Sunday, 9 March 2025

Buku, partime, dan kegiatan di perpustakaan

Di level departemen, perpus pertama yang berbenah serius secara fisik itu teknik sipil. Tata ruangnya jadi rujukan perpus departemen lain. Namun sayang, perpus ini dipindah. Meski warnanya serupa, namun luasnya berkurang. Perpustakaan lainnya kemudian menyusul melakukan perombakan. Ada teknik kimia, teknik geodesi, teknik geologi juga berbenah. Termasuk perpustakaan teknik mesin dan industri. Beberapa didukung oleh alumni.

Perpus Teknik Mesin dan Teknik Industri berkonsep baru. Mereka mendaku "literacy center".  Perpus DTMI ini punya kekhasan dibanding perpus lain di departemen. Ya. Harusnya memang begitu. Perpustakaan yang melekat pada unit, mestinya punya kekhasan. Kalau tidak, lalu apa bedanya? Ndak ada yang dapat dijual.

Saya lihat, di perpus DTMI saat ini, jumlah buku tercetaknya jauh berkurang, kemudian koleksi non tekniknya diperbanyak. Serupa dengan yang kami bangun di perpus fakultas, hanya saja DTMI lebih berani soal dana. Mereka import banyak buku non teknik, plus game-game yang merangsang kreativitas. Bahkan, ada novel yang menjadi rujukan untuk kuliah. Judulnya Madre, karya Dewi Dee.

Selain itu, ada partime yang (beberapa yang saya kenal) punya semangat baca yang tinggi. Ini yang saya suka. Hasilnya, perpus lebih dikenal dari aktivitasnya. Fisik hanya pendukung. Saat rekrut partime, menurut cerita pembinanya, salah satu yang ditanyakan adalah berapa banyak buku yang dibaca, dan ceritakan salah satu buku yang pernah di baca. 

Perpustakaan memang harus digerakkan oleh orang yang suka baca. Wajib. Tidak bisa tidak. Pustakawan itu aktor, penggerak. Bukan administrator. 

Perubahan konsep perpus DTMI ini ini meyakinkan saya, bahwa perpustakaan itu aktivitas, bukan berhenti di fasilitas. 

Menggerakkan aktivitas di perpustakaan dapat dilakukan dengan banyak hal. Pustakawan harus terlibat, tidak hanya menyediakan dan menonton dan administrator saja. Dan, aktivitas yang tak akan lekang oleh waktu adalah kembali ke buku.

*****

Partime di perpustakaan

Masuknya mahasiswa sebagai partime di perpus memiliki 2 pilihan dampak yang ekstrim. Mereka akan tahu dapur perpustakaan, sehingga pandangan mereka pada perpus dan pustakawan akan terkonfirmasi ekstrim positif atau ekstrim negatif.

Partime di perpustakaan bukan meringankan tugas pustakawan. Seting pemikirannya harus diubah. Mereka menjadi penghubung dengan pemustaka. Cari yang usianya sama, satu generasi. Agar nyambung.

Jangan kasih mereka tugas-tugas administratif. Peminjaman buku, pengembalian. Jangan! Apaan itu? Jangan sampai mereka punya pandangan sepele pada tugas kepustakawanan, dan melihat pustakawan itu administratif. Arahkan ke hal yang lebih substansial, ideologis. 

Gerakkan mereka untuk membuat kegiatan, beri keleluasaan. Dorong mereka punya visi dan mewujudkan visinya di perpustakaan. 



Share:

Related Posts:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi