Monday, 30 July 2018
Monday, 9 July 2018
Da'i dan pustakawan
Jarene wong pinter, "kita adalah da’i sebelum menjadi apapun". Da'i, di KBBI berarti pendakwah. Kerjaannya berdakwah, ngajak marang kebaikan. Lalu siapa yang bisa jadi da'i? Mengajak pada kebaikan itu tanggungjawab semua orang. Artinya semua orang bisa dan berkesempatan jadi da’i. Namun demikian, seseorang akan disebut da'i atau tidak, tergantung pada orang lain. Mau atau tidak orang lain menyebutnya da’i.
Da'i itu sebutan yang disematkan pada seseorang oleh orang lain yang mengakuinya. Jika dia menganggap orang lain itu da'i, ya disebutlah dia da'i. "Itu ada pak da'i, nanti mau ngisi pengajian". Embuh dia sekolah belajar formal atau tidak. Atau cukup nyantrik ke kyai setiap sore, kalau orang menganggap da'i, ya sah dia disebut da'i. Da'i berkaitan erat dengan agama tertentu, Islam.
Da'i yang baik, tidak akan mempermasalahkan da'i lain hanya karena tidak mengenyam pendidikan perdakwahan dan perda'ian.. Da'i diakui dari ilmunya. Semakin tinggi ilmunya, semakin menunduk dan menghargai da’i lainnya, meski berbeda pandangan atau pendapat. Jika ternyata seorang da’i ilmunya janggal, maka dia akan ditinggalkan. Masyaratkatlah yang akan menjadi filternya. Bar.
Sebutan da'i, merupakan sebutan yang given, diberikan oleh masyarakat sekitar. Dia bukan profesi yang diminta oleh Si Da'i. Sebutan da'i bukan hegemoni kelompok tertentu saja, dan tentunya tidak terkait undang-undang.
###
Nah, pustakawan juga seperti da’i. Masyarakat boleh memanggil seseorang sebagai pustakawan berdasar peran nyatanya di masyarakat. Kenapa tidak? Kalau memang tidak pantas, maka tak akan dia disebut sebagai pustakawan bagi orang lain. Jika Paijo itu mengabdikan dirinya untuk kegiatan yang terkait pustaka, kemudian orang menyebutnya pustakawan, ya sah saja. Meskipun Paijo tidak sekolah (ilmu) perpustakaan. Mau protes?
Mendapat sebutan pustakawan tak harus perlu pendidikan formal kepustakawanan, dan tidak dihegemoni oleh kalangan tertentu saja. Bahkah orang bisa menyebut dirinya adalah pustakawan, bagi dirinya sendiri. Setiap manusia adalah da'i, setiap manusia adalah pustakawan. Dan tentu saja, setiap tempat adalah perpustakaan.
Da'i itu sebutan yang disematkan pada seseorang oleh orang lain yang mengakuinya. Jika dia menganggap orang lain itu da'i, ya disebutlah dia da'i. "Itu ada pak da'i, nanti mau ngisi pengajian". Embuh dia sekolah belajar formal atau tidak. Atau cukup nyantrik ke kyai setiap sore, kalau orang menganggap da'i, ya sah dia disebut da'i. Da'i berkaitan erat dengan agama tertentu, Islam.
Da'i yang baik, tidak akan mempermasalahkan da'i lain hanya karena tidak mengenyam pendidikan perdakwahan dan perda'ian.. Da'i diakui dari ilmunya. Semakin tinggi ilmunya, semakin menunduk dan menghargai da’i lainnya, meski berbeda pandangan atau pendapat. Jika ternyata seorang da’i ilmunya janggal, maka dia akan ditinggalkan. Masyaratkatlah yang akan menjadi filternya. Bar.
Sebutan da'i, merupakan sebutan yang given, diberikan oleh masyarakat sekitar. Dia bukan profesi yang diminta oleh Si Da'i. Sebutan da'i bukan hegemoni kelompok tertentu saja, dan tentunya tidak terkait undang-undang.
###
Nah, pustakawan juga seperti da’i. Masyarakat boleh memanggil seseorang sebagai pustakawan berdasar peran nyatanya di masyarakat. Kenapa tidak? Kalau memang tidak pantas, maka tak akan dia disebut sebagai pustakawan bagi orang lain. Jika Paijo itu mengabdikan dirinya untuk kegiatan yang terkait pustaka, kemudian orang menyebutnya pustakawan, ya sah saja. Meskipun Paijo tidak sekolah (ilmu) perpustakaan. Mau protes?
Mendapat sebutan pustakawan tak harus perlu pendidikan formal kepustakawanan, dan tidak dihegemoni oleh kalangan tertentu saja. Bahkah orang bisa menyebut dirinya adalah pustakawan, bagi dirinya sendiri. Setiap manusia adalah da'i, setiap manusia adalah pustakawan. Dan tentu saja, setiap tempat adalah perpustakaan.
Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya
Tuesday, 3 July 2018
[[ timnas islandia dan kepustakawanan kita ]]
Ada yang menarik di timnas Islandia piala dunia 2018. Pertama, nama-nama pemainnya berakhiran dengan "son". Kemudian yang kedua terkait pekerjaan sampingan (atau utama?) pemain dan pelatihnya.
Halldorsson, kiper Islandia itu juga berprofesi sebagai sutradara iklan. "Pekerjaan saya hanyalah menjadi pembuat film," demikian dia berkata. Kabarnya, selain memang ketertarikannya pada dunia film, juga disebabkan oleh liga Islandia hanya bersifat semi profesional. Selain Halldorsson, ada juga Hallgrimsson, sang pelatih yang juga seorang dokter gigi. "saya benar-benar menikmati kembali untuk bekerja dengan klien saya", begitu katanya. Menjadi dokter gigi adalah cara terbaik untuk santai dari tekanan sepakbola. Bahkan, dia pernah berkata, "Saya adalah seorang dokter gigi dan takkan mau melepas pekerjaan tersebut". Saevarsson, bek Islandia juga merupakan buruh pabrik garam. "Ini normal", katanya.
Jika ditarik pada dunia kepustakawanan, ini menarik. Halldorsson mengatakan "semi profesional". Mungkin masih ada yang merasa, baik secara keseluruhan atau per kasus di tiap institusi, ternyata profesi pustakawan masih semi profesional. Sehingga pekerjaan sebagai pustakawan itu tidak bisa 100% diharapkan, maka jadilah seperti Halldorsson, yang menjadi sutradara film, atau Saevarsson yang juga buruh pabrik garam.
Jika merasa menjadi pustakawan itu banyak tekanan, maka jadilah seperti Hallgrimsson, yang menggeluti dokter gigi sebagai hiburan.
Sepakbola yang bagi banyak orang sangat menjanjikan, bergaji tinggi dan terjamin, ternyata tidak untuk pesepakbola lainnya. Apapun sebabnya. Demikian pula pustakawan. Dia bisa menjanjikan untuk sebagian, namun tidak untuk sebagian lainnya. Maka memiliki cara pandang yang lebih luas tentang rejeki (bahkan juga tentang hidup-tantangan-ujian) menjadi penting.
Mbah Kyai Maimun menyampaikan "Kalau kamu jadi guru, dosen, atau kiyai, kamu harus tetap punya usaha sampingan.. Biar hatimu tidak selalu mengharap pemberian.." [1] Demikianlah, rejeki dapat datang dari berbagai sumber, dari berbagai arah. Tidak hanya dari sepakbola saja, tidak hanya dari menjadi pustakawan saja.
Pustakawan itu sebuah pekerjaan, bisa menjanjikan, bisa tidak. Santai, dan bergembiralah.
Begitu, Son..
[1] https://twitter.com/nu_online/status/885322832883859456
[1] https://twitter.com/nu_online/status/885322832883859456
#2019 ganti pustaka-man
Siapa tak kenal superman, spiderman, wonder wo-man? Tokoh fiktif penuh imajinatif, yang dikenal sejak lama. Bahkan, idola yang ketika beraksi hanya bercelana dalam tersebut masih saja diangkat sebagai film di jaman ini. Kuat, kekar, gagah, dan juga sakti. Bagi kaum perempuan, spiderman dan superman juga dianggap nggantheng. Wonder wo-man, dianggap cantik, tur ya seksi.
Selain super, spider dan wonder, kata Kang Dodo, ada “Sandiman”. Sandiman itu sebutan bagi para pengelola sandi. Sekolahnya di Sekolah Sandi Negara. Mendengar itu, Paijo nyeletuk, “kenapa tidak pustakaman, ya?”. Dari sinilah semua berawal.
###
Pertanyaan iseng ini muncul pada obrolan sore itu. “Yo wis, diganti saja jadi pustakaman. Bikin istilah baru”. Tawa lepas tanpa dosa mengikuti ide tersebut.
Sebenarnya, selain pustakawan, telah muncul istilah baru, yang konon kabarnya lebih kekinian. Lebih sesuai dengan perkembangan, dan tentunya lebih membanggakan. “Pekerja informasi”, misalnya. Istilah itu dianggap menimbulkan energi positif bagi yang menggunakan. Seolah berbagai sejarah buruk, ketertindasan dan juga konflik yang tersemat pada istilah “pustakawan” dapat dihilangkan dengan istilah baru, “Pekerja Informasi”.
Nah, bagaimana dengan “Pustakaman”. :)
Paijo browsing, cari alasan munculnya buntut wan dan man. Apa bedanya?. Pada sebuah laman web dia menemukan, bahwa “man” digunakan jika vokal akhir dari kata dasarnya “i”. Sedangkan selain itu, menggunakan “wan”. Itulah sebab sand(i) menjadi sandiman, sen(i) menjadi seniman. Sementara buday(a) menjadi budayawan, pustak(a) menjadi pustakawan.
Namun, apakah semua i menjadi man, dan a menjadi wan? Jika ditelisik, ada juga Sujiwan. Suj(i) itu berakhiran i, harusnya Sujiman. Karyo, yang mendengar gerutu Paijo nyeletuk, “Sujiman itu nama orang, Jo”. Paijo, yang memang ngeyel itu tidak mau kalah. “Okelah itu nama orang, tapi apa alasan i menjadi man, dan a menjadi wan?”. Kang Dodo, yang sehari-hari bergelut dengan dunia informasi menyodorkan data: geolog(i)wan. Geologi berakhiran i, tapi buntutnya wan, bukan man.
Jadi?
###
Tinggalkan saja istilah pustakawan, yang penuh konflik dan masih identik dengan ketertindasan. Beralih ke pustakaman. Berharap akan mendapat tuah sakti dan sekuat Superman, Spiderman, atau Wonder Wo-man. Demikian, Paijo bersemangat mencari pembenaran ide pustakaman tersebut.
Ingatkah ide mengganti Indonesia menjadi Nusantara atau Nuswantoro?, yang konon dianggap lebih asli dibanding Indonesia. Penggantian tersebut sebagai usaha mengubah nasib negara ini. Menurut itung-itungan primbon tentang nama, Nusantara lebih membawa hoki. Nah, demikian pula dengan pustaka-man. Sopo reti, siapa tahu, lebih membawa hoki pada perkembangan kepustaka-man-an di Indonesia. Para pustakaman akan bergabung dalam Ikatan Pustakaman Indonesia.
###
“Otak-atik kata ini, sebagai bentuk membangunkan kata-kata, yang telah lama diistirahatkan oleh Wiji Thukul”, celetuk Paijo. “Bangunlah kata-kata”, ngono. Obrolan mempermainkan kata itu berlangsung seru. Obrolan sebagai bentuk hiburan di sela kesibukan mereka menjadi pustakawan, yang kadang penuh tekanan. Baik tekanan pekerjaan, maupun tekanan psikologis: dari atasan, atau bahkan dari sesama pustakawan. Dengan mengubah menjadi pustakaman, maka Paijo akan menganggap pustakawan sebagai masa lalu yang harus dikubur bersama segala sejarah kelamnya. Paijo ingin memulai hal baru.
###
“Byur”, air tumpah di wajah Paijo, memaksanya bangun dari dipan kayu. Ternyata Paijem, istrinya sudah berupaya membangunkan sedari tadi. Karena tak ada respon, maka air segayung itu solusinya. “Katanya pustakawan itu penting, pembawa perubahan, tapi bangun tidur saja susah. Ndang mandi sana”, suara istri Paijo memecah pagi. Tanpa ba-bi-bu, Paijo nyaut handuk merah yang sudah bolong-bolong tak karuan, menuju kamar mandi. Adus kilat, karena waktu sudah siang.
Selesai berpakaian, Paijo menuju ruang makan. Sial, tak ada makanan terhidang untuk sarapan pagi. “Berasse habis, Kang. Durung ada uang untuk nempur”, jelas istrinya tanpa ditanya. Sambil mrengut, Paijo menyiapkan perlengkapan kerjanya. Selain berpakaian dinas, dia juga membawa bekal kaos. Maklum, selain jadi pustakawan, dia juga nyambi resik-resik sekolah. Paijo kerja kontrak di sekolah swasta, kecil, yang tak mampu menggaji tenaga kebersihan. Melihat peluang itu, Paijo nyambi jadi tukang kebon, berharap gajinya bisa ditambah untuk bekal nempur setiap bulannya.
Paijo bergegas mengambil motor bututnya, dislah, lalu bersiap ngegas. Sebelum ngegas, dia teriak keras pada istrinya, “Bu, sekarang tak ada lagi pustakawan, adanya pustakaman”. “Berasse habis, Kang!”, jawaban Paijem tidak nyambung.
Monday, 2 July 2018
PDF eXpress: agar PDF diterima di IEEE
PDF eXpress and PDF eXpress Plus, IEEE-financed author tools that assist IEEE conference organizers in obtaining IEEE Xplore®-compatible PDFs from their authors, are online. These tools are free to all conferences that are enrolled in the IEEE Conference Publications Program.
https://www.pdf-express.org/
https://www.pdf-express.org/
Saturday, 30 June 2018
Jagongan
![]() |
| jagongane pithik |
Demikian juga jagongannya pustakawan, khususnya tentang perpustakaan, perkembangan pustakawan, kepustakawanan. Baik dengan sesama pustakawan, dengan dosen (ilmu) perpustakaan, atau dengan siapapun yang berminat alias berkenan.
Nah, ada beberapa gaidlain, alias panduan para pustakawan dalam diskusi, menanggapi antar sesama atau dengan para ilmuwan perpustakaan.
Berdiskusi dengan sesama pustakawan itu jelas, mau ngalor ngidul, ngetan ngulon, hasil akhirnya jelas. Tanpa tedeng aling-aling sesama pustakawan akan mencari formula terbaik (atau bertanya balik pada lawan diskusi) dengan pertanyaan: bagaimana contohnya. Ya, karena pustakawan berkepentingan belajar dari pustakawan lainnya dalam mengelola perpustakaan, atau menjalankan profesinya sebagai pustakawan. Berharap pustakawan lainnya telah melakukan apa yang diomongkan, atau paling tidak mau memberitahu langkah yang hendak dilakukannya.
Menanggapi diskusi dengan dosen (ilmu) perpustakaan itu pun jelas. Memang tidak serta merta dosen bisa memberi contoh, sebagai mana pustakawan. Namun, pada tingkatan intelektualitas di atas rata-rata yang dimiliki dosen (ilmu) perpustakaan, maka seorang pustakawan bisa bertanya: bagaimana sebaiknya?. Jawaban dosen (ilmu) perpustakaan tidak langsung contoh riil, karena mereka tidak (semuanya) turun langsung pada praktik kepustakawanan di perpustakaan.
Berikutnya, menanggapi diskusi dengan seorang pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan. Orang yang "nyambi" dengan dua peran ini cukup banyak. Bahkan, seorang pustakawan dengan bangganya mengatakan, "aku lagi ngajar". "Ngajar", merupakan istilah yang selama ini disematkan pada dosen. Pustakawan menyebut dirinya "ngajar", mungkin karena memang dia benar-benar ngajar, atau dia ingin masuk pada atmorfir "ngajar" yang selama ini dilakukan dosen. Untuk apa? Ya biar merasa dosen. Hehe. Berdiskusi dengan pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan itu kepenak banget. Asli, tenin. Karena sebagai pustakawan, kita bisa bertanya dua hal sekaligus: piye contone dan piye konsepe? (Bagaimana konsepnya, dan bagaiman contohnya)
Pustakawan yang nyambi ngajar ini memiliki pengalaman riil, dan juga konsepnya. Komplitlah.
Kemudian ketika berdiskusi dengan yang bukan pustakawan dan bukan dosen (ilmu) perpustakaan. Hal ini juga kepenak, atau paling tidak: jelas jluntrungnya. Pustakawan akan menempatkan lawan diskusi sebagai pemustaka yang perlu dilayani. Pada orang yang bukan berstatus pustakawan dan juga bukan dosen (ilmu) perpustakaan, seorang pustakawan bisa bertanya: mohon saran, dan apa yang bisa kami bantu?
Mohon saran, sebagai bentuk peghargaan pada sang pemustaka. Tentunya mereka perlu dilayani, atau memiliki saran (bahkan kritik) pada layanan di perpustakaan yang dikelola pustakawan. Sementara menawarkan bantuan melalui pertanyaan "apa yang bisa kami bantu", merupakan proses menjalankan substansi pustakawan pada pihak pemustaka.
Yang terakhir, rada susah menanggapinya, yaitu ketika bicara tentang perpustakaan atau kepustakawanan dengan orang yang ndak jelas statusnya, antara pustakawan atau dosen (ilmu) perpustakaan. Lah, simalakama. Contoh riil tak mendapatkan. Saran yang diberikan juga, ah, melangit. Dan susahnya lagi, saran yang melangit itu sendiri tidak dilakukannya. Mumet, tho?
###
Semua kawan diskusi harus dihargai. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagaimanapun juga, belajar itu bisa dilakukan dari siapapun. "Setiap orang adalah guru", jarene begitu. Namun, sebagai pustakawan kudu bisa memetakan pihak-pihak di atas. Untuk apa? yang untuk menjaga diri, agar tepat dalam menanggapi. Yang paling penting lagi, untuk menjaga kese(t)imbangan pikiran. #halah.
###
Semua kawan diskusi harus dihargai. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagaimanapun juga, belajar itu bisa dilakukan dari siapapun. "Setiap orang adalah guru", jarene begitu. Namun, sebagai pustakawan kudu bisa memetakan pihak-pihak di atas. Untuk apa? yang untuk menjaga diri, agar tepat dalam menanggapi. Yang paling penting lagi, untuk menjaga kese(t)imbangan pikiran. #halah.
Dekat stasiun Gambir, Aryaduta kamar 703
30 Juni 2018, 05.56 pagi
Tuesday, 5 June 2018
Pengalaman dengan LaTeX (2)
LaTex, selain artinya terkait karet, dalam dunia ilmiah dikaitkan dengan alat untuk olah dokumen. LaTex, dibaca «Lah-tech» atau «Lay-tech», berfungsi sebagai alat untuk menulis ilmiah, seperti halnya Microsoft Word. Beberapa jurnal mensyaratkan paper ditulis menggunakan Latex jika hendak disubmit ke jurnal tersebut.
Penulisan menggunakan Latex memang agak berbeda dengan Ms. Word atau Libreoffice. Latex lebih mirip dengan Wordstar, sebuah aplikasi serupa sebelum Ms. Word. Penulis harus mendefisinisikan berbagai aturan yang dikehendaki pada baris-baris yang tersedia. Penulisan model inilah yang kadang menjadi momok penulis ketika menemukan jurnal yang mensyaratkan penggunaan Latex.
Latex menerapkan filosofi What You See is What You Mean, atau apa yang kamu lihat merupakan apa yang kamu inginkan. Sementara Ms. Word menerapkan filosofi What You See is What You Get, apa yang kamu lihat merupakan apa yang akan kamu dapatkan.
Latex sendiri sebenarnya mesin, pemroses. Sementara antarmukanya bisa menggunakan banyak aplikasi. Miktex, Texwork, Texstudio merupakan beberapa contohnya. Selain itu, adapula LyX. Berbeda dengan 3 aplikasi pertama, LyX hampir mirip Ms. Word.
###
Untuk memenuhi syarat paper menggunakan Latex, tidak harus menulis langsung di Latex. Namun bisa ditulis dahulu di aplikasi pengolah kata (Ms. Word, LibreOffice dll) kemudian dipindahkan. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dan tentunya disesuaikan dengan guide for author. Baca baik-baik guide for author di jurnal.
Berikut ini kesalahan sepele yang pernah saya lakukan, sehingga manuskrip dikembalikan beberapa kali.
Penulisan menggunakan Latex memang agak berbeda dengan Ms. Word atau Libreoffice. Latex lebih mirip dengan Wordstar, sebuah aplikasi serupa sebelum Ms. Word. Penulis harus mendefisinisikan berbagai aturan yang dikehendaki pada baris-baris yang tersedia. Penulisan model inilah yang kadang menjadi momok penulis ketika menemukan jurnal yang mensyaratkan penggunaan Latex.
\documentclass{article}
\title{Cartesian closed categories and the price of eggs}
\author{Jane Doe}
\date{September 1994}
\begin{document}
\maketitle
Hello world!
\end{document}
Latex menerapkan filosofi What You See is What You Mean, atau apa yang kamu lihat merupakan apa yang kamu inginkan. Sementara Ms. Word menerapkan filosofi What You See is What You Get, apa yang kamu lihat merupakan apa yang akan kamu dapatkan.
Latex sendiri sebenarnya mesin, pemroses. Sementara antarmukanya bisa menggunakan banyak aplikasi. Miktex, Texwork, Texstudio merupakan beberapa contohnya. Selain itu, adapula LyX. Berbeda dengan 3 aplikasi pertama, LyX hampir mirip Ms. Word.
###
![]() |
| http://ijns.jalaxy.com.tw/contents/ijns-v20-n5/ijns-2018-v20-n5-p836-843.pdf |
Untuk memenuhi syarat paper menggunakan Latex, tidak harus menulis langsung di Latex. Namun bisa ditulis dahulu di aplikasi pengolah kata (Ms. Word, LibreOffice dll) kemudian dipindahkan. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dan tentunya disesuaikan dengan guide for author. Baca baik-baik guide for author di jurnal.
Berikut ini kesalahan sepele yang pernah saya lakukan, sehingga manuskrip dikembalikan beberapa kali.
- penulisan judul UPPERCASE ke Capitalize Every Word
- penulisan kata kunci urut abjad dan diawali huruf besar
- penulisan section UPPERCASE ke Capitalize Every Word
- penulisan nama gambar Sentences style
- jenis file gambar
- serta yang cukup menyita waktu bagi penulis adalah menyesuaikan format .bib. Sangat mungkin jurnal tidak menerima format bib default hasil eksport dari Mendeley/Zotero.
###
Bagi teman-teman yang hendak belajar Latex, bisa menggunakan Latex online, misalnya overleaf.
Real men use LaTeX
Monday, 4 June 2018
Kontribusi CSL (citation style) di database Citation Style
Ketika membuat kutipan dan daftar pustaka di Mendeley atau Zotero, kita bisa menemukan style yang tersedia dan kita tinggal menggunakan.
Namun, ada kalanya tidak ada yang sesuai dengan aturan di kampus kita. Bagaimana solusinya?
Solusi pertama membuat style sendiri. CSL menggunakan XML, cukup mudah dipelajari. Solusi kedua dengan modifikasi style yang sudah ada.
Saran saya, jika menemukan style bibliografi tertentu, cari yang paling mirip. Pencarian bisa dilakukan di http://zotero.org/styles atau http://editor.citationstyles.org/about/. Setelah ketemu, editlah. Di citationstyles ada dua mode edit: code atau visual.
Edit Citation di Citation Styles
Silakan masuk di https://editor.citationstyles.org, kemudian lakukan pencarian style yang hendak dimodifikasi. Misal: vancouver.
Di aplikasi Zotero editing dapat dilakukan langsung pada aplikasi.
Mengirimkan hasil modifikasi ke database CSL
CSL yang sudah dimodifikasi, dapat diupload di web jurnal, agar penulis bisa mengunduh dan memasangnya di aplikasi manajemen referensinya. Namun, juga bisa dikirim ke database CSL.
Nah, bagaimana agar style hasil modifikasi atau buatan sendiri tersebut bisa terlihat di database Mendeley atau Zotero?
Coba ikuti tautan ini https://github.com/. Laman ini berjudul Guide to Submitting CSL Styles (and CSL Locales). Pada laman ini ada dua pedoman untuk berkontribusi: submit new style dan Submitting changes to an existing style.
Diperlukan akun Github untuk melakukan submit style. Setelah submit, tunggu review dan hasilnya.
Namun, ada kalanya tidak ada yang sesuai dengan aturan di kampus kita. Bagaimana solusinya?
Solusi pertama membuat style sendiri. CSL menggunakan XML, cukup mudah dipelajari. Solusi kedua dengan modifikasi style yang sudah ada.
Saran saya, jika menemukan style bibliografi tertentu, cari yang paling mirip. Pencarian bisa dilakukan di http://zotero.org/styles atau http://editor.citationstyles.org/about/. Setelah ketemu, editlah. Di citationstyles ada dua mode edit: code atau visual.
Edit Citation di Citation Styles
Silakan masuk di https://editor.citationstyles.org, kemudian lakukan pencarian style yang hendak dimodifikasi. Misal: vancouver.
Setelah ditemukan, maka akan tampil tombol edit. Klik tombol edit.
Setelah tombol edit diklik, akan ditampilkan mode edit style yang sudah dipilih. Ada dua mode: visual, dan code editor. Silakan sesuaikan dengan keinginan. Code editor membutuhkan pemahaman struktur xml pada style CSL yang dipilih.
Misalnya kita pilih mode visual. Maka tampilan akan seperti di atas. Pada panel paling kanan akan ditampilkan tautan terkait struktur CSL yang akan diedit. Struktur tersebut terbagi menjadi system info yang berisi informasi terkait style, inline citation yang berisi tautan pada gaya kutipan yang akan dicantumkan pada teks, bibliography berisi style daftar pustaka, macro dan anvanced untuk editing lebih detail.
Tampilan di atas merupakan mode visual. Ada 2 sumber kutipan, dan 2 daftar pustaka jenis book chapter dan thesis.
Jika kita klik angka 1 pada example citation, maka pada bagian Layout akan muncul format dari yang diklik tersebut. Pada bagian layout inilah kita bisa mengubah tampilan. Misal menghilangkan prefix suffixnya, subscript, superscript, underline, bold, italic dan lainnya.
Jika yang kita klik judul bookchapternya, maka layout akan memperlihatkan bagian yang bisa kita modifikasi seperti halnya citation.
Nah, pada contoh di atas, hanya muncul dua contoh: book chapter dan thesis. Bagaimana jika kita ingin mengedit book, jurnal article atau lainnya? Tentu, kita harus memunculkan contoh jenis book dan jurnal artikel pada layar. Caranya?
Caranya dengan klik "example citation" di kanan atas. Kita pilih citation contoh akan kita satukan dengan citation pertama, kedua atau ketiga. Kemudian lihat gambar di atas. Kita bisa memilih contoh yang akan kita tampilkan sebagai panduan editing.
Misal klik book.
Maka, pada layar akan muncul contoh citation dan bibliography jenis book. Kita bisa lakukan editing berdasar jenis tersebut.
******
Jika sudah selesai, klik style di kiri atas, kemudian save.
Kita bisa unduh style yang sudah kita modifikasi, untuk kita ujicoba. Jika sudah sesuai keinginan, bisa diupload di web.
Jika suatu saat ingin mengubah style yang sudah diperbaiki, style tersebut bisa di load melalui tautan Style di kiri atas (di atas save style).
******
Di aplikasi Zotero editing dapat dilakukan langsung pada aplikasi.
Mengirimkan hasil modifikasi ke database CSL
CSL yang sudah dimodifikasi, dapat diupload di web jurnal, agar penulis bisa mengunduh dan memasangnya di aplikasi manajemen referensinya. Namun, juga bisa dikirim ke database CSL.
Nah, bagaimana agar style hasil modifikasi atau buatan sendiri tersebut bisa terlihat di database Mendeley atau Zotero?
Coba ikuti tautan ini https://github.com/. Laman ini berjudul Guide to Submitting CSL Styles (and CSL Locales). Pada laman ini ada dua pedoman untuk berkontribusi: submit new style dan Submitting changes to an existing style.
Diperlukan akun Github untuk melakukan submit style. Setelah submit, tunggu review dan hasilnya.
Saturday, 2 June 2018
Panen jagung
Wingi esuk, aku bali. Sak bubare upacara dina lahire Pancasila, numpak montor. Nang kampungku: Ngliparkidul, nGunungkidul, Ngayogyakarta
Tekan ngomah, mergo dino Jemuah, yo ndang Jemuahan disik ono mesjid dusun. Alhamdulillah, iso ngrasakke maneh Jemuahan nang ndusun.
##
Sore kui, antarane jam 13, Bapak ngendiko "Yen pengen jagung, sajake ing tegalan wewengkon Kreteg isih ana sik enak dibakar utowo digodog". Hora kakean pretengseng, aku banjur nang tegalan, karo bojoku. Tegalan kui antarane rong kilo adohe soko ngomah. Jaman samono, jaman isih nang kampung, yen nang tegalan kui mlaku, menyang mulih. Keporo yen mulih kudu nyunggi pakan kolonjono utowo godong-godongan liyane. Paling ora sebongkok.
Pakan kui kanggo sapi lan wedhus sing ana kandhang. Kewan kang dadi kelangenane simbah. Konco urip seprono-seprene. Ugo celengan yen pas butuh duwit. Utowo dinggo lawuh yen lagi ana gawe, ewuh. Mantu, sunatan, utowo liyane.
Yen mulih soko tegalan, kading kolo mampir nang nggone simbah, nggone Lek Marsudi Rubas utowo Lek Eswanto ing wewengkon Sumberjo lan Mengger. Kepeneran omahe tak liwati yen menyang tegalan. Leren ngombe wedhang. Kerep ugo dikon madhiang barang. Kading kolo yo liwat sandinge Kang Santoso Aqil, konco sekolah naliko SD.
##
Sore kui aku numpak montor, ora wani mlaku. Tekan tegalan, katon nyenengke temenan. Jane wis ora ijo banget, mergane wis meh ketigo. Nanging jagung ing tegalan isih katon ijo. Nyenengke tenan pokoke.
Sak liyane jagung, uga ana telo, lan suket kolonjono. Suket kolonjono dinggo pakan sapi koyo sik tak kandhake mau. Nanging, mergo Bapak wus ora ngingu sapi utowo wedhus, kolonjonone wus ora akeh.
Malah, ono ing salah sawijine galengan, ditanduri wit sengon. Ngendikane Bapak, cepet panene.
Yen tindhak tegalan iki, Bapak isih mlaku, mlampah. Nadyan adoh, tetep wae Bapak hora gelem numpak motor. Yo, pancen bapak hora biso numpak motor, tur ya hora ana motor nang ngomah.
Bapak kui, soko biyen, naliko kerjo yo gur mlaku, saben ndino. Nang tegalan yo mlaku. Malah yen pas panen, trus ngundang truk cilik kanggo ngusung panenan, Bapak trimo mlaku hora melu truk.
Ono cerito nrenyuhke babagan Bapak. Pas panen dele, bapak menyang tegalan. Sorene simbah nyusul. Simbah kaget, kok dele sak kedok wis entek. Tibake, kabeh wis dibedoli Bapak, trus dipikul dewe. Bayangke ndah abote.
###
Tegalan iki dadi lumantar rejekine sing nggarap, lan ugo kewan kelangenane.
Tuesday, 22 May 2018
MEMBACA
Inti pustakawan itu baca, baca, dan baca.
Seorang kawan bilang ke saya, “untuk perpustakaan, cukup D3 saja”. Ini disampaikan sudah bertahun lalu. Jelas Saya kaget. Jangan salah, ketika mengatakan ini, dia juga seorang pustakawan secara de facto. Karena pandangan inilah, akhirnya dia mengambil S1 bukan (ilmu) perpustakaan, demikian pula S2nya. Jangan keliru pula, meski demikian, dia pustakawan handal. Dia bisa menjadi teman diskusi mahasiswa dalam proses penelitian dan kuliahnya. Pengetahuannya tentang pustaka yang dia kelola, mumpuni. Tidak sekedar buku A ada di mana, buku B sedang dipinjam siapa. Tapi isinya, bobot isinya. Dia bisa menghidupkan buku yang mati itu, menjadi bergerak dan menelusup, tercerap.
Dia bukan juru kunci makam yang hanya menunjukkan: itu makam si A, si B. Tapi siapa dan bagaimana pemikiran si A yang dimakamkan di situ. Bagi saya, sulit mencari pustakawan yang bisa begitu.
Mungkin perpustakaanya secara fisik kurang bagus. Tapi dia melakukan proses utama pustakawan secara konsisten: MEMBACA.
Membaca adalah aktivitas utama dari seorang pustakawan. Dia tetap harus menempel pada tiap pustakawan. Jika pustakawan sudah tercerabut dari proses membaca, maka tidak mengherankan jika masyarakatnya pun juga demikian. Seburuk-buruknya sebuah perpustakaan, jika pustakawannya mau MEMBACA, maka perpustakaan tetap akan ada.
Akhirnya kawan saya tadi shifting. Dia menjadi dosen. Tentusaja, karena dia MEMBACA.
Jadi, kalau mau jadi pustakawan itu cukup D3 saja. Selebihnya MEMBACA. Bagian 20% kuliah, 80% baca buku. O, maaf. Sesungguhnya semua manusia itu pustakawan, ding. Apapun tingkat pendidikannya. Bahkan, kursus pun bisa jadi pustakawan plat merah, kok.
Sambisari, akhir Ruwah 1951 Dal
Pagi hari







