Wednesday, 26 October 2016

[Hot] Artikel "Agnes Monica" dan "Inul Daratista" dikutip artikel yang diterbitkan Springer dan IEEE

… predatory publishers, which publish counterfeit to exploit the open-access model in which the author pays. These predatory publishers are dishonest and lack transparency. They aim to dupe researchers, especially those inexperienced in scholarly communication. (Beall, J., 2012. Predatory publishers are corrupting open access. Nature, 489, p.179. Available at:
http://www.nature.com/news/predatory-publishers-are-corrupting-open-access-1.11385.)

Agak ragu saya menulis judul di atas, tapi saya "pentelengi" berkali-kali kok kayake ya ndak keliru saya melihatnya. Mohon koreksi.

sumber gambar klik
Jurnal predator, menjadi populer seiring dengan populernya pengindeksan dan semangat mempublikasikan karya para ilmuwan di jurnal (internasional). Jurnal predator, merupakan istilah yang dinisbahkan pada tulisan Beall, dan web Beall di scholarlyoa.com. Beall, sebagaimana di header web menulis mengkritisi dunia penerbitan model open-access.  Sehingga predator sangat terkait dengan batasan tersebut (open-access). Nama scholarlyoa, OA pada domain tersebut juga merujuk ke open-access.

Jurnal open-access kui opo? - salah satunya buka di sini https://aoasg.org.au/what-is-open-access/

Saya lebih sering mengartikan jurnal predator dengan pengertian "jurnal yang berbayar, penulis harus membayar untuk menerbitkan artikelnya, namun penulis tidak mendapatkan layanan jurnal yang berkualitas (reviewer, layout, dan lainnya)". Artinya, antara uang yang diberikan penulis untuk membiayai proses awal-akhir artikel terbit, tidak sebanding. 

Jurnal open-access, memang sebagian besar penulis membayar. Mungkin, karena itulah, Mr. Beall tertarik menelitinya. Apakah semua jurnal open-access itu predator? jelas TIDAK. Beall memiliki kriteria dalam menilainya. OA juga diterapkan oleh beberapa penerbit besar, Elsevier misalnya. Silakan lihat di http://www.sciencedirect.com/#open-access. Elsevier punya dua model OA, Gold dan Green.

Seorang kawan, pernah cerita, ketika submit di jurnal yang dianggap predator, seminggu setelahnya langsung disetujui diterbitkan. Anehnya, si pengelola jurnal justru bertanya "masih ada yang ingin kamu perbaiki?". Hal ini aneh, karena semestinya justru pengelola jurnal, melalui reviewer menunjukkan hal yang kurang dan harus diperbaiki oleh penulis.

Tentu kita ingat, kasus sebuah artikel yang memuat nama penulis Inul Daratista dan Agnes Monika, untuk sebuah jurnal bidang pertanian. Tidak satu artikel, namun dua artikel yang mencantumkan nama Agnes Monika dan Inul Daratista.

  1. "Mapping Indonesian Paddy Field Using Multiple-Temporal Satellite Imagery." klik: http://sains.kompas.com/read/2012/08/29/13392470/Agnes.dan.Inul.Dicatut.di.Makalah.Jurnal.Internasional, download di https://simpan.ugm.ac.id/s/24UOopva81jDvUx
  2. "Effect of methane emission from fertilizer application" atau unduh di https://simpan.ugm.ac.id/s/wsvSgbT9gsDXm78
note: selanjutnya, jika saya tulis Inul Daratista atau Agnes Monika, maka yang saya maksud adalah nama yang tertulis sebagai penulis kedua artikel di atas.

Wussss,
Coba kita bayangkan, jika kita bukan orang Indonesia, lalu bidang ilmu kita pertanian. Maka tidak menutup kemungkinan kita akan mengutip artikel tersebut? apakah ini terjadi. Kita lihat gambar di bawah ini:

Artikel ber DOI 10.1109/TGRS.2016.2590439
salah satu daftar pustaka artikel ber DOI 10.1109/TGRS.2016.2590439
Silakan cari artikel tersebut di jurnal online ternama. Kemudian pastikan, apakah benar referensi nomor 10 mengutip artikel Inul Daratista?

Paper DOI 10.1007/s10333-015-0502-2

Tampilan referensi 

-------------------
Untuk lebih jelas, kita lihat di GoogleScholar. Lihat gambar, tautan di GS silakan klik https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0,5&q=agnes+monica+inul+daratista
Artikel Inul Daratista yang terindeks GoogleScholar

Artikel yang mengutip artikel "Effect..."

Artikel yang mengutip "Mapping..."

terjadi, kan?
Weh, kudu ngati-ati yo kang? - yo jelas, Lek
---------------- 

Kembali ke web ScholarlyOA.

Web ScholarlyOA.com, juga diacu oleh DIKTI (http://pak.dikti.go.id/portal/?p=41), untuk menyaring dan menilai artikel yang diajukan para ilmuwan di bawah DIKTI. Ilmuwan (sebagian) merasa risih jika submit paper di jurnal yang oleh Beall ditulis di webnya. 

Potential, possible, or probable predatory scholarly open-access publishers
(https://scholarlyoa.com/publishers/)

Kalimat di atas, merupakan pembuka pada laman daftar penerbit yang dibuat Beall. Sedangkan di bawah ini, merupakan pembuka di laman daftar jurnal.

Potential, possible, or probable predatory scholarly open-access journals 
(https://scholarlyoa.com/individual-journals/) 


Potential, possible. Dua kata yang dipilih Beal tersebut, memiliki beberapa arti. Beall, masih membuka ruang, bahwa daftarnya keliru. Yang kedua, bagi kita, yang membaca web tersebut memiliki ruang untuk menafsirkan sendiri daftarnya Beall, berdasar penelitian atau pengamatan kita pada jurnal tersebut. Nah, oleh karena itu,  Saya lebih cenderung menggunakan daftar yang dibuat oleh Beall sebagai sarana/alat untuk menfilter/menyeleksi jurnal yang hendak digunakan, baik sebagai referensi maupun disasar submit artikel.

Nah, berkaca pada kasus 1) adanya nama artis yang ditulis sebagai penulis, dan berhasil terbit di jurnal, 2) adanya ilmuwan yang mengutip dari artikel yang kemungkinan besar abal-abal, sebagaimana tertera pada paparan di atas, maka wajib bagi para ilmuwan untuk berhati hati. Setidaknya berhati-hati pada 1) menggunakan artikel yang diunduh dari internet, tidak diterbitkan dari oleh sumber terpercaya, 2) hati-hati dalam memilih jurnal untuk disasar. Caranya bagaimana?
  1. Gunakan daftarnya Beall, sebagai daftar yang membantu untuk memilih
  2. Kombinasikan dengan daftar yang ada di pengindeks jurnal Scopus, dan JCR.
  3. Kritis pada sumber.
----------------

Yang aman? 
Mengelola jurnal, memang susah-gampang. Kabarnya yang paling susah adalah mendapatkan naskah. Ketika jurnalnya masih baru, belum terakreditasi, belum masuk Scopus atau Jurnal Citation Report (JCR), padahal saat ini para ilmuwan (baca: dosen) digerakkan untuk menulis di jurnal yang terindeks Scopus (minimal), maka menjadi sulit mendapatkan naskah berkualitas.

Menghidupkan jurnal, membangun jurnal dari 0, jurnal lokal agar berkualitas, kemudian bisa diakui dengan standard yang digariskan Arjuna, Scopus, JCR perlu terus dilakukan. Sehingga, semakin banyak jurnal di Indonesia yang selevel kualitasnya dengan jurnal di luar Indonesia (dengan standard yang ditetapkan, tentunya). Jika demikian, maka orang submit, tidak akan mikir Scopus atau JCR atau semacamnya, karena kualitas itu telah terpenuhi. PR berikutnya adalah menjaga kepercayaan. Jangan sampai ketika sudah terindeks Scopus atau JCR, jadi jual murah, apalagi kepada kolega yang "meminta-minta" agar lolos terbit.

Weit, kok mbladrah, Kang? 

Saat ini, mau main aman?.. Gunakan 3 cara yang saya tulis di atas. Pilih jurnal yang tidak ada dalam daftarnya Beall, namun statusnya terindeks Scopus minimal Q1,Q2, syukur juga terindeks JCR. Kritis pada sumber, nilai jurnal dan artikel pada jurnal tersebut sebelum submit. Scopus dan JCR, dalam hal ini hanya kita pinjam untuk memilih, bukan dijadikan "berhala". Selain itu, jika mau terhindar dari daftarnya Beall, hindari jurnal Open-Access. Sasar jurnal Open-access hanya yang diterbitkan oleh Elsevier atau Springer, atau penerbit ternama lainnya.

Sst, tapi jika anda percaya diri dengan artikel yang anda tulis, anda bisa mencoba mengirim artikel tersebut ke jurnal biasa saja, tanpa embel-embel Q, IF dll. Jika artikel memang bagus, pasti juga akan dikutip ilmuwan lain.


Dua artikel yang disinyalir mengutip dari artikel "Inul" dan "Agnes"
  1. http://link.springer.com/article/10.1007/s10333-015-0502-2
  2. http://ieeexplore.ieee.org/stamp/stamp.jsp?arnumber=7527671 
#teguhtimbul
#sehatwaras






 

Tuesday, 25 October 2016

,

Mamanfaatkan Kelas Online ELISA UGM untuk layanan perpustakaan

Pemenang pertama kuis kelas online
Aplikasi online learning banyak dikembangkan oleh berbagai lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi. UGM, juga demikian. ELISA namanya, alamatnya di elisa.ugm.ac.id.

Pada aplikasi online tersebut, seorang dosen dapat membuat kelas, mengatur siapa saja yang bisa bergabung, membuat pokok bahasan, membuat kuis (perseorangan, kelompok, pilihan ganda atau essay) sekaligus menilainya. Membuat topik diskusi, mengunggah video atau slide kuliah, atau menautkannya dengan sumber referensi yang tersedia di perpustakaan.

Kami tertarik menggunakan Elisa ini, tentunya untuk perpustakaan yang kami kelola. Akhirnya, setelah kontak admin ELISA, saya disetel sebagai dosen ketika login ELISA. Sehingga, saya dapat membuat kelas dan lainnya.

loh, kowe kan dudu dosen tho, kang? 
Akhirnya, jadilah kelas ini:
Kelas online di http://elisa.ugm.ac.id/community/show/literasi-informasi/


Di kelas tersebut, kami membuat diskusi, mengundang orang, mempublikasikan dan membuat kuis berhadiah. Hadiahnya dari mana? cari berbagai dukungan.

Kelasmu itu sudah bagus po kang? --  Jelas durung tho, Lek. Wong lagi wae digawe, kok. 

Teman-teman pustakawan lain, mungkin bisa menengok perguruan tingginya, jika ada fasilitas serupa, bisa digunakan. Jika tidak ada, bisa membuat sendiri.

fitur Latex di Elisa

Kelas online ini, hanya sekedar suka-suka. Tanpa konsep yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun kami ucapkan terimakasih kepada Bu Purwani Istiana (Pustakawan Senior UGM), yang bersedia berdiskusi dan memberikan saran dalam pembuatan dan pemanfaatan kelas online ini. Kekurangan yang ada, murni dari kami.



note: kelas tersebut di bawah supervisi Ibu Purwani Istiana, MA. (Kepala Perpustakan Fakultas Geografi UGM)

Thursday, 20 October 2016

,

Menggunakan Latex untuk menulis artikel: tips, template, rumus, tabel

Pada umumnya, orang tahu Microsoft Word atau Libreoffice untuk menulis skripsi atau artikel atau dokumen lainnya. Padahal, ada bermacam software lain yang dapat digunakan untuk menulis. Misalnya Lyx, Latex, KingOffice.

Latex memang kurang populer, namun di kalangan mahasiswa Matematika atau fisika, agaknya menjadi software yang wajib diketahui. Beberapa jurnal, juga menyertakan template Latex untuk penulisan artikelnya, misalnya http://www.latextemplates.com/template/ieee, atau https://www.ieee.org/publications_standards/publications/authors/author_templates.html. Hasil dokumen yang diolah menggunakan Latex lebih bagus (menurut saya), presisi, rumusnya lebih pas (memangnya pakaian?..). Pokoke baguslah..

Yang ndak mau ribet belajar Latex, bisa mencoba converter word to latex. Saya belum coba hehe..., klik http://www.wordtolatex.com/

Kita bicara tentang Latex. Latex sebenarnya ada kemiripan dengan Lyx (kuwalik kayake). Lyx merupakan antarmuka dari Latex. Saya pernah membuat dokumen menggunakan Lyx, menantang namun menyenangkan dengan hasil yang memuaskan (unduh hasilnya di sini). Latex, saya kenal tahun 2005-an. Saat itu, seorang kawan, Rachmad Resmiyanto (dosen UIN Sukijo) menulis skripsinya menggunakan Latex. Lama tidak menggunakan, akhirnya lupa.

Ketika sesi sinau bareng di Perpustakaan FT UGM, menghadirkan seorang mahasiswa aktif pengguna Latex (Pak Warindi, mahasiswa S3 TETI UGM), memori saya kembali terbuka. "Menggunakan, atau tepatnya belajar Latex dengan studi kasus template Elsevier". Miktex dipasang sebagai antarmuka Latex. Kemudian mengunduh template Elsevier lengkap dengan cls, dan style daftar pustakanya. Ketika menuliskan abstrak, bab pendahuluan cukup kopas (kopi paste) dari Ms. Word ke section yang dimaksudkan. Nah, sulitnya adalah ketika membuat rumus, menyusun daftar pustaka, membuat tabel, dan menyisipkan gambar.


Membuat rumus
Rumus di latex ditulis dengan kode. Misal \frac \sum dan lainnya. Sulit bagi saya, karena saya tidak hafal nama kode tersebut. Sebagai jalan keluar, saya gunakan LyX.  LyX menyediakan GUI untuk pembuatan rumus, jika sudah jadi, tinggal ko-pas saja kodenya di halaman kerja Latex. Selesai.
Selain menggunakan LyX, dapat pula menggunakan web online latex4technic, misalnya. Cara kerjanya sama dengan LyX.

\sum\frac{1}{2\sqrt{2}}\int1 akan menghasilkan  


\int_{a}^{b} f(x)dx = F(b) - F(a) akan menghasilkan  


Menyusun daftar pustaka
Untuk menyusun daftar pustaka, diperlukan file style, dan file bib. Keduanya harus didefinisikan di dokumen tex. Perintah \bibliographystyle{ieeetr} berarti menggunaakan ieeetr sebagai style, sementara itu \bibliography{references_article} berarti menggunakan file references_article.bib sebagai sumber referensinya.

Contoh penulisan "kalimat \cite{kode}" untuk mendapatkan (Jones, Giannini and Chang, 2004). Atau "kalimat \citep{kode}" untuk mendapatkan Jones, Giannini and Chang (2004). Kecuali style IEEE, coba pakai \cite

Membuat tabel dan menyisipkan gambar
Perintah menyisipkan gambar adalah sebagai berikut:
\begin{figure}[h]
    \centering
    \includegraphics[width=4in, angle =0 ]{figure_6.pdf}
    \caption{Graph response of SN Ratio on calorific value of coconut shell charcoal}
    \label{fig : figure 6}
\end{figure}


Perintah di atas berarti menampilkan gambar dari file figure_6.pdf, dengan keterangan gambar sebagaimana disebut dalam caption. Gambar diberi label figure 6. Label ini bisa digunakan sebagai cross reference dalam dokumen.
Sementara itu, untuk memperbudah pembuatan tabel, bisa menggunakan file kecil latabel, atau menggunakan LyX. Caranya dengan membuat tabel sesuai kebutuhan, panggil kode latexnya, copy ke halaman kerja Latex.



Wednesday, 19 October 2016

,

Membaca metric-nya Google Scholar

Google Scholar (GS) juga mengembangkan metrik untuk membuat peringkat jurnal sekaligus menunjukkan angka kekuatannya. Tentu saja, jurnal yang ditampilkan adalah jurnal yang diindeks oleh google. Google Metric (GM) ini menampilkan informasi peringkat jurnal dalam berbagai bahasa, nama jurnal sesuai urutan peringkatnya, serta nilai indeks-h5 dan median-h5. Khusus yang berbahasa ingris, ditampilkan pula jurnal sesuai kategorinya.

Ssst, mau tahu kategori jurnal ilmu perpustakaan dan informasi? klik saja ini https://scholar.google.co.id/citations?view_op=top_venues&hl=id&vq=soc_libraryinformationscience

Angka 5 pada indeks-h5 dan median-h5 menunjukkan 5 tahun terakhir. Artinya indeks dihitung pada 5 tahun terakhir yang telah berlaku, demikian pula untuk mediannya.

Indeks-h5 adalah indeks-h untuk artikel-artikel yang diterbitkan pada 5 tahun terakhir. Ini adalah angka terbesar h sedemikian rupa sehingga artikel h yang diterbitkan pada 2011-2015 masing-masing memiliki setidaknya kutipan h
 Sementara itu,
Median-h5 untuk suatu terbitan adalah angka tengah kutipan untuk artikel yang membentuk indeks-h5
Pada saat artikel ini ditulis, sesuai dengan keterangan di laman GM, hasil dari GM adalah artikel yang diindeks Google Scholar sejak 2011-2015. Hasil indeks yang dihitung adalah pengindeksan pada Juni 2016. Mungkin ada yang bertanya-tanya, "kok, jurnalku gak mlebu, yo? . Itu bisa punya beberapa sebab. Mungkin karena artikelnya kurang dari 100 artikel dalam 5 tahun terhitung, tidak memenuhi guide dari GS, atau tidak ada yang mengutip :(. Cek selengkapnya di https://scholar.google.co.id/intl/id/scholar/metrics.html#coverage.

,

Jurnal: diindeks Proquest, tapi masuk daftar ScolarlyOA Jeffrey Beall

Saya menemukan jurnal, yang masuk di daftarnya Jeffrey Beall (JB), namun diindeks oleh Proquest (PQ). Jurnal tersebut berjudul "International Journal of Computer Science and Information Security". Pada https://scholarlyoa.com/individual-journals/ dapat dilihat pada gambar di samping. Jika di klik, tautan akan diarahkan ke https://sites.google.com/site/ijcsis/, yang menunjukkan identitas ISSN ISSN 1947 5500 .  Nah, sekarang silakan buka http://search.proquest.com/publication/616671/citation/C0C9B2996E044DE1PQ/1?accountid=13771. Jurnal tersebut ternyata juga diindeks oleh PQ. Tautan di atas memberi informasi identitas jurnal sebagai berikut:
Nomor ISSN sama dengan yang ada di web JB.

Agak aneh web tersebut. Selain webnya dibuat hanya menggunakan google site, artikel full text dari jurnal tersebut disimpan di academia.edu dan tempat lainnya. Namun, mengulang yang saya tulis di atas, juga disediakan tautan ke PQ. Silakan cek di https://sites.google.com/site/ijcsis/vol-13-no-12-dec-2015.

Eit, tunggu dulu.. tempat penyimpanan dan laman web yang menggunakan google site, bukan tolok ukur kualitas jurnal.  

Gambar di atas, memperlihatkan informasi tanggal kirim dan keputusan publikasi. Jarak antara terakhir dikirim dan pengumuman, hanya terpaut 3 hari. Informasi ini, sangat mungkin menjadikan orang ragu. "Jika ada paper yang disubmit tanggal 19, apa bisa cuma 3 hari proses reviewnya?". Keterangan berikutnya, yang tertulis "* Deadline extension to submit a paper can be offered on request.", ini mungkin juga akan menjadikan keraguan pada jurnal tersebut.

Lalu, bagaimana sebaiknya? Apakah yang masuk di web JB pasti diragukan atau malah predator?


Ada yang tidak ingin terjebak pada istilah "predator", kemudian menggunakan istilah "dipertanyakan". JB sendiri, pada web di atas menuliskan "Potential, possible, or probable predatory scholarly open-access journals"Artinya, daftar yang dibuat Beall, saya cenderung menggunakannya sebagai salah satu pedoman dalam menetapkan jurnal yang harus dihindari sebagai referensi, atau jurnal target.

Saya sendiri lebih cenderung bersikap hati-hati pada jurnal yang masuk di daftarnya Beall. Itung-itung, menggunakan daftar tersebut sebagai bantuan untuk mengidentifikasi jurnal yang akan digunakan sebagai referensi, atau disasar untuk menerbitkan artikel kita. Jika ada jurnal yang mau disasar ternyata ada di daftranya Beall, maka alangkah lebih baik jika  dibuka webnya, lalu diamati terkait: tanggal penting, siapa saja reviewernya, kalau perlu kontak ke penulis yang sudah pernah menerbitkan artikelnya disana.

Identifikasi kualitas jurnal, akan dibahas dipostingan lainnya.

Memang, bisa jadi lebih baik langsung dihindari. Toh, ada banyak jurnal lain yang bisa dijadikan sasaran untuk menerbitkan artikel. Mau aman? sasar jurnal yang Q1 atau Q2, dan ada atau terindeks di JCRnya Thomson Reuters.


Ssst, saya tidak menganjurkan menggunakan SJR, Scopus, dan TR sebagai satu-satunya tolok ukur, lho.. Tiga web tersebut, sebagai alat bantu identifikasi.


Wednesday, 5 October 2016

Membuat daftar pustaka dari karya yang ditulis dengan bahasa non latin

A Note About Foreign Alphabets
If you are citing a work written in a non-Latin script (e.g., Chinese, Greek, Japanese, Russian), the reference must be transliterated into the English alphabet. See "Apples to תפ׀חים" for more on this topic.

kutipan di atas saya ambil dari blog APA styles, http://blog.apastyle.org/apastyle/2012/12/citing-translated-works-in-apa-style.html.

For my paper, I’m using several sources that I read in foreign languages. Some of my other sources were originally written in foreign languages, but I read them in an English translation. How should I cite these works?
--Polly Glodt

Dear Polly,
For foreign or translated works, a reference follows the basic APA Style templates, but you may need to add some additional information to get your reader to the source you used.
For example, here’s how you would cite the original French edition of a work by Piaget (note that an English translation of the title is included in brackets):
Piaget, J. (1966). La psychologie de l’enfant [The psychology of 
     the child]. Paris, France: Presses Universitaires de France.

Here’s another example, from a German journal. Again, brackets contain an English translation of the work’s title (the article, not the journal).
Janzen, G., & Hawlik, M. (2005). Orientierung im Raum: Befunde zu 
     Entscheidungspunkten [Orientation in space: Findings about 
     decision points]. Zeitschrift für Psychologie, 213(4), 
     179–186. doi:10.1026/0044-3409.213.4.179
You may have noticed that the capitalization of the article’s title is a bit unusual. That’s because in German, nouns are always capitalized. Since the capitalization carries grammatical weight (much like the capitalization of proper nouns in English), it’s preserved in the reference list.
If you read an English translation of a foreign work, the author, title, and so forth come from the version you read, with a nod to the translator:
Piaget, J. (1969). The psychology of the child (H. Weaver, 
     Trans.). New York, NY: Basic Books.

http://blog.apastyle.org/apastyle/2010/08/apples-to-%D7%AA%D7%A4%D7%97%D7%99%D7%9D.html






http://ait.libguides.com/c.php?g=280093&p=1866392
When referencing foreign language material where the information is written using another alphabet, such as Japanese, you should transliterate (not translate) the details into the English alphabet.
Example:鷲田清一. (2007) 京都の平熱 : 哲学者の都市案内. 東京: 講談社.
Washida, K. (2007) Kyōto no heinetsu: tetsugakusha no toshi annai. Tōkyō: Kōdansha.

Thursday, 22 September 2016

Ilmuwan (ilmu) Perpustakaan dan Informasi: laman profil dan karya intelektual mereka

S3 atau studi doktor merupakan jenjang pendidikan tertinggi.  Tidak semua orang dapat meraih  jenjang studi ini. Selain karena dana  dan kemampuan, juga bisa karena usia, maupun yang pasti suratan takdir.

Sebagai upaya berbagi kepada orang yang tidak dapat (atau belum dapat) mencerap jenjang pendidikan tersebut, sudah selayaknya jika para doktor ini berbagi kenikmatan ilmu yang dipelajarinya pada orang lain. Tentunya, dengan derajat doktor yang dipelajarinya, tulisan dan kajiannya akan memiliki bobot intelektual yang di atas rata-rata. Karena ini bidang perpustakaan, tentunya karya intelektual mereka memiliki kajian tajam pada bidang perpustakaan, yang dapat dijadikan pegangan dalam pengembangan perpustakaan.

Nama-nama yang saya temukan, sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Perannya terhadap perkembangan kepustakawanan di Indonesia, sudah tidak ada keraguan lagi. Berikut beberapa nama yang berhasil saya lacak, baik mahasiswa maupun sudah lulus, sekaligus tautan yang memperlihatkan karya-karya intelektual mereka.


Sri Rohyanti Zulaikha
Dosen IPI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyelesaikan S3 di UNY. Jejak karyanya dapat dilihat di:

Safirotu Khoir
Kesehariannya bekerja di Perpustakaan UGM.  Setelah tamat S2, mengabdi di UGM, menjadi pengurus FPPTI DIY, dan kemudian melanjutkan studi S3 di University of South Australia.

Jejak pemikirannya dapat dilacak lewat kumpulan tulisannya di

Bekti Mulatiningsih
Bekti Mulatiningsih is a PhD candidate at Queensland University of Technology (QUT). Her research focus lies within the domain of social media applications and the implications they can have on individuals and communities. Bekti is the recipient of the 2012 Australia Library and Information Association Student Award for her Master of Information Technology (Advanced) at QUT.
Ulasan di atas saya salin dari laman LinkedIn Bekti, yang beralamat di https://au.linkedin.com/in/bmulatiningsih. Jejak pemikirannya dapat dilacak melalui:
Disertasinya berjudul "LISprofessionals: Library and information science professionals' experience of social media" dapat diakses di https://eprints.qut.edu.au/112768/

Ida Fajar Priyanto
Pustakawan UGM, dan pernah menjadi kepala Perpustakaan UGM. Pak Ida juga mengajar di Pascasarjana UGM serta beberapa kampus lain. Selain itu juga pembicara di berbagai pertemuan ilmiah dalam dan luar negeri. Pak Ida menempuh S3 di North Texas University, Amerika.

Jejak tulisannya dapat di lihat di:

Purwani Istiana
Pustakawan UGM yang ditempatkan di Fakultas Geografi. Sedang menempuh S3 di UGM.

Herianto
I am a Higher Degree Research student at the QUT, Brisbane, Australia. I have more than 10 years experience working on different libraries such as school library, university library and company resource centre. (https://au.linkedin.com/in/heriyanto-068a5a27)
 Silakan lihat di bagian publikasi, pada laman LinkedIn Herianto. Disertasi Herianto berjudul "Understanding how Australian researchers experience open access as part of their information literacy" bisa diunduh melalui https://eprints.qut.edu.au/117651/


Imas Maesaroh
Dosen di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Menempuh studi doktor di Curtin University

Nurdin Laugu 
Dosen ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga ini menyelesaikan S2 di Belanda. Sedangkan S3nya diselesaikan di UGM. Disertasinya berjudul "Representasi Kuasa Dalam Pengelolaan Perpustakaan Studi Kasus pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta" dapat dilihat di http://etd.repository.ugm.ac.id/

Disertasi ini juga telah dibukukan. Informasi promosi doktornya dapat dilihat di 
http://ugm.ac.id/id/berita/8525-perpustakaan.jadi.ruang.negosiasi.dan.kontestasi.aktor

Laman Google Scolar: https://scholar.google.co.id/citations?user=XUD-gJMAAAAJ&hl=id&oi=ao




Tafrikhuddin
Sehari-harinya merupakan dosen di UIN Sunan Kalijaga. Menyelesaikan S3 di UNY. Disertasinya berjudul "Sumber Belajar dan Dampaknya terhadap Pola Pikir dan Perilaku Keagamaan Santri (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta)" dapat dilihat di http://eprints.uny.ac.id/13071/

Aditya Nugraha
Staf di Perpustakaan Universitas Petra Surabaya. Menyelesaikan S3 di Curtin University Australia, dengan disertasi berjudul "Institutional Repositories in the Indonesian Higher Education Sector: Current State and Future Prospect".



----------------||-----------------

Jika ditemukan data baru, akan ditambahkan.


,

Bagaimana jika sebuah artikel telah terbit, ternyata plagiat?

Meskipun telah melalui berbagai proses, sangat mungkin artikel yang telah terbit ternyata menyalahi aturan, dan diketahui dikemudian hari.
Aturan dapat berupa banyak hal. Terkait plagiat, diterbitkan di dua tempat, kesalahan data, kesalahan penulis (penulis palsu), dan lainnya.

Apa yang akan dilakukan oleh penerbit?
Elsevier menerapkan kebijakan Withdrawal, Retraction ,removal dan Replacement. (https://www.elsevier.com/about/company-information/policies/article-withdrawal)

Namun demikian, misalnya untuk yang Restracted, paper tetal available, namun ditandai dengan Restracted. Jika dilihat, sangat mengerikan. Karena selamanya orang akan membaca artikel tersebut lengkap dengan tanda tersebut.


Contoh di atas, ada di http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0165168405002458, maka mari kita hati-hati ketika hendak mengirimkan naskah untuk diterbitkan.

Selain contoh di atas, silakan bandingkan juga dua tesis berikut ini.
  1. http://eprints.undip.ac.id/18359/ Alawiya, Nayla (2009) COPYLEFT DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI PERBEDAAN PANDANGAN TENTANG HAK CIPTA DALAM MASYARAKAT ISLAM INDONESIA. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Deposit on 30 Jul 2010
  2. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/30925 Copyleft Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Kaitannya Terhadap Perkembangan Copyright (Hak Cipta) Pada Masyarakat Islam Indonesia, oleh Lubis, Muhammad Ikhsan, Issue date 1-Feb-2012
atau, dua artikel berikut:

Kejadian di atas, terjadi ketika kesalahan ada di pihak penulis. Bagaimana jika kesalahan di pihak penerbit?


Jika kesalahan ada di pihak penerbit
Masih ingat kasus artikel Inul Daratista? klik di http://www.purwo.co/2016/10/hot-artikel-agnes-monica-dan-inul.html.  Salah satu artikel yang mengatasnamakan Inul, ber-DOI 10.5897/AJAR12.148. Nah, ketika kita cek menggunakan DOI.ORG, ternyata tidak ditemukan. Prediksi saya, telah dihapus oleh penerbit?

Jika sebuah tulisan, terbit dan ditemukan masalah, ada dua kemungkinan. Pertama, jika masalah itu ada di sisi penulis, maka tulisan akan terpampang, dan bisa diberi tulisan RETRACTED, seperti contoh di atas. Mungkin, maksudnya untuk menghukum penulis, agar tidak main-main dan lebih hati-hati.
Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan keseriusan penerbit. Dengan cara demikian, maka nama penerbit akan diperhitungkan, dan penulis tidak berani main-main.

Namun, jika kesalahan ada di pihak penerbit, maka dengan kekuasaannya, penerbit kemungkinan besar akan menghapusnya. Kenapa? karena tentunya itu aib penerbit, bukan aib penulis. Maka penerbit harus menghapusnya.

Itulah kejamnya kekuasaan.






Monday, 19 September 2016

Menulis Ilmiah Populer di bidang perpustakaan


Selasa, 13 September 2016, saya mengikuti diskusi tentang menulis ilmiah populer. Pemantik diskusinya adalah I Made Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi UGM. Beberapa kutipan saya peroleh, dan, seperti biasanya saya bawa kutipan tersebut ke ranah yang saya geluti, perpustakaan.
#memposisikan diri menjadi orang awam, ketika kita hendak mengantarkan bidang ilmu kita
Saya melihat, dunia tulis menulis, saat ini cukup populer bagi para pustakawan. Buku-buku terkait perpustakaan, khususnya yang populer banyak yang telah terbit. Ada kelas menulis pustakawan, blog pustakawan, tulisan di berbagai media massa tentang perpustakaan, dan semacamnya. Namun, untuk yang sifatnya ilmiah (keilmuan) yang disusun dengan bahasa populer, menurut saya masih perlu diperbanyak.
Masih sedikit tulisan populer bidang ilmu perpustakaan (khususnya para akademisi) yang menarik dibaca namun tetap punya bobot keilmuwan atau kemanfaatan bagi para praktisi. Dulu saya menemukan iperpin, yang ditulis oleh Pak Putu. Tulisan Pak Putu di blog tersebut, saya yakin ditulis dengan seruis, dangan tata bahasa yang apik agar mudah dipahami. Saking senengnya, sampai saya unduh menggunakan web copier, agar bisa saya urai dan baca setiap saya butuh, tanpa harus terkoneksi internet.
Menulis bidang kepustakawan untuk orang awam, juga bentuk promosi ilmu perpustakaan (dan informasi).
Jika dilihat, sebenarnya banyak ilmuwan bidang perpustakaan, namun dibutuhkan pula yang mampu membahasakan ilmu perpustakaan (dan informasi) lebih membumi dan menyajikan point jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh pustakawan. Atau menurunkan teori ilmu perpustakaan (dan informasi) dalam bahasa yang renyah, dan tulisan yang mudah diakses.
Belum lagi, jika pembacanya adalah bukan pustakawan, atau tidak memiliki pendidikan ilmu perpustakaan. Mungkin, akan lebih menarik lagi jika ilmu perpustakaan dapat dihantarkan kepada orang awam, atau siswa yang potensial jadi mahasiswa dengan bahasa awam, populer agar lebih mengena.
jangan sampai, justru banyak tulisan populer kepustakawanan oleh orang yang tidak berlatar belakang ilmu perpustakaan?
#menganalisis isu populer dengan ilmu kita
Perpustakaan masih dirasa dipinggirkan, namun para pustakawan berontak dan menyatakan bahwa perpustakaan itu penting. Teriakan “kami penting”, atau “perpustakaan itu penting”, tidak akan ada artinya jika tidak dibuktikan dengan kontribusi. Perpustakaan, banyak diungkap selalu dihubungkan dengan bagaimana informasi itu dikelola. Berbagai isu populer, jika ditelisik juga berkaitan dengan informasi. Mampukan ilmu perpustakaan (dan informasi) ikut menelaah dan memberi sudut pandang terkait berbagai masalah yang ada saat ini? Memang, tidak semuanya bisa dianalisis dengan ilmu perpustakaan dan informasi. Namun, setidaknya yang bisa ditelisik dengan IPI, itulah lahan garapan untuk berperan/berkontribusi pada isu/masalah sekitar.
jangan sampai pegiat yang bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan, lebih peduli dengan perpustakaan.
#menulis populer, juga sebagai bentuk pertanggungjawaban pada penyandang dana
Menulis di jurnal adalah sebuah kebanggaan, namun menulis populer di media selain jurnal juga memiliki kontribusi yang bernilai pula. Mulai dari blog, opini koran, suara pembaca, dan berbagai rubrik lainnya. Menulis populer dengan sasaran non pustakawan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban profesi pada khalayak ramai. Apalagi bagi pustakawan yang digaji negara.
#yang dijual adalah bonusnya
Kutipan di atas sangat menarik menurut saya. “Handphone, saat ini yang dijual bukan kemampuan SMS atau menelpon, namun kemampuannya memotret dan juga kapasitas prosesornya sehingga nyaman untuk berinternet”, begitu analogi dari Pak Andi. Kemampuan pustakawan yang wajib dimiliki, mestinya juga bukan lagi nilai lebih jika ingin promosi diri. Namun kemampuan non-kepustakawanan justru akan mendongkrak nilai tawar pustakawan atau calon pustakawan. Pustakawan yang mahir jadi MC, mahir stand-up comedy, mahir kaligrafi, mahir menggambar kartun, menulis cerpen, justru nilai lebih tersendiri.
Apa yang sebaiknya dilakukan praktisi?
Dihadapkan pada berbagai istilah perkembangan bidang perpustakaan, bagi praktisi, seperti ditempatkan pada ruang yang terjepit di empat penjurunya. Pustakawan praktisi memang bukan akademisi (pendidik ilmu perpustakaan). Di perguruan tinggi, pustakawan juga bukan seorang civitas akademika.
“Belajar sepanjang hayat”, yang berlaku bagi siapapun, tentunya juga berlaku bagi praktisi pustakawan. Penjabarannya sederhana: belajar kapanpun, dimanapun, dari siapapun. Mencoba melakukan hal baru, mencoba menguasai kemampuan baru, termasuk di dalamnya adalah menulis populer agar khalayak ramai tahu apa itu perpustakaan, dan apa itu ilmu perpustakaan dari sudut pandang yang paling shahih, yaitu para pustakawan.
Apakah semua harus menulis populer? Tentunya kudu berbagi peran, sasaran jurnal ilmiah level nasional, bahkan internasional juga kudu dimainkan. Tergantung kita, para pustakawan, mau memilih jalan yang mana.


Friday, 16 September 2016

, ,

Tentang Summon, keterangan Altmetric dan fitur terkait

Pencarian melalui Summon UGM, (ugm.id/ss) memunculkan berbagai sumber ilmiah yang dilanggan UGM dan dari perpustakaan UGM.
Fitur pertama adalah filtering. Seperti gambar di samping, maka si pencari informasi dapat memilih dengan beberapa kategori: fulltext online, atau berdasar content type tertentu.


Selain filtering, pencarian memunculkan beberapa fitur.


Altmetric, seperti gambar di samping, berada di sebelah kanan, berbentuk lingkaran berwaarna. Tiap warna memiliki arti sendiri. Hijau untuk twitter, kuning untuk blog, dan biru untuk facebook. Ada angka yang menyertai gambar tersebut. Lingkaran tersebut, berarti artikel terkait memiliki angka popularitas tertentu dari beberapa sumber. Angka tersebut dihitung oleh Altmetric mulai tahun dan bulan tertentu. Lihat gambar di bawah ini.

Sumber klik, juga klik
Pengihutunga masing-masing sumber tidak dimulai dari waktu yang sama. Selain itu, bobotnya juga tidak sama.
Blog dan news memiliki nilai paling tinggi, disusul wikipedia dan lainnya. Jejaring sosial twitter dan facebook hanya memiliki nilai 1 dan 0.25.


Selain informasi almetric, summon juga memungkinkan kita untuk menyimpan hasil pencarian, mengirim hasil pencarian ke email, atau mengutip dengan berbagai gaya kutipan, serta mengeksport metadata ke berbagai format.





sumber klik
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Summon, silakan unduh slide presentasi yang diunggah oleh Forum Pustakawan UGM, di tautan ini.