Thursday, 16 December 2021

Alasan jurnal diskontinu dari SCopus

 

1. Metrics and benchmarks

Once a year, Scopus analyzes the performance of all journals in the database. All journals must meet the below three metrics and benchmarks in the table below. If a journal does not meet all of the three benchmarks for two consecutive years, it will be flagged for re-evaluation by the independent CSAB.



2. Publication concerns

A journal can also be flagged for Re-evaluation based on publication concerns at either the publisher or journal level. Concerns for such journals are identified by Scopus or flagged to Scopus by the research community. If the concern is legitimate, the title will be added to the Re-evaluation program and re-evaluated by the CSAB in the year of identification of the publication concern.

3. Radar

In 2017 the Radar tool was launched, which is a data analytics algorithm created by Elsevier Data Scientists to identify outlier journal behavior in the Scopus database. Outlier journal examples include rapid and unexplainable changes to number of articles published or unexplainable changes in geographical diversity of authors or affiliations. Other features that the algorithm considers are self-citation rate and publication concerns, amongst others. The tool improves continuously by incorporating new examples or rules. It runs quarterly checking the all Scopus journals for outlier behavior.

4. Continuous curation

Since the establishment of the CSAB in 2010, Scopus has continuously collected review data as part of the content curation process. For example, the CSAB can indicate whether any accepted title should be evaluated again in the future. This is an ongoing process and ensures continuous curation of Scopus content.

All titles identified for underperformance, publication standard concerns, outlier behavior, or during continuous content curation will be re-evaluated by the CSAB. The review criteria for re-evaluation are identical to the Scopus content selection criteria used for newly suggested titles. Upon completion of the re-evaluation process, the CSAB will decide to either continue a journal’s coverage or to discontinue the forward flow of the journal's coverage in Scopus (content covered in Scopus prior to the re-evaluation completion will remain in Scopus). Discontinued titles will only be considered for evaluation again 5 years after the discontinuation decision was made.


Sumber: https://www-elsevier-com.ezproxy.ugm.ac.id/solutions/scopus/how-scopus-works/content/content-policy-and-selection

Sunday, 21 November 2021

Wajah Berkala Ilmu Perpustakaan UGM 2010-2021, ternyata.... (1)

Latar belakang

Belum ada riset yang menguak wajah publikasi atau paper yang terbit di Jurnal Berkala Ilmu Perpustakaan (BIP) UGM.

Pertanyaan penelitian

  1. Penulisnya kayak apa?
  2. Risetnya kayak apa?

Metode

Dataset diambil dari Crossref, menggunakan PoP, dengan kunci ISSN BIP yaitu 2477-0361. Sebagai perbandingan, nanti akan dicoba juga di GS melalui PoP.

Hasil

Diperoleh 200 paper yang terbit sejak 2010-2021 per 21 November 2021. Rekapnya silakan lihat gambar di bawah ini.


Nah, tu. Kelihatan, tho. Tapi ini dari crossref lho ya. Asal dan waktu ambil ini perlu dicatat sebagai batasan. Bisa jadi jumlah paper sebenarnya lebih dari 200.

Dari gambar di atas kelihatan bahwa selama 11 tahun, terdapat 15 sitasi. Wah, serius ini? Rata-rata setahun cuma 1.36? Cite per papernya 0.08. Juga, paper yang memiliki annual citation count >=1 hanya ada 1 paper.

Oke, kita lihat dahulu paper apa yang paling banyak dikutip.
Ternyata, paper terbanyak dikutip yaitu paper ini: Irawan dkk, tahun 2017 tentang Open Science, dengan DOI 10.22146/bip.17054. Paper ini dikutip 4x. Paper kedua masih Irawan dkk, tahun 2018 tentang open access, dengan DOI 10.22146/bip.32920 yang dikutip 2x.

Jika dilihat dari 2 paper ini, ternyata tidak ada pustakawan sebagai penulisnya. Gambar di bawah ini berisi daftar lengkapnya, saya salin langsung dari PoP. Biar lebih jelas, monggo dapat dilihat.


Dua paper Dasapta Erwin ditandai dengan huruf h di kolom cites (paling kiri). Ini menandakan BIP memiliki h-indeks 2. Ya, baru 2. Itupun ternyata kontribusinya dari 2 paper yang penulis pertamanya sama. ☺


----**----
Nah, ini beberapa data lebih detail tentang para penulisnya.


Penulis dengan artikel terbanyak yaitu Pergola Irianti. Saat ini, beliau sudah pensiun, namun ternyata meninggalkan jejak keren dalam jumlah publikasi di BIP. Peringkat kedua Janu Saptari, disusul Purwono, Maryono, Partini, Lasa, dan Maryatun.



Namun, ternyata jumlah artikel tidak berbanding dengan kekuatan link. Abraham Juneman, meski cuma 2 paper, namun jejaring kepenulisannya kuat. Di susul Dasapta Erwin, dan Multazam. Tiga nama ini ternyata bukan pustakawan.


Gambar di atas merupakan visualisasi jejaring antar penulis. Jika dicermati lebih dalam, bisa memperlihatkan pola-pola atau kecenderungan kolaborasi penulis di BIP. 

Kayaknya, kecenderungan kolab antar institusi belum begitu bagus. Kalau penulis pertama dari univ A, maka co-authornya juga dari Univ A. Ya, ada juga sih yang lintas institusi.  Ini kalau mau mencermati per-klaster akan kelihatan. Yakin.

Lho, kok ndak saya lakukan?

Ngantuk.



Gambar terakhir, timeline penerbitan penulis.
----**----

Bagaimana dengan isinya?

Lanjut di postingan berikutnya..... sudah mengantuk...

Sunday, 10 October 2021

Juris: Zotero untuk referensi multilanguage dan dokumen legal

Pernah menemukan ketentuan penulisan referensi yang harus dilengkapi dengan translasi judul?

Jika anda tidak menemukan fitur ini di Mendeley atau Zotero, coba pakai Juris.

For reasons best known to history, legal research and multilingual scholarship have been left behind in the long arc of reference manager development. Jurism fills this gap in the research toolchest, with full-lifecycle support for managing materials in multiple languages and from multiple legal jurisdictions. (Sumber)






Selain itu, Juris juga mengaku menawarkan fitur penulisan dokumen legal.

Bacaan lebih lanjut:

 

Catatan Belajar Obsidian

Catatan dasar untuk belajar obsidian:

  1. Pastikan anda menentukan tempat untuk meletakkan/mengelompokkan file 
  2. Buat folder sesuai kebutuhan, dapat pula dibuat sesuai kaidah note taking: fleeting notes, literature notes, permanent notes.
  3. Pastikan anda menentukan tempat di mana new notes berada
  4. Pasang plugin dasar sesuai kebutuhan anda, misalnya: highlight, page preview, dataview, mindmap, kanban, Cmenu. Ingat sesuaikan dengan kebutuhan, setiap orang bisa berbeda
  5. Pasang core plugin sesuai kebutuhan, misalnya Tag
  6. Pasang theme favorit anda, misalnya Red Graphite
  7. Pastikan anda tahu perintah dasar Markdown. Misalnya: #, ##, ###, [[..]], ![[...^]]
  8. Pahami kapan harus pakai tag #, atau [[..]]
  9. Bisa juga digabungkan dengan sontekan ini: https://www.markdownguide.org/cheat-sheet/
  10. Baca juga: https://axle.design/an-integrated-qualitative-analysis-environment-with-obsidian






Tuesday, 28 September 2021

[[ Logika ]]



Saya harus akui, bahwa dalam menanggapi dunia kepustakawanan saya tidak banyak baca teori. Bahkan, saya kesampingkan teori. Mengelola perpus itu tak perlu berteori, kalau toh perlu, sitik saja wis. Termasuk hal mendasar: filsafat kepustakawanan, atau filsafat informasi. Mungkin karena itulah, apa yang saya lontarkan kadang diangap liar.

Bahkan ora nggenah, tidak nyambung. Atau ada satu dua hal yang dianggap sama seperti yang sebelumnya dilontarkan tokoh lain. Untuk yang terakhir ini, jane saya rodo bisa nggaya sitik. Xixi. "Mengulang(i)", katanya. Sampai ada yang menyangka saya terpengaruh pikiran tokoh tersebut. Padahal, saya belum pernah membaca pikiran dan pendapat itu. 

---

Nah. Akhirnya saya mikir, "Apa gerangan sebabnya?"

Ingatan saya kembali ke 20 tahun lalu. Suatu malam, di sebuah gedung, di seputar jalan kaliurang. Saat itu digelar acara besar sebuah organisasi kemahasiswaan. Saya ikut jadi panitia, sambil mengikuti apa yang didiskusikan. Atau lebih tepatnya diperdebatkan.

Ya. Sama seperti organisasi mahasiswa lainnya. Dinamikanya bisa dibayangkan-lah. Gayeng.

Uniknya, di tengah perdebatan ada sebuah lontaran yang memecah sengitnya perdebatan. "Kita bisa berdebat, mengajukan teori dan semacamnya, tapi di sini yang berlaku logika XX," begitu kira-kira. XX ini merupakan identitas organisasi. Ndak usahlah saya sebut. Xixi.

Lontaran itu seolah merontokkan teori-teori yang dilontarkan dengan begitu bangganya. Kenapa? Karena yang bermain adalah logika yang dibangun saat argumen itu disampaikan, saat perdebatan itu. Bukan teori atau logika yang sudah ada sebelumnya. Seberapapun kerennya. Seberapapun kuatnya.

Wal hasil, jika toh mengajukan teori sebagai landasan perdebatan, maka teori itupun harus diperdebatkan.

Maka, di sini pemahaman si pengusung teori diuji. Dia sekedar mengutip, ngintil, atau paham dengan teori itu dan yakin dirinya mengikuti teori tersebut. Dia sekedar cari aman menyandarkan pada teori dan tokoh pengusungnya, atau dia yakin benar dengan pilihannya.

Dalam perdebatan malam itu, argumen "kata tokoh A, tokoh B" tidak laku. Ora payu. Logika XX-lah yang berlaku.

Monday, 13 September 2021

Keren! Penulis ini dalam 1 tahun hasilkan 1,25 paper per pekan, semuanya terindeks Scopus

Suatu ketika, saya diberi URL ini. Setelah saya bukak, kaget. Saya takjub. Sebegitu produktifnya seorang peneliti, sampai ratusan paper dalam beberapa tahun. Tentu saja, produktifitas ini dapat menjadi penyemangat bagi para penulis lainnya.

Berikut saya potretkan salah satu bagian dari berita di atas.




Pada berita di atas, disebutkan bahwa si penulis masuk MURI. Untuk memastikan benar-benar masuk MURI, saya cari di web MURI. Ketemulah laman berikut ini.
Saya penasaran. Luar biasa sekali penulis ini hingga bisa menghasilkan 140 lebih tulisan di jurnal internasional dalam 3 tahun. Saya coba cek di database pengindeks jurnal internasional. Ketemulah profil ini.

Profil atasnama Agus Purwanto di Scopus

Sebelum lanjut, kita coba verifikasi profil di atas.

Pertama, profil di atas berafiliasi ke UPH. Klop!. Seperti yang ada di berita. Kedua, profil ini ada ORCID-nya. Berarti profil ini (diasumsikan) dipelihara oleh pemiliknya. 
Ketiga, ketika ditelusur ke ORCID, ditemukanlah laman profil di bawah ini.
Profil ORCID a.n. Agus Purwanto

Pada ORCID tertera Scopus ID yang ditautkan sama persis dengan Scopus ID pada gambar 1, yaitu 57215569034. Artinya klop juga.

Dengan tiga verifikasi tersebut, saya anggap saja profil Scopus itu valid dan dipelihara.

Kemudian jika dilihat paper sesuai ORCID ID kita bisa peroleh informasi ini.

Tampilan work dari ORCID a.n. Agus Purwanto


Luar biasa, ada 298 karya yang tercantum. Sayangnya, kita tidak bisa lihat sebaran tahun publikasi karya-karya ini.

*****

Kita kembali ke laman Scopus.
Laman dokumen dari profil ID Scopus 57215569034


Terdapat 73 paper di Scopus (sampai 4 Juli 2021) yang terkait dengan ID Scopus 57215569034. 

Ada yang unik pada distribusi tahunnya. Tahun 2008 hanya ada 1 paper, setelah itu vakum sampai 2018. Mulai lagi 2019 dengan 2 paper, kemudian 2020 mengalami kenaikan sampai ribuan persen, dengan jumlah total 65. Pada tahun berjalan 2021 sudah ada 5 paper. Jika dihitung tahun berurutan 2019-2021 maka ada 72 paper.

Khusus publikasi tahun 2020, jika dihitung per pekan, diperoleh angka 65/52 = 1,25. Ini berarti rata-rata 1,25 paper dihasilkan per pekan di tahun 2020.


Source type dari 65 publikasi 2020

Type dokumen dari 65 publikasi 2020

Sebenarnya ini biasa. Yang jadi luar biasa, 1,25 paper per pekan itu semuanya terbit. Dari 65 dokumen terbit di tahun 2020 tersebut, semuanya terbit di jurnal. Bentuknya pun 93% artikel, dan sisanya review (versi Scopus).

Tentu ini menambah luar biasa lagi.

*********

Angka total 73 paper di atas sebenarnya perlu divalidasi lagi, karena terkadang di Scopus ada paper yang keliru masuk ke profil yang bukan penulisnya, salah satunya karena nama penulisnya yang pasaran, maka perlu cek dahulu. Ya, meski sudah ada bantuan ORCID, sih. 

Mari kita periksa lagi kevalidan 65 dokumen yang terdeteksi terbit tahun 2020. Namun maaf, khusus pengecekan 65 dokumen ini, dilakukan berdasar data tanggal 13 September 2021.

Di bawah ini merupakan negara afiliasi penulis dari 65 paper tersebut. Ada 4 dokumen yang ditulis bersama penulis dari Malaysia. Angka 65 (sesuai dengan jumlah di tahun 2020) menunjukkan asal penulis dari Indonesia. Ini jadi filter pertama. Apakah 65 paper ini benar-benar berafiliasi sebagaimana penulis yang dimaksud?


Dokumen berdasar negara penulis

Untuk memastikan/memfilter hanya tulisan dari penulis yang dimaksud, yang berafiliasi ke UPH, maka kita coba filter berdasar affiiasi penulis. Afiliasi yang digunakan yaitu filter afiliasi yang ada di sisi kiri. Semua variasi nama UPH dipilih. Hasilnya seperti di bawah ini. Tetap 65 dokumen.

Artinya, 65 dokumen tersebut kemungkinan besar memang milik penulis yang dimaksud.

Filter berdasar UPH dalam  berbagai variasi


Sebagai tambahan validasi, kita coba cari laman profil di Sinta Ristekbrin. 
Laman Sinta ID 6706160 

Gambar di atas, berafiliasi ke UPH, dengan jumlah sebaran dokumen di Scopus yang mirip. Sepertinya memang valid.

****

Hasil filter berdasar UPH dalam berbagai variasi, pada bagian source title terlihat bahwa dari 65 dokumen, 40 diantaranya (61%) diterbitkan di jurnal Systematic Review in Pharmacy.

Hasil filter berdasar UPH

Paper penulis di Systematic Review in Pharmacy


Sayang sekali, ternyata jurnal ini sudah discontinued dari Scopus.
Status Jurnal SRP di SCopus

Ketika dipanggil dokumen dari jurnal ini, terlihat ada lebih dari 1000 paper di tahun 2020. Padahal di 2019 tidak/belum genap 100 paper. Cukup menarik statistik ini.

Sebaran paper di Systematic Review in Pharmacy



**********

Kita coba lebih fokus pada 65 dokumen yang terbit di tahun 2020.
sebaran keyword

Kata kunci terbanyak yaitu organizational learning, yang memiliki 7 dokumen dengan kekuatan link 28. 

Jumlah penulis unik


Total dari 65 dokumen publikasi memiliki 342 penulis unik. Artinya rata-rata ada 342/65 = 5,2 penulis unik pada 1 dokumen. Tentu, jika tidak dihitung uniknya nama penulis, maka rata-rata penulis per paper akan lebih banyak lagi.

Perbandingan kolaborasi internasional vs nasional

Gambar di atas menunjukkan bahwa dari 65 paper publikasi, hanya ada 4 yang ditulis berkolaborasi antar negara. Sisanya, 61 paper, hanya ditulis dengan kolaborasi penulis dari Indonesia saja. 

Frekuensi 1st author

Gambar di atas menunjukkan frekuensi nama-nama yang menjadi penulis pertama pada 65 dokumen yang terbit di tahun 2020. 

TreeMap berdasar author keywords


Tentu saja produktifitas menulis ini dapat menjadi penyemangat kita, dan kita semuanya bisa lebih produktif lagi dalam menulis juga menerapkan tulisan tersebut.




Sunday, 15 August 2021

Pernyataan penulis berdasar CRediT

Kawan semuanya

Pernah menulis ilmiah? pernah kolaborasi?

Nah, setiap orang yang ikut kolaborasi pasti ada peran masing-masing. Benar, kan? Kecuali ada "tangan kuasa" yang nitip nama demi popularitas atau ingin meningkatkan indeks-nya. Cilakanya, anda tak punya kuasa menolaknya.

Nah, CRediT bisa jadi solusi menentukan peran masing-masing penulis.

Info tentang CRediT ada di https://casrai.org/credit/. CRediT sendiri kependekan dari (Contributor Roles Taxonomy). Saat saya menulis blog ini, CRediT memilah peran para kontributor dalam 14 peran.


Dalam proses penulisan paper, jurnal yang menerapkan CRediT akan meminta para penulis untuk menandatangi pernyatan yang menunjukkan peran masing-masing kontributor.

Peran dan nama kontributor kemudian ditulis pada bagian akhir paper. Contohnya di bawah ini, ditulis di atas references, di bawah Acknowledgments: 

Sumber paper https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.1003706


Nah, jadi jelas siapa melakukan apa.

Nah, jika ada yang mau nitip nama, sekarang bisa ditanya, "Mau ditulis sebagai apa, Tuan?"

Tuesday, 20 July 2021

,

Vosviewer online: wajib anda pakai di paper bibliometrik

Kawan semuanya

Analisis bibliometrik sepertinya sedang digemari. Analisis yang konon diklaim miliknya pustakawan ini sudah melebar, dilakukan oleh siapapun yang berminat. Apalagi, saat ini alatnya semakin mudah digunakan. Tidak perlu manual mengumpulkan dan menghitung. 

Kasihan para pustakawan, ya. Lahannya tergerus. 😄

Salah satu alat yang dipakai yaitu Vosviewer. Nah, jika kita lakukan pencarian paper-paper dengan kata kunci, title, atau abstrak mengandung kata "vosviewer" pada databas Scopus, maka terlihat grafik di bawah ini.

Gambar 1: Grafik pertumbuhan paper "Vosviewer" di Scopus

Gambar di atas memperlihatkan pertumbuhan paper-paper analisis bibliometrik yang menggunakan Vosviewer sebagai alatnya. Tahun 2020 terdapat 495 paper, sementara itu tahun 2021 pertengahan sudah ada 494 paper. Artinya jika sampai akhir 2021 kemungkinan besar akan semakin banyak lagi.

****

Nah, visualisasi dataset menggunakan Vosviewer pada paper-paper tersebut masih berbentuk file statis. Tidak interaktif. Namun, mestinya sekarang tidak lagi.

Vosviewer telah memiliki versi online sebagai penyempurnaan versi online sebelumnya. Vosviewer online ini beralamat di https://app.vosviewer.com/. Panduan penggunaan, termasuk cara memanfaatkan fitur share dapat dilihat di https://app.vosviewer.com/docs/. Pokoknya lengkap di situ.

Ndak perlu saya ulangi lagi, ya.

Oia, saya pakai Simpan UGM untuk file json-nya, sehingga url Vosviewer online-nya akan seperti ini:

https://app.vosviewer.com/?json=URLSIMPANUGM&scale=1.5&curved_links=false

Berikut beberapa tampilan VV online dari dataset yang pernah saya buat.

Gambar 2: Visualisasi asal fakultas rektor dan wakil rektor UGM 1998-2021 (gunakan Shift + Scroll untuk zoom in/out)  

Gambar 3: Visualisasi nama rektor dan wakil rektor UGM 1998-2021 (gunakan Shift + Scroll untuk zoom in/out)

Sunday, 13 June 2021

[[ bahasa ]]


Acara ini bagus. Tidak bisa dipungkiri. Kolaborasi dua universitas negeri, menyajikan materi tentang perpustakan, oleh para dosen ilmu perpustakaan. Dari nama-nama pemateri + titlenya, kualitasnya sudah pasti keren. Juga materinya yang kekinian.

Eh, adakah pustakawan yang jadi pemateri? Entah.

Mungkin ada, mungkin juga tidak. Kalau toh tidak, ya Ndak apa-apa. Tajuknya saja kuliah tamu prodi. Pustakawan bukan sivitas akademika. Jadi wajar jika tidak ada pustakawan dalam deretan nama ini.

*****

Ada hal lain yang membuat saya melipat kulit dahi.

Coba cermati. Ada beda penulisan materi di sisi kanan dan kiri.

Mayoritas di sisi kiri ditulis dengan bahasa Indonesia. Tentu ini keren. Menunjukkan kebanggaan sesuai identitas sesuai sumpah pemuda. Namun, ada dua topik yang mengurangi porsi kebanggaan ini, karena tidak menggunakan bahasa Indonesia. Pertama English for Librarian. Hmm. Okelah anggap saja ini wajar. Maklum, mereka ingin menunjukkan bahwa materinya memang bahasa Inggris. Ini usaha meyakinkan pembaca. Bisa dipahami, dan harus diapresiasi. Kita beri tepuk tangan meriah.

Nah, yang kedua ini aneh: Arabic for Librarian. Mau dari mana kita analisis? Jelas aneh. Kalau alasannya sebagaimana English for Librarian yang ingin menunjukkan materi, tentu tidak klop. Wong ini bahasa Arab. Kalau konsisten ya harusnya ditulis dalam huruf Arab, minimal lafalnya Arab. Piye nulisnya? Saya tidak tahu. Meski lulusan UIN, saya tidak pandai bahasa Arab. Nulis angka 1-9 saja tidak hafal. 😆😇

Oke, pindah ke sisi kanan. Kalau ini jelas! Maksudnya.... jelas beda dibanding yang sisi kiri. 😆 Seratus persen. Semuanya menggunakan bahasa Inggris. Mungkin mereka ingin mengingris. Atau, mungkin tidak yakin adanya istilah bahasa Indonesia untuk materi-materi itu. Padahal kesemuanya dari UIN. Kenapa menginggris? Harusnya kan mereka lebih dekat kepada mengarab. Entahlah.

Atau mungkin sisi kiri dan kanan punya kasta yang berbeda? Juga entahlah.

Saya bingung. Mungkin ini masalah literasi juga. Literasi bahasa. Tapi bukan di anda, melainkan di diri saya.

Oia, hampir lupa menyampaikan. Judul poster ini "Kuliah Tamu, Prodi Ilmu Perpustakaan". Ditulis dalam bahasa Indonesia. Bukan Inggris, bukan Arab.


****

Ikutlah! Siapa tahu dapat manfaat. Eh, maaf. Sudah telat, ding. Coba cari rekamannya di yutub. Mungkin ada.


Saturday, 29 May 2021

Sertifikat

Si Sertifikat populer sejak pandemi. Barang lembaran itu jadi primadona, meskipun harga dirinya turun.

Ya. Pada masa pandemi yang memunculkan banyak seminar daring ini, nilai tawar sertifikat justru turun drastis. Dengan beberapa trik, nyaris tanpa usaha dan modal, orang mudah dapat sertifikat.

****

Kata “sertifikat” dituliskan di poster-poster, di teks WA berantai. Tambah sangar sudah jika ditambah “gratis”: GRATIS SERTIFIKAT. Apalagi dengan kuota tak terbatas: Free Seminar 1000 peserta -  Free sertifikat. Museum rekor pun mungkin kewalahan mencatatnya.

Namun, seksinya sertifikat itu ternyata juga membuat kepala pening. 

“Sebel saya kalau pas presentasi ada yang tanya: link sertifikatnya mana?”, kata Dr. Ciprut, dosen tersohor di kampusnya. Pertanyaan tentang sertifikat itu sebenarnya hanya di ruang obrolan pertemuan maya, namun tetap saja mengganggu. Bagaimana tidak, wong saat seminar luring ndak pernah ada peserta yang angkat tangan tanya sertifikat. Apalagi, Dr. Ciprut merupakan dosen senior, mana ada yang berani. Tentu ini perubahan yang ekstrim. 

Sama meski tidak persis, dengan yang dialami Dr. Kuprit. URL presensi seminar yang dikelolanya tersebar di berbagai grup WA. Presensi itu jadi dasar pembuatan sertifikat. Efeknya bisa ditebak. Banyak yang tidak hadir, namun mengisi presensi. Karena presensi ini diset otomatis ke sistem sertifikat, maka banyak gundul-gundul yang tidak hadir, tapi dapat sertifikat. Sindikat yang luar biasa, sistematis, masif dan terencana. Sekaligus mencermintakan  solidaritas yang tinggi. Top. Tapi tetap bikin pening.

“Lha, kok ya URL presensi disebar di grup WA. Harusnya kan hanya boleh di ruang seminar saja,” kata Dr. Kuprit sambil tertawa. Ngakak. Geli campur sedih. Mungkin juga marah. Karena geli, sedih, juga marah itu mungkin wajah inteleknya jadi berubah: imut dan lucu.

**********

Sore itu sehabis Magriban, Paijo makan malam bersama istrinya. Lesehan saja di rumah, dengan menu sebungkus nasi goreng ukuran jumbo.

Setelah acara makan bersama itu selesai, Paijo membuka obrolan. “Saya ndak habis pikir, Bu,” ucap Paijo. “Ada dosen yang marah-marah, gara-gara waktu presentasi di seminar online, pesertanya malah tanya link sertifikat,” lanjutnya.

“Ya wajar, tho,” istrinya menjawab. Pendek saja.


Paijo heran, kenapa jawaban istrinya cuma sependek itu. Malah dianggap wajar. “Ya wajar, wong tanyanya pas sedang presentasi, jadinya ya terganggu,” imbuh istri Paijo sebelum ditanya.

“Lho, ya ndak bisa begitu. Mosok yang disalahkan selalu pesertanya,” tanggap Paijo.

“Harusnya dosen itu juga introspeksi diri, bertanya pada dirinya sendiri tentang materi yang dia bawakan, mungkin tidak menarik. Atau mungkin peserta sudah bosan, dan semacamnya. Sebagai sesama pustakawan, jelas aku merasa tersinggung juga” tambah Paijo.

“Bentar, Kang. Itu jane dosen apa dan siapa pesertanya?”, tanya Istri Paijo.

“Yang presentasi dosen (ilmu) perpustakaan, pesertanya para pustakawan,” jawab Paijo.

“Wo. Pantes saja, kang,” kata istri Paijo sambil mberesi piring.

“Lho, pantas bagaimana tho, Bu?”, tanya Paijo.

“Itu sudah kodrat, Kang. Pustakawan itu yang memang mungkin levelnya baru segitu. Nyari sertifikat. Kudune dosen-dosen itu sadar juga, bahwa itulah realita dari para produknya sendiri, yang tentu saja mencerminkan kualitas produsennya. Wong dosen juga demikian. Sama saja, kok,” ungkap Istri Paijo.

“Memangnya dosen ilmu perpustakaan juga pada cari sertifikat?”, Paijo heran sambil bertanya.

“Iya. Tapi bentuknya beda. Kalau pustakawan itu kesempatannya ya berburu sertifikat, namun kalau dosen (ilmu) perpustakaan memburu sertifikat (si) + tunjangannya,” tegas Istri Paijo sambil membuka kran, lalu sibuk mencuci piring.

Paijo mlongo. Dia sadar. Ternyata memang sama saja. Podho wae. Ora bedo. Tidak pada rumangsa.

Pikirannya membuat kesimpulan. Sertifikat hanya jadi pemikat kehadiran di seminar, dikemas seksi agar menggoda orang mau gabung. Di pihak lain ada yang begitu getol mencari. Bahkan berburu. Klop.

Inilah masa, ketika sertifikat bukan menjadi bukti kualitas seseorang "setelah", namun menjadi penarik seseorang "sebelum" sebuah acara dimulai.

[[ tamat ]]

Sumber gambar: pixabay