Tuesday, 9 December 2025

Membangun (Perpustakaan) FT Sebagai Wadah

Setahun lebih, bahkan 2 tahun, saya agak berjauhan dengan perpustakaan. Niat awal, saat ndobel di Humas dan IT, satu tahun pertama dapat digunakan untuk memetakan kondisi, kemudian mengatur posisi agar dua peran dapat berjalan dengan baik. Namun takdir berkata lain. Saya harus pindah ke tridharma.

Kondisi itu mengharuskan saya harus mengatur ulang strategi. Di dunia yang 100% baru, tentu usaha penyesuaian diri pun akan lebih lama. Sebagai catatan, di Humas dan IT saya setidaknya perlu 1 tahun untuk bisa berfikir lebih leluasa. Di Tridharma bisa lebih lama.

***

Saat di tridharma, saya merasa ada titik terang tentang perpustakaan. Saya merasa ada peran atau otoritas yang lebih tinggi yang membuat saya bisa lebih leluasa menempatkan perpustakaan dalam rangka mendorong proses akademik yang baik dan bermutu di fakultas teknik. Tinggal cara dan bentuknya yang harus dicari.

Ide awal (meski munculnya juga diujung tahun pertama), adalah rekrut mahasiswa S3 untuk menghidupkan perpustakaan. Namun ini belum kesampaikan. Ada skala prioritas yang harus saya terapkan. Salah satunya prioritas untuk memikirkan. Membagi pikiran, agar tidak sumpek. 

Akhirnya, ada kejadian yang menuntun mempertemukan saya pada keadaan yang dapat diraih bersamaan. Saat rekrut partime IOA, tanpa saya campur tangan, yang dipilih adalah mahasiswa yang saya kenal begitu peduli pada literasi. Maka, sekalian saja diplot untuk perpustakaan.

Di sinilah gambaran pengembangan perpustakaan kembali mulai nampak. Ide mengadakan kegiatan "besar" di perpustakaan, yang berkali-kali gagal, dapat dilaksanakan. Minimal 1x di tahun 2025.

***

Leadership XYZ

Ada beberapa tamu yang hendak diundang pada tahun 2025. Mulai dari Leila Chudori untuk bicara tentang Laut Bercerita, Fahrudin Faiz yang mampu menyajikan filsafat dalam bahasa yang ramah pada generasi Z, dll. Adalah Cania Cita yang jadwalnya ada, namun sayangnya karena kondisi tidak dapat terlaksana di lingkungan FT. Pas libur panjang. Akhirnya dapat buku Leadership XYZ.

Obrolan tentang kegiatan perpus ini, sejak awal saya lakukan dengan Mas Adhika. Dia sanggup menghandle agenda ini. Sebagai awalan, Adhika mengajukan permintaan untuk oprec panitia. Terbuka untuk mahasisiswa UGM. Saya berusaha memahami. Bukti bahwa acara yang menghadirkan Cania itu sukses, tentu jadi pertimbangan saya. Saya meng-oke-kan. Oprek dilaksanakan. Hingga ada laporan sekian pendaftar, dan diterima 38. Asalnya dari berbagai fakultas di UGM, dengan berbagai posisi kepanitiaan. Pada titik inilah saya merasa harapan untuk branding FT melalui perpus muncul.

Belum selesai. Adhika menyarankan mengundang siswa SMP dan SMA di Jogja. Tentu saya kaget. Namun, sebagai upaya branding FT kenapa nanggung hanya di UGM, sekalian untuk siswa SMP dan SMA tentu akan lebih baik. Saya meng-iya-kan. Setuju.

Hari senin, atau H-5 surat baru jadi. Saya kirimkan ke panitia. Sebelumnya secara sistem telah terkirim by email ke sekolah-sekolah sesuai daftar. Saya tawarkan untuk dicetak di FT saja, tidak ada respon. Sepertinya mereka memilih mencetak sendiri. "Jadi mereka mengeluarkan uang untuk mencetak", fikir saya. 

Hari-hari menjelang hari H progress disampaikan Adhika ke saya. "Saya baru keliling sekolah, Pak," katanya. Membawa surat atas nama FT, padahal mereka dari  berbagai fakultas di UGM. Tidak ada uang bensin, dan tentu mereka juga berkorban tenaga. Laporan Adhika ini membuat saya gelisah. Saya hanya berharap tidak terjadi apa-apa pada panitia.

Menjelang acara, panitia (sebagaimana acara mahasiswa yang selama ini saya ikut mendampingi) mengadakan gladi. Pernah saya sampaikan agar gladi di hari H minus beberapa jam. Namun mereka menjawab. 

"Kalau bapak mau acara ini lancar, dengan segala hormat, ikut dengan cara kami Pak."

Jawaban ini merupakan salah satu yang lebih meyakinkan saya, bahwa mereka serius. Tidak dibayar, sukarela, namun serius. "Ah, brengsek," gumam saya. Tentu "brengsek" ini umpatan konotatif. Jarak usia yang 20 tahun lebih dengan saya, tidak membuat mereka takut bersuara dan menyampaikan ide/pendapat. Ini mahal.

*****

Ada cerita lain yang membekas, setidaknya pada diri saya. Panitia hendak menentukan, apakah tetap di auditorium atau pindah ke MR. Pada posisi ini, saya menjaga jarak. Saya persilakan teman-teman menentukan. Pada saat diskusi, saya mendengar jelas, bagian sar-pras yang sudah menyiapkan segala desain pelaksanaan di Auditorium menyampaikan, kurang lebih begini, "Kami memang punya idealisme, tapi posisi kami mengikuti permintaan. Jadi kami ikut apa kata SC/Project officer," kurang lebih begitu.

Tidak ada egoisme. Tentu ada diskusi, namun teman-teman menjaga agar struktur kepanitiaan itu dihormati. 

Terima kasih teman-teman semua.







Monday, 8 December 2025

Setahun di Tridharma

1 November 2024 s.d. 31 Oktober 2025.

Setahun di Tridharma. Cukup? Belum. Tentu bukan "belum" dalam arti ingin lebih lama di Tridharma, melainkan belum cukup untuk memahami tridharma.

Sebagaimana saya pernah tuliskan, tridharma merupakan bagian yang sudah mapan dibanding bidang saya sebelumnya. Ada luasan hingga ke berbagai sudut yang saya belum memahami. Tidak jarang ada hal baru yang muncul, yang kami semua belum pernah menemui. 

Dunia tridharma merupakan dunia yang lebih administratif dibanding dunia saya sebelumnya. Saya menyebutnya sebagai dunia surat-suratan. Semua harus sesuai prosedur, tentu saja ini juga berlaku di bidang lain. Namun di tridharma, surat begitu lekat. Semua harus ada formalnya. Berbeda dengan dunia saya sebelumnya yang cenderung jagongan. Rembugan.

Namun demikian, ada banyak hal yang saya peroleh di Tridharma; atau ada potensi yang dapat saya peroleh di tridharma jika dikaitkan dengan kepustakawanan, profesi utama yang masih melekat pada diri saya.

Interaksi saya dengan mahasiswa lebih terbuka, dan cakupannya lebih luas. Pokok pembicaraan terkait mahasiswa yang menghilir ke saya lebih banyak, dan tentu ada banyak yang dapat saya kaitkan dengan dunia kepustakawanan.

Hal lain yang menarik, adalah interaksi perkuliahan. Saya punya kesempatan lebar untuk ikut hadir di kelas. Utamanya MK yang dikelola fakultas, saya pernah hadir dan duduk di dalam kelas. Mendengarkan dosen memberikan kuliah. Dari proses ini saya tahu bagaimana kuliah itu diberikan, interaksi dosen-mahasiswa, dinamika, dan hal lain yang sebelumnya tidak saya ketahui. 

Masih dengan perkuliahan, saya punya kesempatan masuk di MK yang memiliki versi daringnya. Ada 1 MK yang diangkat dari kegiatan perpustakaan, yaitu MK etika dan teknik penulisan ilmiah. MK ini memiliki versi online (MOOC) di Elok. Saya dapat ikut di dalamnya, sehingga sedikit lebih tahu bagaimana MOOC dikelola. 

*****

Interaksi dengan mahasiswa juga terbangun melalui berbagai kegiatan dan organisasi mahasiswa. Ini yang dulu, saat di perpus benar-benar saya inginkan. Saat di perpus, saya pernah nekad mengundang organisasi mahasiswa ke perpus. Mengajak mereka diskusi tentang bagaimana menghidupkan perpus dengan berbagai kegiatan. Berhasil? Ada berbagai kegiatan KM/HM/BEM/BSO yang diselenggarakan di perpus. Dengan peminjaman ruang yang mudah, mereka memilih perpus untuk berkegiatan sekaligus memromosikan organisasinya.

Di Tridharma, diri saya diuji pula dengan kegiatan-kegiatan besar. Bagaimana mengawal kegiatan tersebut agar terlaksana dengan baik, berhasil dan minim catatan. Berhasil? Tentu belum sepenuhnya. Masih ada catatan pasca kegiatan yang menjadi PR untuk perbaikan kegiatan berikutnya.

Beberapa kegiatan besar tersebut, mulai dari Pionir Kesatria yang melibatkan ribuan mahasiswa. Kemudian Teknik Fair, Pesta Rakyat Teknik, Porsenigama, Teknisiade. Kemudian kegiatan baru yang berpotensi menjadi kegiatan besar: career summit. 

Di Tridharma, intensitas pertemuan saya dengan organisasi mahasiswa lebih tinggi. Tinggal bagaimana memanfaatkan ini untuk lebih menghidupkan perpustakaan. Terlaksana? Belum. Inilah PR saya. Menyeimbangkan antara di Tridharma dan profesi kepustakawanan. Perlu strategi untuk itu.

****

Besarnya potensi manfaat yang dapat saya ambil, baik untuk diri saya (sebagai bagian dari pengembangan diri) maupun untuk pekerjaan, tentu juga berbanding dengan tantangan dan risikonya. "Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula kadar manfaat yang akan diterima," begitu kata buku. Saya lupa judulnya, antara Leader Who Had No Title, atau Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodoh. Artinya, sebuah pilihan yang punya risiko atau tantangan yang besar, juga memiliki dampak/manfaat besar pula. Demikian pula di Tridharma.

Apa saja itu?