Tuesday, 9 December 2025
Monday, 8 December 2025
Setahun di Tridharma
1 November 2024 s.d. 31 Oktober 2025.
Setahun di Tridharma. Cukup? Belum. Tentu bukan "belum" dalam arti ingin lebih lama di Tridharma, melainkan belum cukup untuk memahami tridharma.
Sebagaimana saya pernah tuliskan, tridharma merupakan bagian yang sudah mapan dibanding bidang saya sebelumnya. Ada luasan hingga ke berbagai sudut yang saya belum memahami. Tidak jarang ada hal baru yang muncul, yang kami semua belum pernah menemui.
Dunia tridharma merupakan dunia yang lebih administratif dibanding dunia saya sebelumnya. Saya menyebutnya sebagai dunia surat-suratan. Semua harus sesuai prosedur, tentu saja ini juga berlaku di bidang lain. Namun di tridharma, surat begitu lekat. Semua harus ada formalnya. Berbeda dengan dunia saya sebelumnya yang cenderung jagongan. Rembugan.
Namun demikian, ada banyak hal yang saya peroleh di Tridharma; atau ada potensi yang dapat saya peroleh di tridharma jika dikaitkan dengan kepustakawanan, profesi utama yang masih melekat pada diri saya.
Interaksi saya dengan mahasiswa lebih terbuka, dan cakupannya lebih luas. Pokok pembicaraan terkait mahasiswa yang menghilir ke saya lebih banyak, dan tentu ada banyak yang dapat saya kaitkan dengan dunia kepustakawanan.
Hal lain yang menarik, adalah interaksi perkuliahan. Saya punya kesempatan lebar untuk ikut hadir di kelas. Utamanya MK yang dikelola fakultas, saya pernah hadir dan duduk di dalam kelas. Mendengarkan dosen memberikan kuliah. Dari proses ini saya tahu bagaimana kuliah itu diberikan, interaksi dosen-mahasiswa, dinamika, dan hal lain yang sebelumnya tidak saya ketahui.
Masih dengan perkuliahan, saya punya kesempatan masuk di MK yang memiliki versi daringnya. Ada 1 MK yang diangkat dari kegiatan perpustakaan, yaitu MK etika dan teknik penulisan ilmiah. MK ini memiliki versi online (MOOC) di Elok. Saya dapat ikut di dalamnya, sehingga sedikit lebih tahu bagaimana MOOC dikelola.
*****
Interaksi dengan mahasiswa juga terbangun melalui berbagai kegiatan dan organisasi mahasiswa. Ini yang dulu, saat di perpus benar-benar saya inginkan. Saat di perpus, saya pernah nekad mengundang organisasi mahasiswa ke perpus. Mengajak mereka diskusi tentang bagaimana menghidupkan perpus dengan berbagai kegiatan. Berhasil? Ada berbagai kegiatan KM/HM/BEM/BSO yang diselenggarakan di perpus. Dengan peminjaman ruang yang mudah, mereka memilih perpus untuk berkegiatan sekaligus memromosikan organisasinya.
Di Tridharma, diri saya diuji pula dengan kegiatan-kegiatan besar. Bagaimana mengawal kegiatan tersebut agar terlaksana dengan baik, berhasil dan minim catatan. Berhasil? Tentu belum sepenuhnya. Masih ada catatan pasca kegiatan yang menjadi PR untuk perbaikan kegiatan berikutnya.
Beberapa kegiatan besar tersebut, mulai dari Pionir Kesatria yang melibatkan ribuan mahasiswa. Kemudian Teknik Fair, Pesta Rakyat Teknik, Porsenigama, Teknisiade. Kemudian kegiatan baru yang berpotensi menjadi kegiatan besar: career summit.
Di Tridharma, intensitas pertemuan saya dengan organisasi mahasiswa lebih tinggi. Tinggal bagaimana memanfaatkan ini untuk lebih menghidupkan perpustakaan. Terlaksana? Belum. Inilah PR saya. Menyeimbangkan antara di Tridharma dan profesi kepustakawanan. Perlu strategi untuk itu.
****
Besarnya potensi manfaat yang dapat saya ambil, baik untuk diri saya (sebagai bagian dari pengembangan diri) maupun untuk pekerjaan, tentu juga berbanding dengan tantangan dan risikonya. "Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula kadar manfaat yang akan diterima," begitu kata buku. Saya lupa judulnya, antara Leader Who Had No Title, atau Sebuah Seni Untuk Bersikap Masa Bodoh. Artinya, sebuah pilihan yang punya risiko atau tantangan yang besar, juga memiliki dampak/manfaat besar pula. Demikian pula di Tridharma.
Apa saja itu?

