pendaftar ini, siapakah jago saya?

Lho, memang kamu punya suara? 

Saya memang tidak punya suara. Tapi bolehlah saya berpendapat. Di universitas sekelas UGM, mestinya pendapat sangat diperbolehkan. 

*** 

Jika melihat data di Wikipedia, rektor UGM sejak awal berasal (urut) dari: FK, FT, FKG, FEB, FISIPOL, FEB, FK, FH, FTP, FEB, FISIPOL, FISIPOL, FT, FISIPOL, FT, FT. Jumlah rektor per fakultas dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Berdasar data di atas, maka dari asal 6 calon internal UGM yang saat ini mendaftar, dari FKH dan FPt yang belum pernah ada yang jadi rektor.

Nah, oleh karena itu bisa dipastikan bahwa Pak Teguh Budipitojo dan Pak Ali Agus, yang keduanya berlatar belakang dekan, mesti akan berjuang sebaik mungkin agar dapat menjadi yang pertama tercatat sebagai rektor UGM dari fakultas masing-masing. Jika berhasil tentu akan melahirkan kebanggaan fakultas.

Pak Ali  Agus bukan nama baru dalam pencalonan Rektor UGM. Periode sebelumnya Pak Ali masuk 3 besar, meskipun kemudian kalah oleh Pak Erwan Agus Purwanto saat penentuan yang akan masuk final. Silakan baca ini.  Pada titik ini, Pak Ali Agus punya beban berat. Selain berjuang menjadi yang pertama dari FPt untuk jabatan rektor UGM, dengan pengalaman pencalonan periode sebelumnya kemungkinan akan dibebani oleh penilaian: "kudune menang, wong wis pengalaman nyalon".

Namun tentu saja pengalaman nyalon bukan ukuran. Banyak yang nyalon berkali-kali, tapi gagal; tapi ada yang nyalon pertama, malah sukses.

Paijo: "Kok nyalon? memang ke salon?"

Karyo: "menjadi calon, mengajukan diri sebagai calon, Jo!"

***

Pak Bambang Agus Kironoto, calon yang saat ini menjabat sebagai salah satu WR. Sebagai pendaftar yang berasal dari fakultas yang sama dengan rektor aktif, Pak Bambang punya beberapa kelebihan. Salah satunya penerus point yang yang dianggap sebagai keberhasilan rektor saat ini. 

Posisinya sebagai WR tentu menjadikannya sah menyatakan diri "saya punya pengalaman di tingkat rektorat" dan lebih sah dari calon lain untuk menyatakan "saya penerus/akan meneruskan". Klaim "berpengalaman di tingkat rektorat" ini hanya dimiliki oleh Pak Bambang. Tidak yang lain.

Namun, tidak semua yang berposisi dekat dengan petahana, kemudian menyatakan dirinya "punya pengalaman" mulus meneruskan kepemimpinan sebelumnya.  Justru bisa sebaliknya, mudah dibidik dengan kekurangan kepemimpinan sebelumnya. Karena pasti ada kekurangan pada setiap kepemimpinan, bukan?

Apalagi jika ternyata tidak tahu banyak terkait kondisi riil di bawah. 

***

Bu Ova, dari FKKMK semestinya juga ingin agar dari FK kembali ada yang dapat memimpin UGM. Hal ini tentu beralasan. Rektor pertama (ke-1) UGM berasal dari FK, Prof. Sardjito. Kemudian baru pada rektor ke-7 kembali ke FK. Tentu saja, pada urutan ke 17 yang sedang berproses ini, gabungan angka 1 dan 7, berharap rektor UGM berasal dari FK.

Sebagai satu-satunya calon perempuan, tentu punya kekhasan sendiri yang dapat dijadikan nilai lebih.

***

Calon lain, Pak Deen tentu saja juga punya peluang. Meski tidak ada latar belakang struktural Dekan/Wakil Dekan, Pak Deen merupakan Kepala PSE UGM. Berdasar sejarah pun, tidak semua rektor memiliki latar belakang sebagai Dekan. 

***

Nah, siapa pilihan saya?

Dari ulasan saya sebelumnya, FT di atas kertas punya peluang paling tinggi dan berpotensi mencetak hattrick. Dari komposisi MWA, juga akses ke Mendikbud, FT juara. Meskipun demikian, pada ulasan sebelumnya, saya mengimpikan ada calon dari FIB, atau Filsafat. Namun ternyata impian saya kandas.

Apa boleh buat, harus berfikir ulang.

Dengan asumsi semua calon hebat-hebat, rasanya tidak elok jika 3 periode berurutan UGM punya rektor dari FT. Maka, dengan kesadaran penuh bahwa saya memang tak punya suara, saya menjagokan rektor periode ini berasal dari timur Jl. Kesehatan.

Membaca laporan majalah Tempo edisi 13 Februari 2021 berjudul Main Obral Doktor Humoris, pada bagian yang menceritakan keberanian Pak Sigit Riyanto menolak untuk memberikan rekomendasi penganugerahan GB, rasanya menarik jika Pak Sigit meneruskan kiprah Prof. Koesnadi, rektor UGM dari FH, memimpin UGM.

Pak Sigit juga dari klaster sosio justisia--meminjam istilah kelompok ospek---, yang perlu mewarnai setelah dua periode UGM dipimpin rektor berkarakter teknik. 

Oia, jago saya ini tidak terkait calon kuat-tidak kuat. Saya tidak sedang bertaruh.

Saya pun sadar. Proses penentuan rektor ini lewat pemilihan, yang berbeda dengan penentuan lewat ujian. Faktor orang untuk memilih lebih sulit ditebak, dibanding menilai hasil ujian. Kedekatan juga berperan. 

***

Dari 6 calon dari internal UGM, pilrek ini dapat disebut sebagai "pertarungan" para pendekar. Berbeda dengan periode sebelumnya, periode ini semua calon internal bergelar profesor, guru besar, maha guru; jabatan fungsional tertinggi seorang dosen.  

Semoga Rektor UGM benar-benar seorang ilmuwan yang berintegritas, punya dan teguh pendirian. Tidak sekedar ikut ke sana dan ke sini, mampu menjaga muruah UGM sebagai sebuah perguruan tinggi.

Dan, bukan hanya sebatas kepala administrasi.

****

Sambisari,
Sêtu Wage 15 Ruwah Alip AJ 1955 (19 Maret 2022)
13.54 siang

Purwoko - Warga UGM yang sinau nulis



Tuesday, 15 March 2022

, ,

Pustakawan perguruan tinggi perlu paham berbagai bentuk grafik

Jadi begini....

Sumber: https://www.graphica.app/catalogue/box-plot
Pustakawan seperti saya ini, sepertinya wajib tahu berbagai bentuk grafik untuk visualisasi data. 

Bukan hanya mengetahui bentuk grafik, namun juga:
  • menentukan grafik yang tepat untuk sebuah data set
  • serta membaca grafik tersebut.

Mungkin saya perlu memulainya dengan web ini https://www.data-to-viz.com/, kemudian mencari berbagai referensi tentang membaca grafik, misal seperti yang ditulis di sini  https://parameterd.wordpress.com/2018/09/13/cara-membaca-box-plot/ .


Harapannya, saya bisa membantu rekan-rekan mahasiswa dapat proses visualisasi data.

Thursday, 20 January 2022

Kafe di Perpustakaan dan Potensi Pengkhianatan pada Fungsi Dasar Perpustakaan

Paijo, pustakawan ndlidig dan tidak tercantum aktif di berbagai organisasi kepustakawan,  pernah ditanya, "Apakah ada rencana mengembangkan perpus dengan fasilitas kafe?"

Pertanyaan itu dilontarkan setelah Paijo menjelaskan gambaran perpustakaan yang dikelolanya. Agaknya, si penanya tipe orang yang suka nongkrong, ngakak, sambil ngopi. Tentu saja di kafe. Terlepas dari apa jenis kopi yang diminumnya, tanpa atau dengan gula, dan seringnya sendiri atau bareng konco-konconya. Kemungkinan besar, dia juga orang yang memperhatikan perkembangan fasilitas perpustakaan, salah satunya, ya munculnya kafe itu.

Oia, perlu disampaikan, bahwa penanya ini bukan orang sembarangan. Ora embyeh-embyeh.

Paijo tidak mempermasalahkan, atau membahas pandangan si penanya tentang kafe di perpustakaan. Tentu saja, cara pandang itu hak dia. Oia, dia juga bukan dosen ilmu perpustakaan, sehingga tidak bisa diganggu dan tidak bisa digugat.

Karyo: "Lha kalau dosen ilmu perpus kenapa, Jo?"
Paijo: "Ya jelas saya gugat lah, Kang. Sembarangan."

****

Paijo punya pandangan sendiri terkait cafe di perpustakaan.

Jika yang dimaksud kafe di perpustakaan itu melingkupi sebuah ruangan, ada meja, ada kursi, orang bebas ngobrol, mengerjakan tugas, kemudian di situ ada orang jualan kopi dengan harga mahal, maka Paijo termasuk yang tidak setuju. Apalagi kopinya ditulis coffee, diikuti popcornfrench fries, ice cream. Keminggris. Mungkin agar sesuai dengan harga yang mahal.  Tidak tertarik.

Harga mahal memang relatif. Paijo pun, jane tidak memiliki patokan yang jelas.

Namun begini penjelasan singkat Paijo. Kampus itu isinya orang dari berbagai kalangan, dengan taraf ekonomi yang beragam. Perpustakaan menyediakan koleksi yang dapat diakses oleh pemustaka, tanpa terhalang sekat ekonomi. Kaya, miskin, kalau mereka sudah sah menjadi mahasiswa, maka mereka berhak mengakses koleksi perpustakaan.

Nah, jika kemudian ada kafe dengan harga mahal, maka hal ini sudah menyalahi ruh dasar perpustakaan itu sendiri.

Sebagai orang yang pernah masuk kafe di sebuah perpustakaan, karena penasaran, Paijo melihat kesimpulan di atas tidak berlebihan. Bagaimana tidak? Harga kopinya di atas rata-rata. Jauh. Mungkin memang karena itu kopi istimewa, baunya menguar ke mana-mana, prosesnya juga dengan alat canggih. Tidak cukup dengan seduh lalu sruput. Bayarnya juga ada yang ribet bagi mahasiswa kalangan bawah. Harus dengan e-moni, atau debet. Sungguh terlalu.

Sebagai pustakawan yang ndeso, tentu saja Paijo tidak tega jika melihat mahasiswa di kampusnya memegangi perutnya yang melilit, karena dipaksa melewati area kafe, atau berpapasan dengan  mahasiswa yang memegang secangkir kopi, dan membaui aroma kopi mahal yang tak bisa dibeli, karena tipisnya uang saku.

Paijo lebih senang mengajak mahasiswa berbagi. Katanya agar sesuai dengan ruh perpustakaan. Termasuk tentang kopi. Pada masa sebelum pandemi, ini berhasil. Paijo menyediakan kopi, atau mahasiswa yang suka dan punya kopi urun kopi ke perpustakaan. Disediakan ruangan, gelas, dan air panas. Termasuk gula. Mahasiswa bisa  ngopi sambil jagongan. Tak perlu membayar. Cukup ikut nyuci gelas saja.

Dengan demikian, ruh perpustakaan tetap terjaga. Tidak terkhianati, dan tergadaikan. Tepo selira juga ikut dijaga. Bukan malah membiasakan mahasiswa dengan hidup berlebihan.

Di perpustakaan, seharusnya adanya proses berbagi. Bukan berkali. Apalagi cari untung, atau cari wah, gaya-gayaan di depan yang.... ah sudahlah.

#####

Sambisari,
Kêmis Lêgi 16 Jumadilakir Alip AJ 1955 / 20 Januari 2022 M

Sunday, 16 January 2022

, , , ,

Analisis-analisis yang menyertai Bibliometric Analysis

Pendahuluan

Analisis bibliometik - bibliometric analysis (BA) cukup populer di kalangan akademisi. Banyak paper yang menggunakan analisis ini. Setidaknya, yang terindeks Scopus ada ribuan, dan selalu meningkat setiap tahunnya. Paper-paper itu, ada yang hanya melakukan BA saja. Namun, ada juga yang digabung dengan metode lain.

Penggabungan ini jelas menjadikan hasil penelitian lebih kaya, lebih berbobot. Meskipun, tentu saja butuh usaha lebih untuk mengerjakannya. 

Pertanyaan penelitian

Metode analisis apa saja yang digunakan berbarengan dengan BA?

Metode

Untuk menjawab pertanyaan penelitian, maka dikumpulkan dataset publikasi yang memanfaatkan analisis bibliometik yang digabungkan dengan metode lainnya.  Paper yang menggunakan analisis bibliometik dan digabung dengan analisis lain, biasanya terlihat pada judul. Contohnya "Bla-bla-bla....: bibliometric analysis and content analysis". Meski, ada juga yang tidak terlihat di judul, atau judulnya tidak mengindikasikan penggabungan BA dan metode lain.

Tapi, demi kemudahan dalam rangka mengisi blog ini, begitulah asumsi yang dipakai. Hehehe

Dataset dicari di database Scopus. Maka syntax yang digunakan: ( TITLE ( "bibliometric analysis"  W/0  "and" )  OR  TITLE-ABS-KEY ( "a bibliometric analysis"  W/0  "and" ) ). Sintak ini berarti: pencarian dilakukan pada bagian title, yang memuat kata "bibliometric analysis" maupun "a bibliometric analysis" yang diawali langsung atau diikuti langsung oleh kata "and". W/0 itu artinya antara kata kunci pertama dan kedua tidak ada jarak. Sehingga akan muncul hasil, misalnya:

  1. A comprehensive overview of geopolymer composites: A bibliometric analysis and literature review; atau
  2. A comprehensive overview of geopolymer composites: Literature review and bibliometric analysis

Karyo: "Kenapa tidak dicari di kata kunci, Jo?"
Paijo: "Bisa juga, kang. Dengan cara mencari semua paper yang berkata kunci bibliometric atau bibliometric analysis. Tapi, nanti hasilnya sak ndayak. Berat di filteringnya. Wong ini cuma projek main-main, kok..

Dari pencarian di atas, ditemukan hasil 628 dokumen. Pencarian dilakukan 16 Januari 2022. Dataset disimpan ke CSV kemudian dimasukkan Vosviewer. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, meskipun pencarian menggunakan title, namun analisis di VV dilakukan pada kata kunci pengarang.

Kenapa tidak di title sesuai dengan pencarian? Sama dengan jawaban atas pertanyaan sebelumnya: susah filteringnya.

Untuk lebih memperoleh hasil yang wocoable alias dapat mudah dibaca, maka diterapkan thesaurus seperti di ngisor ini:

label replace by
bibliometric bibliometric analysis
bibliometrics bibliometric analysis
bibliometrics analysis bibliometric analysis
bibliometric study bibliometric analysis
systematic literature review systematic review

Selain itu, untuk mempermudah pembacaan dan filter, treshold ditetapkan 2. Kenapa 2? karena kalau 1, hasilnya 1779. Ini banyak sekali, sehingga filternya susah. Dengan treshold 2 diperoleh angka  241, masih mudah untuk filter-nya.

Kata kunci yang muncul dikelompokkan menjadi 3: kategori metode, kategori type analisis, dan kategori hasil yang dimunculkan di paper oleh para peneliti.

Sebagai catatan, analisis didasarkan pada kata kunci pengarang apa adanya. Saya tidak melakukan review paper untuk melakukan validasi, misalnya melengkapi tipe analisis.

Note:
Maafkan, ternyata kata kunci yang saya pakai tidak konsisten fieldnya. Seharusnya keduanya hanya ada di TITLE saja. Tapi tidak apa-apa, hasilnya tetap bisa dipakai buat menjawab pertanyaan. 😏

Hasil

Di bawah ini daftar metode yang digunakan bersamaan dengan bibliometric analysis (BA). Systematic review (juga SLR) paling banyak digabungkan dean BA. Selain itu, juga ada content analysis, thematic analysis, dan meta analysis.




Nah, kalau ini tabel yang menunjukkan hasil yang dicari. Paling banyak "research trend(s)". Maaf, belum di pasang di thesaurus, jadi masih dobel. 
   

Kalau ini tipe analisis BA yang dipakai saat BA digabung dengan metode lain. Citation dan co-citation paling banyak digunakan. 
 

Saya sertakan tampilan versi onlinenya.

-----


Sambisari,
Ngahad Paing, 12 Jumadilakir 1955 Alip. Bertepatan dengan Minggu 16 Januari 2022 M
Pukul 06.17 pagi