[0] - Pustakawan
Al-Attas, pemikir terkemuka dunia Islam, mengatakan bahwa kepala perpus (dan juga pustakawan) haruslah seorang yang dilatih secara profesional sekaligus ilmuwan. Perpustakaan bukanlah bagian dari institusi pendidikan, melainkan instituti pendidikan itu sendiri. Pemikiran Al-Attas mempengaruhi saya dalam berkegiatan sebagai pustakawan. Mendukung proses kerja agar tidak kosong dan tidak kering. Selain itu, agar tidak terjebak pada rutinitas hampa tanpa makna.
Pokok-pokok yang ada di buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas ini membekas di pikiran saya. Nama dan peran pustakawan pada abad pertengahan menambah keyakinan saya bahwa pustakawan sejatinya merupakan profesi yang bukan ecek-ecek, tidak embyeh-embyeh. Dia menata buku, sekaligus menata ilmu. Dia memilah buku, sekaligus memilah ilmu. Dia mengembangkan koleksi, sekaligus mengembangkan ilmu.
Relasi yang dibangun dengan pemustaka (mahasiswa misalnya) adalah relasi keilmuan. Relasi akademik, bukan relasi administratif.
[1] - Humas
Ada beberapa nilai yang saya peluk. Pertama nilai jurnalisme. Menggali berita, kemudian menuliskan. Lebih ekstrim lagi jika ada proses investigasi. Hasilnya akan lebih mendalam, tidak sekedar percikan air di permukaan. "Agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat," begitu kata Andreas Harsono.Mengutip Bill Kovach, Andreas menyampaikan bahwa makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat.
Itulah mengapa, jurnalisme dan jurnalis yang independen saya jadikan "ideologi pertama" saat ikut mengelola humas dan media FT.
Kedua, informasi. Ini merupakan ilmu yang sekilas pernah saya pelajari saat kuliah. Informasi menjadi payung dari sekian aktivitas di humas ..... Bagi saya, informasi memiliki cakupan luas, yang membuka jalan bertindak kreatif.
Kemudian berikutnya pers. Kenapa? Pers menjadi wilayah luas dari jurnalis/pengelolaan berita). Pers juga merupakan salah satu pilar demokrasi, setelah tiga pilar utama yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Pers turut menjadi bagian yang menjaga agar rakyat dapat memberoleh berita yang benar. Pers merupakan sarana untuk mendapat kebenaran. Menariknya, pers juga dapat menjadi pengawas. Pers mendukung keterbukaan.
Terakhir informatika sosial serta sosiologi teknologi yang saya pakai untuk pendekatan IT/sistem informasi.
[2] - Tridharma
Saat diberi kesempatan ikut campur di akademik dan juga kemahasiswaan, dunia baru yang saya tak ada pengalaman sama sekali, saya harus mencari "ideologi" yang bisa membuat semangat saya tetap terjaga. Saya kembali membuka buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam-nya Al-Attas
Buku ini memuat pemikiran Al-Attas tentang pendidikan, apa tujuan pendidikan. Pendidikan itu lebih ke pribadi. Pendidikan itu membentuk adab. "Tujuan pendidikan tidak untuk menciptakan warga negara yang sempurna, melainkan memunculkan manusia paripurna". Warga negara atau pekerja yang baik, tidak sama dengan manusia yang baik.
[3] - Hidup
Buku Profesi Wong Cilik karya Iman Budhi Santosa[~] - epilog
Jika toh gagal secara administratif, paling tidak saya bisa belajar dan tak begitu gagal secara "ideologis".




