Sunday, 18 October 2026

"Ideologi" saya sebagai pustakawan, humas/IT, tridharma

[0] - Pustakawan


Al-Attas, pemikir terkemuka dunia Islam, mengatakan bahwa kepala perpus (dan juga pustakawan) haruslah seorang yang dilatih secara profesional sekaligus ilmuwan. Perpustakaan bukanlah bagian dari institusi pendidikan, melainkan instituti pendidikan itu sendiri. Pemikiran Al-Attas mempengaruhi saya dalam berkegiatan sebagai pustakawan. Mendukung proses kerja agar tidak kosong dan tidak kering. Selain itu, agar tidak terjebak pada rutinitas hampa tanpa makna. 

Pokok-pokok yang ada di buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas ini membekas di pikiran saya. Nama dan peran pustakawan pada abad pertengahan menambah keyakinan saya bahwa pustakawan sejatinya merupakan profesi yang bukan ecek-ecek, tidak embyeh-embyeh. Dia menata buku, sekaligus menata ilmu. Dia memilah buku, sekaligus memilah ilmu. Dia mengembangkan koleksi, sekaligus mengembangkan ilmu.

Relasi yang dibangun dengan pemustaka (mahasiswa misalnya) adalah relasi keilmuan. Relasi akademik, bukan relasi administratif. 

[1] - Humas

Ada beberapa nilai yang saya peluk. Pertama nilai jurnalisme. Menggali berita, kemudian menuliskan. Lebih ekstrim lagi jika ada proses investigasi. Hasilnya akan lebih mendalam, tidak sekedar percikan air di permukaan.  "Agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat," begitu kata Andreas Harsono.

Mengutip Bill Kovach, Andreas menyampaikan bahwa makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat.

Itulah mengapa, jurnalisme dan jurnalis yang independen saya jadikan "ideologi pertama" saat ikut mengelola humas dan media FT.

Kedua, informasi. Ini merupakan ilmu yang sekilas pernah saya pelajari saat kuliah. Informasi menjadi payung dari sekian aktivitas di humas ..... Bagi saya, informasi memiliki cakupan luas, yang membuka jalan bertindak kreatif.

Kemudian berikutnya pers. Kenapa? Pers menjadi wilayah luas dari jurnalis/pengelolaan berita). Pers juga merupakan salah satu pilar demokrasi, setelah tiga pilar utama yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. 

Pers turut menjadi bagian yang menjaga agar rakyat dapat memberoleh berita yang benar. Pers merupakan sarana untuk mendapat kebenaran. Menariknya, pers juga dapat menjadi pengawas. Pers mendukung keterbukaan.

Terakhir informatika sosial serta sosiologi teknologi yang saya pakai untuk pendekatan IT/sistem informasi.

[2] - Tridharma
Saat diberi kesempatan ikut campur di akademik dan juga kemahasiswaan, dunia baru yang saya tak ada pengalaman sama sekali, saya harus mencari "ideologi" yang bisa membuat semangat saya tetap terjaga. Saya kembali membuka buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam-nya Al-Attas 

Buku ini memuat pemikiran Al-Attas tentang pendidikan, apa tujuan pendidikan. Pendidikan itu lebih ke pribadi. Pendidikan itu membentuk adab. "Tujuan pendidikan tidak untuk menciptakan warga negara yang sempurna, melainkan memunculkan manusia paripurna". Warga negara atau pekerja yang baik, tidak sama dengan manusia yang baik.

[3] - Hidup

Buku Profesi Wong Cilik karya Iman Budhi Santosa








[~] - epilog

Jika toh gagal secara administratif, paling tidak saya bisa belajar dan tak begitu gagal secara "ideologis".

Peringkat Dosen UGM berdasarkan FWCI 2025

 FWCI? Apa itu?

Berdasarkan keterangan di laman ini, dan laman ini, Field-Weighted Citation Impact (FWCI) adalah rasio antara jumlah sitasi yang benar-benar diterima suatu publikasi dan jumlah sitasi yang diharapkan untuk publikasi sejenis, berdasarkan bidang ilmu, jenis dokumen, dan tahun publikasi.

Jika konteksnya FWCI penulis, maka diartikan sebagai rasio sitasi yang benar-benar dimiliki/diterima penulis dibandikan dengan yang diharapkan untuk publikasi sejenis pada periode tertentu.

Jika seorang penulis memiliki FWCI 1, maka sitasinya sama persis seperti yang diharapkan. Jika 2 maka 2x dari yang diharapkan. Begitu seterusnya. 

Ada lima langkah yang dilakukan untuk menghitung FWCI (lihat di sini). Angka yang berpengaruh pada FWCI seorang dosen adalah: jumlah publikasi, jumlah sitasinya, jumlah publikasi pada database yang sama/sejenis bidang ilmunya (penghitungannya cukup rumit). Sehingga, FWCI tidak hanya berdasar data yang melekat pada dosen semata (paper, sitasi, h-indeks). 

Pada tulisan ini, tahun/periode yang digunakan adalah tahun 2025. Artinya, publikasi yang menjadi dasar adalah publikasi yang terbit tahun 2025. Namun, dataset yang berisi nama peneliti dan angka yang melekat padanya, termasuk FWCI diambil pada 18 Oktober 2026 dari Scival. Artinya ada rentang waktu sejak 2025 sampai 18 Oktober 2026 untuk pendataan jumlah sitasi yang diperoleh. 

Ditampilkan apa adanya, berikut ini top 10 peneliti UGM berdasar data FWCI tahun 2025.


------------------------**--------------------------

Sepuluh besar dihuni oleh peneliti dari FKKMK, FT, SPS,  FTP, serta 1 orang dari klaster sosial (FIB).

Jika di peringkatkan per fakultas, maka:
  1. FKKMK: Anggi Lukman Wicaksana
  2. FT: M. L. Hakim (Mahasiswa) dan Iman Satyarno (dosen)
  3. SPS: Mirna Yusuf (mahasiswa)
  4. FTP: Prieskarinda Lestari
  5. FIB: Irwan Abdullah

Tabel di atas memperlihatkan peneliti yang memiliki perbedaan mencolok, yaitu Anggi Lukman dan Sumadi.  Pada jumlah publikasi terlihat normal, namun pada jumlah sitasi, sitasi per publikasi, dan FWCI selisihnya jauh dari peneliti yang lain.

Anggi, melalui profil Scopus-nya (57204802271), memiliki paper yang terbit tahun 2025 dan dikutip 1,185x. Paper tersebut berjudul Global, regional, and national prevalence of adult overweight and obesity, 1990–2021, with forecasts to 2050: a forecasting study for the Global Burden of Disease Study 2021 . Paper ini sepertinya paper projek, untuk pengambilan kebijakan, dengan cakupan luas, dengan penulis kolaborasi berjumlah ribuan. 

Anggi, setidaknya memiliki 10 paper dengan karakter seperti di atas. 

Sumadi juga demikian. Melalui profil Scopus-nya (55251130100), ada 1 paper Sumadi yang terbit di 2025 dengan 481 kutipan. Paper tersebut berjudul Global, regional, and national prevalence of child and adolescent overweight and obesity, 1990–2021, with forecasts to 2050: a forecasting study for the Global Burden of Disease Study 2021


-------------------end-----------------